Annyeonghaseyo onniedul, chingudul, dongsaengdul! Esther back with special ff for Kak Sela aka Song Hyejin Onnie hehehe ^^ this is just ficlet but hope you still like it. your comments are love for me so leave your comments here chingu ^^ thank you so much for your love! ^^

and… HAPPY BIRTHDAY KAK SELA CAYAANG! Ini hadiah dari dek esther kak kekekeke hope you like it ya kak.🙂 i’m sorry for just made ficlet ff kak, ga sempet kak kalo bikin panjang2😦 ^^ wish the best buat kak sela selalu😀 semoga makin sukses dan makin semuanya ya kak selaa.. always love youuu ƪ(♥ɜ♥)ʃ

with love, dek terong tercinta ♥ ^^

Main Cast: Song Hyejin, Cho Kyuhyun

Dedicated to : KyuJin Couple

Written by esterong

******

Persahabatan itu indah. Tapi saat rasa cinta ikut didalamnya, keindahan itu mulai pudar. Bimbang diantara dua pilihan. Menyembunyikan rasa itu agar ikatan ini tetap terjaga? Atau jujur padanya tentang rasa dihati dengan resiko kehilangan persahabatan ini? Dan saat ini mereka terjebak diantaranya.

******

Hyejin

Hari-hariku selama ini begitu menyenangkan. Meski ia tak menjadi milikku, dan aku tahu sampai kapan pun akan begitu, aku sudah puas dengan kehadirannya didekatku.

“Hey, Hyejin! Aku rasa aku jatuh cinta,” katanya padaku. Jantungku berdetak sangat kencang. Berderu antara harap dan khawatir. Berharap itu aku dan khawatir kalau itu bukan aku. Kebahagiaanku mulai kabur. Hatiku cemas bila semua ini akan sirna.

Aku tersenyum padanya, seperti biasa. Terdiam, menantinya melanjutkan perkataannya, seperti biasa. Ini yang biasa dilakukan oleh seorang sahabat, kan?

“Hamun, teman sekelasmu. Kurasa ini cinta pada pandangan pertama,” ujarnya dengan wajah berseri. Detik-detik setelah ia mengakui perasaannya adalah saat terberat yang harus kuhadapi.

Apa yang bisa kulakukan? Mencegahnya dan mengatakan rasa yang sesungguhnya ada dihati ini dengan resiko aku akan kehilangan senyum manis itu? Atau aku tetap tersenyum dan mendukungnya agar ia tetap disisiku?

“Aku minta bantuanmu, Hyejin. Tolong carikan info tentang dia. Dia, kan, sekelas denganmu,” pintanya.

Tak perlu waktu lama, bibirku mengembang sendiri membentuk senyuman. Ternyata, tubuhku secara otomatis memilih pilihan kedua. Tak heran, karena senyum itu begitu berharga untukku. Aku tak mampu kehilangan senyum itu.

“Baiklah. Tapi jasaku tidak gratis. Arraseo?” ujarku. Detik berikutnya ia memelukku. Pelukan yang sangat erat. Tapi aku tahu bahwa ada jurang pembatas yang tak akan pernah bisa kulewati. Ini pelukan sahabat dan sampai kapan pun hal itu tak akan berganti. Aku hanya bisa berdiri di tepi jurang, tak punya hak untuk mencoba menyeberang kesana, meraihnya.

******

“Hyejin, maaf. Hari ini aku tak bisa menjemputmu. Aku mau menjemput Hamun,” katanya tadi pagi.

“Hyejin, maaf. Hari ini aku tak bisa pulang bersamamu. Aku mau kencan dengan Hamun,” katanya tadi sepulang sekolah.

“Hyejin, maaf. Aku tak bisa pulang jam 7 nanti. Hamun menyiapkan pesta ulang tahun untukku ternyata. Maaf tahun ini tak bisa merayakannya denganmu,” itu pesan pertama darinya sejak ia berpacaran dengan Hamun.

Jantungku berdebar sangat kencang. Ini bukan debaran asmara. Tapi hati ini sakit. Hamun, Hamun, Hamun, hanya Hamun yang ia bicarakan. Saat tidak bertemu denganku, yang ia bicarakan Hamun. Saat kami bertemu, ia masih saja membicarakan Hamun. Apa kau tak tahu bagaimana sakitnya menyadari senyummu itu bukan untukku? Ah, iya, kau tak tahu. Kau tak akan pernah tahu perasaanku.

Aku merindukannya. Aku merindukan sosoknya. Aku merindukan kehadirannya. Aku merindukan senyumnya. Aku merindukanmu, Cho Kyuhyun.

Kupikir dengan menolongnya saat itu, aku masih memiliki kesempatan untuk berada didekatnya. Menikmati senyumnya. Namun kini rasanya ia seperti ilusi. Seperti maya yang tak pernah bisa kusentuh padahal aku dan dia begitu dekat.

Aku menyeka air mataku. Sudah terlalu lelah menangis untuk hari ini. Sudah tak ada lagi tisue untuk menampung air mata ini. “Kau menyebalkan Cho Kyuhyun,” runtukku. Tapi tetap saja tak bisa menghapus rasa yang begitu dalam ini.

“Is there a spell to make you fall in love with me?”

******

Hari berlalu, bulan berganti. Ia semakin jauh, bahkan untuk memandangnya saja sangat sulit.

“Jadi.. tahun ini aku tak merayakan ulang tahunku dengan Kyuhyun?” tanyaku pada jam yang kutatap. Kurang 10 menit lagi, 4 Febuari akan berlalu begitu saja tanpa kenangan.

Aku sedih. Ini begitu menyakitkan untukku. Sejak ia berpacaran dengan gadis itu, ia tak punya waktu untukku. Ia lupa padaku, pada janji-janjinya dulu.

Saat aku hendak menutup korden kamarku, tiba-tiba muncul sebuah tangan dibatas balkonku. Aku segera menghampiri dan mendapati sosok itu. Sosok yang tak kusangka kehadirannya, sosok yang kusangsikan keloyalitasannya, sosok yang aku rindukan, dirimu, Cho Kyuhyun.

“Happy Birthday Hyejin!” serunya begitu ia mendarat dengan selamat dibalkon kamarku. Ia membuka bungkusan yang ia bawa yang memamerkan sebuah tart kecil didalamnya.

“Aku tidak telat, kan?” ujarnya dengan senyum manis itu.

Dadaku bergemuruh. Jantungku berdebar. Aku sangat gembira sampai semua kalimat yang mau aku ucapkan tertahan ditenggorokanku. Tanpa kusadari, air mataku mengalir dengan sendirinya. Berulang kali aku menyekanya, namun yang ada tangis itu menderas.

Ia menggenggam tanganku. Ia menarikku dalam pelukannya. Tangannya sangat hangat, masih seperti dulu. Ia mengelus kepalaku, memberi ketenangan. “Maafkan aku, aku terlalu sibuk pada Hamun sampai aku melupakan sahabat terbaikku, maafkan aku,” ujarnya.

Hatiku sakit mendengar kata ‘sahabat’ itu. Namun kehadirannya saat ini sudah mengobati semuanya. Dan ia kembali membuatku makin mencintainya disaat aku seharusnya melupakannya.

******

Hari berlalu, bulan terus berganti. Ia masih pacar Hamun dan aku masih sahabatnya. Ini sangat menyedihkan. Andai aku tahu cara untuk melupakannya.

Malam itu, ia datang ke rumahku. Wajahnya lusuh. Sama menyedihkannya seperti aku saat tahu cintaku bertepuk sebelah tangan.“Aku putus. Katanya, ia mencintai pria lain,” ujarnya begitu aku tanya apa yang terjadi padanya.

Ia memelukku, meminta kekuatan dariku. Aku terdiam, tak mampu menghiburnya dengan kata-kata. Aku mengelus kepalanya, menepuk punggungnya.

Aku merasa sangat berdosa saat ini. Sahabat macam apa aku ini? Kau sedih, kau patah hati, namun aku bahagia. Aku bahagia karena kau akan kembali padaku. Kembali menjadi sahabatku. Dan kau ada disampingku.

Kesedihan itu menyerangnya selama beberapa minggu. Ia tak pernah tersenyum. Ia seperti kehilangan semangat hidup. Ia seperti bukan Cho Kyuhyun. Ini menyakiti hatiku juga. Aku tak mau ia seperti ini.

“Aku tak suka melihatmu seperti ini. Gadis di Seoul bukan hanya dia, Kyuhyun,” kataku dibatas akhir kesabaranku.

“Apa yang bisa kulakukan? Aku mencintainya,” katanya.

“Buat ia kembali padamu. Buat ia menyesal sudah melepasmu begitu saja,” kataku.

“Caranya?” ia tak mengerti.

Saat itu, aku mengabaikan rasa sakit didadaku. Tapi apapun akan aku lakukan untuk melihat senyum itu bahkan jika perlu mengorbankan kebahagiaanku, akan kulakukan itu untuknya.

******

“Jeongmal gomawo Hyejin, kau sudah mau pura-pura menjadi pacarku 3 bulan ini. Akhirnya, tadi ia menelponku, katanya ia cemburu,” katanya dengan senyum indah itu.

Aku mengepalkan tanganku. Tak terima perbuatan gadis itu. Apa haknya untuk cemburu? Bukankah ia yang melepaskan pria ini? Namun aku diam. Aku tak mau merusak kebahagiaannya.

“Sama-sama, Kyu. Itu gunanya teman, kan?” ujarku.

Otakku menolak untuk menipu diri sendiri, tapi hati ini menolak untuk melukai hatinya. Andai saja kau bukan pria yang baik, akan mudah bagiku untuk melupakanmu. Sayangnya aku terlalu mengenal kebaikanmu.

******

Kyuhyun

Aku Kyuhyun. Gadis yang tertidur di meja belajarku ini adalah Song Hyejin, sahabatku. Ah. Rasanya sakit. Dadaku sakit saat kata itu terlintas. Entah sejak kapan, kata ‘sahabat’ kembali terasa menyakitkan untukku. Membuatku teringat akan masa yang lalu saat kata itu menjadi jurang yang tak bisa kulalui.

Song Hyejin, gadis yang pernah sangat kucintai namun tak pernah kubiarkan ia tahu perasaan ini. Asal kau tahu, dulu, aku sangat mencintaimu. Aku tahu perasaanku akan menyusahkanmu karena kita adalah sepasang sahabat dan sampai kapan pun akan demikian. Hamun adalah pelarianku dan ternyata itu berhasil membuatku lupa akan perasaanku padamu untuk sesaat. Aku benar-benar mencintai Hamun saat itu.

Aku menatap wajahnya. Tanganku tak bisa kularang untuk tidak mengelus kepala gadis itu. Aku ingin menyentuhnya. Merasakan kehangatannya.

Aku menyesali keputusanku. Andai saja aku tak menyetujui idenya untuk membuat Hamun menyesal, aku pasti tak akan kembali terlibat pada problematika cinta yang lebih rumit ini. Aku kembali mencintai sahabatku sendiri.

3 bulan bersamanya membuatku kembali tersadar kalau ia gadis yang begitu baik. Ia pantas untuk dicintai.

Ia seolah memberi harapan padaku. Saat bersamaku, ia terlihat sangat mencintaiku. Bukan sebagai sahabat, tapi kekasih. Sorot matanya, ketenangannya, ketulusannya, kebaikannya, aku terhanyut. Semua itu akhirnya membuat aku luluh bahkan tanpa aku menyadarinya. Membuat perasaan itu kembali tanpa bisa kucegah.

Tahu-tahu saja, aku sudah tak bisa lagi menganggapmu sahabat, karena aku kembali mencintaimu, Hyejin.

Kini tak ada lagi niatku untuk kembali pada Hamun. Permainan ini aku lanjutkan, karena aku ingin lebih lama berada sedekat ini denganmu. Aku masih ingin menjaga status kita saat ini, in relationship. Meskipun itu hanya ilusi.

Aku mengangkat Hyejin ketempat tidurku agar ia merasa lebih nyaman. Aku juga membereskan buku-bukunya. Tanpa sengaja aku melihat coretan dibuku catatannya. “2013 Wish: Bolehkan status sahabat ini berganti?”

Dadaku bergemuruh. Antara harap dan cemas. Aku tak bodoh, aku bisa tahu maksud kalimat itu. Siapa lagi sahabatmu selain aku? Bolehkah aku berharap? Bolehkan aku mempercayainya kalau kau menyukaiku juga, Hyejin-nie? Karena kalau memang demikian, kali ini aku tak akan menyembunyikannya lagi. Akan kuutarakan padamu apa yag aku rasakan selama ini.

******

“Aku tak bisa kembali padamu. Aku sudah tahu gadis mana yang lebih layak menerima perasaanku,” kataku saat Hamun mengajakku kembali menjadi kekasihnya. Ia sudah tak menjadi bagian dari hidupku. Yang kuuingankan saat ini adalah kau, Hyejin.

*****

“Bagaimana? Kau sudah berpacaran lagi dengan Hamun?” tanyanya dengan wajah yang tak pernah menonjolkan emosinya. Hanya ada senyum manis itu. Bodoh sekali aku. Kini aku baru menyadari kalau senyum itu terlihat sangat menyedihkan. Senyum yang selalu muncul saat kami membicarakan tentang Hamun. 

Aku melihat matanya yang bengkak. Bibirku tersenyum. Apa dia menangis untukku? Ampuni aku Hyejin, karena aku merasa gembira melihatmu sedih karenaku.

Aku tak menahan diriku lagi. Aku tahu perempuan memerlukan ketegasan. Saat ini akan kunyatakan padanya perasaanku yang sesungguhnya. Apapun hasilnya, aku ingin dia tahu kalau aku mencintainya. Sejak dulu.

“Aku ingin berhenti menjadi sahabatmu,” kataku. Aku melihat mata itu membesar. Shock hebat karena kalimatku. Air mata sudah menumpuk di pelupuknya.

“Wa-waeyo?” tanyanya tak percaya. Suara begitu menyakitkan.

“Aku ingin sesuatu yang lebih dari itu,” kataku. Ia terdiam menanti kelanjutannya.

“Aku ingin kau menjadi pacarku. Pacar sesungguhnya,”

******

Hyejin

Air mataku mengalir. Aku sedih sekaligus senang. Senang karena kenyataan ini begitu indah dan sedih karena aku takut ini semua hanya mimpi.

“I-ini tak mungkin,” sangkalku.

Ia menatapku. Sorot mata yang teduh itu menenangkanku. “Apa ada kebohongan dimataku?” tanyanya dan aku tak menemukan kebohongan itu.

“Sejak… kapan? Kau mencintai Hamun, kan?” tanyaku masih tak percaya.

“Akan kuceritakan kalau kau menerimaku. Jadi?” tanyanya menunggu jawaban dariku.

Perlukah aku berpikir dan membiarkan waktu mengikis moment terindah ini? Tidak perlu. Tanpa harus berpikir, aku sudah tahu jawabannya.

“Aku juga sudah bosan menjadi sahabatmu,” kataku.

Ia tersenyum dan menarikku dalam dekapannya. “Maafkan aku karena butuh waktu lama untuk menemukanmu, padahal kau sudah begitu dekat denganku,”

Aku mengangkat wajahku dan menatap matanya. “Dari awal aku sudah berjanji. Kalau kamu datang, aku berjanji tidak akan bertanya, hati mana saja yang sudah kau lewati untuk sampai disini,”

Ia tersenyum. Senyum yang tercetak khusus untukku.

“Saranghae, Hyejin,”katanya. Sebuah kata terindah untuk mengakhiri persahabatan ini dan mengawalinya dengan kisah yang baru sebagai sepasang.. kekasih? Aku jadi malu.

“Jadi sebenarnya sejak kapan kau mencintaiku, Kyu?” tanyaku. Ia tersenyum sambil menatapku lembut.

“Aku akan mengaku, tapi kau tak boleh marah,” katanya. Aku menatapnya bingung.

“Saat kita berumur 15 tahun. Ayah ibumu pergi dan kau dititipkan dirumahku. Kau minta untuk tidur denganku, kan?” ujarnya. Aku mengangguk. Aku ingat hal itu.

“Saat kau tidur disampingku entah kenapa jantungku berdebar sangat kencang. Kau terlihat sangat cantik saat itu. Dan tanpa kusadari… Aku menciummu,” katanya malu-malu. “Mungkin aku telah mencintaimu dari sebelumnya namun ciuman itu yang menyadarkanku akan perasaan ini. Saat itu aku sangat menyesal kau menjadi sahabat terbaikku,”

Hatiku berbunga. Pengakuannya membuatku begitu gembira. “Jadi, kau mencuri my first kiss?” tanyaku.

Kepalanya tertunduk. Merasa bersalah. “Kau sudah berjanji untuk tidak marah, kan?” tanyanya.

“Aku tidak marah. Hanya saja, kau juga harus dihukum,” ujarku.

“Mwo?” pekiknya. Saat itu, aku memberanikan diriku untuk mengecup bibirnya. Ia menatapku dengan mata yang mengerjap.

“Kita impas sekarang,” ujarku. Ia menatapku tak percaya lalu tertawa terbahak-bahak. Ia mengelus kepalaku dan menariku dalam dekapannya. Kehangatan yang sama namun perasaan ini sangat berbeda. Ini bukan lagi pelukan untuk sahabat.

“Jeongmal saranghaeyo, Song Hyejin,”

“Saranghae, Kyuhyun,” kataku. Kalimat yang tersembunyi sekian lama kini dengan berani kuutarakan. Dulu, aku pikir kalimat ini akan membuatnya susah. Namun mulai kini aku tak akan ragu untuk mengatakannya padamu. Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun, My Pal and Amour. I love you.

END.

SAENGIL CHUKAE, HYEJIN ONNIE ^^ SARANGHAE ♥