Annyeonghaseyo chingudeul, onnideul, dongsaengdul🙂

This ff is sequel of My Happiness In you =) for SiMun couple :3

Actually, aku bikinnya sudah lama cuma baru sempet edit sekarang dan dipost skrng. So, enjoy this story ya ^^ hope you like it ya (งˆヮˆ)ง

oia, Siwon disini kerjanya sebagai aktor, model, dan yang berhubungan sengan dunia entertainment ya. soalnya kayaknya belum aku jelasin di cerita yang Sonrye-Kibum kemarin ^^

Happy Reading! by: esterong (งˆヮˆ)ง

*****

“Jadi, apa jawabanmu Hamun?” tanya pemuda tampan yang berjalan disamping Hamun.

“Jawaban apa maksudmu, Choi Siwon sshi?” tanya Hamun. Tentu saja ia hanya berpura-pura lupa. Hamun tak akan mungkin bisa melupakan kata ‘Saranghae. Kau mau menjadi pacarku?’ yang selalu terucap dari pria itu setiap melihat wajah Hamun.

Pria yang bernama Siwon itu menghentikan langkahnya. Ia menahan langkah Hamun dengan menarik lengan Hamun. “Apa kau sudah berubah pikiran? Kau mau menjadi pacarku?” tanyanya sekali lagi. Matanya menatap lekat Hamun tanpa keraguan. Yang ada hanya kejujuran dan ketulusan.

“Tidak,” jawab Hamun lugas namun bukan jawaban itu yang Siwon inginkan.

“Kenapa?” tanya Siwon menuntut penjelasan.

“Tentu saja karena aku masih waras. Apakah logis seorang gadis SMA biasa sepertiku berpacaran dengan aktor terkenal sepertimu? Para penggemarmu tak akan bisa menerima hal itu. Aku tak ingin memiliki anti-fans. Lagi pula, kita baru bertemu sebulan yang lalu,” balas Hamun. Tanpa memperdulikan Siwon yang sudah mematung berkat jawabannya, Hamun segera menepis tangan itu dan pergi meninggalkannya.

Kibum dan Sonrye yang berdiri dibelakang mereka sedari tadi,  hanya bisa menyembunyikan keprihatinannya dalam hati. Sonrye menghampiri Siwon dan menepuk pundaknya. “Oppa, bersabarlah. Hamun memang seperti itu. Kalau kau menyerah sekarang, berarti kau tak benar-benar mencintai Hamun. Dan aku tak akan membiarkan pria seperti itu berkeliaran disekitar Hamun,” ujar Sonrye yang sedari tadi melihat ‘insiden penolakan’ tersebut.

“Kau ini sebenarnya ingin mendukungku atau malah menjatuhkan mentalku, Sonrye?” tanya Siwon setengah bercanda.

“Aku hanya memberikan kritik yang membangun. Itu lebih baik daripada hanya sekedar saran,” timpal Sonrye.

“Kami akan membantumu, hyung,” sahut Kibum yang Sonrye tanggapi dengan anggukan tanda ia setuju.

Siwon terdiam, berpikir sesaat. “Kalian benar. Aku bukan pria yang gentle jika menyerah karena 3 kali ditolak,” guman Siwon yang ia tunjukan pada dirinya sendiri.

*****

“Sonrye, ppali,” ujar Hamun sambil mengetok pintu kamar Sonrye.

“Tunggu, aku hanya perlu menyusun bukuku,” sahut orang didalam sana.

Hamun tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya menghela nafas panjang dan berdiam diri sambil menunggu Sonrye. Tiba-tiba ringtone ponselnya berbunyi. Sesuatu yang sangat jarang terjadi di pagi hari.

Hamun membuka ponselnya. Ia cukup kaget melihat nama si pengirim pesan itu.

From : 987-878-xxx

“Selamat pagi. Kau sudah siap untuk ke sekolah? Hwaiting Park Hamun! —Choi Siwon *Simpan nomorku ^^*”

Itulah pesan yang tertulis disana. Tanpa membalas, atau menyimpan nomor itu, Hamun langsung menutup ponselnya. Bertepatan dengan ponselnya ditutup, Sonrye keluar dari kamarnya.

“Kau memberitahu nomorku pada Siwon?” tanya Hamun tanpa basa-basi.

Tanpa menunggu jawaban Sonrye, Hamun sudah bisa menyimpulkan kalau memang Sonrye yang memberi tahu nomornya pada Siwon. Hamun sangat mengenal Sonrye. Hanya dari gelagatnya saja, Hamun sudah bisa tahu apa Sonrye berbohong atau tidak.

“Baiklah, tak perlu kau jawab. Aku sudah tahu jawabannya. Kali ini aku maafkan,” putus Hamun yang tak mau memperpanjang masalah ini.

“Lalu Hamun, apa kau sudah membalas sms Siwon oppa?” tanya Sonrye.

“Untuk apa aku membalasnya? Aku tak ingin memberikan harapan padanya. Lebih baik begini daripada ia tersakiti nanti,” balas Hamun sambil melanjutkan langkahnya.

Sonrye menatap punggung Hamun iba. “Apa kau tak bisa membuka hatimu untuknya?” tanya Sonrye lirih. Pertanyaan itu membuat langkah Hamun terhenti.

“I’m prefer alone,” jawabnya dingin. Hamun berlalu lebih dulu, meninggalkan Sonrye yang masih diam ditempatnya sambil menatap punggung Hamun lirih. Rasa kasihan dan bersalah bercampur dihati Sonrye. Ia sangat mengenal Hamun. Ia tahu apa yang membuat Hamun begitu menutup hatinya, tapi ia tak tahu harus berbuat apa.

“Semoga Siwon oppa berhasil mengubahnya,” gumamnya. Hanya Siwon harapannya sekarang.

*****

“Cut! Siwon, akting yang bagus. Kau istirahat dulu sekarang,” ujar Sutradara setelah salah satu scene Siwon terselesaikan dengan baik.

“Gamsahamnida,” balas Siwon. Siwon mengambil posisi duduk disalah satu kursi yang ada disana dan mengambil ponselnya. Sedari tadi ia tak sabar untuk membaca balasan pesan dari Hamun, namun dari sekian banyaknya pesan masuk, tak ada kontak Hamun disana. Melihat itu, bukannya sedih, Siwon malah tersenyum.

Sejak awal ia sudah tahu resiko yang akan ia ambil jika ingin mengejar Hamun. Namun hal itu tak menyurutkan tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk mengejar Hamun. Karena itu, ia akan berusaha sekuat tenaganya. Ia yakin suatu saat nanti Hamun akan menjadi miliknya.

To : Uri Hamun❤

Hamun, kau sedang apa? Sangat sibuk sampai tak bisa membalas smsku?

Nb: Kau tak berniat membalas smsku? Aku akan memberi kejutan padamu ^^

Siwon tersenyum sendiri dengan isi pesannya. Ia segera menekan tombol send saat sutradara memanggilnya untuk kembali berakting.

“Eng, Sunbae, apa aku boleh minta break jam 3 nanti? Aku akan berusaha keras sekarang,” pinta Siwon dan sutradara itu menyetujuinya.

*****

“Kenapa kau disini?” tanya Hamun saat mendapati Siwon sudah berdiri dengan gagah didepan mobil mewahnya yang terparkir di depan gerbang sekolah Hamun.

“Oh, Hai Hamun!” sapa Siwon girang saat menyadari kehadiran gadis yang sejak tadi ia tunggu. “Bukankah sudah kubilang kalau aku akan memberikanmu kejutan?” ujar Siwon sebagai jawaban atas pertanyaan Hamun tadi.

“Lalu kenapa kau harus kesini?” tanya Hamun lagi, belum puas dengan jawaban sebelumnya.

Siwon mengumbar senyumnya. “Bogoshiposo, aku ingin sekali melihat wajahmu makanya aku langsung kesini begitu syuting selesai,” katanya sambil menatap intens Hamun. Kata-kata lembut itu mengalir dalam gendang telinga Hamun. Dari getaran suaranya, Hamun bisa merasakan kejujuran dan ketulusan. Getaran itu merambat ke nadinya, menimbulkan detak jantung yang berpacu cepat.

Hamun segera memalingkan wajahnya. Menjauhi kontak mata dari Siwon karena ia bisa merasakan hawa panas dalam tubuhnya. Ia yakin wajahnya pasti sudah memerah sekarang, meskipun ia sendiri tak tahu mengapa tubuhnya bereaksi seperti itu.

“Sa-sayang sekali, aku ti-tidak merindukanmu,” balas Hamun setengah gagap. Ia berusaha menghilangkan ketegangan yang tercipta karena ucapan Siwon tadi.

“Ah, kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang sekarang. Sonrye pasti lebih senang jika Kibum yang menjemputnya,” tawar Siwon.

Kestabilan tubuh Hamun telah kembali. Ia mulai memberanikan  diri untuk menatap Siwon. Hamun tersenyum simpul seakan ada maksud tersembunyi. “Tak semudah itu, Choi Siwon sshi,” ujarnya.

Siwon menatap Hamun bingung. Tiba-tiba Hamun berteriak, “Kyaa! Ada Choi Siwon disini!”

Hanya dalam 1 menit, kini semua gadis di sekolah itu sudah mengerumuni Siwon. Meminta tanda tangannya, juga berfoto dengannya. Hamun yang melihat itu hanya tersenyum penuh kemenangan lalu melenggang begitu saja meninggalkan Siwon.

Siwon tak bisa kemana-mana. Ia tak bisa mengejar Hamun karena terpaksa harus melakukan fan service terlebih dahulu. Siwon menatap punggung Hamun yang semakin menjauh. Ia tersenyum sendiri setelah ia menyadari sesuatu, “Kurasa aku benar-benar mencintainya sampai rela menjadi seperti karena dia,” gumamnya.

*****

Keluarga Park sedang berkumpul di meja makan untuk menikmati dinner. Tiba-tiba saja bel rumah tersebut berbunyi. “Aku saja yang membukanya,” ujar Sonrye menawarkan diri.

Awalnya Hamun tak peduli dengan tamu tersebut, sampai akhirnya ayah Sonrye menyapa mereka.

“Wah, ada Kibum dan Siwon,” ujar Ayah Sonrye yang membuat perhatian Hamun segera teralihkan. Kini ia melihat Siwon dengan mata kepalanya sendiri. Siwon tersenyum menatapnya. “Hai, Hamun,” sapanya.

“Kau benar-benar menguji kesabaranku,” gerutu Hamun sambil menggigit bibir bawahnya. Siwon hanya tersenyum kecil melihat hal itu.

…..

“Apa-apaan ini? Kenapa kita harus bermain permainan ini? Kau sangat tahu kalau aku lemah dalam permainan ini, Sonrye,” runtuk Hamun saat tahu kalau keluarganya —ditambah dengan Kibum dan Siwon— akan bermain Hwatu, permainan kartu khas Korea Selatan.

“Yang kalah akan dihukum. Selain disentil oleh semua pemain yang menang, ia juga harus mengikuti kemauan pemain dengan skor tertinggi,” ujar Ayah Sonrye menjelaskan permainan itu.

Hamun terdiam. Ia pasrah. Ia sudah dapat memastikan kekalahannya yang akan terjadi dalam hitungan menit.

Dugaan Hamun benar. Hanya 20 menit permainan berlangsung, ia sudah kalah. Parahnya, pemegang skor tertinggi adalah Choi Siwon. Ia seperti kancil yang tak bisa lepas dari kekangan singa.

“Auw!” teriak Hamun saat ayah Sonrye menyentil dahi Hamun. Sonrye, Kibum, dan Ibu Sonrye, sudah menyentilnya lebih dulu. Dahi Hamun sudah sangat merah sekarang.

“Aish, ppali,” ujar Hamun kesal saat ia sudah duduk didepan Siwon. Kini giliran Siwon untuk menyentilnya. Hamun menutup matanya untuk mengurangi rasa sakit pada dahinya.

Siwon tersenyum simpul saat melihat wajah Hamun. Niat awal yang ingin menyentil melenceng. Siwon mendekat pada Hamun. Mengangkat poni Hamun lalu mencium dahi Hamun lembut.

Hamun yang merasakan kelembutan itu terkesiap. Matanya membesar mendapati kenyataan kalau Siwon mencium dahinya.

“Besok kencan denganku, ya?” ujar Siwon setelah melepas ciumannya. Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta, Siwon bahkan tak peduli dengan bibi dan paman Hamun yang saat ini masih duduk diruangan yang sama dengan mereka.

Hamun ingin menolak namun Siwon menyela, “Yang kalah harus mengikuti kemauan pemain dengan skor tertinggi,” timpal Siwon mengingatkan Hamun akan peraturan permainan itu.

“Kau ingin menolak permintaanku? Kurasa itu bukan sikap yang baik,” ujar Siwon. Cara Siwon sangat jitu. Intergritas diri yang tinggi membuat Hamun tak bisa melawannya, dengan segala keterpaksaan Hamun menyetujuinya.

“Kalau begitu, aku akan menjemputmu pulang sekolah besok,” ujar Siwon dengan senyum kemenangan yang menghiasi wajahnya. Lain dengan Hamun yang kini sudah menekuk wajahnya.

Ibu Sonrye yang sedari tadi menikmati aksi Siwon akhirnya turun tangan. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Hamun lalu berbisik, “Dia pria yang baik. Gommo rasa kau harus membuka hatimu untuknya. Gommo yakin ia tak akan meninggalkanmu,”

Hamun tersenyum lirih pada bibinya itu, “Sometimes it’s better to be alone. No one can hurt me,” ujarnya. Bibi Hamun hanya bisa menatapnya iba. Ia tahu mengapa Hamun berpikiran seperti itu. Ia ingin bersimpati, tapi ia tahu kalau Hamun tak suka dikasihani.

“Semoga saja Siwon bisa meluluhkan hatimu ya, nak,” ujarnya sambil mengelus kepala Hamun.

“Kita lihat nanti saja ya, gommo,” balas Hamun.

*****

“Untuk apa kita kesini?” tanya Hamun saat Siwon membawanya ke sebuah taman bermain. Salah satu tempat yang memiliki kenangan tentang orang tuanya. Dulu orang tua Hamun sering membawanya ke tempat ini.

“Aku ada pemotretan disini. Meskipun sudah sebesar ini, aku selalu senang jika diajak ke tempat ini. Rasanya seperti bernostalgia. Aku pikir kau akan merasakan yang sama. Kau menyukainya?” tanya Siwon.

Jawaban itu langsung membuat pipi Hamun merona. Ia tak menyangka kalau Siwon begitu memikirkannya. “Jadi aku harus menunggumu hingga pemotretan selesai? Aku tak suka itu. But yeah, aku suka dengan tempat ini,” jawab Hamun tanpa berani melihat Siwon. Ia malu untuk mengakui kalau perkiraan Siwon benar.

Siwon yang melihat reaksi Hamun hanya bisa tersenyum, walaupun sebenarnya ia ingin memeluk bahkan mencium gadis yang sangat mengganggu otaknya itu.

“Siwon sshi, cepat ganti bajumu,” seru salah satu kru.

“Ayo, kita kesana,” ujar Siwon sambil menelusupkan jemarinya ke sela-sela jari Hamun. Perbuatan yang terlalu tiba-tiba membuat jantung Hamun berdetak sangat cepat. Namun Hamun tak memberontak. Ia membiarkan tangan itu membawanya pergi.

Ia tak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini. Ini adalah kali pertamanya jantungnya berdebar, terutama karena seorang pria.

…..

“Annyeong,” sapa salah satu kru sambil menyodorkan sebuah es krim pada Hamun.

Hamun menatapn es krim itu dan wanita yang membawanya bergantian. Tatapan matanya mengisyaratkan kebingungan. “Siwon yang menyuruhku membelikan ini untukmu. Ia takut kau bosan menunggu,” jelasnya wanita itu.

Hamun tersenyum lalu mengambil es krim itu. “Gamsahamnida,” ujar Hamun. Wanita itu mengambil posisi duduk disamping Hamun, lalu mulai menyesap kopinya.

“Aku Hyejin,” ujar gadis itu. Hamun hendak memperkenalkan diri, tapi Hyejin lebih dulu menyela, “Kau Park Hamun. Aku tahu. Siwon sering bercerita tentangmu,” katanya. Nama ‘Siwon’ yang sempat terucap kembali membuat jantung Hamun berdebar, namun ia tetap berusaha tenang.

“Sejak kapan kalian berpacaran?” tanya Hyejin memecah suasana yang sempat sunyi.

Hamun tersenyum, “Kami tidak berpacaran,” jawabnya.

“Serius? Tapi kenapa ia begitu perhatian padamu?” tanyanya lagi. Hamun mengangkat bahunya, tanda ia juga tak tahu jawabannya.

“Aku salah satu sahabat Siwon. Aku sudah mengenalnya sejak ia SMA. Ia pernah berpacaran sebelumnya, tapi perhatiannya tak pernah sampai seperti ini. Apalagi untuk gadis yang bukan pacarnya,” terangnya.

Hamun tertawa pelan, “Mungkin dia sedikit aneh,” imbuhnya.

Hyejin terdiam sesaat. Mungkin ia sedang berpikir. “Kurasa hal itu tidak aneh jika ia menyukaimu. Ani, kurasa ia benar-benar mencintaimu. Apa ia pernah menyatakan cinta padamu?” tanyanya.

‘Oppa ini jatuh cinta denganmu pada pandangan pertama. Kau mau menjadi pacarku, Hamun?’

Pertanyaan tadi membuat ingatan Hamun kembali ke malam itu, pertemuan pertamanya dengan Siwon. Ia ingat dengan jelas pernyataan itu. Ia ingat dengan jelas ekspresi Siwon saat mengatakannya. Ia ingat dengan jelas bagaimana ketulusan dan kejujuran Siwon merasuki jiwanya. Namun saat itu juga ia ingat akan rasa takutnya. Rasa itulah yang membuat Hamun menutup pintu hatinya. Ia tak akan membiarkan siapapun, termasuk Siwon, menghancurkan pertahanannya itu.

“Tidak pernah,” jawab Hamun berdusta. Ia tak ingin lagi mengingat kejadian itu. Ia tak akan membiarkan Siwon masuk kedalam hatinya.

“Kalian membicarakan aku?” tanya Siwon yang tiba-tiba muncul dibelakang mereka.

“Kau terlalu percaya diri, Choi Siwon sshi,” timpal Hamun yang disambut oleh tawa dari Siwon dan Hyejin.

“Ayo, kita pulang Hamun. Aku sudah selesai. Kalau terlalu malam, Sonrye pasti khawatir,” ajak Siwon sambil menggenggam tangan Hamun. Hamun yang bisa merasakan jantungnya kembali berdebar sangat cepat, langsung menepis tangan itu.

“Mianhe,” ujar Hamun tanpa berani menatap Siwon. Wajahnya sudah seperti apel sekarang. Ia tak mau Siwon melihat wajahnya saat ini. Dengan segera ia melangkah lebih dulu menuju mobil Siwon. Meninggalkan Siwon yang masih berdiam ditempatnya dan terus memandangi punggung Hamun sambil tersipu-sipu.

“Kau kenapa?” tanya Hyejin.

“Kau tak lihat wajah Hamun tadi? Wajahnya tersipu malu karena aku menggenggam tangannya. Bukankah itu berarti ia berdebar?” ujar Siwon kegirangan. Hyejin pun tersenyum bahagia untuk Siwon.

“Tapi kurasa perjuanganmu tak akan semudah itu. Ia punya cangkang yang keras dihatinya. Ada suatu alasan yang membuat dirinya seperti itu,” imbuhnya.

Siwon tersenyum padanya, “Meski aku belum tahu alasannya apa, aku tahu hal itu. Aku akan mencoba untuk membuka hatinya. Terima kasih, Hyejin,”

*****

“Terima kasih karena sudah mengantarkan aku pulang,” ujar Hamun saat mobil Siwon tiba di depan rumahnya. Siwon tersenyum sebagai jawaban.

“Kalau begitu, aku keluar dulu,” pamit Hamun. Ia hendak membuka kenop mobil itu, tapi tangan Siwon terjulur sampai ke pintu Hamun untuk menguncinya kembali. Siwon masih ingin bersama Hamun. Ia belum rela Hamun pergi.

Tubuh Hamun dan Siwon sangat dekat saat ini. Begitu juga dengan wajah mereka. Hidung mereka yang mancung bahkan sudah bersentuhan. Hamun bisa merasakan hembusan nafas Siwon di wajahnya dan hal itu membuat otaknya mati suri.

Siwon juga demikian. Jantungnya yang berdebar sangat kencang saat ini membuat otaknya tak berfungsi dengan baik. Perasaan yang selama ini susah payah ia kendalikan, kini memberontak. Ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak mencium bibir Hamun.

Hamun terkesiap saat bibir Siwon menempel pada bibirnya. Tapi anehnya, tubuh Hamun tak memberikan perlawanan sedikit pun. Hamun malah menutup matanya dan membiarkan Siwon menciumnya.

“Hamun, Saranghae,” gumam Siwon setelah ia melepaskan bibirnya dari Hamun. Tepat diakhir kalimat itu, Hamun akhirnya tersadar.

Ia sadar kalau Siwon sudah berhasil membuka hatinya. Ia pun sadar kalau hatinya menerima kehadiran Siwon. Namun ia juga sadar akan kebodohannya yang membiarkan semua hal itu menghancurkan cangkangnya. Rasa takut Hamun kini kembali mencuat dalam dirinya. Tubuhnya bergetar dan air mata mulai mengisi pelupuknya.

“Hamun? Hamun, waeyo?” tanya Siwon panik. Tangan Siwon yang hendak menghapus air mata Hamun langsung ditepisnya. Hamun mendorong tubuh Siwon agar menjauh darinya. Ia segera turun dari mobil itu.

Siwon yang tak mengerti dengan sikap Hamun segera mengikuti langkah Hamun. Ia turun dari mobilnya dan menahan lengan Hamun.

“Kau kenapa?” tanya Siwon. Hamun tak menjawab, ia menepis tangan itu.

Untung bagi Hamun dan buntung bagi Siwon, Sonrye membuka pintu rumah itu. Dengan segera Hamun masuk tanpa menjelaskan apapun pada Sonrye ataupun Siwon.

Siwon menatap punggung Hamun lirih dan Sonrye menatap Siwon dengan iba. “Dia.. Kenapa rasanya susah sekali untuk mendapatkannya?” gumam Siwon lirih, nyaris putus asa.

“Aku mohon, bersabarlah untuknya. Tak mudah baginya untuk membiarkan seseorang yang baru masuk ke dalam hatinya. She’s a little scared to get close to anyone because everyone that said I’ll always here for you left,” ujar Sonrye.

Siwon terdiam, merenungkan perkataan Sonrye barusan. “Kurasa aku sudah sangat egois sampai tidak memikirkan perasaannya. Padahal ia juga sangat menderita,” gumamnya.

“Kalau begitu, kabari aku jika ia sudah baikan ya, Sonrye,”

“Baiklah. Hati-hati dijalan oppa,”

…..

“Hamun, kau sudah tidur?” tanya Sonrye saat memasuki kamar Hamun. Hamun tak menjawab, ia malah menutupi tubuhnya sampai ke puncak kepalanya dengan selimut. Membuat tubuhnya seolah-olah sudah tidur.

Sonrye mendekat dan duduk di tepi tempat tidur Hamun. “Aku tahu kau belum tidur,” katanya. “Aku tak meminta kau merespon apa yang kukatakan, tapi dengarkanlah dengan baik,”

“Aku sangat mengenalmu. Aku tahu alasan yang membuat kau menutupi hatimu. Tapi aku ingin kau tahu, Siwon tak akan seperti itu. Bukankah kau sudah merasakan ketulusannya? Bukankah hatimu sudah mengakui kalau cinta Siwon adalah nyata? Asal kau minta padanya ‘Jangan tinggalkan aku’ sesulit apapun keadaannya atau bahkan jika kau yang memintanya untuk meninggalkanmu, Ia akan tetap berada disisimu. Ia tak akan meninggalkanmu jika kau sudah memintanya demikian. Jangan menyiksa dirimu lebih lama lagi, Hamun sayang. Jangan buat ia menunggumu terlalu lama,” ujar Sonrye.

“Selamat tidur, Hamun,” ujar Sonrye lalu keluar dari kamar Hamun.

Hamun membuka selimutnya. Ia membuka ponselnya yang tadi sempat berdering. Ia membuka ponselnya dan membaca pesan itu.

From: Choi Siwon

Mianhata. Aku sudah begitu egois sampai tidak memikirkan perasaanmu. Kau memaafkanku? Aku sangat mencintaimu, Hamun.

Hamun tak dapat membendung air matanya lebih lama lagi. Air matanya kembali mengalir setelah ia membaca kalimat terakhir di pesan itu. Kata-kata Sonrye tadi kini terngiang dikepalanya. Sonrye benar, Hamun tak bisa menutupi hatinya lebih lama lagi. Hamun tak bisa membuat Siwon menunggu lebih lama. Hamun tak bisa membohongi dirinya sendiri, kalau dirinya telah jatuh cinta pada Siwon.

“Nado,” gumam Hamun pada pria nun jauh disana yang tak mungkin mendengar pernyataan itu.

*****

Hari ini Hamun dan Sonrye bersekolah seperti biasanya. Mata Hamun yang membengkak akibat menangis semalaman tak menjadi alasannya untuk membolos. Tapi setibanya mereka di depan gerbang, mereka mendapati suatu pemandangan yang tak biasanya terjadi. Sekolah mereka dipenuhi dengan wartawan.

“Ada apa?” tanya Hamun pada Sonrye. Sonrye menggeleng sebagai jawaban kalau ia juga tidak tahu.

“Itu Park Hamun!” seru salah seorang wartawan yang menyadari kehadiran Hamun. Dengan secepat kilat, kini semua wartawan itu sudah mengelilinginya. Hamun yang tak tahu apa yang terjadi hanya terdiam ditempat, bingung harus bertindak apa.

“Sejak kapan kau berpacaran dengan Choi Siwon?” tanya salah seorang wartawan.

“Ne?” tanya Hamun sekali lagi, memastikan kalau ia tak salah dengar.

“Eng, bagaimana pertemuan pertama anda dengan Siwon?” tanya wartawan yang lain.

“Apa Siwon duluan yang menyatakan cinta pada anda? Bagaimana caranya?” tanya yang lainnya sebelum Hamun memahami situasi yang sedang terjadi sekarang.

“Apa maksudnya semua ini?” tanya Hamun pada dirinya sendiri. Namun ditengah kebingungannya, Kibum muncul didepannya. Berdiri bak perisai, menghalau kamera-kamera itu mengambil gambarnya.

“Maaf,” kata Kibum singkat lalu menarik Hamun masuk ke dalam mobilnya. Sonrye sudah terlebih dulu ada didalam sana.

“Apa yang terjadi?” tanya Sonrye pada Kibum. Hamun masih terdiam akibat shock dengan kejadian barusan.

“Ada wartawan yang mengikuti kalian kemarin. Ia bahkan mendapat foto Siwon Hyung dan Hamun berciuman. Siwon hyung langsung menjadi headline dimana-mana,” jelas Kibum.

Mendengar penjelasan Kibum, tubuh Hamun bergetar hebat. Air matanya mengalir setetes demi setetes. Rasa takutnya menjalar di relungnya. Ia takut Siwon akan meninggalkannya seperti ayah dan ibunya. Ia takut akibat masalah ini, Siwon akan meninggalkannya bahkan sebelum sempat Hamun menyatakan perasaannya pada Siwon.

“Andwe.. Andwe!” seru Hamun histeris. Sonrye yang duduk disampingnya segera memeluknya, memberikan kekuatan untuk Hamun.

*****

3 hari telah berlalu sejak mencuatnya berita Siwon dan Hamun ke media. Namun sepertinya media tak mau menyerah sebelum ada pernyataan langsung dari Hamun atau pun Siwon, terbukti dari banyaknya wartawan yang masih mengerumuni rumah Hamun.

Hamun duduk di lantai kamarnya, bersandar pada tempat tidurnya. Wajahnya lusuh dan terlihat lebih kurus. Matanya membengkak dan kantung matanya sangat tebal. Tatapan Hamun kosong seakan tak ada roh didalam tubuh itu.

Selama 3 hari ini Hamun terus tertekan. Rasa takut jika Siwon meninggalkannya selalu menghantuinya. Ditambah dengan ketidakhadiran Siwon disisinya selama 3 hari ini, membuat Hamun makin rapuh. Ia mulai menyesali keputusannya untuk membiarkan Siwon masuk kedalam hatinya. Ia mulai berpikir, ‘Ternyata Choi Siwon sama saja. Ia juga akan meninggalkanku seperti ayah dan ibu,’

……

Waktu sudah menunjukan pukul 3 dini hari namun Hamun masih terduduk diposisi yang sama seperti tadi. Makanan yang ada disampingnya tak disentuhnya sama sekali. Ia bak mayat hidup. Hidup segan, mati pun tak mau. Ia benar-benar tertekan secara psikis.

‘Tok,’ suara itu menyadarkan Hamun dari lamunannya. ‘Tok,’ Hamun menajamkan telinganya untuk mengetahui asal suara tersebut. Hamun berjalan ke pintu kaca yang membatasi antara kamarnya dengan balkon kamar itu. Ia melihat ada beberapa batu di teras balkonnya. Ia segera keluar dan melongok ke bawah. Hamun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat ia menyadari bahwa yang melempari pintu kacanya dengan batu adalah Choi Siwon.

Siwon tersenyum pada Hamun dan melambaikan tangannya. Dengan segera, Siwon menaiki tangga yang sudah ia persiapkan sebelumnya dan mendarat di balkon Hamun. Sebelum para wartawan menyadari kehadirannya, Siwon segera mendorong Hamun memasuki kamar Hamun.

Siwon mengelap keringat didahinya, “Untung saja tidak ketahuan,” ujarnya lega. Perhatian Siwon kini kembali terpusat pada Hamun yang berdiri dihadapannya. Siwon cukup kaget saat melihat wajah Hamun yang berantakan.

“Hamun, ada apa?” tanya Siwon sambil menangkup wajah Hamun. Hamun tak menjawab namun matanya tetap menatap lekat Siwon. Ia masih tidak percaya dengan kehadiran pria ini dihadapannya. Rasa lega yang bercampur rasa rindu menciptakan keharuan dihati Hamun. Hamun tak bisa mengontrol emosinya sampai-sampai air matanya mengalir dengan deras.

“Hamun, waeyo? Kenapa kau menangis?” tanya Siwon sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi Hamun.

“Kenapa kau meninggalkan aku?” tanya Hamun disela-sela isakannya. Hamun memukul pelan dada Siwon.

“Ne?” tanya Siwon belum mengerti.

“Kenapa kau tak memberiku kabar selama 3 hari ini?” tanya Hamun mulai histeris. Kini tenaga yang ia keluarkan untuk memukul Siwon cukup besar.

“Ah, itu..”

“Kenapa kau seenaknya saja datang dan pergi, ha?!” seru Hamun sambil memukul Siwon bertubi-tubi.

“Apa kau tak memikirkan perasaanku? Apa kau tak tahu kalau aku ketakutan? Aku takut kalau kau pergi meninggalkanku seperti ayah dan ibuku, Siwon sshi!” seru Hamun dengan air mata yang makin deras.

Hati Siwon sakit melihat hal itu. Ia tak menyangka kalau dirinya membuat Hamun seperti ini. Siwon menahan tangan Hamun yang hendak memukulnya lagi. Kini tangan itu ia tarik perlahan sehingga Hamun masuk dalam dekapannya.

“Mianhata, Hamun. Lagi-lagi aku membuatmu menangis seperti ini,” bisik Siwon ditelinga Hamun. Siwon mengeratkan pelukannya sambil mengelus punggung Hamun lembut.

“Aku mohon, jangan tinggalkan aku lagi. Jangan tinggalkan aku seperti ayah dan ibuku. Tetaplah disisiku selamanya,” pinta Hamun sambil membalas pelukan Siwon itu.

……

Hamun dan Siwon duduk berdampingan dilantai kamar Hamun, bersandar pada tempat tidur Hamun. Tangan kanan Siwon menyusup di jemari tangan kiri Hamun. Tak henti-hentinya Siwon memandangi kedua tangan yang telah bersatu itu.

“Jadi, apa jawabanmu Hamun?” tanya Siwon.

“Jawaban apa maksudmu Siwon sshi?” tanya Hamun, tentu saja ia hanya pura-pura tak mengerti.

Siwon tersenyum lalu memutar kepalanya ke samping agar dapat berhadapan langsung dengan Hamun. “Apa kau sudah berubah pikiran? Mau menjadi pacarku?” tanya Siwon untuk kesekian kalinya. Matanya menatap lekat Hamun tanpa keraguan.

“Sebenarnya aku sudah tahu jawabannya, tapi aku ingin mendengar langsung dari bibirmu,” timpal Siwon.

Kini Hamun menatap Siwon dalam. Masih ada satu permasalahan yang mengusiknya. “Apa masuk akal jika seorang gadis SMA biasa sepertiku menyukaimu? Apa masuk akal jika pria sepertimu mencintaiku?” tanya Hamun.

Siwon tersenyum sangat manis. Senyum yang tergurat hanya untuk Hamun. “When you’re in love, rational and irrational are just 11 12. That’s what happen to you and me,” ujarnya.

Seakan belum puas, Hamun menyanggah, “Kau seorang pria tampan yang dipuja tiap gadis dipenjuru Korea ini. Kau seorang aktor papan atas sedangkan aku hanya murid SMA biasa,”

Senyum Siwon tak memudar. Mungkin jika Siwon bersama Hamun selama 24 jam maka senyum Siwon akan mengembang selama itu pula. Dibalik kemewahan karir seorang selebriti, ada seorang pria yang normal, pria Korea, yang haus akan cinta dari gadis SMA biasa yang bernama Park Hamun,”

Hati Hamun mencelos berkat pernyataan itu. Perkataan Siwon seakan menghancurkan belenggu di hati Hamun. Untuk pertama kalinya, Hamun menarik Siwon dalam pelukannya. Hamun menempatkan bibirnya tepat disamping telinga Siwon untuk menyampaikan jawaban yang sudah sejak dulu Siwon tunggu.

“Saranghae,” ujar Hamun yang membuat Siwon girang bukan main. Siwon mengekspresikan kegembiraannya dengan memeluk Hamun lebih erat.

“Tapi mianhata.. Aku belum bisa menjadi pacarmu. Aku belum bisa menerima dunia keartisanmu. Aku belum siap untuk.. Eum, misalnya saja memiliki anti-fans,” imbuh Hamun. Wajah gembira Siwon kini berubah menjadi lirih. Pelukan Siwon merenggang untuk dapat menatap Hamun.

“Aku mengerti sayang. Tak perlu terburu-buru,” balas Siwon lalu kembali memeluk Hamun.

Siwon dapat mengerti pada pemikiran Hamun, tapi ia pun tak tahu harus bagaimana. Yang jelas, Siwon tak akan meninggalkan Hamun hanya demi karirnya itu.

Tapi apa Siwon harus meninggalkan karirnya untuk menjadi pacar Hamun? Apa ia harus mengorbankan pekerjaan yang sudah menjadi cita-citanya sejak kecil ini?

Itu urusan nanti, saat ini Siwon ingin menikmati kebersamaannya dengan Hamun. Sesuatu yang telah lama Siwon nantikan.

“Kantung matamu sangat tebal. 3 hari ini kau tak tidur?” tanya Siwon. Hamun menggeleng.

“Kalau begitu, sekarang tidurlah. Aku akan menjagamu,” ujar Siwon sambil menepuk bahunya seakan menyuruh Hamun untuk bersandar dibahunya. Hamun tersenyum lalu melakukan apa yang Siwon inginkan.

“Saranghae, Hamun,”

“Hm, aku tahu,”

“Bukan itu. Harusnya kau jawab ‘Nado, saranghae’

Hamun tersenyum tipis sambil memejamkan matanya. “Hm, nado,”

*****

“Kau sudah yakin dengan keputusanmu? Bukankah ini cita-citamu sejak kecil?” tanya Hyejin.

Siwon tersenyum namun ternyata ia tak bisa membohongi sahabatnya itu. Hyejin tahu kalau sebenarnya Siwon juga sedih dengan keputusan ini.

“Aku sudah yakin,” jawabnya mantap. “Sejak aku bertemu dengan Hamun, cita-citaku sudah berubah. Aku ingin ia bahagia bersamaku. Aku ingin memilikinya. Aku tak mau menjadi tamak dengan menginginkan Hamun dan juga karirku sekaligus. Selalu ada pengorbanan dari pilihan yang kita ambil,” jelas Siwon.

Hyejin tersenyum mendengar pernyataan yang begitu bijaksana tadi. Ia dapat merasakan perubahan besar yang terjadi pada Siwon. Mungkinkah ini yang disebut kekuatan cinta?

“Apapun keputusanmu, aku selalu mendukungmu,”

……

Sudah seminggu berlalu. Jumlah wartawan yang mengerumuni rumah Hamun sudah jauh berkurang. Salah satu penyebabnya adalah karena Choi Siwon akan mengadakan konfrensi pers. Ia sendiri yang akan menjawab semua rasa penasaran para wartawan.

“Jadi apa hubungan anda dengan nona Hamun, Choi Siwon sshi?” tanya salah seorang wartawan.

“Dia bukan pacarku tapi aku mencintainya,” jawab Siwon yang sontak langsung membuat para wartawan memburunya dengan pertanyaan lain.

“Apa dia juga mencintaimu?” tanya wartawan itu.

“Tentu saja,” jawab Siwon.

“Lalu kenapa kalian tidak berpacaran?”

“Karena ia belum siap dengan dunia keartisanku,” jawab Siwon.

Sebelum ia menjawab pertanyaan lain yang dilontarkan, Siwon berdiri lalu membungkukan badannya. “Karena itulah, Saya Choi Siwon, mulai detik ini mengundurkan diri dari dunia entertainment,”

Pernyataan tersebut membuat para wartawan tercengang. Sebelum sempat para wartawan bertanya, Siwon segera diamankan bodyguardnya. Mereka menggiring Siwon dari panggung hingga backstage.

…..

“Jadi bagaimana? Kita sudah resmi berpacaran sekarang?” tanya Siwon pada Hamun yang sedari tadi sudah menunggu di backstage.

Hamun tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Ia segera berlari kepelukan Siwon. Saking senangnya, Hamun tak bisa menghentikan bibirnya untuk terus menyunggingkan senyuman manis. Hamun hanya bisa menjawab dengan anggukan.

Layaknya Hamun, Siwon juga senang setengah mati. Rasa bahagianya ia lampiaskan dengan membalas pelukan Hamun dan mencium puncak kepala Hamun berkali-kali.

“Saranghae, Hamun,”

“Nado,”

*****

Sudah seminggu sejak hari konfrensi pers itu berarti sudah seminggu Hamun resmi menjadi kekasih Choi Siwon. Sejak hari itu, Hamun sudah bertekad untuk lebih mengenal Siwon karena itulah hari ini Hamun mengunjungi apartemen Siwon.

“Annyeong,” sapa Hamun saat Siwon membukakan pintu untuknya. Siwon dengan riang menyambut kedatangan Hamun. Hamun masuk ke dalam apartemennya tapi Siwon tetap membiarkan pintu rumahnya setengah terbuka.

“Kenapa tak kau tutup?” tanya Hamun penasaran.

“Agar kau aman,” balas Siwon rancu. Hamun menaikan sebelah alisnya tanda ia belum mengerti.

“Aku adalah pria normal Hamun. Meski aku sendiri yakin tak akan berbuat macam-macam padamu, tapi aku tak bisa menjamin. Jadi kalau aku mulai bertindak aneh padamu, kau bisa segera kabur atau berteriak. Kalau pintunya dibuka, suara teriakanmu pasti terdengar,” jelas Siwon. Hamun tersenyum mendengar jawaban itu. Satu kesimpulan yang sudah Hamun dapatkan tentang Siwon: Ia pria yang sopan dan gentle.

“Kau duduk disini dulu, ya. Aku buatkan minuman,” ujar Siwon. Sembari menunggu Siwon, Hamun mulai menjelajahi tiap sudut ruangan di apartemen ini.

Diatas piano yang ada di ruang tamunya, Hamun dapat melihat banyak pigura dengan gambar dirinya didalamnya. Dari anglenya, kebanyakan foto-foto tersebut diambil secara diam-diam.

Dari semua pigura yang ada, ada pigura berukuran 10 cm x 20 cm, pigura paling besar yang didalamnya ada foto Siwon dan dirinya. Hamun tertawa kecil mengamati tiap foto itu.

Hal kedua yang bisa Hamun simpulkan: Siwon menyukai fotografi. Dari keindahan foto-foto yang ada, Hamun bisa tahu kalau Siwon bukan asal jepret.

Hamun melanjutkan langkahnya. Kini ia berhenti di kamar Siwon. Untuk ukuran seorang pria kamar ini cukup rapi.

Hamun hendak keluar dari kamar itu, tapi tanpa sengaja ia melihat sebuah album foto disalah satu sudut kamar. Hamun mengambil album tersebut lalu duduk dilantai kamar Siwon dan bersandar pada tempat tidur Siwon. Ia mulai membuka halaman album itu satu persatu.

Hal ketiga yang bisa Hamun simpulkan: Sejak lahir Siwon sudah memiliki wajah yang sangat tampan. Terbukti dari sekian banyak foto kecil Siwon di album tersebut.

“Hamun ah, kenapa kau membuka album itu?” tanya Siwon yang muncul tiba-tiba. Siwon hendak mengambil album itu tapi dengan gesit Hamun menghindar.

“Kenapa? Karena sikapmu barusan, aku jadi lebih ingin melihat album ini,” ujar Hamun. “Boleh, ya?” Hamun menatap Siwon memohon. Tatapan intens Hamun tak mampu ditolak oleh Siwon. Dengan mudah ia mempersilahkan Hamun untuk melihatnya.

Siwon duduk disamping Hamun. Menjelaskan history dari tiap foto yang ada. “Kalau yang ini, bagaimana ceritanya?” tanya Hamun sambil menunjuk salah satu foto di album itu.

“Ah, itu saat aku duduk di kelas 5 SD. Aku menjadi tokoh utama dalam drama musikal sekolahku saat itu,” jawab Siwon. “Berdiri diatas panggung dan semua orang melihatku. Aku suka mendengar suara tepuk tangan tiap kali aku menyelesaikan sceneku. Sejak saat itulah aku bercita-cita menjadi seorang aktor,” lanjut Siwon.

Hati Hamun mencelos mendengar pernyataan itu. Hal keempat yang bisa Hamun simpulkan: menjadi aktor adalah cita-cita Siwon sejak kelas 5 SD. Namun Siwon rela mengorbankan cita-cita itu demi dirinya.

Siwon yang baru saja menyadari efek dari pernyataannya tadi segera mencairkan suasana. “Hamun, sudahlah. Jangan dipikirkan. Maafkan aku, aku tak sengaja mengungkit hal itu. Lagipula kau lebih penting dari pada hal itu saat ini dan seterusnya,” jelas Siwon sambil mengecup kening Hamun.

Hamun menatap Siwon dan memberikan senyumannya. “Baiklah, aku tak akan mengkhawatirkannya lagi,” jawab Hamun. Meski dimulut Hamun menjawab demikian, hatinya tetap saja tak tenang. Otaknya masih memikirkan keputusan apa yang harus Hamun ambil.

…..

“Sudah malam, aku akan mengantarkanmu pulang,” ujar Siwon menawarkan diri. Siwon segera mengambil mantelnya dan mematikan semua lampu apartemen itu.

Jarak rumah Hamun dan apartemen Siwon yang tak terlalu jauh membuat mereka memilih jalan kaki daripada harus naik mobil. Lagipula dengan berjalan kaki, Hamun dan Siwon bisa bersama lebih lama lagi.

Dalam perjalanan pulang, Siwon menggandeng erat tangan Hamun. Mereka menghabiskan setengah perjalanan dengan bercengkrama seperti layaknya pasangan yang berlalu lalang ditempat ini.

Namun ditengah jalan perhatian Hamun teralihkan oleh sebuah reklame besar. Itu adalah reklame barang elektronik dimana Siwon menjadi salah satu ambassadornya.

“Kakak itu tampan ya, omma,” ujar seorang bocah kecil yang menarik perhatian Hamun. “Kalau aku sudah besar nanti, aku mau menjadi artis sepertinya sehingga fotoku bisa terpajang disana,” ujar anak itu. Kata-kata anak itu terngiang di telinga Hamun. Sesaat Hamun terdiam. Ia sudah mendapatkan keputusannya.

“Hamun, ada apa?” tanya Siwon. Hamun menggeleng dan segera kembali menyesuaikan langkahnya dengan langkah Siwon.

*****

“Kau serius dengan hal ini?” tanya Hyejin pada Hamun. Hamun tersenyum penuh keyakinan sambil mengangguk.

“Dia bisa jadi sangat sibuk. Mungkin kehidupan berpacaran kalian juga tidak akan setenang dulu,” peringat Hyejin sekali lagi.

Hamun menggeleng. “Aku yakin dengan keputusanku. Siwon sudah sering berkorban untukku, kini giliran aku yang harus membuatnya bahagia. Aku tak mau menjadi tamak dengan ingin memiliki Siwon seutuhnya. Lagipula ia sudah berjanji akan selalu bersamaku. Jadi, apa yang perlu kutakutkan?”

Hyejin tersenyum menanggapi pernyataan bijaksana Hamun tadi. Meskipun baru mengenal Hamun sebulan ini, Hyejin dapat merasakan perubahan yang cukup signifikan pada Hamun.

“Jadi, Siwon ingin sekali bermain di film ini? Baiklah, aku akan membawanya ke tempat casting besok,” gumam Hamun.

*****

“Kenapa kita ke tempat ini Hamun?” tanya Siwon yang bingung dengan situasi saat ini. Hamun tiba-tiba saja minta diantarkan ke gedung Manroe Hall, salah satu gedung teater di Seoul yang biasa menampilkan drama-drama musikal.

“Akan kujelaskan didalam sana. Yang penting sekarang kita segera berlari sebelum terlambat,” ujar Hamun sambil menyeret Siwon.

…..

“Apakah Choi Siwon ada?” tanya sebuah suara dari speaker yang ada disudut ruangan itu.

“Siwon ada disini!” seru Hamun saat dirinya dan Siwon akhirnya tiba di panggung, tepat dihadapan para juri.

Mata Siwon membesar melihat 5 orang yang ada dihadapannya saat ini. Mereka adalah para sutradara, penulis skenario, produser, dan aktor dalam film A Battle War. Salah satu film yang hendak di produksi dan diramalkan akan menjadi hits ditahun 2013 nanti. Siwon ingat, kalau ia sangat ingin berperan dalam film ini sebelumnya.

“Choi Siwon, bukankah kau sudah berhenti dari dunia entertaint? Untuk apa kau datang kesini? Mengikuti audisi casting?” tanya Park Hebon, Sutradara film A Battle War. Pertanyaan itu menjawab semua kebingungan Siwon sedari tadi. Siwon hendak menjawab, tapi Hamun lebih dulu menyela.

“Ya, Siwon datang untuk mengikuti audisi. Sejak ia membaca skrip film ini, ia tertarik untuk ikut berperan didalamnya,” jawab Hamun. Siwon yang ada disampingnya menatap Hamun dengan mata yang sudah membesar.

“Baiklah, kau mau berperan sebagai apa disini?” tanya sutradara itu.

“Pemeran utama,” jawab Hamun menyela Siwon sekali lagi.

Park Hebon tertawa sinis. “Kau dengan mudahnya mengatakan keluar dari dunia entertainment, dan kini kau mau menjadi pemeran utama dalam film ini? Apa kau yakin dengan kualitas aktingmu saat ini, ha?” tanya sutadara itu skeptis.

“Mianhata,” ujar Hamun.

“Aku bertanya pada Siwon bukan padamu,” sela sutradara itu.

“Mianhata kalau aku lancang. Tapi saat ini akulah yang ingin berbicara padamu. Aku mohon dengarkanlah aku,” sela Hamun lagi.

“Menjadi seorang aktor adalah cita-cita Siwon sejak kecil. Namun cita-cita itu, ia relakan demi aku. Aku sadar kalau aku tak sebaik itu sampai Siwon harus mengorbankan passionnya demi aku. Jadi karena itu, aku mohon, bantulah aku untuk menebus kesalahanku pada Siwon. Aku mohon ijinkanlah ia mencoba terlebih dahulu,” ujar Hamun.

Hamun membungkuk, “Aku mohon,” pintanya.

Siwon yang ada disamping Hamun tersenyum bahagia. Ia tak menyangka gadisnya begitu memikirkannya.

“Baiklah, aku akan memberikan ia kesempatan,” ujar Park Hebon. Suatu pernyataan yang membuat Siwon kaget. Setahu Siwon, Sutradara Hebon memiliki sifat yang keras dan susah untuk ditaklukan.

Hamun kini sudah berdiri tegap dengan mata yang berbinar saking senangnya. Ia segera memeluk Siwon dan memberikan kecupan di pipi Siwon. “Bersemangatlah. Kau pasti bisa,” ujar Hamun lalu keluar dari tempat audisi itu. Hamun memilih untuk menunggu diluar saja.

“Pacarmu sangat hebat,” ujar Hebon yang disetujui juri lainnya. “Sesungguhnya ada peran yang sangat cocok untuk pacarmu itu. Apa aku boleh mengajaknya bermain dalam film ini?” tanya Hebon.

Siwon tersenyum lalu membungkuk sebagai permintaan maafnya. “Mianhe, Hamun tak begitu menyukai dunia seni peran. Lagi pula, aku juga tak akan mengijinkannya. Aku tak ingin semua orang di Korea Selatan ini menyadari pesona Hamun,” jawab Siwon yang membuat semua juri tertawa.

“Cih, kau sedikit posesif ternyata,” ledek Hebon yang membuat semua orang diruangan itu terkekeh. “Baiklah, kita mulai sekarang. Jangan mengecewakan pacarmu,”

“Algeutseumnida,” jawab Siwon.

*****

 

1 year later

“Mari kita sambut, inilah para pemain A Battle War,” ujar sang MC yang disambut dengan tepuk tangan meriah dan kilatan flash kamera dari para pers yang sudah duduk di tempat yang tersedia sedari tadi. Beberapa artis yang sedari tadi sudah menunggu di backstage, memasuki ruang konfrensi pers tersebut dengan senyuman merekah di wajah mereka.

Semua mata tertuju pada para artis itu, namun yang paling menarik perhatian para wartawan saat ini adalah Choi Siwon. Film yang menjadi box office dalam waktu 3 hari, kualitas akting yang luar biasa, wajah yang sempurna, profesionalitas, karismanya dan keputusannya untuk keluar dari dunia entertaint dulu demi sang kekasih membuatnya menjadi aktor yang namanya paling banyak dicari dalam situs pencarian seminggu ini.

“Selamat atas film mu yang spektakuler itu Choi Siwon. Aktingmu luar biasa,” puji salah seorang wartawan pada pria itu.

Dengan senyum yang membuatnya terlihat makin mempesona, ia menjawab, “Ne, gamsahamnida, aku sangat senang kalian menyukai aktingku,” balasnya gentle dan ramah.

“Apa rencanamu setelah ini?” tanya salah seorang wartawan.

Tak lupa dengan senyum ramahnya, ia menjawab, “Aku suka dengan akting, kurasa aku akan tetap berkarir di bidang ini sampai rambutku memutih nanti,” ujarnya.

Ternyata 2 pertanyaan sebelumnya tidak membuat para wartawan puas. Ketertarikan media pada pria ini membuat para wartawan menyerbu Siwon dengan berbagai jenis pertanyaan. Mulai dari yang hal umum sampai yang menyangkut privasinya.

“Ah, bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu? Apa kalian sudah putus? Gosip yang beredar, kau yang memutuskannya, ya?” tanya salah seorang wartawan yang disambut dengan antusiasme wartawan lainnya.

“Putus?” Siwon mengulang inti pertanyaan tadi. Ia terdiam lalu tertawa terbahak-bahak. “Aniya. Aku tak mungkin memutuskannya. Aku tak bisa membayangkan hidupku tanpa dirinya. Kalau bukan karena dia, aku tak bisa duduk ditempat ini bersama kalian. Aku sangat menyayangi Hamun,” jawab Siwon tegas namun sepertinya hal itu belum membuat para wartawan puas.

“Lalu setelah ini bagaimana kelanjutan hubungan kalian?” tanya wartawan yang lain.

Siwon tersenyum simpul. “Aku ingin segera menikah dengannya,”

*****

“Kenapa kau mengajakku ke restauran mahal seperti ini?” tanya Hamun. Siwon hanya tersenyum penuh arti.

“Kau mau melamarku? Aku sudah lihat konfrensi persmu,” tebak Hamun yang Siwon jawab dengan anggukan.

“Bukankah kau tahu aku tak akan menikah sebelum aku lulus? Lalu kenapa kau menghabiskan uangmu untuk menyewa tempat ini, Siwon ah?” tanya Hamun.

“Saat ini aku melamarmu bukan untuk menjadi istriku, tapi untuk menjadi tunanganku, Hamun sayang,” balas Siwon.

Ia merogoh kantongnya, mencari sebuah kotak kecil yang berisikan sebuah cincin. Siwon berjalan ke tempat duduk Hamun dan berlutut dihadapannya. Tangannya terjulur kedepan memamerkan benda kecil yang berkilau didalam kotak itu. “Kau mau menjadi tunanganku?” tanyanya.

Hamun tak menjawab, lebih tepatnya ia tak bisa menjawab. Lidahnya kelu akibat rasa bahagia dan malu yang membaur jadi satu. Meski sudah satu tahun berpacaran dengan Siwon, Hamun masih belum terbiasa dengan romantisme Siwon. Wajahnya sudah menjadi semerah apel. Siwon yang sepertinya sudah sangat mengerti Hamun menerjemahkan ekspresi itu sebagai jawaban ‘iya’.

“Kau tahu kenapa cincin pernikahan dipasangkan di jari manis sebelah kiri?” tanya Siwon. Hamun menggeleng.

“The weeding ring goes on the left ring finger because it is the only finger with a vein that connects to a heart,” jelas Siwon sambil menyematkan cincin itu di jemari Hamun.

“Saranghaeyo, Hamun,” ucap Siwon. Hamun tersenyum penuh makna sambil menatap lekat Siwon. Ia bukan tipe gadis yang jujur. Ia juga sedikit pemalu untuk mengumbar kata cinta. Ia tak menjawab pernyataan cinta Siwon barusan namun dari tatapan juga senyumannya sudah dapat menggambarkan kalau gadis ini juga sangat mencintai kekasihnya.

“Apa kau tak mau memberiku hadiah dihari special ini?” tanya Siwon menggoda Hamun. Hamun awalnya tak mengerti maksud Siwon, tapi saat melihat Siwon menutup matanya Hamun jadi tahu apa keinginan Siwon.

“Aku tak bisa. I’m not a good kisser,” jawab Hamun.

Siwon membuka matanya. “Bukankah sudah sekitar 7 kali aku praktekan padamu? Kau belum mengerti?” tanya Siwon. Hamun menggeleng.

“Baiklah, aku akan mengajarkanmu. Perhatikan baik-baik, ya,” ujar Siwon. Posisi Siwon yang masih berlutut membuat Hamun sedikit membungkukan badannya dan menundukan kepalanya. Entah siapa yang memulai, namun kini bibir mereka sudah bertemu. Ciuman itu cukup lama, namun tidak ada nafsu didalamnya. Semuanya terjadi karena rasa cinta yang meluap dihati keduanya.

*****

—EPILOG—

“Siswa selanjutnya, Park Hamun,” panggil kepala sekolah menandakan kalau Hamun harus naik ke atas podium untuk menerima piagam kelulusan dan sedikit memberikan pidato. Tidak, tidak, meskipun Hamun tergolong pintar, tapi bukan Hamun yang lulus dengan nilai tertinggi. Ia mendapat kesempatan berpidato karena kehebohan yang sempat ia ciptakan selama masa bersekolah, yaitu berpacaran dengan Choi Siwon.

Mungkin beberapa orang akan bangga mendapat kesempatan ini, namun lain halnya dengan Hamun. Ia sama sekali tidak suka dengan hal ini. Ia agak pemalu untuk berdiri dan ditatap ratusan pasang mata, ditambah dengan hadirnya para wartawan yang datang kesini untuk meliput Siwon —oh yeah, tentu saja Siwon datang ke upacara kelulusan kekasihnya—

Hamun membacakan pidato yang telah ia persiapkan. Tepuk tangan meruah ditempat ini setelah Hamun menyelesaikan pidatonya. Syukurlah semua berjalan lancar namun hal terberat adalah setelah ini, dimana Hamun harus melakukan apa yang Sonrye minta semalam —Hamun kalah bermain Hwatu dan dia harus mengikuti kemauan pemegang skor tertinggi, Sonrye—

Hamun menatap Sonrye yang berdiri diantara teman-temannya, ia memohon agar Sonrye mencabut hukumannya namun Sonrye tak peduli. Ia tersenyum senang dan memaksa Hamun untuk segera melakukannya.

“Eng..” gumam Hamun. Kini semua mata kembali terpusat padanya.

They say you fall in love only once, but everytime I look at you, I fall in love all over again, Choi Siwon-nim,” ujar Hamun. Semua orang kini ganti menatap Siwon yang duduk disalah satu sudut ruangan itu.

Siwon cukup kaget mendengar pernyataan Hamun, namun ia tak bergeming. Ia menatap Hamun lurus, tersenyum lembut kepadanya, menikmati kegugupan Hamun diatas panggung itu, dan menanti kelanjutannya. Mata Siwon dan Hamun bertemu namun Hamun segera mengalihkan pandangannya. Jantungnya berdetak terlalu kencang.

You have no idea how fast my heart races when I see you, my love,” lanjut Hamun.

“All i want is not become your ‘number one’. That implies there’s a number two and maybe a number three. What I want is to be your only one. Can i be your only one?”

True love isn’t Romeo and Juliet who died together. It’s Grandma and Grandpa who grew old together. Would you like to grew old with me?

“Everyone want to have a happy ending in their life. So do i and I want it to be with you. So, Choi Siwon, would you marry me?” ujar Hamun. Tepat setelah akhir kalimatnya, semua orang menjadi histeris. Blits kamera bersahutan memotret Hamun. Kini Siwon sudah bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati podium. Ia terlalu bahagia.

Hamun yang melihat Siwon menghampirinya segera mencegahnya, dia terlalu gugup untuk berinteraksi dengan Siwon saat ini. Dia malu dengan apa yang baru ia lakukan. “Yaa! Ch-choi Siwon, jangan kesini. A-aku melakukan ini semua karena Sonrye yang memintaku,” ujar Hamun jujur namun sepertinya Siwon tak peduli. Ia bahkan sudah naik ke podium saat ini.

“Aku kalah bermain hwatu, karena itulah Sonrye memintaku untuk berbuat seperti i….” Hamun belum sempat menyelesaikan kalimatnya, namun Siwon yang sudah berdiri dihadapannya segera menangkup wajah Hamun dan menangkap bibir Hamun dengan bibirnya.

Hanya sekian detik mereka berciuman, namun hal itu cukup membuat heboh para murid, guru, dan orangtua yang hadir saat ini. Wartawan pun berhasil mengabadikan momen itu dan pasti dalam 30 menit ke depan, kejadian ini akan menjadi headline dimana-mana.

Siwon menatap Hamun senang, lain dengan Hamun yang wajahnya sudah sangat merah. Siwon menarik Hamun dalam pelukannya.

“Kurasa mulai besok aku tak bisa keluar rumah,” ujar Hamun lirih.

“Kurasa aku harus berterimakasih pada Sonrye,” ujar Siwon dengan tawa bahagia. “Jadi, kapan kita akan menikah? Bulan depan? Minggu depan? Bagaimana kalau besok?”

“Choi Siwon!”

END.