Judul                : Sorry, I Love You Part.5

Author             : Gie KyuLova

Rating              : PG 15+

Length             : Series

Genre.             : Romance, Sad

Main Casts      : Kim HaNa (as reader), Cho Kyuhyun

Support Casts  : Cho AhRa, Lee Donghae, Im Yoona, Super Junior Members

Disclaimer      : It’s truLy my creation & my imagination.

Pernah dipublish di http://readfanfiction.wordpress.com/

*****

….I will take you forever and there will never be anyone else but you.

 Now my touch belongs to you and I will always be your best friend now my secrets are safe with you and the magic will never end.

Now you are the one and heaven will only know what only our eyes can say they say

That I will take you forever and there will never be anyone else in my heart but you.

And I will take you forever and there will never be anyone else but you…

(KrisLawrence&Danise Laurel-I will take u forever)

*****

HaNa POV

Cahaya mentari yang hangat perlahan menelusup celah jendela. Hari sudah mulai pagi. Segera kubuka mataku sembari meggeliat. Kulirik ruangan di sekitarku. Kamarku. Sudah tiga hari ini aku kembali ke rumahku. Kubuka jendela kamarku untuk menikmati sejuknya angin dan hangatnya cahaya sang matahari.

Pikiranku tiba-tiba menerawang pada kejadian beberapa hari lalu…

Saranghae….

Ucapan itu terus terdengar di telingaku. Mengusik pikiranku setiap detik. Aku masih ingat, betapa jantungku berdegup kencang saat mendengar kata itu. Tubuhku membeku seakan aliran darahku telah tersumbat habis. Dan kurasakan geletar aneh itu menelusup indah dalam hatiku. Tapi anehnya, yang kulakukan saat itu hanyalah diam. Mulutku tak mengeluarkan sepatah katapun. Padahal aku tahu betul apa yang ada dalam hatiku saat itu.

Hanya saja…

Aku menghela nafas panjang.

Aku takut. Takut kalau ini hanyalah khayalanku saja. AKu tidak yakin kalau Tuhan akan membiarkan aku mendapatkan sebuah cinta. Aku tidak yakin kalau cinta kali takkan membuatku menangis. Aku takut akan kehilangan orang yang kucintai lagi. Dan aku tak sanggup jika harus menghadapinya lagi.

Kyu….menyebut nama itu. Dadaku bergetar. Aku merindukanmu….

*****

@Taiwan

Author POV

“Kyu, gwenchana?”Teukie menghampiri Kyuhyun yang tengah duduk disofa seraya menatap layar handphone’nya. Kyu tak menjawab dan terus menekan sebuah nomor di sana. Dalam tiga hari ini, sepertinya sudah hampir seratus kali Kyu menghubungi nomor gadis itu. Tapi tak ada jawaban.

Kyu memegang keningnya. Wajahnya nampak pucat dan lelah. Sudah tiga hari ini Super Junior memang melakukan konser di Taiwan. Dan di hari ketiga ini mereka baru akan pulang.

“Jam berapa kita pulang?”tanya Kyu pada Teuki, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.

“Pukul 5sore nanti.”

Kyu menarik nafas panjang. Dia ingin segera pulang. Untuk melihat wajah gadis itu. Tiga hari ini, hidupnya amat tersiksa karena tak melihat wajahnya. Seorang Kim HaNa, bisa membuatnya kacau seperti ini. Kyu mendesah kesal.

Dia benar-benar kesal pada gadis itu. Tapi ia juga begitu merindukannya. Semenjak pertemuan terakhir mereka, dan Kyu menyatakan perasaannya. Gadis itu seperti hilang ditelan bumi. Dia memutuskan pulang ke rumahnya dan tidak lagi menginap di apartemen Ahra eonni. Dan Kyu belum sempat bertemu dengannya lagi. Karena dia harus melakukan konser SUJU di Taiwan.

Kyu kembali menghela nafas panjang. Sementara Teukie terus memperhatikan dongsaeng’nya itu.

“Kau ada masalah? Ceritakan padaku!”tukas Teukie.

Kyu hanya menggeleng.

“Apa ini ada hubungannya dengan HaNa?”tanya Teuki dengan sorot mata menyelidik.

Kyu langsung menoleh pada Hyung’nya itu. Dia tidak menjawab, tapi Teukie dapat menebak ekspresi tersebut. Sejak awal pertemuan Teukie dengan HaNa di apartemen, lalu melihat bagaimana cara Kyu menatap gadis itu, Teukie sudah tahu kalau ada sesuatu berbeda. Kyu menyimpan perasaan pada HaNa.

“Jadi begitu ya..”Teukie menepuk pundak Kyu. Matanya tampak khawatir pada keadaan dongsaeng’nya itu. Bagaimana tidak..dalam tiga hari ni, Kyu tidak mau makan. Setelah konser selesai, namja itu bukannya beristirahat dan makan malam. Tapi malah mengutak-atik ponselnya terus. “Apapun yang terjadi dengan hubungan kalian. Kau harus tetap menjaga kesehatanmu.”pesan Teukie seraya berlalu. Tapi langkanya lalu terhenti dan ia kembali menoleh pada Kyu.

“Nanti malam kita sampai di Seoul. Dan kau bisa melihat wajahnya lagi. Jadi bersemangatlah..”

Kyu hanya tersenyum tipis. Melihat wajahnya? AKu sangat ingin melakukan hal itu. Tapi bagaimana jika dia tidak mau bertemu denganku. Bagaimana jika dia membenciku setelah kejadian malam itu. Kyu mengacak –acak rambutnya frustasi.

*****

@10.00pm _Seoul

Ring Ding Dong…Ring Ding Dong..

“Yeoboseyo..”jawab HaNa sambil mendekatkan ponsel ke telinganya.

“HaNa ini aku.”jawab seorang di ujung sana.

“Eh..eonni. Apa kabar?”sapa HaNa ramah. Ia begitu merindukan Ahra eonni, sejak dia menyelesaikan naskahnya, mereka jadi jarang bertemu.

“Baik. Kau sekarang dimana?”tanyanya dengan nada panik.

“Aku? Aku sedang menunggu bis. Baru selesai kuliah.”jelasku padanya.

“HaNa, bisakah kau membantuku?”tanya Ahra dengan nada cemas.

“Ada apa eonni?”

“AKu sekarang sedang di Busan. Ibuku tidak sehat. Bisakah kau malam ini menginap di apartemen ku? Karena…”

“Ada apa eonni?”

“Mm..Kyu sakit. Dan tak ada yang merawatnya di dorm, jadi mereka mengantar Kyu ke apartemenku. Mereka tidak tahu kalau sekarang aku ada di Busan.”

Degg..

Jantung HaNa seakan berhenti berdetak. Rasa cemas langsung menyergap dadanya.

“Bisakah kau ke apartemen dan merawat Kyu? Mianhae menyusahkanmu HaNa..tapi aku benar-benar tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi.”

“Aku akan segera kesana, eonni!”ucap HaNa cepat.

*****

@Ahra apartment

HaNa POV.

Aku berjalan tergesa menuju lantai 15 tempat apartemen Ahra eonni. Aku benar-benar cemas, sejak tadi aku menghubungi nomor namja itu, tapi ponselnya tidak aktif. Tak kupedulikan tatapan aneh orang-orang yang kulewati, aku berlari secepat yang aku bisa. Aku takut terjadi hal buruk padanya.

Tak lama aku sampai. Langsung kutekan password pintu apartemen eonni. Dan terbuka. Aku melangkah masuk. Kucari-cari sosok namja itu, apa mungkin di kamarnya. Segera kubawa kakiku ke kamarnya, tapi saat kulihat..kamar itu kosong.

“Kyu, kau dimana?”batinku cemas.

Kucari di setiap ruangan, tapi dia tak ada dimanapun. Aku menghela nafas kecewa. Namun, sesaat kemudian aku tertegun. Mungkin dia….pikiranku membawa langkahku ke kamar tamu, kamar tempat ku menginap dulu. Dan ternyata benar, Kyu terbaring lemah di sana. Aku segera menghampirinya. Wajahnya pucat. Tubuhnya tampak lebih kurus, bagaimana mungkin dalam waktu tiga hari bobot tubuh namja ini bisa menurun drastis. Aku tak mengerti.

Lalu telapak tanganku menyentuh keningnya, terasa panas. Dia demam. Aku segera beranjak ke dapur untuk mengambil beberapa bongkah es dan kain. Tak lama, aku menghampirinya lagi. Segera kukompres kepalanya, seraya menyelipkan termometer ditubuhnya. Kututupi tubuhnya dengan selimut hangat.

“Kyu…kau kenapa?”gumamku pelan. “Jangan sakit..”ucapku terbata seraya menahan air mata yang hampir jatuh.

Sudah hampir tengah malam, dan Kyu masih terpejam. Aku terus menunggunya, duduk di lantai di samping tempat tidur Kyu. Mengganti kompresnya setiap tiga puluh menit. Panasnya belum turun juga. AKu takut sakitnya bertambah parah. Lalu tiba-tiba, mulut Kyu terbuka.

“Ha…Na…”dia mengigau. “Ha..Na..”dan dia menyebut namaku.

Tuhan, hatiku bergetar. Apa ini semua karena aku?

“Kyu, maafkan aku.”ucapku lirih. “Kumohon, jangan sakit”ucapku sambil terisak. Aku menunduk, air mata terus mengalir dipipiku.

Sebuah tangan tiba-tiba membelai pipiku. Menghapur air mata di sana. AKu mendongak. Kyu menatapku dengan matanya yang sayu.

“Kyu…”aku tak bisa menahan keterkejutanku. “Kau bangun? Bagaimana..bagaimana keadaanmu? Apa perlu kupanggil dokter? Kau mau makan? Akan kubuatkan bubur.”

Kyu menggeleng pelan.

“Tapi kau harus makan. Tunggu ya akan kubuat bubur, takkan lama..”aku bangkit dan hendak beranjak ke dapur. Tapi Kyu menahan tanganku.

“Tetaplah di sini..”ucapnya dengan suara serak.

“Kyu..”

Aku terduduk kembali. Kyu menarik tanganku dan menaruhnya di dadanya, erat. Dan detik berikutnya, ia kembali terpejam.

*****

Kyuhyun POV

Aku tak percaya dengan penglihatanku. Akhirnya aku bisa memandang wajahnya lagi, wajah yang begitu kurindukan. Jemariku masih menggenggam erat tangannya, seakan tak ingin melepasnya walau sedetik pun. Aku tidak keberatan jika aku harus sakit setiap saat, asalkan ada dia bersamaku. Kim HaNa, aku begitu merindukanmu.

*****

@7.00 am

Semburat cahaya matahari menelusup melalui celah tirai yang sedikit terbuka. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Dan seketika aku terbangun. Kemana dia? Aku menoleh ke sisi kiriku, mencari sosoknya. Tapi tak ada.

Aku segera berdiri. Kurasakan sedikit pening di kepalaku, tapi tak kupedulikan. Aku melangkah perlahan keluar kamar.

Tercium bau harum dari salah satu ruangan. Gadis itu pasti sedang memasak, pikirku. Segera kulangkahkan kakiku ke sana. Dan benar saja, HaNa tampak berdiri membelakangiku. Rambutnya dsanggul ke atas menggunakan sumpit, sementara tangan kanannya sibuk mengaduk-aduk sesuatu dalam panci. Aku berjalan mendekatinya.

Sreek..tanpa sengaja aku menyenggol kursi makan.

HaNa langsung berbalik. Ia terlihat terkejut mendapatiku di sana.

“Kyaaa…kenapa kau bangun? Kau kan masih sakit!”teriaknya.

Aku tersenyum simpul. Suara cemprengnya itu, sudah lama aku tidak mendengarnya. HaNa lalu menghampiriku setelah sebelumnya mengecilkan api kompor.

“Ayo kembali ke kamar.”ucapnya seraya menggamit tanganku.

Aku menatapnya sejenak. Wajah kami sangat dekat. Jantungku berdetak cepat. Tiba-tiba HaNa menunduk, kulihat sekilas wajahnya bersemu merah. AKu tersenyum memperhatikannya. Dia sama sekali enggan menatapku. Lalu detik kemudian, dia melepaskan genggaman tangannya di lenganku.

“Apa kau sudah sembuh?”tanyanya sambil berusaha menyembunyikan kegugupan dari wajahnya.

“Ne..”aku mengangguk sambil tersenyum padanya.

HaNa lalu meletakkan telapak tangannya di keningku.

“Ne, sudah tidak panas. Kalau begitu tunggulah. Akan kubawakan buburnya.”ucapnya sambil berlalu.

“Tunggu..”kutahan lengannya. HaNa menoleh padaku.

Aku menarik tubuhnya dalam pelukanku. Hangat. Aku terdiam sejenak, merasakan sensasi indah dalam hatiku. Mengobati rindu yang bersemayam lama di kalbuku. HaNa mencoba melepaskan diri, tapi aku malah menariknya lebih dekat dengan tubuhku. Dapat kurasakan deru nafasnya di pundakku. Dan detak jantung kami berdua yang seolah saling berlomba untuk lebih cepat.

“HaNa, Apa kau pernah sakit?”tanyaku kemudian.

“Ne?”

“Kalau kau sakit, siapa yang merawatmu?”pertanyaan itu begitu saja keluar dari mulutku.

“Kyu…”

“Siapa yang merawatmu saat kau sakit, HaNa’ya…?”bibirku bergetar saat mengatakannya.

HaNa melepas pelukanku. Kini matanya menatapku lembut. Tapi sejurus kemudian ia menunduk.

“Duduklah. Kau harus segera makan dan minum obat.”ujarnya sambil berbalik.

“HaNa’ya…”aku memeluknya dari belakang. “Jika saja aku mengenalmu sejak dulu, aku takkan pernah membiarkanmu sendirian. Aku takkan pernah membiarkan kau kesepian. Bisakah sekarang, kau memberiku kesempatan untuk melakukannya?”tanyaku lirih

“…..”HaNa tetap diam.

“Hana..saranghae..”bisikku ditelinganya.

HaNa berbalik ke arahku. Matanya tampak berkaca-kaca. Dan tak lama kemudian butiran bening itu jatuh dari sudut matanya. Aku tak bisa menahan keterkejutanku. Kenapa dia tiba-tiba menangis??

“HaNa…”tanganku langsung menghapus air matanya. “Kenapa kau menangis? Jangan menangis…”tukasku setengah panik.

“Kyu, jangan sakit lagi. Kau membuatku cemas.”ujarnya sambil terisak.

Ya Tuhan… hatiku bergetar mendengar ucapannya. Ternyata dia mengkhawatirkanku.

Aku mengelus kepalanya lembut.

“Anni..aku takkan sakit lagi. Aku janji!”ucapku lembut seraya menggenggam erat kedua tangannya.

Setelah itu, HaNa menyuruhku duduk. Ia mengambilkan semangkuk bubur dan sup rumput laut. Senyuman tah henti tergambar dari bibirku. Kim HaNa…kau terlalu sempurna. Aku mencintaimu.

“Makanlah..”ujarnya sambil duduk di sampingku.

Tiba-tiba terlintas ide jahil di otakku.

“Suapi aku…”tukasku manja.

“Kyaa..kau kan punya tangan!”pekik HaNa melihat tingkahku.

“Tanganku sangat lemas. Ayolah..”

“Arra..arra..”jawabnya sambil mengambil bubur itu. Aku memakan bubur itu dengan lahap tanpa melepaskan tatapanku dari wajah HaNa.

“Kyu…jangan melihatku seperti itu terus.”tukasnya kesal seraya menggembungkan kedua pipinya yang memerah.

Aku hanya terkekeh kecil.

“Hey, HaNa. Kau belum menjawab pertanyaanku!”tukasku setelah teringat sesuatu.

“Mwoya?”

“Kau belum menjawab pernyataan cintaku?”tukasku seraya mendelik ke arahnya.

HaNa terlihat kaget, lalu menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Dia terlihat lucu kalau sedang gugup.

“Kyaaa…jawablah sekarang!.”teriakku.

“Tapi kau kan tidak mengajukan pertanyaan padaku. Yang kau katakan itu ‘pernyataan’ bukan ‘pertanyaan’; jadi aku tidak perlu menjawabnya.”jelasnya sambil kembali menyuapiku.

“Tapi kan..ahh kau ini! Apa kau tidak tahu, kalau kalimat ‘saranghae’ harus dijawab dengan ‘nado saranghae’. Cepat katakan itu.”perintahku.

“Anni..”HaNa menggelengkan kepalanya.

“Aissh!! Yasudah, kalau begitu aku ganti dengan pertanyaan lain.”Akupun menggeser dudukku agar mengarah padanya. Ku genggam erat kedua tangannya. Berharap bisa melakukan hal yang romantis. HaNa mengerjap-ngerjapkan matanya melihatku. Aku menghela nafas sejenak sebelum membuka mulutku.

“HaNa’ya..saranghae. Maukah kau menyerahkan hatimu padaku?”ya itu sebuah pertanyaan bukan, dan sekarang gadis bodoh ini benar-benar harus menjawabnya.

“ANDWE!”seru HaNa cepat sambil menarik tangannya.

“Mwo?”aku terkejut mendengar jawabannya.

“Hatiku cuma satu kalau kau ambil, aku bisa mati.”sungguh jawaban yang membuatku terpana.

“HaNa’ya..”aku menjitak pelan kepalanya. “Seriuslah sedikit!!”

“He..he..”HaNa terkekeh pelan.

Aku mendengus padanya. Aku pun berbalik, dan langsung memakan buburku sendiri. Aku kesal padanya.

“Kyu…”dia memanggil namaku. Aku pura-pura tak perduli.

“Marah ya?”tanyanya lirih. Aku tak menjawab.

Lalu..hening. Kami berdua sama-sama terdiam. Aku penasaran, sedang apa gadis ini. Saat aku hendak memalingkan wajahku untuk menoleh padanya, terasa hembusan ditelingaku. Dan suara lembut yang membuat dadaku bergetar hebat.

Saranghae..nado saranghae, Kyu!”bisik HaNa lembut di telingaku.

*****

Cho Ahra POV

“Ayo makan malam bersama”ajakku pada HaNa dan Kyu. Kami baru saja selesai melakukan rapat dengan tim produksi drama The Moon That Embraces the Sun. Untunglah segalanya berlangsung lancar jadi semoga saja tidak ada kendala untuk pementasan drama ini yang akan dilakukan dua bulan lagi.

“Anni…kami ada keperluan. Jadi, noona makan malam sendiri saja ya.”jawab Kyu seraya berdiri di samping HaNa.

Aku menoleh bergantian pada mereka berdua.

“Kyaa..kau tega membiarkan kakakmu ini makan sendiri!”

“Iya Kyu, ayo kita temani eonni saja.”HaNa melangkah mendekatiku, tapi Kyu segera menahan tangannya.

Mataku membelalak melihat sikapnya itu, sejak kapan anak ini berani menyentuh HaNa.

“Noona’ku yang cantik, tolonglah untuk malam ini, kami tak bisa menemanimu. Aku benar-benar minta maaf.”jelas Kyu seraya mengedipkan sebelah matanya.

AKu mengerutkan keningku.

“Ayo pergi…”ajak Kyu sambil menggenggam jemari tangan HaNa.

“Ya..ya..ya…tunggu! Sebenarnya kalian kenapa? Sepertinya ada yang aneh..”gumamku seraya memeicingkan mata pada mereka.

“Kyaaa…apa ada yang kalian sembunyikan?”tanyaku dengan mata menyelidik.

Kulihat HaNa melirik Kyu sekilas, lalu menggelengkan kepalanya padaku.

“Kyuuuu!!!! Apa yang kau sembunyikan?”aku menatapnya tajam.

“Noona pikirkan saja! Sekarang kami pergi dulu..annyeong..”jawabnya sambil tersenyum jahil. Lalu dia menarik lengan HaNa, membuat gadis itu berjalan terhuyung-huyung mengikutinya.

Kenapa anak itu?

Kyaaa…dasar kau bodoh Ahra! Kenapa kau tidak menyadarinya. Sepertinya sekarang ada sesuatu antara Kyu dan HaNa. Apakah mereka berpacaran? Aiishh..berita bagus ini, tidak sopan sekali kalau mereka menyembunyikannya. Awas Kyu, akan kupukul kepalamu kalau kau benar merahasiakan hal ini! Tapi..kalaupun benar. Jiahhh..aku senang!!! Akhirnya ada seseorang yang membuat adikku itu jatuh cinta, selain GAME tentunya.(*???)

*****

Kyuhyun POV

“Kita mau kemana sih?”tanya HaNa sambil menggembungkan kedua pipinya yang kemerahan.

Aku yang sedang menyetir hanya melirik seraya tersenyum kecil padanya. Sejak tadi aku hanya diam dan tak menghiraukan ucapannya.

“Yaaaa…Kyu. Kenapa kau tidak menjawab. Aish..jangan-jangan kau mau melakukan hal buruk padaku ya. Aigoo..awas saja kalau kau berani macam-macam…aku tidak akan…”

“Chagiya…diamlah..”ucapku lirih.

Kulihat HaNa terkejut mendengar panggilanku padanya.

“Aissh..kau panggil aku apa tadi? Yaakkss…”HaNa mengerutkan keningnya. “Kita kemana? Katakan!”paksa HaNa.

“Ya…hal biasa yang dilakukan setiap pasangan..”jawab Kyu seraya mengedipkan sebelah matanya.

“Mwo?”

“Kencan…”

“Ne??”seru HaNa dengan mata berbinar. “Kemana..kemana? Taman Hiburan, ya?”

“Kyaa..kenapa kesana? Aku sudah menyiapkan tempat spesial, kau pasti suka.”jelasku padanya.

“Anni..anni..aku mau ke taman hiburan saja. Ya? Please..”HaNa menelungkupka kedua tangannya seraya memasang tampang memelas.

“Tidak bisa. Kau tahu kan, di sana sangat ramai. Bisa habis aku dikejar-kejar oleh SparKyu, kalau kita tetap ke sana.”

“Huufftt…”HaNa mendengus kecewa. Ia menyandarkan kepalanya. Kulihat wajahnya yang memasang raut kecewa. Aku jadi merasa tidak enak.

“Kenapa kau sangat ingin kesana?”

“Tidak apa-apa..hanya..sudah lama sekali aku tidak ke sana…”gumamnya seraya memandang jendela.

“Baiklah..kita kesana saja..”jawabku akhirnya. Aku tidak ingin membuatnya kecewa dengan kencan pertama kami.

“Ehh..tidak..tidak usah..”HaNa memegang lenganku. “Anni..tidak perlu. AKu berubah pikiran. Benar juga…kalau pergi kesana, acara kencan kita bisa hancur.”jelas HaNa cepat.

“Jadi kau mau ikut aku?”

“Tentu!”

*****

“Kyu, kau bawa aku kemana?”HaNa menggenggam erat jemari tanganku. Sedangkan tangan satunya meraba-raba situasi didepannya. Aku sengaja menutup matanya untuk memberi kejutan.

“Sebentar lagi sampai..”bisikku sambil membantunya berjalan ke tempat spesial yang telah kusiapkan.

Dan..tap…Langkah kami berhenti, akupun memegang kain penutup mata yang dikenakan HaNa.

“Sudah sampai…”dengan perasaan gugup serta degup jantung yang sedari tadi berdetak keras tanpa kompromi, aku membuka kain penutup itu.

“HaNa’ya…kau suka?”bisikku sambil memeluk tubuhnya dari belakang. Kusandarkan kepalaku di pundaknya.

Kulihat gadis itu terpaku. Matanya yang bulat indah tampak terpana dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Satu detik..dua detik..tiga detik…gadis itu belum juga mengeluarkan suaranya. Aku bergerak dan langsung berdiri di depannya.

“Apa harus menciummu dulu, baru kau tersadar…chagiya??”ucapku sambil menatap teduh matanya yang indah.

HaNa terkesiap, wajahnya merah merona. Aku terkekeh pelan melihat tingkahnya.

“Kyuuuu…ini indah..”tukasnya lirih.

“Ne…?”

“Kau menyiapkan ini semua?”tanyanya dengan wajah tak percaya.

“Tentu saja…dengan keajaiban seorang Evil Magnae..apapun bisa dilakukan.”

“Gomawo..”ucapnya tulus dengan mata berbinar.

“Ne…”aku mengusap lembut kepalanya. “Bagaimana? Kau tidak salah kan mencintaiku? Aku pria paling sempurna, dan kau takkan menyesal telah mencintaiku.”jelasku sambil tersenyum evil.

“Aishh..kau masih saja narsis.!”desisnya sambil menahan tawa.

Lalu tak lama kemudian, kamipun makan malam bersama. Suasana terasa hening, karena kami berdua sama-sama gugup. Apalagi HaNa, mendadak ia tampak canggung. Sesekali aku menyuapinya, dan wajahnya langsung memerah. Terkadang ia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Aishh..gadis ini, membuatku gemas saja.

“Mau dansa?”tanyaku setelah kami selesai makan.

“Mwo? Aku..aku tidak bisa..”jawabnya lirih.

“Akan kuajari…ayo..”aku langsung beranjak mendekatinya. Kuraih tangannya , kami bergerak ke tengah, berdiri di antara lingkaran lilin yang membentuk sebuah hati. Kurapatkan jari-jari tangan kananku di jemarinya, sedangkan tangan kiriku memeluk erat pinggangnya, mendekatkannya dengan tubuhku. HaNa nampak terkejut, matanya membulat tapi ia tak berani menatapku dan hanya menempelkan kepalanya di dadakus. Deru nafasnya terdengar, sedangkan detak jantungku juga semakin cepat.

Dan mengalunlah sebuah lagu yang indah, mengiringi setiap gerakan kami berdua. Semakin lama..aku memeluknya semakin erat. HaNa membenamkan kepalanya di dadaku, seolah merasakan detak jantungku yang semakin liar karenanya.

Tiba-tiba HaNa melepaskan pelukanku, kemudian matanya menatapku.

“Kyu…”

“Hmm..?”aku menggenggam kedua tangannya.

“Gomawo…”ucapnya dengan suara bergetar.

“Untuk?”aku menyipitkan kedua mataku.

“Karena..telah mencintaiku.”ucapnya lirih. Lalu HaNa bergerak memelukku. Aku tersenyum seraya membelai lembut rambutnya.

“HaNa..terimakasih..”

“Ne..?”

“Karena…telah hadir dihidupku.”bisikku di telinganya.”Saranghae..”

“Nado saranghae..”jawabnya membuat hatiku berdesir.

Akupun mencium puncak kepalanya.

“Kyu..”bisiknya lagi.

“Berjanjilah satu hal…”

“Ne, chagiya?”

“Jangan pernah tinggalkan aku…”

Aku melonggarkan pelukanku, kepegang kedua pipinya yang lembut, lalu menatap kedua matanya.

“HaNa..ya..dengar! Sejak aku mencintaimu, kau sudah seperti oksigen untukku. Dan itu berarti aku takkan bisa hidup tanpamu. Jika bukan karena Tuhan yang mengambil nyawaku, aku takkan pernah meninggalkanmu…takkan pernah. Pegang janjiku!”jelasku seraya menatapnya tajam. AKu ingin dia yakin akan cintaku.

Mata HaNa terus menatapku, seolah mencari kejujuran di sana. Lalu perlahan ia mengangguk dan sebuah senyumanpun terukir indah di bibir mungilnya.

*****

@Super Junior Dorm

Author POV

“Kyu..dimana kau taruh ipad’ku?”tanya Heechul sambil mengobrak-abrik ruangan. Berulangkali ia menggaruk-garuk kepalanya sambil mendengus kesal.

“Hehe gaemKyu…katakan dimana ipad’ku!”teriaknya sekali lagi dengan wajah merah padam karena kesal. Sejak tadi dia sudah mondar-mandir dari kamar ke ruang tengah, lalu ke ruang tamu untuk mencari ipad miliknya, tapi belum juga ketemu. Sementara itu Kyu yang tidak menyadari kemarahan Hyung nya itu malah asyik berSMS ria sambil sesekali tersenyum-senyum sendiri.

“Dasar EVIL Baboo!”Heechul beranjak untuk memukul kepala Kyu, tapi Donghae segera menghalanginya.

“Coba tanya Sungmin, tadi sore aku lihat dya memainkannya.”ujar Donghae.

“Geureyo?”Donghae mengangguk. Dan langsung saja Heechul beranjak ke kamar Sungmin.

Donghae kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa tepatnya di samping Kyu. Kyu sepertinya tidak menyadarinya dan masih asyik berkutat dengan ponselnya. Donghae hanya geleng-geleng kepala, sudah tiga bulan ini semenjak si Evil magnae resmi berpacaran dengan HaNa, banyak sekali yang berubah dari namja galak, narsis, egois dan keras kepala ini(*aigoo kok sifat jeLeknya bnyk bnget..? haRap ma’Lum, auThor lagi keseL ama Kyu..sangat..*Plakk).

“Hey, Kyu..!”Donghae menyenggol lengan kanannya.

“Hmm…”Kyu berdehem tanpa sedikitpun menoleh dari layar hp’nya.

“Sedang SMS an dengan HaNa ya?”Donghae bergerak untuk mengintip, tapi Kyu dengan sigap langsung menyembunyikan handphone’nya.

“Hyung, kau mau apa?”tanyanya seraya mendelikkan matanya.

“Waw..ternyata HaNa telah berhasil mencuci otakmu..ckckck..Sejak kapan kau mau memanggilku dengan sebutan Hyung. Aigoo…gadis itu memang hebat!”Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tentu saja, kau kan calon kakak iparku”jelas Kyu datar sambil tersenyum. Donghae bergidik ngeri melihat senyum evil dongsaeng’nya itu.

“Mwo? Kakak ipar? Aish..siapa yang mau memiliki adik ipar sepertimu? Memangnya aku akan izinkan HaNa menikah denganmu? Andwee..”tukas Donghae dengan santainya.

“Kyaa…Hyung,tentu saja kau harus izinkan. HaNa itu cinta mati padaku tau!”jelas Kyu tak mau kalah.

“Jiahh..percaya diri sekali kau. HaNa itu gadis manis, cantik dan mandiri. Kalau saja dia mau berdandan sedikit saja, pasti banyak namja yang akan memperebutkannya.”

“Jangan bicara begitu dong, Hyung. HaNa itu cuma akan mencintaiku, SELAMANYA!”ucap Kyu dengan ekspresi penuh kemenangan.

“Terserah! Tapi apa kau serius pada HaNa?”kini ucapan Donghae terdengar serius.

“Ne, aku mencintainya..sangat!”jawab Kyu mantap.

“Jangan sekalipun kau menyakitinya, atau aku akan…”

“Jangan khawatir Hyung, aku akan menjaganya. Kau tenang saja. Aku tidak akan pernah menyakiti perasaannya. Aku berjanji.”

Donghae menghela nafas panjang sebelum ia mengangguk. “Kupegang janjimu!”

*****

HaNa POV

“Kyu..kau yakin? Mmm..aku takut..”ucapku sambil memelintir ujung kemejaku.

“Chagi…kenapa kau jadi gugup begitu. Kita kan hanya mau bertemu orang tuaku saja. Bukan mau melangsungkan pernikahan.”jelas Kyu yang membuat wajahku memerah.

Aishh namja ini, kenapa akhir-akhir ini ia selalu membuatku salah tingkah. Kelakuannnya itu selalu saja membuat hatiku berdesir, membuat bibirku terus menggambarkan senyuman, dan membuat otakku terus membayangkan dirinya.

Chup…..Kyu mendaratkan ciuman di pipiku. Aku terkesiap.

“Sudah selesai melamunnya? Siap untuk masuk?”bisiknya di telingaku.

“Iihh..apa yang kau lakukan?”aku memukul dadanya. Tapi dia langsung menangkap tanganku.

“Tak ada alasan kau gugup..orang tuaku pasti menyukaimu.”ucapannya sedikit menenangkan hatiku.

*****

Cho Ahra POV

Malam ini aku sedang makan malam bersama keluargaku di apartemen. Orangtuaku memang sedang berkunjung ke Seoul dan ini momen yang sangat jarang untuk kami berkumpul bersama. Kami memanfaatkannya dengan makan malam bersama, aku sudah menyuruh Kyu untuk datang, tak lupa kusuruh dia juga untuk mengajak HaNa. Orangtuaku harus tahu, seperti apa gadis yang mampu menaklukan anak bungsunya itu.

Aku melirik jarum jam yang ada di dinding, sudah hampir jam 8 tapi Kyu dan HaNa belum datang juga. Kuraih ponselku untuk menghubungi mereka. Dan saat baru saja kutekan tombol panggil…Ting nong..

“Apa itu Kyu…?”ucap Ibuku seraya menoleh ke arah pintu.

“Sepertinya..”gumamku. “Biar aku yang buka.”ujarku seraya beranjak.

“Hai…”sapaku saat kulihat HaNa yang berdiri di samping Kyu. Dia tampak cantik dengan dress selutut berwarna peach, tapi wajahnya terlihat gugup.

“Hei..tidak usah gugup begitu, orang tuaku tidak akan memakanmu tau..”bisikku seraya menggamit tangannya dan mengajaknya masuk.

HaNa hanya tersenyum tipis.

“Umma..appa..Kyu datang dengan seseorang yang tadi kuceritakan.”teriakku membuat wajah innocent HaNa terkejut.

“Eonni…”bisiknya lirih.

Aku hanya mengedipkan sebelah mataku.

Lalu kami pun menuju ruang makan, di sana sudah menunggu umma dan appa’ku. Umma dan Appa langsung dihampiri Kyu yang segera memeluknya. Setelah itu pandangan umma dan appa tertuju pada HaNa. Gadis itu berusaha tersenyum dan menghilangkan kegugupannya.

“Annyeong hasimnika..Kim HaNa imnida. Mannaseo bangapseumnida.”ucapnya seraya membungkukan tubuhnya memberi hormat.

“Annyeong hasimnika. Ahh, jadi kau yang bernama HaNa.”ibuku mendekat dan menyentuh kedua pundak HaNa, semburat senyum terukir di wajanya. “Kyu, kau pintar memilih ternyata..”ucap ibuku seraya mengedipkan sebelah matanya pada Kyu.

Kyu tersenyum salah tingkah sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Yoebo..lihatlah, HaNa cantik ya..”tukas ibuku seraya menoleh pada Appa.

Kulihat appa yang berdiri mematung, pandangan matanya terus terarah pada HaNa. Kulihat ekspresi yang aneh di wajahnya, entah apa. Tapi appa hanya diam dan tidak menggubris perkataan umma.

“Appa…”panggilku.

“Eh..i..iya..Tadi namamu siapa nak?”tanya appa dengan suara sedikit bergetar.

“Kim HaNa, ahjussi. Panggil saja aku HaNa, senang berkenalan dengan anda. Oh iya, saya bawakan sedikit bingkisan ini untuk anda. Saya dengar anda suka tiramisu, jadi saya membuatnya, semoga paman suka”HaNa berjalan mendekat ke arah appa sambil menyodorkan bingkisan yang dibawanya.

Kulihat raut wajah appa berubah saat memandang wajah HaNa, dia menundukkan wajahnya dan mengepalkan tangannya. Bibirnya nampak bergetar.

“Appa..gwencaha?”tanyaku seraya menghampirinya.

“Maaf…sepertinya appa sedikit tidak enak badan. Appa mau beristirahat di kamar saja.”jelas appa sambil berjalan ke arah kamar yang lalu diikuti ibu.

Aku mengernyitkan dahi menatapnya. Sebenarnya ada apa dengan appa, aku tak mengerti, tadi dia baik-baik saja sebelum..

Kulihat HaNa berdiri terpaku dengan ekspresi kecewa di wajahnya. Aku segera menghampirinya.

“Mianhae, mungkin appa kelelahan jadi seperti itu. Ayo kita makan..”ajakku sambil menyuruhnya duduk.

“Ahra..kalian makan duluan saja..”teriak umma dari dalam kamar.

“Ne.”jawabku.

Akhirnya kami bertiga pun makan, kulihat ekspresi sedih dari wajah HaNa. Tapi Kyu mencoba menenangkannya dengan menggenggam erat jemari tangan HaNa.

*****

“Appa..gwenchana? Appa sakit?”tanyaku seraya duduk di samping tempat tidur appa. Kebetulan Kyu sedang mengantar HaNa pulang, jadi sekarang di apartemen hanya ada kami bertiga. Aku penasaran dengan sikap ayah, jadi aku masuk kamar untuk membicarakannya.

Appa menggeleng pelan. Dapat kulihat ekspresi kegalauan di wajah appa, dan sekarang umma juga berekspresi yang sama. Sebenarnya ada apa dengan mereka…aku bingung.

“Appa..sebenarnya kenapa? Appa tidak suka pada HaNa?”tanyaku hati-hati.

Appa hanya terdiam sambil menghela nafas panjang.

“Umma..ada apa sih? Apa karena HaNa?”

Umma dan appa tetap tak bersuara sedikitpun, tapi dari sikap diamnya mereka aku bisa tahu kalau tebakanku benar.

“Apa kalian tidak menyetujui hubungan Kyu dan HaNa?”lagi-lagi hening.

Aku menarik nafas panjang.

“Umma..appa..aku tahu kalau HaNa mungkin memang bukan gadis dari kalangan atas. Dia hanya seorang gadis yatim piatu yang sederhana. Tapi dia gadis yang baik, dia mandiri, pintar, dan pekerja keras, aku yakin Kyu akan bahagia bersamanya.”jelasku panjang lebar berharap orang tuaku bisa mengerti.

“Bukan itu. Ahra..”tukas umma cepat.

“Lalu? Apa yang kalian khawatirkan?”tanyaku penasaran.

“Ahra..”panggil ayahku. Akupun menoleh padanya, kutatap mata sendunya. “Suruh Kyu putus dengan gadis itu.”ucap ayah pelan namun berhasil menohok jantungku. Membuatku mengeluarkan ekspresi tak percaya.

“Mwo?”

“Sebelum semua lebih jauh. Lebih baik jika mereka berpisah.”jelas appa.

“Appa!! Kenapa begitu? Sebenarnya apa yang salah dengan HaNa?”pekikku heran.

“Bukan HaNa yang salah, gadis itu sama sekali tak bersalah. Aku ingin Kyu memutuskannya, hanya agar gadis itu tidak tersakiti lagi untuk kedua kalinya.”

“Appa, waeyo? Jelaskan padaku!”

“Ahra..”umma menyentuh pundakku. “HaNa…adalah putri dari Kim Joong Woo.”

Degg…

Jantungku seolah berhenti berdetak. Kurasakan tubuhku bergetar hebat.

“M…Mwo?..Tidak mungkin umma..”ucapku dengan suara bergetar.

“Itu benar, dia putrinya.”lanjut umma yang semakin membuatku sesak.

Ya Tuhan, kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal. Pantas saja aku merasa pernah bertemu dengan HaNa, ternyata dia adalah anak itu…

*****

Author POV

Flashback

9tahun yang lalu…@9pm, @Seoul Hospital

Seorang gadis manis berusia sekitar 12 tahun tampak berjongkok seorang diri di depan pintu sebuah kamar rawat inap rumah sakit. Rambutnya yang ikal tampak acak-acakan sementara tubuhnya hanya terbalut piyama tipis yang seakan membiarkan cuaca dingin menyelimutinya. Dia tak perduli.

Gadis kecil itu terus meremas kedua tangannya. Tubuhnya bergetar. Tatapan matanya kosong. Ia terus mengigiti bibirnya hingga hampir berdarah. Deru nafasnya terdengar jelas, sementara butiran bening tanpa henti meleleh di kulit wajahnya yang pucat. Sesekali ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berharap ia sedang bermimpi. Berharap apa yang ia dengar dan lihat beberapa saat sebelumnya hanyalah halusinasi.

Ia lalu memeluk tubuhnya sendiri seraya memejamkan mata. ‘Umma..appa..ini mimpi kan? Ini pasti mimpi. Tolong bangunkan aku…’ gumamnya seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Tapi saat ia kembali membuka mata, dan melihat pemandangan yang masih sama dengan yang ia lihat tadi. Gadis kecil itu langsung terisak. Bahunya bergetar naik turun mengiringi irama tangisnya yang menyayat hati siapapun yang mendengarnya.

“Adik manis, kenapa menangis?”sebuah suara yang lembut mengagetkannya. Ia langsung mendongak dengan wajahnya yang penuh air mata. Matanya menatap seorang gadis remaja yang kira-kira berusia 5 tahun di atasnya. Gadis itu memberikan senyumnya yang indah. Perlahan ia menghapus air mata yang ada di wajah manis anak kecil itu.

“Matamu sangat indah. Jadi kau tidak boleh menangis.”ucapnya lirih, sementara yang diajak berbicara sejak tadi, hanya diam terpaku.

“Kau kenapa, manis?”

“….”

“Apakah saudaramu sedang sakit?”

“….”

“Dimana orangtuamu?”

“….”

Anak kecil itu lalu terisak. Air mata  kembali membanjiri pipinya. Gadis itu nampak terkejut, tapi dengan lembut dia menarik anak kecil tadi dalam pelukannya. Gadis itu dapat merasakan tubuh anak kecil itu yang dingin dan bergetar. Tangannya mengelus pelan punggung gadis kecil itu. Sementara anak itu terus terisak mengeluarkan semua kesedihan yang ia rasakan.

Detik berlalu, berganti menit yang menjelang. Gadis itu masih dengan penuh kasih memeluk anak itu. Saat sepertinya anak itu telah lelah menangis, gadis itu mengajaknya untuk berjalan ke luar halaman rumah sakit. Mereka kemudian duduk di salah satu kursi taman.

“Adik manis, namamu siapa?”tanya gadis itu seraya duduk berlutut didepan anak itu.

“Ha..Na..”jawabnya lirih.

“Nama yang cantik, seperti orangnya.”ucap gadis itu sambil merapikan rambut ikalnya yang berantakan.

“Nah, sekarang. Apa kau mau menceritakannya padaku? Kenapa tadi kau menangis?”

“…..”

“Yasudah kalau kau tidak mau bercerita. Gwenchana. Tapi jangan menangis lagi ya, matamu terlalu indah untuk mengeluarkan air mata.”gadis itu tersenyum tulus menatap HaNa yang memandangnya dengan tatapan kosong.

“Umma….”jawab gadis itu dengan suara terbata.

“Ne?”

“Umma..appa….pergi….”ujar HaNa bergetar dengan isakan tangisnya.

“Ne? Ya Tuhan..”Gadis itu langsung memeluk HaNa kembali.

“Mereka pergi untuk selamanya…meninggalkan aku sendirian. Umma..appa..kenapa mereka tidak mengajak aku pergi. Aku tidak mau sendirian…”suara tangisan kembali terdengar dari mulut kecilnya.

Gadis itu mengusap puncak kepala HaNa. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca. Ia dapat merasakan kepedihan di hati HaNa. Keduanya kembali larut dalam alunan sedih malam itu.

“HaNa…”gadis itu memegang kepala HaNa. “Apa kau sayang pada orangtuamu?”

HaNa mengangguk.

“Jika begitu, maka kau tidak boleh menangis lagi. Karena jika mereka melihat air matamu, mereka pasti akan ikut sedih. Apa kau mau mereka sedih?”

HaNa menggeleng pelan.

Gadis itu tersenyum. “Sekarang orang tuamu ada di surga. Lihatlah…”gadis itu menunjuk langit yang malam itu penuh dengan bintang.

“Dua buah bintang yang bersinar paling terang itu, pasti orangtuamu. Lihat! Mereka terus melihatmu dari surga. Mereka terus mengawasi dan menjagamu. Jadi kau jangan takut sendirian, karena mereka akan selalu ada bersamamu.”jelas gadis itu seraya berharap sedikit menghibur HaNa.

“Dan yang terpenting, mereka akan selalu di sini…”gadis itu menunjuk dada HaNa. “..dihatimu.”

“Benarkah?”HaNa mengerutkan keningnya. Yang lalu dijawab anggukan oleh gadis itu.

“AHRA…Kemari!”sebuah suara terdengar dan sontak membuat gadis itu menoleh. Tampak seorang wanita paruh baya, melambaikan tangan padanya.

“Eomma..”gumamnya. Gadis itu lalu menatap HaNa.

“HaNa..aku harus pergi dulu. Jangan menangis lagi ya. Kuharap kita bisa bertemu lagi..Chup.”gadis itu memberikan ciuman hangat di kening HaNa. Lalu ia melepaskan sweaternya dan mengenakannya ditubuh HaNa yang dingin. “Kuharap kita bisa bertemu lagi. Hiduplah dengan baik.”ucap gadis itu seraya beranjak pergi dengan langkah berat.

***TBC**