Sambil menanti Bittersweet bagian Simun couple selesai terangkai di otakku, aku iseng-iseng membuat Bittersweet Marriage – Side Story. Gak usah mengharap cerita yang bagus. Ini cuman iseng-iseng kok. Dibuat cuman setengah jam. Hihihi
Enjoy!

Bittersweet Marriage – Side Story

Cho Kihyun’s POV

“Uum, wangi eomma sangat harum. Membuatku betah lama-lama di pelukannya.” Pujian ini pasti hanya terdengar sebagai rengekan oek oek buat eomma.

“Kihyun-ah, kenapa kau menangis sayang? Kau lapar?” Tanya eomma dengan lembut sambil mengelus-elus kepalaku.“Tidak tapi boleh juga.”

“Ayo kita makan dulu,” ucap eomma sambil menggendongku, mendekapku dalam pelukannya. Terasa sangat nyaman dan hangat. Aku menaruh mulutku di bahu eomma, berusaha mengigit-gigit bajunya tapi yang ada baju itu basah terkena air liurku.

“Eomma.” Yang pasti lagi-lagi hanya terdengar oek oek buat eomma.

“Sabar ya sayang. Sebentar lagi makananmu siap,” kata eomma. Ia lalu memanggil Minjung ahjumma untuk membantunya menyiapkan makanan untukku.

Hhh… Percuma bicara dengan eomma. Apapun yang aku katakan pasti hanya akan terdengar oek oek buatnya dan reaksinya pasti hanya ‘kau lapar, sayang?’, ‘mau ke pup ya?’, ‘panas?’. Hhh… Dasar eomma bodoh.

Minjung ahjumma membawa makananku kepada eomma yang lalu menyuapiku. “Enak,” ucapku.

“Makan yang banyak ya sayang, biar cepat besar,” kata eomma.

Aku melahap makananku tapi tidak bisa habis karena sudah kenyang. “Eomma, kenyaaaang.”

“Humm kenapa sayang? Enak? Kalo gitu, makan lagi ya. Ayo, buka mulutnya. Aaaaa,” sahut eomma tidak nyambung. Ia justru menyodorkan lagi makanan ke mulutku. Aku pun memalingkan wajahku.

Kebodohan eomma ini membuatku 2x lebih kreatif dari bayi-bayi pada normalnya karena aku harus mencari cara untuk membuatnya mengerti.

“Kau sudah kenyang? Baiklah. Minum dulu. Baru kita kembali ke kamar. Sebentar lagi, appa juga pulang. Kau pasti merindukannya kan?”

“Andweee. Appa tidak usah pulang. Jika appa pulang, ia pasti akan mengambil eomma dariku. Tidak, tidak usah. Appa di kantor saja.”

“Cup cup cup. Sabar ya sayang. Lihat, appa sudah datang. Cup cup cup.”

Aku menatap ke pintu kamar yang terbuka tidak berapa lama kemudian. Appa masuk sambil tersenyum cerah. Tangannya mengulur padaku. Aku pasti akan berpindah padanya. “Andwee. Eomma.” Tanganku mengulur pada eomma tapi appa tetap memaksaku masuk ke dalam pelukannya.

“Eomma sudah capek menggendongmu seharian, sayang. Kau tidak mau besok ia tidak bisa menggendongmu kan?” Ujar appa. Aku berhenti menangis dan berdiam di pelukan appa. Satu-satunya hal yang aku sukai dari appa adalah dia sangat pintar seperti diriku. Ia cepat tanggap denganku.

“Maaf aku sangat sibuk tadi hingga tidak bisa menjawab teleponmu,” kata appa kepada eomma.

Eomma tersenyum lembut penuh cinta, senyuman yang selalu ia berikan padaku. “Gwencana. Pekerjaanmu lancar hari ini?” Sahut eomma.

Appa menganggukkan kepalanya. Aku melihat kedua orang tuaku dan bersyukur memiliki mereka. Appa kemudian berpaling kepadaku. “Appa merindukanmu, sayang,” ucapnya kemudian menciumiku.

Aku bersyukur memiliki Appa tapi bukan berarti Appa bisa menciumi ku seperti ini. “Eommaaaa, selamatkan aku.”

Eomma tertawa melihat kami berdua. “Apa yang lucu, eomma? Berhentilah tertawa.”

“Kalian berdua sangat mirip. Aku serasa memiliki dua anak sekaligus dua suami,” ujar eomma menjelaskan mengapa iya tertawa.

“Eommaaaaa.”

Appa lalu menidurkanku di box bayiku. “Selamat tidur, sayang. Tidur yang nyenyak,” ucapnya setelah menciumku lagi.

Hari memang sudah malam tapi aku belum ingin tidur. Ini pasti hanya akal-akalan appa saja supaya bisa dekat-dekat eomma. Tuh kan, benar apa kataku. Lepas dariku, ia langsung memeluk eomma dan menciumnya sekilas.

“Mandi dulu lah, Kyu. Setelah itu baru istirahat,” kata eomma.

Appa tidak punya pilihan selain menuruti perkataan eomma. Aku jadi bisa mendapatkan eommaku kembali.

“Eommaaaa.”

Eomma mendatangiku dan menggendongku. “Kau tidak bisa tidur ya, sayang. Cup cup cup. Tidur ya,” ucap eomma sambil menepuk-nepuk pelan punggungku.

Perlahan, aku mulai mengantuk. Mataku pun mulai terpejam. Aku bahkan tidak sadar jika eomma menidurkanku di box bayi-ku lagi.

Tengah malam, aku terbangun dan merasakan popokku basah. “Eommmaaaaa…” Aku menangis sekencang-kencangnya meminta ganti.

Tak lama Appa datang lalu menggendongku. “Jangan menangis lagi, nanti eomma-mu bangun, sayang. Kasihan ia sudah sangat lelah. Ada apa? Pipis ya?” Kata Appa sambil membuka popokku.

Appa lalu mencopotnya. “Sebentar. Appa ganti dengan yang baru ya,” ujar Appa. Ia lalu mengambil popok baru dari lemariku.

“Kihyun-ah. Apa kau mencintai eomma?” Tanya Appa tiba-tiba.

“Tentu saja. Bagaimana mungkin tidak? Appa jangan ikut-ikutan bodoh seperti eomma deh!”

“Appa sangat mencintainya juga dirimu. Bagi Appa, kalian adalah hidup Appa. Sehari berpisah dari kalian saja rasanya seperti sebulan. Rindunya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Melihatmu menangis jauh lebih baik daripada tidak melihatmu sama sekali. Appa berharap kau cepat besar jadi bisa membantu Appa untuk menjaga eomma. Appa tahu kau suka sebal jika Appa merebut perhatian eomma darimu tapi Appa senang. Itu artinya kau mencintai eomma dan melindungi dia lebih dari Appa melindungi kalian. Aku berharap padamu, Kihyun-ah,” ucap appa panjang lebar.

Aku terpaku menatapnya. Tidak aku sangka ternyata Appa begitu mencintaiku dan eomma. Aku pikir dia hanya mencintai pekerjaannya saja. “Appa. Aku juga mencintaimu.”

-end-

@gyumontic

Posted from WordPress for BlackBerry.