Annyeong onniedul chingudeul dongsaengdeul!!! (งˆヮˆ)ง
Esterong is back with SiMun FF! ^^ but mianhee, this is not bittersweet moment’s sequel hehe
Hope you guys enjoy this fanfiction ya :))
your comments are love for me :3  can’t wait to read ur comments❤ thank you so much for always reading our fanfiction^^

******

Hamun’s Pov

Jarum jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari, namun sampai saat ini aku masih berdiri di ruang tamu sambil mondar-mandir. Aku mengantuk tapi aku tak bisa tidur dengan tenang. Hatiku dipenuhi kekalutan karena suamiku belum pulang dan tak ada kabar darinya.

Yang kutakutkan bukanlah kemungkinan dia bisa saja berselingkuh. Aku mengenalnya dan itu tak mungkin. Aku takut terjadi apa-apa padanya, kecelakaan misalnya. Aku tak bisa membayangkan hidupku tanpa dirinya. Ia bagaikan oksigen yang aku butuhkan. Ia adalah satu-satunya alasanku untuk bertahan hidup sampai saat ini.

10 menit kemudian, aku mendengar pintu rumahku diketuk. Dengan segera aku membuka pintu itu. Bersamaan dengan pintu terbuka, suamiku terjatuh dalam dekapanku. “Siwon shi? Gwencana? Kau mabuk?” tebakku karena bau alkohol sangat tajam dari tubuhnya.

Dengan sekuat tenaga, aku membopongnya menuju sova ruang tamu. Aku menidurkannya disana. Melepas ikatan dasi dan sepatunya agar ia merasa nyaman.

Aku terduduk dilantai tanpa memperdulikan rasa dingin yang merambat kesekujur tubuhku. Yang kuinginkan saat ini adalah berada disampingnya. Aku yakin ia pasti sedang tertekan sampai mabuk seperti ini.

Aku mengelus kepalanya lalu menilik wajahnya. Tiba-tiba alisnya mengkerut dan setitik air mata mengalir dari matanya.

“Shim Johee..” nama itu yang dipanggil suamiku, bukan namaku.

“Shim Johee.. Where are you now? Don’t you hear my voice? My aching heart searches for you. It calls out for you crazily,” gumam Siwon yang sangat kusesali, aku mendengarnya.

Tangisan Siwon menderas, begitu juga aku. Hatiku mencelos, hatiku sakit. Rasa sakit itu sudah menjalar keseluruh tubuhku sampai-sampai aku tak kuasa menahan air mataku lagi.

Pria yang menjadi suamiku sejak setahun lalu, suami yang bagaikan oksigen untukku, pada kenyataanya, tidak pernah mencintaiku. Aku kira dengan terus bersabar dan mencintainya, ia akan berpaling padaku. Namun yang sesungguhnya terjadi adalah sampai kapanpun ia tak akan mencintaiku. Sampai kapanpun gadis yang ada diotak dan hatinya adalah Shim Johee, mantan kekasihnya.

*****

Siwon’s Pov

Sinar matahari menyilaukan mataku. Aku terbangun dan mendapati diriku tertidur di sova. Aku menoleh kesamping kananku dan mendapati istriku, Hamun, tertidur dengan posisi duduk dilantai sambil menggenggam erat tanganku. Aku yakin, semalaman ia tak melepaskan genggaman ini karena aku merasakan tanganku berkeringat.

Aku tersenyum tipis lalu menilik wajahnya. Alisnya mengkerut dan air matanya mulai mengalir. “Aku Choi Hamun bukan Shim Johee. Sampai kapan kau akan mencintainya? Yang seharusnya mendapatkan cintamu adalah aku, wanita yang menjadi istrimu dan sangat mencintaimu,” gumam Hamun dan aku mendengarnya dengan jelas.

Hatiku mencelos, aku tak menyangka kalau ia sangat menderita seperti ini. Hatiku sakit, sakit akan rasa bersalahku pada Hamun. Pasti semalam aku menggumamkan nama Johee dalam tidurku dan Hamun mendengarnya. Aku tersadar, kalau selama ini aku sangat jahat pada Hamun tapi dengan sabar ia tetap mencintaiku, menungguku entah sampai kapan.

Aku mengelus lembut kepalanya, menyingkap rambut yang menutupi wajahnya, menghapus air mata yang mengalir karena kebodohanku. Aku melepaskan genggaman tangan Hamun. Pelan tapi pasti, aku mengendong dan membawanya menuju kamar agar ia bisa tidur lebih nyaman.

Aku menatap jam dinding yang ada di kamar ini, jam 8 pagi. Aku tak berniat membangunkan Hamun, karena pasti semalam ia menungguku sampai aku tiba di rumah. Hamun selalu seperti itu. Selarut apapun aku pulang, ia pasti masih terjaga. Menyambutku dengan senyumnya meskipun pada akhirnya aku mengabaikan senyuman itu. Ia selalu menolongku untuk melepaskan dasi atau kancing lengan kemejaku, meskipun tak jarang aku menepis tangannya, menolak bantuannya. Ia selalu memasak untukku, meskipun aku nyaris tak pernah menyentuh masakannya.

Aku mendengus, merendahkan diriku sendiri. Menyadari betapa bodohnya aku selama ini. Bibirku menyunggingkan senyum lirih mengingat betapa baiknya gadis ini dan betapa kejamnya aku yang tak pernah menghargai perasaannya.

Aku berjalan menuju lemari pakaianku, berniat mengganti baju karena aku sendiri sudah tak tahan dengan aroma alkohol ditubuhku. Tapi ada suatu pemandangan yang menarik perhatianku, kalender di samping lemari ini. Tanggal 20 Juli 2013, hari ini, diberikan tanda ‘Love’ oleh Hamun.

Aku memainkan ingatanku. Mencoba mengingat hari apa ini… Ah, setahun pernikahanku dengan Hamun rupanya. Pernikahan yang terjadi karena perjodohan bukan keinginanku tapi Hamun tetap mencintaiku sampai sekarang.

Aku menatap Hamun yang masih tertidur lelap dan sebuah ide muncul dikepalaku. Bibirku tersungging dan mengangguk, meyakinkan diriku atas keputusan yang hendak aku ambil: Melupakan Johee dan mencoba mencintai Hamun.

Sudah setahun ini ia bersabar menungguku tapi tak pernah memaksaku. Ia tersakiti tapi tak pernah menyalahkanku. Ia selalu tersenyum dan memberikan yang terbaik untukku. Ia begitu baik. Sudah saatnya aku membalas semua kebaikannya.

Aku mengganti bajuku lalu menghampiri tempat tidur Hamun. Aku duduk di tepi tempat tidurnya, mengamati wajahnya. Bibirku tersenyum dengan sendirinya. “Terimakasih Hamun. Aku mohon, bersabarlah sebentar lagi,” kataku meski aku tahu ia tak mendengarnya. Aku mengecup dahinya, untuk pertama kalinya dalam setahun ini. Rasanya sangat berbeda daripada saat aku mencium bibirnya dihari pernikahan dulu. Kali ini terasa hangat dan menenangkan.

“Enggh,” erang Hamun lalu memutar tubuhnya sehingga kini aku hanya bisa melihat punggungnya. Aku terkekeh lalu bangkit dan menyelimuti Hamun.

“Selamat tidur,” ujarku diambang pintu lalu mematikan lampu kamarnya.

******

 

Author’s Pov

Hamun mengerjapkan matanya tapi tidak berniat bangkit dari tempat tidur. Ia memutar kembali ingatan tentang mimpinya. Tadi ia bermimpi sangat indah, terlalu indah bahkan. Siwon berkata pada dirinya kalau ia akan melupakan Johee dan mencoba mencintai Hamun. Hamun memegang pipi kirinya. Ia mengingat penggalan mimpinya saat Siwon mencium pipi Hamun lembut dan hangat.

Tiba-tiba dada Hamun terasa sakit, sesak, pilu. Rasanya seperti dibawa terbang ke langit dan tiba-tiba dijatuhkan ke bumi saat Hamun mengingat kenyataan yang ada. Air mata pun mengalir tanpa peringatan. “Jangan berharap, Hamun. Itu hanya mimpi yang tak akan menjadi kenyataan,” gumamnya lirih. Hamun menghapus air matanya, tak membiarkan dirinya terlarut dalam kesedihan.

Hamun mulai merenggangkan tubuhnya ditempat tidur. Saat ia melakukan pemanasan pada lehernya, tanpa sengaja ia melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul.. 7 malam. Hamun sontak bangkit dari tidurnya. Kelabakan. Ia tak sempat berpikir, ‘Mati aku, aku tidak kuliah!’ atau ‘Mati aku! Aku lupa kalau ada janji dengan Hyejin onnie!’ karena yang ada dipikirannya saat ini ‘Apa Siwon sudah makan?’

Ia bahkan tak menyempatkan diri untuk mengganti piyamanya atau menyisir rambut. Ia bahkan lupa untuk memakai sandal rumahnya. Dengan langkah terburu-buru ia segera ingin keluar dari kamar itu sampai-sampai ia menabrak meja rias yang jelas sekali ada didepannya.

“Au!” pekik Hamun. Ia jatuh terduduk karena ia menghantam meja itu cukup keras dan rasanya sangat sakit. Ia memijat mata kakinya sebelah kiri, mengusir rasa sakit yang ia rasakan.

Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dengan kasar. Siwon muncul dari pintu itu dengan wajah panik. Ia menoleh ke kanan kiri mencari keberadaan Hamun.

Hamun terheran melihat Siwon seperti itu. Tidak biasanya ia terlihat panik. “Siwon shi?” panggil Hamun. “Kau cari siapa?” tanyanya. Siwon menoleh kesumber suara dan mendapati Hamun terduduk di lantai sambil memijat mata kakinya.

Siwon segera menghampiri Hamun dan duduk disebelahnya. “Kenapa kau berteriak, Hamun shi?” tanya Siwon, wajahnya masih kalut.

“Aku tak sengaja menabrak meja rias saat mau keluar,” jelas Hamun. Siwon mengangguk sebagai tanda ia telah menerima informasi tersebut.

“Mana yang sakit?” tanya Siwon lagi. Hamun menunjuk mata kakinya. Siwon mengambil alih tangan Hamun. Ia kini mulai memijat kaki Hamun. Perlahan-lahan agar gadis itu tidak kesakitan. Hamun sendiri, kini sudah terbuai dengan pesona pria yang ada dihadapannya. Selama 5 menit, matanya tak bisa lepas dari Siwon.

Dari sudut matanya, Siwon bisa melihat Hamun sedang menatapnya. Siwon terkekeh, “Jangan lihat aku sampai lupa bernafas seperti itu, Hamun shi,”

Hamun terkesiap lalu mengalihkan pandangannya. Ia yakin wajahnya sudah memerah saat ini. “A-aku tidak melihatmu,” ujar Hamun gagap karena ketangkap basah. Siwon menyembunyikan senyumannya. Ternyata gadis ini sangat lucu. Kenapa tidak dari dulu ia menyadarinya?

“Masih sakit?” tanya Siwon. Hamun tersenyum lalu menggeleng sebagai jawaban ‘tidak lagi’. “Tanganmu ajaib, Siwon shi,” puji Hamun tulus.

“Kau berlebihan,” elak Siwon.

Hamun tiba-tiba teringat. “Kau sudah makan? Aku akan membuatkan makanan untukmu,” ujar Hamun. Ia segera berdiri dan keluar dari pintu kamar itu.

Langkah Hamun tiba-tiba terhenti. Ia bergeming di tempatnya. Matanya tercekat dengan pemandangan dihadapannya. Meja makan di rumahnya ini terlihat sangat cantik dengan semua peralatan makan yang disusun rapi dan lilin yang ada ditengah meja. Bukan hanya meja makan, tapi seluruh sudut rumahnya itu, kini terhias dengan cantik. Sederhana namun memukau.

Surprise,” bisik Siwon ditelinga Hamun, menyadarkan gadis itu dari ketakjubannya. Hamun menatap Siwon penuh tanya sedangkan pria itu sudah menggandeng tangan Hamun dan membawanya ke meja makan.

“Silahkan duduk, Choi Hamun,” ujar Siwon dengan suaranya yang sangat pria. Jantung Hamun sudah berdebar tak karuan sekarang. Berdentum-dentum kencang bak genderang. Hamun menyingkap rambutnya kebelakang telinga, tanda ia sedang grogi. Setelah Hamun duduk, Siwon mengambil posisi duduk dihadapan Hamun.

“Aku belum makan, aku menunggumu terbangun,” jawab Siwon atas pertanyaan Hamun tadi. Hamun mengangguk-angguk tapi tak sepenuhnya mengerti.

“Makanlah, aku masak khusus untukmu,” ujar Siwon dengan senyum yang menghipnotis Hamun sehingga ia melakukan apa yang Siwon minta barusan.

“Enak,” komentar Hamun saat sesuap daging meleleh dilidahnya.

“Makanlah yang banyak,” ujar Siwon lalu ia mulai menyantap makanannya juga.

10 menit terlewati dalam keheningan. Kini Hamun tak bisa lagi menahan rasa ingin-tahunya. “Siwon shi,” panggil Hamun. Kepala Siwon terangkat dan matanya memandang manik mata Hamun.

“Apa sekarang April Mop? Bukankah ini sudah bulan Juli?” tanya Hamun yang berhasil membuat Siwon tertawa sejadi-jadinya. Hamun masih tetap dengan tatapan penuh tanya.

“Sekarang tanggal 20 Juli, setahun pernikahan kita. Remember?” tanya Siwon mengingatkan.

“Ah.. Aku ingat. Tapi..” Sebelum Hamun menyelesaikan kalimatnya, Siwon menyela, “Makan dulu saja ya, Hamun shi. Aku sudah memasakannya untukmu,” kata Siwon tak lupa dengan senyum yang membuat dunia Hamun terhenti pada porosnya.

*****

“Ka-kau tidur disini?” tanya Hamun gelagapan saat Siwon sudah berbaring ditempat tidur kamar Hamun. Seharusnya ini adalah kamar mereka berdua tapi selama ini mereka tak pernah tidur bersama. Hamun tidur di kamar ini dan Siwon selalu tidur di kamar tamu atau di sova ruang tamu.

“Ah, mian. Silahkan tidur disini, kini giliran aku yang tidur di kamar tamu,” ujar Hamun. Ia berjalan menuju pintu kamarnya tapi sebelum ia keluar, Siwon memegang tangan Hamun yang ada dikenop pintu itu dan mendorong pintu itu agar kembali tertutup.

“Kalau kau tetap disini.. Aku tak keberatan,” kata Siwon tepat dibelakang telinga Hamun. Hamun memutar tubuhnya dan mendapati jarak dirinya dan Siwon sangat dekat. Hanya hidung mancung mereka yang memisahkan.

Hamun terdiam sebentar, mengontrol detak jantungnya. “Ba-baiklah. Aku akan tidur di sova itu,” ujar Hamun sambil menunjuk sova di kamar itu. Sebelum Hamun sempat mengambil langkah, Siwon menahan tangannya. Ia menggenggam tangan Hamun dan membawanya ke tempat tidur.

“Kalau kau tidur disini, aku tak keberatan,” kata Siwon dengan senyumnya. Jantung Hamun berpacu sangat cepat. Melihat senyum Siwon membuat Hamun tak bisa berkutik. Tubuhnya menurut begitu saja padahal hatinya meronta ingin menolak. Bukannya ia tidak mau, tapi ia takut jantungnya akan overload.

Siwon sudah berbaring ditempat tidur, disusul oleh Hamun. Ia memutar badannya memunggungi Siwon. Ia takut, kalau lebih lama melihat Siwon, ia tak akan bisa menahan keinginannya untuk memeluk pria itu. Keinginan absurd yang ia pun tahu, hal itu tak akan bisa ia dapatkan.

15 menit berlalu, tapi Hamun tetap terjaga. Ia tidak mengantuk karena baru bangun pukul 7 tadi dan detak jantungnya masih hiperaktif sampai sekarang.

“Hamun shi, sudah tidur?” tanya Siwon. Jantung Hamun yang nyaris tenang kembali bergejolak, tapi Hamun berusaha bersikap sebiasa mungkin. Hamun memutar tubuhnya, ia mendapati Siwon berbaring menghadapnya.

“Aku tidak mengantuk,” jawab Hamun yang membuat Siwon tersenyum. “Aku juga,” katanya.

Mereka terdiam sesaat saling memandang mata, mencoba menyelami pikiran masing-masing. “Kenapa kau mencintaiku, Hamun shi?” tanya Siwon memecah keheningan malam itu.

“Aku tak tahu,” jawab Hamun. Siwon mengerutkan alisnya tanda ia tak mengerti. “Aku jatuh cinta padamu begitu saja. I don’t know the reason. Falling in love with you was beyond my control. I just… do,” jawab Hamun.

“Kau mencintaiku meski kamu tahu aku tak mencintaimu? Meski kau tahu aku sangat mencintai Johee?” tanya Siwon. Hamun mengangguk disertai dengan senyum lirih.

“Aku gadis bodoh, kan? Kalau kau tak mencintaiku harusnya aku tak perlu memaksamu, kan? Masih banyak lelaki diluar sana yang pasti mau menjadi pacarku,” Hamun terdiam sesaat. “Tapi masalahnya, hatiku tidak bisa melepaskanmu meski aku tahu kalau aku hanya akan tersakiti,” jawab Hamun.

“Meski sampai saat ini aku mencinta Johee, kau akan tetap mencintaiku?” tanya Siwon.

“Meski selama sisa hidupmu kau hanya bisa mencintai Johee, selama itu pula aku akan mencintaimu,” jawab Hamun. Hati Siwon bergetar melihat mata Hamun yang penuh dengan ketulusan, kejujuran, kesedihan, dan rasa sakit.

Air mata kini mulai membasahi bola mata Hamun. Hamun segera memutar tubuhnya kembali memunggungi Siwon. Ia tak ingin Siwon melihatnya menangis. “Aku tiba-tiba mengantuk. Selamat tidur Siwon shi,” ujar Hamun. Hamun menggigit bibirnya. Sekuat tenaga menahan air matanya.

Tiba-tiba saja ia merasakan kehangatan mengalir menembus pori-pori kulitnya. Choi Siwon memeluknya dari belakang, menggenggam tangan Hamun yang ia raih. “Aku akan melupakan Johee dan mencoba untuk mencintaimu, Hamun shi,” ujar Siwon. Hamun terkejut. Ia memutar tubuhnya sehingga kini bisa melihat Siwon dalam jarak sangat dekat.

“Jangan bercanda, Siwon shi. Ini tidak lucu,” ujar Hamun memperingatkan.

“Aku sungguh-sungguh, Hamun shi,” ujar Siwon. Hamun menatap lekat mata Siwon, mencari kebohongan atau bukti-bukti yang menunjukan ia sedang bercanda. Selama 2 menit mencari, Hamun tak mendapatkan semua kemungkinan itu. Yang ada hanya kejujuran dan kesungguhan.

Tangis Hamun merebak saat itu juga. Semua ini terlalu indah bagi Hamun. Siwon tersenyum melihat itu lalu merengkuh kepala Hamun ke dadanya. Memeluk Hamun, memberikan kehangatan yang selama ini Hamun rindukan.

“Jangan bangunkan aku. Aku tak mau mimpi ini berakhir,” gumam Hamun. Siwon tersenyum sambil mengelus kepala Hamun. “Tapi sayangnya, ini kenyataan Hamun shi,” ujarnya. Tangis Hamun makin tak tertahankan. Siwon sendiri sudah tak perduli dengan kaosnya yang basah dengan air mata Hamun.

“Ternyata kau cengeng juga ya,” ledek Siwon. “Ini air mata bahagia,” balas Hamun.

“Semoga ini terakhir kalinya kau menangis ya, Hamun shi,”

“Asal kau selalu disampingku,”

Penantian Hamun selama setahun lebih kini terjawab. Tapi.. apa semua semudah ini?

******

Hari-hari Hamun kini sangat menyenangkan. Ia tak pernah menangis di kamar mandi lagi. Wajahnya tak pernah kehilangan senyum. Ia amat sangat bahagia. Siwon juga demikian, sejak hari itu, beberapa kali Johee datang membayanginya tapi mengingat senyum Hamun membuat Siwon kembali pada tekadnya. Ia bahagia melihat senyum itu dan ingin semua ini berlanjut sampai akhir hidupnya.

Siwon menghela nafas panjang saat menyadari sekarang sudah pukul 1 dini hari. Begitu ia membuka pintu rumahnya, ia tersenyum pada pemandangan yang ia lihat. Hamun tertidur di sova ruang tamu. Tangannya terjuntai kebawah dan TVnya masih menyala. Siwon yakin, Hamun berusaha menghilangkan kantuk dengan menontoh TV tapi tetap saja ia ketiduran.

Siwon menghampiri Hamun. “Kau sangat manis rupanya,” gumamnya lalu mengendong Hamun ala bridal style menuju kamar yang sudah seminggu ini mereka tempati berdua.

Siwon sudah berganti baju dan hendak tidur. Tapi sebelum ia memejamkan matanya, ia menilik wajah Hamun yang tidur disampingnya. Wajah polos ini terlalu sayang untuk diabaikan. Siwon mencium pipi Hamun tapi ternyata itu berhasil membangunkannya.

“Kau sudah pulang, Siwon shi? Mianhe, aku ketiduran,” jawab Hamun penuh rasa bersalah.

Siwon tersenyum sambil terus mengelus kepala Hamun. “Tak masalah. Melihatmu menungguku sampai ketiduran itu.. really touching,” kata Siwon. “Gomawo, Hamunie,” ujar Siwon.

Mata Hamun tiba-tiba membesar. Terkejut atas apa yang ia dengar. “Hamunie?” tanya Hamun sekali lagi. Siwon tersenyum, ia tak menyangka reaksi Hamun akan sepolos ini mendengar Siwon memanggilnya seperti itu. “Hamunie,” kata Siwon, meyakinkan Hamun kalau ia tak salah dengar.

“Katakan sekali lagi,” pinta Hamun.

“Hamunie,”

Once again… please?

“Hamunie~,” Siwon menambahkan aksen aegyo diakhir nama Hamun.

“Terakhir kali,”

“Hamunie, Hamunie, Hamunie, Hamunie,” bisik Siwon berulang kali ditelinga Hamun sampai telinganya memerah. Siwon terkekeh.

“Mulai sekarang kau harus belajar memanggilku ‘yeobo’ ya, chagi,” kata Siwon memberikan penekanan pada kata yeobo dan chagi. Siwon bisa melihat wajah Hamun yang semerah apel sedangkan Siwon terus saja tersenyum sambil menikmati kegugupan Hamun yang menularinya.

******

Musin dingin mulai menghampiri kota Seoul. Salju menutupi jalanan di kota ini. Hari ini, 4 bulan berlalu sejak Siwon mencoba mencintai Hamun. Ia tak pernah lagi memikirkan Johee. Yang ada dipikirannya hanya Hamun. Ini cinta? Semoga saja.

“Kau mau kemana, Hamunie?” tanya Siwon saat mereka sedang berjalan di pedestrian. Hamun mengangkat bahunya, “Aku tak tahu, aku hanya ingin berjalan kaki mengelilingi kota Seoul bersamamu,” jawab Hamun polos yang membuat Siwon mencubit pipinya.

“Aigo, bagaimana kau bisa sepolos ini diumurmu yang sudah 24 tahun?” tanya Siwon.

“Mianhe, perkembanganku lebih lambat daripada pertumbuhan badanku,” balas Hamun yang membuat mereka berdua tertawa.

“Oppa, tunggu disini ya. Aku mau membeli minum dulu,” ujar Hamun. Siwon hendak mencegahnya tapi Hamun bilang, “Aku mau mentraktirmu,” ujarnya. Siwon menyerah dan membiarkan Hamun melakukan apa yang ia mau.

Siwon yang ditinggal sendiri berkeliling tak jauh dari tempat Hamun membeli minuman. Hamun tetap dalam jangkauan matanya.

Tiba-tiba saja mata Siwon menoleh kesamping kirinya. Seoul Park, salah satu tempat bersejarah didalam hidupnya. Disini ia pertama kali bertemu dengan Johee. Jatuh cinta dengan Johee. Berjanji akan menikah dengan Johee. Melamar Johee. Putus dengan Johee. Berpisah dengan Johee. Terlalu banyak kenangan tentang Johee ditempat ini. Dan semua yang sempat terkubur kini bangkit kembali.

Siwon menghela nafas. Mengingat kembali senyum Hamun yang menjadi tekadnya selama ini. Saat ia hendak melangkah meninggalkan tempat itu, sayup-sayup ia mendengar seseorang memanggil namanya. Siwon menoleh, kembali menatap taman itu.

Matanya membesar, lidahnya kelu, air mata mendesak keluar, jantungnya berpacu cepat. Hal yang sama juga dirasakan oleh gadis yang berdiri 5 meter didepan Siwon, Shim Johee.

…..

Setelah beberapa menit mencari keberadaan Siwon, akhirnya Hamun menemukannya. Siwon sedang berdiri didepan Seoul Park. Dengan kedua minuman yang ada ditangannya, Hamun menghampiri Siwon.

“Op…pa..” suara Hamun tenggelam dipenghujung kalimat. Hamun bergeming ditempatnya saat ia melihat gadis yang berdiri beberapa meter didepan Siwon. Gadis itu menatap lekat Siwon, begitu juga sebaliknya.

Tangan Hamun bergetar, membuat permukaan minuman itu tidak setenang tadi. Kini mata Hamun membesar, jantungnya bergejolak, rasa sakit dan takut menyeruak disekujur tubuhnya, dan ingatan tentang masa yang ingin ia lupakan kini kembali berputar. Masa dimana Siwon mencintai Johee lebih dari segalanya dan tak memperdulikan keberadaan Hamun yang ada disampingnya. Hamun tak ingin semua itu kembali.

“Johee,” panggil seorang pria yang berlari dibelakang Johee. Johee melepas pandangannya dari Siwon dan menatap pria yang baru saja tiba disampingnya. “Ah, Donghae-ah,” sapanya.

“Mianhe, aku telat. Kita berangkat sekarang? Sepertinya bioskopnya akan dimulai,” ujar pria itu lalu menggandeng tangan Johee erat dan membawa Johee pergi dari tempat itu. Sebelum terlalu jauh, Johee menoleh kebelakang dan kembali menatap Siwon dengan mata penuh kesedihan. Mata yang menghancurkan semua tekad Siwon saat itu juga.

Hamun menghampiri Siwon. Ia berusaha menyangkal penglihatannya tadi. Tapi saat ia sudah berdiri disamping Siwon, akhirnya Hamun tersadar kalau mimpi buruk akan kembali mengisi hari-harinya. Siwon belum melepaskan pandangannya dari Johee dengan pipi yang mulai basah oleh air matanya.

Air mata Siwon membawa ingatan Hamun ke masa setahun yang lalu. Ditempat inilah ia melihat Siwon menangis. Air mata pria itu mengalir karena Johee memutuskan untuk meninggalkan Siwon. Johee tak memberikan alasan yang jelas dan itu makin membuat hati Siwon hancur.

Johee meleburkan semua cita-cita Siwon tentang ‘Menikah dengan Johee’ dan ‘Hidup bersama dengan Johee di luar negeri tanpa diusik oleh keluarga Siwon’. Air mata itulah yang membuat Hamun memutuskan untuk menikah dengan pria itu. Membuat Hamun melupakan semua rasa sakit yang akan ia rasakan. Membuat gadis itu menempatkan kebahagian Siwon diatas kebahagiannya.

Air mata yang mengalir dipipi Siwon saat ini membuat semuanya seperti deja vu.

*****

Siwon tertidur sambil memunggungi Hamun. Punggung itu hanya berjarak 10 cm darinya tapi terlihat sangat jauh bagi Hamun. Seakan ada pembatas yang menyatakan bahwa punggung itu hanya milik Shim Johee. Sama seperti 4 bulan yang lalu.

“Siwon oppa, sudah tidur?” tanya Hamun. Siwon belum tidur tapi ia tak meresponnya. Perasaannya  kacau dan ia tak ingin Hamun terluka karena dirinya.

“Aku tahu kau belum tidur,” kata Hamun yang mau tak mau membuat Siwon memutar tubuhnya menghadap Hamun. “Ada apa Hamun?” tanya Siwon lembut. Hamun menggigit bibirnya, berusaha menahan air matanya. Ia tak ingin kehilangan suara lembut itu.

“Aku punya permintaan. Kau bisa mengabulkannya?” tanya Hamun. Siwon tak menjawab. Ia ragu. Tekadnya luntur. Padahal 4 bulan yang lalu ia yakin bahwa apapun yang Hamun inginkan pasti akan Siwon kabulkan.

“Terakhir kali aku menangis 4 bulan yang lalu. Saat itu kau akan menjamin bahwa itu terakhir kalinya aku menangis. Ingat?” tanya Hamun lembut, Siwon mengangguk.

“Asal kau tak pergi dariku, aku yakin air mataku tak akan mengalir lagi,” kata Hamun. Ia terdiam sesaat untuk menatap wajah Siwon. Siwon bisa melihat mata Hamun yang sudah berkaca-kaca.

“Jangan tinggalkan aku… please?” pinta Hamun, air matanya mulai berlinang. Hati Siwon tercabik-cabik melihat hal itu. Namun Siwon tahu, tak ada gunanya membohongi Hamun. Gadis itu sudah terlalu mengenal dirinya luar dalam. Hamun bertanya seperti itu bukan karena ia tidak tahu jawabannya, tapi karena ia ingin menyangkal apa yang telah ia pikirkan, tapi sayangnya semua yang Hamun pikirkan akan menjadi kenyataan.

Siwon merengkuh kepala Hamun didadanya dan memeluknya. “Mianhe,” hanya kata itu yang dibisikkan oleh Siwon. Bersamaan dengan itu, tangis Hamun merebak. Hamun tahu, mulai saat ini prioritas Siwon bukan lagi Choi Hamun melainkan Shim Johee. Ia akan kembali mengejar gadis itu dan menganggap Hamun tak ada.

Choi Siwon kembali mengingat Shim Johee dan akan berhenti mencoba mencintai Hamun. Choi Hamun akan kembali tidur di kamar ini sendirian. Ia akan kembali menangisi Siwon di kamar mandi dengan air shower yang sengaja dinyalakan agar tak ada yang tahu bagaimana hancurnya hati gadis ini.

******

“Sudah kuduga kau ada disini,” ujar seseorang yang mengembalikan kesadaran Johee. Johee mengangkat kepalanya dan mendapati Choi Siwon berada dihadapannya. Johee segera bangkit dari bangku taman itu dan hendak pergi meninggalkan Siwon.

Aku akan menunggumu di Seoul Park jam 1 dini hari. Kita akan lari bersama dan membangun kehidupan yang baru di negara lain. Ingat? Tapi saat itu kau tak kunjung datang,” ujar Siwon membuat langkah Johee terhenti. Siwon kini dapat melihat punggung Johee lagi. Punggung yang ia rindukan. Yang ingin ia peluk.

“Aku sudah lupa semua itu,” timpal Johee.

Siwon menghela nafas panjang. “Kau boleh saja lupa hal itu. Tapi kau masih mencintaiku, kan?” ujarnya.

“Aku tak mencintaimu,” balas Johee dingin.

“Kau bisa membohongi semua orang, tapi kau tak bisa membohongiku. Kau tak akan kembali ketempat ini kalau kau tak mencintaiku, Shim Johee,” kata Siwon. Kalimat itu berhasil menghancurkan pertahanan Johee. Kini Johee berbalik dan mendapati air mata Siwon sudah mengalir dipipinya. Air mata rindu, sedih, bahagia, bercampur menjadi satu.

Air mata itu membuat Johee tak kuasa menahan dirinya. Ia menghampiri Siwon dan memeluk pria itu. Melepaskan semua kerinduan yang terpendam didalam hatinya.

“Aku rindu padamu, Johee,” gumam Siwon ditengah isakan tangisnya.

“Aku juga,” balas Johee.

……

Kaki Hamun tak berdaya menopang berat tubuhnya sendiri. Ia terduduk sambil memeluk lututnya di balik pohon yang menyembunyikan keberadaannya dari Siwon dan Johee yang ada ditengah taman. Ya, Hamun sudah ada disini sedari tadi, ia melihat semua kenyataan pahit itu dengan matanya sendiri. Hamun membekap wajahnya agar tak ada yang mendengar isakan tangisnya.

Hamun bukan wonderwoman yang tak akan menangis melihat suaminya meninggalkan dirinya demi gadis lain. Hamun hanya wanita biasa yang terlalu mencintai Choi Siwon. Pria yang bagaikan oksigen bagi Hamun. Pria yang menjadi satu-satunya alasan Hamun untuk tetap hidup sampai saat ini. Mungkin terkesan berlebihan, tapi begitulah Siwon bagi Hamun.

Tapi kini, bagaimana caranya agar ia dapat bertahan hidup?

“Pakai ini,” ujar seseorang menyadarkan Hamun. Hamun mendongakan kepalanya dan mendapati seorang pria yang tak asing bagi Hamun. Pria itu memakaikan mantel kulit di tubuh Hamun.

Tadi saat menyadari Siwon tak ada ditempat tidur, tanpa mengganti baju atau mengambil jaket, Hamun keluar begitu saja dari rumahnya menuju tempat ini. Hamun yakin ia akan bernasib sama seperti dongeng gadis penjual korek api kalau tidak ada pria ini. Ah, mungkin ia akan lebih mengenaskan karena selain mati kedinginan ia juga mati karena ditinggal pergi oleh suaminya.

Pria itu duduk disamping Hamun dalam diam sampai Hamun mulai tenang. “Terima kasih,” ujar Hamun ditengah sesegukannya. Pria itu tersenyum lirih pada Hamun.

“Kau pacar Johee, bukan? Kalau tidak salah.. Donghae shi?” tanya Hamun setelah mengingat pria itu.

Ia mengangguk. “Aku tunangannya. Tapi sepertinya tidak lagi,” ujarnya sambil menunjuk Siwon dan Johee yang masih berpelukan ditempat itu. Hamun menolak untuk melihat, ia tak ingin menangis lagi, tidak ditempat ini.

“Kau akan melepaskan suamimu itu?” tanya pria itu.

Hamun menatapnya lirih dan dengan berat hati ia mengangguk. “Apa aku harus menahannya? Untuk apa? Melihatnya menderita karena menghabiskan sisa hidupnya bersama gadis yang tak ia cintai?”

Donghae menatap manik mata Hamun. Mata itu menyiratkan ketulusan dan rasa sakit yang mendalam. Hanya dengan mata itu, Donghae yakin bahwa gadis ini mencintai Choi Siwon melebihi apapun. Jawaban yang baru Donghae dengar menimbulkan suatu kekaguman baginya.

Donghae mengalihkan pandangannya. Ia tersenyum lirih sambil menatap ke arah jalan raya. “Kau sangat baik,” ujarnya. “Apa setelah melepaskan pria itu, kau mau berpacaran denganku? Kita sama-sama pihak yang tersakiti, bukan?” tanya pria itu.

Hamun menatap Donghae lirih lalu menggeleng. “Aku tak bisa. Aku tak yakin mampu melupakan pria itu,” ujarnya.

“Aku juga. Kalau pun Johee meninggalkanku, aku pasti tak akan bisa melupakannya. Aku terlanjur terlalu mencintainya,” balas Donghae. Donghae mengangguk, ia mendapati satu kesamaan antara dirinya dan Hamun. Kini ia kembali menatap Hamun. “We’re stupid, right?” ujarnya sambil tertawa pedih.

Hamun tersenyum. “Yeah, we’re a fool, karena kita punya kecenderungan jatuh cinta sama orang yang tidak mencintai kita,”

Donghae mendengus kesal lalu tertawa. Menertawai dirinya dan kebodohannya. “Tapi sayangnya aku tak sebaik dirimu. Aku tak bisa melepas Johee begitu saja,” ujarnya.

“Kalau kau sudah tak kuat menahan semuanya, kau bisa hubungi aku. Mungkin aku tak bisa memberimu cinta tapi aku bisa menghiburmu sebagai seorang sahabat,” ujar Donghae.

Same thing goes for you,” ujar Hamun. Donghae merespon dengan anggukan lalu bangkit dan berjalan meninggalkan Hamun.

Hamun bangkit dari tempatnya tadi. Saat ia tak sengaja menoleh ke taman itu, ia mendapati Siwon sedang mencium Johee, lembut dan hangat. Berbeda dengan ciumannya dihari pernikahan dulu. Asin karena air mata Siwon dan terasa dingin. Tidak ada kelembutan, tidak ada cinta.

Tahu-tahu air mata Hamun kembali mengalir. Dengan langkah menyeret ia kembali ke rumah itu. Satu-satunya tempat yang mengingatkan Hamun kalau status ia dan Siwon adalah: Menikah.

Begitu Hamun tiba dirumahnya, tanpa sengaja ia melihat dinding ruang tamunya. Disana terdapat pajangan yang diberikan oleh orang tua mereka. Hadiah pernikahan mereka.

Mattew 19:6 “So they are no longer two, but one. Therefore what God has joined together, let not man separate.”

Tangis Hamun menderas mengingat hal itu. Itulah pernikahan yang ia cita-citakan sejak kecil. Tumbuh bersama sampai tua. Bahagia melihat anak dan cucuk kelak. Hanya ada kasih. Tak pernah terbayang kata perceraian di kamus Hamun.

Tapi apa yang harus dilakukannya sekarang? Menjadi egois dan membiarkan pria itu menderita? Atau membiarkan pria itu bahagia tapi Hamun yang menderita?

******

“Ah, Siwon oppa, sudah bangun? Bagaimana tidurmu?” tanya Hamun ceria begitu Siwon keluar dari kamar tamu. Siwon tersenyum lirih, tak mungkin ia berkata jujur pada Hamun kalau semalaman ia ada di Seoul Park bersama Johee. Berpelukan, berciuman, dan berencana untuk membentuk hidup baru diluar negeri. Tempat dimana mereka hanya berdua, tidak ada Hamun, tidak ada Donghae. Siwon tak memiliki kemampuan untuk menyakiti Hamun dengan menceritakan semua hal itu.

“Nyenyak sekali,” jawab Siwon sambil mengambil posisi duduk di kursi makan. Hati Hamun mencelos mendengar jawaban itu, ia tahu Siwon berbohong karena tak ingin Hamun tersakiti.

“Hari ini kita jalan-jalan, yok,” ajak Hamun sambil meletakan semangkuk bubur dihadapan Siwon.

Siwon terdiam sesaat. Ia ingat kalau hari ini ia berjanji akan pergi dengan Johee. “Aku tidak..”

Hamun mengatupkan kedua tangannya didepan wajahnya. “Jebal?” pinta Hamun. Matanya menatap Siwon lirih. Siwon akhirnya mengangguk. Hamun tersenyum sambil mengucapkan “Terima kasih,” lalu bangkit dan masuk ke kamar mandi. Menyalakan air keran di bath up, menyamarkan isakan tangis yang tak bisa ia tahan lagi.

Ini keputusan Hamun. Ia sudah memutuskan untuk melepas pria itu dari hidupnya. Ia tak ingin Siwon menderita. Ia tak ingin Siwon merasakan sakit seperti yang ia rasakan selama ini.

******

Johee menghela nafas panjang setelah menerima sms dari Siwon. Intinya Siwon membatalkan kencan hari ini karena Hamun ingin pergi bersamanya. Johee tahu status Siwon masih suami Hamun jadi ia tak punya hak untuk marah. Lagipula, ia sendiri belum jujur kepada Donghae tentang rencananya dan Siwon.

“Kenapa melamun?” tanya Donghae yang sedari tadi melihat Johee kurang bersemangat. Johee menyimpan kembali ponselnya kedalam tas dan mulai mengaduk kopi dihadapannya. Ia mempertimbangkan kalimat apa yang pantas untuk menyampaikan permasalahan ini tanpa menyakiti Donghae. Pria itu sudah terlalu baik pada Johee.

“Kapan kau akan pergi bersama Siwon?” tanya Donghae tiba-tiba yang membuat jantung Johee nyaris copot. Johee terdiam, lidahnya kelu.

“Aku melihatnya kemarin,” kata Donghae sambil tersenyum lirih. “Kau dan Siwon tampak sangat bahagia,”

Hati Johee sakit. Sakit akan rasa bersalahnya pada Donghae. “Itu… mianhe,” ujar Johee. Hanya itu kalimat yang bisa dan pantas ia ucapkan saat ini. Tak ada yang bisa disangkal.

“Gadis itu juga ada disana. Ia berdiri dibalik pohon hanya dengan sandal rumah, piyama, tanpa mantel, ataupun sarung tangan. Dia menangis seperti orang gila,” jelas Donghae.

“Gadis.. Kang Hamun? Istri Siwon?” tebak Johee. Kini seluruh darahnya berdesir.

“Ya, Kang Hamun, lebih tepatnya Choi Hamun,” gumam Donghae. “Dia seperti orang gila. Seperti orang yang kehilangan oksigen untuk bernafas. Ia seperti kehilangan kemampuan untuk bertahan hidup. Dengan melihatnya saja, aku bisa tahu kalau ia begitu tersiksa. Tapi apa kau tahu jawabannya saat kutanya ‘Kau akan melepaskan suamimu itu?’” tanya Donghae, matanya memandang lekat Johee.

Johee mencoba berpikir. “Kalau dia sampai seperti itu, aku rasa.. dia tak akan melepaskan Siwon untukku,”

Donghae tersenyum lalu menggeleng. “Salah,” jawab Donghae. Mata Johee melebar, tak percaya dengan jawaban Donghae.

Donghae melanjutkan, “ ‘Apa aku harus menahannya? Untuk apa? Melihatnya menderita karena menghabiskan sisa hidupnya bersama gadis yang tak ia cintai?’ Itu yang ia katakan,”

Hati Johee mencelos. Kini rasa bersalahnya berkali-kali lipat. Bukan hanya pada Donghae melainkan pada gadis itu juga. Ia tak menyangka rasa cinta Hamun sebesar itu. Ini seperti.. Hamun mengalahkan Johee. Ia ingat bagaimana dulu Johee meninggalkan Siwon karena ia lebih mementingkan dirinya. Orang tua Siwon memberikan beasiswa di Universitas dan fakultas luar negeri yang Johee impikan dengan syarat ia pergi dari kehidupan Siwon.

“Gadis itu sangat baik,” ujar Donghae. Air mata Johee meleleh. Ia merasa dirinya tak pantas merebut Siwon dari gadis yang sangat mencintainya. Ia tak pantas untuk bersaing dengan gadis itu.

“Andai saja aku bertemu dengannya lebih dulu, aku yakin kami akan saling mencintai,” gumam Donghae. “Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi, dan yang kini aku cintai adalah gadis yang duduk dihadapanku,” ujarnya. Johee mendongak, memandang mata Donghae yang tak lepas darinya.

“Mianhe, Johee. Aku bukan pria yang baik seperti Hamun. Aku pria egois yang terlalu menyayangimu dan aku.. tak akan melepaskanmu,” Donghae bangkit dari tempat duduknya dan mencium kening Johee.

“Aku..”

“Jangan jawab sekarang. Selesaikan dulu masalahmu dengan tuan Choi itu, ya, Johee. Kau tahu mana yang terbaik untuk dirimu juga pria itu,”

******

“Hamunie, pelan-pelan. Kau bisa jatuh,” ujar Siwon khawatir pada Hamun yang sudah berlarian dengan high heels setinggi 5 cm yang ia pakai. Hamun menghentikan langkahnya lalu kembali ketempat Siwon dan menarik tangan pria itu agar ia berjalan lebih cepat.

“Ayo oppa, jangan lama-lama! Aku tak sabar ingin naik roller coaster!” seru Hamun dengan antusias. Siwon menghela nafas panjang. Ia lelah, tapi begitu melihat senyum Hamun, energinya seakan terisi ulang. Siwon mengelus kepala Hamun lalu ganti menggenggam tangan Hamun. “Kau mau main roller coaster? Kajja!” seru Siwon.

Hamun mencuri pandang punggung pria yang berada didepannya ini. Air matanya mendesak keluar tapi segera Hamun hapus sebelum Siwon melihatnya. Setidaknya hari ini, Hamun ingin berbahagia dengan Siwon. Kebahagian yang terakhir sebelum semua itu ia kembalikan pada Johee.

Siwon dan Hamun menjajal semua wahana yang ada di Lotte World ini. Tak ada satu pun yang terlewatkan. Mereka terlalu asik sampai tak menyadari kalau matahari sudah berada diufuk barat.

“Hamun, kita jalan-jalan di sekitar pantai saja gimana?” ajak Siwon. Salah satu yang terkenal dari Lotte World ini adalah pantai buatannya. “Mataharinya cantik, loh,” lanjutnya. Hamun menyetujui.

Hamun dan Siwon berjalan disepanjang pesisir pantai. Membiarkan gelombang kecil air laut membasahi kaki mereka dan menghapus jejak kaki mereka.

Hamun berjalan dalam diam. Mencoba mengingat setiap sensasi yang ia rasakan ditempat ini. Bagaimana gelombang laut membasahi kaki mereka, menghapus jejak kaki mereka. Bagaimana keindahan langit jingga itu. Bagaimana suara burung-burung itu. Bagaimana aroma tubuh Siwon. Bagaimana kehangatan tangan itu.. Hamun ingin mengingat semuanya karena ini adalah kesempatan terakhirnya.

“Kenapa diam saja, Hamunie?” tanya Siwon. Langkah mereka terhenti. Hamun memutar tubuhnya untuk dapat melihat mata Siwon. Hamun memandang mata itu cukup lama tanpa berkata apapun.

“Ada apa, Hamun? Kau sakit?” tanya Siwon. Hamun tak menjawab namun tiba-tiba ia menjinjit, menarik kemeja Siwon untuk dapat menjangkau bibir pria itu lalu.. menciumnya. Siwon terkesiap, tapi ia sendiri tidak ingin melepaskan ciuman itu. Kini ia malah menutup kedua matanya, menikmati kehangatan dan ketulusan yang mengalir dari bibir Hamun. Siwon mengeratkan genggaman tangannya pada Hamun. Tangannya yang bebas merengkuh leher Hamun, tak ingin mengakhiri moment itu sampai akhirnya Hamun yang lebih dulu melepas ciuman itu.

“Aku butuh oksigen,” gumam Hamun yang disusul oleh tawa dari mereka berdua.

Hamun melihat jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 6 sore. Sudah waktunya ia mengakhiri semua kebahagiaan ini. Kalau tidak sekarang, takutnya ia malah menginginkan lebih dan tak bisa melepas Siwon.

“Sudah jam 6, aku harus pergi atau kalau tidak aku bisa ketinggalan pesawat,” ujar Hamun. Siwon mengernyit tanda ia tak paham maksud Hamun. “Maksudnya?” tanya Siwon akhirnya.

“Mulai hari ini aku akan pindah ke Paris,” ujar Hamun. Jantung Siwon seakan melompat dari tempatnya. Matanya sudah melebar dan mulutnya sudah setengah menganga. “Kau bercanda, kan?” tanya Siwon.

“Aku serius. Aku mendapat beasiswa S2 disana,” jawab Hamun mati-matian menahan emosinya. Hamun pun berharap semua ini hanya sekedar lelucon sehingga ia tak perlu pergi meninggalkan Siwon. Tapi apa daya, ini kenyataan.

Hati Siwon memberontak. Ia tidak terima dengan keputusan Hamun yang mendadak dan tidak dirundingkan dulu dengannya. Tapi ia tersadar. ‘Apa saat aku akan pergi dengan Johee nanti, aku akan memberitahu Hamun? Apa aku akan berunding dengannya dulu? Aku tak akan melakukan itu. Apa setelah Hamun tahu rencanaku dengan Johee, Hamun akan melarangku untuk pergi? Tidak,’ batin Siwon.

Sesakit apapun hati Hamun, Siwon yakin Hamun akan membiarkan dirinya pergi. Karena Hamun selalu mendahulukan kebahagiaan Siwon dari pada dirinya sendiri. Dan dalam kasus ini, Siwon juga tak berhak marah pada Hamun.

“Sampai kapan kau disana?” tanya Siwon. Hamun mengangkat bahunya, “Aku tidak tahu,” jawab Hamun.

“Barang-barangmu?” tanya Siwon. “Hyejin onnie akan mengirimkannya untukku,” jawab Hamun.

“Jadi, kau akan benar-benar pergi?” tanya Siwon sekali lagi. Hamun mengangguk lalu melepas genggaman tangan Siwon. “Aku pergi dulu, bye oppa,” pamit Hamun.

Hamun berjalan menjauhi Siwon. Hatinya seperti diiris, sangat sakit. Saat itulah air matanya tak terbendung lagi. Ia membekap mulutnya agar isakan itu tidak terdengar.

Siwon bergeming di tempatnya. Menatap punggung gadis yang makin jauh itu. Ia sendiri tak tahu kenapa, tapi air mata kini mengalir dipipinya. Rasanya hampa. Separuh jiwanya ikut pergi bersama gadis itu. Siwon tak pernah tahu kalau ia akan merasa sesakit ini jika Hamun meninggalkannya.

******

“Ini,” Siwon mendongak dan mendapati Johee menyodorkan air mineral untuknya. Siwon mengambil minuman itu lalu Johee duduk disampingnya.

“Ini tidak seperti kencan,” ujar Johee. “Kau tidak bersemangat dan lebih sering melamun,” lanjutnya.

Siwon hanya memutar-mutar air meneral itu tanpa meminumnya. “Mianhe,” hanya itu kata yang keluar dari mulutnya.

“Ada apa?” tanya Johee.

Siwon berpikir sesaat lalu memandang lekat Johee. “Disaat kau mencintaiku, kau memperoleh beasiswa di fakultas yang kau inginkan di luar negeri. Siapa yang kau pilih? Aku atau beasiswa itu?” tanya Siwon.

Darah Johee berdesir. Hatinya mencelos. Ia tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu dari Siwon. Sampai saat ini Siwon tak pernah tahu alasan sesungguhnya yang membuat Johee meninggalkannya dua tahun lalu.

“Kalau ia mencintaimu, ia akan memilih beasiswa itu. Tapi kalau ia sangat mencintaimu, ia akan memilihmu,” jawab Johee. Siwon mengangguk mengerti.

Johee terdiam, mengamati Siwon. Ingatannya kembali pada pembicaraannya dengan Donghae kemarin. Ia tak bisa membohongi Siwon lebih lama lagi. Ia tak ingin menang dari Hamun dengan cara seperti ini karena dari awal sesungguhnya Johee sudah kalah dan tak berhak mendapatkan jackpot seperti Siwon.

“Aku adalah kategori yang pertama dan Kang Hamun adalah kategori yang kedua,” timpal Johee. Mata Siwon melebar tak percaya.

“Dulu aku meninggalkanmu karena orangtuamu menawarkan aku beasiswa. Syaratnya, aku harus menjauh dari kehidupanmu,” ujar Johee.

“Kau… bukan karena orang tuaku menerormu?” tanya Siwon. Johee menggeleng. “Ini keputusanku. Aku memilih beasiswa itu, Siwonie,” jawab Hamun.

Siwon terdiam, mencoba mengendalikan emosinya. “Baiklah, kau tipe yang pertama. Tapi apa maksudnya Hamun adalah tipe kedua? Kemarin ia baru saja meninggalkanku karena ia memperoleh beasiswa S2,” terang Siwon.

Johee tersenyum lirih. “Ini yang membuatmu uring-uringan dari tadi? Hamun meninggalkanmu?” tanya Johee tapi Siwon tak bisa menjawab. Itulah alasannya dan Siwon tak ingin menyakiti hati Johee.

Johee menghela nafas. “Kalau kau jadi Hamun, apa yang kau lakukan jika melihat Siwon dan Johee kembali bersama dan berniat melarikan diri bersama? Apa kau akan melepaskan Siwon?” tanya Johee.

Siwon terdiam. Memcoba memikirkan semuanya dengan karakter Hamun. “Kalau aku Hamun, aku pasti akan melepaskan Siwon. Karena bagi Hamun kebahagiaan Siwon lebih penting daripada kebahagiaannya,” jawab Siwon yang sedikit demi sedikit mengurai hatinya yang kusut. Jawaban yang ia ucapkan mengingatkannya kembali pada kebaikan dan cinta gadis itu.

“Hanya itu?” tanya Johee yang memaksa Siwon untuk berpikir.

“Siwon akan merasa sangat bersalah pada Hamun jika ia meninggalkan gadis itu demi Johee. Hamun tahu itu. Karena itulah, Hamun akan membuat sebuah skenario yang seakan-seakan Hamun-lah yang meninggalkan…. ” Siwon tak bisa melanjutkan kalimatnya. Jawaban yang Siwon lontarkan membuat pria itu bisa menebak jalan pikiran Hamun. Ia yakin itulah isi otak Hamun, tapi ia tak habis pikir mengapa Hamun mau berkorban sebegitu besarnya.

“Sudah tahu alasan Hamun meninggalkanmu?” tanya Johee.

“Tapi aku belum menceritakan apapun pada Hamun tentang rencana kita,” ujar Siwon.

“Kalau pun ia tahu, apa ia akan memberi tahumu? Kau lah yang paling mengenal istrimu. Meski ia tahu, ia akan pura-pura tidak tahu agar kau tidak merasa bersalah padanya,” jelas Johee seakan bisa menebak jalan pikiran Hamun.

“Donghae cerita padaku, Hamun melihatmu dan aku di Seoul Park malam itu. Kata Donghae, ia melihat Hamun seperti orang gila. Seperti orang yang kehilangan oksigen untuk bernafas. Hamun seperti kehilangan kemampuan untuk bertahan hidup. Ia begitu tersiksa. Tapi apa kau tahu jawabannya saat  Donghae bertanya ‘Kau akan melepaskan suamimu itu?’”

Siwon terdiam menanti kelanjutan Johee. “ ‘Apa aku harus menahannya? Untuk apa? Melihatnya menderita karena menghabiskan sisa hidupnya bersama gadis yang tak ia cintai?’ Itu yang ia katakan,”

Hati Siwon mencelos mendengar semua kenyataan itu. Ia tak menyangka gadis itu telah berkorban begitu banyak untuknya tanpa pernah memikirkan dirinya sendiri.

“Ia begitu mencintaimu sampai-sampai aku merasa tak pantas untuk merebutmu darinya,” ujar Johee. “Kurasa tak akan susah untuk jatuh cinta pada gadis sebaik itu, kan?”

Mereka berdua terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing sampai akhirnya Siwon membuka suara. “Jadi… kita akan berpisah disini? Seperti ini? Lalu kau bagaimana, Johee?” tanya Siwon.

Gadis itu tersenyum lirih. “Aku punya Lee Donghae. Ia sama baiknya dengan Hamun tapi sedikit egois. Aku rasa ia bisa menungguku sebentar lagi sampai aku benar-benar bisa melupakanmu,” ujar Johee.

Johee bangkit dari tempat duduknya. Sebelum ia melangkah terlalu jauh, Johee menatap Siwon lagi. “Butuh saran? Kejarlah Hamun sekarang juga sebelum ada pria lain yang menyentuh hatinya. Gadis yang rapuh akan sangat mudah untuk didapatkan,” ujarnya lalu benar-benar pergi meninggalkan Siwon.

******

Hati Siwon campur aduk. Semua jenis perasaan berkumpul direlung dadanya. Sedih karena ia akhirnya berpisah dengan Johee. Sakit karena akhirnya ia tahu alasan Johee meninggalkannya dulu. Bahagia karena ia tahu Hamun begitu menyayanginya.

Begitu ia tiba di rumah, kakinya langsung membawanya menuju kamar Hamun, kamar mereka berdua. Semua kenangan tentang Hamun tiba-tiba terputar di kepala Siwon. Siwon tertawa sendiri mengingat bagaimana senangnya Hamun saat dirinya memanggilnya dengan sebutan ‘Hamunie’. Tapi tiba-tiba rautnya berubah sedih karena ia mengingat bagaimana air mata Hamun saat ia memohon Siwon untuk tetap tinggal.

Siwon menghela nafas panjang. Semua kejadian yang datang silih berganti membuat Siwon belum bisa berpikir tentang apa yang harus dilakukannya. Ia memutuskan keluar dari kamar itu tapi tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatian. Buku sketsa Hamun.

Siwon berjalan menuju meja belajar Hamun dan meraih buku sketsa itu. Ia tahu Hamun pintar menggambar tapi selama ini ia tak pernah memperdulikan hal itu. Siwon mendengus kesal, lagi-lagi ia menemukan bukti kalau dia bukan suami yang baik bagi Hamun. Siwon memutuskan untuk melihat isi buku itu. Ia penasaran dengan apa yang Hamun gambar selama ini.

Siwon tercengang begitu melihat gambar yang ada di halaman pertama. Dengan sekali pandang pun Siwon bisa tahu kalau itu adalah gambar dirinya. Hamun menggambar sosok Siwon dari belakang. Punggung Siwon terlihat sangat tegap dan kekar. Dibawah foto itu tertulis:

Juli 20th, 2012. ‘He’s not fine. I want to hug him, but i now i can’t. He doesn’t wants me. He doesn’t wants to marry me. What he wants  is Shim Johee. But i’m sorry, i can give her for you.’

Siwon membalik halaman itu. Kali ini ia mendapati sosoknya yang Hamun gambar dari samping. Hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis terpatri disana. Dibawa tulisan itu ada tertulis:

December 25th, 2012. ‘I love you without knowing how, why, or even from where. I’ve locked you in my heart and guess what? I lost the key. But.. the only girl in his heart, mind, and soul, is Shim Johee. Not me.’

Hati Siwon mulai mencelos.  Beberapa bagian tulisan itu ada yang luntur. Siwon bisa menebak bahwa Hamun menangis saat mengingat kenyataan bahwa Siwon tidak mencintainya. Siwon membalik halaman lagi, lagi, lagi, dan lagi. Semua yang ada di buku itu adalah Siwon. Masing-masing halaman terdapat tulisan yang mewakili perasaan Hamun selama ini.

January 28th, 2013. ‘You hurt this heart. I want to hate you. I tried, and now i’m tired. I can’t do it. The mind gets angry but this heart still love you,’

February 21th, 2013. ‘Guys always make girls cry, but if a girl can make a guy cry, she must really mean something to him. Just like Siwon. And i know, Johee really mean something to him,’

April 5th, 2013. ‘I wish i could go back to the first time I met you and… turn the other way so i won’t feel this pain’

July 20th, 2013. ‘He smiles for me. But the prettiest smiles hide the deepest secret. The prettiest eyes have cries the most tears. And the kindest hearts have felt the most pain,’

Jantung Siwon berpacu cepat. Memaksa air matanya untuk keluar. Dengan segera Siwon menutup buku itu dan meninggalkan kamar Hamun.

Sebelum Siwon sempat kembali ke kamarnya, ia melihat tumpukan surat yang ada di meja makannya.  Tadi saat Siwon hendak memasuki rumahnya, tanpa sengaja ia melihat setumpuk surat di kotak pos rumahnya.

Siwon membaca nama pengirim di amplop surat itu untuk memilah-milah mana yang akan ia baca sekarang atau besok pagi. Tapi mata Siwon tertegun saat ia melihat salah satu surat yang dikirim oleh Pengadilan. Siwon dengan cekatan membuka surat itu dan mendapati sebuah surat gugatan cerai disana.

Tangan Siwon yang memegang surat itu bergetar hebat. Air mata yang sekuat tenaga Siwon tahan, kini mengalir.

‘The prettiest smiles hide the deepest secret. The prettiest eyes have cries the most tears. And the kindest hearts have felt the most pain,’ kata-kata itu kembali mencuat di kepala Siwon, membuat tangisan pria itu menderu. Siwon tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Hamun saat melakukan semua ini. Mengingat semua ini Hamun lakukan demi kebahagiaannya terasa sangat menyakitkan.

Ia tak bisa lagi menerima semua kebaikan Hamun. Ia tak bisa lagi melihat Hamun menyakiti dirinya sendiri. Ia harus menghentikan semua itu.

******

Hamun terbangun dari tempat tidurnya berkat bell apartemen yang dibunyikan ratusan kali sejak setengah jam lalu. Hamun sudah mengabaikannya karena saat ini moodnya tidak bagus, tapi sepertinya orang yang entah-siapa-itu tak menyerah.

Hamun turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju cermin full body di kamarnya. 3 minggu ditempat ini membuat berat tubuhnya turun 7 kg. Matanya sudah seperti panda, hitam dan berkantung besar. Ia sudah layaknya zombie tapi Hamun tak perduli.

Dengan langkah gontai, Hamun berjalan menuju pintu apartemennya. “Iya, iya, aku buka pintunya. Berhenti memencet bel,” seru Hamun.

Hamun membuka pintu dan hendak memberi 1001 nasehat pada tamu tak diundang itu tapi semua kata-kata yang ada dikepalanya menguap begitu saja setelah melihat wajah tamu itu dengan jelas.

“Hai, Hamun,” sapa pria yang berdiri diambang pintunya. Choi Siwon.

Siwon kaget saat melihat tubuh Hamun yang sangat kurus juga mata Hamun yang hitam dan bengkak. Ia tak bisa membayangkan bagaimana Hamun menangisinya tiap malam. Siwon sedih melihat semua yang terjadi pada Hamun tapi ia berusaha bersikap sebiasa mungkin dihadapan Hamun.

Senyum pria itu membuat dunia Hamun berhenti sesaat tapi untung saja logika menyadarkannya. “Ha-hai, Siwon oppa,” balas Hamun. Belum sempat Hamun bertanya ‘Mengapa oppa disini?’ pria itu sudah terlebih dulu melenggang masuk bersama kopernya. Hamun terheran.

“Aku ada tugas dinas disini. Daripada membayar hotel, aku pikir lebih baik menginap di apartemenmu. Alamatmu aku dapat dari Hyejin noona,” ujar Siwon. Hamun menutup pintu apartemennya lalu menghampiri Siwon tapi tetap menjaga jarak. Hamun tak ingin hasratnya untuk memeluk pria itu muncul. Ia harus ingat kalau Siwon bukan lagi miliknya, melainkan Johee.

Hamun mengangguk mengerti. “Berapa lama?” tanya Hamun. Siwon tersenyum, “2 minggu,”. Saat itu juga jantung Hamun kembali bergejolak. Cobaan apa lagi ini? Bagaimana ia bisa melupakan Siwon kalau selama 2 minggu ke depan pria itu akan tinggal bersamanya?

Hamun menghela nafas. Ia berniat melarang Siwon untuk tinggal ditempat itu, tapi Siwon sudah keburu hilang bersama kopernya, berjalan memasuki kamar Hamun. “Ini kamarmu?” tanya Siwon. Hamun menghela nafas lagi, ia pun sadar kalau ia tak memiliki kemampuan untuk menolak keinginan pria itu.

“Ini kamarku, oppa. Kamar tamu disebelah sana,” ujar Hamun setelah menyusul Siwon yang sudah berkeliling mengamati kamar Hamun. “Kita tidur disini saja berdua,” ujar Siwon dengan senyum riang.

‘Kita tidur disini saja berdua’ kata-kata itu menggema di pikiran Hamun. Membangkitkan rasa sakit yang nyaris ia lupakan. Ia juga ingin tidur disini bersama Siwon. Tapi kenyataan kembali menyadarkannya bahwa ini semua tidak boleh. Ia harus menjaga jaraknya dengan Siwon. Ia tak boleh berharap apapun pada Siwon. Siwon bukan milik Hamun lagi.

Senyum Siwon tiba-tiba menghilang saat mendapati Hamun menatapnya lurus dengan mata yang sudah berair. Mata itu seakan berkata ‘Aku mohon, jangan sakiti aku lagi’.

“Kalau oppa mau tidur disini, aku akan tidur di kamar tamu,” ujar Hamun akhirnya. Ia hendak beranjak dari kamar itu, tapi tangan Siwon yang mengenggam tangan Hamun membuat langkah Hamun terhenti. “Mianhata, Hamun. Aku akan tidur di kamar tamu,” ujar Siwon sambil mengelus kepala Hamun hangat.

Hamun menatap punggung Siwon yang menjauh itu. Begitu punggung itu menghilang dan Siwon telah menutup pintu kamarnya, kaki Hamun melemas dan terduduk ditempat ia berdiri tadi. Tangisan Hamun pecah namun ia membekap mulutnya, tak membiarkan Siwon menyadari hal itu. Rasa sakit yang dulu ia rasakan kembali menyerangnya. Siwon ada sangat dekat dengannya tapi ia terlalu jauh untuk Hamun gapai. Dan perasaan seperti itu sangat menyiksa Hamun.

Dibalik pintu kamarnya, Siwon sudah terduduk lemas. Ia menjambaki rambutnya, kesal dengan semua kebodohannya dan ketidak berdayaannya. Meski Hamun mencoba menyembunyikan tangisannya, Siwon tetap tahu bahwa Hamun kembali menangis karenanya. “Mianhe,” gumam Siwon.

******

“Pagi, Hamun,” sapa Siwon pada Hamun yang baru keluar dari kamarnya. Mata Hamun mengerjap tak percaya dengan apa yang ia lihat. Siwon sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi untuknya.

“Aku sudah buatkan sarapan. Ayo makan, Hamun,” ujar Siwon dengan senyum tulus. Hati Hamun mulai memberontak melihat kebaikan Siwon. Otak Hamun kembali mengingatkan gadis itu kalau pria itu bukan lagi miliknya. Sebisa mungkin, Hamun harus menjauhi pria itu agar setelah Siwon pergi dari apartemen ini, Hamun tak akan tersiksa separah dulu.

“Oppa, mianhe, aku sudah telat,” ujar Hamun. Hati Siwon tiba-tiba terasa sakit tapi dengan segera ia mengkamuflase rasa itu dengan senyuman di wajahnya. “Ah, gwencana Hamun. Mungkin aku terlalu lama menyiapkannya. Hati-hati, ya. Nanti aku akan menjemputmu di kampus,” ujar Siwon.

Hamun menatap Siwon lirih. “Mianhe oppa.. nanti aku..” Siwon tahu kalau Hamun akan melarangnya untuk menjemput Hamun. Dengan segera, Siwon memotong perkataan Hamun. “Bye Hamun, pergilah sebelum kau benar-benar telat,” ujarnya sambil mendorong Hamun keluar dari pintu apartemen itu.

Begitu Siwon ditinggal seorang diri, ia segera menyentuh dadanya yang dari tadi terasa sakit. “Apakah ini yang Hamun rasakan jika aku menolak makanan yang ia buat? Sesakit inikah rasanya saat aku menepis tangan Hamun ketika ia ingin menolongku?” tanya Siwon pada dirinya sendiri. Siwon mendengus atas kebodohannya. “Hamun hidup dengan rasa sakit ini selama ia bersamaku,”

…..

Siwon menatap jam yang sudah menunjukan pukul 4 sore waktu Paris. Ia tak bisa tenang karena Hamun tak kunjung pulang dan gadis itu tak memberikan kabar apapun padanya. “Jadi.. ini yang Hamun rasakan tiap kali aku pulang larut,” gumamnya. Siwon mengacak rambutnya, semakin menyesali semua tindakannya pada Hamun. Apa ini yang disebut karma?

Siwon tak sabar. Ia tak bisa berdiam disini. Siwon segera melangkahkan kakinya keluar dari apartemen ini menuju kampus Hamun.

*****

Siwon mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kampus ini, mencari keberadaan Hamun. Ah, itu dia, di salah satu meja bundar di cafe kampus. Siwon dapat melihat Hamun melalui kaca bening yang membatasi cafe dengan pedestrian. Siwon hendak menghampirinya tapi langkahnya terhenti saat melihat seorang pria Korea duduk dihadapan Hamun dan memberikan sebuket bunga untuknya. Hamun menerima bunga itu dengan senyuman yang sama seperti yang biasa ia berikan pada Siwon.

Dada Siwon terasa sakit. Jantung Siwon kini bergejolak. Hatinya kalut dengan semua pemikiran, ‘Pria itu menyukai Hamun? Apa Hamun menyukainya juga? Apa Hamun tidak lagi mencintaiku?’ Hati Siwon mencelos saat ia lagi-lagi tersadar akan apa yang telah ia perbuat pada Hamun selama ini. “Beginikah rasa sakitnya saat Hamun tahu aku tak mencintainya?”

Siwon bergeming ditempatnya. Memperhatikan Hamun dari jauh sambil berusaha mengendalikan emosi yang bangkit akibat rasa cemburu. Tiba-tiba saja tangan pria yang duduk didepan Hamun itu menyingkap rambut Hamun kebelakang telinganya lalu mengelus kepala Hamun lembut. Perbuatan itu berhasil membuat Siwon kalap.

Dengan kesadaran penuh, Siwon menghapiri cafe itu. Masuk kedalamnya dan menggenggam tangan Hamun agar ia bangkit dari tempat duduknya. “O-oppa,” gumam Hamun kaget dengan kemunculan Siwon yang terlalu tiba-tiba dan sepertinya tidak dalam mood yang bagus.

“Kau siapa?” tanya pria itu, Kim Youngwoon, teman kuliah Hamun yang sepertinya memang sedang melakukan pendekatan padanya. Kini semua mata telah memandang mereka, penasaran dengan kelanjutan drama 3 orang Korea ini.

Siwon menatap Youngwoon tajam. Tiba-tiba tangan Siwon yang bebas merengkuh wajah Hamun membuat Siwon dapat menjangkau bibir Hamun dan menciumnnya. Semua mata pengunjung dan Youngwoon sudah melebar.

“Elle est ma femme. She is my wife. Get it?” ujar Siwon setelah melepas kecupan itu. Siwon mengambil tas Hamun lalu membawanya keluar dari cafe. Kim Youngwoon sendiri sudah terduduk lemas dibangkunya tadi. Sekuat tenaga menahan air matanya.

*****

Tangis Hamun meledak saat Hamun ingat bagaimana kecupan Siwon tadi. Hamun mendongakan kepalanya sehingga ia dapat dengan jelas melihat punggung Siwon didepannya. Punggung itu sangat dekat dan kini terasa mudah untuk digapai, tapi tetap saja ia tak bisa memeluknya karena pria itu bukan lagi miliknya. Ini jauh lebih menyakitkan dari semua jenis rasa sakit yang pernah Hamun rasakan.

“Lepaskan,” gumam Hamun yang membuat langkah Siwon terhenti. “Lepaskan tanganku, Siwon shi,” ujar Hamun. Hati Siwon sakit mendengar Hamun tak lagi memanggilnya ‘oppa’. Ia memutar tubuhnya dan mendapati Hamun menatapnya tajam dengan air mata yang terus mengalir.

“Jangan membuatku terbang tinggi ke langit kalau pada akhirnya kau akan kembali menjatuhkanku ke bumi,” ujar Hamun, Siwon sendiri sangat mengerti maksud Hamun. “Lepaskan aku,” ujar Hamun lagi.

Siwon menatap Hamun lirih. “Aku tak mau. Terakhir kali aku melepaskan tangan ini, aku merasakan sakit yang luar biasa,” ujar Siwon.

Hamun mendengus. “Apa kau mau bilang kalau kau kini mencintaiku? Apa kau ingin aku percaya padamu semudah itu?” tanya Hamun. Siwon mengangguk.

Air mata Hamun terus membasahi pipinya. “Hatiku menginginkanmu tapi logikaku terus melarangku untuk mempercayaimu lagi. Tubuhku sudah tak kuat menahan rasa sakit ini,” ujar Hamun.

Siwon bisa merasakan air matanya memaksa keluar. Sebelum air mata itu mengalir, dengan segera ia membawa Hamun menuju bangku didekat menara Eiffel —Kampus Hamun dekat dengan Eiffel Tower—. Ia berdiri diatas bangku itu dengan tangan yang masih menggenggam Hamun.

“Aku mencintai Choi Hamun!” teriak Siwon dalam bahasa Korea. Kini semua orang yang berlalu lalang mulai menatap Siwon dengan pandangan ‘Is He Crazy?’ tapi Siwon tak perduli.

“Aku tahu, aku sangat bodoh karena selama ini menyia-nyiakan gadis ini. Tapi selama 3 minggu ia meninggalkanku, akhirnya aku tersadar bagaimana tubuhku sangat menginginkan dia. Selama tidak ada dirinya, aku malas makan, malas bekerja, aku tak punya semangat untuk melakukan apapun, aku kehilangan tujuan. Saat itu aku akhirnya tersadar, kalau gadis ini sudah menjadi satu-satunya alasanku untuk bertahan hidup,” ujar Siwon, air matanya mulai mengalir membasahi pipinya.

Hamun melihat itu semua dengan seksama. Ia tak perduli dengan pandangan orang yang akan menyangka bahwa mereka ‘crazy couple’. Semua yang Siwon lakukan ini berhasil menghapus keraguan Hamun.

“Turunlah,” ujar Hamun sambil menghapus air matanya. Siwon menatap Hamun bingung. “Untuk apa teriak-teriak seperti itu?” tanya Hamun.

“Agar mereka tahu kalau aku mencintaimu dan agar kau tahu bagaimana merananya aku setelah kau tinggal,” jawab Siwon.

“Tak ada yang mengerti kalau kau mengatakan semua itu dalam Bahasa Korea,” ujar Hamun.

“Kau mau aku mengatakannya lagi dalam bahasa Prancis?” tanya Siwon.

“Kau mau membuatku lebih malu lagi?” tanya Hamun. “Oppa, turunlah,” ujar Hamun lembut dengan senyum manis diwajahnya. Siwon seperti terhipnotis, dengan mudah ia menuruti apa yang Hamun perintahkan.

Begitu kaki Siwon kembali menginjakan tanah, ia menarik Hamun dan memeluk gadis yang ia rindukan itu. “Aku merindukanmu, Hamunie,” ujar Siwon, semakin mengeratkan pelukannya.

Hamun juga sangat merindukan Siwon. Ia hendak membalas pelukan itu tapi tangannya terhenti diudara. Meskipun ia sudah mempercayai perasaan Siwon, tapi Hamun ingat bahwa 3 minggu lalu ia sudah mengirimkan gugatan cerai pada Siwon. Siwon bukan lagi miliknya.

Hamun mendorong pria itu pelan agar ia melepaskan pelukannya. “Aku percaya dengan perasaanmu. Tapi kita sudah berpisah, kan?” ujar Hamun.

Siwon tersenyum. “Maksudmu ini?” tanya Siwon sambil memberikan sebuah surat. Hamun membuka surat itu dan matanya membesar. Surat Gugatan Cerai.

Mata Hamun membesar. “Kenapa masih ada padamu? Kenapa belum kau tandatangani? Bagaimana dengan rencanamu dan Johee?” tanya Hamun bertubi-tubi. Air mata kembali menggenangi mata Hamun. Siwon tersenyum lembut melihat itu lalu mengambil surat ditangan Hamun itu.

“Surat ini harusnya di‘begini’kan,” ujar Siwon sambil merobek kertas itu jadi dua, jadi empat, jadi delapan, semakin kecil, lalu melemparnya keudara. “Bukankah apa yang telah dipersatukan Tuhan tak dapat diceraikan oleh manusia, Hamun?”

Tangis Hamun merebak. Hamun tak pernah membayangkan akan seperti ini akhir kisah cintanya. “Kau.. Johee..” tanya Hamun ditengah isakannya.

“She’s beautiful, She’s very nice. But there’s one problem, She’s not you, Hamun. I chose you because i love you. Even need and take a long time to realize it, i am sure that it is love,” ujar Siwon. “Would you be my last, Choi Hamun?”

Hamun tak sanggup menjawab. Lidahnya kelu. Tangisannya menderu. Ia terisak sampai susah untuk bernafas. Tapi semua itu karena kebahagiaan. Karena Choi Siwon adalah Happy Ending yang selama ini hanya bisa Hamun impikan tanpa berani membayangkan kalau semua itu bisa jadi nyata.

“Being with you is the only way i can have have a full and happy live, Choi Siwon,”

END.