Judul                     : Sorry, I Love You

Author                  : Gie KyuLova

Rating                   : PG 15+

Length                  : Series

Genre.                  : Romance, Sad

Main Cast            : Kim HaNa, Lee Donghae, Im Yoona, Cho Kyuhyun

Disclaimer           : Semua casts milik Tuhan’Nya masing”

Notes                    : Inspirasi terbesar FF ini ad. My EviL Prince ‘KYU’.

Pernah dipublish di http://readfanfiction.wordpress.com/

Plizzzz..yang udah baca comment yah..^_^

*****

Jangan menangis. Kau tak sendiri, aku kan selalu menjagamu. Senantiasa menghibur dan menemani di saat kau sedih, bahagia maupun kesepian. Aku berjanji… (Lee Donghae)

————————–

Wake up..wake up..wake up!!!

Suara jam weker berbentuk keroro terdengar nyaring dalam kamar seorang gadis yang masih terlelap. Lalu perlahan gadis itu menggeliat, dan dengan malas tangannya menggapai sesuatu di samping tempat tidurnya. Kaca mata. Segera gadis itu memakainya, lalu ia melirik jam keroro yang berada tak jauh darinya. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya sesaat. Saat otak dan raganya telah menyatu, matanya membulat.

“Aigoooooooo….aku terlambat!”teriaknya. Tanpa komando, segera ia menyerbu kamar mandi untuk segera bersiap ke sekolah.

*****

Kim Hana’s POV

Ring ding dong..ring ding dong..

“Yeoboseo”jawabku sambil mengenakan kaus kaki dengan terburu-buru.

“Hei..babo! kau dimana?”teriak seorang namza dari ujung sana. Suara yang amat sangat kukenal. Aku segera menjauhkan ponsel itu dari telingaku.

“Kyaaa..oppa tidak perlu teriak. Aku bisa tuli tau!”jawabku ketus.

“Kau pasti terlambat bangun lagi. Pentas Seni akan segera dimulai, apa kau tidak ingin melihat penampilanku yang memukau. Hah?”

“Jiaahhh..oppa narsis.”cibirku.

“Ayo cepat berangkat. Atau kau tidak akan mendengar suara merduku.”ancamnya membuatku ingin tertawa.

“Iya..iya aku berangkat kok sekarang.”ucapku sambil membetulkan letak kacamataku.

“Oyah, kau sudah makan belum?”

“Belum oppa..”keluhku sembari memegang perut yang keroncongan. “Aku tidak sempat membuat sarapan”lanjutku lagi.

“Aisshh kau ini, selalu saja begitu! Yasudah nanti kau kubelikan roti. Cepat berangkat, nanti kau ketinggalan bis!”

“Ne, oppa. Gomawo”ucapku manja mengakhiri percakapan kami.

Tanpa sadar sejak tadi mulutku terus menyunggingkan senyuman. Kyaaaaa..Kim HaNa kenapa kau terus tersenyum, toh namja itu juga tidak akan bisa melihat senyummu yang manis ini. Tapi bagaimana lagi, aku kan memang menyukainya. Telah lama aku menyimpan perasaan ini, sejak kami sama-sama masih kecil tepatnya. Cinta monyet??? Aku tidak yakin, yang jelas aku sudah bertahun-tahun menyimpan perasaan ini. Saat bersamanya aku selalu merasakan geletar aneh dan debaran jantungku jadi tak menentu. Dia juga sering hadir dalam mimpi dan pikiran-pikiranku, membuatku malas untuk makan dan minum. Awalnya aku merasa aneh dengan sikapku ini. Tapi perlahan aku menyadari kalau rasa inilah yang disebut ‘cinta’. Ne..I’m falling in love..and he is my first love. ^_^

Uppss..saking asyiknya memikirkan namja itu, aku hampir lupa kalau aku sudah terlambat padahal jarum jam terus berdetak tanpa jeda. Akupun mengedarkan pandanganku ke sekeliling rumah, memastikan tak ada barang yang tertinggal. Lalu tatapan mataku terhenti tepat disebuah bingkai foto yang ada di dinding. Foto itu menunjukan sepasang suami istri yang tengah tersenyum seraya memeluk hangat putri kecilnya.

“Umma, appa..aku pergi dulu. Hari ini aku akan menyatakan perasaan ku pada oppa. Dan umma tau? Aku sudah menyiapkan sebuah kado untuknya. Aku sudah begadang tiap malam untuk membuat syal itu. Kuharap dia akan suka. Umma dan appa doakan aku, yah?”aku tersenyum riang menatap foto kedua orang tuaku yang telah berada di surga.

Sesaat kemudian, mataku beralih pada foto ku dan seorang namza yang ada di sebuah lemari kaca. Senyumku langsung mengembang.

“Hey..Lee Donghae, Tunggu, aku segera datang. Saranghae!”ucapku sebelum beranjak pergi.

Aku tertawa dalam hati. Otakku benar-benar kacau karena namja itu.

*****

Lee Dongahe’s POV

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling lapangan tempat diadakannya pentas seni sekolahku. Tapi para siswa begitu padat memenuhi tempat ini, jadi sulit sekali menemukan orang yang kucari. Ya, hari ini sekolahku, Kirin Art School memang mengadakan perayaan kelulusan anak didiknya. Kami membuat panggung yang cukup besar di lapangan. Pentas Seni pasti akan berlangsung meriah karena para murid telah menyiapkan penampilan seni mereka jauh-jauh hari, baik itu dalam bidang menyanyi, tari, drama dan sebagainya.

Oyah, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Lee Donghae, 17 tahun. Aku lulus tahun ini, dan setelah lulus aku masih bingung untuk melanjutkan kuliah atau bekerja karena terus terang saja, ada satu management yang menawariku untuk menjadi seorang penyanyi. Hmm..sebenarnya tidak ada salahnya jika aku mengambil kesempatan itu. Apalagi suaraku memang sangat merdu (*narsis mode on), banyak yeoja disekolah yang tergila-gila padaku. Karena selain bersuara indah aku juga tampan. (*weekz..bagi yg mau muntah silahkan! Haha:-D)

Sebenarnya menjelang kelulusanku ini, aku juga merasa sedih. Karena selain harus meninggalkan sekolah, aku juga harus pergi meninggalkan sahabat, dan juga seorang yoeja yang amat aku cintai. Ngomong-ngomong kemana sih gadis itu, membuatku gila saja. Mataku terus berkelana mencari sosok seorang gadis yang hampir tiap malam menghiasi mimpiku.

Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundakku. Aku berbalik seketika.

“Hei, oppa”sapa Hana ceria.

“Kyaa…baboo, darimana saja kau!”aku mengacak-acak rambutnya kesal.

“Hehe..”gadis itu hanya terkekeh dan membetulkan letak kacamatanya. Kim HaNa, gadis itu sebenarnya cantik, tapi kacamata tebal yang dikenakannya, menutupi pesona yang ia miliki. Tapi itu lebih baik, jadi aku tidak perlu sibuk mengusir namja-namja playboy yang akan banyak mendekatinya.

“Kapan oppa tampil?”tanyanya antusias. “Hmm, tidak lama lagi.”jawabku singkat sambil menggosok-gosok tanganku yang tiba-tiba berkeringat.

“Oppa kenapa?”

“Gwenchana”

“Bohong! Oppa kelihatan gugup. Tapi kenapa,? Tidak mungkin oppa gugup karena akan bernyanyi di atas panggung? Oppa kan sudah terbiasa.”Hana menaruh telunjuk di kepalanya seperti memikirkan sesuatu. “Apa oppa menyembunyikan sesuatu?”tanyanya lagi.

“Heh, sudah kubilang aku tidak apa-apa. Jangan tanya-tanya!”ujarku sambil mencubit kedua pipinya yang menggemaskan.

“Ahh..appo!”Hana mengelus-ngelus kedua pipinya.

“Oyah, kau belum makan bukan?” HaNa hanya mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya. Segera aku merogoh tas ranselku, kuambil 2 buah roti isi coklat kesukaan gadis itu dan sebotol air mineral. “Ini, habiskan!”ucapku seraya menaruh roti itu di tangannya. Hana menerimanya dengan wajah bahagia. Melihat dia tersenyum seperti itu, aku merasa sangat damai.

“Donghae, kemari!”terdengar suara Hongki dari belakang panggung. Kulihat dia melambai-lambaikan tangannya padaku, agar segera menghampirinya.

“HaNa..aku kesana dulu ya. Jangan lupa habiskan rotimu, badanmu itu sudah sangat kurus tau!”jelasku padanya.

“Oppa tunggu!”

“Apalagi?”kulihat HaNa menunduk dan wajahnya merona merah. “Nanti setelah oppa selesai menyanyi, temui aku di ruang tari ya. Ada sesuatu yang akan kuberikan.”

“Geure? Apakah hadiah?”tanyaku antusias. “Iih, oppa maunya. Sudah sana, nanti juga oppa tahu.”ujar Hana sambil mendorongku pergi.

“Eh aku lupa!”aku kembali melangkah mendekati HaNa. “Kenapa lagi, oppa?”tanyanya bingung.

“Doakan aku ya!”aku menggenggam tangannya erat. “Untuk apa?”tanya HaNa, keningnya berkerut. “Aku akan melakukan sesuatu yang spesial di atas panggung. Kau harus mendoakan agar aku berhasil ya!”

“Melakukan apa, oppa?”

“Nanti juga kau tahu!”jawabku singkat sambil mengedipkan sebelah mata padanya.

*****

Author’s POV

Suasana pentas seni di Kirin Art School berlangsung meriah. Semua siswa-siswi berkumpul dan menonton acara itu dengan penuh antusias. Mereka berteriak-teriak dengan hebohnya, mendukung setiap penampil di atas panggung. Sekolah ini memang terdepan dalam melahirkan anak didik yang berkualitas seni tinggi. Tidak heran, banyak manajement yang merekrut artis-artisnya dari sekolah ini, karena selain berbakat sejak awal, para murid Kirin pasti diasah sebaik mungkin dalam pendidikan seni yang mereka pilih.

“Aaaaaaaa…”terdengar riuh teriakan para penonton yang tengah menyaksikan pertunjukan. Ternyata penampil selanjutnya adalah band FT Island, yang dipimpin oleh seorang vokalisnya yang tampan dan bersuara merdu, Lee Donghae (*pletak..dijitak Hongki!).

Beberapa saat kemudian, dua buah lagu’pun mengalun indah dari suara Donghae. Lagu itu berhasil menghipnotis hampir seluruh penonton untuk ikut bernyanyi. Beberapa meter dari panggung, seorang gadis berkacamata tampak menyaksikan dengan mata berkaca-kaca. Dua buah roti di tangannya, belum ia sentuh sama sekali. Matanya tak berkedip dan sejak tadi terus berkonsentrasi menyaksikan penampilan Lee Donghae. “Oppa, saranghae”gumam gadis itu lirih.

Flashback

Seorang gadis kecil tampak menangis didepan nisan kedua orangtuanya. Tangan kecilnya memeluk erat foto dua orang yang namanya tertera di batu nisan itu. Sejak kemarin gadis itu tidak berhenti meneteskan air mata. Wajahnnya tampak pucat dan matanya sembab.

Kecelakaan tragis di jalan raya telah merenggut nyawa kedua orangtuanya. Pedih dan sakit, hanya itu yang mampu ia rasakan sekarang. Ia merasa benar-benar hancur, terlebih setelah kepergian orangtuanya, gadis itu tidak punya siapa-siapa lagi. Dia merasa benar-benar sendirian, dan takut menghadapi masa depan.

“Hana-ya…”sebuah suara terdengar lirih memanggil nama gadis itu. Hana menoleh, matanya menatap Donghae yang kini ikut berdiri di sampingnya.

“Oppa..”ucapnya sambil terisak. Bahunya berguncang.

“Gwenchana..” Donghae memeluknya erat. Ia mengelus punggung gadis itu, membiarkannya menumpahkan segala kesedihan.

Selama beberapa saat keduanya berpelukan dalam sepi, tak ada satupun yang bersuara. Hanya isakan tangis dan suara semilir angin yang menyertai kelamnya senja sore itu.

“Hana..” Donghae melonggarkan pelukannya. Kedua tangannya memegang bahu Hana, sedangkan sorot matanya memandang hangat gadis yang begitu di sayanginya. “Jangan menangis lagi. Kau tidak perlu takut. Kau tidak sendiri. Ada aku di sini, aku akan selalu menjagamu. Menemani di saat kapanpun kau membutuhkanku.”sorot matanya terus berusaha meyakinkan gadis itu. Tangannya perlahan menghapus air mata di pipi Hana.

Hana hanya terdiam, lalu mengangguk kecil. Ia percaya, Donghae akan membuktikan ucapannya.

Flashback end

Akhirnya penampilan memukau FT Island selesai. Menyadarkan Hana dari lamunannya. Semua yang menyaksikan penampilan mereka, bertepuk tangan puas. Tapi saat seharusnya band yang lain maju ke atas panggung, Donghae malah tampak membisikkan sesuatu pada MC, yang lalu dijawab anggukan MC bernama Yosoeb itu.

Dengan wajah sedikit tegang, Donghae kembali maju ke depan panggung seraya membawa gitar. Ia tampak menghela nafas sejenak sebelum membuka suara. Tangannya bergetar saat memegang microphone. Sementara teman-teman satu sekolahnya hanya mengerutkan kening, tak mengerti akan apa yang dilakukan namja itu.

“Mianhe..”satu kata keluar dar mulutnya. “Maaf, sudah membuat kalian semua terkejut. Ada satu hal yang ingin aku lakukan sekarang.” Donghae menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. “Mmm..aku ingin menyatakan cintaku pada seorang gadis.”

“Kyaaaaa….”ucapannya yang terakhir mendapat teriakan heboh dari murid-murid perempuan.

“Sebenarnya..sudah lama aku menyukai seorang gadis. Dan aku memutuskan untuk menyatakan cintaku, saat ini, di panggung ini.”jelasnya.

HaNa yang sejak tadi berdiri menonton, merasakan debaran hebat di dadanya.

“Tapi sebelumnya, aku akan menyanyikan sebuah lagu untuknya. Lagu ini sudah lama kuciptakan. Dan kupersembahakan untuk gadis itu. Semoga ia suka.”ucapnya sambil tersenyum manis. Senyum yang bisa membuat setiap wanita bertekuk lutut di hadapannya.

Sesaat kemudian, Donghae mulai memetik gitarnya. Suaranya mengalun indah di iringi petikan gitar.

I’ve watched over you
Over all your loves and your long breakups
If you’re always going to get hurt, it’s better to be with me
Look clearly- I just don’t like it when you cry
It hurts me to see you in pain

**Be mine, I will love you
I will worry about you
I will take responsibility for you till the end
Be mine, you know me
You’ve seen me for all this time
I will protect you till the end

All those tear drenched memories-
I hope they will all die within my embrace
Even if I hear you softly swallowing your tears
with your broken heart, I will hide it

You are overflowing, as you’ve always been to me
As your scars increase, my love for you increases
Please come to me, cuz I love your smile
cuz I want to make you comfortable
At least for me to you

(*kutipan lagu Be Mine-Infinite)

Syair yang begitu romantis, dinyanyikan Donghae dengan menakjubkan. Semua mata tertuju padanya, beberapa diantaranya bahkan menahan nafas karena pesona yang dimiliki namja itu.

Setelah selesai menyanyikan lagunya, Donghae terdiam sejenak. Tangan kanannya mengambil sekuntum mawar merah yang tersembunyi di balik jaket. Dan tiba-tiba dia langsung meloncat turun dari panggung.

“Happ..”Donghae kemudian melangkah ke barisan penonton paling belakang.

Hana yang berada di sana, menahan nafasnya. Jantungnya semakin cepat berdetak. Berbagai hal berkecamuk dikepalanya, membayangkan apa yang akan namja itu lakukan. Semakin lama, Donghae semakin dekat dengan posisinya berdiri. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti, tepat di depan seorang gadis cantik dan populer di sekolahnya, Im Yoona.

Mendadak dada Hana terasa sesak, saat dilihatnya Donghae berlutut di hadapan Yoona. Mawar merah yang digenggamnya, disodorkan pada gadis itu.

“Sebenarnya, sudah lama aku ingin menyatakan perasaanku padamu. Saranghae..Im Yoona. Maukah kau menjadi yojachingu’ku?”

Degg…jantung Hana seakan berhenti berdetak. Dadanya sesak. Bibirnya bergetar. Tubuhnya kaku tak bisa digerakkan.

“Apa oppa bersungguh-sungguh?”tanya Yoona dengan suara lembutnya.

“Ne, Saranghae Yoona. Jeongmal saranghae”yakin Donghae seraya menatap gadis itu. Terlihat sekali bahwa Donghae amat mencintainya.

Sementara itu, sekuat tenaga Hana menahan air matanya agar tak jatuh, tapi pertahanannya sia-sia saat beberapa detik kemudian Yoona menerima bunga pemberian Donghae dan memberikan jawabannya.

“Nado saranghae, oppa.”jawab Yoona yang disambut dengan pelukan hangat Donghae.

Hana yang menyaksikannya hanya mampu meneteskan air mata. Untunglah kacamata yang ia kenakan mampu menutupi butiran bening yang tak mampu ia tahan itu. Sejak tadi ia sudah ingin beranjak dari sana, tapi anehnya kakinya seperti tertancap paku besar. Sulit untuk digerakkan.

Akhirnya Hana tersadar saat riuh murid-murid yang menonton, bertepuk tangan merayakan hari jadi pasangan serasi itu. Beberapa dari mereka tampak memberikan selamat pada Donghae dan Yoona. Benar, mereka memang pasangan serasi. Cantik dan tampan, keduanya juga sama-sama memiliki suara merdu yang mampu memikat hati siapa saja yang mendengarnya.

Hana dapat melihat Donghae yang melirik dan tersenyum padanya. Dengan sisa kekuatannya, Hana memberikan senyuman kecil pada namja itu. Lalu sesaat kemudian, dia pun berbalik, dan melangkah dengan berat meninggalkan sekolahnya.

“Tuhan..kumohon. Aku harap ini mimpi..ini hanya mimpi..”batin gadis itu seraya menghapus air matanya.

****

Hana’s POV

Ring Ding Dong..Ring Ding Dong…

Aku terbangun saat kudengar ponselku berdering. Entah sejak kapan aku tertidur, semenjak pulang sekolah tadi aku tak henti-hentinya menangis. Air mataku terus mengalir walau sekuat apapun aku menahannya. Hatiku benar-benar sakit mengingat kejadian tadi siang. Rasanya seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Dadaku pun sesak seakan terhimpit oleh sesuatu yang luar biasa beratnya.

Kulihat nama yang tertera di layar ponselku. “Oppa…”gumamku lirih.

Maaf oppa…saat ini aku belum bisa berbicara denganmu. Aku tidak sanggup melihat ekspresi itu, ekspresi penuh cinta saat kau memandang Yoona. Hatiku sakit setiap kali membayangkannya.

Tuhan, kenapa aku begitu bodoh. Kenapa aku tidak menyadari sejak awal kalau oppa menyukai Yoona. Yoona adalah salah satu siswi terpopuler di sekolahku, selain dia cantik, dia juga memiliki prestasi yang mengagumkan. Dia beberapa kali memenangkan kontes-kontes menyanyi dan dance. Bakat seni’nya membuatnya menjadi sorotan. Yang kutahu, Donghae oppa memang seringkali terlibat kegiatan seni dengan Yoona. Tapi aku benar-benar tidak tahu, kalau ternyata selama ini oppa menyimpan perasaan lebih padanya. Betapa bodohnya aku.

Ting nong…

Kulihat jam dinding menunjukan pukul 8 malam. Aku menghentikan lamunanku dan beranjak keluar kamar saat kudengar bell pintu berbunyi. Dengan seragam sekolah yang belum sempat kuganti, segera kubuka pintu rumah.

“Oppa..”ucapku pelan saat melihatnya berdiri di balik pintu.

“Hanaaaaaa….kau darimana saja? Aku mencarimu sejak tadi. Kenapa kau tidak mengangkat telponmu?”wajah Donghae oppa terlihat cemas. Aku menunduk, tak sanggup menatap matanya.

“Apa yang terjadi denganmu? Apa kau sakit?”Donghae oppa melangkah masuk. Tangannya menyentuh keningku. “Kau demam?”tanyanya lagi. Aku hanya menggeleng pelan, lalu duduk di sofa.

“Maaf aku tidak mengangkat telponmu? Tadi kepalaku pusing, jadi aku tertidur.”jelasku tanpa memandangnya.

“Kau sakit ya? Sudah makan belum?”tanya Donghae oppa seraya duduk di sampingku.  Perhatian seperti yang kau lakukan inilah, yang membuatku jatuh cinta padamu oppa. Tapi kenapa kau harus mencintai Yoona. Apa aku sangat tak pantas untuk seorang Lee Donghae. Mataku terasa panas.

“Oppa..”aku menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan ucapanku. “Sejak kapan oppa menyukai Yoona?”tanyaku sambil menunduk.

“Ahh itu. Sebenarnya…”

“Kenapa oppa tidak pernah cerita padaku?”potongku.

“Hana..”

“Apa oppa masih akan tetap menyanyangiku?”tenggorokanku tercekat saat menanyakan ini. Aku takut, takut akan kehilanganmu oppa.

“Hana’ya..apa yang kau bicarakan? Tentu saja aku akan selalu menyayangimu. Aku kan sudah berjanji untuk selalu menjagamu. Kau tetap adiku yang paling manis, kau malaikat dalam hidupku. Dan sampai kapanpun aku akan selalu di sampingmu.”jelas Donghae oppa seraya mengelus lembut puncak kepalaku.

“Benarkah oppa?”kali ini aku mencari kejujuran di matanya.

“Tentu saja. Kau akan selalu menjadi adik yang paling kusayangi.”jawabnya seraya memelukku.

Aku tersenyum mendengar ucapannya. Walau didalam hatiku menangis. Ternyata kau hanya menganggapku sebagai adikmu oppa, tak lebih. Dan mulai sekarang, apakah aku benar-benar harus menganggapmu sebagai kakakku? Aku tak tahu, apakah aku mampu melakukannya atau tidak…

-TBC-