Annyeong chingudeul onnideul dongsaengdeul! (งˆヮˆ)ง esterong is back!!!
Mianhe karena akhir-akhir ini blog ini sepi ff hehe semua author lagi pada sibuk *aku juga sibuk UKK (╥﹏╥)*
niatnya mau bikin ff pas slesai ukk nanti tapi krn hari ini boleh nda belajar jd bisa bikin ff ini
ff ini dibuat dengan sudut pandang orang pertama pelaku sampingan *efek ulangan b.indo* krn ini pngalaman pertama, semoga nda bingung ya🙂
i’m so sorry kalau ffnya kurang bagus, kondisi otak juga sedang tak bagus soalny hiks
okelah, enjoy reading ya chingu onni dongsaeng ^^ hope you like it❤
your comments are love for me, so leave your comment here ya makasi chingu inni dongsaeng :))

Main cast : Kim Heechul, Park Jungsoo, Baek Hyunsoo

 

*****

Dari tempatku sekarang, aku dapat melihat seorang pria tampan berdiri dihadapan sebuah grand piano berwarna hitam legam yang tersedia di ruang seni universitas ini. Ia mulai merentangkan jemarinya diatas tuts piano itu. Sekilas, tampak keraguan diwajahnya namun akhirnya ia memutuskan untuk memainkan piano itu.

Dari kelincahan tangannya, sudah dapat dipastikan kalau dia adalah seorang master piano. Masalah teknik, rasanya tak ada yang perlu dikritisi lagi. Tapi mengapa permainannya seperti ini? Ini bukan perkara buruk atau bagus permainannya, namun ini mengenai feel yang terlarut dalam melodi yang ia mainkan. Penuh dengan kepedihan dan kesedihan. Diam-diam kutilik wajahnya, tatapan matanya sangat lirih namun air matanya tak mengalir. Mungkin bahkan air mata pun belum cukup untuk menggambarkan perasaannya.

“Leeteuk sshi!” seorang gadis baru saja melewatiku dan melesat masuk ke dalam ruangan itu. Kehadirannya membuat permainan pria itu terhenti. Pria yang dipanggil Leeteuk tadi menatap lekat gadis yang kini sedang berjalan menghampirinya.

“Mianhe Leeteuk sshi, aku telat. Jadi, kita mulai latihannya sekarang?” tanya gadis itu dengan senyum yang merekah diwajahnya.

Wajah Leeteuk yang menyedihkan kini berganti dengan senyuman. Ia mengangguk dan menggeser sedikit posisi duduknya agar gadis itu dapat duduk disebelahnya.

“Aku sudah latihan semalaman kemarin dan sudah menghafal setengah partitur ini,” ujar gadis itu berniat pamer pada Leeteuk.

Leeteuk yang melihat tingkah gadis itu hanya bisa tertawa kecil. Ia mengelus kepala si gadis, “Coba tunjukan padaku, Baek Hyunsoo,” tantangnya.

Dengan penuh keyakinan gadis itu mulai menekan tutsnya. Dari awal hingga pertengahan, Hyunsoo dapat bermain dengan baik namun di bar selanjutnya, gadis itu melakukan kesalahan. Gadis itu menghentikan permainannya. Ia kecewa dengan kesalahan yang ia buat sendiri. Bibirnya cemberut dan wajahnya mengekspresikan kekesalan.

Aku dapat melihat Leeteuk diam-diam tersenyum tanpa gadis itu ketahui. “Gwencana. Permainanmu sudah bagus. Sudah banyak kemajuan. Kau pasti berlatih sangat keras,” ujar Leeteuk menghiburnya.

Hyunsoo menghela nafas panjang. “Aku memang payah. Apa aku bisa menguasai lagu ini? Test Showcase Royal Piano dilaksanakan minggu depan dan akan dilihat oleh semua mahasiswa seni universitas ini, ah ditambah dengan beberapa produser dan musisi. Kurasa aku akan diusir dari panggung dipertengahan test jika permainanku seperti tadi,” ujar Hyunsoo lirih.

Lagi-lagi Leeteuk tersenyum, “Inikah Baek Hyunsoo yang aku kenal? Aku tahu, kau memang mahasiswi paling payah dijurusan seni musik ini. Banyak yang bilang kalau kau tak punya bakat musik sama sekali. Bahkan ada yang bilang kalau kau masuk kesini hanya karena keberuntungan,”

“Hey, hey, kau berniat menghiburku atau malah menghinaku Leeteuk sshi?”

“Aku belum selesai bicara,” ujar Leeteuk lembut. Mata Leeteuk kini menatap Hyunsoo lekat. “Itu Baek Hyunsoo yang tampak dari luar. Namun sebulan bersamamu membuat pandanganku berubah. Meski kau tak berbakat, kau pantang menyerah. Meski kau dihina, kau berusaha lebih keras dari yang lain. Meski kau gagal, kau akan bangkit kembali. Bukankah itu adalah Hyunsoo yang sesungguhnya?” ujarnya.

Kini wajah Hyunsoo kembali mengguratkan senyuman manisnya. Kurasa kata-kata Leeteuk tadi mampu membuat hati Hyunsoo tenang. Hyunsoo kembali menatap partitur itu dengan yakin.

“Kau benar. Aku pasti bisa, sudah ada Leeteuk yang membantuku berlatih selama ini. Aku tak akan membuatmu kecewa,” ujar Hyunsoo pada Leeteuk.

Aku melihat tangan Leeteuk hendak mengelus kepala Hyunsoo, sebagai simbol kalau ia mendukung Hyunsoo sepenuhnya. Namun tangan Leeteuk terhenti saat ia mendengar Hyunsoo berkata, “Aku harus bermain dengan baik agar aku dapat menyatakan perasaanku saat itu juga,”

Raut wajah Leeteuk kembali menyedihkan. Ia mengepalkan tangannya, kurasa untuk mengabaikan rasa sakit yang kembali berkecamuk di dadanya. Rasa sakit yang disebabkan oleh Baek Hyunsoo. Rasa sakit yang timbul karena Leeteuk sendiri tahu kalau kisah cintanya dengan Hyunsoo bertepuk sebelah tangan.

“Kau akan membantuku sampai aku benar-benar bisa kan, Leeteuk sshi?” tanya Hyunsoo sambil menatap intens mata Leeteuk.

Membantu Hyunsoo berlatih piano sama dengan Leeteuk membantu Hyunsoo untuk mengejar pria yang ia cintai. Tidak perlu munafik, Leeteuk tentu saja tak menyukai hal itu —kurasa aku juga tak akan menyukai ide itu jika berada diposisi Leeteuk— namun.. Oh Tuhan, tatapan itu kembali membuat Leeteuk tak berkutik. Tanpa berpikir panjang ia meng‘iya’kan pertanyaan Hyunsoo padahal sesungguhnya hal itu sangat berat ia lakukan.

“Kau memang yang terbaik,” jawab Hyunsoo.

Mereka mulai berlatih kembali. Saran dan kritik membangun diberikannya pada Hyunsoo. Sekitar 30 menit, akhirnya gadis itu keluar dari ruangan itu. “Leeteuk sshi, annyeong! Terima kasih sudah membantuku,” serunya.

Setelah gadis itu benar-benar pergi, kurasa kini kehadiranku sangat dibutuhkan Leeteuk. Ini saatnya aku menampakan diri. Berusaha menghibur sahabatku yang sedang pedih hatinya.

………

“Lagi-lagi kau menyakiti dirimu sendiri, bodoh,” ujarku padanya, sedikit skeptis memang tapi aku melakukan ini agar ia segera berhenti menyiksa dirinya. Namun Leeteuk tidak marah, ia malah tersenyum seakan setuju dengan perkataanku.

“Heechul ah,” panggilnya. Aku terdiam tak menjawab, tak juga menatapnya, tapi aku menantikan kelanjutan kalimatnya. “Saat kau terjatuh, apa kau sengaja melakukan hal itu?” tanyanya.

“Tentu saja tidak. Memang siapa yang mau melukai diri sendiri? Kecuali dia tidak waras,” jawabku.

Leeteuk mendengus. Kini aku melihatnya dan mendapati ia sedang tersenyum lirih. “Sama seperti jatuh cinta. Apa kau mengira aku sengaja jatuh cinta padanya? Memang siapa yang mau merasakan sakit seperti ini? Sakit ini tak tertahankan sampai-sampai aku menyesali pertemuanku dengannya hari itu,” ujar Leeteuk. Ia terdiam sesaat lalu melanjutkan kalimatnya. “Tapi perasaan ini sudah terlanjur melekat di hati. Seberapa besar usahaku untuk melupakannya, rasa ini semakin membuncah di relungku,” ujarnya. Hati mencelos mendengar pernyataannya namun aku tak tahu harus berbuat apa. Aku bukan tipe pria yang dapat berbicara lembut namun untuk menghiburnya dengan styleku saat ini kurasa kurang tepat. Aku memilih diam.

Wajahnya sendu menatap partitur dihadapannya. Ia mulai memainkan jemarinya, menekan tiap tuts dengan rasa sakit dan sedih dari hatinya.

Melodi yang penuh kesedihan itu kembali membawaku ke masa pertemuan pertama Leeteuk dengan Hyunsoo. Pertemuan yang membuat Leeteuk jatuh cinta dan patah hati disaat bersamaan. Pertemuan yang tak pernah diharapkan olehku dan juga dirinya. Melihatnya tersakiti seperti ini membuatku sedih.

*****

—Flashback, 1 month ago—

Tepuk tangan membahana diruangan ini setelah sahabatku, Park Jungsoo —aku lebih senang memanggilnya Leeteuk— menekan tuts terakhir. Permainan yang luar biasa membuat para mahasiswa, juri, beberapa musisi dan produser memberikan standing applause dan pujian padanya.

Bahkan sampai ia keluar dari ruangan itu, orang-orang masih membicarakan kehebatannya. “Wah, Leeteuk mendapat banyak tawaran beasiswa berkat Test Showcase. Dia memang hebat,” puji para mahasiswa setiap Leeteuk berjalan melalui kerumunan mereka.

Akan kujelaskan sedikit mengenai Test ini. Test Showcase Royal Piano merupakan salah satu bentuk ujian yang diadakan fakultas seni musik Universitas Dongkuk. Dalam test ini, para peserta akan menunjukkan kehebatannya bermain Piano dihadapan semua mahasiswa universitas ini, para juri —yang merupakan dosen-dosen universitas ini—, para musisi, produser, dan pencari bakat baik dari dalam maupun luar negeri. Test ini memiliki grade yang sangat tinggi. Jadi, jika kau berhasil mendapat banyak tawaran beasiswa setelah test ini berarti mereka mengakui permainanmu. Namun inti dari penjelasanku ini adalah: Leeteuk, sahabatku, memang seorang pianist berbakat.

“Wah, kau luar biasa tadi. Bahkan sampai sekarang mereka masih memujimu,” ujarku menggoda Leeteuk yang masih stay cool. Oh tidak, dia bukan pria yang dingin dan sombong, yang menganggap semua pujian itu memang pantas ia dapatkan. Namun Leeteuk sahabatku ini adalah pria rendah hati, yang menganggap dirinya belum pantas menerima pujian itu.

“Aniya, aku tak sehebat itu,” ujar Leeteuk.

“Cih, kau ini,” gerutu kesal dengan sifatnya. Kau boleh saja rendah hati, tapi sesekali nikmatilah pujian yang diberikan padamu. Aku ingin mengatakan itu tapi pada akhirnya aku bungkam. Yah, memang beginilah sahabatku. Aku berkata seperti itu pun tak akan membuatnya berubah. Dia memang pria baik. “Baiklah, karena kesuksesanmu aku akan mentraktirmu. Kajja, kita ke cafe,” ajakku.

“Kita ke ruang seni dulu. Ada partiturku yang tertinggal,” ujarnya.

…….

Saat jarak kami menuju pintu ruang seni kurang dari 5 meter, aku dapat mendengar sebuah melodi piano. Ini melodi yang sama seperti yang Leeteuk mainkan saat showcase tadi namun jika dibandingkan dengan permainan Leeteuk bisa diibaratkan seperti langit dan bumi. Sungguh, permainannya sangat buruk.

“Yaa! Siapa yang memainkan lagumu sejelek ini?!” seruku kesal namun Leeteuk justru tertawa.

“Permainannya memang jelek, tapi terdengar sangat tulus dan polos,” ujar Leeteuk. Tulus? Polos? Oh, dasar maniak musik. Darimana ia merasakan semua itu? Kadang aku tak mengerti dengan perkataannya. Atau mungkin karena aku mahasiswa fakultas seni akting jadi kurang menikmati musik.

Kami tiba didepan ruang seni, namun saat aku ingin membuka pintu itu, Leeteuk menahan tanganku.

“Wae?!” tanyaku dengan nada tinggi namun setengah suara, tapi ia tak menjawab. Matanya terus menatap ke depan melalui jendela kecil di pintu itu, menatap gadis yang sedang bermain piano itu.

“Bukankah dia Baek Hyunsoo? Anak seni musik yang katanya tak punya bakat itu? Pantas saja permainannya sangat jelek,” ujarku. Ya, aku mengenalnya. Semua mahasiswa di kampus ini —tidak hanya mahasiswa fakultas seni musik— mengenalnya. Kami semua mengenalnya sebagai mahasiswi musik paling payah. Yang tak berbakat musik sama sekali namun dapat diterima di fakultas ini karena keberuntungan.

“Ssst,” desis Leeteuk sembari meletakan telunjuknya didepan bibirnya. “Diamlah,” perintahnya tanpa menatapku.

Aku cukup tercengang dengan sikap Leeteuk. Ia sama sekali tak bergeming dari tempatnya berdiri. Sebuah senyuman tergurat jelas diwajahnya. Lalu matanya.. Mata itu terus menatap Hyunsoo. Tatapan yang penuh kasih seperti seseorang yang sedang jatuh cinta.

Tunggu.. Leeteuk jatuh cinta? Pada Hyunsoo? Yang benar saja.

“Leeteuk, kau..” belum sempat aku bertanya, tiba-tiba saja ia masuk ke dalam ruangan itu. Aku tetap diam ditempatku dan mengamati Leeteuk.

“Salah, seharusnya fis bukan cis,” ujar Leeteuk, dia berdiri dibelaBaek Hyunsoo.

Mendengar suara itu, otomatis langsung membuat gadis itu menghentikan permainannya dan menoleh kebelakang. Wajahnya menyiratkan keterkejutan melihat sosok Leeteuk.

Hyunsoo salah tingkah. Ia segera berdiri dari tempat duduknya lalu membungkukkan tubuhnya. “Mianhe,” katanya.

Leeteuk tersenyum, sangat manis dan tulus menurutku. Senyum yang berbeda dari biasanya. Senyum yang baru pertama kali aku lihat —padahal sudah 20 tahun aku berteman dengannya—.

Ternyata aku sudah tak dapat memungkirinya lagi. Leeteuk memang sudah jatuh cinta pada Hyunsoo. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Yang kulakukan hanya berdoa —kali ini saja, untuk Leeteuk aku akan berdoa— semoga saja perasaannya terbalas.

“Mianhe, permainanku sangat buruk. Bahkan tak bisa dibandingkan dengan permainanmu tadi,” ujar Hyunsoo.

“Mungkin memang permainanmu payah, tapi aku menyukainya. Terdengar sangat tulus,” ujar Leeteuk. Hyunsoo tersenyum senang padanya.

“Aku sangat menyukai penampilanmu tadi. Karena itu aku langsung ingin mencoba lagu yang kau mainkan. Kau hebat Leeteuk sshi,” puji Hyunsoo. Leeteuk tersenyum sambil menggaruk kepalanya. Bukan karena kepalanya gatal, tapi karena ia sedang malu —salah satu kebiasaan Leeteuk—

“Aku bisa mengajarimu, jika kau mau,” tawar Leeteuk.

Mata Hyunsoo membesar. “Jeongmal?” tanyanya. Leeteuk mengangguk.

“Jeongmal? Jeongmal? Jeongmal?” tanya Hyunsoo lagi, mungkin ia masih belum percaya.

“Tentu saja,” jawab Leeteuk dan seketika itu Hyunsoo langsung menyambar Leeteuk dengan pelukan. Mungkin ia terlalu senang sampai tak sadar dengan apa yang ia lakukan, tapi apa dia juga tak sadar efek dari perbuatannya? Leeteuk membatu, namun wajahnya menyiratkan kebahagian. Hatinya pasti berbunga-bunga. Dasar pria kasmaran.

“Terima kasis, Leeteuk sshi,” ujar Hyunsoo. Ia melepas pelukan itu, “Mianhe, aku tak sadar,” kata Hyunsoo sedangkan Leeteuk hanya tersenyum. Aku yakin, dalam hati ia pasti kecewa karena Hyunsoo menyudahi dekapan itu. Oh Baek Hyunsoo, kau berhasil membuat sahabatku seperti orang gila.

“Kalau kau yang mengajariku, kurasa bulan depan aku dapat mengikuti Test Showcase,” ujar Hyunsoo.

“Kenapa kau mau ikut Test Showcase? Apa sebulan tak terlalu cepat?” tanya Leeteuk, ada keterkejutan dan kekhawatiran dalam gelombang suaranya.

Aku dapat mengerti penyebab kekhawatiran Leeteuk. Jika kau bermain sangat bagus dalam test tersebut, kau akan langsung banjir tawaran beasiswa, kontrak kerja, dan yang pasti masa depanmu di dunia musik akan sangat cerah. Namun kau juga harus berani membayar mahal jika kau gagal dalam test ini.

Tidak sedikit mahasiswa seni musik yang gagal dalam test ini lalu keesokan harinya mereka sudah angkat kaki dari kampus ini. Ya, siapapun yang gagal dalam Test Showcase akan dianggap seorang pecundang dan mencoreng nama baik almamater ini —Tentu saja, karena penampilanmu akan disaksikan orang-orang penting dari berbagai belahan dunia—

Apa Baek Hyunsoo tak tahu tentang semua itu? Kurasa gadis ini sedikit nekat. Tindakannya sama saja seperti aksi bunuh diri.

Gadis itu menatap Leeteuk penuh keyakinan. Keraguan sama sekali tak tampak diwajahnya. “Aku ingin menyatakan perasaanku pada seseorang yang aku suka,” jawab Hyunsoo.

Deg. Aku terkejut. Hatiku mencelos mendengar itu. Aku mengamati Leeteuk, wajahnya tak mengalami perubahan namun tangannya sudah mengepal menyalurkan rasa sakitnya. Aku yakin hatinya jauh lebih merana daripada diriku.

“Aku harus bisa menguasai lagu itu dalam waktu sebulan. Karena jika tidak saat itu, aku tak yakin akan mendapat kesempatan kedua,” ujar Hyunsoo.

“Karena itulah Leeteuk sshi, aku mohon kepadamu, ajari aku,” pinta Hyunsoo sambil membungkukkan badannya.

‘Jangan, jangan, jangan, jangan, jangan Leeteuk’ —seakan aku dan Leeteuk dapat bertelepati— aku berbisik dalam hati agar Leeteuk menolaknya. Tapi akhirnya aku tersadar, kalau cinta telah membuat sel-sel otaknya tak berfungsi lagi. Dengan bodohnya, ia meng’iya’kan permintaan Hyunsoo.

Leeteuk menatap Hyunsoo lirih. “Ya,” jawabnya singkat. Suaranya bergetar dan tubuhnya bergeming. Aku yakin, ia sangat berat untuk mengatakan satu kata itu namun hatinya yang mencintai Hyunsoo membuatnya tak kuasa menolak.

Cinta, kau berhasil membuat sahabatku seperti orang bodoh. Kau berhasil mempermainkan perasaannya. Kalau saja kata ‘cinta’ memiliki wujud manusia, kurasa saat ini aku sudah menghajarmu karena berani menghancurkan hati sahabatku itu.

—Flashback end.—

******

Hari ini adalah H-1 penampilan akbar Hyunsoo di Test Showcase. Dengan berat hati, aku harus mengakui kalau gadis itu memang sangat hebat. Mungkin dia memang payah dan tak berbakat. Namun tekad yang kuat dan usahanya selama ini membawa perubahan yang signifikan dalam permainannya. Sekarang permainannya sudah 11-12 dengan permainan Leeteuk.

Yah, kita tinggal menunggu hari esok. Aku sudah siap tisu dan pundakku jika Leeteuk mau menangis.

“Leeteuk sshi, terima kasih sudah mengajariku,” ujar Hyunsoo setelah ia berada diluar ruangan seni.

“Sama-sama Hyunsoo,” jawab Leeteuk sambil menyusul langkah Hyunsoo keluar dari tempat itu. Hyunsoo melambaikan tangannya lalu pergi dari hadapan kami.

Leeteuk menatapku, aku pun demikian. Meski hanya sesaat, tersirat suatu kepedihan disana.

“Kajja, kita pulang,” seru Leeteuk dengan senyum yang sangat ia paksakan. Aku lebih senang melihatnya menangis melampiaskan perasaannya daripada tersenyum paksa seperti itu untuk menyembunyikan perasaannya. Terlihat sangat menyedihkan.

Aku berjalan disampingnya. “Jangan tersenyum. Kau sangat jelek jika tak tersenyum dengan tulus,” kataku. Oh, mianhe Leeteuk, aku ingin berkata lebih halus tapi entah kenapa yang keluar justru tetap saja seperti styleku yang biasanya.

Namun Leeteuk tak marah padaku, justru kali ini ia tersenyum tulus padaku dan berkata, “Gomawo Heechul ah, kau memang yang terbaik,” kata Leeteuk.

Ya, mungkin inilah yang membuat kami bertahan menjalin persahabatan selama 20 tahun ini. Dia sangat mengerti diriku dan dasarnya dia memang pria yang baik. Aku sangat suka pada pria ini —suka sebagai sahabat. Ayolah, jangan berpikir yang tidak-tidak, aku ini pria normal—.

Aku memamerkan seringai khasku. “Aku tahu, aku tahu,” ujarku mengakui kehebatanku. Aku tidak sombong, tapi aku juga bukan pria yang terlalu rendah hati sepertinya.

Leeteuk hanya tertawa kecil karena tingkahku dan aku tetap memandang lurus ke jalan, bersikap sebiasa mungkin.

…..

Saat kami hampir tiba di gerbang kampus, mataku menangkap sosok seekor anak anjing tak berdaya terduduk ditengah jalan. Kondisinya sangat miris. Kakinya yang terluka membuatnya tak bisa berjalan. Lidah yang terjulur, nafas yang tersenggal-senggal, juga wajah yang menyedihkan seakan meminta siapapun untuk menolongnya.

Leeteuk lebih dulu mengambil langkah pasti untuk menyelamatkan anjing itu. Namun sebelum kami tiba disana, sebuah mobil dari sisi kiri jalan meluncur sangat cepat menuju anjing itu. Aku yakin, meski aku atau Leeteuk berlari sekencang mungkin, mobil itu akan lebih dulu menabrak anjing itu.

Aku bisa menangkap kesedihan di mata Leeteuk. Ia pasti sedih karena anjing itu tak bisa ia selamatkan. Namun kesedihan itu tiba-tiba saja berganti dengan keterkejutan saat ia mendapati anjing itu masih hidup diseberang jalan sana, dalam dekapan Hyunsoo —gadis itu berada dalam posisi terduduk di jalan, wajahnya meringis kesakitan memegangi tangan kanannya— dengan segera Leeteuk menghampirinya. Mungkin saking khawatirnya, ia sampai tak melihat ke kiri atau ke kanan sebelum menyebrang. Untung sebelum ada mobil yang menabraknya, aku menariknya lebih dahulu.

“Yaa! Paboya!” seruku sambil memukul kepalanya. Aku sedikit kesal karena dia nyaris membahayakan dirinya. “Khawatir boleh saja, tapi jangan menyebabkan orang lain ikutan sport jantung!” seruku.

“Mianhe Heechul ah,” ujarnya, namun ia tidak menatapku. Semua perhatiannya terarah pada gadis itu. Setelah jalanan menyepi, Leeteuk segera berlari menghampiri Hyunsoo. Aku mengikutinya dari belakang.

“Kau tak apa Hyunsoo?” tanya Leeteuk sambil mengamati sekeliling tubuh Hyunsoo, mencari bagian tubuh yang kira-kira terluka.

“Tangan kananku..” rintih Hyunsoo. Dengan segera Leeteuk menggulung lengan mantel Hyunsoo. Matanya membesar saat mendapati pergelangan tangan Hyunsoo sudah memar.

“Tanganku sakit..” rintih Hyunsoo lagi.

*****

Satu persatu mahasiswa mulai mengisi kekosongan bangku di ruangan ini. Para juri, musisi, produser, dan orang penting yang lain juga mulai berdatangan. Ya, hari ini akan diadakan Test Showcase Royal Piano dimana pesertanya adalah Baek Hyunsoo.

Sesungguhnya aku dan Leeteuk sudah tiba ditempat ini sejam yang lalu, namun ia memilih untuk duduk dibangku paling belakang. Ia sangat mengkhawatirkan Hyunsoo, terutama setelah kejadian kemarin. Wajahnya menyiratkan perasaannya. Ia tak mau Hyunsoo melihat ekspresinya yang seperti itu —alasan pertama—. Alasan yang kedua adalah —tentu saja— agar saat Hyunsoo menyatakan perasaannya nanti, ia bisa segera keluar dari tempat ini sebelum air matanya mengalir.

Tirai panggung mulai terbuka, memperlihatkan seorang gadis yang cukup manis berdiri ditengah sana. Penampilannya sederhana namun pergelangan tangan kanan yang terperban membuat semua orang terkejut. Suara bisikan mulai terdengar. ‘Kau lihat tangan kanannya? Pergelangannya terluka. Dasar Baek Hyunsoo. Payah tetap saja payah,’ salah satu bisikan yang terdengar oleh telingaku.

Meski selama ini aku tak pernah berbicara dengan Hyunsoo, dan aku juga tak begitu suka dengan dirinya —karena dia membuat Leeteuk patah hati—, ada rasa kesal dalam hatiku saat mendengar ejekan itu karena aku tahu bagaimana usahanya selama ini.

Tapi aku juga tak dapat memungkiri, ada sebagian kecil hatiku yang senang akan adanya luka itu. Luka itu akan membuat permainannya sangat buruk. Dan jika permainannya buruk, ia tak akan menyatakan perasaannya pada pria yang ia cintai. Dengan demikian, sahabatku pun tak akan terluka hatinya.

Hyunsoo tersenyum kepada semua penonton. Ia membungkuk sesaat lalu menghampiri pianonya. Jemarinya mulai terjulur diatas tuts dan ia mulai memainkan melodi pertamanya. Namun ternyata dugaanku benar. Tangan kanannya tak berfungsi dengan baik dan menghambat permainannya. Sungguh, melodi yang ia mainkan saat ini sangat jelek. Tak seperti latihan terakhirnya kemarin. Ia meringis kesakitan namun ia tetap melanjutkan permainannya.

“Turun dari panggung! Permainanmu sangat jelek!” seru salah satu mahasiswa namun Hyunsoo pura-pura tak mendengarnya. Ia tetap memainkan jemarinya. “Turun dari panggung! Kau hanya membuat malu almamater ini!” lanjutnya. Orang itu berhasil menjadi profokator. Kini semua serentak memintanya untuk turun. Air mata mulai mengalir dipipinya namun ia tak menghentikan permainannya.

Aku melirik pria yang duduk disampingku. Wajahnya sama menyedihkannya seperti Hyunsoo. Tiba-tiba saja ia berdiri dari bangkunya. Aku terdiam sesaat, mencoba membaca pikirannya. Ya, kini aku mengerti apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

“Jangan turun kesana, Leeteuk,” ujarku menahannya. “Apa kau mau menolongnya? Bukankah dengan begini ia tak akan menyatakan cintanya pada pria itu? Apa kau tak marah jika akhirnya ia akan jatuh pada pria lain, bukan dirimu?” tanyaku.

Semua pertanyaanku dijawabnya dengan senyum. “Aku mencintainya. Sangat menyayanginya. Otakku marah juga kesal jika membayangkan ia akan bahagia dengan pria lain. Namun aku tak bisa membohongi hatiku yang masih sangat peduli padanya,” katanya. Sebuah penjelasan yang cukup membuatku mencelos. Aku tersentuh dan sedih disaat yang bersamaan. Aku tak lagi melarangnya. Aku membiarkannya mengikuti kata hatinya. Apapun keputusannya, aku akan siap menghiburnya.

Kini semua mulut mulai menutup. Tak lagi menyuarakan ejekan-ejekan menyebalkan itu. Ekspresi emosi mereka kini berganti dengan keterkejutan. Mereka tercengang melihat Leeteuk yang berjalan menghampiri Hyunsoo di panggung itu.

“Aku akan menjadi tangan kananmu,” ujar Leeteuk. Perkataan Leeteuk membuat Hyunsoo menghentikan permainannya.

“Ta-tapi,” tanpa mendengar perkataan Hyunsoo, Leeteuk segera mengambil posisi duduk disebelah kanan Hyunsoo. “Kau percaya padaku, kan?” tanya Leeteuk. Hyunsoo tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Air matanya ia hapus. Hyunsoo kembali menatap partitur itu dengan yakin.

“Terima kasih,” gumam Hyunsoo. Leeteuk tersenyum kecil namun aku tahu hatinya sedang merintih kesakitan saat ini.

Lagu itu kembali dimainkan dari awal. Kini permainan mereka sama hebatnya… ah ani, permainan ini terkesan lebih hebat daripada permainan Leeteuk sebelumnya. Feel dari tiap melodi ini jauh lebih kuat daripada permainan tunggal Leeteuk saat Test Showcase bulan lalu.

Semua terhanyut dalam melodi itu sampai akhirnya mereka menekan tuts terakhir secara bersamaan. Tepuk tangan kini meruah namun ada beberapa orang yang tak suka dengan penampilan ini. Bukan karena permainannya jelek melainkan karena kenyataannya Baek Hyunsoo dapat bermain sangat baik, bahkan seorang Leeteuk sampai membantunya.

“Selamat Hyunsoo. Tepuk tangan itu milikmu,” ujar Leeteuk. “Kini kau bisa menyatakan perasaanmu pada pria yang kau sukai itu,” ujarnya pada Hyunsoo. Ia hendak beranjak dari tempat duduk itu, namun tangan Hyunsoo menahannya dan tiba-tiba saja… semua terjadi begitu cepat.

…..

Semua orang tercengang dengan apa yang mereka lihat. Aku juga demikian, apalagi Leeteuk. Tiba-tiba saja Hyunsoo mencium Leeteuk. Apa mau gadis itu sesungguhnya?!

“Aku menyukaimu Leeteuk sshi. Yang selama ini kusukai adalah dirimu. Jauh sebelum pertemuan kita diruang seni itu, aku sudah menyukaimu, menyayangimu,” ujar Hyunsoo tanpa keraguan sedikit pun. Jadi selama ini pria yang ia sukai Leeteuk? Bukan yang lain?

Leeteuk tak menjawab. Kurasa ia masih dilanda shock. Mungkin ia berpikir kalau ini semua hanya mimpi.

Kini Hyunsoo menatap Leeteuk lirih. Aku yakin ia mengira Leeteuk tak menyukainya karena Leeteuk hanya terdiam sejak tadi. “Ah, mianhe Leeteuk sshi, kau pasti shock karena aku mencuri ciumanmu. Jeongmal mianheyo,” ujar Hyunsoo sambil menundukan kepalanya.

Ayo Leeteuk! Sadarlah! Katakan padanya kalau kau juga menyukainya! Argh, i’m going crazy because of them!

“Aku juga minta maaf kalau perasaanku ini mengganggumu. Kau tak perlu menjawabnya, aku sudah cukup puas bisa menyatakan perasaanku padamu. Dan kalau kau tak suka dengan kehadiranku, mulai kini aku akan menjauh dari…”

………

Wow… Leeteuk….. Daebak! Lagi-lagi kami dibuat tercengang dengan tingkah mereka. Kini Leeteuklah yang mencium Hyunsoo sebelum Hyunsoo menyelesaikan kalimat terakhirnya tadi. “Jangan. Jangan menjauh dariku. Apa kau tak tahu bagaimana aku tersiksa selama ini membayangkan cintaku ini bertepuk sebelah tangan? Jangan pernah pergi dariku karena aku juga mencintaimu Baek Hyunsoo. Jeongmal Saranghaeyo,” ujar Leeteuk. Kini Hyunsoolah yang terdiam. Ia masih dilanda shock akibat kaget dan senang disaat bersamaan.

Leeteuk tersenyum melihat Hyunsoo yang seperti itu. Ia mengelus kepala Hyunsoo lembut. “Ini bukan mimpi sama sekali. Aku serius mencintaimu,” ujar Leeteuk sambil menarik Hyunsoo kedalam pelukannya.

Aku masih ingin melihat romantisme mereka namun tiba-tiba tirai panggung itu tertutup. YAA! Mengapa tirainya harus ditutup?!!

*****

“Mengapa ia harus menunggu Test Showcase ini untuk menyatakan perasaannya padamu?”

“Dia pikir, mungkin aku tak suka dengan gadis payah sepertinya. Jadi ia ingin menjadi lebih hebat demi aku. Dia tak ingin membuatku malu jika berpacaran dengannya nanti,” jawab Leeteuk tanpa menghilangkan guratan senyum diwajahnya.

“Lalu kenapa dia mengatakan kalau ini kesempatan yang terakhir untuk menyatakan cintanya?”

“Oh, dia pikir aku jadi mengambil beasiswa ke Amerika bulan depan. Karena itulah ia memaksakan untuk segera ikut Test Showcase,” jawab Leeteuk yang membuatku sedikit terkejut.

“Kau tidak jadi ambil beasiswa ke Amerika itu?!” tanyaku.

“Tidak. Sejak kemarin aku membatalkannya. Meskipun Hyunsoo dinyatakan gagal dalam Test kemarin —karena ia dibantu olehku saat Test— penampilannya memberikan kesan yang kuat pada para juri. Ia juga mendapat beberapa tawaran beasiswa, jadi kami akan menentukan beasiswa mana yang akan kami ambil agar kami tetap bisa bersama, ” jawabnya.

“Waw.. kalian memang menakjubkan,” ujarku, setengan memuji-setengah menyindir sedangkan Leeteuk tetap cengar-cengir tanpa rasa bersalah sedikit pun. Aku menghela nafasku, setidaknya Leeteuk yang seperti ini lebih baik daripada Leeteuk dengan tampangnya yang merana —ia terlihat jauh lebih tua dari umurnya—

“Ah, itu Hyunsoo,” ujar Leeteuk saat melihat Hyunsoo menghampiri meja kami.

“Annyeong Jungsoo-nim,” sapa Hyunsoo pada Leeteuk. Jungsoo-nim? Kurasa itu panggilan sayangnya pada Leeteuk. Dan ternyata dugaanku benar, tiba-tiba saja pipi Leeteuk memerah.

“Duduklah disini,” ujar Leeteuk sambil menepuk kursi yang ada disebelahnya.

Aku menyesap kopiku dan mulai mengalihkan perhatianku dari mereka. Oh, mengapa aku seperti obat nyamuk disini? Perasaanku bertambah resah karena Hyunsoo terus saja menatapku dengan mata polosnya itu.

“Wae?” tanyaku ketus tanpa memandangnya.

“Kau sangat cantik,” jawabnya jujur yang membuatku sedikit tersedak.

Aku dapat mendengar Leeteuk menahan tawanya. Awas kau. “Ah, Hyunsoo, dia sahabatku Kim Heechul, kurasa kau sudah pernah melihatnya,”

Aku memang tak memandang Hyunsoo secara langsung, tapi aku memincingkan mataku agar dapat melihatnya dari ujung mataku. Matanya membesar menyatakan keterkejutan. “Jeongmal? Dia hanya sahabatmu?” tanyanya.

“Tentu saja, memang kenapa?” tanya Leeteuk.

“Aku kira aku akan patah hati karena kau menyukainya. Ia jauh lebih cantik dariku dan ia juga lebih sering bersamamu,” ujar Hyunsoo yang membuat Leeteuk tertawa hebat.

“Ya! Ya! Ya! Mworago?” tanyaku kesal sambil menuding Hyunsoo.

“Kau sangat cantik,” ujar Hyunsoo mengulang perkataannya tanpa rasa bersalah bahkan ia berkata dengan raut wajah polos seorang anak kecil yang mampu membuatku bungkam seketika. Aku kesal namun aku tak tega untuk memarahinya.

“AISH!” seruku melampiaskan kekesalanku. Aku kembali mengalihkan pandanganku dari mereka.

“Hyunsoo, mianhe. Jangan salah paham pada Heechul. Dia memang sedikit skeptis tapi dia..”

“Iya, aku tahu. Dia orang yang baik. Auranya sangat hangat,” sahut Hyunsoo yang seketika itu juga membuat pipiku sampai daun telingaku memerah.

“Kau benar,” timpal Leeteuk. “Meski Heechul sedikit skeptis, nyentrik, dan sometimes menyebalkan namun dialah yang paling perhatian padaku. Tanpa aku katakan, ia sudah tahu tentang perasaanku padamu. Tanpa aku mengadu, dia pasti akan datang untuk menghiburku. Meski tidak dengan kata-kata halus tapi kehadiranya sudah menguatkanku. Kalau tak ada Heechul, mungkin aku akan depresi karena cinta pertamaku bertepuk sebelah tangan,” ujar Leeteuk yang membuat wajahku makin memerah. Argh, aku sudah tak kuat berada disini lebih lama lagi.

Aku berdeham membuat percakapan mereka terhenti. “Aku tidak tuli. Aku bisa mendengar semua percakapan kalian tapi aku tidak sebaik yang kalian katakan,” ujarku sambil bangkit dari tempat dudukku lalu beranjak meninggalkan mereka.

“Heechul-sshi,” panggil Hyunsoo. Langkahku terhenti lalu kuputar tubuhku agar bisa menatapnya.

“Apa?” tanyaku ketus. Bukan karena aku tak suka padanya namun karena memang ‘beginilah’ aku.

“Apa kita bisa berteman?” tanyanya. Sebuah pertanyaan retoris yang mampu membuat ujung bibirku tertarik.

“Aku tak bertanggung jawab kalau kau jatuh cinta padaku. Aku ini sangat tampan,” ujarku.

Hyunsoo tersenyum padaku. “Tidak mungkin. Kau tidak tampan. Bagiku kau itu sangat-sangat-sangat cantik,” ujarnya. Aku menatap Leeteuk dan mendapati ia sedang menahan tawanya. Awas kau Leeteuk! Oh God, terbuat dari apa gadis ini?!

“Aish!” seruku. Aku tak peduli lagi pada mereka. Aku memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu.

“Heechul ah!” panggil Leeteuk yang membuat langkahku terhenti kembali. Aku menoleh padanya dan menatapnya dengan mata yang berkata ‘Apa lagi?’

Leeteuk memamerkan serentetan giginya dan bibirnya membentuk sebuah lengkungan manis. Senyum Leeteuk yang paling kusukai kini kembali muncul. “Terima kasih,” katanya yang kusambut dengan seringai khas milikku.

“Kalau sampai kalian berani memutuskan hubungan kalian, aku juga akan memutuskan persahabatanku,” jawabku lalu benar-benar pergi meninggalkan mereka.

“Saranghaeyo KIM HEE CHUL! Woo u biccal KIM HEE CHUL!! KIM HEECHUL SARANGHAE!!” seru Leeteuk yang membuat semua mata kini menatapku.

“Dasar tak tahu malu!” umpatku namun tak ada kekesalan diwajahku. Senyumku justru merekah karenanya.

 

Ketika kau merasa sakit untuk melihat kebelakang,

dan kau takut melihat kedepan,

kau dapat melihat ke sampingmu,

dan sahabat baikmu akan ada disana.

 

end.