Author Rye back   Happy reading all! Hope you can comment and like it ^^  sequel from Rhetorical and The Way To Break Up 

IMPRESSION START!

Kim Kibum memasuki perpustakaan yang terletak di pinggir kota. Perpustakaan itu sudah sangat tua, tidak terlalu besar hanya sekitar 13 x 15 meter. Temboknya merupakan batu bata merah yang sudah usang dimakan usia. Di dalam perpustakaan itu terdapat meja kayu dan kursi plastik berwarna selaras. Tepat di tengah-tengah perpustakaan berdiri pilar besar yang dibagian atasnya terdapat jam kuno yang besar. Buku-buku tertata rapi di rak-rak berwarna raw sienna.

Entah mengapa ia bisa berada di perpustakaan ini. Mungkin karena dia frustasi sudah 4 bulan ini ia terus mencari seorang gadis bernama Park Sonrye. Tapi ia tidak pernah menemukannya. Ia menghentikan langkahnya ketika namanya dipanggil.

“Aku?” Tanyanya untuk memastikan.

Gadis penjaga receptionist itu mengangguk. “Ada seseorang yang menitipkan ini untukmu.” Gadis itu menjulurkan sebuah arloji antik dengan ornament indah.

Kibum kebingungan tapi tetap mengambil arloji itu. “Benar ini untukku?”

Gadis itu mengangguk yakin. “Choi Siwon, dia menitipkan ini padaku.”

“Choi Siwon? Aku rasa aku tak pernah punya kenalan dengan nama itu tapi terima kasih…. Siapa namamu?”

“Kang Hamun.”

“Oh Ok, Terimakasih Kang Hamun ssi.”

Kibum kembali berjalan dan matanya terhenti saat menatap gadis yang sedang duduk dan membaca. Ia mengambil sebuah buku dan duduk disebelah gadis itu tapi tampaknya gadis itu tak peduli dengan kehadirannya. Suatu impresi kuat tercipta saat ia melihat wajah gadis itu.

Ia melihat kearah Hp yang diletakan gadis itu begitu saja diatas meja. “Park Sonrye” bacanya saat ia melihat gantungan hp milik gadis itu. Matanya membesar sekali lagi ia memastikan apakah matanya tak salah liat. Sedetik kemudian senyumannya mengembang sangat lebar. Ia mengambil secarik kertas berwarna biru soft yang selalu dibawanya dan mulai menulis diatasnya.

Saat ia kembali melihat gadis itu, gadis itu sudah menangis, “Adakah seseorang yang terlahir untukku dan akan menemukanku?” Tanya gadis itu.

Impresinya semakin kuat saat ia mendengar kata-kata itu terucap dari gadis itu. Suatu dorongan keberanian muncul. Ia memeberikan gadis itu kertas yang baru saja ditulisnya.

‘My meaningless day will probably pass by… our unique love will probably be like it never existed… (Park Sonrye) 

then I found you Park Sonrye… your meaningless day will probably pass by… but our unique love will start from now on. (Kim Kibum)’

“Senang berkenalan denganmu Park Sonrye. Aku Kim Kibum.”

Sonrye mendapati jatungnya berdetak lebih cepat saat melihat senyuman orang itu. Buku di tangannya terlepas begitu saja dan jatuh ke meja. Untung saja saat itu di perpustakaan itu hanya ada petugas receptionist dan mereka berdua.

Melihat kejadian kecil itu pria bernama Kim Kibum itu kembali tersenyum.

Sonrye segera mengambil hp dan bukunya lalu menaruh kembali ke raknya. Setelah Sonrye mengembalikan bukunya, dia melihat Kim Kibum berdiri di hadapannya sambil menyender ke rak.  Pria itu berdiri dengan kedua tangan dilipat di depan dada. Dengan tenang ia meneliti Park Sonrye.

“Kenapa orang sepertimu memberiku sebuah impresi yang kuat?” tanyanya sambil memejamkan kedua matanya.

Sonrye mengedip-ngedipkan matanya lalu memandang pria berwajah tampan itu dengan tatapan tajam. Setelah menghela napas ia memutuskan untuk berjalan, meninggalkan pria itu. Ia berusaha meyakini bahwa jantungnya berdebar hanya karena wajah tampan milik Kim Kibum.  Ia menarik pintu dan segera keluar dari perpustakaan itu.

Dilihatnya salju turun perlahan-lahan, itu salju pertama di musim ini. Semilingir angin mulai membuat bulu remangnya berdiri. Sonrye mengusap-usap telapak tangannya, baju yang terlalu tipis untuk musim dingin membuatnya menggigil. Siapa yang sangka matahari yang bersinar cerah akan berubah menjadi salju? Hawa dingin itu menyergapnya, bahkan untuk berjalan satu langkah saja tak bisa ia lakukan.

Ketika ia ingin melangkahkan kakinya tiba-tiba tubuhnya serasa diselimuti oleh kehangatan. Untuk sesaat ia terdiam sebelum membalik badannya.

“Aku tak mau kau membeku karena aku perlu mencairkan hatimu.” ucap pria yang kini berdiri didepan Sonrye dengan senyuman semanis lembayung senja.

Sonrye diam, dan orang itu mulai memakaikan mantel berwarna dark brown secara benar. Sonrye merasa ia bagaikan anak berusia 4 tahun yang masih tak bisa memakai baju sendiri. Sonrye memandang dirinya yang dibalut mantel terhangat yang pernah dipakainya.  Sentuhan terakhir diberikan saat topi rajutan terpasang dikepalanya yang kecil. Kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Ka… kau bisa kedinginan.” Hanya itu yang dapat diucapkan gadis itu.

Namun laki-laki itu hanya tersenyum penuh kasih. “Oleh karena itu aku akan pulang sekarang, kau juga.” Ucapnya lalu mengusap pipi Sonrye yang merah bak buah apel. “Sampai jumpa lagi Park Sonrye. Kalau ada waktu datanglah ke café dekat sekolah.”

Sonrye membuat otaknya berfungsi terlebih dahulu sebelum akhirnya ia mengangguk. Kim Kibum segera membalik badannya dan membuka pintu sebuah mobil sedan yang hitam mengkilat. Sebelum ia masuk ke mobil ia tersenyum untuk gadis itu.

:::

“Park Sonrye? Ah… pasti yang kau maksud adalah Bul Gihan.. “

“Bul Gihan?”

“Si Sial. itu panggilannya.  Kalau kau mencarinya carilah dimana orang banyak berkumpul.” jawab pria itu dengan malas lalu berjalan pergi.

Kim Ki Bum memustukan untuk pergi ke sekolah yang tak jauh dari café miliknya. Dengan satu alasan ia melangkah kakinya, ia merindukan gadis bernama Park Sonrye. Setelah 2 hari berlalu dari pertemuan pertama mereka.

Langkah kakinya terus berjalan hingga ia melihat banyak orang berkumpul. Mereka berteriak berbagai macam hal secara bersamaan, hingga Kibum tak dapat menengar dengan jelas apa yang mereka katakan. Ia menerobos orang-orang yang berkumpul itu. Matanya melebar saat ia sudah berdiri di barisan paling depan.

“Sudah kubilang berkali-kali aku mau kau jadi bawahanku.” teriak seorang wanita berparas cantik.

Gadis berkacamata yang ditanyai hanya diam. Ia menatap kesal kearah 4 gadis yang berdiri dihadapannya saat ini.

“Masih berani melawan? Sekarang kau bukan Park Sonrye 5 bulan yang lalu, kau bukan Park Sonrye yang punya segalanya lagi sekarang kau Bul Gi Han, si sial .” Ujar yang lain.

Sonrye segera mengepal kuat-kuat tangannya.

Wanita berparas cantik itu maju  lalu mengangkat dagu SonRye lalu mulai berbicara. “Ku dengar Kau menyukai pacar sahabat baikmu. Sekarang Yeonhee bahkan tak mau melihatmu lagi, kau kehilangan satu-satunya sahabatmu.  Aku kasihan padamu Bul Gi Han. Lihat tas yang kau pakai, kemana tas bermerek mu yang dulu?”

Sonrye melengoskan wajahnya saat itulah matanya dan mata Kibum bertemu. Sesaat Sonrye merasakan nafasnya berhenti, bukan karena terkesan, bukan karena kaget tapi karena malu. Perasaan malu yang menghantuinya selama empat bulan ini terasa sangat luar biasa saat ia melihat Kim Kibum menyaksikan dirinya dipermalukan.

“Hidupmu sudah berputar 180 derajat, apa lagi yang kau punya?”

Sonrye menghela napas dan hendak meninggalkan tempat itu. Tetapi gadis itu menahan tangannya. Sonrye segera menghentakkan tangannya.

“Kau benar aku kehilangan sahabatku satu-satunya, kau benar tas ber merekku sudah tak ada, dan kau benar hidupku berbalik 180 derajat. Tetapi Kim Hyunjae dengar baik-baik aku tak pernah kehilangan harga diriku. Walau setiap hari kau mempermalukanku didepan banyak orang. Aku takkan pernah mau menjadi orang ke empat yang akan berada dibelakangmu. Ku tau aku pernah berbuat salah padamu dan aku minta maaf akan hal itu.”

Sonrye berjalan meninggalkan ke empat gadis itu diam mematung, siswa-siswi yang lain segera membuka jalan untuk SonRye hanya satu orang yang berdiri di hadapan Park Sonrye. Kim Kibum sedang menatap gadis itu dengan pandangan tak dapat diartikan.

“Kau menciptakan impresi baru Park Sonrye.”  ucap Kibum saat Sonrye bejalan disebelahnya.

Sonrye menghentikan langkahnya.  “Aku tak butuh rasa simpatik.” balas Sonrye lalu berjalan lagi, tapi langkahnya kembali terhenti saat ia melihat dua orang yang paling dikenalnya.

“Sonrye, apa benar kau menyukai Eunhyuk?”  Tanya gadis yang berada disebelah pria bertopi sweater

“ya.” Jawab Sonrye dengan tegas sambil melihat pria itu. “Sangat suka. Tapi di hatinya hanya ada satu orang dan itu bukan aku.” Ujar lagi sambil memandang Yeonhee dengan perasaannya yang kacau.

“maaf.” Itu kata penutup Sonrye sebelum ia berlari bersama dengan air matanya yang mengalir.

:::

Ketika Sonrye melihat jam saat itu sudah pukul 1 pagi, kepalanya sudah terasa sangat berat. Ia berusaha fokus dan memperhatikan kedepan tapi pandangannya kabur. Matanya ingin terpejam sesegera mungkin.

“YA! Kau! Niat kerja gak sih? Sudah kubilang cepat ambilkan alat make upnya, malah bengong!” omel seorang pria dengan makeup tebal dan agak kemayu.

“M… maaf. Akan segera kuambilkan.” Sonrye segera berlari mengambil kotak  makeup yang di tunjuk. Setelah itu ia segera memberikan kotak dengan teksture bunga-bunga kepada pria kemayu itu. Saat ia merasa yakin orang itu sudah memegang kotak makeup itu ia segera melepasnya tapi disaat bersamaan bunyi keras terdengar.

Semua orang diruangan itu terdiam. Pria kemayu itu menatap nanar gadis di hadapannya.

“Ma.. maaf… maafkan aku.” Ucapnya lagi lalu segera mengambil alat-alat make up yang jatuh.

“Ka.. kau! Kau bodoh sekali! Aku pasti sudah gila merekrut pekerja sepertimu. Kau dipecat.”

Sonrye menghentikan kegiatannya lalu menatap pria itu tak percaya. “tapi aku baru bekerja 5 hari.”

“Dan selama 5 hari ini kau hanya membuatku marah-marah. Aku lelah.”

Sonrye menghela nafas panjang dan melanjutkan membereskan alat-alat make up itu lalu beridiri dan mengembalikan kotak makeupnya. Pria itu mengambil  kotaknya sambil membuang muka. Lalu ia melenggang pergi meninggalkan Sonrye yang mematung.

Tiba-tiba terdengar suara berat milik seorang laki-laki. “Ada apa?”

Sonrye mengangkat kepalanya. ”Siapa kamu?”

“Choi Siwon, salam kenal.”

Otak Sonrye berputar mengingat nama Siwon lalu ia mengingat buku dongeng ‘Rhetorical’. Siwon yang berada dihadapannya sama persis sepeerti bayangannya saat membaca buku dongeng itu.
Ia memandang SonRye. “Kau past lelah, ini bukannya waktu pelajar untuk bekerja.”  Ucapnya disertai senyuman hangat.

Sonrye meneliti pria bernama Choi Siwon dihadapannya. Pria itu benar-benar tampan seperti pangeran-pangeran yang ada di negeri dongeng.

“Jangan di ambil hati, bekerja memang seperti ini. Carilah pekerjaan yang lebih baik.”  Ujar Siwon

“Hh.. Aku memang sial, tak ada satupun yang bisa secara benar kukerjakan.” Dumel Sonrye dengan suara pelan.

Mendadak kepala Sonrye seakan disentuh oleh sesuatu yang besar dan hangat. Tangan Siwon kini mengelus kepalanya.  “Nasibmu akan berubah menjadi baik karena kau bertemu denganku.” Lalu Siwon tersenyum menampilkan beberapa lesung pipinya yang sangat manis dan membuat wajahnya semakin tampan. Dia merogoh kantungnya, Sonrye dapat melihat ia mengambil sebuah arloji yang sangat cantik.

“Simpan ini, ku yakin kau akan beruntung setelah ini.” Siwon menyodorkan arlojinya, Sonrye menundukkan kepalanya lagi dan mengambilnya.

“Terima kasih. Aku pamit sekarang.’ Ucap Sonrye tak lupa dengan membungkukkan badannya lalu Sonrye berjalan keluar dari gedung itu.

:::

“Maaf kami sudah dapat pegawai.”

“Masih SMA? Kami tidak mempekerjakan anak SMA.”

“Siapa yang bilang kami butuh pegawai tambahan?”

“Apa kelebihanmu? Aku tak tertarik, aku tak yakin kau bisa membawa peruntungan untukku.”

Entah sudah berapa kali kalimat-kaliamat diatas didengar oleh kuping Sonrye. Seminggu lagi telah berlalu dan ia tetap tak bisa mendapat pekerjaan baru, padahal ia membutuhkan uang untu membantu kakaknya membayar uang sewa kamar.

Sonrye melangkahkan kakinya ke sebuah restoran di Itaewon. Dia segera menemui pemilik restoran itu.

“Aku tidak butuh pegawai baru.”

“Aku mohon, aku akan bekerja sebaik-baiknya.”

“Kau jangan mempersulitku, membayar 9 pegawai saja aku sudah kewalahan. Keluar seakarang juga.” Orang itu terus mendorong Sonrye hinga keluar toko

“Sungguh, aku akan bekerja dengan rajin.”

“Kenapa kau bebal sekali. Aku bilang tidak” Pemilik toko itu mendorong Sonrye sekali lagi. Di luar jalanan sudah tertumpuk salju menjadi sangat licin, Sonrye terjatuh dihamparan salju putih.  “Jangan datang lagi.” Pemilik toko itu segera masuk kembali kedalam tokonya.

Sonrye berusaha untuk berdiri tapi pergelangan kakinya terasa nyeri. Sonrye menggigit bibirnya sebelum air matanya jatuh ia segera menghapusnya. Lalu ia melihat ke arloji yang diberikan Siwon. “apa aku akan beruntung?”

“Tentu saja. Karena aku ada disini.” Sebuah suara menenangkan itu terdengar.

Sonrye mengangkat kepalanya dan melihat seorang pria yang bersender di dinding batako sambil menatap kearahnya. Pria itu berjalan mendekati Sonrye, lalu dengan satu gerakan sekarang Sonrye sudah ada dalam gendongannya.

“Aku menyukai kegigihanmu Bul Gihan.”

Sonrye memandang tak suka lalu memalingkan wajahnya.  “Namaku Park Sonrye.”

“Aku tahu itu, namamu adalah yang pertama kali membuatku terkesan.” Ujar pria itu lalu tersenyum, ia mengingat pertama kali ia menemukan secarik kertas dengan nama Park Sonrye tertera disana. Dia membuka pintu mobilnya dengan sebelah tangan dan mendudukan Sonrye disamping jok pengemudi.

“Kibum ssi. Apa maksudmu?” Tanya Sonrye saat pria itu telah duduk disebelahnya.

Kibum mengangkat tangan kanannya lalu menghapus air mata Sonrye yang hendak jatuh. “Kau tak perlu tahu karena itu retoris. Sekarang kau sudah naik kereta kudaku, tujuan selanjutnya adalah ke kerajaanku.”

Sonrye tertawa kecil mendengar ucapan kekanak-kanakan seperti itu keluar dari seseorang berwajah dingin sepertinya.

“Sonrye ssi.. tahukah saat kau tertawa, kau menampilkan impresi terkuat, sangat cantik dan manis.”

“Heh.” Sonrye segera melengos dan melihat keluar jendela. Ia sadar pipinya sudah memerah dan jantungnya berdetak lebih cepat.

:::

Sonrye tertawa saat ia melihat café yang dulu sering ia datangi ternyata merupakan kerajaan milik pria disebelahnya. Sesungguhnya ia sudah memutuskan untuk tak akan datang ke tempat ini lagi, tapi kali ini dia diseret kesini.

“Manager Kim, anda datang cepat sekali.”  Sambut salah seorang pelayan saat melihat Kibum yang masuk lebih dahulu.

“Aku punya pengumuman.” Ucapnya dengan santai, lalu ia menarik Sonrye hingga berada disebelahnya. “Mulai hari ini Park Sonrye akan bekerja disini.”

“Tapikan perjanjiannya, tak boleh ada pegawai wanita.”  Ucap salah seorang pegawai yang lain.

“Boleh, karena dia special. Jadi perlakukan dia dengan baik.”

“Uwaa jangan-jangan dia ada hubungan dengan manager Kim.”

Sonrye langsung menggelengkan kepalanya. “bukan begi..”

Kata-kata Sonrye terhenti saat Kibum mencium pipinya. “Beginilah hubungan kami, jadi perlakukan dia dengan baik.”

“Uwaaaaaaa..” teriak semua pelayan secara kompak sedangkan Sonrye mematung ditempatnya.

“Jangan bengong, di ruang ganti masih ada satu baju pegawai, tak apakan menggunakan seragam pria untuk sementara?”

“Ah.. ng iya..”

:::

Kibum memperhatikan gadis itu lagi, entah sudah keberapa kalinya untuk di hari ini. Gadis itu bergerak dengan lincah, senyumannya selalu ada diwajahnya saat menghampiri semua pelanggan yang ada disana. Saat gadis itu menghampiri meja bernomor 12 ia tak sengaja menyenggol sebuah cangkir. Cangkir itu jatuh dan pecah berkeping-keping dilantai.

Sebuah suara menyembul. “Sudah ku kira, kau memang selalu sial Bul Gilhan.”

Gadis yang di panggil Bul Gihan itu segera menoleh ke meja bernomor 10 yang tak jauh darinya. Keempat orang gadis itu sedang menertawainya. Sonrye berusaha tidak mempedulikannya dan terus memunguti pecahan cangkir itu dibantu dengan pegawai yang lain.

“Kehadiranmu sungguh membawa sial.” Ucap Hyunjae dengan acuh dan terus menyeruput milk tea miliknya.

Saat itu Sonrye melihat pegawai disebelahnya mengepalkan tangganya, Sonrye segera menahan tangannya. “Aku tidak apa-apa Ryeowook ssi.”

“Menyedihkan sekali Aku terharu masih ada orang yang mau menampung orang sepertimu.”

Setelah gadis itu selesai bicara genggaman tangan Sonrye terlepas. Dilihatnya Ryeowook sudah berdiri dan menghampiri meja nomor 10 itu. Ia menghembuskan nafas dari mulutnya dan membuat poninya terbang sebentar lalu dia menatap wajah gadis itu. “Pintu keluarnya disebelah sana.” Ucapnya dengan tenang sambil menunjuk pintu keluar.

Mata Hyunjae membesar, “Kau berani mengusirku? Kau hanya pelayan.” Ujarnya dengan angkuh.

“Aku menyesal membuatkanmu Milk tea ini, kalau tahu kau yang akan meminumnya harusnya kumasukan racun tikus.”

“A.. APA?”

“Sudahlah Ryeowook ssi.”Sonrye segera menengahi adu mulut itu sebelum bertambah parah.

“Siapa namamu?” tanya Ryeowook tanpa menghiraukan Sonrye.

Hyunjae menghela napas. “Kim Hyunjae, dan harusnya kau ingat baik-baik nama itu.” Ujar Hyunjae dengan kesal lalu mengambil tasnya dan berjalan keluar. Ketiga orang temannya mengikuti di belakang gadis itu sambil mencaci maki Sonrye.

Dari meja kasir dua orang memperhatikan kejadian itu dengan seksama.

“Hebat, itu  pelanggan  ke 13 yang kabur di bulan ini, kau sungguh membawa orang yang luar biasa manager Kim.”

“tutup mulutmu Kyuhyun.” Lalu ia hendak menggerakan kakinya untuk membantu Sonrye.

“Jangan kesana, ia harus menyelesaikan masalahnya sendiri. Gadis itu , Park Sonrye… Dia cukup tegar untuk itu.”

Ucapan itu membuat Kibum kembali menyender ke meja kasir dan hanya memperhatikan gadis yang kini sedang membereskan pecahan cangkir itu lagi dan mencairkan suasana yang mencekam.

“Selamat datang.” Ucap Kyuhyun saat mendengar dentingan lonceng berbunyi tanda ada tamu. Kyuhyun tersenyum dengan senyuman mengejek lalu memandang Sonrye lalu kearah Kibum dan laki-laki yang baru masuk dengan seorang gadis. “Peruntunganya sangat jelek.”

Sonrye mengangkat nampannya dan membalik badan setelah selesai memunguti pecahan cangkir itu. Saat ingin kembali ia berusaha tersenyum dan meminta maaf sekali lagi tapi kakinya terhenti saat melihat dua orang tamu yang baru saja datang.  Senyumannya tetap dipaksakaan ada disana, dia menunduk

“Selamat datang.” Ucapnya saaat berada didepan kedua orang itu lalu berjalan melalui mereka.

“Sonrye, maafkan aku, aku seharusnya waktu itu..”

Sonrye berusaha menghembuskan nafasnya kuat-kuat.  Lalu membalik badan dan berdiri didepan kedua orang itu.“ Tidak apa Eunhyuk ssi, jagalah Yeonhee dengan baik. Kau sangat cocok dengannya. Oh iya, menu recomendasi hari cappuciino late. Aku pamit dulu” Sonrye kembali melangkah, ia tahu dua pasang mata sedang memperhatikannya. Ia berusaha untuk tidak peduli dan masuk ke ruang pegawai.

Tiba-tiba pintu ruangan itu diketuk , beberapa detik kemudian ada suara yang begitu menenangkan.  “Jangan menangis, karena aku ada disini. Kau boleh beristirahat 30 menit, lalu kembalilah tepat waktu.”

Sonrye terdiam sebentar lalu membalikan badanya membungkuk sedalam-dalamnya walau ia tahu Kibum takkan melihat itu. ”Terima kasih Kibum ssi.” Sonrye melepas celemeknya lalu segera berjalan menuju pintu keluar khusus pegawai.

:::

Sonrye duduk disebuah bangku taman panjang berwarna coklat tua. Dia merogoh kantungnya mengambil sebuah arloji antik. Dia memperhatikan arloji itu lalu menatap langit yang kini salju telah diturunkannya.

Tiba-tiba sebuah payung transparan sudah berada diatas kepalanya. Sonrye melihat kedepan melihat siapa yang memayungkan. Seorang pria dengan lengsung pipi yang manis kini ada dihadapannya. Pria itu lalu duduk disebelah Sonrye. “Lama tak bertemu, Sonrye ssi.”

“Senang bertemu denganmu lagi Siwon ssi.”

“Ada seorang gadis yang selalu berkata ‘masalah adalah berkat’. Aku rasa itu benar saat kau mengubah cara pandangmu. Hidupmu dipenuhi dengan keberuntungan saat kau dapat melihatnya.”

Sonrye memandang wajah tampan milik pria itu, entah bagaimana perasaannya sangat tenang saat pria ini ada disebelahnya.

“Lihat baik-baik, dan kau akan menemukan dimana letak keberuntunganmu.”  Ujarnya lalu menepuk-nepuk kepala Sonrye. “Aku harap saat kita bertemu lagi aku bisa melihat senyum di wajahmu.” Lalu Siwon berdiri dan berjalan meninggalkan gadis itu.

“Tunggu sebentar,” teriak Sonrye saat berusaha mengikut pria itu, tapi karena salju yang licin ia jatuh. Saat dia mengangkat wajahnya seorang pria mengulurkan tangannya.

“Aku benar-benar tak bisa membiarkanmu sendirian.”

“Kibum ssi..” Panggil Sonrye lemah, lalu ia teringat sesuatu. “AH!! Siwon ssi… Apa kau melihat pria tinggi dengan wajah tampan, tampangnya menyiratkan ia orang yang sangat baik, keren, gagah, dan memakai mantel hitam keluar dari taman ini? Tadi dia ada disini.”

Kibum membantu Sonrye berdiri lalu membersihkan salju yang menempel dibajunya, “Siwon? Siapa? Tidak ada siapa-siapa ditaman ini. Aku mengikutimu dari tadi, kau sendirian Park Sonrye.”

Sonrye mengedip-ngedipkan matanya tak percaya. “tidak Kibum ssi, sungguh tadi ada orang bersama ku, ia bahkan memayungiku… payung transparan di… “ Kata-kata Sonrye terhenti saat ia melihat payung yang tadi memayunginya sama sekali tak ada.

“Kau berkhayal?”

Sonrye segera menggelengkan kepalanya. Dia memperlihatkan arloji miliknya.

“Dulu ada yang memberikan ini padaku, namanya Siwon.”

Kibum terdiam saaat melihat arloji itu. “Siwon? Bagaimana bisa…” Ucapannya terhenti lalu mengeluarkan sebuah arloji dari kantungnya, Arloji yang setipe dengan milik Sonrye tetapi coraknya sedikit berbeda.

“Dari mana kau dapat..?”

“Seorang gadis penjaga perpustakaan memberikannya padaku, saat hari pertama kita bertemu. Dia bilang Siwon menitipkan ini untukku, tapi aku tak punya kenalan bernama Siwon.”

“Kang Hamun?  Jangan katakan itu nama gadis itu.” Ujar Sonrye dengan was-was

“Kau mengenalnya? Itu nama penjaga perpustakaan itu.”

Sonrye tertawa kecil lalu segera memeluk Kibum “Aku percaya pada dongeng tapi aku tak menyangka akan jadi seperti ini.” Bisik Sonrye disela tangis bahagianya.

“Apa maksudmu?”

“Sabtu ini, apa kau ada waktu? Bagaimana kalau kita keperpustakaan itu.”

Kibum membalas pelukan Sonrye dan tersenyum. “As you wish princess.”

:::

Sonrye dan Kibum memasuki perpustakaan yang terletak dipinggir kota itu lagi.  Mereka segera berjalan ke meja receptiosnis.  Tapi yang berdiri disana bukanlah gadis yang seperti diceritakan Kibum sebelumnya, hanya seorang kakek tua yang rentan dimakan usia.

“Apa disini ada pegawai bernama Kang Hamun?” Tanya Kibum dengan sopan

Kakek tua itu berusaha mengingat. “Kami tidak pernah mmpekerjakan orang dengan nama itu tuan.”

“Apakah anda yakin? Gadis itu berkulit coklat, rambutnya panjang, wajahnya sangat cantik.” Timpal Sonrye.

“Usiaku sudah sangat tua, tuan putri. Tetapi ingatanku masih layaknya anak remaja.”

Sonrye mengangguk lalu bertatapan dengan Kibum. Sedetik kemudian Ia berjalan kearah rak tempat dulu ia mengmambil buku dongeng itu. Ia tersenyum saat ia melihat buku itu masih ada disana.

“Ini, Buku yang saat itu kubaca.” Ucap Sonrye lalu memberikannya pada Kibum.

Kibum membuka halaman demi halaman. “Bagaimana kalau kita pinjam buku ini?”

Sonrye mengangguk setuju, mereka menyerahkan buku itu pada kakek tua itu. Kakek itu menuliskan sesuatu lalu memberikan pada Kibum lagi.

“Park Sonrye dan Kim Kibum terima kasih telah datang kesini. Tugasku sudah selesai sekarang.” Ucap kakek itu setelah kedua orang itu keluar dari tempat itu.

Sonrye dan Kibum hendak masuk kedalam mobil. Tapi langkah kaki Sonrye terhenti, ia mengambil buku itu dari tangan Kibum. Ia membuka halaman demi halaman, lalu ia menemukan sebuah kalimat yang sangat mirip seperti yang baru saja di lontarkan kakek itu pada mereka.

‘Usiaku sudah sangat tua, tuan putri. Tetapi ingatanku masih layaknya anak remaja.’

“Kibum ssi, tunggu sebentar.” Sonrye berbalik dan hendak masuk kedalam perpustakaan itu betapa terkejutnya saat ia melihat tidak ada toko perpustakaan sejauh matanya memandang. Tempat perpustakaan itu sudah diganti dengan toko bunga.

Kibum menghampiri Sonrye yang terpaku. Ia mengikuti arah pandang gadis itu. Matanya membesar tak kalah kaget dengan Sonrye. “Bagaimana bisa?”

Sonrye segera berlari masuk kedalam toko bunga itu, “Bukankah tempat ini adalah perpustakaan?” Tanya Sonrye tanpa basa basi.

Orang yang ditanyai terkejut. “Tidak nona, Sudah 7 generasi keluargaku menjalankan usaha toko bunga di tempat  ini. Bagaimana bisa kau menyebut toko ini sebagai perpustakaan?”

Buku ditangan Sonrye terjatuh. Kibum yang berada di sebelah Sonrye juga terpaku di tempatnya lalu memandang Sonrye. Sonrye berlari keluar toko itu, dia masih penasaran, mungkin saja ia salah. Kibum mengambil buku dongeng itu, Ia membuka halaman paling akhir yang tadi di tulis oleh kakek itu.

“Alkisah bercerita ceritanya

Indah seperti pelangi lalu

Retoris itu mengalir dalam soalmu

Ananda mencari, sebetulnya tak perlu karena

Impresi muncul saat kau

Bertemu dengan takdir’

Kibum tersenyum setelah membacanya. Lalu ia melihat Mawar biru ada di sampingnya.

“Apakah tuan mau membelinya? Hanya hari ini kami khusus menjual mawar biru. orang bilang arti dari mawar biru adalah ketidak mungkinan tapi melambangkan kesungguhan.”

Kibum tertawa kecil lalu melihat kearah gadis didepan toko yang sedang kebingungan. ”Aku mau semuanya.” Ucapnya sambil memberikan uangnya.

:::

Sonrye kembali memandang berkeliling. Ia masih merasa ini tidak nyata. Lalu ia kembali melihat arlojinya. Jarum panjangnya masih terus bergerak.

“apa ini suatu retoris?’ Tanya Sonrye pada dirinya sendiri.

Lalu Sonrye kembali melihat ke langit, salju turun perlahan-lahan lagi. Udara dingin kembali menyergapnya. Tetapi tak kurang dari 5 detik tubuhnya sudah terasa hangat. Bukan karena mantel ataupun topi rajut. Kini jantungnyapun ikut berdetak bekali-kali lebih cepat.

Seseorang memeluknya dari belakang. Orang itu membiarkan kepalanya tertopang dipundak gadis mungil dipelukannya, Pipi mereka saling bersentuhan.

“Aku mencintaimu, Park Sonrye.”  Bisiknya tepat ditelinga Sonrye.

Sonrye merasakan sebuah benda cair mengalir dari pelupuk matanya jatuh mengalir melalui pipinya yang kini sudah memerah. Dia melihat sebuah rangkaian mawar yang indah ada didepannya, berada di tangan pria yang kini menyalurkan kehangatan untuknya.

Orang itu melepaskan pelukannya dan berdiri di depan Sonrye. Dia tersenyum lalu memberikan rangkaian mawar biru itu. “Aku tak percaya pada takdir Park Sonrye tapi setelah berrtemu denganmu… Aku tahu aku terlahir untumu.”

Setetes air mata mengalir lagi, Sonrye melangkah satu langkah, dua langkah lalu mempertemukan bibir mereka satu sama lain. Pipi Sonrye memerah seperti kepiting rebus setelah ciuman itu. Tapi dia tetap tak bisa melepaskan pandangannya dari pria dihadapannya. “Terimakasih sudah menemukanku.”

Kibum tersenyum dan menghapus air mata dari gadis yang paling berarti untuknya. “Kau sungguh membuatku terkesan. Aku tak menyangka kau berani melakukan hal ini di depan umum. Kemana harga dirimu? Sekarang semua orang sedang melihat kita.” ledeknya  sedang suaranya selembut kain sutra.

Sonrye menjadi salah tingkah. Benar sekarang semua orang sudah berkerumun disekitar mereka.  ia gelagapan. “ Ti.. ti.. tidak. Aku tetap ..”

Ucapan Sonrye terhenti saat pria itu menempelkan bibirnya lagi. Jantung Sonrye seakan jatuh dari tempatnya. Ia malu, ia gugup, ia kebingungan tetapi tak ada yang lebih tepat dari kata bahagia yang dapat melukiskan perasaannya saat ini. Ia menutup matanya, membiarkan hal ini menjadi  impresi terkuat dalam hidupnya.

Saat itu waktu seakan terhenti, hanya ada mereka berdua ditemani salju putih. Kibum mengangkat wajahnya dan mencium kening Sonrye

“Apa kau mencintaiku?” tanyanya dengan nada bercanda.

Sonrye tertawa. “Bagaimana bisa kau tanyakan itu setelah kau lakukan ini padaku?”  ucap Sonrye pelan.

“Kalau begitu katakan.”

Sonrye meletakan sebelah tangannya yang masih kosong di samping mulutnya. “Aku, Park Sonrye sangat sangat sangat sangat mencintai Kim Kibum.” Teriak Sonrye dengan seluruh kekuatannya.

Semua orang bertepuk tangan dan mengucpakan kata ‘selamat’ dari mulut mereka. Sonrye tak bisa menahan dirinya dan terus mengatakan ia mencintai Kibum hingga pria itu harus memukul kepala gadis itu pelan dengan buku di tangannya dan membawa Sonrye pergi dari tempat itu.

“Impresinya terlalu kuat, bodoh.” Ucap Kibum saat mereka sudah berada didalam mobil.

“Kalau aku memang sudah kehilangan harga diriku, apa lagi yang aku punya? Aku kehilangan sahabatku, tas bermerekku, hidupku berubah 180 derajat dan sekarang harga diriku juga.” Ujar Sonrye dengan nada bercanda.

“Kau punya diriku yang punya segalanya. Wajahku tampan, aku baik, mapan, punya banyak teman, dan sekarang aku punya dirimu.” Ucapnya dengan nada sombong, lalu ia menjalankan mobilnya.

Sonrye tersenyum lalu melihat keluar jendela. “Kibum ssi berhenti.” Perintah Sonrye tiba-tiba diiringi dengan suara decitan mobil.

“Ada apa?’ Tanya Kibum begitu mobil berhenti.

Sonrye menurunkan kacanya dan akhirnya melihat jelas dua orang yang sedang bergandengan tangan tersenyum kearahnya, Sonrye mengembangkan senyumanya. “Aku sudah melihatnya, dan aku tersenyum sekarang. Terima kasih.”  Teriak Sonrye.

Kedua orang itu balas tersenyum lalu sedetik kemudian mereka sudah menghilang.

“Siapa?”

“Kang Hamun dan Choi Siwon.”

Kibum tersenyum “Mereka tidak perlu muncul lagi.”

“Kenapa?”

“Aku khawatir kau akan termakan wajah tampan pria itu, masih ingatkah apa yang kau katakan saat di taman? ‘pria tinggi dengan wajah tampan, tampangnya menyiratkan ia orang yang sangat baik, keren, gagah.’” Katanya sambil mengutip perkataan Sonrye.

Sonrye teratawa. “Benarkah aku berkata begitu?”

“Sudah aku tak mau membicarakannya.”

Sonrye segera mengecup pipi Kibum. “Baiklah tuanku yang tampan, mapan, punya banyak teman, keren, dan baik hati.”

Kibum mendengus lalu kembali mejalankan mobilnya.

“Ah aku tahu ada satu hal yang kau punyai dan dia tidak.”

“Apa?”

“ Diriku. Aku hanya akan mencintai Kim Kibum. ”Ucap Sonrye dengan yakin sambil memandang jalanan lurus didepan. Sejurus kemudia ia merasa bibirnya terasa hangat. Cepat tapi impresinya sangat kuat.

The End🙂

waiting for comment Thank you ^^