Annyeong chingudeul!
Who miss Kim Kibum?
Kekeke sebenarnya ff ini sudah pernah dipost di fbku.
Waktu itu aku bikin ff ini buat ulang tahunnya Herentia Soegiri (setahun yang lalu).
Tapi pas baca ff ini lagi *yg di fb*, ternyata gaya tulisanku msh jelek bgt.
Makanya aku bikin ulang ff dengan ide cerita yang sama tapi gaya penulisan yang beda dan ada beberapa perubahan plot juga.

Tapi ide ini datangnya dari komik dengan judul yang sama, jadi ceritanya juga agak mirip.
tapi aku berusaha sebisa mungkin untuk ga sama persis dengan komiknya tapi jadinya malah agak aneh gini. jeongmal mianheyo~ Hope you enjoy it!

Your commments are love for me, leave ur comments here ya ^^

by:esterong

*****

 

“Kenapa kau selalu membuat kita harus terburu-buru dipagi hari, Sonrye?” tanya gadis yang sedang sibuk membenahi dasi Sonrye. Suaranya datar tanpa emosi tapi aura tubuhnya kental dengan kekesalan. Sonrye menyadari kesalahannya sehingga ia tak memberi bantahan. Ia hanya bisa menyengir dengan wajah polosnya sambil melanjutkan proses pencernaan mekanik yang terjadi di mulutnya.

“Sudah beres,” ujar gadis itu lagi setelah dasi Sonrye terikat dengan rapi.

“Gomawo, Hamun sayang,” balas Sonrye dengan aksen aegyo. Hamun tersenyum kecil karena hal itu.

Hamun segera mengambil tasnya dan memberikan tas yang lain kepada Sonrye. “Makan sambil berlari saja. Aku tak mau kita dihukum lagi karenamu. Kajja,” ujar Hamun dan berlalu lebih dulu.

Tentu saja ide Hamun tidak bagus untuk pencernaan Sonrye. Roti yang tinggal sepertiga ukuran aslinya langsung habis dalam sekali lahap. Ia segera mencari air untuk membantu mendorong makanan itu melewati kerongkongannya. “Yaa! Hamun ah! Tunggu!” teriak Sonrye setelah yakin semua makanannya sudah mendarat di lambung.

…..

Derap langkah kaki yang memburu menjadi bukti kalau kedua gadis ini sedang terburu-buru. Hamun memimpin 3 meter di depan Sonrye karena Sonrye tidak suka olahraga terutama berlari. Benar saja, Sonrye tiba-tiba terjerembab di tanah.

“Auw!” gerak reflek yang terjadi dalam susunan saraf Sonrye membuat mulutnya berteriak. Teriakan itu yang membuat Hamun akhirnya menyadari kalau Sonrye terjatuh.

Hamun menoleh kebelakang dan mendapati Sonrye nyaris menangis kesakitan karena luka di lututnya. Tanpa memperdulikan kalau dirinya akan telat, atau dirinya akan dihukum, atau mungkin imejnya sebagai murid teladan akan luntur, tanpa keraguan gadis itu menghampiri Sonrye.

“Ceroboh itu boleh, tapi terlalu ceroboh itu bahaya, Sonrye,” kata Hamun sambil membantu Sonrye untuk berdiri. Hamun juga memapah Sonrye untuk berjalan.

“Hamun, tinggalkan saja aku. Aku bisa menelepon taksi untuk mengantarku pulang. Kau bisa sangat telat nanti. Kau akan dihukum juga citramu sebagai murid teladan akan luntur,” ujar Sonrye yang kalut akan rasa bersalah pada Hamun.

Mendengar hal itu membuat Hamun tersenyum. Kepedulian Sonrye pada dirinya yang membuat Hamun tak memperdulikan lagi imejnya sebagai murid teladan. “Bukankah ini seperti deja vu?” timpal Hamun.

“Kau ingat kejadian di hari meninggalnya kedua orang tuaku? Aku pura-pura kuat namun hanya kau yang menyadari. Kau berkata padaku kalau dirimu akan menggantikan posisi ibuku agar aku tak kesepian. Saat itu aku adalah anak kecil sombong yang sok kuat. Aku memintamu untuk menggedongku dengan piggy back karena ibuku selalu melakukan hal itu padaku. Dengan sedikit keraguan, kau membulatkan tekadmu. Berulang kali kau terjatuh, tapi kau langsung bangkit. Bukan hal mudah bagi anak usia 7 tahun untuk menggendong teman sebayanya. Namun tekad yang teguh itu berhasil meluluhkan hatiku,” cerita Hamun yang diakhiri dengan senyum simpul diwajah keduanya.

“Kau mau balas budi ceritanya?” tanya Sonrye menggoda Hamun.

“Tentu saja, kau sangat tahu aku tipe manusia yang tak suka ditolong,” balas Hamun.

“Cih, kau tak pernah berubah Hamun,” timpal Sonrye.

“Kau juga. Sejak kecil kau sudah ceroboh dan bodoh. Bagaimana mungkin bocah 7 tahun menawarkan diri untuk menggedong teman sebayanya?” ejek Hamun. Sonrye mau mengeluarkan pembelaan tapi Hamun lebih dulu membuka mulutnya untuk berbicara, “Tapi kurasa justru itulah pesonamu,”.

Sonrye menyembunyikan tawanya karena baru saja Hamun memujinya. Sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh Hamun karena ia terlalu malu untuk mengatakan hal itu. “Harga diri tinggi, sedikit dingin, namun punya hati yang lembut, merupakan pesona yang dimiliki oleh sepupuku, Park Hamun,” puji Sonrye yang membuat wajah Hamun merona.

“Aku tidak sebaik itu,” sangkal Hamun. Sonrye hanya tersenyum geli melihat ekspresi malu-malu Hamun yang jarang sekali ia perlihatkan.

Park Sonrye adalah sepupu Park Hamun. Keduanya lahir di tahun yang sama dan keduanya tumbuh sebagai gadis yang memiliki sifat bertolak belakang. Orang-orang selalu beranggapan hubungan mereka kurang baik karena sering sekali mereka berargumen. Tapi dibalik argumen-argumen itu tersembunyi sebuah ikatan yang kuat melebihi apapun. Ikatan yang timbul karena kasih, yang membuat perbedaan sifat itu tidak menjadi penghalang justru saling melengkapi. Ikatan yang penuh pengertian dan tanpa keegoisan, yang membuat argumen-argumen itu terdengar lucu ditelinga mereka.

Mereka hanya sepupu tapi sudah seperti saudara kembar. Tak pernah membayangkan jika salah satu hilang dari kehidupan mereka masing-masing.

*****

Never Eat Alone adalah buku laris karya Keith Ferrazi. Kata-kata Never Eat Alone dalam buku ini mengajarkan para pembacanya untuk selalu berbagi dengan siapapun agar orang lain menyadari keberadaan kita. “Kehadiran yang tidak disadari” oleh sekeliling adalah kondisi yang jauh lebih buruk daripada mengalami kegagalan. Hal inilah yang mendasari tradisi keluarga Park untuk selalu makan bersama.

Namun makan malam yang seharusnya menyenangkan dan penuh keakraban seketika menjadi suram. Atmosfer ini tercipta berkat berita mengejutkan yang baru saja Sonrye dengar.

“Mworago? Hamun dijodohkan?” tanya Sonrye mereview apa yang baru saja didengarnya.

“Nde, Hamun juga sudah menerimanya,” jawab Appa Sonrye. Sonrye menatap Hamun menuntut penjelasan dan Hamun menjawabnya dengan anggukan.

“Wae? Hamun masih seumuran denganku, appa. Ia masih 17 tahun! Masih SMA! Kenapa dia harus ditunangkan?” tanya Sonrye tak terima dengan perjodohan Hamun.

“Ini perjanjian antara appaku dengan orang tua namja itu sebelum mereka meninggal,” jawab Hamun. “Tak ada hubungannya dengan ajjusi. Ini keputusanku, Sonrye,” lanjut Hamun. Sikap Hamun yang terkesan sangat santai dan sok cuek menimbulkan rasa kesal di hati Sonrye. Ia kesal karena Hamun menurut begitu saja. Ia kesal karena Hamun tak berusaha untuk memperjuangkan kebahagiaannya.

“Yaa! Hamun ah! Kau itu masih muda, kau mau sisa hidupmu dikekang?” tanya Sonrye berusaha menggoyahkan keputusan Hamun.

“Park Sonrye, ini hanya pertunangan bukan pernikahan. Kami akan menikah jika kami berdua sudah siap. Jadi, aku masih sangat bebas sekarang. Tenang saja, arra?” ucap Hamun lalu melanjutkan kembali makan malamnya.

Sonrye baru saja mau membuka mulut untuk mengomeli Hamun tapi omma Sonrye lebih dulu mencegah.

“Makan dulu, Sonrye,” ujar ommanya. Sonrye hanya bisa mendengus kesal dan melanjutkan makan malamnya. Daging yang ada dimulutnya rasanya sudah hambar. Ia sudah tak bisa menikmati makan malam ini. Otak Sonrye mulai berimajinasi. Daya imajinasi Sonrye yang tinggi membuatnya membayangkan hal aneh-aneh tentang tunangan Hamun.

…..

Saat ia mau tidur pun, otaknya tak berhenti bekerja. Ia mencari cara untuk bisa menolong Hamun.

Meski Hamun hanya sepupunya, Sonrye sudah menganggap Hamun seperti saudara kandungnya.

Orang tua Hamun sudah meninggal sejak ia berumur 7 tahun. Akhirnya Appa Sonrye memutuskan untuk mengambil hak asuh atas Hamun.

Sonrye sangat mengenal sepupunya itu. Hamun tak suka dikasihani. Sonrye ingat, bagaimana dulu Hamun berusaha kuat menahan tangis saat pemakaman kedua orang tuanya agar ia tak dikasihani. Sonrye ingat, bagaimana dulu Hamun selalu berusaha tersenyum agar tak ada yang mengkhawatirkannya.

Sejak kecil, Hamun tak pernah bahagia. Apa untuk kedepannya Hamun masih tak bisa bahagia? Tidak, tidak, tidak. Sonrye tak akan membiarkan hal itu. Sonrye akan melakukan sesuatu untuk menolong Hamun. Apapun itu.

*****

“Sonrye, Hamun, selama liburan musim panas, kami harus pergi ke Jepang selama 3 minggu untuk urusan bisnis. Kami akan berangkat pagi ini. Jaga rumah baik-baik ya,” pamit kedua orang tua Sonrye. Sonrye tak tahu bagaimana mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada orang tuanya. Berkat mereka, otak Sonrye menghasilkan sebuah ide yang entah kata apa yang dapat mendeskripsikannya.

“Nde appa, hati-hati dijalan. Bye,” ucap Sonrye dan Hamun mengantar kepergian mereka.

“Besok sudah libur musim panas. Aku tak mau telah di hari terakhir sekolah. Jadi Sonrye, kau tak berangkat sekolah sekarang?” tanya Hamun pada Sonrye.

“Nde, tapi tunggu sebentar ya Hamun. Ada yang ketinggalan,” ucap Sonrye.

Hamun menunggu Sonrye diluar dan Sonrye segera melaksanakan rencana pertamanya. Dengan segera ia melesat ke kamar Hamun. Mencari sebuah map berwarna hitam yang didalamnya mencatat semua data tentang pria yang akan ditunangkan dengan Hamun. Dan sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Tak sampai 5 menit mencari akhirnya.. Gotcha! Sonrye menemukannya. Sayangnya isi map itu hanya biodatanya, tak ada foto pria itu.

Keraguan sempat mengusik keteguhannya namun hal itu segera ia tepis. Demi Hamun, Sonrye membulatkan tekadnya. “Sonrye, hwaiting!” gumannya menyemangati dirinya sendiri.

“Sonrye ah, ppali!” panggil Hamun. Sonrye segera memasukan map itu kedalam tasnya. Setelah yakin kalau map itu sudah tersembunyi dengan baik, Sonrye segera keluar menghampiri Hamun.

“Mian,” ujar Sonrye dengan wajah tanpa dosa. Hamun yang sempat kesal akhirnya aja bisa menghela nafas panjang.

“Kajja,”

*****

“Apa kau tahu map hitam yang berisi data tunanganku dimana?” tanya Hamun dari dalam kamarnya.

“Molla,” seru Sonrye penuh dusta.

Sonrye sedang sibuk membereskan pakaiannya untuk menjalankan rencananya sampai-sampai ia tak tahu kalau Hamun sudah masuk ke dalam kamarnya.

“Kau mau kemana, Sonrye?” tanya Hamun. Kedatangan Hamun yang tiba-tiba membuat Sonrye terperanjat. Hal itu membuat jantung Sonrye berdetak berkali-kali lebih kencang.

“Aku mau menginap di rumah temen sekelasku, Hamun,” jawab Sonrye setenang mungkin agar Hamun tak mencium hawa kebohongan darinya karena Hamun punya insting yang kuat.

“Berapa lama?” tanyanya yang membuat Sonrye harus memutar otak lagi untuk mencari alasan logis yang bisa Hamun percaya.

“ehm, aku.. anu.. itu..” ucapan Sonrye mulai terbata-bata karena ia dapat merasakan tatapan Hamun mulai menusuk tulang-tulangnya.

‘Jangan menatapnya, Sonrye! Karena dia pasti tahu aku berbohong,’ batin Sonrye.

“Aku mendapat tugas penelitian untuk liburan musim panas ini. Jadi, mulai besok sampai dua minggu kedepan, aku menginap di rumah temanku. Karena rumahnya jauh dari sini, kupikir lebih efektif kalau aku menginap ditempatnya sementara waktu,” jawab Sonrye dan entah bagaimana Hamun dengan mudah mempercayainya.

“Baiklah, kebetulan sekali. Selama liburan ini aku juga akan sering pergi untuk mengurus persiapan pertunangan. Mereka bukan orang sembarangan jadi acaranya pun tak bisa asal-asalan. Cih, merepotkan,” keluh Hamun yang membuat Sonrye tertawa kecil. Hamun orang yang cuek, simple, dan sederhana. Biasanya ia tak sudi direpotkan dengan hal-hal seperti itu.

Sonrye menyembunyikan keprihatinannya dalam hati. Ia makin tak rela jika Hamun ditunangkan. “Hamun, jangan khawatir. Aku akan menyelamatkanmu!” batin Sonrye.

*****

“Apa benar ini alamatnya?” tanya Sonrye pada dirinya sendiri. Ia kembali memastikan alamat tempat ia berdiri sekarang dengan alamat yang tertera di notes kecil yang ia bawa. Benar. Alamat itu sudah sama. Di map yang berisi data diri pria itu, disebutkan kalau ia tak tinggal bersama orang tuanya.

Namun yang paling membuat Sonrye prihatin adalah.. ‘Kenapa dia harus tinggal ditempat seperti ini?’ batin Sonrye. Rasa iba itu bukan untuk sang pria melainkan untuk Hamun. Tak bisa ia bayangkan betapa menderitanya Hamun nanti kalau harus tinggal dilingkungan yang kumuh dan kotor seperti ini. ‘Ini buruk untuk Hamun,’ pikir Sonrye.

Sonrye tak habis pikir. Bagaimana orang kaya sepertinya harus tinggal sendiri dilingkungan seperti ini? Ia akan mencari jawabannya nanti. Yang penting sekarang adalah ia melaksanakan rencananya untuk menyelamatkan Hamun.

Sonrye berusaha menghapus semua imajinasi buruknya tentang pria itu. Ia menelan ludahnya untuk memberanikan diri mengetuk pintu apartemen itu. Tak lama kemudian, pintu itu terbuka. Tanpa melihat dan memberikan salam pada pria itu, Sonrye langsung membungkukan badannya.

“Namaku Lee Yeon Hee. Pemilik kamar ini sebelumnya. Karena suatu kecelakaan, kini aku tinggal sebatang kara. Aku tak punya arah tujuan selain tempat ini. Hanya 3 minggu saja, ijinkan aku tinggal di tempat ini sampai uang asuransi ayahku mencair. Setelah itu aku akan mencari tempat tinggal yang lain. Aku mohon kepadamu,”

*****

“Lee Yeon Hee, bangun,” suara itu mendengung ditelinga Sonrye. Suaranya datar dan dingin. Suara yang asing bagi Sonrye. Itu bukan suara Hamun yang biasa membangunkannya. Lalu siapa dia?

Setengah sadar Sonrye mencoba membuka matanya. Menyesuaikan pupil matanya dengan cahaya di ruangan itu. Ruangan yang asing pula baginya. Ini bukan kamarnya. Lalu dimana Sonrye kini berada?

“Lee Yeon Hee, bangun,” suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas. Dari sudut pandangan mata Sonrye, ia dapat melihat seorang pria tampan berdiri di tepi tempat tidurnya. Pria yang tak asing baginya. ‘Kenapa mirip dengan Kim Kibum, tunangan Hamun?‘ tanya Sonrye dalam hati.

Otaknya berpikir dan akal sehatnya pun kembali. Ia terperanjat bersamaan dengan kesadarannya yang sudah kembali. Ia akhirnya ingat siapa pria itu dan dimana ia sekarang. ‘Tapi bagaimana aku berakhir ditempat tidurnya?’ tanya Sonrye tanpa berani menyuarakannya. Dengan ragu ia mengintip tubuhnya yan tertutupi oleh selimut. Bajunya masih melekat disana tanpa ada satu pun yang hilang. Ia menghembuskan nafas lega karena tak terjadi apa-apa dengan dirinya.

“Kau kira aku pria abnormal yang akan melakukan hal seperti itu pada gadis yang tak kukenal? Bahkan gadis itu seperti anak SMP sepertimu?” tanya pria itu sedikit skeptis. Sepertinya dia mengerti kekhawatiran Sonrye.

“Aku hanya meletakanmu di tempat tidur. Aku kurang jahat untuk membiarkanmu tidur di sova,” ujar Kibum. “Setelah semalaman aku berpikir, kurasa tak ada ruginya untuk membiarkanmu tinggal disini. Tapi aku harap kau bersedia melakukan perkerjaan rumah. Tak ada yang gratis di dunia ini,” lanjut Kibum.

Mendengar hal itu, Sonrye senang bukan main. Tapi ia berusaha mengendalikan emosinya agar belang yang ia sembunyikan tidak ketahuan oleh mangsanya. Sonrye mengangguk semangat sebagai jawaban. Ia tak mungkin menolak kesempatan emas itu. “How lucky i am!” gumannya.

“Tapi hanya 3 minggu. Segeralah ceri tempat tinggal,” timpal Kibum.

“Waeyo?” tanya Sonrye bingung.

Kibum menatap Sonrye lekat. Tatapan yang tajam dan mampu membuat saraf otak Sonrye mati. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan apalagi saat Kibum naik ketempat tidurnya dan mendorong Sonrye jatuh ke tempat tidur. Kibum mendekatkan wajahnya pada Sonrye. Jarak yang kian mendekat membuat jantung Sonrye lebih hyperaktif. Dengan jarak sedekat ini, Sonrye dapat melihat dengan jelas lekuk wajah Kibum yang ternyata sangat sempurna itu.

“Aku juga pria normal, Lee Yeon Hee Agashi,” gumam pria itu diiringi dengan senyuman puas diwajahnya. “Kau lucu juga ternyata,” imbuhnya yang membuat Sonrye tersadar kalau pria itu baru saja mengerjainya.

Bersamaan dengan kepergian Kibum dari tempat tidur itu, Sonrye memutuskan, “Waw, aku tak boleh terpesona olehnya. Tingkahnya liar! Aku tak akan membiarkan pria seperti itu menjadi pendamping Hamun!”

*****

“Kau mau kemana? Bukannya sedang liburan musim panas?” tanya Sonrye pada Kibum yang sudah berpakaian sangat rapi.

“Aku harus kerja,” jawab Kibum singkat sambil memakai sepatunya.

“Kerja? Untuk apa? Bukannya ayahmu sangat kaya?” tanya Sonrye.

Kibum meletakan sepatunya lalu menatap Sonrye lurus. “Kau tahu darimana?” tanyanya. Pertanyaan Kibum itu membuat Sonrye menyadari kesalahannya. Ia mengutuki dirinya yang selalu bertingkah bodoh dan ceroboh.

Baru saja ia memikirkan jawabannya ternyata Kibum harus pergi. “Aku sudah telat. Bye,” ujarnya lalu melesat keluar. Untung saja ia sudah telat sehingga tak mempermasalahkan pernyataanku tadi. Namun rencana keduaku akan dimulai sekarang.

…..

Sudah 5 jam ini Sonrye mengikuti kemana pun Kibum pergi. Hasil penyelidikan Sonrye hari ini adalah: Kibum adalah lelaki buaya. Bagaimana bisa?

Selama 5 jam, Sonrye mendapati Kibum sering keluar-masuk cafe yang berbeda-beda. Di depan cafe ia selalu melihat Kibum berbincang-bincang dengan tante-tante lebih dulu sebelum ia pergi. Dan ia menerima sebuah amplop coklat yang dugaan Sonrye adalah uang.

“Aku tak akan membiarkan Hamun bertunagan dengan pria sepertinya!” putus Sonrye.

…..

Dengan emosi yang membara, ia memutuskan untuk segera pulang. Apa yang ia lihat tadi sudah cukup membuktikan kalau dia bukan pria yang baik untuk Hamun. Dan emosi Sonrye makin memuncak saat ia mendapati banyak foto gadis cantik terjatuh dari rak buku yang tak sengaja Sonrye pukul untuk melampiaskan kekesalannya.

Emosi Sonrye sudah tak bisa ditolerir lagi. Dan sayangnya, Kibum datang disaat yang tak tepat. Kedatangannya langsung disambut oleh seruan Sonrye yang menggelegar ditiap sudut ruangan itu.

“YAA, KIM KIBUM! APA MAKSUD SEMUA INI?!!” tanya Sonrye sambil menyodorkan foto-foto gadis yang ia temukan tadi.

Kibum tercengang namun ia segera membaca situasi yang ada. “Kau penasaran denganku, Lee Yeon Hee Agashi?”

*****

“Kau dijodohkan namun kau menolak, begitu?” tanya Sonrye menyimpulkan penjelasan Kibum.

Kibum mengangguk. “Itu keinginan ayahku. Dengan mengikuti keinginannya berarti aku harus menjadi penerusnya. Dan aku tak mau,”

“Kenapa kau tak mau?” tanya Sonrye.

“Aku ingin menjadi dokter. Aku ingin hidupku dapat berguna bagi orang lain. Pasti sangat menenangkan,” katanya. “Ayahku tak menyetujuinya. Karena itu aku berjanji akan membiayai hidupku dan uang kuliahku nanti. Cih, ayahku memang sangat licik,”

“Licik?”

“Dia sengaja membuatku menyerah. Ia mengirimkan foto-foto itu seolah-olah berkata ‘pulanglah, menikahlah dengan salah satu dari mereka dan hiduplah enak’. Kakakku memutuskan untuk menjadi seorang aktor. Aku sedikit mengerti perasaan ayahku yang sangat mengharapkanku. Tapi mau bagaimana lagi, aku tak mau menyerah dengan mimpiku,” ujar Kibum diiringin dengan senyumnya yang tulus dan menawan. Senyum itu dalam sekejap mampu membius Sonrye. Dan Sonrye pun tersadar kalau ia sudah terpesona dengan pria ini. Terpesona karena kedewasaannya, terpesona karena pendiriannya, dan terpesona dengan senyumannya.

“Emh.. mianhe,” ujar Sonrye. “Aku sudah negatif thinking tentang dirimu,” lanjutnya. Sonrye mengakui kesalahannya. Kibum yang melihat tingkah Sonrye ini berusaha menahan tawanya didalam perut. Ia akhirnya menyadari kalau gadis ini sangat lucu dan unik. Akan sangat menyenangkan jika ia menggodanya sekarang.

“Jadi sebenarnya nona Lee Yeon Hee, kau menyukaiku, ya?” tanya Kibum. Pertanyaan itu membuat Sonrye kaget dan wajahnya bersemu merah seketika. Reaksi salah tingkah dari tubuh Sonrye membuatnya tak tahu harus menjawab pertanyaan itu dengan kalimat seperti apa. Yang terjadi akhirnya malah Sonrye menjitak kepala Kibum.

“Yaa! Lee Yeon Hee! Sakit!” seru Kibum namun Sonrye lebih dulu kabur ke kamar mandi, ia berusaha menstabilkan detak jantungnya yang entah mengapa berdetak sangat kencang karena Kibum.

“Ya Tuhan, apa yang terjadi padaku?”

*****

Waktu berjalan sangat cepat saat kau menikmatinya. Itulah yang Sonrye rasakan sekarang. Ia menikmati kebersamaannya dengan Kibum sampai-sampai ia tak sadar 2 minggu telah berlalu.

2 minggu sudah cukup untuk mengenal kebiasaan musuhmu. Namun semakin ia mengenal Kibum, ia semakin jauh dari tujuan awalnya. 2 minggu bersama Kibum membuat Sonrye jatuh kedalam lubang yang salah. 2 minggu bersama Kim Kibum membuatnya makin ragu untuk membiarkannya bertunangan dengan Hamun.

Pemikiran itu timbul bukan karena Kibum adalah pria genit atau playboy seperti yang Sonrye pikirkan sebelumnya tapi justru karena Kibum adalah pria yang dewasa, gentle, dan pengertian. Meskipun dia dingin tapi dia memiliki hati yang lembut. Kepribadian yang nyaris sama seperti Hamun. Semua perasaan dan pemikiran yang timbul dalam diri Sonrye membuatnya menyadari kalau ia sudah jatuh cinta pada Kim Kibum, calon tunangan Hamun, sepupunya sendiri. Perasaan yang baru pertama kali ia rasakan membuat dirinya ragu untuk merelakannya pada Hamun. Because she’s become a selfish girl when it comes to Kim Kibum.

…..

“Sudah kubilang, aku tak mau dijodohkan dengan siapapun!” seru Kibum yang langsung menarik perhatian Sonrye. Sonrye yang sedang memasak, membuka celemeknya. Memperhatikan dari jauh apa yang sedang terjadi di depan sana. Ternyata yang datang adalah anak buah ayah Kibum.

“Dasar orang tua menyebalkan,” umpat Sonrye yang ia tujukan pada Ayah Kibum.

Emosinya yang labil membuat otaknya tak berpikir jernih. Tanpa pikir panjang, Sonrye segera keluar dan menyerbu mereka dengan statement yang mematikan.. “Berhenti memaksa Kibum menikah dengan gadis manapun! Kibum tak akan menikah dengan mereka karena akulah yang akan menikah dengannya! AKU! CAMKAN ITU!” ucap Sonrye lalu membanting pintu apartemen itu tepat dimuka para anak buah yang sudah mati kutu.

…..

Di dalam apartemen, suasana menjadi hening sesaat. Kibum hanya menatap Sonrye lekat tanpa berkomentar tentang perbuatannya tadi. Sonrye pun demikian, ia hanya menunduk karena takut kalau perbuatannya tadi membuat Kibum marah.

Namun ternyata, apa yang Sonrye pikir meleset. Bukannya marah, Kibum malah terbahak-bahak. Tawa lepas yang pertama kali Sonrye lihat. Tawa itu saja sudah membuat jantungnya berdetak, apalagi saat tangan Kibum menyentuh puncak kepalanya dan menyentuhnya. Kecepatan detak jantungnya bahkan tak bisa diukur oleh speedometer.

“Kau memang gadis luar biasa, Lee Yeon Hee!” katanya. “Tak rugi aku membiarkanmu tinggal disini. Kau lihat tampang mereka tad? Waw, menggelikan,” ujarnya masih diiringi dengan tawannya.

Sonrye ikut tersenyum melihat Kibum namun lain dengan hatinya. Ia merasakan kekalutan. Melihat ekspresi Kibum membuatnya makin tak bisa melepaskannya. Sonrye hanya ingin senyum itu menjadi miliknya.

Namun hati kecilnya yang sangat menyayangi Hamun membuatnya sadar akan tujuan awalnya, ia ingin membuktikan kalau Kim Kibum adalah pria yang pantas untuk Hamun. Dengan berat hati, Sonrye harus mengakui kalau Kibum pantas buat Hamun. Mau tidak mau, ia harus merelakan Kibum demi kebahagiaan Hamun.

“Kenapa kau menatapku terus, ha?” tanya Kibum menyadarkan Sonrye yang ternyata sudah melamun sejak tadi. “Kau menyukaiku, ya?” goda Kibum.

“Aku tak menyukai pria dingin namun narsis sepertimu,” balas Sonrye yang disambut oleh tawa dari keduanya.

*****

“Selesai!” seru Sonrye girang saat ia berhasil menyelesaikan PR liburan musim panasnya.

“Kibum sshi, coba periksa,” ujar Sonrye tapi ternyata orang tersebut sudah terlelap. Ia sudah tertidur dengan posisi kepala yang bersandar ke sova dibelakangnya dan wajahnya ditutupi oleh buku biologi untuk kelas 3 Senior High School.

Sonrye mengambil buku itu agar Kibum dapat menghirup oksigen lebih banyak. Namun wajah polos Kibum yang sedang tertidur membuat otak Sonrye konslet. Dengan kesadaran penuh, ia melepas kacamata Kibum dan membunuh jaran antara wajahnya. Sonrye mengecup Kibum tepat dibibirnya. Hanya sekejap karena takut kalau Kibum terbangun.

“Saranghaeyo, Kim Kibum,” bisik Sonrye.

…..

Kibum akhirnya terbangun dari tidurnya dan mendapati gadis itu, Lee Yeon Hee , sudah tertidur diatas buku-buku yang berserakan dimeja belajarnya. Kibum tersenyum kecil melihat coretan-coretan kecil di buku Yeon Hee. Mungkin dia bosan karena aku tinggal tidur, batin Kibum.

Kibum mengambil buku Yeon Hee untuk melihat gambar itu lebih jelas. Gambar dua gadis kecil yang sedang bergandengan tangan dalam bentuk chibi. “Park Sonrye dan Park Hamun, youngwonhi happy together,” itu yang tertulis diatas gambar tersebut.

“Park Sonrye? Park Hamun?” guman Kibum seakan pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi dimana?

Keterlibatan Yeon Hee dengan dua gadis yang bernama Hamun dan Sonrye membuat Kibum penasaran dengan Yeon Hee. Kibum membuka halaman depan buku itu dan ada tertulis, “Park Sonrye, Haegang High School, 2nd grade,” disertai dengan foto stiker gadis bernama Sonrye yang ternyata adalah Yeon Hee, dan.. Park Hamun? Bukankah dia gadis yang akan ditunangkan denganku? Tanya Kibum pada dirinya sendiri.

Dengan segera Kibum bangkit dari tempatnya. Ia segera mengambil map yang berisi data tentang Hamun. Dugaannya benar, Park Sonrye adalah sepupu dari Park Hamun.

2 minggu lebih bersama Yeon Hee membuatnya mengerti mengapa Sonrye harus sampai menyamar sebagai Yeon Hee agar bisa tinggal ditempat ini. “Ia ingin menyelidikiku demi Hamun,” gumam Kibum.

“Ia berbuat nekat seperti ini demi orang lain, kau memang gadis luar biasa, Yeon Hee,”

Kibum bukannya marah karena dirinya telah ditipu, tapi kenyataan yang terkuak justru membuatnya harus mengakui kalau ia telah benar-benar cinta pada gadis ini. Ketulusan hati Sonrye berhasil memikat hati Kibum.

“Saranghaeyo Park Sonrye,” bisik Kibum sambil menggendong Sonrye ala bridal style dan memindahkannya ke tempat tidur.

*****

Kibum telah menyadari perasaannya pada Sonrye. Namun waktu pertunangan yang semakin dekat membuatnya tak tahu harus bertindak bagaimana. Mengakui perasaannya pada Sonrye pun tak ada gunanya, Sonrye pasti tak mau mengkhianati sepupunya itu.

“Tok, tok, tok,” suara ketokan pintu membuyarkan lamunan Kibum. Ia hendak berdiri untuk membuka pintu itu, tapi Yeon Hee menawarkan diri untuk membukanya.

Kibum mendengar suara pintu itu terbuka, tapi selang beberapa detik tak ada satu pun orang disana yang memulai percakapan. Keheningan itu membuat Kibum penasaran.

“Siapa yang datang?” tanya Kibum tapi tak ada yang menyahuti. Takut sesuatu yang buruk terjadi pada Yeon Hee, ia memutuskan untuk menyusul Yeon Hee.

Kibum terperanjat dengan kehadiran Park Hamun  didepan apartemennya. Ia dapat merasakan atmosfer yang kurang menyenangkan antara kedua gadis itu.

Hamun yang menyadari kedatanganku segera mengalihkan perhatiannya padaku. “Ada yang harus kubicarakan soal pertunangan ini,” ucap Hamun.

Saat Hamun hendak masuk ke dalam apartemen itu, Sonrye menahan tangan Hamun. “Kau harus menerimanya, Hamun. Ia adalah pria yang baik. Kibum sshi, kau juga harus menerimanya. Aku tahu betapa baiknya gadis ini,” ujar Sonrye. Meskipun ia berkata seperti itu, sesungguhnya hatinya tak rela. Sekuat tenaga ia menahan tangisnya. Ini bukan hal yang mudah bagi siapapun yang sedang jatuh cinta.

“Tugasku  sebagai sepupu sudah selesai. Kini kau yang bereskan sisanya,” ujarnya.

Sonrye memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan Kibum. “Mianhe, aku sudah membohongimu. Terima kasih karena kau sudah menginjinkanku untuk tinggal disini. Aku ambil barangku lain kali. Annyeong,” lanjut Sonrye. Bersamaan dengan berakhirnya kalimatnya, Sonrye pun pergi.

Kibum yang tak rela Sonrye meninggalkannya hendak mengejarnya. Namun sebelum sempat kakinya melangkah, Hamun menahannya.

“Kita ikuti kemauannya,” ujar Hamun.

“Tapi aku mencintainya, Hamun sshi,”

“Kau percaya saja padaku. Aku yang paling mengenalnya,” ujar Hamun dengan senyum penuh percaya diri. Kibum akhirnya menyadari kalau dia sudah terjebak dengan Park bersaudara

*****

Hari ini adalah H-2 pertunangan Kibum dan Hamun. Ayah Kibum mengundang Hamnun dan keluarganya untuk makan malam bersama sekaligus membicarakan pertunangan tersebut.

“Sonrye, kau kenapa? Kau tampak tak bersemangat,” ujar Hamun padaku Sonrye.

“Aku baik-baik saja. Jangan khawatir,”  balas Sonrye dengan senyum yang mengkamuflase kesedihannya. Kalau ia diberi kesempatan untuk berkata jujur, sesungguhnya ia sangat tidak menikmati jamuan makan malam ini. Ia tak bisa melihat Kibum dan Hamun bersama dan saling bertukar senyuman.

“Baru kali ini kau menyetujui gadis yang aku jodohkan padamu. Bagaimana pendapatmu tentang Hamun?” tanya ayah Kibum pada anaknya itu.

“Dia gadis yang manis juga pintar. Kepribadian kami yang nyaris sama membuatku  merasa cocok dengannya. Aku senang bertunangan dengannya,” ujar Kibum yang membuat hati Sonrye agak sakit mendengarnya.

“Kalau kau, Sonrye? Bagaimana pendapatmu tentang pertunangan ini?” tanya ayah Kibum padanya. Pertanyaan yang tak ingin ia jawab. Pertanyaan yang begitu menyakitkan hatinya. Mata Kibum yang memandangnya membuatnya makin tak bisa mengendalikan perasaannya.

“Aku..” Sonrye mau menjawab tapi pelupuk mata yang sudah penuh tak sanggup menahan lebih lama. Air matanya terjatuh tanpa perintah.

“Mi.. Mianhata. aku ke kamar mandi dulu,” ucap Sonrye dan dengan segera ia kabur dari tempat itu. Ia tak mau membuat hari Hamun bahagia Hamun menjadi kacau.

…..

Sonrye kabur tanpa tahu harus kemana. Ia membiarkan kakinya yang menggiring langkahnya. Tanpa ia sadari, akhirnya ia sudah berdiri di depan katherdal yang ada di dekat rumah Kibum.

Ia berjalan memasuki katherdal itu dan terdiam di depan altar. Air matanya mengalir lebih deras mengingat kalau di tempat inilah kelak Kibum akan menikah. Tapi sayangnya mempelai wanitanya adalah Hamun, bukan dirinya.

Sonrye menghapus air matanya. Ia mengatupkan kedua tangannya didepan dada untuk memanjatkan doanya. “Aku disini, berdoa untuk kebahagiaan Hamun dan Kibum. Semoga mereka bisa bahagia. Amin,”

Begitu doanya selesai, ia hendak kembali ke tempat pertunangan. Namun saat ia berbalik, tiba-tiba Sonrye merasukan suatu kehangatan menyeruak kedalam dirinya melalui pori-pori kulitnya dan melalui bibirnya. Sonrye melihat seorang Kibum yang mencium dan memeluknya. Ia masih belum bisa membedakan antara mimpi atau kenyataan.

“Mianhata, Park Sonrye. Doamu tak akan terkabul,” bisik Kibum ditelingan Sonrye. “Karena kebahagiaanku ada padamu. Karena aku, Kim Kibum, sayang pada Lee Yeon Hee dan Park Sonrye,”

Perasaan yang berbalas membuat Sonrye tak bisa menahan perasaannya lagi. Air mata yang mengalis kini berganti dengan senyuman kebahagiaan. Ia membalas pelukan Kibum dan berulang kali mengatakan, “Saranghae, Kibum. Saranghae,”

“Nado,” jawab Kibum.

……

Ayah Kibum melirik jam tangannya. Ini sudah 15 menit sejak kepergian Kibum. “Kemana dia?” gumannya khawatir. Berbeda reaksi dengan Hamun yang tenang-tenang saja seakan ia tahu apa yang sedang terjadi pada Kibum sekarang.

Hamun tersenyum simpul. Ya, Hamun memang sudah mengerti apa yang sedang terjadi sekarang. Sedari tadi ia sudah menduga kalau kepergian Kibum adalah untuk mengejar Sonrye. Dan pasti di suatu tempat di sekitar rumah ini, mereka sedang menyelesaikan permasalahan cinta mereka.

“Ah, mianhe nona Hamun. Aku akan menyuruh anak buahku untuk mencari Kibum,” ujar Ayah Kibum yang segera disela Hamun, “Tidak perlu ajjushi, biarkan aku saja,” kata Hamun.

Dengan segera Hamun bangkit dari tempat duduknya. Ia beranjak keluar dari ruang makan tersebut namun saat di pintu keluar, tanpa disengaja, ada seorang pria yang menabraknya. Tubuh Hamun yang lebih kecil dari pria itu menjadi oleng. Ia kehilangan keseimbangan. Ia nyaris jatuh, tapi dengan gesit pria itu menarik tangannya sehingga Hamun tak terjatuh, justru mendarat dengan selamat di pelukan pria itu.

“Gwencana?” tanya pria itu.

Hamun mendongakkan kepalanya, “Aku tak apa-apa, terima kasih banyak,” jawab Hamun sambil menatap lurus mata pria itu.

Sesuai etika, seharusnya pria itu segera melepaskan pelukannya dari Hamun. Tapi pria itu hanya terdiam sambil terus menatap lekat Hamun. Ia seperti terhipnotis. Meskipun Hamun sudah mendorong tubuhnya dari pria itu —agar pelukannya terlepas—, yang terjadi justru pria itu makin mengeratkan pelukannya.

“Ah, Hamun agashi, dia adalah Choi Siwon, kakak angkat Kibum,” ujar Ayah Kibum.

Hamun mengangguk sebagai respon atas penjelasan ayah Kibum. “Kalau begitu, tuan Choi Siwon, bisakah anda melepaskan pelukan anda?” tanya Hamun.

Pria yang ternyata bernama Siwon itu akhirnya tersadar. Ia segera melepaskan pelukan itu. “Mianhe,” ujar Siwon. Sepertinya Hamun tak mau berlama-lama disitu. Ia pergi begitu saja setelahnya, tanpa berkenalan dulu dengan Siwon.

“Appa, siapa dia?” tanya Siwon pada ayahnya.

“Dia tunangan Kibum,” jawab ayahnya.

‘Andwe,’ batin Siwon. Dengan secepat kilat, ia segera mengejar kepergian Hamun tanpa memberikan salam pada ayahnya terlebih dahulu.

…..

15 menit sudah berlalu namun Sonrye dan Kibum masih berpelukan. Sepertinya mereka berdua sedang larut dalam asmara mereka. Namun tiba-tiba Sonrye mendorong Kibum untuk melepaskan pelukannya.

“Seharusnya ini tak boleh terjadi. Bagaimana dengan Hamun?” tanya Sonrye. Ia merasa sangat bersalah pada Hamun.

“Kalian tak perlu memikirkanku. Cepat atau lambat aku pasti menemukan pria yang lebih baik dari Kibum,” jawab seseorang dari ambang pintu katherdal.

“Hamun?” gumam Sonrye dan Kibum bersamaan karena kaget dengan kemunculan Hamun yang tiba-tiba.

“Syukurlah. Aku kira, aku harus patah hati karena kau akan bertunangan dengan Kibum,” sahut sebuah suara lain. Kini ada seorang pria yang sangat tampan berdiri disamping Hamun.

“Hyung?” gumam Kibum. Ya, pria tadi adalah Choi Siwon, kakak angkat Kibum.

“Hai, Kibum,” sapa Siwon sambil melambaikan tangannya pada Kibum. Namun kini tangan itu bertengger di bahu Hamun. “Berkat kau aku bisa bertemu dengannya. Terima kasih,” lanjutnya.

“Hei, apa yang kau bicarakan Tuan Muda Choi Siwon?” tanya Hamun dingin.

“Hamun, kau harus memanggilku oppa. Oppa ini jatuh cinta denganmu pada pandangan pertama. Kau mau menjadi pacarku, Hamun?” ujar Siwon. Hamun tak menjawab, namun wajahnya sudah berubah menjadi seperti kulit apel.

“Good luck, hyung,” ujar Kibum menyemangati Siwon yang sepertinya masih harus berjuang keras untuk menaklukan hati Hamun.

“Oia, Sonrye. Can you give me a ppopo? Bukti kalau hari ini aku resmi menjadi kekasihmu,” pinta Kibum sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sonrye, tapi sayangnya Hamun masih ada disitu dan menahannya.

“Jangan macam-macam dengan Sonrye. Bagaimana pun, sebelum kalian menikah, Sonrye masih jadi milikku” ujar Hamun yang disambut decakkan kesal Kibum.

Siwon dan Hamun yang melihat hal itu hanya bisa tertawa. “Kajja, ayo kita kembali. Kita masih harus menjelaskan masalah ini pada ayah, walaupun kemungkinan untuk ia mendengarkan adalah 0%,” ajak Siwon.

Semuanya setuju. Kini mereka berempat kembali kekediaman keluarga Kim. Siwon memaksa Hamun untuk berjalan berdampingan dengannya.Kibum dan Sonrye mengikuti dibelakang mereka.

“Kibum” panggil Sonrye saat Siwon dan Hamun sudah agak jauh didepan sana. Dengan segera, Sonrye mengecup bibir Kibum.

Kibum terperanjat dengan aksi Sonrye. Melihat reaksi itu membuat Sonrye menyinggungkan senyum kemenangan.

“Ssst.. rahasiakan dari Hamun, ya,” ucap Sonrye sambil meletakan jari telunjuk didepan bibirku sebagai isyarat diam.

“Aku bukan gadis agresif, tapi aku juga tidak pasif. Jadi, bersiaplah Kim Kibum,” ucap Sonrye tersenyum penuh kepercaya dirian.

Namun tiba-tiba saja, Kibum menarik wajah Sonrye. Secepat kilat  Kibum mengecup bibir Sonrye. “Aku juga bukan pria agresif, tapi aku juga tidak pasif. Jadi, bersiaplah Park Sonrye,”

END