annyeong chingudeul ^^
enjoy this ff hehehe
written by : gyumontic

 

*****

“Haduh duh. Apa yang harus aku lakukan kalau ketemu bang reymond nanti ya? Aku paling ga bisa pura-pura,” kataku pada diri sendiri sambil muter-muter apartemen. “Aku yakin Ine tidak bohong tapi kenapa bang reymond harus membohongi aku?” Aku jadi bingung sendiri.

Handphone ku tiba-tiba berbunyi. Aku segera mengangkatnya. “Halo, oppa. Ada apa tiba-tiba meneleponku?”

“Tidak ada apa-apa hanya mau tanya, kamu masih marah padaku?” sahutnya.

Aku lupa kalau semalam aku marah padanya karena mengganggu aku dan bang reymond. “Tidak lagi. Maaf ya,” jawabku singkat.

I forgave you. Kamu udah berangkat?” tanya kyuhyun oppa.

“Belum,” jawabku singkat.

“Aku boleh mengantarmu ya?”

“Aduh, gak usah repot-repot, oppa. Aku bisa ke kantor sendiri kok.”

Aku menolak tawaran kyuhyun oppa karena aku tahu aku pasti akan canggung kalau hanya berduaan dengannya. Seluruh tubuhku pasti akan tertarik padanya dan aku tidak akan bisa mengendalikannya.

“Kau masih marah padaku ya? Atau nunggu reymond jemput kamu?” kata Kyuhyun Oppa dengan nada menuduh.

“Haduh, bukan. Oppa gak usah ngomong aneh-aneh deh. Lagipula aku kan sudah bilang tadi aku sudah tidak marah,” jawabku.

“Kalo gitu kenapa aku gak boleh nganter kamu ke kantor?”

Kyuhyun Oppa terus mendesakku. “Haish. Terserah deh, Oppa.” aku kehabisan kata-kata untuk melawannya.

“Oke. Kalau gitu sekarang aku ke kamarmu.”

Aku lalu menutup teleponku. Ada apa dengan kyu oppa? Kenapa tiba-tiba dia mau mengantarkan aku ke kantor?

Tidak lama bel apartemenku berbunyi dan aku menemukan bang reymond berdiri di sana. “Selamat pagi, Sasa,” sapa bang reymond.

“Pagi, bang,” sahutku. “Abang kenapa ada di sini?” Aku mulai merasa gugup.

“Jemput kamu. Abisnya kamu gak datang-datang ke kantor. Aku khawatir. Apa kamu memang gak masuk kantor hari ini?” tanya bang Reymond.

Aku semakin gugup dan berusaha mengendalikannya. “Humm. .gak kok,bang. Tadi aku agak ga enak badan, ini baru mau berangkat,” sahutku.

“Kalo gitu, ayo kita pergi sekarang.”

Aku teringat akan kyu oppa yang mau mengantarkan aku. Aku belum sempat menolak tawaran bang reymond, kyu oppa datang.

“Mau apa hyung kesini?” tanya kyu oppa pada bang reymond dengan kasar.

“Menjemput Sasa ke kantor,” jawab bang reymond.

“Memangnya kamu siapa? Supirnnya? Hahaha,” sahut Kyu oppa dengan sinis.

“Ayo kita pergi, Sasa,” kata bang Reymond lalu menggandeng tanganku tanpa memperdulikan Kyuhyun oppa.

“Lepaskan tangan hyung dari Sasa,” kata kyuhyun oppa.

Bang reymond pura-pura tidak mendengarkan. Dia justru menarikku agar mengikutinya. Aku sebenarnya ingin melawan tapi tenagaku tidak cukup kuat.

“Aku bilang lepaskan Sasa,” kata Kyuhyun Oppa lalu meninju muka bang reymond.

Aku terkejut dengan apa yang dilakukan Kyu oppa. Tidak pernah aku kira sebelumnya kalau Kyu oppa bisa meninju orang apalagi orang yang lebih tua darinya. Saking terkejutnya, aku hanya melongo melihatnya.

Bang reymond berbalik menghadapi kyu oppa. “Apa hak mu melarangku hah? Emang kamu siapa?” tanya Bang reymond dengan keras.

“Aku emang bukan siapa-siapa tapi setidaknya aku tidak pernah membohongi Sasa seperti kau membohongi dia! Dia tidak pantas dekat dengan pria seperti hyung!” Kyu oppa membalas perkataan bang Reymond dengan tidak kalah kerasnya.

Tanpa aku sangka-sangka, bang reymond meninju kyu oppa. “Apa maksudmu hah? Aku tidak pernah berbohong!” seru bang Reymond.

“Hahaha. Jangan berpura-pura lagi. Aku tahu semuanya, brengsek!” sahut Kyu Oppa.

Kali ini, bang reymond meninju kyu oppa lebih keras sampai keluar darah dari hidung dan mulutnya. “Dasar pengecut! Kau tidak berani mengambil risiko kehancuran karirmu kalau kau pacaran dengan Sasa tapi tidak mau juga melihat Sasa bahagia dengan pria lain.”

Kyuhyun Oppa balas meninju bang reymond. “Kau tidak mengerti apa-apa!”serunya.

Aku tahu mereka berdua sama-sama terluka tapi entah kenapa aku lebih tidak sanggup melihat kyuhyun Oppa lebih menderita lagi. Dia tidak boleh terluka.

“Stop hitting him, bang!” seruku keras.

Bang reymond tiba-tiba berhenti meninju kyu oppa dan meminta maaf padaku. “Maaf, aku emosi. Maaf.”

Jujur, aku tidak suka ada pertengkaran di depanku apalagi ini antara orang yang aku kenal. Aku harus memisahkan mereka. Aku meminta bang reymond untuk pulang. “Abang lebih baik kembali ke kantor sekarang. Kita bicara nanti,” kataku. Aku lalu menghampiri kyu oppa yang sedang membersihkan darah dari hidungnya. “Oppa tidak apa-apa?” tanyaku.

“Kamu lihat darah di wajahku, kamu masih tanya apa aku baik2 saja?!” bentaknya.

Aku tidak banyak komentar untuk melawan. Kyuhyun oppa masih emosi. Aku memapah kyu oppa masuk ke dalam apartemenku lalu mendudukkannya di sofa ruang tamu. Aku lalu pergi ke dapur mengambil air dan handuk kecil untuk membersihkan darah dari wajah kyu oppa.

“Oppa, kenapa kau harus meninjunya sih? Lihat, akibatnya kamu juga ditonjok kan? Sampai memar gini,” kataku sambil mengusap wajahnya.

“Aku gak suka dia dekat-dekat kamu, Sasa. Dia itu gak sebaik yang kamu sangka,” sahut Kyuhyun Oppa.

Aku tahu apa yang dimaksudkan oleh Kyuhyun Oppa dan aku yakin Ine yang memberitahunya. “Kalau bang reymond tidak sebaik yang aku sangka, itu urusanku. Oppa tidak perlu ambil pusing,” kataku.

“Itu juga urusanku. Aku gak mau kamu jatuh ke tangan laki-laki itu. Aku gak mau kamu sakit hati,” sahutnya tegas.

“Oppa yang selalu membuat aku sakit hati,” gumamku pelan.

“Apa katamu barusan?” tanyanya.

“Tidak ada. Pokoknya itu urusanku,” jawabku sambil agak menekan memarnya.

“Aduh, sakit! Pelan-pelan dong,” protes Kyuhyun oppa.

“Cerewet! Tahan sakitnya dong. Jadi cowok kok payah amat sih?!”

Aku agak membentak kyu oppa sehingga dia langsung terdiam. “Makanya jangan suka cari gara-gara. Mau diobatin kok ngomel-ngomel,” lanjutku.

“Iya.Iya tahu. Maaf ya,” kata Kyu Oppa melembut.

Aku terus membersihkan luka-luka di wajahnya. “Masa kamu mau perform dgn muka bonyok kaya gini?? Terus kamu mau bilang apa kalo ditanya soal muka oppa yang bonyok seperti ini?” tanyaku mencemaskan penampilannya di TV nanti.

“Gampang lah, itu urusanku. Di make up dikit nanti jadi gak kelihatan kok. Kamu tenang saja,” jawabnya.

Walaupun Kyuhyun oppa yakin bisa menanganinya tapi aku tetap khawatir. Kalau memar Kyuhyun Oppa sampai terlihat orang lain karena urusannya bisa panjang. ELF pasti akan ramai dan aku bisa ikut terseret-seret.

Setelah membersihkan luka-lukanya, aku mengambil kaos untuk kyu oppa. “Ganti baju oppa dengan kaos ini,” perintahku.

“Aku tidak mau pakai kausmu,” sahut Kyuhyun Oppa menolak.

“Cerewet. Emangnya Oppa mau keluar dengan baju berdarah-darah? Aku bisa tambah repot kalau begitu,” kataku sambil tanpa sadar mulai melepas kancing baju Kyuhyun Oppa.

“Aku bisa menggantinya sendiri, Sa,” kata Kyuhyun Oppa menyadarkanku.

Aku merasa malu karena itu aku melangkah mundur menghindarinya. Sudah aku bilang, aku tidak bisa mengendalikan diriku kalau sudah bersamanya. Kyuhyun oppa lalu mengganti bajunya dengan kaos yang aku berikan. Aku mengambil bajunya lalu memasukkannya ke dalam cucian.

Aku mengamati wajahnya lagi, darahnya sudah tidak ada tapi luka-lukanya harus diobati. Aku lalu mengambil kotak P3K dan mulai mengobati luka Oppa.

“Hadapkan wajahmu ke aku,” perintahku.

Kyuhyun oppa menurutiku. Dia menghadapkan wajahnya kepadaku sehingga wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Aku memegang wajahnya dengan ragu-ragu, tanganku agak gemetar saat memberikan obat pada luka-lukanya. Melihat wajahnya sedekat ini membuatku berdebar-debar. Perasaan yang sama seperti saat pacaran dulu. Beda dengan perasaan kalau bersama bang Reymond.

“Kamu masih sayang padaku kan?” tanya kyu oppa tiba-tiba. Pertanyaannya hampir membuat aku menjatuhkan kotak P3K ini.

“Tidak,” jawabku berbohong.

“Bohong. Kalo kamu udah gak sayang, kenapa kamu masih perhatian padaku?” tanya kyuhyun Oppa mendesakku.

“Hanya merasa kasihan.”

“Kalo gitu, kenapa gak reymond aja yang kamu obati? Dia juga luka kayak aku.”

“Tapi kamu lebih parah dan dia bisa mengobati lukanya sendiri. Dia sudah besar. Bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.”

“Jadi bagi kamu, aku ini masih kecil dan tidak bisa bertanggung jawab? Hahaha, kalau ngomong dipikir dulu, mbak. Tanggung jawabku lebih besar daripada Reymond.” Kyu oppa bicara dengan nada yang sangat sinis. Aku tahu kata-kataku tadi telah menyinggungnya. Karena itu, aku tidak membalas.

“Sudahlah. Yang penting aku tahu kamu masih sayang padaku.”

Aku tidak menjawab lagi. Lebih baik aku memastikan semua lukanya sudah diobati. Aku mengamati wajahnya lebih dekat lagi. Tiba-tiba Kyuhyun Oppa menciumku. “Aku akan membuat kamu kembali padaku,” katanya.

Aku menarik diriku menjauh dari Kyuhyun Oppa. “Oppa benar-benar membuatku pusing. Lebih baik Oppa pulang sekarang,” kataku pelan.

“Gak. Aku mau nganterin kamu,” sahutnya.

“Pulang! Lebih baik oppa istirahat saja,” perintahku.

Aku tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi Kyuhyun Oppa. Di saat aku mau menutup perasaanku, dia justru datang untuk mendapatkan aku kembali. Aku tidak tahu apa mau dia sebenarnya.

.Kyuhyun POV.

Sasa menolak untuk aku antar ke kantor. Dia malah menyuruhku untuk istirahat saja di dorm. Aku tahu aku salah tiba-tiba bilang akan merebutnya kembali padahal aku yang telah memutuskannya tanpa bicara lebih dulu padanya. Jelas Sasa akan bingung menghadapiku. Selain itu, tadi aku terlalu gegabah sampai aku harus meninju reymond. Aku tidak tahan melihat dia menggandeng Sasa seenaknya.

“Kyusshi. Kenapa wajahmu? Kok biru-biru gitu?” tanya Heechul hyung begitu aku masuk apartemen.

“Tidak sengaja nabrak tiang di depan apartemen,” jawabku tidak masuk akal.

“haish. Mau coba bohong denganku ya? Kau habis ditinju orang kan? Kenapa?”

“Oh keliatan ya, hyung? Tidak apa. Hanya orang tidak jelas.”

Aku lalu pergi ke dapur untuk mengambil es batu lalu mengompres memar di wajahku.

Tiba-tiba eeteuk hyung menghampiriku. “Kau habis ditinju ya?” tanya eeteuk hyung.

“Hyung tau darimana?”

“Haishh. Heechul memberi tahuku tadi. Dia bilang wajahmu memar-memar seperti habis ditinju. Kenapa bisa begitu?”

Aku menceritakan segalanya pada eeteuk hyung. “Humm. Soal sasa, hyung. Dia lagi dekat dengan seorang namja yang aku tidak suka. Namja itu tadi memegang tangan Sasa. Aku menyuruh dia untuk melepaskan tangannya tapi dia tidak mau jadi aku tonjok saja.”

“Seharusnya kau lebih bijaksana, kyu. Kau harus sadar bahwa semua orang memperhatikanmu. Apapun yang kamu lakukan, jutaan orang di dunia ini akan memperhatikanmu dan bertanya-tanya apa yang terjadi,” kata eeteuk hyung setelah aku selesai bercerita.

“Mianhe jeongmal mianhe, hyung. Aku tidak bisa mengontrolnya tadi.”

“Aku mengerti perasaanmu tapi jujur saja aku kecewa padamu. Seharusnya kamu bisa menahan emosimu. Aku harap hal ini gak akan terulang lagi.”

“Ok, hyung. Kamsahamnida.”

Eeteuk hyung pergi meninggalkanku.

Tidak lama kemudian, Ine dan Siwon hyung datang. “Oppa! Wajahmu kenapa?!” seru Ine begitu melihatku yang sedang mengompres wajahku. Seruan Ine mengundang hyungdeul datang ke dapur dan menanyakan hal yang sama saat melihatku.

“Apa yang terjadi padamu?!” tanya Sungmin oppa panik. “Kenapa bisa memar-memar begitu wajahmu?”

Dengan berat hati aku menceritakan apa yang terjadi dari awal sampai aku bisa memar seperti ini.

“Jadi, kamu ninju laki-laki itu cuman karena cemburu?” tanya Kibum hyung.

“Gak juga, hyung. Pria itu juga brengsek kok. Tanya saja sama Ine,” jawabku.

“betul, Oppa. Pria itu sudah pny anak dan istri tapi masih saja mendekati kakakku. Aku juga rasanya pengen nonjok dia,” sahut Ine. “Parahnya, kakakku gak percaya kalau pria itu udah berkeluarga.”

“Haish, parah banget! Sasa kenapa bisa kemakan sikap sok baiknya pria itu sih?! Lagipula kenapa kamu harus putus lagi sih?” tanya Hankyung hyung.

“Yah apalagi kalo bukan karena dilarang manajemen, hyung,” jawabku

“Aku bosan dengar alasan itu. Harusnya kamu berjuang dong!” kata hankyung hyung. “Kalau kamu terus-terusan mengikuti apa kata manajemen, baru umur 30an kamu punya pacar, belum nikahnya.”

“Iya, aku tahu, hyung. Makanya aku mau dapetin dia lagi tapi agak terlambat. Sasa terlanjur deket sama pria itu. Apalagi katanya dia udah mau buka hati buat pria selain aku.”

“Tapi dia masih punya rasa sama kamu kan?” tanya kibum hyung.

“Aku rasa begitu,” jawabku.

“Kalo gitu kamu masih ada kesempatan, kyu. Gunakan kesempatan itu sebaik-baiknya!” kata kibum hyung.

“Nde, hyung. Gomawo.”

Semua perkataan hyung ada benarnya. Aku harus mempergunakan semua kesempatan yang ada supaya Sasa kembali kepadaku. Peduli amat dengan manajemen. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja.

Sejak Ine memberi tahuku bahwa bang reymond sudah berkeluarga, aku jadi merasa serba salah jika berhadapan dengan bang Reymond. Aku tidak bisa berpura-pura tidak tahu tapi aku harus bisa untuk sementara waktu selama aku belum bisa membuktikan seperti apa bang reymond sebenarnya.

“Sasa, aku minta maaf telah meninju Kyu tadi. Aku kurang bisa mengendalikan emosiku,” kata  bang Reymond saat istirahat makan siang.

“Sudah, tidak usah dibahas. Yang penting jangan terulang lagi,” sahutku.

Ini adalah salah satu kelebihan yang tidak dimiliki Kyu oppa. Kyu oppa sama sekali tidak merasa bersalah telah meninju bang Reymond sampai terluka juga. Padahal dia yang memulainya lebih dulu.

“Kamu ada acara malam ini,Sa?” tanya bang reymond sambil menikmati makan siangnya.

“Gak ada sih, bang. Kenapa?” jawabku.

“Aku mau ngajak kamu makan malam di rumahku sama Jimi juga. Gimana? Kamu mau gak?”

Aku berpikir sebentar. Seharusnya aku tidak boleh menerima tawarannya tapi ini kesempatanku untuk membuktikan omongan Ine. Aku bisa mendapatkan bukti-bukti dari rumahnya. Karena itu aku menerima ajakannya. “Oke bang. Aku bisa.” kataku.

“Sip deh kalo gitu,” sahutnya.

Setelah selesai bekerja, bang reymond mengajakku ke apartemennya. Dia menutup mataku sebelum aku masuk ke dalam. Dia menuntun aku ke suatu tempat yang tidak aku tahu sama sekali.

“Semua ini khusus buat kamu,” kata bang reymond sambil membuka penutup mataku.

Aku begitu takjub dengan apa yang sedang aku lihat sekarang. Meja makan yang dihiasi lilin dan ada sebotol wine di atasnya. Makan malam yang romantis.

“Wow!” seruku kagum.

“Kamu suka?” tanya bang reymond.

“Suka, bang. Ini indah sekali. Kapan persiapannya?”

“Jujur saja, bukan aku yang menyiapkannya. Aku tidak sempat. Maaf, sasa. Tapi aku berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu.”

“Terima kasih, abang,” ucapku senang.

Baru kali ini aku mendapatkan makan malam seistimewa ini. Meskipun sudah pacaran dengan Kyu oppa tapi dia belum pernah membuatkan hal seperti ini padaku. Justru bang Reymond yang masih mendekatiku malah yang melakukannya.

Bang Reymond mempersilahkan aku duduk di satu sisi meja sedangkan dia di sisi lain. “Kok kursinya cuman dua? Jimi mana?” tanyaku saat sadar meja makan ini hanya disiapkan untuk dua orang.

Jjimi ada di rumah temannya,” jawab bang reymond.

“Malam-malam gini?” tanyaku lagi.

“Iya. Dia menginap disana,” jawab bang reymond.

Aku merasa aneh karena setahuku jimi bukan orang yang gampang berteman apalagi sampai nginep. Bang reymond sendiri yang cerita bahwa Jimi tidak punya teman.

“Buat apa dia menginap?” tanyaku ingin tahu.

“Aku kurang tahu. Mungkin mendownload sesuatu atau apalah,” jawabnya

Humm, mungkin jimi sudah mempunyai teman yang cocok dengannya karena itu dia jarang sekali menghubungiku. Tapi bang reymond tumben tidak tahu apa yang dilakukan Jimi. Apa bang reymond sangat sibuk sehingga agak melupakan Jimi? Atau dia sengaja mengungsikan Jimi karena mau makan malam berdua saja denganku?

Aku tidak terlalu memikirkannya. Bang reymond sudah mempersiapkan semuanya khusus untukku dan aku harus menghargainya.

“Aku ambil makanannya ya,bang,” kataku sambil membuka penutup makanan.

Penutup itu tidak terbuka tapi malah cincin penariknya yang terlepas lalu masuk ke jariku. Aku memperhatikan cincin itu. Ada tulisan “be mine” yang terukir tipis di sekelilingnya.

“Itu cincin untukmu,” kata bang reymond.

“Maksud abang?” tanyaku tidak mengerti.

“Aku tahu kamu mungkin masih sayang pada kyu tapi aku harap kamu mau mempertimbangkan aku,” jawab bang reymond.

Jujur saja aku merasa senang karena bang reymond akhirnya menyatakan perasaannya padaku tapi aku juga tidak bisa bohong kalau aku masih mencintai kyu oppa, walaupun aku sangat ingin membunuh cinta itu. Selain itu, aku juga teringat kata-kata ine. Bang reymond sudah berkeluarga. Jadi ada kemungkinan dia membohongi aku. Aku tidak mau salah langkah.

“Berikan aku waktu berpikir,” kataku. Aku harus memastikan keadaan yang ada dengan benar sebelum memutuskan iya atau tidak.

“Berapa lama?” tanya bng reymond.

Aku tidak bisa memberi jawaban karena aku tidak tahu berapa lama aku bisa yakin pada bng reymond.

“Seminggu?” tanya bang reymond mengajukan tenggat waktu.

“Cepat sekali, bang,” sahutku. “Aku tidak tahu pasti. Masih bnyak hal yang harus aku pikirkan.”

“Maaf, aku terburu-buru. Aku hanya tidak mau kamu diambil orang. Baiklah, kalo begitu kapanpun kamu siap. Aku akan selalu menunggumu.”

“Jangan. Abang gak boleh terus menungguku. Beri waktu sebulan,” kataku.

Aku merasa bodoh sekali berani memastikan hanya dalam waktu sebulan. Mending kalau keadaan bulan depan sudah jelas. Kalau belum apa yang harus aku lakukan. Ingin rasanya aku menarik perkataanku lagi tapi bang reymond pasti akan menilaiku plin plan.

Gara-gara hal ini aku jadi tidak konsentrasi makan malam. Bahkan sampai saat mau pulang pun, aku masih merasa gelisah.

“Sasa, kamu tunggu dulu di ruang tamu ya. Aku ganti baju dulu baru mengantarmu pulang,” kata bang reymond.

“Oke,” sahutku. Aku lalu pergi ke ruang tamu, yang ditunjukkan oleh bang reymond, dan duduk di sana. Aku baru pertama kali melihat ruangan ini jadi aku memperhatikan tiap sudutnya. Tidak banyak yang bisa dilihat dari ruang tamu ini kecuali satu foto ukuran 4r yang terletak di salah satu meja.

“Ini foto keluarganya bang reymond,” gumamku sambil melihat foto tersebut dengan seksama. Aku melihat dengan jelas ada Edo di foto itu. Foto bang reymond bersama keluarganya. Berarti Edo dan bang Reymond memang kakak adik.

“Ine ga bohong,” gumamku lagi.

Aku mendengar suara pintu yang ditutup. Hal ini membuatku segera meletakkan foto tersebut ke tempatnya semula. Jantungku berdebar sangat kencang sejak aku melihat foto itu dan terus terbawa sampai aku kembali ke apartemen.

“Ine! Ine! Bangun! Kamu harus bantu kakak,” teriakku begitu masuk apartemen. Aku tidak tahan menyimpan apa yang terjadi lebih lama lagi.

“Ada apa kak?” tanya ine kesal.

“Tadi bang reymond nyatain perasaannya ke kakak,” kataku memulai pembicaraan.

“Terus kakak jawab apa?” tanya Ine tertarik.

“Kakak mau mikir dulu. Kakak bilang kasih waktu sebulan buat mikir.”

“Sebulan? Lama amat? Harusnya langsung kakak tolak!”

“Gak segampang itu, dek. Kakak rasa dia beneran suka sama kakak. Dia bener-bener buat kakak merasa spesial. Tadi aja dia nyiapin makan malam romantis khusus buat kakak. Gak tega kakak, dek.”

“Jangan-jangan kakak suka sama dia juga ya?”

“Haduh dek. Gak tahu aku, dek. Tapi buat kakak sekarang lebih baik dicintai aja deh.”

“Kakak bener-bener udah kemakan kebaikan bang Reymond. Kakak masih inget kan kata-kataku kalau dia itu udah punya keluarga?”

“Itu dia masalahnya dek. Tadi kakak liat foto keluarga bang reymond dan emang ada Edo di situ. Mereka beneran sodara.”

“Nah! Kalo gitu, apa kata aku bener kan? Jadi buat apa kakak mikir-mikir lagi? Langsung tolak aja kak!” Ine mulai mengompori aku dengan semangat. Aku tahu dia senang akhirnya aku mulai percaya padanya tapi aku masih berharap kalo Ine salah.

“Itu dia. Kakak minta tolong kamu cari bukti lain. Tolong ya? Kita cuman punya waktu sebulan nih,” kataku meminta tolong pada Ine.

“Oke, kak. Aku pasti akan buktikan ke kakak kalau bang Reymond itu gak sebaik yang kakak pikir.”

Ine menyanggupi permintaanku dan aku berharap dia akan menemukan bukti-bukti yang melemahkan persoalan yang ada. Semoga bang Reymond benar-benar belum berkeluarga.

.Ine POV.

Aku bingung. Aku harus membantu kak Sasa tapi aku tidak tahu harus bagaimana. Akhir-akhir ini aku sudah mengumpulkan cukup banyak info tentang bang reymond. Mulai dari tempat tinggalnya sampai kegiatan sehari-harinya. Hanya saja aku belum mendapatkan info tentang istri dan anaknya.

“oppa, kau yakin tidak ada info lain dari reymond?” tanyaku pada Siwon Oppa.

“Itu sudah semuanya, Ine. Hanya itu yang bisa aku dapatkan dari perusahaan,” jawab Siwön oppa.

Aku meminta bantuan siwon oppa untuk mendapatkan info dari Hyundai karena itu adalah perusahaan ayahnya. Dia bahkan sudah memberikan lebih dari cukup.

“Aku tidak punya cara lain,” kataku.

“Cara apa?” tanya siwon.

“Aku mau jadi guru les Jimi aja, oppa. Sambil ngajar aku bisa korek-korek info. Bisa nambah uang juga. Hehe.”

“Okelah kalau itu baik menurutmu.”

“Bantu aku ya, oppa.”

“Pasti aku bantu kamu kok. Tenang saja ya.”

“Terima kasih ya, oppa. Kamu memang sangat baik.”

Aku lalu menelepon kyu oppa. “Oppa! Aku punya kabar buruk untukmu. Bang reymond udah nyatain cintanya ke kak Sasa,” kataku tanpa basa basi.

“Sial! Terus Sasa bilang apa?”  tanyanya frustasi.

“Kak Sasa bilang mau mikir dulu sebulan, oppa. Jadi kita cuman punya waktu sebulan buat yakinin kak Sasa kalo bang reymond itu gak baik,” jawabku.

“dan supaya kakakmu gak jatoh ke tangannya. Jadi apa yang akan kita lakukan?”

“Oppa ini emang bodohnya keterlaluan! Maaf. Tugas oppa cukup meyakinkan kak Sasa bahwa oppa yang terbaik. Oppa harus bisa buat kak Sasa balikan lagi sama oppa. Aku yg akan mencari bukti soal bang reymond. Oke?”

“Kalo itu pasti, Ine. Aku tidak akan melepaskan Sasa lagi. Oppa janji. Maaf sudah merepotkanmu. Terima kasih ya.”

“Sama-sama, oppa.” kataku lalu menutup telepon dan mulai menyusun rencana.

.Kyuhyun POV.

“Hyung, aku pamit jemput sasa dulu ya,” kataku pada hankyung oppa  yang sedang menonton tivi. Lagi-lagi dia sakit dan terpaksa istirahat di dorm.

“Oke. Hati-hati ya sudah malam,” sahutnya.

“Hyuuung. Aku bukan anak kecil yang harus selalu diingatkan seperti itu. Aku sudah tua. Remember?”

“Ara. Ara. Pergilah sana,” kata hankyung hyung.

Aku lalu pergi menjemput Sasa di kantornya. Semoga saja dia masih ada di sana. Rupanya aku tepat waktu. Mobilku sampai tepat saat sasa keluar dari kantornya.

“Ayo kita pulang,” kataku dari dalam mobil.

“Haish! Oppa mengejutkanku!” sahut Sasa kaget.

“Maaf. Maaf. Ayo masuk ke dalam mobil. Kita pulang,” kataku mengulangi.

Tanpa banyak berdebat, Sasa masuk ke dalam mobilku dan duduk dengan manis. Walaupun sudah malam, wajahnya masih segar. Aku sungguh-sunguh terpana melihatnya sampai lupa harus menyetir.

“Oppa, ayo pulang. Aku sudah lelah sekali,” katanya menegur lamunanku.

Aku lalu mengemudikan mobilku sepelan mungkin. Aku mau bersamanya selama mungkin. Sudah lama aku tidak menghabiskan waktu berdua dengannya.

“Oppa, kalau jalannya seperti ini kapan kita sampainya?” kata Sasa.

“Hahaha. Sabar ya. Aku sedang tidak bisa cepat menyetir. Tanganku sakit,” sahutku.

Aku mau tahu seperti apa reaksinya kalo dia tahu aku sedang sakit. Biasanya dia akan cemas. Kalo dia masih seperti itu, berarti tanda bgus untukku.

“Tanganmu sakit? Kenapa? Sudah diobati?” tanya Sasa cemas. Dia bahkan menyentuh tanganku yang sedang menyetir.

“Kau cemas ya? Hihihi,” godaku. “Tenang, Sa. Aku cuman terkilir waktu latihan dance tadi pagi. Sudah diobati tapi masih agak sakit.” Aku tidak berusaha menyembunyikan rasa senang kalau Sasa masih perhatian padaku.

“Syukurlah. Semoga cepat sembuh,” katanya.

Sesampai di apartemen, aku mengantarkannya sampai ke kamar.

“Terima kasih, Oppa.”

Aku berharap Sasa mempersilahkan aku masuk tapi aku tidak menemukan tanda-tanda itu. Dia justru langsung masuk begitu Ine membukakan pintu. Untung saja, Ine mempersilahkan aku masuk.

“Loh, kak? Kyu oppa kok ga disuruh masuk?” tanya Ine pada Sasa.

“Loh, aku pkir dia mau langsung pulang karena sudah malam. Kalo dia mau masuk ya masuk saja,” jawab sasa sambil lalu.

“Masuk saja, Oppa. Aku ada perlu denganmu.”

Aku lalu masuk dan duduk di ruang tv seperti biasa lalu mulai memakan makanan kecil di depanku.

“Aku akan bicara dahulu dengan kak Sasa nanti mengenai rencanaku. Kita tunggu dia selesai mandi dulu,” kata Ine yang membuatku bingung.

“Bicara apa? Kenapa harus ada aku juga?” tanyaku.

“Oppa lihat saja nanti,” jawab ine.

Sasa lalu keluar dari kamarnya dengan menggunakan kimono tidurnya. Jujur saja, aku langsung berpikir yang tidak-tidak begitu melihatnya. Satu kata : menggoda.

“kak Sasa. Sini bentar. Aku perlu bicara denganmu,” kata Ine memanggil kakaknya untuk duduk bersama kami.

Sasa duduk tepat di hadapanku dan membuatku tidak bisa konsentrasi pada Ine.

“Ada apa, ne? Kakak ngantuk. Mau tidur,” kata Sasa.

“Ine mau kerja sambilan jadi guru les Jimi kak. Sambil ngajar bisa korek-korek info,” kata Ine pada kakaknya. “Kakak bisa bantu gak?”

Aku paham bahwa ini adalah rencana Ine untuk mendapatkan bukti yang lebih kuat tentang status bang reymond.

“Pinter pinter kamu,” sahut Sasa yang setuju dengan ide Ine. “Tapi apa dia mau ya, Ne?”

“Itu gunanya kakak. Kakak bntuin aku. Bng reymond kan lemah kalo udah kakak yang ngomong. Ine yakin kalo kakak berhasil bujuk dia semuanya pasti jadi lancar.”

“Oke-oke. Kakak coba bantu besok ya. Semoga aja bng reymond mau.”

Aku juga setuju dengan rencana Ine tapi aku tidak suka jika rencana itu harus dicapai dengan menyeret Sasa. Apa harus Sasa merayu reymond dulu agar Ine bisa jadi guru les Jimi? Karena itu, aku memandang ine dengan tajam tapi tidak digubris oleh Ine. Dia malah pamitan tidur.

“Oke kak. Kalo gitu, aku tidur duluan ya. Selamat malam,” kata Ine lalu masuk ke kamarnya.

Dia meninggalkan aku berdua dengan Sasa yang sedang benar-benar mengacaukan otakku. Aku mau mengajaknya bicara tapi tidak ada yang keluar.

“Oppa mau disini sampai kapan? Aku mau tidur,” kata Sasa menyadarkanku.

“Hah? Hah? Iya. Aku mau pulang sekarang. Maaf mengganggu malam-malam,” sahutku.

“Tidak apa. Santai, oppa,” sahutnya sambil membukakan pintu apartemen. “Salam buat oppa yang lainnya ya. Bilang aku merindukan mereka.”

Aku mengelus kepalanya lalu kembali ke apartemenku.

“Selamat tidur ya, sasa,” kataku.

Aku sudah berbaring lebih dari 3 jam tapi aku belum juga terlelap. Aku justru masih membuka mataku lebar-lebar. Aku tidak bisa tidur. Terlalu banyak hal yang mengganggu pikiranku. Pertama, bang reymond. Kedua, kyu oppa. Ketiga, kerjaanku yang sudah mepet deadline.

“Ne, bangun dong. Temenin kakak,” kataku sambil menggoyang Ine yang tertidur lelap di sebelahku. Ine sama sekali tidak bereaksi.

Aku akhirnya keluar dari apartemen dan pergi ke gym. Betapa kagetnya aku saat melihat eeteuk oppa sedang latihan di sana.

“Oppa. Eeteuk oppa,” panggilku.

“Hai, Sasa. Sedang apa disini?” tanyanya.

“Hum. Entahlah. Aku tidak bisa tidur, Oppa. Oppa kenapa latihan dini hari begini?” Aku balik bertanya setelah menjawab pertanyaannya.

“Karena cuman jam-jam segini aku bisa latihan. Setelah ini aku akan tidur dan bangun pagi lagi besok buat bekerja,” jawabnya.

“Jadwalmu terlalu padat sih, oppa. Apa kamu gak capek?”

“Capek sih, Sa. Tapi aku berusaha selalu menikmatinya. Kalau aku senang tidak akan terasa kok.”

“Oppa hebat!” pujiku tulus.

“hahaha. Terima kasih.” sahutnya.

Tanpa aku sadar aku mulai bertanya macam-macam padanya. “Apa oppa masih punya waktu untuk memikirkan diri oppa?”

“Ini diriku, sayang. Aku kerja karena aku ingin lebih berkembang.”

“Maksud aku memikirkan keluarga atau pacar?”

I always think bout them. I tell you a secret. I have a girlfriend but no one know. Hehehe.”

“Bohong.”

I don’t, Sa. Ada juga beberapa member lain yang punya pacar tapi ga ada yang tau.”

“kok bisa oppa?”

“yah, kita simpen rapat-rapat Sa. Kalau gak gitu, kita bisa gak punya pacar sampai tua. Tunggu kontrak selesai mah keburu males.”

“Gimana cara Oppa nyembunyiinya?”

“Keadaanku lebih menguntungkan dari kamu, Sa. Pacarku tidak tinggal di Korea. Jadi kami jarang ketemu apalagi jalan berdua. Kami cukup telpon-telponan. Hehehe. Kalau aku seperti kyu pasti juga akan menemuinya tiap hari.”

“Kok nyambung ke kyu?” ucapku.

“Yah yang sedang punya masalah seperti ini kan kyu dan kamu,” jawabnya.

“haha. Sudah putus berarti sudah tidak ada masalah, Oppa.”

“Kamu harus tahu. Kyu adalah pria yang baik. Dia serius padamu. Kyu pasti akan kembali nanti. Dia perlu waktu untuk belajar lebih memperhatikan kehidupan pribadinya.”

“Entahlah,oppa. Aku bingung.”

“Ikuti saja apa kata hatimu.”

Pembicaraan dengan Eeteuk oppa memberikan aku sedikit penerangan. Kalau hanya mengikuti perasaan sudah pasti aku akan memilih Kyu tapi aku belajar dari pengalaman. Perasaan saja tidak cukup. Selama Kyu dan Reymond memperlakukan aku dengan baik, aku akan memperlakukan mereka tidak kalah baik. Aku yakin mampu memilih yang terbaik nanti.