Annyeonghaseyo onnideul, chingudeul, dongsaengdeul!

this ff made by Herentia Soegiri and its already published in her blog  http://ryeverlastingfriend21.wordpress.com/ (you will find another great ff in there ^^)

cast :

Shim Johee

Lee Donghae

Lee Yeonhee

Lee Hyukjae

Cho Eunso

Whisper START

*****

Johee POV

Seorang laki-laki berdiri disana. Wajahnya samar karena sinar matahari terik. Dia diam tak bergerak, tak bergeming, dan menutup kedua matanya. Kedua bola mataku menyipit karena cahaya yang begitu terik. Terselip rasa penasaran yang besar. Dan perasaan itu membuncah saat setitik air mata mengalir di pipinya.

“Kau siapa?” tanyaku.

Diam.. Kini aku melihat wajahnya. Nafasku tertahan. Matanya teduh, hidungnya mancung, dan bibirnya tipis. Saat kubayangkan ia tersenyum… ‘manis sekali’. Ku mantapkan hatiku untuk melihatnya lebih dekat. Saat aku sampai di hadapannya, ku sentuh pipinya… lembut.

Ia maju selangkah…. Lalu berbisik tepat di samping kupingku, “Lee Donghae,”.

Seluruh saraf tak dapat bekerja saat suara manis itu masuk melalui telingaku. Aku, Shim Johee, telah jatuh hati pada seorang pria bernama….

“Lee Donghae,”

:::

“Kalian bukan lagi anak SD! Pelajaran Hafalan saja tidak bisa! Lebih baik kalian kembali jadi anak SMA!” Park Sem berdiri sambil membuka kamus tebalnya. “Sekali lagi kutanya, siapa nama Sekjen PBB yang berasal dari Korea Selatan?”

Ruang kelas itu tetap sunyi hingga salah seorang murid mengucapkan… “Lee Donghae,”

Park Sem melebarkan matanya “Siapa katamu?”

“Lee Donghae,”

Kini semua orang menatap gadis yang berani menyebut nama ‘Lee Donghae’ sampai dua kali dalam pelajaran Park Sem. Kali ini bukan hanya Park Sem yang melebarkan matanya tapi setiap murid yang ada disana. Siapa yang sangka murid terbaik di Universitas ini berani tidur di kelas?

“SHIM JOHEE!!!!”

Johee membuka matanya perlahan dan mengangkat wajahnya.  Seorang laki-laki berdiri dihadapannya sambil membawa buku setebal kamus. Memandangnya dengan tatapan tajam seakan ingin membunuh kehormatannya. Johee langsung bangkit berdiri dan menunduk.

“Siapa nama Sekjen PBB asal Korea Selatan?”

“Ban Kimoon Kyosunim,” jawab Johee dengan sempurna.

Park Sem langsung berdeham dan berjalan kembali ke mejanya. “Baiklah, cukup sampai disini pelajaran hari ini.”

Johee menghela napas dan segera duduk kembali di kursinya.

“Kau lihat tadi? Park Sem kehilangan kata-katanya! Kau lihat bagaimana dia membalikkan badannya? Aigo! Kalau aku jadi kau, aku pasti akan bangga sekali berhasil membuatnya jadi seperti itu!”

Johee langsung memutar kepalanya and melihat kearah temannya. “Lee Yeonhee..”

“Oh, okay!” Yeonhee langsung menutup mulutnya rapat-rapat, tapi tak sampai 3 detik ia kembali berbicara, “Lee Donghae itu siapa?”

Johee langsung melihat Yeonhee, “Darimana kau tahu nama itu?”

“Kau menyebutnya saat tidur tadi,”

“Aku? Tidur?” tanya Johee sambil menunjuk dirinya sendiri.

Yeonhee mengangguk mantap. Dia ikut bingung saat melihat temannya kebingungan. “Tadi bahkan kau menyebutnya dua kali.”

Johee menatap kedua mata Yeonhee, gadis itu tidak berbohong. Johee berusaha menenangkan pikirannya. Sedetik kemudian ia teringat ia hanya bermimpi. “Aah..”

“Jangan-jangan.. Kau bermimpi seorang laki-laki namanya Lee Donghae? Kau jatuh cinta padanya?”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Ya ampun! Bagaimana tampangnya? Apa dia tampan?”

Tanpa sadar Johee mulai membayangkan wajah pria itu lalu mengangguk.

Yeonhee langsung menepukkan kedua tangannya. “Ramalan nenek itu benar! Dia benar-benar peramal!”

“Ya Lee Yeonhee! Apa yang sedang kau bicarakan?”

“Kau menolong seorang nenek minggu lalu. Kau ingat, kan? Lalu dia bilang kau akan bermimpi tentang pasanganmu kelak,” Yeonhee terlihat begitu semangat, bahkan matanya sudah berbinar-binar dan bibirnya melengkung. “Ya Tuhan! Harusnya aku minta ia meramalku juga!”

“Halmoni bilang begitu?”

Lagi-lagi Yeonhee mengangguk.

Senyum Johee langsung melebar. “Assa! Yeonhee aku akan mentraktirmu eskrim sekarang!”

:::

“Maaf, Donghae ah, tadi ada sedikit urus…” Laki-laki berambut merah itu menghentikan ucapannya. Ia mendesah panjang saat ia melihat temannya hanya memandang ke layar handphonenya. Dia tak menyadari kehadiran teman baiknya.

Bahkan saat Lee Hyukjae yang biasa dipanggil Eunhyuk sudah duduk disebelahnya, Donghae tetap tak bergeming dari posisinya. Eunhyuk hanya dapat menghela napas napas ketika melihat layar hp Donghae.

“Sebesar itukah kau menyukainya?” tanya Eunhyuk saat merebut Hp Donghae.

“YAA!” Donghae segera merebut Hpnya kembali.

Eunhyuk membesarkan mata kecilnya. Ia tampak begitu kaget melihat sikap Donghae. Donghae yang menyadari sikapnya berlebihan, segera berdeham. “Sejak kapan kau tiba?”

“Donghae-ah, kau..” kata-kata Eunhyuk tertahan di ujung lidahnya.

“Wae?”

Setelah menelan ludahnya Eunhyuk melanjutkan kata-katanya. “Kau sama sekali tak cocok dengannya,”

Donghae memandang tajam Eunhyuk. “Aku tahu. Hanya saja..”

“Kau tidak tahu. Kau.. kau terlalu baik untuknya,” ujar Eunhyuk akhirnya setelah 3 tahun ini ditahannya.

Donghae memandang Eunhyuk dengan pandangan yang tak bisa diartikan. “Kau tak mengenalnya, Lee Hyukjae,” ujar Donghae lalu segera berdiri dan meninggalkan Eunhyuk.

Eunhyuk mendongakkan kepalanya. “Aku mengenalnya, Donghae ah. Dia benar-benar tak pantas untukmu,” ucap Eunhyuk tapi lebih seperti bisikkan.

:::

Seseorang dengan kostum kelinci menari-nari untuk menarik perhatian anak-anak di Everland Theme Park. Dia mengeluarkan beberapa permen untuk anak-anak itu. Setelah satu jam berada di tempat yang sama, ia berjalan kearah yang lebih sepi. Dia melepas kepala kelinci yang dipakainya.

Gadis dengan rambut sebahu itu mengelap keringatnya yang bercucuran. Walau begitu gadis itu masih bisa tersenyum.

“Yaa! Shim Johee kau benar-benar menyukai pekerjaan ini,” ucap gadis itu pada dirinya sendiri lalu menegak air minum dari botol.

Johee berpikir untuk kembali ke pekerjaannya tapi langkahnya terhenti saat ia melihat seorang pria mencium bibir seorang gadis. Ia segera membalikkan badannya, tapi sedetik kemudian ia kembali melihat pasangan itu. Pikirannya mulai melayang membayangkan jika Donghae akan mencium bibirnya.

Johee menutup kedua matanya dan memajukan bibirnya sedikit. Pipinya terlihat sedikit merona, tapi dapat dilihat kebahagian terpancar disana. “Omo!” Johee kembali ke dunia asalnya lalu memukul kepalanya sendiri. “Auch! Johee neo jinja baboya!”

Johee kembali memakai kepala kelincinya dan berjalan tapi tak jauh dari tempatnya… Seorang laki-laki berdiri disana. Wajahnya samar karena sinar matahari terik. Dia diam tak bergerak, tak bergeming, dan menutup kedua matanya. Kedua bola mata Johee menyipit karena cahaya yang begitu terik. Terselip rasa penasaran yang besar. Dan perasaan itu membuncah saat setitik air mata mengalir di pipinya.

Tanpa pikir panjang Johee menepuk kedua pipinya. “AUCH!” Saat ia kembali membuka matanya pria itu masih berdiri disana. Jantung Johee berpacu cepat, aliran darah di sarafnya seakan berdesir.

“Lee.. Dong.. Hae..”

Tanpa sadar Johee sudah mempercepat langkahnya dan berdiri di hadapan Donghae. “Pe.. Pe.. Permisi! Maukah kau kencan denganku?” tanya Johee sambil membungkuk 90 derajat.

:::

“Donghae ah! Mau sampai kapan begini?!”

“Dia menunggukku. Aku harus kesana.”

“ YA! Neo Babo ya! Sampai kapan kau terus mengejarnya kesana kesini. Dia hanya menelponmu saat dia membutuhkanmu! Pakai otakmu!” Eunhyuk mencengkram lengan Donghae kuat-kuat.

Donghae segera menghempaskan tangannya. Begitu tangannya terlepas dari Eunhyuk ia segera berlari ke parkiran. Menyetir mobilnya ke Everland Theme Park secepat mungkin. Jarak yang harusnya di tempuh selama 2 jam menjadi 1 jam lebih. Begitu sampai Donghae berlari secepat mungkin ke dalam taman bermain itu.

Taman itu begitu ramai pengunjung. Ia berlari selama setengah jam tanpa henti hingga ia melihat sepasang kekasih sedang bertengkar.

“Kau terlambat lagi! Aku menunggu hampir dua jam!”

“Maafkan aku Eunso. Apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku?”

Gadis bernama Eunso itu menunjuk bibirnya. Pria itu tersenyum kecil lalu sedetik kemudian mencium bibir gadis itu. Disaat itu pula Donghae menutup kedua matanya. Ia dapat merasakan dadanya seperti ditikam oleh benda tajam, sangat sakit. Terlalu menyakitkan. Rasa sakit itu merambat ke sekujur tubuhnya. Tanpa terasa air mata mengalir begitu saja.

Tangannya mencengkram kaosnya yang basah oleh keringat. “Babo,” ucapnya pada dirinya sendiri.

“ Pe.. Pe.. Permisi! Maukah kau kencan denganku?”

Donghae membuka kedua matanya dan melihat badut kelinci dihadapannya sedang membungkuk kearahnya. Dia berusaha menjalankan otaknya disaat yang tak tepat.

“Kau Lee Donghae, kan? Maukah kau kencan denganku?”

“Bagaimana kau tahu namaku? Kau siapa?” tanya Donghae kebingungan.

Badut kelinci itu segera berdiri tegak. “A.. Aku.. A.. Aku.. Shim..”

Donghae menghiraukan kelinci itu dan melihat Eunso yang ternyata memandang kearahnya. Perempuan itu tampak kaget. Donghae segera menghapus sisa air mata di pipinya lalu meraih tangan kelinci dihadapannya.

:::

Donghae benar-benar kehabisan tenaganya, ia duduk di bangku taman sambil mengelap keringat yang terus mengalir. Johee benar-benar merasa seperti berada di alam mimpi. Dibalik kostum anehnya ia tersenyum lebar dan memandang Donghae lekat-lekat. Pria itu sama persis seperti di mimpinya.

“Aish.. Bajuku basah semua,” ucap Donghae karena merasa tak nyaman.

Johee langsung berdiri. “Tunggu sebentar,” ucap Johee lalu kembali berlari. Dengan kostum anehnya, ia berlari ke sebuah toko yang menjual baju-baju Disney. Kehadirannya membuat toko itu ramai mendadak.

“Omma! Omma! Ada kelinci!”

“Kelinci ssi ayo main!”

Anak kecil yang berkerumun disekitar sana mulai menarik-nariknya.

“Saat ini onnie tidak bisa bermain dengan kalian. Pacar onnie sedang menunggu onnie membelikan baju untuknya. Menurutmu onnie harus beli yang mana? Onnie tidak tahu ukuran pacar onnie,” ujar Johee dengan polos.

“Belikan saja yang besar onnie!”

“iya noona, daripada kekecilan lebih baik kebesaran!”

Johee langsung tersenyum begitu melihat ukuran XL, Johee langsung mengambil dan membayarnya. Johee tersenyum begitu lebar saat keluar dari toko, sebelum ia kembali ia juga membeli sebuah minuman kaleng. Langkah Johee terasa begitu ringan.

Johee melihat Donghae masih duduk ditempat tadi. Ia mempercepat langkahnya. Begitu sampai di depan Donghae, Johee menyodorkan minuman kaleng dan kaos Disney yang dibelinya.

Donghae mendongak lalu menerima pemberian nona kelinci itu. “Terima kasih,”

Johee dapat melihat Donghae tersenyum kecil. Seperti bayangan Johee, pria itu sangat manis saat tersenyum. Tanpa sadar bibir Johee ikut tertarik untuk membentuk senyuman.

Tiba-tba saja Donghae bangun dari tempat duduknya. “Mau kemana?” tanya Johee refleks.

“Ke kamar mandi, aku mau mengganti bajuku,”

Johee langsung membulatkan mulutnya walau Donghae pasti tak bisa melihat reaksinya.

Donghae maju selangkah mendekat kearah Johee, “Atau kau mau aku ganti dihadapanmu?” ucapnya seperti berbisik kearah Johee.

Johee langsung menggelengkan kepalanya berkali-kali. “A.. Aniya!!”

Donghae tertawa melihat reaksi nona kelinci itu, “Hehehehe.”

Johee tercengang saat wajah tampan itu tertawa tepat di hadapannya. Jantung Johee seakan akan melompat. Begitu Donghae menghilang, Johee langsung jatuh ke tanah seperti gravitasi. Johee menepuk-nepuk pipinya lalu menggeleng-geleng kepalanya. Lalu dia rebahan di tanah, 5 detik kemudian ia melakukan sit up.

“Appa! Lihat-lihat kelincinya lagi olahraga!” ujar seorang anak sambil menunjuk-nunjuk Johee.

Johee langsung bangkit dan menunduk. Untung saat ini mukanya tak kelihatan. Ia pasti tampak seperti orang bodoh. “Johee kau pasti sudah gila,” ucap Johee pada dirinya sendiri lagi.

Karena sikapnya yang aneh, Johee kembali menarik perhatian anak-anak disana. Johee kembali ke tugas awalnya. Ia menari lalu memberikan beberapa permen kepada anak-anak itu.

Dari kejauhan Donghae melihat semua itu, entah kenapa perasaannya jauh lebih baik. Ia tak tahu apa yang akan terjadi jika tadi kelinci itu tak muncul dihadapannya. Ia kembali melihat pakaiannya, baju itu kebesaran tapi entah kenapa Donghae merasa nyaman memakainya.

Johee menyadari kehadiran Donghae dan segera menghampirinya. “Omo! Ternyata kebesaran. Maafkan aku. Aku tak tahu ukuranmu,”

“XL.. Apa badanku terlihat sebesar itu? Ukuranku M.”

Johee membungkuk berkali-kali. “Maaf, maaf, maaf! Aku benar-benar tak tahu.”

Donghae menyembunyikan senyumannya. “Baiklah nona kelinci, sekarang kita mau kemana?”

“Eh?”

“Bukankah kau yang mengajakku kencan?”

Johee tersentak, kini wajahnya memerah. Sekali lagi, untung Donghae tak dapat melihat wajahnya. “Tapi.. Aku.. aku sedang kerja,” jawab Johee jujur.

Donghae kali ini harus menahan tawanya. “Apa kau pikir kita mau naik permainan yang ada disini? Aku tak membawa uang untuk membayar permainan disini,”

“Ooohhh… Ya sudah, kalau begitu kau temani aku kerja saja,” ujar Johee dengan enteng.

Dua jam berlalu dengan cepat saat mereka bersama. Donghae hanya memperhatikan Johee yang membuat anak-anak kecil tertawa. Bahkan tanpa perlu melihat wajahnya, Donghae yakin bahwa nona kelinci itu seseorang yang sangat ceria dan baik.

Johee segera berjalan kearah Donghae saat jam menunjukkan pukul 5 sore. “Jam kerjaku sudah selesai. Terimakasih sudah menemaiku hari ini,”

“Baiklah, cepat ganti bajumu. Aku akan mengantarmu pulang.”

“ APA?!” Suara Johee meninggi.

Donghae berdeham. “Sebagai tanda terima kasihku karena sudah membelikan baju dan minuman itu, aku akan mengantarmu pulang,”

“JINJA?!” tanya Johee dengan penuh semangat.

Saat Donghae ingin mengangguk, handphonenya berdering. Donghae segera mengeluarkan Hpnya. Begitu melihat nama dilayar Hpnya, ia segera mengangkat Hpnya. “Eunso ah, wae? Bukannya kau bersamanya? Kenapa dia meninggalkanmu? Oke, aku akan kesana sekarang juga,” Donghae memasukan Hpnya ke saku celana dan melihat kearah Johee. “Maaf,”

Johee langsung menggelengkan kepalanya. “Pergilah,” ucap Johee tapi entah kenapa hati Johee terasa sangat sakit sekali saat Donghae melewatinya. Johee berbalik dan melihat punggung Donghae yang makin menjauh. “Aku bahkan belum memberitahu namaku,” ucap Johee tanpa sadar air matanya sudah mengalir.

:::

Satu minggu setelah hari itu..

Johee sedang mencari beberapa buku di perpustakaan. Ia sudah menemukan 3 buku, hanya 1 lagi yang tersisa. Ketika ia menemukan buku yang ia cari, ia segera mengambilnya. Disaat bersamaan seorang gadis juga mengambilnya. Mata Johee melebar saat mengenali wajah gadis itu.

Johee baru ingin bersuara tapi ia melihat seorang pria menuju kearahnya. Johee menjatuhkan semua buku yang di pegangnya.

BRUUK! BRUKK!

Johee segera menggigit bibirnya kuat-kuat lalu membungkuk berkali-kali. “Maaf, maaf, maaf,” ucap Johee sambil memungut bukunya yang terjatuh. Lalu Johee segera berlari secepat kilat dari tempat itu.

“Wanita itu sedikit aneh,”

“Sepertinya aku pernah bertemu dengannya,”

“Dimana?”

Pria itu menggeleng lalu mendekat kearah perempuan itu. Langkah terakhirnya tertahan saat ia melihat sebuah Handphone tergeletak tak jauh dari gadis dihadapannya. Pria itu langsung mengambilnya.

“Donghae, apa yang kau lakukan?”

“Eunso ah, tunggu sebentar,” ucap Donghae lalu segera berlari.

Donghae berlari keluar perpustakaan dan melihat perempuan itu tepat saat menutup pintu taksi.

“Agashi! AISH!”

Donghae melihat Handphone di tangannya. Dia tampak berpikir sebentar lalu membuka folder photo hp tersebut. Ia terdiam sebentar saat melihat begitu banyak foto Johee di dalamnya. Walau ia tak tahu itu siapa, entah kenapa hatinya tergetar. Saraf-saraf di otaknya tak bekerja dan jantungnya mulai bekerja cepat lagi. Tanpa sadar ia terus melihat semua foto di handphone itu.

“Donghae ya!”

Donghae segera menoleh dan melihat Eunso disana. Ia segera mengantungi handphonenya dan menhampiri gadis itu.

:::

Johee memasuki sebuah restoran di daerah Itaewon. Kepalanya celingak-celinguk mencari seseorang. “Yeonhee ah, maaf aku telat,” ucapnya saat menemukan temannya.

“Ya! Sudah berapa kali ku bilang jangan silent handphonemu. Aku menelponmu hampir 13 kali karena khawatir,”

Johee hanya menyengir bersalah dan merogoh semua kantung di jaket dan celannya, lalu membuka tasnya dan mengeluarkan semua isinya. “Tidak ada.”

“Apanya?” Yeonhee kebingungan melihat Johee yang mulai menggigit bibirnya. Salah satu kebiasaan temannya saat khawatir dan sedih.

“Handphoneku.”

Yeonhee mendesah. “Sudah kesekian kalinya kau kehilangan barang. Ckckck, Shim Johee pasti di kehidupan sebelumnya kau pasti pencuri,” ledek Yeonhee.

“YA!!”

Yeonhee mengeluarkan handphonenya dan terus menghubungi nomor Johee. Setelah mencoba selama 5 kali akhirnya teleponnya tersambung. “Yobseyo,”

“Tersambung?” tanya Johee, dengan segera ia berpindah posisi duduk di sebelah Yeonhee. Johee dapat mendengar suara perempuan di sana.

“Eunso ssi, aku Lee Yeonhee. Ya, ya, ini handphoneku. Bisakah kita bertemu?”

:::

“Telepon dari siapa?” tanya Donghae yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“Lee Yeonhe, pemilik Hp ini mau bertemu. Dia bilang dia sangat membutuhkan handphone ini. Jadi aku menyuruh gadis itu kesini, dia juga sedang di daerah ini,”

Donghae hanya membulatkan mulutnya. Ia melihat keluar, ternyata sedang hujan. Tak beberapa lama kejauhan ia melihat seorang gadis berlari-lari menerobos hujan dan kerumunan orang. Begitu sampai didepan toko ini, bajunya sudah setengah basah dan badannya mulai menggigil.

“Permisi,” ucap gadis itu begitu ia masuk.

“Ah itu pasti dia!” ucap Eunso lalu memberikan tanda pada gadis itu.

Gadis itu tampak sedikit terkejut. Dia memaksakan senyumannya dan menghampiri Donghae yang bersama Eunso. Begitu sampai didepan Eunso, gadis itu mengigit bibirnya.

“Kau Lee Yeonhee?”

Gadis itu mengangguk. “Handphoneku..”

Donghae segera memberikan handphone kepada gadis itu. Tangan gadis itu gemetar saat menerima handphone dari Donghae.

“Kau baik-baik saja? Kau kedinginan? Mau pinjam jaketku?” tanya Donghae.

Gadis itu baru mau menarik senyumnya tapi Eunso memandang dirinya dengan pandangan tidak suka. Gadis itu segera menggelengkan kepalanya. “Aku baik-baik saja. Terimakasih Eunso ssi, Donghae ssi. Aku pamit dulu,”

Begitu gadis itu keluar dari tempat itu, Donghae merasa ada yang aneh. Ia mengambil jaketnya dan ingin berlari keluar tapi Eunso menahan tangannya. “Bukannya kau bilang kau mau menemaniku hari ini?”

Donghae melihat kedua mata Eunso yang memelas lalu melihat keluar jendela. Ia melihat gadis bernama Yeonhee itu terpeleset, kakinya kembali melangkah tapi genggaman tangan Eunso semakin erat. Donghae menghela napas dan kembali ke posisinya.

:::

“Eunhyuk Oppa, Yeonhee belum disini?”

Pria yang di panggil Oppa itu hanya memamerkan senyum gusinya. “Bukankah sudah biasa kalau ia terlambat? Johee ssi, kau sendiri kenapa terlambat?”

Johee mengangguk setuju lalu ia menunjukkan kakinya yang tertutup rok selututnya. “Kemarin lusa aku jatuh,” ucapnya sambil menunjuk baretan dikakinya. “Kemarin kakiku juga terkelir jadi masih susah jalan. Tapi sekarang aku merasa jauh lebih baik,” ujar Johee disertai senyum cerianya.

Eunhyuk tersenyum lalu mengusap-usap kepala Johee. Johee balas tersenyum. Lalu menghentikan Eunhyuk. “Kalau Yeonhee melihat ini dia bisa sedih,” ucap Johee dengan nada bercanda.

“Aigo! Makin lama kau makin pintar berbohong,” Eunhyuk menyentil jidat johee.

“YA OPPA!”

Eunhyuk hendak membalas omelan Johee tapi matanya tertuju kedepan, ia melihat seseorang disana. “Donghae ya!” panggilnya.

Johee menahan nafasnya lalu membalik badannya perlahan. Matanya membesar saat melihat Lee Donghae lagi-lagi ada di hadapannya.  Ia mengambil satu langkah mundur tapi malah menabrak Eunhyuk.

“Ya, Johee ah!” omel Eunhyuk sambil menjitak Johee.

“Mian oppa,” ucap Johee sambil menjulurkan lidahnya.

Donghae melihat semua kejadian itu dari awal, entah kenapa ia tidak terlalu suka dengan fakta ternyata Eunhyuk mengenali gadis itu. Donghae segera memutar otaknya, Lee Yeonhee. Nama itu tak terasa asing di telinganya. Tentu saja, kemana pun Eunhyuk pergi, dia akan menelpon gadis bernama Yeonhee. Ternyata Lee Yeonhee inilah yang sering dibicarakan Eunhyuk. Lee Yeonhee, yang katanya teman sepermainan Eunhyuk dari kecil. Semakin ia mengetahui fakta itu, ia semakin tidak menyukainya.

“Hyukjae ah, maaf aku telat!” suara seorang perempuan yang cempreng itu memecah kesunyian itu.

“Yeonhee, kau telat 30 menit jadi traktir aku sebanyak 30 ribu won!” ucap Eunhyuk pada gadis berambut panjang diikat satu itu.

“Kau saja masih utang padaku 50 ribu won!” balas Yeonhee kesal.

Donghae melebarkan matanya dan kembali berpikir. “Kau, Yeonhee?” tanyanya pada Johee.

Yeonhee mengangkat tangannya. “Aku Yeonhee, dia Johee. Kau sendiri siapa?”

Eunhyuk segera menengahi kesalahpahaman tersebut. “Dia Lee Donghae teman satu kantorku. Donghae ya, ini teman kecilku Lee Yeonhee dan di sebelahnya Shim Johee, junior Yeonhee,”

Donghae menatap gadis bernama Johee. “Jadi namamu Shim Johee?”

Belum sempat Johee menjawab, Yeonhee segera mengerti keadaan sebenarnya. “Johee ya.. jadi dia Lee Donghae.. Lee Donghae yang itu?” tanya Yeonhee blak-blakan

Johee menggigit bibirnya lalu menarik Yeonhee pergi ke toilet. Sesampainya di toilet, Johee mengangguk. “Iya. Dia Lee Donghae yang itu,”

“Lee Donghae yang di mimpimu?”

Johee mengangguk.

“Lee Donghae yang meninggalkanmu di taman bermain setelah berjanji mau mengantarmu?” Johee mengangguk lagi.

“Dia, Lee Donghae yang bertemu di perpustakaan dan membuatmu kaget hingga semua barang jatuh dan akhirnya hpmu ketinggalan?”

Lagi-lagi Johee mengangguk.

“Dia, Lee Donghae yang membuatmu hujan-hujanan dan terpleset saat mengambil hpmu?”

Untuk kesekian kalinya Johee mengangguk. “Tapi dia tidak seburuk yang kau katakan.. dia orang yang ba…”

Belum sempat Johee menyelesaikan semua kata-katanya, ia sudah kehilangan Yeonhee. Dengan susah payah Johee berjalan ketempat mereka berkumpul sebelumnya. Ia melihat Yeonhee ada disana dan memukul kepala Donghae.

Johee langsung memegangi kepalanya seakan merasakan sakit yang Donghae rasakan. “Maaf tanganku kepleset. Eunhyuk ah, ayo jalan aku akan mentraktirmu sebanyak 30 ribu won,” ucap Yeonhee lalu berjalan cepat  melewati Donghae

“Yaa! Lee Yeonhee! Katanya kita mau nonton!?” teriak Johee tapi Yeonhee dan Eunhyuk sudah menghilang diantara keramaian orang.

Donghae diam kebingungan, tapi saat ia melihat Johee yang sedikit pincang. Ia segera mendekati Johee. Ia menunduk dan melihat kaki Johee yang terluka. Entah kenapa perasaannya terasa sakit.

“Maaf,”

Donghae mendongak dan melihat kearah Johee. Johee mengusap kepalanya dengan lembut. Donghae mematung. Johee benar-benar tak tahu apa yang dilakukannya itu berhasil membuat laki-laki di hadapannya menahan napas selama beberapa detik.

“Pukulan Yeonhee pasti sakit. Kau tidak apa-apa? Tolong jangan marah padanya, dia hanya sedang kesal,” ucap Johee tetap dengan senyuman yang sama.

Donghae tak bergerak dari posisinya. Semua ucapan Johee seakan angin segar yang masuk ketubuhnya.

Johee terdiam sesaat lalu mulai mengigit bibirnya. Ia seakan berpikir sesaat, tapi akhirnya ia maju selangkah kearah Donghae dan berbisik. “Donghae ssi, mau kencan denganku?”

Donghae mengerlingkan bola matanya, semua hal tentang Johee benar-benar terasa tak asing baginya. Tanpa sadar Donghae sudah mengangguk.

“Assa! Aku mau nonton!”

Donghae tersenyum melihat Johee yang berjalan di depannya. Gadis itu masih terlihat sedikit pincang tapi senyuman tetap menghiasi wajahnya.

Sesampainya di bioskop Johee membiarkan Donghae memilih film yang ingin ia tonton. Dihadapan Johee ia dapat menjadi dirinya sendiri. Dia dapat tertawa lepas dan merasa nyaman. Ia dapat melihat wajah bosan Johee saat menonton tapi gadis itu berusaha tetap menikmatinya tanpa complain.

“Kau tak suka filmnya?” tanya Donghae saat mereka keluar dari bioskop.

“Iya,” jawab Johee dengan jujur.

Donghae tersenyum mendengar Johee yang begitu jujur. “Maaf,”

“Kenapa harus minta maaf? Di dunia ini ada banyak hal yang disukaI dan tidak disukai. Aku memang tidak suka filmnya tapi bukan berarti aku tidak suka menontonnya. Aku menyukai film itu karena aku dapat menontonnya bersamamu,” Johee tersenyum kearah Donghae.

Donghae tertegun melihat senyum polos Johee. Gadis itu mengatakan hal itu dengan sangat tenang tapi Donghae merasa jantungnya hampir copot karena perkataan gadis itu. Setelah berhasil menenangkan dirinya Donghae membalas senyum Johee.

“Donghae ssi, aku harus pulang sekarang,” ucap Johee setelah melihat jam tangannya

“Oh, baiklah. Bagaimana kalau aku an..”ucapan Donghae kembali terhenti saat ia melihat Eunso di seberang restoran sedang menyuapi pacarnya.

Johee mengikuti pandangan Donnghae. Johee merasa hatinya seperti teriris. Saat ia bersama Donghae ‘Kenapa selalu seperti ini?’ batinnya seakan ingin berteriak. Lagi-lagi Johee berusaha tersenyum. Ia meraih tangan lengan Donghae membuat laki-laki itu kembali fokus padanya.

“Donghae ssi aku tahu ddubokki yang enak di dekat rumahku. Aku ingin memakannya, tapi memakannya sendirian pasti tidak menyenangkan. Kau mau ikut?”

“Eh?”

:::

“Halmoni aku datang!” seru Johee dengan riang begitu sampai di sebuah restoran pinggir jalan.

“Ah, Johee ya! kau telat,” halmoni itu terdiam sesaat lalu tersenyum cerah. “Aiguu, siapa laki-laki tampan ini? Dia pacarmu?”

Muka Donghae langsung merah padam sedangkan Johee menggelengkan kepalanya. “Aniyo, Halmoni. Dia temannya-temanku. Setelah kubilang ddubokki halmoni paling enak se-Seoul, dia langsung menyuruhku membawanya kesini,”

“Aigo! Kau semakin pintar! Suruh ia duduk,” ucap wanita berusia 57 tahun itu sambil menepuk-nepuk kepala Johee.

“Halmoni, sojunya 2 botol!” teriak salah satu pengunjung.

Dengan sigap Johee mengambil 2 botol Soju dari tempatnya dan membawakannya kepada paman itu. Lalu ia datang menghampiri satu meja ke meja yang lain. Semua orang tertawa setelah mendengar ucapan Johee. Donghae memperhatikan semua itu dari mejanya, tanpa sadar ia telah kembali tersenyum.

“Gadis itu akan melakukan apapun asal melihat orang tersenyum. Tanpa ku minta, dia datang kesini hampir setiap hari setelah aku kehilangan anak perempuanku. Semua tamu tetap disini selalu mencarinya saat mereka sedang sedih. Tapi setiap kali gadis itu sedih dia akan menangis sendirian. Dia gadis yang sangat baik,” Halmoni itu tersenyum pada Donghae lalu menepuk bahu Donghae dan kembali ke kerjaannya.

“Donghae ah, ini ddubokki-nya,” Johee meletakan gelas dan piring di hadapan Donghae.

Donghae mulai memakannya. “Johee, ini enak!”

Johee tersenyum sangat lebar. “Benarkan? Halmoni memang koki terbaik di Korea!”
Johee duduk di sebelah Donghae dan mengatupkan kedua tangannya. Donghae merasakan jantunganya berdebar dua kali lebih cepat saat mendapati Johee terus melihat kearahnya.

“Donghae ssi, makan-makanan enak membuatmu sedikit lebih gembira, kan?” tanya Johee sambil memandang kedua bola mata Donghae.

Donghae terdiam, ia mulai menalar semua kejadian di hari ini. Awal Donghae bertemu Johee hari ini wajahnya murung. Gadis itu langsung mengajaknya pergi walau kakinya masih sedikit pincang. Ia membiarkan Donghae memilih film yang ingin ditontonnya walau ia telah melihat poster film lain selama 1 menit. Ia mengatakan hal yang menyenangkan walau ia tak menyukai filmnya. Saat ia mau pulang, begitu melihat Donghae kembali sedih, gadis itu kembali menariknya untuk membawa kebahagiaan.

Tiba-tiba setitik air mata Donghae mengalir. Ia merasa dirinya amat bodoh.

“Donghae ssi.. Donghae ssi kenapa? Makanannya tak enak? Atau terlalu pedas? Ada apa?”

Donghae segera menghapus air matanya dan tersenyum kearah Johee. “Terima kasih, makanannya sangat enak. Aku tak pernah makan seenak ini sebelumnya,”

Johee langsung merasa lega.  Tiba-tiba tangan Johee tergerak menyentuh pipi Donghae dan menghapus sisa airmata Donghae. Donghae dapat merasa kehangatan. Baru saja Donghae ingin meraih tangan Johee, handphonenya kembali berdering. Johee langsung menarik tangannya dan pergi membantu halmoni.

Donghae melihat Eunso kembali menelponnya. Ia berpikir untuk tidak mengangkatnya tapi akhirnya ia mengangkatnya. “Nee, Eunso ah?”

Begitu mendengar nama Eunso, Johee langsung memandang kearah Donghae. Wajah Johee kembali sedih. Ia terdiam dan hanya mencuci piring kotor.

Donghae memasukan hpnya ke saku celananya lalu menghabiskan ddubokkinya. Ia membawa piring kotor itu ke Johee. “Johee ah, aku harus pulang sekarang. Untuk hari ini terima kasih banyak,” ucap Donghae lalu mengelus kepala Johee pelan. “Halmoni terima kasih, makanannya enak sekali,” ucap Donghae pada Halmoni yang berdiri tak jauh dari Johee.

:::

“Kau menyukainya?”

Johee mengangkat kepalanya dan melihat kearah halmoni. “Awalnya karena Halmoni mengatakan aku akan bermimpi seorang pria yang akan jadi pasanganku kelak, kupikir dia orangnya jadi aku menyukainya. Karena aku benar-benar bermimpi dan aku pikir halmoni benar-benar seorang peramal. Tapi Halmoni berkata waktu itu halmoni bercanda,” ujar Johee sambil membantu halmoni menutup tokonya.

“Tidak Johee ah, kau menyukainya bukan karena candaanku. Kau benar-benar menyukainya seperti seorang gadis pada umumnya,” ucap Halmoni lalu menggenggam tangan kanan Johee. “Perkataanku tidak penting, yang penting adalah apa yang kau rasakan dan yang kau lakukan,”

Johee mulai paham  maksud halmoni. “Tapi halmoni, dia mencintai orang lain dan itu bukan aku,”

“Johee ah, anakku, kau anak yang baik, dan setiap orang baik berhak mendapatkan yang terbaik,” ujar Halmoni sambil tersenyum.

:::

Johee merasa kakinya masih belum benar-benar sembuh, kostumnya yang berat membuatnya semakin parah. Ia sudah keringatan dan merasa panas di seluruh badannya. Tetapi setiap kali ia melihat anak-anak tersenyum kearahnya, ia merasa bersemangat.

Hari ini hari Sabtu, seperti biasa Johee kembali ke rutinitas pekerjaannya. Ia menjadi badut di Everland Theme Park. Sudah hampir 3 jam ia tidak duduk dan terus menari-nari. Hari ini lebih ramai di banding biasanya maka ia harus bekerja ekstra.

“Onnie, ayo menari,” ucap seorang anak perempuan di kuncir dua.

Johee berusaha menggerakan kakinya lagi tapi rasanya semakin sakit, badannya terasa panas dan kepalanya pusing. Pandangannya mulai buram, ia berusaha mencari pegangan agar tidak terjatuh. Tetapi seseorang langsung menggenggam tangannya dan menahannya.

“Maaf ya, onnie sudah capek, bagaimana kalau oppa yang menari menggantikan onnie?”

Tentu Johee sangat mengenal sura ini tanpa perlu membuka matanya. Pria itu mengantarnya ke kursi terdekat lalu menari untuk anak-anak kecil disana. Johee melihat semuanya dengan rasa penasaran.

Sekarang sudah jam 5, artinya pekerjaan Johee hari ini telah berakhir. Pria itu datang sambil membawakan minuman kaleng.

“Kau sudah bekerja keras, Johee,” ucapnya lalu melepaskan kepala kelinci Johee.

“Ba.. bagaimana kau bisa tahu?”

Donghae tersenyum jail. “Hanya pria bodoh yang tidak menyadari perempuan yang di sukainya,”

Johee tanpa sadar sudah membuka mulutnya dan matanya melebar.

“Maafkan aku, Johee. Aku menyukaimu,” bisiknya ditelinga Johee dengan lembut.

Johee mengangkat tangannya menutupi mulutnya agar tak berteriak. Dia benar-benar tak mengerti.

“Kau itu bodoh, ya?” tanya Donghae sambil menatap kedua bola mata Johee dan menggenggam tangannya.

Johee sungguh tak mengerti, pria itu baru menyatakan cintanya tapi mengatakan gadis yang disukainya bodoh. “Apa?”

“Kau begitu bodoh karena jatuh cinta pada pria bodoh sepertiku,”

Donghae benar-benar membuat Johee kehilangan semua kata-katanya. Pria itu tersenyum amat sangat manis disinari matahari yang hampir tenggelam. “Kenapa kau begitu bodoh melukai dirimu hanya karena pria bodoh sepertiku? Pabo.”

Tangis Johee tumpah karena bahagia.

“Lihat, sekarang kau menangis hanya karena seorang yang bodoh. Aku harus bagaimana?”

“Donghae ya, neo babo.” Johee memukul Donghae pelan.

Donghae mendekatkan dirinya kearah Johee. “Walau aku bodoh, aku tak mau pacaran dengan kelinci. Sekarang ganti bajumu. Aku akan menunggumu disini,” ujar Donghae lalu menaruh kembali kepala kelinci Johee.

:::

“Gunting, batu, kertas!”

Donghae mengepal tangannya sedangkan Johee mengeluarkan gunting.

“Yeah! Aku menang!” Donghae hanya mengulum senyumnya. “Baiklah, artinya aku menggendongmu. Cepat naik,” ucap Donghae sambil merendahkan badannya agar mempermudah Johee naik ke punggungnnya.

Johee naik ke punggung Donghae, setelah merasa posisinya sudah benar Donghae bangkit berdiri. “Aku berat?”

“Tidak.”

Johee memejamkan matanya. “Sepertinya aku bermimpi,”

Donghae tersenyum mendengar perkataan Johee. “Kau tidak pacaran dengan pangeran, Shim Johee,”

Senyum Johee ikut mengembang. “Tapi aku seperti pacaran dengan seorang pangeran dari laut timur,”

Kali ini tawa Donghae pecah. “Mana ada pangeran yang mau pacaran dengan gadis sepertimu? Hanya aku yang boleh!”

Pipi Johee sudah memerah seperti udang rebus. Ia menutup mulutnya lalu dia mencium pipi Donghae secara cepat. Donghae berhenti melangkah, “Shim Johee, apa kau selalu seberani ini? Kau mengajak kencan pria yang tidak dikenal, lalu menciumku sebelum aku menciummu. Ini sungguh tak adil bagi pihak laki-laki,”

“A.. Apa? Aku tidak begitu.” sangkal Johee.

“Turun kau,” ucap Donghae sambil melepaskan tangannya .

Johee cemberut dan turun dari gendongan Donghae. “Aku tidak pernah melakukannya pada pria lain,” ucap Johee sambil mengeluarkan tanda peacenya.

Donghae mendekatkan wajahnya ke telinga Johee. “Jangan lakukan itu pada pria lain, karena aku akan selalu ada di sampingmu. Aku mencintaimu, Shim Johee” bisiknya.

Donghae kini melihat Johee yang menundukkan kepalanya. Ia bahkan dapat mendengar debaran jantung Johee. Entah kenapa semua hal itu mebuatnya benar-benar bahagia. Donghae mengangkat wajah Johee lalu menciumnya.

:::

<FLASHBACK>

“Eunso ah, maaf,”

“Waeyo?”

“Ini terakhir kalinya aku akan mengantarmu pulang seperti ini. Ini juga terakhir kalinya aku akan menerima teleponmu. Kau tidak bisa terus seperti ini. Begitu pula denganku. Kau sangat menyukainya.. dan sekarang aku juga punya perempuan yang kusukai.”

Donghae menghentikan mobilnya setelah sampi di rumah Eunso. “Setelah ini suruh pacarmu yang mengantar pulang,”

“Lee Dongahe, kau benar-benar akan melakukan ini padaku? Bukannya kau bilang kau akan menunggu sampai aku bisa menyukaimu? Sekarang.. sekarang.. aku… sudah menyukaimu,”

Donghae tertegun di tempatnya tapi saat ia pejamkan matanya, wajah Johee ada disana. Donghae tersenyum, “Jangan seperti ini Eunso ah. Kau gadis yang baik, tapi kalau kau seperti ini, tak akan ada pria yang mau denganmu. Ada seorang gadis yang rela melakukan apapun untuk membuatku kembali tersenyum. Sangat tidak adil kalau aku memilih gadis yang selalu mempermainkanku,”

Muka Eunso berubah menjadi merah dan kekesalan tampak di wajahnya. Dia segera keluar dari mobil Donghae dan membanting pintunya. Setelah Eunso keluar, Donghae benar-benar merasa lega. Dia memutar mobilnya dan kembali ke toko dduboki itu.

Betapa kagetnya Donghae saat melihat Johee tergeletak di meja sambil memegang satu gelas yang berbau alcohol. Donghae melihat gadis itu menangis tanpa henti. Saat itu hatinya jauh lebih sakit dibanding saat ia melihat Eunso berciuman dengan pacarnya.

“Aku yang menyuruhnya minum, tanpa sadar ia tak bisa berhenti. Ia mengoceh selama 1 jam. Benar-benar gadis yang merepotkan,” ucap Halmoni yang ternyata duduk tak jauh dari meja Johee.

“Maaf,”

“Untung kau datang, tadinya aku tidak tahu bagaimana cara mengantarnya pulang. Rumahnya tak jauh dari sini. Hanya sekitar 15 meter dari sini, satu-satunya rumah yang di cat putih. Tolong antar dia,”

“Nee, halmoni.”

“Satu hal lagi, Lee Donghae ssi. Kalau kau mencintainya, bisikanlah kau mencintainya. Dengan begitu, aku rasa kau bisa menghapus semua kesedihannya,”

Donghae menggaruk kepalanya dan pipinya merona. “Nee, Halmoni,”

Donghae menaikan Johee ke punggungnya dan menggendong gadis itu keluar dari toko.

Saat itu bulan purnama sangat terang dan ada beberapa bintang yang terlihat. Donghae tersenyum kearah langit. Perasaan benar-benar jauh lebih baik.

“Donghae ah.. Neo babo ya! Jinja babo!! Aku.. Aku.. benar-benar menyukaimu,” bisik Johee di samping telinga Donghae.

Donghae tersenyum tipis. Jantungnya berdebar kencang dan pipinya mulai merona. “Nado, Johee ah,”

-END-