Onniedul, chingudeul, dongsaengdul, annyeoong ^^
esterong is back with new fanfiction hehehe *akhirnya🙂
ff ini cuma 5 halaman dan dibuat khusus buat Sonrye aka Herentia Soegiri.
terinspirasi dari *lagi-lagi* tumblr hehe
hope you guys enjoy this fanfiction ya ^^ your comments are love for me, so leave your comments here ya🙂 thank you so much reader! really love you all!😀

ps: reeen, hope you like it yaa🙂 mianhe kalo kurang bagus T^T semangat ya reen buat sekolahnya! saranghaeee!! ♥

*****

‘Love is patient and kind. It’s not jealous or concieted or proud. It’s never rude or selfish. Love does not delight in evil but rejoices with the truth. Love is always ready to excuse, to trust, to hope, and to endure whatever comes. Amen,’

Aku tersenyum merenungi ayat yang baru kubaca. Pagi ini, Tuhan kembali mengingatkanku tentang kasih. Kasih yang tidak kusimpan untuk diriku sendiri, melainkan untuk dibagi kepada sesamaku.

Aku menutup Alkitabku lalu mengambil sebuah pigura yang ada di meja belajarku. Sebuah foto yang kuambil setahun yang lalu. Disana terdapat sosok pria yang sedang menggendong seorang anak kecil dipundaknya agar anak itu bisa mengambil balon yang tersangkut di pepohonan. Senyuman manis merekah dikedua wajah itu.

Nama pria itu Kim Kibum. Dulu ia adalah teman sekelasku. Terkenal karena sifatnya yang dingin. Tapi sejak saat itu, saat aku pertama kali melihat senyum diwajahnya, hatiku langsung terpaut padanya.

Kini, ia masih teman sekelasku, tapi ia juga kekasihku. Aku yang menembaknya. Aku tak perduli kata orang. Aku hanya tak mau membohongi diriku sendiri. Dan hasil dari keberanianku adalah ia menerimaku. Sudah 6 bulan kami berpacaran. Namun asal kau tahu, ia masih Kibum yang dingin seperti dulu. Kadang aku menyangsikan perasaannya, namun arti kasih yang kubaca pagi ini membuatku tersadar.

“Aku harus percaya pada Kibum,” sugestiku.

******

Aku berdiri di depan bangku Kibum. Menatapnya yang masih terpaku pada buku. “Kibumie, mau makan? Aku sudah buatkan bekal untukmu,” ujarku riang. Perhatian Kibum kini tertuju padaku, begitu juga pada para siswa yang tersisa di kelas.

Kibum bergantian menatapku, bekalku, juga siswa lain yang masih menatap kami. Matanya menyiratkan keraguan dan keengganan. Wajahnya memerah seperti kucing yang malu-malu. Ia mengambil bekal makanannya dari tanganku lalu berkata, “Terima kasih,” tanpa menatapku dan langsung pergi begitu saja.

Aku terdiam. Dengan bingung, aku kembali ke tempat dudukku dan mulai menyantap bekalku. Tiba-tiba saja, Hamun, saudara kembarku, muncul dihadapanku.

“Pacarmu terlalu dingin, Sonrye,” ujarnya mengalihkan pehatianku. Aku tersenyum padanya.

“Aku tahu resiko itu sejak pertama kali aku menyukainya,” jawabku.

Hamun mengambil kursi lain lalu duduk dan makan di mejaku. “Kau yakin dia menyukaimu, Sonrye?” tanyanya disela mengunyah makanan.

“Entahlah, dia tak pernah mengatakannya,” jawabku jujur.

“Penasaran? Pernah coba kau tanya?”

“Aku tak berani. Takutnya, aku malah mendengar sesuatu yang tak kuinginkan. Kau juga tahu, kan? Ia memiliki lidah yang tajam,” ujarku yang membuatnya terkekeh.

“Daripada penasaran?” hasutnya.

“Aku tak berani, Hamun. Lagipula, aku cukup puas dengan situasi saat ini,” timpalku.

Hamun tersenyum lalu mengacak rambutku. “Jangan berbohong padaku. Kita ini saudara kembar. Aku bisa tahu semua isi hatimu yang sesungguhnya hanya dengan melihat wajahmu,” balasnya.

Aku tersenyum samar. “Aku menyesal menjadi saudara kembarmu. Kau terlalu jeli,” timpalku yang ia balas dengan senyum penuh kemenangan di wajahnya.

“Kalau ternyata jawabannya nanti tak sesuai harapanku, kau mau tanggung jawab?” tanyaku.

Hamun menepuk pundaknya. “Aku bisa pinjamkan padamu,” ujarnya.

Aku mengacak rambutnya gemas. “YAA!” serunya.

“Makan dulu, jangan ngomong terus,” ujarku tanpa rasa bersalah.

*****

Aku melihat Kibum sedang duduk bersandar di pohon yang terdapat di halaman belakang sekolah kami. Sudah kuduga dia disini. Ini tempat favoritnya. Aku menghampirinya dalam diam lalu duduk disebelahnya.

“Annyeong, Kibumie,” sapaku. Kibum membuka matanya, menatapku sesaat, lalu kembali menatap langit. “Hai,” katanya.

Aku terdiam sekitar 2 menit. Menikmati wajah pria yang duduk disebelahku ini. “Apa?” tanya Kibum menyadarkanku. Aku tersenyum lalu menggeleng. Kini aku ikut menatap langit, seperti dirinya.

“Am I pretty?” tanyaku.

“No,” jawabnya tanpa jeda untuk berpikir. Dadaku mulai meradang, namun yang satu ini masih dapat kutahan.

“Do you want to be with me? Forever?” tanyaku.

Kibum terdiam sesaat, “No,” jawabnya.

Jantungku mulai berpacu cepat. Tiap sendiku rasanya lemas. Semangatku menguap. Semua kekhawatiranku kini menjadi nyata. Keyakinanku tenggelam. Hatiku mulai bimbang. Dadaku tersakiti dan air mata mulai mengisi pelupuk.

“Would you cry if i walked away from you?” tanyaku. Harapan terakhirku.

….

“No,” jawabnya. Saat itu juga, pertahananku runtuh. Kenyataan kalau ternyata selama ini cintaku bertepuk sebelah tangan —meski ia adalah kekasihku—, membuat air mata ini tak dapat ditahan lagi.

Aku menghapus air mata dipipiku. “O-okay, aku ke kelas duluan ya,” pamitku ditengah isakanku.

Aku bangkit, lalu beranjak. Pada langkahku yang kesekian, aku merasakan sebuah kehangatan mengalir dari tanganku. Aku memutar badanku dan mendapati Kibum berdiri dihadapanku. Matanya menatapku lirih.

“Jangan pergi,” ujarnya. “Aku belum menyelesaikan perkataanku,”

Kibum menarikku dalam pelukannya. Kehangatan dari tubuhnya perlahan-lahan menghapuskan kesedihanku. Tangannya seakan melindungiku, memberikan kenyamanan padaku.

“You’re not pretty, you’re beautiful. I don`t want to be with you forever, because I need to be with you forever. And I wouldn’t cry if you walked away because I would die, Park Sonrye,” bisiknya tepat ditelingaku.

Kalimat itu bergema di kepalaku. Membuatku begitu bahagia sampai-sampai air mataku kembali mengalir. Air mata bahagia.

“Maafkan aku karena aku begitu dingin padamu sampai membuatmu salah paham. Maafkan aku karena aku tak bisa berkata atau bersikap lembut padamu. Maafkan aku kalau aku terlalu kaku. Namun yang pasti, perasaanku padamu ini adalah nyata, Sonrye. Loving you is like breathing. How can I stop?” ujarnya.

Aku membalas pelukan Kibum. “Saranghae, Kibum. Jeongmal Saranghae,”

Aku bisa merasakan tangan Kibum mengelus puncak kepalaku. “Hmm,” hanya gumaman itu yang keluar dari bibirnya.

*****

“Jadi pada akhirnya dia tetap tak mengatakan ‘saranghae’ padamu?” tanya Hamun padaku.

“No,” jawabku seadanya tanpa menatapnya. Aku sedang sibuk memilih baju yang akan kugunakan untuk kencan pertama kami malam ini. Maksudku, kencan pertama atas inisiatif Kibum. Berkat kejadian tadi, Kibum merasa bersalah dengan sikapnya selama ini. Ia berkata padaku, meskipun ia tak bisa menjadi pria yang romantis, ia akan mencobanya.

“Lalu, kau tetap berpacaran dengannya? Apa kau yakin dia menyukaimu?” tanya Hamun yang mengikutiku sejak di kamar tadi sampai sekarang.

Kibum sudah menungguku diluar. Namun sebelum aku keluar dari pintu itu, aku berbalik menatap Hamun. Mengajarkannya tentang arti cinta yang aku sendiri baru menyadarinya. “You don’t have to love in words, even through the silences love is always heard, Hamun,”

Hamun menatapku penuh tanya seakan ia belum bisa mengerti maksud perkataanku. “Kau akan tahu jika kau sendiri yang merasakannya,” ujarku dengan senyum penuh kemenangan.

******

“Kenapa kau diam saja?” tanyaku pada Kibum disela langkah kami.

Masih sambil berjalan dan bergandengan tangan, ia menjawab, “Tak apa-apa,” tanpa berani menatapku. Dari tadi ia selalu menghindari kontak mataku. Pasti ada yang tak beres.

“Jangan bohongi aku,” ujarku melepaskan genggaman tangannya. Langkah kami terhenti. Aku berjalan ke sisi kirinya, namun dengan segera ia menoleh ke kanan. Aku ke sisi kanannya, ia kembali menoleh ke kiri.

“Kibum, kau kenapa? Kalau kau menyayangiku, harusnya kau jujur padaku,” ujarku lirih.

Aku tahu Kibum baru saja menatapku dari sudut matanya. Setelah berpikir sesaat, akhirnya ia menghela nafas. “Aku malu,” katanya.

“Malu? Kenapa?” tanyaku.

“Kau terlalu….” gumamnya, namun aku tak bisa mendengar kata terakhir yang ia ucapkan.

“Apa?”

“Kau terlalu manis, Park Sonrye,” ujarnya akhirnya, masih belum berani menatapku.

Aku tersenyum. “Kau terlalu manis malam ini sampai-sampai jantungku mau keluar hanya dengan melihatmu,” lanjutnya. Aku bisa melihat pipinya yang makin merona sekarang. Melihatnya membuatku yakin kalau dia memang pria yang pantas untuk dicintai. Setelah ini,  aku tak akan menuntutnya untuk bersikap atau berkata romantis padaku, karena semua bagian tubuhnya sudah menyiratkan betapa besar perasaannya padaku.

Sebuah ide gila muncul di otakku. Dengan segera aku merengkuh wajah Kibum agar berhadapan denganku. Untuk beberapa saat, aku biarkan mata kami bertemu. Dan dengan secepat kilat, aku mencium bibirnya.

“Saranghae,” kataku setelah melepas bibir Kibum. Ia masih terpaku menatapku namun dengan segera aku menggenggam tangannya, mengajaknya kembali menyusuri kota Seoul ini.

Sekali lagi, kasih kembali menunjukan pesonanya padaku. Ia kembali mengisi hatiku dengan keindahannya. Ia mengajariku tentang kehidupan dan memberiku sebuah pengalaman. Akhirnya, aku mengerti arti lain dari kasih: ‘Love is not a word to say. Love is not a game to play. Love is yesterday, tomorrow and today.’

END