“Kubilang berhenti mengikutiku!” Jaejoong berusaha menahan marahnya, tetapi yeoja ini sudah keterlaluan. Sejak dari gedung SM ia sudah terus mengikuti Jaejoong. Jaejoong tau seharusnya ia tidak bersikap kasar kepada seorang yeoja, apalagi dia adalah trainee di SM. Tapi ia paling tidak suka waktu privatnya di ganggu oleh fans.

“Tapi oppa,”

“Aku tidak suka diganggu saat waktu privatku! Kumohon kau pergi, sekarang!”

Mata yeoja itu mulai berkaca-kaca, “tapi oppa, maksudku bukan-“

Jaejoong menghentakkan kakinya, mendorong yeoja itu untuk menjauh darinya, namun entah mengapa yeoja itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

“Hati-hati! Kau tidak-“

“Dia tidak bermaksud mengikutimu, tau!” Teriak seseorang yang berlari dari arah lain dan mendorong Jaejoong hingga tersungkur.

“Kau! Apaan-apaan kau ini!”

“Kurasa harusnya aku yang bertanya kepadamu, sunbae,” Jaejoong bisa mendengar suara itu dengan jelas, panggilan sunbae berarti dia jg seorang trainee. “Harusnya kau bertanya dulu kepadanya sebelum kau mendorongnya!”

“Asal kau tau ya, aku tidak mendorongnya!”

“Ya, apalah itu alasanmu, tapi apa kau tau kalau dia adalah fans Kangin sunbae yang sejak tadi pergi bersama denganmu, huh?” ujar yeoja itu berapi-api.

Jaejoong hanya bisa terdiam, jadi dia ini fansnya Kangin? Bukan fansku?

“Mengapa diam, sunbae?” yeoja itu menatapnya dengan tajam. “Kau kaget karena kau salah memaki-maki orang, huh? Kau ini artis, aku juga tau kau butuh privasi setelah hampir semua waktumu tersita dengan segala kegiatanmu. Kau seharusnya sudah tau resiko itu sejak awal. Itu bukan salah fansmu jika mereka berusaha untuk mendekatimu, walaupun temanku ini sebenarnya bukanlah fansmu. Tapi-“

“Joongpaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!” Hyejin berteriak tepat di telinga Jaejoong.

“Ya! Hyejin-ah! Kau apa-apaan sih teriak teriak seperti itu?!”

“Harusnya aku yang protes! Kau kan di sini untuk menghiburku, tapi kenapa kau malah melamun sih, oppa?!”

“Eh, memangnya kenapa aku harus menghiburmu?” ujar Jaejoong polos.

“Kau ini! Ah, aku tidak mengerti mengapa aku bisa tahan berteman denganmu, Kim Jaejoong! Aku ini baru saja dikeluarkan oleh Tuan Lee Soo Man dari formasi F(x) dan kau malah melamun dan sekarang bertanya mengapa kau harus menghiburku?!”

“Hahahaha, kau memang betul-betul tidak harus aku hibur, anak manis,” Jaejoong memeluk Hyejin. “Coba lihat sekarang, kau bukannya bersedih malah memarahiku! Sudah kubilang kan kau tidak butuh aku hibur.”

“Ah, terserah kaulah!” Hyejin berdiri dan baru saja beranjak meninggalkan Jaejoong sendirian di rooftop gedung SM, namun Jaejoong menahannya.

“Kau tau mengapa aku tidak berusaha menghiburmu?”

Hyejin berbalik, “Karena kau itu menyebalkan Joongpa! Kau menyebalkan! Kau satu-satunya orang yang membuatku bisa marah-marah seperti ini!”

“Itu salah satu alasannya,” ujar Jaejoong tersenyum. “Aku tau kau, Song Hyejin.” Jaejoong berdiri dan menghampiri Hyejin. “Kau akan terus memendam segala penyesalan dan kemarahanmu. Kau bukan tipe orang yang bisa meledak-ledak. Karena itulah fungsiku, pemicumu untuk meledak, hahaha.”

Hyejin cemberut mendengarnya.

“Jangan cemberut seperti itu, ah. Nanti kalau kau tidak cantik lagi, lalu apa modalmu untuk menjadi artis terkenal?” canda Jaejoong.

“Kau kira aku hanya menjual tampang saja- mmhhpppp, mmhhhhppp!!!!!” Jaejoong menutup mulut Hyejin dengan tangannya.

“Kau ini memang tidak bisa dibecandai di saat seperti ini, cckcck. Dengarkan aku Hyejin. Aku tadi ke kamarmu bukan untuk menghiburmu, tapi untuk memberikan kabar untukmu.”

“Iiiihhh, apa?!” Hyejin melepaskan tangan Jajeoong dari mulutnya.

“Direktur Lee mengeluarkanmu dari F(x) karena satu hal,”

“Maksud oppa apa sih?”

“Super Girls.”

“Mwo?”

Jaejoong memandang yeoja yang sudah seperti adiknya sendiri dengan gemas. Rasanya Jaejoong ingin sekali memukul kepala Hyejin supaya ia tidak memasang tampang konyol seperti itu.

“SUPER GIRLS, Hyejin-ah!”

“Ihhhh, iya aku tau syupa syupa gil itu. Tapi itu apa? Mengapa sampai Direktur Lee harus mengeluarkanku dari F(x)?”

***

“Kau sudah makan?” Tanya Heechul mengetuk kepala MinAh.

“Aw, oppa! Sakit!” keluh MinAh mengelus kepalanya.

“:Kau melamun,” ujar Heechul menarik kertas yang sejak tadi di genggam MinAh. “Kau masih memikirkan soal ini lagi?”

MinAh mengangguk, “Aku sudah dewasa oppa, aku bisa menentukan jalan hidupku sendiri.”

“Kau labil,” ujar Heechul menarik MinAh untuk berdiri dan meninggalkan dormnya.

“Heh, apa oppa bilang? Aku tidak labil, tau!” seru MinAh memukul lengan Heechul.

“Hahahaha, tuh kan, sudah kubilang kau labil, dongsaeng.”

MinAh memasang tampang kesal, tapi dalam hati, entah mengapa ia selalu merasa tenang bersama Heechul, berbeda dengan saat ia bersama Leeteuk. Mungkin hanya Heechul satu-satunya alasan mengapa ia terus selalu goyah untuk keluar dari SM.

“Kau itu labil,” ujar Heechul merangkul MinAh, menuntunnya menuju cafetaria. “Coba, kalau kau tak labil, mana mungkin kau selama setahun terakhir ini selalu berubah-ubah pikiran untuk keluar dari SM. Atau jangan-jangan, kau belum sanggup meninggalkan aku, iya kan?”

MinAh memukul lengan Heechul sekali lagi, kali ini bukan karena oppa kesayangannya meledeknya dengan sebutan labil, tapi karena Heechul seperti biasa bisa membaca pikirannya.

“Bukan karena aku,”

“Eh?”

“Mungkin, di dalam sini,” Heechul memukul pelan kepala MinAh, “Kau berpikir kau tidak bisa meninggalkan SM karena aku, tapi sebenarnya kau hanya memanipulasi pikiranmu supaya kau tidak cemas dengan keadaan Jungsoo, kan?”

MinAh terdiam, apa iya? “Oppa, apa maksud-“

“Sicaaaa!!!!” seru Heechul tanpa menghiraukan MinAh. “Yaaa! Jessica!!!!”

“Oppa, tadi maksud oppa apa-“

“Huaaah, aku sudah lama tidak bertemu Sica. Loh? Dia mau kemana?” seru Heechul setengah berlari, MinAh terpaksa menyeimbangi langkah Heechul.

Inilah yang membuat MinAh sulit untuk keluar dari SM, Jessica Jung. MinAh tidak tau darimana awalnya ia tidak menyukai Jessica, namun yang ia tau, bukan ia yang pertama kali memulai perang dingin ini, Jessicalah yang memulainya. Dan hanya satu sumber persoalannya, satu-satunya oppa kesayangan MinAh, namja yang lebih MinAh anggap sebagai kakak dibandingkan Leeteuk, Kim Heechul.

“Hell-o, long time no see, MinAh-ssi,” terdengar sekali suara Jessica berubah tajam saat menyapanya, dibanding tadi ia dengan manja menyapa Chullie oppanya. Ada apa sih dengan yeoja ini? Aku kan tidak ada masalah apapun dengannya.

Namun, walaupun begitu Sica tetap saja sunbae di SM, mau tidak mau MinAh membungkukkan badannya, “Annyeong, Sica sunbae.” Ujar MinAh menetralkan suaranya.

“Tcih,” MinAh bisa mendengar suara menyebalkan Jessica, ia hampir saja ingin melabrak gadis blonde itu jika saya yeoja disampingnya tidak langsung memperingatkan Jessica.

“Unnie, behave!” bisik yeoja itu. MinAh menatapnya, yeoja sepertinya jauh lebih muda daripada dirinya. Trainee baru sepertinya. Yeoja itu tersenyum tulus kepadanya, akhirnya, ada seseorang di sekitar monster blonde itu yang berotak waras dan berperilaku sopan. MinAh pun membalas senyumannya.

‘Mungkin, suatu saat dia bisa jadi teman yang menyenangkan, yah jika saja ia menjauh dari monster Sica.’

***

“Aigoooo, unnie!” Jihyo menutup wajahnya saat melihat Jessica unnienya sibuk melobi petugas cafetaria agar memberikan Jihyo lebih banyak sayuran.

“Unnie! Gwenchana, gwenchana. Ayolah, masih banyak trainee yg mengantri di belakang!” Keluh Jihyo.

“Aish! Shut up!” Jessica memelototi dongsaengnya. “Kau ini rewel sekali sih! Kalau begini mana bisa kau mendapatkan makanan lebih!”

“Iiiihhh, makananku sudah cukup! Sudah sudah unnie, ayo! Gomawoyo ahjumma, maafkan tingkah laku Jessica unnie,” seru Jihyo menarik Jessica menuju salah satu meja.

“You!” Jessica menahan kesalnya. “Joanne! Look at me, aku sedang marah kepadamu! Kau ini! Where’s your manner?!”

“Hem?” Jihyo menghentikan suapan ke mulutnya. “Tadi kata unnie aku harus makan. Sekarang aku makan kau marah-marah.”

Jessica menatap Jihyo tidak percaya, “Kau ini! Duh, kau ini memang selalu saja bisa menjawab!”

“Aku kan punya mulut, unnie,” seru Jihyo.

“I know!” Jessica menekuk wajahnya.

Jihyo menahan tawanya melihat unnienya kesal, “Aigoo unnie. Jangan seperti itu! Iya iya, I’m so sowwwwrrry, ‘kay? Aku tau kau peduli kepadaku, tapi aku sudah cukup dengan makananku ini.”

“Tapi kau harus banyak makan sayur!”

“Unnie, aku bukan Krystal.”

Jessica terdiam mendengarnya. “Tapi kau perlu makanan yang bergizi,” suara Jessica melemah.

“Arra, arra,” Jihyo menghela napas, ia tau jika sudah ke topik ini akan panjang urusannya. “Aku janji aku akan makan yang banyak dan bergizi. Eh, ngomong ngomong, kenapa unnie ada di sini?”

“Memangnya tidak boleh?”

“Eh, tentu saja boleh! Maksudku, memangnya hari ini tidak ada schedule?”

“Oh itu, hari ini kami semua dipanggil oleh Direktur Lee untuk berkumpul.”

“Uhuk!” Jihyo tersedak. “Semua?”

“Iya semua. Memangnya ada apa sih?”

Raut wajah Jihyo berubah menjadi panik. “Kenapa unnie tidak bilang daritadi sih! Duh, kalau-“

“Sicaaaa!!!!” seru seorang namja menghentikan suara Jihyo. “Yaaa! Jessica!!!!”

Jessica dan Jihyo menoleh ke arah suara tersebut. “Oh, sh*t!”

“Why unnie? Itu bukannya, oh sh*t! Heechul sunbae!” Jihyo menutup mulutnya.

“Bukan Chullie oppa, tapi sebelahnya! Ayo cepat pergi dari sini!” Jessica menarik Jihyo untuk segera pergi, namun terlambat.

“Sica! Mau kemana?!” seru Heechul menahan tangan Jessica.

“Oppa!” seru Sica memeluk Heechul dengan erat. Jihyo hanya bengong melihat perubahan sikap unnienya.

“Hehehe, Sica,” Heechul melirik ke MinAh dan melepaskan pelukan Jessica. “Aku sudah lama tidak melihatmu! Sepertinya aku harus meminta Lee Soo Man-ssi untuk mengurangi jadwalmu.”

“Oppa~” ujar Sica dengan aegyonya. “Kau ini ada-ada saja, hihi.”

Jihyo benar-benar bengong melihat tingkah Jessica. Tadi dia marah-marah, lalu panik, sekarang dia bisa bertingkah aegyo seperti ini?!

“Hell-o, long time no see, MinAh-ssi,” suara Jessica berubah tajam.

MinAh membungkukkan badannya, “Annyeong, Sica sunbae.”

“Tcih,”

“Unnie, behave!” bisik Jihyo, Jessica terpaksa menyunggingkan senyumnya.

“I hate her,” bisik Jessica.

“She’s polite, actually,”

“Dramaaaa,” Sica memutar bola matanya.

“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Heechul menyela.

“Bukan apa-apa, oppa~” ujar Jessica menggelayut manja ke lengan Heechul sambil melirik tajam ke MinAh.

“Sica, dia siapa?” Tanya Heechul menunjuk Jihyo.

Jihyo melirik ke arah Jessica, kumohon unnie, jangan perkenalkan aku ke Heechul sunbae!

“Ah, ini Jihyo yang sering aku ceritakan ke oppa!” seru Jessica.

Kau gila, unnie!, umpat Jihyo. “Annyeong haseyo, Heechul sunbae. Jihyo imnida,” Jihyo membungkukkan badannya sambil tersenyum, namun Heechul hanya berdiri diam.

“Siapa namamu tadi?”

“Jihyo, sunbae.”

“Nama keluargamu?”

Jihyo melirik ke arah Jessica. Jessica hanya bisa menggeleng menyuruh Jihyo tidak menjawab.

“Apa nama keluargamu?!” seru Heechul.

“Eh, hemmm,” Jihyo tak berani menatap Heechul. Jihyo sudah pernah bertemu – dahulu saat awal kemunculan Super Junior- dengan Heechul, sebagai adik Choi Siwon, namun entah apakah Heechul ingat atau tidak.

“Sepertinya aku pernah melihatmu, tapi dimana ya?”

“Eh, iya sunbae?!” jawab Jihyo gelagapan.

“Ah, jadi siapa nama keluargamu?” ujar Heechul tidak sabar.

“Oppa, sebenarnya Jihyo ini-“

“Song, Song Jihyo, sunbae,” sela Jihyo.

“Song Jihyo?” Tanya Heechul. “Kau yakin?”

“Ne.”

***

“Kau jangan macam-macam!” ancam Yonghwa kepada adik semata wayangnya yang sejak tadi hanya bisa menekuk wajahnya kesal.

“Siapa yang mau macam-macam sih?” seru HyunAh kesal. Sejak kejadian Yonghwa meremukkan kertas surat panggilan SM untuknya, kedua anak kembar itu hanya bicara seperlunya saja, hingga saat ini, saat Yonghwa harus kembali ke Jepang.

“Ya! Kau ini dinasihati juga!” balas Yonghwa. Kedua Jung bersaudara ini sudah siap-siap melancarkan perang lagi sebelum Nyonya Jung bergegas turun tangan.

“Kalian berdua ini! Ini bandara!” ujar Nyonya Jung tegas memisahkan si kembar.

HyunAh mendengus kesal, ia mundur menjauh hingga Yonghwa harus menariknya ke dalam pelukannya.

“Iiiih, lepaskan aku!” keluh HyunAh berusaha melepaskan pelukan Yonghwa.

“Dengar Hyun,” Yonghwa mempererat pelukannya. “Kumohon, jangan macam-macam di sana.. Jangan berusaha untuk mendekatinya,” ucap Yonghwa setengah berbisik. “Jika ini impianmu, wujudkanlah, tapi kumohon jangan berurusan dengan dia.”

HyunAh terdiam, ia membalas pelukan Yonghwa, “Aku janji, Yong. Aku tidak akan mencari masalah di sana. Aku akan membanggakan kau, eomma, appa, dan haelmoni.”

Yonghwa melepaskan pelukannya, mengelus kepala dongsaengnya. “Nah, begitu dong! Itu baru kembaranku!”

Mereka berdua tertawa bersamaan. Nyonya Jung hanya bisa menggeleng melihat tingkah kedua anak kembarnya yang bisa berubah 180 derajat dalam hitungan detik.

“Nah, baiklah! Aku harus segera naik ke pesawat! Eomma, aku berangkat dulu!” seru Yonghwa memeluk Nyonya Jung dengan cepat dan mengecup pipi eommanya.

“Nah, kau juga jaga diri! Aku sudah menyuruh Joon untuk mengawasimu, hehe,”

“Loh, Joon kan sedang di training?”

“Tenang, dia pintar mengatur jadwal untuk bertemu dengan dirimu, apalagi aku tidak ada, huh,” keluh Yonghwa. “Yasudah, aku pergi dulu yaah!” ujar Yonghwa berlari menuju pintu masuk.

HyunAh melambaikan tangannya dengan cepat hingga ia menyadari sebuah tas tergeletak di lantai. “Lho, eomma, ini bukannya milik oppa?”

“Ah, iya benar, Hyun. Ini bekal untuk semua member CN Blue! Aish, Yonghwa, kenapa dia pelupa begitu?” keluh Nyonya Jung.

“Aih Yooong! Menyusahkan!” HyunAh berlari mengejar Yong, berharap Yong belum masuk ke dalam pesawat. Namun, saking ia terbur-buru, HyunAh tidak memperhatikan banyaknya penumpang yang berjalan melawan arah dengannya.

Bruk!

HyunAh jatuh terjungkal menabrak seseorang, ia ingin sekali segera bangun, namun entah mengapa kaki kanannya terasa sakit sekali. ‘Oh tidak, jangan kambuh sekarang!’ keluh HyunAh.

“Are you okay?” seru namja yang menabrak HyunAh mengulurkan tangannya kepada HyunAh. HyunAh segera meraihnya dan berusaha berdiri., Ia merasakan kaki kanannya berdenyut kesakitan.

“Hurt?” tanya namja itu. HyunAh mengangguk sambil memperhatikan wajah penabraknya. Chinese? Namja ini Chinese?Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana ya?

“I’m sorry. Should I take you to somewhere? Where do you wanna go?” seru namja itu merasa bersalah.

“Kau, kau ini Henry Lau?”

***

“Hamun terlihat senang sekali, yeobo. Aku tidak tega,” ujar Nyonya Kang menutup rapat pintu kamarnya, tidak ingin putri semata wayangnya mendengar obrolan ini.

“Menurutku ia seharusnya mendahulukan pendidikannya. Ia anak yang cerdas, yeobo. Dan aku ingin dia menjadi dokter, seperti Ha-Ryong,” ujar Tuan Kang menghela napas.

“Yeobo,” Nyonya Kang mengelus punggung suaminya. “Ha-Ryong sudah meninggal bahkan sebelum Hamun lahir. Kurasa sudah saatnya kita merelakan Ha-Ryong. Itu kan impian Ha-Ryong, bukan Hamun.”

Tuan Kang terdiam, pikirannya melayang ke almarhum putera pertamanya, Kang Ha-Ryong, yang meninggal di usianya yang sangat muda,  18 tahun, tepat setahun sebelum Hamun lahir. Ia seharusnya bisa melihat anak lelakinya di wisuda menjadi seorang dokter muda, bahkan mungkin sekarang sudah menjadi dokter spesialis.

“Bisakah kita mengizinkan Hamun, yeobo? Kumohon,” ujar Nyonya Kang.

Tuan Kang menghela napas sekali lagi, di dalam hati kecilnya, ia juga merasa kurang tepat jika ia memaksakan impian Ha-Ryong ke Hamun, bahkan Hamun tidak tau siapa Ha-Ryong.

“Baiklah, hanya jika Hamun bisa lolos training dan menjadi artis, itu pun sebelum ia berumur 18 tahun. Jika tidak, ia harus melanjutkan kuliahnya sebagai dokter. Selain itu, ia tidak boleh putus sekolah.”

Nyonya Kang tersenyum, “Aku yakin jika kau mau menyampaikan keputusanmu itu langsung kepada Hamun, pasti ia akan senang.”

Ting tong!

Tuan dan Nyonya Kang mendengar derap langkah Hamun yang sedikit berlari dari kamarnya. Mereka berdua yang semapt bingung siapa tamu yang berkunjung malam-malam begini langsung tersenyum begitu mendengar langkah Hamun.

“Minnie pasti baru di telp Hamun,” ujar Nyonya Kang merebahkan diri di ranjangnya.

“Minnie!” sayup-sayup suara Hamun terdengar.

“Hamuuuuuuuun!!! Cepat bukakan pintu, aku kedinginan,” seru Sungmin memeluk tubuhnya sendiri. Ia merutuki dirinya sendiri yang hanya memakai piyama dan sandal kamarnya datang ke rumah Hamun. Yah, memang rumahnya hanya berselang 3 rumah dari rumah Hamun, tapi tetap saja jam 9 malam seperti ini udaranya menusuk.

“Aigooo, Minnie! Ayo cepat masuk, nanti kau sakit!” seru Hamun menarik sahabatnya masuk ke rumah dan menariknya ke ruang tamu. “Wah, kau kenapa tidak pakai jaket?”

“Kau yang menyuruhku untuk segera datang ke sini! Mana aku sempat mengambil jaket?” keluh Sungmin. “Nah, jadi apa kau ceritakan itu benar? Kau akan jadi trainee di SM?”

Hamun mengangguk cepat dan segera menyodorkan surat dari SM.

“Wooaaaaah!” Sungmin menganga melihatnya. “Kau keren, Hamun!” seru Sungmin memukul lengan Hamun.

“Aaaaah, sakit Minnie!” ringis Hamun. Sungmin hanya bisa terkikik geli.

“Huuuh, tapi kalau kau jadi trainee, nanti aku pasti akan susah bertemu denganmu,” Sungmin menaikkan kakinya ke atas sofa dan segera memeluk kakinya.

“Jangan begitu, Minnie,” Hamun menepuk pundak Sungmin. “Eh, mengapa kau tidak jadi trainee saja? Dengan begitu kita akan sering bermain bersama? Iya kan? Lagipula suaramu kan lebih bagus daripada aku.”

Minnie mengangguk cepat, “Ah, benar juga! Aku akan mencoba daftar ke SM, hihihi. Ah, aku baru ingat, Siwon hyung kan di sana!”

“Eh? Maksudmu Choi Siwon?” tanya Hamun bingung.

“Ne. Bukankah aku pernah cerita padamu sepupuku Siwon hyung anggota Super Junior?”

Hamun hanya bisa mengangguk. Choi Siwon ya? Memangnya trainee bisa bertemu dengan artis seperti Choi Siwon?