Author @gyumontic kembali dengan FF baru.

Kali ini korban author adalah Kim Jongwoon alias Yesung Oppa yang semakin hari semakin ganteng.. Bikin author klepek-klepek!! Asli! Untung, author masih setia sama Kyuhyun..😀

Semoga suka ya. Selamat membaca.

Special for author @DittaShierlly. Enjoy!

****

Cast:

– Kim Jongwoon

– Cho Hyemi

– Cho Kyuhyun

– Song Hyejin

– Kim Jongjin

Thursday, March 2nd

23.04

@ Incheon International Airport

Seorang gadis berlari-lari kecil sambil menyeret kopernya yang berat menyusul pria yang berjalan cepat di depannya. “Oppa, tunggu aku!” Seru gadis itu tanpa mau susah-susah didengar sang pria. Gadis itu terus berlari sampai akhirnya ia berhenti tepat di samping pria yang sejak turun dari pesawat terus dikejarnya.

“Oppa, kenapa jalanmu cepat sekali? Aku capek mengejarmu tahu,” keluh gadis itu dengan terengah-engah. Nafasnya tersenggal-senggal akibat berlarian sepanjang terminal kedatangan.

“Aku ngantuk, mau cepat sampai rumah,” jawabnya dengan datar, tanpa ekspresi.

“Kalau begitu kenapa kita masih di sini? Kenapa kita tidak langsung pulang ke rumah?” Si gadis terus saja bertanya, tanpa susah-susah berpikir bahwa pria di sampingnya itu tidak akan mau susah-susah untuk menjawabnya.

Sebuah mobil berhenti di depan mereka berdua. Tanpa turun dari mobil, si pengemudi menurunkan kaca mobil yang menghadap kedua orang yang menunggunya. “Ayo!” Ujar si pengemudi.

Pria itu pun memasuki mobil diikuti gadis yang datang bersamanya. “Annyeonghaseyo, Kim Jongwoon imnida. Neon?” Sapa si pengemudi kepada gadis yang duduk di jok belakang mobilnya.

“Nan… Nan neun Cho Hyemi imnida,” jawab si gadis dengan bahasa Korea yang terbata-bata. Maklum, 24 tahun dia hidup baru kali ini dia menginjakkan kaki di kampung halamannya, Seoul – Korea Selatan.“Dia sepupuku. Aku tinggal di rumahnya selama di New York. Awas kalau kau berani macam-macam padanya, hyung,” tegas pria yang duduk di sebelah Jongwoon.

Jongwoon tertawa kecil sambil sesekali mencuri pandang kepada Hyemi melalui kaca spion di tengah mobilnya. “Tenanglah, Kyuhyun-ah. Aku sudah 2 tahun menjaga Hyejin dengan baik. Masa kau tidak percaya padaku?” Sahut Jongwoon yang langsung mengubah ekspresi Kyuhyun 180 derajat. Ekspresi yang tidak pernah dilihat Hyemi selama mengenalnya.

“Apa dia…baik-baik saja?” Tanya Kyuhyun kaku. Ia merasa bersalah dan takut sekaligus.

“Setelah kau meninggalkannya tiba-tiba 2 tahun lalu? Setengah tahun pertama, dia nyaris gila tapi berikutnya dia baik-baik saja. Kau harus berterima kasih padaku, Kyu.”

“Apa dia sudah punya pacar? Maksudku, apa dia melupakanku?”

Hyemi memperhatikan ekspresi Kyuhyun yang baru pertama kali ini ia lihat. Penyesalan, bersalah, takut, semua bercampur jadi satu hanya karena sebuah nama tiba-tiba muncul di telinganya. “Hyejin. Siapa dia?” Ceplos Hyemi begitu saja karena rasa penasarannya yang begitu besar.

“Kekasih oppamu ini, yang dia tinggalkan 2 tahun lalu hanya untuk mengambil spesialisasi,” jawab Jongwoon.

“Aku tidak ingin melihatnya menderita bersamaku jika aku hanya menjadi dokter yang biasa-biasa saja. Orang tuanya tidak setuju jika aku hanya menjadi dokter umum,” tandas Kyuhyun membela diri.

“Apa kau pikir setelah kau meninggalkannya semaumu, dia akan kembali padamu? Apa kau pikir setelah kau membuatnya nyaris gila, orang tua Hyejin akan menyerahkan anak gadis mereka satu-satunya padamu? Meski kau Presiden sekalipun, itu tidak akan mudah, Kyu.”

Wajah Kyuhyun tampak jauh lebih sendu, jauh lebih takut dan menderita. Dia seperti tidak punya kekuatan sedikitpun untuk bertahan hidup. Saat Hyemi melihatnya, ia yakin alasan selama ini Kyuhyun tidak pernah membalas pernyataan cintanya adalah ia tidak bisa mencintai gadis lain selain Hyejin. Hyemi tersadar bahwa ia sudah patah hati bahkan sebelum ia jatuh cinta.

——

Plak! Sebuah tamparan mendarat keras tepat di pipi kiri Kyuhyun begitu pintu apartemen terbuka. Gadis periang yang ia tinggalkan 2 tahun lalu berdiri tepat di hadapannya dengan air mata yang tidak mau berhenti keluar. “Berani-beraninya kau kembali! Buat apa? Buat menyakitiku lagi? Hah?! Buat apa, Kyu!! Jawab!!!” Teriak Hyejin histeris. Tangannya terus memukuli Kyu. Kyuhyun terdiam di hadapan gadis itu, menerima semua luapan kemarahannya. Kyuhyun tahu bahwa ia telah melakukan kesalahan fatal 2 tahun lalu. Ia pantas untuk diberi pelajaran.

Jongwoon memandang Hyemi yang tidak berkedip melihat adegan setiap adegan yang terjadi di depan matanya. Mata gadis itu menyiratkan kekecewaan sekaligus rasa kasihan. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Hyemi memang tidak pernah punya kesempatan untuk mengisi, walaupun secuil, hati Kyuhyun.

“Lebih baik kita biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka berdua. Tidak baik menonton kesusahan orang seperti ini,” ujar Jongwoon mengajak Hyemi pergi. Hyemi menatap Jongwoon dengan ragu dan pada akhirnya mengikuti Jongwoon kemana pria itu membawanya.

“Sejak kapan Kyuhyun Oppa pacaran dengan Hyejin?” Tanya Hyemi tiba-tiba saat ia sedang dalam perjalanan entah kemana Jongwoon membawanya.

“Humm, sejak Kyuhyun memulai praktek dokternya. Mereka bertemu sewaktu Kyuhyun menjadi dokter muda di universitas tempat mereka kuliah. Hyejin yang lebih dulu jatuh cinta dan mengejar Kyuhyun. Awalnya, Kyuhyun tidak mau karena ia masih ingin fokus pada program kedokterannya. Hyejin terus memaksa sampai akhirnya Kyuhyun luluh dan entah bagaimana justru Kyuhyun yang tergila-gila pada Hyejin,” jawab Jongwoon dengan lengkap sejauh pengetahuannya.

“Lalu kenapa Oppa pergi? Kenapa ia meninggalkan Hyejin?”

“Sebenarnya bukan meninggalkan. Aku tahu Kyuhyun orang seperti apa. 2 tahun lalu, Kyuhyun datang ke rumah Hyejin untuk melamar Hyejin tapi orang tua Hyejin menolak dengan alasan Hyejin belum lulus kuliah dan Kyuhyun yang belum mapan. Karena itu, dia pergi ke New York untuk mengambil spesialis jantung dan paru-paru di sana. Kesalahan fatalnya adalah dia tidak bilang-bilang pada Hyejin kalau dia pergi. Ia tidak mau ada satu orang pun yang mengganggunya. Waktu itu pun ia menitipkan Hyejin padaku hanya melalui surat yang aku terima dua hari setelah kepergiannya.”

“Apa waktu itu Hyejin sedih?”

“Bukan sedih lagi. Aku yang setiap hari bersamanya sudah seperti menemani mayat hidup.”

Hyemi terdiam. Kepalanya mengangguk-angguk. Tidak ada pertanyaan lagi yang dilontarkannya seolah ia telah mengerti segalanya. Jongwoon memperhatikan Hyemi dan kemudian tersenyum kepadanya.

“Kau ke Korea karena kau ingin bersama Kyuhyun kan? Kau ingin bersamanya karena kau jatuh cinta padanya. Kau pikir dengan bersamanya akan bisa membuatnya jatuh cinta padamu tapi ternyata kau salah. Kau menyadari bahwa kau tidak bisa meraihnya, bagaimanapun caranya,” ujar Jongwoon tiba-tiba membuat Hyemi terkesiap mendengarnya.

“Ba..bagaimana kau bisa tahu?” Sahut Hyemi kaget sekaligus bingung.

Jongwoon memberikan senyum terbaiknya untuk Hyemi. Ia bisa membaca dengan jelas raut wajah Hyemi saat ini. “Kau itu cantik, Hyemi. Banyak laki-laki yang mau denganmu. Jangan habiskan kecantikanmu hanya untuk Kyuhyun yang jelas-jelas tidak bisa bersamamu. Kalaupun bisa, mungkin hanya fisiknya. Hatinya akan tetap bersama Hyejin. Kau tidak mau kan hidup bersama orang yang tidak mencintaimu?”

Hyemi mengangguk-anggukan lagi kepalanya. Semua yang dikatakan Jongwoon terasa sangat masuk akal. Dari kecil, Hyemi selalu bermimpi untuk hidup bahagia dengan sesorang yang mencintainya, yang akan mengatakan ia cantik saat ia bangun tidur atau menyuapinya saat ia sakit. Tampaknya ia tidak akan bisa mewujudkannya jika bersama dengan Kyuhyun.

“Jongwoon Oppa.”

“Ne?”

“Apa kau pernah jatuh cinta?” Tanya Hyemi dengan polosnya. Sepanjang perjalanan, ia sudah puas mendengar kisah cinta yang membuatnya patah hati. Tidak ada salahnya mendengar kisah cinta lain yang mungkin bisa membawa penghiburan untuknya.

Jongwoon tertawa kecil kemudian menganggukkan kepalanya. “Aku jatuh cinta pada Hyejin saat dia jatuh cinta pada Kyuhyun. Rumit bukan? Hahahaha. Aku jatuh cinta pada Hyejin karena ia begitu gigih berusaha mendapatkan cinta Kyuhyun. Aku juga ingin suatu saat ada seorang gadis yang begitu gigih untuk mendapatkan cintaku,” ujar Jongwoon dengan sangat terbuka. Ia tidak malu mengatakan bahwa ia juga pernah patah hati.

“Apa kau masih mencintainya?” Tanya Hyemi lagi penasaran.

Jongwoon menggelengkan kepalanya. “Aku memutuskan berhenti mencintai Hyejin saat Kyuhyun memutuskan untuk mulai mencintai Hyejin. Saat itu aku sadar aku tidak akan mungkin bisa menggantikan Kyuhyun di hati Hyejin. Bagi gadis itu, Kyuhyun adalah segalanya. Akan percuma kalau aku memperjuangkannya.”

“Lalu sewaktu Kyuhyun Oppa menitipkan Hyejin padamu kau kan selalu bersamanya? Apa perasaan itu tidak tumbuh lagi seiring kebersamaan kalian? Secara kalian selalu bersama, makan bersama, tertawa bersama, menangis bersama.”

“Kau memiliki rasa ingin tahu yang besar ya, Hyemi?” Jongwoon tertawa memandang Hyemi. Kemudian ia menggelengkan kepalanya sekali lagi. “Aku menyayangi Hyejin sama seperti aku menyayangi Jongjin, adikku. Aku selalu bersama Hyejin karena aku ingin memastikan bahwa tidak akan terjadi apa-apa dengannya sama aku tidak ingin sesuatu terjadi dengan Jongjin. Lagipula, Kyuhyun menitipkan Hyejin padaku. Itu artinya ia percaya padaku dan aku tidak boleh mengecewakannya.”

Hyemi memandang Jongwoon dengan seksama. Tidak ia sangka di balik wajahnya yang imut tapi menakutkan, tersimpan hati yang tulus untuk memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang disayanginya. Jongwoon bahkan bisa dikategorikan sebagai orang yang terlalu baik, bagi Hyemi.

“Sudah jam 3 pagi. Aku rasa mereka sudah selesai. Saatnya kita pulang,” kata Jongwoon lalu memutar balik mobilnya menuju apartemen yang Hyemi tinggalkan bahkan sebelum ia menginjakkan kakinya di sana.

——

The next days…

“Selamat pagi, Hyemi-ya. Song Hyejin imnida. Maafkan aku karena semalam tiba-tiba muncul dengan cara yang sangat tidak elegan. Kau pasti kaget. Maaf ya. Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?” ucap Hyejin saat Hyemi menyeret kakinya masuk ke dalam dapur untuk mengambil air putih.

Hyemi menganggukkan kepalanya setelah berhasil meneguk segelas air putih dengan kesadaran nyaris setengah. Minum air putih adalah kewajiban mutlak bagi Hyemi jika ia baru bangun tidur. “Gwencana. Apa kau sudah baikan dengan Kyuhyun Oppa? Mana dia?” Tanya Hyemi.

Dengan wajah berseri-seri Hyejin berbincang-bincang dengan Hyemi. “Kami sudah baikan. Mudah saja memaafkannya karena aku terlalu mencintainya, aku punya maaf yang tak terbatas,” jawab Hyejin.

Hyejin berbicara dengan Hyemi dengan sangat riang seolah semalam tidak pernah terjadi apa-apa dengan dirinya. “Cantik, ramah, periang. Tidak wajar jika Oppa tidak jatuh cinta padanya,” batin Hyemi saat memperhatikan Hyejin. Ia mendengarkan Hyejin yang menyarankannya untuk melamar jadi koki di restoran temannya.

“Kata Kyuhyun, kau pintar masak. Daripada kau berdiam diri di apartemen lebih baik kau melamar saja jadi koki di restoran temanku. Aku bisa menemanimu kesana nanti,” kata Hyejin lagi.

“Tulus dan perhatian. Kyuhyun Oppa pasti sakit jiwa kalau berani melepaskannya,” batin Hyemi lagi.

Bel apartemen tiba-tiba berbunyi. “Itu pasti Jongwoon. Aku buka pintu dulu untuknya. Titip masakanku ya,” kata Hyejin kepada Hyemi lalu bergegas membuka pintu apartemennya.

Jongwoon melangkah masuk dan melemparkan senyumnya kepada Hyemi saat mata mereka bertemu. “Oppa akan makan bersama kami?” Tanya Hyemi.

Jongwoon menjawab, “Hyejin mengundangku. Tapi selain itu aku punya tujuan lain. Aku ingin menyelamatkanmu.”

“Menyelamatkanku?” Kening Hyemi sudah berkerut dua karena tidak mengerti apa yang dikatakan Jongwoon kepadanya.

“Kau akan tahu nanti.”

Jongwoon lalu mengambil tempat di meja makan. Sambil menunggu makanan siap, ia membaca koran sambil sesekali memakan kacang di hadapannya. “Mana Kyuhyun? Apa dia belum bangun? Haissssh. Ini sudah hampir jam makan siang.”

“Ada apa tiba-tiba kau mencariku, hyung?” Tanya orang yang dicari-cari yang baru keluar dari kamarnya sudah dengan pakaian yang rapi dan tubuh wangi.

“Tidak apa-apa. Kupikir kau masih bercinta dengan tempat tidurmu,” sahut Jongwoon lagi.

Kyuhyun berjalan mendekati Hyejin lalu berdiri di sampingnya. Matanya memandang kagum pada Hyejin yang sedang sibuk memasak. Kemudian ia tersenyum. Wajahnya semakin lama semakin menunduk dan mendekat dengan wajah Hyejin. Detik berikutnya, Kyuhyun sudah berhasil mencuri satu ciuman dari Hyejin.

“Kyuuu, kau nakal,” protes Hyejin pura-pura. Semua orang juga tahu kalau itu ekspresi bahwa Hyejin menyukai Kyuhyun menciumnya.

Kyuhyun tertawa-tawa tanpa berpindah semili pun dari samping Hyejin. Ia menemani Hyejin memasak tanpa turun tangan sedikitpun. Dari dulu, Hyejin melarang Kyuhyun untuk campur tangan urusan dapur karena keahlian Kyuhyun dalam memasak bisa dinilai minus!

Jongwoon menatap Hyemi yang memperhatikan tingkah laku Hyejin dan Kyuhyun yang belum pernah ia lihat sebelumnya. “Aku ingin menyelamatkanmu dari kemesraan-kemesraan mereka. Tidak baik untuk kesahatan hati jika melihatnya sendirian,” kata Jongwoon.

“Heh?” Hyemi beralih kepada Jongwoon yang sudah mulai mengalihkan cemilannya dari kacang menjadi roti.

“Kau ada rencana pergi kemana hari ini? Aku rasa aku bisa menemanimu karena jadwalku hari ini kosong,” ujar Jongwoon menawarkan diri.

Hyemi menaikkan bahunya kemudian menurunkannya lagi. “Entahlah. Tadi Hyejin menyarankan aku melamar jadi koki di restoran temannya.”

“Kau bisa masak? Masak apa saja?”

“Hampir semua aku bisa. Aku hanya tidak bisa masak sesuatu yang berbahan cumi dan udang. Aku alergi. Bahkan memegangnya saja sudah gatal-gatal.”

Raut wajah Jongwoon terlihat sedikit kecewa tapi dengan mudah berubah kembali ceria. “Kalau begitu nanti aku akan mengantarkanmu kesana,” kata Jongwoon.

“Memang Oppa tahu dimana tempatnya? Hyejin belum memberitahukannya padaku.”

“Mungkin dia lupa bahwa temannya yang memiliki restoran itu adalah adikku. Maklumlah, di otaknya hanya ada Kyuhyun dan uang milyaran.”

“Uang milyaran?”

“Hyejin seorang banker. Hidupnya tidak akan jauh-jauh dari target uang milyaran yang harus tersimpan di banknya dan juga yang harus ia jadikan pinjaman.”

Hyemi tertawa melihat Jongwoon. Menurutnya pria satu ini cukup lucu dan menarik. Setiap apa yang dikatakannya begitu jujur dan membuat hati orang bersukacita. Meski terkadang ia mengatakan sesuatu yang tajam, akan tetap enak terdengar di telinga.

“Kim Jongwoon-ssi. Makanan siap. Letakkan koranmu,” perintah Hyejin sambil meletakkan semangkuk sup jagung dan nasi daging di hadapan pria itu.

Jongwoon melipat korannya dan mulai menyiapkan sumpit dan sendok. “Gomawo, Song Hyejin-ssi. Mari makaaaaan!!!” Seru Jongwoon dengan bersemangat. Hyemi yang duduk di sebelahnya hanya bisa tertawa melihat tingkah kekanak-kanakan pria yang 4 tahun lebih tua darinya itu.

——

“Jongjin-ah, aku punya koki baru untukmu,” ujar Jongwoon kepada adiknya. Tangannya menepuk-nepuk bahu Hyemi dengan bersemangat. Wajahnya tersenyum memberi keyakinan pada adiknya.

“Kau bisa membuat sandwich? Roti bakar? Burger? Hotdog? Cake? Croissant?” Jongjin bertanya kepada Hyemi dengan membabi buta, membuat Hyemi naik darah dan langsung melangkahkan kaki ke dapur.

“Kau mau aku membuat apa? Semua itu? Dalam setengah jam, aku akan menyajikannya lengkap di hadapan kalian. Tunggu saja baik-baik di sana. Hus!” Hyemi memasang celemeknya dan mulai membuat makanan-makanan yang disebutkan Jongjin tadi.

Jongjin menuju kakaknya yang dengan santai duduk di meja pelanggan sambil memainkan game di Ipad-nya. Ia duduk menghadap Jongwoon dan menatap kakaknya itu dengan serius. “Kau tidak sedang jatuh cinta padanya kan, hyung?” Tanya Jongjin to the point. Ia sudah merasakan keanehan sejak Jongwoon membawa gadis itu masuk ke kafenya tadi.

Jongwoon meletakkan ipad-nya dan balas menatap Jongjin sambil tersenyum. “Yang aku tahu dia cukup menarik. Iya kan?” Jawab Jongjin mudah sekali kehabisan kesabaran menghadapi Jongwoon yang lebih suka ngomong berbelit-belit.

“Kalau kau memang jatuh cinta padanya, berusahalah untuk mendapatkannya. Jangan sampai ia jatuh ke tangan pria lain. Aku tidak akan mengampunimu jika kali ini kau gagal,” ancam Jongjin.

Jongwoon tersenyum meskipun di dalam hati yang sebenarnya jauh dari kata itu. Ia tahu Jongjin bermaksud baik. Adiknya itu hanya tidak ingin ia mengalami lagi yang namanya patah hati. Jongjin tahu betapa terpuruknya Jongwoon ketika Hyejin memilih Kyuhyun untuk bersamanya. Jongjin hanya tidak ingin Jongwoon mengalami lagi keterpurukan itu untuk kedua kalinya.

“Tadaaaa! Makanannya sudah siap!” Ujar Hyemi dengan bangga. Ia menyajikan sandwich, roti bakar, burger, hotdog, croissant dan berbagai macam cake di hadapan Jongwoon dan Jongjin. Bau harum khas roti masih menguar dari makanan-makanan itu. “Silahkan dicicipi. Aku jamin kalian pasti akan ketagihan,” kata Hyemi.

Jongjin mulai mencicipi semua masakan Hyemi diikuti oleh Jongwoon. Semua terasa sangat nikmat di lidah sampai-sampai Jongjin nyaris menghabiskan semua makanan itu. Senyum puas mengembang di wajah Jongjin. “Mulai besok kau sudah bisa bekerja di sini. Toko mulai buka jam 10 pagi dan tutup jam 10 malam. Itu berarti kau harus datang paling lambat jam 9 pagi dan pulang di atas jam 10 malam.”

“Kyaaaa!! Lama sekali. Berapa gajiku?” Hyemi terkejut mendengar jam kerjanya lebih dari 12 jam.

“50,000 won per minggu,” jawab Jongjin.

“Kecil sekali. Padahal aku harus bekerja lebih dari 12 jam perhari dari senin-minggu. Kalau aku setengah hari bagaimana?” Hyemi bernegosiasi dengan Jongjin.

“Tidak bisa. Kau koki satu-satunya sementara ini jadi belum ada shift untuk ganti-gantian,” jawab Jongjin.

Hyemi tersenyum penuh kemenangan, merasa ia sangat dibutuhkan. “Kalau begitu naikkan gajiku jadi 2x lipat. 100,000 won ditambah makan siang, makan malam dan transportasi gratis.”

“Deal!” Sahut Jongwoon tanpa berpikir panjang. Tangannya menyambut uluran tangan Hyemi yang menyetujui kesepakatan ini. Jongjin yang tidak pernah mendengar gaji setinggi ini hanya bisa membelalakan matanya kepada Jongwoon.

“Hyung!”

“Tenang, sisanya akan aku bayar dengan uangku sendiri. Ok? Kau tidak perlu cemas,” bisik Jongwoon kepada Jongjin.

Jongjin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal akibat kelakuan hyung-nya yang tidak masuk akal. “Ini semua pasti karena gadis itu. Aku berani jamin hyung pasti jatuh cinta padanya. Haaaaash!! Harusnya tidak kubiarkan ia membawa Hyemi kesini. Haduuuuh, Jongwoon hyung…” Gerutu Jongjin dalam hati.

Hyemi menatap kedua kakak beradik itu dengan heran. “Kenapa? Apa gajiku terlalu tinggi? Waktu di New York, itu hanya sepertiga gaji part-time ku.”

Jongwoon tersenyum. “Tidak. Kami rasa gaji itu pas untukmu. Sekarang, lebih baik kita belanja bahan untuk kue-kuemu besok.” Jongwoon bangkit berdiri dan melambaikan tangannya kepada Jongjin. “Sampai jumpa, brother! Salam untuk eomma dan appa ya! Jaga toko baik-baik.”

Hyemi dengan ragu meninggalkan Jongjin. Ia mengikuti Jongwoon masuk ke dalam mobil. “Apa Jongjin baik-baik saja? Tampaknya dia keberatan dengan bayaranku,” kata Hyemi begitu duduk di sebelah Jongwoon.

“Tidak masalah. Jongjin memang seperti itu, agak perhitungan tapi nanti saat dia merasa puas dengan pekerjaanmu dia akan sangat royal. Tenang saja.”

Hyemi berusaha mempercayai perkataan Jongwoon karena bagaimanapun pria itu lebih mengenal adiknya. “Lalu sekarang kita kemana? Pasar? Aku boleh memilih bahan sendiri?” Tanya Hyemi antusias. Hyemi memang sangat suka memasak dan memilih sendiri bahan-bahan masakannya.

“Kyaaaa!! Thank you, Oppa!!” Seru Hyemi girang saat Jongwoon menganggukkan kepalanya. “Aku akan memilih bahan-bahan yang paling enak!”

“Memang kau tahu bahan-bahan yang paling enak?”

“Issh, selama 10 tahun aku mendalami bidang tata boga dan kuliner ya! Jangan kaget kalau aku begitu mahir soal masak memasak.” Hyemi membanggakan dirinya sendiri. Bukan sombong tapi memang kenyataannya Hyemi menguasai hampir semua jenis masakan, kecuali cumi dan udang.

“Tapi kau tidak bisa masak cumi dan udang. Nilaimu baru 8 dari 10,” ledek Jongwoon membuat Hyemi mengerutkan wajahnya dengan sebal. Dia tidak suka jika ada seseorang yang tidak menilainya sempurna jika soal memasak.

“Kalau aku bisa masak cumi dan udang, Oppa akan memberiku apa?” Tantang Hyemi. Dia bertekad untuk menaklukan Jongwoon. Apapun yang terjadi pria itu harus memberinya nilai 10 dari 10 untuk urusan memasak!

Jongwoon berpikir sejenak. “Apapun yang kau minta, akan aku berikan,” jawabnya dengan mantap.

“Apapun?”

“Apapun!”

Senyum Hyemi terkembang lebar. Entah kenapa ia bertekad untuk berurusan dengan makhluk-makhluk tak bertulang itu yang bahkan untuk memegangnya saja sudah bisa membuat sekujur tubuh Hyemi gatal-gatal luar biasa. Hyemi bahkan langsung membeli makhluk-makhluk itu begitu sampai di pasar baru membeli bahan-bahan untuk membuat roti dan kue di restoran milik Jongwoon.

“Tampaknya kau sangat antusias untuk berjibaku dengan si cumi dan si udang. Apa tiba-tiba kau jatuh cinta padanya?” Tanya Jongwoon lebih cenderung meledek.

“Humm, Oppa jangan meremehkanku. Malam ini juga aku akan membuktikan bahwa aku bisa memasak cumi dan udang. Oppa mau dimasak apa? Asam manis? Tepung? Pedas?” Tantang Hyemi tidak mau harga dirinya terinjak-injak hanya karena masalah dua makhluk itu.

“Apa saja boleh. Asal kau bisa memasaknya dengan baik, aku akan mengabulkan apapun permintaanmu.”

“Aku pegang janjimu, Jongwoon Oppa.”

Hyemi betul-betul membuktikan perkataannya. Sesampainya di apartemen, ia langsung membawa si cumi dan si udang ke dapur dan meraciknya sedemikian rupa sehingga mereka layak untuk disantap. Jongwoon memandang Hyemi dari meja makan sambil tertawa-tawa. Setiap teriakan atau gerutuan Hyemi justru membuat Jongwoon tertawa semakin keras. Patut diacungi jempol, Hyemi tidak pantang menyerah meskipun sekarang tubuhnya sudah gatal dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Sudah, menyerah saja. Tubuhmu sudah bentol-bentol seperti itu. Alergimu parah sekali,” kata Jongwoon mulai khawatir dengan keadaan Hyemi tapi gadis itu tetap keras kepala untuk memasak.

Suara tawa ceria seorang perempuan dan laki-laki yang tiba-tiba terdengar tidak mengalihkan perhatian Hyemi dari para cumi dan udang yang kini kondisinya sudah mengenaskan, terkelupas dan terpotong-potong. Berbeda dengan Jongwoon yang begitu ingin tahu mengapa Hyejin dan Kyuhyun bisa tertawa sebahagia itu.

“Apa yang terjadi? Apa ada kabar menggembirakan?” Tanya Jongwoon kepada pasangan yang baru saja pulang. Keduanya saling menatap sambil tersenyum cerah dalam posisi saling merangkul. “Oh ayolah, aku menginginkan jawaban bukan tontonan kalian yang bermesraan. Ada apa?”

Hyejin tertawa ceria, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang baru ia alami. “Kami akan menikah. Kyuhyun tadi menemui orang tuaku dan melamarku. Awalnya, orang tuaku menolak habis-habisan tapi Kyuhyun tidak pantang menyerah. Kyuhyun menceritakan semuanya. Ia bahkan sampai berlutut memohon persetujuan orang tuaku. Akupun ikut memohon. Mungkin karena ingin melihatku bahagia, mereka mengijinkan aku menikah dengan Kyuhyun. Aku bahagia sekali!!!” Cerita Hyejin dengan wajah berseri-seri. Sekali lihat, semua orang pun akan tahu bahwa menikah dengan Kyuhyun adalah satu-satunya hal yang ia inginkan saat ini dan begitu hal itu terkabul, semua terasa sangat menyenangkan. Tidak ada lagi kesedihan, sakit hati atau keinginan untuk mati. Hyejin justru menginginkan dapat hidup selama-lamanya bersama Kyuhyun.

“Kyaaa. Aaaaah! Gatal!” Teriak Hyemi. Hyejin dan Jongwoon langsung berlari ke dapur. Kyuhyun mengikuti dari belakang.

“Kau kenapa, Hyemi-ya? Apa kau baik-baik saja?” Tanya Hyejin cemas.

“Hyemi hanya tidak tahan dengan cumi dan udang. Kurasa ia sudah tidak bisa menahan alerginya lagi. Aku akan mengantarnya ke kamar. Hyejin, tolong gantikan Hyemi memasak ya,” jawab Jongwoon. Jongwoon merangkul Hyemi dan membawanya ke kamar. Sekilas ia melihat air mata Hyemi jatuh. Ia tahu bahwa penyebabnya bukanlah alerginya melainkan kabar bahwa Kyuhyun akan menikah dengan Hyejin. Meskipun Hyemi sudah memutuskan untuk melupakan Kyuhyun tapi mendengar kabar bahwa pria yang dicintainya itu akan menikah dengan wanita lain, tetap saja terasa menyakitkan.

Jongwoon mendudukkan Hyemi di pinggir tempat tidur gadis itu dan menyodorkan sebutir obat alergi dan segelas air putih untuk menghilangkan gatal-gatal di tubuh Hyemi. “Minumlah,” ujar Hyemi. Tanpa bertanya, Hyemi meminum obat itu sampai tiada sisa.

“Apa rasanya sepahit ini?” Tanya Hyemi dengan tatapan mata kosong. Matanya tidak punya tujuan, begitu juga dengan hatinya. “Dulu waktu Oppa mendengar Hyejin dan Kyuhyun pacaran, apa rasanya sangat pahit?” Ulang Hyemi disertai air matanya yang tidak bisa lagi ditahannya.

Jongwoon duduk di samping Hyemi dan memeluk gadis rapuh itu. Hatinya sedang patah dan Jongwoon sedang berusaha menjaga agar tidak terlalu banyak kepingan yang harus ia bereskan nanti. “Jatuh cinta itu seperti makan obat. Pertama akan terasa sangat pahit karena banyak hal yang tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita. Tapi begitu ia masuk ke dalam tubuhmu, ia akan menyembuhkanmu dan membuatmu kembali sehat. Itu berlaku saat kau sudah menemukan orang yang benar-benar kau cintai. Kyuhyun memang baik tapi ia bukan yang terbaik untukmu. Percayalah, Tuhan sudah menyiapkan pria yang lebih baik dari Kyuhyun untukmu,” ujar Jongwoon dengan lembut. Tangannya membelai rambut Hyemi yang memeluknya semakin erat dan menangis semakin kencang.

Jongwoon tak bergerak dari posisinya sampai Hyemi berhenti menangis dan akhirnya tertidur karena kelelahan. Diselimutinya gadis itu dan dibiarkannya istirahat. Tidak lupa Jongwoon berdoa semoga begitu Hyemi bangun esok pagi, ia sudah melupakan perasaannya pada pria bernama Cho Kyuhyun tersebut.

—–

Pagi-pagi sebelum Hyejin meneleponnya untuk sarapan bersama, Jongwoon sudah duduk dengan manis di balkon apartemen Kyuhyun menunggu sahabatnya itu bangun dan menemuinya. “Ada apa hyung pagi-pagi menemuiku?” Tanya Kyuhyun dengan mata setengah terbuka.

“Aku ingin bicara denganmu,” jawab Jongwoon serius. Kyuhyun pun duduk di hadapan Jongwoon dan menatapnya dengan serius.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Kyuhyun lagi.

“Hyemi. Aku jatuh cinta padanya.”

Senyum Kyuhyun mengembang lebar dan langsung menyambar Jongwoon dengan sebuah pelukan. “Aku percaya kau bisa menjaganya dengan baik, hyung. Jeongmal gomawoyo, Jongwoon hyung!!!” Ucap Kyuhyun ceria tapi tidak mengubah ekspresi Jongwoon yang tetap serius. “Kenapa kau tetap serius seperti itu sih, hyung?”

“Aku belum selesai bicara. Aku memang mencintai Hyemi tapi ia justru mencintaimu. Menurutmu apa yang harus aku lakukan?” Jongwoon menatap tajam ke dalam mata Kyuhyun. Hal itu membuat Kyuhyun menyadari bahwa Hyemi menjadi hal yang paling penting untuk Jongwoon untuk saat ini dan mungkin seterusnya.

“Aku tahu bahwa ia mencintaiku tapi aku sudah bilang padanya aku tidak bisa mencintainya. Aku rasa sejak pertama kali ia melihat Hyejin ia tahu bahwa alasanku tidak bisa mencintainya karena aku tidak bisa mencintai gadis selain Hyejin. Aku tidak tahu bagaimana cara menghapus aku dari pikirannya tapi mungkin ia akan luluh jika kau mendekatinya, hyung.”

Pintu balkon digeser dan seorang gadis muncul di antara mereka. “Kalau kalian mau membicarakan orang harusnya jangan di belakangnya. Langsung saja ngomong ke orangnya,” tegur Hyemi yang sudah dari awal mendengar pembicaraan Kyuhyun dan Jongwoon.

Hyemi memilih duduk di sebelah Jongwoon dan berhadapan dengan Kyuhyun. “Aku pun tidak tahu bagaimana menghapus Oppa dari pikiranku. Bagaimana aku harus berhenti mencintaimu? Tapi jika memang kau bukan jodohku, aku pasti akan melupakanmu dan jatuh cinta dengan pria yang sudah Tuhan siapkan untukku nanti. Aku yakin cintaku pada pria itu akan lebih kuat dibanding cintaku pada Oppa,” kata Hyemi dengan tulus. Ucapannya tidak sekedar basa-basi. Ia sudah sepenuhnya ingin melupakan Kyuhyun dan jatuh cinta lagi kepada orang yang tepat agar ia tidak sakit lagi. Seperti kata Jongwoon, jatuh cinta itu seperti minum obat.

“Aku berharap aku bisa menemukan cinta sekuat cinta Hyejin pada Oppa dan begitu juga sebaliknya. Aku tidak ingin cinta bertepuk sebelah tangan lagi karena itu rasanya sangat menyakitkan,” tambah Hyemi.

Kyuhyun menatap Hyemi sambil tersenyum lega sedangkan Jongwoon sedang berusaha mati-matian menahan diri agar tidak memeluk Hyemi dan berteriak keras-keras bahwa ia mencintai Hyemi dan tidak akan menyakiti Hyemi. Hyemi menatap pria yang ada di sebelahnya sambil tersenyum.

“Jongwoon Oppa adalah pria terbaik yang pernah aku jumpai seumur hidupku,” kata Hyemi. Jongwoon mengerutkan kening seolah mempertanyakan keseriusan Hyemi. “Aku serius, Oppa. Kau lebih baik dari Kyuhyun Oppa. Hatimu tulus. Karena itu aku tidak mau menyakitimu. Aku yakin kau akan mendapatkan yang terbaik. Kalau kita memang ditakdirkan untuk bersatu, apapun yang terjadi kita akan bersama nanti.”

Dengan berat hati, Jongwoon harus merelakan lagi perasaannya tak terbalas. Ia tidak mungkin memaksakan perasaannya kepada Hyemi. Lebih baik ia menunggu sampai Hyemi pulih. Kalau memang ia berjodoh dengan Hyemi, pada akhirnya ia akan bersama dengan gadis itu apapun yang terjadi. Termasuk jika Hyemi memutuskan untuk kembali ke New York, suatu saat Hyemi pasti kembali padanya.

—–

One year later….

Jongjin sudah hampir naik darah melihat kelakuan hyung-nya yang tidak berhenti menelepon sejak sejam yang lalu padahal kafe mereka sedang ramai-ramainya. Jongjin kewalahan melayani pesanan para pelanggan sedangkan Jongwoon enak-enak di ruangannya mengobrol. “Hyung!! Bisakah kau tutup telponmu sebentar dan bantu aku di kasir? Pelanggan kita sangat banyak tahu!” Bentak Jongjin emosi, membuat Jongwoon dengan terpaksa menutup teleponnya dan melangkahkan kaki menuju kasir untuk membantu Jongjin.

“Gomawo sudah membantu. Maafkan aku tadi membentakmu,” ucap Jongjin begitu toko sudah tutup dan tidak ada pelanggan lagi yang datang.

“Gwencana. Aku juga salah tidak membantumu. Maafkan aku,” sahut Jongwoon.

“Kalau aku boleh tahu, yang meneleponmu tadi siapa? Gadis yang seenaknya tidak jadi kerja di kafe kita dan memutuskan kembali ke New York?” Jongjin memang agak sinis kepada Hyemi sejak pagi pertama ia menunggu kedatangan Hyemi ke kafenya untuk mulai bekerja tapi yang muncul justru Jongwoon dengan tampang lemas mengatakan Hyemi sudah kembali ke New York. Saat itu, Jongjin bersumpah akan menjambak Hyemi kalau bertemu lagi dengan gadis itu.

Jongwoon menganggukkan kepalanya tanpa semangat. Selama setahun ini, dia tetap berkomunikasi dengan Hyemi dan tidak pernah ada yang berubah antara mereka. Jongwoon masih mencintai Hyemi dan Hyemi tidak ada tanda-tanda jatuh cinta pada Jongwoon.

“Sudahlah hyung, lupakan saja gadis itu. Masih banyak gadis lain yang tergila-gila padamu,” ujar Jongjin.

“Aku tahu. Tapi bagaimana bisa aku melupakannya kalau setiap hari ia meneleponku 3x sehari, seperti minum obat! Susah sekali tahu!”

“Apalagi kalau tiba-tiba ia muncul di hadapanmu. Aku yakin kau makin tidak bisa melupakannya,” kata Jongjin sambil menatap pintu masuk kafenya. Seorang gadis berdiri di sana, meminta tolong untuk dibukakan pintu.

Jongwoon mengikuti tatapan Jongjin. Betapa terkejutnya ia ternyata Hyemi berada di hadapannya. Tangannya melambai-lambai diiringi senyum ceria yang sudah lama sekali tidak dilihat Jongwoon. Cepat-cepat Jongwoon bangkit berdiri untuk membukakan pintu. Hyemi pun segera masuk ke dalam kafe.

“Annyeonghaseyo, Jongjin-ssi,” sapa Hyemi dengan ramah.

Jongjin menatap Hyemi. Tidak bisa ia pungkiri bahwa ia masih kesal setengah mati dengan Hyemi tapi mengingat bahwa gadis ini separuh nyawa kakaknya dengan berat hati Jongjin menahan keinginannya untuk menjambak Hyemi. “Annyeonghaseyo,” balas Jongjin lalu meninggalkan Hyemi dan Jongwoon.

“Apa dia masih marah gara-gara aku tidak jadi kokinya?” Tanya Hyemi memastikan. Jongwoon mengangguk.

“Haish. Itu kan sudah setahun yang lewat. Kenapa masih marah sih?”

“Jongjin memang seperti itu. Sudahlah. Kau sendiri kenapa bisa tiba-tiba muncul di sini? Bukankah waktu kau meneleponku, kau ada di New York?”

Hyemi tertawa. “Oppa tertipu. Aku sudah di apartemen Kyuhyun Oppa dari tadi pagi. Aku sengaja mau memberikan kejutan untukmu.” Wajah Hyemi tampak sekali ceria.

“Well, aku terkejut. Ada apa kau tiba-tiba kembali ke Korea?”

Hyemi tersenyum. Ia menggandeng Jongwoon lalu menyuruhnya duduk di salah satu tempat makan pelanggan. Hyemi kemudian mengeluarkan tiga buah kotak makan dari dalam bungkusan yang ia bawa. “Aku berhasil membuat cumi dan udang. Sesuai perjanjian, Oppa harus mengabulkan permintaanku,” kata Hyemi.

Jongwoon mengambil sendok dan mulai mencicipi makanan yang dibawa oleh Hyemi. “Bagaimana aku bisa yakin kalau ini masakanmu sendiri? Kau tidak menyuruh orang untuk memasaknya atau membelinya di restoran?” Tanya Jongwoon dengan tampang serius. Jongwoon hanya ingin menggoda gadis yang ia cintai setahun belakangan ini.

Sebuah cubitan mendarat di lengan Jongwoon yang membuat pria itu terpaksa berteriak kesakitan. “Ampun, Hyemi-ya. Ampun. Aku percaya ini masakanmu,” ucap Jongwoon. Hyemi pun melepaskan cubitannya.

“Aku belajar memasak cumi dan udang selama setahun ini tahu! Dan aku berhasil melakukannya tanpa gatal-gatal sejak 3 bulan lalu. Sekarang aku datang padamu untuk menagih janjimu.”

“Sejak kau berhasil memasak dua makhluk ini, siapa saja yang pernah memakannya?” Tanya Jongwoon dengan mulut setengah penuh. Sesuap demi sesuap masakan Hyemi masuk ke dalam mulutnya dan meluncur ke perutnya.

“Eomma, Appa, Kakakku, adikku, teman-temanku juga ada. Memang kenapa? Itu kan tidak ada di perjanjian. Pokoknya Oppa harus menuruti permintaanku,” ujar Hyemi memaksa. Ia tidak akan membiarkan kepulangannya ke Seoul sia-sia.

“Iya, iya aku akan menurutinya. Apa permintaanmu?”

Hyemi tersenyum penuh kemenangan. Dengan cekatan, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya dan menyodorkannya ke hadapan Jongwoon. Begitu juga dengan tangan kanannya. “Oppa harus menikah denganku,” kata Hyemi nyaris membuat Jongwoon mati tersedak.

“Apa kau bilang barusan?” Tanya Jongwoon tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Aku mau kau menikahiku. Aku jatuh cinta padamu. Apa itu kurang jelas, Kim Jongwoon-ssi?” Emosi Hyemi mulai meninggi tapi Jongwoon masih tidak bergeming. Hal ini masih terlalu tidak masuk akal menurutnya.

“Bagaimana bisa? Sejak kapan? Kenapa aku tidak merasa?” Tanya Jongwoon penasaran. Selama ini, Hyemi tidak ada tanda-tanda bahwa gadis itu juga mencintainya. Selama ini, komunikasi mereka berjalan selayaknya teman, sahabat, tidak lebih dari itu. Selama ini bahkan Jongwoon merasa sangat kasihan pada dirinya sendiri karena tidak bisa lepas dari cinta bertepuk sebelah tangan.

“Dasar bodoh! Setahun aku belajar masak cumi dan udang, kau pikir untuk siapa? Aku bahkan datang untuk melamarmu. Kau bilang kau ingin seorang gadis yang gigih mengejar cintamu kan? Aku meneleponmu 3x sehari, kau pikir untuk apa? Katamu jatuh cinta itu seperti minum obat kan? Makanya aku meneleponmu pagi, siang dan malam, sama seperti obat yang aku minum jika aku sedang sakit. Tidak aku sangka aku bisa jatuh cinta kepada pria yang telmi seperti Oppa.” Hyemi terus saja menggerutu sampai tidak sadar bahwa Jongwoon sudah menarik jari manisnya dan memasukkan sebuah cincin ke dalamnya. Jongwoon memandang cincin itu dan tersenyum bahagia. Ternyata ia memang berjodoh dengan Hyemi. Penantiannya selama ini tidak sia-sia. Dengan mudah, hatinya menyatu kembali dan utuh ia berikan kepada Hyemi.

Jongwoon menarik Hyemi sehingga membuat Hyemi tersentak. “Tidak aku sangka aku bisa jatuh cinta pada gadis yang sangat cerewet sepertimu,” ucap Jongwoon lalu mencium Hyemi sebelum gadis itu kembali berceloteh panjang lebar yang mungkin tidak ada akhirnya.

Ckrek! Jongjin sempat mengambil beberapa foto pada saat Jongwoon mencium Hyemi. Dengan senyum jahilnya, dapat ditebak bahwa ada sesuatu yang direncanakannya.

“Opp..ah, aku ti..dak bisa ber..na..fas,” ujar Hyemi di sela-sela ciuman Jongwoon yang semakin panas.

“Maafkan aku,” ucap Jongwoon malu-malu setelah ia melepaskan ciumannya. Perasaannya tidak bisa terbendung lagi. Ia begitu bahagia menerima kenyataan bahwa Hyemi mencintainya. Semua rasa rindu yang terpendam selama ini ia salurkan melalui sebuah ciuman.

Pip! Pip! Pip! Pip! Blackberry Jongwoon berbunyi tanda ada sebuah pesan di dalam grup. Begitu juga dengan milik Hyemi. Mereka membuka blackberry dan menemukan tiga buah grup yang memosting pesan yang sama : Kim Jongwoon and Cho Hyemi spotted kissing in my cafe!!! They’re definitely in love. Getting married SOON! Please support them. Posted By: Kim Jongjin.

“Kim Jongjin-ssi!!!!” Seru Jongwoon dan Hyemi bersamaan dengan keras. Jongjin yang sedang asyik membalas komentar dari pesan yang ia posting hanya tertawa-tawa mendengar teriakan kakak dan calon kakak iparnya.

Jongwoon belum menutup foto itu sehingga kita bisa melihat bahwa banyak dukungan yang datang padanya.

Posted By : Jongwoon and Jongjin Eomma

Kyaaaa!!! Anakku akan segera menikah!! Aku mendoakanmu selalu, nak.

Posted By : Song Hyejin

Chukkae Jongwoon-ssi, Hyemi-ya!! Aku turut bahagia untuk kalian. Aku tidak sabar menemanimu mencari gaun pengantin! Kiss!

Posted By : Kim Jongjin

Aku masih punya 5 foto lainnya. Silahkan ditunggu.

Posted By : Lee Johae (Johee – Donghae)

Onnie!! Oppa!! Aku tidak mau tahu pokoknya aku akan datang ke pesta pernikahan kalian meskipun tidak diundang! Chukkae!

Posted By : Park Minah

Daebak!! Kim Jongwoon daebak!! Tapi kulihat kau belum terlalu ahli. Coba konsultasi dengan Yunho-ku.. Kekekekeekek.

Posted By : Cho Kyuhyun

Jaga baik-baik sepupuku. Aku percaya padamu, hyung. Gomawo!!!

.the end.

Posted from WordPress for BlackBerry.