Annyeong chingudeul!
Hehehe saya kembali dengan ff baru ^^
Written by esterong
Dedicated to Eunhyuk – Yeonhee couple and for Reeen ^^ *get well soon! J*
While you reading this, listen to DBSK’s song You’re my melody hehehe ^^
Your comments are love for me😀

Enjoy this ff! (งˆヮˆ)ง

 

******

 

PARK YEONHEE’s pov

Bagaimana perasaanmu saat kau tahu bahwa dirimu akan bertunangan dengan orang yang kau cintai? Berdebar, senang, haru, dan kosakata lain yang melambangkan kebahagiaan masih tidak cukup untuk mendeskripsikan perasaanmu itu.

Aku pun merasakan hal seperti itu. Jantungku berdebar kencang setiap kali mengingat 2 bulan lagi aku akan bertunangan dengannya. Senyumku terus mengembang tiap kali membayangkan apa yang akan kami lakukan bersama. Dan tanpa kusadari, aku mulai merancang masa depan kami didalam otakku. Kapan kami akan menikah, lalu bagaimana rumah yang akan kami tempati kelak, dan banyak lagi khayalan-khayalan yang kuharap jadi kenyataan.

…..

“Aigo, calon menantu kita ada di televisi saat ini,” terang ommaku. Sontak saja, aku langsung menutup koran yang kubaca dan mataku langsung tertuju pada layar tv. Aku bak terhipnotis pada suara dan ketampanan pria yang ada didalam sana. Aku bahkan tak memberikan kesempatan mataku untuk berkedip. Ya, begitulah caraku mencintainya. Mencintai pria bernama Lee Hyukjae, seorang penyanyi kelas atas Korea, anak rekan bisnis ayahku, dan juga tunanganku. Hidupku terasa sangat beruntung, kan?

…..

Tapi naasnya, semua keberuntungan dan perasaan bahagia selama 2 bulan terakhir ini, menjadi kadaluarsa beberapa menit yang lalu tepat saat ia berkata: “Aku ingin membatalkan pertunangan ini. Aku mencintai wanita lain. Hamun.”

Bagaimana perasaanmu saat kau tahu bahwa dirimu akan bertunangan dengan orang yang kau cintai? Pertanyaan yang retoris. Namun bagaimana bila.. orang yang kau cintai membatalkan pertunangan ini dengan alasan mencintai gadis lain?

Pilu, sesak, sakit, kecewa, dan kosakata lain rasanya masih tidak bisa mendeskripsikannya. Hanya air mata yang tertahan dipelupuk inilah yang menjadi bukti kalau hati ini sudah hancur berkeping-keping.

Tanganku mulai kuremas, bibir bawahku mulai kugigiti. Dengan sekuat tenaga aku menahan air mataku. “Aku tidak mau,” jawabku tegas. Altar ego menang atas diriku. Bagaimana mungkin aku bisa melepaskan orang yang sudah kucintai selama belasan tahun untuk wanita lain?

“Aku tahu aku tidak cantik, otakku juga pas-pasan, namun perasaanku padamu ini adalah nyata dan sudah merema dalam hidupku,” ujarku.

“Aku tahu. Dan aku juga ingin kau tahu kalau aku tak pernah menyukaimu dan seterusnya akan begitu,” ujarnya tegas dengan mata yang memandangku benci.

Kalimat itu, mata itu, membuatku makin rapuh dan tak kuat menahan rasa sakit ini terlalu lama.

“Tapi jika kita sudah bertunangan, mungkin perlahan kau bisa mengubah perasaanmu,” ujarku memberikan sanggahan.

“Sudah kukatakan, untuk seterusnya pun aku tetap tidak akan mencintaimu,” ujarnya yang membuat semua organ tubuhku mati rasa.

Aku menghela nafas panjang, menguatkan diriku untuk bertahan lebih lama lagi. “Lalu bagaimana dengan perusahaanmu? Bagaimana dengan appamu? Apa kau bisa melawan kehendak mereka? Mereka tidak akan senang dengan keputusanmu ini. Mungkin karena keputusanmu ini, kau juga tak boleh menjadi seorang penyanyi lagi,” ujarku menggoyahkan keputusannya.

Namun pria itu mulai beranjak. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan hendak meninggalkanku.

“Aku akan melakukan apapun agar pertunangan ini dibatalkan. Aku akan melakukan apapun untuk Hamun, bahkan jika nyawaku dijadikan taruhannya,” ujarnya saat ia menghentikan derap kakinya disampingku. Setelahnya ia pun benar-benar meninggalkanku.

“Hahahaha,” tawaku pilu bersamaan dengan air mata yang akhirnya kuijinkan untuk jatuh.

Aku susah bernafas, dadaku terlalu sakit untuk dapat mengfungsikan paru-paruku dengan semestinya.

“Padahal aku sangat mencintaimu Lee Hyukjae. Apa aku tak punya kesempatan?”

*****

Pasangan suami istri yang duduk didepanku terlihat sangat resah. Sudah kesekian kalinya mereka menyibakkan lengan baju mereka untuk bertanya pada jam, ‘Sudah jam berapa ini?’

Berulang kali mereka menatap pintu, menantikan anaknya yang tak kunjung datang dihari pertunangannya.

“Ajjushi, ajjuma, tenang saja, Eunhyuk pasti segera datang,” ujarku mencoba menenangkan mereka walau sebenarnya hal itu kulakukan untuk menyemangati diriku sendiri.

…..

“Itu dia,” seruku saat pintu terbuka lebar berkat seorang pemuda tampan yang sedari tadi kami tunggu.

Omma dan appanya menyambutnya dengan pelukan dan segera menyuruhnya untuk naik ke atas panggung, tempat dimana dia harus menyematkan cicin di jari manisku.

Tapi ia menolak. Kini ia menatap kedua orangtuanya tanpa keraguan dan bibirnya mulai bergerak untuk mengatakan kalimat yang paling pantang kudengar.

“Aku ingin menghentikan pertunangan ini. Aku mencintai gadis lain, omma, appa,”

…..

“PLAK!” suara tamparan menggema di tiap sudut ballroom ini. Semua perhatian kini tertuju pada pasangan ayah dan anak yang ada di barisan paling depan.

“Mianhe appa, tapi aku tetap akan membatalkan pertunangan ini,” ujarnya yang disambut dengan caci maki oleh ayahnya.

Tapi Eunhyuk tak gentar. Ia tetap berdiri di depan appanya dan membiarkan appanya melampiaskan semua kemarahannya.

“Mianhe appa, mianhe,” ujar Eunhyuk untuk terakhir kali lalu pergi dari ruangan itu.

Ternyata ia sungguh-sungguh pada perkataannya 2 minggu yang lalu. Lalu bagaimana dengan hatiku? Hati yang remuk redam dan tak tahu bagaimana cara untuk menyembuhkannya.

“Yeonhee, mianhe, mianhe, Yeonhee,” ujar ajjushi dan ajjuma bersahutan padaku yang sudah terduduk, terkulai lemas, di lantai.

Sisa malam itu kuhabiskan dengan air mata yang tak kunjung kering.

*****

“Eunhyuk!” seru seorang wanita yang langsung mengalihkan perhatianku.

Pria yang diujung sana, yang merasanya namanya dipanggil akhirnya menghentikan langkahnya. Ia memutar badannya dan langsung disambut dengan ciuman lembut oleh Hamun, kekasihnya.

Dengan segera aku menundukkan kepalaku dan melahap beberapa sendok sekaligus bubur yang tersedia dihadapanku. Tak peduli meski mulutku sudah tak sanggup menampung dan pipiku sudah menggembung. Kulakukan semua ini agar tidak ada yang menyadari kalau air mataku kembali terjatuh untuk laki-laki itu.

Sudah 2 bulan berlalu sejak kejadian itu. Berulang kali aku mencoba melupakan perasaanku padanya, namun mataku yang selalu mengejar keberadaanya sudah membuktikan kalau aku memang tak bisa melupakannya.

I’ve already tried, tried, tried. But now i’m tired.

I can’t handle this feeling.

I can’t let this feeling go.

And I decided,

Start from that day,

I’m stop hoping.

I’m stop bothering.

I’m stop waiting.

Start from that day,

I begin to love you in silence.

I begin to miss you in the quiet.

I begin to crying secretly.

I begin to standing firm for this feeling infinitely without you realized it.

*****

Hari ini aku mendengar kabar luar biasa mengejutkan. Lee Hyukjae putus dengan Kang Hamun, gadis yang ia pertahankan cintanya bahkan tanpa memperdulikan perasaanku. Mengapa bisa begini?

“Hamun mencintai pria lain,” bisik salah satu mahasiswi dengan gerombolannya.

Jantungku berdetak makin kencang. Antara perasaan bahagia, sedih, marah, dan khawatir.

Bayangan Eunhyuk melakukan aksi bunuh diri atau apapun itu membuatku makin kalut dan segera meluncur ke apartemen miliknya.

……

Aku melangkahkan kaki dalam kesunyian. Mendekati tubuh pria yang terkulai lemas di apartemennya. Wajah yang bak zombie, hidung yang memerah, dan mata yang membengkak, menunjukkan bagaimana menderitanya pria itu saat ini. Aku hanya bisa menyembunyikan keprihatinanku dalam hati. Aku menariknya kedalam dekapanku, memeluknya, memberikan kekuatan. Tak ada penolakan darinya, tenaganya saat ini bahkan tak cukup kuat untuk melakukan pemberontakan dari sikapku.

“Jangan menangis lagi. Air matamu terlalu berharga untuk menangisi dirinya,” ujarku sambil terus mengelus kepalanya. Sebagian kecil diriku merasa iri pada Hamun, karena tangisan Eunhyuk menunjukan kalau ia sangat mencintai Hamun.

“Be strong. It’s not hard to find someone who tells you they love you, its hard to find someone who actually means it. Please, don’t cry,” ujarku, semaksimal mungkin aku mencoba. Aku ingin melihat senyumnya lagi. Aku ingin mendengar suaranya lagi.

“If she’s meant for you, she will be yours. It’s only a matter of time. Lee Hyukjae, himnae,” kataku, usahaku yang terakhir. Berat sebenarnya untuk mengatakan hal itu, karena hatiku pun tak rela jika gadis yang ditakdirkan untuk Eunhyuk adalah Hamun, bukan aku. Tapi berkat kata-kataku yang terakhir, Eunhyuk mulai bangkit. Aku tersenyum padanya, namun hatiku sakit. Ternyata hanya Hamun yang menjadi pusat dari segala aspek kehidupannya.

“Kau ada show, kan? Bersikaplah profesional untuk sementara waktu. Setidaknya, dengan menyibukkan diri kau akan melupakan kejadian ini,” ujarku menasehati.

“Kau benar. Baiklah,” balasnya menyetujui pemikiranku.

“Mandilah, jangan biarkan para fansmu melihat wajahmu yang seperti zombie ini,” imbuhku yang membuat bibirnya sedikit tertarik. Aku tahu ia ingin ketawa, tapi air mata yang mengering dipipinya membuat otot wajahnya menjadi kaku.

“Arraseo,”

*****

LEE HYUKJAE’s pov

“Lee Hyukjae! Good job!” ujar gadis yang tiba-tiba saja muncul dihadapanku.

Wajahnya yang tak pernah berhenti tersenyum membuatku -tanpa sadar- ikut tersenyum. “Terima kasih, Yeonhee,” balasku. “Kau menunggu dari tadi di back stage?” tanyaku lagi.

Ia mengangguk, “Ne, aku bawakan makanan untukmu. Aku tahu kau belum makan dari siang tadi,” balas Yeonhee.

Ia beranjak meninggalkanku, sepertinya untuk mengambil makanan yang telah ia siapkan untukku.

Aku memandang punggungnya yang pergi kesana-kemari di backstage ini. Sudah 2 minggu ini ia selalu berada disisiku. Jika aku kembali mereview ingatanku, sepertinya ia tak pernah absen dari keseharianku. Gadis itu, Park Yeonhee, mantan calon tunanganku yang sudah kusakiti hatinya, ternyata menjadi satu-satunya orang yang mau menemaniku disaat aku terpuruk.

“Ini,” ujar Yeonhee sambil memamerkan tas makanannya. “Ayo kita makan,” ajaknya sambil menggenggam tanganku. Aku bisa merasakan kehangatannya merasuki tubuhku. Ketulusan cintanya padaku tersampaikan melalui ikatan tangan ini. Tapi aku sadar, kalau aku adalah pria yang sangat jahat. Karena sebaik apapun gadis ini, yang kuharapkan kehadirannya bukan dia, melainkan Hamun. Aku ingin Hamun, bukan Yeonhee.

*****

Aku tertegun dengan kenyataan yang aku lihat. Hamun, gadis yang selama 2 minggu ini selalu mengusik hati dan pikiranku, gadis yang selalu kuinginkan kehadirannya, kini berdiri didepan pintu apartemenku. Sudah jam berapa sekarang? Jam 1 pagi. Tak mungkin ia menungguku selama ini kalau bukan karena sesuatu yang penting. Apa mungkin dia ingin mengajakku balikan?

Sosok yang sedang menungguku itu membuatku terpana dengan pesonanya. Aku bak terhipnotis. Aku melepaskan ikatan tangan Yeonhee, dan berjalan mendekati Hamun tanpa memikirkan bagaimana perasaan Yeonhee saat ini. Aku tak memperdulikan Yeonhee, hanya Hamun yang saat ini menjadi pokok pikiranku.

“Hamun, waeyo?” tanyaku. Kehadiranku yang tiba-tiba membuat Hamun tersentak kaget.

“Ah, mianhe aku mengagetkanmu,” balasku yang disambut dengan senyumannya. Senyum yang kurindukan.

“Ada apa?” tanyaku to the point. Aku tak sabar ingin mendengar suaranya.

Hamun tersenyum, lalu memberikanku sebuah undangan. “Ini undangan pernikahanku, 2 bulan lagi. Aku berharap kau mau menjadi pengisi acaranya nanti,” ujar Hamun.

Tubuhku merasakan sakit yang tidak bisa kudeskripsikan. Tidak hanya hatiku, tapi rasa sakit itu sudah mengalir dalam aliran darahku.

‘Aku tak mau!’ ingin kujawab seperti itu. Tapi mulutku terpaku. Aku tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Aku tak memaksamu, Eunhyuk. Kau bisa berpikir dulu. Itu saja, bye Eunhyuk,” ujar Hamun sambil mencium pipiku lalu pergi meninggalkanku.

Aku tak mengubah posisiku. Tetap tertegun di depan pintu apartemenku sambil menatap undangan itu. Air mataku mulai mengisi pelupuk mataku, namun sekuat tenaga kutahan agar air mata itu tidak mengalir.

“Jangan kau tahan,” ujar Yeonhee. Pasti Yeonhee, aku sudah sangat mengenal suaranya. Bersamaan dengan kalimatnya itu, aku merasakan sebuah kehangatan mengalir ke sekujur tubuhku.

Yeonhee memelukku dari belakang.

“Menangislah, tak ada seorang pun yang melihat,” ujarnya. Detik itu juga, air mataku mulai keluar. Pertahananku runtuh, dan semua perasaan ini meluap begitu saja.

*****

PARK YEONHEE’s pov

“Kau yakin tak pulang?” tanya Eunhyuk padaku. Matanya masih bengkak, sepertinya air mata yang ia keluarkan terlalu banyak. Dan lagi-lagi, air mata itu keluar karena Hamun.

“Tidak, aku disini saja. Aku takut kau melakukan hal yang aneh-aneh setelah aku pulang nanti, mengakhiri hidup misalnya,” ujarku yang disambut dengan tawa kecilnya.

“Baiklah, kau disini saja. Jangan biarkan aku melakukan hal seperti itu,” ujarnya. Ia pun berlalu, entah hendak kemana.

Mataku tak bisa lepas darinya. Selalu menatap punggungnya yang terlihat sangat rapuh itu. Kerapuhannya membuatku ikut merasakan sakit yang ia rasakan. Membuatku kehilangan akal dan membuatku ingin memeluknya. Kulakukan itu.

“Lupakan Hamun. Aku mencintaimu. Apa aku tak punya kesempatan?” tanyaku pada Eunhyuk.

Eunhyuk terdiam, tak langsung menjawab. Ia melepaskan tanganku yang bertengger dipinggangnya. Ia memutar tubuhnya sehingga kini kami saling bertatapan.

“Berhentilah mencintaiku. Aku hanya akan akan melukaimu. Masih banyak pria diluar sana yang lebih baik untukmu,” jawab Eunhyuk.

“Someone will always be better than you, but they will never be you. I don’t think i get a choice in who i fall for, i just… do. And it’s you, i love you,” balasku. Meyakinkan dirinya bahwa cintaku padanya ini tulus.

*****

LEE HYUKJAE’s pov

“Someone will always be better than you, but they will never be you. I don’t think i get a choice in who i fall for, i just… do. And it’s you, i love you,” ujar Yeonhee. Kata-kata Yeonhee berhasil merasukiku. Menciptakan sebuah atmosfer yang lembut.

Matanya yang menatapku intens membuat akal sehatku hilang. Tanpa kusadari, tahu-tahu saja aku sudah mencium bibir Yeonhee. Entahlah, aku tak tahu perasaanku pada Yeonhee saat ini cinta atau apa. Atau mungkin aku hanya menjadikan Yeonhee sebagai pelarianku?

*****

PARK YEONHEE’s pov

Sudah sebulan ini kami resmi menjadi sepasang kekasih. Aku pun sempat berpikir kalau Eunhyuk sudah melupakan Hamun. Tapi kejadian hari ini membuatku tersadar kalau cintanya pada Hamun belum ia kubur.

“Hai, Eunhyuk,” sapa Hamun saat aku dan Eunhyuk sedang makan siang.

Kehadiran gadis itu membuatku paranoid. Aku tak melepaskan pandanganku dari Eunhyuk, mengamati setiap gerak-geriknya saat gadis ini berada di sebelahnya.

Mata Eunhyuk terpaku menatap gadis itu, ia bahkan tak memberikan kesempatan matanya untuk berkedip. Hatiku sakit, karena dari tatapan matanya itu, ia seakan mengatakan, ‘Hamun, aku masih mencintaimu,’ Tatapan yang tak pernah ia perlihatkan padaku, padahal akulah kekasihnya.

“Apa aku tak masalah duduk sini?” tanya Hamun pada Eunhyuk walau matanya menatap kearahku.

‘Kau tidak boleh duduk disana,’ jawabku dalam hati. Tapi, Eunhyuk, tanpa menanyakan pendapatku, ia mempersilahkan Hamun untuk duduk disampingnya. Sisa jam makan siang mereka habiskan untuk pembicaraan mereka berdua, seakan mereka tidak menyadari kehadiranku.

“Aku pulang dulu,” pamit Hamun, akhirnya. Aku senang dia akan segera pergi, karena aku tak ingin rencana kencan kami sehabis ini batal karena dirinya.

“Aku akan mengantarmu,” ujar Eunhyuk yang membuat tubuhku merasakan shock dan sakit disaat yang bersamaan.

“Ta-tapi,” gumanku untuk menahan kepergian Eunhyuk, tapi sepertinya ia tak perduli. Ia pergi begitu saja, dengan menggenggam erat tangan Hamun, tanpa memikirkan perasaanku yang melihat hal itu.

Dengan segera aku menundukkan kepalaku dan melahap beberapa sendok sekaligus bubur yang tersedia dihadapanku. Tak peduli meski mulutku sudah tak sanggup menampung dan pipiku sudah menggembung. Kulakukan semua ini agar tidak ada yang menyadari kalau air mataku kembali terjatuh untuk Eunhyuk.

*****

“Eunhyuk? Kau dari mana saja?” tanyaku pada Eunhyuk yang baru saja tiba padahal ini sudah pukul 12 malam. Sejak siang tadi aku menunggu kedatangannya diapartemennya ini.

Ia tak menjawab pertanyaanku. Ia justru masuk ke dalam kamarnya. Ia mengeluarkan bebetapa baju dari lemarinya dan memasukkannya kedalam kopernya.

“Kau mau kemana?” tanyaku bingung. Tapi Eunhyuk tetap saja tak menjawab. Ia terus menyibukkan dirinya dengan baju-baju itu.

“Kau mau kemana?!” seruku tanpa sadar. Hatiku sudah dipenuhi kekalutan. Pikiran yang tidak-tidak menghantuiku, dan yang paling mengerikan adalah, ‘Apa Eunhyuk mau pergi dengan Hamun?’

“Aku akan pergi dengan Hamun,” jawab Eunhyuk. Ia menatapku lurus. Tak ada keraguan dari bola matanya. Pemikiran yang paling kutakutkan ternyata menjadi kenyataan. Tubuhku mulai bergetar. Air mataku mulai mengalir akibat rasa sakit. Dia, pacarku, tapi rela meninggalkanku demi gadis yang akan menikah dengan orang lain. Jadi, siapa yang sebenarnya harus bertanggung jawab dengan rasa sakit yang kami rasakan ini?

“Jangan. Jangan pergi,” gumanku. Tangan Eunhyuk sudah kugenggam agar ia tak pergi dariku.

Tanganku dihempasnya. Lagi-lagi dengan mata yang menatapku kesal ia berkata, “Jangan hentikan aku. Aku akan pergi dengan Hamun. Aku akan memulai dari awal kehidupan kami di negara lain,” serunya.

“Ba-bagaimana dengan orangtuamu? Bagaimana dengan pekerjaanmu dan para fansmu? Bagaimana dengan.. perasaanku?” tanyaku, memohon pengertiannya.

“Mianheyo, Yeonhee. Mianhe. Aku akan merelakan semua itu demi Hamun,” ujar Eunhyuk lirih.

“Aku mohon padamu, Eunhyuk,” pintaku, usaha terakhirku.

“Mianheyo,” ujar Eunhyuk. Ia menghempas tanganku lalu pergi meninggalkanku.

Aku ingin mengejarnya, tapi kakiku tak berdaya. Aku terjerembab di lantai apartemen itu. Isakanku mulai menderu. Rasa sakit menjalar di setiap sel tubuhku.

*****

Aku memutuskan untuk tetap kuliah meski tampangku sudah seperti manusia tak bernyawa. Mungkin dengan menyibukkan pikiranku dengan teori akan membuatku lupa tentang Eunhyuk, untuk sementara.

“Hamun!” seru seorang pria. Nama yang dikumandangkan itu mengalihkan pehatianku. Aku tercekat beberapa sekon, tak percaya dengan yang kulihat. Bagaimana bisa Hamun berada disini? Bukannya semalam dia pergi bersama Eunhyuk? Lalu kenapa Eunhyuk tidak bersamanya? Justru ia terlihat makin mesra dengan calon suaminya itu.

Pertanyaan itu tak bisa kujawab sendiri. Aku menghampiri Hamun dan bertanya langsung padanya.

“Kenapa kau disini?” tanyaku, kini aku sudah berhadapan dengan Hamun. Atmosfer yang tercipta akibat getaran suaraku yang terdengar dingin membuat beberapa pasang mata menghentikan aktivitasnya.

“Kenapa kau disini?” tanyaku lagi.

Hamun tak menatapku, tersirat aura ketakutan darinya.

“Kenapa kau disini? Bukankah kau akan keluar negeri dengan Eunhyuk?” tanyaku tanpa memperdulikan keberadaan Siwon, calon suaminya, yang bingung dengan situasi saat ini.

“Mi-mianhe. Ternyata aku tak sanggup untuk meninggalkan Siwon,” balas Hamun.

“Lalu bagaimana dengan Eunhyuk?” tanyaku

“A-aku tak tega untuk mengatakan langsung padanya,”

“Jadi kau membiarkan Eunhyuk menunggumu semalaman di bandara?” tanyaku lagi, mengambil kesimpulan dari jawabannya tadi. Ia terdiam sesaat, ragu. Lalu mengangguk.

“Kenapa kau melakukan hal itu padanya?!! Kenapa kau menjadikannya pelarianmu?!! Tak tahukah kau kalau dia sangat mencintaimu?! Lalu bagaimana dengan perasaannya sekarang?!” Emosiku tak terkontol. Hatiku berontak, ingin rasanya aku menjambak rambutnya. Membalas rasa sakit di hati Eunhyuk pada orang yang menorehkannya.

“Aku benar-benar tak akan memaafkanmu jika terjadi apa-apa pada Eunhyuk!”

*****

Akhirnya aku menemukannya. Seseorang yang kucari sedari tadi. Ia sedang duduk di kursi tunggu yang telah disediakan oleh pihak bandara.

Matanya terus menatap pintu masuk bandara itu dengan tatapan kosong. Bibir yang pucat menggambarkan kalau dia sudah lelah menunggu semalaman.

“Ayo kita pulang,” ajakku. Eunhyuk tak merespon. Ia masih saja terdiam dengan posisi yang sama dan tatapan yang tetap kosong. “Ayo kita pulang, Eunhyuk,” ajakku lagi namun ia tetap tak bergeming.

Aku menarik tangannya, berniat untuk memapahnya, tapi ia tetap mempertahankan posisinya di kursi tunggu itu. Meski ia tak berkata apapun, namun aku tahu hatinya masih menunggu Hamun.

Rasanya aku ingin menangis saat ini. Hati ini sudah begitu sakit ia buat. Dan yang paling kusesali adalah, aku masih tetap mencintai pria yang jelas-jelas tak pernah menganggap kehadiranku ini. Bagaimana aku masih bisa datang kesini untuk menolongnya, padahal semalam ia berniat untuk meninggalkanku tanpa memperdulikan perasaanku? Kurasa aku memang gadis paling bodoh.

“Kau tak perlu menunggu Hamun. Ia tak akan datang. Ia berkata padaku kalau ia akan melanjutkan pernikahannya dengan Siwon,” jelasku. Aku tak peduli jika ia sakit hati. Aku hanya ingin dia tahu kalau wanita yang ia cintai itu hanya menjadikannya pelarian.

“Aku yakin Hamun akan datang,” ujar Eunhyuk.

Cukup. Detik demi detik yang kuhabiskan bersamanya selalu saja membuat luka dihati ini makin dalam dan dalam. Aku memutuskan untuk pergi sebentar dari tempat itu. Aku menelpon Hamun.

“Datanglah ke bandara. Katakan sejujurnya kalau kau akan meneruskan pernikahanmu dengan Siwon. Buatlah ia berhenti berharap padamu,”

*****

LEE HYUKJAE’s pov

Apa yang kukatakan benar, kan? Hamun pasti datang. Sosoknya yang mempesona itu langsung menarik perhatianku. Tubuh yang tadi nyaris tak bertenaga kini seakan kembali berenergi. Aku bangkit dari tempat dudukku dan berjalan menghampirinya. Aku tak sabar kalau harus berdiam menunggunya di kursi tunggu. Aku sudah lelah menunggu selama lebih dari 24 jam.

“Aku tahu kau datang,” ujarku seraya memeluk Hamun. Namun ada yang aneh. Ia tak membalas pelukanku, justru melepaskan kaitan tanganku dari tubuhnya. Ia menunduk dan tak menatap mataku. Raut wajahnya seakan ingin mengatakan sesuatu yang sakral, tapi sepertinya itu pertanda buruk untukku.

“Ada apa sayang, hem?” tanyaku. Aku mengelus kepalanya, berusaha menghilangkan rasa takut yang ia rasakan. Entah apa penyebabnya.

“Berhentilah memanggilku sayang. Aku akan menjadi istri orang lain bulan depan,” balas Hamun. Sesaat, aku terperangah dengan ucapannya namun aku kembali memainkan logikaku. Ia pasti bercanda, kan?

“Jangan main-main Hamun. Kita sudah berjanji akan memulai hubungan dari awal, kan? Kau masih mencintaiku, kan?” tanyaku.

“Aku mencintaimu. Tapi aku juga mencintai Siwon dan aku sudah memilih Siwon sebagai pendamping hidupku,”

Aku terdiam, menolerir rasa sakit yang mulai merambati seluruh tubuhku. Aku masih menyangkal apa yang kudengar. Aku masih meyakini kalau ada yang salah dengan sistem pendengaranku.

“Aku datang kesini karena ingin mengakhiri semuanya, hubungan kita. Aku tak akan menemui lagi. Aku bahkan tak akan menelepon atau sms dirimu lagi. Aku akan menghilang dari kehidupanmu agar kau dapat melupakanku. Kau harus melupakanku. Sudah terlalu dalam luka yang aku tinggalkan dihatimu,”

Hamun menatapku lirih. Ia mengecup pipiku. “Selamat tinggal, Eunhyuk,” katanya. Sebuah kalimat yang cukup menyayat hatiku. Ia beranjak, namun aku menahan tangannya. Menahan kepergiannya.

“Jangan pergi,” ujarku. Setetes air mata jatuh membasahi pipi kananku dan air mata dipipi kiriku sudah membanjir. Hamun menatapku dengan rasa bersalah. Ia menghempas tanganku lalu pergi begitu saja. Ia tak perduli meski aku sudah histeris memanggil namanya.

“HAMUN! HAMUN! HAMUN!!”

Tenagaku seperti disedot oleh roh halus. Aku langsung lunglai dan jatuh terduduk ditempatku berdiri sebelumnya. Aku terus memandang kosong ke arah Hamun yang makin lama bayang-bayangnya pun menghilang.

*****

PARK YEONHEE’s pov

“Ayo kita pulang,” ajakku. Eunhyuk tak bergeming tapi badannya masih mau menurut denganku. Aku menarik tangannya dan memapahnya menuju mobil.

Selama perjalanan atau setelah kita tiba diapartemennya, ia tak berbicara sama sekali. Matanya kosong. Air matanya terus mengalir dalam keheningannya. Dan hal itu berlanjut sampai keesokan harinya.

Eunhyuk bak mayat hidup. Sejak kemarin malam ia belum makan atau pun minum. Ia hanya duduk terdiam di tempat tidurnya. Matanya selalu menatap kosong ke luar jendela. Matanya merah namun tak ada air mata yang keluar. Bukan karena ia tak menangis, mungkin karena air matanya sudah habis.

“Makanlah,” ujarku sambil menyuapkannya sesendok bubur. Bubur itu sudah berhenti tepat dimulutnya namun ia tak memberi jalan untuk sendok itu masuk. Berulang kali kucoba dan berulang kali aku gagal.

“Kalau kau tak makan, aku juga akan melakukan hal yang sama denganmu,” ujarku. Kupikir, mungkin hatinya akan tergerak jika orang lain berkorban demi dirinya. Tapi dugaanku salah. Ia tetap tak bergeming atau pun memberi respon. Kurasa ia tak perduli kalau aku ikut mati bersama dirinya.

“Aku akan tetap melaksanakan apa yang sudah kukatakan barusan,”

*****

LEE HYUKJAE’s pov

Aku terbangun dari tidur malamku. Sejak 2 hari yang lalu aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Aku bangkit dari tempat tidurku dan berjalan keluar dari kamarku. Tepat setelah pintu kamarku terbuka, aku melihat sebuah tudung saji diatas meja makanku. Aku menghampirinya dan mendapati ada semangkuk bubur yang masih cukup hangat dibawah tudung saji.

Aku kembali melanjutkan perjalananku. Betapa kagetnya aku saat mendapati Park Yeonhee tertidur di sova ruang tamuku. Dia tak pulang?

Aku menghampirinya, melihat wajahnya dari dekat. Tulang pipinya terlihat lebih menonjol. Urat ditangannya pun tergambar lebih jelas. Wajahnya makin kurus dan pucat. Selama ia tidur, ia memegangi perutnya. Air keringat juga membasahi tubuhnya. Dan aku menemukan sebuah obat penetral asam lambung di dekatnya.

“Kau punya maag dan kau tak makan selama 2 hari karena aku?” tanyaku tak pada siapapun.

Siapa yang bodoh saat ini? Aku atau dirinya? Apakah dia sangat bodoh sampai tak memperdulikan kesehatannya demi aku? Atau.. Apakah aku yang sangat bodoh sampai aku tak bisa melihat ketulusan gadis ini? Aku tak bisa membiarkan ia menyiksa dirinya sendiri demi aku.

*****

PARK YEONHEE’s pov

“Eunhyuk, makanlah,” ujarku sambil kembali mencoba untuk menyuapinya. Hasilnya tetap sama. Ia tak mau menerima bubur itu. Ini hari ketiga, dan aku takut kalau sampai terjadi apa-apa padanya.

“Eunhyuk, ayo makan,” pintaku sekali lagi namun ia tetap menolak. Rasa khawatir yang menyerangku membuat hatiku kalut. Kesabaran yang selama ini aku tahan kini seakan memuncak.

“Berhentilah bersikap bodoh. Jangan menyakiti dirimu sendiri terutama untuk wanita yang jelas-jelas sudah menyakitimu. Aku mohon padamu, makanlah,” ujarku.

Eunhyuk menyunggingkan bibirnya. Namun bibir itu tak membentuk senyuman, namun seringai sinis seakan mengejek sesuatu.

“Apa kau tak sadar dengan apa yang baru kau ucapkan?” tanyanya. Matanya memandangku kesal. Tatapan mata yang paling aku takuti karena mata itu bisa memberikan efek sakit yang beratus kali lipat untuk hatiku.

“Berhentilah bersikap bodoh. Jangan menyakiti dirimu sendiri terutama untuk aku yang jelas-jelas sudah menyakitimu. Aku mohon padamu, lupakan aku,”

“Mwo?” tanyaku.

“Berhentilah bersikap bodoh. Jangan menyakiti dirimu sendiri terutama untuk aku yang jelas-jelas sudah menyakitimu. Aku mohon padamu, lupakan aku,” ujarnya. Kata-kata itu sama persis seperti kalimat yang sebelumnya kudengar.

Aku terdiam. Aku tak tahu harus menanggapi kalimat itu seperti apa. Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada sikapnya selama ini. Jika ia menyuruhku untuk melupakannya sama saja ia berusaha untuk menyiksaku lebih lagi, karena aku pun tahu, melupakan Eunhyuk adalah hal yang paling mustahil untuk kulakukan.

“Lupakan aku. Pergilah dari kehidupanku. Jangan pernah muncul dihadapanku. Jangan menelpon atau mengirimiku sms. Kalau kau melakukan itu semua, aku akan makan makanan ini,” ujar Eunhyuk.

Aku mengepal tanganku, menahan rasa sakit yang tak tertahankan di rongga dada ini. Rasanya aku seperti ditusuk pisau berulang kali. Aku lebih memilih untuk bersamanya meskipun disakiti daripada harus hidup tanpa dirinya. Aku tak pernah membayangkan hal itu sebelumnya. Ini lebih menyakitkan dari apapun.

“Pergilah dari hadapanku sekarang dan jangan pernah kembali,” ujar Eunhyuk mengusirku. Ia bahkan bangkit dari tempat tidurnya hanya untuk membukakan pintu kamarnya untukku.

“Silahkan keluar,”

Dengan langkah gontai, aku menyeret kakiku keluar dari tempat itu. Namun saat aku tepat berada disampingnya, otakku memerintah kakiku untuk berhenti.

“Aku punya permohonan terakhir,”

“Apa itu? Cepat katakan dan pergi dari sini,”

“Lupakan Hamun. Berhentilah mengeluarkan air matamu untuk dirinya. Aku pun akan melakukan hal yang sama. Aku akan melupakanmu dan berhenti menangis karenamu. Tapi aku ingin kau tahu..”

Kakiku menjinjit untuk meraih bibirnya. Aku mengecupnya, “Saranghaeyo,”

*****

LEE HYUKJAE’s pov

“Lupakan Hamun. Berhentilah mengeluarkan air matamu untuk dirinya. Aku pun akan melakukan hal yang sama. Aku akan melupakanmu dan berhenti menangis karenamu. Tapi aku ingin kau tahu..” Yeonhee membiarkan kalimatnya menggantung. Lalu ia berjinjit dan mengucup bibirku. Aku bisa merasakan kehangatan dan ketulusan mengalir dari kulit bibirku.

“Saranghaeyo,” katanya. Sebuah kata yang membuatku terperanjat. Sebuah kalimat yang membuat hatiku merasakan sakit, namun saat ini aku tak bisa menebak arti rasa sakit itu.

Apa itu rasa sakit yang disebabkan Hamun kemarin? Atau rasa sakit karena aku telah menyakiti Yeonhee? ataukah itu rasa sakit karena Yeonhee akan meninggalkanku, melupakanku, dan berhenti mencintaiku? Entah mengapa, rasa menyesal menyelimuti relung dadaku.

*****

Setelah 2 hari masa pemulihan, manager kembali menyusun jadwalku. Ternyata aku punya hutang job yang harus kubayar dengan kerja rodi selama 3 hari kedepan. Mulai dari tour keluar kota, drama, pembuatan video klip, acara live, juga menjadi MC beberapa acara variety show.

Cukup padat, sampai aku lupa kalau aku belum makan dari tadi pagi. Tapi aku tak perlu khawatir, Yeonhee biasanya akan membawakan makanan yang enak untukku.

“Eunhyuk sshi, makanlah ini,” ujar seorang kru sambil menyerahkan sekotak nasi beserta lauk pauknya.  Aku terdiam sesaat sambil menatap pria yang ada dihadapanku. Ia bukan Yeonhee. Namun aku kembali berpikir, kenapa saat ini aku mengharapkan kehadiran Yeonhee? Kenapa nama Yeonhee terlintas diotakku?

“Eunhyuk sshi, gwencana?” tanya pria itu menyadarkanku dari lamunan.

*****

Aku terbangun dari tidur malamku. Sejak kemarin aku tak bisa tidur dengan nyenyak meskipun aku sudah sangat capek dengan pekerjaanku. Aku bangkit dari tempat tidurku dan berjalan keluar dari kamarku. Tepat setelah pintu kamarku terbuka, aku melihat sebuah tudung saji diatas meja makanku. Aku menghampirinya namun aku tak mendapati apapun di dalamnya.

“Apa yang kupikirkan? Apa aku berharap ada makanan dibawah tudung itu? Apa aku mengharapkan kehadiran Yeonhee?” tanyaku pada diriku sendiri. Tapi diriku pun tak bisa menjawabnya.

Aku kembali melanjutkan perjalananku. Namun dengan sangat kusadari, mataku menangkap keberadaan sova yang ada diruang tamu. Aku berjalan ketempat itu dan duduk disana.

Aku bagai orang sakit jiwa. Bayang-bayang Yeonhee saat ia tertidur di tempat ini, silih berganti terpampang di otakku. Aku ingat bagaimana tulang pipinya terlihat lebih menonjol. Urat ditangannya pun tergambar lebih jelas. Wajahnya makin kurus dan pucat. Selama ia tidur, ia memegangi perutnya. Air keringat juga membasahi tubuhnya. Dan aku menemukan sebuah obat penetral asam lambung di dekatnya.

Aku ingat semuanya.

Apa aku sangat bodoh?

Apakah aku terlalu bodoh sampai akhirnya aku terus membayangkan wajah gadis yang kuminta untuk pergi dari kehidupanku?

Apa aku begitu bodoh sampai mengharapakan kehadirannya?

Apakah aku terlalu bodoh sampai aku tak mengerti arti perasaanku sendiri?

Atau aku terlalu naif sampai aku tak berani untuk mengakui kalau apa yang kurasa ini mungkin disebabkan oleh cinta?

*****

“Hello bro, long time no see,” sapa Donghae, sahabatku, saat aku baru saja masuk ke kelas kuliahku. Sepertinya sudah 2 minggu aku tidak menghadiri kelas.

“Hai Donghae. Lama tak berjumpa,” balasku sambil memberikan toss pada telapak tangannya. Aku mengambil posisi duduk disebelah Donghae. Baru saja kami ingin melakukan perbincangan, dosen kami sudah memasuki kelas. Dimulai dengan mengabsen siswanya satu-persatu.

“Lee Hyukjae?”

“Hadir,” sahutku yang dibalas senyum olehnya.

“Akhirnya kau datang juga. Akan sangat sepi kalau kelas kita kehilangan 2 siswa sekaligus,” ujarnya. Kalimat yang tak kumengerti dan membuatku bertanya-tanya pada diriku sendiri.

Aku memperhatikan seksama kondisi kelasku. Aku juga mendengarkan dengan serius nama-nama tiap anak yang dipanggil oleh dosen. Tapi sepertinya ada satu yang terlewat. Ia tak memanggil nama Yeonhee.

“Kenapa Yeonhee tak dipanggil?” tanyaku setengah berbisik pada Donghae.

“Kau tak tahu? Sejak hari ini Yeonhee pindah ke Japan. Akhirnya dia memutuskan untuk mengambil beasiswanya. Ia memang tak begitu menonjol, namun ia punya bakat yang membuatnya diincar oleh berbagai universitas. Sebenarnya sudah sejak dulu ia mendapat tawaran beasiswa itu, namun beberapa kali ia menolaknya dengan alasan, ‘ada orang yang aku cintai di Seoul ini. Aku tak sanggup jika tak bertemu dengannya, walaupun itu hanya satu hari.’ Tidakkah itu alasan yang konyol?”

“Aku permisi,” pamitku pada Donghae. Penjelasan Donghae tadi entah mengapa membuatku menjadi kalut. Kegelisahan mendominasi hatiku. Kekacauan dalam diriku membuatku tanpa sadar keluar dari kelas tepat di saat dosen sedang mengajar. Dan kelabilan dalam diriku ini membuatku dengan segera menginjak kopling untuk melajukan mobilku menuju bandara.

….

Aku tiba di bandara. Aku sudah mencari kesana dan kemari, dan aku sudah mendapatkan dirinya. Aku sudah melihatnya. Ia baru saja masuk ke dalam ruang check ini bandara. Semestinya aku masih bisa untuk mengejarnya. Namun kaki ini tak mau digerakan. Otak ini memaksa kakiku untuk tetap diam di tempat. Hatiku berkata, ‘Kau belum pantas untuk menemuinya. Terlalu dalam luka yang kau buat di dalam hatinya,’

******

Japan, 3 years later. LEE HYUKJAE’s pov

Sudah 3 tahun berlalu. Selama itu pula aku telah memikirkan arti dari perasaanku ini. Berulang kali aku menyangkal kalau di hati ini ada gejolak cinta untuk Yeonhee. Tapi semakin aku menyangkalnya, bayang-bayang Yeonhee semakin menghampiriku. Otakku tak bisa berhenti memikirkannya.

Aku sering mereview ingatanku tentang masa-masa saat Yeonhee mengejarku. Aku ingat bagaimana debaran jantungnya saat ia memelukku. Aku ingat kehangatan dan ketulusan yang selalu ia berikan padaku dengan cuma-cuma. Dan aku juga ingat betapa kejamnya aku dulu dan betapa bodohnya gadis itu hingga ia masih mau mencintaiku.

It’s her love that makes me melt inside.

Aku semakin yakin kalau perasaan yang kurasakan ini adalah cinta. Aku pernah jatuh cinta sebelumnya, Hamun. Tapi rasa cinta yang kurasakan kali ini berbeda. Tidak ada keegoisan didalamnya. Cinta ini terasa sangat sederhana namun manis. Aku tak tahu mana cinta yang sesungguhnya, namun semakin lama aku berpikir akhirnya aku sadar kalau Love is the only word that can’t be defined by anyone, because it’s different for everyone.

Aku tahu, mungkin luka yang kusebabkan dihati Yeonhee tak akan bisa kusembuhkan hanya dengan kata maaf. Namun aku tak ingin menyerah sebelum berjuang. Aku tak minta sesuatu yang muluk, misalnya ia mau menjadi pacarku. Aku tak berani berharap banyak akan hal itu mengingat perbuatanku dulu. Tapi setidaknya aku ingin dia tahu, kalau Lee Hyukjae ini sangat menyayanginya.

Dan akan kunyatakan semua itu di penghujung konser di Jepang nanti.

*****

“Akhirnya kita tiba di akhir acara, dan idola kita Eunhyuk akan menyanyikan lagu terbaru yang ia ciptakan,”

The sounds I hear when I close my eyes
Your feelings, your little thoughts
Because of the many unnecessary noises in my heart,
I was unable to hear them. I’m sorry, I’m sorry
The time of shedding tears is now history.
Don’t worry, because..

You’re my melody; I’ll perform you, on & on,
You’re my song, my life’s soundtrack,
I love you, for you brighten up my life’s stage,
I’ll continue to sing you, you’re my song

The times when my pride didn’t want to say ‘I’m sorry,’
My heart was extremely poor,
Will you come to me when my spirit is drying up?
When I’m about to break down?

Even the saddest times have an end just like a song, because..
It’s your love, your love, how you showed me love,
You’re my rhythm, my life’s present,
Please become the beautiful dream of my life timelessly,
I’ll continue to sing you, you’re my song

The numerous sad love songs,
Although they seem to be about us,
You’re the most special person right now by my side,
When you close your eyes, the sounds you hear, your heart, I’ll sing them now

*****

PARK YEONHEE’s pov

“Kenapa berhenti?” tanya temanku. Aku tersenyum padanya sambil menunjuk ke layar besar yang tertempel di salah satu gedung.

“Kau menyukainya?” tanyanya.

Pertanyaan sederhana itu membuatku kembali menginga,t bagaimana dulu aku begitu menyukainya. Dan perasaan itu kembali membuat dadaku berdetak kencang. Aku tersenyum lirih dan mengangguk pelan, “Yes, i like him,” jawabku.

“Kalau tidak salah, saat press conferencenya tentang konsernya ini, ia menciptakan lagu terakhir ini untuk gadis yang ia cintai selama 3 tahun ini,” jelasnya.

Saat ini juga, aku merasakan ada sesuatu yang menghantam relung dada ini. Rasa sakit ini membuatku tak bisa memungkiri kalau aku masih sangat mencintai pria yang ada dilayar kaca tersebut. Namun sayangnya, gadis yang ia cintai bukan aku. Dan hal itu tak akan pernah terjadi. Ia sudah mengatakannya berulang kali. Aku tak punya harapan. Untuk bermimpi tentang hal itu pun aku tak berani.

Perhatianku kembali terpusat pada tv itu saat ia menghentikan petikan gitarnya dan suaranya. Ia mencabut mic itu dari tempatnya lalu menatap lurus kearah kamera seakan ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.

“Park Yeonhee!” seru seseorang memanggil namaku. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri namun tak kudapatkan siapa-siapa. Hanya ada temanku tadi, dan ia tak mungkin berseru hanya untuk memanggilku.

“Park Yeonhee!” seru suara itu lagi.

“Hei, kau mengenal Eunhyuk? Ia memanggilmu,” ujar temanku itu sambil menunjuk ke layar super huge itu.

Eunhyuk memanggilku? Tak mungkin. “Tak mungkin. Mungkin Park Yeonhee yang lain. Orang Korea yang bernama Park Yeonhee tak hanya aku,” jelasku padanya.

Temanku terdiam. Aku pun begitu. Kami kembali memperhatikan layar kaca itu. Eunhyuk mulai berbicara, “Park Yeonhee? Kau dimana? Apa kau melihatku? Apa kabar?” tanya Eunhyuk pada gadis yang ia panggil Park Yeonhee tadi. Namaku memang Park Yeonhee, tapi aku tak berani berharap kalau Park Yeonhee yang ia maksud adalah aku. Eunhyuk terlihat nervous dari sini. Mic yang ia pegang bergetar karena tangannya yang gemetaran. Sedikit demi sedikit keringat mengalir dari kepalanya.

“Ah, mianhe, aku terlihat sangat kacau seperti ini,” timpalnya sambil mengelap keringatnya dengan punggung tangannya. “Ini pertama kalinya aku gugup saat berbicara, padahal aku biasa bekerja sebagai MC. Eung, ada sesuatu yang ingin kukatakan, tapi tidak disini. Karena itu, apa kau bisa datang ke Tokyo Tower? Aku menunggumu. Aku akan menunggumu sampai kau datang,” ujarnya.

“Siapapun yang mengenal Park Yeonhee, mahasiswa transfer dari Korea Selatan yang berkuliah di Tokyo University, Tolong beritahukan ia kalau aku menunggunya di Tokyo Tower. Arigatou,”

“Mungkin memang banyak orang Korea yang bernama Park Yeonhee.. tapi hanya satu orang Korea yang bernama Park Yeonhee di Tokyo University. That’s you, Yeonhee,”

Aku terdiam. Terpaku ditempat, mencerna kalimat yang temnku ucapkan. Dadaku berdetak kencang, bukan akibat rasa sakit yang tak tertahankan, melainkan karena shock dan rasa tidak percaya yang berlebihan. Jujur saja, ini terlalu mengejutkan.

Kakiku lunglai. Saking shocknya, aku sampai kehilangan kendali diri. Tanpa kusadari, air mata mulai mengumpul di pelupuk mataku. Aku tak tahu apa arti air mataku kali ini. Apa air mata kesedihan karena ia kembali membangkitkan rasa sukaku padanya? Atau air mata kebahagiaan karena ia datang untuk mencariku?

“Hei, jangan menangis sekarang, kau sudah ditunggu oleh pria itu di Tokyo Tower,” ujar temanku itu. “Ponselmu juga sudah berkali-kali berbunyi. Mungkin banyak teman yang mengabarimu tentang hal ini,”

Aku tersenyum padanya lalu langkah kakiku mulai beranjak menuju tempat yang sudah ia sebutkan tadi: Tokyo Tower.

*****

“Hai Eunhyuk,” ujar seorang gadis yang teramat sangat manis ini. Tiba-tiba saja ia muncul dan membuat jantungku berdetak terlalu cepat.

“A.. a..annyeonghaseyo,” sapaku. Sejak kapan aku menjadi gagap seperti ini?! Aku sungguh kacau.

“Kau.. kenapa memanggilku kesini dengan cara yang sangat mencolok seperti tadi? Ada sekitar 78 miscall di ponselku,” ujar Yeonhee yang membuatku makin tak bisa berbicara. Saat ini aku baru menyadari kalau tindakanku tadi cukup memalukan.

“A.. a, i.. i..itu, anu.. eng.. maksudku..,”

“Stop!” seru Yeonhee yang langsung membuatku mengunci mulutku rapat-rapat. “Inhale, Exhale. Inhale, Exhale. Lakukan itu beberapa kali,” ujarnya menasehatiku dan kuturuti. Ternyata cara ini sangat jitu. Semua kebimbangan, ragu, dan rasa nervous pun menghilang.

“Sudah tenang? Jadi ada apa?” tanya Yeonhee dengan lembut. Senyum manis tergurat diwajah cantiknya. Bodoh sekali aku baru menyadari kecantikannya sekarang.

Aku menghela nafas. Menyiapkan batinku untuk mengatakan kata yang cukup sakral ini, “Saranghaeyo Park Yeonhee,”

…..

Yeonhee terdiam. Senyum diwajahnya sudah hilang. Ia menatapku lirih. Aku sadar, semua sudah terlambat. Aku sendiri yang memintanya untuk menghapus perasaannya padaku. Hatiku sakit menerima fakta ini, namun aku harus kuat. Rasa sakit yang kurasakan masih kalah jauh dari rasa sakit yang dulu pernah kubuat di hati Yeonhee.

“Jangan bercanda Eunhyuk. Ini sama sekali tidak lucu,” ujar Yeonhee. Air mata mulai mengalir dari kedua matanya.

Aku menarik tangan Yeonhee, menggenggam tangannya erat. Meyakinkannya kalau ia tak sedang bermimpi. “Aku tak bercanda. Aku sangat serius, Yeonhee,”

Yeonhee menatapku tajam. Ia menepis tanganku. Terdiam sebentar lalu ia mulai menepuk pelan pipinya. “Yeonhee, wake up,” ujarnya pada dirinya sendiri.

“Yeonhee, kau tak sedang bermimpi. Ini sangat nyata dan aku sungguh mencintaimu,” tegasku.

Yeonhee justru menampar pipinya sendiri dengan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya. Air matanya mengalir deras. “Yeonhee, ppali, wake up! Eunhyuk tak mungkin mencintaimu! Ia sangat menyukai Hamun dan selamanya akan seperti itu! berhentilah mengharapkannya! Bukankah kau sudah berjanji padanya, untuk berhenti mencintainya? Yeonhee wake up! Mimpi ini terlalu menyakitkan!” ujar Yeonhee parau disela isak tangisnya.

Hatiku sakit melihat Yeonhee seperti itu. Aku tak sadar kalau aku sudah sangat menyakitinya selama ini. Yeonhee, maafkan aku.

Aku tak bisa melihat Yeonhee seperti ini lebih lama lagi. Aku menariknya kedalam pelukanku. Memberikan kehangatan padanya agar ia percaya kalau aku adalah nyata, begitu pula perasaanku padanya.

“If you think it’s just a dream to love you, then i won’t wake up from this forever,” ujarku sambil mengeratkan pelukanku. Yeonhee tak merespon, namun bahu yang naik turun ini, isakan kecil yang kudengar, dan tangan lembut yang melingkar dipinggangku, seakan sudah menyatakan kalau ia percaya padaku, pada perasaanku. Namun aku belum bisa bahagia sekarang karena Yeonhee belum memberikan jawaban apapun pada perasaanku ini.

*****

“Sudah tenang?” tanyaku pada Yeonhee yang sedari tadi masih berada dalam pelukanku.

Ia memberikan senyumnya padaku. “Yes, thank you,” ujar Yeonhee.

Tiba-tiba senyuman Yeonhee memudar. Ia terdiam mengamati wajahku. “Apa aku sebegitu tampannya?” tanyaku. Yeonhee tertawa pelan, air mata yang mengering dipipinya membuat tawa Yeonhee tertahan.

“Aniya. Hanya saja, kenapa bibir dan pelipismu itu? Meskipun ditutupi make up, kalau aku melihatmu dengan jarak sedekat ini, aku bisa melihat luka yang ada disana,” jelas Yeonhee. Tangan Yeonhee merambat ke wajahku dan memberi tekanan pada luka di wajahku itu.

“Argh!” seruku. “Sudah tahu itu luka, kenapa masih kau tekan Yeonhee?” tanyaku setengah kesal namun hanya dibalas Yeonhee dengan cengiran tanpa dosa.

“Kenapa?” tanyanya.

“Ayahmu yang membuatnya,”

Mata Yeonhee membesar. “Mwo? Apa yang kau lakukan?”

“Aku minta maaf pada ayahmu,”

“Waeyo?” tanyanya lagi.

“Tentu saja karena ayahmu masih dendam padaku. Ingat bagaimana aku membatalkan pertunangan kita di hari pertunangan itu sendiri? Aku sadar kalau itu sangat menyakitkan untuk keluargamu terutama untuk dirimu. Aku ingin minta maaf agar ayahmu mengijinkanku untuk memacari putri kesayangannya ini,” jelasku.

Yeonhee menatapku intens. “Jadi kau merelakan wajahmu terluka seperti ini demi aku?”

“Yeah, aku sudah merelakan wajahku untuk mendapatkanmu kembali. So, please give me a second chance to love you, Yeonhee,” pintaku sambil mendaratkan bibirku di keningnya.

“Jadi ini kenyataan? Aku tidak sedang bermimpi?” tanya Yeonhee. Ya ampun, gadis ini.

Aku tersenyum padanya namun sepertinya ia tak mengerti arti senyumanku itu. “Coba kau tebak sendiri,” ujarku. Aku memegang kedua pipinya dan menegadahkan kepalanya ke atas. Aku mengecup bibirnya lembut. Ehm.. Cukup lama.

“Bagaimana?”

Yeonhee tersenyum sambil memegangi bibirnya, “Woah, ini benar-benar nyata Lee Hyukjae,”

“Jadi kita sudah resmi berpacaran, kan?” tanyaku lagi.

“Tentu saja, kau pikir setelah menunggumu selama belasan tahun, aku akan rela melepaskanmu begitu saja?”

“Tentu saja tidak. Aku tak akan membiarkanmu melakukan hal itu meskipun kau ingin. Lagi pula aku senang jika kau menjadikan aku tahananmu,” ujarku yang ia sambut dengan senyuman. Senyuman yang membuat jantungku berdetak sangat kencang.

“Apa kau sebegitunya mencintaiku? Jantungmu berdetak sangat kencang, Eunhyuk,”

“Engh, yeah. I love you,”

*****

Dear Yeonhee,

If it’s wrong to love you

Then my heart just won’t let me be right

If it’s hurt to love you

Then my body will getting used of the pain

And if it’s just a dream to love you

Then i won’t wake up from this, forever.

Saranghae.

 

END🙂

ps: this ff special for my beloved twins❤ Get well soon reen🙂 hope you can feel joy when u read this ^^

and some quotes in this ff are not belong to me but i cant make a credit because actually i dont really remember from where i got the quotes🙂