annyeong chingudeul!
i’m back with Donghae ff now hehehe
ini pertama kalinya aku bikin ff yang kayak gini, semoga suka ya ^^
ff ini terinspirasi dari lagunya EXO – Angel
mau mencoba untuk bikin ff dengan cast dari boyband lain tapi pada akhirnya hati ini memilih Donghae sbg main castny *cie

this ff written by @esterong
your comments are love for me so leave ur comment here🙂

enjoy reading chingu! ^^

*****

BRAAAK! sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi baru saja menabrak pohon yang ada di pinggir trotoar. Untung saja pria separuh baya yang mengemudikan mobil ini masih sadar meskipun kepalanya sudah terantuk dengan setir mobil. Dengan energi yang tersisa, ia berusaha untuk melepaskan safety belt dan keluar dari mobil itu.

“Oi!” panggil seseorang tepat saat ia hendak membuka kunci mobilnya. Pria itu mencari sumber suara dan mendapati seorang pemuda tampan dengan jas, celana, dan kemeja yang serba hitam berdiri di depan mobilnya.

Pemuda tampan itu tersenyum lalu tiba-tiba saja ia menunjuk pria tersebut. Gerakan jarinya kini berpindah ke lehernya, dari sisi sebelah kiri lalu ditarik ke kanan seakan ia berkata ‘Kau akan mati’. Meskipun hanya dengan isyarat tangan tapi pria itu mengerti apa yang dimaksud pemuda itu.

Tubuh pria itu mulai mengekskresikan keringat dingin. Peluh keringatnya mengalir dari pelipisnya. Pria itu mencoba membuka pintunya namun usahanya sia-sia. Meskipun pintu itu tak terkunci, dan sekuat apapun kenop pintu itu ia tarik, pintu itu tetap tak terbuka. Pemuda itu menatapnya sambil memamerkan seringainya seolah ia mengejek, ‘Percuma saja, pintu itu tak akan terbuka,’

“Sayonara,” pemuda itu bergumam. Ia berbalik meninggalkan pria itu sambil melambaikan tangan padanya dan… BOOM! Mobil itu meledak selang beberapa detik setelah kepergiannya. Puing-puing mobil itu berhamburan.

Pemuda itu menyunggingkan bibirnya. “Sudah seharusnya dia mati dengan cara mengenaskan. Pria yang hanya bisa menyiksa istri dan anaknya sudah sepatutnya untuk meninggalkan dunia ini. Dia telah mendapatkan pembalasan yang setimpal,” gumannya.

Pria itu mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya. Ia membuka aplikasi yang berjudul, “Book Of Life” dan mengamati nama seseorang yang ada di urutan paling bawah.

“Jadi sekarang.. Shim Johee. Baiklah,” gumannya lalu menekan nama itu.

…..

Hanya dalam waktu sepersekon, kini ia sudah berpindah tempat. Ia membuka matanya dan mendapati dirinya berada ditengah jalan. Jalan yang sepi membuatnya tak segera menyingkir dari tempat itu. Lagipula, jika ada mobil yang menabraknya ia tak akan bisa mati. Dia sudah pernah mati sebelumnya.

Kini ia mengedarkan matanya, mencari seseorang yang bernama Shim Johee. Ah, gotcha! Shim Johee ada disana. Berjalan sendirian di trotoar. Ia mengenakan seragam SMA, sepertinya baru saja pulang sekolah.

“Kasihan sekali dirinya. Masih muda namun sudah harus meninggal,” gumannya. “Kira-kira bagaimana ya cara dia meninggal?”

…..

TEET! TEET! Suara klakson menggema mengisi tiap partikel udara yang ada di tempat itu. Sebuah mobil sedang melaju sangat cepat menuju tempat pemuda itu berdiri. Pria itu tak menyingkir karena ia bisa dengan mudah menghilangkan diri jika mobil itu akan menabraknya. Ia hanya perlu memusatkan pikiran. Ia tetap berdiri ditempat itu sambil menatap mobil itu tanpa keraguan.

“AWAS!” seru seseorang membuyarkan konsentrasi pemuda itu. Kini ia mulai merasa khawatir. Mobil itu akan menabraknya namun konsentrasinya sudah terpecah. Tentu saja ia tak akan mati karena hal itu. Yang ia khawatirkan bukan soal kematian melainkan tentang identitasnya. Akan sangat aneh apabila orang-orang melihatnya tertabrak namun dirinya tak bersimbah darah. Identitasnya sebagai seorang Malaikat Sanders akan ketahuan.

TEEET!! Bunyi klakson itu makin keras menandakan mobil itu semakin dekat. “AWAS!” teriak sebuah suara. Suara yang sama seperti tadi. Pemuda itu mencari sumber suara dan mendapati Shim Johee sedang berlari kearahnya.

…..

BLAAM! Semuanya terjadi sangat cepat. Pemuda itu membuka matanya dengan hati yang pasrah. Ia sudah pasrah kalau ia akan dihukum namun.. “Mengapa aku masih ada disini?” tanyanya entah pada siapa. Dia heran karena mendapati dirinya masih baik-baik saja dengan posisi terjatuh di sekitar trotoar.

Ia mengedarkan penglihatannya dan melihat sudah banyak orang yang berkerumun di jalan. “Mungkinkah Shim Johee yang menyelamatkanku?” batinnya. Dengan segera ia bangkit dan menghampiri tempat itu.

Dugaannya benar. Kini ia melihat Shim Johee sedang sekarat di jalan dengan darah yang terus mengucur dari kepalanya. Nafasnya sangat berat, mungkin ia akan meninggal beberapa saat lagi.

Biasanya, sebagai malaikat Sanders, ia tak pernah memperdulikan korban yang akan dia jemput namun kali ini hatinya ikut terluka melihat gadis itu menderita terutama hal itu disebabkan oleh dirinya.

“Bagaimana di dunia ini masih ada orang sebodoh dirinya? Bagaimana mungkin ia merelakan nyawanya demi pria yang belum ia kenal?!” gumannya dalam hati. Ia segera menerobos kerumunan itu agar dapat melihat Shim Johee lebih dekat.

Meskipun mata Johee nyaris tak terlihat karena darah yang menutupinya tapi pemuda itu bisa menyadari kalau mata mereka baru saja bertemu. Dengan segera pemuda itu berlutut di sebelah Johee, meletakan kepala Johee dipangkuannya.

Dengan mata kepalanya sendiri, pemuda itu dapat melihat gadis itu sedang tersenyum padanya. Tangannya yang bergetar hebat ia paksakan untuk merengkuh pipi pemuda itu. “Syukurlah.. kau.. selamat,” ujarnya. Tepat diakhir kalimat itu, Johee menarik nafas panjang seakan itu adalah udara terakhir yang bisa ia hirup. Tangan Johee terjatuh ke tanah dan mata Johee sudah menutup.

Shim Johee sudah mati, seperti yang sudah tertulis di Book Of Life, kalau gadis ini akan meninggal pada hari Sabtu, tanggal 20 Juli 2011, pukul 14.39. Namun..

Air mata yang mengalir dari pipi pemuda itu menyadarkannya dari rasa shock yang ada di hatinya. “Shim Johee! Kau tak boleh mati! Kau tak boleh mati!” seru pemuda itu sambil mengguncang tubuh Johee. Ia tahu hal itu tak akan membangkitkan nyawa orang yang sudah mati. Hanya ada satu cara..

“Aku tak ingin kau mati, Shim Johee,” guman pria itu lalu mengecup bibir Johee.

******

Tempat ini bukan surga tapi bukan juga neraka. Tempat ini adalah perbatasan di antara keduanya. Tempat dimana mereka yang sudah meninggal akan kembali ditanya tentang kebaikan dan kejahatan yang telah mereka lakukan dunia. Menimbang antara dosa juga pahala dan Hakim tertinggi akan mengirimkan mereka ke neraka atau surga.

Tak ada legenda, mitos, ataupun dongeng yang pernah menceritakan tentang keberadaan dunia ini, tapi kami selalu memanggil dunia ini: Dunia Paralel.

Malaikat yang berkuasa ditempat ini adalah Malaikat Sanders. Tugas mereka tak hanya menghakimi orang yang sudah meninggal di dunia paralel, tapi mereka juga memiliki tugas untuk menjemput mereka yang namanya sudah tertulis di Book of Life.

Namun untuk saat ini, keadaan dunia paralel tidak begitu bagus. Semuanya sedang dipusingkan oleh perbuatan salah satu malaikat mereka yang berbakat: Lee Donghae. Pria asal Korea yang sudah meninggal 6 tahun yang lalu dan dipilih untuk menjadi malaikat Sanders.

*****

Kini semua malaikat petinggi sudah berkumpul di ruangan pengadilan. Suasana tegang menyelimuti ruang ini. Satu orang terdakwa berdiri ditengah, dihadapkan dengan belasan orang yang menghakiminya dengan kritik dan hinaan.

“Dok, dok, dok,” suara palu yang dipukul pada menghentikan suara-suara yang hanya bisa menghujat itu.

Kini Hakim tertinggi mulai berbicara. “Ini sangat memalukan! Bagaimana bisa kau memberi kehidupan pada gadis yang harusnya kau cabut nyawanya?! Mengapa kau, Lee Donghae, malaikat Sanders paling hebat selama 5 tahun ini melakukan kebodohan yang sangat mustahil untuk dimaafkan!?” serunya. Terdakwa itu, Lee Donghae, ia tak memberikan sanggahan apapun karena ia pun sadar apa yang diperbuatnya itu salah. Sangat salah.

“Kau tahu mengapa kau dipilih menjadi Malaikat Sanders? Karena selama kau hidup dulu, kau tak pernah merasakan cinta ataupun benci. Kau tak punya hati. Itulah kelebihan kita. Kita selalu bertindak menggunakan pikiran, tanpa perasaaan. Kita makhluk yang pintar karena selama bertindak perasaan kita tidak pernah terlibat. Tapi apa kau sadar dengan perbuatanmu tadi?! Kita harus mencabut nyawanya. Sudah tugas kita sebagai Malaikat Sanders untuk mengambil nyawa mereka yang sudah tertulis dibuku ini,” ujar malaikat itu mengambil keputusan.

“Dan untuk menebus kesalahanmu, kau yang harus mencabut nyawanya. Ia harus menderita sebelum ia mati. Kematian yang menyakitkan,” lanjutnya.

Donghae menengadahkan wajahnya. Menatap lurus pada para petinggi. Kesungguhan terpancar dari bola matanya. Ia pun menjawab, “Akan aku lakukan,”

Semua tersenyum puas. Mereka bangga pada kesungguhan malaikat ini. ‘Ternyata dia memang malaikat terbaik. Tak memiliki hati ataupun cinta sehingga tugas menjemput nyawa akan terselesaikan dengan cepat,’ mungkin itu yang para petinggi pikirkan tentang Donghae.

“Bagus, kau boleh keluar sekarang. Kami akan mengirimkanmu ke dunia. Sebulan cukup, kan? Ingat, kematian yang menyiksa,” ujar hakim itu yang dijawab dengan anggukan mantap Donghae. Akhirnya Donghae berjalan menuju pintu keluar. Kepergiannya diantar dengan hiruk pikuk para malaikat. Suara malaikat bertalu-talu memenuhi dunia paralel.

Donghae menutup pintu ruang pengadilan itu. Ia bersandar pada pintu dan kembali mengingat perkataan Hakim Tertinggi ‘Kematian yang menyakitkan’. “Apa aku mampu melakukannya?” batinnya. Baru kali ini ia merasakan keraguan saat mau menjemput korbannya.

Donghae mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Ia membuka aplikasi Book Of Life dan di kolom search ia tuliskan sebuah nama: Shim Johee. Secepat kilat, ponsel itu menayangkan keadaan Johee sekarang, ia seperti sedang menonton televisi.

Johee masih terbaring di rumah sakit. Sepertinya ini sudah seminggu sejak hari kecelakaan itu di dunia nyata. Teman-teman Johee sedang mengunjunginya.

“Bodoh sekali kau menolong orang yang tak kau kenal sampai berakhir seperti ini. Untung kau tidak mati ditempat,” ujar salah seorang temannya.

“Aish, yang penting aku baik-baik saja kan sekarang? Kalau saat itu aku hanya berdiam diri dan melihatnya ditabrak, mungkin aku akan mengutuki diriku seumur hidup. Lagipula aku juga harus berterima kasih padanya. Aku sangat ingat kalau diriku ini sudah mati. Tapi pria itu datang menjemputku. Dia bilang, ‘Aku tak ingin kau mati, Shim Johee’”

“Bagaimana dia tahu namamu?”

“Nametagku, mungkin? Atau mungkin aku dan dia memang berjodoh? Aku harap kita bisa bertemu kembali. Dan aku yakin, tak lama lagi kami akan bertemu,”

“Yaa.. Shim Johee! Kurasa otakmu jadi tidak beres karena kecelakaan ini!”

“Bukan, otakku jadi tidak beres mungkin karena.. cinta? Entahlah, aku juga belum berani memastikan. Tapi kini saat wajahnya kembali terbayang, hatiku selalu berdebar,”

Donghae segera mematikan ponselnya. Ia tak sanggup melihat hal itu lebih lama. Ia takut dirinya tak akan bisa membunuh gadis itu karena Johee telah berhasil membangkitkan suatu rasa yang Donghae sendiri tak bisa menafsirkannya. Perasaan yang tak pernah Donghae rasakan, baik didunianya sebelum ia meninggal ataupun setelah ia menjadi malaikat Sanders. Namun yang pasti, perasaan itu membuat Donghae ingin segera turun ke dunia dan mengenal Johee lebih jauh lagi. Keinginan untuk membunuh Johee sama sekali tak ada dihatinya.

******

Donghae menatap gerbang yang berdiri kokoh sebagai pembatas antara Dout School dengan dunia luar. Sebentar lagi ia akan memulai kehidupannya sebagai anak SMA yang akan bersekolah disini. Bukan hal susah bagi Donghae, malaikat Sanders yang berbakat, untuk berakting sebagai manusia dan beradaptasi dengan semua kebiasaannya.

“Hey, anak muda! Sedang apa kau disana? Apa tak dengar bel sudah berbunyi?” seru guru yang menjaga gerbang itu, menyadarkan Donghae dari lamunannnya. Ia mempercepat langkahnya untuk memasuki gerbang itu.

…..

“Shim Johee! Ppaliwa! Kau bisa telat lagi!” seru guru tadi. Seruan ini mengalihkan pusat perhatian Donghae.

Langkahnya terhenti. Ia menoleh kebelakang mencari keberadaan gadis yang tadi dipanggil. Kini ia tertegun, terdiam, dan terpaku. Ia merasa waktu berjalan sangat lambat seperti editor yang sedang memberikan efek slow motion pada film yang mereka edit. Semua yang ada disekelilingnya memudar. Ia hanya melihat dirinya dan gadis itu dalam otaknya.

I thought it was a dream so I closed my eyes and opened them again

I am standing in front of you as if I was praying.

“Brak!” suara pintu gerbang yang tertutup menyadarkan Donghae dari dunianya sendiri. Ia melihat gadis itu sudah masuk kedalam lapangan. Ia terhenti tepat didepan gerbang. Nafasnya yang memburu berusaha diaturnya kembali.

“Makanya lain kali bangun lebih pagi. Masuklah sebelum gurumu memasuki kelas,” ujar guru tadi. Johee tersenyum padanya dan memberikan hormat bak anak buah pada komandannya. “Siap pak!” jawabnya.

Johee memulai langkahnya. Langkah Johee yang kian lama kian mendekat membuat Donghae dapat merasakan sesuatu bergemuruh di relung dadanya.

Malaikat Sanders beda dengan manusia, mereka tak memiliki darah. Tapi entah bagaimana Donghae dapat merasakan suatu cairan tubuhnya mengalir menuju ubun-ubunnya.

Malaikat Sanders beda dengan manusia, mereka tak memiliki jantung untuk merasakan suatu debaran, tapi kini rasanya ada sesuatu yang memukul-mukul bagian dadanya. Perasaan itu membuncah dan menyeruak ke sekujur tubuhnya.

Malaikat Sanders beda dengan manusia, mereka tak memiliki hati untuk merasakan cinta, kasih, atau pun benci. Namun mengapa Donghae bisa merasakan kalau perasaan dihatinya itu adalah cinta? Apakah perasaan ini nyata? Atau hanya sebuah ilusi?

Donghae terdiam untuk mengumpulkan konsentrasinya. Dan dalam hitungan detik, ia sudah menjadi invisible. Tak ada yang dapat melihatnya, Johee juga. Kini Donghae yang invisible mengikuti Johee dari belakang. Donghae melakukan ini karena menurutnya saat ini bukan saat yang tepat untuk menampakan diri padanya. Lagipula ada tujuan lain dibalik perbuatannya ini:

“I want to walk side by side with you at least once,” gumam Donghae. Karena ia tak akan tahu apa yang akan dilakukan para petinggi jika mereka tahu kalau Donghae tak memiliki niat untuk membunuh Johee.

Mungkin sebagai gantinya, mereka yang akan membunuh Johee atau mungkin mereka juga akan membunuh Donghae karena Donghae sudah sangat mencoreng martabat Malaikat Sanders. Setidaknya, sebelum salah satu dari pemikiran terburuknya terjadi, ia ingin berada disamping gadis ini sampai ia tahu pasti perasaan apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya itu.

*****

“Perkenalkan anak-anak, ini teman kita yang baru namanya Lee Donghae,” ujar sem memperkenalkan seorang pemuda tampan yang berdiri disampingnya.

“Kau bisa duduk disamping Shim Johee,” kata sem sambil menunjuk ke arah gadis yang duduk di paling pojok kiri juga di paling belakang. Gadis itu sama sekali tak memperhatikan saat semnya tadi berbicara. Sampai sekarang pun ia masih memandang keluar jendela.

“Ah, Johee baru saja mengalami kecelakaan parah. Sebenarnya, dia masih bisa hidup sampai sekarang adalah mujizat. Namun setelah kecelakaan itu Johee jadi suka melamun, tapi dia gadis yang baik, jadi bertemanlah dengannya,” ujar sem mengingatkan Donghae terlebih dahulu. Donghae tersenyum mendengar penjelasan sem seakan dia sudah sangat mengerti tentang keadaan Johee dan.. ya, dia memang sudah sangat mengerti tentang Johee karena Donghae tak pernah luput untuk menjaganya dari jauh selama ini.

……

Donghae menghampiri tempat duduknya. Meskipun kini Donghae sudah duduk tepat disampingnya, Johee sama sekali tidak memperdulikannya.

Donghae tersenyum dan mengambil tindakan. Ia meniupkan angin dari mulutnya ke tengkuk leher Johee. Dengan sekejap Johee segera memutar kepalanya. Mata mereka kini bertemu. Mata memandang mata. Ada getaran yang tidak bisa mereka ungkapkan di dalam hati mereka masing-masing sehingga rasanya 10 detik belum cukup untuk saling memandang.

“Ba-bagaimana kau bisa berada disini?” tanya Johee terlebih dulu. Matanya masih terfokus pada mata Donghae. “Kau datang darimana?” tanya Johee lagi. Cukup mengejutkan bagi Johee melihat keberadaan pria ini disampingnya. Ia tak percaya kalau semua yang terjadi saat ini adalah kebetulan. Ini kebetulan yang terlalu indah.

Pertanyaan polos Johee membuat Donghae tertawa pelan. Ia menatap Johee lembut, kelembutan yang sama sebelumnya. “That’s a secret,” bisik Donghae sambil menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya.

I ride the soft wind into your world

I go right next to you and you ask where I came from

You asked so innocently so I answered that it is a secret

Because if we just together like this

Wherever I go, it’ll be heaven

‘Wherever I go, it’ll be heaven’ itulah perasaan yang saat ini Donghae rasakan. Perasaan yang sangat kuat sehingga tak mungkin bagi Donghae untuk mengabaikannya lagi.

*****

Jam istirahat sudah selesai dari 30 menit yang lalu, namun sampai sekarang Johee belum ada ditempat duduknya. Donghae mulai khawatir. Apa Johee sudah dijemput oleh malaikat Sanders yang lain? pikirnya. Pikirannya terlalu kalut hingga ia tidak berpikir untuk mencari keberadaan Johee dengan ponsel super canggihnya itu.

Untung saja Donghae memiliki mata yang tajam sehingga saat ia mengedarkan pandangan keluar jendela, akhirnya ia tahu dimana Johee berada. Johee ada disana, diatas pohon. Dari penglihatan Donghae, ia sedang mencoba untuk menyelamatkan seekor kucing.

Bagaimana mungkin ada kucing yang bisa naik ke pohon namun tidak bisa turun? Kucing sesungguhnya pasti bisa menuruni pohon itu tapi lain halnya kalau itu adalah kucing jejadian yang Malaikat Sanders buat untuk memancing Johee menaiki pohon itu. Donghae pun sadar kalau ada Malaikat Sanders lain yang mencoba untuk membunuh Johee.

Ia segera berlari keluar kelas tanpa memperdulikan Shindong Sem yang masih mengajar. Ia tak menghentikan langkahnya meski Sem sudah meneriakan namanya.

Harusnya sebagai Malaikat Sanders, Donghae tak perlu bersusah payah untuk berlari ke tempat Johee berada.

Harusnya ia senang karena itu berarti Johee akan mati meskipun bukan ia yang membunuhnya.

Harusnya Donghae diam di tempat dan membiarkan Johee mati dengan cara yang cepat.

Namun pikiran itu tak terlintas sama sekali dalam otaknya. Otaknya justru memerintah kakinya agar terus berlari. Berlari sangat kencang karena dipikirannya hanya ada, “Aku tak akan membiarkan Johee mati. Aku akan menyelamatkannya,” sebuah pemikiran yang sangat bertolak belakang dengan tugasnya.

…..

Donghae tinggal 5 meter dari Johee. Namun sepertinya malaikat Sanders yang bersemayam dalan tubuh kucing itu mempercepat proses membunuh Johee dengan meretakkan cabang yang Johee gunakan untuk berpijak.

“Johee!” seru Donghae memperingatkan namun Johee tak memperdulikannya. “Sedikit lagi,” gumam Johee menyemangati dirinya sendiri. Ia masih berusaha untuk menggapai kucing itu.

“Gotcha!” seru Johee saat ia sudah memegang tubuh kucing tersebut namun sebelum ia turun.. ‘KREEK! AAAA!’ bunyi cabang pohon yang putus terdengar, disusul dengan teriakan Johee. Johee hanya bisa menutup matanya berharap ia tak akan mati karena hal itu.

…..

“Kau baik-baik saja?” tanya seseorang yang menyadarkan Johee kalau dia sudah mendarat di tanah tanpa rasa sakit sedikit pun. Johee mendongakkan kepalanya dan mendapati Donghaelah yang menyelamatkannya. Johee tersenyum pada Donghae, lagi-lagi Donghae menyelamatkannya.

“Ah, untung kucingnya baik-baik saja,” jawab Johee saat memeriksa kondisi kucing yang sedari tadi ada dipelukannya.

Donghae tak habis pikir dengan gadis yang ada dihadapannya. Bukannya menjawab pertanyaan Donghae tapi malah mengkhawatirkan kondisi kucing itu. Hal itu membuat Donghae kesal setengah mati. “Yaa! Aku bertanya tentang dirimu! Aku tak perduli dengan kucing itu!” seru Donghae. Ia kesal pada Johee yang bertindak ceroboh. Ia kesal pada dirinya sendiri yang tak bisa menjaga Johee dengan baik.

“Ke-kenapa kau marah Donghae sshi?” tanya Johee ragu. Donghae yang melihat Johee sedang menatapnya takut akhirnya tersadar kalau mungkin ia keterlaluan.

Donghae menarik Johee kedalam pelukannya. Ia memeluk Johee sangat erat untuk menghilangkan kekhawatirannya. “Jangan buat aku sakit jantung. Jangan bertindak gegabah. Sekali-kali pikirkan dirimu sendiri sebelum orang lain. Aku tak ingin kau berakhir sekarat di rumah sakit seperti saat kau menyelamatkanku,” gumam Donghae tepat di samping telinga Johee.

Johee tersenyum mendengar kata-kata Donghae. “Kau mengkhawatirkanku?” tanya Johee. Donghae tak menjawab dengan kata-kata tapi ia makin mengeratkan pelukannya sebagai tanda kalau ia tak ingin kehilangan Johee.

“Sejak kau menyelamatkanku, keberadaanmu menjadi sangat penting bagiku,” ujar Donghae.

Johee kini membalas pelukan Donghae. “Aneh ya, padahal baru 2 kali kita bertemu. Hari ini pun baru 6 jam kita saling mengenal. Tapi rasanya aku sudah sangat dekat denganmu dari dulu. Mungkinkah kita berjodoh?”

Pertanyaan Johee membuat Donghae terdiam. Ia merasakan tubuhnya bergejolak dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Bukan sakit secara fisik, yang sakit adalah hatinya. Saat itu Donghae akhirnya menyadari sesuatu. Sesuatu yang sudah tersembunyi rapi di dalam hatinya sejak Johee menyelamatkannya, namun kali ini perasaan itu begitu kuat sampai tidak mungkin diabaikan lagi.

Donghae tertawa mendengar hal itu. Kesedihannya ia kamuflase dengan tawanya, karena ia tahu dengan pasti kalau dirinya dan Johee tak akan mungkin bersama. Malaikat dan manusia tak mungkin bisa bersama. Hanya satu yang bisa Donghae lakukan sebagai bukti cintanya pada Johee yaitu: melindunginya.

You are more dazzling than Michael

Who can ever oppose you? I won’t forgive anyone who does

Just like the first person to step on Eden

Everyday, I will only go toward you and trust you with my heart

Even if it’s a small thing,

I want to protect you for always

So you won’t ever have to suffer

*****

“Donghae, aku bosan,” ujar Johee yang dari tadi tak memperhatikan penjelasan guru. Selama 2 minggu bersama Johee, kini Donghae jadi sangat mengerti tentang Johee. Donghae menutup bukunya dan menatap Johee dalam. “Lalu kau mau apa Johee?” tanya Donghae lembut.

“Kita membolos. Setuju? Lagipula Donghae belum pernah memboloskan?” hasut Johee.

“Kau tak takut ketahuan?” tanya Donghae.

“Aku cukup profesional dalam hal ini,” jawab Johee percaya diri yang membuat Donghae tak bisa membantah lagi. Donghae tersenyum pada Johee dan mengangguk sebagai tanda kalau ia menyetujui rencana Johee.

…..

Donghae dan Johee berjalan berdampingan dengan kedua tangan yang saling bertautan. Dengan seragam yang ditutupi jaket membuat mereka dengan leluasa berkencan di siang bolong. Setelah cukup lelah berjalan jauh akhirnya mereka memutuskan untuk duduk di salah satu bangku taman.

“Kenapa sepi sekali?” tanya Johee pada Donghae. Donghae pun tak tahu mengapa bisa seperti itu jadi ia hanya menjawab pertanyaan itu dengan mengangkat bahunya.

“Akhir-akhir ini aku sering melihat sebuah bayangan dengan sayap seperti malaikat. Ia selalu ada tiap kali aku nyaris terkena musibah seakan dia selalu melindungiku. Apa kau percaya dengan guardian angel?” tanya Johee. Donghae hanya menyembunyikan senyumnya. Tak mungkin baginya untuk berkata pada Johee kalau malaikat itu adalah Donghae sendiri.

“Aku percaya. Mungkin kau memang memiliki seorang guardian angel. Kau terlalu ceroboh untuk dilepaskan sendirian,” balas Donghae yang membuat Johee tertawa.

“Tapi kurasa aku sudah tak membutuhkannya,” ujar Johee.

“Kenapa?”

“Karena disisiku sekarang sudah ada Donghae,” balas Johee. “Kau sudah menyelamatkanku berulang kali. Sama seperti bayangan itu. Kau selalu ada disisiku setiap aku nyaris terlibat musibah,” ujar Johee.

Donghae tersenyum pada Johee. “Kurasa itu sudah menjadi kebiasaanku untuk terlibat masalah denganmu, Johee,” balas Donghae yang menimbulkan tawa untuk keduanya.

Tapi kebahagian itu hanya mampir sesaat. Donghae dapat merasakan ada hawa lain disekitarnya. “Johee, awas!” seru Donghae sambil menarik Johee dalam pelukannya dan.. BLAM! Suara ledakan terdengar sangat jelas ditelinga Johee dan Donghae. Mereka mendapati sebuah batu berukuran bola basket baru saja menghantam pohon, membelah pohon itu menjadi 2 bagian. Batu itu bisa membunuh Johee kalau saja Donghae tidak menariknya tadi.

Tiba-tiba saja batu-batu yang lain datang silih berganti menyerang mereka berdua dari segala penjuru. Dengan sigap Donghae melindungi Johee sekuat tenaganya. Tapi dengan sosok sebagai manusia, kekuatan Donghae tak bisa maksimal dan ia akan mudah lelah.

Tak sampai 10 menit, Donghae mulai kewalahan, gerakannya menjadi sangat lambat sampai ia tak menyadari kalau ada batu yang hendak menyerang Johee.

“KYAAAA!!!!!!” teriak Johee. Posisi Johee yang agak jauh membuat Donghae tak mampu merengkuhnya.

“JOHEE!” seru Donghae.

…..

“Kau baik-baik saja Johee?” tanya Donghae. Johee membuka matanya dan mendapati dirinya dalam dekapan Donghae tanpa rasa sakit sedikit pun. Namun bukan itu yang membuat Johee terkaget saat ini tapi keberadaan sayap di sisi kanan dan sisi kiri Donghae itulah.

“Kau malaikat yang selalu menjagaku itu?” tanya Johee. Donghae mengangguk sambil berkata, “Akan kujelaskan nanti ya, Johee,”

“Wah, wah, wah, dramatis sekali. Membongkar identitasnya sebagai malaikat hanya untuk melindungi gadis ini,” ujar seseorang.

Donghae memutar badannya dan mendapati seorang pemuda yang tak kalah tampan darinya sedang berjalan menghampiri mereka. Pemuda itu mengenakan jas, celana, dan kemeja yang serba hitam.

“Choi Siwon.. kau yang merancanakan semua ini?” tanya Donghae.

“Ya, aku diperintah oleh hakim tertinggi untuk membunuh gadis ini karena mereka sudah tahu kalau kau membohongi mereka,” jelasnya.

“Jadi, menyingkirlah, akan kubunuh dia dan kau bisa minta ampun pada Hakim tertinggi agar mereka tak membunuhmu,” lanjut Malaikat Sanders yang bernama Siwon itu.

“Aku akan melindunginya. Aku tak akan membiarkan kau membunuhnya,” ujar Donghae sambil menggenggam erat tangan Johee.

“Baiklah kalau itu yang kau mau. Hakim memberikan tugas padaku, katanya: ‘jika Donghae bersikeras untuk melindungi gadis itu, maka bunuhlah ia juga. Kematian yang menyiksa,’ karena alasan itu, ia memberikanku kesempatan untuk menggunakan mantera ini..” ujar Siwon menggantung sambil menyunggingkan sebuah seringai kemenangan.

“ARRRRRGHHHH!!!” teriak Donghae kesakitan. Johee tak tahu apa yang terjadi pada Donghae. Siwon sama sekali tidak menyerangnya. Ia hanya berdiam ditempat dengan mulut yang komat-kamit seakan melafalkan sesuatu. “ARRRRGHHHH!!!” Air mata Johee mengalir deras mendengar teriakan itu. Ia tak sanggup melihat Donghae begitu kesakitan.

“Hentikan! Aku mohon hentikan! Kalau kau kesini untuk membunuhku, bunuhlah aku!” teriak Johee yang membuat Siwon menghentikan bibirnya. Kini Siwon menatap Johee tajam. “Tidak seru jika aku langsung membunuhmu. Aku ingin melihat kau tersiksa dengan melihat kematian Donghae,” ujarnya.

“ARRRRRGGGHHH!” teriakan Donghae menjadi-jadi. Johee yang mendengar teriakan itu menjadi kalap akan kekhawatiran dan ketakutan. Ia tak lagi memikirkan keselamatannya. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah:  Melakukan apapun agar Siwon melepaskan Donghae.

Tapi apa daya, Johee hanyalah seorang gadis biasa yang tak memiliki kekuatan spiritual. Ia mencoba untuk menerjang Siwon, namun bukannya berhasil, tapi ia malah diserang Siwon dengan mantranya. Siwon mencekik Johee dengan mantranya.

“Arrgh.. le.. lepaskan.. Donghae..” gumam Johee lemah. “Aku.. mohon.. lepaskan Donghae..” pinta Johee.

“Arggh,” Johee mengerang. Siwon baru saja mengeratkan cengkraman mantranya pada leher Johee.

Donghae yang melihat Johee tersiksa demi dirinya tak bisa tinggal diam. Janji yang sudah ia ucapkan dalam hatinya sejak lama membangkitkan kekuatannya yang tersisa.

Dengan kekuatan yang tersisa, Ia berusaha lepas dari kekangan mantra Siwon. Ia tak peduli jika kini sayapnya mulai retak. Yang paling penting baginya adalah keselamatan Johee.

“Brengsek kau Choi Siwon!!!” seru Donghae bersamaan dengan lepasnya mantra Siwon. Mantra itu terpental kembali pada Siwon, membuat tubuh Siwon menghantam pohon yang ada dibelakangnya.

Siwon kembali bangkit. Ia mengusap bibirnya yang terluka akibat Donghae barusan. Ia melihat Donghae, kini Donghae sudah berdiri dengan gagah didepan Johee meskipun tubuhnya penuh dengan luka dan sayapnya sudah rusak parah. Meskipun fisiknya lemah, Siwon dapat merasakan kekuatan yang dahsyat dari aura Donghae. Kekuatan yang timbul akibat rasa ingin melindungi gadis itu. Kekuatan yang —Siwon pun tahu— tak mungkin bisa Siwon lawan.

“Baiklah, tak akan seru jika aku membunuh kalian berdua sekarang. Karena itu.. see you,” ujar Siwon dan dalam sekejap ia sudah menghilang.

Donghae dan Johee kini saling bertatapan. Banyak sekali pertanyaan yang timbul di hati Johee tapi tak ada satupun yang berani ia ungkapkan.

“Donghae, bisa kau bawa aku ke rumahmu? Aku mau mengobati sayapmu,” ujar Johee. Hanya kata itu yang akhirnya berhasil keluar dari mulut Johee.

*****

“Kau kenapa diam saja?” tanya Johee saat ia mengobati bagian sayap Donghae yang retak akibat mantra Siwon tadi.

“Kau gadis yang bodoh. Mengapa kau mencegah Siwon untuk membunuhku tadi? Harusnya kau biarkan aku mati tadi agar kau tak tersiksa lebih lama,” timpal Donghae. Meskipun suaranya datar, kekesalan tersirat didalamnya.

“Apa kau kira aku bisa berdiam diri melihatmu mati? Aku akan mengutuki diriku jika hal itu sampai terjadi,” ujar Johee parau. Air mata mulai mengalir di pipinya tapi ia tetap menahan isakannya.

“Kau gadis yang sangat bodoh. Kalau saja dari awal kau tak menyelamatkanku, aku tak akan terlibat dengan perasaan cintaku padamu dan kau juga tak akan mati dengan tersiksa,” ujar Donghae yang tak bisa menyembunyikan kekesalan dan penyesalannya.

Ia kesal dengan semuanya yang baru saja terjadi. Ia kesal karena dirinya tak bisa melindungi Johee dengan baik dan hal ini akan menyebabkan penderitaan yang lebih menyakitkan untuk Johee.

“I’m not stupid. It’s just that.. sometimes i choose to be stupid for me to feel a little of what i call happiness. Aku bahagia karena saat itu aku menyelamatkanmu. Aku bahagia karena bisa jatuh cinta padamu. Aku bahagia mengetahui kenyataan kalau malaikat yang selalu menjagaku adalah dirimu. Aku rela tersiksa untuk membayar semua kebahagiaan itu tapi aku tak bisa merelakan dirimu. Aku mencintaimu Donghae. Aku mohon, jangan bersikap dingin seperti ini padaku. Aku sangat sedih,” ujar Johee sambil memeluk Donghae dari belakang. Isakan Johee terdengar jelas ditelinga Donghae. Hal itu membuat dirinya tersadar kalau ia sudah kelewatan.

Donghae memutar badannya lalu menarik Johee dalam pelukannya. “Mianhe, Johee. Mianhe aku sudah bersikap kekanakan,” ujar Donghae meminta maaf dan hal itu membuat tangis Johee mereda.

“Kau memaafkanku?” tanya Donghae sambil menghapus air mata yang terus mengalir dari pelupuk mata Johee.

“Aku akan memaafkanmu kalau kau berjanji tak akan meninggalkanku,” timpal Johee. Donghae tersenyum pada Johee dan mengangguk. “Aku akan melindungimu sekuat tenaga,” ujar Donghae.

As your guardian angel, I will block out that strong wind

Even if everyone turns their back against you

On hard days, I will wipe away your tears

I have come to love you now

There’s no place for me to go back

My wings have been taken away

Even if I lost eternal life, the reason why I’m happy

Is because my forever is now you, Eternally love

*****

Donghae tersenyum lembut pada Johee yang tertidur pulas disampingnya. Donghae membelai kepala dan wajah Johee. Merapikan poni Johee dan kembali menikmati keelokan wajah Johee. “Aku sangat bersyukur bisa mengenalmu. Aku sangat bersyukur karena dirimu, akhirnya aku bisa merasakan betapa manisnya cinta itu. Aku tak akan membiarkan dirimu menderita lebih lama. Aku tak akan membiarkanmu terluka. Aku akan melindungimu dengan caraku,”

“Jeongmal saranghae, Shim Johee,” gumam Donghae sambil memberikan kecupan hangat dibibir Johee.

*****

Siwon berdiri ditepi sungai Han. Wajahnya sangat tenang, namun tidak dengan hatinya. Kesungguhan yang ia lihat dari Donghae dan Johee tadi siang membuat dirinya goyah. Ia goyah karena kekuatan Donghae yang dahsyat akibat keinginannya untuk melindungi Johee. Ia goyah karena cinta Johee membuahkan pengorbanan untuk menyelamatkan Donghae. Ia mulai goyah untuk membunuh sahabat baiknya yang telah menjadi pengkhianat Malaikat Sanders itu.

“Semoga ia tak datang kesini,” gumam Siwon. Namun apa yang ia harapkan tak menjadi kenyataan saat dirinya mendapati Donghae memanggil namanya, “Oi, Siwon ah! Kau rindu padaku?”

Jarak 7 meter menjadi pemisah diantara keduanya. Siwon menatap Donghae lirih. “Mengapa kau datang untuk mengorbankan nyawamu? Apa kau tak tahu, kalau kau mati saat menjadi malaikat sanders maka kau tak akan mendapatkan kesempatan untuk reinkarnasi?”

“Aku sangat tahu itu,” jawab Donghae dengan senyum tulus yang tak hilang dari wajahnya. Senyum itu menggentarkan Siwon.

“Kenapa kau sangat bodoh sampai rela mengorbankan nyawamu demi dirinya?! Dia hanya manusia biasa! Gadis SMA biasa yang tak memiliki daya tarik apapun! Kenapa kau tak membiarkan aku membunuhnya? Kau tak perlu mati untuknya!” seru Siwon berusaha menyadarkan Donghae.

“Gravitation is not responsible for people falling in love. Tak ada yang bisa bertanggung jawab akan perasaan yang kurasakan untuk Johee. Tak ada yang bisa kusalahkan akan rasa cintaku ini. Semuanya terjadi begitu saja dan aku membiarkan perasaan itu masuk kedalam hatiku. Hanya aku yang bisa bertanggung jawab akan perasaan ini. Karena itulah aku datang kesini, mengorbankan nyawaku agar Johee bisa hidup lebih lama lagi,” jawab Donghae.

Siwon mengepalkan tangannya. Ia kesal akan kebodohan Donghae. “Baiklah, akan kulakukan yang kau mau. Tapi maaf, aku akan membuatmu mati dengan rasa sakit,” ujar Siwon yang Donghae jawab dengan anggukan.

Siwon melafalkan mantranya dan Donghae menutup kedua matanya. Ia merelakan dirinya untuk mati demi Johee. Namun..

…..

10 detik telah berlalu, tapi Donghae tak merasakan apapun ditubuhnya. Ia membuka matanya dan betapa kagetnya dia saat mendapati Johee ada didepannya.

“Johee?!” gumam Donghae kaget dengan keberadaan gadis dihadapannya.

Johee tersenyum pada Donghae. “Untung.. aku.. datang tepat waktu..” gumamnya. Tepat diakhir kalimat itu, Johee muntah darah. Dengan sigap, Donghae segera menangkap tubuh Johee yang nyaris terjatuh. Ia melihat punggung Johee sudah membiru dan menyadari kalau tulang rusuk Johee sudah patah semua. Donghae selamat dari mantra Siwon karena Johee kembali mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan Donghae.

Air mata Donghae mengalir tanpa bisa ia tahan. “Kau tak boleh mati. Kau tak boleh mati Johee!” seru Donghae parau. Ia sadar hal itu tak akan bisa membangkitkan Johee. Hanya ada satu cara..

“Jangan lakukan itu!” seru Siwon menghentikan Donghae yang hendak memberi kehidupan untuk Johee melalui kecupannya.

“Kau sudah memberikan keabadianmu untuk membuatnya hidup sebelumnya. Kalau kali ini kau menghidupkannya lagi, maka kau akan mati!” seru Siwon.

“Aku akan melakukan apa saja agar Johee dapat hidup kembali,” balas Donghae. Wajah Donghae hanya terpisah 5 cm dari Johee. Namun lagi-lagi ada yang menghalangi niatnya itu.

…..

“Sudah cukup,” ujar seseorang menghentikan Donghae. Kini perhatian Donghae dan Siwon tertuju pada pria yang berdiri dihadapan mereka.

“Leeteuk sshi?” gumam mereka, terkejut dengan kehadiran Petinggi Malaikat Michael.

“Mengapa kau disini?” tanya Siwon.

“Tuhan sangat menyanyangi kalian maka dari itu ia mengirimku kesini untuk menyelesaikan semuanya,” jawabnya.

“Aku yang akan menyelesaikan semua. Aku akan memberikan Johee kehidupanku,” ujar Donghae.

“Jangan. Apa kau tak memikirkan perasaannya saat ia tersadar kalau kau mati demi menyelamatkan nyawanya? Kau sangat mengenal Johee, kau pasti tahu kalau Johee bisa saja bunuh diri akibat rasa bersalah dan kesedihan yang mendalam,” jelas Leeteuk yang membuat Donghae terdiam. Donghae tak bisa melawan karena apa yang dikatakan Leeteuk sangat benar.

“Lalu apa yang harus kulakukan? Aku tak mau Johee mati,” balas Donghae.

Leeteuk tersenyum hangat. “Sejak kau memberikan kehidupan untuk gadis ini, kematian gadis ini sudah ditentukan. Bukan saat ini. Ia masih akan hidup puluhan tahun lagi,” jelas Leeteuk. “Aku yang akan menangani gadis ini, dan aku berjanji padamu untuk membuatnya kembali hidup dengan tubuh yang sehat. Kau percaya padaku, kan?” tanya Leeteuk pada Donghae. Donghae melihat kesungguhan dari bola mata Leeteuk dan ia memutuskan untuk mempercayai malaikat ini.

Leeteuk mengambil tubuh Johee dari Donghae. “Donghae, aku hanya ingin mengingatkan kalau manusia yang telah mati tak akan dapat hidup kembali. Manusia yang mati tak akan dapat berhubungan dengan orang yang masih hidup di dunia ini,” ujar Leeteuk. Donghae ingat akan hal itu dan air mata kembali membasahi pipinya.

“Tapi karena kau sudah pernah merasakan cinta, aku merekrutmu untuk menjadi seorang malaikat Michael. Begitu juga dengan Siwon. Aku dapat merasakan keperduliannya untuk sahabatnya,” jelas Leeteuk yang membuat keduanya terdiam.

Leeteuk mulai beranjak meninggalkan mereka. “Leeteuk Sshi,” panggil Donghae, membuat langkah Leeteuk tertahan. “Apa aku bisa bertemu Johee suatu hari nanti?” tanya Donghae.

Leeteuk tersenyum. “Kau percaya reinkarnasi? Kalau ia memang jodohmu, kalian pasti akan bertemu,”

“Leeteuk sshi,” panggil Donghae lagi.

“Saat ia terbangun, katakan padanya kalau aku akan selalu mencintainya. Di kehidupan yang lain pun, hanya dia yang akan aku cintai,”

“Akan kupastikan pesan itu tersampaikan padanya,” balas Leeteuk.

*****

Hai Donghae, bagaimana kabarmu?

Sudah 3 tahun kita tak bersama, tapi aku selalu merasa kalau kau ada didekatku.

Aku berterima kasih pada Leeteuk sshi karena ia tak menghapus kenanganku bersamamu.

Meskipun aku sangat sedih saat mengingatnya, tapi akan lebih menyakitkan jika aku tak mengingat keberadaanmu.

Aku akan melanjutkan kuliahku di Jepang.

Aku harap kau tetap menjagaku.

Dan aku ingin kau tahu, kalau selamanya hati ini milikmu.

Setampan apapun pria yang menyukaiku, tetap kau yang ada di hatiku.

Jangan merasa bersalah. Aku tak bisa mencintai pria lain bukan hanya karena dirimu.

Tapi karena hanya aku yang bisa bertanggung jawab atas perasaanku padamu ini.

Aku mencintaimu.

—Shim Johee—

“Johee, sudah siap? Kalau kau lebih lama lagi kita akan terjebak macet di jalan,” teriak omma Johee.

“Arraseo, omma. Aku hanya butuh 5 menit lagi,” ujar Johee. Johee segera melipat surat itu dan meninggalkan note kecil diatasnya:

‘Aku mencintaimu selamanya. Kau ingat janjimu yang akan selalu mencintaiku, kan? Kita harus bertemu di kehidupan selanjutnya. Arraseo? Aku mencintaimu’ — Shim Johee

“Johee ppaliwa, kau bisa ketinggalan pesawat nanti,” teriak omma Johee lagi. Johee tersenyum pada note dan surat yang ada dimeja belajarnya. Johee terdiam sesaat untuk menikmati angin yang masuk dari jendela kamarnya. Dan ia bisa merasakan sebuah kehangatan meniup tengkuk lehernya. Kehangatan yang pernah ia rasakan saat Donghae meniup tengkuk Johee di hari pertama Donghae memasuki sekolah.

Johee menutup jendela itu dan menguncinya. “Baiklah, aku akan pergi sekarang. Bye Donghae,” ujar Johee entah pada siapa karena di kamarnya itu hanya ada dirinya.

“Johee sayang, cepatlah,” teriak ommanya lagi dan Johee dengan segera menggeret kopernya untuk turun ke lantai bawah.

…..

Semua akses untuk memasuki kamar Johee sudah terkunci. Namun tiba-tiba jendela kamarnya terbuka dengan sendirinya. Tapi tak ada maling atau kucing yang masuk melalui jendela itu. Selang 5 menit kemudian, jendela itu tertutup kembali.

Tak ada perubahan pada kondisi kamar Johee kecuali pada meja belajar Johee. Kini surat di meja itu sudah tak ada. Hanya tinggal note kecil itu dengan beberapa tambahan pada isi didalamnya.

‘Aku mencintaimu selamanya. Kau ingat janjimu yang akan selalu mencintaiku, kan? Kita harus bertemu di kehidupan selanjutnya. Arraseo? Aku mencintaimu’ — Shim Johee

‘1 hal yang kupinta, yakini dirimu hati ini milikmu. Aku akan menepati janjiku. Nado saranghae, my dear, Johee ^^ ♥ ’ — Lee Donghae

—EPILOG—

Tahun 2120

Korea Selatan sudah tumbuh menjadi negara adidaya akibat kemajuan teknologi dan ekonomi yang pesat. Hal itu tak luput dari kemampuan pemuda pemudinya yang hebat dalam akademik. Persaingan pendidikan mulai sengit sehingga menjadikan Dout University sebagai universitas terbaik di Korea Selatan dan hanya murid dengan bakat khusus yang bisa masuk didalamnya.

Namun ada suatu kesalahan dalam sistem penerimaan tahun ini. Di temukan seorang gadis bernama Shim Johee di universitas Dout yang tak memiliki kemampuan apapun. IQnya juga rata-rata. Tapi mengapa ia bisa diterima di tempat itu?

“Aku tak menyangka kau bisa masuk universitas ini,” ujar Sonrye, sahabat Johee yang juga mahasiswi di Dout University.

“Aku juga. Kurasa aku memang ditakdirkan untuk kuliah disini,” balas Johee.

“Kira-kira takdir apa yang mengharuskanmu untuk kuliah disini?” tanya Sonrye.

“Mungkin..” belum sempat Johee menyelesaikan jawabannya, seseorang menabraknya dan membuat semua buku Johee jatuh berceceran di tanah. Dengan segera Johee membereskan kertas-kertasnya, berusaha bergerak lebih cepat daripada angin sebelum angin membawa kertas itu. Namun apa daya, kekuatan manusia tak mampu mengalahkan keuatan alam. Justru kertas yang paling sakral dengan nilai merah kebakaran yang dibawa pergi oleh angin.

“Aku tak mau semua orang di universitas ini melihat nilaiku itu, jadi aku mohon bawakan buku-buku ini dan aku titip absen padamu. Okey, Sonrye? Jeongmal gomawao. You’re the best!” ujar Johee lalu kembali mengejar kertas itu.

…..

“Dari semua lokasi yang ada, kenapa harus jatuh tepat diwajah pria yang sedang tertidur?” gumam Johee kesal. Dengan keberanian dan harga diri yang ada dalam dirinya ia memberanikan diri untuk mengambil kertas itu.

“Semoga ia tak terbangun,” hanya itu harapannya saat ini. Namun sebelum tangan Johee meraih kertas itu, tangannya terlebih dulu ditahan oleh pria yang tertidur itu.

Pria itu mengambil kertas tersebut dari wajahnya. Wajah yang tak lagi tertutupi itu membuat mata mereka saling memandang. Mereka berdua terdiam dan terpaku. Saling mengamati wajah yang ada dihadapan mereka. Ada getaran dalam hati mereka yang tak bisa mereka ungkapkan. Ada suatu rasa yang bergejolak dalam hati mereka masing-masing. Ada rasa rindu yang amat sangat padahal ini adalah pertemuan pertama mereka. Perasaan yang tak asing bagi keduanya seakan mereka sudah pernah bertemu sebelumnya.

Tiba-tiba saja Johee menitikkan air mata. Air mata itu yang menyadarkan keduanya dari lamunan.

“Kenapa kau menangis?” tanya pria itu sambil mengusap air mata itu dengan ibu jarinya.

“Aku pun tak tahu. Tapi air mata ini terus mengalir. Aku hanya mengerti ini bukan air mata kesedihan melainkan kegembiraan dan haru,” jelas Johee. “Kau mungkin akan mengira aku aneh, tapi jujur saja, ada rasa rindu dihatiku saat aku melihat matamu,” lanjut Johee.

Pria yang ada didepannya tidak menertawakannya justru tersenyum lebar untuk Johee. “Kukira hanya aku. Aku pun merasakan hal yang sama. Aneh sekali, kan? Padahal ini pertemuan pertama kita,” ujar pria itu. “Sudah, berhentilah menangis ya.. eng..”

“Shim Johee. Namaku Shim Johee,” jawab Johee.

Pria itu tersenyum lembut. “Namaku Lee Donghae, senang berkenalan denganmu, Johee,”

“Aku juga, senang berkenalan denganmu Donghae,

……

The first meeting was a coincidence, but a second meeting is destiny. From the beginning, Shim Johee and Lee Donghae was destined to be together. Aku sudah menepati janjiku, kan? Aku kembali jatuh cinta padamu, my lovely, Johee ♥.

—Lee Donghae—

END.