author Rye back to this site ~~

Re-edit and post it agaaiin~
please read and comment ^^
hope u can like it ^^

cast:
-Park Sonrye
-Park Jungsoo
-Lee Eunhyuk
-Lee Yeonhee

헤어지는 방법 (The Way To Break Up)

STARTTT!

Aku akan memberitahumu bagaimana cara untuk menutupi kesedihanmu…
Aku tahu karena aku mengalaminya.
Yang tidak ku tahu mengapa harus diriku?
Aku minta aku hanya ingin berakhir bahagia…
Aku memang tersenyum sekarang, tapi hatiku sedang menangis.
Sebagian kecil diriku bertanya ‘mengapa?’ Aku benar-benar tidak mengerti…

Mungkin ini akan menjadi cerita yang paling membosankan yang pernah kau tahu.
Tetapi aku butuh seseorang untuk berbagi, dan engkaulah yang ku pilih.
Maka maukah kau bersabar dan mendengarkanku?

‘Even if it hurts, pretend that’s nothing’

Salju kembali turun pelan-pelan menandakan musim dingin telah tiba. Semua sekolah serempak sudah libur hanya satu sekolah yang masih menyuruh murid-muridnya masuk. Hanya untuk menonton perlombaan yang tidak penting tetapi menurut pihak sekolah penting.

Aku berjalan dengan lemas menuju ruang olah raga. Walau jarakku masih 50 meter dari ruangan itu teriakan penonton sudah terdengar. Aku memasuki ruangan ramai itu, dancer pembuka acara sedang menari dengan semangat. Sekitar 2 menit kemudian para dancer perempuan itu menunduk memberi hormat dan semua orang bertepuk tangan.

Tiba-tiba dari balik panggung muncul beberapa anak laki-laki diringi music hip-hop. Mataku terpaku pada satu orang yang sedang melakukan handstand. Rasanya detak jantungku berhenti berdetak sesaat. Setelah handstand dia kembali berdiri tegak menunjukan tanda peace-nya dan tersenyum manis. Semua orang berteriak untuknya sedangkan aku masih menahan nafasku.

Dia memang cukup terkenal disekolah karena kekonyolannya, dia sering menjadi badut kelas tetapi aku tak pernah tahu bahwa dirinya bisa sekeren itu. Sampai lagu itu berakhir aku tak bisa mengalihkan pandanganku terhadapanya. Ku letakkan tanganku di depan dadaku, jantungku bahkan masih berdetak dengan cepat.

Dia…. ya laki-laki  itu telah mencuri hatiku…  dan aku masih tetap memandangnya.

Sekarang dia sedang menuruni panggung, dia tampak mencari seseorang lalu matanya tertuju padaku, aku salah maksudku pada gadis di sebelahku. Dia tersenyum sangat manis pada teman baikku, bukan senyuman yang biasa, kawan.

Aku jatuh cinta dan patah hati disaat bersamaan.

“Yeonhee sejak kapan kau ada disini?” tanyaku sambil tersenyum.

Dia menatapku bingung tapi lalu ia ikut tersenyum. “Aku disebelahmu sejak 2 menit yang lalu, kukira kau sudah sadar dari tadi.”

“Aku baru mau mencarimu.” Aku berusaha tetap tersenyum lalu mengajaknya mencari tempat duduk.

“Kau lihat Eunhyuk tadi? Ya Tuhan dia sangat keren, iyakan SonRye? Aku sudah bilang berkali-kali dia sangat keren, kau tidak pernah percaya padaku!”

“Ya.. yaa.. yaaaa. Sudahlah jangan bicarakan dia lagi. Aku bosan mendengarmu tiap hari membicarakannya.”

:::

‘Even if tears fall,you know how to hide them’

Seminggu setelah hari itu….

“Sonrye ah!” Leeteuk oppa memanggilku sambil menunjuk Hp ku diatas meja.

Aku baru menyadari handphoneku berdering. “Nee annyeong. Nuguseyo?”

“Apakah ini Park Sonrye?” tanya orang disebrang telepon.

“Iya. Ini siapa yah?”

“Ini Eunhyuk teman satu sekolahmu, bisakah kita bertemu hari ini?”

Aku terpaku sebentar, lalu aku berlari melihat kalender dan jam. Bahkan aku sendiri tak tahu apa yang sedang kulakukan. Dan bodohnya, aku malah menjauhkan hpku dan membantingnya ke sofa. Aku tak tahu kenapa aku bersikap demikian. Beberapa detik kemudian aku menyadari kebodohanku, ku ambil kembali hpku . Saat kulihat sambungan teleponku telah terputus.

“ARGHH!! Apa yang kulakukan?” tanyaku pada diri sendiri.

Aku mengutuki kebodohanku, aku sungguh ingin menangis. Beberapa saat yang lalu kalau aku tidak sebodoh itu mungkin sekarang aku sedang mencari baju untuk pergi bersamanya.

“Sonrye kau kenapa?” Tanya Leeteuk dengan ragu-ragu.

Aku menggelengkan kepalaku lalu tersenyum kearahnya. “Tadi hanya telepon dari orang iseng, aku kesal sekali. Aku lelah, aku mau tidur.”

“Bukannya kau baru bangun?” tanyanya lagi tapi aku pura-pura tak mendengarnya dan masuk kedalam kamar.

Setelah menutup pintuku aku duduk di lantai dan memperhatikan hpku. “Park Sonrye kenapa kau begini bodoh?” lalu setetes air mataku jatuh.

:::

‘Even if my heart is scarred, there is a way to still peacefully smile’

Malam hari aku tak bisa tidur dengan tenang.

Pukul satu pagi aku terbangun padahal aku baru berhasil tidur pukul 11 malam. Aku kembali mengambil hpku, aku mengetik sms setelah selesai aku kembali menghapusnya. Seharian ini hanya itu yang kulakukan setiap kali memegang hp ini.

Hatiku ketakutan dan kebingungan. Aku penasaran kenapa ia menghubungiku tapi disatu sisi aku takut akan banyak hal. Aku kembali menulis sms dengan perasaanku yang kacau.

“Micheoseo..” ucapku setelah membaca ulang apa yang kutulis.

Baru saja aku ingin menghapus sms konyol itu. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. “kau belum tidur?” Tanya Leeteuk.

“Aku tidak bisa tidur. Aku rasa insomnia ku makin parah.” Ujarku lalu menaruh handphone disamping bantalku.

“Kau ada pulsa? Aku mau menelpon seseorang.” Tanyanya lagi.

Aku mengangguk dan tanpa pikir panjang memberikan hpku padanya. Setelah kuberikan hpku , aku baru sadar aku belum menghapus sms yang baru kutulis.

“Kau mau mengirim pesan yah? ‘Maaf hyuk-ah, aku Sonrye. Aku terkejut karena kau menelponku tiba-tiba. Kau mau bertemu? Bagaimana kalau besok jam 3 sore di café dekat sekolah?’ aku akan mengirimkannya untukmu” Lalu leeteuk memencet beberapa tombol.

“OPPAA!!”

Lalu Leeteuk melempar hp itu keranjangku dan mematikan lampu kamar. “Sekarang tidurlah. Besok kau harus bertemu dengannya.” Ucapnya lalu keluar dari kamar.

Aku mematung dan melihat pesan yang sudah terkirim. Perasaanku sekarang campur aduk. Aku berharap waktu berhenti sekarang atau setidaknya melewati hari esok menjadi lusa.

:::

That’s The Way To Break Up

Jam 9 pagi aku mendapat sms balasan darinya:
‘Maaf membuatmu kaget. Baiklah aku akan menunggumu disana nanti. Terima kasih banyak Park Sonrye.’

Ini pertama kalinya aku akan bertemu hanya berdua dengan laki-laki. Aku tak tahu apa yang harus ku kenakan. Aku mengeluarkan semua isi lemariku tapi aku tetap tahu apa yang harus kukenakan. Aku berlari ke toko makeup terdekat tapi aku tak tahu apa yang harus ku beli. Aku berusaha menata rambutku tetapi aku tak tahu aku harus menguncir atau menggerainya.

Akhirnya jam 2 tepat, aku siap dengan kaus biasa dan celana jeans panjang, tanpa memakai makeup apapun dan menguncir satu rambutku. Adakah gadis yang lebih bodoh dariku? Aku melihat kecermin rasanya aku ingin menertawaiku sendiri.

Hanya dengan inilah dan hatiku yang kubawa berjalan keluar rumah menuju café kecil di dekat sekolahku. Kulihat dia sudah menunggu di dalam memandang kosong kearah satu cangkir cappuccino-nya. Saat itu jam 3 kurang 5 menit, aku melangkah masuk kedalam kafe.

Aku meletakan tas selempangku di meja dan duduk di kursi. “Kau datang cepat sekali” hanya kalimat itu yang dapat kuucapkan.

Dia juga tampak canggung tapi dia berusaha tersenyum kearahku. “Maaf mengganggumu.”

“Jadi kenapa kau memanggilku kesini?” kataku terdengar ketus. Sungguh aku ingin bersikap 10 kali lebih baik daripada yang bisa kulakukan sekarang.

“Aku menyukai temanmu, dan aku rasa kau tahu itu. Aku tahu kau teman baiknya karena itu aku ingin minta bantuanmu.” Ucapnya sambil berusaha menahan rasa gugupnya.

Aku berusaha tetap tersenyum, aku sudah siap karena aku menahan rasa takut ini mulai dari menyukainya.

“Lee Hyuk Jae maukah kau menjadi pacarku sehari saja?” ucapku setelah kami sama-sama terdiam beberapa menit.

“Apa?” matanya melebar.

Aku tetap tersenyum. “Suatu hari kau pasti akan berkencan dengan temanku maka aku harus tau bagaimana kau memperlakukannya. Maka anggaplah aku dirinya selama satu hari ini. Lalu aku akan menilaimu, aku akan membantumu jika aku merasa kau layak dibantu.” Jawabku.

Siapapun boleh menganggap aku sedang mencari kesempatan, tapi sungguh aku sudah tak dapat berpikir.

Apakah kau pernah merasa sakit yang seperti ini?

Sampai kau tak lagi dapat berpikir.

Kalau aku ingin mengakhiri segalanya maka beginilah caranya.

::::

“My heart is growing dark like this again”

“kita mau kemana?” tanyaku saaat ia menyodorkan helmnya yang berwarna biru padaku sedangkan ia memakai helmnya yang berwarna hijau.

“tentu saja kencan.” Ucapnya sambil tersenyum.

Walau senyuman itu bukan untukku biarkan aku merasakannya untukku. Sekali saja, biarkan aku merasakannya.

“naiklah.” Ucapnya setelah siap di motornya.

Aku naik di motornya lalu ia meraih salah satu tanganku. “pegang yang erat. Aku tak mau menanggung jika kau masuk rumah sakit.”

Aku mengulum senyumku lalu melingkarkan tanganku, saat ini terasa sangat hangat. Sekali lagi kukatakan pada diriku sendiri ‘biarkan aku merasakannya walau hanya sekali’

Motor itu berhenti didepan sebuah department store yang cukup besar. “tunggulah di lobi, aku akan memarkir motorku dulu.” ucapnya.

Aku mengangguk dan turun dari motor dan melepas helmku dan memberikannya padanya.

Dia tertawa kecil saat aku menyerahkan helmku padanya. “rambutmu berantakan,” ucapnya setelah menaruh helmku di tempat gantungan kecil lalu merapikan rambutku. “Aku harap nanti aku bisa merapikan rambut Yeonhee sepert ini juga.” Lanjutnya lalu kembali tersenyum.

Aku tersenyum padanya. “Yeonhee pasti akan bahagia sekali punya pria sepertimu… Ahhh… Baiklah aku tunggu di lobi. Sampai jumpa.”

Tanpa kusadari air mataku mulai berjatuhan. Sekarang aku tak tahu apa yang kulakukan benar atau salah. Semua terasa makin gelap untukku. Aku menghapus air mataku dan kembali memasang senyum saat menunggu di lobi.

:::

“The many lingering regrets are pulling down”

“Sonrye-ah kau suka strawberry atau vanilla?”

“Strawberry!” jawabku.

“Eskrim vanillanya satu dan strawberrynya satu.” ucapnya pada pelayan. “Hei Sonrye-ah,  Yeonhee suka eskrim rasa apa?” Tanya saat mereka sedang menugu.

“Cokelat. Kau harus ingat dia benci strawberry.” Jawabku .

“Sudah kuduga. Kulihat kalian sangat bertolak belakang, kenapa bisa berteman?” tanyanya lagi.

“Karena kami punya kesamaan juga.” Ucapku padanya ‘bahkan kami menyukai orang yang sama.’ Ujarku dalam hati sambil menatap kedua bola matanya.

Sebelum ia kembali berbicara pelayan tadi sudah menyodorkan dua eskrim. Aku mengambilnya dan membiarkan ia membayar untuk bagianku juga.

“ Hei, kau sudah pernah berpacaran sebelumnya?”

Aku tersedak mendengar pertanyaan itu dia segera menyodorkan air putih yang dipesannya padaku. “Kenapa kau tanyakan itu?”

“Hanya bertanya, lebih tepatnya aku penasaran. Aku pikir kau orang yang sulit didekati tapi aku merasa nyaman menjadikanmu seorang teman, tetapi kau tak pernah terlihat punya teman laki-laki yang dekat denganmu.”

“Aku berbeda dengan Yeonhee yang pandai bergaul. Aku memang tidak pernah pacaran, tapi ini sekarang bukannya aku sedang pacaran?”

“Kita hanya pura-pura.” Ucapannya seperti berbisik lalu ia tertawa kecil . “Tapi aku suka idemu. Jadi bagaimana pendapatmu tentangku?”

“Satu kata.. ‘iri’..” aku tak tahu bagaimana wajahku saat itu tapi Eunhyuk tampak kasihan padaku. Sekejap aku langsung menarik bibirku untuk tersenyum “Aku akan bahagia sekaligus iri jika kalian bersama. Kau orang yang baik Eunhyuk.”

Dia tersenyum lalu mengelus lembut kepalaku. “Kau akan menemukan yang lebih baik dariku.” Ujarnya lalu tersenyum sangat amat manis padaku.

Hatiku terasa sakit ketika mendengarnya berkata begitu, aku merasa tak ada ruang untukku di hatinya. Apakah aku terlambat jika aku mengatakan aku menyesal menjadi pacarnya satu hari ini? Karena hatiku semakin tergores, kian lama bersamanya… rasa sakitnya makin luar biasa.

:::

It’ll probably be erased again, it’ll probably became a distant. We’ll probably forget each other

Hari sudah gelap. Aku duduk di atas motor Eunhyuk sambil merangkulnya seperti awal kisah pacaranku dimulai. Sebentar lagi semuanya akan berakhir. Ia memberhentikan motornya di kafe kami bertemu.

“ayo kita bicara penilainmu di dalam.” Ujarnya setelah melepas helmnya dan menengok kearahku.
Aku mengangguk lalu memberi helmnya kembali. Kulihat waktu sudah pukul 7 malam.

Sekarang kami menempati kursi yang sama seperti awal kami bertemu. Dia kembali memesan cappuccino-nya dan Aku kembali memandangi wajahnya lekat-lekat. Jika ini memang menjadi yang terakhir biarkan aku melihatnya sekali lagi.
Dia mengangkat kepalanya dan mata kami langsung bertemu, perlahan ku palingkan mukaku, aku yakin wajahku memerah.

“ Jadi bagaiamana Park Sonrya nilai 1-10 berapa nilaiku?”

“5” jawabku sambil tersenyum.

“hanya 5?”

Aku tertawa melihat wajahnya yang tampak sangat kecewa, dia seperti anak kecil yang sedang ingin merengek. “9.5” ucapku

“chinchayo?” tanyanya dengan mata berbinar-binar.

Aku mengangguk. “Kalau kau mau tahu, Yeonhee sudah lama menyukaimu. Dia tidak pernah berhenti membicarakanmu. Dia pasti memberikan nilai 10 jika kau mengajaknya berkencan seperti yang kau lakukan untukku.”

Sekali lagi aku lihat matanya melebar kaget. “benarkah itu ? Sonrye-ah kau tidak bohong padaku kan?” Sekarang senyuman yang sangat kusukai darinya mengembang.

Aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak apa asal ia dapat tersenyum sepert ini dan selalu tersenyum seperti ini.

“Yeonhee sungguh pintar dalam memilih teman, kau sungguh teman yang baik Sonrye-ah. Suatu hari kau juga pasti menemukan dimana kau bisa memberikan nilai 10 kepada orang yang kau ajak berkencan.”

Air mataku hampir tak tertahan saat ia mengucapkan itu, sebenarnya dia sudah mendapat nilai 10 dariku sejak awal bahkan tanpa kekonyolan ini.. nilai untuknya adalah 10.

“Sonrye-ah.. bukannya sekarang saatnya kita putus?” tanyanya dengan nada bercanda.

Aku berusaha ikut tertawa. “Bagaimana cara putus yang keren? Kau mau seperti di drama aku bisa menyirammu dengan jus jerukku?’

Dia tertawa atas candaanku. “Aku lebih suka putus tanpa kekerasan.”

“Baiklah. Aku akan memutuskanmu sekarang. Siaplah Lee Eunhyuk.”

Dia memasang tampang sedih yang menurutku sangat lucu. Aku tidak akan tahu bagaimana nanti aku harus menghapus semua kenangan hari ini. “Aku siap.” Ujarnya dengan suara berat.

Aku mengambil nafas panjang. “Karena kau menyukai sahabatku sendiri, aku mau putus. Kau boleh pergi bersamanya asal kau membuatnya bahagia.” Ujarku pada akhirnya.

“Terimakasih Sonrye. Besok aku akan mengajaknya bicara.”

Aku memasang muka cemberutku. “Kau ada pulsa? Aku mau menelpon seseorang.” Tanyaku.

Tanpa pikir panjang ia memberikan handphonenya padaku. Aku memencet nomor yang sudah sangat kuhafal lalu kusodorkan hpnya.

Dia tampak bingung tapi matanya kembali membesar setelah mendengar suara diujung telepon.

“yobseyo? Ini Yeonhee, ini siapa yah?”

Dia mengerjap-ngerjapkan matanya kepadaku. Aku memberi tanda untuk memperkenalkan dirinya. “A.. ini Eunhyuk. Teman satu sekolahmu.”

‘ajak ia bertemu besok.’ Aku berusaha menyampaikan itu padanya.

“bisakah kita bertemu besok jam 3 di kafe..’

Aku langsung menggelengkan kepalaku. ‘bilang kau akan menjemputnya, Tanya alamat rumahnya’

“ ahh tidak biar aku menjemputmu, dimana rumahmu?”

Aku tersenyum saat melihat Eunhyuk berjalan kearah counter meminta secarik kertas dan mulai menulis. Aku mengambil secarik kertas dan pulpen dari tasku dan mulai menulis…

Setelah selesai, aku kembali melihatnya. Dia tersenyum jauh lebih bahagia dibanding saat sedang bersamaku. Dia tampak terlibat dalam pembicaraan seru. Aku segera menyelempangkan tasku dan berjalan keluar café.

Saat itu salju turun pelan-pelan bersama dengan air mataku . Inilah akhirnya… aku hanya bisa berkata “Aku turut berbahagia untuknya. Inilah cara untuk putus.”

===

Eunhyuk menutup hadphonenya lalu membayar bill-nya. Ia segera ingin kembali ke meja dan memberi tahu Sonrye bahwa besok ia akan kencan dengan Yeonhee. Tetapi meja itu telah kosong. Eunhyuk segera berlari keluar dan mencoba menghubungi Sonrye tetapi handphonenya mati.

Saat Eunhyuk mau menaiki sepeda motornya. Seorang laki-laki turun dari mobil hitam. Ia tersenyum kearah Eunhyuk dengan ramah, dan Eunhyuk balas tersenyum.

“Terima kasih sudah datang.” Ucapnya lalu masuk kedalam café itu.

“Manager Kim, kami sudah menunggu dari tadi.” Ucap salah seorang pelayan.

Ia melihat sekeliling café yang sudah kosong, memang hari ini café direncanakan tutup lebih awal. Ia melihat satu meja yang masih kotor. “Bawakan lap biar aku yang bersihkan mejanya, kalian boleh pulang kalau sudah selesai.”

Ia berjalan kearah meja itu dan melihat secarik kertas berwarna biru soft.

My meaningless day will probably pass by…

our unique love will probably be like it never existed. 

~THE END~

waiting for readers comments ~~

I will make another story fantasy-romannce-comedy for christmass`~

wait for Christmas

AUTHOR RYE WILL BE BACK X)

^^