annyeong onnideul chingudeul dongsaengdeul ^^
this is Esterong and i’m back with new fanfiction
dedicated for Hyukjae-Yeonhee couple, Hereeen, and all reader :))
hope you guys enjoy this fanfiction ya ^^ your comments are love for me, so leave your comments here ya :) can’t wait to read ur comments ♥ thank you so much for always reading our fanfiction^^

******

There is a point in your life when God will bring someone in, at a very unexpected time, and that will change everything

*******

“Ada yang bisa mengerjakan soal ini?” tanya Sem pada murid-muridnya. Ia mengedarkan pandangannya namun tak ada satu pun yang mengangkat tangan. Para murid justru pura-pura mengerjakan soal itu di buku tulis agar mereka tak ditunjuk oleh Seonsaengnim.

Sem pun geram. Akhirnya ia memilih murid kebanggaannya. “Lee Yeonhee,” panggil Sem. “Coba kerjakan soal dipapan ini,” lanjutnya sambil menunjuk gadis berkacamata yang duduk dibangku paling depan.

Tanpa ragu, gadis itu melangkahkan kakinya. Mengambil kapur lalu menuliskan beberapa rumus dipapan tulis itu. Tak sampai 2 menit, soal sulit tadi dapat ia selesaikan.

“Good job! Good job! Tak salah Lee Yeonhee memperoleh penghargaan sebagai murid teladan!” puji Sem seraya bertepuk tangan diikuti beberapa siswa lainnya.

“Terima kasih, sem,” balas Yeonhee sambil membungkukan badannya.

Nama gadis itu Lee Yeonhee. Semuanya mengenal Yeonhee sebagai gadis terpintar di angkatannya. Penampilannya yang berkacamata dan poni yang dijepit kebelakang memberikan kesan old-fashioned padanya.

Entah memang dia punya masalah dengan pendengarannya atau karena ia memang cuek, ia tak pernah sekalipun memperdulikan pendapat orang lain. Itulah yang membuatnya tak pernah berniat mengubah stylenya sejak hari pertama ia bersekolah sampai dengan saat ini.

“Sebaiknya kalian mencontoh perilaku Yeonhee, terutama kau Eunhyuk,” ujar Sem yang ia tujukan pada siswa yang duduk dibangku paling belakang. Kini seisi kelas sudah menoleh kearah pria tersebut.

Lee Hyukjae atau lebih dikenal dengan nama Eunhyuk. Ia adalah bos dari semua murid bermasalah di sekolah ini. Merokok, minum-minum, dunia malam, tawuran, sudah menjadi kesehariannya. Guru-guru menyebutnya sebagai Troublemaker, King of Bandits, Berandalan, dan masih banyak lagi gelar yang disandangnya.

“Kau boleh duduk kembali, Yeonhee,” ujar Sem. Yeonhee kembali ke tempat duduknya, tapi tidak dengan Eunhyuk yang malah beranjak dari tempat duduknya.

“Kau mau kemana?” tanya Sem.

“Keluar. Anda berhasil menghancurkan moodku,” ujarnya dingin.

“Yaa! Kau Lee Hyukjae!” seru Sem yang Eunhyuk balas dengan tatapan dingin tanda ia tak takut pada gurunya itu.

“Jangan pernah menyuruhku untuk menjadi sepertinya,” ucapnya sambil menunjuk Yeonhee. “Aku dan dia hidup di dunia yang berbeda dan sampai kapanpun aku tak akan bisa menjadi seperti dirinya,” lanjutnya sambil ganti menatap Yeonhee tajam tanda ia tak suka dibanding-bandingkan dengan gadis itu.

Yeonhee membalas tatapan itu tanpa ekspresi. Ia terdiam. Ia bukannya tidak mau membela diri namun ia tak mau berurusan dengan pria itu. Seperti yang sudah Eunhyuk bilang, Eunhyuk dan dirinya hidup di dunia yang berbeda. Yeonhee tak ingin terjerumus pada dunia Eunhyuk.

Akhirnya Eunhyuk keluar dari kelas itu tak lupa dengan membanting pintunya. Sem sudah berulang kali menyerukan namanya namun Eunhyuk tak memperdulikannya.

“Dasar anak kurang ajar! Apa dia tak pernah diajarkan sopan santun oleh orangtuanya?!” seru Sem penuh emosi.

Tiba-tiba Yeonhee berdiri dari tempat duduknya lalu ia membungkukan badannya. “Jwesonghamnida, sebaiknya sem jangan menghakiminya lebih dahulu. There’s a story behind every person. There’s a reason why they’re the way they are. They aren’t just like that because they want to. Something in the past created them, and sometimes it’s impossible to fix them,” ujarnya yang membuat wajah sem makin memerah. Seisi kelas menjadi sangat hening saat ini.

“KAU!” seru Sem pada Yeonhee. Ia tak terima jika dirinya dinasehati oleh muridnya. Hukum dunia berlaku saat ini: teacher never wrong.

“Kalau itu keyakinanmu, coba buktikan kalau Eunhyuk masih memiliki sisi yang baik! Kalau tidak, semua pelanggaran yang ia lakukan akan ditanggung oleh kalian semua terutama kau Lee Yeonhee!” seru sem yang langsung meninggalkan kelas tanpa menunggu pembelaan dari Yeonhee. Kini seisi kelas mulai berisik dengan suara bisikan dan umpatan yang ditujukan untuk Yeonhee.

Yeonhee menghela nafas panjang. Sebagian dari dirinya menyesali keputusannya untuk membela Eunhyuk tadi, namun ia juga tak bisa tinggal diam mendengar Eunhyuk dihakimi seperti itu. Meski Yeonhee tak pernah berurusan dengan Eunhyuk, ia tahu Eunhyuk masih memiliki sisi yang baik. Ia tahu karena ia pernah merasakan kebaikannya. Tak ada yang bisa ia lakukan, menyesal pun percuma. Satu-satunya cara adalah mencoba.

*****

“Nona manis, kau tersesat?” tanya seorang pria berseragam yang terlihat sebaya dengan Yeonhee. Tubuh pria itu bau alkohol dan banyak tindikan ditelinganya.

“Kau mau kemana? Apa perlu kita antarkan?” tanya temannya yang lain. Ia sama mengerikannya dengan pria yang tadi. Tangan mereka mulai mengelus pipi Yeonhee yang dengan segera Yeonhee tepis karena jijik. Ya, dia memang tersesat dan bodohnya ia turun didaerah yang rawan seperti ini padahal bus selanjutnya baru akan datang sekitar 45 menit lagi.

“Jangan ganggu aku,” pinta Yeonhee. “Pergi kalian!” katanya.

Bukannya pergi namun kedua pria tadi malah berkata, “Kau lebih cantik kalau sedang marah,” ujarnya lalu mendorong Yeonhee ke tembok yang ada disisi trotoar. Tubuh Yeonhee dikunci dengan tangan yang ada disebelah kanan dan kiri tubuh Yeonhee. Yeonhee memalingkan wajahnya untuk menghindari aroma soju yang terlalu menyengat. Tubuhnya bergetar hebat namun suaranya bahkan tak bisa keluar meskipun ia ingin berteriak.

“Lepaskan gadis itu,” ujar sebuah suara.

Kedua pria tadi mengalihkan perhatiannya dari Yeonhee sedangkan Yeonhee sudah terduduk di tempat ia berdiri tadi saking ketakutan. Kakinya tak sanggup menopang berat tubuhnya. Ia menundukan kepalanya dan menutupi telinganya, ia terlalu takut untuk melihat apa yang akan terjadi setelah ini.

“Tak akan kubiarkan kau menyentuhnya bahkan dengan ujung kuku tanganmu,” ujar pria itu lagi sambil berjalan mendekati Yeonhee. Pria itu kini berdiri didepan Yeonhee bak perisai. Dan dengan sekejap perkelahian, kedua pria tadi sudah terjatuh ditanah. Mereka tak berdaya, untung saja mereka masih hidup.

“Mereka hanya pingsan. Aku memukulnya melenceng sedikit dari titik vital. Satu jam lagi mereka akan tersadar,” jelas pria itu.

Yeonhee merasa tak asing dengan suara itu. Ia mendongakan kepalanya. Ia tercengang namun ia tak bisa mengekspresikan kekagetannya. Wajah Yeonhee masih kacau dengan air mata akibat rasa takut tadi. Tapi akhirnya ia tahu yang menolongnya saat ini adalah Lee Hyukjae, murid yang paling ia hindari.

Eunhyuk menjulurkan tangannya untuk membantu Yeonhee berdiri namun Yeonhee yang masih ketakutan tak mau menerima tangan itu.

“Aku janji tak akan berbuat apa-apa padamu. Kau bisa pegang omonganku,” ujarnya acuh tak acuh. Dengan segenap keberanian yang Yeonhee paksakan, Yeonhee menerima tangan itu.

“Untuk apa kau kesini? Anak baik sepertimu tak pantas berada ditempat ini,” ujarnya dingin.

“A.. aku tersesat,” jawab Yeonhee ditengah isakannya.

Eunhyuk menghela nafasnya. “Kapan busmu akan datang?” tanya Eunhyuk.

“30 menit lagi,” jawab Yeonhee tanpa berani menatap wajah Eunhyuk. Dari genggaman tangan itu, Eunhyuk bisa merasakan kalau tubuh Yeonhee masih bergetar ketakutan.

“Kau tak perlu takut padaku. Percayalah,” ujarnya masih dengan gayanya yang tak bersahabat. Tapi meskipun begitu, Eunhyuk tetap membawa Yeonhee menuju halte tanpa pernah melepaskan genggaman tangan itu.

Yeonhee menatap tangannya yang bertautan itu. Ia dapat merasakan kehangatan dan ketulusan merasuki tubuhnya melalui genggaman itu. Rasa takut yang Yeonhee rasakan tadi perlahan sirna berganti dengan ketenangan dan kenyamanan. Sejak saat itu, Yeonhee memutuskan untuk mempercayai pria ini. Hatinya begitu yakin kalau Eunhyuk sesungguhnya adalah pria yang baik.

…..

“Halte Apgujeong,” ujar supir bis yang menyadarkan Yeonhee dari ingatannya setahun yang lalu. Dengan segera Yeonhee turun dari bis itu.

Ia menoleh kekiri dan kekanan, ia tak tahu arah mana yang ia tuju. Ia membiarkan kakinya yang menentukan jalan namun langkahnya terhenti saat ia melihat segerombolan anak SMA seperti preman 4 meter didepannya. Dengan cepat Yeonhee berputar balik, namun belum sempat Yeonhee melangkah jauh ia bisa merasakan hidungnya sakit karena baru saja menabrak seseorang.

“Jwesonghamnida,” ujar Yeonhee sambil membungkukan badannya.

“Untuk apa kau kesini?” tanya sebuah suara yang sangat Yeonhee kenal.

Yeonhee menegapkan tubuhnya dan menatap sumber suara itu, Eunhyuk.

******

“Hey, Eunhyukie, kau akan pulang ke rumahmu, kan, malam ini?” tanya pria yang berjalan disamping Eunhyuk.

“Aniya, aku masih ingin menginap di kamarmu, Donghae,” balasnya. “Aku malas mendengar pertengkaran Tuan dan Nyonya Lee,” lanjutnya.

Tiba-tiba langkah Eunhyuk terhenti. “Ada apa?” tanya Donghae heran. Eunhyuk tak menjawab. Tubuhnya terpaku. Matanya membesar seakan ia tak percaya dengan apa yang ia lihat. Donghae mengikuti arah pandang Eunhyuk dan mendapati seorang gadis berseragam sama seperti Eunhyuk berdiri 2 meter di depan mereka.

Gadis itu berjalan sambil menunduk ke arah Eunhyuk. Ia tak menyadari kehadiran pria itu sampai akhirnya ia menabraknya. Saat itu juga, detak jantung Eunhyuk mulai abnormal. Ia bisa merasakan darahnya berdesir

“Jwesonghamnida,” ujar gadis itu sambil membungkukan badannya.

Eunhyuk segera menyembunyikan perasaannya dan mulai memasang topengnya. “Untuk apa kau kesini?”

“Kau tersesat? Lagi?” tanya Eunhyuk sinis. Gadis itu menggeleng.

“Kau mengenalnya?” tanya gadis yang ada disebelahnya, teman Eunhyuk yang lain.

“Aku tak kenal, hanya sekedar tahu,” balas Eunhyuk.

Gadis itu menatap Eunhyuk lurus. “Aku kesini untuk mencarimu,” katanya lugas. Semua teman-teman Eunhyuk kini menatap gadis itu dengan mata membesar seakan mereka tercengang dengan pernyataan gadis itu.

“Mulai besok, aku mohon datanglah ke sekolah dan jangan membolos,” ujarnya tanpa niat basa-basi.

“Untuk apa?” tanya Eunhyuk ketus.

“Karena hukuman dari setiap pelanggaran yang kau lakukan akan ditanggung oleh semua teman sekelas. Aku tak akan datang kesini jika yang kau perbuat tak merugikan orang lain tapi jika sudah seperti ini, aku benar-benar memohon padamu,” ujarnya.

Eunhyuk mendengus lalu menyeringai. “Shiro. Lagipula tak ada untungnya buatku,” balas Eunhyuk.

“Aku akan melakukan apapun yang kau mau,” sahut gadis itu.

“Apapun?” tanya Eunhyuk sambil berjalan mendekatinya lalu mendorongnya ke tembok yang ada di sisi trotoar. Eunhyuk mengunci gadis itu dengan tangannya yang berada disebelah kanan dan kiri.

Mata gadis itu mulai berair. Eunhyuk bisa merasakan tubuh gadis itu gemetar. Eunhyuk tahu gadis itu ketakutan namun Eunhyuk malah mengeratkan pegangannya pada tangan gadis itu.

“Kalau aku minta malam ini kita ke hotel, bagaimana?” tanya Eunhyuk sambil melepaskan simpul dasi gadis itu. Eunhyuk hendak membuka kancing paling atas seragam gadis itu namun ia dengan segera menampar Eunhyuk.

“KAU!” seru Eunhyuk. Namun suaranya menghilang saat ia melihat air mata Yeonhee sudah keluar dari pelupuknya.

“Pa.. padahal aku sudah percaya padamu. Sejak saat itu aku selalu percaya padamu. Padahal aku sudah yakin kalau Eunhyuk yang sesungguhnya tak seperti yang digosipkan selama ini,” ujar Yeonhee parau disela isak tangisnya.

Gadis itu mendorong Eunhyuk pelan lalu ia pergi dari tempat itu meninggalkan Eunhyuk dan teman-temannya.

*****

“Kau tak apa?” tanya Donghae pada Eunhyuk. “Tak perlu kau jawab, aku tahu kau sedang tidak baik,” ujar Donghae sambil mengendikkan kepalanya ke arah gadis yang saat ini duduk di halte bis sambil menangis. Satu-satunya gadis yang berani menampar Eunhyuk, Lee Yeonhee.

“Untuk apa kau berakting seperti tadi?” tanya Donghae.

“Agar ia menjauh dariku sebelum terlambat. Aku tak ingin ia menyesal,” jawab Eunhyuk lirih. Suaranya menggambarkan kepiluan dihatinya.

Donghae tersenyum penuh arti. Ia akhirnya dapat memahami situasi yang terjadi saat ini. Ternyata, sahabatnya ini menyukai gadis itu. Ah, salah, Eunhyuk mencintainya.

“Sejak kapan kau mencintainya?”

…..

“Aku sudah tak apa-apa. Kau bisa meninggalkanku. Aku akan menunggu sendirian,” ujar Yeonhee pada Eunhyuk yang telah menemaninya menunggu bis selama kurang lebih 10 menit. Eunhyuk bahkan tak melepaskan genggaman tangannya.

“Diamlah,” balas Eunhyuk seadanya.

“Apa tak apa kau menggenggam tanganku seperti ini? Kau tak akan dimarahi kekasihmu?” tanya Yeonhee lagi.

“Bukan urusanmu,”

“Tentu saja urusanku. Aku tak mau merepotkan orang yang sudah menolongku,” balas Yeonhee.

Eunhyuk menghela nafas panjang. “Pacarku tak akan perduli karena ia pasti sering melakukan ini dengan pria lain. Puas?”

Yeonhee cukup terkaget mendengar pernyataan Eunhyuk tadi tapi sebagian hatinya lega karena setidaknya ia tak akan membuat Eunhyuk bertengkar dengan kekasihnya.

 “Syukurlah,” ujar Yeonhee.

“Kenapa?”

“Kau tak seperti gosip yang selama ini kudengar,” balas Yeonhee. “Kau sangat baik. Hanya saja gaya bicaramu memang kasar,” lanjut Yeonhee sambil menyunggingkan senyumnya. Senyuman yang baru pertama kali Eunhyuk lihat namun mampu membuat hati Eunhyuk mencelos.

Senyum Yeonhee tak kunjung pudar. “Masalah adalah berkat. Kurasa semboyan saudaraku berlaku saat ini. Aku tersesat di tempat menyeramkan seperti ini namun berkat itu aku dapat mengetahui Lee Hyukjae yang sesungguhnya,” ujar Yeonhee spontan dan penuh kejujuran. Semua kalimat yang keluar dari mulut Yeonhee membuat dada Eunhyuk sesak dan tubuhnya memanas. Ia dapat mendengar jantungnya berdebar. Ia dapat merasakan kalau saat ini pipinya pasti bersemu merah.

“Aku tak sebaik itu,” ujar Eunhyuk masih dengan gayanya yang acuh tak acuh. Eunhyuk mengalihkan wajahnya agar Yeonhee tak melihat ekspresi wajahnya. Meski Eunhyuk sudah menghindar, Yeonhee tetap saja bisa melihat itu. Yeonhee tak berkomentar namun ia tetap tersenyum.

“Ah, itu busnya,” ujar Yeonhee saat melihat ada bus yang mendekat.

“Terima kasih sudah menolongku dan menemaniku,” ujar Yeonhee saat ia sudah naik ke atas bus. “Aku yakin sebentar lagi kau pasti akan menemukan wanita yang hanya mau menggenggam tanganmu. Kau pria baik, kau berhak mendapatkan wanita yang baik juga,” ujar Yeonhee sebelum pintu bis itu tertutup.

Eunhyuk hanya terdiam di tempatnya. Matanya tak lepas dari bis itu. “Aku sudah menemukan gadis itu namun aku tak bisa meraihnya. Kau terlalu baik untukku Lee Yeonhee,” gumam Eunhyuk.

…..

“Setahun yang lalu. Semua berawal dari halte bus itu,” jawab Eunhyuk pada Donghae.

“Kau yakin tak mau mencoba untuk meraihnya? Kalau kau merasa tak pantas untuknya, kau hanya perlu untuk memperbaiki dirimu. Lebih baik kau mencoba lebih dahulu, Hyuk,” nasihat Donghae.

Eunhyuk mengangguk. “Kalau besok ia masih datang kesini, aku akan berubah untuknya,”

“Aku sudah merekam kata-kata itu dikepalaku. Kau tak boleh mengingkarinya. Kau tahu, kan, ingatanku cukup bagus?” timpal Donghae yang membuat keduanya tertawa.

*****

Donghae baru saja pulang dari sekolahnya. Sebelum ia sempat memasuki cafe langganannya, ia melihat gadis itu berdiri didepan pintu cafe. Beberapa kali tangannya menyentuh gagang pintu itu namun beberapa kali ia mengurungkan niatnya. Donghae tersenyum lalu menghampiri gadis itu. “Akhirnya Eunhyuk menemukan gadis yang baik untuknya,” gumannya.

“Kau nona Lee Yeonhee?” tanya seseorang. Yeonhee menoleh dan mendapati seorang pria yang rasanya tak asing bagi Yeonhee.

“Aku Lee Donghae, teman Eunhyuk. Kita sudah bertemu kemarin,” jelasnya. Yeonhee mengangguk, ia ingat sekarang.

“Kau mencari Eunhyuk?” tanyanya. Yeonhee mengangguk sebagai jawaban.

“Kau tak menyerah? Apa kau mau dipermalukan seperti kemarin?” tanya Donghae.

Yeonhee tersenyum lirih. “Jujur saja, aku masih takut. Bahkan tubuhku masih gemetar jika mengingat peristiwa kemarin. Sebagian rasa percayaku padanya juga sudah menghilang, tapi entah mengapa ada bagian dari diriku yang menolak untuk menyerah,”

Donghae tersenyum mendengar perkataan itu. “Kurasa Eunhyuk akan sangat senang melihatmu datang,” ujar Donghae yang tak Yeonhee mengerti.

*****

“Eunhyuk,” panggil Donghae pada Eunhyuk yang saat ini sedang duduk di dekat meja bartender.

“Apa?” tanya Eunhyuk ketus.

Donghae tersenyum penuh arti. “Ada yang mencarimu,” ujarnya lalu melangkahkan kakiknya ke kanan satu langkah sehingga Yeonhee yang tertutupi tubuh Donghae tadi dapat dengan jelas dilihat oleh Eunhyuk.

“Lee…. Yeonhee?” gumam Eunhyuk entah pada siapa. Hanya itu yang bisa ia ucapkan untuk mengekspresikan keterkejutannya.

“Kau harus ingat janjimu, Eunhyuk,” bisik Donghae.

*****

“Untuk permulaan, kau hanya perlu duduk di kelas sampai jam pelajaran berakhir,” ujar Yeonhee pada Eunhyuk saat mereka sudah berdiri diambang pintu kelas mereka.

“Asal kau duduk disampingku,” balas Eunhyuk.

“Penglihatanku sangat buruk. Meski aku sudah menggunakan kacamata, aku tetap tak bisa melihat jika aku duduk dibelakang,”

“Aku juga tak bisa duduk di depan. Aku sangat tak menyukai sem,” ujar Eunhyuk. “Baiklah, kita duduk di tengah,” putus Eunhyuk.

“Tapi bangku tengah biasanya sudah ditempati,”

“Persoalan mudah,” ujar Eunhyuk. Ia menggenggam tangan Yeonhee.

“Apa perlu bergandengan tangan?” tanya Yeonhee heran. Eunhyuk mengangguk. “Aku gugup. Ini pertama kalinya aku akan mengikuti pelajaran dari jam pertama sampai terakhir,” jawabnya.

Yeonhee tertawa kecil. “Waeyo?” tanya Eunhyuk.

“Kau tidak seperti Eunhyuk yang selama ini kudengar. Aku tak tahu mana Eunhyuk yang sesungguhnya. Tapi aku lebih suka Eunhyuk yang seperti ini. Terasa hangat,” ujar Yeonhee jujur. Eunhyuk mencuri pandang Yeonhee dan tersenyum samar. Jantungnya kembali tidak normal.

“Kau juga tak seperti Yeonhee yang selama ini dibicarakan,” ujar Eunhyuk. Yeonhee menatapnya bingung. “Yeonhee yang ini lebih banyak tersenyum,” jelasnya.

“Yeonhee yang sesungguhnya adalah yang ini,” jawab Yeonhee sendiri. Eunhyuk mengangguk dan mengeratkan genggamannya lalu mengajak Yeonhee masuk kedalam kelas.

“Kalian berdua minggir,” perintah Eunhyuk pada kedua siswa yang duduk dibangku deretan tengah. Tanpa berani melawan, mereka segera menyingkir dari tempat itu.

“Mulai hari ini, kedua bangku ini adalah tempatku dan Yeonhee,” ujarnya yang membuat seisi kelas membelalak kaget melihat kenyataan itu. Terutama tangan Yeonhee yang digandeng erat oleh Euhyuk menjadi topik pembicaraan paling panas di sekolah hari itu. Meskipun Eunhyuk seorang bad boy, tak ada yang meragukan pesonanya. Nyaris semua gadis di sekolah itu menyukai Eunhyuk.

*****

“Dasar pembuat masalah! Kau dan ibumu sama saja!! Tak bisakah kalian tak membuat masalah untukku?!! Pergi saja kau dari rumah ini kalau hanya bisa membuatku susah!”

“Kenapa kau menyalahkanku?! Ini semua salahmu karena tak pernah bisa membimbing anakmu! Yang bisa kau lakukan hanya berselingkuh dengan kekasihmu! Kau hanya mencintai anak dari kekasihmu itu! Lee Hyukjae kita juga butuh kasih sayangmu!”

“Hentikan kalian berdua!” seru Eunhyuk sambil bangkit dari tempat duduknya. “Tanpa kau usir pun, aku memang sudah mau pergi dari rumah ini! Aku sudah tak tahan hidup bersama kalian berdua! Terserah kalian kalau mau bertengkar sampai saling melempar piring atau pisau sekalipun! Aku sudah tak perduli lagi! Jangan cari aku!”

Eunhyuk segera menuju ke kamarnya. Mengambil asal baju dari lemarinya dan memasukannya kedalam tas. Tak sampai 5 menit, Eunhyuk kembali ke ruang tamu hanya untuk mengambil kunci motor. Tak ada niat untuk berpamitan pada kedua orangtuanya.

“Baguslah! Pergi saja kau!” ujar ayahnya.

Eunhyuk mengumpat kesal namun jauh di lubuk hatinya ia sangat sedih. Meskipun keluarga mereka sangat kaya, tapi yang Eunhyuk inginkan adalah kasih, yang sayangnya tak pernah ia rasakan sejak ia kecil.

Namun betapa kagetnya Eunhyuk saat ia membuka pintu rumahnya yang ia dapati adalah Lee Yeonhee.

“Lee.. Yeonhee?” gumam Eunhyuk. “Sejak kapan kau disini? Kau mendengar semuanya?” tanya Eunhyuk yang Yeonhee jawab dengan senyum lirih.

“Mianhata, aku.. tidak sengaja,”

“Sudahlah, ini bukan urusanmu. Pulanglah,” ujar Eunhyuk lalu melewati Yeonhee begitu saja. Tidak, tidak, Eunhyuk tidak marah pada Yeonhee namun ia malu karena Yeonhee mendengar semua pertengkaran keluarganya tadi.

Langkah Eunhyuk terhenti saat ia merasakan ada tangan yang menarik kemejanya. Eunhyuk menoleh dan mendapati Yeonhee sudah menatapnya lirih. “Tolong jangan buat aku khawatir. Setidaknya beritahu aku kau akan tinggal dimana,” pintanya.

Eunhyuk menghela nafas. “Baiklah, ayo ikut,”

*****

“Kenapa mereka semua menatapku?” tanya Yeonhee sedikit takut. Eunhyuk tersenyum lalu menggenggam tangan Yeonhee. “Kau tak perlu takut. Mereka selalu seperti itu pada orang asing tapi setelah kau mengenalnya, kau akan tahu kebaikan mereka,” jelas Eunhyuk.

Kini mereka berada di salah satu cafe yang ada di Apgujeong. Rata-rata pengunjung cafe ini adalah kelompok berandalan SMA dari seluruh sekolah di Seoul.

“Donghae ah, malam ini dan beberapa hari ke depan aku menginap disini ya,” ujar Eunhyuk pada bartender yang ada di situ. Eunhyuk mengajak Yeonhee duduk di meja bartender itu.

“Kau harus membayar sewa. Arraseo?” ujar Donghae. “Hai Yeonhee,” sapa Donghae saat menyadari sosok Yeonhee disamping Eunhyuk.

“Annyeong,” sapa Yeonhee balik.

“Cafe ini milik paman Donghae. Kau lihat foto-foto yang terpajang disini? Semua hasil karyanya. Ia kabur dari rumahnya dan tinggal ditempat ini karena cita-citanya ditentang oleh orang tua,” jelas Eunhyuk.

Yeonhee terkejut dengan cerita itu namun ia tak tahu harus bersikap seperti apa. Yang ia lakukan hanya memandang Donghae lirih.

Donghae tersenyum manis pada Yeonhee. “Terima kasih karena kau bersimpati dengan kehidupanku, Yeonhee. Tapi aku tak membutuhkan hal itu karena masih banyak yang jauh lebih malang daripada aku. Mereka semua yang ada disini rata-rata memiliki latar belakang yang sama sepertiku ataupun Eunhyuk,” jelas Donghae.

“Sudah, sudah,” sela Eunhyuk. “Ada apa kau mencariku tadi?” tanya Eunhyuk.

“Ah, iya, aku nyaris lupa,” ujar Yeonhee sambil mengeluarkan beberapa buku tulis dari dalam tasnya. “Aku ingin memberikan ini padamu,”

“Untuk apa?”

“3 hari lagi kita ulangan harian. Jadi aku buat beberapa catatan ini agar kau bisa lebih mudah belajar,” jelas Yeonhee.

“Haruskah aku belajar?” tanya Eunhyuk setengah kesal.

“Eunhyuk, kau harus ingat janjimu saat di halte bus,” peringat Donghae yang membuat Eunhyuk menghela nafas panjang. Yeonhee hanya menatap mereka dengan bingung.

“Baiklah, aku akan belajar,” putus Eunhyuk yang membuat Yeonhee tersenyum gembira. Senyum yang sama seperti setahun yang lalu dan lagi-lagi senyum itu mampu membuat jantung Eunhyuk abnormal.

“Aku akan selalu menemanimu saat kau belajar,” ujar Yeonhee yang membuat Eunhyuk senang bukan main, tapi perasaan itu ia sembunyikan dalam hati. Belum saatnya Yeonhee mengetahui perasaannya.

“Baiklah, tapi kau harus memperbolehkanku untuk mengantar pulang setiap selesai belajar. Aku tak akan tega membiarkan kau naik bis malam-malam. Deal?”

“Deal,” jawab Yeonhee.

*****

“Yeonhee ternyata manis juga,” ujar Donghae pada Eunhyuk yang tertidur disampingnya.

Eunhyuk yang sedari tadi memunggungi Donghae kini memutar tubuhnya untuk dapat melihat wajah Donghae. “Apa maksudmu?” tanya Eunhyuk.

“Aku yakin kau tahu apa maksudku. Aku tertarik padanya,” jawab Donghae tanpa ragu yang langsung membuat Eunhyuk bangkit dari tidurnya dan menarik baju Donghae.

“Kau…” Eunhyuk geram tapi ia berusaha mengendalikan emosinya.

“Apa hakmu marah padaku? Kau bahkan bukan pacarnya,” timpal Donghae yang Eunhyuk setujui dalam hati.

“Sampai kapan kau akan memendam perasaanmu? Menunggu dirimu pantas untuknya? Sampai kapan itu? Kalau usahamu untuk mengejarnya hanya setengah-setengah, aku akan merebutnya tak perduli jika itu gadis yang sangat kau cintai,” ujar Donghae tegas.

“Lepaskan aku,” ujar Donghae sambil menepis tangan Eunhyuk. “Lebih baik kau segera tidur,” ujarnya.

*****

Seminggu setelahnya,

Hasil ulangan akan dibagi hari ini. Eunhyuk cukup nervous karena nilai yang akan ia peroleh kali ini akan menentukan segalanya termasuk hubungannya dengan Yeonhee. Ia sudah bertekad akan menyatakan perasaannya jika ia memperoleh nilai di atas 9.

“Lee Yeonhee,” panggil Sem lalu menyerahkan selembaran dengan nilai dipojok kirinya. Tak perlu dipertanyakan lagi nilai Lee Yeonhee. Ia memperoleh 100.

“Ibumu saat mengandungmu makan apa? Bagaimana otakmu bisa sepintar itu?” tanya Eunhyuk antara penasaran dan takjub.

Semua nama murid sekelas sudah dipanggil kecuali Eunhyuk.

“Lembar jawaban saya mana sem?” tanya Eunhyuk.

Sem itu mendengus. “Kau kira aku mau percaya pada nilai 93 yang ada dilembar  yang kau kerjakan itu? Sudah kubuang kertasnya. Aku tak perlu nilai dari hasil contekan seperti itu,” ujar Sem itu.

Tangan Eunhyuk sudah mengepal ingin sekali memukul sem itu namun langkahnya terhenti saat ia melihat Yeonhee sudah maju lebih dulu menghadap guru itu.

“Dimana anda membuangnya?” tanya Yeonhee.

“Kenapa Yeonhee? Kau jangan memperdulikannya. Anak baik sepertimu jangan bergaul dengan dia,” ujar Sem itu.

“Dimana anda membuangnya?”

“Lee Yeonhee, sebaiknya kau..”

“DIMANA ANDA MEMBUANGNYA?!” teriak Yeonhee kesal. Wajahnya memerah dan air mata sudah mengalir dari matanya. Sem tercengang melihat reaksi Yeonhee, ia tak menyangka anak teladan yang selalu ia puji selama ini berteriak padanya seperti ini.

“Di-di-di-di sampah ruang guru,” jawab Sem.

Yeonhee hendak keluar dari tempat itu namun sem memanggilnya. “LEE YEONHEE! Kalau kau berani keluar, aku akan mencoret gelar murid teladanmu!” seru Sem.

Yeonhee tersenyum sinis. “Coret saja. Lagipula aku tak butuh gelar yang diberikan oleh guru yang bahkan tak mempercayai muridnya sendiri,” kata Yeonhee lalu melangkah pergi meninggalkan kelas itu.

Eunhyuk yang melihat semua itu dari tempat duduknya langsung menyusul Yeonhee. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya melihat gadis yang ia sukai menangis untuk dirinya, bahkan ia tega mengorbankan gelar yang selama ini ia miliki hanya untuk membela Eunhyuk. Eunhyuk tak bisa menyembunyikan keharuannya saat melihat Yeonhee rela mengobrak-abrik sampah kering hanya untuk mencari kertas ulangan Eunhyuk.

“Ketemu!” ujar Yeonhee pada Eunhyuk. Yeonhee tersenyum gembira pada Eunhyuk sambil memamerkan kertas ulangan Eunhyuk yang ia temukan.

Eunhyuk terlalu gembira melihat semua itu. Ia tak bisa menahan perasaannya lebih lama lagi. Eunhyuk langsung menyambar Yeonhee dengan pelukan. Pelukan yang sangat erat.

“E-e-eunhyuk,” gumam Yeonhee saking terkejut. “Aku bau sampah,” katanya.

Eunhyuk melepas Yeonhee dari pelukannya. Namun Eunhyuk malah mencium bibir Yeonhee. Yeonhee terkesiap namun ia tak melawan.

“Saranghae,” bisik Eunhyuk tepat ditelinga Yeonhee.

*****

“Yeonhee, apa jawabanmu?” tanya Eunhyuk dalam perjalanan pulang sekolahnya. Jarak sekolah dan rumah Yeonhee yang tak terlalu jauh membuat mereka memilih untuk berjalan kaki saja.

Langkah mereka terhenti. Yeonhee menatap lekat manik mata Yeonhee. “Aku menyukaimu. Tapi rasa suka masih belum cukup untukku menerima perasaanmu,”

“Lalu kau mau aku bagaimana?” tanya Eunhyuk tak mengerti.

“Aku butuh pembuktian,”

“Caranya?”

*****

“Jadi, kau yang bernama Lee Hyukjae?” tanya pria paruh baya yang duduk didepan Eunhyuk.

“Nee, ajjushi,” jawab Eunhyuk. Suaranya bergetar karena ia sangat gugup sekarang. Ia tak menyangka Yeonhee akan membawanya bertemu dengan ayah Yeonhee.

Paman itu menatap Eunhyuk dari atas kebawah lalu Ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju jendela yang ada diruangan itu. “Selama Yeonhee hidup didunia ini, baru kau pria yang Yeonhee ceritakan padaku,” katanya sambil menatap langit yang ia pandang dari jendela tadi.

“Dari tatapan matanya, aku bisa melihat bahwa Yeonhee sangat menyukaimu. Kau adalah pria pertama yang dapat menaklukan hati anakku,” lanjut ayah Yeonhee. Eunhyuk yang mendengar itu tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.

“Karena itulah, aku tak bisa mengijinkanmu berpacaran dengan Yeonhee,” tandas ayah Yeonhee. Hati Eunhyuk mencelos. Wajahnya pucat pasi.

“Wae?” tanya Eunhyuk tak mengerti.

“Yeonhee menceritakan semuanya tentangmu sampai rasanya aku jadi begitu mengenal dirimu. Aku tahu seperti apa kau akan menghabiskan masa remajamu kelak. Aku tahu, karena aku sama sepertimu dulu dan hal itu membuat orang yang kusayangi kecewa. Aku tak mau kau mengecewakan Yeonhee. Aku takut kau menyakitinya. Dia satu-satunya milikku sejak ibunya meninggal,” ujar ayahnya.

“Aku harap kau menerima keputusanku,” kata ayah Yeonhee.

Tangan Eunhyuk mengepal. Ia kesal mendengar semua itu. Ia kesal pada ayah Yeonhee tapi ia lebih kesal pada dirinya sendiri. Ia sadar bahwa yang dikatakan ayah Yeonhee sangat benar. Eunhyuk mengerti dengan dirinya saat ini ia tak akan bisa membuat Yeonhee bahagia.

“Berikan aku kesempatan,” pinta Eunhyuk. “Berikan aku kesempatan untuk membuktikan padamu bahwa aku bisa berubah demi Yeonhee,”

*****

“Eunhyuk shi, kau mimisan lagi,” ujar Yeonhee sambil mengusap darah yang mengalir dari hidung Eunhyuk. Eunhyuk menengadahkan kepalanya untuk menghambat darah itu.

“Apa kau tak istirahat dulu?” tanya Yeonhee. Eunhyuk menggeleng, “Aku masih bisa. Kalau aku lelah, aku pasti akan istirahat. Jangan khawatir, Yeonhee,”

Yeonhee tersenyum mendengarnya. “Baiklah kalau begitu. Eunhyuk shi, hari ini kita kerjakan soal-soal yang sudah kulabeli, ya,” ujar Yeonhee setelah meletakkan segunung buku di meja belajar mereka. Eunhyuk mengerjap memandang buku-buku soal itu.

“Sebanyak itu? Kau bercanda, kan, Yeonhee?” tanya Eunhyuk tak percaya. Yeonhee tersenyum sebagai jawaban.

Eunhyuk hendak mengomel lebih panjang namun ia ingat tekadnya. Ia menghela nafas panjang untuk menstabilkan emosinya. “Baiklah, aku akan menghabiskan semuanya malam ini! Kurasa, aku akan menginap di rumahmu malam ini,” ujar Eunhyuk.

“Aku akan menemanimu,” sahut Yeonhee. Eunhyuk tersenyum senang dan kembali mengerjakan soal-soalnya.

“Lalu… Ini,” Yeonhee meletakan beberapa coklat didepan Eunhyuk.

“Untuk?” tanya Eunhyuk tak mengerti.

“Sebagai pengganti rokok,” ujar Yeonhee.

“Bagaimana kau tahu?”

“2 hari ini tubuhmu tak berbau rokok. Aku yakin, rasanya pasti sangat sulit. Makanya, kalau kau mau ingin merokok, makan saja coklat ini,” jelas Yeonhee. Eunhyuk menerimanya dengan senang hati.

“Gomawo, Yeonhee,” ujarnya.

Yeonhee bangkit dari tempat duduknya lalu mencium pipi Eunhyuk. “Terima kasih kau sudah mau bersusah payah seperti ini demi aku,” ujar Yeonhee.

Eunhyuk memegang pipi yang Yeonhee cium tadi. Rasanya panas. Wajah Eunhyuk sudah memerah saat ini. Ini pertama kalinya Yeonhee melakukan aksi lebih dulu. Ada rasa senang sekaligus malu dihati Eunhyuk.

“A.. aku tak melakukannya untukmu,” sela Eunhyuk sampil mengalihkan pandangannya dari Yeonhee.

Yeonhee tersenyum. “Aku suka Eunhyuk yang malu-malu seperti ini,” katanya dan hal itu membuat Eunhyuk makin tak bisa mengendalikan dirinya.

“Yaa, Yeonhee ah, kau mau menemaniku atau mengangguku sebenarnya? Aku tak bisa berkonsentrasi karena jantungku berdetak terlalu cepat!” seru Eunhyuk.

Yeonhee tertawa kecil, “Mianheyo,”

“Eunhyuk shi,” panggil Yeonhee lagi.

“Apalagi, Yeonhee?”

“Saranghae,”

*****

“Ayo masuk, Eunhyuk. Ayah menunggumu,” ujar Yeonhee pada Eunhyuk yang sedari tadi sudah menunggu di teras. Ia menarik Eunhyuk masuk dan menggenggam tangannya.

“Kenapa tanganmu sangat dingin?” tanya Yeonhee pada Eunhyuk. Eunhyuk tak menjawab, ia malah menggumankan sesuatu.

Yeonhee bingung melihat tingkah Eunhyuk. “Kau sedang apa?” tanya Yeonhee.

“Berlatih,” jawabnya singkat lalu kembali berguman.

“Berlatih? Untuk?” Yeonhee belum mengerti.

“Untuk melamarmu. Jujur saja, ayahmu agak menakutkan,” balas Eunhyuk.

Yeonhee tertawa kecil. “Katakan saja, ‘Aku sangat mencintai Yeonhee. Aku tak bisa hidup tanpanya,’”

Eunhyuk menghela nafas panjang. Ia tak pernah segugup ini sebelumnya. “It’s so frustating,” guman Eunhyuk.

Yeonhee tersenyum lalu mencium sekilas bibir Eunhyuk. Eunhyuk mengerjap-ngerjap saking kagetnya. “Aku selalu bersamamu. Tenang saja ya, Eunhyukie,”

Eunhyuk tersenyum lalu mencium kening Yeonhee. “Kurasa aku harus berterima kasih pada ayah dan ibumu,”

“Waeyo?”

“Karena mereka sudah melahirkan Lee Yeonhee untuk Lee Hyukjae. Saranghae,”

END

Thank you ^^