Written by: esterong
Annyeong chingudeul!
Saya kembali dengan ff baru hehehe
Tapi kali ini main castnya bukan member suju melainkan TOP BigBang. Terinspirasi dari foto diatas. Apalagi abis nonton Running Man 85. Imej Top ga bisa ilang dari pikiran. Akhirnya jadilah ff ini hehehe aku uda coba main castnya pake Eunhyuk tapi feelnya ga dapet huhu.

Hope you enjoy this ff ya chingudeul ^^ mianhe kalo bukan member suju but enjoy reading! Your comments are love for me.

******

Suara dentuman bola basket yang menyentuh permukaan lapangan indoor menjadi hal terfavorit bagi para gadis di Chonsuk School. 10 menit setelah bel pelajaran berakhir, lapangan indoor ini pasti sudah dipenuhi oleh para wanita, disusul dengan datangnya para pria gagah nan tampan yang berbadan atletis ke tengah lapangan.

Biasanya para gadis memang berkumpul hanya untuk melihat latihan basket putra, namun kali ini mereka berkumpul untuk mendukung tim basket putra dalam pertandingan persahabatan.

…..

Detik terus berlalu berganti dengan menit. Babak demi babak pun mulai terlewati dengan skor yang sama. Akankah pertandingan kali ini berakhir dengan seri? Tidak. Mereka harus memperoleh kemenangan dan sepertinya Tuhan menghendaki hal itu.

“PRIIIIT!!” bunyi peluit tanda adanya suatu pelanggaran berbunyi. Baru saja, pemain lawan bernomor punggung 5 mendorong pemain Chonsuk yang paling handal. Dalam waktu yang hanya sisa 90 detik, hal ini sangat menguntungkan bagi Chonsuk untuk menciptakan perbedaan nilai.

“Choi Seunghyun!! TOP!!”

Kedua nama itu dielukan bergantian. Mendukung pria yang mendapat kesempatan untuk free throw. Satu manusia tapi memiliki 2 nama. TOP hanyalah nama panggilan yang diberikan para gadis ini untuk pria yang aslinya bernama Choi Seunghyun itu.

“PRIIIIIT!!” peluit wasit berbunyi. Seunghyun mulai mengambil ancang-ancang untuk melempar. 3 kali kesempatan dan ketiganya masuk. Sekarang Chonsuk hanya perlu menguatkan pertahanannya selama 1 menit kedepan.

Tapi ternyata, Seunghyun tak bisa berdiam diri. Ia mempercayakan teman-temannya untuk bertahan dan ia pergi menyerang seorang diri. Melewati pemain center, dan guard lawan. Bak seperti difilm-film, waktu seakan berjalan sangat lambat, paru-paru seakan tak bisa berfungsi, dentuman bola dan suara jam yang berganti menambah debaran jantung ini.

3.. 2.. Tepat sebelum angka 1 berubah menjadi 0, Seunghyun berhasil mencetak three point untuk Chonsuk.

Suara para gadis itu bertalu-talu memanggil namanya. Sorak-sorai kemenangan dan sukacita mengisi lapangan indoor ini.

“Congratulation TOP!” ucap para gadis bergantian. Teman-teman seperjuangannya pun merayakan kemenangan dengan mengangkatnya dan melemparnya.

“You’re awesome!” seru teman-temannya bergantian yang hanya bisa Seunghyun balas dengan senyuman.

Seunghyun gembira dengan kemenangan ini, tapi tetap saja kebahagiaannya tak lengkap jika tak ada gadis itu.

Ia mempertajam kinerja penglihatannya. Menoleh kesana-kemari untuk mencari gadis itu tapi ternyata ia tak ada disana.

Bodoh sekali aku mengharapkan kehadirannya. Ia tak suka pada basket. Dan ia juga tak suka padaku. Tak ada alasan yang akan membawanya ketempat ini, batinnya.

“TOP! Kajja! Kita pergi merayakan kemenangan ini,” ajak teman Seunghyun dan hal itu membuat lamunannya buyar.

Ia menghela nafas panjang. Berusaha menerima kenyataan.

*****

“Terima kasih karena Kau sudah memberikan kemenangan untuknya,” gumam seorang gadis sambil mencium kalung salib yang ia genggam sedari tadi. Diam-diam ia kembali melihat ke dalam lapangan. Matanya mengejar keberadaan pria yang menjadi bintang utama dalam permainan kali ini. Pria itu tersenyum semringah demikian juga gadis ini, seakan ada saraf penghubung diantara bibir keduanya.

Gadis ini sudah sejak tadi berdiri di ambang pintu masuk lapangan indoor ini. Ia mengikuti jalannya pertandingan dari awal sampai akhir. Telapak tangannya yang berkeringat menunjukan kalau sedari tadi ia sudah berdoa untuk kemenangan tim ini.

“Kajja! Kita pergi merayakan kemenangan ini,” ajak seseorang pada teman yang lain. Dengan segera gadis ini melangkah pergi menjauh dari tempat itu.

Akan terlihat sangat aneh untuk siswa lainnya jika mendapati gadis ini masih berada di sekolah jam segini hanya untuk melihat pertandingan basket. Pemikiran inilah yang membuatnya selalu menonton pertandingan atau latihan basket putra dari ambang pintu. Ah, ia juga tidak suka dengan keramaian —alasan kedua—

Langkah gadis itu terhenti. Akhirnya ia sadar kalau dirinya sudah salah jalan. Dari pintu tadi ia berjalan ke kiri padahal koridor sebelah kiri itu hanya ada ruang ganti pria. Dengan langkah seribu ia segera berganti arah namun ternyata para pria itu sudah keluar terlebih dahulu.

Mati aku. Bukan karena  malu, namun karena rasa berdebar yang disebabkan oleh pria itu. Saat ini, pria itu sedang menatap Hera heran.

Hera tahu pasti pria itu dalam hati akan mempertanyakan mengapa gadis seperti dirinya ini berada disini. Itulah yang ia takutkan. Ia takut kalau-kalau pria itu akhirnya tahu kalau dirinya, selama ini, selalu melihatnya dari ambang pintu itu, selalu berdoa untuk kemenangannya, dan selalu tersenyum bersamanya. Ia takut kalau pria itu menyadari ia menyukainya.

*****

Mata pria ini membesar dan mulutnya nyaris terbuka sesaat saat dirinya, dengan matanya sendiri, melihat gadis itu berada ditempat ini.

Gadis berkacamata dengan nametag Kwon Hera di seragamnya, berhasil menyedot perhatian Seunghyun saat ia berjalan menuju Seunghyun, atau lebih tepatnya melewatinya.

Dikepala Seunghyun tiba-tiba dipenuhi dengan pertanyaan. Mengapa dia ada disini? Apa dia melihat pertandingan tadi? Apa dia melihatku? Namun tak ada satupun dari pertanyaan itu yang mendapatkan jawaban. Ia juga tak punya nyali untuk bertanya langsung padanya.

Tapi setidaknya, Seunghyun masih punya nyali untuk menyapanya. Ia hendak menyapanya, namun sayang sekali Hera bahkan tidak meliriknya.

…..

 

Dear diary,

I saw him passing my way. I didn’t know what to do

I used to smile and great him, but it feels so awkward. So i look the other way.

Besides, he’s the star of basketball team

He’ll never notice a geek like me.

—Kwon Hera—

 

Dear diary,

I passed by the corridor and i saw the pretty smart girl i usually sit behind her during Chemistry class. I tried to smile at her, but she looked the other way.

Besides, i’m just a guy who could shoot some hoops while she’s the pretty honor student.

She’ll never like a guy like me.

—Choi Seunghyun—

*****

Seunghyun terdiam. Ia mencoba mencerna reaksi-reaksi yang sedang dituliskan oleh gurunya di papan tulis.

What the hell. Tak ada satu pun yang ia mengerti. Ia mulai menggerutu menyesali keputusannya untuk ikut kelas ini. Ia sangat tahu dirinya tak berbakat dalam pelajaran Science, namun ia tanpa berpikir panjang mengikuti kelas ini tentu saja karena ada.. Hera. Yang paling membuatnya menyesal adalah, keputusan bodohnya ini tak membuahkan apapun. Ia tak pernah menjadi lebih dekat dengan Hera. Berinteraksi saja tak pernah.

Saat Seunghyun sibuk dengan pikirannya tentang Hera, sem memanggil namanya. “Choi Seunghyun, coba jawab soal ini,” itu yang dikatakan. Kata-kata yang mampu membuat bulu Seunghyun bergidik ngeri. Hal ini lebih mengerikan daripada melihat hantu.

Seunghyun terdiam cukup lama. Ia tak mencoba mencari jawaban karena ia sendiri tak hafal satu rumus pun. Ia hanya pasrah menunggu sem mengusirnya dari kelas.

Namun disaat segenting itu, tiba-tiba saja Hera menuliskan sederet angka diatas kertas bindernya. Ia menggeser kertas itu ke sisi kanannya sehingga kini Seunghyun dapat melihat dengan jelas angka itu.

“3,19 mol,” jawab Seunghyun yang membuahkan senyuman di wajah sem. Entah itu senyuman karena ia puas dengan kemampuan mengajarnya atau karena ia menganggap Seunghyun cukup pintar.

Seunghyun kembali duduk ditempatnya dengan hati yang lega, senang, dan berbunga-bunga. Sisa jam pelajaran ia habiskan hanya untuk memandang punggung Hera dan wajah Hera yang sesekali terlihat. Aku tak menyesal mengambil kelas ini, batinnya.

Dear diary,

Again and again. I just sit behind her in Chemistry class.

I don’t have the courage to talk with her

I just keep in silence and stare her back.

But once again, she makes me fall for her.

She helped me and it makes me can’t erase this feeling.

Even though i know, she’ll never notice me.

—Choi Seunghyun—

*****

Sebagian langit sudah berubah warna menjadi oranye menandakan bahwa ini sudah sore dan waktunya para siswa pulang. Tapi gadis ini tetap bertahan di tengah lapangan outdoor Chonsuk school bersama dengan bola-bola berwarna oranye.

Sudah berpuluh kali ia melempar bola itu namun tak ada satu pun yang berhasil mencetak angka. Pergelangan tangannya nyaris putus tapi tak ada yang bisa ia lakukan selain berlatih. Ia ingin nilai pelajaran jasmaninya lulus. Lagi pula ada tujuan terselubung dari program latihannya ini yaitu ia ingin lebih mengenal Seunghyun. Ia ingin tahu bagaimana perasaan Seunghyun saat dirinya berhasil mencetak angka dan membawa kemenangan untuk tim sekolahnya.

“Aish,” serunya sambil berlutut menyentuh tanah saking lelahnya. Bola terakhir yang ia lempar dengan sekuat tenaga tak masuk juga. Ia mulai mengutuki dirinya yang lemah dan yang hanya bisa belajar. Ia merasa dirinya makin jauh dari Seunghyun yang seorang star of basketball team.

“Caramu melempar bola salah,” ujar seseorang yang suaranya langsung memberi efek berdebar pada jantung Hera. Hera bangkit dan menatap pria itu lekat namun berusaha bersikap sebiasa mungkin. Ia tak mau pria ini mengetahui perasaannya karena bisa saja pria itu merasa direpotkan oleh perasaan Hera. Ia tak mau hal itu terjadi.

“Caranya begini,” gumamnya tepat disamping telinga Hera. Seunghyun mengajarkan pada Hera bagaimana cara memegang bola basket yang benar. Mulai dari posisi pergelangan tangan, jari-jarinya dan cara melempar yang benar.

“Cobalah,” ujarnya. Hera menurut dan mulai mengambil ancang-ancang.

Hera merasa semuanya berjalan lambat. Bola itu berputar-putar di pinggiran ring sebelum akhirnya bola itu jatuh ke tanah menembus lubang ring. Bolanya masuk!

Perasaan haru dan senang membuncah di hati Hera. Ia tahu sekarang bagaimana perasaan Seunghyun saat ia dapat membawa pulang kemenangan untuk timnya. Hera terperangah sesaat sampai lupa untuk berterima kasih pada Seunghyun.

“Terima..” sebelum Hera menyelesaikan kalimatnya, suaranya lebih dulu ditenggelamkan oleh gadis, yang merupakan manager tim basket putra.

“TOP!” serunya sambil menghampiri Seunhyun. Ia merangkul lengan Seunhyun lalu menatap sinis Hera. Hera tak mengerti arti tatapan itu dan ia tak memperdulikannya. Hera hanya terdiam karena hatinya terasa sakit melihat gadis itu begitu dekat dengan Seunhyun. Apakah dia pacarnya?

“Ayo kita pergi. Teman-teman sudah menunggu,” ajak gadis itu. Seunghyun tak memberikan perlawanan tapi sebelum ia pergi, ia berkata, “Good luck,” yang Hera balas dengan senyum sekedarnya.

Ia tahu kalau pria itu tak akan menyukainya. Ia tahu kalau perbuatannya tadi sudah lebih dari cukup. Tapi ia tak tahu mengapa dirinya tak puas. Ia juga tak tahu mengapa air mata ini bisa mengalir begitu deras.

Dear diary

I love him. Really. Even though i know he’ll never notice a geek like me, but i can’t erase this feeling.

Once again, he makes me fall for him. What should i do?

I cried hardly but it can’t makes you love me.

—Kwon Hera—

*****

1 years later

Waktu terus berlalu. Masa SMA akan segera berakhir tanpa kenangan indah untuk Seunghyun. Ia tak pernah berhasil mengatakan pada Hera kalau dirinya ini sangat mencintainya. Tapi Seunghyun tak memaksakan kehendaknya karena ia tahu kalau Hera tak akan menyukai pria yang hanya bisa menshoot bola ke ring. Ia takut kalau perasaannya justru akan menjadi beban untuk Hera. Ia tak mau hal itu terjadi padanya.

……

Sebentar lagi upacara kelulusan akan dimulai. Namun sebelum upacara dimulai, ia berjalan menuju gedung yang dipakai khusus oleh para murid kelas X. Menyusuri koridor yang dulu selalu ia lewati. Dan kini kakinya terhenti saat ia sudah berdiri di koridor yang ada di depan kelasnya dulu. Tempat pertama kali Seunghyun menyadari kalau ia mencintai Hera. Tempat yang menjadi saksi bisu kisah cinta pertama Seunghyun yang tak akan memiliki happy ending.

Keheningan dan embusan angin yang segar membawa ingatannya kembali pada masa itu.

……

“Apa-apaan kau Seunghyun?! Berani sekali mengecat rambutmu dengan warna biru norak seperti itu?! Kau kira sekolah ini bar?! Apa kau tak pernah membaca peraturan sekolah?!!”

“Norak? Sem bilang ini norak? Ini adalah karya seni yang indah sem! Lihat warnanya! Electric blue!” bantah Seunhyun tak terima dengan omelan gurunya. Gurunya makin geram dan tanpa ampun ia memukul Seunghyun dengan penggaris lalu segera mengusir Seunghyun keluar dari kelas. Tak hanya itu, Seunghyun juga disuruh berdiri dengan kaki satu dan tangan yang direntangkan. Harus seperti itu terus sampai bel pelajaran selesai. Sekitar 2 jam lagi.

Seunghyun tak membantah lagi. Ia segera keluar dan melakukan perintah gurunya. Ia terdiam dan tak memperdulikan beberapa anak yang tertawa melihatnya dihukum seperti itu. Hampir semuanya tertawa kecuali gadis yang terlihat cupu dengan kacamatanya. Ia justru berjalan mendekati Seunghyun dan hal itu membuat Seunghyun terheran.

“Kenapa kau dihukum?” tanyanya. Tak ada niat mengejek dari nadanya bertanya.

“Karena rambutku,” jawab Seunghyun seadanya.

Gadis itu terperangah sesaat lalu mengelus rambut Seunghyun. Perbuatan spontan yang berefek dahsyat pada jantungnya. “Kenapa sem menghukummu karena rambut ini? Padahal menurutku rambutmu sangat indah. Seindah langit biru yang cerah. Aku sangat menyukainya,” ujar gadis itu. Kini jantung Seunghyun sudah meronta minta keluar dari rongga dada.

“Sem juga memukulmu?” tanyanya namun Seunghyun tak menjawab. Ia masih shock dengan berbagai tindakan spontan gadis itu.

Gadis itu tampak kebingungan mencari sesuatu. Di kantong kemejanya juga di kantong roknya. “Ah ada! Tinggal satu!” serunya. Lalu dengan secepat kilat ia menempelkan handsaplast itu di ujung bibir Seunghyun.

“Motif apa itu di handsaplast?” tanya Seunghyun karena matanya tak bisa melihat kebibirnya. Pertanyaan itu membuat raut wajah gadis ini dipenuhi rasa bersalah.

“Ah, mianhe. Jeongmal mianhe. Aku tak sadar kalau handsaplast ini berwarna pink. Bahkan motifnya berbentuk hati. A-a-akan aku ambilkan handsaplast baru di uks,” ujar gadis itu kebingungan. Wajahnya yang polos dan reaksinya yang spontan membuat Seunghyun dapat merasakan ketulusan gadis itu.

“Tidak perlu. Ini saja sudah cukup,” ujarnya. Gadis itu bertanya, “Tidak apa-apa? Sungguh? Kau bisa saja diejek karena handsaplastmu itu,”

“Rambutku sudah sangat mencolok, pasti yang mereka perhatikan pertama kali adalah rambutku. Jadi.. terima kasih atas perhatianmu, Kwon Hera,” ujar Seunghyun sambil menunjuk ke handsaplast itu. Ia tahu nama gadis itu karena melihat name tag yang ada didadanya.

“Kau anak yang sangat baik, Choi Seunghyun,” ujarnya lalu pergi meninggalkan Seunghyun yang entah sejak menit keberapa, sudah jatuh cinta pada gadis bernama Kwon Hera. Ia tak tahu bagian mana yang membuat Seunghyun menyukai gadis cupu itu, namun ia tak mempertanyakan. Ia jatuh cinta pada Kwon Hera. Itu yang ia sadari.

…..

“Kau kenapa ada disini?” tanya seseorang yang memberikan efek samping berdebar pada jantung Seunghyun. Suara Hera.

“A-a-aku..”

“Lebih baik kau segera kembali sebelum upacara dimulai,” ujar Hera lalu pergi meninggalkan Seunghyun yang masih sibuk dengan pertanyaan diotaknya.

Mengapa ia berada disini? Apa ia ingat dengan kejadian itu? Apa ia juga mencintaiku dan ketempat ini untuk mengingat kenangan pertamanya denganku? Pikir Seunghyun. Ia terdiam sesaat lalu mengutuki dirinya. Bodoh sekali aku berpikir seperti itu. itu tidak mungkin. Bukankah tadi ia melengos begitu saja? Itu tanda kalau ia tak memiliki perasaan apapun padaku, kan?

Dengan langkah yang diseret, Seunghyun memutuskan untuk segera kembali ke aula dan mendengar pidato kelulusan dari lulusan terbaik tahun ini. Kwon Hera. Gadis yang ia cintai. Rasanya, Hera makin jauh dari genggamannya.

*****

Sebentar lagi upacara kelulusan akan dimulai. Namun sebelum upacara dimulai, Hera berjalan menuju gedung yang dipakai khusus oleh para murid kelas X. Menyusuri koridor yang dulu selalu ia lewati. Dan kini kakinya terhenti saat ia sudah berdiri di koridor yang ada di depan kelas Seunghyun dulu. Tempat pertama kali Hera menyadari kalau ia mencintai Seunghyun. Tempat yang menjadi saksi bisu kisah cinta pertama Hera yang tak akan memiliki happy ending.

Keheningan dan embusan angin yang segar membawa ingatannya kembali pada masa itu.

…..

Ia mengingat bagaimana seorang anak laki-laki yang dihukum karena rambutnya dicat dengan warna electric blue. Warna yang seindah langit, yang membuat Hera menghentikan langkahnya dan terlibat pembicaraan kecil dengan anak itu. Ia tak pernah tahu kalau akibat perbuatannya itu akan membuat dirinya jatuh pada dilema remaja paling tabu: cinta.

Awalnya hanya karena rambut lalu handsaplast. Tapi Hera akhirnya menyadari kalau ia mencintai pria ini saat pria ini mengatakan ‘terima kasih’ dan memberikan penekanan dengan suara bassnya saat mengucapkan ‘Kwon Hera’.

Hati Hera bergetar karena suara itu, juga karena kebaikan hati Seunghyun dan karena senyum tulus yang Seunghyun berikan pada Hera.

…..

*****

Seunghyun berdiri di aula bersama murid yang lainnya. Matanya tak bisa lepas dari Hera yang berjalan menuju podium. Sesampainya di podium dan mic sudah diarahkan ke bibirnya, Hera menelan ludah. Ia menatap semua temannya. Tubuhnya bergetar tanda ia gugup. Ia terdiam, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

“Good luck,” gumam Seunghyun meskipun ia tahu kalau Hera tak akan mendengarnya kecuali mereka memiliki kekuatan telepati. Tapi seperti magis, pesan itu tersampaikan pada Hera. Hera membuka mulutnya. Tapi belum sempat ia mengucapkan apapun, mulutnya tertutup lagi. Yang ia lakukan selanjutnya adalah melepas kacamatanya.

Seunghyun tahu kalau tujuan Hera melepas kacamata itu hanya untuk menghilangkan kegugupannya. Dengan tidak melihat ekspresi siswa lain akan mengurangi tekanan pada diri Hera. Tapi apa Hera tak tahu efek perbuatannya itu? Tak hanya Seunghyun yang jantungnya makin berdetak kencang. Lelaki yang lain pun juga mulai membicarakannya dan hal itu membuat Seunghyun makin panas sampai-sampai ia tak mendengar dengan jelas pidato Hera.

Seunghyun kembali terfokus pada Hera saat ia mendengar Hera mengatakan, “Sampai sekarang aku masih sangat menyukai langit biru. Terutama langit yang terlihat dari gedung kelas X didepan kelas X-F. Langit biru terlihat lebih indah disana jika kau tahu saat yang tepat,”

Seunghyun mencerna kalimat itu baik-baik. Apa yang sedang dibicarakan oleh Hera adalah dirinya? Apa Hera ingat dengan kejadian itu? Apa Hera ternyata juga mencintai dirinya? Seunghyun memang tak berani berharap tapi ia tak bisa hanya diam bersama pertanyaan-pertanyaa itu. Ia perlu jawaban dan ia akan bertanya langsung pada Hera nanti. Sekarang atau tidak sama sekali.

*****

Mulut Hera komat-kamit seperti sedang membacakan mantra. Ya, ia memang sedang membaca mantra untuk memberikan keberanian pada dirinya sendiri. Ia sudah memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya pada Seunghyun. Ia memang tak ingin membuat Seunghyun terganggu dengan perasaannya namun hidupnya akan lebih miris jika Seunghyun tak pernah tahu perasaannya. Lagipula, pertemuannya dengan Seunghyun tadi pagi di koridor itu memberikan secercah harapan unttuk Hera. Setidaknya Seunghyun ingat akan kejadian itu.

…….

3 jam berlalu setelah upacara kelulusan. Masih banyak siswa yang menghabiskan waktu di sekolah. Hera pun demikian. Sedari tadi ia pergi mencari keberadaan Seunghyun tapi pria itu tak kunjung ia temukan.

Hera memutuskan untuk beristirahat sesaat. Ia lelah berkeliling sekolah ini. Tapi sesaat setelah ia duduk, ia mendengar suara beberapa gadis yang berdiri diambang jendela berseru memanggil nama pria itu. “Itu Seunghyun! Lihat! Ia mewarnai rambutnya seperti dulu!” ujar pada gadis. Sontak saja Hera langsung bangkit dan melihat ke bawah.

Benar. Itu Seunghyun dengan rambut yang menjadi warna favoritku, batin Hera

Dengan segera ia berlari turun kebawah. Hera tak cukup sabar menunggu Seunghyun naik ke atas dan menemukan Hera. Hera secepat kilat berlari menuju Seunghyun. Namun apa daya, nilai olahraga yang jelek memang menunjukan kalau Hera payah dalam hal berlari atau apapun itu. Tepat didepan Seunghyun, Hera terjatuh. Dan menurut Hera itu memalukan.

Hera dapat mendengar suara tawa Seunghyun yang ia tahan, hal itu membuat Hera mengutuki dirinya. Seunghyun dengan sigap menolong Hera untuk bangkit.

“Gwencana?” tanyanya. Hera menjawab dengan anggukan.

Sesaat keduanya terdiam. Sibuk berpikir apa yang harus mereka ucapkan.

Tapi Hera yang sedang menunduk bisa dengan jelas melihat pergelangan tangan kanan Seunghyun. Dan kancing jas seragamnya itu sudah tidak ada disana. Hati Hera mencelos, ia ingin menangis saat itu juga tapi sekuat tenaga ia menahan air matanya.

Bodoh sekali aku berharap ia menyukaiku hanya karena ia masih ingat dengan kejadian itu, pikir Hera.

“Eng, kancing kemejamu sudah kau berikan pada orang lain?” tanya Hera memecah kesunyian. Rasa berdebar dihatinya sudah ganti dengan rasa sakit. Setidaknya, hal itu membuat Hera lebih mudah berbicara.

“Belum, tapi aku memang hendak memberikannya pada seseorang,” jawab Seunghyun.

 “Oia, ini hari terakhir kita di sekolah kan? Mau menemaniku jalan-jalan?” tanya Seunghyun.

“Kenapa aku?” tanya Hera heran.

“Karena hanya kau yang ada disini. Lagipula, aku ingin tahu langit biru yang kau bilang indah tadi,” ujar Seunghyun diiringi senyum malu-malu namun perasaan Hera yang kalut membuatnya tak memperhatikan arti senyuman itu.

*****

Mereka berdua berjalan menuju koridor di depan kelas X-F. Setibanya disana, Seunghyun langsung ambil posisi dengan merentangkan tangannya dan berdiri dengan satu kaki.

Cahaya matahari yang bersinar dibelakang Seunghyun membuat rambut birunya terlihat lebih mencolok.

Deja Vu. Keduanya kembali teringat dengan kejadian itu.

“Aku selalu menyukai warna rambutmu. Seindah langit biru,” ujar Hera. Ia tak bisa menahan ucapannya itu agar tetap berdiam di kerongkongan.

“Kau orang pertama yang tidak mengejekku karena rambut ini. Kau juga orang pertama yang menyukai rambutku,” ujar Seunghyun yang tak Hera tanggapi. Hera bingung harus membalas apa.

“Apa kau ingat pertemuan pertama kita disini?” tanya Seunghyun.

Hera tersenyum, “Aku ingat tiap detailnya,” jawabnya.

“Aku juga,” balas Seunghyun yang membuat Hera terperanjat. Ia sama sekali tak pernah mengira kalau Seunghyun akan mengingat hal ini.

“Aku juga ingin mengucapkan terima kasih padamu,” ujar Seunghyun.

“Untuk apa?”

“Kebaikanmu. Handsaplast itu, juga jawaban kimia yang kau beritahukan padaku,” jelas Seunghyun.

“A-a itu tak perlu. Kau tak perlu membalasnya,” timpal Hera. Wajahnya merona namun hatinya senang, ternyata Seunghyun mengingatnya.

“Aku orang yang tak suka berhutang. Jadi, mau ya?” tanyanya dan Hera pun menuruti.

Seunghyun mulai berdiri dengan kedua kakinya. Ia menurunkan tangannya dan mulai mencari benda kecil yang akan dia berikan itu di sakunya.

Hera menunduk dengan tangan yang menengadah.

“Ini,” ucap Seunghyun sambil memberikan benda kecil yang berbentuk kancing. Kancing lengan jasnya. Yang menurut tradisi sekolah, kancing itu harus diberikan pada seseorang yang spesial.

Mata Hera melebar lalu menatap Seunghyun heran. Meminta penjelasan.

“Aku tak akan meminta kau untuk membalas perasaanku, karena aku tahu kau tak akan menyukai pria sepertiku yang hanya bisa meleparkan bola basket ke ring. Aku hanya ingin kau memilikinya,” jelas Seunghyun. Ia menatap Hera lirih. Hera bisa melihat kesedihan dan ketulusan disana.

“Terima kasih, Hera sshi. Aku pulang dulu,” ujar Seunghyun berpamitan. Ia mulai melangkah pergi meninggalkan Hera. Hera ingin menghentikannya, tapi lidahnya kelu. Suaranya tertahan ditenggorokan saking shocknya. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya. Setitik air mata mulai mengalir dipipinya. Air mata kebahagiaan yang amat sangat. Tapi Hera segera menghapus air matanya itu. Ia tahu ini bukan saat yang tepat untuk menangis, meskipun itu adalah air mata kebahagiaan. Ia sangat tahu kalau sekarang ia harus segera menyatakan perasaannya sebelum semuanya terlambat. Sekarang atau tidak sama sekali.

“Seunghyun,” panggilnya. Langkah Seunghyun terhenti. Ia memutar badannya dan mendapati Hera sedang berjalan menghampirinya.

Jantung Seunghyun berdebar kencang sekarang. Apa Hera ingin memberikan jawaban? Atau malah ia mau menolakku? Pikirnya.

“Aku juga ingin berterima kasih padamu,” ujar Hera.

“Eh? Untuk apa?” tanya Seunghyun tak mengerti.

“Untuk kebaikanmu. Kau tidak memarahiku meski aku menempelkan handsaplast dengan motif norak diwajahmu, juga karena kau sudah mengajariku bermain basket,” jelas Hera.

“Ah, itu tidak perlu,”

“Aku juga tidak suka berhutang,” balas Hera yang membuat Seunghyun tertawa pelan.

“Baiklah,” Seungyun mengulurkan tangannya.

“Ini,” ujar Hera sambil memberikan kancing yang bentuknya sama seperti miliknya. Kancing lengan jas Hera.

Seunghyun terperangah. Ia tak percaya dengan apa yang terjadi sekarang. Ia masih meyakini dirinya sedang bermimpi namun Hera berkata, “Aku menyukaimu. Sejak hari itu. Aku tak pernah punya keberanian karena aku berpikir kalau kau tak akan menyukai gadis sepertiku,” Ya, kalimat itulah yang membuat Seunghyun tersadar kalau ia tak sedang bermimpi. Ini kenyataan dan bukan hanya khayalannya.

“Tak menyukaimu? Yang benar saja? Selama ini aku selalu mengira kau tak menyukaiku,” timpal Seunghyun.

“Aku juga selalu mengira kau tak menyukaiku,” balas Hera.

Keduanya terdiam, saling memandang sesaat lalu tersenyum malu. Pipi keduanya berubah menjadi  merah meski sekarang bukan musim dingin.

“Jadi ..”

*****

“Kau sungguh berpacaran dengan pria itu?” bisik ayah Hera saat melihat Seunghyun. Seunghyun datang ke rumah Hera untuk menjemputnya. Ini kencan pertama bagi mereka berdua sehingga Seunghyun ingin minta ijin pada orang tua Hera.

Hera tertawa mendengar pertanyaan konyol ayahnya itu. Hera bisa mengerti kenapa orangtuanya mempertanyakan hal itu. “Itu hanya penampilan luarnya appa. Hatinya sangat baik. Lagi pula aku suka dengan warna rambutnya itu,” balas Hera ikut berbisik pada ayahnya.

Ayah mana yang tidak khawatir melihat anaknya berpacaran dengan pria yang berambut biru dan stylenya yang seperti seorang bad boy? Namun Ayah Hera hanya bisa diam. Memendam kekhawatirannya dalam hati. Meskipun ia khawatir tapi ia tetap percaya pada anaknya. Ia sangat tahu kalau anaknya tak akan salah pilih.

“Appa, sudah selesai berbicara dengan Hera? Kasihan Seunghyun menunggu terlalu lama,” ujar omma Hera.

“Kalau begitu aku pergi dulu ya appa, omma,” ujar Hera.

*****

“Ayahmu sepertinya tidak menyukaiku,” ujar Seunghyun memulai pembicaraan. Hera tersenyum mendengar pemikiran itu.

“Ayahku hanya belum mengenalmu saja,” balas Hera. Seunghyun terdiam sebentar, “Kau benar juga Hera. Kurasa aku harus sering berkunjung ke rumahmu,”

“Tentu saja. Lagipula ibuku sangat menyukaimu. Kurasa kau akan sering diundangnya,” balas Hera yang disambut tawa keduanya.

Tiba-tiba keadaan menjadi sunyi kembali. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Keduanya masih belum terbiasa dengan kebersamaan ini.

Tangan Hera yang kosong membuat Seunghyun melontar pertanyaan, “A-apa aku boleh menggandengmu?” namun kini Seunghyun menyesali pertanyaan itu. Hera pasti berpikir aku pria hidung belang, batinnya.

Tapi ternyata dugaan Seunghyun salah, Hera justru tersenyum dan menelusupkan jarinya ke sela-sela jari Seunghyun. “Tanganmu sangat hangat,” ujar Hera.

Seunghyun menyunggingkan senyumnya. “Terima kasih karena kau mau mencintaiku meskipun aku terlihat norak dan nakal karena rambut dan styleku,”

“Aku juga. Terima kasih karena kau sudah mencintaiku meskipun aku ini payah dan tidak cantik,”

“Siapa bilang kau tak cantik? Kau hanya menyembunyikan kecantikanmu dibalik kacamata itu. Apa kau tak tahu bagaimana para siswa di sekolah kita membicarakanmu saat kau melepas kacamatamu di podium itu?” ujar Seunghyun serius. Hera tertawa melihat ekspresinya.

“Kau tipe pencemburu?” tanya Hera

“Entahlah, aku juga baru tahu kalau akau mempunyai sisi seperti itu,”

“Dan aku juga minta maaf, aku bukan tipe pria yang mudah mengucapkan kata-kata manis seperti pria lain,” ujar Seunghyun yang lagi-lagi Hera respon dengan senyuman seakan dia sudah sangat mengerti bagaimana Seunghyun itu.

“Hm, me too. When you’re in love, sometimes you can’t say anything. Because there’s nothing you can say that would describe how you feel,”

Seunghyun tercengang sesaat. Keterkejutannya disebabkan oleh kesamaan pola pikir antara dirinya dengan Hera. Apa yang Hera katakan barusan adalah apa yang selalu Seunghyun pikirkan selama ini.

Seunghyun memandang Hera. Senyum penuh cinta mengembang diwajah keduanya menggambarkan kalau mereka sedang dicandu asmara. “Yeah, you’re right. I guess we are destined,”

END.