Halo semuanya. Sebelumnya, maafkan author yang belum sempat melanjutkan seri One Day For Gamers dan Let’s Go Date (dikeroyok). Nah, kali ini author sengaja membatasi seri ini cuma 3 part, jadi gak kelamaan. Part 2 nya sudah ditulis, tunggu di publish saja. Nah, maaf kalau nanti saat membaca kalian bingung dengan kemunculan tokoh-tokohnya, tiba-tiba aja author lagi pengan mereka muncul di ff. Selamat membaca😀

Aku mengulum senyumku kepada Jiyoungie, dengan satu hentakan dari tanganku aku menjatuhkan bola tenis yang melayang di atas tangannya.

“Hyonie!” teriaknya kesal. “Sudah berapa kali aku bilang, jangan menggangguku!” Ia mengibaskan tangannya, dan seketika pula bola tenis itu memantul keras dari lantai.

“Hahaha, mianhae, oppa!” ujarku memeluk sahabatku ini. “Itu artinya kau perlu usaha lebih keras untuk melatih kekuatanmu,” bisikku yang dibalas dengan tatapan kesalnya.

Kami, maksudku aku, Cho Jihyo dan Kwon Jiyoung memang punya kekuatan apa yang disebut oleh manusia biasa dengan sebutan super power. Tapi, buatku ini kutukan. Karena kekuatan ini aku tak sengaja membunuh orangtuaku dan dibuang ke sini, ya ke sini, rumah sakit jiwa. Tempat aku bertemu dengan bocah lelaki yang langsung memelukku saat aku meronta-ronta di hari pertamaku di sini. Bocah lelaki yang berbisik “Jangan melawan mereka.”. Bocah lelaki yang ternyata punya kutukan yang sama denganku.

“Jadi, berapa jam lagi kami akan dihukum?” ujar Jiyoung berdiri dan memandang kamera pengawas di langit-langit ruang hukuman. Kami berada di sini karena aku tidak sengaja membakar jas seorang dokter yang hampir saja berniat jahat padaku. Dasar dokter mesum! Dan, bocah kecil kini yang sudah menjelma dari pria dewasa yang kelakuannya tetap tidak pernah dewasa ini berusaha melindungiku.

Tak lama, pintu teralis besi terbuka, tanda hukuman berakhir.

“Cho Jihyo,” ujar dokter Park memegang lenganku saat aku keluar dari ruang hukuman. “Jangan lakukan itu lagi.”

“Dokter mesum itu yang cari gara-gara denganku!” emosiku mulai naik dan Dokter Park langsung menarik pegangan tangannya, kulihat telapak tangannya memerah. Sial! Aku hampir saja membakarnya.

“Dokter Park! Maafkan aku!” ujarku panic, namun Jiyoung langsung menggenggam tangan Dokter Park, menetralisirnya.

“Sudah kubilang kan, kendalikan emosimu,” ujar Dokter Park tersenyum. Kini aku merasa bersalah padanya. Satu-satunya dokter di rumah sakit jiwa ini yang baik kepadaku, oh, dia yang kedua, yang pertama adalah ayahnya.

“Mianhae,” aku hampir saja mau menangis melihatnya. Ia cepat-cepat melontarkan pandangan tak sukanya. Aku tau itu. Aku mencoba tersenyum, “Mianhae, Leeteuk oppa.”

****

“Menurutmu, kepada kita bisa begini?” aku berjingkat memasukkan tubuhku ke dalam selimut tempat tidur Jiyoungie secepat mungkin agar tidak ada penjaga yang tau aku kabur dari ruanganku.

“Aku tidak tau,” Jiyoungie membelai rambutku, aku selalu suka, mungkin karena hanya dia yang bisa mendinginkan diriku. Aku api, dia air. Lucu.

“Yah! Kau kenapa tersenyum sendiri seperti itu?” Jiyoung berhenti mengelus rambutku.

“Lanjutkan, oppa~” aku mulai kesal karena seenaknya saja dia merusak kesenanganku.

“Manja!”

“Biar!”

Jiyoung menekuk wajahnya pura-pura kesal, namun ia kembali menjalankan tangannya di atas rambutku. Aku memejamkan mataku perlahan, semoga malam ini mimpi indah.

*****

“Appa! Eomma!” aku berusaha sekeras mungkin memanggil kedua orangtuaku. Seluruh kamarku kini sudah merah membara terbakar api. Bahkan, Mr. Fluffy boneka kelinci kesayanganku yang sejak tadi ku dekap sudah di selimuti api.

Tangisanku semakin menjadi-jadi, memanggil appa dan eomma. Tak lama, aku mendengar suara pintu yang didobrak. Itu appa! Appa segera menerjang api untuk mengambilku yang tak bergerak di atas tempat tidurku. Aku bisa mendengar suara teriakan eomma yang memanggil namaku. Aku segera melompat dari tempat tidurku, berusaha meraih genggaman appa. Namun, aku tak tau apa yang terjadi, dari tangaku keluar gulungan api yang sangat besar, aku berusaha menarik tangaku kembali, namun terlambat, appa sudah menggenggam tanganku, tak mau melepaskan.

Appa berteriak kesakitan, aku menangis sejadi-jadinya. Aku melihat eomma masuk ke kamarku, dan seketika saja tubuh eomma diselimuti api. Aku melihat kedua orangtuaku terpanggang hidup-hidup. Aku menangis semakin keras, tak tau apa yang harus aku lakukan. Aku memanggil nama appa, eomma, dan –

“Oppa!!!!!” aku melihat Leeteuk oppa berada di sampingku. Aku sudah tidak berada di kamar Jiyoungie lagi. Ini ruang perawatan.

“Kau mimpi buruk lagi?” ujar Leeteuk oppa.

Aku mengangguk lemah.

“Saudara laki-lakimu?”

AKu mengangguk sekali lagi. Dari insiden itu, hanya satu orang yang bertahan hidup selain aku, saudara laki-lakiku. Aku pun tak bisa mengingat bagaimana tampangnya, dan bagaimana dia sekarang. Tidak ada yang mau dan boleh memberitahuku.

“Hyung, dia sudah bangun?” ujar seorang laki-laki yang aku tidak pernah melihatnya sama sekali di rumah sakit ini. Dari pakaiannya jelas dia bukan dokter.

“Sudah,” tiba-tiba saja raut wajah Leeteuk oppa berubah serius. “Tapi kurasa dia perlu istirahat. Jihyo, istirahatlah,” ujarnya sambil tersenyum kepadaku.

Aku rasanya ingin menuruti ucapan Leeteuk oppa, namun tubuhku melawan. Aku terus menatap laki-laki itu. Aku merasa mengenalnya.

“Jiyoung?” hanya nama Jiyoung yang bisa aku ucapkan. Di saat seperti ini aku hanya terpikirkan namanya untuk menjelaskan semuanya kepadaku. Hanya dia yang mau.

***

Aku memandang lelaki yang duduk di hadapanku dengan tatapan menyelidik. Beberapa saat yang lalu dia meminta kepada Leeteuk oppa untuk berbicara denganku, di ruang seperti ini.

Ini bukan ruangan untuk menerima tamu. Aku tau. Aku sudah 11 tahun tinggal di rumah sakit jiwa ini. Ini bukan ruangan yang familiar denganku. Hanya ada meja dan kursi dari besi. Dindingnya pun berbeda. Mataku mendelik saat melihat benda-benda kecil di langit-langit. Alat pendeteksi api? Pemadam api? Wow, tidak kusangka mereka membuat ruangan seperti ini, untukku.

“Jadi,” lelaki itu memulai percakapan. Aku memperhatikannya, sesekali aku melirik ke lelaki satunya, yang juga baru aku lihat, di belakangnya. Di bandingkan lelaki yang sedang duduk di hadapanku ini, dia lebih rapi, lebih formal dengan kemeja, dasi, dan jasnya. Rambut pirangnya membuat lelaki itu sangat putih, tapi tidak pucat, menurutku. Berbeda dengan lelaki di hadapanku.

“Kau masih ingat kejadian 11 tahun yang lalu?”

Seketika tubuhku menegang, aku merasakan panas menjalar ke seluruh tubuh begitu mendengar pertanyaan lelaki itu. Kendalikan, Jihyo! Kau tidak ingin membakar kedua orang ini kan?

“Kau masih ingat saat appa dan eomma meninggal?” lanjut lelaki itu.

Appa? Eomma? Dia memanggil kedua orangtuaku dengan sebutan itu?Aku mulai focus, aku memandang seksama wajah lelaki itu. Matanya, hidungnya, rambutnya, perawakannya…

“Oppa!!! Hyonnie mau sama oppa!!!! Andweeee! Lepaskan!!!!” teriakku saat beberapa orang berpakaian putih mencoba membawaku, memisahkanku dengan satu-satunya saudara laki-lakiku.

“Bawa saja dia!” ujar oppa dengan tatapan kosong. “Appa dan eomma dulu tak pernah mau membawanya berobat, dan dia malah membakar kedua orangtua kami! Dia gila!”

“Kau!” suaraku meninggi. Aku tak bisa lagi mengendalikan panas dari tubuhku. Aku menghentakkan tanganku ke meja, dan seketika pula dia langsung mengangkat tangannya dari atas meja, kini meja yang jadi penghalang kami sudah memerah, mengepulkan panas. Aku tak peduli. Lelaki di hadapanku ini lelaki paling aku benci seumur hidupku! Dan sialnya, aku baru sadar sekarang!

“Apa yang lakukan di sini, Cho Kyuhyun?! Kau mau aku membakarmu sama seperti appa dan eomma? Hah?!” Aku berdiri. Siap menggerakkan tanganku untuk mengeluarkan api. Lelaki di belakan Kyuhyun mundur selangkah, namun tak terlihat takut sedikitpun.

“Kau tidak mungkin membakarku, dongsaeng,” ujarnya menyeringai.

Terserah kau. Aku menghentakkan tanganku, dan seketika api menjalar ke arahnya, namun belum sampai api itu tepat kepada Kyuhyun, alat pendeteksi api bekerja cepat dan menghujani seluruh ruangan dengan air.

“Sudah kubilang kan, kau tak mungkin membakarku,” ujar Kyuhyun dingin.

“Lalu apa maumu?” aku berteriak sekeras mungkin di dalam ruangan sekecil ini. Biar saja. Aku tak peduli.

“Membawamu pulang.”

“Hah?! Membawaku pulang? Memangnya siapa yang memasukkan aku ke sini, hah?” Sekali lagi aku menghentakkan tanganku, namun bukan untuk membakar Kyuhyun, namun menggerakkan kursinya, berusaha menghantamnya, namun ada satu yang aku lupakan. Kyuhyun juga punya kekuatan. Tanpa menoleh ke belakang, ia mengontrol kursi itu agar tidak menghantamnya, dan menghempaskan kursi itu ke dinding.

“Kau lupa, aku sangat akrab dengan logam?” sekali lagi Kyuhyun menyeringai, dan entah dari mana pipa besi melayang ke depanku dan mengunci kedua tanganku. Aku berusaha menggunakan kekuatanku, namun percuma saja. Besi ini malah membakar kulit tanganku.

“Kau pulang sekarang, Cho Jihyo.”

****************

“Kau mau minum, nona Cho?” ujar lelaki pirang itu kepadaku. Aku menggeleng dengan cepat. Aku lebih suka menumpahkan kemarahanku ke Kyuhyun gila itu. Dia membawaku paksa pulang, entah mengapa pihak rumah sakit mengizinkannya. Aku bahkan tidak bisa bertemu dulu dengan Leeteuk oppa dan Jiyongie. Dan sekarang, aku ditinggalkan berdua dengan lelaki pirang ini di ruangan apa yang mereka sebut ruangan keluarga. Aku bahkan tidak merasa ruangan bercat ini keluarga. Terlalu kelam. Aku dan Kyuhyun memang tidak punya keluarga.

“Mana Kyuhyun?” desakku kepadanya. Dia tersenyum.

“Kyuhyun sedang ada perlu sebentar,” ujarnya ringan.

“Kalau begitu, bukakan ini, tolong,” aku mengadahkan kedua tanganku yang dililit oleh pipa besi, sejujurnya ini menyakitkan.

“Kyuhyun tidak mengizinkanku ataupun siapapun membukanya.”

Aku menghela napas, “Kumohon, pengurus Lee.” Untuk pertama kalinya, aku memanggil nama itu sejak tadi dia memperkenalkan diri.

“Aku hanya mendengarkan Kyuhyun.”

“Kau ini kan pengurus keluarga ini! Kalau kau masih menganggapku bagian dari keluarga Cho, cepat bukakan!” aku sudah tidak tahan hingga aku berteriak menyuruhnya.

“Aku pengurus keluarga Cho, bukan pesuruh, nona. Dan aku masih menganggapmu bagian dari keluarga Cho, oleh karena itu aku tidak membukakannya.” Wajahnya berubah menjadi serius.

“Maaf,” Aku tidak bermaksud untuk berteriak kepadanya, dan merendahkannya seperti itu.

“Kau mirip sekali dengan Kyuhyun,” ujar pengurus Lee.

“Apa?”

“Caramu membentak dan meyuruh. Persis dengan Kyuhyun.”

“Aku tidak bermaksud begitu!”

“Aku tau. Namun seharusnya kau mendengarkan penjelasanku tadi mengenai tugasku.”

Sejujurnya, aku tak mendengarkannya karena sibuk berpikir bagaimana caranya membakar Kyuhyun.

“Keluargaku sudah seabad menjadi pengurus keluarga Cho. Tugas keluargaku bukanlah menjadi pesuruh ataupun pembantu rumah tangga maupun budak, jika itu yang kau pikirkan, nona Cho. Kami dengan sukarela membaktikan diri kami ke keluargamu, dan leluhurku terikat perjanjian dengan leluhurmu.”

“Perjanjian?”

“Kedua leluhur kita bersahabat, sama seperti – ah. Intinya, leluhurnya berjanji untuk terus melindungi leluhurmu hingga keturunannya. Secara spesifik, bisa dibilang keluarga Lee adalah sahabat, penasihat keluargamu, dan juga mengurus seluruh harta keluarga Cho hingga para keturunannya bisa mengurusnya secara mandiri. Untuk informasi, aku adalah direktur keuangan Cho Company.”

Aku hanya bisa menganga tak percaya.

“Sepertinya caramu menjelaskan kepada bocah tengik ini lebih jelas daripadaku, hyung.” Ujar Kyuhyun yang entah darimana datang. Ah, hasratku untuk membakarnya kembali lagi.

“Lebih baik kau buang pikiranmu untuk membakarku, atau tidak akan kulepaskan pipa besi itu,” ancam Kyuhyun yang sepertinya bisa membaca pikiranku.

“Aku bisa melepaskannya sendiri, dan membakarmu!”

“Sudahlah,” Kyuhyun menggerakkan jemarinya dan pipa itu perlahan-lahan mengendur dan lepas dari pergelangan tanganku. “Waktunya sedikit lagi, aku tidak sempat menghadapi kemarahanmu.”

“Waktu apa?” terlalu banyak yang aku lewatkan selama 11 tahun ini. Aku tidak mengerti.

“Tiga hari lagi, blood moon akan menampakkan diri, dan kita harus membunuh mereka, kita harus menyelesaikan pertempuran yang sudah tertunda seabad,” ujar Kyuhyun cepat.

Aku semakin tidak mengerti, “Tunggu tunggu. Apa sih ini? Blood moon? Pertempuran?”

Kyuhyun menghela napas tidak sabar. Pengurus Lee sepertinya sudah sangat tau sifat tuan mudanya itu. Ia mengambil alih pembicaraan. “Blood moon, bulan purnama merah, yang hanya tampak setiap 11 tahun sekali. Dulu, Cho, Lee, dan Choi, para leluhur kita, memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. ENtah mengapa mereka bertiga bisa bertemu dan menjadi sahabat. Mereka bertiga terikat perjanjian untuk saling melindungi dari aapun dan siapapun juga. Namun, Choi terbujuk rayuan Sang Kematian untuk menjadi Sang Tak Terkalahkan, dengan membunuh kedua sahabatnya, dan mengambil kekuatan mereka. Singkatnnya, leluhur kita terlibat pertempuran hebat dengan Choi dan Sang Kematian. Cho dan Lee tidak bisa membunuh Choi karena mereka sudah berjanji akan selalu saling melindungi. Di saat terakhir, Lee menemukan cara untuk menghentikan pertempuran itu. Ia mengorbankan dirinya untuk dibunuh oleh Sang Kematian. Kematian Lee menyegel Sang Kematian ke neraka, tanpa Sang Kematian, Choi tidak akan bisa meneruskan ritualnya menuju Sang Tak Terkalahkan.”

“Tunggu tunggu,” aku memotong cerita pengurus Lee. “Berarti kau juga punya kekuatan, pengurus Lee?”

Pengurus Lee tersenyum, “Nona Cho, pertempuran itu terjadi saat bulan purnama merah. Pengorbanan Lee menjadi momok yang menakutkan tersendiri, karena untuk menjadi Sang Tak Terkalahkan, Choi harus membunuh dengan tangannya sendiri. Pengorbanan itu sama sekali tidak terpikirkan olehnya. Sang Kematian pun merasa terjebak. Pengorbanan itu mengeluarkan seluruh kekuatan Lee untuk menyegel Sang Kematian. Maka, sebelum ia tersegel kembali ke neraka, Sang Kematian bersumpah untuk kembali lagi setiap blood moon, meneruskan bujuk rayunya kepada Choi.”

“Ah….” Aku memijit pergelangan tangku yang masih sakit, lalu kepalaku. Ini terlalu kompleks untuk seseorang yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa.

“Dan… “ pengurus Lee membuka suara lagi, “Aku dan keluargaku hanya punya kekuatan setiap blood moon.”

Wow, untuk pertama kalinya dalam hari yang membingungkan ini, aku menemukan sesuatu yang menarik. “Oiya? Ku kira tadinya kau tidak punya kekuatan. Apa kekuatanmu, pengurus Lee? Dan kenapa hanya bisa kau gunakan saat blood moon?” aku memberondongnya dengan pertanyaan. Aku tak peduli. Ini lebih seru dibandingkan pertempuran konyol itu.

“Kekuatannya Tanah, dan berhentilah bertanya!” Kyuhyun menjitak kepalaku.

Aku mengaduh kesakitan, namun, untuk kedua kalinya, aku mulai merasa santai. Reaksi Kyuhyun menjitakku itu sudah mulai menyadarkanku bahwa ia memang kakakku.

“Lebih baik kau istirahat sekarang! Sana, ke kamarmu!” ujar Kyuhyun.

“Masih banyak yang belum kalian jelaskan!” aku membalas Kyuhyun.

“Ku bilang, ke kamarmu!” Kyuhyun kini memelototiku seperti seorang ayah yang kesal menyuruh anaknya tidur.

Aku tadinya masih mau membalasnya, namun sebaiknya aku memang istirahat setelah seharian yang aneh ini. “Aku tidak tau kamarku dimana!”

Kyuhyun menghela napas lagi, entah sudah berapa kali dia menghela napas, dia bisa cepat tua nanti. “Hyung, antarkan nona tengik ini ke kamarnya.”

Aku menyeringai mendengarnya, namun aku lebih memilih untuk mengikuti langkah pengurus Lee. Tak lama kemudian, pengurus Lee berhenti di sebuah pintu di lantai dua.

“Ini kamarmu, nona Cho. Silahkan beristirahat,” ujarnya.

“Terima kasih, pengurus Lee.” Aku baru saja memegang gagang pintu saat mendengar pengurus Lee berujar.

“Panggil aku Sungmin saja. Aku sedikit risih dengan panggilan pengurus Lee. Dan, sedikit mengingatkanmu, dulu kau juga paling benci memanggilku dengan sebutan itu.” Ia tersenyum,

“Oiya?” Aku sama sekali tidak ingat jika aku mengenal Sungmin saat masih kecil.

Ia mengangguk, lalu maju selangkah, mengacak rambutku. “Senang kau kembali, nona kecil.”

“Panggil aku Jihyo, Sungmin oppa. Aku benci sebutan nona.”

***

Derit pintu besar ini terdengar begitu mengganggu telingaku, sepertinya, sudah lama pintu ini tidak dibuka. Aku berhenti tepat di sebuah foto besar yang tergantung di dinding. Aku tersenyum.

“Sudah lama tidak ada yang tersenyum saat melihat foto itu,” suara seseorang menginterupsi lamunanku. Aku menengok kearah suara itu. Seorang lelaki tinggi dengan rambut berwarna mint menghampiriku. Wajahnya tetap tidak berubah, khas keluarga ini, aura kebengisan.

“Bukannya memang seharusnya setiap orang tersenyum melihat foto keluarganya?” ujarku memeluknya. Sudah lama sekali, kakak.

“Tapi sepertinya orang-orang di sini terganggu dengan kehadiranmu di foto itu,” ia tersenyum, suaranya terdengar begitu berat dan dalam, namun aku tau ia tidak bermaksud menyakiti.

Aku tersenyum. Menjadi anak haram keluarga ini memang menyusahkan.

“Wah, kau pulang, anakku?” suara perempuan itu tredengar begitu menyakitkan di telingaku. Tanpa diduga, aku tak tau darimana ia datang, perempuan itu memelukku. Aku setengah hati balas memeluknya. Wajahnya tetap sama dengan di foto itu. Muda, cantik, dingin, dan kejam. Inilah kutukan keluarga ini, tetap muda untuk membalaskan dendam.

“Kukira kau tidak akan pernah pulang. Kau memutuskan untuk memenuhi takdirmu?” perempuan itu menyeringai.

“Takdir keluarga ini eomma. Mau tidak mau, aku harus pulang.” Ujarku.

“Hummm, sebenarnya kau tidak secara resmi bagian keluarga ini, jadi sebenarnya kau tidak harus ikut bertempur,” ia menyeringai. “Yah, tapi karena kau pulang, ku anggap ini bantuan paling istimewa darimu, anakku.”

“Eomma, kurasa Jiyoung perlu istirahat. Kita bisa mengobrol lagi esok pagi,” ujar kakak yang sepertinya tau kecanggunganku.

“Ah iya benar sayang. Lebih baik kau antarkan Jiyoung ke kamarnya, yah. Seunghyun.” Dan dalam sekejap, perempuan itu kembali hilang.

“Dia tidak pernah berubah yah,” ujar TOP hyung, begitu aku memanggilnya, tersenyum. Walaupun aku ini hanya adik tirinya, ia selalu ada di pihakku.

“Yah, sebenarnya aku juga tidak keberatan Sica eomma bersikap seperti itu. Toh, memang salah ibuku yang masuk ke keluarga ini,” aku tertawa getir.

“Bukannya terbalik?” TOP hyung memukul pundakku, berusaha mencairkan suasana. Aku tertawa. Yah, memang terbalik sebenarnya.

Aku ingat cerita itu. Cerita kalau ibuku, Kwon Yuri, merebut Choi Hyunjoong dari istri sahnya, Jessica. Aku tidak tau mana yang benar atau salah. Aku tidak peduli.

“Lalu, bagaimana ceritanya kau bisa keluar dari rumah sakit jiwa?” TOP hyung akhirnya bertanya.

“Aku membunuh dokter itu,” ujarku singkat.

TOP hyung tertawa sangat keras, sangat bahagia. “Akhirnya kau bisa membunuh orang, Jiyoungie!”

Sebenarnya aku tidak bermaksud membunuh Leeteuk hyung, tapi apa boleh buat, ia menghalangiku bertemu Jihyo. “Jihyo keluar dari rumah sakit.”

“Apa?” TOP hyung berhenti tertawa. “Bagaimana bisa?”

“Sepertinya Kyuhyun menjemput paksa ia pulang. Ia sepertinya tau kalau aku ada di sana,” keluhku.

TOP hyung menggeleng, “Sepertinya ia tidak tau ada anggota keluarga Choi yang berada dekat adiknya. Ia lebih focus dengan pertempuran itu.”

“Aku tidak peduli dengan pertempuran itu sebenarnya,’ ujarku jujur.

“Aku juga sebenarnya tidak terlalu peduli. Tapi apa boleh buat, seperti yang eomma bilang, itu takdir kita, kita tidak bida menghindar,” TOP hyung memandang foto itu lekat-lekat. “Lagipula kau tidak bisa mengulang kesalahan dua kali, adikku.”

Aku mengerti apa yang TOP hyung maksud. Mencintai koneksimu, belahan jiwamu, secara harfiah. Leluhurku, dan juga leluhurnya percaya bahwa di kehidupan ini kita tidak pernah sendiri, kita mempunyai koneksi, belahan jiwa kita. Mirip seperti saudara kembar konsepnya, namun kita tidak pernah tau siapa mereka, kecuali kita bertemu dengannya. Koneksimu bisa bergender sama denganmu, bisa juga sebaliknya. Dan, kalau begitu, kau tidak boleh jatuh cinta kepada koneksimu sendiri. Menyalahi aturan, seperti jatuh cinta kepada diri sendiri. Dan itu terjadi pada seperti ayah dan ibu kandungku.

“Tapi, aku tetap berharap Jihyo tidak ada di pertempuran itu,” ujar TOP hyung, suaranya terdengar sedih. “Aku sudah kehilangan appaku, mungkin juga nanti bisa kehilangan eommaku. Aku tidak ingin kau juga, Jiyoung.”

Aku tahu, ini pilihan yang sulit. Membunuh Jihyo sama saja membunuhku. Jika salah satu dari kami mati, maka jiwa satunya pun akan ikut terbawa. Kecuali dalam satu kondisi, pengorbanan.

Aku ingat kejadian sebelas tahun yang lalu. Saat blood moon ku yang pertama. Seluruh keluarga Choi menyerang kediaman keluarga Cho, tak terkecuali aku dan TOP hyung, walaupun kami masih anak-anak. Aku ingat saat appa mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membakar seluruh kediaman keluarga Cho. Aku ingat bagaimana TOP hyung menghempaskan Kyuhyun dengan angin yang sangat besar, atau Sica eomma yang terlihat begitu menyeramkan.

Aku tak tau aku harus berbuat apa, aku lari kemanapun langkah membawaku. Tanpa sadar, aku masuk ke sebuah kamar di pojok lantai dua. Aku melihat sosok mungil tertidur di ranjangnya. Baru saja aku ingin menggulungnya dengan kekuatan airku, namun api segera cepat membesar di kamar ini. Aku terjebak, aku juga akan terpanggang di sini.

Sosok mungil itu terbangun, seorang anak perempuan. Ia menangis, memanggil appa dan eommanya. Saat itu, aku merasa waktu berhenti. Aku tau dia koneksiku.

Seorang lelaki masuk menerjang api, tak lama kemudian di susul oleh istrinya. Aku tau itu Siwon ahjussi dan Hamun ahjumma. Dalam sedetik kemudian, aku melihat Hamun ahjumma merenggang nyawa, terbakar. Appaku sudah berada di kamar ini juga. Aku memejamkan mata, dan saat aku membuka mata, aku melihat sosok appaku terkapar tak bernyawa. Siwon ahjussi dengan lemah memandangku, dengan kobaran api di sekeliling tubuhnya, menghampiriku, lalu mengatakan sesuatu yang akan aku selalu ingat.

“Jiyoung-ah, lindungi Jihyo dengan nyawamu sendiri. Kau bukanlah seorang Choi.”

***

“Hyonie?”

“Ya?”

“Kau lihat siapa di mataku?”

“Hemmmm, kau benar-benar ingin tahu ya, oppa?”

“Hanya penasaran.”

“Kalau begitu ya, tidak usah.”

“Hyonie, ayolaaaah. Masa kau tidak penasaran? Baiklah, kalau begitu kau duluan saja.”

“AAAA, Aku tidak mau, aku tidak mau. Hei, kenapa kau diam? Kau sudah tau siapa yah?”

“Na na na na, kau tidak boleh tau sebelum kau liat punyaku. Cepat!”

“Ahhhh, iya iya. Youngie, kenapa semuanya hitam? Aku tidak melihat apa-apa.”

Aku melihatnya, sosok anak lelaki yang lebih tua dariku, yang aku temui tepat saat kebakaran di kediaman keluarga Cho. Aku lihat dia saat aku berlari keluar kamar Jihyo, dia malah menantang api dan berlawanan arah denganku, memasuki kamar itu, mencari apakah masih ada tanda-tanda kehidupan. Dan setiap aku memandang mata Jihyo, aku selalu melihatnya, bagaimana dia sekarang. Dan yang terakhir, tepat sebulan sebelum Kyuhyun menjemput Jihyo, saat aku memaksa Jihyo untuk saling membaca di mata kami, siapa pasangan hidup kami berdua. Dan aku melihatnya lagi, dia dengan rambut pirangnya, Lee Sungmin.

Terkutuklah kekuatan dan segala perkoneksian jiwa ini!

Prang! Aku menonjok cermin di kamarku. Aku sekarang berharp tidak pernah terlahir di keluarga ini. Aku melihat kepalan tanganku berdarah, aku tidak peduli. Toh aku bisa sembuh dengan cepat,salah satu kutukan lagi.

Kami, para koneksi, bsia mengetahui pasangan hidup koneksimu dengan hanya memandang ke matanya. Untuk beberapa orang ini sangat menyenangkan dan membantu. Tapi aku tidak, bagaimana aku bisa tahan jika aku tau seseorang yang nanti kelak akan menjadi suami Jihyo? Dan yang lebih parah, Jihyo hanya melihat kegelapan di mataku, apa artinya aku tidak punya pasangan hidup? Sial!

****