Annyeong onnideul, chingudeul, dongsaengdeul! (งˆヮˆ)ง
ini pertama kalinya bikin ff yesung🙂
hope you like it yah ^^
your comments are love for me so leave your comment here ^^

nb: mianhe kalo alurnya kecepatan atau critanya kurang memuaskan *dibikin dengan segala keterbatasan waktu hiks.

enjoy reading yaa (งˆヮˆ)ง

*****

‘Apa kau percaya dengan takdir? Seperti love at first sight misalnya?’ dulu temanku pernah bertanya seperti itu. Saat itu, aku tertawa mendengar pertanyaannya lalu menggeleng dan menjawab ‘Tidak. Aku tak percaya hal seperti itu’. Bahkan aku sempat berkata pada mereka, ‘Takdir hanya ada dalam cerita dongeng. Seharusnya kita tak memikirkan hal sepele seperti itu’

Namun kurasa saat ini hukum karma sedang berlaku atasku. Apa yang dulu tidak kupercaya kini terjadi padaku. Kini takdir mulai mengusik hatiku. Ia mulai membuktikan keberadaannya padaku.

Semuanya terjadi 3 hari yang lalu. Saat takdir menggiring langkahku ke tempat itu. Salah satu cafe di sekitar sekolahnya, yang sebelumnya tak pernah ada keinginanku untuk berkunjung kesana. Yang kutahu dari teman-teman, pemilik cafe itu sangat tampan dan itu menjadi salah satu alasan mereka untuk hangout di cafe itu.

Tapi hari itu, meskipun aku tak ingin, kakiku memaksaku dan hatiku mendorongku. Diluar kendali otakku, tanganku membuka pintu cafe itu.

Aku bisa merasakan atmosfer yang kurang enak ditempat itu. Tapi hal itu tak kuperdulikan. Mataku tahu-tahu saja sudah berhenti untuk menatap seorang pria yang sedang berdiri di tengah ruangan cafe dengan seorang gadis SMA berdiri dihadapannya. Diatas lantai sekitar tempat mereka berdiri aku bisa melihat beberapa pecahan piring, gelas, dan cream cake yang berceceran.

“Jangan pernah datang kesini,” ujar pria tadi. Ia menatap sang gadis dengan mata yang dingin tanpa keramahan. Tak hanya aku, semua orang yang ada ditempat itu juga melihat ke arah mereka.

“Aku tak memerlukan pelanggan yang tak menghargai karya kokiku. Aku tak memerlukan pelanggan yang datang ke tempat ini hanya untuk meminta nomor ponselku,” kata pria itu.

Saat itulah aku sadar kalau ternyata pria itu adalah pemilik cafe ini dan akhirnya aku juga mengerti mengapa ia bersikap dingin seperti itu pada seorang gadis. Aku yakin kalau gadis itulah yang memulai semua ini.

Gadis itu terpaku saking kagetnya. Sepertinya ia tak percaya kalau pria ini bersikap sangat dingin padanya. Tapi mau bagaimana lagi? Gadis itu sendiri yang memulai.

Pria itu menyeringai. “Sayang sekali gadis cantik sepertimu memiliki kepribadian yang buruk,” ujarnya. Gadis itu hendak kabur dari tempat itu namun ia menahannya. “Minta maaf pada Ryeowook dan Henry,” ujarnya.

Gadis itu menepis tangan pria itu. “Aku tak mau!” serunya lalu benar-benar meninggalkan tempat itu.

Aku melihat seorang pria dengan nametag ‘Henry’ berjalan menghampiri pria tadi. Henry menepuk bahu pria itu. “Yaa, hyung, tak perlu sampai sebegitunya untuk membela kami,” ujarnya.

Seorang pria lain dengan nametag ‘Ryeowook’, datang menghampiri pria itu. “Kita kehilangan satu pelanggan lagi,” timpalnya.

Pria tadi memutar tubuhnya, menghadap kedua temannya. “Tenang saja. Itu lebih baik daripada melihat makanan yang kalian buat dibuang seperti tadi,” jawabnya dengan gayanya yang calm and cool. Pria tadi berjalan kembali ke meja kasirnya sedangkan Ryeowook dan Henry menatap punggung itu sambil tersenyum tipis.

“Maafkan kami karena keributan tadi,” ujarnya pada costumernya.

Kini aku sangat mengerti. Pria itu rela bertindak dingin dan skeptis seperti tadi dihadapan para pelanggannya karena ingin melindungi perasaan kedua temannya. Ia tak memikirkan image cafe ataupun persepsi para pelanggan. Ia melepas semua itu demi menjaga temannya. Suatu perbuatan yang sangat berani dan menimbulkan suatu impresi yang kuat untukku. Impresi yang mampu membuat sosoknya terekam dalam hatiku. Impresi kuat yang mempu membuat jantungku berpacu sangat cepat. Dan akhirnya kusadari, ia telah berhasil merebut hatiku.

Mungkin memang benar kata Ryeowook jika mereka kehilangan seorang pelanggan, tapi kurasa perbuatan pria tadi justru membuat para costumernya makin mencintai tempat ini dan juga pemiliknya yang sampai saat ini belum kuketahui siapa namanya.

“Antrian nomor 066,” seru pria tadi.

Aku melangkahkan kakiku menuju tempat ia berada. Keyakinanku sudah membulat. Pria itu adalah pria pertama yang membuatku merasakan cinta. Ia adalah pria pertama yang membuatku berharap bahwa takdir itu sungguh nyata. Aku akan mengejarnya, entah sampai kapan dan entah sesusah atau sesakit apa aku akan mencari cara untuk bertahan hingga saat itu tiba.. Saat kau mulai menengok kearahku.

“Annyeonghaseyo,” sapanya. “Anda mau pesan apa?” tanyanya padaku.

Aku terdiam, terkesima akan pesonanya. Rambutnya, matanya, hidungnya, bibirnya, aromanya, suaranya, mampu membuatku kehilangan akal. Bahkan tanpa kusadari, mataku sejak tadi terus menatapnya lekat. Mungkin ia merasakan tatapanku yang tak pernah lepas darinya. Kini ia menatapku.

“Anda mau pesan apa?” tanyanya sekali lagi.

Tatapannya itu membuatku kehilangan akal sehatku. Tanpa kusadari, kalimat itu meluncur begitu saja. “Aku mau dirimu,”

*****

Nama pria itu Kim Jong Woon namun orang disekelilingnya memanggilnya Yesung. Ia mendirikan Hendel dan Gretel Cafe sekitar setahun yang lalu. Memiliki 2 koki andalan, Henry dan Ryeowook, dimana hubungan mereka saat ini tidak lagi boss dan anak buah melainkan sahabat. Selain rasa dan harga yang murah, wajah Yesung yang tampan menjadi salah satu alasan yang membawa para gadis pergi ke cafe itu. Namun banyak juga gadis yang akhirnya tak pernah kembali ke tempat itu alasannya adalah karena Yesung menolak mereka.

Lalu mengapa aku kembali ke tempat ini? Ah, tidak. Aku datang kesini bukan karena ia menerimaku dan aku telah menjadi kekasihnya. Ia tak menerimaku. Bahkan ia mentah-mentah menolakku saat itu. Tapi bukan Hyunah namanya jika menyerah hanya karena sekali mencoba. Bukankah sejak awal aku sudah bertekad untuk bertahan? Akan kupegang janjiku itu.

……

Day 1

“Yesung oppa, annyeong,” sapaku setelah ia memanggil nomor antrianku. Ia melihatku sesaat lalu menghela nafas panjang seakan aku ini pengganggunya. Untuk saat ini statusku memang begitu. Tapi kita lihat saja akan berakhir seperti apa nanti.

“Kenapa kau datang kesini lagi?” tanyanya. Ia menatapku lurus.

Aku tersenyum. “Aku mau membeli Americano. Apa tidak boleh?” tanyaku usil.

Ia menghela nafas, berusaha bersabar. “Baiklah, kau mau pesan apa?”

“Sudah kukatakan, Americano,” jawabku.

Ia segera mencatat pesananku di mesin kasirnya lalu ia berjalan ke jendela kecil yang ada dibelakangnya.

“Henry, Americano 1. Thank you,” ujarnya. Kurasa itu adalah jendela pembatas antar kasir dan teritorial para koki.

Tak sampai 2 menit, pesananku sudah jadi. Aku sempat menyesal memesan Americano ini. Ternyata proses pembuatannya sangat cepat sehingga aku tak bisa menikmati wajahnya dan aromanya lebih lama.

“2000 won,” ujarnya. Aku telah memberikan uangnya namun aku tak pergi dari situ.

Yesung menatapku. “Apa lagi?” tanyanya ketus.

“Apa customer disini tak mendapatkan suatu bonus?”

“Maksudmu?” tanyanya bingung dengan alis kanannya yang terangkat.

“Bonus nomor ponselmu, misalnya,” jawabku sambil menyeringai usil. Aku tahu sehabis ini ia akan meledak karena jawabanku. Secepat mungkin aku mangkir dari tempat itu daripada ia benar-benar melarang aku untuk datang ke tempat ini lagi.

Aku duduk di meja kosong yang masih tersedia. Aku menghela nafasku panjang lalu menyesap Americano yang sudah kupesan tadi.

Usahaku gagal. Sepertinya perjuanganku masih sangat panjang.

*****

 

Day 30, Yesung’s Pov

“Yesung Hyung, bagaimana kabar Hyunahmu?” tanya Ryeowook padaku.

Aku menatapnya tajam, isyarat agar ia membungkam mulutnya.

“Apa hyung masih belum menerimanya?” tanyanya lagi. Sepertinya ia cari masalah denganku.

“Ryeowook ah, kau minta gajimu bulan ini hangus? Baiklah,” ujarku sebagai ancaman agar ia tak membicarakan gadis itu lagi. Secepat kilat Ryeowook mengatupkan kedua tangannya didepan wajahnya. “Mianhata,” ujarnya.

Hyunah yang ia bicarakan adalah gadis yang akhir-akhir ini mengusik keseharianku. Ia bukan gadis genit yang berdandan menor seperti kebanyakan gadis yang datang ketempat ini. Ia terkesan sederhana dan polos. Sama sekali bukan tipe gadis kesukaanku. Tapi ia gadis yang gigih, ulet, dan pantang menyerah. Terbukti dari keberadaan dirinya yang tak pernah absen dari keseharianku meski aku sudah menolaknya bahkan kadang bersikap kasar padanya. Aku bahkan sempat bertanya-tanya ‘terbuat dari apa gadis ini?’. Kepribadiannya yang kuat memberikan suatu impresi padaku. Sebuah impresi yang entah bagaimana dan entah sejak kapan membuatku menginginkan kehadirannya.

“Cobalah untuk mengerti isi hatimu sendiri. Aku harap hyung segera menyadarinya sebelum semuanya terlambat,” ujar Ryeowook. Kalimat Ryeowook memberikan tanda tanya besar untukku. “Hyunahmu sudah datang. Sudah hari ke 30 rupanya. Aku benar-benar kagum padanya,” ujar Ryeowook.

“Cih, kau terlalu banyak bicara Ryeowook ah. Cepat kembali ke belakang,” perintahku sedangkan ia tetap menyengir tanpa rasa bersalah.

Kini aku kembali berdiri di balik meja kasirku. Memanggil nomor antrian yang aku yakin itu adalah nomornya.

“Nomor 198,” seruku. Hyunah berjalan mendekatiku namun aku bisa merasakan ada sesuatu yang lain pada Hyunah. Ia bukan Hyunah yang biasanya, yang selalu bersemangat dan ceria. Kali ini wajahnya nampak sedih. Dan entah mengapa, ada sedikit rasa penasaran dihatiku. Apa yang membuatnya sedih? Aku ingin tahu.

“Kau mau pesan apa?” tanyaku ketus. Entah mengapa, saat berhadapan dengan gadis ini aku jadi begitu dingin padahal dalam hati aku berkeinginan untuk berinteraksi dengan baik.

“Keluarlah bersamaku,” ujarnya lirih ia bahkan tak menatapku seperti biasanya. Aku yakin ia pasti habis salah makan obat.

“Kurasa kau salah orang. Pintu keluar ada diujung sana,” ujarku cuek. Aku melihat nomor antrian berikutnya. “Nomor 199,” seruku. Meski aku sudah memanggil nomor antrian selanjutnya, Hyunah tetap tak bergeming dari tempatnya.

“Keluarlah bersamaku,” ujarnya sambil menunjukan kertas antrian bernomor 199. Aku menghela nafasku panjang. Ternyata Ia mengambil dua nomor antrian sekaligus. Aku kembali memanggil nomor antrian berikutnya. “Nomor 200,” seruku.

Hyunah mengeluarkan kertas antrian yang bernomor 200. “Keluarlah bersamaku,” pintanya. Gadis ini benar-benar menyusahkan. Aku tak memperdulikannya. Aku kembali memanggil nomor antrian selanjutnya dan selanjutnya dan selanjutnya yang semua nomor itu ternyata milik Hyunah. Ia mengambil sampai 10 nomor antrian sekaligus.

“Yaa! Apa maumu?!” seruku kesal. Kuakui caranya sangat kreatif namun ini sangat membuang waktuku.

“Keluarlah denganku!” ia ganti berseru kepadaku. Kini matanya menatapku. Aku bisa melihat matanya telah berair seakan ada air mata yang akan tumpah. Tatapannya yang sedih itu membuat hatiku luluh. Aku keluar dari teritoriaku lalu menggandeng gadis itu keluar dari cafe ini.

Aku bisa merasakan semua mata memandangku. Aku yakin Ryeowook sedang tersenyum senang saat ini karena ia mengira aku luluh pada gadis ini —well, aku memang luluh namun hatiku belum mengakuinya—. Tapi saat ini aku tak memperdulikan semua itu. Yang kupikirkan hanya satu, mencari tahu penyebab kesedihan Hyunah.

…..

“Ini,” ujarku sambil menyodorkan coca cola padanya.

“Terima kasih,” jawabnya.

Kami sudah berada di taman dekat cafe sekarang, duduk dibangku taman dalam diam. Ia duduk dipojok sebelah kanan dan aku di sebelah kiri. Aku ingin bertanya padanya namun aku tak tahu bagaimana mengungkapkannya.

“Ayah dan ibuku memutuskan untuk bercerai pagi ini,” ujarnya membuka suara. Suatu pernyataan yang membuatku kaget sekaligus iba. Akhirnya aku bisa memahami mengaba ia terlihat begitu sedih. Tapi aku kembali berpikir, mengapa ia mencariku? Aku bukan siapa-siapanya. Aku bahkan tak mengenal orang tuanya —Aku juga tidak terlalu mengenal Hyunah—, kenapa ia mencariku?

“Aku tahu kau tak mengenal orangtuaku, bahkan kau tak terlalu mengenal diriku. Tapi.. entahlah. Aku juga tak tahu mengapa, tapi kakiku ini yang membawaku ke tempatmu. Dan saat melihat wajahmu, rasanya aku ingin menumpahkan semua perasaanku,” jelasnya tepat seperti apa yang kupertanyakan dalam hati. Ia bisa membaca pikiran? Bertelepati? Atau ini yang dinamakan takdir? Aku tak berani berharap. Aku bukan tipe pemimpi yang percaya akan takdir.

“Eng, kurasa kau datang pada orang yang salah. Aku bukan orang yang pintar berbicara sehingga aku tak tahu kalimat apa yang harus kulontarkan agar kau terhibur,” ujarku jujur. Aku ingin membantunya, serius. Tapi aku harus menyadari kekuranganku yang tak pandai berbicara lembut. Namun setelah aku berpikir cukup lama, akan sangat mengenaskan kalau aku seorang pria gentle tidak melakukan suatu apapun untuk menghiburnya. Yah, setidaknya aku harus mencoba.

“Aku hanya seorang pria yang bermodalkan uang dan suara. Jadi kau mau apa?” tanyaku. Hyunah menatapku dengan matanya yang sedikit menyipit dan alisnya yang naik sebelah.

“Kau bisa menanyi?” tanyanya tak percaya.

“Aku cukup percaya diri dengan suaraku,” jawabku penuh keyakinan.

Hyunah menghapus sisa air matanya. Kini ia menatapku dengan senyum yang ia paksakan. “Baiklah, let me hear your voice. Kalau suaramu jelek, kau harus mentraktirku. Deal?”

“Kalau kau terpesona dengan suaraku, kau yang harus mentraktirku. Deal,” jawabku.

Aku bangkit dari tempat dudukku. Berdiri di depannya. Jarak 2 meter menjadi pemisah antara kami. Aku mengambil nafas dan mulai bernyanyi.

Today, i wander in my memory
I’m pasing around on the end of this way
You’re still holding me tightly, even though i can’t see you any more
I’m losing my way again

I’m praying to the sky i want see you and hold you more
That i want to see you and hold you more

It can’t be if it’s not you
I can’t be without you
It’s okay if i’m hurt for a day and a year like this
It’s fine even if my heart’s hurts
Yes because i’m just in love with you

I can’t send you away one more time
I can’t live without you

My bruised heart
Is screaming to me to find you
Where are you?
Can’t you hear my voice?
To me… if i live my life again
If i’m born over and over again
Ican’t live without you for a day
You’re the one i will keep
You’re the one i will love
I’m.. yes, because i’m happy enough if i could be with you

Tepat diakhir nyanyianku, aku bisa merasakan sebuah kehangatan menyeruak disekujur tubuhku. Aku membuka mataku dan tersadar kalau gadis ini sedang memelukku sekarang. Bukannya terhibur, tangisannya malah menderu.

“Kenapa kau malah menangis?” tanyaku. Aku ingin membalas pelukannya, aku ingin mengelus kepalanya dan aku ingin menenangkannya tapi entah mengapa semua anggota gerakku tak dapat digunakan. Otakku melarangku untuk berbuat demikian. Aku rasa, altar egoku menang atas diriku.

“Kau yang bodoh,” ujarnya disela isakan tangisnya. “Mengapa menghiburku dengan lagu seperti itu? Apa kau tak tahu bagaimana liriknya? Itu sangat romantis. Harusnya kau nyanyikan itu setelah aku menjadi kekasihmu,” lanjutnya. Aku menyunggingkan sebuah senyuman yang kurasa sudah lama tak pernah menghiasi wajahku.

“Memang aku mau menjadi kekasihmu?” tanyaku usil.

“Aku akan memastikannya sebentar lagi. Aku yakin kau akan jadi milikku. Aku yakin kalau saat itu takdirlah yang membawaku ke tempatmu. Aku yakin, takdirku adalah selalu bersama denganmu,” jelasnya.

Tanpa kusadari, lagi-lagi bibirku membentuk sebuah lengkungan. Ia kembali memberikan sebuah impresi yang kuat padaku. Kini aku yakin, sosoknya telah melekat padaku. Kurasa perjuangannya tinggal sedikit lagi. Kalau ia berhasil mengalahkan egoku, saat itulah aku akan percaya kalau takdir itu memang nyata.

*****

Day 60, Hyunah’s Pov

“Carramel Machiato 1. Chocolate cream cake,” ujarku. “Ah, jangan lupa dibumbuhi 2 sendok cinta dari boss cafe ini ya,” lanjutku sambil tersenyum usil.

Pria didepanku kini menatapku tajam tapi entah mengapa tatapan itu tak pernah membuatku takut, justru aku makin ingin menggodanya. “Kau menguji kesabaranku, Jung Hyunah?” tanyanya.

“Permintaan pelanggan. Apa oppa tak tahu semboyan, ‘pembeli adalah raja’?” tanyaku yang ia balas dengan gerutuan tak jelas. Aigo, itu malah membuatnya terlihat semakin lucu.

“Ini pesananmu,” katanya sambil memberikan nampan pesananku.

“Gomawo yeobo,” ujarku lalu secepat kiilat aku pergi dari tempat itu. Aku yakin ia akan meledak sehabis ini.

1.. 2.. “YAA! JUNG HYUNAH!” serunya sedangkan aku sudah duduk dengan tenang ditempatku dan mulai menikmati pesananku.

……

Day 90, Yesung’s Pov

“Hei, Yesung hyung. Dia menunggumu dari tadi sampai tertidur seperti itu,” ujar Ryeowook sambil menunjuk gadis yang tertidur disalah satu meja. Aku melihat jam yang bergantung di dinding, sudah jam 10 malam ternyata. Berarti dia sudah menunggu sejak 6 jam yang lalu. Aku tersenyum menyadari hal itu. Senyum senang karena dia menunggu dan senyum takjub karena gadis ini memang sangat ajaib menurutku.

Aku menghampirinya, membungkukan badanku agar dapat melihat wajahnya lebih dekat. Disekitar bibirnya masih belepotan dengan cream cake yang tadi ia pesan. Aku tersenyum lagi, entah sudah yang keberapa kalinya. Ryeowook dan Henry juga bilang kalau aku akhir-akhir ini lebih sering tersenyum. Mungkin kehadiran gadis ini memberika aura postif padaku.

Wajahnya yang manis dan polos seakan menghipnotisku. Aku begitu terpesona sampai aku sendiri tak bisa mengendalikan hati dan otakku yang liar. Yang jelas, kini aku sudah mencium bibirnya.

Aku membuka mataku dan mendapati mata Hyunah sudah terbuka lebar dan menatapku ‘shock’. Melihat ekspresinya itu membuatku ingin tertawa namun aku bersikap sebiasa mungkin didepannya. Aku melepas kecupan tadi.

“Apa yang kau lakukan oppa?” tanyanya masih dengan ekspresi tak percaya.

“Aku hanya menghapus cream cake yang kau makan tadi,” jawabku sambil memberikan sebuah smirk.

…..

Hari ini adalah day 120th sejak pertemuan pertama kami berarti sudah 120 hari ia berjuang untuk meluluhkan hatiku. Katanya dia tak akan pernah berhenti mencoba sampai aku takluk padanya, namun kenyataannya? Kemana ia selama sebulan ini? Aku tak melihatnya berseliweran disekelilingku ahir-akhir ini.

“Hyung, kau kesepian ya tidak ada Hyunah?” ujar Henry.

“Auramu mengerikan dan senyum diwajahmu juga tak tulus seperti biasanya,” sahut Ryeowook.

“Hei, kalian ini ingin gaji kalian dipotong?” tanyaku yang sepertinya tak dapat membuat mereka terintimidasi.

“Apa hyung tak tahu mengapa ia tak pernah datang lagi kemari?” tanya Henry.

“Aku tak tahu,”

“Kau tak punya nomor handphonenya?” tanya Ryewook.

“Aku tak tahu,”

“Kau bodoh, hyung,” sahut mereka berdua yang dalam hati sangat kusetujui.

“Hyung terlalu menggantungkannya, sih. Mungkin ia sudah lelah mengejarmu,” ujar Ryeowook.

“Mungkin sekarang ia sedang bersenang-senang dengan pria lain,” ujar Henry.

“Yaa! Ryeowook! Henry!” seruku kesal. Pernyataan mereka cukup membuat kuping dan hatiku panas. Aku terdiam sesaat untu berpikir. Aku marah karena apa sebenarnya? Yang mereka katakan ada benarnya.

“Kau cemburu kan, hyung? Aku saja, kau mencintai Hyunah. Absolutely,” ujar Henry.

“You realize love when she doesn’t stay around you but still tease your own mind,” timpal Ryeowook lalu mereka berdua kembali ke teritorial mereka.

Aku terdiam, merenungkan kembali apa yang mereka sampaikan padaku.

….

Waktu sudah menunjukan pukul 22.00. Aku berdiri diambang pintu untuk mengubah papan open menjadi close. Sesaat aku terdiam disana, menanti kedatangan Hyunah. Sudah sebulan ini aku bertingkah seperti itu tapi hasilnya Hyunah tetap saja tak pernah datang, hari ini mungkin ia juga tak akan datang.

Aku membalik papan itu menjadi close lalu berjalan kembali menuju kasir untuk mengambil kunci cafe ini.

Tiba-tiba saja aku mendengar bel pintu cafe terbuka. Tepat saat aku berbalik, aku merasakan sebuah kehangatan menyeruak sekejur tubuhku. Kehangatan yang kurindukan. Kehangatan yang sama seperti saat ditaman dulu.

“Oppa, bogoshiposo,” ujar gadis yang sedang memelukku erat.

Rasa rindu yang membuncah dan kemunculannya yang tiba-tiba membuat otakku tak berfungsi dengan baik. Aku masih menyangka kalau ini adalah mimpi.

Hyunah melepaskan pelukannya dariku. Ia menengadah untuk menatap mataku. “Apa kau tahu oppa bagaimana aku tersiksanya tidak bertemu denganmu sebulan ini?”

Aku tahu. Aku tahu. Aku juga merasakan hal yang sama.

“Aku harus mengikuti pelajaran tambahan karena nilaiku sangat menurun semester ini. Mianhata,” ujarnya. Matanya sudah berair sekarang.

“Aku juga tak punya uang untuk membeli makanan disini, jadi aku harus menabung uang jajanku selama sebulan ini,” ujarnya lagi.

Setiap penjelasannya memberikan kelegaan padaku. Apa yang sudah kupikirkan selama ini salah. Ternyata ia masih mencintaiku.

“Aku juga..”

“Sudah cukup, aku sudah mengerti,” gumamku. Yang selanjutnya kulakukan adalah mengecup bibirnya. Sebuah hasrat yang selama ini terpendam, namun rasa rindu yang berlebihan seakan membangkitkan rasa itu.

“Mulai sekarang, jangan datang ke tempat ini sebagai seorang pembeli,” ujarku.

Hyunah mengeryitkan dahinya tanda ia tak mengerti dengan maksudku.

“Besok, minggu depan, bulan depan, dan seterusnya, datanglah ke tempat ini sebagai kekasih sekaligus pegawaiku. Kau tak harus membeli kue sebagai alasan untuku bertemu denganku. Bukankah ini simbiosis mutualisme? Kau bisa bersamaku sesukamu dan aku menginginkan kehadiranmu disampingku,” ujarku.

Hyunah menaikan alis sebelahnya. “Oppa, kalimatmu terlalu panjang. Aku belum begitu mengerti. Oppa baru saja mengajakku berpacaran?” tanyanya yang kujawab dengan anggukan.

“Kenapa sangat tidak romantis?” tanyanya. “Kenapa tidak ada kata ‘saranghae’ atau kalimat manis lainnya?” tanyanya.

“Aku bukan tipe pria yang mudah mengumbar kata penting seperti itu, Hyunah,” jawabku.

“Sekali saja, jebal,” pintanya dengan mata memelas. Kurasa caranya sangat jitu sampai-sampai ingin menolak pun aku tak tega.

Aku menghela nafas, menghilangkan debaran yang aku rasakan pertama kalinya dalam hidupku. “Hanya sekali,” ujarku mengingatkan.

Hyunah menatapku antusias. Secepat kilat aku kembai mengecup bibirnya. “Saranghae, Jung Hyunah,”

Kini aku percaya, takdir itu ternyata memang ada. Ia yang membawa Hyunah ketempat ini. Ia yang membuat kami bertemu. Ia yang membuat kami mengenal rasa ini. Ia yang membuat kami bersatu dalam sebuah ikatan yang disebut cinta.

“Nado saranghae Yesung oppa,”

 

END