Annyeong onniedeul chingudeul dongsaengdeul kekeke
this ff created by @esterong ditengah kesuntukan akan tugas perspektif dan laporan biologi yang belum selesai-selesai *curhat* pas googling buat tugas, ketemu picture di tumblr yg menginspirasi ff ini hehehe
hope you guys enjoy this ff ^^ (ffnya nda sampe 6 halaman hehe)
your comments are love for me, so leave your comment here ^^ makasih yaaa ^^

Main cast : Lee Sungmin, Han Rigi.

******

September 5th, 2012

Saat ini sudah pukul 1.00 AM waktu Korea. Semua makhluk di rumah ini sudah tidur, kecuali satu orang, Han Rigi. Matanya memerah tanda ia mengantuk tapi entah kenapa mata itu menolak untuk mengatup. Segala cara sudah ia coba tapi tak ada gunanya. Ah, sesungguhnya masih sisa satu cara lagi: mendengar suara Sungmin, kekasihnya. Tapi Rigi mengurungkan niatnya mengingat Sungmin pasti sangat lelah dengan pekerjaan kantornya tadi dan sekarang telah tertidur.

Rigi hanya bisa menatap wallpaper iPhonenya, dimana ada foto dirinya bersama Sungmin, berusaha meredam rasa rindunya dengan melihat foto itu. ‘Andai saja, Sungmin menelponku,’ batinnya. Meski ia tahu itu tak mungkin, hati kecilnya tetap berharap.

Tiba-tiba saja, iPhone Rigi bergetar. Nama ‘Sungmin +8478xxxxx’ tertera jelas di wallpaper itu sebagai caller ID yang menelpon Rigi. Rigi terkesiap. Ia bangkit dari tidurnya lalu segera mengangkat telepon itu.

“Hei, Rigi. I miss you so,” ujar Sungmin dari seberang sana bahkan sebelum Rigi sempat mengucapkan ‘Hello’.

Rigi tersenyum sumringah meski Sungmin tak bisa melihatnya. Secuil kalimat tadi mampu membuat hatinya berbunga-bunga. “I miss you too, Sungmin oppa!” ujar Rigi, walau lebih terkesan kalau ia sedang berseru. Saat ini ia terlalu bahagia.

Sungmin tertawa kecil mendengar suara Rigi. Ia bisa membayangkan bagaimana wajah Rigi sekarang. Pasti pipi gadis itu memerah namun wajahnya penuh dengan antusiasme. “I can’t sleep. You always come to my mind. So, i call you,” ujar Sungmin jujur.

Wajah Rigi semakin memerah dan jantungnya mulai hiperaktif. Ia harus segera mengalihkan topik seperti ini sebelum wajahnya semerah apel. “Oppa, don’t try to seduce me!” seru Rigi yang disambut oleh kekehan Sungmin.

“Aku mau telepon oppa tadi. Tapi aku takut kau sudah tidur. Ternyata oppa yang telepon duluan. Kita jodoh, ya?” ujar Rigi menceritakan kejadian yang telah berlalu beberapa menit yang lalu.

“Kita sehati,” balas Sungmin yang disana.

“Ih, oppa norak. Yang benar itu, kita sehati, sejiwa, seia sekata, dan se-lainnya,” balas Rigi.

Sungmin tersenyum. “Ih, sejak kapan aku punya pacar yang lebih norak dari aku seperti kamu, Rigi?”

“Eventhough i’m so norak, you still love me, right?” ujar Rigi penuh percaya diri.

“Maybe yes, Maybe no. Do not overconfidence, baby,” balas Sungmin.

“Oh ya? Lalu siapa ya yang dulu selalu datang ke sekolahku, memasukan surat di lokerku tiap hari, menyanyi ditengah lapangan sekolahku, dan menyusun bunga berbentuk love di pekarangan rumahku?” tanya Rigi yang jelas sekali ingin menggoda Sungmin, karena itulah yang Sungmin lakukan untuk mengejar Rigi dulu.

Sungmin dan Rigi berbeda 4 tahun. Saat itu Rigi masih SMA dan Sungmin adalah seorang mahasiswa di universitas yang tepat berada disebelah sekolahnya Rigi.

Sungmin tertawa kecil mengingat setiap perlakuan noraknya dulu. “Oke, that’s me. I’m so romatic, right?” tanyanya.

“Yes, you are,” balas Rigi yang membuat keduanya tertawa. Sisa malam itu mereka habiskan bersama dengan saling bernostalgia dengan cerita-cerita yang telah lalu.

Sungmin sendiri di apartemennya —dibalkon apartemennya, tepatnya—, sambil tetap menelpon Rigi, sedang mempersiapkan surprise dinner untuk mereka besok di balkon apartemennya. Besok adalah anniversary mereka yang ke 6.

“I Love You. For now, and for the rest of my life. In this world or Heaven. My heart is belong to you,” tulis Sungmin disecercah kertas lalu membungkus sebuah cicin perak dengan kertas itu.

“Oppa, aku sudah ngantuk,” ujar Rigi diujung sana.

“You sleep first. I’ll sing for you,”

My love, everytime I’m thinking about you
My life is yours. I miss you
I believe my dream will come true

When I’m with you, my feelings are always visible
If I look into a mirror, I can see exactly how I’m feelings

The words, “I miss you” coming right off my tongue
I try to hold them in, but I let them out unconsciously

I wanna hold your hands
(Everytime I’m thinking about you)
I wanna kiss to your lips (whole heartedly)
I wanna fall in love with you
It must be beautiful lovely day

I shouldn’t hurry the words, “I love you”
I don’t want my love to seem light

Anywhere on this earth, my love will be yours
If I could only be with you, then
My love for you, my everything
Would be for you

Your eyes always seem to call me
It’s like a dream, the way she makes me insanely happy
Lying down, I can imagine her figure
I want to send my feelings to you
When the wind brushes against my cheek
I suddenly think of you
I want to be a large tree that stays by your side
To watch over you under the skies
Please believe in me

I wanna hold your hands
I wanna kiss to your lips
I wanna fall in love with you
it must be beautiful lovely day

“Saranghae,” ujar Sungmin diakhir lagu itu namun tak ada jawaban dari Rigi. Yang adalah malah suara dengkuran. Sungmin terkekeh lalu memutus sambungan telepon mereka itu.

Sungmin bangkit dari duduknya dan hendak masuk ke ruang tamu apartemennya. Tapi tanpa sengaja tangannya menyenggol gelas dan membuat gelas itu terjatuh. Gelas yang pecah tak menjadi masalah buat Sungmin. Tapi cincin yang —entah bagaimana bisa— ikut terjatuh itu, memberikan suatu firasat buruk pada Sungmin.

“Firasatku tak pernah tepat. Kali ini juga pasti begitu,” ujar Sungmin mensugesti dirinya sendiri. Ia membereskan gelas itu lalu segera masuk ke kamarnya untuk tidur.

******

 

September 6th, 2012

“Hamun, aku pulang dulu ya,” pamit Rigi setelah keluar dari kelas mata kuliahnya.

“Sendirian?” tanya Hamun.

“Tentu saja. Sungmin oppa pasti sibuk,” balas Rigi.

“Serious? So, who’s that man in front of our campus?” tanya Hamun sambil menunjuk pada sebuah motor yang bertengger di depan kampus ini. Rigi menyipitkan matanya untuk dapat melihat pria yang duduk diatas motor itu lebih jelas. Mulutnya menganga saat akhirnya pria itu melambaikan tangannya pada Rigi.

“Sungmin oppa menjemputmu, tuh,” ujar Hamun menyadarkan Rigi. Hamun mendorong Rigi agar ia segera menyusul Sungmin.

“Oppa kenapa bisa disini? Kenapa naik motor?” tanya Rigi heran saat ia sudah disamping Sungmin.

Wajah Sungmin menatap Rigi tanpa rasa bersalah. “Bukannya kau melarangku menjemputmu kalau naik mobil?” sahut Sungmin yang membuat Rigi terdiam. Ya, memang. Sungmin adalah penerus tunggal dari Lee Cooperation. Yang membuat Rigi tak pernah mau Sungmin menjemputnya dengan mobil adalah: mobil milik Sungmin tidak ada yang ‘biasa’.

“Lalu motor siapa itu?” tanya Rigi lagi.

“Anak buahku. Aku meminjamnya,” balas Sungmin. “Kajja! Naiklah! Aku ingin membawamu pergi kencan hari ini!” seru Sungmin semangat.

“Hanya ada satu helm?” tanya Rigi yang dibalas Sungmin dengan senyum sok innocent. “Mianhe, dia hanya punya satu. Don’t worry. Aku akan pelan-pelan,” balas Sungmin.

Rigi menghelas nafas lalu tersenyum sumringah. Ia segera naik ke motor itu. Rigi hanya berpegangan pada baju Sungmin. Belum berani melingkarkan tangannya di pinggang Sungmin karena ini adalah pertama kalinya bagi mereka untuk naik motor bersama.

******

Sungmin dan Rigi sudah puas bermain di Lotte World. Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju Apartemen Sungmin. Katanya, Sungmin punya sesuatu untuk Rigi.

“Kau senang?” tanya Sungmin.

“Retoris! Tentu saja,” jawab Rigi.

Perjalanan itu mereka lalui dalam perbincangan seru. Tanpa terasa, kecepatan mereka bertambah hingga 100 km/jam akibat jalanan yang menurun.

“Sungmin, slow down. I’m scared,” ujar Rigi.

Sungmin tersenyum, “No, Rigi. This is fun,” balasnya.

“No, its not. Please, it is too scary, Sungmin oppa!” seru Rigi.

Sungmin terkekeh, “Then, tell me that you love me,”

“Oke fine! I LOVE YOU LEE SUNGMIN!” serunya. “Now, slow down, please, Sungmin,”

“Now, give me a big hug,” pinta Sungmin. Rigi akhirnya memeluk pria itu sangat erat. Rasa hangat menjalar disekujur tubuh Sungmin.

“Rigi, can you take my helmet off and put it on yourself? Its bugging me,”

……..

September 24th, 2012

Rigi menatap pintu apartemen bernomor 13 ini dengan datar. Setelah sekian menit ragu, akhirnya ia memutuskan untuk masuk. Ia melihat seisi ruangan ini tersusun sangat rapi. Tak ada yang berubah sejak terakhir kali ia datang ketempat ini, 2 minggu yang lalu, 2 hari sebelum kejadian itu.

Rigi mengitari digital piano yang ada di tempat itu. Diatas piano itu, masih banyak foto Sungmin dengan dirinya.

Mata Rigi, tanpa sengaja, melihat ke arah balkon apartemen itu. Ia mendapati sebuah meja bertaplak merah. Diatasnya sudah tersedia bunga, piring, gelas, dan lilin. Seperti sebuah candle light dinner.

Tubuh Rigi bergetar hebat namun kakinya tetap berjalan ketempat itu. Sesampainya di balkon, Ia duduk disalah satu bangku. Diatas piringnya ada sebuah surat. Didalamnya tertulis, ‘You make me dance like a fool, forget how to breathe, shine like gold, buzz like a bee. Jus the thought of you can drive me wild. Oh, you always make me smile,’ Lee Sungmin.

Air mata Rigi hendak keluar. Ia memutuskan untuk segera pergi dari situ, namun sebuah kertas terlipat yang ia lihat ditengah meja itu menghentikan niatnya.

Rigi mengambil kertas itu dan membuka lipatan itu. Air matanya tak bisa ia tahan lagi setelah melihat cincin yang ada didalam kertas itu. S&R adalah inisial di cincin itu. Tak salah lagi, cincin ini pasti ingin Sungmin berikan pada Rigi.

Tangisan Rigi menderu. Tak ada yang bisa menghiburnya saat ini. Hatinya terlalu sakit untuk menerima kenyataan yang ada. Tapi sepertinya Lee Sungmin memang sangat mencintai gadis ini. Entah bagaimana caranya, kertas yang terlipat tadi, yang Rigi abaikan karena lebih dulu terpaku pada cincin itu, kini ada dihadapannya. Membuat Rigi dapat membaca pesan yang belum tersampaikan. Pesan dari Lee Sungmin agar kekasihnya ini tetap hidup demi dirinya sendiri, Lee Sungmin, dan juga cinta mereka.

“I Love You. For now, and for the rest of my life. In this world or Heaven. My heart is belong to you,”

“Smile, dear. I love you,” Rigi bisa mendengarkan kalimat itu ditelinganya. Suara Sungmin. Ia tahu itu terdengar seperti takhayul. Tapi saat ini, Rigi ingin mempercayainya.

*****

Seoul Newspaper, September 7th, 2012

A motorcycle had crashed into a building because of brake failure. Two people were on it, but only one had survived.

The truth was that halfway down the road the guy realized that his brakes broke, but he didn’t want to let the girl know. Istead, he had her love him and felt her hug him one last time, then let her wear his helmet so that she would live eventough it meant that he would die.

……

THE END.