ANNYEONG ONNIDEUL, CHINGUDEUL, DONGSAENGDUL! (งˆヮˆ)ง

sebelum besok masuk sekolah, Herentia Soegiri (A Love Letter‘s Author) and me is back with new ff! ^^

hope you like this ff and your comments are love for mee🙂 leave ur comments here yaah ^^ thank you so muccch

Main cast: Lee Hyukjae – Park Yeonhee ; Lee Donghae – Shim Johee

Enjoy reading ^^

 

*****

“Kau bukan manusia,” kata gadis ini. Pria dihadapannya, yang tadi disebut ‘kau’, segera mengangkat kepalanya dari koran yang sedang ia baca. Kini perhatiannya tertuju pada gadis itu dan kameranya.

“Maksudnya apa, Johee?” tanya pria itu dengan senyum simpul. Si pria kini berdiri berpindah ke tempat duduk disebelah gadis yang ia panggil dengan nama Johee.

“Lihat ini, Choi Siwon,” ujar gadis itu sambil menunjukan foto Siwon yang Johee ambil diam-diam saat Siwon membaca koran. “Wajahmu terlalu tampan untuk jadi seorang manusia,” lanjutnya.

Siwon tertawa lalu mengacak rambut Johee. “Bukan aku yang terlalu tampan, tapi kau yang terlalu jenius. Kau membuat tampangku yang standar jadi begitu mempesona seperti ini jika difoto. Coba lihat hidungku yang asli. Tidak sesempurna yang ada difotomu,” ujar Siwon jujur. Ia mengakui bakat sahabatnya ini dalam dunia fotografi. Tidak hanya dirinya, tapi semua orang yang mengenal Johee juga mengakuinya.

“Are you trying to seduce me?” tanya Johee sambil menatap Siwon curiga.

“Yeah, i just try to make you stay here,” ujar Siwon lirih. “Kau sudah cukup terkenal di Los Angeles ini. Kenapa kau harus kembali ke Seoul?” Matanya memandang Johee lekat. Memohon agar sahabatnya ini tetap tinggal di Los Angeles bersamanya.

Johee mengambil tangan Siwon dan menggenggamnya. “This is my choice. I want to go back. And if you believe in my ability, don’t worry. I can survive in Seoul later and i’ll prove you i can be a Professional Photographer,” ujar Johee penuh keyakinan agar sahabatnya yang sekaligus model favoritenya itu merelakan kepergiannya.

Siwon menghela nafas. “Okay, i believe in you. But you have to visit me here, deal? Once every six month?”

Johee mengangguk. “Deal!” serunya. Semenit kemudian, pengumuman keberangkatan pesawat Johee dikumandangkan, itu artinya Johee harus segera masuk ke pesawat.

“I’ll go now. Kau juga masih ada pemotretan, kan?” tanya Johee mengingatkan Siwon. Siwon mengangguk. “Setelah kau masuk ke dalam pesawat, aku akan langsung pergi. Email me if you arrive there,” ujar Siwon.

Johee menggeret koper miliknya dan menggantung tali kameranya dibahu sebelah kiri. Sebelum ia benar-benar jauh, Johee memutar tubuhnya dan melambaikan tangan pada Siwon. Siwon hanya bisa menatap lirih punggung yang kian lama menjauh darinya.

*****

“Ini terlalu ramai. Kau tak memerlukan bunga sebanyak ini dibajumu, kecuali kalau kau ingin dikerubungi oleh lebah,” ujar Madam Rose, salah satu guru design ternama di kampus ini. Ia meninggalkan meja murid tadi dan kembali berkeliling. Saat ini ia sedang memeriksa tiap karya yang dibuat oleh murid-muridnya, dan seperti biasanya, ia selalu terpesona oleh karya muridnya yang paling berbakat: Park Yeonhee.

“Awesome dear!” pujinya saat melewati meja Yeonhee. Yeonhee terlalu serius menjahit sampai-sampai ia tak menyadari kehadiran Madam Rose. Ia mengangkat kepalanya dan mendapati Madam sudah menatapnya penuh antusias.

“Thank you, Madam. Aku belajar banyak darimu,” ujar Yeonhee rendah hati.

“Bagaimana dengan butikmu? Pasti laku keras. You have your own style dear. I love it,” puji Madam lagi. Bukan berlebihan, tapi memang kemampuan gadis ini perlu diacungi jempol. Meskipun masih amatir, semua orang sudah memprediksi bahwa Yeonhee adalah The Next Madam Rose. Tapi Yeonhee tidak terbuai oleh semua puji-pujian itu. Ia tidak pernah berhenti berkarya bahkan kini ia mulai membuka butik yang menjual hasil karyanya sendiri di daerah Apgujeong.

“Lumayan Madam, hanya publikasinya yang kurang. Aku sudah berencana membuat publikasi besar-besaran untuk koleksi musim dingin nanti,” ujar Yeonhee menjelaskan.

Madam mengelus puncak kepala Yeonhee, “Good luck dear,” ujar Madam menyemangatinya lalu pergi meninggalkan Yeonhee.

Tiba-tiba ponsel Yeonhee berbunyi. Ia segera membuka sms yang baru ia terima: “Aku sudah sampai. Jangan bilang kau belum sampai di bandara ini. — Shim Johee” Mata Yeonhee melebar, mulutnya menganga, dan ia mulai menepuk dahinya dengan tangannya sendiri, menyadari kebodohannya.

Dengan segera ia membereskan semua peralatannya. Tanpa tedeng aling-aling, ia melemparkan semua barangnya ke jok belakang mobilnya dan dengan secepat kilat ia menyetir mobilnya menuju Incheon Airport.

******

“Shim Johee!” seru Yeonhee saat mendapati sepupunya itu sedang duduk termenung di salah satu bangku Starbuck. Johee menoleh ke sumber suara lalu menatap jam tangannya.

“Kau telat 50 menit 34 detik,” ujar Johee saat Yeonhee tiba dihadapannya. Yeonhee menampilkan senyum bersalah lalu menarik kursi dan duduk di hadapan sepupunya itu.

Johee menumpukan kedua siku tangannya diatas meja. Kepalanya menumpu diantar kedua telapak tangannya. “Kau tak pernah berubah ya, Yeonhee sayang,” ujar Johee dengan aksen aegyo dan menyeringai tanda ia sedang marah.

Mata Yeonhee membesar. Meski sudah lama tak bertemu Johee, Yeonhee tak pernah bisa lupa salah satu sifat paling menyebalkan yang dimilik sepupunya ini: Srigala berbulu domba! Dan sekarang Johee sedang melakukan hal itu pada Yeonhee. “OMO! I know you mad at me. Jangan tersenyum dengan aegyo seperti itu!” seru Yeonhee kesal sambil mengerucutkan bibirnya. Yeonhee merasa terintimidasi oleh perlakuan manis Johee itu. Melihat wajah Yeonhee yang kesal setengah mati justru membuat Johee makin ingin mengganggunya.

“Aigo~,” seru Johee sambil mencubit kedua pipi Yeonhee, “You know me so well, ya, Yeonhee sayang,” ujar Johee masih dengan aura yang sama seperti tadi.

Yeonhee segera menepis tangan itu karena cubitan di pipinya cukup menyakitkan. Yeonhee tahu kalau Johee memang sengaja mencubitnya lebih keras. “Yaa! Sakit, Johee!” seru Yeonhee kesal.

Johee berdiri dan mengambil tas kameranya. “Kajja, kita pergi. Kau harus mentraktirku sebesar 50.340 won karena aku sudah menunggumu selama 50 menit 34 detik tadi,” ujar Johee lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Yeonhee.

Yeonhee bangkit berdiri dan belum sempat ia melangkah, ia menabrak sesuatu yang membuatnya terjatuh. ‘BRUK!’

“AUCH!” Yeonhee segera mengelus kakinya. Disela-sela rasa sakitnya, ia mengangkat kepalanya dan melihat benda apa yang ia tabrak tadi. Ternyata koper Johee. Yeonhee tahu kalau Johee memang sengaja.

“JO…” baru saja Yeonhee ingin berteriak lagi tapi semua orang di tempat itu sudah memperhatikannya. Yeonhee segera memamerkan gigi putihnya. “Aku baik-baik saja,” ucapnya sambil membungkukkan badannya sekali.

Johee melihat itu semua sambil menahan tawa yang sudah berkecamuk diperutnya. “Kajja Yeonhee-ah! Ppali!” seru Johee yang sudah berdiri di depan pintu keluar dengan melipat kedua tangannya. Wajahnya yang penuh kemenangan menunjukan bahwa daritadi ia menikmati pemandangan dihadapannya.

Yeonhee menggigit bibirnya dan memegang koper Johee. “YA! Shim Johee!! Bawa kopermu sendiri!!”

Johee menghembuskan nafasnya dari mulut dan membuat poninya sedikit terangkat lalu menghampiri Yeonhee dan mengambil kopernya sambil tersenyum tulus pada Yeonhee.

Yeonhee mendengus kesal lalu menatap Johee sinis. “Sudah puas menyiksaku?”

Melihat wajah itu membuat Johee makin ingin menggodanya. “Aigoo~ Kau benar-benar mengerti diriku. Kajja, Yeonhee ah! Penyiksaanmu belum selesai sampai kau melunasi 50.340 wonmu hari ini,” ujar Johee lalu beranjak lebih dulu dari Yeonhee.

Yeonhee memandang punggung Johee lama. Ternyata Johee tak berubah sama sekali. Sifat Johee memang menyebalkan tapi ia sangat menyayangi sepupunya itu, begitu juga sebaliknya meskipun Johee tidak pernah mengatakan hal itu secara blak-blakan. Yeonhee hanya bisa mengulum senyumnya lalu menyusul Johee dan ia meraih lengan Johee. “Aku pikir kau akan lupa dengan 50.340 won itu. Cih, aku benar-benar tak bisa menipu seseorang dengan IQ 147,”

Yeonhee dan Johee sama-sama memalingkan wajahnya lalu tersenyum.

*****

“Jadi ini kesepakatannya. Kau boleh tinggal diapartemenku secara cuma-cuma tapi kau harus jadi fotograferku dalam pemotretan untuk koleksi musim dingin nanti. Setuju?” ujar Yeonhee pada Johee setelah mereka berdua sudah duduk diam di ruang tamu apartemen Yeonhee.

“Shiro,” jawab Johee seadanya. Yeonhee mengacak rambutnya kesal, ia tahu kalau bukan hal yang mudah untuk mengajak sepupunya ini bernegosiasi.

“Butikku itu cukup terkenal. Banyak yang menyukai baju-baju di tokoku. Aku ingin meningkatkan penjualan dengan memasang beberapa idola Korea sebagai ambassador butik ini dan itu perlu biaya banyak. Dengan memintamu menjadi fotograferku, aku bisa mengalihkan biaya itu untuk memasang kontrak dengan para artis,” jelas Yeonhee.

“Aku dimanfaatkan?” tanya Johee.

“Ani. Kau juga memperoleh keuntungan. Dengan memakai para idola saat ini, foto yang kita ungguh sebagai foto koleksi terbaru juga akan menarik perhatian. Foto hasil jepretanmu akan dibicarakan. Aku yakin oleh kemampuanmu, Johee. Langkah awal untukmu, kan?” ujar Yeonhee. “Deal?”

Johee terdiam sesaat, menimbang-bimbang perkataan Yeonhee dan akhirnya mengambil keputusan. “Deal,”

******

“Selamat datang di Sapphire Boutique,” ujar Yeonhee saat bunyi bel tanda pintu tokonya terbuka berdentang.

Seorang pria dengan topi yang nyaris menutupi setengah wajahnya mendekati meja Yeonhee. Yeonhee membungkuk memberikan salam. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.

Pria itu melepaskan topinya. Mata Yeonhee tiba-tiba membesar dan mulutnya menganga, ‘Omo!’ dengan segera pria itu meletakan jari telunjuk didepan bibirnya sebagai isyarat agar Yeonhee diam. Yeonhee mengangguk mengerti, pria itu menarik tangannya dan memakai topinya lagi. Yeonhee menggerakan jarinya seperti meresleting bibirnya.

“Ini aku,” ucapnya, Yeonhee mengangguk. Tanpa pria itu memberitahu pun Yeonhee sudah tahu siapa dia. Lee Hyukjae, lebih terkenal dengan nama Eunhyuk. Salah satu model papan atas Korea dan salah satu penggemar pakaian yang dibuat oleh Yeonhee. Awal pertemuan mereka adalah berkat Madam Rose, yang adalah ibu dari pria ini. Sejak saat itu sampai saat ini dan entah sampai kapan, status mereka adalah: Sahabat.

“Jadi… Eunhyuk-ah, ada yang bisa kubantu?” tanya Yeonhee .

“Aku sudah bosan dengan baju di lemariku. Bisa kau tunjukan baju mana saja yang cocok untukku?” tanyanya.

Dengan antusias Yeonhee mengangguk. Ia berjalan menyusuri tiap rak yang ada di tokonya. Memilah-milah mana baju yang cocok dengan karakter Eunhyuk.

“Ini bagus. Ini juga. Ini juga. This one is your style. I think you’ll look great with this suit. Lets try this, and this. This one too,” gumam Yeonhee pada tiap baju yang ia rasa cocok untuk Eunhyuk. Yeonhee memberikan semua baju itu pada Eunhyuk tanpa sadar kalau pria itu mulai keberatan. Sedangkan Eunhyuk tak bisa menolak karena menurutnya wajah gadis itu saat melihat baju-baju ini seperti anak kecil. Penuh antusias, semangat, dan polos. Ia hanya tersenyum maklum melihat kearah gadis itu.

“This is the last one!” seru Yeonhee saat ia sudah tiba di rak terakhir. Saat ia menoleh ke Eunhyuk, Yeonhee sangat kaget mendapati Eunhyuk membawa pakaian yang cukup banyak.

“Omo! Jeongmal mianhe. Aku benar-benar tidak sadar,” ujar Yeonhee penuh rasa bersalah lalu mengambil sebagian baju ditangan Eunhyuk.

“Ini bukan yang pertama kali,  Yeonhee-ya,” cetus Eunhyuk dengan seringai usil.

Yeonhee tersenyum bersalah. “Aku membuat tangan seorang Top Model membawa barang sebanyak ini,” runtuknya.

Diam-diam Eunhyuk meneliti wajah Yeonhee. Lagi-lagi bibirnya tertarik membuat lengkungan manis. Diluar kesadarannya, tangan Eunhyuk melayang keatas kepala Yeonhee. Mengelusnya perlahan. “Kurasa aku harus ke dokter besok untuk mengecek tanganku.”

Yeonhee melebarkan matanya. “Apa benar-benar berat? Omo! Maafkan aku. Ah, kalau begitu, cobalah semua ini. Aku akan memberikan satu setel pakaian secara gratis,” ujar Yeonhee.

“Apa satu setel pakaian gratis bisa mengembalikan tanganku seperti semula?”

“Mianhe. Aku tak tahu kau hidup di kerajaan mana karena biasanya aku tak merasa sakit meski membawa beberapa gulung kain sekaligus. Kini Yeonhee menundukkan kepalanya.

Melihat reaksi Yeonhee yang polos membuat Eunhyuk ingin menggodanya lebih lama lagi. “Kau tak tahu kalau aku keturunan darah biru? Kami tak biasa membawa benda terlalu berat dengan tangan kami tapi kau melakukan hal itu padaku,”

“OMO!” Yeonhee menutup salah satu mulutnya dengan tangan yang bebas. “Jeongmal?” tanya Yeonhee takut-takut.

Eunhyuk tak bisa menahan tawanya lagi, “Hahahahaahahaha”

Yeonhee mengerjap-ngerjapkan matanya. Akhirnya ia sadar kalau ia tadi dibodohi. “Aish! Sudah puas menyiksaku?”

“Nee!” Eunhyuk berhasil menghentikan tawanya dan mengangguk. Yeonhee segera mendorong Eunhyuk masuk ke ruang ganti. Ia mencoba pakaian itu satu persatu dan memperlihatkannya pada Yeonhee, meminta pendapatnya. Jika menurut Yeonhee jelek, ia akan menggeleng. Jika bagus, maka Yeonhee akan bertepuk tangan seperti anak kecil. Eunhyuk sepertinya menikmati moment tersebut, ia bahkan berjalan bak model di atas catwalk dengan setiap pakaian itu, membuat tawa mereka berdua meledak.

Setelah memutuskan pilihan, Eunhyuk menghampiri Yeonhee yang sudah berada di meja kasir. “Aku akan memotong celana yang kepanjangan itu. Kau bisa mengambilnya besok?” tanya Yeonhee.

Eunhyuk mengangguk. “Oh ya, I’ll take this one for free,” ujar Eunhyuk sambil menunjuk satu setel pakaian yang langsung ia pakai. “Oh iya, tapi mungkin besok bukan aku yang mengambilnya.”

Yeonhee mengangguk. “Nee,”

“Aku harus kembali kekerajaanku sekarang,” timpal Eunhyuk.

“Omo! Aku tahu IQku hanya 123 tapi kau tidak bisa membohongiku dengan cara yang sama, Eunhyuk-nim,”

Sekali lagi Eunhyuk tersenyum memamerkan gummy smilenya lalu mengelus kepala Yeonhee. “Annyeong Yeonhee-ah,” ucapnya lalu berjalan keluar dari toko Yeonhee.

Yeonhee masih terpaku ditempatnya tapi matanya terus mengejar pungung Eunhyuk yang makin lama tidak terlihat lagi. Ia memegang puncak kepalanya, mengingat bagaimana kehangatan tangan Eunhyuk itu sampai ia tak sadar kalau ia sudah tersenyum-senyum sendiri.

Yeonhee menatap langit dari kaca butiknya. “Sepertinya akan ada bintang jatuh hari ini,” ujarnya sambil menahan kepalanya dengan kedua tangannya.

“Aigoo, ckckck, babo ya..” ujar seseorang yang adalah Johee dan gadis itu berhasil menyadarkan Yeonhee dari mimpi sesaatnya. Yeonhee menatap Johee kesal tapi Johee tak memperdulikannya.

“Aku kesini karena aku kesepian di rumah. Kau tak pulang-pulang. Lagipula tidak ada makanan di apartemenmu,” ujar Johee. Yeonhee tersenyum usil, “Bilang saja kau rindu padaku,”

Johee tersenyum simpul lalu terkekeh. “Yeah, actually i miss you,” gumamnya yang sayang sekali Yeonhee mendengarnya. Dengan senyum kemenangan, Yeonhee menghampiri Johee. “Aku dengar apa yang kau katakan. Need a hug from Yeonhee onnie?” ujarnya penuh kemenangan.

Wajah Johee memerah. “Onnie? Kau hanya lebih tua 6 bulan dariku!” seru Johee sambil mengalihkan wajahnya agar Yeonhee tak menyadarinya.

*****

Seorang pria kini sedang berdiri depan pintu Sapphire Boutique. Ia mengacak rambutnya lalu menguap lebar-lebar tanda ia sangat malas tapi mau tidak mau ia tetap harus datang ketempat ini untuk mengambil pesanan Eunhyuk.

“Kau menyebalkan Eunhyukie,” gumam pria itu.

“Bisakah kau menyingkir?” tanya seseorang yang suaranya berasal dari belakang tubuh pria itu. Ia segera menoleh dan mendapati seorang gadis dengan sebuah kamera ditangannya sedang menatapnya tajam. Yang selalu membawa kamera kemana-mana.. Siapa lagi kalau bukan Johee?

Pria itu menurunkan topinya lagi agar identitasnya tak diketahui.

“Aigoo,” Johee mendecakan lidahnya lalu menginjak kaki pria itu.

“AUW! YA!” Pria itu kini menatap kesal Johee.

“Aku bilang minggir. Atau kau ingin berjalan dengan 1 kaki mulai besok?” ujar Johee yang segera membuat si pria melangkah ke kanan sedikit.

Johee membuka pintunya lalu menoleh kembali pada pria itu. “Kau berniat apa? Aku tak punya barang berharga untuk kau curi,” ujar Johee yang membuat mata si pria membesar.

“Pencuri?!” serunya tak percaya. “You don’t know me?” tanya pria itu.

“Should i know you?” tanya Johee balik yang membuat si pria geram. Ia segera menarik Johee masuk ke dalam butik dan menyandarkannya disalah satu tembok dengan telapak tangan si pria bertumpu pada dinding.

Pria itu membuka topinya, memperlihatkan dengan jelas garis wajahnya yang sangat indah. “Ini aku. It’s me,”

Johee terdiam sesaat. Ia terkesima oleh wajah pria itu. “Do we know each other?” tanya Johee setelah akal kembali menguasainya.

Mata pria itu membesar, mulutnya bergerak seakan ingin menerkam Johee. “I’m one of the most outstanding Models in South Korea. Get it?” ujar pria itu yang ternyata adalah Donghae, sahabat Eunhyuk, sekaligus teman seperkerjanya.

Johee terdiam, mengamati wajah dihadapannya. Tanpa sadar, jemarinya mulai menjelajahi wajah pria itu. “Dahimu proposional,” ujar Johee saat jarinya meniti dahi Donghae. Johee tak bisa menahan jemarinya yang lancang itu. Ia sendiri sangat sadar kalau dirinya ingin menyentuh pria itu. Semakin jauh jari itu menyusuri wajah Donghae, semakin cepat detak jantung Johee berpacu.

“Matamu indah, hidung mancung, dan bibir yang tipis,” gumam Johee saat tangannya berada dibibir Donghae. Dan tanpa Johee sadari, Donghae kini sekuat tenaga menahan debaran jantung yang entah kenapa bisa terpicu oleh Johee. Ia merasakan hal yang sama seperti Johee.

“Aku percaya kau model. Wajahmu terlalu indah,” ujar Johee lalu mendorong Donghae menjauh darinya. Johee tak ingin Donghae tahu apa yang ia rasakan. Ia tak mau dianggap gadis murahan. Sedangkan Donghae, ia sudah mencuri pandang gadis yang berjalan kearah meja yang diatasnya bertuliskan nama Park Yeonhee.

“Jadi.. Namanya Yeonhee?” gumam Donghae dalam hati.

“Aku seorang fotografer yang agak selektif dalam memilih model. Dan wajahmu itu.. Aku sangat ingin memotretnya suatu saat nanti,” komentar Johee. “But wait, apa yang bisa kubantu?” tanya Johee.

“Aku mau mengambil pesanan,” ujar Donghae. Johee terdiam sesaat, mencoba mengingat perkataan Yeonhee tadi pagi yang mengatakan bahwa ada langganannya yang bernama Eunhyuk akan mengambil celana yang Yeonhee simpan dibawah mejanya. Johee melongkok kebawah meja dan mendapatkan apa yang ia cari.

“Ah, ini dia, pesanan atas nama Eunhyuk,” kata Johee sambil memberikan sebuah tas isinya celana yang Yeonhee potong kemarin.

“Jadi.. namanya Eunhyuk?” gumam Johee dalam hatinya.

Donghae menerima tas itu tapi ia tak segera beranjak. Diam-diam Donghae melihat gadis yang sudah mulai sibuk dengan kameranya. Menyelusuri wajahnya yang manis.

“Kenapa masih disini?” tanya Johee setelah ia tersadar kalau Donghae masih ada ditempat itu. Donghae segera mengalihkan pandangannya dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. “A-aku akan pulang sekarang,” ujarnya walau ia sendiri tidak ingin pergi dari tempat ini, entah mengapa bisa demikian.

“Ah, sebelum itu..” ucapan Johee yang menggantung membuat Donghae menghentikan langkahnya dan kembali menatap Johee. Seketika itu, sebuah blits kamera menyinari wajahnya.

Donghae terkesiap. “Kau bukan manusia, kau terlalu tampan,” kata Johee setelah melihat foto Donghae yang baru ia ambil. Donghae tersenyum melihat gadis itu. Ia sudah sering menerima pujian seperti tadi tapi jika gadis ini yang mengatakannya, rasanya sangat berbeda. Kata-katanya mampu membuat jantung Donghae berdebar.

Donghae menghela nafas dan mengelus dadanya, memerintahkan jantungnya untuk tenang. “Baiklah, i gotta go now. Bye,” pamit Donghae.

“Kapan-kapan kesini lagi ya,” ujar Johee yang Donghae balas dengan anggukan.

Meskipun sudah jauh dari butik itu, Donghae bisa merasakan jantungnya masih berdetak abnormal. Ia memutar tubuhnya dan kembali menikmati wajah gadis yang terhalang oleh kaca butik itu. “Am i in love with that girl?” tanyanya dan jantungnya yang berdetak makin kencang adalah jawabannya.

*****

“Kau kenapa?” tanya Eunhyuk saat mendapati Donghae tersenyum-senyum sendiri di sofa ruang tamunya. Eunhyuk melihat acara telivisi yang sedang ditonton Donghae. Sama sekali tidak lucu.

“Yaa, Donghae-ah, jangan menakutiku seperti itu. Micheoso?” tanya Eunhyuk lalu duduk disamping Donghae.

Donghae memberikan pesanan Eunhyuk yang ia ambil tadi. “Kalau kau ingin ke butik itu, ajak aku. Arrachi?” ujar Donghae dengan senyum yang tak kunjung pudar dari wajahnya.

“Waeyo?” tanya Eunhyuk heran.

“I’m fallin in love at first sight with that girl,” ujar Donghae lalu beranjak menuju kamarnya. Eunhyuk masih terdiam. Mencoba mencerna perkataan Donghae. “Kau bicara apa? Katakan dengan bahasa yang kupahami.”

“Aish! Kau harus belajar bahasa inggris. I said, aku rasa aku jatuh cinta dengan gadis di butik itu,” ujar Donghae sambil memberikan penekanan pada tiap penggalan kata itu.

“Butik mana? Memangnya kau kema…” kata-kata Eunhyuk terpotong saat ia teringat sesuatu. “Lee Yeonhee?”

Donghae mengangguk. “Sepertinya itu namanya,”

Seketika itu juga darah Eunhyuk berdesir dan tubuhnya mendingin. Ada rasa tak rela berkecamuk didadanya. Apa yang terjadi pada dirinya? Eunhyuk pun tak mengerti.

******

“Aku tahu kau sangat selektif dalam memilih model, jadi aku bawakan beberapa foto model yang sekiranya cocok dengan karakter bajuku,” ujar Yeonhee sambil memberikan setumpuk foto pada Johee.

Johee meletakan kameranya dan mulai membolak-balik tiap foto yang ada dihadapannya. Melalui beberapa penyeleksian, akhirnya ia menemukan model yang menarik perhatiannya. “Let’s do it with this two,” ujarnya sambil menunjuk dua pria dengan tubuh proposional dan tentunya tampan.

Yeonhee melihat pilihan Johee dan tersenyum lebar. “Omo! Kurasa kau benar-benar jenius , Johee-ya. Aku tahu matamu tak akan salah. Mereka sedang popular beberapa bulan ini.”

Johee bangkit berdiri dan menutup album foto tersebut. “Kapan pemotretannya?”

“Kau begitu bersemangat, segitu tertarikkah dengan kedua model ini?” tanya Yeonhee penasaran.

“Yang pasti satu diantara mereka bukan manusia,”

Yeonhee tahu maksud ucapan Johee, dia tersenyum kecil. “Tampaknya ada yang sedang kasmaran,”

Johee langsung menatap mata Yeonhee, “Jangan mulai lagi.”

Yeonhee mengangguk-angguk. “It’s okay both of them are single. Jadi kau bisa melupakan Choi Siwonmu mulai dari sekarang,”

“Yeonhee, stop it! Jangan sampai aku bawa kau ke dokter untuk mengoperasi matamu yang sipit itu,”

Yeonhee hanya bisa melongo mendengar ucapan saudaranya. “YA!!”

Johee pura-pura tak mendengarkan seruan saudaranya itu. Ia mulai sibuk mengganti lensa standar kameranya dengan lensa tele. “Aku akan kedaerah Myeongdong untuk membeli beberapa keperluanku, kau mau ikut?” tanya Johee.

“Kita tidak sedang membicarakan hal itu, Shim Johee,”

Johee mengangguk. Ia menggantungkan kameranya dibahu kirinya lalu melangkah ke pintu keluar. “Kuanggap kau tak mau ikut. Bye Yeonhee-ah.”

Yeonhee terdiam sebentar lalu mengejar Johee sebelum dia melangkah keluar. Ia menahan kepergian Johee dengan meraih tangannya. “Kau tertarik dengan yang mana?” tanya Yeonhee, sebenarnya pertanyaan itu sudah mengganjal dari awal Johee memilih kedua model itu.

Johee menatap bingung saudaranya. “Memangnya kenapa?”

“A.. A… Aku harus memastikan aku mengontak orang yang tepat dan memastikan orang itu mau ikut pemotretan.”

“Eunhyuk ssi,” jawab Johee tanpa membiarkan jeda 1 detik pun. “Nah, sekarang lepaskan tanganku dan  pastikan kau mengontak Eunhyuk-ssi. Arrachi, Yeonhee sayang?” ujar Johee sambil mengacak rambut Yeonhee.

Yeonhee melepaskan tangan Johee dan membiarkan Johee pergi begitu saja. Seketika ia merasa badannya tak bersemangat. Yeonhee segera menepuk kedua pipinya. “Yeonhee ah, kau harus profesional. Lupakan hal ini untuk sementara waktu. Ajja ajja hwaiting!”

*****

Johee mengangkat kameranya sejajar dengan matanya lalu mulai membidik. Saat ia melihat hasilnya, ia mendecakkan lidahnya. Ia menghapus foto itu. Hal ini sudah ia lakukan selama 13 kali. Sudah hamper 1 jam ia ada di daerah Myeongdong yang ramai pengunjung. Walau ada ratusan orang di tempat ini tak ada satupun yang memuaskan hatinya.

Johee menyenderkan badannya ke sebuah pohon dan memperhatikan orang yang lalu lalang. Ia mulai mengecek beberapa hasil jepretan yang tidak ia hapus. Matanya terhenti pada salah satu hasil jepretannya.

“Pria itu..” gumamnya sambil membesarkan foto itu untuk meyakinkan pengelihatannya. Itu foto  sebuah kafe dengan kaca sebagai dindingnya dan orang-orang belalu lalang di depan toko itu. Tapi di foto itu semuanya tampak buram selain seorang pria yang duduk termenung sambil memegang secangkir kopi. Mata Pria itu tertutup topi tapi hidungnya yang mancung serta bibirnya yang manis meyakinkan Johee bahwa ia telah menemukan modelnya hari ini. Ia segera mengalungkan kameranya dan berlari.

Johee membiarkan rambutnya berantakan dan wajahnya penuh keringat. Kini ia berdiri di sebrang kafe yang ia foto tadi. Ia mengangkat kameranya dan membidik keseluruhan kafe itu masih dengan orang-orang yang berlalu lalang. Johee tersenyum puas lalu berlari menyebrangi jalan ramai pengunjung itu.

“YA! Pakai matamu! Hei jangan injak kakiku! Tak bisakah kau bilang permisi?!”

Semua umpatan itu tak dihiraukan Johee hingga akhirnya ia berhasil menyebrang. Johee segera mengangkat kameranya begitu ia melihat model yang ia cari. Tapi tepat saat kamera flashnya menyala, pria itu melangkah keluar dari kafe.

“YA!! YA!! YAA! Berhenti!” teriak Johee pada siluete pria itu. Ia terus mengejar bayangan pria itu hingga ia melihatnya keluar dari salah satu toko di sekitar pedestrian itu. Jarak diantara mereka sekitar 6 meter. Pria itu terdiam di posisinya dan menengadah kelangit sedangkan Johee membidik dengan kameranya. Saat itu seakan waktu terhenti sesaat.

Johee tersenyum saat melihat hasilnya, bahkan seorang Choi Siwon tidak dapat membuat Johee tersenyum sepuas ini. “Dia pasti bukan manusia,” ucap Johee takjub dengan hasil jepretannya.

“Siapa yang bukan manusia?”

Johee mendongakkan kepalanya dan melihat orang di fotonya kini ada di hadapannya. Ia tersenyum sangat lebar.

Donghae membesarkan mata saat melihat senyumannya Johee. Mata Johee terbentuk seperti bulan sabit, bibirnya yang manis tertarik begitu lebar menampilkan sederetan giginya yang rapi, rambutnya yang sedikit berantakan dan beberapa bulir keringat yang tersisa serta matahari terbenam menjadi landscape pemandangan terindah bagi seorang Lee Donghae.

“Kau,” ucap Johee tiba-tiba. Lugas tanpa keraguan.

“Apa?”

“Kau bukan manusia,” ucapnya, kali ini sambil menunjuk kearah Donghae.

“Me?”

Johee segera mengangkat kameranya dan membidik sekali lagi. Johee menunjukkan hasil jepretan itu langsung pada Donghae. “Jangan coba-coba menghilang lagi saat aku ingin memotretmu. Kalau kau berani, mungkin besok kau akan berjalan dengan satu kaki,”

Donghae segera menarik kaki kanannya mundur satu langkah. “Lagi? Apa maksudmu? Kau yang selalu memotretku tanpa izin. Kau tahu berapa bayaranku untuk sekali jepret?”

“100.000-150.00 won,” ucap Johee sambil melihat ulang hasil jepretannya.

“Bagaimana kau tahu?”

Johee segera menginjak kaki kiri Donghae.

“AUCH! KAU!” Donghae segera mengangkat kaki kirinya.

“Aku sudah menjadi fotografer selama 5 tahun dan ukuran itu cocok untukmu,” ujar Johee sambil terus berjalan, ia terhenti pada sebuah toko eskrim. “Aku pesan satu rasa coklat. Ah iya, kalau boleh aku minta sebungkus es kecil, aku ingin eskrimku tetap dingin,” ucapnya pada pelayan disana.

Donghae duduk di bangku tak jauh dari tempat Johee menginjak kakinya. Ia masih sibuk dengan kakinya, sialnya hari ini dia tidak menggunakan sepatu —Hanya sepatu sendal— dan gadis itu mengenakan heels. “Kalau sampai bengkak, kupastikan gadis itu akan dapat masalah,” gumam Donghae. Ia sedikit kesal dengan gadis itu tapi seketika itu juga, bayangan Johee saat ia tersenyum kembali melintas dikepala Donghae. Rasa kesal Donghae menguap begitu saja.

Donghae menertawai dirinya. “Aku sebegitu sukanya sama gadis itu?” tanyanya tak percaya pada dirinya sendiri.

“Ini eskrim,” ucap Johee saat kembali ke tempat Donghae.

Donghae kembali berdiri dan pura-pura menatap heran gadis itu. “Kau memberikan racun didalamnya?” tanya Donghae dengan niat ingin menggoda Johee.

“Jangan di makan kalau kau takut aku meracunimu,” ujar Johee sambil menjauhkan eskrim itu dari wajah Donghae lalu hendak membuangnya. Seketika itu, Donghae segera mengambil eskrim itu, membuka bungkusnya dan memakannya. Ia tak perduli dengan Johee yang sudah menatapnya heran. Ia tak ingin kehilangan eskrim yang sudah dibelikan oleh Johee.

Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang dingin mengenai kakinya. Donghae segera melihat kebawah. Johee sedang menggunakan es yang dimintanya tadi untuk mengompress kaki Donghae. Gadis itu mengangkat es itu dan meniup kaki donghae yang memerah lalu meletakkannya lagi. “Aku melakukannya karena merasa bersalah, aku baru sadar kalau kau hanya menggunakan sepatu sandal,”

Donghae melihat muka Johee yang memerah. Entah karena ia malu atau karena angin musim gugur yang menembus tubuh Johee. Tanpa sadar, bibir Donghae tertarik membentuk senyuman. “It’s okay. I feel better, Thanks,”

Johee membiarkan kantung es itu dikaki Donghae dan mengambil fotonya. “Kau harus tahu, kau orang pertama yang kupegang kakinya,” lalu Johee mengarahkan kameranya ke wajah Donghae dan sekali lagi mengambil foto pria itu. “Itu bayarannya. Nah, Eunhyuk ssi, aku harus pulang sekarang. Annyeong!” ujar Johee lalu beranjak meninggalkan Donghae.

Donghae terdiam. Ia mencerna ulang kata terakhir Johee tadi. “Eunhyuk? Aku bukan Eun…” kata-kata Donghae terhenti saat ia sudah melihat Johee berjalan menjauh. “Aish, pasti dia salah paham saat aku mengambil celana itu.”

*****

“Lihat! Lihat! Itu Eunhyuk, kan?!”

“Mana?!”

“Itu yang pakai kaca mata hitam.”

Yeonhee membuka pintu kelasnya dan gadis-gadis di kelasnya melihat keluar jendela. Yeonhee menghela napas lalu duduk di mejanya dan mengeluarkan peralatan menjahitnya.

“Semua kembali ke kursi masing-masing!” teriakan itu terdengar disertai pintu terbuka. “Hari ini kita akan ujian,”

“HAA?! Madam Rose… tapi bahkan baju yang kemarin belum selesai.. ” ucap salah satu murid.

“4 jam dari sekarang, buat satu karya. Semuanya pindah ke ruang menjahit!” perintah ultimatum itu membuat semua murid panik dan lari ke ruang menjahit secepat mungkin. Langkah madam Rose terhenti saat ingin keluar kelas. “Yeonhee ah, tidak ke ruang jahit?

Yeonhee menggelengkan kepalanya, “Madam hanya bilang karya, kan? Bukan baju, kan?”

“Aku memang tidak mengatakan harus baju, memangnya apa yang ingin kau buat?” Yeonhee tersenyum dan memperlihatkan benang rajut serta beberapa peralatan rajut lainnya.

Madam Rose hanya tersenyum mengerti. “Baiklah. Sampai jumpai 4 jam lagi Yeonhee,”

Yeonhee mengeluarkan buku sketsanya dan mulai menggambar detil dari syalnya nanti. Setelah itu ia baru mulai merajut perlahan-lahan. Senyumnya mengembang saat membayangkan nanti Eunhyuk akan mengelus kepalanya ketika menerima hasil rajutannya.

“Omo! Yeonhee ah, apa yang kau pikirkan?” ucap Yeonhee setelah memukul kepala sendiri.

“Memangnya apa yang kau pikirkan?”

Yeonhee menoleh kearah suara berat di sebelahnya. Mata Yeonhee membesar lalu ia mengerjapkan berkali-kali. Pria di sebelahnya itu mencubit pipinya. “AUW!”

“Bukan mimpi kok. Ini aku,” ucap pria itu disertai senyum gusinya. “Kau membuat syal?”

“Ah iya.. ini..” kata-kata Yeonhee terhenti. “I.. ni.. Ini untuk seseorang yang kusukai selama ini.”

Eunhyuk terdiam terpaku. Darahnya berdesir dan tubuhnya mendingin. Perasaan yang sama seperti saat Donghae berkata kalau ia suka pada Yeonhee. Seketika pikirannya kacau. Rasa penasarannya membeludak, pertanyaan ‘Siapa?’ menggantung diujung lidahnya.

“Aku ingin dia merasa hangat selama musim dingin ini. Ah.. Kenapa aku malah membicarakan ini! Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa ada disini?” tanya Yeonhee penasaran.

Tanpa pikir panjang Eunhyuk mendekatkan wajahnya kearah Yeonhee. “Bagaimana kalau kubilang aku ingin menemuimu?”

“A… A… A…”

Eunhyuk dapat melihat muka Yeonhee yang memerah dan gadis itu mulai gugup. Wajah itu terkesan sangat manis bagi Eunhyuk hingga akhirnya tanpa sadar Eunhyuk sudah meletakan tangan diatas kepala Yeonhee dan mengusapnya pelan. “Aku hanya bercanda. Tentu saja aku inin menemui ommaku,”

Yeonhee segera menunduk. ‘Kau memang pemimpi Yeonhee-ah.’ Gumamnya.

Eunhyuk memalingkan wajahnya dan saat itu ia melihat buku sketsa Yeonhee. Ia segera mengambilnya dan membuka dari halaman pertama lalu membaliknya.

Yeonhee segera melihat apa yang dilakukan Eunhyuk. ‘OMO!’ teriaknya dalam hati.

“Apa ini aku? Modelnya terlihat seperti diriku,” ucapnya lalu mengembalikan buku sketsa itu.

“A.. A itu.. Ahahaha semua modelkan memang seperti itu. Kau terlalu percaya diri Eunhyuk-ah.” Ucap Yeonhee lalu melanjutkan rajutannya yang terhenti.

“Ahahaha kau benar. Baiklah Yeonhee ah, aku harus menemui Madam Rose,” ujar Eunhyuk lalu mengelus kepala Yeonhee. “Aku pergi dulu yah Yeonhee ah,” ucapnya sambil melambaikan tangannya sebelum keluar dari ruang kelas itu.

Beberapa menit kemudian Yeonhee merasa ini tidak tepat. Ia mengambil buku sketsanya dan membalik-balik buku sketsanya. Pria itu benar. Semua model pria dibuku sketsa itu adalah dirinya, Lee Hyukjae.

Yeonhee berdiri, membawa buku sketsanya lalu berlari keluar. Saat ia melihat punggung Eunhyuk, langkahnya terhenti dan ketika ia memanggil nama pria itu, Eunhyuk terlanjur masuk ke ruangan Madam Rose.

“Haish Yeonhee ah. Kau benar-benar seperti orang bodoh,” Yeonhee menepuk-nepukkan buku sketsa itu ke jidatnya. Dia hendak berbalik dan kembali ke kelas tapi langkahnya tertahan.

“OMMA!” Yeonhee tahu itu teriakan Eunhyuk. Ia segera mendekatkan dirinya ke ruangan Madam Rose.

“Omma, kuharap yang kemarin di Myeongdong itu yang terakhir kali,”

“Lee Hyukjae! Kau berani berteriak kepada ibumu?”

“Omma..” kali ini suaranya memang terdengar lebih pelan tapi Yeonhee masih dapat mendengarnya.

“Gadis itu gadis berpendidikan dan mengerti fashion. Dia seorang fotografer model. Apa yang kau tidak suka darinya?” tanya Madam Rose.

Yeonhee memutar otaknya. Kemarin Johee pergi ke Myeongdong secara tiba-tiba. “Aish Yeonhee, Johee bukan satu-satunya fotografer model. Tapi…” bisiknya dalam hati. Lalu Yeonhee menghembuskan nafasnya dan berjalan pergi.

*****

“Aigoo~” gumam Johee saat ia memasuki Sapphire Boutique tanpa mendapat sambutan dari Yeonhee. Sudah beberapa hari ini Johee merasa kalau Yeonhee menghindarinya.

Yeonhee menyadari kehadiran Johee tapi ia tetap sibuk dengan mannequin yang menjadi model untuk bajunya.

“Yeonhee, kenapa kau menghindariku selma 5 hari ini? Kau marah? Kenapa kau marah padaku?”

“Aku tidak marah.” ucap Yeonhee lalu berpindah ke mannequin yang lain yang diikuti Johee.

“Nadamu terdengar marah. Apa karena aku meninggalkanmu saat aku ke Myeongdong? Tapi itu karena kau sendiri yang tak ingin ikut. Atau karena aku tidak cuci piring? Bukankah sudah kesepakatannya aku hanya cuci piring seminggu 2 kali?”

Yeonhee mendengus dan melihat kearah Johee. “Shim Johee, dengarkan aku. Ini bukan masalah kau pergi ke Myeongdong ataupun cuci piring. Okay?”

“Lalu?”

“A.. Aku.. Aku hanya … hanya sedang stress karena akhir-akhir ini Madam Rose tak menyukai karyaku,”

“What? Are you kidding?”

Yeonhee memalingkan wajahnya. “Aku juga stress karena masih ada beberapa baju yang belum selesai kubuat untuk koleksi musim dinginku,”

“Bohong, kau bilang di telepon kepada salah satu sponsor semua sudah selesai.”

Yeonhee menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. “Kalau aku bilang belum, yah belum. Please, stops disturb me okay? Aku hanya sedang stress. Arra?”

Johee terdiam. Ia berjalan menuju meja Yeonhee dan duduk diatasnya. Ia terdiam sesaat, mencoba mencari tahu apa yang membuat Yeonhee matah. Dan kemungkinan terakhir yang ia pikirkan adalah: pria itu.

“Eunhyuk ssi.. kira-kira dia sedang apa yah?” tanya Johee pada dirinya sendiri tapi jelas sekali Yeonhee mendengarnya.

Yeonhee segera menatap kedua mata Johee. Johee pun bisa merasakan tatapan tidak suka dari Yeonhee. Johee menghela nafas, ternyata yang ia perkirakan benar. “Jadi ini karena Eunhyuk ssi?” tanya Johee tepat sasaran.

“A.. Ani. Ah! Lihat ke langit, Johee! Sepertinya bintang akan jatuh hari ini,” ujar Yeonhee sambil menunjuk langit yang terlihat dari dinding kaca butiknya.

Johee maju selangkah mendekat kearah Yeonhee. “Jangan mengalihkan pembicaraan. Ini masalah Eunhyuk ssi, kan? Ada apa? Dia menyakitimu?”

Yeonhee menghembuskan nafas dari mulut dan membuat poninya terangkat. “Kau memang pintar Johee ah.”

Johee terdiam sesaat. “Tentu saja.” ucapnya dengan aegyonya.

“Tapi kau tidak pernah menggunakan hatimu. Yang punya masalah dengan Eunhyuk adalah kau. Kau menyukainya, Johee,” ujar Yeonhee.

“Mwo.. Mworago?”

“Walau kita terpisah selama kau di London, kau pikir aku lupa dengan kebiasaanmu?” Yeonhee kini memandang wajah Johee.

“Kau bicara apa sih?”

“Kau tidak akan memotret sesuatu yang tidak kau sukai. ‘Dia bukan manusia’ itu hanya akan kau ucapkan pada seseorang yang menarik perhatianmu. Kau hanya akan bersikap kasar pada orang yang kau sukai. Dan kau membicarakan ‘Eunhyuk-ssi’ setiap waktu. Aku mengenalmu Johee-ya.” jelas Yeonhee, kalimat-kalimat itu sudah tertahan sejak lama.

Johee menghela nafas. Ia tahu dirinya tak bisa menyangkal semua perkataan Yeonhee tadi. Tapi ia juga punya argumen yang selama ini tertahan dikerongkongannya.

“Kau sendiri… Kau tak akan memberikan koleksi terbaikmu pada orang yang tidak kau sukai. Kau hanya akan berbohong saat menutupi perasaan aslimu. Kau tidak akan menjadikannya model sketsamu kalau kau tak menyukainya. Aku membicarakannya karena aku tahu kau juga ingin membicarakannya. Aku juga mengenalmu Yeonhee-ah, sama seperti kau begitu mengenal diriku,” balas Johee dan membuat kedua saudara sepupu itu terdiam. Lima detik kemudian mereka saling pandang. “Lalu bagaimana?” tanya mereka bersamaan

“Bagaimana pun aku tak bisa menyerah, aku menyukainya sejak pertama kali dia debut,” ujar Yeonhee sambil melanjutkan pekerjaannya.

“Sama denganku, karena dia orang yang membuatku bahagia saat memotretnya,” balas Johee saat berpindah duduk di sofa untuk tamu.

Yeonhee menghampiri Johee lalu tersenyum tipis. “Jangan menangis nanti, karena kurasa Eunhyuk ssi menyukaiku,”

Johee segera mencubit pipi Yeonhee. “Jangan bermimpi, sepertinya dia lebih menyukaiku,”

“Auww~” Yeonhee segera menepis tangan Johee. “Sakit! Sudah puas menyiksaku?”

Johee mengangkat bahunya. “Yeonhee, aku akan pulang lebih dulu, aku akan memasak hari ini. Aku tak mau hubungan kita hancur karena seorang laki-laki,” ujar Johee lalu mengambil tasnya di meja kasir lalu melenggangkan kaki keluar toko.

Yeonhee tersenyum melihat punggung Johee. “Aku harap juga begitu.” ujarnya.

*****

Satu minggu kemudian…

“Ya! Ya! Jangan taruh bajunya disana!” Yeonhee segera berlari kearah orang-orang yang menyiapkan baju-baju yang akan dipakai untuk pemotretan

“Pencahayaanya dari sebelah kanan bukan kiri. Bagaimana bisa aku memfoto kalau arah cahayanya seperti itu. HAISH!” Johee segera berlari kearah staff yang mengatur pencahayaannya.

“Johee-ya, Stand by! Sebentar lagi Eunhyuk dan Donghae akan datang,”

“Arraseo.” Johee segera menyetel kameranya dan mencobanya menbidik beberapa kali. Ia memutar badannya dan hendak memotret Yeonhee tapi ketika ia melihat seseorang yang baru saja masuk ke ruang pemotretan, tanpa sadar jari telunjuknya menekan tombol foto.

Akibat flash dari kamera Johee, semua orang terdiam. Yeonhee segera bangkit berdiri dan hendak mengomeli Johee tapi ia segera terdiam saat melihat seorang pria yang memasuki area pemotretan.

“Aish! Yeonhee ssi! Aku hanya dibayar untuk 10 kali pemotretan dan kau sudah melakukannya sekali,”

Yeonhee membesarkan matanya dan melihat kearah Johee lalu kearah pria dihadapannya. Pria yang memanggilnya tadi tidak menatapnya tapi menatap Johee.

“Yeonhee?!” tanya Johee.

“Maaf Aku sedikit telat tadi aku ke toilet dulu,” seorang pria yang lain muncul dari pintu masuk tadi.

“Eunhyuk-ah, bajumu sudah kusiapkan di ruangan sebelah,” ujar Yeonhee sambil berlalu menghampiri Eunhyuk.

“Eunhyuk?!” tanya Johee sambil menujuk pria yang baru saja di panggil Yeonhee.

“Ah iya, namaku Eunhyuk,” Eunhyuk menundukkan sedikit kepalanya.

Johee tertawa pelan. Ia mulai bisa membaca situasi yang terjadi selama ini. Ia berjalan kearah pria yang satu lagi. “Siapa namamu?”

“Lee Donghae.”

Johee segera menggerakan kakinya dan Donghae langsung mundur dua langkah. Donghae tersenyum. “Aku sudah terbiasa dengannya sekarang,”

Johee tertawa. Disela tawanya, ia berkata, “Namaku Johee babo ya!”

Donghae menatap bingung Johee. “Lalu, Yeonhee?”

Gadis di samping Eunhyuk mengangkat tangannya. “Aku. Senang beretemu denganmu Donghae-ssi.”

“Ada apa disini?” tanya Eunhyuk bingung.

Yeonhee mencuri pandang Johee lalu tersenyum padanya. Ia pun akhirnya mengerti apa yang terjadi. Yeonhee segera menggelengkan kepalanya, “STAND BY! 10 menit lagi pemotretan dimulai.”

Saat Donghae dan Eunhyuk di bawa ke tempat ruang ganti, Yeonhee segera menghampiri Johee. “Kau tahu? Kukira salah satu dari kita akan pulang dengan menangis hari ini,”

“Kenapa kau tak beri tahu aku namanya Donghae?”

“Memangnya itu salahku?! Setiap kali aku ingin melihat foto di kameramu kau selalu melarangku,” omel Yeonhee.

“Jadi.. kau mau bilang itu salahku? Aigoo..” Johee segera mencubit pipi Yeonhee.

“AUW!! YA! Sakit!” Yeonhee segera mundur 3 langkah.

“Ngomong-ngomong Yeonhee ah, Eunhyuk ssi lumayan juga.”

Mata Yeonhee membesar. “Urusi saja Donghaemu.”

“Tenang saja, aku akan mengambil fotonya dengan baik,” ujar Johee dengan senyum tulusnya.

*****

“Eunhyuk-ah!” seru Yeonhee setelah pemotretan terakhir selesai. Kini Eunhyuk sudah ada diruang ganti.

“Aku suka semua bajunya, tak ada yang gratis untukku?” tanya Eunhyuk.

Yeonhee menggelengkan kepalanya. “Sayangnya semua ini untuk di jual. Tapi aku bisa memberikan yang lain untukmu,” Yeonhee mengeluarkan satu syal panjang berwana abu-abu di campur biru dengan bordiran L .HJ. di bagian bawahnya.

“Ini?”

Yeonhee mengalungkan syalnya dengan gugup.

“Bukankah ini untuk seseorang yang kau sukai?” tanya Eunhyuk lagi.

Yeonhee mengangguk pelan. “Untuk Lee Hyukjae.”

“Aku?”

Sekali lagi Yeonhee mengangguk lalu menelan ludahnya. “ A.. Aku… sudah lama..”

Eunhyuk tahu apa yang akan Yeonhee katakan. Ia terlalu senang sampai tak bisa menahan dirinya lebih lama lagi. Kata-kata Yeonhee tadi tertahan saat Eunhyuk mencium bibir Yeonhee. Mata Yeonhee membesar tapi beberapa detik kemudian ia menutup kedua matanya lalu melingkarkan tangannya ke leher Eunhyuk. Eunhyuk melepaskan bibirnya dari bibir Yeonhe lalu tersenyum kecil. “Saranghae Yeonhee-ah. Aku tak akan membiarkanmu mengatakannya lebih dulu,”

Yeonhee menunduk, ia tak tahu betapa merah wajahnya saat ini. Eunhyuk tersenyum kecil lalu mengangkat wajah Yeonhee. “Aku tak percaya kalau baru saja aku menciummu.”

“A.. Ah.. Ah.. itu.. iya..” Yeonhee gelagapan. Matanya berusaha untuk tidak menemui mata Eunhyuk.

“Aku juga baru saja mengatakan kalau aku menyukaimu,” lanjut Eunhyuk.

Mata Yeonhee makin melebar. “A.. A.. Aku men.. dengar..nya..”

“Aku menyukaimu, Yeonhee ah,”

Yeonhee kembali menundukkan kepalanya.

“Aku menyukaimu, baby,” ucap Eunhyuk untuk menggoda Yeonhee.

Yeonhee menarik nafas lalu menghembuskannya, ia berjinjit lalu mengecup bibir Eunhyuk kilat. Yeonhee tersenyum mendapatkan mata Eunhyuk membulat. Ia memeluk Eunhyuk lalu berbisik, “Aku juga menyukaimu.”

Eunhyuk tersenyum lebar lalu membalas pelukan Yeonhee. “Aku tak menyangka kau berani melakukannya.”

“A.. A… Aku..”

“Yeonhee!! Kau dima… Aigo!” seru Johee. Bersamaan dengan itu, pintu ruang ganti terbuka. Yeonhee dan Eunhyuk segera memisahkan diri.

Johee tersenyum licik. “Tenang saja, aku tidak melihat apa-apa,” ucap Johee sambil menunjukan tanda peacenya.

“Omo! Johee ah!”

***

3 bulan kemudian…

“Apa kau bodoh? Otakmu dimana?” tanya Eunhyuk.

“Aish kau pikir bisa semudah itu mengatakan suka?” tanya Donghae.

Yeonhee menyodorkan handphonenya. “Pria disebelah Johee ini namanya Choi Siwon. Setiap kali Johee memotretnya, Johee selalu kagum dengan hasilnya. Saat pria itu memutuskan ke Amerika dia bahkan ikut pergi ke Amerika. Ku dengar akhir-akhir ini dia datang berlibur ke Korea. Sepertinya kemarin mereka baru saja pergi bersama.”

Donghae mulai bergeming.

“Kau mau dia direbut olehnya? Aku sendiri tak masalah Choi Siwon kaya, tampan, baik, dan…”

“Yeonhee jangan mengecilkan Donghae seperti itu. Tapi memang kalau di bandingkan dengan Si…”

“ARA! ARA! Sekarang dimana Johee?” tanya Donghae kesal.

Yeonhee dan Eunhyuk saling pandang lalu mengangkat bahu. “Mungkin bersama Siwon.”

“AISH! Aku pergi!”

***

“Kenapa handphonenya tak di angkat?!” Donghae kembali memasukan hpnya ke kantong celananya.

Donghae kembali berlari, ke tempat yang paling diminati Johee untuk mengambil foto. Di daerah Myeongdong. Tapi itu bukan tempat yang mudah untuk menemukan seseorang.

“SHIM JOHEE!” teriak Donghae tepat di tengah ke rumunan orang-orang lalu lalang. Sekarang semua orang di daerah itu menatapnya.

“JOHEE! SHIM! JO! HEE!!” teriaknya bahkan lebih keras di banding sebelumnya.

Orang-orang di sekitar mulai berbisik ‘bukankah itu Lee Donghae? Donghae yang model itu?’

“AUWW!” teriak Donghae lagi saat ia merasakan sakit dikakinya. Ia mengangkat kaki kanannya. Sebelum sempat ia melihat ke depan, seseorang mengulurkan tangan dan meraih tangannya. Sedetik kemudian, ia di bawa orang itu menerobos kerumunan orang dengan arah yang berlawanan. Ketika daerah mulai sepi mereka berhenti berlari.

“Kau sudah gila?”

Donghae terdiam sesaat dan melihat gadis di depannya. Sedetik kemudian ia menarik gadis itu sudah dalam pelukannya. “Ya, aku nyaris gila. Kenapa kau tak mengangkat teleponku? Apa kau bersama Choi Siwon?”

“Ba.. Bagaimana kau tahu?”

“Kau benar bersamanya?”

Johee mengangguk. “ Aku menemaninya membeli beberapa baju untuk Hamun, pacarnya di Los Angeles,”

“A.. Apa?” tanya Donghae tak mengerti. Siwon? Punya pacar? Dan itu bukan Johee? Lalu.. Johee?

“Kau kenapa, sih?” tanya Johee bingung dengan reaksi Donghae.

Akhirnya Donghae sadar ia kembali dikerjai dua temannya itu. Ia tertawa kecil. Johee berusaha melepaskan pelukan Donghae, tapi Donghae tak membiarkannya.

“Lepaskan atau besok mungkin kau hanya berjalan dengan satu kaki.”

Donghae mngeratkan pelukannya. Tangan kanannya mengelus lembut kepala Johee. Ia terdiam sesaat sambil menikmati debaran jantungnya. “Aku menyukaimu Shim Johee.”

Johee terdiam di tempatnya.

“Aku hampir gila setiap kali memikirkan bagaimana aku harus mengungkapkannya. Kau selalu menginjakku dan memarahiku. Harusnya aku marah padamu, tapi saat kau memegang kameramu dan tersenyum setiap memotretku rasanya aku ingin membiarkan kau terus melakukannya agar aku juga bisa melihat senyummu lebih lama. Asal bisa melihat senyumanmu aku akan melakukan apapun. Aku bermimpi menggandeng tanganmu, makan bersama, memelukmu lalu menciummu. Kalau itu adalah ciri-ciri orang gila, aku rasa aku sudah benar-benar gila.”

Johee mendongak dan mendapatkan setetes air mata mengalir dari pelupuk mata pria itu. “Babo ya.. Di saat seperti ini harusnya aku yang menangis.” ucap Johee sambil menyembunyikan senyumannya. Donghae segera melepaskan pelukannya dan menghapus sisa air matanya.

Johee mengangkat kameranya lalu menjepret satu kali. Pria canggung ini benar-benar mendapatkan tempat istimewa di hati Johee.

“YA! Bagaimana bisa kau memfoto disaat seperti ini?”

Johee menggenggam tangan Donghae. “Kau mau makan apa? Kau ingin aku memasaknya untukmu?”

Kini Donghae mengerjapkan matanya, dia melihat wajah Johee yang tersenyum lebar.

“Ku Tanya, kau mau makan apa?”

“Samgyupsal.”

“Baiklah. Habis ini kita ke supermarket,”

“Habis ini?”

Johee tersenyum sekali lagi lalu melepaskan genggaman tangannya dan berdiri dihadapan Donghae lalu menutup kedua matanya.

Donghae melebarkan matanya, jelas-jelas Shim Johee bukan gadis biasa.

Donghae mendekatkan wajahnya ke wajah Johee hingga hidung mereka bersentuhan. Akhirnya Donghae mencium bibir Johee, Donghae menutup matanya.

Johee tersenyum saat menyudahi ciuman pertama mereka. “Is this your first kiss?” tanya Johee untuk melihat reaksi Donghae.

Donghae segera memasukan tangannya ke kantung celananya dan memalingkan wajahnya.

Johee menyelipkan tangannya ke lengan Donghae. “This is my first too,” ucap Johee.

Donghae melihat ke arah Johee. Pipi Johee merona, untuk pertama kalinya Donghae melihat Johee malu. Tanpa sadar Donghae kembali mencium bibir Johee. “That’s my second.” ujarnya.

Johee segera menginjak kaki Donghae­. “AUWW!”

“Kajja! Samgyupsal!!” seru Johee.

“Ajak Yeonhee dan Eunhyuk juga, ya, Johee. Aku rasa, aku harus berterima kasih pada mereka,” ujar Donghae.

Johee mengeratkan tangannya dilengan Donghae. “Everything for you, Donghae,”

END