Annyeong author Rye back w/ new FF special Christmas❤

Dedicated for JOHAE Couple
MERRY CHRISTMAS ALL!
I LOVE YOUU!
wishing u all having a joyful Christmas

Main cast:
Shim Johee
Lee Donghae

another cast:
Choi Siwon
Kang Hamun

Genre: Comedy, romantic, fantasy

Christmas Miracle START!!

Sebuah studio musik berbentuk minimalis dengan warna biru-putih terpadu indah. Studio itu lengkap dengan semua peralatan music mulai dari -drum, gitar, keyboard, bass, amplifier, mixer, sampai microphone-. Semua yang ada di dalam studio itu tampak sangat sempurna, sama seperti pemiliknya.

Seorang pria berwajah sempurna yang tertidur lelap di meja penuh kertas yang telah menjadi gumpalan. Tampaknya untuk kesekian kalinya pria itu menghabiskan malamnya di tempat ini. Namun tidur lelapnya terganggu ketika handphonenya mulai berdering.

“Yobseyo,” ucapnya ketika ia berhasil mengangkat teleponnya.

“Ya! Lee Donghae! Kemana kau? Bukankah kau bilang akan menemaniku melakukan rehearsal pagi ini?”

Matanya yang setengah mengantuk langsung terbuka lebar. Ia melirik jam tangannya, sudah pukul 10 pagi.

“Damn!” bisiknya pelan. “Aku sedang ada urusan lain, tunggu aku 45 menit lagi.”

“Ya! Ya! Aku sudah menunda setengah jam dan kau menyuruhku menunggu empat puluh li…”

Donghae memutuskan sambungan teleponnya dan segera menuju kamar mandi. Tak ada waktu mendengar sahabatnya itu mengoceh yang hanya akan menghabiskan waktunya.

Sepuluh menit kemudian ia keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, badan six pack, dan handuk menutupi bawahnya. Yah siapapun wanita yang ada disana bisa berteriak “KYAAA” atau mungkin pingsan. Ia segera memakai kemeja berwarna biru kotak-kotak dan celana panjang hitam serta jaket kulit tebal berwarna hitam .

Sebelum pergi ia masuk sekali lagi ke studionya dan mengambil kunci mobil di meja tempat tadi ia tidur.

“Ketika musim salju tiba, satu hal yang selalu dinantikan, pastinya Hari Natal. Tahun ini sepertinya Santa akan memberikan keajaiban natalnya. Dengan pohon natal, kue natal, dan lonceng natal mungkin keajaiban akan datang padamu juga. Jadi tidak ada salahnya menikmati hari natal, kau pasti juga menunggu natal, kan, Lee Donghae-ssi?”

Donghae terbengong menatap audio sound sistemnya yang baru saja mengeluarkan suara aneh itu. Lalu matanya beralih kearah tombol on-off sound system itu, namun tombolnya berada pada tanda off. Baru saja Donghae ingin mendekati sound-sistem itu tiba-tiba handphonenya berbunyi.

“Ya Siwon! Sudah kubilang aku sedang di jalan! Diam dan tunggu!” ujar Donghae lalu keluar dari studio itu.

:::

Untuk pertama kalinya gadis itu menyentuh alat make up.

1. Mengoles sponge untuk meratakan BB cream di mukanya.
2. Menepuk-nepuk powder puff untuk menempelkan bedak di mukanya.
3. Memberikan blush on tipis pada kedua pipinya
4. Sedikit eyeliner pada kelopak matanya dan mascara pada bulu matanya
5. Tak lupa eyeshadow berwarna coklat soft
6. Sentuhan terakhir adalah membentuk bibir tipisnya dengan lip brush dengan lipstick pink manis.

Siapapun yang melihatnya pasti tahu gadis itu cantik dan dengan makeup itu ia menjadi tambah manis. Dan hanya ada satu alasan kenapa ia melakukan semua ini.

Gadis itu tersenyum puas melihat dari rambut sampai ujung jempol kakinya. Lalu ia berjalan kearah sebuah poster berukuran A3 di samping ranjangnya. Sebuah Poster untuk konser yang akan di adakan di hari ini.

“Siwon oppa hari ini akhirnya aku akan bertemu denganmu,” ucapnya dengan senyuman mengembang.

Ya, Siwon si artis yang sedang naik daun itu sudah 3 tahun menjadi idola gadis cantik ini. Dan hari ini akan menjadi hari pertama gadis itu untuk melihat Siwon secara langsung. Oleh karena itu kemarin ia berlari ke toko make up terdekat serta membeli dress serta coat manis yang di pakainya saat ini.

“Ckckck Shim Johee neo jinja micheosseo. Jinja ro.. kau pasti benar-benar gila,” ujar sebuah suara.

Gadis yang ternyata bernama Johee itu membalik badannya dan melihat pria paruh baya berdiri di ambang pintunya.

“Appa! Otte? Bagaimana penampilanku?” ucapnya sambil memutar badannya.

“Yeppo. Kau benar-benar mirip dengan ibumu, cantik.”

Johee langsung memegang kedua pipinya. “Appa bisa saja.” Lalu Johee memeluk ayahnya “Appa aku pergi dulu ya, annyeong!” ucapnya lalu berlari keluar kamarnya

“Ya! Kau mau kemana?”

“Bertemu dengan pacarku!” jawabnya dengan riang.

“Micheosseo, siapa yang bilang aku setuju dengan cowok menari-nari seperti itu?! YAA! YAA! SHIM JOHEE!”

:::

“Kau pikir membuaat lagu semudah membalik telapak tangan?!”

“YAA! SIWON-AH! Kubilang ini REMIX! REMIX! Gerakanmu harus lebih cepat. Ikuti rhythmnya!”

“Urgh! Itu Do bukan Mi harus kubilang berapa kali!?”

“PITCH CONTROL! Perhatikan itu baik-baik.”

Sudah dua jam teriakan Donghae menggema di tempat konser itu. Rehearsal tidak akan pernah menjadi mudah kalau ada Lee Donghae disana. Tapi semua orang tahu bahwa kemampuan pria itu memang di atas rata-rata. Apapun itu.. Konser, aransemen, musik, piano sampai drum, jika Donghae yang menanganinya hasilnya benar-benar memuaskan.

“SELESAI!!” teriak Siwon ketika musik berhenti berdentang.

Donghae tersenyum puas dan menepukan tangannya.

“Kau benar-benar luar biasa. Tepat 2 jam sebelum acara dimulai kau menyelesaikan semuanya,” ujar Siwon begitu ada di sebelah Donghae.

“Jangan senang dulu berada di bidang musik tak semudah membalik telapak tangan, sesuatu bisa saja terjadi saat kau ada di atas panggung. Hati-hati. Aku pulang dulu.”

“HE?! Kau sudah mau pulang? Kau tak mau nonton konserku?”

“Kau pikir aku tak bosan? Sudah 10 tahun aku terus mendengar dan melihatmu menari dan menyanyi. Lakukan yang terbaik. Aku masih harus menyelesaikan project untuk tahun depan.”

Donghae mengambil tasnya dan segera pergi meninggalkan tempat itu. Begitu keluar dari stadium konser itu, ia bisa melihat ribuan wanita menggila di depan.

“Ckckck, apa bagusnya Siwon itu..?” desahnya dengan nada bercanda lalu berjalan kearah mobilnya.

Ia berjalan kearah mobilnya tetapi langkahnya terhenti saat melihat sebuah pohon natal besar yang dihias dengan sangat indah. Pohon itu membawa kenangan masa lalunya, saat ibunya masih ada dan ketika mereka menghias pohon natal bersama setiap natal datang.

BRUUK!

Lamunan Donghae buyar dan matanya tertunjuk pada satu titik. Ia melihat sebuah motor bebek zaman bahela menabrak mobil BMW hitamnya yang baru datang dari Jerman satu minggu yang lalu.

Baik pemilik motor zaman bahela atau BMW hitam baru datang dari jerman 1 minggu yang lalu, mereka berdua sama-sama membuka mata lebar-lebar, juga membuka mulut lebar-lebar. Bahkan ribuan wanita yang sedang mengantri itu juga membuka mata dan mulut mereka lebar-lebar melihat kejadian naas itu.

“MOBILLKUUU!!!” teriak Donghae histeris.

Kap belakang mobilnya benar-benar menganga, yang tidak elit, kenapa harus motor bebek yang menabrak mobilnya?

“Jeongmal mianheyo. Maafkan aku. Sungguh aku tak bermaksud. Ini kecelakaan,” ujarnya.

“YA! Mobil diam saja bisa kau tabrak. Apa kau punya SIM?” seru Donghae kesal.

“Aku, kan, sudah minta maaf.. Aku sungguh tak sengaja, aku buru-buru.” ucap pengendara motor bebek itu dengan ragu-ragu.

“Buru-buru? Kau pikir itu alasan?” suara Donghae mulai meninggi. “Kau mau menutupi identitasmu dengan helm ini? Akan kubawa kau ke pengacaraku,” ujar Donghae lalu melepas helm gadis itu.

Gadis itu mengangkat kepalanya setelah helmnya di lepas dan kini ia bisa melihat pria di hadapannya. Donghae tak dapat mengedipkan matanya ketika mata mereka bertemu. Lalu saat itu waktu seakan terhenti untuk sesaat.

Tanpa sadar helm yang di pegang Donghae terjatuh dan saat itu kesadaran mereka sama-sama kembali.

“Ehm… Jadi bagaimana dengan mobilku?”

“Aku akan membayarnya,” ucap gadis itu lalu mengeluar dompetnya, hanya ada 7000 won. “Ini” ucapnya saat memberikannya

Donghae mengerjap-ngerjapkan matanya. “Ya! Nona! Mungkin memang mobil ini terlihat biasa saja, tapi mobil ini di buat oleh otomotif nomor satu di Jerman dengan hati-hati selama dua tahun!”

“AIGO! Namaku Shim Johee, aku hanya punya 7000 won sekarang! Kalau novelku sudah terjual aku akan segera membayarmu. Beritahu nomor rekeningmu,” ucap Johee sambil mengeluarkan Hpnya.

Donghae benar-benar tak habis pikir dengan gadis di hadapannya. “Apa aku terlihat seseorang yang kesulitan uang dimatamu?” tanyanya.

“Aigoo~ Sebenarnya kau mau apa sihhh?!” Sekarang Johee ikutan frustasi.

Baru saja Donghae ingin membalas..

“Kruuuuuuukkk”

“Kau lapar?” tanya Johee.

“AISH!” decak Donghae. Sejak bangun tadi dia memang belum makan, dan bertemu gadis ini membuang sisa energinya.

Johee mengulum senyumannya, ia mengambil helmnya yang terjatuh di aspal dan memakainya. “Kajja! Sebagai permintaan maafku, aku akan mentraktirmu makanan yang enak.”

:::

Donghae turun dari motor bebek Johee dan mendesah panjang. Selama ini ia bahkan tak pernah naik motor dan untuk pertama kalinya ia harus naik di motor bebek yang butut. Entah ada mantra apa di wajah gadis itu hingga Donghae selalu mengikuti keinginan gadis itu.

Johee turun dari motornya dan tersenyum kearah Donghae. “Kalau ada yang ingin kau makan beritahu aku.”

Donghae melihat kedepan dan melihat deretan tenda-tenda. Jelas sekali itu makanan orang-orang menengah ke bawah. Dan ia seorang Lee Donghae… yang selalu makan pagi ala orang barat, dibawa ke tempat seperti ini.

“SHIM JOHEE!” teriak Donghae dengan segenap darahnya yang memanas.

Johee yang berada lima langkah di depannya berbalik dan memasang tampang polosnya.

“Putri cantik, kami sedang membuka promo special natal. Cake couple dengan harga 5000 won saja,. Apa putri mau?” Seseorang berpakaian santa claus menghampiri Johee.

Johee tersenyum lebar karena dipanggil ‘putri’ dan ‘cantik’ sekaligus. “AKU MAU!” ucapnya dengan sangat gembira. “Donghae ssi kita makan cake yah!”

“Bukankah tadi kau bilang boleh aku yang pilih!”

Johee segera menghampiri Donghae. “Aku hanya membawa 7000 won dan dia bilang menjual cake itu hanya dengan 5000 won. Ketika kembali 2000 aku bisa memberikannya padamu sebagai uang muka atas kesalahanku tadi. Ara?”

“Heull~”

“Makan. Bukankah kau yang lapar? Kuenya enak.”

“Aku tidak mau. Kue ditempat seperti ini mana mungkin enak.”

Johee memotong kuenya sedikit dan menusuk dengan garpunya. “Tidak semua makanan murah itu tidak enak dan tidak semua makanan mahal itu enak. Terkadang rasa bisa tergantung waktu, perasaan dan dengan siapa kau makan.”

“Lalu maksudmu karena aku makan denganmu makanannya jadi e.. “

Johee menyuapkan potongan cake itu ke mulut Donghae dan tersenyum. “Enak, kan?”

“Enak.” tanpa sadar Donghae mengucapkan hal itu.

“Sudah kubilang.”

“Ini hanya karena aku sedang lapar.”

Johee tersenyum sekali lagi. “Makan yang banyak.”

:::

Johee memasuki kamarnya dengan senyuman mengembang. Ia berjalan ke depan poster Siwon. “Oppa keren sekali! Untung saja aku masih sempat melihatmu hari ini.. haah.. Bagaimana aku mengembalikan uangnya? Heul~”

Johee mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamarnya. Matanya menangkap sesuatu yang lain dari kamarnya.

Sebuah pintu dengan lonceng natal di atasnya serta rumbai-rumbai natal menghiasi pintu itu.

“Sejak kapan pintu ini ada?”

Johee memutar kenop pintu itu, dan perlahan membuka pintu itu…

Seorang pria ada di depannya dan juga memegang kenop pintu itu..

Lonceng berbunyi tiga kali dan waktu kembali terhenti.

“Shim Johee?” “Lee Donghae?” ucap mereka hampir bersamaan.

Mereka menutup pintu itu lalu membukanya lagi.

“Kau masih disini?” tanya Johee dengan mata terbelalak. Ia memperhatikan studio music dengan paduan biru putih dihadapannya.

“Kau menjebol rumahku?” tanya Donghae dengan nada tak percaya.

“Micheosseo! Mana mungkin!”

Johee segera berlari keluar rumah dan sekali lagi memastikan, semuanya masih sama, di sebelah kamarnya adalah halaman kecil dimana keluarganya menjemur pakaian. Bahkan pakaiannya masih tergantung disana.

Disisi yang lain Donghae juga melakukan hal yang sama disebelah studio musiknya juga masih sama, hanya ada beberapa pot tanaman dan rumput serta pagar.

Mereka kembali ke depan pintu dan kini mata mereka terbuka lebih lebar.

“Donghae ssi kenapa bisa begini?”

“Kenapa kau tanya padaku?! Kau pikir aku tahu?” Donghae menggaruk kepalanya, merasa otaknya tak bisa bisa menalar keadaan saat ini.

“AAH!!” Johee setengah berteriak membuat Donghae menaruh pengharapannya, mungkin gadis ini tahu sesuatu. “Donghae ssi, apa kau punya Doraemon?” tanya Johee dengan polos.

Untuk kesekian kalinya Donghae mendesah. “Babo ya! Kau pikir doraemon benar-benar ada. Kalau adapun kenapa aku mau pergi ke rumahmu!”

“Benar juga! Lalu kenapa?”

“Kenapa?! Kenapa kau tanya padaku?!” Donghae memegang keningnya berusaha berpikir sekali lagi. “Johee-ssi, coba kau masuk ke sini. Bisa tidak?”

“Kenapa aku yang harus ke tempatmu? Kata appa anak perempuan tak boleh masuk ke kamar laki-laki yang bukan siapa-siapanya.”

“HAISH!” Donghae mengacak rambutnya. “Masalahnya lain Johee…”

Pintu kamar Johee mendadak terbuka. “Johee-ya”
Johee segera menutup pintu itu, dan tersenyum di paksakan. “Appa. Annyeong!”

“He? Kenapa kau berisik sekali? Sudah malam, cepat tidur sana. Untuk apa kau berdiri depan tembok begitu. Anak aneh.”

Johee mengerjap-ngerjapkan matanya. “Appa! Appa tak lihat ada pintu disini! Ada lonceng natal juga!”

Appa Johee melihat anaknya dengan pandangan aneh. “Apa efek bertemu dengan pria menari-nari itu sampai seperti ini? Jangan aneh-aneh cepat tidur sana.” ujar ayah Johee lalu meninggalkan Johee.

Johee membalik badannya dan kembali melihat pintu itu masih ada disana. Johee segera membuka pintu itu dan ia masih melihat Donghae disana dengan ruangan yang sama.

“DAEBAK!” ucap Johee tak habis pikir.

“Ayahmu benar-benar tak dapat melihatnya?” tanya Donghae dengan penasaran.

Johee mengangguk lalu ia terdiam sebentar. “Kau dapat mendengar percakapan kami?’

Donghae menyadari hal janggal lainnya. “Nee, aku mendengar semuanya.”

“DAEEBAAKK!” lalu Johee menutup pintu itu lagi. “Donghae ssi, kau dapat mendengarku?”

“Nee.” jawab Donghae singkat. Lalu ia membuka pintu lagi dan melihat Johee kegirangan bagai anak kecil.

“Daebak! Daebak! Ini seperti fairy tale!” Berkali-kali Johee menepuk tangannya.

Donghae yang selalu berpikir logis masih belum mampu menyadari realita yang terjadi dihadapannya. “Coba kau kesini. Aku ingin tahu apa yang terjadi.” bujuk Donghae sekali lagi.

“Sudah ku bilang…”

Donghae menarik tangan Johee dan kini Johee masuk ke studio Donghae, semuanya terasa begitu baru baginya. Ruangan itu khas parfurm yang dipakai Donghae.

“Heul~ Bahkan kau ternyata bisa masuk kamarku.” ucap Donghae.

Johee segera melangkah mundur. “Bagaimana ini?”

“Apanya yang bagaimana?” tanya Donghae. Entah kenapa Donghae dapat merasakan suatu perasaan yang lain dan ia tahu benar itu bukan perasaannya. Ia melihat Johee tampak tidak tenang. “Tenang saja aku tak akan melakukan macam-macam. Aku ini pria baik-baik.”

Johee menatap Donghae dan perasaanya juga jadi tercampur. “Gomawo…yo…”

“Ehem. Ehem.. Kembalilah kekamarmu. Selamat malam.” ujar Donghae dengan gugup.

Johee tersenyum dan entah kenapa jantunganya terasa berdetak dua kali lebih cepat dan kali ini ia yakin itu bukan perasaannya. Johee kembali ke kamarnya, menutup pintu itu dan segera naik ke atas ranjangnya.

:::

Johee duduk di depan komputernya dan menulis kelanjutan novelnya tapi baru beberapa kata, ia kehilangan semua idenya. Johee menepuk-nepuk kedua pipinya dan berusaha kembali kepekerjaannya. Ia mengetik lalu menghapusnya lagi, berkali-kali.

Tiba-tiba sebuah perasaan baru datang. ‘Lapar’ tapi ia yakin itu bukan perasaannya karena ia baru saja makan. ‘Nanti saja’ hati kecilnya seakan berkata seperti itu.

Sebuah suara terdengar dari sebelah kamarnya, sepertinya Donghae baru saja bangun. Lalu terdengar sebuah aransemen lagu yang sepertinya baru jadi bagian depannya.

“Donghae ssi sudah bangun? Apa kau lapar? “

“Emm..” Suara Donghae jelas-jelas masih mengantuk. “Bagaimana kau tahu aku lapar?”

“Jadi benar, kau yang lapar. Makan dulu baru lanjutkan lagi.”

“Emm.”

“Kau berpikir nanti saja? Ya! Manusia itu butuh makan untuk berpikir.” Johee berjalan kearah pintu dan membukanya.

“Nanti aku akan makan.” ucap Donghae saat melihat Johee berada di ambang pintu.

“Haish, tumpukan kertasnya berserakan dimana-mana! Apa yang kau lakukan semalaman?”

Donghae menghembuskan nafanya. “Kenapa kau berisik sekali, sih? Bisakah kau tidak mengoceh di pagi hari?” ucapnya dengan anda meninggi.

Johee terpaku dan menutup pintu itu .

Seketika perasaan Donghae jadi tidak enak ‘Aku hanya mencoba untuk peduli’ sebuah suara terdengar di hati kecilnya. Kini ia merasa bersalah, ia bangkit dari kursinya dan berjalan kearah pintu itu dan membukanya.

Donghae dapat melihat Johee yang duduk di kursi sambil menekuk lututnya dan memandang kosong komputernya. “Aku akan merapikannya, dan aku akan makan nanti.” ucap Donghae.

Johee menatap Donghae dan dapat merasakan pria itu merasa bersalah.

“Aku… hanya sedang malas masak.”

“Mau kumasakan?” tanya Johee.

“Kau bisa?” tanya Donghae.

“Jangan meragukan kemampuan memaskaku, aku ahli dalam hal ini.“ jawab Johee sambil mengacungkan jempolnya. “Kau mau makan apa?”

“Ah.. Spa..” Donghae terdiam sesaat, ia sungguh ingin makan spaghetti tapi ia tak yakin Johee dapat membuatnya. “Apa saja.” jawabnya pada akhirnya.

Johee mengulum senyumannya. “Dimana dapurmu?”

:::

“Piring ada dilaci yang itu, wajannya ada di bawah, bumbu ada di sebelah sana.pakai saja bahan di kulkas.” ujar Donghae sambil menunjukan semua letak alat masaknya.

“Kau hidup sendirian?”

Donghae mengangguk. “Sudah 7 tahun, sejak omma meninggal. Ayahku orang kedutaan yang selalu pindah-pindah negara. Aku memutuskan untuk tetap di Seoul.” Donghae terdiam sebentar lalu tersenyum. “Tidak perlu sedih, aku biasa saja.”

“Bohong.” ucap Johee sambil mengisi air di panci.

Donghae hanya tersenyum kecil. “Sepertinya kau tahu perasaanku.”

You too.  It’s not only me who know your heart.” ucap Johee membalas senyuman donghae. Lalu segera mengambil bungkus spaghetti. “Sudah kembali ke studiomu. Aku akan membuatnya dengan cepat.”

“Mm.. Arra.”

Johee memanaskan air di panci, tiba-tiba air dipanci itu seakan mencerminkan senyuman Donghae tadi. Johee segera menggelengkan kepalanya. “Gawat.” ucap Johee lalu menepuk-nepuk pipinya.

Donghae memegang dadanya dan merasakan jantungnya kembali berdetak lebih cepat. “Huuh.” Lalu ia berbalik dan melihat Johee yang sedang menaruh spagetthi di panci dan beralih memotong tomat.

Donghae segera menghampiri Johee. “Aku lebih suka kalau tomatnya di potong kotak-kotak.” ucap Donghae lalu meminta pisau pada Johee dan menunjukan bagaimana cara memotong sesuai kebiasaannya.

Johee membiarkan Donghae memotongnya sementara dia memanaskan panci untuk sausnya. Ia memotong beberapa bahan lainnya lalu memasukan minyak secukupnya serta bahannya.

“Donghae ssi, apa kau bisa melakukkannya seperti cheff? Menggoncakannya pancinya lalu hup!” Johee berusaha memeragakannya di angin.

Donghae tertawa melihat Johee, lalu memegang panci dan melakukan gerakan seperti yang ditunjukan Johee.

“Uwaa.. Keren!” sekali lagi Johee bertepuk tangan.

Karena Johee mengatakannya keren, Donghae melakukannya beberapa kali hingga ada yang tertumpah. “Babo ya!” ucap Johee lalu menggantikan tempat Donghae. “Sana mandi dulu.” usir Johee

10 menit kemudian spagetthi sudah jadi, Johee membawanya ke meja makan dan melihat Donghae yang sudah menunggu disana. Johee menggulung spagethi itu dengan garpu di tangannya dan memberikannya pada Donghae. Donghae segera memakannya lalu tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Johee duduk di depan Donghae dan menyerahkan garpu itu.

“Kau tak mau coba?” tanya Donghae saat sudah selesai mengunyah suapan keduanya

“Aku sudah kenyang, aku baru makan pagi.” jawab Johee

Donghae meneliti perasan yang ada di dalam hatinya. Lalu menggulung spagetthi itu di garpu dan memberikannya pada Johee. “Tidak usah malu, I know what you want.”

Muka Johee memerah lalu memakan spagetthi itu, mengunyahnya. “Enak.”

“DONGHAE-YA~” panggilan itu menghilangkan senyum di kedua wajah Donghae dan Johee.

Mata Johee membesar. “Nugu?” tanya Johee dengan pelan.

“DONG…”

Kini Mata Johee seakan ingin keluar dari tempatnya.

“Berisik, ada apa pagi-pagi begini?” tanya Donghae dengan sikap tenangnya.

“Sejak kapan kau punya pacar?” tanya Siwon dengan pandangan jahilnya.

“SIWOOON SSII!!” teriak Johee yang bahkan hampir pingsan di tempatnya.

Donghae menepuk keningnya, kini bahkan ia juga merasakan jantungnya berdetak cepat, karena ia yakin Johee yang membuatnya merasakan perasaan ini.

“Kau mengenalku?” tanya Siwon.

Johee mengangguk berkali-kali. “Tentu saja! I’m your fan! Otteokhe?”

“Kau kesini bersamanya?” tanya Donghae.

Mata Johee yang tajam menangkap bayangan seorang wanita di tembok dapur.

“Hamun-ah gwenchana,” ujar Donghae dengan suara sangat lembut.

Gadis bernama Hamun itu muncul dan tersenyum. “Annyeong Donghae oppa.”

Johee tak mengerti dengan keadaan saat ini.

“ Johee-ssi, kenalkan ini sahabatku Choi Siwon dan Kang Hamun.”

“Annyeonghaseyo. Shim Johee imnida.” ucap Johee sambil membungkukkan badannya.

Siwon dan Hamun tersenyum kearah Donghae dengan penuh maksud.

“Tidak seperti yang kalian pikirkan.” ucap Donghae. “Kenapa kau kesini?” tanyanya.

Siwon menyuruh Hamun menunjukkan apa yang mereka bawa, satu keranjang buah. “Kudengar kau kecelakaan kemarin. Kulihat mobilmu belakangnya hancur. Tapi kau tampak baik-baik saja. Bagaimana ceritanya?”

Donghae melirik Johee, Johee sudah menundukkan kepalanya. Donghae tersenyum jail. “Aku baik-baik saja karena aku belum sempat masuk ke mobil. Ada yang menabrak mobilku yang terparkir. Kata orang mobilku ditabrak motor bebek. Ketika aku menemui pemilik motor bebek itu ia kira mobilku mobil murah. Dia membayarku dengan 7000 won tapi karena ada seseorang yang kelaparan ia membeli kue 5000 won dan memberikan 2000 won padaku.” jelas Donghae panjang lebar.

Siwon dan Hamun saling pandangan lalu mendapat satu kesimpulan. “Johee yang menabrak mobilmu?”

Donghae mengangguk. “Ia membayar sisanya dengan bekerja di rumahku. Aku baru saja memakan masakannya.”

Johee membesarkan matanya. ‘Kata siapa aku bekerja untukmu?’
Donghae membalas tatapan Johee. ‘Kau mau bilang ada pintu ajaib di studioku yang menghubungkan ke kamarmu? Kau pikir itu masuk akal?’ balas Donghae dalam pikirannya.
‘Kau membuat semuanya seakan salahku!’ balas Johee.
‘Kau mau aku bilang ada pintu ajaib?’ tanya Donghae sisnis.

“Jadi, begini Siwon ah sebenarnya ada…”

Johee langsung menutup mulut Donghae dan menarik Donghae menjauh dari Hamun dan Siwon yang hanya dapat memperhatikan dua orang aneh itu.

“Johee-ssi tampaknya dia orang yang baik.” ucap Hamun sambil melihat pertengkaran kecil Joo-Hae

Siwon mengacak rambut Hamun. “Kurasa kita mengkhawatirkan hal yang tak jelas. Dia tampak lebih hidup dibanding sebelumnya.”

Hamun mengangguk setuju. “Masalah itu membawa berkat.” ucap Hamun. “Aku berharap Natal ini, dia dapat tersenyum.”

Siwon mengecup pipi Hamun. “Jagi ya… Kau selalu peduli pada Dongahe.” ujar Siwon dengan nada merajuk.

“Yeobo ya~ Aku lebih peduli padamu.” balas Hamun lalu memeluk Siwon

Johee memandang pemandangan itu tak percaya. Ia mengusap-usap kulitnya karena merasa bulunya merinding.

“Mereka itu pasangan bodoh.” jelas Donghae. Walau hanya satu kalimat rasanya Johee dapat langsung mengerti.

“Johee-ssi ini rahasia.” ujar Hamun sambil mengedipkan satu matanya.

:::

“Sebegitu senangnya dapat tanda tangan Siwon.” ujar Donghae yang sedang sibuk dengan musik barunya.

Di kamar sebelah Johee sedang sibuk melanjutkan ceritanya. “Tentu saja. Sudah tiga tahun aku memimpikan tanda tangannya. Besok akan kulaminating.”

“Heul~”

“Ya! Jangan meremehkan cinta seorang fans!” balas Johee dengan nada marah.

“Tahu apa kau tentang cinta?” balas Donghae tak mau kalah.

Johee merenggangkan tubuhnya sesaat lalu memikirkan perkataan Donghae. “Donghae-ssi menurutmu cinta itu apa?”

Kini Donghae yang gantian berpikir. “Emm.. kau jawab dulu, aku yang bertanya duluan,”

“Hissh~ Kau mulai lagi. Kau menyebalkan disaat seperti ini.” ujar Johee lalu lanjut mengetik.

“Arra. Arra. Bagaimana kalau kita jawab bersama.”

“Emm.. Okay~ Satu.. dua.. tiga.. Cinta itu…”

“Keajaiban.” jawab Donghae dan Johee bersamaan.

Mereka berdua terdiam sesaat. “Ya Donghae-ssi kau tak boleh membaca pikiranku.” ujar Johee.

“A.. Apa? Kau yang mengikutiku.”

“Jangan bohong, aku tahu kau mengikutiku. Dasar tidak kreatif.”

Donghae menghembuskan nafasnya. “Heul~ Shim Johee-ssi sepertinya kau tak tahu siapa lawan bicaramu. Aku Lee Donghae composer lagu ternama di Korea. Nasib 13 penyanyi ada di tanganku saat mereka ingin menyanyi.”

“Baiklah~ aku kalah. Lee Donghae wangjanim.”

:::

“Donghae ssi, kau tidak bilang kau penggemar fairy tales. Uwaa! liat kau punya lengkap. Aku baca yah.”

Donghae mengalihkan pandangannya dari TV dan melihat kearah Johee yang sedang ada di depan rak buku. “Itu milik ommaku. Ommaku sangat menyukai cerita-cerita fantasi.”

Johee membulatkan mulutnya dan mengambil cerita Alice in Wonderland dan mulai membacanya. “Kau selalu berbicara tentang ommamu. Bagaimana dengan ayahmu?”

“Aku tak tahu.”

Johee merasakan perasaan aneh tapi ia tak mengerti. Ia memang sudah menjelajahi seluruh ruangan di rumah Donghae tapi ia tak pernah menemukan satupun foto ayahnya, hanya Donghae dan Ibunya.

“Kau penasaran?” tanya Donghae.

Johee duduk di sebelah Donghae dan mengangguk.
“Kenapa?” tanyanya lagi.

Johee terdiam dan pipinya mulai merona. “Ha.. Hanya.. hanya penasaran.”

“Kau tertarik padaku?”

“Ti.. Ti.. tidak..” Johee gelagapan dan segera melengoskan mukannya dan berdiri. “Aku harus kembali..” ujar Johee dan melangkah pergi.

Tapi Donghae meraih tangan Johee dan membuat Johee terjatuh dalam pelukannya. Johee terpaku dan jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Nafasnya terasa sesak.

“Jantungmu berdetak dengan sangat cepat Johee-ya.” bisik Donghae di telinga Johee. Johee memejamkan matanya dan otaknya tak dapat berpikir.

“Kau menyukaiku.” ucapnya lagi lalu merenggangkan cengkramannya.

Johee berusaha berdiri tapi tangan Donghae menahannya. Wajah mereka sangat dekat bahkan Johee dapat merasakan hembusan nafas Donghae. Donghae mendekatkan wajahnya dengan wajah Johee. Donghae memejamkan matanya dan hendak mencium Johee hanya 1 cm lagi tapi semua itu terhenti.

Satu butir air mata jatuh dari mata Johee membasahi pipi Donghae.

Donghae terdiam dan merasakan sakit yang luar biasa. Johee menggigit bibirnya kuat-kuat menahan air matanya.

Cengkraman Donghae terlepas dan Johee segera berdiri

“Aku menyukaimu Donghae-ssi.” ucap Johee sambil berusaha tersenyum .”Tapi bukan atas kebohonganmu.”

“Johee…”

Johee menghapus sisa air matanya. “Aku penasaran kenapa kau mengatakan semua hal yang bertentangan dengan hatimu.” jeda sesaat.

“I told you, I know your heart like you know me. Why you fooled me?”

Donghae berusaha meraih tangan Johee tapi Johee segera menarik tangannya.

“Bagi Lee Donghae, cinta itu tidak ada. Kau tanya, tahu apa aku tentang cinta? Aku tahu jauh lebih baik darimu. Aku membiarkan jawabanku ada dipikiranku dan tebakanku benar kau mengucapkan hal yang sama. Kau menyedihkan Lee Donghae-ssi.”

“Johee.. Dengarkan aku..”

Johee menggelengkan kepalanya. “Apa kau pikir semua wanita akan luluh dengan sebuah ciuman? Apa kau pikir kau dapat membuatnya bahagia dengan itu? Babo. Cinta itu memerlukan ketulusan, dan wanita akan luluh karenanya.”

“Jangan berpikir karena kau tahu perasaannya, kau dapat mempermainkannya.” Johee memutar badannya dan berjalan kearah studio dan masuk ke kamarnya.

Johee menenggelamkan wajahnya dibawah bantal dan menangis.

:::

“Donghae ya~ Kau bengong lagi! Aku tahu kau benci natal tapi setidaknya tak perlu menekuk wajahmu begitu.. Haish! Moodku jadi berantakan juga.”

“Pergilah. Bukankah setiap natal kau ada janji dengan Hamun?” ujar Donghae sambil meremas kertas notenya dan melemparnya sembarangan.

“Tahun ini pun kau tak mau menengok makam ibumu?”

“Siwon ah.. ”

“Arra.. arra. Aku hanya akan diam.”

:::

“Hamun–ssi, kita mau kemana?”

“Berkunjung. Ah! Johee-ya kita harus turun disini. Cepat turun.”

Johee mengikuti perintah Hamun dan turun dari bus .

“Tidak jauh dari sini kita akan sampai.” ucap Hamun sambil tersenyum.

Johee tak bertanya lagi, entah sudah berapa kali Johee bertanya tapi Hamun tak mau menjawab. Maka Johee akan memilih diam, lagipula Hamun bilang mereka akan sampai sebentar lagi.

Hanya sekitar 15 menit dari halte tadi mereka berjalan dan perasaan Johee mulai merasa sesuatu yang lain. Mata Johee terperanjat saat melihat pemakaman ada di hadapannya. “Jangan bilang..”

“Mm.. Kita akan mengunjungi ahjumma.” ujar Hamun.

Ketika sampai di depan makam, Hamun langsung menaruh bunga yang dibawanya dan berdoa. Johee mengikuti Hamun walau masih tidak terlalu mengerti kenapa Hamun membawanya kesini.

“Setiap natal.. Aku, Siwon, Donghae dan Ahjumma selalu menghias pohon natal bersama. Tapi 7 tahun lalu semuanya berakhir. Ahjuma.. bunuh diri..”

Johee melebarkan matanya dan menatap Hamun dengan tak percaya.

“Ayah Donghae minta bercerai dan ingin menikah dengan wanita lain. Tidak satupun dari kami tahu akan hal itu.. Yang kami tahu hanya ayah Donghae memang jarang pulang karena tugas dinasnya. Sampai Donghae menemukan diary ahjumma. Dia memutuskan semua hubungan dengan ayahnya dan tak pernah merayakan natal lagi. Setiap natal dia akan mengunci dirinya di studio itu membaca cerita-cerita fantasi kesukaan ibunya.”

Johee terdiam sejenak.. “Kenapa kau menceritakan ini?”

“Karena aku dan Siwon percaya padamu. Kau dapat membuat Donghae menyukai natal lagi. Karena saat Donghae bersamamu ia tampak seperti ia saat bersama ibunya, bahagia.”

“Tapi aku.. Aku dan Donghae.. Aku mengatakan hal yang jahat..”

Hamun tersenyum dan memeluk Johee. “Belum terlambat. Kau percaya di setiap natal ada keajaibannya tersendiri?”

Johee membalas pelukan Hamun dan mengangguk.

:::

Johee membuka pintu ajaib itu pelan-pelan dan melihat Donghae yang tertidur sambil memegang buku Alice in Wonderland yang waktu itu di ambilnya. Johee membuka pintu itu lebih lebar dan masuk kedalam ruang studio itu membawa sebuah pohon natal besar dengan pelan-pelan tanpa bersuara.

Johee mulai menghias pohonnya dengan slinger berwarna biru putih, menggantungkan bola-bola, dan berbagai ornament natal lainnya. Lalu ia sudah menyiapkan 11 kertas warna-warni dengan wish yang tertera. Perlahan-lahan ia menempelkannya. Dan yang terakhir adalah lampu kelap-kelip untuk mengelilingi pohon itu.

Donghae masih tertidur.

Johee melangkah kearah dapur dan mengeluarkan beberapa bahan dari tempat yang sekarang sudah ia hafal.

Ia mengeluarkan berbagai macam tepung, memanaskan coklat, membuat krim dan buah-buahan. Johee membaca resep dan mulai membuat cake natal.

:::

Donghae membuka matanya perlahan dan melihat sesuatu berkelap kelip. Ketika matanya benar-benar terbuka semuanya terasa dejavu. Ia melihat pohon natal itu dari atas ke bawah, ia merasakan kehangatan dan ketulusan juga rindu.

Donghae segera berdiri dan memperhatikan pohon natal itu dari dekat. Ia membaca kertas demi kertas yang tergantung disana.

‘Ini 10 kisah ajaib Shim Johee dan Lee Donghae’

1. Shim Johee bertemu Lee Donghae di bawah pohon natal
2. Shim Johee merusak mobil Lee Donghae di bawah pohon natal
3. Lee Donghae tidak suka makan di tenda tapi Shim Johee menyukainya
4. Shim Johee dan Lee Donghae makan cake bersama
5. Lee Donghae dan Shim Johee sama-sama tidak mengerti akan pintu ajaib
6. Lee Donghae bisa membaca perasaan Shim Johee tapi tetap tak mengerti *babo :p
7. Shim Johee ternyata juga tak tahu isi hati Lee Donghae *babo 2 :p
8. Lee Donghae harus dihapus kesedihannya
9. Shim Johee sangat menyukai Lee Donghae
10. Lee Donghae… Apakah juga menyukai Shim Johee?

Donghae segera berlari kepintu ajaib itu tapi Johee tidak ada di kamarnya.

“Shim Johee!” panggil Donghae tapi tak ada jawaban. Donghae kembali ke studionya dan keluar dari tempat itu. Kakinya terhenti saat melihat Johee sedang mengeluarkan cake dari kulkasnya.

“Assa! Sudah jadi!” Johee tersenyum lebar melihat cakenya.

Johee masih belum menyadari kehadiran Donghae.

“Ehem ehem.. Merry Christmas Donghae-ah.. Ah.. Donghae–ssi.. Aduh bagaimana mengatakannya?“

Johee meletakan kuenya lalu menepuk-nepuk pipinya. “Hwaiting Johee ya!”

“Lee Donghae, aku suka padamu. Merry Christmas.”

“Aigo.. Otteokhe? Otteokhe? Otteokhe? Ehem ehem.. Mulai natal ini tersenyumlah.. merry Christmas Donghae.. ssi,”

“Ommaa.. Aku bisa gila.. Donghae-ssi, otteokhe?” Johee menggigit kukunya dan mulai berpikir lagi. “Bagaimana aku harus memanggilnya?”

“Jagi.” jawab Donghae setelah puas melihat Johee dengan kebingungannya.

Mata Johee melebar dan seketika pipinya memanas. “Kau melihatnya? Mendengarnya?”

Donghae mengangguk. “Aku melihatnya dan mendengarnya.”

Johee menutup mukanya dan langsung mengumpat di balik meja dapur.

Donghae segera menghampiri Johee dengan senyuman mengembang. “Bagaimana dengan ‘Jagi’? Aku bosan dipanggil Donghae-ssi.” ucap Donghae saat ia berada di sebelah Johee.

Johee masih menutup mukanya dengan kedua tangannya, bahkan kupingnya juga sudah ikut memerah.

Donghae memegang tangan Johee dan berusaha melihat wajah Johee yang benar-benar memerah. Entah kenapa saat itu Donghae merasa Johee yang paling manis adalah saat ini. Saat ini ia bahkan tak bisa membedakan apa jantungnya berdetak cepat karena Johee atau memang perasaannya.

“Aku.. ingin minta maaf..”

Pertahanan Johee mengendur dan kini ia menatap Donghae.

“Aku minta maaf membuatmu menangis. Maaf aku membohongimu. Tapi.. Saat ini.. aku jujur.. aku memang tak tahu cinta itu apa, tapi saat aku membaca notemu, akhirnya aku tahu cinta itu apa.. Cinta itu adalah Natal dan Natal adalah keajaiban dan keajaiban adalah dirimu.. Shim Johee.”

Johee mematung di tempatnya. Ia sungguh meleleh dengan kata-kata Donghae karena kata-kata itu begitu tulus.

“Aku menyukaimu Shim Johee. Sangat amat.”

Johee langsung memeluk Donghae lalu menangis di pundak Donghae. “Terima kasih Donghae ssi..”

:::

“Kau membuatnya sendiri? Selama aku tidur?”

“Kau tidur dengan amat pulas. Aku takut saat melakukan semua ini kau terbangun. Kau harus melihat betapa cepatnya aku mengerjakan semua ini.”

Donghaae tertawa kecil.

“Ya~ Jangan membayangkannya.”

Donghae memotong kue itu lalu menyuapkannya untuk Johee.

“Kurasa keajaibannya akan berakhir di hari ini.”

Donghae mengangguk.”Kalau begitu kita perlu membuat keajaiban yang baru.” ucap Donghae.

“Ini potongan terakhir.” ucap Johee sambil menyuapkannya pada Donghae. Johee berdiri dan mengambil sesuatu dari sebuah kotak yang ia sembunyikan.

“Apa itu?”

“Bintang untuk diatas pohon natal. Aku ingin memasangnya bersamamu.”

Donghae berdiri dan mengambil hiasan bintang itu. Johee dan Donghae meletakkan bintang itu di puncak pohon itu.

“Tahun depan, dua tahun depan, sepuluh tahun kedepan kita akan menghias pohon natal bersama.”
Johee mengangguk. “As you wish.”

“SHIM JOHEE!”

“Aku harus kembali, aku harus merayakan natal bersama keluargaku juga.” ucap Johee lalu berjalan kearah pintunya.

“Johee-ya..”

Johee berbalik dan tersenyum. “Tak akan lama.”

Donghae menghampiri Johee dan mengeluarkan sesuatu dari kantungnya. Sebuah kalung bertuliskan Miracle. “Aku memesannya khusus untukmu.”

“Kapan?”

Donghae tak menjawab dan memasangkan kalung itu. “Ya Shim Johee.. Bagaimana kalau hari ini aku mengenalkan diriku pada keluargamu?”

Mata Johee membesar. “Secepat ini?”

“Aku akan berpakaian rapi dan pergi ke rumahmu. Tunggu aku.“

“Jinja?”

“SHIM JOHEE!!” Appa Johee memanggil lagi.

“Sana kau di tunggu.”

Johee tampak tak yakin, ia membuka pintu ajaib itu dan berdiam di ambang pintu.

Donghae mendekat kearah Johee. “Aku tahu kau menunggunya.” ucap Donghae lalu mengecup bibir Johee.

“Merry Christmas.” ucap Johee dan Donghae bersamaan lalu Donghae mengecup kening Johee dan membiarkan Johee keluar dari kamarnya, dan menutup pintu ajaib itu.

:::

“Ahh dinginn~”

Donghae tersenyum melihat gadis yang sedang berjalan di sampingnya. “Kenapa kau terus mengatakan dingin?”

“Karena cuacanya dingin, babo ya~”

Donghae menghentikan langkahnya lalu memeluk Johee dari belakang. “Aku tetap tahu apa yang kau inginkan.”

Johee tersenyum dan merasakan kehangatan Donghae.

“Sejak hari itu tidak ada lagi pintu ajaib.. dan tidak ada lagi pintu untuk mengintip isi hatinya… Tapi itu bukan masalah walau natal hanya datang setahun sekali. Sebenarnya keajaiban dapat kita bentuk sendiri. Karena cinta itu adalah Natal, Natal adalah keajaiban, dan keajaiban itu adalah Lee Donghae. Semoga di natal ini kalian juga dapat menemukan keajaiban natal kalian. Merry Christmas.”

THE END~

THX FOR READING~~

leave comment ^^ MERRY CHRISTMAS