Judul                     : Sorry, I Love You Part.7

Author                  : Gie KyuLova

Rating                   : PG 15+

Length                  : Series

Genre.                  : Romance, Sad

Main Casts          : Cho Kyuhyun, Kim HaNa (You)

Support Casts    : Cho AhRa, Lee Donghae, Super Junior members.

Disclaimer      : All the casts are Gods but the story is mine, truly from my fantasy.

Pernah dipublish di http://readfanfiction.wordpress.com/

Note                      : TengKYU so much buat yang setia baca& komen FF ini..I Love u guys.^_^

*****

Aku akan pergi dari hidupmu..tapi kumohon..hiduplah dengan baik.

*****

Author POV

@Singapore

Kyuhyun termangu di sudut ruangan. Ia baru saja selesai melakukan fan meeting bersama anggota Super Junior yang lain. Sebentar lagi mereka juga harus melakukan reherseal untuk persiapan konser malam nanti. Kyuhyun terlihat beberapa kali menghela nafas panjang, raut wajahnya nampak kusut, bahkan sejak tiba di Singapore malam tadi, dia lebih sering menyendiri dan tak banyak bicara.

Hanya sesaat tadi, wajahnya menyiratkan senyuman tipis di hadapan beribu SparKyu dan ELF,  hanya beberapa saat. Karena setelah acara fan meeting selesai, namja itu tak sanggup lagi berakting untuk sekedar menunjukan senyuman kecil. Hal itu terlalu melelahkan baginya. Dan sekarang ia kembali ke dunianya, yang seolah hampa dan tanpa arah. Ia terkukung dalam kepedihan dan penyesalan tiada tara yang membalut seluruh rongga tubuhnya. Semakin lama rasa itu mengoyak dan mencabik jiwanya. Membuat kesadarannya limbung, membuat seolah dirinya terhempas ke labisan bumi terdalam. Ia merasa sendiri, rapuh dan tak bertenanga. Tak ada satupun yang mampu ia lakukan untuk menolong dirinya sendiri.

Tanpa ia sadari, setetes butiran bening nampak di sudut matanya. Yang semakin lama semakin menggenang setiap kali bayangan gadis itu muncul dibenaknya. Dan sayangnya Kyu tak mampu menghalau bayangan itu, karena sosok Kim HaNa selalu berkelebat di setiap ia berkedip, dan di setiap tarikan nafasnya. Seluruh relung sanubarinya telah dipenuhi gadis itu.

Apakah aku sanggup melepasmu, Kim HaNa?

Apakah aku sanggup melihat tatapan kebencianmu padaku?

Apakah aku sanggup kehilangan cintamu?

Yang kutahu..hanyalah…aku takkan pernah sanggup untuk..berhenti mencintaimu…

*****

“Hyung, ada apa dengan anak itu?”Donghae menyenggol lengan Teukie sambil dagunya menunjuk ke arah Kyuhyun yang berada dipojok ruangan, bersandar dikursi sejak tadi sambil memejamkan matanya.

“Molla…dia tidak mau bercerita padaku.”jawab Teukie sambil memasang earphone di telinganya.

Donghae mengernyitkan dahinya, sepertinya ia tengah memikirkan sesuatu.

“Apa mungkin dia ada masalah dengan HaNa”gumam Donghae.

“Mungkin..itulah kenapa manajemen melarang kita pacaran. Ini salah satu hal yang ditakutkan!”jelas Teukie seraya mendelik ke arah Kyu.

“Tapi aku tidak pernah membuat masalah! Aku dan Yoona tidak pernah membuat kalian susah kan?”

“Siapa bilang! Memang nya siapa member yang dulu pernah mabuk dan pulang pagi hanya karena bertengkar dengan pacarnya. Untung saja ELF yang mengantarmu waktu itu baik hati dan tidak menyebarkan skandal itu, walau dengan bayaran nomor hp Yesung! Aishh! Kau ini tidak sadar ya!”Teukie berdecak kesal.

“Hehehe…”Donghae terkekeh pelan. “Aku lupa Hyung..Yaaa..waktu itu kan aku masih belum dewasa. Itu juga hanya terjadi satu kali. Jadi kau tenang saja!”janji Donghae sambil menepuk bahu Teukie.

“Terserah mu Lah.”tukas Teukie cepat. “Sudah jangan ganggu aku. Sana..sana..!”usir Teukie yang lalu kembali asyik mendengarkan lagu.

Donghae mencibirkan bibirnya. “Dasar!” Lalu pandangannya kembali tersita pada Kyuhyun yang masih belum berubah dari posisinya yang tadi.

“Apa mungkin anak itu bertengkar dengan HaNa! Ahh..awas saja kalau dia menyakiti adikku itu. Takkan kubiarkan!”gumam Donghae dalam hati.

Tiba-tiba..ponsel Donghae berdering..

“Hana…”Donghae mengerutkan keningnya.

“Yeoboseyo.”jawab Donghae seraya matanya memandang ke arah Kyu.

“Oppa..ini aku.”jawab suara di seberang sana yang tak lain adalah HaNa.

“Ne..HaNa. Ada apa? Tumben kau menelponku.”

“Hm..anni..aku hanya..eh..sudah lama tidak bertemu oppa. Apa kau baik-baik saja?”

“Ne, aku sehat sekali di sini.”

“Oh..syukurlah. Mmm..bagaimana dengan member yang lain? Apa mereka juga sehat?”

Donghae tersenyum mendengar pertanyaan HaNa, ia tahu kenapa gadis itu menelpon. Dia terkekeh kecil.

“Halo..oppa..?”

“Oh..ne..maksudmu siapa yang lain itu?”pancing Donghae.

“Mm..ya seperti Teukie oppa, Heechul, Sungmin, Wookie..dan…”

“Dan????”

“Yaaa..mereka! Maksudku kalian semua, ahh oppa kenapa bertanya begitu!”jawab HaNa kesal.

“Dasar gadis bodoh. Bilang saja sejak awal kalau kau mau tahu kabar kekasihmu itu kan?”tebak Donghae yang langsung membuat HaNa terdiam di ujung sana.

“HaNa..HaNa..kau masih hidup?”

“Kyaaaa..oppa..!!!”

“Hahaha..”Donghae tergelak.

“Oppa tidak perlu tertawa begitu!”teriak HaNa kencang hingga Donghae langsung menjauhkan ponsel dari telinganya.

“Ne..ne..jangan berteriak lagi. Suaramu itu bisa membuat gendang telingaku pecah tau!”

“Oppa!”

“Hmm..”

“Apa Kyu ada di sana? Maksudmu didekatmu sekarang?”

“Ne.”

“Di..dia sedang apa?”

“Sepertinya tidur. Atau..”

“Apa dia kelelahan?”

“Anni..kami baru saja selesai fan meeting. Dan sebentar lagi akan reherseal. Kegiatan belum terlalu padat. Jadi belum terlalu melelahkan.Tapi..”

“Tapi apa, oppa?”

“Kyu murung terus sejak kemarin.”

“Ne? Waeyo?”

“Mana ku tahu. Kukira dia bertengkar denganmu!”

“Anniyo. Memang sebelum Kyu berangkat aku tidak bisa menyempatkan diri menemuinya. Apa mungkin dia marah padaku?”tanya HaNA dengan nada kecewa.

“Kau sudah bicara dengannya?”

“Belum, ponselnya dimatikan!”jawab HaNa kesal.

“Aisshh! Anak itu! Yasudah, kau mau bicara padanya sekarang? Akan kubangunkan dia”

“Anni..anni. Jangan oppa!”

“Waeyo?”

“Tidak usah.”

“Ahh dasar kau.”

“Mm..oppa..”

“Hm?”

“Apa Kyu makan dengan baik di sana?”

“Dia sepertinya tidak nafsu makan sejak kemarin.”

“Benarkan? Oppa tidak bohong? Kenapa dia begitu? Aigoo..bagaimana kalau dia sakit.”

“Kyaaa..kau sudah seperti istrinya saja!”

“Oppa!”

“Ne?”

“Bisa tolong perhatikan dia? Jangan biarkan dia tidak makan! Aku takut dia sakit.”

“Aishh..kau berani menyuruh oppa’mu untuk merawat kekasihmu, hah?”

“Kumohon, oppa..”nada suara HaNa terdengar memelas.

“Ne..ne..kau tenang saja. Si evil gila itu akan baik-baik saja di tanganku!”

“KYAAAA..oppa jangan panggil dia begitu!”

“Wae?”

“Cuma aku yang boleh mengatainya!”jawab HaNa santai.

“Isshh..kau ini!”

“Gomawo, oppa!”

*****

Satu minggu kemudian.

HaNa POV

Aku berlari kecil dengan nafas terengah-engah. Berkali-kali kulihat jarum jam di tanganku. Aku sudah telat 45 menit dari janjiku bertemu dengan Kyuhyun. Ya, hari ini Kyu pulang dari tour concert SuJU yang berlangsung selama satu minggu.

Sebenarnya aku sangat kesal sekali padanya. Dalam satu minggu ini, dia sama sekali tidak pernah menelponku bahkan dia hanya sekali membalas SMS’ku. Rasa kesalku sudah naik ke ubun-ubun, berbagai prasangka buruk malah sudah mengganggu otakku membuatku semakin marah padanya. Tapi, entah kenapa…saat mendengar suaranya tadi, ketika ia menelponku dan mengajakku untuk bertemu, kemarahanku seketika lenyap. Berganti rasa rindu yang membuatku ingin segera menemuinya.

Akhirnya aku sampai di taman kota. Nafasku memburu. Mataku bergerak liar mencari sosok yang begitu ingin kulihat.

“Hosh..hosh..mana dia?”aku terengah. Taman sudah nampak sepi malam itu, dan tak ada tanda kehadiran seorangpun di sana.

“Kyu..kau dimana?”gumamku dalam hati. Apa dia sudah pergi? Tega sekali! Rasanya wajahku memanas dan hampir menangis.

Tiba-tiba, sebuah tangan memeluk tubuhku dari belakang. AKu terkesiap. Tapi suatu aroma yang kukenal tercium hidungku. Aroma cologne milik Kyu.

“Kyu..”panggilku lirih.

“Hmm..”gumamnya yang cukup membuatku tenang.

“AKu merindukanmu..”bisiknya lirih di telingaku.

Aku berbalik dan melepas pelukannya. Kutatap kedua bola matanya yang teduh. Ia mengerjapkan matanya. Seperti biasa, ia nampak mempesona dengan penampilannya. Wajahnya sedikit tertutupi dengan syal yang ia kenakan.

Bukk! Aku memukul keras dadanya.

“Aww..appo!”pekik Kyu.

“Kau jahat!”

“Wae?”

“Mengapa tidak pernah menghubungiku? Dan hanya sekali mengirimku SMS! Kau jahat! Aku benci padamu!.”jelasku setengah berteriak.

Aku kemudian berbalik dan berjalan menuju kursi taman. Aku menghempaskan tubuhku di sana. Kedua tanganku kulipat, aku memalingkan wajahku dari tatapannya.

Lalu kudengar langkah kaki Kyu yang mendekat ke arahku. Tak lama, ia berlutut di hadapanku.

“Kau marah?”tanyanya lembut. Hatiku bergetar, tapi aku masih berusaha berakting marah padanya. Kupikir sikapnya itu keterlaluan. Dia harus kuberi pelajaran.

“HaNa- ya..”

Aku tetap membisu.

Lalu ia menggenggam kedua jemari tanganku. Tangannya terasa dingin, di kulitku.

“Kau merindukanku?”tanyanya lagi.

“….”

“Kalau aku..sangat..sangat merindukanmu. Setiap detik aku memikirkanmu.”

“Gotjimal!”tukasku cepat sambil melotot ke arahnya.

Dia hanya terkekeh melihatku. Aisshh! Dasar namja gila!

“Jangan marah lagi.”pintanya lembut.

Ya Tuhan..kenapa mendengar suaranya, hatiku langsung luluh.

“Kenapa kau lakukan itu?”tanyaku seraya menatap matanya.

“Hanya ingin mengetes diriku saja..”

“Mwo?”

“Apakah aku sanggup hidup tanpamu?”

“Hah?”aku mendelik tak percaya.

“Ternyata..aku tidak bisa.”jawabnya pelan seraya menundukkan wajahnya. Entah kenapa, aku merasakan nada kesedihan dari suaranya.

“Kyu..”

Ia lalu mendongak dan kembali menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Aku tidak bisa hidup tanpamu.”ucapnya lirih.

Stop! Aku tak bisa berpura-pura lagi, dan detik berikutnya tanganku telah menjulur untuk memeluknya. Hangat. Akhirnya aku bisa merasakan kehangatan ini lagi. Terimakasih Tuhan!

“Dasar bodoh!”bisikku ditelinganya.

“Hmm..?”

“Kau tahu? Aku sangat mencemaskanmu! Jangan pernah begitu lagi!”

Lalu kurasakan tangan Kyu semakin erat memelukku.

*****

Kyuhyun POV

“Dasar bodoh!”tukas HaNa sambil membenamkan kepalanya di pundakku.

“Hmm..?”

“Kau tahu? Aku sangat mencemaskanmu! Jangan pernah begitu lagi!”pintanya yang lalu kusambut dengan pelukanku yang semakin erat padanya. Hatiku bergetar. Kurasakan hangat dalam dekapannya. Dekapan seseorang yang amat kucintai. Tuhan..kumohon..biarkan kami bersama..

Jika saja ada bintang jatuh, aku sangat ingin menghentikan waktu. Aku ingin selamanya seperti ini. Namun sayangnya, bintang jatuh itu tak jua muncul.

*****

Keesokan harinya.

Kyuhyun POV

“Kita mau kemana?”tanya HaNa antusias saat aku menjemputnya.

“Hmm..ke tempat yang ingin kau kunjungi.”jawabku sambil menautkan jemari kami.

“Ne?”

“Taman hiburan.”jawabku seraya mengedipkan sebelah mata padanya.

“MWO? GEUREYO?”pekiknya terkejut.

Aku mengangguk mantap.

“Aaarrrgghhhh!!!”HaNa meloncat-loncat saking gembiranya.

“Kau senang?”tanyaku sambil mengeratkan genggaman ku di jemarinya. Lalu tanganku yang satu lagi, merapikan rambutnya yang sedikit menutupi mata indah HaNa.

“Ne!”HaNa mengangguk semangat. “Hm..tapi apa kau tidak takut?”

“Mwo?”

“Bagaimana kalau ada ELF yang mengenalimu?”tanyanya dengan raut khawatir.

Aku mengedikkan bahuku. “Biarkan saja!”

“Aisshh..kau ini! Kalau begitu ayo masuk, kau harus menyamar.”ucapnya sambil menarik tanganku dan berjalan memasuki rumahnya.

Aku terkekeh pelan melihat kehebohan gadis itu. Ia memaksaku memakai kacamata hitam, syal rajutannya ia pakaikan dileherku dan menutupi setengah wajahku. Lalu ia memakaikan hoodie di kepalaku.

“KYAAA…ini berlebihan!”tukasku merasa tidak nyaman.

“Aissh. Sudah biarkan saja! Jangan dilepas!”HaNa membetulkan kacamata yang hendak kulepas.

**

“Baiklah..kajja, kita berangkat!”HaNa berdiri di depanku sambil menggenggam tali tas selempangnya yang berbentuk hello kitty. Sudut bibirnya tertarik melukiskan senyuman yang sedari tadi tak lepas dari wajahnya.

Aku tertegun menatapnya.

“Ayo!”HaNa menarik lenganku.

Hana..aku ingin memandangmu lebih lama..”batinku saat ia menarik ku keluar rumah.

*****

“Waahhh..senangnya!”HaNa berteriak kegirangan saat kami sampai di tempat hiburan

Setibanya di sana dia langsung menarik tanganku dan membeli 2 tiket untuk kami berdua.

“Ayo naik itu!”tunjuk HaNA dengan penuh semangat. Aku menatap tak percaya roller coaster yang sedang meluncur kencang dan berputar-putar 360’. Keningku mengernyit seraya memandang HaNa yang memasang ekspresi tak sabar untuk mencoba wahana itu.

“Kau yakin?”tanyaku ragu.

“Ne! Pasti menyenangkan!”ujarnya yang langsung kutanggapi dengan gelengan kepalaku.

“Jangan naik itu! Yang lain saja!”aku menarik lengannya agar keluar dari antrian. Tapi HaNa tak bergeming.

“Kyaaaaa…sejak kapan kau jadi penakut!”pekik HaNa membuatku kikuk.

“Aku tidak takut!”bisikku ditelinganya karena takut orang-orang mengenali suaraku.

HaNa melipat kedua tangannya. Lalu? Pokoknya aku mau naik ini!”

“Aisshh kau ini!”

HaNa lalu melangkah mendekatiku, kini jaraknya sangat dekat dengan wajahku. Kami beradu pandang. Ia lalu mengibaskan tangannya ke arahku, menyuruhku menunduk.

“Mwo?”aku mendekatkan telingaku karena kupikir gadis  itu akan membisikkan sesuatu, tapi ternyata..

Chu…

Dia mengecup pipiku. Aku terdiam membeku, tak percaya dengan yang barusan terjadi. Tanganku memegang pipiku, merasakan sensasi yang menggelitik dan membuat sudut bibirku tertarik untuk membentuk senyuman.

HaNa menggamit lenganku dan menarikku kembali memasuki antrian. Wajahnya menunduk, ia pasti malu karena kini wajahnya tampak merah merona.

“Aku sudah memberimu hadian kan! Jadi kau harus temani aku, naik wahana ini.”bisiknya ditelingaku.

Aku tersenyum simpul melihat tingkahnya. Untuk sejenak..aku merasakan ketenangan, menyadari betapa gadis ini mencintaiku. Setidaknya…untuk saat ini..

*****

Hampir 3 jam aku dan HaNa berkeliling menikmati setiap wahana yang ada di taman hiburan. Aku cukup kewalahan menuruti setiap keinginan gadis itu, bayangkan saja!Hampir semua wahana dia naiki, dan hingga larut malam, wajah manisnya itu tidak juga menunjukan kelelahan. Padahal sejak tadi perutku terasa mual, jantungku serasa mau copot tiap kali menemani HaNa menaiki wahana ekstrem di sana. Tapi anehnya, tiap kali melihat senyum gadis itu, serta wajah menyesalnya kala melihatku yang lemas setelah menaiki wahana bermain; aku tidak bisa sedikitpun menunjukan rasa lelahku padanya. Aku ingin dia tersenyum, dan aku ingin melihat senyum itu lebih lama tersungging dari bibirnya yang mungil.

*****

“Kau lelah?”tanyaku saat kami baru saja tiba di depan rumah HaNa.

HaNa yang sedang menyesap capucino kesukaannya, langsung menggeleng cepat.

“Aniyo! Tadi sangat menyenangkan.”tukasnya yang masih nampak bersemangat.

Lalu hening, tak ada satupun dari kami yang bersuara.

“Kyu..gomawo..”ujarnya lirih.

Aku menatapnya lekat-lekat. Melihatku yang terus memandangnya, wajah HaNa langsung merona merah. Ia menunduk menyembunyikan wajahnya. Sesekali ia menggigiti kukunya dan nampak gugup.

“Kau mau masuk dulu?”tanya HaNa sesaat kemudian.

“Tidak usah.”jawabku lemah.

“Hmm..”HaNa mengangguk-anggukan kepalanya. “Yasudah kalau begitu, gomawo untuk hari ini!”tukasnya riang, sambil sebelah tangannya memegang selot pintu mobil.

“Tunggu!”aku menahan lengan kirinya.

“Mwo?”

“Mm..”aku menghela nafas panjang. Mencari kekuatan untuk melakukan apa yang seharusnya kulakukan, sekarang.  Aku sudah bertekad, aku akan mengatakan yang sejujurnya pada HaNa. Aku tidak ingin hidup selamanya dalam kebohongan. Terlebih, aku juga tidak mau membohongi gadis yang kucintai. Walaupun ketakutan begitu menelusup hebat dalam dadaku, aku sangat takut memikirkan akibat yang mungkin terjadi setelah aku mengatakan semuanya.

HaNa mengerjapkan matanya, menungguku membuka mulut.

“Kyu..”

“Ada..yang harus kubicarakan.”jawabku dengan tenggorokan tercekat. Lidahku langsung kelu, aku benar-benar takut.

“Kyu..gwenchana?”HaNa menggenggam jemari tanganku. Mata lembutnya menatapku khawatir.

“Ada yang harus kuberitahu..padamu..”

“Apa? Apa itu sangat penting?”

Aku mengangguk lemah.

“Sebelum itu aku hanya ingin kau tahu, kalau aku benar-benar mencintaimu..dan rasa itu tak kan pernah hilang sampai kapanpun.”jelasku sambil menatapnya. Aku ingin meyakinkannya kalau aku mencintainya dengan tulus. Apapun yang terjadi, aku akan selalu mencintainya.

Tatapan HaNa yang lembut tefokus pada mataku. Perlahan, terukir seulas senyum di bibirnya. Lalu tangannya yang hangat, menyentuh kedua pipiku.

“Kyu..wajahmu jelek sekali kalau murung seperti ini!”HaNa mencubit kedua pipiku lalu di tariknya hingga bibirku menyunggingkan senyuman. “Nah..kalau tersenyum begini kau lebih tampan.”jelas HaNa seraya ikut tersenyum.

Tuhan..aku tidak sanggup.

Perlahan HaNa mendekatkan wajahnya, lalu ia mengecup lembut keningku.

“Jangan terus mengulangnya. Aku sudah tahu, kalau kau mencintaiku.”ujarnya sambil menggenggam erat jemariku.

“HaNa..aku..”

“Besok kita bicara lagi. Sepertinya hari ini aku telah membuatmu sangat lelah. Mianhae..”

Aku menggeleng.

“Anni..ini penting. Aku harus mengatakannya…sekarang juga..”

HaNa menatapku heran.

Aku kembali menarik nafas dalam. Aku tertunduk, tak sanggup menatap mata indah milik HaNa.

“Sebenarnya…..”

Ring ding dong..Ring Ding Dong…

Ucapanku terputus karena ada panggilan telpon. Aku mendesah kesal, segera tanganku merogoh ponsel yang ada dibalik jaketku. Kulihat layar, dan ternyata itu panggilan dari Ahra noona.

Aku segera mereject panggilan itu, lalu kembali memandang HaNa.

“Kenapa dimatikan?”tanyanya heran seraya mengernyitkan dahi.

“Gwenchana.”jawabku cepat.

“Dari siapa?”

“Noona.”

“Kenapa tidak diangkat! Ayo cepat kau telpon eonni sekarang.”

“Tidak usah.”

“Kyuuuu…siapa tahu itu telpon penting! Cepat!”ia menatapku tajam.

Aku menghela nafas. “Ne.”jawabku menyerah dengan desakannya. Akhirnya aku menekan tombol panggil ke nomor noona.

“Yeoboseyo..”jawab Ahra noona di ujung sana.

“Noona..maaf tadi aku..”

Sebelum aku selesai meneruskan ucapanku, Ahra noona sudah memotong dan ucapannya membuatku terpaku seketika.

“Kyu..penyakit jantung Appa kambuh. Cepat ke rumah sakit!”

*****

HaNa POV

Aku berdiri didepan cermin seraya memperhatikan penampilanku. Kulirik jarum jam ditanganku yang menunjukkan pukul 6.30 pagi. Hari ini jadwalku untuk berangkat kuliah. Sepertinya masih ada cukup waktu sebelum mata kuliah pertama yang akan dimulai pukul 9 nanti. Jadi aku memutuskan untuk pergi menjenguk Appa Kyu yang kini tengah dirawat di rumah sakit.

Aku mendesah pelan mengingat pertemuan pertamaku dengan Appa’nya yang tidak berjalan baik. Waktu itu kurasakan ekspresi entah kaget atau kebingungan saat Appa Kyu melihatku. Hufftt..aku menghela nafas panjang seraya menggelengkan kepala, berusaha mengenyahkan pikiran itu. Mungkin saja itu hanya perasaanku. Aku berusaha meyakinkan diri.

Baiklah..aku siap berangkat! Aku bergumam seraya meraih ransel keroro kesayanganku dari atas meja belajar dan mengenakannya dipunggungku. Lalu kakiku melangkah cepat ke arah dapur, mengambil bingkisan yang telah kusiapkan sejak pagi tadi. Ne..aku bangun pagi-pagi sekali untuk membuat kue tiramisu kesukaan orangtua Kyuhyun. Semoga saja mereka suka.

*****

*30menit kemudian @Seoul Hospital

“Permisi..”sapaku pada salah seorang perawat yang berjaga di meja depan. Perawat itu menoleh padaku seraya tersenyum ramah.

“Ne..ada yang bisa saya bantu?”tanya perawat itu dengan senyum yang masih tergambar dibibirnya yang tipis.

“Hmm..apakah anda tahu dimana kamar Tn. Cho Jae Seuk, ahjumma?”

“Tunggu sebentar.”ia tampak membulak-balik buku arsip di depannya. Lalu beberapa saat kemudian. “Tn.JaeSeuk ada d kamar.4044 Lantai.4.”jelasnya singkat.

“Ne..khamsahamnida.”aku membungkuk hormat padanya.

“Chon maneyo.”

****

Aku langsung melangkah memasuki lift menuju lantai 4. Suasana di sana masih tampak sepi, mungkin karena ini masih pagi dan belum banyak orang yang datang menjenguk. Kubawa langkahku perlahan karena takut menimbulkan kebisingan. Sebenarnya aku sangat tidak suka suasana rumah sakit, mengingatkan aku akan kepedihan saat Umma dan Appa pergi meninggalkanku..untuk selamanya.

Aku menghela nafas panjang, berusaha menghilangkan rasa sesak yang sedikit menelusup dadaku. Mataku masih bergerak mencari ruangan nomor 4044.

“Ahh ini dia..”batinku saat langkahku tepat berada didepan pintu kamar. Langsung kugenggam gagang pintu yang sudah sedikit terbuka.

Baru saja aku hendak membuka mulut untuk mengucapkan salam. Kudengar pembicaraan dua orang wanita dari dalam. Pasti itu adalah Ahra eonni dan Umma’nya Kyu. Tapi…kenapa aku mendengar namaku disebut-sebut oleh mereka. Apa mungkin mereka tengah membicarakanku. Aku mengernyitkan keningku heran. Dan tanpa sadar aku terpaku mendengarkan pembicaraan mereka.

*****

Author POV

“Umma..sudahlah, jangan paksa Kyu lagi untuk berpisah dengan HaNa. Dia sangat mencintainya.”ucap Ahra sambil memandang lemah umma’nya yang sedang duduk di samping tempat tidur Cho JaeSeuk yang terlelap.

“Tapi..ayahmu! Dia sangat cemas, memikirkan apa yang akan terjadi pada Kyu dan keluarga kita, jika gadis itu sampai tahu kenyataan yang sebenarnya.”

“Umma…”

“Pikirkan jika kau ada di posisi gadis itu, lalu mengetahui bahwa kekasihmu sendiri adalah penyebab kepergian kedua orangtuamu. Apa yang akan kau lakukan, Ahra?”suara umma terdengar bergetar diliputi kecemasan dan ketakutan di dalamnya.

“Umma..aku..”

“Apa yang akan terjadi pada keluarga kita? Sekarang saja, Appa mu sudah tak berdaya seperti ini, akibat masalah itu. Dia terlalu menyayangi Kyu, dia tidak ingin Kyu terluka.”

“Umma..kenapa kita tidak mencoba membicarakannya dengan HaNa. Mungkin saja dia bisa mengerti tentang kecelakaan itu. Bagaimanapun Kyu tidak sengaja, ia masih sangat labil dan belum dewasa. Saat itu, Kyu juga tidak sadarkan diri dalam waktu yang lama, dia tidak mengetahui kalau telah mengakibatkan kedua orangtua HaNa meninggal.”jelas Ahra berusaha mencari jalan keluar permasalahan pelik itu.

BRUKK..

Sebuah suara benda jatuh terdengar dari balik pintu. Seketika Ahra dan umma’nya menoleh.

“Siapa diluar?”tanya Ahra setengah berteriak.

Tapi tak ada jawaban. Lalu keduanya, Ahra dan ibunya saling pandang.

“Biar aku lihat!”tukas Ahra sembari melangkah ke arah pintu.

Ahra membuka pintu itu, namun tak mendapati seorangpun berdiri di sana. Tapi saat melihat ke bawah, ia menemukan sebuah bingkisan berbentuk kotak yang terkoyak di lantai. Isinya yang berupa tiramisu, tampak sedikit berceceran. Ahra menatap bingkisan itu dengan tatapan bingung, keningnya mengernyit.

*****

Author POV

HaNa masuk ke dalam rumahnya dengan langkah gontai. Ditutupnya perlahan pintu rumahnya, sesaat kemudian tubuhnya lemas dan ia pun jatuh terduduk di lantai. Air mata yang sedari tadi ia tahan, akhirnya meleleh. Tangisnya meledak. Dadanya terasa sesak oleh rasa sakit yang luar biasa. Dalam isak tangis itu, wajah Kyuhyun yang teduh, suaranya yang indah, pelukannya yang hangat..tergambar jelas di pelupuk mata HaNa.

Ini tidak mungkin..

Aku pasti bermimpi..Tuhan kumohon, bangunkan aku..

*****

Kyuhyun POV

Siang ini aku akan menjadi pengisi acara Strong Heart, dan sekarang aku dan Teukie yang juga akan mengikuti acara yang sama, masih bersiap di belakang panggung. Kurogoh ponselku yang ada di saku celana. Aish..ternyata aku lupa menghidupkannya setelah pagi tadi dicharge. Akupun segera mengaktifkannya.

Ada satu pesan masuk.

From: My Lovely Evil Princess

Kyu, pagi ini aku akan menjenguk Appa’mu. Bisa kau beritahu aku, nomor berapa kamarnya?

Kulihat waktu pengiriman pesan itu, ternyata pukul 6.30 pagi tadi. Akupun segera menekan tombol panggil untuk menghubunginya.

Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau….

“Aishh..kenapa dia tidak mengaktifkan ponselnya!”batinku. AKu menghubunginya beberapa kali tapi tetap tak ada jawaban.

Akhirnya kuputuskan untuk menghubungi Ahra noona.

“Yeoboseyo..”jawab Ahra noona diujung sana.

“Yeoboseyo noona. Bagaimana kondisi Appa?”tanyaku.

“Sudah membaik. Appa sedang makan siang sekarang.”

“Syukurlah. Ehm,noona..apa tadi HaNa datang kesana?”

“Mwo? HaNa? Tidak”

“Oh..tapi tadi dia bilang ingin menjenguk Appa.”

“Kapan?”

“Pagi..pagi sekali.”

“Hmm..tidak ada siapapun.”

“Noona yakin? AKu hanya takut kalau Appa bersikap buruk padanya.”

“Ne..dia tidak kesini pagi tadi.”tegas Ahra noona yakin.

“Oh..syukurlah kalau begitu. Tadi malam saat tahu Appa masuk rumah sakit, HaNa tampak terkejut. Dia berjanji akan menjenguk Appa dan membawakan tiramisu kesukaannnya. Aku hanya takut, jika dia datang dan Appa berbicara yang tidak-tidak padanya..”

“Kyu..”

“Ne?”

“Ti..tiramisu?”ujar Ahra noona terbata.

“Kenapa noona?”

Terdengar desahan nafas diujung sana.

“Kyu..ta..tadi pagi..”

“Waeyo?”

“AKu menemukan, sekotak tiramisu yang jatuh berceceran di lantai.”

“Maksud noona?”

“Apa mungkin, itu dibawa oleh HaNa?”

“Aku masih tidak mengerti..”

“Pagi tadi, aku dan umma sedang membicarakan tentangmu. Saat kami tengah berbincang-bincang, tiba-tiba terdengar suara benda yang jatuh dari depan kamar. Tapi saat kulihat, tak ada siapapun..dan..dan aku hanya menemukan kotak berisi tiramisu itu.”

“Ma..maksud noona?”

“Apa mungkin, itu tadi dari HaNa? Dan..dan dia mendengarkan pembicaraanku dan umma.”jelas noona lirih dengan nada cemas.

“Apa..kalian membicarakan hal itu?”

“Ne..Mianhae Kyu..”

DEGG..

Jantungku terasa berhenti berdetak. TIDAK!..tolong Tuhan..jangan biarkan HaNA mengetahui hal itu sebelum aku menjelaskannya.

Tanpa berpikir, segera kuputuskan pembicaraanku dengan noona. Tangan kiriku langsung meraih kunci mobil yang kusimpan di tas. Dengan sigap akupun langsung berlari dan keluar dari ruangan itu. Tanpa mempedulikan teriakan Teukie hyung yang memanggil-manggil namaku.

Otakku kalut, yang ada dipikiranku sekarang hanyalah HaNa. AKu takut kehilangan gadis itu..sangat takut..

*****

@HaNa House

Author POV

HaNa duduk di lantai sambil memeluk kedua lututnya. Tangisnya mulai reda, walau kedua matanya masih sembab dan basah.  Kepalanya sedikit pening karena  terlalu lelah menangis. Dia melirik ponsel yang ada didalam tasnya, terpikir olehnya untuk menghubungi Kyu. Tapi rasa takut menyergapnya, dia belum siap jika yang ia dengar tadi menjadi kenyataan. Ia takkan sanggup.

HaNa kembali membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya.

Ting Nong..Ting Nong..

HaNa mendongak dan memandang ke arah pintu depan. Ia pun beringsut berdiri untuk membukakan pintu, setelah mengusap kedua pipinya dari lelehan air mata.

Pintu terbuka.

Tatapan keduanya bertemu. HaNa menutup mulutnya, ia menelan ludah. Matanya yang sembab memandang Kyu yang berdiri di hadapannya dengan ekspresi takut sekaligus marah.

“HaNa..”ucapan Kyu terdengar lembut ditelinganya.

Tangan kanan Kyu hendak meraihnya, namun HaNa melangkah mundur. Walau kakinya terasa lemas, dan tangannya nampak gemetar. Gadis itu berusaha kuat untuk tetap berdiri.

HaNa menatap Kyu tajam, lalu perlahaan mulutnya terbuka dan dengan suara bergetar ia berkata:

“Jelaskan! Jelaskan semua padaku!”

“A..apa maksudmu HaNa?”

“SUDAH! Jangan berpura-pura lagi, aku sudah mendengar semuanya. Apa itu benar, kau  yang menyebabkan kecelakaan itu?”

“HaNa kumohon, jangan begini. Kau duduklah dulu, sepertinya kau tidak sehat.”

“KATAKAAAN!!!”pekik HaNa sambil menghapus air mata yang mulai luruh kembali.

“HaNa, jebal..”tenggorokan Kyu tercekat.

“JELASKAN PADAKU, SEKARANG!!!”teriak HaNa membuat Kyu tak kuasa memandang gadis itu. HaNa terlihat sangat menderita dengan kemarahan dan kesedihan dalam hatinya.

Dan detik berikutnya, Kyu mulai bercerita. Setiap detik yang berdetak saat itu seakan pisau yang mengiris perlahan kulit tubuh keduanya. Meninggalkan perih dan luka yang akan tertoreh untuk selamanya.

Suara Kyu bergetar mengeluarkan kata demi kata yang begitu menyayat hati gadis yang dicintainya. Wajah Kyu yang tegang diselimuti butiran bening yang perlahan menetes dari sudut matanya. Dan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya, seolah belati yang mengoyak jiwa HaNa, menusuk jantungnya, menghentikan aliran darahnya, bahkan merampas oksigen yang ia hirup. Tubuh HaNa melemah, ia merasakan pening yang sangat di kepalanya. Jika saja tangannya tidak bertumpu pada sandaran sofa di sampingnya, gadis itu pasti sudah terjatuh.

“Mianhae..HaNa…mianhae. Apapun akan kulakukan untuk menebus semua kesalahanku.”tutur Kyu seraya berlutut dihadapan HaNa.

“….”HaNa tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Lidahnya kelu.

“HaNa..”

“P..pergi..”ucap HaNa lirih.

Kyu mendongak menatap gadis itu yang lalu berbalik memalingkan wajahnya. Kyuhyun tahu, pasti saat ini HaNa tak sudi melihat wajahnya lagi. HaNa pasti sangat membencinya. Kyu tahu, cepat atau lambat hal itu akan terjadi.

“Ha..Na..”

“PERGI!!!”kini suara HaNa terdengar jelas ditelinganya.

“Kumohon…”

“PERGIIIIII!!!!! DAN JANGAN PERNAH MUNCUL DIHADAPANKU LAGI!”

*****

Kyuhyun POV

DEGG..

Ucapan HaNa seketika membuatku membeku.

“HaNa kumohon…kau boleh hukum aku, ataupun membunuhku. Tapi tolong jangan suruh aku untuk pergi dari hidupmu. “batinku. Hatiku berteriak, kalau aku takkan mampu berpisah dengannya.

“HaNa…mianhae..”hanya kata itu yang mampu terucap dariku yang berdosa ini.

HaNa menundukkan kepalanya, bahunya bergetar menahan isak tangis.

“PERGI!!!”

Lagi-lagi kata itu yang keluar dari bibir mungilnya. Aku menarik nafas dalam-dalam. Aku tahu, tak ada gunanya aku terus berada di sana, hanya akan menambah kepedihannya. Pasti HaNa merasa tersiksa tiap melihatku. Aku tahu itu.

Baiklah..HaNa..aku akan pergi dari hidupmu. Tapi kumohon..hiduplah dengan baik.

Aku berbalik dan berjalan dengan berat hati, keluar dari rumah HaNa.

Mianhae..HaNa..Jeongmal Mianhae..

BRUKKK

Terdengar sebuah suara berdebum dari dalam rumah, aku langsung menoleh seketika. Dan betapa terkejutnya saat kulihat tubuh kurus HaNa tergeletak tak sadarkan diri di lantai rumahnya.

Aku berlari secepat kilat menghampiri gadis itu. Ku dekap tubuhnya erat, kusentuh wajahnya yang pucat dan basah oleh air mata.

“HaNa..bangun,..HaNa…”tapi gadis itu tetap tak bergeming.

“HaNa..kumohon, bangunlah! Kau jangan seperti ini! Bangun HaNa..kau tidak boleh lemah seperti ini..Maafkan aku..”

Dan detik itu juga aku langsung menggendong tubuh HaNa memasuki mobil dan langsung kubawa ke rumah sakit. Pikiranku kacau. Rasa cemas menyelimutiku.

“Tuhan, hukumlah aku seberat apapun! Tapi tolong jagalah HaNa. Jangan biarkan ia menderita..” hanya itu pintaku.

*****

@Seoul Hospital

“Dokter, bagaimana keadaannya?”tanyaku cemas sambil menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.

“Anda keluarganya?”

“Eh..i..iya..”

Dokter itu mengangguk.

“Keadaannya Sudah lebih baik. Dia mengalami syok berat, juga kelelahan, dan ada sedikit masalah dengan lambungnya. Tapi anda tenang saja, kondisinya akan segera membaik.”jelas dokter itu yang kemudian berlalu meninggalkanku.

Aku membuka pintu ruangan itu perlahan dan menghampiri HaNa yang terlelap. Wajahnya begitu pucat, kusentuh jemari tangannya. Dingin. Langsung kututupi tubuhnya hingga dada dengan selimut yang ada di sana.

Kudekatkan wajahku pada wajah HaNa, dan kukecup lembut keningnya.

AKu mencintaimu, Kim HaNa. Mianhae..untuk segalanya..jeongmal mianhae.

*****

*****

“Yeoboseyo..”jawab Donghae di seberang sana.

“Hyung…”

“Kyaa..KYUHYUN!!! Kau kemana saja! Kenapa kau pergi saat acara mau dimulai! Aku jadi kena imbasnya karena harus menggantikanmu! Cepat kemari, Manajer sangat marah padamu!”

“Hyung….”

“Hey..kenapa suaramu lemah begitu. Kau kenapa? Dimana?”

“Hyung..bisa kau ke rumah sakit sekarang…”

“Mwo? Rumah sakit? Kau kenapa?”

“Hyung…HaNa…..”

“Ne? HaNa? A..apa yang terjadi Kyu? Ada apa dengan HaNa?”

“Dia….”

*****
Author POV

Malam harinya.

HaNa terbangun. Ia mengerjapkan matanya seraya memandang sekeliling ruangan yang serba putih itu. Kepalanya masih terasa sedikit pusing. Tapi ia berusaha duduk untuk mencari kesadarannya.

Ia mencoba memutar otaknya, bertanya-tanya kenapa ia bisa berada di sana. Di sebelah kanannya ia melihat meja kecil dengan beberapa obat dan segelas air yang tersaji. Sedangkan di sebelah kirinya, tampak seorang namja merebahkan tubuhnya di sofa. HaNa membuka matanya lebih lebar, untuk melihat lebih jelas siapa namja itu.

“Oppa..”gumamnya lirih.

HaNa kemudian tertegun, matanya menerawang. Bayangan kejadian pagi tadi saat ia mendengarkan pembicaraan Ahra eonni dan ibunya, muncul begitu saja dikepalanya. Dadanya kemudian terasa sesak, saat ia mengingat kejadian setelahnya, ketika Kyu..menceritakan semuanya.

HaNa kembali merasakan wajahnya memanas. Tapi ia menarik nafas dalam-dalam, mencoba menahan butiran bening itu turun kembali dikulitnya yang pucat pasi.

“Umma..Appa..apa yang harus kulakukan?”

*****

“Kau sudah bangun?”tanya Donghae beberapa saat kemudian, saat dilihatnya HaNa baru saja keluar dari toilet setelah mencuci wajahnya.

HaNa mengangguk perlahan.

“Kyaa..kenapa kau lepaskan infusmu! HaNa..kau ini bagaimana? Kau sedang sakit!”Donghae tampak panik saat dilihatnya selang infus yang tadinya berada ditangan HaNa, kini digeletakan begitu saja di tempat tidur.

“AKu mau pulang, oppa..”jelas HaNa seraya meneguk air putihnya.

“HaNa..kau masih sakit.”Donghae menyentuh lembut pundak gadis itu.

“Gwenchana”tukas HaNa sambil menyembunyikan wajahnya.

“HaNa kumohon. Untuk malam ini, kau di sini dulu.”

HaNa menggelengkan kepalanya.

“Aku mau pulang.”tukas HaNa cepat.

“HaNa..tentang Kyu..dia..”

“Oppa..bisa antarkan aku pulang?”potongnya.

Donghae menatapnya, ia tak kuasa melihat gadis itu. HaNa pasti sangat menderita. Tatapan matanya kosong. Terlihat sekali kalau ia tengah memaksakan diri untuk berpura-pura tegar. Donghae menarik gadis itu dalam pelukannya, berharap gadis itu akan menangis didalam dekapannya, dan berharap HaNa tidak merasa sendiri dalam hidupnya.

Tapi HaNa langsung menarik tubuhnya. Ia melangkah cepat menuju pintu keluar.

“Kajja, oppa..”tukasnya dingin.

*******

OST: >>>2AM Can’t Let U Go, Even If I die

죽어도 못 보내
Walaupun aku mati, aku tak akan melepaskanmu

내가 어떻게 널 보내
bagaimana mungkin aku melepaskanmu

아무리 니가 날 밀쳐도
Tidak peduli seberapa keras kau berusaha mendorongku pergi

끝 까지 붙잡을 거야
ku tak akan melepaskanmu sampai akhir

정말 갈 거라면 거짓말을 해
jika kau begitu ingin pergi, bohongi saja aku

내일 다시 만나자고 웃으면서 보자고
katakan kita akan bertemu lagi besok, senyumlah dan bilang ‘sampai jumpa besok’

헤어지잔 말은 농담이라고 아니면 난
katakan jika keinginanmu untuk berpisah itu hanya candaan, atau kalau tidak aku…

죽어도 못 보내
Walaupun aku mati, aku takkan melepaskanmu

************************************************************************************

-TBC-