( The Other Side Of SUJU ) I Love Cat and You –  WoonJung Couple

Author                  :               Estia Kim

Cast                       :               Kim Young-Woon, Seo Jung-Ah

S. Cast                   :               Seo Dong-Wook ( Jung-Ah twin ) – namja, Youngrin ( kucing Garfield ) – yeoja, Heebum ( Kucingnya Chullie ) – anggap saja Heebum itu namja yee ^^

Genre                   :               Romantis, Family

Length                  :               Two Shoot

Disclaimer           :               The Other Side Of SUJU – menguak atau berfantasy – dengan membalikan fakta-fakta tentang mereka hingga 180’.

Saya lagi malas browser fakta-fakta Kangin Oppa J

Terinspirasi dari judul komik “ I Love Dog And You “. Cuma pakai judulnya ajja sih yang sama J

Untuk menyambut comebacknya Kangin Appa for 6jib, saya paksain otak saya untuk meng-endingkan FF ini J

Enjoy Reading ne chingu J

……………………………….

“ Tapi sebagai gantinya aku tidak akan pernah punya adik seperti Jung-Ah.”

“ Karena memang kau tidak membutuhkan adik sepertinya. Aku juga tidak butuh anak seperti dia.” Tanpa Tn Seo sadari teriakannya telah melukai hati seorang gadis yang sedari tadi mereka bicarakan.

Jung-Ah tersentak hingga beberapa langkah kebelakang dan tubuhnya limbung menabrak pot bunga besar disudut ruangan.

Prang !

Tn Seo dan Dong-Wook menatap Jung-Ah dengan pandangan berbeda. Memang iya kalau Dong-Wook memandangnya cemas, tapi tidak dengan Tn Seo. Pandangannya sulit diartikan.

“ Mi .. mi .. mianhamnida.” Jung-Ah menunduk dalam sebelum berjalan pelan kekamar. Tangan gemetarnya mencoba berpegang pada pegangan tangga. Matanya menatap kosong satu per satu anak tangga yang dipijaknya.

Dong-Wook hanya bisa menatap sendu punggung bergetar Jung-Ah.

…………………………………….

Jung-Ah masih terisak dibalik selimutnya. Walau dia sering mendapatkan tatapan dan perlakuan yang mengisyaratkan bahwa dia begitu di benci, tapi baru kali ini dia “ditembak” secara langsung oleh Tn Seo. 17th Jung-Ah menahan tangisnya. Seperti bom waktu yang meledak, tangisnya tumpah hari ini.

Dong-Wook membuka pelan pintu kamar Jung-Ah yang memang tidak pernah dikunci.

“ Jung-Ah,, “ Panggil Dong-Wook setelah duduk ditepi bed Jung-Ah.

“ Appa hanya terbawa emosi kok. Uljimayo, jebal..” Tangan Dong-Wook terulur untuk mengelus pundak Jung-Ah dibalik selimut. Berharap kehangatan yang coba dia berikan dapat Jung-Ah rasakan.

“ Hey.. Kau mendapatkannya, kau tahu? Kau sungguh hebat. Kau mendapatkan 3 nilai A dengan sempurna. Kau siap pergi ke Paris?” Ucap Dong-Wook dengan nada gembira yang dipaksakan.

“ Jinjja?” seketika Jung-Ah bangkit.

Dong-Wook hanya mengangguk menjawabnya. Dan mengeluarkan kertas dari Colgan University. Jung-Ah menatapnya dengan binar mata bahagia atau mungkin lebih tepatnya lega. Setidaknya dia bisa terbebas dari perasaan sesaknya selama ini.

“ Kau benar-benar akan pergi?” Dong-Wook manampakan ekspresi sedihnya.

“ Ne Oppa. Aku akan pergi. Setidaknya aku punya tujuan kemana aku bisa pergi.” Jung-Ah pun tidak kalah sedihnya.

Grep.

“ Aku akan sangat merindukanmu.” Dong-Wook makin mengeratkan pelukannya.

“ Kajja, Oppa bantu kau berkemas.”

……………………………….

@ Super Junior Dormitory

Tutt … tutt … tuttt ….

“ Yeoboseo..”

“ Yeoboseo..”

“ Bisa kita bertemu sekarang?”

“ Ne.”

“ Aku tunggu ditaman.”

“ Ara.”

Pip.

…………………………………..

@ Haebaragi Park

Young-Woon tengah menunduk dibangku tempat dia menunggu Jung-Ah. Hatinya sudah begitu mantab untuk mencintai yeoja bernama Jung-Ah itu. Walau apapun dan bagaimanapun keadaannya dia tetap yakin dengan hatinya yang memilih Jung-Ah.

“ Oppa ..” Young-Woon mendongak menatap Yeoja yang menyapanya.

“ Annyeong ..” Sapa Jung-Ah dengan senyuman seperti biasanya.

Young-Woon hanya menatapnya tanpa berniat balas menyapa Jung-Ah.

Hening.

Tidak ada yang mulai pembicaraan. Bahkan skenario terbaik yang disiapkan Young-Woon pun tidak mampu dia ucapkan.

“ Jung-Ah ..”

“ Ne Oppa?”

“ Saranghamnida ,,”

“ Nado, nado saranghamnida ..”

“ tapi mianhamnida Oppa..”

“ Waeyo?” Young-Woon menatap Jung-Ah. Menuntut meminta alasan yang lebih masuk akal lagi dari kemarin.

“ Aku mendapatkan beasiswa ke Paris.” Jawab Jung-Ah lirih.

“ Mwo?” Young-Woon tercekat. Cairan bening yang bernama airmata mulai menggenangi mata nya.

“ Ne Oppa. Bolehkah aku meminta satu hal padamu Oppa?” Jung-Ah memberanikan diri menatap namja disampingnya.

“ Nde,,”

“ Maukah Oppa menungguku? Kurasa empat tahun bukan waktu yang lama. Ijinkan aku menjadi yeoja yang pantas berdiri disamping Oppa.” Jung-Ah menatap Young-Woon dengan senyum terbaiknya.

Young-Woon segera membawa Jung-Ah dalam pelukannya. Mereka meluapkan rasa bahagia pada pelukan yang semakin erat.

……………………………………………

@ Kediaman keluarga Seo

Untuk pertama kalinya ruang makan keluarga Seo terisi penuh dengan seluruh anggota keluarga. Yah meski hanya Tn Seo dan dua anak kembarnya. Ruang makan yang memang tidak terlihat mewah dengan meja panjang dan banyak kursi itu nampak penuh hanya dengan 3 orang saja.

Tangan Dong-Wook menggenggam erat tangan Jung-Ah dibawah meja ketika Tn Seo ikut bergabung makan malam dan Jung-Ah berniat menyudahi makannya. Tn Seo bukannya tidak melihatnya, dia entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Matanya mengacuhkan Jung-Ah seperti biasa tapi hatinya menolak untuk meninggalkan meja itu.

“ Appa sebentar. Ada yang ingin aku sampaikan.” Pinta Dong-Wook ketika melihat Appanya mulai bangkit.

“ Ne?”

“ Minggu depan Jung-Ah akan berangkat ke Paris. Tidakah Appa ingin mengatakan sesuatu?”

“ Tidak.” Tn Seo mulai bangkit dan melangkah meninggalkan ruang makan.

“ Jung-Ah ingin menanggalkan marga Seo yang selama ini membebaninya. Dan dia akan memakai marga Umma.” Suara Dong-Wook menghentikan langkah Tn Seo.

“ Dokumennya sudah aku siapkan dimeja kerja Appa.”

Jung-Ah bergetar hebat menahan tangisnya. Merasa Tn Seo tidak menanggapi, Dong-Wook membawa Jung-Ah keluar untuk mendinginkan kepalanya.

…………………………………………

Dong-Wook masih mengendalikan nafasnya yang memburu akibat kemarahannya yang memuncak. Mereka terdiam didalam audy hitam Dong-Wook ditepi jalan ditenga keramaian pusat kota Seoul. Kalau ada polisi yang berpatroli, mobil hitam itu pasti sudah ditilang.

“ Oppa sebaiknya kita mencari kafe atau apa gitu.” Jung-Ah mengusap pelan bahu Dong-Wook.

Setelah menghembuskan nafasnya kasar, Dong-Wook melajukan Audy hitam kearah kafe sahabatnya. Jung-Ah hanya terdiam disamping Dong-Wook. Pemandangan malam dari jendela mobil lebih menarik perhatiannya. Hingga tanpa disadarinya, Audy hitam Dong-Wook sudah sampai di H&G Cafe.

Seharusnya dijam 10 malam ini, kafe milik teman Dong-Wook sudah bersiap tutup dan tidak menerima pengunjung lagi. Tapi sepertinya untuk teman dekat ada pengecualian. Seperti Dong-Wook dan beberapa orang yang sudah lebih dulu didalam kafe tersebut.

Kling.

“ Maaf, kami sudah tutup.” Kata seorang pelayan.

“ Aku teman Jongjin, dia ada?” Tanya Dong-Wook.

“ Ada. Sebentar saya panggilkan. Silahkan duduk dulu.” Mengerti bahwa pengunjungnya adalah salah satu pelanggan yang masuk dalam daftar pengecualian, pelayan itu pun tidak mendebatnya.

“ Hai.. tidak biasanya kau kesini sampai semalam ini?” Sapa Jongjin yang kalian tahu siapa dia.

“ Ne. Aku sedang sedikit buruk malam ini.”

Jongjin hanya mengangkat bahu menanggapi sahabat baiknya.

“ Eh?? Nugu?” pandangan Jongjin beralih pada Jung-Ah yang duduk disebelah Dong-Wook.

“ Jung-Ah. Adikku.” Jawab Dong-Wook singkat dan segera memberi deathglare nya pada Jongjin.

“ Jangan menggodanya!” Desis Dong-Wook ketika melihat gelagat aneh Jongjin.

Kepala Jung-Ah yang sedari menunduk, diraih Dong-Wook untuk bersandar pada bahunya. Jung-Ah hanya bisa pasrah menerimanya. Wajah mereka Seo bersaudara yang terlihat agak mengenaskan ini membuat Jongjin gerah dan segera bangkit untuk membuatkannya sesuatu.

“ Kau baik-baik saja?” Tangan kanan Dong-Wook yang memeluk Jung-Ah mengusap bahu Jung-Ah yang mulai bergetar.

“ Entahlah. Aku ingin sekali segera berangkat ke Paris.” Jawab Jung-Ah lirih.

“ Anniya. Kita kan belum pergi kencan.” Jung-Ah tersenyum kecil sambil menyamankan pelukan dari Dong-Wook.

“ Apa Oppa benar-benar mengurus dokumen pergantian namaku?”

“ Tentu saja. Aku sedikit membenci Appa saat ini. Ah tidak. Dari dulu sebenarnya.”

“ Kenapa? Bukankah Appa begitu menyayangi Oppa?”

“ Entahlah. Aku mulai membencinya saat pertama kali dia membentakmu. Saat kau memintanya datang kepertunjukan pertamamu ditaman kanak-kanak.”

“ Itukan sudah lama sekali Oppa. Ingatanmu sangat baik rupanya.”

“ Tentu saja. Aku tidak pernah melupakannya kau tahu.”

Jongjin menghela nafas panjang didepan meja kedua bersaudara dengan tampang mengenaskan tersebut.

“ Kalian tahu? Kalian orang kedua dan ketiga yang datang kesini dengan wajah jelek seperti itu.” Dengan sedikit kasar Jongjin meletak minuman untuk temannya.

“ Ternyata kau sangat memperhatikan pelanggan mu ya, Jin-ya.” Dong-Wook tersenyum kecil menanggapi sikap sahabatnya.

“ huft,, jangan harap. Teman Jong Hyung juga bertampang sama mengenaskannya seperti kalian. Mereka bilang kekasihnya akan pergi ke Paris dan dia sedang galau saat ini.” Terang Jongjin. Yang membuat Jung-Ah tersentak.

“ Paris? Huft,, Jung-Ah juga akan pergi ke Paris minggu depan. Nanti aku menggalau disini ya Jin-ya.” Dong-Wook memasang tampang se-memelas mungkin.

“ Aku akan langsung mengusirmu.” Desis Jongjin.

“ Eh tunggu dulu. Jung-Ah? Paris?” Jongjin menelengkan kepalanya kesamping dengan tampang berpikirnya.

“ Apa kau orang yang sama yang dibicarakan Young-Woon Hyung?”

“ Young-Woon Oppa?” gumam Jung-Ah yang masih bisa didengar Jongjin.

Sifat Jongjin yang langsung main “tancap gas” – tanpa basa-basi gitu – langsung beranjak ke sebuah ruangan yang ditempati member Suju yang ternyata sudah disana sebelum Dong-Wook dan Jung-Ah tiba.

Dong-Wook memandang Jung-Ah dengan tatapan meminta penjelasan. Jung-Ah hanya bisa memberikan cengiran terbaiknya pada saudara kembarnya.

“ hmmm?” Dong-Wook masih menuntut penjelasan dari sang adik kembar.

…………………………………

Brak.

Member Suju yang sedari tadi sibuk dengan kegiatannya masing-masing karena sudah lelah menghibur Young-Woon pun mengalihkan pandangan pada sebuah pintu yang terbuka dengan tidak elitnya. Dan seperti sudah terbiasa di deathglare seluruh member Suju, Jongjin tetap melangkah tenang menuju seonggok manusia yang sangat terpuruk dipojokan sofa.

“ Hyung Hyung…” Jongjin mengguncang bahu Young-Woon dengan sedikit keras.

“ Hmmmm… “ Young-Woon menggeram dengan tetap membenamkan kepalanya dikedua lututnya.

“ Yeoja yang membuatmu seperti ini ada diluar.” Ucap Jongjin tanpa basa-basi. Dan dengan sukses membuat Young-Woon mendongakkan kepalanya dan member Suju lainnya menatap Jongjin.

“ Benar Hyung. Ayo cepat keluar.” Menganggap seperti Hyung-nya sendiri, Jongjin menyeret lengan Young-Woon diikuti member Suju yang penasaran dengan teoja yang membuat teman mereka sampai galau seperti itu.

……………………………………..

Jung-Ah tetap teguh dengan cengirannya dan Dong-Wook tetap memandangnya menuntut penjelasan. Tapi bukan Dong-Wook namanya jika tidak protective terhadap adik kembarnya ini. Dengan lengan posesifnya, dia mendekap Jung-Ah dalam pelukannya.

“ Katakan padaku kau belum punya pacar.” Tegas Dong-Wook.

“ Kami memang belum secara resmi pacaran sih Oppa, tapi kami sudah saling menyatakan perasaan.” Jawab Jung-Ah. Seperti nya dia nyaman dengan pelukan posesif Oppanya ini.

“ Jadi pria itu tidak memintamu menjadi kekasihnya?” Dong-Wook menaikan suaranya. Menatap Jung-Ah yang masih dalam pelukannya.

“ Eh? Benar juga yaa,, Aku memintanya untuk menungguku.” Jung-Ah sepertinya baru menyadari bagaimana hubungannya dengan young-Woon yang sebenarnya. Biarpun mereka saling mencintainya tapi bukan berarti mereka sepasang kekasih saat ini.

Langkah Jongjin yang menyeret Young-Woon terhenti karena orang diseretnya berhenti. Dengan kesal Jongjin menoleh kebelakang dan mendapati Young-Woon dengan wajah memerah, rahang yang mengatup keras serta tangan kirinya yang mengepal kuat menahan marah. Jongjin yang menyadari kemarahan Young-Woon lewat suhu panas yang dia rasakan dari tangan kanan yang dia pegang tadi, hanya bisa menelan ludah takut dan melepaskan tangan Young-Woon dalam pegangannya.

“ Ah, Ternyata benar.” Batin Jongjin.

Jung-Ah dan Dong-Wook terlihat mesra dimata Young-Woon. Jung-Ah yang tertawa senang menggoda Dong-Wook terlihat mempesona dimata Young-Woon, Dong-Wook yang dengan leluasanya mencubit pipi dan hidung Jung-Ah terlihat memuakan dimata Young-Woon.

Perlahan Young-Woon mengendalikan marahnya. Setelah dirasa mereda dia berjalan pelan menghampiri mereka. Member Suju lainnya dan Jongjin mengikuti dari belakang mengantisipasi bila amarah Young-Woon siap meledak.

“ Jung-Ah. Apa yang kau lakukan selarut ini disini?” Desis Young-Woon.

“ Eh Oppa?” Dengan watados nya, Jung-Ah memberikan cengiran khas nya pada Young-Woon.

Karena memang Jung-Ah terlalu polos menyadari situasi sekarang ini, dengan ringan nya dia menghampiri Young-Woon. Tanpa menyadari Young-Woon dan Oppa nya saling memandang yang jika dikomik akan mengeluarkan aliran listrik dari kedua mata mereka serta dengan latar belakang api yang membara.

“ Oppa apa kabar? Kenapa malam-malam begini Oppa disini? Oya bagaimana kabar Youngrin dan Ah-Young?” Jung-Ah bertanya dengan nada riangnya didepan Young-Woon.

Young-Woon masih terlalu berkonsentrasi memberikan tekanan pada Dong-Wook. Dong-Wook pun tetap bergeming pada duduknya. Karena tidak ditanggapi Young-Woon, Jung-Ah mengikuti arah pandang Young-Woon yang ternyata berkhir pada Dong-Wook, Dong-Wook berekspresi sama seperti Young-Woon dan tetntu nya dengan alasan yang berbeda.

Setelah cukup lama memahami situasinya, Jung-Ah akhirnya mengerti apa yang terjadi. Setelah mengeluarkan cengiran khasnya, yeoja itu tidak bisa menahan tawanya.

“ Haahahaahaaahaaa ….”

Member Suju dan Jongjin menatap Jung-Ah dengan kening berkerut mereka. Young-Woon dan Dong-Wook pun mengalihakan pandangannya pada Jung-Ah yang sedang tertawa sampai memegang perutnya.

“ Hahahaaa… Hhhmmmpttt…” Merasa sedang ditatap aneh, Jung-Ah mencoba menahan tawanya.

“ Seo Jung-Ah. Kau pikir apa yang kau tertawakan?” Dong-Wook bangkit menghampiri Jung-Ah da sedikit membentaknya.

“ Jangan membentaknya, brengsek! Siapa kau beraninya membawa Jung-Ah keluar selarut ini.” Amarah Young-Woon lepas melihat Jung-Ah dibentak Dong-Wook.

“ Tenang Oppa. Tenang.” Jung-Ah menenangkan Young-Woon dengan memegang lengannya yang siap memukul Dong-Wook.

“ Yak! Jung-Ah kemari kau!” Dong-Wook menarik lengan Jung-Ah.

“ Apa yang kau lakukan? Jung-Ah jelaskan padaku situasi seperti apa ini?” desis Young-Woon yang memegang lengan Jung-Ah yang tidak dipegang Dong-Wook.

“ Ne ne, Aku mengerti. Tapi bisakah kalian melepaskan ku dulu? Ngomong-ngomong lenganku terasa sakit lho Oppa.” Jung-Ah menoleh pada Dong-Wook dan Young-Wook dikedua sisi yang berlawanan.

Perlahan Young-Woon melepas Jung-Ah tapi tidak dengan Dong-Wook. Dia malah menarik Jung-Ah dalam pelukan posesifnya. Young-Woon menggeram menahan marahnya melihat Jung-Ah tenang saja dipeluk Dong-Wook.

“ ishh,, Oppa lepaskan.” Jung-Ah meronta tanpa  niat dan Dong-Wook hanya melonggarkan pelukannya.

“ Oppa, kenalkan itu Young-woon Oppa yang kita bicarakan tadi,,” Jung-Ah menatap Dong-Wook dan Young-Woon bergantian.

“ Dan Oppa, ini Dong-Wook Oppa dia Oppa kembarku.” Jung-Ah memandang Young-Woon dengan cengiran khasnya.

“ Dan Oppa, kau tidak perlu cemburu ne.” Jung-Ah tersenyum manis. Setelah melepaskan pelukan Dong-Wook dia menghampiri Young-Woon yang masih shock dan memberanikan diri memeluk Young-Woon.

“ tapi aku senang Oppa cemburu.” Bisik Jung-Ah. Young-Woon pun membalas pelukan Jung-Ah.

“ Yak! Jung-Ah jangan memeluknya.” Dong-Wook bersiap menarik Jung-Ah tapi segera dihalangi oleh Jongjin.

“ Sudahlah. Berhenti menjadi posesif dan protektif.”

“ Tapi Jin-ya, dia mengambil Jung-Ah-ku.”

“ Jadi kau lebih mementingkan dia daripada aku.” Jongjin menatap tajam Dong-Wook.

Tunggu tunggu.. mereka ada hubungan??

“ Eh? Ten te tentu saja kalian sama pentingnya. Kau ini bicara apa?” Dong-Wook tergagap dengan wajah blushingnya akibat pelukan Jongjin dipinggangnya serta tatapan tajam Jongjin.

“ Mereka??”

“ Yaa mereka yaoi. Jadi aku aman dalam pelukan Dong-Wook Oppa.” Jawab Jung-Ah ringan.

Young-woon kaget dengan wajah cengonya. Begitu pula member suju – kecuali Yesung yang memang sudah mengetahui bagaimana adiknya itu – karena melihat hubungan yaoi didepan mata langsung.

………………………………………..

3 Hari menjelang keberangkatan Jung-Ah ke Paris

Suasana ruang makan keluarga Seo sangat tegang pagi ini. Dong-Wook makan dengan tenang, Tn Seo pun sama, Jung-Ah? Dia menunduk dalam. Walau begitu aura yang terasa sangat mencekam. Dentingan sendok yang beradu dengan piring terdengar sangat jelas. Dan sepertinya Jung-Ah mulai merutuki nasibnya yang diseret paksa Dong-Wook untuk sarapan bersama.

“ Appa sudah menandatanginya?” Suara Dong-Wook memecah keheningan yang sudah tercipta sejak 30 menit lalu.

“ Apa?”

“ Jangan pura-pura tidak mengerti apa yang sedang aku bicarakan Appa.”

Hening.

Hening.

“ Sudah.” Tn Seo segera bangkit dan melangkah pergi.

“ Itu lebih baik kan Jung-Ah?”

“ Ne Oppa.” Jawab Jung-Ah lirih.

Terbesit kesedihan dihati yeoja itu. Walau dia sangat ingin menanggalkan marga Appa nya, tapi setidaknya dia juga ingin dicegah. Tapi ternyata harapan tinggalah harapan. Sebentar lagi dia akan menyandang marga Umma nya, Hwang Jung-Ah.

…………………………….

Tut .. tutt.. tutt….

“ Yeoboseo?”

“ Yeoboseo.”

“ Oppa dimana sekarang?”

“ Di Dorm. Waeyo?”

“ Aku kesana yaa..??”

“ Ne. Aku tunggu.”

“ Ne Oppa, Annyeong..”

“ Annyeong..”

Pip.

…………………………………

Suasana dorm Suju yang biasanya ramai dengan teriakan tidak jelas para member dan super berantakan, karena memang diisi 6 namja, berubah jadi ramai dengan suara tawa yeoja dan meongan kucing yang saling beradu.

Seolah dunia milik berdua, Young-Woon dan Jung-Ah bercanda dengan Youngrin dan Ah-Young diruang tengah. Mengacukan Chullie dan Hangeng yang sedang main PS. Kelihatannya mereka sedang free hari ini.

“ Hahahaa,, Ah-Young hentikan.” Jung-Ah yang sedang berbaring dengan kepalanya dipaha Young-Woon, mengangkat Ah-Young yang sedang menjilat lehernya.

Young-Woon hanya tersenyum simpul melihat yeojanya yang sedang berbaring nyaman dipahanya. Sesekali tangan besarnya mengusap lembut kepala Jung-Ah.

“ Jadi sekarang namamu Hwang Jung-Ah?”

“ He em.” Jung-Ah mengangguk singkat.

“ Huft,,,”

Young-Woon mengangkat kepala Jung-Ah hingga yeoja itu duduk. Setelah membuka kedua kakinya, Young-Woon membawa Jung-Ah duduk diantara kakinya dan memeluk yeojanya erat. Menenggelamkan kepala Jung-Ah didada bidangnya. Lengan Jung-Ah memeluk pinggang Young-Woon erat dengan sesekali mengusap manja wajahnya didada bidang Young-Woon.

“ Menangislah.” Ucap Young-Woon. Namja itu mengusap lembut punggung Jung-Ah.

………………………………………….

Sore ini terlihat seorang namja paruh baya berjalan pelan dikompleks pemakaman elite di Gwangju. Mata tajam nya menangkap siluet yang sangat dikenalnya sedang berdiri didepan nisan yang dia tuju. Tidak mau mengganggu sosok itu, namja paruh baya tersebut berjalan tanpa suara mendekatinya.

“ Umma mianhamnida. Namaku sekarang Hwang Jung-Ah.  Tolong sampai kan padanya kalau aku sangat menyayanginya. Walau bagaimana pun dia memperlakukanku, dia tetap Appaku kan umma? Aku tetap anaknya kan umma?”

“ Hiks,, hiks,, Umma,, aku merindukanmu. Besok ,, hiks,, aku berangkat ke Paris. Entah kapan lagi aku bisa mengunjungimu.”

“ Aku akan meminta Dong-Wook Oppa untuk kesini setiap tanggal 9 September, merayakan ulang tahun kita.”

“ Umma.. Terimakasih sudah melahirkanku. Terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk melihat Appa. Maafkan aku umma. Maaf….”

Kaki Jung-Ah terasa lemas. Dia terjatuh. Menangis pilu dengan tubuh yang bergetar hebat. Tangannya memeluk erat lututnya dan menenggelamkan kepalanya disana. Entah sadar atau tidak, Tn Seo meneteskan airmatanya. Hatinya bergetar mendengar tangisan Jung-Ah. Dia ingin sekali memeluk punggung rapuh Jung-Ah. Tapi egonya masih terlalu tinggi, hingga keputusan terakhirnya adalah pergi meninggalkan makam tanpa suara.

………………………………………….

Dentingan piano yang dimainkan Dong-Wook memecah kesunyian yang selalu menyelimuti kediaman mewah keluarga Seo. Shymponi #7 karya Mozart dipilihnya untuk menghilangkan sakit kepalanya. Satu lagu bernada ceria yang dimainkannya dengan harapan dapat menghilangkan kesedihannya. Perlahan wajah kusutnya berganti dengan wajah cerahnya. Bibir tipisnya mengembang membentuk sebuah lengkungan manis.

Karena terlalu bersemangatnya memainkan jemari lentiknya, Dong-Wook tidak menyadari sosok Appa nya memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dan karena Tn Seo terlalu berkonsentrasi, dia tidak menyadari Jung-Ah dibelakangannya memandang punggungnya penuh sayang.

Hingga saat dia berbalik, manik mata dibalik kacamatanya memancarkan ekspresi kaget. Dengan penuh keberanian Jung-Ah menatap Tn Seo. Kedua tangannya meremas ujung baju yang dikenakannya. Bibirnya bergetar sebelum memanggil Tn Seo.

“ Ap AA Appa,,,” bibir bergetar Jung-Ah terlihat dengan sangat jelas. Tn Seo pun menyadarinya.

“ Ne?”

“ Bolehkah aku memelukmu sekali saja?” pinta Jung-Ah lirih.

Hening.

Hening.

Hening.

Tap. Tap. Tap.

Suara sepatu yang beradu dengan lanta marmer yang dikenakan Tn Seo terdengar mantab melangkah menuju Jung-Ah. Perlahan Jung-Ah menunduk dengan tubuh yang semakin bergetar hebat. Jujur saja, Jung-Ah sangat takut saat ini.

Perlahan tapi pasti jarak mereka makin menipis. Kedua lengan Tn Seo direntangkan dan segera menarik Jung-Ah dalam pelukannya. Sebuah pelukan hangat yang selam ini sangat diharapkan Jung-Ah.

Senyum mengembang dibibir Jung-Ah yang wajahnya terbenam pada dada bidang Appanya dan Dong-Wook yang sedari tadi mengamati tanpa menghentikan permainan pianonya.

“ Mianhae.. jeongmal mianhae Jung-Ah.” Ucap Tn Seo lirih. Walau begitu masih dapat didengar oleh Dong-Wook.

“ Ehhhmmm.. saranghae Appa.” Jung-Ah mengeratkan pelukannya.

“ Nado saranghae Chagiya..” Tn Seo pun mengeratkan pelukannya juga.

……………………………………….

@Dorm Suju

Ting tong..

Ting tong..

“ Ne.” Teriak seorang namja dengan suara melengking khasnya, Ryeowook.

“ Eh Jung-Ah. Cha masuklah. Kangin Hyung ada diruang tengah dengan Ah-Young.” Ryeowook tanpa basa-basi lagi menyuruh Jung-Ah keruang tengah.

“ Ne Oppa, gamsahae ne.” Jawab Jung-Ah dengan senyum khasnya.

“ Oppaa,,,” teriak Jung-Ah sembari menghambur memeluk Young-Woon dari belakang yang sedang duduk bersila dilantai.

“ Ye? Kau senang sekali chagi, apa yang terjadi?” Young-Woon menolehkan kepalanya dan berhadapan langsung dengan wajah Jung-Ah. Menimbulakan semburat pink dipipi keduanya.

“ Appa sudah menerimaku. Dan namaku tetap Seo Jung-Ah.” Jawab Jung-Ah ceria.

‘ Jinjja?” Young-Woon menarik Jung-Ah untuk duduk didepannya.

Jung-Ah mengangguk lucu dan mendapatkan dekapan hangat dari Young-Woon.

“ Meoonggg…” meongan Ah-Young dan Youngrin serta Heebum – Youngrin habis kencan ma Heebum – menginterupsi pelukan mereka.

“ Ah-Young, Youngrin dan Heebum,, Umma kalian sedang bahagia hari ini, jadi ijinkan aku memeluknya lebih lama ne?” ucap dengan polos – atau konyol atau bodohnya – pada ketiga kucing disekitar mereka.

Dan tentu saja kata-kata “ Umma kalian” membuat wajah Jung-Ah makin merah.

“ Aniya aniya,, cha Youngrin, Ah-Young kemarilah. Aku merindukan kalian.” Jung-Ah mengambil Youngrin dan Ah-Young dalam pelukannya dan menunduk dalam.

Ekspresi Heebum yang menatap Young-Woon seolah berkata,” Kesiaaaannnn,,” dengan gelengan kepala pelan dan watadosnya sama seperti Chullie, sang majikan.

_The End_

Hahaahaaaa,,,

Saya mulai minta digantung nihh,,

Demi apa saya bisa membuat FF seperti ini??

Demi apa FF saya semuanya nge-gantung??

#answer

Demi Heechul Ahdjusi lah J

Tinggalin jejak ne..

Saya trima kritik dengan sarannya, jadi jangan Cuma kritik ajja tapi juga kasih solusi ato sarannyaJ

Kamsahamnida

#deep Bow bareng Ah-Young