Annyeong!!!
@gyumontic is back with another Top Class Soacialite member.
Kali ini korbannya our anchovy LEE HYUKJAE!
Enjoy..

Bittersweet Proposal

Cast :
Lee Hyukjae
Park Yeonhee
And some supporting casts.

All Hyukjae’s POV

Aku turun dari pesawat dan menghirup udara yang sudah 5 tahun tidak pernah masuk ke dalam saluran pernafasanku. Rasanya seperti bangkit dari kematian, menyegarkan sekali. Kulihat sekeliling, tidak ada perbedaan yang signifikan, hanya bandara ini menjadi lebih sibuk dari 5 tahun lalu seiring dengan pertumbuhan bisnis di negeri ini. Aah, bisnis. Alasan kenapa aku harus kembali ke Korea.

Aku duduk di sebuah kafe sembari menunggu supirku menjemput. Sambil meminum secangkir kopi hangat, aku membuka Ipadku dan membaca berita dari http://www.TopClassSocialite.com, website kelas atas yang selalu memberitakan orang-orang kaya di Korea Selatan ini. Termasuk aku, Lee Hyukjae, generasi ke-3 penerus kerajaan bisnis Lee Petroleum.Menurutku website ini sangat hebat. Aku tidak mengerti bagaimana cara mereka meng-updatenya tapi yang pasti cara kerja mereka sangat cepat. Kurasakan baru menginjakkan kaki di bandara ini 10 menit yang lalu dan berita mengenai kepulanganku sudah menjadi berita paling atas di website itu.

Posted on Oct, 1st 2012 10:15 am

HYUKJAE IS BACK. Generasi ke-4 dari kerajaan bisnis minyak Lee Petroleum akhirnya kembali setelah 5 tahun menimba ilmu di negeri Paman Sam.

Dalam 10 menit, postingan itu dibombardir oleh 1 juta pengunjung dan 700 ribu komentar.

“Welcome back my man! Kapan kita ketemu? Cepat kabari aku!” – Choi Siwon.

“Hyukjae-ya! Benarkah kau kembali hanya untuk urusan bisnis? Mana pacarmu?” – Lee Donghae.

“Kyaaaa! Hyukjae oppa!! Akhirnya kau kembali. Pria tampan TopClassSocialite bertambah lagi. Aku sangat merindukanmu.” – Go Yumin.

“Selamat datang, tuan Lee Hyukjae. Semoga sukses dengan bisnismu.” – Hwang Yuri.

Aku tidak menyangka bahwa aku seterkenal itu di Korea. Berbeda jauh saat aku di Amerika. Di sana tidak ada yang mengenalku. Aku hanya mahasiswa S2 biasa yang sedang menamatkan kuliah jurusan Gas and Petroleum. Jujur, aku menikmati jadi pusat perhatian. Bukan salahku dilahirkan menjadi anggota keluarga terkaya ke-4 di Korea ini.

Aku terus membaca komentar-komentar yang sangat menghibur ini. Sampai pada sebuah komentar yang sangat mengejutkan. Aku membacanya beberapa kali dan langsung membuatku ketakutan.

“Ahh, Lee Hyukjae. Sudah kembali kau rupanya? Apa kabar, kawan? Tenang hidupmu di sana? Hahahaha. Menyenangkan sekali. Aku tidak akan berbasa-basi lagi. GET YOUR ASS HERE NOW!!” – Park Yeonhee.

Park Yeonhee, gadis seumuranku. Aku mengenalnya saat kuliah. Dia sangat pintar dan bisa diandalkan. Dia juga sangat baik. Hanya saja untuk satu hal dia tidak bisa memaafkan aku.

5 tahun lalu, Yeonhee masuk bekerja ke dalam Lee Petroleum sebagai asisten manajer bagian gas bumi. Saat itu aku juga mulai bekerja di perusahaanku sendiri sebagai wakil direktur gas bumi. Aku tidak suka dengan pekerjaanku karena aku masih ingin kuliah S2. Singkat cerita, aku mengorbankan Yeonhee – tanpa persetujuannya- untuk menggantikan posisiku selama aku pergi ke Amerika. Aku tahu sekarang ia pasti sangat ingin mencincangku menjadi ratusan bagian.

Sekarang, dia menjadi orang pertama yang harus aku temui sebelum semuanya terlambat dan Lee Petroleum bisa kehilangan generasi ke-4 mereka yang paling tampan. Untung, supirku datang tepat di saat aku membutuhkannya.

“Rumah wakil direktur Park Yeonhee,” ucapku pada supir entah dia tahu atau tidak dimana rumah Yeonhee. Asumsiku dia tahu karena Yeonhee orang penting perusahaan.

Supirku menyetir mobil memasuki sebuah komplek perumahan dinas. LEE PETROLEUM CORPORATE HOUSE, begitu judul komplek perumahan ini. Memang seharusnya Yeonhee tinggal di sini, perumahan khusus untuk para pegawai perusahaan yang layak menerimanya. Supirku terus menyetir sampai ke sebuah rumah paling minimalis sepanjang yang aku lihat.

“Park Yeonhee tinggal di sini?” Tanyaku ragu. Tidak mungkin seorang wakil direktur tinggal di rumah sekecil ini.

Supirku hanya mengangguk. Aku pun tidak punya pilihan. Aku turun dari mobilku dan memencet bel pintu rumah Yeonhee.

“Nuguseyo?” Tanya Yeonhee dari speaker yang terpasang di depan pintu rumahnya.

“Naega Hyuk…”

Belum selesai aku menyebutkan namaku, pintu rumahnya sudah terbuka. Yeonhee berdiri di depannya sambil menatapku dengan galak. “Akhirnya kau pulang juga! Dasar tidak punya perasaan! Gara-gara kau aku nyaris gila! Menjadi wakil direktur? Kau pikir gampang hah?!” Omel Yeonhee tanpa jeda. Ia terus meluapkan kemarahannya kepadaku. Aku hanya pasrah menerimanya karena memang aku yang salah.

“Mianhe. Jeongmal mianhaeyo. Aku tidak punya pilihan, Yeonhee-ya. Maafkan aku,” ucapku sungguh-sungguh.

Yeonhee hanya bisa menghela nafasnya dengan pasrah. Semuanya sudah terjadi. 5 tahun yang panjang ia lewati dengan tidak semestinya gara-gara aku. Aku merasa sangat bersalah.

Setelah merasa lebih baik, Yeonhee mengajakku keluar. Tanpa aku sadari sebelumnya, Yeonhee ternyata berdandan. Gaun slim fit-body warna peach yang dipakainya sangat pas, menunjukkan bentuk tubuhnya yang cantik. Sangat cantik.

“Kau mau kemana?” Tanyaku melihat dandanannya yang mewah. Aku yakin pasti ada acara penting yang akan dihadirinya.

“Imperial Hotel. Kalau kau mau tahu, ini acara perjodohan. Katanya ada keluarga sosialita yang tertarik denganku dan ingin menjadikanku menantunya,” ucap Yeonhee santai. “Makanya aku mengajakmu sehingga jika aku tidak suka dengan calonku itu maka aku punya alasan untuk pergi.”

“Kau memperalatku?”

“Hanya untuk beberapa jam. Kau memperalatku 5 tahun. Ingat?”

Aku langsung terdiam. Apapun yang Yeonhee perintahkan, akan aku lakukan untuk menebus kesalahanku. Beberapa jam dibandingkan 5 tahun, tidak ada artinya.

Kami pun bergerak menuju Imperial Hotel. Di sana ternyata kedua orang tua Yeonhee sudah menunggu. Keduanya tampak sangat senang melihat kedatangan anaknya dan…aku.

“Hyukjae-ssi, apa kabar nak?” Tanya nyonya Park penuh keibuan. Kasih sayangnya terasa murni.

“Baik, bi,” jawabku sopan.

Tuan Park menyalamiku dan menepuk-nepuk bahuku dengan penuh wibawa. Meskipun ia keluarga sosialita kelas 2, aku tetap menghormati tuan Park. Bagaimana pun dia orang tua dan parahnya mungkin akan menjadi orang tuaku.

Aku melihat kedua orang tuaku masuk ke dalam ruangan yang sama dengan kami padahal ini ruangan private. Eomma melihatku lalu tersenyum ceria. Ia bahkan langsung memelukku begitu aku berada hanya beberapa senti di depannya. “Aigoo, anakku. Aku merindukanmu. Tampaknya kau sangat bersemangat dengan perjodohan ini. Tidak salah kan aku memilih Yeonhee menjadi calon istrimu?” Ujar Eomma.

Mataku membelalak kaget mendengar ucapannya. Otomatis aku menatap Yeonhee, begitu pun juga dengan dirinya. Ia menatapku dengan wajah yang tidak kalah terkejutnya denganku. Aku dijodohkan dengan Yeonhee. “Apa yang eomma bilang barusan?” Tanyaku untuk meyakinkan bahwa aku tidak salah pendengaran.

“Kami akan menikahkanmu dengan Yeonhee,” jawab Eomma dengan jelas. Telingaku masih sehat. Pikiranku pun masih waras. Aku tidak sedang berhalusinasi. Aku benar-benar dijodohkan dengan Park Yeonhee, gadis paling aneh yang pernah aku kenal. Aneh. Paling paling aneh.

—-

Aku mengantarkan Yeonhee kembali ke rumahnya. Sepanjang perjalanan aku hanya berpikir kenapa Yeonhee mau menerima pernikahan ini. Aku ingat jelas saat Yeonhee menganggukkan kepalanya ketika eomma menanyakan kesediaannya untuk menjadi istriku. Aku tidak habis pikir apa yang sebenarnya ada di otak wanita itu. Aneh.

“Yeonhee-ssi,” panggilku sebelum ia masuk ke dalam rumahnya yang mungil.

“Ne?” Sahutnya.

“Kenapa kau menerima perjodohan ini?” Tanyaku langsung. Aku sudah mau mati penasaran dengan alasannya. “Maksudku, kau tidak mencintaiku tapi kenapa mau menikah denganku?”

Yeonhee tersenyum, tidak cantik tapi cukup bisa membuat orang terpesona padanya. “Karena aku mencintai kedua orang tuaku. Mereka memilih dirimu untukku berarti itu yang terbaik. Aku yakin tidak ada orang tua yang mau menjerumuskan anaknya ke dalam kesusahan,” jawabnya tulus. Aku tahu bahwa Yeonhee adalah anak satu-satunya keluarga Park. Dia mencintai kedua orangtuanya melebihi apapun di dunia ini. Pantang baginya untuk menentang perkataan orang tua.

“Tapi apa kau siap? Kita hanya punya waktu 30 hari sebelum pernikahan itu terjadi. Jika kau tidak yakin, kau boleh menolaknya,” kataku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kami hidup dalam satu rumah, menyamakan pikiran kami tanpa didasari keinginan untuk menyatu. Itu pasti lebih susah daripada merevisi rencana keuangan tahunan perusahaan.

“Semua sekarang tergantung padamu, Hyuk. Jika kau tidak mengatakan apa-apa, maka 30 hari dari sekarang kita akan berakhir di altar untuk mengucap janji setia. Selamat malam, Hyuk.”

Yeonhee masuk ke dalam rumahnya, meninggalkanku dengan ribuan meter benang kusut yang bergulung-gulung di kepalaku. Sekarang semua tergantung padaku. Aku harus memberi jawaban sebelum hari halloween tahun ini tiba.

—-

Posted on Oct, 5th 2012 6:37pm

LEE HYUKJAE and PARK YEONHEE are GETTING MARRIED on October 31st 2012!! 4 juta views, 2 juta komentar.

Berita paling hot selama 5 hari terakhir yang ada di http://www.TopClassSocialite.com. Setiap menitnya pembaca berita itu bertambah paling tidak 500 dan 80 komentar, mengalahkan berita Tuan Kim Jongwoon yang berhasil mengeruk keuntungan 50 miliar won dari penjualan sahamnya.

Aku membaca berita itu dan mendadak frustasi. 25 hari lagi dan aku belum memberikan jawaban kepada orang tuaku. Eomma sudah mulai repot dengan list orang yang akan diundang dan makanan yang akan disediakan sedangkan aku masih menggaruk-garuk kepala bingung dengan apa yang harus aku lakukan.

Cklek. Pintu ruanganku terbuka dan Yeonhee masuk ke dalam. Buru-buru aku tutup Ipad ku sebelum dia tahu bahwa aku penikmat TopClassSocialite. Tapi tampaknya aku kalah cepat dari matanya. Ia menaikkan alisnya saat menangkap website TopClassSocialite yang terpampang sedikit dari Ipadku.

“Haraboji, maksudku Direktur Utama Lee, mengundang kita minum teh di ruangannya sekarang,” ujar Yeonhee.

Refleks, aku melihat jam tanganku. Masih jam 2 siang, terlalu dini untuk minum teh. Pasti ada yang ingin dibicarakannya. Kalau tidak mengenai bisnis, mungkin mengenai hubunganku dengan Yeonhee. Tanpa sadar aku menggaruk-garuk kembali kepalaku dengan frustasi.

“Kau belum memutuskannya?” Tanya Yeonhee dengan serius. Dengan serius juga aku menggelengkan kepalaku. Aku masih bingung mau menerima atau menolak perjodohan ini.

“Kenapa susah sekali sih? Tinggal bilang iya atau tidak. Kasihan orang tua kita kalau mereka terlanjur jauh mengurus pernikahan kita,” lanjut Yeonhee dengan galak diikuti tangannya yang juga berkespresi.

“Aku takut menyesal. Aku takut pernikahan kita tidak bahagia karena tidak ada dasar cinta,” jelasku atas alasan yang selama ini ada di benakku.

Yeonhee menghela nafasnya. “Kau itu kadang seperti perempuan yang terlalu memikirkan perasaan. Sekali-kali pikir dengan logikamu. Pernikahan itu hidup bukan hanya karena cinta, banyak faktor lainnya yang mendukung.”

“Misalnya?”

“Doa. Kalau kau bingung, berdoalah maka Tuhan akan menuntunmu untuk memilih jalan yang benar. Begitu juga dengan pernikahan. Pernikahan selamat bukan karena cinta tapi doa-doa orangnya.”

Seketika aku terkesiap dengan jawaban Yeonhee. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi ke depan, yang tahu hanya Tuhan. Aku setuju dengan perkataannya, doa yang menyelamatkan. Apa dia mendoakan perjodohan kami?

Yeonhee memandangku dengan gemas lalu menarik aku bangkit dari kursi direkturku. Aku rasa dari jutaan perusahaan di dunia ini hanya di sini ada wakil direktur menarik-narik direkturnya sendiri dengan dilihat banyak orang. Yeonhee menarikku menuju ruangan kakek. Terima kasih kepada TopClassSocialite jika kalian memberitakan yang sebenarnya! Yeonhee menarik-narikku karena buru-buru menemui kakek.

Yeonhee bicara dengan sekretaris kakek bahwa kami datang diundang untuk minum teh. Setelah konfirmasi dengan kakek, ia membuka pintu bertuliskan PRESIDENT DIRECTOR dan mempersilahkan kami masuk. Kakek menyambut kami dengan hangat dan menyuruh kami untuk duduk di hadapannya.

“Kalian pasti kaget Kakek undang minum teh siang-siang begini. Iya kan?” Tanya Kakek sambil tertawa-tawa. Yeonhee hanya tersenyum dan menyiapkan teh untuk kami minum bersama.

Kakek terus bicara tanpa membiarkan kami bicara meskipun hanya sedetik. “Pernikahan antara anak kelurga Cho dan Song betul-betul memperkuat kerajaan bisnis mereka. Sebulan lalu saat anak-anak itu baru menikah, nilai saham mereka melonjak 5 kali lipat. Sekarang sudah 10 kali lipat. Pantas anak keluarga Kim itu untung 50 miliar won. Ia pasti menjual sahamnya di sana. Itu pun paling hanya sepersekian mil dari total keseluruhan saham Cho dan Song. Bisa kalian bayangkan betapa besar nilai saham mereka sekarang, hanya karena pernikahan?”

Okay, I got the point! Kakek mengundang kami untuk membicarakan pernikahan. Aku melirik Yeonhee. Dia serius menanggapi kakek meskipun sambil tertawa-tawa. Apapun yang kakek katakan ia setujui. Termasuk ketika kakek menambahkan alasan kenapa ia harus menikah denganku.

“Aku mencintai kedua orang tuaku, begitu juga dengan kedua orang tua Hyukjae. Juga kakek. Dari 5 tahun lalu, mereka membuatku merasa seperti anak mereka, cucu kakek. Tidak tega rasanya menolak permintaan ini. Kakek dan mereka hanya minta aku menikah padahal sejak lahir atau sejak 5 tahun lalu, sudah banyak sekali permintaanku yang mereka turuti. Aku ingin menuruti permintaan orang tua meski hanya satu,” kata Yeonhee.

“Karena kau juga mencintai Hyukjae. Iya kan?” tambah Kakek.

Yeonhee tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Aku nyaris pingsan saking terkejutnya. Yeonhee mencintaiku? Sejak kapan? Tidak mungkin. Apapun yang pernah terjadi di antara kami hanyalah sebatas urusan pekerjaan, bisnis. Tidak pernah ada yang lebih dari itu. Mana mungkin Yeonhee mencintaiku.

“Lalu kau, Hyukjae? Apa sudah membuat keputusan?” Tanya kakek tiba-tiba nyaris membuatku tersedak teh yang sedang aku minum.

Aku menggelengkan kepalaku.

“Kenapa belum? Apa kau tidak suka dengan Yeonhee? Asal kau tahu, dia mencintai keluargamu seperti dia mencintai keluarganya sendiri. Kau pikir kau bisa mendapatkan gadis seperti Yeonhee? Yang datang pada kita bukan karena harta tapi karena memang ia cinta?”

Deg! Kata-kata kakek tepat mengenai hatiku. Itu memang kelebihan Yeonhee. Dia begitu tulus. Jika ia bilang mencintai eomma dan appaku seperti ia mencintai eomma dan appanya maka seperti itulah yang terjadi. Mau kemana lagi kucari wanita yang mau bersamaku bukan karena LEE PETROLEUM dan aset-asetnya.

—-

Yeonhee masuk ke dalam ruangannya yang terletak di sebelah ruanganku. Aku mengikutinya karena otakku memerintahkan demikian. Aku begitu ingin tahu apa ia benar mencintaiku atau hanya akal-akalannya saja.

“Mau apa kau di ruanganku?” Tanya Yeonhee galak. Dia bahkan sampai berdiri dan berkacak pinggang.

“Aku hanya ingin tahu apa kau benar mencintaiku? Apa benar kau melakukan ini semua karena kau mencintai aku?” Balasku.

Yeonhee tertawa kecil. “Aku mencintai orang tua kita dan kakek. Aku melakukannya untuk mereka. Mencintaimu, mungkin aku bisa belajar. 5 tahun bukan waktu yang singkat. Mereka telah banyak memberi padaku. Aku harus membalasnya,” kata Yeonhee.

Aku menatap Yeonhee dan bertentangan dengan akal sehatku aku menarik Yeonhee ke dalam pelukanku, mencium puncak kepalanya lalu turun sampai aku menemukan bibirnya. “Lepaskan, hyuk,” pinta Yeonhee yang tidak aku kabulkan. Aku justru semakin menguncinya. Bodohnya aku jika melepaskannya. 5 tahun lalu aku yang membuatnya dari yang bukan siapa-siapa menjadi deretan orang penting di perusahaan. Aku yang menariknya masuk ke keluargaku dan sekarang aku harus bertanggung jawab. Lagipula Yeonhee gadis yang tulus, baik dan…seksi.

—-

Posted on Oct 12th 2012 5:59 am

YEONHEE dan HYUKJAE RESMI BERPACARAN! Headline berita yang sudah dibaca ratusan ribu orang dan memiliki nyaris 500 ribu komentar.

Aku membaca TopClassSocialite sambil menunggu Yeonhee menyelesaikan mandinya. Berita-berita mengenai diriku dan Yeonhee membuatku senyum-senyum sendiri. Jatuh cinta padanya tidak sesulit yang aku bayangkan. Seminggu lalu aku memutuskan akan menikah dengannya melihat ketulusannya pada keluargaku. Tanpa aku sangka-sangka aku bisa begitu cepat mencintainya.

“Kenapa kau senyum-senyum? TopClassSocialite heuh?” Tanya Yeonhee yang tiba-tiba muncul dan mengagetkanku.

Aku mengangguk senang sambil memamerkan berita saat aku kencan dengan Yeonhee 3 hari lalu. Yeonhee mencibir berita itu. “Aku tidak menggandengmu. Kau yang menggandengku. Mereka salah memberitakan.”

Aku membaca berita itu sekali lagi dan tertawa. “Sama saja toh kita memang bergandengan tangan. Kecuali…” Aku tersenyum jahil lalu menarik Yeonhee dan membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya dengan wajahku. “Kecuali seperti ini,” bisikku lalu mencium bibirnya dan lehernya yang sudah seperti candu bagiku.

Puk! Yeonhee memukul pelan punggungku dan menyadarkan bahwa aku agak kelewatan. “Kau merusak make-up ku,” protes Yeonhee, membuatku terkekeh geli.

“Kau terlalu menggoda. Bagaimana kalau kita menikah besok saja?” Kataku serius, walaupun pernikahan itu tidak mungkin terjadi besok.

Yeonhee tersenyum mengejek padaku. “Dulu kau yang selalu menunda-nunda, ragu, takut katamu. Sekarang kau yang ingin segera melangsungkannya. Dasar labil,” kata Yeonhee.

“Memang seperti itu kenyataannya. Baru seminggu dan aku sudah jatuh cinta padamu. Apa itu salah?” Bela ku.

Yeonhee terpaku di hadapanku. Ia menatapku seperti mencari sesuatu di sana dan tidak mendapatkannya. Kalau ia mencari kebohongan tentu tidak ada. Aku sungguh-sungguh dengan apa yang baru kukatakan. “Aku mencintaimu, Park Yeonhee,” ucapku pelan pada gadis itu.

“Terima kasih, Hyukjae-ya,” balas Yeonhee. “Sekarang lebih baik kita menemui Anthony, ia sudah siap dengan baju pernikahan kita dan segala pernak-perniknya. Kajja!”

Aku mengikuti Yeonhee menuju mobil dan menyetir menuju toko Anthony Hwang, desainer yang merancang baju pernikahan sekaligus cincinnya. Dia adalah orang nomor satu untuk hal itu!

—-

Yeonhee mengepas gaun pernikahannya sedangkan aku berkeliling mencari cincin pernikahan yang sekiranya cocok untuk kami berdua. “Yang ini saja,” ucap seseorang pria sambil menunjuk sepasang cincin emas putih yang bermatakan berlian. Di sekeliling cincin itu terukir bunga tulip. “Calon istrimu sangat menyukai cincin ini. Percayalah,” katanya lagi. Aku menatapnya dengan heran. Bagaimana dia tahu apa kesukaan Yeonhee padahal dia tidak tahu siapa Yeonhee. Pria itu kemudian pergi meninggalkan toko. Tampaknya aku mengetahui pria itu.

Yeonhee keluar dari ruang pas-nya dengan pakaian yang ia pakai saat datang ke tempat ini. Ia menghampiriku. “Sudah dapat cincinnya?” Tanya Yeonhee. Aku menyodorkan cincin yang ditunjukkan oleh pria tadi.

Yeonhee menatap cincin itu dengan sangat sendu. Tiba-tiba air matanya mengalir. “Kenapa kau pilih cincin itu?” Tanya Yeonhee.

“Seseorang menyarankan aku memilih cincin ini.”

“Siapa?”

Aku menaikkan bahuku tanda tidak tahu. “Seorang pria tinggi, cukup kurus. Dia pakai kacamata dan rambutnya biru blonde,” jelasku akan ciri-ciri pria tadi.

Yeonhee menutup mulutnya dengan tangannya dan terus terisak. “Seunghyun,” ucapnya pelan dalam isakannya.

Seunghyun. Ah iya benar. Tadi itu Choi Seunghyun. Salah satu klan Choi, keluarga terkaya nomor 1 di Korea Selatan ini. Aku pernah melihatnya beberapa tahun lalu saat aku belum pergi ke Amerika. Tapi kenapa Yeonhee menangis karena dia, apa pernah terjadi sesuatu di antara mereka?

Yeonhee membutuhkan waktu yang agak lama untuk kembali tenang. Dia begitu sedih. Aku tidak tahu kenapa dan itu membuatku frustasi. Aku tidak suka kenyataan bahwa banyak hal yang tidak aku ketahui tentang gadis ini. Dia akan menikah denganku beberapa minggu lagi tapi aku tidak tahu-menahu bagaimana dia. Payah sekali.

Aku menyodorkan cincin itu lagi kepadanya. Yeonhee menolak. “Yang itu saja,” ucapnya sambil menunjuk cincin emas putih polos yang bermata batu safir biru. Cantik. Sangat pas di jari kami berdua tapi rasanya tidak spesial seperti cincin tulip tadi. Aku yakin pasti ada apa-apa dengan cincin itu.

Yeonhee mengajakku pulang setelah pegawai toko membungkuskan cincin safir untuk kami. Tanpa bicara, Yeonhee masuk ke dalam mobil dan duduk tenang sepanjang perjalanan. Terlalu tenang bahkan. Ia tidak mengeluarkan suara sedikitpun sepanjang perjalanan, membuatku cemas. Emm baiklah, aku penasaran. Aku ingin tahu kenapa ia seperti itu.

“Yeonhee-ssi, kau kenapa? Sejak tadi diam saja,” tanyaku.

Yeonhee tetap diam. Dia hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah. Aku tahu pasti ada apa-apa. Yeonhee bukan tipe orang yang suka diam.

“Apa karena cincin itu? Atau Seunghyun?” Tanyaku lagi.

Yeonhee membuka mulutnya sedikit. “Sudahlah. Aku tidak ingin membahasnya,” jawabnya. Kami pun diam. Sampai rumah pun, Yeonhee langsung masuk ke dalam kamarnya. Aku hanya bisa berdoa semoga dia tidak berbuat sesuatu yang mengkhawatirkan.

—–

Aku benar-benar tidak bisa tidur dibuat Yeonhee. Sudah 3 jam ia mengurung diri di kamarnya dan tidak ada tanda-tanda akan keluar. Aku mendekati kamarnya dan tidak mampu mendengar apapun kecuali isak tangisnya yang samar-samar. Ini pasti ada hubungannya dengan Seunghyun. Iseng-iseng aku mengambil Ipadku dan membuka http://www.TopClassSocialite.com. Aku masuk ke dalam kolom search dan mengetikkan nama CHOI SEUNGHYUN.

Tidak terlalu banyak berita mengenai dia. Hanya beberapa tapi sangat penting. TopClassSocialite mengurutkannya berdasarkan tanggal posting terbaru.

Posted on Oct 13th 2012 1:35 pm
CHOI SEUNGHYUN MEMBANTU LEE HYUKJAE MEMILIH CINCIN NIKAH.

“Apa pentingnya dengan membantu memilih cincin nikah?” Gumamku heran. Website ini kadang-kadang berlebihan sekali.

Posted on July 11th 2012 4:22 pm
8 BULAN MENGHILANG, CHOI SEUNGHYUN KEMBALI!

“Baru 8 bulan, aku 5 tahun biasa saja,” Pikirku lagi.

Posted on Nov 2nd 2011 2:16 am
PARK YEONHEE MEMBATALKAN PERNIKAHANNYA DENGAN CHOI SEUNGHYUN!!

Aku segera mengklik headline berita itu dan membaca berita penuhnya. “…hubungan yang sudah berjalan lebih dari 3 tahun kandas saat keduanya siap melanjutkan ke tahap yang lebih serius. Yeonhee membatalkan pernikahannya karena kedua orang tuanya tidak setuju. Sedangkan Seunghyun tidak bisa dimintai keterangan. Seunghyun langsung menghilang bagai ditelan bumi…”

Aku kembali ke kumpulan berita mengenai Seunghyun. Satu per satu aku membuka berita yang berhubungan juga dengan Yeonhee.

Posted on March 19th 2011 11:27 am SEUNGHYUN dan YEONHEE TINGGAL SERUMAH.
“Seunghyun terlihat keluar dari rumah Yeonhee hampir setiap pagi. Hal ini tampaknya menjawab teka-teki akan hubungan yang terjadi antara mereka sebenarnya…”

Posted on June 4th 2010 5:40 pm
SEUNGHYUN-YEONHEE COUPLE MEMBUAT TAMAN BERMAIN SEMARAK!
“CHOI WONDERPARK, taman bermain milik keluarga Choi mengadakan lomba untuk para pasangan yang sedang mengunjungi taman bermain. Pasangan yang paling kompak akan mendapat hadiah liburan ke Jeju selama 2 hari 1 malam…. Seunghyun dan Yeonhee berhasil memenangkan hadiah perjalanan itu. Sebagai password untuk mengambil hadiah, mereka harus berciuman….”

Aku memandang foto Seunghyun dan Yeonhee yang sedang berciuman. Wajah keduanya tampak sangat bahagia, tidak memiliki beban. Berbeda jauh dengan wajah yang aku lihat tadi siang. Sudah pasti ini yang menjadi alasannya : Yeonhee masih mencintai Seunghyun. Meskipun hubungan mereka sudah berakhir tahun lalu tapi bisa saja Yeonhee masih menyimpan perasaan yang sama pada Seunghyun.

“Ottoke?” Hatiku berteriak panik.

—-

Posted on Oct 15th 2012 7:00 am
PERSIAPAN PERNIKAHAN HYUKJAE dan YEONHEE SUDAH SELESAI 80 PERSEN! Kata Nyonya Lee.

Postingan yang sudah dilihat 2 juta kali dan memiliki 900 ribu komentar itu tidak terlalu membuatku pusing. Aku serahkan semuanya kepada orang tuaku. Aku percaya mereka akan memberikan yang terbaik. Yang aku khawatirkan adalah pernikahannya. Bagaimana bisa pernikahan ini terjadi jika mempelainya tidak bisa mengucapkan janji setia di depan altar. Anggap Yeonhee bisa melakukannya, tapi itu hanya di mulutnya. Tidak sepenuh hatinya. Aku tidak butuh janji seperti itu.

Setelah berhari-hari tidak keluar dari kamarnya, Yeonhee muncul dengan mata sembap dan wajah kusut. Tubuhnya tidak kurus tapi cukup terlihat lemas karena sudah 3 hari tidak makan. Dia membuatku nyaris gila saking cemasnya. Dengan segera aku menyiapkan bubur hangat untuk Yeonhee.

“Ayo dimakan. Kau sudah 3 hari tidak makan. Jelek sekali,” ujarku bermaksud membuatnya tertawa.

Yeonhee tersenyum kecil lalu menyuapkan bubur buatanku ke mulutnya sendok demi sendok. Dia makan sangat perlahan. Tatapan matanya tampak sangat lesu.

“Apa kau sakit?” Tanyaku.

Yeonhee menggelengkan kepalanya pelan.

“Masih memikirkan pria itu? Seunghyun, maksudku. Mungkin kau masih mencintainya,” tanyaku lagi. Lee Hyukjae bodoh. Rasa penasaranmu itu justru akan membuatnya sedih, bodoh! Lee Hyukjae oh Lee Hyukjae, umpatku pada diriku sendiri.

Yeonhee menghentikan makannya. Sendok diletakkan di dalam mangkuk dan menjauhkannya sejauh mungkin dari hadapannya. “Jangan suka sok tahu, Lee Hyukjae. Kau tidak tahu apa-apa tentangku dan Seunghyun,” bentak Yeonhee membuatku kaget.

Entah setan darimana datang menghampiriku yang membuatku justru balas membentak Yeonhee, bukan melemah lembutkan suaraku. “Aku tahu semuanya! Kau pernah pacaran dengannya! Kalian hampir menikah! Dan sekarang kau masih mencintainya. Karena itu kau menangisinya berhari-hari. Kau menyesali akan menikah denganku bukan dengannya!”

Plak. Tangannya menampar pipiku dengan keras. Dia menatapku dengan marah. “Kau pikir siapa penyebab ini semua?! Hah?! Kau, Hyukjae! Kau! Kau yang menyebabkan ini semua!” Seru Yeonhee..

“Kenapa aku? Aku tidak pernah berhubunganmu 5 tahun. Tidak mungkin aku menjadi penyebabnya!”

“Justru itu, bodoh! 5 tahun kau membiarkan aku berjuang sendirian menghadapi dunia yang seharusnya menjadi duniamu! Seunghyun datang, membantuku, menemaniku di setiap kesulitan yang aku hadapi. Sedangkan kau? Hidup tenang di Amerika tanpa memikirkan aku sedikitpun di sini. Wajar jika aku jatuh cinta pada Seunghyun dan membencimu setengah mati!”

“Lalu kenapa kau tidak menikah saja dengannya? Dia sudah kembali, menikah saja dengannya! Tinggalkan aku!”

“Seandainya saja aku bisa memilih, aku memilih menikah dengan Seunghyun tapi hatiku berkata tidak.”

“Jadi buat apa kau menghabiskan banyak energi untuk menangisinya?”

“Lee Hyukjae, kau banyak sekali bertanya! Aku merasa bersalah padanya. Sejak setahun lalu, eomma-mu berniat menjodohkan kau denganku. Setiap hari yang ia bicarakan hanya dirimu dan itu sangat menggangguku. Tapi semakin aku mau membuang pikiranku tentangmu, kau semakin melekat. Entah kenapa aku justru berbalik mencintaimu!”

Yeonhee mencintaiku. Ya Tuhan, semoga aku tidak salah dengar. Gadis ini mencintaiku. Dia bersedia menikah denganku karena mencintaiku. Astaga! Yeonhee masih menatapku dengan marah tapi aku tidak peduli. Aku mengulurkan tanganku dan menariknya ke dalam dekapanku. Sedetik kemudian, aku sudah menciumnya sambil mengusap air matanya.

—–

Yeonhee kusuruh istirahat untuk memulihkan dirinya tapi yang ada dia muncul di ruanganku sambil membawa presentasi proyekku untuk pengeboran minyak di daerah Itaewon, menurut para insinyur kami itu daerah yang cukup potensial. “Aku tidak setuju. Idemu itu bisa berakibat fatal. 1 mili saja perhitungan ini salah, minyak itu akan terus meluap tanpa henti,” kata Yeonhee.

“Bukankah justru itu bagus? Kita bisa untung besar karenanya,” kataku tidak setuju.

“Tidak. Kandungan minyak di tempat itu tidak banyak, apalagi gas sedangkan risiko mendapatkannya sangat besar. Kau bisa mengeluarkan seluruh isi perut bumi ini kalau sampai kau salah perhitungan. Kau mau merendam Itaewon, bahkan seluruh permukaan Korea?”

Aku mengernyit tidak mengerti dan Yeonhee pun tampaknya memahami apa yang aku pikirkan. “Di bawah Itaewon itu banyak lumpur yang siap meledak jika kau mengganggunya. Lumpur itu tidak akan berhenti sekali dia keluar dan bisa menenggelamkan Itaewon. Aku mohon padamu jangan teruskan proyek ini.”

Aku tersenyum padanya. Kepintarannya memang tidak ada lawan, membuat aku semakin mencintainya. Aku berdiri dan menutup pintu ruanganku. Mataku menatap Yeonhee dengan nakal. Aku tidak berniat melakukan apa-apa pada Yeonhee, aku hanya ingin menggodanya.

“Mau apa kau?” Tanya Yeonhee gugup.

Aku semakin mendekatinya, memepetkan tubuhnya dengan tubuhku. “Kau harusnya mendengarkan omonganku untuk istirahat di rumah. Sekarang jangan salahkan aku jika kau tidak bisa keluar dari ruangan ini,” ucapku setengah berbisik dengan nada mengerikan.

Yeonhee bergidik lalu melangkah mundur perlahan. Aku melangkah baju seiring langkah mundurnya. Lucu sekali melihat wajahnya yang takut tapi mencoba untuk berani. Aku tidak tahan lagi. Aku tertawa terbahak-bahak di depan wajahnya yang langsung dibalas dengan tatapan cemberut darinya. “Dasar menyebalkan. Awas pembalasanku nanti!” Omelnya kesal begitu tahu aku mengerjainya.

Yeonhee beranjak dari ruanganku setelah aku berhasil meneriakinya, “Sebaiknya kau istirahat, perawatan di rumah. Aku mau calon istriku cantik saat pernikahan nanti.”

“Aku sudah cantik!” Balasnya.

“Dasar keras kepala. Seharusnya kau sudah dipingit di rumah, sayang.”

Yeonhee tidak mempedulikanku. Ia kembali ke ruangannya. Sekretaris kami yang berada di antaranya hanya bisa menatap kami sambil tersenyum geli.

“Apa kalian, wanita, akan seperti itu jika mau menikah?” Tanyaku pada mereka.

Para sekretaris itu hanya terkekeh-kekeh mendengar pertanyaanku. Tiba-tiba Yeonhee muncul dari ruangannya. Tangannya menunjuk kepadaku.

“Kau, Lee Hyukjae, kularang keras menggoda sekretarisku. Atau gadis manapun di dunia ini. Ingat, kau akan menikah setengah bulan lagi!” Katanya dengan galak yang entah kenapa justru membuatku tertawa. Tanpa dia suruh pun aku akan melakukannya. Hanya ada satu gadis dalam hidupku, yaitu Park Yeonhee. Tidak ada yang lain yang membuatku tertarik.

—–

Posted on Oct 22nd 2012 5:50 am
PARK YEONHEE dan LEE HYUKJAE AKAN MENIKAH KURANG DARI 2 JAM LAGI!!

Aku membaca berita terakhir dari http://www.TopClassSocialite.com sambil memakai jasku. Pernikahanku dipercepat 9 hari, dengan seenaknya oleh eomma, karena ia harus menemani kakakku yang baru melahirkan di Swiss mulai besok sampai 3 bulan ke depan. “Aku tidak bisa menanti pernikahan ini lebih lama. Daripada aku menanti 3 bulan lagi, lebih baik aku percepat 9 hari. Ya sayang?” Alasannya tak terbantahkan. Alhasil, semua dibuat heboh olehnya.

Seminggu ini kerjaanku dan Yeonhee hanyalah menyiapkan pernikahan ini agar berjalan sesempurna mungkin, sesuai dengan keinginan orang tua dan diri kami sendiri. Kami bahkan suka sampai lupa makan dan pekerjaan kami yang masih menumpuk. Tidak jarang kami beradu mulut untuk masalah paling kecil sekalipun.

“Aku mau makan kimbap,” kata Yeonhee.

“Aku mau jjangmyeon,” sahutku ketika kami mau makan siang selesai gladi resik pernikahan kami 2 hari lalu. Hanya karena itu, kami tidak bicara sampai hari ini, hari pernikahan kami.

Tepat jam setengah 8 pagi, aku siap di depan altar menanti pengantinku datang diantar ayahnya. Yeonhee terlihat sangat cantik. Senyumnya begitu membuatku bahagia. Tidak salah eomma menjodohkanku dengannya.

Tuan Park menyerahkan Yeonhee kepadaku. “Jaga dia sepenuh hati,” ucap Tuan Park. Aku mengangguk dengan mantap. Kuterima Yeonhee dan mengajaknya menghadap pendeta yang akan memberkati pernikahan kami.

“Lee Hyukjae, apa kau bersedia menerima istrimu, Park Yeonhee, dengan segenap hatimu, dalam susah dan senang, suka dan duka, sampai maut memisahkan kalian?” Tanya pendeta kepadaku.

Tanpa berpikir dua kali, aku menjawab dengan mantap,” Ya, saya bersedia.”

Pendeta kini beralih kepada Yeonhee. “Dan kau, Park Yeonhee, apa kau bersedia menerima suamimu, Lee Hyukjae, dengan segenap hatimu, dalam susah dan senang, suka dan duka, sampai maut memisahkan kalian?”

“Ya, saya bersedia,” jawab Yeonhee.

Hatiku mencelos lega setelah sekian jam berdetak tidak karuan saking gugupnya menghadapi pernikahan ini. Park Yeonhee telah berubah menjadi Lee Yeonhee, tidak ada yang lebih menyenangkan dari mendengar hal itu. Aku telah menikah!

—–

Upacara pernikahan itu ternyata berefek lelah yang sebelumnya tidak pernah kubayangkan. Berdiri sepanjang hari, menerima salam dari banyak orang dan memakan sedikit sekali makanan membuatku nyaris seperti vampir melihat darah begitu melihat tempat tidur. Aku sangat membutuhkan tempat untuk istirahat. “Aaaaah,” seruku melepaskan kelelahanku begitu berhasil mendapatkan tempat tidur yang aku dambakan.

“Aigoo, Lee Hyukjae-ssi,” ucap Yeonhee melihat kelakuanku.

“Panggil aku yeobo. Aku sudah jadi suamimu,” protesku dengan kesadaran yang sudah hilang seperempat bagian.

Tampaknya aku benar-benar lelah sampai tidak sadar bahwa Yeonhhee sudah mandi dan mengganti gaun pernikahannya dengan piyama tidurnya. “Ya Lee Hyukjae!” Seru Yeonhee menyadarkanku sambil menjitak kepalaku. Ctak! Terasa sangat sakit.

“Auw!! Sakiiiit!” Pekikku sambil mengusap kepalaku. “Kenapa kau menjitakku?” Protesku.

“Mandi dulu sebelum tidur. Aku tidak mau tidur dengan laki-laki jorok,” katanya.

Aku pun bangkit dari tempat tidurku, meskipun aku sebenarnya tidak berniat menuruti ucapan Yeonhee. Aku bangkit berdiri bukan untuk mandi. Aku lebih berniat mengganggu Yeonhee. Aku melepas jas dan kemejaku seolah-olah aku akan mandi tapi yang aku lakukan sebenarnya adalah menarik Yeonhee ke dalam pelukanku, menjatuhkan kepalaku di bahunya dan bernafas dengannya. “Kau tidak boleh melawan,” bisikku.

Yeonhee pun membalas pelukanku, tidak kalah erat. Rasanya semua asetku tidak mampu membeli kebahagiaan yang sedang aku rasakan saat ini.

—-

Posted on Oct 31st 2012 7:43 pm
LEE PETROLEUM MENDAPATKAN GENERASI KE-5 YANG PERTAMA!! Lee Sora melahirkan anak pertamanya di Swiss ditemani ibu dan suaminya. Anak laki-laki yang baru berumur 9 hari itu tampak sehat dan lucu. 3 juta views, 1 juta komentar.

“Congratulations, nuna! Semoga Yeonhee segera menyusul.” – Lee Hyukjae, adikmu yang paling tampan.

“Congratulation, eonni! Semoga keponakanku tumbuh menjadi anak laki-laki yang baik. Bibi mencintaimu, Kim In Guk sayang. Yaaa, jangan banyak berharap, Lee Hyukjae! Sampai detik ini pun bahkan kau belum menyentuhku.” – Park Yeonhee.

“Wawawa. Ada apa ini? Kenapa pengantin baru kita belum melakukan apa-apa? Kikikikik. Selamat Sora-ssi! Aku mengirimkan seprai untuk anakmu. Semoga ia suka.” – Kangin, the most handsome man in the world.

“Yaaaa Lee Hyukjae-ssi, benarkah kau belum menyentuh Yeonhee? Ini sudah hari keberapa? Yaa yaa yaa! Chukkae, Sora-ssi!” – Lee Donghae.

“LEE HYUKJAE!! Apa kau gila?? Aish. Aku tidak tahu harus bicara apa denganmu. Hamili Yeonhee sekarang juga! Aku ingin punya keponakan!” – Lee Sora.

“Yaaaa!! Kenapa pada membicarakanku? Yeonhee-ya… Kau, aishhh.. Sudah, berhenti membicarakanku.” – Lee Hyukjae.

Aku menatap penyebab kegemparan di TopClassSocialite yang sedang berdiri di hadapanku dengan santai. “Kenapa?” Tanyanya sama santainya dengan sikapnya begitu menyadari aku melihatnya.

“Aku ingin punya anak,” jawabku to the point.

“Lalu?”

Tanpa banyak berkata-kata, aku menarik Yeonhee ke dalam pelukanku, melumat bibirnya dengan bibirku dan membiarkan insting pria-ku berjalan sebagaimana mestinya jika ingin memiliki seorang anak.

“Aku ingin seorang anak perempuan baru laki-laki,” bisikku.

Yeonhee tertawa kecil. “Terserah padamu Lee Hyukjae. Yang penting ia sehat,” sahut Yeonhee.

-the end-

Posted from WordPress for BlackBerry.