Judul               : Sorry, I Love You

Author             : Gie KyuLova

Rating             : PG 15+

Length             : Series

Genre.             : Romance, Sad

Main Casts      : Kim HaNa (as reader), Cho Kyuhyun

Support Casts  : Cho AhRa, Super Junior Members

Disclaimer       : Semua casts milik Tuhan’Nya masing”

****: This fanfic is pure, my made..and d’biggest inspiration is my precious Evil Prince^_^

****: Pernah dipublish di http://readfanfiction.wordpress.com/

_______

Kita pasti sering mendengar istilah bahwa cinta tidak harus memiliki. Ataupun membaca dalam novel bahwa yang dinamakan cinta adalah melihat orang yang kita cintai bahagia.  Tapi yang kurasakan, cinta itu membuatku sakit. Seharusnya aku tak jatuh cinta sejak awal….(Kim HaNa)

****

HaNa’s POV

Empat tahun kemudian.

Hai..aku…Kim HaNa kembali.J Kini aku bukan lagi gadis cengeng, yang akan menangis karena cinta. Aku sekarang sudah tumbuh menjadi gadis dewasa dan mandiri. Dan soal kisahku yang dulu itu? Hmmm…anggap saja bumbu dalam hidup. Ckckck..sok dewasa! Bukan begitu. Sebenarnya aku juga sedang belajar. *???. Belajar untuk melihat orang yang aku cintai bahagia, walau tanpa memilikinya.

Dan…ternyata sangat sulit. Sudah empat tahun berlalu, tapi aku belum bisa menghapus nama itu dari tempat terdalam di hatiku. Tapi aku berjuang kuat untuk melakukannya, setidaknya aku sudah berusaha. Dan usahaku ini dimulai dengan menjauhinya. Hmm..sebenarnya sudah empat tahun ini, aku memutuskan untuk menghilang dari kehidupan Donghae oppa. Karena sejujurnya aku masih belum sanggup melihat senyum dan tatapannya yang kini dimiliki oleh Yoona. Im Yoona, gadis yang selalu membuatku iri. Kenapa dia begitu sempurna, hingga setiap mata selalu menatapnya kagum, begitupun aku. Dia berasal dari keluarga terpandang; cantik dan berbakat, nyaris tanpa cela.

Sedangkan aku? Hanyalah gadis sederhana yang sudah tidak punya kedua orangtua. Aishh HaNa, babo! Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Merasa bersalah karena sudah meratapi hidupku sendiri. Maaf Tuhan, aku tidak bermaksud menyalahkanmu. Aku bersyukur dengan hidupku. Setidaknya Tuhan memberiku kesempatan untuk mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtua yang sangat mencintaiku. Aku tidak menyesal dengan takdir hidupku, karena aku yakin Tuhan pasti telah menuliskan skenario terbaiknya untukku. Aku hanya tinggal menjalaninya semampuku. Dan kurasa aku sudah melakukannya dengan cukup baik, hingga sekarang usiaku menginjak 20 tahun.

Hidup sendiri, tanpa sadar membuatku tumbuh jadi pribadi yang mandiri dan tertutup. Aku tidak punya sahabat dekat, dan jarang menceritakan hal-hal pribadi pada temanku. Terlebih sejak aku kehilangan Donghae oppa, aku merasa tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa memahamiku. Entah sudah sebanyak apa aku menangis mengingat oppa’ku. Tapi pada akhirnya aku mampu bangkit. Aku sadar kalau aku sudah tidak memiliki dada yang hangat yang akan senantiasa memelukku saat aku rapuh, ataupun tangan lembut yang akan menghapus air mata di pipiku. Aku takkan pernah mendapatkannya lagi. Dan kini, aku akan fokus pada hidupku sendiri.

Oyah, sekarang aku sudah bekerja. Tepatnya aku bekerja sambil kuliah. Aku kuliah di Seoul Art University mengambil jurusan Sastra. Aku hanya kuliah selama akhir pekan, sedangkan haru-hari lainnya kugunakan untuk bekerja sebagai penulis di salah satu penerbit terkemuka di Seoul, Yongshan Publisher. Aku sangat suka menulis, terutama fiksi dan sejarah. Beberapa tulisanku telah dibukukan dan mendapat antusiasme yang cukup bagus dari pembaca. Kurasa aku telah menemukan duniaku.

Pagi ini, aku harus segera berangkat ke kantor, karena hari ini adalah deadline novelku. Semalaman aku begadang untuk menyelesaikan chapter terakhir karena beberapa hari sebelumnya aku mengalami writer’s block. Buntu..otakku benar-benar tidak punya ide untuk menulis. Tapi untungnya, semalam otakku ini cukup berbaik hati memberikan inspirasinya dan alhasil akupun sama sekali tak tidur untuk menemani tanganku menari di atas papan keyboard. Dan mataku sekarang sudah sangat lelah, ada garis hitam yang membayangi bagian bawah kelopak mataku, seperti mata panda milik Seungho MBLAQ. (*???)

Aku  melirik jam tanganku sejenak. Masih ada waktu 15 menit sebelum berangkat. Aku pun menekan tombol ON pada remote dan seketika TV menyala. Acara Music Core sudah berlangsung, kulihat hari itu yang menjadi MC adalah Seungho dan G.O MBLAQ dan seorang gadis cantik Jiyeon T-Ara. Mereka tampak cute.

“Dan saksikanlah penampilan terakhir dari rajanya boyband Korea, SUPER JUNIOR…”

Deggg…jantungku mencelos.

Sesaat kemudian layar televisiku telah menayangkan sebuah boyband korea terpopuler. Mataku seketika terhipnotis saat menangkap bayangan satu sosok yang sangat kukenal. Mataku terus terfokus pada pria itu. Entah kenapa rasa sesak itu kembali datang. Aku menarik nafas berat, berusaha mengisi paru-paruku dengan oksigen yang banyak. Gwenchana..Hana..gwenchana.

Ternyata dunia memang sempit. Sekarang ini Donghae oppa memang telah menjadi salah satu member dari boyband paling terkenal di Korea yaitu Super Junior. Bagaimana dengan Yoona? Yupz..mereka ditakdirkan bersama. Yoona akhirnya direkrut oleh manajemen yanng sama dengan Donghae, SM Entertainment. Sungguh takdir yang indah, Tuhan memang telah menjodohkan mereka.

Lee DongHae, kenapa susah sekali membuat otakku tidak memikirkannya. Kenapa susah sekali menghilangkan geletar aneh, saat melihatnya.

Sedetik kemudian, tayangan boyband yang tengah menyajikan tarian enerjiknya itu sudah menghilang, berganti bayangan hitam segera setelah aku menekan tombol OFF pada remote.

“Waktunya berangkat Hana!”seruku sambil terus menghirup udara di sekitarku. Berharap sesak ini segera memudar.

*****

Author’s POV

At Yongshan Publishing office.

“Sajangnim, anda memanggil saya?”tanya HaNa seraya mendongakkan kepalanya dari balik pintu yang sudah sedikit terbuka.

“Ne, HaNa masuklah!”jawab Tn.Park.

HaNa pun lalu memasuki ruangan Tn.Park, atasannya. Ia melirik gadis itu sebelum menyusun beberapa file ditangannya. “Kenapa bajumu?”selidik Tn.Park saat melihat kemeja HaNa yang kotor oleh noda kopi.

HaNa menggigit bibir bawahnya, sorot ketakutan perlahan menelusup dadanya.

“Mianhamnida, sajangnim. Tadi ada sedikit kecelakaan di jalan.”jelasnya singkat.

“Yasudahlah. Duduk!”

HaNa lalu duduk di salah satu kursi yang ada di seberang meja Tn.Park.

“Begini Hana..”ucapnya sambil menyodorkan beberapa file berisi naskah ke hadapan Hana.  Tuan Park memang atasan yang disiplin dan tegas tapi juga baik hati. Berkat kebaikan hatinya pula, HaNa bisa bekerja sambil tetap berkuliah. Atasannya ini memang akan memberikan kepercayaan penuh untuk anak buahnya yang bertanggung jawab dan berbakat. Dan ia melihat itu pada diri HaNa.

“Kau masih ingat salah satu novelet karyamu?”lanjut Tn.Park dengan ekspresi datar.

“Novelet? Hmm..maksud sajangnim?”HaNa tampak mengerutkan keningnya.

“Salah satu  novelet terbaikmu dipilih untuk dijadikan drama musical oleh salah satu Rumah Produksi.”

“Mwo?”seru HaNa yang tanpa sadar berteriak di depan atasannya. “Eh..mm..maaf sajangnim. Saya tidak bermaksud tidak sopan.”ucapnya seraya tertunduk malu.

Tn.Park hanya tersenyum kecil melihat anak buahnya yang satu ini.

“Gwenchana. Kau memang sudah seharusnya senang. Ini kesempatan bagus untukmu.”

“Tapi benarkan itu, Tuan? Cerita yang saya buat akan diangkat menjadi sebuah drama? Drama musical?”

“Ne..ceritamu yang berjudul The Moon that Embraces the Sun (* SooHyun oppa, pinjem bentar drama’nya yah..hehe), kau ingat?”

“Oh, ne.” HaNa mengangguk.

“Cerita itu yang akan dibuat drama musikalnya. Tentunya diperankan oleh artis-artis yang sudah terkenal. Ini kesempatan bagus untuk karirmu dan kemajuan perusahaan ini, jadi kau harus melakukannya dengan baik.”kini sorot mata Tn.Park tampak tajam. Ada ketegasan di sana.

“Ne, saya akan bekerja sebaik mungkin dan tak akan mengecewakan anda.”janji HaNa.

“Aku percaya padamu. Dan..tugasmu adalah untuk membuat naskah skenario dari drama ini.”

“Ss..scenario?”

“Ne. Tapi kau tenang saja. Ada seseorang yang akan membantumu.”

“Siapa sajangnim?”

“Salah satu staff Rumah Produksi, merangkap asisten sutradara. Kalau tidak salah dulu dia juga pernah menjadi editor di salah satu penerbit. Dia akan membantumu.”

“Ne. Kapan saya akan bertemu dengannya, sajangnim?”

“Besok. Karena waktu terbatas, kau diminta segera menyelesaikan skenario itu, dalam waktu kurang dari 2 minggu.”

“Arraso. Saya akan mulai mengerjakannya, Tuan.”

*****

Keesokan harinya.

HaNa’s POV

Aku kembali melangkah memasuki ruangan kerja Tn.Park. Hari ini rencananya aku akan menemui asisten sutradara, yang juga akan membantuku menggarap skenario. Aku tidak tahu seperti apa orangnya, semoga saja dia baik hati dan mau bermurah hati mengajariku dalam pembuatan skenario itu. Bagaimanapun, skenario dan cerita biasa itu berbeda. Ada pendalaman karakter yang harus ditonjolkan.

“Masuklah HaNa.”kudengar suara tegas Tn.Park yang menyuruhku masuk. Aku menurut seraya mengedarkan pandanganku ke dalam ruangan itu. Tampak seorang gadis dengan rambut ikalnya yang tergerai, tengah duduk di depan Tn.Park. Ia duduk membelakangiku.

“HaNa, ini orang yang akan bekerjasama denganmu.” Ucap Tn.Park. Gadis itu lalu berdiri seraya berbalik memandangku. Cantik. Hanya itu yang terlintas dibenakku untuk menggambarkan gadis itu. Dengan kemeja putih yang dibalut blazer hitam, juga celana panjang, gadis itu nampak anggun dan elegan. Make up’nya sederhana dan tidak berlebihan, benar-benar memancarkan aura pintar dan terhormat.

Aku langsung membungkuk seraya memperkenalkan diriku. “Annyeong hasimnika. Kim HaNa imnida.”

“Kau?”

“Eh..”aku pun bangun dan menatap gadis cantik di depanku itu. Tergambar senyuman manis di wajahnya.

“Kau gadis yang kemarin kan?”tanyanya.

“Ne???”

“Mmm..kau ingat aku?”gadis itu menghampiriku sambil memegang tanganku. Aku mengernyitkan keningku tak mengerti.

“Aku yang kau tolong kemarin. Ingat? Dijalan raya.”jelas gadis itu. Aku masih bingung.

“Kopi?”lanjutnya lagi dengan matanya yang semakin membulat. “Aku menumpahkan kopi di bajumu.”ucapnya dengan ekspresi bersalah.

“Ahh iya. Maaf agasshi, saya tidak mengenali anda tadi.”ujarku sembari membungkuk.

“Ahh..jangan sungkan seperti itu. Namaku Cho Ahra, panggil saja aku Ahra eonni. Oke?”

Aku mengangguk sambil tersenyum ramah padanya.

“Ehem..”kami berdua langsung menoleh pada Tuan Park yang sejak tadi ternyata hanya memandang kami berdua yang asyik berceloteh.

“Syukurlah kalau kalian sudah saling mengenal.”ucapnya singkat.

“Kau memiliki pegawai yang hebat, Tuan. Kami pasti akan bekerja sama dengan baik.”tukas Ahra eonni yang membuatku kaget.

“Aku tahu, HaNa bisa aku andalkan.”jawabnya singkat. Wajahku memerah seketika, mendapat pujian tersirat dari kedua orang itu. Untuk project kali ini, aku harus bersungguh-sungguh. Aku akan buktikan kalau aku mampu. Hwaiting, HaNa!🙂

*****

Flashback

HaNa’s POV

Pagi itu aku tengah menunggu bis di halte yang berada tak jauh dari rumahku. Sudah hampir 15 menit aku menunggu, tapi bis’nya belum datang juga. Berkali-kali aku melihat jam di tanganku, sebenarnya jadwal kerjaku masih lama. Hanya saja menunggu terlalu lama kan membosankan.Hufftt..

Saat aku tengah mengedarkan pandanganku ke sekitar jalan raya, kulihat seorang gadis sedang menyebrang sambil memegang dua cup kopi ditangannya. Tanpa di sadari gadis itu, sebuah motor melaju kencang dari sebelah kanannya. Aku tertegun sesaat, tapi kakiku untungnya berlari secepat kilat menghampiri gadis itu. Dengan sigap tanganku menarik gadis itu ke bagian sisi jalan. Dan bruukk..kami berdua terjatuh.

“Agassi, gwanchana?”tanyaku panik melihat gadis itu yang nampak pucat. Sepertinya ia terkejut.

“Ne..ne..khamsahamnida.”jawabnya sesaat kemudian. Aku menarik nafas lega.

“Syukurlah.”

“Ya Tuhan, bajumu”pekik gadis itu seraya menatap bagian bawah kemejaku. Aku mengikuti arah pandangnya, dan ikut terkejut melihat bajuku yang kotor oleh noda kopi.

“Mianhae..”ucapnya dengan wajah memelas.

“Gwenchana.”

“Tapi itu kotor sekali”ucapnya dengan nada bersalah. Aku jadi kasihan padanya.

“Ini benar tidak apa-apa. Anda tenang saja.”jelasku.

“Tapi…”belum sempat ia menyelesaikan ucapannya kudengar suara bis’ku datang. Aku segera bangkit dan juga membantu gadis itu berdiri.

“Maaf agashi, bis ku sudah datang. Tenang saja, baju ini bisa kubersihkan di kantor. Annyeong.”ucapku seraya melambaikan tangan padanya dan berlari memasuki bisku dengan terburu-buru.

“Tunggu, siapa namamu?”teriaknya.

“HaNa..Kim Hana.”

Flashback end

*****

Cho Ahra’s POV

Gadis itu…akhirnya aku bertemu dengannya lagi. Aku benar-benar tidak menyangka kalau dunia begitu sempit. Kim HaNa, penulis skenario yang akan bekerjasama denganku adalah orang yang menyelamatkan nyawaku beberapa hari lalu. Aku benar-benar senang. Entah karena apa. Sepertinya aku pernah mengenal gadis itu. Aku juga merasa bingung. Tapi sejak pertemuan pertama kami, dan saat kulihat mata bulatnya yang indah dibalik kacamata tebalnya itu. Aku merasa pernah bertemu dengannya. Hanya saja memoriku belum terbuka seluruhnya untuk mengingat kembali kenangan itu. Atau mungkin ini hanya perasaanku saja. Aku tidah tahu.

Siang itu kami menghabiskan waktu bersama untuk berdiskusi seputar drama yang akan kami garap. HaNa banyak bertanya padaku tentang skenario, ternyata dia telah membut konsep skenario drama itu dan meminta aku untuk mengeceknya. Dengan serius aku membaca naskah yang ia buat. Masih ada banyak kesalahan, terutama dalam penggambaran karakternya, kebetulan dia juga masih belum tau di part mana saja yang akan disisipkan nyanyian dan tarian, ini kan drama musikal. Semua aspek benar-benar harus diperhatikan.

“Sepertinya kita harus sering bertemu untuk menyelesaikannya.”ucapku setelah memberitahu beberapa kekurangan dalam skenario buatannya.

“Ne, tentu saja eonni.”jawab HaNa singkat.

“Tapi sayangnya aku harus mengerjakan beberapa project lain. Sepertinya akan sangat sulit jika aku selalu berkunjung ke kantormu.”

“Aku saja yang ke kantor eonni.”jawab HaNa polos.

Aku tersenyum kecil mellihat gadis ini. Kuperhatikan dia sebenarnya cantik. Matanya bulat tidak seperti gadis Korea kebanyakan, dihiasi dengan bulu mata lentik di atasnya. Kulitnya juga putih. Rambut panjangnya yang ikal, dikuncir sederhana. Ia tidak memakai make up, tapi wajahnya putihnya sepertinya sama sekali tidak membutuhkannya. Bibirnya tipis kemerahan. Hanya penampilannya memang terlalu sederhana, ia hanya memakai kaus berlengan panjang dengan syal dilehernya, lalu jeans hitam dan sepatu kets. Jauh dari kata modis, tapi juga tidak terlalu buruk.

“Aku punya ide yang lebih baik.”timpalku.

“Apa eonni?”matanya mendelik sambil menyeruput orange juice miliknya.

“Kau tinggal diapartemenku.”

“Uhuk..uhuk..” HaNa terbatuk-batuk mendengar ideku ini.

“Ayolah, ini bukan ide yang buruk. Kau pikir saja, dalam dua minggu kau harus mampu menyelesaikan skenarionya, sedangkan aku sangat sibuk dan sangat jarang berada di kantor. Jika kau berada di rumahku, aku bisa memantau pekerjaanmu kapan saja. Benar kan?”jelasku panjang lebar.

“Tapi eonni..”

“Ini juga demi kebaikanmu.”tukasku tegas.

Ada rona terkejut di wajah HaNa, tapi sesaat kemudian kulihat ia menghela nafas sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Baiklah..kalau memang menurut eonni itu yang lebih baik.”

“Oke, mulai besok kau menginap dirumahku.”tukasku ceria. Entah kenapa aku bisa sesenang ini. Ya, apartemenku memang sepi. Aku tinggal sendiri, orangtuaku tinggal di Busan. Aku punya adik laki-laki dan hanya terkadang saja dia berkunjung ke apartemenku. Dia lebih sering menebar pesonanya pada gadis-gadis cantik daripada harus menghabiskan waktu dengan noona’nya yang cantik ini. Fuihhh…

“Oya, HaNa aku mau tanya sesuatu.”

“Ne, eonni?”

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Maksudku sebelum kejadian di jalan itu.”

“Hmm..” HaNa menyimpan telunjuk di bibirnya. “Sepertinya belum pernah, eon! Waeyo?”tanyanya penasaran.

“Anni..anni.. Gwenchana.”jawabku sembari tersenyum dan menyesap capucino milikku.

*****

Author’s POV

Malam mulai menjelang. Tapi jalanan kota Seoul masih dipenuhi oeh banyak kendaraan dan para pejalan kaki yang sedang menghabiskan waktunya untuk menikmati suasana indah ibukota Korea Selatan ini.

HaNa baru saja turun dari bis. Hari yang melelahkan untuk gadis itu. Ia melangkah gontai menuju rumahnya, seraya membawa naskah novel dan juga skenario karyanya yang tadi sudah dicurat-coret habis oleh Ahra eonni. Wajahnya nampak lelah, berkali-kali ia juga menguap menahan kantuk.

“Hoaahmm…aku ingin segera pulang dan tidur.”gumam gadis itu.

Tapi tak lama kemudian langkah gadis itu terhenti saat mendengar suara dari perutnya.

“Oh iya, aku belum makan. Aduh, ramen di rumah kan sudah habis. Makan apa aku malam ini?”lagi-lagi gadis manis itu berbicara sendiri.

Tiba-tiba ia tertegun sejenak, hidungnya bergerak-gerak merasakan aroma lezat dari sekitarnya.

“DDUKBOKKI!”teriaknya girang. “Tapi dimana ya?” HaNa celingak-celinguk mencari darimana aroma itu berasal. “Ahh itu dia”serunya saat melihat kedai ddukboki di ujung jalan yang masih mengepulkan asap.

“Asyik…akhirnya malam ini kau tidak makan ramen.”ucap HaNa seraya mengelus-ngelus perutnya. Lalu HaNa pun berjalan cepat mendekati kedai itu. Tapi tiba-tiba terdengar bunyi derap langkah orang berlarian dari belakangnya. Juga teriakan-teriakan para yoeja yang entah menyebut nama siapa.

HaNa menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. Dan BRUUUK

“Aww..appo!”pekiknya sambil mengaduh menahan rasa sakit di tubuhnya. Dan saat HaNa tersadar lalu membuka matanya, tampak seorang namja berada di atas tubuhnya. Wajah mereka sangat dekat. Kedua mata mereka bertemu. HaNa tertegun menatap mata indah milik namja itu. Tapi untunglah otaknya masih waras dan detik berikutnya, teriakan HaNa sudah menggema.

“Kyaaaaaaaa…”HaNa mendorong keras tubuh namja itu. “Kurang ajar Kau. Dasar namja gila!”pekik HaNa sambil memukul-mukul namja itu.

“Hei..hei…hentikan!”namja itu berdiri dan berusaha menghindar dari pukulan HaNa.

“Apa kau tidak punya mata, Hah?”teriak HaNa tanpa menghentikan pukulannya. Tapi sejenak HaNa tersentak saat dilihatnya file-file berisi naskah dan skenario buatannya sudah kotor dan bahkan beberapa sobek karena terinjak namja itu.

“Kyaaaa..naskahku. Kau merusak naskahku, dasar namja gila!”teriaknya frustasi.

Namja itu meringis ketakutan melihat tampang HaNa. “Kau harus tanggung jawab kalau tidak akan kulaporkan kau ke kantor polisi.”ancam HaNa sambil melotot.

Namja itu tidak menjawab dan malah mengedarkan pandangannya ke ujung jalan. Dan sesaat kemudian, tangannya sudah menggenggam lengan HaNa dan menariknya masuk ke gang sempit yang ada di antara dua bangunan besar di sana.

“Apa yang kau…”Belum selesai HaNa bicara, namja itu menutup mulut HaNa dengan telapak tangannya. Mereka berdua terdiam. Hanya deru nafas keduanya yang memburu. Terdengar suara orang-orang berlarian untuk beberapa saat. Tapi kemudian sepi kembali. Namja itu menarik nafas lega. Seolah terbebas dari bahaya yang sejak tadi mengancamnya.

Berada dalam posisi sedekat ini dengan namja asing, membuat jantung HaNa berdetak kencang. Tapi otak normalnya kembali bereaksi, dan dengan kekuatan supernya(??) HaNa menginjak kaki namja itu.

“Aaaaa….”teriakan namja itu membahana. HaNa tersenyum licik.

“Rasakan!”

“Aish yoja gila!”

“Kau yang gila!”ucap HaNa sengit.

“Kau ini tidak tau siapa aku ya? Berani-beraninya kasar pada…”

“Namja gila! Kau sudah merusak naskahku. Dasar kurang ajar!”

“Hey, apa kau benar-benar tidak mengenaliku? Seharusnya kau bersikap lembut padaku. Kalau tidak yoja-yoja tadi akan menghabisimu.”jelas namja itu membuat HaNa semakin mengernyitkan dahinya.

“Memang kau presiden, sampai aku harus tau dirimu. Cih tidak penting!”

“Aigoo..kau pasti alien. Sampai-sampai tidak tahu siapa aku ini.”

“Kyaaaaa…”

“Atau kau terlalu bodoh, sampai-sampai..”

Pletak! HaNa menjitak keras kepala namja itu.

“Kalau kau membuatkua kesal lagi, aku tidak segan-segan membunuhmu tau?”

“Baboo…”

“Gila…”sungut HaNa benar-benar kesal. “Hey ganti rugi! Kau telah menghancurkan naskahku.”

“Tidak mau!”

“Aigoo…kenapa aku harus bertemu orang gila malam-malam begini! Kyaa..cepat ganti rugi.”

“Yasudah..iya..iya.”ucapnya sambil menyodorkan uang 5000won. “Tapi tolong belikan aku minum.”pintanya.

HaNa membelalakkan matanya.

“Tidak sudi! Wee”jawab HaNa seraya menjulurkan lidahnya.

“Aku sangat haus!”namja itu terduduk dengan nafas ngos-ngosan. HaNa tertegun menatapnya sejenak.

“Beli sendiri, kau kan punya kaki!”

“Aku takut mereka masih mengejarku.”jelasnya.

“Memangnya kau artis sampai-sampai para yoja itu mengejarmu?”

“Memang aku artis!”jawabnya singkat.

“Gotjimal!”tukas HaNa seraya berlalu. Beberapa saat kemudian dia kembali membawa air mineral di tangannya. “Ini”HaNa menyodorkan air mineral itu yang langsung disambut dengan wajah berseri.

Lalu HaNa pun segera berlalu. Ia tak ingin berurusan lebih lama dengan namja gila yang sudah merusak mood’nya. Dengan langkah cepat setelah membereskan naskahnya yang berserakan HaNa berlari ke arah kedai ddukbokki.

“Paman, aku pesan satu!”ucap HaNa dengan nafas memburu saat ia sampai di kedai.

“Maaf agashi..ddukbokki’nya habis.”

“MWOYA?”

“Ne, jeongmal mianhae. Besok anda bisa datang lagi.”

“Tapi perutku lapar sekarang, ahjussi bukan besok.”jelas HaNa dengan wajah memelas.

“Mianhae..”hanya itu kata yang keluar dari paman penjual ddukboki.

“Aaaaa….”HaNa mengacak-acak rambutnya frustasi. “Ini benar-benar hari sialku!!!”

_TBC_

>>>> Aku tunggu komen kalian!!! Gomawo..Please don’t be siders!!