( The Other Side Of SUJU ) FIRST TIME I FALLIN’ LOVE – ShinNar Couple

Nama Author : Estia Kim

CAST :

Shin Donghee

Park Nari

Support Cast :

Lee Cheonsa

Jung Hyorin

Raisa Lee

Member SUJU

Prince Manajer ( Kim Jung Hoon )

Genre : Romantic (maybe), GaJe, fantasy

Length : One Shoot

Disclaimer : The Other Side Of SUJU – menguak atau berfantasy – dengan membalikan fakta-fakta tentang mereka hingga 180’.

Mencoba berfantasi dengan seorang Shindong, member of SUJU, yang sekarang sudah terlihat sexy.

Hahahaaahaa *tawa sadis

#mian ahdjusi *bow ^^v

Dan ini Shindong side story dari FF Who’s That Girl J

 

 

******

Suara sexy J.Lo masih mengalun di Konabeans Club. Setelah menghabiskan 1 jam bersama “yeoja” nya, Shindong bergegas turun karena mendapat sms dari Manajer hyung.

From : Manajer Hyung

Cepat turun ke lantai 1 atau kau akan menjadi yang ke-4 ‘bermain’ dengan ‘yeoja’ baru malam ini.”

Begitulah isi pesan singkat yang diterima Shindong. Dengan pakaian “ala-kadarnya” – celana tanpa gesper, kemeja kusut dengan 3 kancing yang terbuka, rambut acak-acakan, sepatu asal pakai – .

Saat sampai di lantai satu, Ryeowook sudah menghampiri seorang yeoja di bar, dan manajer hyung sudah menunggu Shindong disofa dengan “yeoja” masing-masing dikanan-kirinya. Salah satu yeoja segera menghampiri Shindong yang sudah menempelkan pantatnya disofa.

Mata Shindong mulai “menyibak” lantai dansa. Terlihat Donghae dan Yesung sedang “melantai” dengan yeoja yang tidak biasa. Mereka terlihat seperti gadis “baik-baik yang tersesat”. Mata Shindong menyusuri ruangan di tengah redupnya lampu dia melihat sesosok yeoja yang sedang diganggu ditangga darurat, menuju pintu belakang club.

Shindong menatapnya intens. Mengacuhkan “yeoja” yang sedari tadi menggodanya. Yeoja yang dilihat Shindong tampak sedang menerima godaan namja-namja yang mengganggunya.

Entah apa yang dipikirkannya, Shindong sudah mengejar gadis itu.

Bug bag plak big bug …. (suara Nari sedang menghajar namja yang mengganggunya)

Shindong tercengang di ambang pintu melihat aksi Nari menghajar 4 orang namja sekaligus. Dia tampak terpesona (?)

Okay … Mini dress dan heels 7cm Nari tidak menyulitkan aksi Nari menghajar namja-namja itu. Setiap gerakan judo nya membuat beberapa bagian tubuh Nari terlihat menggoda Shindong.

“permisi agashi, kau menghalangi pintu.” Ucap Nari yang tahu-tahu sudah didepan Shindong.

“agashi … hello ….” Nari melambaikan tangannya didepan wajah Shindong yang masih tampak cengo (?)

“oh .. ghost…” Nari mendesah sebelum akhirnya berteriak tepat diwajah Shindong.

“Yak ! Agashi, bisa kau menyingkir dari pintu?!”

“ eh.. Mwo???” serius. Shindong tampak bodoh sekarang.

Tapi ada yang berbeda di jantung Shindong saat melihat Nari. Dia seperti bocah ingusan yang sedang jatuh cinta (?)

Mata bulat Nari semakin membulat melihat reaksi Shindong. Dia sedang berpikir namja jenis bagaimana Shindong ini.

……………………………………………………….

Shindong menarik tangan Nari ketika dia melewatinya. Bibir mereka menempel untuk sesat sebelum akhirnya Shindong melumatnya. Bukan Nari namanya kalau tidak membalasnya. Bukan, bukan membalas ciuman Shindong tentu saja. Mungkin memberinya beberapa pukulan cukup.

Tapi tetap saja Nari tidak lebih kuat dari Shindong. Kalian tahu sendirikan sebesar apa Shindong? Dan Nari yang hanya ber-tinggi 152cm dengan berat 40kg tentu saja terlihat AMAT SANGAT mungil. Percaya lah, orang dibelakang Shindong tidak akan bisa melihat Nari yang sedang dalam dekapan paksanya.

Karena Shindong mencengkram lengannya begitu kuat, dengan AMAT SANGAT terpaksa Nari menggigit bibir Shindong hingga namja itu melepas melumatannya, namun tidak dengan cengkramannya.

“ percaya atau tidak, aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama.” Ucap Shindong dengan senyum seduktifnya.

“ kau gila.” Desis Nari.

“ lepaskan aku!” Nari menatapnya tajam.

“ tidak sebelum kau menyebutkan nama, no telpon dan alamat mu.”

“ Mwo???”

“ jangan coba-coba membohongiku. Karena aku punya banyak koneksi untuk menemukanmu. Aku tidak mau dengan tidak sopannya mendatangi rumahmu. Jadi, katakan saja dengan jujur.” Shindong mulai mengintimidasi mata Nari.

Nari sudah cukup sering menghadapi situasi seperti ini, tapi bukan dengan orang macam Shindong. Dia sudah sangat ahli membaca mata lawan. Merasakan detak jantung lawan hanya dengan sentuhan, dan air muka lawan, akan menunjukan tipe bagaimana lawannya dan sedang bohong atau tidak.

Ada beberapa kesimpulan dibenak Nari. Pertama, dia tidak menemukan kebohongan dimata Shindong. Kedua, detak jantung Shindong. Walau detak jantungnya terasa cepat tapi itu bukan jenis detak jantung seoarang pencuri yang hampir ketahuan. Ketiga, air muka Shindong. Walau dia sedang menggoda Nari tapi air muka nya berbeda dengan namja-namja tadi. Itu seperti air muka ayah nya yang sedang bermesraan dengan ibunya (?)

Tiga kesimpulan Nari langsung dia enyahkan dari pikirannya ketika hidung nya mencium aroma parfum yeoja yang Nari tahu jenis parfum apa itu dari baju Shindong, matanya menangkap noda lipstick yang walau pun sangat tipis dikerah kemeja Shindong. Terlihat jelas Shindong baru saja “bermain” dengan salah satu “yeoja” di club ini.

“ Shindong hyung?” seru seseorang dari belakang.

Kesempatan ini tentu saja tidak disia-siakan Nari. Mengandalkan tubuh mungilnya (?) serta kelengahan Shindong, dia mencengkram balik lengan Shindong dan memplintirnya, menumpukan kekuatan pada kaki nya dan menendang Shindong.

“ aaarghhhh……”

Heels 7cm nya lagi-lagi tidak menyulitkannya untuk lari dari tempat itu.

………………………………………………………….

“ kau ….” Desis Shindong penuh amarah pada namja yang memanggilnya tadi.

“ aaaarghhhhhh….” Shindong hanya mengerang frustasi. Dia tidak bisa melampiaskan marahnya pada dongsaeng nya ini.

“ waeyo hyung? Siapa yeoja tadi?” Tanya Donghae. Dongsaeng yang memanggilnya tadi.

“ kalau kau tidak menggangguku aku sudah tahu siapa namanya.” Donghae dan Yesung – oke, ternyata Donghae tidak sendiri – sedikit takut dengan death glare Shindong.

“ mian Dong-ah. Kami tidak tahu kau sedang sibuk tadi.” Kata Yesung.

“ waeyo?” Tanya Shindong setelah menghela nafas, menghilangkan amarahnya.

“ Wookie mendapat teman kencan didalam dan kami berencana mengikutinya. Kau mau ikut?” jelas Yesung. Kelihatannya Donghae masih belum berani bicara pada Shindong.

“ Ne? teman kencan yang bagaimana?” Shindong mengerutkan keningnya, heran. Bukan kah itu hal yang wajar? Mendapatkan teman kencan di club?

“ kali ini berbeda. Kajja kita langsung saja. Kau akan mengerti setelah melihatnya.” Tangan kanan Yesung menarik Donghae dan tangan kiri menarik Shindong. Berjalan tergesa menuju Lamborghinni blue metalik Donghae.

………………………………………………..

@other side and same time

Cheonsa dan Hyorin mengerutkan keningnya heran melihat Nari berlari ke arah mereka – yang kebetulan di tempat parkir – sambil sesekali menengok kebelakang.

“ haa haa haah ….” Nari tampak kepayahan mengatur nafasnya.

“ wae?” Tanya Cheonsa.

“ haaa haaa…” Nari menggeleng pelan menjawab Cheonsa.

“ gwenchana?” giliran Hyorin yang Tanya.

“ nehh. Haaaah ….”

“ jeongmal?” Nari hanya mengangguk.

“ tadi ada sedikit masalah dengan namja di belakang.” Akhirnya Nari menjelaskan.

Cheonsa dan Hyorin hanya ber- O ria menanggapinya.

“ mana Rai-ya?”

“ kajja kita ikuti dia.” Kata Cheonsa dengan senyum evilnya.

………………………………………………………

“ haahaahaahaahaa …..” gelak tawa nyaring terdengar dari 2 mobil diseberang Violetta bakery pada sabtu dini hari.

3 pasang mata yeoja dan 3 pasang namja mengawasi teman masing-masing yang sudah saling tergoda didalam bakery tersebut.

Untuk pertama kalinya teman dari yeoja itu melihat semburat pink dipipinya. Dan untuk pertama kalinya juga teman dari namja itu melihat temannya sedang menahan hasratnya untuk “memiliki” gadis didepannya.

“ kelihatannya gadis itu ‘gadis baik-baik yang tersesat’” Ucap Shindong dengan membentuk tanda kutip dengan dua jarinya pada kata “gadis baik-baik yang tersesat”.

“ memang. Tadi kami juga bertemu dengan gadis yang sejenis dengan gadis itu.” Ucap Yesung.

………………………………………………………..

“ jadi dia benar-benar pergi dengan artis itu?” entah pada siapa Nari bertanya.

“ artis?” Tanya Cheonsa dan Hyorin bersamaan.

Entah channel apa yang mereka tonton dirumah hingga tidak mengenali member SUJU, tanpa penyamaran pula.

Ckckckckcc …

“ Kim Ryeowook. Member Super Junior. Kakak dari Kim Ryeona, Ketua Badan Mahasiswa.” Nari menjelaskan, yang sukses membuat 2 temannya teriak histeris (?)

“ JINJA????”

“ he em.” Nari hanya mengangguk malas.

“ bukankah sudah waktunya kita pulang?” kata Nari.

“ Ne. kajja kita jemput sang putri.” Canda Hyorin.

Mereka pun keluar dari black audi Cheonsa. Disaat bersamaan terlihat 3 namja keluar dari Lamborghini yang tidak jauh dari mereka. Mereka pun saling terkejut dengan alasan yang berbeda.

Kalau Cheonsa dan Hyorin terkejut senang melihat dan brtemu lagi dengan Donghae dan Yesung, lain halnya dengan Nari dan Shindong. Shindong sih jangan ditanya lagi, dia tentu saja senang melihat Nari lagi. Kalau Nari, yahhh, kalian tahulah bagaimana murka nya Nari sekarang.

“ hai..” sapa Donghae dan Yesung bersamaan pada Cheonsa dan Hyorin.

“ hai..” jawab mereka sambil tak lupa senyum terbaiknya.

Shindong?? Dia terpaku senang menatap lekat Nari.

Nari?? Dia terpaku murka dengan death glare nya pada Shindong.

“ apa yang kalian lakukan disini?” Tanya Donghae. Casanova Mode on.

“ kalian sendiri sedang apa? Ke toko bakery jam segini?” Cheonsa malah balik bertanya.

“ menjemput teman. Kalian?” kali ini giliran Yesung. Tanpa melepaskan tatapannya pada Hyorin.

“ sama.” Jawab Hyorin singkat. Dan cuek.

Nari mengacuhkan mereka dan beranjak pergi menuju Violetta bakery. Diikuti Shindong tentu saja.

……………………………………………………

Raisa yang sedang salah tingkah tidak sengaja melihat teman-temannya diluar sedang mengobrol dengan namja. Ryeowook yang heran dengan raut kaget Raisa mengikuti arah pandang gadis itu. Dia pun juga ikut terkejut.

“ apa yang mereka lakukan disini?” Ryeowook dan Raisa menggumamkan kalimat yang sama persis.

Keduanya pun saling menatap.

“ temanmu??” Tanya mereka yang lagi-lagi bersamaan.

“eh??!” kali ini Raisa dikejutkan oleh Nari yang tiba-tiba duduk disebelahnya.

“ wae?” Nari hanya menggeleng pelan.

“ Ryeowook-ssi kenalkan. Ini temanku Nari.”

“ Ryeowook imnida.” Wookie tersenyum ramah pada teman “gebetannya” ini.

“ Nari imnida.” Senyum ramah Wookie diacuhkan Nari.

“ jadi namamu Nari?” kata Shindong yang langsung mengambil tempat disebelah Wookie.

“ kau kenal dia hyung?” Tanya Wookie.

“Ne.” jawab Shindong penuh senyum kemenangan.

Suasana mulai terasa tidak menyenangkan. Raisa merasakan aura gelap Nari mulai menguar, menatap Shindong horror. Sedangkan Shindong masih dengan senyum nya menatap lekat Nari. Kelihatannya aura gelap Nari SAMA SEKALI TIDAK berpengaruh pada Shindong. Karena memang Shindong sudah lama bergaul dengan sang magnae iblis kan.

“ apa yang terjadi antara kalian?” Tanya Raisa.

Belum sempat Shindong menjawab, Yesung, Donghae, Hyorin, dan Cheonsa ikut bergabung.

“ hai ..” sapa mereka bersamaan.

Tidak biasanya Violetta bakery mendapat pengunjung di jam 3 dini hari. Penjaga kasir yang biasa nya bosan dan menahan kantuk kini mata nya terbuka lebar memperhatikan pengunjung-dini hari-nya yang dia sudah SANGAT TAHU kalau mereka adalah artis dan pengunjung eksklusif karena berteman dengan bos nya sekaligus pattisier di situ.

…………………………………………………………

Hanya dalam waktu 2 hari sejak pertemuan singkat malam itu, Shindong sudah berhasil mendapatkan alamat lengkap Nari. Bukan alamat rumah tentu saja – mengingat dia satu rumah dengan Raisa – jadi dia gunakan alamat apartemen nya pada data kampusnya – yang jarang sekali dikunjunginya -.

Udah pada tahu kan, Shindong punya bisnis warnet?

Jadi, dia memanfaatkan kemampuan hacking temannya untuk membobol data base Kyunghee univ.

Coz we lost it all, Nothing lasts forever

I’m sorry, I can’t be perfect

Now it’s just too late, We can’t go back

I’m sorry, I can’t be perfect

Alunan lagu Perfect nya Simple Plan terdengar nyaring di apartemen Nari. Tepat saat gadis itu keluar dari kamar mandi.

“ yeoboseo?” sapa Nari waspada melihat nomor baru pada layar ponselnya.

“ yeoboseo chagiya…” jawab seorang namja diseberang sana.

“ nugu?”

“ seorang namja yang jatuh cinta padamu.”

“ jangan bercanda denganku!” lembut namun tegas dan menuntut.

“ aishh, jangan galak-galak chagi,, nanti cantiknya ilang lho (?)” dia mulai menggoda.

Nari memutar bola matanya jengah. Dia mulai bisa menebak siapa namja ini.

“ apa maumu?” Nari mulai lelah mendebat.

“ kencan denganku malam ini.” Jawab namja itu singkat dan tegas. Jenis kalimat yang bukan untuk ditolak.

“ mwo?” Nari tercekat mendengarnya.

“ aku jemput jam7. Kau harus sudah siap CHAGIYA.” Dengan penuh penekanan namja itu mengucapkan kata CHAGIYA.

Tuuuuuut …….

Sambungan telpon terputus begitu saja. Padahal nari belum sadar dari shock nya dengan ponsel masih menempel ditelinga kanannya. Tentu saja dia bukan shock karena ajakan kencan dari seorang namja atau shock karena namja itu akan menjemputnya – yang menegaskan kalau dia tahu dimana Nari tinggal, bukankah Shindong sudah menegaskan pada Nari tentang datang kerumah nya? – well .. namja yang menelpon Nari adalah Shindong.

Nari shock dengan penekanan kata “chagiya” yang di ucapkan Shindong. Benar-benar menegaskan seolah Nari adalah miliknya.

…………………………………………………….

Ting tong ….

Dengan langkah malas nya Nari menuju intercom, melihat siapa tamunya.

Kening Nari berkerut sampai 10lipatan ( mungkin ) melihat seseorang dengan topi dan masker. Seseorang dengan ciri-ciri seperti ini mengingatkannya pada “seseorang” yang berniat jahat pada Raisa tempo hari.

“ nugu?” Tanya Nari setelah membuka sedikit pintu apartemennya.

“ tidak mengijinkanku masuk nona Park?” suara nya tidak asing ditelinga Nari.

“ nuguya?” Tanya Nari lagi dengan tidak bergeming sedikit pun.

“ ini aku CHAGIYA.” Sekali lagi Nari shock dengan penekanan kata itu.

Dia bahkan menurut ketika Shindong dengan lembut namun tegas mendorong tubuh Nari memasuki apartemennya. Gadis itu – masih dengan tampang cengo nya – menatap lekat Shindong yang mulai membuka topi dan maskernya.

“ apa aku begitu tampan hingga kau lupa bagaimana cara nya berkedip nona park?” ucapan Shindong membuat Nari tersentak. Dia bahkan mulai bergidik melihat senyum seduktif Shindong.

“ a .. apa yang kau lakukan disini?” apa ini jenis pertanyaan bodoh pada situasi seperti ini?

“ bukankah kita ada janji kencan malam ini CHAGI?” Shindong tersenyum geli melihat kegugupan Nari. Apa benar Nari sedang gugup? Mungkin (?)

“ Mwo?” sekali lagi Nari tercekat. Kali ini karena 2 hal. Tentu saja karena kata “chagi”, 1 lagi karena “janji kencan”.

“ aku juga sudah memintamu untuk bersiapkan, CHAGI?”

“ siapa yang kau panggil chagi, HAH?!” Nari mulai berteriak kesal.

“ dan aku tidak punya JANJI KENCAN dengan MU Tn. SHIN!” lanjut Nari dengan penuh penekanan.

“ KITA punya JANJI KENCAN, CHAGI. Aku sudah menelponmu tadi sore.” Jawab Shindong.

( pokoknya yang huruf capital pake penekanan yaa ^^v )

“ Mwo?”

“ tapi aku tidak menjawabnya tadi. Dan kau langsung menutup telponnya.” Nari tidak akan bisa atau belum bisa bicara pada Shindong tanpa menaikkan suaranya.

“ aku tidak butuh jawabanmu nona Park. Aku butuh KAU KENCAN dengan KU malam ini.” Kata Shindong tegas.

Entah bagaimana syaraf motorik Nari bekerja, dia kehilangan kata-kata untuk melawan Shindong. Nada bicara Shindong bukan untuk ditolak. Dia tidak memberi Nari pilihan yang menguntungkan gadis itu.

Pergi menurutinya maka Nari akan “selamat” atau membantahnya maka Nari akan diseret paksa oleh Shindong dan tidak akan “selamat”.

Apa terdengar mengerikan?

Aku rasa tidak. Ku pikir setiap laki-laki yang jatuh cinta akan melakukan hal-hal gila seperti ini.

“ ganti bajumu sekarang atau ….” Shindong mendekat ke telinga Nari, berbisik” aku yang akan mengganti bajumu.”

Reflek Nari langsung mendorong nya dan segera berlari kekamarnya sambil mengumpati Shindong.

“pakailah baju yang nyaman CHAGI dan cukup hangat. Cuaca sedang sangat dingin diluar.” Teriak Shindong setelah memposisikan dirinya duduk di sofa nyaman Nari.

Masih terekam jelas dalam ingatannya wajah merona Gadis-nya yang sangat menggemaskan.

…………………………………………………..

Nari mengeratkan pelukan tangannya pada tubuhnya sendiri. Dia berjalan pelan dibelakang Shindong. Berkali-kali Shindong berdecak kesal mendengar Nari merintih karena tersanduk batu atau kepala nya menabrak ranting pohon.

“ aishhh….” Shindong berhenti. Berbalik dan berkacak pinggang, siap memarahi gadis dibelakangnya/dibawahnya.

Well…

Pada jam 20.30 mereka mendaki bukit dipinggiran Gwangjju. Demi apa Shindong rela mengajak Nari mendaki bukit malam-malam begini?

“ ayoo,,,” Shindong mengulurkan tangannya.

Nari menatapnya kesal. Sudah cukup lama dia tidak mendaki bukit, tadi juga dia tidak melakukan pemanasan. Kaki nya sudah mulai pegal. Dengan AMAT SANGAT TERPAKSA dia meraih tangan Shindong. Shindong pun menggenggamnya erat. Menuntun gadis-nya dengan hati-hati.

“ sebenarnya apa sih yang ada dipikiranmu? Kenapa malam-malam begini mendaki bukit? Kau salah makan apa bagaimana sih?” Nari tidak bisa lagi menahan kesalnya.

“ tenanglah CHAGI. Kau akan merengek minta kesini lagi setelah melihatnya.” Kelihatannya Shindong suka menggoda Nari dengan memanggilnya chagi.

“ Mwo?”

“ awas saja kalau berani macam-mac … aawww…”

“ kenapa kau berhenti mendadak?!” Nari mengusap keningnya dengan tangan kanan nya yang bebas. Cukup keras membentur punggung shindong.

“ tidak bisakah kau tenang sedikit.” Shindong melirik Nari kesal.

“ kau pikir aku bisa tenang dibawa ketempat sep….” Nari shock.

…………………………………………………………

“ kau suka?” Tanya Shindong.

“ Ne.”

Mata Nari berbinar. Dia pernah melihat pemandangan seindah ini sebelumnya. Tapi dalam bentuk 2 dimensi. Sekarang dia melihatnya secara langsung.

Shindong memutar tangan kanannya yang menggenggam tangan kiri Nari. Dia bergeser ke belakang Nari, mengunci gadis itu dengan 2 lengan besarnya. Gerakan terakhirnya sukses membuat jantung Nari berdebar. Shindong dengan santainya menopang dagunya di pundak Nari. Memeluk gadis itu semakin erat. Menegaskan bahwa Nari adalah milik-NYA.

#mudeng gak???

Selama beberapa waktu Shindong tetap bertahan pada back hugnya. Nari tetap menatap takjub ratusan kunang-kunang yang menerangi air terjun kecil didepannya, mengacuhkan debaran jantungnya.

“ saranghae.” Bisik Shindong.

“ Ne. Gomawo.”

“ hanya itu?” Shindong tersenyum jail melihat rona merah dipipi Nari.

“ kalau kau tidak bilang,”nado saranghae oppa” aku akan mencium. Lagi.”

Nari percayalah. Shindong tidak main-main. Dia SERIUS.

“ aishhh….” Nari menggigit bibir bawahnya gugup.

“ hhhhmmmmm….” Shindong menuntut.

“ satu.” Shindong memajukan wajahnya. Mengejar pipi Nari yang berpaling darinya.

“dua.” Shindong mengeratkan pelukannya.

“ tiga.” Shindong mengecup rahang Nari. Lembut. Hangat.

“nado.” Nari berkata cepat.

“ coba ulangi lagi.” Pinta Shindong.

“ shireo.”

“ kau akan menyesal Nona Park.”

“ benarkah Tn. Shin?”

_ the end _

Kamsahamnida

*bow bareng Hee-Djusi

Tinggalin jejak yaaaa J