Title  : Remember You (Oneshoot)
Author : Rialchohee
Rating : PG -16
Length : Oneshoot
Genre  : Romance
Cast   :
–          Lee Donghae
–          Cho Hara
Support Cast :
–          Lee Sungmin
–          Shin Yoonji

*****

Hara’s POV

Aku mengigit bibir bawahku saat melihat seseorang yang berada dalam jarak pandangku tertawa ringan bersama seorang gadis. Menahan rasa sakit yang tiba-tiba muncul dari dalam dadaku, menelusuri rongga dadaku, berlanjut ke tenggorokanku, berputar di otakku dan berlabuh dikedua mataku membentuk sebuah genangan bening di kelopak mataku.

“ Benarkah sebahagia itu … “ ucapku pada diriku sendiri.

Dia. Seseorang yang sekarang ini sedang asik berbincang santai dengan seorang perempuan. Seseorang yang selalu menampilkan senyumnya kepada semua orang, ah ani … sebagian orang karena aku tidak masuk kedalamnya. Seseorang yang selalu bersikap ramah dan sopan, dan tentunya kepada semua orang terkecuali aku. Seseorang yang dapat membuat jantungku bekerja berantakan, kadang berdegup kencang kadang bisa berhenti total. Seseorang yang dapat membuat senyumku hilang dalam seperkian detik dan berganti dengan tetesan di kedua mataku. Seseorang yang dengan tidak sopanya telah membawa sebagian hidupku tanpa mau mengembalikannya, bahkan mempertanggung jawabkannya.

Dia … adalah …. Lee Donghae.

Author POV.

Gadis itu, gadis berambut panjang itu tetap berdiri dengan kaku di sebrang jalan. Memperhatikan dengan secara gamblang apa yang sedang dilihatnya. Matanya terpaku jelas dengan apa yang dilihat, tangannya menutup rapat mulutnya mengindari keluarnya teriakan yang mungkin akan membuat perhatian semua orang tertuju padanya. Bagaimana tidak, pria yang menjadi alasannya untuk bertahan hidup sampai sekarang, pria yang menjadi sumber oksigennya itu sekarang mempunyai kehidupan lain. Kehidupan tanpa dirinya di dalamnya.

Donghae’s POV.

“ Benarkah itu oppa ? “ tanya Sunye kepadaku dengan antusias.

“ Hmm, ne … “ aku mengangguk.

“ Bagaimana itu bisa terjadi pada pria cool sepertimu oppa? Menjatuhkan nilai jualmu kau tahu .. hahahha … “

“ Aissh, berhentilah tertawa Sunye-ah, kau membuatku malu .. “

“ Yak! Kan kau sendiri yang menceritakan masa kecil konyolmu itu, kenapa aku yang disalahkan ? siapa suruh ceritanya sangat menggelikan … “ ucapnya lagi masih sambil menahan tawanya.

Aku tersenyum sambil menggaruk tengkuk ku yang memang tidak gatal. Tak sengaja ekor mataku melihat wanita aneh itu lagi. Yeah .. wanita aneh, kau tahu kenapa aku menyebutnya seperti itu ? Karna sudah seminggu ini dia selalu mengikutiku, berbicara padaku hal-hal yang tidak masuk akal, dia berbicara seolah-olah aku telah mengenalnya lama, perhatian padaku yang malah membuatku jijik padanya, padahal aku sama sekali tidak mengenalnya.Haah, kenapa dia selalu ada dalam jarak pandangku?

“ Sunye-ah … lebih baik kita masuk ke dalam saja, jam makan siang sudah habis sepertinya “ ajakku tanpa melepaskan pandanganku sedikitpun dari wanita itu.

Author POV.

“ Cho Hara !! “ teriak Yoonji gusar melihat sahabat satu-satunya ini masih saja melamun dengan muka lengket penuh bekas air mata. Untung wajahnya cantik, kalau tidak … orang-orang sudah mengiranya setan di siang hari.

“ Mmmm … “ balasan Hara.

“ Ck! “ Yoonji terlihat frustasi menghadapi gadis yang lebih maha dahsyat frustasinya ini. Dia berdiri dari duduknya, dan menghampiri Hara yang sedang duduk di depan jendela kamarnya.

“ Hara-ya … sudah seminggu ini kau seperti ini. Apakah tidak lelah sedikitpun, hah ?”

Hara menggeleng.

“ Berhentilah …. “

“ Tidak akan … “

“ Kau, mau sampai kapan seperti ini … “

“ Sampai dia mengingatku, ah ani … setidaknya sampai dia melihatku. Itu saja. Itu sudah cukup membuatku bernafas secara teratur Yoonji-ah … “

“ Ra-ya .. “

Hara menoleh “ Aku mohon Yoonji-ah, biarkan aku memperjuangkannya .. sebentar saja, kalau memang sudah tidak bisa … “ dia diam, berat mengatakannya “ aku akan melupakannya … “

Flashback On

“ Yak! Dasar wanita jorok, makan saja berantakan … “ donghae membersihkan sisa makanan yang menempel di mulut Hara dengan tangannya.

Hara hanya terdiam, kaget. Yah … walaupun hal ini sudah sering Donghae lakukan tapi tetap saja apapun yang berhubungan dengan Donghae selalu bisa membuatnya lupa akan pijakan.

“ Gomawo … “ ucap Hara dengan muka memerah.

“ Hahahaa … yak, Cho Hara ! kenapa mukamu memerah seperti itu, hah ? “

“ Aiishh, diam kau Lee Donghae !! “

“ Mwo ? Apa kau bilang tadi ? Aku ini lebih tua darimu tiga tahun bocah, panggil aku Oppa “

“ Shireo ! Mimpi saja kau Lee Donghae pendek “ ketus Hara yang langsung meninggalkan Donghae dan keluar dari Café.

“ Yak! CHO HARA !! “ teriak Donghae, lalu buru-buru meninggalkan beberepa lembar uang untuk membayar makan siang mereka dan berlari mengejar sahabatnya itu.

Grep. Tangan kiri Donghae sudah menjangkau pundak Hara dengan mudahnya, dan mempersempit jarak diantara keduanya.

“ Aish, Hara-ya … kenapa kau mengambek hah ? aku kan hanya becanda saja .. lagipula mukamu tadi benar-benar merah, aku tidak bohong.” ujar Donghae masih merangkul Hara.

Hara mengembungkan pipinya, “ Yak! Donghae pendek ! jangan dibahas lagi .. “

PLAK! Satu pukulan mendarat dengan mulus dikepala Hara.

“ Panggil aku oppa, bocah !! kalau tidak .. “

“ Kalau tidak apa, hah !!!” sela Hara sewot.

Donghae menolehkan kepalanya hingga dekat dengan wajah Hara. Memperkecil jarak wajahnya dengan wajah Hara. Membuatnya dapat dengan mudah merasakan hembusan nafas wanita disampingnya itu.

“ Aku akan menciummu … “

PLAK !! PLAK !!

“AWW !! “

“ DASAR YADONG !!! “ Hara pergi meninggalkan Donghae yang masih memegangi kepalanya akibat pukulan beruntun itu.

“ Yak!! Kau ini wanita apa pria sih,hah !!! “ teriak Donghae dari belakang.

 

Flashback Off.

Author POV.

Sungmin masih berkutat dengan berkas-berkas kantornya, sesekali dia melirik wanita didepannya itu yang masih saja terlihat berfikir.

“ Aissh, jagi … sudah jangan difikirkan terus, lama-lama kau yang hilang ingatan .. “ ucap Sungmin setelah bosan melihat wanitanya itu berfikir keras.

“ Oppa, apa kau tidak bisa membantu Hara ? Kau kan sepupunya Donghae oppa … ayolah oppa … bantu Haraaaa … “ rajuk Yoonji dengan puppy eyes-nya.

Sungmin menghela nafas panjang, ini sudah yang kesekian kalinya Yoonji meminta hal tersebut kepadanya. Membantu Hara dan Donghae.

“ Yoonji-ah … dengarkan aku, kau tahu sendirikan bagaimana keadaan Donghae sekarang ? Dia masih dalam masa pemulihan jagiya .. bahkan dokter bilang jangan terlalu memaksanya atau masa pemulihannya akan bertambah lama.”

Yoonji diam, dia tahu. Dia sudah tahu tentang semuanya, tapi melihat sahabatnya seperti itu dia jadi memikirkan banyak cara agar Donghae bisa kembali seperti semula.

“ Aku tahu, tapi apa sikap Donghae Oppa harus seperti itu ? “

Sungmin berjalan mendekat Yoonji, menangkup wajah Yoonji “ Dengar, aku sangat yakin akan masa depan mereka berdua. Jadi tenanglah sayang … “ ucap Sungmin menenangkan.

“ Cih, kau berpindah profesi menjadi cenayang sekarang! “

“ Hahaha, ayo makan siang … “

Donghae’s POV.

Hara masih bertahan dengan posisinya.

“ Tidak bisakah kau minggir, hah ? kau menghalangi jalanku nona … “ sinis Donghae tepat berada di depan Hara yang saat ini sedang memblokir jalan Donghae untuk keluar dari ruangannya.

“ Tidak bisakah kau mengingatku oppa ? “ kali ini suara Hara melunak, lelah dengan semua usahanya.

“ Dengar nona, aku sama sekali tidak mengenalmu. Dan kau sama sekali tidak ada dalam masa laluku maupun masa depanku !! “

Hara terlonjak kaget, lagi-lagi ucapan itu yang diterimanya. Sebuah penolakan. “ Tidak  bisakah kau memanggil namaku oppa ? Cho Hara, namaku Cho Hara oppa … bukan nona “ ujar Hara frustasi.

Donghae menatap atap, jengah dengan wanita dihadapannya itu.

“ Minggir !! “ perintah Donghae sambil mendorong Hara ke kanan, mengenyahkannya dari depan pintu. Hingga Hara terdorong beberapa langkah. Dan seketika itu juga Donghae pergi.

“ Oppa !! Oppa … “ teriak Hara frustasi.

Hara’s POV.

Aku berjalan menyusuri koridor-koridor kantor yang menghubungkan antara ruanganku dan ruangan Donghae. Ah, aku lupa memperkenalkan diri. Annyeong, Cho Hara imnida. Aku adalah seorang sekretaris di Lee Corporation, lebih tepatnya sekretaris Sungmin Oppa yang tidak lain adalah tunangan dari sahabatku sendiri Shin Yoonji.

Hari ini adalah untuk yang kesekian kalinya aku membawakan bekal makan siang untuk Donghae. Sejak dia mulai bekerja lagi dan sejak itulah aku mengiriminya makan siang, karena aku tahu dia itu tipe yang workaholic. Dia tidak akan meninggalkan meja kerjanya untuk makan siang kalau tidak ada yang mengingatkannya, dan untuk itulah sekarang aku berada.

Sesekali aku melihat jam tanganku, lima menit lagi akan tiba waktunya makan siang aku harus cepat-cepat menuju ruanganya.

“ Annyeong, Rin-ah … apa Donghae masih didalam ? “ tanyaku kepada sekretaris Donghae yang terlihat sedang sibuk dengan laptopnya.

Yorin menengadah untuk melihatku, “ Ah, annyeong Hara. Ne, dia masih didalam. Kau mau memberinya makan siang lagi ? “ tanyanya seraya melirik barang bawaanku.

Aku memamerkan senyum terbaikku, “ Boleh yaaaa … “ bujukku.

“ Haahh, percuma aku melarangmu. Toh kau akan tetap masuk ke dalam kan ? “

“ Hehehee, jeongmal gomawoyo … “

“ Heii, kalo bos ku itu bertanya ap … “

Belum selesai dia bertanya, aku sudah menyelanya “ Aku akan bilang, kalau kau sedang sibuk menerima telepon dan aku langsung menyerobot masuk … arra “.

“ Kau selalu mempunyai beribu alasan Hara-ya … hahaha “ ujarnya dengan terkekeh pelan.

“ Tentunyaa … aku masuk dulu yaa … “

Author POV.

Tookk …. Tokkk …

“ Masuk .. “ ujar Donghae tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas itu.

Hara masuk dengan rasa gugup yang menggila dan beribu perkiraan-perkiraan apa yang akan Donghae lakukan lagi untuknya, menerima bekalnya kah atau tidak menggubrisnya sama sekali seperti hari-hari kemarin. Padahal baru kemarin dia dibentak oleh Donghae, tapi entah mengapa semua kejadian kemarin meluap begitu saja saat dia mengingat tujuan utamanya, agar Donghae mengingatnya kembali.

“ Donghae-a … “ panggil Hara yang kini sudah berada di depan meja kerja Donghae.

Donghae mengangkat kepalanya malas setelah tahu siapa yang baru saja masuk ke dalam ruagannya sekaligus mengutuk dirinya sendiri, kenapa dengan mudahnya wanita itu dapat masuk ke dalam ruangannya sedangkan dia bisa saja dengan mudah juga melarangnya masuk.

Hara tersenyum kaku saat melihat tatapan Donghae terhadapnya terlalu menajam. Dan terlalu … menyakitkan, seolah-olah kehadirannya sangat tidak diharapkan.

“ MAU APALAGI KAU, HAH !!! “ bentak Donghae.

“ Akuu .. aa .. akuu .. hanyaa … “ ucap Hara terbata karena bentakan Donghae tadi.

Donghae berdiri dan berjalan menuju Hara, sedangkan Hara sendiri menunduk takut untuk sekedar melihat Donghae.

“ Dengar, aku sama sekali tidak perduli denganmu ataupun cerita bodohmu tentangku dan dirimu, aku sama sekali tidak tertarik untuk mengenal lebih jauh lagi tentangmu. Kau … sangat menyedihkan nona … “

Hara mengangkat kepalanya, kaget mendengar apa yang baru saja Donghae katakan. Perlahan rasa kagetnya itu berubah menjadi senyuman sinis.

“ Benarkah aku semenyedihkan itu ? “ tanya Hara dengan suara seraknya.

GREP !! Donghae mengambil secara terpaksa bekal makanan yang digenggam Hara. Lalu melemparkan begitu saja hingga semua yang ada didalamnya berhamburan keluar.

“ Ne !! Kau benar-benar menyedihkan nona .. berhentilah mengejar-ngejarku dan memperhatikanku, dan jangan menganggapku sebagai Donghae-mu !! Mungkin kau salah orang, jadi mulai sekarang BERHENTILAH BERKELIARAN DI KEHIDUPANKU !!!”

Hara mundur beberapa langkah melihat kejadian barusan, Donghae-nya tega melalukan hal itu kepadanya. Badannya bergetar hebat, menahan isak tangis yang bisa saja keluar tanpa dikomando.

Kreekkk … pintu ruangan Doghae terbuka, dan muncullah Sunye dari balik pintu itu. Gadis cantik nan seksi yang memang sudah tergila-gila setengah mati oleh pria dihadapannya itu. Gadis itu menatap kejadian yang ada didepan matanya sebagai sebuah surge untuknya.

“ Oppa .. ayo kita makan siang diluar, café depan kantor ada menu baru loh … “ ujar Sunye dengan manjanya tanpa perduli dengan kehadiran seseorang diantara mereka.

Donghae melirik sebentar kea rah Hara yang masih tetap bergeming di tempatnya, lalu pergi melewati Hara dan menuju Sunye. Hara masih shock dengan apa yang terjadi sampai-sampai dia tidak sadar akan kehadiran Sunye dan kepergian Donghae.

Sunye tersenyum sinis saat Donghae melewatinya dan berjalan keluar, bukannya ikut keluar Sunye malah meneruskan masuk ke dalam hingga berada di belakang Hara.

“ Kau lihat, dia sama sekali tidak menginginkanmu. Bahkan untuk mengingatmu saja tidak. Hah, kau lupa dengan apa yang aku katakana dulu ? Aku akan selalu mendapatkan apa yang kau miliki, termasuk Donghae-mu itu … sudah berpindah tangan ke tanganku, dan kau tahu ? aku akan membuatnya menjadi milikku seutuhnya dan membuat kehidupan baru untuknya. Kehidupan dimana hanya ada aku dan dia, tidak denganmu. “ ucapnya sinis tepat ditelinga Hara, lalu pergi meninggalkan Hara yang masih tetap mematung disana.

Ketika pintu ruangan Donghae tertutup, seketika itu juga tubuh Hara meringsut ke bawah. Sadar tengah apa yang terjadi pada dirinya. Air matanya sudah membanjiri wajah cantiknya itu, dadanya bergemuruh, dan hatinya serasa tercabik-cabik ribuan pedang. Sakit. Itulah yang dirasakannya sekarang.

Donghae’s POV.

“ Haaahhh …. “ ku lemparkan tas kerjaku semauku, entah mendarat kemana tas kerjaku itu, melepas jasku, menggulung kemejaku sampai siku dan merenggangkan dasiku. Membuka pintu antara kamar dan balkonku, duduk menghadap pemandangan malam kota Seoul.

Entahlah, rasanya begitu aneh setelah kejadian tadi siang. Kejadian saat aku membentak dan mengusirnya, serasa aku juga ikut merasakan sakitnya yang ia rasakan. Hanya dengan melihat genangan air matanya saja sudah membuatku sakit dan ingin sekali menyekanya.

Aku tak tahu apa yang terjadi padaku, dan aku juga tidak tahu siapa dia sebenarnya. Yang aku tahu, dia adalah orang pertama yang kulihat sewaktu aku terbangun dari tidur lamaku.

“ Haah, donghae lupakan !! itu tidak penting sama sekali … “ ujarku.

Ddrrtt … Ddrrtt …

Ponselku bergetar, ternyata ada pesan masuk. Dengan malas aku mengambilnya dan membuka ponsel layar sentuhku tanpa minat.

Oppa, sudah jam berapa ini ?

Jangan bilang kau sedang duduk di balkon kamarmu …

Sudah jam berapa ini ? makan dan minum obatlah.

Dan jangan tidur malam-malam, jaga kesehatanmu.

Dan jagalah dirimu baik-baik oppa ..

 

Dia ini, entah mengapa dia selalu tahu apa saja kebiasaanku. Dia, selalu dia yang mengingatkanku untuk hal ini dan hal itu. Siapa lagi kalau bukan wanita itu. Cho Hara. Walaupun nomornya tidak aku simpan dalam ponselku akan tetapi entah mengapa aku seperti hafal dengan angka-angka tersebut.

Hara’s POV.

Aku tersenyum saat mengirimkan pesan terakhir untuknya. Ya, pesan terakhir untuknya. Masih teringat di memoriku saat dia menyuruhku untuk pergi dari kehidupannya. Ya tuhan, bagaimana bisa kau bertahan sedangkan orang satu-satunya yang kau jadikan alasan untuk bertahan hidup malah menginginkanmu pergi.

“ Oppa, kau tahu kan dari dulu aku selalu melakukan apa yang kau suruh. Kau bilang jangan memakai rok yang pendeknya diatas lutut saat kau bekerja, aku menurutinya. Kau bilang jangan memperlihatkan tengkukku saat pergi kemanapun selain bersama dirimu, maka aku selalu menggerai rambutku agar tidak .ada yang boleh melihat selain kau. Dan sekarang kau menyuruhku untuk pergi, maka aku akan menurutinya juga … “

Tak terasa air mata itu mengalir dengan sendirinya. Melupakanmu sama saja dengan bunuh diri bagiku. Penyesalan. Itu yang kurasakan sekarang, kenapa sewaktu dia masih menjadi Donghae-ku tidak pernah aku memanfaatkan waktu sebanyak mungkin untuk mengenangnya. Kenapa tidak ku utarakan saja semua perasaan ini, meskipun dia menolaknya setidaknya perasaan ini bisa bebas berlari ke tempatnya.

“ Donghae-ya bagaimana bisa kau menyuruhku untuk menghilang dari kehidupanmu, kalau kau adalah sumber kehidupanku … “

Flashback on.

“ Aku mencintainya Yoorin-ah … sangat mencintainya, bukan sebagai sahabat melainkan sebagai seorang wanita dan pria “ ujarku saat kami sedang makan siang di sebuah café yang tidak jauh dari kantornya.

Yoorin melihatku tersenyum, tapi aku melihatnya heran.

“ Kenapa kau tersenyum ? “

“ Hara-ya … kau tahu, kalau ada pasangan terbodoh di dunia itu pasti kalian berdua “

“ Mwo ? apa maksudmu Yoorin-ah ? “

Yoorin berdecak sebal, sambil sekali-kali mengaduk minumannya. “ Kau tahu, Donghae juga sedang suka dengan seseorang. Seorang wanita bodoh tepatnya … “

“ MWOYA !! “ mataku terbelalak mendengar pernyataan Yoorin. Donghae sedang menyukai seseorang. Kau tau rasanya ingin sekali aku menenggelamkan diri ke dalam lautan. Bagaimana mungkin kau baru saja menceritakan kisah cintamu kepada seseorang, dan saat itu juga kau sudah tau apa akhir dari cerita cintamu itu.

“ Iya, gadis bodoh yang bahkan tidak tahu sama sekali kalau Donghae menyukainya. Padahal mereka sudah seperti lintah, yang selalu menempel kemanapun pergi. Dan aku yakin, kalau di dunia ini tidak ada perbedaan antara toilet wanita dan pria, maka akan ku pastikan bahwa mereka akan selalu bersama meskipun itu di toilet “

“ Benarkah ? sedekat itukah mereka berdua ? bahkan, aku tidak tahu kalau dia dekat dengan wanita lain selainku, kau dan mungkin ahjumma penjaga rumahnya … “

PLETAKK !!!

Satu jitakan berhasil mendarat mulus dikepalaku.

“ Yak !! Yoorin-ah kenapa kau memukul kepalaku hah !! “

“ Aigoo, kau tahu Hara-ya … aku sangat kasihan melihat Donghae mencintai wanita BODOH SEPERTIMU !!! “

Lagi-lagi mataku terbelalak mendengar ucapannya, kali ini bukan hanya mataku saja tetapi mulutku juga. “ MWO ?? “

“ Cih, kalian berdua memang sama-sama bodoh “

Flaashback end.

Author POV.

Donghae masih sibuk meneliti laporan-laporan yang masuk, saat ini perusahaan Lee Corporation memang sedang ingin membuka cabang di Taiwan maka pekerjaan yang harus dia urusi pun sangat menumpuk sampai-sampai dia juga melupakan jam makan siang yang sudah berlalu satu jam yang lalu.

“ Haaaah … “ sejenak Donghae berhenti dan meregangkan otot-otot tangannya. Merasa lelah karna sudah dua minggu ini ia sibuk dengan perusahaannya. Donghae melirik jam tangannya.

“ MWOYA !!! “ kagetnya melihat jarum jam yang sedang berlabuh di angka dua itu “ Aissh, ini sudah lewat dari jam makan siang “ ucapnya frustasi sambil mengacak-ngacak rambutnya itu.

“ Kenapa dia tidak mengingatkanku sih … “ lanjutnya lagi sambil mencari-cari ponselnya. Gerakannya seketika berhenti setelah ia menyadari sesuatu. Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Donghae terdiam, menelengkupkan wajahnya di kedua tangannya.

“ Kau merindukannya Donghae .. “ tiba-tiba suara Sungmin muncul.

Donghae mendongak menatap kedatangan Sungmin yang secara tiba-tiba itu, “ Apa yang kau katakan Sungmin-ah ? Siapa yang kau bicarakan ? “ .

Sungmin duduk di hadapan Donghae, “ Aku tahu Donghae-ya siapa yang kau maksud, hahaha “ balasnya sambil terkekeh geli “ Kajja, aku tahu kau belum makan siang kan .. “ ajak Sungmin dan berlalu meninggalkan Donghae.

****

“ Hara-ya, kapan kau akan pulang ? tidakkah kau merindukan sahabatmu ini .. “ ucap Yoonji di ponselnya sambil sibuk membolak-balikkan majalahnya tanpa minat.

“ Jeongmalyo ? aigoo, kau tega sekali pada sahabatmu ini … ah, arra .. aku tahu, baiklah. Bye “ Yoonji mengakhiri percakapannya dengan Hara di ponsel.

Sahabatnya itu sudah dua minggu ini menghilang dari peredaran kehidupan di Seoul. Bahkan perginya pun Yoonji tidak tahu kapan, tiba-tiba dia sudah menemukan apartemen sahabatnya itu dalam keadaan kosong.

“ Kapan kau akan pulang Hara-ya … “ Yoonji berbicara sendiri.

“ Masih tidak ada kabar juga, hm ? “ tanya Sungmin tiba-tiba masuk ke dalam kamar Yoonji.

Yoonji yang tersentak dengan kedatangan Sungmin yang tiba-tiba langsung terduduk dari tidurnya. “ Aisshh, oppa … kau mengagetkanku saja !! “ kesalnya.

Kasur Yoonji terbebani oleh satu tubuh lagi, Sungmin sudah berada disamping Yoonji dan memeluk gadis itu, hangat.

“ Hahahaa, mianhae … lagipula kau itu terlalu ceroboh Nyonya Lee, kenapa tidak mengunci pintu rumahmu hah ? Kau mau tiba-tiba ada orang jahat yang masuk secara diam-diam dan melukaimu ? “ tanyanya dengan tatapan penuh kea rah Yoonji.

“ Cih, orang jahat yang tiba-tiba masuk ke dalam rumahku itu ya kau oppa … “ balas Yoonji.

“ Jadi, bagaimana kabar sahabat liarmu itu jagi ? “

“ Mollayo oppa, dia sama sekali tidak memberitahuku dimana dia sekarang. Eh iya, dia minta cuti berapa hari padamu ? “

“ Mmm, dia meminta cuti dua bulan .. “ piker Sungmin.

PLAKK !!

“ AWw ! Yak, Lee Yoonji !! kenapa kau memukulku ? “ protes Sungmin yang langsung melepaskan pelukannya dan mengelus-ngelus kepalanya itu.

“ Siapa suruh kau memberikan Hara ijin untuk cuti, oppa … “

“ Ani, aku hanya ingin memberikan pelajaran bagi Donghae, dan hiburan untuk Hara. Kau tau jagi, Donghae sudah mulai merindukannya … “

Donghae’s POV.

Hal yang aku lakukan sejak sejam yang lalu hanya menatap ponselku. Hanya itu yang aku lakukan, entah mengapa. Tiba-tiba saja otak dan tubuhku tidak bekerjasama dengan baik. Berharap ponsel ini akan membawakan sebuah pesan singkat untukku. Hanya untuk sekedar memberiku kelegaan.

Sudah dua minggu. Ya, sudah dua minggu wanita itu tidak pernah lagi berada dalam jarak pandangku. Ah, ani … Hara maksudku. Cho Hara. Sejujurnya, aku sangat ingat namanya itu saat pertama kali ku dengar orang memanggilnya dan saat itu juga nama itu seperti telah terpatri didalam otakku. Tapi, egoku mengalahkan segalanya. Aku tidak pernah memanggilnya dengan namanya, itu semua karena egoku.

Entahlah aku juga tidak tahu apa yang terjadi denganku setelah kecelakaan itu, seperti melupakan seseorang yang mengisi seluruh hidupku. Serasa sebagian ragaku juga ikut hilang dengan tidak adanya orang itu. Dan begitu Hara datang dengan segala penjelasannya tentang masa laluku dan dia, ruang kosong itu bagaikan telah terisi penuh.

“ Hara-ya … siapa kau sebenarnya ? Kenapa tidak ada satu orang pun yang menjelaskannya kepadaku … “ ujarku lirih.

Hara’s POV.

Flashback On.

Aku melihatnya, aku melihatnya memeluk seorang wanita. Kau membohongiku oppa, kau bilang kau sedang sibuk dengan clienmu. Tapi apa yang akau dapatkan sekarang ? Kau bahkan bersenang-senang dengan wanita lain di hari ulang tahunku.

Aku terus berlari meninggalkan Café dimana aku menemukan Donghae oppa berpelukkan dengan seorang wanita cantik. Aku terus berlari sambil sesekali menyeka air mataku, bahkan omelan orang-orang yang telah kutabrak pun sama sekali tidak ku pedulikan. Aku terus berlari sampai tiba-tiba lenganku tertarik oleh seseorang.

“ HARA, AWASSSSS !!!!! “ teriak Donghae sambil menarik lengan Hara yang terus berlari mengindarinya sampai-sampai ia tak sadar kalau lampu sudah menunjukkan tanda hijau dan beberapa mobil dengan kecepatan cukup kencang melaju ke arahnya.

Untung bagi Hara terselamatkan, tapi sial bagi Donghae. Tubuhnya terhempas setelah memutarkan posisinya dengan Hara.

BRUUKK !! Seketika itu juga mobil menghempaskan tubuh Donghae, jauh beberapa meter dari tempat berhentinya mobil. Hara shock melihat kejadian yang cepat itu, kejadian yang membuatnya kehilangan nafas, Donghae-nya … Lee Donghae-nya sekarang terkapar di aspal jalan dengan sekujur tubuh penuh dengan darah. Dan itu semua karenanya …

“ DONGHAE OPPA !!! “

Flashback Off.

“ Mianhae oppa, mianhae … “ ujarku disela-sela isak tangisku.

Author POV.

Sudah sebulan Hara hilang dari jarak pandang Donghae, dan berturut-turut juga keadaan Donghae semakin menurun. Penampilannya berantakan, wajahnya pucat dan sepertinya badannya terlihat lebih kurus. Seperti orang yang tidak terurus sama sekali.

“ Donghae-ya … “ panggil Sungmin melihat Donghae yang sedang menunggu lift.

Donghae hanya menoleh kea rah Sungmin.

“ Apa kau jatuh miskin sekarang ? “ tanya Sungmin polos.

PLAK !!

“ Yak !! Kau, tidak sopa sekali padaku “ teriak Sungmin, atas pukulan Donghae.

“ Kalau aku jatuh miskin, otomatis kau juga pasti akan jatuh miskin Lee Sungmin !! “ jawabnya seraya memasuki lift bersama Sungmin.

Sungmin terkekeh mendengar jawaban Donghae, “ Kau kenapa sepupu ? Kehilangan raga kah?”

Donghae hanya melirik sinis. Ia tahu maksud arah pembicaraan Sungmin kemana.

“ Aigoo, carilah dia Donghae-ya … kau sudah kehilangan memorimu tentangnya, kau masih mau lagi kehilangan raganya ? “ sindir Sungmin sambil berjalan keluar dari lift menuju ruangannya.

Donghae masih terdiam di lift, memikirkan apa yang baru saja sepupu kesayangannya itu berbicara. Keluar setelah lift sudah berhenti di lantai 13, tempat ruangannya.

“ Yorin-ah, batalkan semua jadwalku hari ini. Dan buatkan janji dengan Park Uisanim. Aku akan menemuinya” ucap Donghae saat berdiri di depan meja sekretarisnya.

“ Ah, ne … “ balas Yorin heran, tapi tetap dia lakukan.

Author POV.

“ Ada apa Donghae-ya ? Ini bukan jadwalnya kau check up kan ? apa kamu mengalami sakit dikepala lagi ? “ tanya Park Uisanim setelah selesai memeriksa pasien sebelumnya.

Donghae duduk santai di depannya, “ Anniya Hyung, aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu “ balasnya kepada dokter pribadinya itu yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri.

“ Apa ? “

“ Kenapa semua orang tidak ada yang mau menceritakan masa laluku ? aku merasa mengingat semuanya, bahkan teman SMA ku pun aku masih mengenalnya, tapi kenapa aku merasa ada satu orang yang hilang dari ingatanku, apa kau tau mengapa ? “

Flashback on.

Hara terlonjak kaget saat mendengar ucapan pertama yang Donghae keluarkan saat dia bangun dari komanya.

“ Kau siapa agashi ? “ tanya Donghae ulang dengan alis yang mengkerut.

Bahkan Sungmin, Yoorin, dan eomma Donghae yang baru saja masuk juga ikut terkaget dengan ucapan Donghae. Hara hanya menggelengkan kepalanya shock, air mata bahagianya berubah menjadi air mata kesedihan.

“ Ka .. kau .. tidak mengenal .. ku oppa ? “ tanya Hara tidak percaya, tangannya yang menggenggam tangan Donghae terhempas seiring Donghae yang melepaskannya.

Donghae menatap bingung wanita dihadapannya itu, lalu melirik kea rah Sungmin.

“ Hey, Sungmin-ah … apa kabar ? “ tanya Donghae riang.

Lagi –lagi Hara terlonjak, dia mengenal Sungmin tapi kenapa dia tidak mengingatnya.

Kreekk… pintu kamar Donghae terbuka, Park Uisanim masuk kedalamnya bersama beberapa perawat yang biasa menangani Donghae.

“ Hey, Donghae-ya … sudah bangun kau ? hahaha “ ledek Par Uisanim, dokter pribadi Donghae.

Donghae hanya tersenyum sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Tidak lama, Park Uisanim memberikan kode kepada Hara, eommma dan Sungmin untuk mengikutinya.

“ Yoorin-ah, tolong jaga Donghae sebentar selama kami keluar ya .. “ titip Sungmin, seraya merangkul Hara untuk keluar kamar.

Hara, eomma dan Sungmin telah duduk dihadapan Park Uisanim.

“ Ada apa Leeteuk-ah ? Kenapa Donghae tidak mengingat Hara ? “ tanya Eomma yang memang sudah menganggap dokter muda itu sebagai anaknya juga.

“ Mmm, begini ahjumma, Hara, Sungmin … Seluruh organ Donghae masih sempurna dan tidak mengalami cacat sedikitpun. Tapi, karena saat kecelakaan itu kepalanya terbentur dengan keras maka ia mengalami sedikit hilang ingatan .. “ jelasnya.

“ Mwoya ??? “ teriak Hara.

“ Ne, ada beberapa macam jenis amnesia. Tapi untuk Donghae, amnesia ini tidak terlalu menyusahkan. Ia mengalami amnesia sementara yang hanya terjadi untuk beberapa saat saja dan tidak selamanya. Untuk masalah Hara, memang ada beberapa jenis amnesia yang seperti itu. Si pasien akan kehilangan ingatan dia tentang orang yang dibencinya, orang yang ingin dilupakannya, orang yang paling berarti untuknya dan orang yang paling terakhir dia fikirkan “

“ Jadi .. “ tanya Sungmin tidak sabaran.

“ Kemungkinan, Hara adalah orang yang terakhir dia ingat kan ? hahaha, tenanglah Hara, Donghae-mu itu akan kembali seperti semula, mengingatmu. “ jawabnya ringan.

“ Benarkah oppa ? “ tanya Hara antusias.

“ Ne, tapi .. “ tiba-tiba raut wajah Leeteuk berubah drastic.

“ Tapi apa Leeteuk-ah ? jelaskan padaku .. “ tanya eomma tidak sabar.

“ Kalian tidak bisa membantunya mengingat tentang masa lalunya ataupun tentang Hara sekalipun, atau itu akan membuatnya semakin merasakan sakit dikepalanya dan itu dapat membahayakan untukknya.”

“ Lalu, apa yang harus aku lakukan oppa ? “ rengek Hara. Eomma mengelus-ngelus punggung Hara, menenangkannya.

“ Menunggunya. Kalian hanya bisa menunggunya sampai Donghae mengingat semuanya. “

“ Haa .. hanya .. ii tuu .. oppa ? “ ucap Hara bergetar hebat menahan tangisnya, seketika itu juga eomma membawanya ke dalam pelukan.

“ Ne, Hara-ya. Kau harus menunggu dia mengingatmu, kalaupun kau ingin melakukannya kau harus pastikan untuk tidak membuatnya sakit kepala. Karena itu bisa membahayakan jiwanya, apabila ia memaksakan untuk mengingat. Tenanglah Hara, ini hanya sementara .. “

Flashback Off.

“ Yak! Jawab hyung, kenapa kau hanya bengong saja sih … “ bentak Donghae kesal, karena sedaritadi dia hanya melihat Hyung-nya itu diam dengan pandangan kosong terhadapnya.

“ Tidak bisa Donghae-ya, aku tidak bisa mengatakannya kepadamu bagian memori mana yang hilang. Kau harus menunggu, menunggu ingatanmu itu pulih kembali. Kalau kau paksakan, itu malah akan memperparah keadaanmu. Tunggulah Donghae-ya, aku yakin dia akan selalu menunggumu sampai kau mengingatnya kembali. Kau akan menemukannya dalam ingatanmu itu .. “

“ Aisshh, Hyung … kau malah memperburuk mood ku !! “ ucap Donghae tambah frustasi.

“ Hahaha, hei .. apakah kau sakit ? kau telihat begitu pucat dan kurus Donghae .. “

“ Anniyo, aku hanya malas melakukan segala hal saja. Ah Hyung, sebaiknya aku pulang saja. Percuma disini, sama sekali tidak mendapatkan apa-apa.” Gerutunya sambil berlalu meninggalkan Leeteuk yang masih tertawa melihat tingkah laku Donghae.

“ Yak! Jangan lupa jaga kesehatan Donghae-ya … “ teriak Leeteuk, Donghae hanya membalasnya dengan lambaian sebelah tangannya.

****

Hara masih saja duduk di depan jendela kamar. Itu adalah hal favoritnya disaat kehidupannya sedang kacau. Memandang kosong apa yang menjadi objek diluar jendela tersebut. Sudah sebulan ini dia pergi meninggalkan kehidupannya di Seoul dan beralih ke sebuah tempat persembunyiannya ini. Menenangkan segala organ vitalnya yang sudah mulai rusak akibat ulah seseorang.

Krekk … pintu kamar Hara terbuka dan munculah sosok wanita paruh baya dengan sebuah nampan yang berisi segelas susu dan makanan. Hara menoleh dan tersenyum manis ke arah wanita yang masih saja terlihat cantik di usia tuanya itu.

“ Hara sayang, sampai kapan kau akan duduk disitu hah ? apa badanmu sudah terpaku pada kursi itu ? “ ujar eomma Donghae masih berjalan menghampiri Hara.

Ya, di rumah Donghae-lah sekarang Hara berada. Terkadang tempat bersembunyi yang paling ampuh itu adalah di tempat yang paling berbahaya. Bagaimana tidak, wanita ini pergi meninggalkan kemegahan kota Seoul hanya untuk menghindari kegilaanya terhadap Donghae, dan sekarang tempat dia bersembunyi adalah di rumah masa kecil lelaki itu. Baginya inilah tempat paling ternyaman yang bisa dia singgahi selain di sisi Donghae-nya itu.

“ Aiih, gomawo ahjumma … mianhae, merepotkanmu .. “ balas Hara yang kemudian mengambil alih nampan itu dan ikut duduk di pinggir tempat tidur.

“ Sudah kubilang, panggil aku eomma Hara … karna cepat atau lambat kau akan menjadi menantuku” miris. Kalimat itu terdengar miris sekali di telinga Hara, padahal dulu kalimat itulah yang selalu membuatnya tersipu malu. Tapi tidak untuk sekarang, kalimat itu bahkan sukses membuatnya sakit kepala.

“ Anniyo, ahjumma … aku tidak akan bisa menjadi menantumu. Bagaimana bisa aku menjadi menantu seseorang, apabila aku sama sekali tidak terikat apapun terhadap anaknya “

Eomma mengelus rambut panjang Hara lembut, gadis ini bahkan sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri sejak Donghae kecilnya membawanya ke rumah mereka, “ Kau akan tetap menjadi anakku, ada atau tidak adanya ikatan antara kau dan lelaki itu “.

“ Aish, baiklah eomma … hehehe “ balas Hara dengan senyum manisnya.

“ Ah, bagus. Itu terdengar lebih indah daripada kau memanggilku dengan sebutan ahjumma .. “

Hara hanya tersenyum sambil memandang nampan yang masih berada dipangkuannya dan merasakan belaian lembut dari tangan ‘eomma’nya itu.

“ Bersabarlah .. “

“ Nde ? “ Hara sedikit bingung mendengarnya.

“ Bersabarlah menanti anakku itu, aku yakin sekali pasti kau juga merasakannya kan ? Bahwa Donghae kita pasti akan kembali seperti dulu. Jadi aku mohon, bersabarlah sedikit Hara-ya … Donghae tidak akan bisa hidup tanpa kau disisinya, bertahanlah demi dia Hara-ya. Aku mohon”

Hara menatap eomma yang terlihat sedih, entahlah bahkan kata-kata dari eomma saja sama sekali tidak memberikan hembusan oksigen ke dalam rongga dadanya. “ Aku akan mencoba eomma .. ‘ balasnya dengan senyuman getir.

****

Donghae terduduk di lantai kamarnya, bersandar pada bagian bawah tempat tidurnya. Masih sama seperti tadi pagi. Pakaiannya, tatanan rambutnya, lekuk wajahnya, semuanya masih berantakan tidak terurus. Pandangannya masih tertuju ke luar balkon, menatap objek diluar sana tanpa minat sedikitpun, padahal suasana malam di Seuol adalah yang terindah baginya.

“ Kenapa aku juga tak kunjung mengingatnya … ‘ ujarnya lirih pada dirinya sendiri “ Cho Hara, kenapa aku ini ? Aku yakin kau jawaban atas semua yang terjadi padaku dulu, bahkan hingga detik ini. Aku yakin kau tahu segalanya, tapi mengapa aku tak tahu apapun Ra-ya .. “.

Donghae meremas dadanya, terdapat sedikit rasa sakit disana saat dia menyebutkan nama gadis itu. Bahkan Donghae sama sekali tidak mengerti, mengapa nama gadis itu sangat berpengaruh kuat terhadap system kerja organ vital di tubuhnya.

“ Benarkah apa yang Sungmin katakana Ra-ya .. “

Lagi-lagi nama itu berpengaruh terhadap air mata yang sekarang telah meluncur bebas membasahi wajah Donghae, “ Benarkah aku merindukanmu, hingga sesakit ini … “

Hara’s POV.

Disini aku sekarang, di depan pintu kamar Donghae.

“ Hara-ya … bisakah kau pulang sekarang juga ? “ tanya Sungmin di seberang sana.

Hara mengernyit bingung dengan ucapan Sungmin, bahkan dia sudah bingung sejak pertama kali Sungmin menghubunginya. Jarang sekali Sungmin menghubunginya seperti ini, biasanya hanya akan terjadi kalau ada masalah urusan kantor, atau hal-hal yang menyangkut Yoonji dan Donghae saja, selain itu dia lebih memilih untuk membicarakannya lewat pesan singkat. Tunggu, apa yang dia fikirkan barusan ? Apakah ini menyangkut pria itu …

“ Mwoya oppa ? ada apa, bukanlah aku sudah meminta ijin cuti selama dua bulan. Ini kan baru sebulan lebih seminggu, aku masih mempunyai sis … “

Belum sempat Hara melanjutkan kata-katanya Sungmin sudah memotongnya, “ Donghae sakit, Hara-ya … “.

Entah kebodohan dari mana hingga aku dengan mudahnya dapat meninggalkan tempat persembunyianku itu. Hanya dengan satu kalimat yang menyatakan bahwa pria itu sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja, sudah dapat mengantarkanku ke Seoul, bahkan berada di depan kamarnya sekarang.

“ Sudah seminggu ini dia terus berada di kamarnya Nona .. “ ujar suara disebelahnya.

“ Benarkah ahjumma ? “ tanya Hara masih dalam ketidak percayaanya.

“ Ne, bahkan aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi padanya seminggu ini. Dia melarang kami semua untuk masuk ke dalam. Tuan Sungmin sekalipun, dia melarang siapapun untuk masuk. Tapi aku yakin, Nona adalah pengecualian untuk semuanya. “ lanjut ahjumma yang bekerja di rumah Donghae.

Hara menghela nafas panjang, kemudian mengambil kunci cadangan yang diberikan ahjumma kepadanya. Perlahan aku memasukkan kunci itu lalu memutarnya kea rah yang berlawanan. Memegang kenop pintu dengan rasa ragu, apakah kehadiranku ini tidak mengganggunya, apakah aku benar-benar dibutuhkannya, apa reaksinya kalau ternyata aku yang datang dan bukan gadis yang lain. Ah, bahkan hanya dengan memegang kenop pintunya saja sudah membuatku mempunyai berbagai macam spekulasi.

Aku memutar kenop pintu kamarnya, hingga terlihatlah isi kamarnya. Gelap. Hanya ada sedikit sinar yang terpancar dari balkon kamarnya yang memang tidak tertutup tirai itu. Aku memasuki kamarnya.

DEGG!

Aku menemukannya. Terduduk, ah anniyo … lebih tepatnya terkapar di samping tempat tidurnya dan memandang balkon kamarnya dengan pandangan yang kosong. Sakit. Melihatnya seperti itu membuat dadaku sakit. Rambutnya yang acak-acakkan, pakaiannya yang masih sama seperti layaknya pakaianya ke kantor dan aku yakin ia sudah seminggu ini juga tidak mengganti pakaiannya, bahkan dia masih memakai sepatu, dasi pun masih bertengger menyedihkan di sekitar lehernya, badannya terlihat kurus berbeda sekali dengan Donghae yang dilihatnya sebelum ia menghilang.

Aku menghampirinya. “ Opp .. Oppa .. “ ucapku terbata. Tapi dia tak kunjung menoleh padaku, dengan cepat ku hampiri dirinya dan berlutut dihadapannya.

Donghae’s POV.

Kreekk … aku mendengar pintu kamarku terbuka. Tidak perduli, aku tidak perduli dengan apapun disekitarku sekarang.

DEGG!!

Aku memegang dadaku, kenapa seperti kerja jantungku baru saja berfungsi ? Kenapa aku merasa paru-paruku baru saja mendapatkan oksigen ? Apakah …

“ Opp .. Oppa … “ suara itu … aku mendengar suara itu lagi.

Aku masih terdiam, hingga aku mendengar langkah kaki yang semakin mendekat ke arahku dan berhenti di depanku. Aku mendongak dan mendapatkan kehidupanku kembali.

Aku melihatnya lagi, menatap mata itu lagi, aku mendapatkan lagi kehidupanku. Cho Hara, oksigenku telah kembali. Perlahan dia berlutut dihadapanku, tatapan matanya tertuju lurus ke arahku.

Author POV.

Entah siapa yang memulai, namun sekarang Hara sudah tenggelam dalam dekapan Donghae.

“ Mianhae … “ satu kalimat itu terlontar begitu saja oleh Donghae, membuatnya lebih mengeratkan pelukannya.

Hara yang masih shock akan sikap Donghae ini, perlahan mulai ikut mengeratkan pelukannya. Merasa mendapatkan kehangantannya lagi, Hara menelungkupkan wajahnya di bahu Donghae. Menghirup sebanyak-banyaknya wangi tubuh pria ini dan menyimpannya dalam memori otaknya.

“ Mianhae Ra-ya … Mianhaee … “ ucap Donghae terus menerus “ Bogoshipeo .. Jeongmal bogoshipeoyo .. “

Hara merasakan bahunya sedikit basah. Menangiskah ? Benarkah Donghae menangis ? Tidak perduli. Hara sudah tidak memperdulikan apapun selama pria ini sudah dalam jarak pandangnya, dalam dekapannya dan dalam ingatannya.

“ Kau memanggil namaku oppa ? kau memanggil namaku oppa … “ Hara terisak mendengar Donghae menyebutkan namanya. Hara melepaskan pelukannya, “ Uljima oppa … “ ucapnya seraya menghapus air mata Donghae.

Donghae menunduk, “ Mianhae .. “ lagi-lagi kata itu, sepertinya bagi Donghae kata maaf saja tidak dapat menggantikan rasa sakit yang pernah ia buat untuk gadis dihadapannya ini.

Hara tersenyum, sebentar lagi Donghae-nya kembali. Sesaat senyum itu memudar, ia sadar tubuh Donghae panas, wajahnya pun pucat sekali. Tidak diperdulikannya acara tangis-tangisan atau peluk-pelukkan, Donghae harus istirahat secepat mungkin.

“ Aiigo, oppa … badanmu panas sekali, berdiri dan berbaringlah di kasur aku akan mengompresmu dulu .. “ panik Hara searaya meraba kening dan wajah Donghae.

“ Aku tidak apa-apa Hara-ya … “ elak Donghae, tapi Hara tetap berusaha membuat Donghae berdiri dan pindah ke atas kasur.

“ Berhentilah mengoceh oppa, dan berbaringlah .. “

Donghae berdiri dan berbaring mengikuti perintah Hara, entah perasaan apa yang sedang menyelimutinya saat ini. Seperti candu saat Hara menyentuhnya, seperti ingin lagi dan lagi.

“ Hei … “ Hara menghentikan kegiatannya yang sedang menyelimuti Donghae dan menoleh saat Donghae memanggilnya.

“ Hmm, waeyo oppa ? “

“ Ak .. akuu .. belum bisa mengingatmu .. “ ujar Donghae, lebih seperti bisikan.

Hara tersenyum lalu melanjutkan kembali menyelimuti tubuh Donghae, tangannya terulur untuk menyentuh wajah Donghae, “ Gwenchana oppa … “.

Hara beranjak dari sisi Donghae, “ Istirahatlah, aku akan membuatkanmu bubur dulu lalu mengompresmu .. “

Donghae tersenyum dan mengangguk.

Hara’s POV.

Aku menutup pintu kamar Donghae oppa. Bahagia, benarkah itu yang kurasakan ? Ah, sepertinya lebih dari itu. Adakah kata lain yang menggambarkan lebih dari itu ? Maka aku akan menggunakannya sebagai ungkapan perasaanku sekarang.

“ Ahjumma, bolehkah aku meminjam dapurnya ? aku ingin membuat bubur untuk Donghae oppa” pintaku pada ahjumma yang saat itu sedang mencuci piring. Ahjumma menoleh mendengar suaraku.

“ Bubur ? Untuk Tuan muda ? “ tanya ahjumma seperti kaget.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Ahjumma juga ikut tersenyum dan memberikanku apron. “ Aku tahu hanya Nona yang bisa membuatnya kembali bernafas .. “.

“ Ne, gamsahamnida ahjumma … “

“ Ah ya, apabila Nona membutuhkan sesuatu aku ada di taman belakang .. “

“ Ne, ahjumma … “ ujarku seraya menunduk.

Donghae’s POV.

Benarkah dia yang aku butuhkan selama ini ? Kenapa saat dia hadir segalanya terasa nyaman dan baik-baik saja ? Kenapa hanya dengan mendengar suaranya saja sudah memberikanku beribu-ribu oksigen ?

Aku merutuki kebodohanku selama ini, sikapku padanya. Entah sudah berapa banyak aku menyakiti hatinya dengan sikapku, tapi dengan mudahnya dia kembali lagi padaku dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“ Paboya .. bahkan kehadirannya saja dapat mempengaruhi ketahanan tubuhku, apa jadinya aku kalau dia tidak kembali … “ aku tersenyum sendiri merutuki kebodohanku.

Ddrrtt … dddrrtt …

From : Sungmin

Sudah bisa bernafas dengan baik sekarang ? hahaha^^

 

Aku mendengus melihat pesan singkat dari hyungku itu, kurang ajar jadi dia juga mengetahui hal ini.

To : Sungmin

Tidak, bahkan sekarang aku selalu sesak nafas

saat tangannya menyentuh tubuhku …

 

From : Sungmin

Hey! Jaga sikapmu tuan muda lee, aku yang

akan menikah dahulu. Jangan harap kau bisa

mendahuluiku !!

 

Aku terkekeh membaca pesan Sungmin hyung. Disaat yang sama pula, Hara datang dengan sebuah nampan ditangannya. Aku langsung menaruh ponselku di nakas sebelah kasur. Dia menghampiriku dan duduk di pinggir kasur, tepat disampingku.

“ Apa kau mulai gila oppa ? Kenapa kau senyum-senyum sendiri ? “ tanya Hara polos.

Donghae menggeleng, “ Mollayo, aku hanya terlalu senang saja .. “

Hara mencibirku, dan mengaduk bubur yang sepertinya baru saja dia buat. Menyendoknya dan menyodorkannya ke depan mulutku. Ah, inikah yang disebut dengan nikmat dunia ? hahaha

“ Ayo buka mulutmu … aaaa … “ perintah Hara.

Aku meneliti setiap inchi wajahnya, ah kenapa aku baru sadar kalau wajahnya juga pucat.

“ Apakah kau sudah makan Ra-ya ? “ tanyaku tak peduli dengan sendok yang berada di depan mulutku.

Hara terlonjak kaget dengan pertanyaanku ini, “ Aku sudah makan oppa, jadi ayo makan bubur ini kalau kau ingin cepat sembuh”.

Berbohong. Entah mengapa dengan mudahnya aku mengetahui kapan ia berbohong dan kapan ia jujur. Seperti sudah ada diluar kepalaku semua sikap dan tingkah lakunya itu.

“ Kau berbohong Ra-ya … aku tahu kau berbohong, aku tidak mau makan kalau kau sendiri saja belum mengisi perutmu itu .. “

Hara gusar dengan pernyataanku, “ Aissh, baiklah oppa … aku akan makan tapi setelah kau menghabiskan bubur ini … “.

“ Tidak “

“ Mwo ? “

“ Bagaimana kalau kau menyuapiku dan aku yang akan menyuapimu, hmm ? eotthoke ? “

“ MWOYA ?? “

****

Aku mengeratkan pelukanku di pinggangnya, sedangkan kepala Hara masih asik menjadikan dadaku sebagai alasnya. Setelah makan dan acara saling suap-menyuap itu, aku menyuruhnya berbaring di sampingku. Menemaniku tidur. Tapi yang terjadi sekarang malah, dia yang sudah berpergian ke alam mimpi sedangkan aku masih terjaga.

Saking tidak tahannya, dengan lancangnya tanganku malah merengkung pinggangnya dan mendekatkanya padaku. Menjadikan dadaku sebagai pengganti untuk bantalnya. Dan memperkecil jarakku dengannya. Sudah satu jam berlalu, tapi aku juga tak kunjung mengantuk malah asik dengan pekerjaan baruku saat ini. Memandangi wajahnya.Baru saja aku ingin menyentuh wajahnya, kedua mata Hara sudah mengerjap-ngerjap.

“ Ah, mian .. apa aku mengganggu tidurmu ? “ ujarku saat kedua matanya sudah terbuka dengan sempurna. Dia melepaskan tangannya dari pinggangku dan mulai duduk menyandar pada bahu kasur.

“ Ani oppa … “ balasnya sambil mengucek-ngucek kedua matanya, tiba-tiba kedua matanya terbuka lebar dan langsung menatapku “ Aigoo, aku kan harusnya menemanimu tidur oppa .. kenapa malah aku yang tertidur.”

“ Hahaha, aishh kau ini bukannya memang tukang tidur, hah ?” balasku sambil mengelus rambut panjangnya.

Hara melengos, “ Cih, sembarangan kau oppa .. “

“ Ra-ya … “ aku menatapnya dengan serius.

Dia menoleh bingung, “ Wae ? “

“ Apakah aku yang dulu seperti ini padamu ? “

Hara terdiam beberapa saat, lalu tersenyum dan mengangguk. Aku tersenyum melihatnya. Jadi, benar … aku memang Donghae-nya.

“ Maukah kau menungguku ? “

Hara mengernyitkan dahinya, menatapku heran “ Apa maksud oppa ? “

Tanganku terulur untuk menyatukan tanganya dan tanganku, menggenggamnya hangat. “ Mau kah kau menungguku hingga aku menjadi Donghae mu kembali ? “ .

Aku melihat ekspresi tekejutnya, wajahnya akan sangat manis sekali kalau selalu menampilkan ekspresi terkejutnya itu. Tapi detik berikutnya aku yang dibuatnya terkejut dengan pelukannya.

“ Aku akan selalu menunggu Donghae-ku kembali “

“ Bagaimana kalau ingatanku tak kunjung kembali, hmm ? “

“ Aku akan memberikanmu ingatan yang baru dan menjadikanmu Donghae-ku lagi “.

-THE END-

A/N: Jeongmal mianhae kalau alur ceritanya kecepetan atau agak membingungkan, hehehe. Ini pertama kalinya aku buat FF. Dan kalau emang jadi di publish dan banyak yang komentar, aku bakal bikin sequelnya …. Hehehhe . gomawo . Ah iyaaa, kalo ada typo mohon di maafkan yaa, kekeke^^