Annyeong!

this is the last part of this ff!
hope you enjoy it!🙂
written by @gyumontic

 

*****

Aku mengajukan cuti ke kantorku karena mama dan papa akan datang ke Korea lusa. Kali ini aku bertekad untuk terus bersama mereka. Untung saja, cutiku dikabulkan. Pada saat hari kedatangan mereka, aku dan Ine menjemput ke bandara dengan taksi, mengingat aku tidak punya mobil disini.

Aku dan Ine segera menjemput mama dan papa di terminal kedatangan. Rupanya mereka sudah lama menunggu kami. Aku langsung memasukkan barang-barang mereka ke bagasi lalu menyusul masuk ke dalam taksi. Setelah kami berempat masuk taksi, kami kembali ke apartemen.

“Bagaimana kerjaanmu, nak? Lancar?” tanya mama saat kami bersantai.

“Lancar kok. Tenang saja,ma,” jawabku.

“Oh iya. Ine kapan pulang ke jakarta?” tanya mamaku pada Ine.

“Aku mau kuliah di sini saja, maktua. Kayaknya enak,” jawab Ine.

“Kamu serius?” tanyaku pada Ine.

“Seriuslah. Aku bisa tinggal di sini kan kak?” jawabnya.

“Bisa. Tapi biaya hidup bagi dua sama rata.”

“Oke. Gampanglah itu.”

Tiba-tiba papaku menyela, “Sa, reymond gak kesini? Ada yang mau papa bicarakan dengan dia.”

“Aku gak tahu, pa. Kalau papa telpon mungkin nanti dia datang,” jawabku.

Mama dan papa lalu pergi istirahat sedangkan aku dan Ine menyiapkan makan malam. Pada saat makan malam hampir siap, mama menghampiri ke dapur.

“Apa hubunganmu dengan reymond baik-baik saja?” tanya mama tiba-tiba membuatku terkejut.

“kenapa mama tanya seperti itu?” sahutku.

“gak tahu kenapa. Mama mau tahu saja,” kata mama.

Aku lalu menceritakan semuanya pada mama. “sebenarnya aku dulu punya pcr ma. Kyuhyun namanya. Yang nemuin aku wkt tersesat di korea 10thn lalu. Tapi kami udah ptus. Nah trus muncul reymond. Bgtu aku mau buka hati buat reymond. Muncul lg masalah.”

“kamu kok ga pernah crt soal kyu? Apa kbr dia skrg? Knp kalian putus?”

“kyu oppa jd artis di sini, ma. Karena itu kami ptus. Manajemennya gak bolehin dia pcaran.”

“trus kalo sama reymond?”

“Dia sebenarnya udah berkeluarga, mak tua,” jawab Ine, menyela.

“Serius ah?” mamaku tidak percaya.

“serius seratus persen tapi kak sasa gak percaya,” kata Ine dengan mantap.

“kamu tau darimana?” tanya mamaku.

“panjang ceritanya, maktua.”

aku tahu mama sama kagetnya dengan aku waktu pertama kali tahu tapi mama tidak bnyak komentar lagi. Dia malah bertanya padaku, “kamu sayang sama yang mana?”

“jujur, kyuhyun tapi kalau bersamanya akan lbh bnyak cobaan. Jadi aku akan mempertimbngkan reymond.”

“kadang cinta yg sejati justru cinta yg mengalami byk cobaan,” kata mama.

Kata2 mama menyentuhku.

“undang saja reymond dan kyuhyun untuk makan malam sama kita. Mama mau bgunin papa trus mandi,” katanya lalu kembali ke kamar.

Aku menelpon reymond dan kyuhyun untuk makan malam bersama. Ternyata keduanya menyanggupi. Jadilah, kami makan malam berenam.

“reymond, nilai saham hyundai bgus gak ke depannya?” tanya papa pada bng reymond.

“kalo menurut saya, untuk sekarang sudah bgus dan untuk ke dpannya akan lbh bgus lagi. Memang knp, om?” jawb bng reymond.

“om ditawarin investasi di sana. Om mau cr2 info dulu.”

“oh kalo om mau investasi di Korea ini bgusan di Keya. Return nya tinggi tapi ya risikonya jg tinggi.”

papa dan reymond terus berbincang serius, mama menikmati makanan tanpa kata sedangkan Ine berbincang dgn kyu oppa. Aku merasa tidak enak karena orang tuaku spt tidak menganggap kyu oppa.

Selesai makan pun, papa segera mengajak bng reymond ke ruang tamu untuk menyambung pembicaraan mereka. Sedangkan  kyu oppa harus membantuku membereskan makan malam.

“Maaf merepotkan. Diundang makan malam tapi harus ikut membereskan juga,” kataku pada Kyu oppa.

“Tidak masalah,” sahutnya santai. “aku jadi punya lebih bnyak waktu sama kamu. Hehehe.”

tiba2 mamaku datang kepada kami. “Kamu sdh besar sekarang ya, nak,” kata mama pada kyu. “udah lama skali kita gak ketemu.”

“iya, tante. Lama gak ketemu, tapi tante tetap kayak dulu. Hihi. Cantik,” sahut kyu.

“kamu bisa aja ah. Oh ya, karirmu lancar?”

“Puji Tuhan, lancar tante. Hehe. Tante mau nonton aku gak? Aku artis loh sekarang.”

“Hahaha. Tante udah tua gini masa nontonin kalian. Malu ah.”

“Iih, tante. Tante sama Sasa masih kelihatan tante yang lebih muda. Hehehe.”

Aku lega melihat akhirnya mama mengajak kyu oppa bicara. Seenggaknya itu membuat kyu dianggap oleh orang tuaku. Aku mengambil piring2 dari tangan kyu oppa dan pergi ke dapur meninggalkan mama dan kyu oppa yg asik ngobrol.

Aku dan Ine membereskan semua sisa makan malam. Walaupun kami sudah selesai tapi baik mama atau papa belum ada yang selesai bicara dengan kyu atau reymond. Mama dan kyu oppa ngobrol dgn santai bhkan gak jarang mereka tertawa bersama. Sedangkan papa dan reymond tetap serius.

Saat hampir tengah malam, bng reymond pamit pulang. Sedangkan mama menahan kyu oppa untuk menginap tapi ditolak oleh kyu oppa.

“Haha tante, tidak usah ah. Kalau aku nginap nanti Sasa tidur dimana? Masa di sofa? Hehe. Lagipula, aku tinggal di lantai 11 kok. Naik lift sebentar juga nyampe. Kalau tante kangen, telpon aja, aku pasti langsung dateng deh. Hehe,” kata kyuhyun oppa saat menolak tawaran mama.

“Haha. Dasar kyu, ada-ada saja. Ya sudah, hati-hati ya ke atas. Jangan lupa janjimu ke tante loh,” sahut mama.

“Ok deh, tante.” Kyuhyun oppa pamit pulang pada mama dan papaku. Setelah itu, kami semua tidur di tempat masing-masing.

Aku baru tidur beberapa jam saat mama datang dan membangunkan aku. “Hei, bangun. Wanita kok tidur terus.”

Aku melihat jam di dinding menunjukkan pukul 5 pagi. “Ma, ini masih jam 5. Aku bangun deh nanti, 2 jam lagi. Ya?” sahutku.

“Bangun sekarang ah. Mama mau ngobrol sama kamu,” desak Mama.

Aku akhrinya bangun lalu mencuci mukaku serta gosok gigi. Setelah itu, aku kembali pada Mama. “Ada apa, Ma?” tanyaku.

“Gak kenapa-kenapa. Hahaha. Mama kangen sama Kyu. Dia enak diajak ngobrol ya ternyata,” kata mamaku.

“Iih, mama suka sama berondong. Hahaha,” godaku.

“Ih, enak aja. Gak tau. Cuman mama kemarin memperhatikan Kyuhyun dan Reymond. Mereka sama-sama baik dan sama-sama sayang sama kamu cuman Kyuhyun jauh lebih mencintai kamu. Dia gak bisa berpaling dari kamu,” kata Mama.

“ah, mama sok tahu. Kalo gitu, harusnya dia gak mutusin Sasa,” sahutku.

“Beneran deh, Sa. Semalem mama perhatiin kok. Walaupun kemarin Kyuhyun sibuk ngobrol dengan kamu tapi perhatiannya gak pernah lepas dari kamu. Beda sama Reymond. Dia gampang teralihkan perhatiannya,” kata Mama.

“Hahaha. Mama ngobrol apa saja sama Kyuhyun Oppa semalem, Ma? Kok kayaknya jadi seneng banget sama dia?” tanyaku.

“Ngobrol-ngobrol santai saja. Dia anak yang menyenangkan. Hihihi.”

“Dia janji apa sama mama?” tanyaku lagi.

“Ngajak Mama jalan-jalan dan nonton performance-nya. Hihi. Asik ya. Serasa muda lagi deh kalo sama Kyuhyun.”

Aku cuman gelenng-geleng kepala melihat mamaku yang aneh. “Mama udah bener-bener kebius sama Kyuhyun Oppa,” kataku. “Terus kapan jalan-jalannya?”

“Nanti. Dia mau ngajak Mama ke sungai Han. Hihi.”

“Berdua aja?”

“Ya, gaklah. Kita semua. Papa, Mama, kamu dan Ine. Setelah itu kita bisa nonton Super Junior di konser apa gitu, mama gak inget namanya.”

Aku ingat hari ini Ine harus mencari bukti mengenai bang reymond. Setelah itu dia ada kencan dengan Siwon Oppa jadi pasti dia tidak akan mau. Aku berani bertaruh. Tapi meskipun Ine tidak ikut, tingkat kami akan menjadi berita tidak menurun.

“Humm, kalo gitu Kyuhyun Oppa harus menyamar kalau tidak mau membuat kita susah, Ma,” kataku.

“Kenapa harus menyamar?” tanya mama bingung.

“Karena dia artis. Jadi kalau fans sampai tahu dia jalan-jalan sama kita pasti akan jadi berita dan kita bisa jadi repot,” jawabku.

*****

“Tega-teganya abang bohongin aku! Padahal aku percaya banget sama abang!” seru Sasa penuh emosi lalu berlari keluar.

“Sa, Sasa! Tunggu. Maafin aku, Sa!” bang Reymond berteriak sambil mengejarku.

Aku tidak akan mau menoleh lagi padanya. Dia sudah benar-benar menipuku. Selain semua yang pernah dikatakan Ine, ternyata bang Reymond juga laki-laki hidung belang. Bodohnya,aku hampir saja jatuh cinta sama dia! Untung saja tadi aku datang ke apartemennya tiba-tiba sehingga aku bisa melihatnya dengan jelas.

Ine langsung membuka pintu apartemen setelah aku membunyikan belnya dengan membabi buta.

“kamu kenapa kak? Pulang kok kayak orang ngamuk?” tanya Ine.

“Ternyata bang reymond gak seperti yang kita sangka,dek. Lebih parah!” jawabku penuh emosi.

“Maksud kakak?” tanya Ine tidak mengerti.

“tadi kakak liat dia lagi maen sama cewek di apartemennya!” jawabku.

“Maen? Maen gimana?” Ine kembali bertanya apa maksud perkataanku.

“haduh. Maenan 17+, dek.  ngerti?”

“Oh,ngerti aku. Terus?”

“Terus kakak pergi ajalah. Ternyata dia gak ada hebatnya. Mending kyu ke ujung dunia sekalipun! Pria payah si reymond itu.”

“kakak juga ngapain kesana?”

“gak tau,dek. Iseng aja. Kayaknya emang udah jalannya. Tuhan masih sayang sama kakak.”

“iya, kak. Ya, kakak syukuri aja.”

“iyalah, dek.” aku mengakhiri percakapan tapi segera kusambung saat melihat Ine mau keluar. “kamu mau kemana, dek?”

“pergi makan sama siwon oppa,kak. Kenapa?” sahut ine.

“Terus kakak sendirian aja di sini? Kakak kan belum selesai cerita.”

“Tapi aku udah janji sama siwon,kak. Lagipula kan kemaren aku udah bilang ke kakak.”

“huh! Yaudah lah, jangan lama-lama ya perginya. Bikinin dulu kakak susu coklat hangat baru pergi. Kakak mau mandi dulu.”

“oke.”

aku terpaksa membiarkan Ine pergi karena dia sudah bilang akan pergi kemarin. Kalau dia pulang nanti, baru aku bercerita lagi.

Setelah mandi, aku meminum susu coklat yang dibuat oleh Ine sambil menonton tivi.

Aku menonton tivi masih dengan perasaan kesal. Entah kenapa,aku merasa kecewa tapi tidak terbersit sedikitpun rasa sedih atau ingin menangis.

Perasaanku bertambah kesal saat melihat bang reymond masih berani datang ke apartemenku.

“Ngapain lagi abang kesini? Gak usah sok mau ngejelasin apa yang aku lihat tadi. Semua udah sangat jelas!” ucapku dengan kasar.

“Aku mau minta maaf karena udah bikin kamu kecewa. Jujur saja, diriku yang dulu memang seperti itu. Sebelum ketemu kamu, aku senang bermain dengan wanita. Tapi waktu aku ketemu kamu, aku janji akan berubah.” bang Reymond tidak hanya meminta maaf tapi menjelaskan semuanya.

“Tapi nyatanya apa?” tanyaku tajam. “Abang sama saja kan? Semua yang abang buat untuk aku itu palsu.”

“demi apapun, sa. Aku benar-benar sayang sama kamu. Mau nikah sama kamu tapi kamu gak pernah kasih aku kesempatan.”

“untungnya aku belum kasih kamu kesempatan, bang!”

“kamu mungkin mau bersamaku tapi hatimu tidak. Hatimu cuman untuk Kyu. Karena itu, aku memilih untuk melepasmu dan kembali ke kehidupan lamaku.”

“jadi abang nyalahin aku? Gitu?!”

“gak kok, Sa. Aku cuman gak bisa merebut kamu dari kyu. Aku pasti kalah.”

aku melihat mata bang reymond. Dia betul-betul jujur dalam mengatakan hal-hal tersebut, yang membuatku jadi merasa kasihan padanya.

“Ya sudahlah, bang. Kita lupakan saja masalah ini. Aku maafkan kamu,” kataku melembut.

“terima kasih ya, Sa. Aku tau kamu memang wanita yang baik,” sahutnya. “oh ya, satu lagi yang belum aku ceritakan padamu.”

“apa itu?” tanyaku.

“kita memang tidak jodoh. Kalaupun tadi kamu tidak menangkap basah aku, pasti Tuhan punya cara lain buat memisahkan kita,” jawabnya.

“misalnya?” tanyaku. Aku menunjukkan wajah kebingungan pada bang reymond.

“Edo menelponku kemarin dan menceritakan tentang kamu dan Ine. Betapa bodohnya aku melamar kakak dari mantan pacar adikku sendiri,” jawabnya.

“dia bilang apa yang sudah dia katakan pada aku dan ine?” tanyaku memancingnya untuk lebih jujur.

“iya. Haha. Aku tahu apa yang ingin kamu ketahui.Jimi memang anakku tapi aku sudah bercerai dari istriku. Dia lari dengan pria lain. Maaf sudah berbohong,” katanya. “aku sungguh minta maaf.”

Terjawab sudah pertanyaanku tentang status berkeluarga bang Reymond. “Sudahlah, bang. Yang penting jangan lagi-lagi abang berbohong. Oke?” sahutku.

“oke, bos. hahaha. Kyu beruntung sekali mendapatkan kamu,” jawabnya.

“Belum tentu aku dengannya, bang,” kataku mengingkar.

“Sudah, jangan bohongi perasaanmu sendiri. Nanti kamu yang sakit sendiri loh.”

“Hahaha. Maaf ya bang sebelumnya, abang jadi suka main gini sejak ditinggal mantan istri ya bang?” tanyaku mengalihkan topik. Aku tahu ini terlalu pribadi tapi aku tidak bisa menahan rasa ingin tahuku.

“wanita pintar! Aku mengorbankan semuanya buat wanita itu tapi ternyata dia meninggalkan aku. Karena dia, aku jadi seperti ini. Meninggalkan semua wanita yang sudah mengorbankan semuanya untukku.” bang Reymond hanya tersenyum pahit saat menceritakan penyebab kenakalannya.

Dia lalu bercerita mengenai kehidupannya dan aku terus bertanya lebih detil atas ceritanya. Aku begitu fokus dengan ceritanya sampai aku lupa bahwa seharusnya aku membuat minuman untuk bang reymond. Seharusnya juga Ine sudah pulang saat ini tapi bukan Ine yang muncul melainkan Kyu oppa.

“Kamu belum tidur?” tanya Kyu.

“kalaupun aku sudah tidur, aku harus bangun untuk membukakan pintu karena kau datang tengah malam, oppa,” jawabku kesal karena pertanyaannya yang tidak penting.

“Oh iya, maaf.”

“ada apa oppa tengah malam kesini?” tanyaku.

“Aku lupa membawa kunci apartemen. Kalau aku membunyikan bel, aku takut member yang sudah tidur akan terbangun,” jawabnya.

“Tapi kau tidak takut membangunkan aku? Kau kan bisa saja menelepon member yang belum tidur untuk membuka pintu,” kataku menolak alasannya.

“Aku tidak tahu siapa yang sudah tidur dan yang belum. Aku takut . . .”

Kyu oppa belum selesai bicara saat bang Reymond datang menghampiri kami. “Aku pulang dulu ya, Sasa. terima kasih atas semuanya,” katanya berpamitan pulang.

“Oh iya, bang. Sama-sama. Hati-hati di jalan ya. Salam buat Jimi,” sahutku.

Begitu bang Reymond pergi, kyu oppa memaksa masuk ke dalam kamarku. “Aku mau tidur. Selamat malam,” katanya.

“Lalu aku tidur dimana?” tanyaku.

“Kamu bisa tidur bersamaku atau tidur di depan TV,” jawabnya dengan santai.

“Kau kenapa sih, oppa? Tengah malam datang, gak tahu mau apa tiba-tiba maksa tidur di kamarku.” aku kesal dengan tingkah lakunya yang aneh ini. Seenaknya sendiri.

“jadi, hanya reymond yang boleh datang ke sini sampai tengah malam?”

aku mulai menangkap adanya cemburu dari kyu oppa dan aku yakin dia akan semakin memuncak jika aku tidak menjelaskan apa-apa. Tapi ternyata aku salah. Kyu oppa justru melembut.

“Maaf sudah membuatmu susah. Tapi aku benar-benar tidak bisa pulang malam ini. Jadi, izinkan aku tidur di ruang tivi ya? Aku mohon.”

Kyu oppa lalu berpindah dari kamarku ke ruang tivi. Aku melihatnya berjalan ke ruang tivi dengan gontai lalu berbaring di sofa.

“ada apa sih sama Kyu oppa malam ini? Aneh sekali?” tanyaku dalam hati.

Aku lalu masuk ke kamar dan menelpon Ine agar dia cepat pulang tapi rupanya pesona siwon tidak bisa mengalihkannya. Karena itu, aku lebih baik tidur.

Aku terbangun saat aku mendengar suara rintihan dari ruang tivi. “ada apa lagi dengan kyu sih?” pikirku. Aku langsung mengeceknya saat rintihan Kyu terdengar lebih kencang.

Aku melihat kyu oppa melungkar kedinginan di sofa. “Oppa, kau kenapa? Sakit ya?” tanyaku.

“Aku kedinginan tapi badanku panas sekali,” jawabnya pelan.

Aku lalu menyentuh dahinya yang sepanas pantat ceret yang baru saja selesai memasak air. “Oppa, badanmu panas sekali! Ayo, pindah saja ke kamarku. Aku akan mengambilkan obat dan kompres untukmu,” kataku.

Kyu oppa tidak banyak bicara dan berjalan pelan ke kamarku. Sedangkan aku ke dapur untuk mengambil obat dan kompres.

Saat aku masuk kamar, Kyu oppa langsung meminum obat yang aku bawa lalu berbaring ditutupi selimut. Aku duduk di sebelahnya agar lebih mudah mengompresnya. Tidak tahu berapa lama aku sanggup terjaga untuk Kyu. Yang pasti suara Ine menyadarkan aku.

“Hyaaa! Kyu oppa! Kak Sasa! Apa yang kalian lakukan?” teriak Ine.

“Kau kenapa teriak-teriak sih Ine?” tanyaku terbangun.

“kakak ngapain tidur sama kyu oppa?!” Ine kembali berteriak.

Aku mencoba bangun tapi tertahan oleh tangan di perutku. Aku tahu sekarang kenapa ine berteriak. Dia kaget melihatku tidur dengan kyu oppa apalagi tangan Kyu memelukku.

“haish, pria ini. Merepotkan,” gumamku sambil menyingkirkan tangannya. Aku lalu turun dari kasur dan menjelaskannya pada Ine, “semalam Kyu demam. Jadi aku mengompresnya di kamar. Terus, aku ketiduran. Gitu dek.”

“Oh gitu. Terus Kyu oppa udah sembuh?” tanya Ine yang cukup mengerti penjelasanku.

Aku menyentuh dahi Kyu dan rasanya sudah tidak sepanas tadi malam. “Sudah lebih baik kayaknya, dek,” kataku.

“Syukurlah. Untung dia gak kebangun karena teriakanku,” sahut Ine lalu keluar dari kamar.

“Kata siapa gak kebangun? Aku pura-pura tidur tahu,” kata Kyu oppa tiba-tiba.

Aku yang terkejut, refleks mengelus dada. “Kau memang penuh kejutan! Sampai kepalaku sakit kamu buat,” kataku pada Kyu oppa.

“Maaf ya. Terima kasih sudah mau merawatku,” sahut Kyu.

“Iya, sama-sama. Oppa sudah merasa lebih enak?” aku mau tahu apa dia sudah merasa sehat.

“yap. Tapi masih perlu perawatan lebih lanjut dari kamu. Aku rasa yang nyembuhin aku bukan obat tapi kamu yang semalaman di samping aku. Hehehe,” kata Kyu mulai menggombal.

“Menggelikan,” sahutku. “Ayo sekarang oppa bangun. Kita akan segera sarapan lalu kau akan minum obat sekali lagi.”

aku beranjak dari tempatku tapi Kyu menahanku. “ada apa?” tanyaku.

“buat apa reymond datang tadi malam? Apa yang kalian berdua lakukan?” kyu oppa menjawabku dengan mengajukan pertanyaan dengan wajah takut.

“tidak ada apa-apa semalam,” jawabku diplomatis. Aku tidak mungkin menceritakannya kepada Kyu.

“Lalu apa kamu sudah memutuskan akan bersama aku atau reymond?” tanyanya lagi.

“haha. Reymond tidak mau lagi bersamaku,” jawabku.

“kenapa?” tanyanya.

“sudahlah, biar itu jadi urusannya.”

“kalo reymond mundur berarti kamu akan memilihku kan?”

“jangan over confidence, tuan muda. Tidak ada yang tahu aku akan memilih sapa.”

“tapi kan?”

“Aku mau buat sarapan. Permisi,” kataku mengakhiri pembicaraan. Aku tidak mau membahasnya lebih panjang.

Rupanya, Kyu oppa berbanding terbalik denganku. Dia mampu bangkit dari tempat tidur hanya untuk membahas permasalahan ini. “kamu mau balik sama aku gak sih?” tanya Kyu.

“entahlah,” jawabku.

“Kamu takut kita putus lagi hanya karena manajemen melarangku?” tanya Kyu lebih lanjut.

“entahlah.”

“jawabanmu kok cuman entahlah? Kamu udah gak mau sama aku lagi?”

kali ini aku hanya menaikkan kedua bahuku sebagai tanda tidak tahu.

“okelah. Kamu kasih aku kesempatan skali lagi.kalo emang masih gak bisa juga meluluhkan kamu. Aku nyerah.”

Aku diam saja. Aku malah menyuruh dia duduk dan menunggu sarapan dgn tenang. Setelah sarapan siap, aku memanggil Ine tapi tak ada jawaban. Dia tertidur nyenyak di ruang tivi. “Pulang jam berapa anak ini?” gumamku. Aku biarkan saja dia tidur.

Aku segera menyantap sarapanku. Setelah selesai, aku bersiap untuk pergi ke kantor. Kyu oppa pun aku suruh untuk kembali ke dorm, tentu setelah dia menelan obatnya.

“Aku pulang dulu ya. Makasih udah merawatku,” katanya sebelum pulang.

“iya, sama-sama. Sudah pulang sana nanti kamu dicariin sama yang lain. Good Luck buat job hari ini,” sahutku.

“Hahaha, iya makasih ya.”

.Ine.

“aduh,udah jam berapa sekarang ya?” tanyaku kebingungan sambil melihat jam di depanku. “apa?! Jam 12?! Oh, tidak! Padahal aku janji dengan siwon oppa jam 10 tadi. Aduuuh.”

aku mengambil hapeku dan melihat ada puluhan missed call dari siwon oppa. Dia bahkan juga berkali-kali ngirim pesan. Aku segera menghubunginya.

“Oppa, maaf aku tidur terlalu lelap sampai tidak mendengar teleponmu. Maaf, maaf. Maafkan aku,” kataku padanya.

“Iya, tidak apa. Aku juga pikir tadi kamu pasti tidur. Jalan-jalannya kita tunda besok saja atau kapan kalau aku ada waktu kosong ya?” sahutnya entah darimana.

“baiklah, oppa. Kalau begitu aku mau belajar saja sekarang untuk persiapan universitasku. Hehe.”

“Oke, anak pintar. Selamat belajar ya. Tuhan memberkati.”

aku menutup telepon lalu segera mandi dan makan. Setelah itu, aku mengambil buku-buku pelajaran dari kamar ke ruang tivi. Buku-buku ini adalah buku-buku yang aku beli dengan siwon oppa beberapa waktu lalu saat aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Korea.

Aku memutuskan itu dengan pertimbangan Kak Sasa dan Siwon oppa. Aku harus bersama mereka.

.Kyu.

Aku merasa badanku tidak enak lagi. Panasnya naik lagi tapi menggigil setengah mati. Lebih baik aku ke dokter sekarang.

“hyung, aku mau ke dokter dulu ya,” kataku pada sungmin dan yesung yang sedang bersiap-siap pergi.

“kau pergi dengan siapa?” tanya sungmin hyung.

“Sendirian. Kenapa emang?”

“Tidak apa-apa kamu sendirian? Lebih baik kamu bareng kami saja. Kondisimu sedang tidak baik untuk mengemudi mobil sendiri,” kata yesung hyung.

“Tidak apa. Aku masih kuat kok mengemudikan mobil sendiri. Tenang saja. Aku pergi.”

aku lalu pergi mengambil mobil di basement dan segera menuju dokter. Di tengah jalan, aku menyesal sekali tidak bareng dengan sungmin dan yesung. Kepalaku pusing sekali sampai aku tidak bisa melihat jalan di depanku dengan jelas. Sampai aku tidak tahu bahwa aku telah melenceng dari jalur dan menabrak pagar pembatas. Aku tidak sadarkan diri.

Aku sedang bersiap pulang saat ada telepon dari sungmin oppa. “ye, oppa. Ada apa?” kataku.

“kyu masuk rumah sakit. Aku akan menjemputmu ke kantor sebentar lagi lalu kita akan ke rumah sakit,” kata sungmin oppa.

Aku terkejut mendengar kyu masuk rumah sakit padahal tadi pagi dia sudah lebih baik. “apa sakitnya makin parah, oppa?” tanyaku.

“bukan. Dia kecelakaan,” jawabnya.

Hal yang baru aku dengar membuat aku hampir pingsan. Seketika, duniaku serasa berhenti. Sedetik terasa setahun. Aku tidak sabar menunggu jemputan sungmin oppa.

Begitu aku mengenali mobil sungmin oppa datang, aku langsung masuk dan bertanya pada siapapun yang ada di dalam mobil.

“Ada apa dengan Kyu oppa? Dia kenapa?” tanyaku tidak tenang.

“Tenang, sasa. Aku juga gak tahu dia gimana. Nanti kita lihat bersama,” jawab ryeowook. “aku juga cemas setengah mati.”

aku tidak banyak bicara lagi sampai ke rumah sakit. Bahkan aku hanya sangggup menarik tangan ryeowook oppa agar berjalan lebih cepat.

Aku bahkan berlari walaupun tidak tahu dimana Kyu berada. Aku tidak peduli dengan keramaian dalam rumah sakit.

“Lantai 3,” kata sungmin oppa padaku dan yang lain setelah mendapat informasi.

Tanpa menunggu lebih lama kami segera naik ke lantai 3. Aku melihat heechul oppa sedang duduk di depan sebuah kamar dengan seorang wanita setengah baya.

“ahjumma, bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?” tanya sungmin oppa pada wanita itu.

“Dia hanya terluka ringan. Tidak apa-apa tapi tadi dia sempat pingsan karena syok. Apalagi dia juga sudah demam sebelumnya,” jawab ahjumma.

“maaf, kami tidak mengantarnya ke dokter. Kalau kami antar pasti tidak akan terjadi seperti ini,” kata sungmin oppa.

“Tidak apa,” sahut ahjumma itu lalu berpaling padaku. “Kamu siapa?”

“Ah, annyeonghaseyo ahjumma. Aku Sasa, teman Kyu,” jawabku sopan.

“Oh, i see. I know you. I’ve seen you before from the pictures in kyu’s room,” sahutnya. “Wanita yang cantik. Saya mamanya kyuhyun.”

“Oh, gamsahamida, ahjumma,” kataku.

Seorang dokter lalu keluar dari kamar. “Kyu sudah sadar dan boleh dijenguk. Satu per satu atau dua,” kata dokter tersebut lalu pergi dengan suster.

Mamanya kyu segera masuk diikuti dengan heechul dan sungmin oppa. Karena sudah bertiga yang masuk, aku dan ryeowook oppa menunggu di luar.

“Oppa yang lain tidak datang?” tanyaku pada ryeowook oppa.

“Setelah semua kerjaan mereka selesai, mereka akan datang,” jawab ryeowook oppa.

Setelai sungmin oppa dan heechul oppa keluar, gantian aku dan ryeowook oppa yang masuk. “Hai, cantik,” sapa Kyu oppa padaku.

Aku hanya tersenyum sambil menghampirinya. “Kau cukup membuatku jantungan!” kataku. Aku memperhatikan luka-luka di wajahnya yang sudah diobati. Tidak berat tapi cukup membuat wajahnya jadi tidak tampan.

“semoga kamu cepat sembuh, kyu,” sela ryeowook.

“tentu saja. Mungkin besok atau lusa sudah boleh pulang,” kata Kyu.

“Syukurlah,” sahut ryeowook. “kalau kamu terlalu lama di rumah sakit, kami tidak akan sanggup terus-terusan menggantikanmu.”

“Hehe. Tenang saja.”

tidak lama kemudian member yang lainnya datang dan aku harus segera keluar. “Ahjumma, aku pulang duluan ya. Maaf tidak bisa menemani lebih lama,” kataku berpamitan pada mamanya Kyu.

“Iya. Terima kasih ya, sayang. Nanti akan aku kabarkan kondisinya kepadamu,” ucap nyonya cho.

“Baik, ahjumma.” aku lalu berpamitan pada Kyu. “Aku pulang ya. Jangan lupa minum obatnya,” kataku pada Kyu.

“Iya, cerewet. Besok kamu harus kesini ya. Bawa makanan yang enak-enak. Kalau tidak, kau tidak boleh datang,” sahut Kyu.

“dengan senang hati. Aku lebih senang tidur di apartemen daripada harus datang kesini.”

“Kau memang tidak punya hati. Bahkan padaku yang sedang sakit.”

aku hanya tertawa mendengar Kyu berbicara seperti itu. Dia mungkin tidak tahu aku sedang menggodanya. Aku pun tidak akan menjelaskannya. Aku segera pulang dan istirahat.

Pagi ini aku bangun lebih pagi untuk menyiapkan makanan yang akan dibawa ke rumah sakit. Setelah itu, aku akan mandi dan siap-siap karena siwon oppa akan menjemput aku dan Ine jam 8.

“Kak, ayo pergi. Siwon oppa sudah datang,” panggil Ine dari ruang tamu.

“Iya, sebentar,” jawabku sambil menghampirinya. “Ayo.”

aku dan Ine lalu turun ke tempat dimana siwon oppa menjemput kami. “Annyeonghaseyo, oppa. Apa kabar?” sapaku padanya saat masuk mobil.

“Annyeonghaseyo, Sasa. Aku baik. Kamu gimana? Pasti cemas dengan Kyu ya?” balasnya.

“apanya? Dia santai-santai saja tuh,” sela Ine.

“Sok tahu kamu, Ne. Huu. Kyu oppa tidak parah kok keadaannya,” sahutku.

Siwon oppa hanya tertawa sambil mengelus-elus kepala Ine. “Kak Sasa tampaknya santai tapi dalam hati dia cemas setengah mati. Kita lihat saja nanti,” katanya pada Ine.

“Haish. Oppa ikut-ikutan sok tahu,” selaku.

Tidak lama kami sudah sampai di rumah sakit. Kami segera masuk dan pergi ke kamar Kyu. Aku melihat begitu banyak kartu ucapan semoga cepat sembuh di depan kamar. Kartu-kartu ini pasti dari para fans. Begitu aku masuk ke dalam, barang-barang pemberian fans tidak kalah banyak.

“untung kalian sudah datang. Aku titip kyu sebentar ya, sayang. Aku mau pulang sebentar mengambil baju anak ini,” kata nyonya cho padaku begitu aku masuk.

“oh ya, ahjumma. Kami akan menjaganya,” sahutku.

Mamanya kyu lalu pergi dan aku melihat kyu yang sibuk dengan laptopnya. “tadi kenapa ahjumma tidak titip saja padaku? Biar aku bawakan sekalian dari dorm,” kata siwon oppa.

“aku pikir hyung tidak ke dorm dulu. Aku tidak tahu kalian akan datang bersama,” sahut Kyu.

Aku lalu menaruh makanan di meja samping tempat tidur. “Kapan kamu diperbolehkan pulang?” tanyaku.

“pulang?! Aku malah harus dirawat lebih lama,” jawab Kyu.

“Loh? Kenapa?!” tanyaku. Pasti karena ada yang tidak beres dengan kondisinya.

“Aku kena demam berdarah,” jawabnya lemas.

“ya sudah, kalo kamu dirawat kan bisa cepat sembuh. Paling cuman seminggu kan?” hiburku supaya Kyu lebih semangat.

“hah, pasti akan membosankan!” keluhnya.

Ine lalu berkata, “Tenang saja, kami akan sering-sering datang menjenguk oppa.”

“Terima kasih,” sahutnya.

Kyu oppa menyingkirkan laptopnya dan mulai menyantap makanan yang disediakan rumah sakit. “Kau harus makan yang banyak, Kyu. Biar cepat sembuh,” kata Siwon oppa.

“Tentu saja. Aku tidak tahan lama-lama di sini,” sahutnya.

Selesai Kyu oppa makan, Siwon oppa pamit pulang karena ada job. Sedangkan Ine mengekor di belakangnya. Aku juga mau ikut pulang tapi tidak tega meninggalkan Kyu sendirian. Aku akan pulang sampai setidaknya ada yang menjaganya lagi.

“Kalau begitu, kami pulang duluan ya. Cepat sembuh,kyu,” kata siwon oppa.

“Cepat sembuh ya, oppa,” susul Ine. “Kak Sasa jaga Kyu oppa baik-baik ya.”

aku mengangguk lalu mengantarkan mereka sampai pintu kamar. Setelah itu, aku kembali ke sebelah Kyu oppa yang sudah sibuk lagi dengan laptopnya. Dia bahkan tidak menganggap keberadaanku.

“Ini semua dari fans mu?” tanyaku sambil menunjuk bermacam-macam benda yang ditumpuk di pojok kamar.

“ya,” jawabnya singkat tanpa berpaling dari laptopnya.

“Kamu sedang apa sih? Serius banget,” ucapku sambil melihat layar laptop Kyu. Dia sedang main game kesukaannya. “Pantas saja,” kataku dengan lirih.

Aku memilih menyingkir duduk di kursi yang dekat dengan jendela tanpa berkata apapun. Karena bosan, aku malah melihat-lihat hadiah dari para fans dan mengelompokkannya sesuai jenisnya. Aku bahkan mencicipi salah satu makanan yang sudah lama ingin aku coba.

Sekitar jam 11an, saudara kyu oppa datang menjenguk. Aku ingat gadis ini. Sepupunya yang bernama Hye Jin. Dia datang bersama orang tuanya dan juga mama Kyu. Mereka mengobrol dengan akrab dan tertawa-tawa bersama. Aku sebal melihatnya. Dengan orang lain dia sangat ramah tapi tidak peduli denganku. Lebih baik aku pulang saja.

“ahjumma, aku pulang dulu ya,” pamitku pada mama Kyu.

“oh iya, nak. Terima kasih sudah mau merawat Kyu ya?” kata mama Kyu mempersilahkan aku pulang.

Tiba-tiba Kyu menyela dengan galak, “Sasa, jangan pulang dulu. Aku mau bicara.”

dengan terpaksa, aku kembali ke tempat dudukku tanpa berbuat apa-apa. Saat jam makan siang, nyonya cho mengajakku untuk makan siang bersama tapi Kyu mencegahnya.

“Mama makan siang sama Hye Jin dan orang tuanya saja. Sasa biar disini,” kata Kyu dengan nada memaksa.

“Oh, baiklah,” sahut mamanya. “Nanti aku bungkusin makanan buat kamu ya, sasa.”

“Tidak usah repot, ahjumma. Nanti aku bisa makan siang sendiri,” ucapku.

“ah, tidak merepotkan sama sekali,” sahutnya.

Mereka berempat lalu pamit dan pergi makan siang sekaligus pulang kecuali mamanya kyu.

“Kenapa kau disini?” tanya Kyu oppa tiba-tiba setelah aku tinggal berdua.

“Maksudnya? Oppa kan yang menahanku,” jawabku.

“hhh.” Kyu Oppa menghela napas panjang. “dari awal kamu memang tidak mau merawatku kan? Kamu cuman merasa kasihan padaku.”

“Maksudmu apa sih, oppa?” tanyaku bingung.

“Kamu sudah tidak sepeduli dulu padaku,” katanya yang semakin membuatku bingung.

“Kau ini bicara apa sih, oppa?!” kataku kesal karena dia sangat bertele-tele. “langsung to the point saja apa susahnya sih?”

“Aku marah padamu. Kenapa semalam kamu pulang dan membiarkan mamaku menjagaku sendirian? Terus tadi, kenapa kamu mau pulang? Kenapa kamu tidak mau menjagaku sehari saja?” kyu oppa akhirnya mengutarakan maksudnya.

Aku mendengus kesal dengan sifat kekanak-kanakan Kyu. “Kyu oppa, mana aku tahu kau boleh dijaga dua orang. Lagipula, kau juga tidak akan tambah parah tanpa aku,” kataku.

“Kau benar-benar tidak punya perasaan,” ucapnya. “Lebih baik kamu pulang saja dan bawa kembali makananmu.”

aku kesal setengah mati mendengarnya. Tanpa bicara, aku mengambil makanan yang tadi aku bawa lalu melangkahkan kaki keluar kamar. Dengan emosi, aku menuruni tangga sampai ke lantai dasar. Mungkin karena emosiku sudah habis dalam menuruni tangga, aku memutuskan kembali ke kamar Kyu oppa. Aku tidak bisa meninggalkannya.

“Buat apa kamu kembali?” tanya Kyu oppa galak.

“Aku akan pulang sampai kau habiskan makananku,” jawabku.

“aku sudah dapat makanan dari rumah sakit.” Kyu oppa menolak.

“Makan. Aku sudah capek membuatnya. Kalau tidak, kita akan bermusuhan selamanya.”

aku berhasil memaksa kyu untuk makan. Aku bahkan menyuapinya sampai makanannya habis. “Sekarang kau harus minum obat,” kataku.

Entah bagaimana, Kyu oppa menurutiku. “Demi apapun, kau cerewet sekali, Sasa,” ucapnya.

“demi apapun, kau manja sekali, Cho kyuhyun,” balasku sambil tersenyum. “Maafkan aku ya tidak menjagamu. Maaf tadi juga sudah marah-marah. Seharusnya aku lebih peduli padamu.”

Seketika, kyu oppa tersenyum senang. “Kalau begitu, nanti malam dan besok kau yang menjagaku ya?” kata Kyu.

“kalau hari ini aku bisa tapi kalau besok, aku kan harus bekerja pagi-pagi di hari lusanya,” sahutku.

“Itu urusanmu.”

aku menghela napas panjang. Kalau sudah kekanak-kanakan seperti ini aku lebih baik mengalah. Aku akhirnya setuju untuk menjaganya. Terpaksa, aku merepotkan Ine untuk membawakan baju untukku ke rumah sakit. kyu sama sekali tidak mengijinkan aku keluar kamar. Aku boleh keluar dari kamar saat Kyu mandi atau saat aku mau makan.

Dengan seperti ini, aku jadi tahu siapa saja yang menjenguk Kyu, siapa dokternya dan apa saja obatnya. Aku bahkan sampai tahu jadwal mandi dan ambil darahnya. Aku juga meringankan beban ahjumma yang bisa pulang setiap malam dan istirahat dengan tenang.

Selama dua hari aku menjaganya, yang paling sering menjenguk adalah heechul oppa. Dia bisa 3x sehari menjenguk Kyu. Member lain menjenguk hanya di hari sabtu atau minggu. Bahkan ada yang tidak menjenguk selama aku menjaga di sana.

Senin pagi, aku berangkat ke kantor dari rumah sakit. Aku berencana mengambil pakaian di rumah sakit nanti malam setelah aku selesai kerja. Tapi bukannya aku membawa pulang pakaianku. kyu oppa malah membawaku pergi.

“Kita ke Singapur malam ini juga,” kata Kyu Oppa mengejutkanku.

“Buat apa?”tanyaku.

“Ketemu orang tuamu,” jawabnya.

“Iya, buat apa ketemu mereka? Kamu kan belum sembuh,” sahutku menolak ajakannya. Aku tidak sanggup menanganinya sendirian kalau dia kambuh nanti. Aku mencari dukungan dari ahjumma agar Kyu istirahat saja dulu. “Ahjumma.”

“Dia sudah memaksa daritadi siang sejak dokter memperbolehkan dia pulang,” kata mama Kyu. “Aku tidak bisa melawannya.”

Kalau sudah begini, aku tidak bisa menolak. Dia berhasil membawaku pergi ke Singapur dengan penerbangan paling malam. entah apa maksudnya mau bertemu orang tuaku.

Aku tidak tahu berapa jam yang aku habiskan dalam pesawat karena aku tertidur sepanjang perjalanan. Yang aku tahu, kami sampai di rumah mama dan papa sekitar jam 6 pagi.

Aku membunyikan bel yang ada di depan rumah. Tidak lama, bibi yang sudah lama ikut mamaku membukakan pintu. Dari wajahnya, aku tahu dia kaget dengan kedatanganku apalagi dengan seorang pria.

“bu, ada Sasa, bu. sasa datang,” seru bibi memanggil mamaku tanpa menyapaku lebih dulu.

Mama yang mendengar panggilan seperti itu langsung datang. “Sasa, kok datang tiba-tiba?” tanya mamaku terkejut.

“Kyu oppa ada perlu sama mama dan papa katanya,” jawabku.

“Oh ya? Ada perlu apa?” tanya mamaku pada Kyu oppa.

“tentang makhluk satu ini, tante,” jawab Kyu sambil menunjuk aku lalu tertawa. Mama pun ikut tertawa.

mama menyuruh kami mandi dahulu lalu sarapan bersama dengan papa juga.

“Kata mama Sasa, kamu ada urusan dengan kami ya, Kyu? Urusan apa?” tanya papa selesai sarapan.

“ehm, sebenarnya urusan ini cukup penting bagi saya tapi tidak tahu bagi Sasa,” jawab Kyu.

“Memang ada apa?” tanya papa lebih lanjut.

“Saya ingin memohon ijin dari om dan tante untuk berpacaran bahkan menikah dengan Sasa,” kata Kyu oppa dengan percaya diri.

Aku hampir pingsan mendengarnya. Ternyata tujuan Kyu oppa ke Singapur adalah untuk mengantongi izin untuk bersamaku.

“Sebenarnya om dan tante keberatan kalau Sasa harus menikah sekarang tapi kalau Sasa siap, om dan tante merestui saja,” kata papaku.

Kepalaku pusing tiba-tiba. Hal ini membuat aku bingung. “Biarkan aku berpikir. Aku tidak bisa memutuskan sekarang,” ucapku.

“Aku harap tidak lama-lama karena aku harus kembali ke Korea nanti malam,” kata Kyu oppa.

Aku tahu, Kyu oppa serius dengan perkataannya. Aku juga yakin dia tidak akan menyerah meski aku menolak saat ini karena aku belum siap tapi di lain hati aku tidak ingin menolaknya. Sama sekali tidak ingin.

Sepanjang hari, aku berpikir di kamarku. Tidak keluar sama sekali bahkan untuk makan sekalipun. Bahkan, sampai Kyu oppa mau pulang pun, aku tidak beranjak dari kamar.

“Sasa, Kyu mau pulang. Ayo, keluar,” panggil mamaku. “Kamu mau di kamar sampai kapan? Kalau kamu gak bisa jawab sekarang paling gak anterin Kyu ke bandara.”

aku akhirnya keluar kamar dan mengantarkan Kyu ke bandara. “Maaf sudah membuatmu cemas,” kataku saat kami menunggu pesawat.

“kalau kau tidak bisa menjawab sekarang tidak apa-apa,” ucap Kyu pasrah.

“Aku sudah punya jawabannya tapi itu semua tergantung pertanyaan ini.”

“pertanyaan apa?” tanya Kyu.

“Kau sudah bicara dengan manajemen tentang masalah ini?”

“tentu saja udah. Kalau belum, mana berani aku minta ijin ke orang tuamu.”

“berarti kalau kita pacaran, manajemenmu tidak akan usil dengan hubungan kita kan?”

“tidak akan. Bahkan kalau kita menikah.”

“baiklah kalau begitu. Aku akan menyusulmu pulang besok. Tunggu aku ya, sayang. Jangan macam-macam selama aku tidak ada,” kataku lalu menciumnya.

.END.