by author: @GYUMONTIC 

who miss KyuJin couple? KyuJin is back! hehe enjoy reading!

please leave your comments here ya😀

******

Jodoh sudah ditentukan bahkan sebelum kau lahir

Kemanapun kau berlari, Dimanapun kau berada

Dengan siapapun kau pernah menjalani hubungan

Pada akhirnya, kau akan berakhir pada jodohmu

——–

“Demi tenaga endogen dan eksogen yang membentuk gunung dan lautan. SONG HYEJIN, BANGUN!” teriak Kyuhyun dengan sangat keras sambil menendang tempat tidur Hyejin sehingga Hyejin merasa terganggu dengan guncangan yang dibuatnya.

Hyejin membuka matanya dan menatap Kyuhyun dengan murka. Hyejin paling tidak suka jika diganggu pada saat sedang tidur, sama tidak sukanya dengan Kyuhyun jika diganggu saat main game. “Ini baru jam setengah 7 pagi, CHO KYUHYUN! KENAPA KAU MEMBANGUNKANKU? TIDAK ADA KERJAAN HAH?!” teriak Hyejin tidak kalah keras. Rasanya perang dunia kesekian sedang terjadi di rumah keluarga Cho. Ya kesekian karena Kyu dan Hyejin selalu saja bertengkar.

“TANYA SAJA PADA PACARMU YANG PAGI-PAGI SUDAH DATANG KE RUMAH!!”

“Pacar?”

“TEPAT SEKALI! Pagi-pagi datang dan menggangguku yang sedang main PSP di teras rumah. Pacar-pacarmu aneh sekali. Tidak bisakah kau mencari pacar dengan baik?”

“PACAR-PACAR?! MAKSUDMU APA, CHO KYUHYUN?!

“Well, sejauh yang aku tahu yang pernah datang ke rumah untuk menemuimu. Ada Lee Donghae, Choi Siwon, Kim Junsu, Lee Jinki, dan entah siapa lagi kali ini. Apa kau begitu murahnya menjadi seorang gadis?”

“JAGA MULUTMU, TUAN CHO!” Hyejin yang sudah murka, kini bertambah murka akibat penghinaan yang dilontarkan Kyuhyun kepadanya. Hyejin masih bisa menerima jika Kyuhyun mengatainya jelek, bodoh, atau apapun asal tidak merendahkannya.

Keributan yang dibuat mereka berdua tampaknya sudah keterlaluan karena Nyonya Cho alias ibu Kyuhyun sudah naik dan bergabung dengan kedua anaknya. Kyuhyun memang anak kandungnya sedangkan Hyejin adalah anak sahabatnya yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri sejak gadis itu lahir.

“Kenapa kalian ribut sekali? Ini masih pagi. Bikin kepalaku pusing saja. Kyu, kembali ke kamarmu. Hye, temui temanmu di bawah,” ucap Nyonya Cho yang lebih seperti perintah.  Seketika Kyuhyun dan Hyejin terdiam. Satu-satunya hal yang bisa membuat mereka berdua diam adalah nyonya Cho yang sangat mereka hormati dan sayangi.

“Satu lagi, kuperingatkan kalian jika sekali lagi membuat keributan, aku bersumpah aku akan mengusir kalian dari rumah ini,” tambah Nyonya Cho sebelum Kyuhyun dan Hyejin menuruti perintahnya. Hyejin mengangguk sopan sedangkan Kyuhyun tersenyum masam. Mereka tahu itu hanya sekedar ancaman tapi lebih baik tidak mengabaikannya.

—————-

Seperti biasa, setiap pagi keluarga Cho dan Hyejin akan sarapan bersama. Tuan Cho akan sarapan sambil membaca koran, Nyonya Cho akan menjadi yang terakhir menyelesaikan sarapannya karena ia akan lebih dulu melayani suami dan anak-anaknya, Kyuhyun memakan sarapan sambil membaca majalah game-nya, sedangkan Ahra dan Hyejin akan saling bertukar cerita sambil tertawa-tawa kemudian lupa untuk menghabiskan sarapannya.

“Ahra, Hyejin, hentikan dulu cerita kalian. Habiskan sarapannya,” tegur Nyonya Cho melihat kedua putrinya tidak berhenti bercerita bahkan sampai tidak menyentuh sarapan mereka.

“Jwisonghamnida, gomonim,” ucap Hyejin lalu menyuapkan satu sendok sereal ke mulutnya. Ahra pun melakukan yang sama. Hal ini hanya bertahan satu menit. Kemudian, Ahra dan Hyejin sudah sibuk kembali dengan cerita mereka.

“Jadi pria tadi namanya Kim Jongwoon. Dia datang ke sini hanya untuk meminjam buku kuliah yang hanya dipelajari 1 bab. Katamu, kalian hanya kenal begitu saja, belum pernah mengobrol banyak. Tadi adalah pertama kali kalian ngobrol dan kau merasa ia orang yang sangat baik.” Ahra mulai merangkum cerita Hyejin diiringi anggukan dari yang punya cerita.

“Bagaimana menurut onnie? Apa dia menyukaiku?” tanya Hyejin.

Ahra berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk-angguk. “Aku rasa dia tertarik padamu tapi kau harus berusaha juga. Kita gak bisa menyimpulkannya secepat itu,” simpul Ahra.

Kyuhyun menatap Ahra dan Hyejin dengan ujung matanya kemudian mendengus keras. “Aku berani bertaruh kau akan jatuh ke pelukannya hanya dalam hitungan hari. Mengingat kau begitu mudahnya jatuh cinta, kalau itu itu bisa diklasifikasikan jatuh cinta,” ujar Kyuhyun dengan mulutnya yang tajam tanpa ekspresi.

Hyejin menatap Kyuhyun penuh kebencian. Dalam hati, ia mengutuk pria itu dengan segala cacian paling kotor yang dia tahu. Tangannya menggengam sendok dengan kencang, menjaga agar sendok itu tidak berpindah ke wajah Kyuhyun.

Kyuhyun menutup majalah game dan bangkit berdiri. “Aku sudah selesai. Tiba-tiba aku teringat memiliki jadwal kuliah. Aku berangkat dulu,” pamit Kyuhyun. Wajah menghinanya menatap Hyejin. “Pacarmu tidak lupa menjemput kan?”

Hyejin mendengus kesal lalu mengikuti Kyuhyun bangkit berdiri menyusul Kyuhyun. Dia tidak punya pilihan lain. Orang tuanya memperbolehkan anak gadis mereka kembali ke Korea dan mengambil beasiswa dari Seoul National University hanya karena satu hal : dia akan satu kampus dengan Kyuhyun sehingga Kyuhyun dapat mengawasinya dengan baik dan membuat kedua orangtuanya tenang di Singapore. Herannya, Kyuhyun tidak menolak tugas pengawasannya itu.

******

KYUHYUN’S POV

Ia keluar dari mobilku yang langsung disambut beberapa temannya. Itu berarti selama berjam-jam ke depan aku tidak akan bisa menatap wajah cantiknya kalau lagi marah kepadaku, beradu mulut dengannya dengan segala kata-kata sadis yang kami miliki dan menikmati setiap ketegangan di tubuhnya ketika terpaksa menahan hasrat untuk melawanku. Aku suka melihat wajah murkanya saat aku berhasil mengganggunya.

Sebagian besar orang menganggap aku adalah musuh besarnya bahkan orang pertama yang akan menjatuhkannya ke neraka kalau memang bisa. Salah besar. Aku bahkan sangat mencintainya. Kalau aku Tuhan, Hyejin akan menjadi orang pertama yang aku masukkan ke dalam surga. Semua yang aku lakukan hanya untuk mengganggunya. Aku tidak membencinya. Aku mencintainya dengan caraku sendiri. Sejak umur 3 tahun, aku meyakini dia adalah jodohku. Kemanapun dia pergi, dengan siapapun dia sekarang aku yakin ia akan berakhir padaku.

“Hei. Apa Hyejin sebegitu mempesonanya sampai kau sama sekali tidak berkedip memandang punggungnya?” sapa Ryeowook menyadarkanku bahwa aku sedang berdiri dan menatap Hyejin yang memasuki kampus bersama teman-temannya.

“Humm? Aku tidak menatapnya. Aku melihat orang-orang yang bersamanya. Aku bertanggung jawab pada orangtua, ingat?” elakku dari godaan Ryeowook. Aku tidak bohong. Aku melihat ada mantan pacar terbaru Hyejin di gerombolan itu. Dengan senang hati, aku akan memperhatikan mereka. Bukan hanya karena orang tuanya tapi juga karena diriku sendiri. Seorang pria yang baik harus memastikan gadis yang dicintainya baik-baik saja bukan?

Ryeowook tertawa kecil untukku, singkatnya menertawaiku. “Sampai kapan kau akan mencintainya diam-diam seperti ini? Apa kau mau terus menunggunya? Dia bahkan tidak melirikmu sedikitpun, Kyu,” ujar Ryeowook, sedikit mencemaskanku. Aku rasa itu hal yang wajar. 21 tahun aku hidup, 18 tahun hidupku hanya aku habiskan untuk gadis bernama Song Hyejin itu.

Aku tersenyum pada Ryeowook. “Aku pasti akan mendapatkannya. Hanya saja waktunya yang belom tepat. Tenanglah.”

“Aku tidak bisa tenang kalau pria seumurmu masih tidak mau pacaran. Kau tampan, pintar, kaya. Banyak wanita memujamu bahkan rela untuk melakukan apapun demi menjadi pacarmu tapi yang ada kau hanya mengacuhkan mereka. Hanya Hyejin yang ada di otakmu. Aku tidak yakin Hyejin memikirkanmu.”

“Kim Ryeowook, aku sudah bilang waktunya yang belum tepat. Oke? Saat aku merasa waktunya belum tepat. Aku masih akan tetap seperti ini.” Aku mempertegas ucapanku lalu meninggalkan Ryeowook di lobi kampus. Aku tidak peduli dengan tatapan para gadis yang terpesona padaku atau yang menggodaku. Tidak akan ada satupun dari mereka yang bisa menggugat keputusanku.

******

3 Februari 2015

Hari ini aku tepat berusia 27 tahun, usia yang matang bagi seorang pria untuk menjalani sebuah hubungan yang bernama rumah tangga. Hahahaha, aku hanya bisa tertawa. Bagaimana aku mau menikah kalau pacar saja tidak punya?  Menjadikan Hyejin sebagai pacarku? Jangan harap. 24 tahun aku mencintainya, menunggunya, ternyata ia tidak berakhir padaku. Keyakinanku selama hampir seumur hidupku terhempas begitu saja saat mendengar kabar ia akan menikah.

Sejak 4 tahun lalu, begitu ia lulus kuliah, Hyejin mengajukan pindah ke sebuah apartemen.  Untuk hidup lebih mandiri katanya. Keluargaku tidak bisa melarangnya karena orang tuanya pun tidak bisa. Apa hak keluargaku kalau keluarganya saja mengijinkan? Saat itu, walaupun aku sedih setengah mati aku masih bisa menerima keputusannya. Hyejin sudah dewasa dan dia berhak memutuskan apa yang ia inginkan. Termasuk pernikahan.

Sebulan lalu aku mendengar kabar bahwa ia akan menikah dengan pacarnya yang sudah setahun lebih ini bersamanya, Kim Jongwoon. Hal ini bukan lagi membuatku marah atau sedih atau menyesal atau apapun. Aku hanya ingin mati. Dari milyaran wanita yang diciptakanNya, selama 24 tahun terakhir aku hanya meminta satu orang untuk menjadi milikku tapi Tuhan tidak mengabulkannya. Terserah Tuhan jika ia mau aku jadi perjaka sampai mati.

Pintu kamarku tiba-tiba terbuka, cepat-cepat aku sembunyikan note-ku yang menyimpan foto-foto Hyejin dan menggantikannya dengan PSP 4 ku yang baru aku beli minggu lalu.

“YAAA CHO KYUHYUN!!! KENAPA KAU MASIH DI SINI HAH? KAMI SUDAH CAPEK MENUNGGUMU TAHU!” Ia berteriak nyaring, sangat nyaring malah sampai aku merasa gelas minumanku retak karenanya.

Aku sangat terkejut dan reflek membalikkan tubuhku kea rah pintu kamarku. Tidak jauh dari sana aku melihat gadis itu, Song Hyejin, berdiri sambil berkacak pinggang dan menatapku dengan kesal. “Aku harap kau tidak lupa bahwa hari ini hari ulang tahunmu dan seperti biasa kita akan makan bersama di ruang makan. Tapi… KENAPA KAU MASIH DI KAMAR SAJA, BODOOOOOH!” teriaknya sekali lagi membuat kupingku sakit.

Aku senang dia datang tapi kalau hanya dalam hitungan bulan dia akan menjadi milik pria lain, untuk apa? Ini menandakan bahwa aku tidak akan bisa bersamanya lagi, bahkan untuk alasan apapun. Aku akan semakin memantapkan niatku untuk mati.

Hyejin masih menatapku dengan galak yang aku balas dengan tatapan melecehkan. “Perlu aku ingatkan bahwa yang ulang tahun sekarang adalah AKU! Jadi, aku adalah RAJA! Apapun yang aku inginkan, KAU TIDAK BERHAK melarangnya. Seingatku juga, aku tidak mengundangmu. Kalau kau sadar, kau boleh pulang.” Oke, aku sangat sadis kali ini. Maafkan aku, Hyejin-ah.

Aku melangkah keluar dari kamarku tapi Hyejin tidak beranjak semili pun. Aku heran. Tidak biasanya dia hanya diam mendengar kata-kataku padahal sudah kelewat batas. Seharusnya, dia menendangku dan memaki-makiku atau menjambak rambutku lalu mengajak aku beradu mulut.  Aku berbalik dan melihat bahu Hyejin naik-turun, kepalanya menunduk, dengan tangan mengusap pipinya. Meskipun dia membelakangiku, aku merasa dia sedang menangis. Apa aku terlalu menyakitinya?

———

“HAPPY BIRTHDAY!!” seru Ahra sambil menyodorkan kue ulang tahun yang ia pegang ke hadapan adiknya.  “Tiup lilinnya,” perintah Ahra kemudian. Kyuhyun, tanpa semangat untuk mendebat, segera meniup lilinya. Tuan dan Nyonya Cho tersenyum melihat anak laki-lakinya sudah bertambah dewasa. Mereka kemudian mengucapkan selamat diiringi masing-masing satu kecupan di pipi kanan dan pipi kiri anak mereka.

Kyuhyun tersenyum penuh terima kasih kepada kedua orangtua dan kakak perempuannya. Meski tanpa kata-kata, Kyuhyun menyampaikan rasa terima kasihnya dengan memotong kue tersebut dan menyuapi keluarga satu per satu secara bergantian. Setelah itu, mereka duduk mengelilingi meja makan untuk menyantap makanan ucap syukur mereka.

Hyejin tiba-tiba masuk dengan matanya yang sedikit sembap. “Apa aku sudah melewatkan acara tiup lilin dan potong kuenya?” tanya Hyejin dengan ceria. Ia menatap kue yang sudah terpotong terletak di tengah meja makan. Seketika wajahnya berubah sedih. “Ternyata aku melewatkannya. Sayang sekali.”

Ahra yang merasa bersalah, spontan meminta maaf kepada Hyejin yang tentu saja tidak akan digubris oleh Hyejin. “Onnie, tidak ada yang salah jadi apa yang harus dimaafkan? Jangan berlebihan seperti itu ah. Diundang untuk makan saja aku sudah senang. Itu artinya aku masih diingat sama keluarga ini.”

Ahra tersenyum senang lalu memeluk Hyejin. “Ayo kita makan sekarang. AKU LAPAAAAAR!”

Sambil menyantap makanan, kelima orang yang sedang berkumpul itu berceloteh sedemikian rupa sehingga makan malam yang seharusnya hanya memakan waktu sejam menjadi tiga jam.

“Lihat Kyuhyun. Sudah berumur 27 tapi punya pacar pun tidak. Bagaimana dia mau menikah? Aku rasa dia akan tetap perjaka sampai tua,” ejek Ahra yang mendapat balasan berupa cibiran dari Kyuhyun.

“Kau sendiri sudah mau umur 30, belum menikah.”

“Tapi aku sudah punya pacar, Kyu. Paling tidak itu menandakan aku normal. Sedangkan kau?!”

“Itu bukan urusanmu, nuna. Jangan suka mencampuri urusan orang lain.”

Kedua kakak beradik itu mulai berdebat, tidak sesengit jika dilakukan oleh Hyejin dan Kyuhyun tapi cukup mengganggu acara makan bersama ini.

Tampaknya memang sudah kewajiban seorang ibu untuk mendamaikan anak-anaknya. “Kalian berdua berhenti berdebat pernikahan. Harusnya kalian contoh Hyejin yang akan menikah. Sudah sampai mana persiapanmu, Hye?” tanya Nyonya Cho kepada Hyejin.

Hyejin menghentikan makannya lalu tersenyum menyakitkan. Siapapun yang melihat senyumannya saat ini pasti merasakan sakit hati yang ia rasakan. “Aku tidak jadi menikah. Aku putus dengan Jongwoon,” ucapnya pelan. Suaranya terdengar begetar.

Tuan dan Nyonya Cho serta Ahra menatap Hyejin tak percaya. Kyuhyun bahkan menjadi orang pertama yang menyimaknya. “Kenapa?” tanya Ahra mendesak panik.

Hyejin hanya tersenyum. Ia berpikir untuk menjelaskan kronologis percintaanya agar semuanya  menangkap pemahaman yang sama atas masalahnya. Hanya saja sebelum ia sempat berbicara, Kyuhyun sudah memotongnya.

“Menikah saja denganku,” ucap Kyuhyun dengan serius. Kedua matanya menatap mata Hyejin dengan tajam, tangannya terlipat di atas meja dengan tubuhnya duduk tegak menghadap Hyejin. 4 pasang mata menatap Kyuhyun tidak percaya.

“Kau bilang apa barusan, nak?” tanya Tuan Cho yang saking terkejutnya menjadi orang pertama yang berkomentar padahal dia adalah orang yang paling pelit bicara.

“Maaf appa, tidak ada siaran ulang.”

Ahra dan Nyonya Cho memandang Kyuhyun dengan heran. “Kau jangan sinting, Kyu. Mentang-mentang Hyejin tidak jadi menikah dan kau didesak untuk menikah, kau memanfaatkan kesempatan ini untuk…”

“Aku serius,” tegas Kyuhyun tanpa basa-basi.

Ahra dan Nyonya Cho menatap dalam-dalam ke mata Kyuhyun dan kemudian dengan kedua telapak tangan mereka menutup mulut mereka yang tiba-tiba menganga. “Astaga. Eomma, dia serius. Appa. Hyejin, dia, si Kyuhyun, adikku ini, dia tidak main-main dengan ucapannya. Kyu, kau benar-benar sakit jiwa,” kata Ahra tidak beraturan saking terkejutnya.

******

HYEJIN’S POV

Hari sudah larut malam ketika makan bersama kami berakhir sehingga semua sepakat aku harus menginap di rumah ini. Bukan karena tidak ada yang bisa mengantarkan tetapi karena tidak ada yang mau. Apalagi setelah pernyataan Kyuhyun yang sangat menakjubkan tadi di meja makan, tidak ada satu pun yang rela melepasku keluar sebelum perkara ini diselesaikan dengan benar.

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Pikiranku terlalu penuh dan bercabang. Aku tidak bisa memikirkan dengan jernih apapun masalah yang datang kepadaku. Awal aku datang ke acara ulang tahun Kyuhyun juga karena aku ingin sedikit bersenang-senang, setelah tiba-tiba Jongwoon membatalkan pernikahan kami.

Tok. Tok. Tok. Pintu kamarku, tempat aku menginap sekarang, diketuk tanda ada orang yang ingin masuk. Aku pun mempersilahkannya. Tak sampai sedetik, seorang laki-laki bernama Cho Kyuhyun, yang baru saja memporak porandakan pikiranku muncul di hadapanku tanpa perasaan bersalah. Untungnya, kali ini dia tidak mengajakku bertengkar.

Kyuhyun duduk di hadapanku dan menatapku dengan lembut. “Apa yang terjadi sebenarnya?” Tanyanya tanpa paksaan sama sekali. Dia menyerahkan padaku untuk menjawabnya atau tidak. Matanya menatapku dan memberikan keteduhan yang tidak pernah aku dapatkan, bahkan dari Jongwoon.

Kyuhyun tetap memandangku. Fokusnya tidak bergeser kemana pun kecuali diriku. Jujur, hal ini membuatku risih. Aku tidak pernah sedamai ini dengan Kyuhyun. Bahkan seharusnya perang sudah terjadi akibat ucapan Kyuhyun yang tiba-tiba dan mengejutkan itu.

Aku diam. Kyuhyun hanya menatapku dan merasakan ketenangan luar biasa. Tangannya kemudian menjulur untuk mengelus kepalaku. “Kalau kau tidak mau cerita, aku tidak keberatan. Tapi beristirahatlah. Ini sudah hampir jam 1 pagi. Aku akan menemanimu. Tenanglah,” ucapnya membuatku kehilangan akal sehatku. Aku tidak bisa berhenti memikirkan lamarannya. Akhirnya aku memutuskan untuk membicarakannya.

“Kyu,” panggilku yang disambut dengan sangat halus.

“Ya?”

“Em, masalah tadi, apa, em, em, kau serius, kyu? Maksudku, apa kau benar-benar ingin menikah denganku?”

Kyuhyun tersenyum. “Aku serius. Sejak kau lahir, aku sudah jatuh cinta padamu. Sampai sekarang. Kalau kau pikir ucapanku tadi gila, aku rasa 24 tahun mencintai gadis yang tidak pernah melirikku jauh lebih gila.”

Aku terkejut mendengar pengakuannya. Seumur hidup kami saling mengenal, aku percaya tidak pernah dan tidak akan ada kata cinta di antara kami berdua. Aku bahkan menganggapnya musuh besar utama yang harus dimusnahkan dari muka bumi ini demi menjaga keseimbangan alam. “Tapi Kyu, selama ini kau tidak pernah bilang apa-apa padaku. Tiba-tiba melamarku. Kita selalu saja bertengkar. Kau bahkan tidak pernah bersikap lembut sedikit. Apa itu tidak aneh?”

Kepala Kyuhyun menggeleng-geleng. “Aku hanya suka menggodamu. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku mecintaimu, Song Hyejin.”

Kyuhyun sekali lagi menatap mataku dan aku menemukan keseriusan di sana. Ia sungguh-sungguh dengan ucapannya.

“Sejak kapan? Bukankah kau sangat membenciku?” Tanyaku lagi.

Kyuhyun tertawa. “Kau tuli atau apa sih? Sudah aku bilang aku hanya senang menggodamu. Aku juga sudah bilang aku jatuh cinta padamu sejak kau lahir. Waktu eomma menemani ibumu melahirkanmu, aku ikut. Aku melihatmu di ruang bayi dan aku jatuh cinta padamu.” Ia menjelaskan panjang lebar kronologis proses jatuh cintanya.

Aku mendengar dengan tidak percaya. “Bodoh! Mana mungkin anak umur 3 tahun mengerti jatuh cinta? Kau ini aneh-aneh sekali, Kyu.”

Kyuhyun menaikkan bahunya lalu menurunkannya lagi. “Terserah apa katamu. Yang pasti aku merasa begitu,” ujar Kyuhyun tak terbantahkan lagi.

Aneh rasanya bicara dengan tenang seperti ini jika dengan Kyuhyun tapi tampaknya tidak ada satupun dari kami yang berniat bersitegang. Aku bahkan memiliki minat yang besar untuk mengetahui sebesar apa cinta Kyu padaku. Apa ia akan melakukan segalanya untukku?

“Jadi, apa penyebab kau tidak jadi menikah? Apa kau tidak sedih?” Tanya Kyuhyun ingin tahu. Tidak, tidak hanya itu. Ia ingin menghiburku, ikut merasakan sakit hatiku, berbagi kesengsaraanku dengannya.

Tanpa berpikir lagi aku menceritakannya. “Sebulan lalu, aku dan keluargaku datang ke rumah Jongwoon untuk bersilahturahmi biasa. Tapi tiba-tiba ibu Jongwoon membicarakan diriku, ternyata aku jelek sekali di matanya. Singkat cerita, dia tidak ingin aku menikah dengan Jongwoon. Aku tahu dia tidak pernah setuju aku dengan Jongwoon tapi kenapa baru mengungkapkannya saat aku dan Jongwoon sudah berencana menikah?  Keluargaku sakit hati dan meminta aku putus dengan Jongwoon. Belum sempat aku melakukannya ternyata Jongwoon sudah melakukannya duluan. Aku benar-benar ingin mati saat itu tapi aku tidak cukup berani untuk bunuh diri.” Tak terasa, air mataku mengalir pelan-pelan di pipiku. Kyuhyun mendekapku dan aku menangis lebih kencang di dadanya.

“Aku berjanji tidak akan membuatmu menangis. Aku tidak akan meninggalkanmu walau seluruh dunia menentangmu. Aku disini. Tenanglah,” ucap Kyuhyun yang tidak aku mengerti bisa menenangkanku, menguapkan segala rasa sakit hatiku. Aku serasa mendapatkan energiku kembali, berkali-kali lebih besar.

——-

“Demi harry potter dan fireboltnya tercinta, SONG HYEJIN!! BANGUN! SUDAH JAM BERAPA INI?!” Teriak Kyuhyun sambil menendang tempat tidurku dengan keras. Dia benar-benar aneh. Semalam dia begitu baik dan lembut tapi sekarang sudah kembali ke aslinya. Cepat sekali. Hash!

Aku membuka mataku dan menatap Kyuhyun penuh kemarahan. “KENAPA KAU KASAR SEKALI SIH?! DASAR MONSTER!” Teriakku lebih kencang dari yang dia lakukan.

Kyuhyun melipat kedua tangannya di depan dada dan menatapku dengan tatapan sinisnya seperti biasa. “Bangun! Bantu eomma memasak di bawah sana! Aku tidak mau calon istriku tidak bisa apa-apa di rumah tangga.” Perintah Kyuhyun tanpa basa-basi.

Aku membelalakan mataku tanda aku kaget. “Apa dirimu bilang?”

Kyuhyun menghela nafas panjang dan mulai mengomel. “Kau benar-benar bodoh. Aku akan menikahimu maka kau adalah calon istriku. Aku tidak mau rumah tanggaku berantakan karena kau tidak bisa mengurusnya. Sudah, turun sana!” Kyuhyun menarikku dari tempat tidur dan mendorongku keluar kamar. “Jangan lupa gosok gigi dulu. Kalau perlu mandi!” Serunya membuatku langsung berbelok ke kamar mandi. Entah kenapa aku menurutinya. Otakku pasti sudah tidak beres.

—–

“Happy birthday!!!” Seru Ahra onnie dengan hebohnya sambil menyodorkan kue ulang tahun berbentuk wajahku dan menyuruhku meniup lilinnya. Yep, ulang tahunku hanya selisih sehari dengan Kyuhyun. Dia 3 februari, aku 4 februari. Aku tahu hari ini aku ulang tahun tapi aku tidak tahu mereka menyiapkan acara untukku. Secara tadi Kyuhyun membangunkanku untuk membantu Nyonya Cho di dapur bukan untuk kejutan seperti ini. Ternyata dia hanya mengerjaiku. Dasar!

Ahra onnie tepat berada di hadapanku tapi mataku malah menatap Kyuhyun yang berdiri di belakangnya. Kyuhyun menatapku sambil tersenyum. “Buatlah banyak permintaan,” ucapnya saat aku bersiap meniup lilin ulang tahunku.

Aku tidak bisa memikirkan apapun kecuali, “Jadikan aku milik Kyuhyun, Tuhan,” ucapku dalam hati. Anggap aku cepat sekali berpindah hati tapi aku merasakan bahwa kali ini berbeda. Aku memang hampir menikah dengan Jongwoon, tapi aku tidak pernah menginginkan bersama seseorang sampai sekuat ini. Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini muncul.

“Saengil chukkae, Song Hyejin,” ucap Kyuhyun sambil menyematkan sebuah cincin di jari manis Hyejin. “Ini hadiah dariku. Kau harus menjaganya dengan sangat baik.” Kyuhyun begitu baik dan membuatku berbunga-bunga, terbang sampai tidak sadar bahwa di dunia ini bukan hanya kebahagiaan yang eksis. Ancaman Kyuhyun berikutnya menyadarkanku. “Kalau sampai terlepas dari jarimu, aku bersumpah akan menghabisimu!” Dasar pria aneh, cepat sekali dia berubah mood. Iiish!

“Selamat ulang tahun, sayang,” ucap Nyonya Cho sambil memelukku dengan hangat. Dia melemparkan senyum keibuannya yang sudah lama tidak aku dapatkan dari ibuku sejak aku memutuskan hidup mandiri. Dia mengusap kepalaku yang membuatku lebih erat memeluknya.

“Terima kasih, gomo,” balasku.

Kyuhyun kemudian menarikku dari pelukan ibunya dan menyeretku pergi tanpa tahu mau dibawa kemana diriku ini. Nyonya Cho dan Ahra onnie melepaskan kami dengan lambaian tangan dan senyum bahagia penuh arti yang tidak aku mengerti.

“Kita mau kemana?” tanyaku pada Kyuhyun saat kami sudah berada di dalam mobil.

“Sudah tidak usah tanya-tanya. Ikut saja. Nanti kau juga tahu,” jawabnya, membuatku ingin sekali menjitak kepalanya. Untung dia sangat tampan sehingga aku merasa sayang jika harus melukainya.

******

KYUHYUN’S POV

Meski Hyejin sudah 24 kali berulang tahun, ini adalah kali pertama aku memberikan hadiah untuknya dan aku ingin hadiahku benar-benar spesial yang tidak akan pernah dilupakannya seumur hidup. Karena itu aku menyiapkannya sedetil mungkin.

Aku ingin menikah di usia 24 tahun dengan seorang pria yang sangat mencintaiku, yang akan melakukan apapun untukku, yang akan selalu ada untukku kapanpun aku butuh dan yang akan mencintai anak-anakku kelak lebih dari cintanya kepadaku. Aku juga ingin menikah secara sederhana dan bertahan selamanya,” kenangku pada saat beberapa tahun lalu kami berdua duduk berdampingan di ruang keluarga sambil menonton drama romantis kesukaannya. Saat itu aku mendengarkannya dengan serius, tentu saja sambil memainkan PSP-ku. Mata Hyejin sangat berbinar-binar saat membicarakan impiannya yang membuatku memutuskan aku harus menjadi satu-satunya pria yang mewujudkan impiannya.

Hyejin menatapku dengan bingung ketika aku membawanya ke sebuah gereja tempat keluargaku biasa beribadah. “Untuk apa kesini?” tanyanya.

Dengan santai aku turun dari mobilku lalu menggandeng Hyejin keluar untuk mengikutiku. “Pernikahan sederhana dengan seorang pria yang sangat mencintaimu yang akan bertahan selamanya. Ingat?” ujarku kemudian menambahkan keinginanku. “Aku akan mewujudkannya.” Kuharap dengan kata-kataku, Hyejin akan sedikit bergetar kemudian terpesona kepadaku dan bergelayut manja padaku. Tapi aku tahu Hyejin bukanlah orang seperti itu.

Hyejin menatapku dengan keterkejutan yang berlebihan kemudian tertawa. “Otakmu pasti sudah menciut setengah, atau sudah hilang setengah?” Dia baru saja mengejekku. Membuatku kesal saja.

“Dasar wanita tidak tahu terima kasih. Ayo kita temui pendeta,” kataku sambil menarik tangannya menuju ruangan pendeta. Hyejin menahan tubuhnya agar tidak bergerak dari tempatnya. Dengan terpaksa aku menariknya lebih keras. “Tenanglah, aku hanya akan mendaftarkan pernikahan kita.” Hyejin menatapku tidak percaya. “Aku tidak bohong,” ucapku meyakinnya. Akhirnya, Hyejin mau mengikutiku ke ruang pendeta.

Selesai dengan urusan gereja, aku menarik Hyejin menuju ke sebuah bridal dan hotel. Aku ingin Hyejin menentukan sendiri gaun pengantin dan konsep resepsi pernikahan yang dia inginkan. Apapun yang dia inginkan akan aku setujui. Aku tidak peduli dengan baju yang akan dia pakai karena aku yakin dia akan tetap terlihat sangat cantik. Aku juga tidak peduli dengan seperti apa resepsinya asal Hyejin yang menjadi pasanganku, akan terasa baik-baik saja.

“Cantik,” gumamku pelan ketika Hyejin keluar dari ruang make-up lengkap dengan gaun yang akan dia pilih. Wajah cantiknya terlihat lebih cantik dan menggugah. Gaunnya sangat pas dan mewah terpasang di badannya.

“Apa kau bilang?” tanya Hyejin mendesakku memujinya sekali lagi.

“Kau cantik. Dasar tuli,” kataku lebih keras. Hyejin tersenyum. Wajahnya tersipu malu, membuat hasratku ingin memilikinya semakin besar. Kemudian ia membelakangiku dan menatap dirinya di kaca besar yang terpasang di sana. “Dasar narsis. Cepat ganti bajumu, masih ada tujuan lain yang harus kita kunjungi.”

“Kemana lagi sih? Yang sedang ulang tahun itu aku, seharusnya permintaanku yang dituruti, kenapa jadi kau?”

“Aku ulang tahun kemarin dan kau belum memberikanku kado bahkan mengucapkan selamat saja tidak. Anggap saja ini hadiah untuk ulang tahunku.”

“Tidak adil.” Hyejin mulai mendebat. Well, tampaknya kami akan semakin lama beradu mulut.

“Jangan cerewet. Cepat ganti bajumu.”

Hyejin menutup pintu ruangan make-up nya dengan keras, oke membantingnya. Sepuluh menit kemudian dia muncul dengan pakaian biasanya tanpa menghapus make-up yang sudah menempel di wajahnya.

“Kenapa make-up nya tidak kau hapus?” tanyaku.

Hyejin memandangku dengan tak berminat. “Siapa tahu ada pria lain yang akan tertarik padakau yang mau menikahiku dengan cara yang lebih elegan.”

Aku marah. Tidak hanya itu, aku sakit hati dan kecewa. Mudah sekali dia mengucapkan hal itu setelah semua yang aku lakukan padanya. Setelah apa yang aku ucapkan padanya. Aku akan melakukan apapun untuknya tapi ucapannya justru seperti itu. Aku kecewa. Dengan kasar, aku mencengkram lengan kurusnya dan menariknya masuk ke dalam mobil. “Kita pulang. Aku tidak akan mengajakmu kemana-mana lagi. Aku marah. Terserah kau mau apa tapi jangan berani-berani kau lari dariku,” ucapku dingin. Aku tidak pernah berkata sedingin ini kepada siapapun, apalagi Hyejin. Dia harus tahu bahwa aku marah. Dia telah mengecewakanku.

———

Tanggal 4 februari nyaris akan berakhir. Ucapan selamat juga sudah semakin sedikit mengalir ke handphone atau jaringan sosial yang dimiliki oleh Hyejin. Hyejin pun sudah hampir selesai membalas ucapan itu satu per satu. Tapi segalanya terasa sangat hambar jika Kyuhyun tidak melakukan apa-apa. Sejak pulang dari bridal tadi Kyuhyun tidak berbicara sepatah kata pun kepada Hyejin. Ia bahkan seperti menganggap Hyejin tidak ada. Matanya tidak pernah menatap Hyejin, membuat gadis itu kelabakan.

Dengan sekuat tenaga, Hyejin mendorong dirinya untuk menemui Kyuhyun dan berbicara dengan pria itu. “Kyu, apa kau sedang sibuk?” tanya Hyejin saat masuk ke dalam kamar pria itu.

Kyu mengalihkan perhatiannya dan memandang Hyejin. “Ada apa?” tanya Kyu datar.

Pelan-pelan Hyejin masuk ke kamar Kyu dan duduk di pinggir tempat tidur, duduk menghadap Kyuhyun yang sedang duduk berselonjor di atas tempat tidur itu. “Aku minta maaf. Kata-kataku tadi siang pasti sudah menyakitimu. Aku keterlaluan. Maafkan aku,” ucap Hyejin dengan sungguh-sungguh. Mata Hyejin yang besar menatap Kyuhyun penuh penyesalan.

Kyuhyun meletakkan PSP-nya di samping bantalnya kemudian beringsut maju mendekati Hyejin. Tangannya menyusuri wajah Hyejin kemudian berpindah ke kepala gadis itu. “Apa kau masih menginginkan menikah dengan pria lain?” tanya Kyuhyun ngeri.

Hyejin menggelengkan kepalanya dengan mantap. “Aku memaafkanmu. Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku,” kata Kyuhyun sambil memeluk Hyejin dengan erat. “Aku mencintaimu. Saranghae, Hyejin-ah.”

******

HYEJIN’S POV

Aku keluar dari kamar mandi dan melihat suamiku berbaring di tempat tidur kami dengan wajah yang sangat kelelahan. Aku tahu, sebuah pesta pernikahan tidak akan pernah tidak meninggalkan kelelahan yang luar biasa. Tapi ia tetap terlihat menawan dibalik balutan piyamanya. Apalagi matanya yang tajam sedang menatapku. “Kau cantik, Nyonya Cho,” pujinya sambil menarikku mendekat padanya.

Aku tahu aku sudah terbuai dengan apapun yang dilakukan Kyuhyun terhadapku. Meskipun itu hanya sebuah pujian ringan. Pipiku sekarang pasti sudah merona merah saking tersipunya. “Jangan coba merayuku dengan pujian seperti itu. Itu tidak akan mempan tahu,” ucapku dengan angkuh. Tentu saja aku tidak serius. Aku hanya ingin menggodanya.

Kyuhyun memanyunkan bibirnya membuatku gemas. Aku menariknya bangkit dari tempat tidurnya dan mendorongnya masuk ke kamar mandi. “Mandi dulu sana! Kau sudah bau!” seruku lalu tertawa-tawa saat mendengar Kyuhyun menggeram kesal karenaku.

“AWAS KAU, SONG HYEJIN!” teriaknya dari dalam kamar mandi.

Aku hanya tertawa semakin keras mendengarnya. Iseng, aku membuka laptop Kyuhyun melihat-lihat foto pernikahan kami yang baru saja beberapa jam saja berlalu. “Cepat sekali anak ini mendapatkan fotonya,” gumamku kagum. Aku membuka foto satu per satu dan menyadari aku terlihat sangat cantik begitu juga dengan Kyuhyun yang sangat tampan. “Sangat serasi.” Aku memang narsis.

Tanpa sengaja aku mengklik sebuah folder berjudul (24/) 7 years of love. Di dalamnya terdapat ratusan dokumen word. Apa ini? Aku bertanya penasaran dalam hati. Aku membuka beberapa dan mulai membacanya.

01 September 2007

Hari ini hari pertama Hyejin masuk kuliah di universitas yang sama denganku. Dia tampak sangat tenang yang justru membuatku sangat khawatir. Aku takut dia tidak membutuhkanku padahal aku akan sangat senang jika ia meminta bantuanku walaupun hanya untuk membawa buku-buku kuliahnya. Sejak ia datang ke rumah minggu lalu ternyata ia sudah tumbuh jauh lebih cantik dari terakhir aku melihatnya. Ia sangat mempesona dan aku semakin mencintainya.

Aku tersenyum malu membaca curahan hati Kyuhyun yang selama ini tidak pernah tersampaikan kepadaku. Aku tidak pernah tahu ia begitu mencintaiku. Kupikir ia tidak suka melihat kedatanganku ke rumahnya karena ia langsung mengajakku beradu mulut di hari pertama aku menginjakkan kaki di sini. “Kau bikin porsi makanan yang harus eomma masak semakin banyak saja. Dasar buntal!” ejek Kyuhyun padaku waktu itu.

13 April 2008

Hyejin ternyata orang sangat menarik bukan hanya untukku tapi untuk hampir seluruh laki-laki normal di kampusnya. Nyaris setiap hari aku melihat laki-laki akan mengejarnya, mengajaknya jalan atau bahkan hanya menelepon untuk menanyakan tugas yang aku tahu itu hanya alasan. Mereka menginginkan Hyejin sama seperti aku menginginkan gadis keras kepala itu. Bedanya, aku sudah menginginkannya sejak 17 tahun lalu, saat ia lahir. Jujur, aku tidak suka. Aku tidak suka ada laki-laki lain yang menyukainya.

 

20 Juli 2009

Hyejin memasuki tahun ketiga kuliahnya sedangkan aku sudah mulai bekerja. Otomatis aku melihatnya hanya saat berada di rumah. Setiap saat, aku merindukannya. Aku ingin sekali meneleponnya dan bertanya apa yang sedang ia lakukan. Tapi memangnya siapa aku?! Aku bukan pacarnya. Dia pasti justru akan membentakku habis-habisan jika melakukannya. Berbeda jika Donghae yang meneleponnya, dia pasti akan menjawabnya dengan lembut dan manja. Sial!

Ternyata saat-saat aku memiliki pacar adalah neraka buat Kyuhyun. Pantas ia selalu naik darah jika aku membicarakan pacarku di hadapannya walaupun hanya menyebutkan namanya saja. “Tidak ada gunanya membicarakan pacar-pacarmu itu kepadaku. Aku tidak tertarik dengan hal-hal yang tidak akan membuatku kaya,” katanya. Padahal alasan sebenarnya adalah dia cemburu. Dasar gila. Hihihihi.

02 November 2012

Sudah hampir seminggu terlewati sejak Hyejin pindah ke apartemennya. Rumah ini terasa sangat sepi. Tidak ada lagi teriakan-teriakan yang memecahkan telinga di antara kami atau ejek-ejekan sadis yang membuat orang akan geleng-geleng kepala jika merindukannya. Aku bisa pastikan bahwa aku merindukanny, kalau tidak mana mungkin selama seminggu ini aku memulai pagi dan mengakhiri malam di kamarnya.

 

10 Oktober 2013

Aku tidak pernah lagi melihat Hyejin. Yang aku punya hanya foto-foto yang tersimpan rapi di laptopku. Aku merindukannya tapi aku tidak pernah tahu bagaimana cara menghubunginya. Bukan aku tidak punya kontak untuk dihubungi tapi aku tidak punya cukup keberanian. Aku pengecut.

5 Agustus 2014

Eomma bilang Hyejin akan menikah pertengahan tahun depan. Rasanya aku mau mati saat mendengar kabar itu. 23 tahun perasaanku sia-sia hanya karena aku mengandalkan keyakinanku. Aku yakin ia akan menjalani hidupnya bersamaku hanya saja waktunya yang belum tepat. Persetan dengan waktu yang tepat. Aku terlambat! Cho Kyuhyun, kau benar-benar bodoh. Tolol! Percuma saja menyesal. Hyejin tidak akan bersamamu. Ia tidak memilihmu karena kau tidak memberinya kesempatan. Yang ia tahu kau justru membencinya. Idiot kau!

“YAAA! SONG HYEJIN! APA YANG KAU BACA HAH?!” teriak Kyuhyun dan dengan sigap menutup laptop di hadapanku dengan malu. “APA SAJA YANG KAU LIHAT? HAH? APA?” desak Kyuhyun semakin menjadi.

Aku tersenyum penuh kemenangan kepadanya. Dengan sombong aku menjawabnya, “Tidak aku sangka kau sebegitu mencintaiku. Aku rasa kalau aku minta pesawat pun pasti akan kau kabulkan. Senangnyaaaa… Harusnya kau dari dulu bersikap lembut padaku. Kau tak perlu menunggu selama 27 tahun kan kalau begitu?”

“Jangan seenaknya bicara, bodoh! Apa saja yang sudah kau baca?” Kyuhyun tiba-tiba menoyor kepalaku dengan lembut.

“Apa jadi masalah kalau aku membacanya? Toh, sekarang aku sudah menjadi istrimu. Aku berhak tahu apapun atas dirimu. Iya kan?” tantangku. Aku tidak akan membiarkan ia tahu apa saja yang telah aku ketahui tentang dirinya selama ini. Biar saja dia penasaran seumur hidup.

Kyuhyun menatapku dari ujung kepala sampai ujung kakiku. Matanya menelusuri setiap inci tubuhku seolah siap menerkamku. Dia maju semakin dekat denganku. Nafasnya yang segar sehabis gosok gigi menguartajam ke hidungku yang hanya terpaut tiga senti darinya. “Jangan salahkan aku kalau aku harus memberimu pelajaran, Nyonya Cho.”

Kyuhyun semakin dekat dan akhirnya menyatukan bibirku dengan bibirnya. “Tadinya aku menahan sampai besok tapi tampaknya kau tidak bisa diajak bekerja sama. Jangan menyesal,” katanya lalu kembali menciumku. Semakin lama ciumannya semakin panas dan aku semakin mengikatnya dalam pelukanku. Tanpa sadar, aku sudah berada di tempat tidur dengan Kyuhyun yang menindihku, mempersatukan diri kami.

Tidak salah Kyuhyun bertahan dengan keyakinannya selama 24 tahun ini. Kyuhyun sudah ditentukan jadi jodohku bahkan sebelum aku lahir. Kemanapun aku berlari, Dimanapun aku berada. Dengan siapapun aku pernah menjalani hubungan. Pada akhirnya, aku akan berakhir dengannya. Meskipun aku belum mengatakannya aku yakin dia tahu bahwa aku sangat mencintainya. Kyuhyun membuatku merasa sempurna telah memutuskan untuk menjadi istrinya.

-THE END-