Annyeonghaseyooooo!
Kita bertemu lagi.🙂
Sebelumnya, aku mau minta maaf karena udah lama gak produktif. Membiarkan blog ini tidak ada ff cukup lama. Jeongmal mianheee.

Nah sekarang aku bawa ff lagi! Gak bagus2 amat tp cukup enak dibaca. Hihihihi. Semoga pada suka yaaa.. Enjoy! Jangan lupa comment. :*

******

“When two people relate to each other authentically and humanly, God is the electricity that surges between them.” – Martin Buber.

—-

Hyejin menatap kue ulang tahunnya, bernyanyi pelan sambil diam-diam bertepuk tangan seirama nyanyiannya. “Semoga tahun depan aku tidak lagi merayakan ulang tahun sendirian. Saengilchukkahamnida, Song Hyejin,” ucap Hyejin lalu meniup lilin yang menyala di atas kuenya.

“Boleh nyalakan lagi lilinnya?” Tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul di hadapan Hyejin. Hyejin menatap laki-laki itu dengan heran dan ternyata laki-laki itu cukup cepat tanggap. “Aku ulang tahun kemarin tapi belum sempat merayakannya. Boleh kau nyalakan lagi lilinnya?” Hyejin pun menyalakan lagi lilin ulang tahunnya.Laki-laki itu menatap kue ulang tahun Hyejin beserta lilinnya yang menyala. Mulutnya bernyanyi pelan diiringi tepuk tangan ringan seirama nyanyiannya. “Terima kasih aku tidak merayakan ulang tahunku sendirian. Saengilchukkae, Cho Kyuhyun,” ucap laki-laki itu kemudian meniup lilinnya. Kyuhyun memandang Hyejin dengan penuh terima kasih. “Aku nyaris 10 kali merayakan ulang tahunku sendirian. Berkat kau, cukup 9 kali. Kamsahamnida, Song Hyejin-ssi,” ucap Kyuhyun pada Hyejin.

Hyejin mengerutkan keningnya. “Bagaimana kau tahu namaku?” Tanya Hyejin.

“Aku mendengarnya saat kau mengucapkan selamat ulang tahun untuk dirimu sendiri,” jawab Kyuhyun. “Boleh aku potong kuenya?”

“Silahkan.” Hyejin menyerahkan pisau roti kepada Kyuhyun yang langsung memotong kue tersebut menjadi dua bagian, untuk Hyejin dan dirinya sendiri. “Terima kasih,” ucap Hyejin saat menerima kue bagiannya.

“Hari ini ulang tahunmu? Ini ulang tahunmu yang keberapa?” Tanya Kyuhyun sambil memasukkan sepotong kecil kue ke dalam mulutnya.

“5 menit yang lalu aku tepat berumur 22 tahun. Kau?” Balas Hyejin sambil melakukan hal yang persis sama seperti yang sedang Kyuhyun lakukan.

“25. Aku lebih tua darimu, jadi kau harus memanggilku Oppa,” sahut Kyuhyun kemudian tertawa. “Apa ini kali pertama kau merayakan ulang tahun sendirian?”

Hyejin menganggukkan kepalanya. “Aku baru saja pindah kesini minggu lalu. Biasanya aku merayakan dengan orang tua dan teman-temanku tapi sekarang mereka jauh sekali,” kata Hyejin dengan sedih.

Kyuhyun menepuk-nepuk bahu Hyejin sambil memberikan senyumannya untuk menenangkan. “Awalnya memang berat tapi lama-lama kau akan terbiasa. Hanya saja, jangan terlalu lama,” ujar Kyuhyun. “Kau kenapa pindah kesini?”

“Well, urusan pekerjaan. Kau sendiri?”

“Aku sudah 10 tahun tinggal di kota ini. Sejak aku masuk kuliah sampai sekarang terjebak di sini.”

“Kau tinggal dimana?” Tanya Hyejin.

“YLA. Young Landmark Apartment, lantai 2, kamar nomor 3,” jawab Kyuhyun.

Mata Hyejin seketika membelalak mendengar jawaban Kyuhyun. “What a coincidence!! Extreme coincidence!” Seru Hyejin antara takjub, lucu dan tidak percaya. “Aku juga tinggal di sana. Aku di kamar nomor 4. Kebetulan sekali kan?”

Kyuhyun tertawa. “Astaga! Hari ini aku baru kembali dari tugas di Hongkong. Aku melihat kamar sebelahku sudah memiliki kehidupan. Ternyata tetangga baruku itu kau. Ulang tahun kita berurutan, kamar kita bersebelahan. Aku rasa kita bisa menjadi teman baik. Friends?” Kyuhyun menyodorkan tangannya ke hadapan Hyejin.

Dengan senang hati, Hyejin menyambut tangan Kyuhyun. “Friends. Now, can we go home? Aku sudah sangat kenyang dan tampaknya besok harus bangun pagi untuk berangkat ke kantor,” kata Hyejin.

“With my pleasure. Terima kasih banyak atas perayaan ulang tahunnya.”

“Ulang tahun kita.”

++++

Hyejin mengunci pintu apartemennya dan bertemu Kyuhyun dengan pakaian yang jauh lebih rapi dari yang ia jumpai semalam. “Mau berangkat kerja?” Tanya Hyejin.

“Yeah begitulah, aku harus segera menyampaikan laporan dinasku. Kau juga?” Hyejin menjawabnya dengan sebuah anggukan kepala. “Kantormu dimana? Kalau searah, kita bareng saja.”

“123 SBC, Independent Tower. Apa itu searah?”

Kyuhyun tertawa terbahak-bahak begitu mendengar jawaban Hyejin.

“Wae? Apa jangan-jangan kita satu kantor?” Hyejin mencoba menebak satu kebetulan lagi di antara mereka.

“Secara teknis sih tidak. Di 123 SBC itu kan ada beberapa tower. Aku di Central Tower. Hahahahaha. Ayo kita berangkat.”

Hyejin tetap berdiri di tempatnya, memandang Kyuhyun dengan takjub. Banyak sekali kesamaan antara mereka berdua (okay, nyaris sama). Masih sambil tertawa, Kyuhyun menarik tangan Hyejin untuk ikut bersamanya. “Tenang. Aku tidak akan meminta biaya untuk teman. We’re friends, aren’t we?”

++++

Hye : Kyu, apa kau sibuk?
Kyu : Nope. Wae?
Hye : Keluar yuk. Jalan. Aku bosan sekali di kamar ini. Is it okay?
Kyu : Let’s goooo!! Aku juga sudah muak. Give me 5 minutes, okay?

Hyejin memastikan dompet dan tab telah masuk ke dalam tas sebelum ia keluar dari kamar. Smartphone-nya terpegang erat di tangannya.

Hye : Ayo! Cepat! Aku sudah di depan kamarmu!

Tidak sampai 30 detik, Kyuhyun sudah keluar dari kamarnya. “Mau kemana?” Tanyanya.

“Harusnya yang 10 tahun yang mengajak 1 bulan kemana-mana. Yang 1 bulan ini hanya tahu apartemen, kantor, dan mall di bawah,” jawab Hyejin.

Kyuhyun tertawa. “Maksudku, kau mau ngapain? Makan? Nonton?”

“Boleh. Asal bukan di apartemen atau kantor. Aku bosan sekali, Kyu.”

“Baiklah. Yang pertama sekarang, mari kita makan. Aku lapaaaaar sekali! Kajja!” Kyuhyun mengajak Hyejin ke restoran tidak jauh dari apartemen mereka untuk makan samgyupsal.

“Kenyaaaaang!” Seru Kyuhyun dan Hyejin bersamaan begitu mereka selesai makan. “Enaaaak!”

“Tentu saja. Seleraku tidak pernah salah,” kata Kyuhyun memuji dirinya sendiri. “Kita harus sering-sering makan di sini. Tapi…”

“Tapi apa?” Tanya Hyejin.

“Tapi kau yang bayar. Makanmu banyaaak sekali, Song Hyejin-ssi. Lain kali kau traktir aku,” jawab Kyuhyun.

Hyejin tertawa lebar mendengarnya. “Mianhee. Besok-besok aku yang traktir kau makan. Tenang saja, bos!” Sahut Hyejin. “Sekarang kita kemana?”

“Sebentar.” Kyuhyun pergi tidak sampai 3 menit dan kembali dengan membawa 2 botol teh hangat untuk Hyejin dan dirinya sendiri. “Kita jalan keliling saja. Semoga satu botol ini cukup.”

Hyejin dan Kyuhyun mulai berjalan menyusuri jalan yang memang menjadi pusat kuliner sekaligus perbelanjaan. Sesekali mereka memasuki toko untuk membeli cemilan yang akan mereka makan sambil jalan atau sekedar melihat-lihat. Tanpa terasa, hari sudah beranjak malam dan memaksa mereka mengakhiri acara mereka.

“Gomawo Kyu. Jeongmal gomawoyo,” ucap Hyejin sebelum berpisah dengan Kyuhyun di antara kedua pintu kamar mereka.

“Cheonmaneyo, Hyejin-ah. Aku juga senang akhirnya aku punya teman untuk jalan-jalan. Kau tahu? 10 tahun aku disini, aku tidak punya teman. Teman kuliahku sudah pada pergi ke kota lain. Teman kantor? Bosan. Tiap hari ketemu, masa weekend harus ketemu mereka juga.”

Hyejin mengikik geli. “Aku menemukan beberapa lagi kesamaan antara kita,” kata Hyejin.

“Apa?” Tanya Kyuhyun.

“Sama-sama suka makan dan jalan-jalan. Satu lagi, sama-sama tidak punya teman,” jawab Hyejin kemudian tertawa yang kemudian membuat Kyuhyun ikutan tertawa.

“Sudahlah. Kita harus istirahat. Selamat malam, Hye. Selamat tidur.”

“Selamat malam. Selamat tidur, Kyu.”

—-

4 bulan tampaknya belum cukup untuk mendekatkan dua pribadi, meskipun mereka memiliki banyak kesamaan sekalipun. Tetapi itu tidak terjadi pada Kyuhyun dan Hyejin. 4 bulan terasa seperti sudah saling mengenal selama 14 tahun.

“Hye, roti kejumu habis. Kau belum beli lagi ya?” Teriak Kyuhyun dari dapur sambil membuka-buka kulkas Hyejin.

“Iya, aku lupa. Mian. Tapi susu dan coklatnya ada kan? Aku menaruhnya di kulkas kemarin,” jawab Hyejin dari ruang keluarga-nya.

“Humm,” sahut Kyuhyun yang sudah muncul dengan coklat di mulutnya dan susu di genggaman tangan kanannya. Kyuhyun menyenderkan tubuhnya di sofa. Sambil menikmati susu dan coklatnya, ia memperhatikan Hyejin yang sedang berkutat dengan setumpuk kertas.

“Kau sedang buat apa sih?” Tanya Kyuhyun.

“Merapikan jilid-an ini. Sebentar lagi temanku akan mengambilnya. Menyebalkan. Mengganggu hari liburku saja,” jawab Hyejin sedikit mencurahkan kekesalannya.

“Kalau sudah rapi, getok saja kepala temanmu itu pakai jilid-an itu. Kalau kau tidak mau, aku saja yang melakukannya. Gara-gara dia, aku jadi harus menunda makan siangku.”

Hyejin menyengir meminta maaf. Hari ini memang janji Hyejin untuk mentraktir Kyuhyun tapi semua harus ditunda hanya karena teman kantor Hyejin yang mau mengambil dokumen itu. “Miaaaaan. Aku akan mentraktirmu dua kali lipat hari ini. Deal?”

“Aku suka tawaranmu. Deal!” Kyuhyun kemudian menyalakan tv dan membiarkan Hyejin sibuk dengan urusannya sendiri.

Bel pintu apartemen Hyejin berbunyi. Tanpa disuruh, Kyuhyun berdiri untuk membukakannya. “Hyejin ada?” Tanya seorang pria yang datang mencari Hyejin.

“Kyu, siapa yang datang?” Seru Hyejin dari ruang keluarga-nya.

“Kau siapa?” Kyuhyun balik bertanya pada pria yang baru datang itu.

“Siwon Choi, teman kantor Hyejin. Aku mau mengambil dokumen,” jawab Siwon.

“Ooh. Silahkan masuk. Duduk saja. Aku akan panggilkan Hyejin,” kata Kyuhyun.

Siwon duduk. Kyuhyun memanggil Hyejin. Hyejin datang menemui Siwon. Kyuhyun duduk di ruang keluarga Hyejin dengan kuping terpasang tajam mendengar pembicaraan antara Hyejin dan teman kantornya itu.

“Ini dokumennya. Sudah aku susun rapi sesuai permintaan Mr. Kim yang Oppa sms tadi,” kata Hyejin.

Oppa? Hyejin memanggilnya Oppa, pikir Kyuhyun.

“Gomawo, Hyejin-i. Mr. Kim pasti senang sekali membacanya nanti. Ngomong-ngomong, tadi itu siapa? Pacarmu?” Tanya Siwon, yang rupanya penasaran akan siapa Kyuhyun.

Apa urusannya sih tanya-tanya mengenai aku? Kyuhyun menggerutu dalam hati. Kupingnya tetap dipasang tajam.

Hyejin tertawa. “Bukan. Itu tadi Kyuhyun, sahabatku. Dia tinggal di kamar sebelah. Kami hanya mau makan siang bersama habis ini. Mau ikut?”

“Tidak usah. Aku mau langsung mengantarkan ini pada Mr. Kim. Terima kasih banyak ya, Hyejin-i. Syukurlah Kyuhyun itu hanya sahabatmu.”

Sahabat. Seketika saja, Kyuhyun merasa seperti ditimpa sebuah barbel 100 kg tepat di atas dadanya. Rasanya sesak dan sakit. Hyejin dan Kyuhyun memang bersahabat tetapi kata-kata itu terasa tidak enak didengar setelah 4 bulan bersama-sama.

“Kyu, kajja!” Hyejin menarik Kyuhyun bangkit dari sofanya tapi Kyuhyun tidak beranjak juga. “Kyu, ayo kita makan. Aku sudah lapaaaar.” Hyejin mulai merengek.

Biasanya, Kyuhyun akan langsung bangkit dan menuruti permintaan Hyejin. Kali ini, Kyuhyun hanya menatap Hyejin dengan lesu dan berdiri tanpa tenaga. “Tiba-tiba kepalaku pusing. Aku mau istirahat dulu sebentar. Kau makan saja duluan,” ucap Kyuhyun lalu keluar dari apartemen Hyejin.

“Hah?” Hyejin mengerutkan kening, bingung.

—-

Kyu : Kenapa dadaku terasa sesak saat dengar Hyejin menyebutku sahabat?
Minho : Memangnya kau berharap Hyejin menyebutmu apa?
Kyu : Entahlah. Aku hanya merasa sebutan itu kurang pas.
Minho : Apa kau berharap lebih?
Kyu : Aku tidak yakin. Entahlah…
Minho : Yaaah, menurutku kau jatuh cinta padanya. Kau menyayangi Hyejin seperti seorang pria menyayangi pasangan hidupnya, wanita. You’re falling in love with her.

Cinta? Dasar Minho gila, ujar Kyuhyun dalam hatinya lalu melempar smartphonenya ke bawah bantal. Sekarang, kepala Kyuhyun yang ikutan sakit.

—-

“Kyu, apa kau masih sakit?” Tanya Hyejin begitu laki-laki yang dari tadi dicemaskannya terbangun.

Kyuhyun memijit kepalanya sedikit lalu duduk di tempat tidurnya. “Sudah lebih baik. Tidur memang obat mujarab,” kata Kyuhyun kemudian tertawa, meski terdengar agak aneh.

“Kalau begitu sekarang kau makan ya. Kau belum makan dari tadi siang. Aku sudah buatkan sup dan daging asap. Ya?”

“Humm?”

“Sekarang sudah jam 8 malam, Kyu. Kau belum makan siang. Perutmu pasti sudah sakit. Kau kan punya sakit maag. Ayolah, Kyu. Jangan membuatku lebih cemas. Kau harus makan sekarang.”

Hyejin memaksa Kyuhyun beranjak ke ruang makan dan makan makanan yang telah ia sediakan untuk Kyuhyun. Hyejin bahkan memaksa untuk menyuapi Kyuhyun. “Aku harus memastikan kau makan dengan benar,” alasan Hyejin.

Ini bukan pertama kali Hyejin begitu perhatian tapi rasanya sangat berbeda dari biasanya. Jantung Kyuhyun berdebar lebih kencang saat berada di dekat Hyejin dan lompat kesenangan setiap suapan Hyejin masuk ke mulut Kyuhyun.

Jatuh cinta? Jika Minho benar berarti aku yang gila, pikir Kyuhyun.

“Hye, apa kau pernah jatuh cinta?” Tanya Kyuhyun tiba-tiba.

“Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang itu?” Hyejin balas bertanya.

“Mau tanya saja. Jawab saja kenapa sih? Susah amat. Aku tanya, kau jawab. Tidak ada namanya aku tanya, kau balas tanya.” Kyuhyun tidak marah. Ia hanya menutupi perasaannya yang sudah berdebar tidak karuan, cemas mendengar jawaban Hyejin.

“Dasar cerewet. Sakit pun masih banyak bicara. Selama 22 tahun aku hidup, pasti pernahlah tapi ya berakhir begitu saja. Aku bahkan tidak bisa mengingatnya lagi.”

“Kalau sekarang?”

“Aku belum ganti bertanya. Kenapa kau sudah bertanya lagi, Cho Kyuhyun-ssi?”

“Baiklah. Kau mau tanya apa, nona besar?”

“Kau pernah jatuh cinta?” Tanya Hyejin.

“Kau tahu kita punya banyak kesamaan. Salah satunya lagi ini. Pernah dan berakhir begitu saja, tidak berbekas lagi,” jawab Kyuhyun. “Sekarang giliranku. Kalau sekarang? Apa kau sedang jatuh cinta? Atau tertarik dengan pria? Siwon misalnya?”

Hyejin menggelengkan kepalanya. “Satu-satunya pria yang ada di dekatku hanya kau, Cho Kyuhyun dan jatuh cinta kepadamu itu akan terjadi jika matahari membelah diri seperti amoeba. Tidak mungkin.”

“Kenapa? Karena aku jelek?” Tanya Kyuhyun.

“Kau termasuk tampan dan pintar.”

“Lalu? Apa karena aku sahabatmu?”

Hyejin menatap Kyuhyun, langsung ke matanya. “Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti ini? Kau tidak jatuh cinta kepadaku kan?” Tanya Hyejin, berhasil membaca pikiran Kyuhyun.

Kyuhyun terdiam. Matanya balas menatap mata Hyejin. “Aku rasa aku jatuh cinta padamu, tapi aku tidak yakin. Aku harus memastikannya. Banyak hal yang perlu dikonfirmasi,” ucap Kyuhyun dengan jujur. Dengan Hyejin, Kyuhyun tidak bisa berbohong atau menutup-nutupi apapun.

Hyejin memegang pipi Kyuhyun dan perlahan mengelusnya. “Kau satu-satunya sahabatku. Bersamamu, aku tidak perlu berpura-pura. Aku bisa menjadi diriku sendiri, apa adanya, jika bersamamu. Jika aku jatuh cinta padamu, mencoba hubungan yang lebih dari hubungan kita sekarang, aku takut suatu saat cinta itu akan sirna dan semuanya tidak akan kembali sama. Aku tidak siap kehilanganmu, Kyu. Mian, aku egois.”

Kyuhyun mengelus kepala Hyejin. Senyumnya menenangkan Hyejin. “Tidak masalah. Alasanmu masuk akal. Lagipula, masih banyak hal yang harus dipastikan apa aku benar jatuh cinta padamu.”

—-

Hye : Kyuuuuu, ayo makan siang. Traktir aku. Aku lapaaaaar!!!
Kyu : Aduh, aku lagi banyak kerjaan. Maaf tidak bisa menemanimu. Besok saja ya, atau nanti malam ya. Ya? Ya? Jeongmal mianhe, Hyejin-ku..
Hye : Huwaaaaa!!! Aku makan siang sendirian doong. Menyebalkan!

Hyejin keluar dari ruangannya, turun ke lobby, lalu berjalan menuju food court di Central Tower demi makan siang yang diidam-idamkannya : sayur kangkung jamur cah sapi. “Thank you God, I’m full,” ucap Hyejin.

Hyejin baru saja berdiri dan merasa seluruh saraf di kakinya lumpuh sehingga memaksanya untuk kembali duduk, saat melihat Kyuhyun masuk ke dalam foodcourt bersama seorang perempuan. Tangan perempuan itu bergelayut manja di tangan Kyuhyun, keduanya saling melempar tawa yang bagi Hyejin terasa seperti tawa malaikat penjaga neraka, tertawa di saat orang lain menderita.

—-

Hyejin seketika kehilangan inspirasi dan nota analisanya pun tidak punya kuasa agar tetap diperhatikan. Pikiran Hyejin sekarang hanya terfokus pada Kyuhyun.

Siapa perempuan itu? Ada hubungan apa mereka? Kenapa Kyuhyun makan siang sama dia padahal katanya tadi sibuk? Kenapa perempuan tadi berani bergelayut manja begitu? Berbagai pertanyaan muncul di pikiran Hyejin dan sangat menyiksa karena tidak ada satupun yang bisa dia jawab.

“Hei, kau kenapa?” Sapa Siwon, teman satu deret meja Hyejin, yang menyadari Hyejin agak lebih aneh.

“Kalau kau melihat seorang pria dan wanita berjalan bersama, si wanita bergelayut manja pada si pria, mereka tertawa-tawa. Menurutmu apa hubungan mereka?” Tanya Hyejin meminta pendapat Siwon.

“Kakak-adik,” jawab Siwon. Hyejin menggeleng. “Teman baik.” Hyejin kembali menggeleng. “Pendekatan? Pacaran?”

Hyejin terdiam seribu bahasa. Bayangan kemesraan Kyuhyun dan wanita tadi kembali menghantui pikirannya.

“Kenapa kau malah diam? Ada apa sih?” Siwon jadi penasaran.

“Tadi aku mau makan siang bersama Kyuhyun tapi dia tidak bisa karena dia sibuk. Jadi aku pergi makan sendiri ke Central. Pas mau balik, aku lihat….”

Siwon tersenyum memotong cerita Hyejin. “Tidak usah kau teruskan. Yang kau tanyakan tadi soal Kyuhyun kan?” Hyejin pelan-pelan menganggukkan kepalanya. Siwon menghela nafas sebentar kemudian menyampaikan kemungkinan yang sebenarnya tidak ia harapkan, “Hanya ada dua kemungkinan, kau marah karena merasa dibohongi atau kau cemburu karena kau jatuh cinta padanya.”

Jatuh cinta? Kau gila, Choi Siwon, rutuk Hyejin dalam hati.

—–

Kyuhyun berkali-kali mengetuk pintu kamar apartemen Hyejin, percuma berharap dibukakan, disahut pun tidak. Kunci digital-nya sudah berganti password. Selama ini, Hyejin hanya berbagi password kunci kamar apartemennya tidak dengan kunci manualnya. Sambil mengetuk, Kyuhyun berusaha menghubungi Hyejin melalui smartphonenya. Setelah mencoba lebih dari 10 kali, akhirnya Kyuhyun terhubung dengan Hyejin.

“Astaga Tuhan, Song Hyejin. Kau dimana? Kau membuatku cemas. Diketuk, tidak ada sahutan. Ditelpon, tidak diangkat. Password pintu diganti. Ada apa denganmu, Hye?” Kyuhyun memang sangat cemas. Hampir sejam Kyuhyun dibuat kelimpungan dan itu nyaris membuatnya berteriak frustasi.

“Tidak ada. Aku hanya lelah, butuh tidur,” jawab Hyejin.

“Kau sudah makan?”

“Sudah.”

“Kapan kau pulang? Kenapa tidak menungguku?”

“Bukan urusanmu.”

“Hye,”

“Sudahlah. Aku mau tidur lagi.”

“Hye, aku mencemaskanmu. Boleh aku masuk? Kalau aku sudah melihatmu, kau boleh kembali tidur. Ya?” Kyuhyun meminta nyaris seperti seorang ayah yang mencemaskan anak perempuannya.

Pintu apartemen Hyejin terbuka, tampak Hyejin yang baru bangun tidur berdiri di belakang pintu. Kyuhyun meneliti Hyejin dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Kau baik-baik saja kan, Hye? Kau berantakan sekali. Kau habis menangis? Kau kenapa?” Tanya Kyuhyun lagi. Kecemasannya bertambah dua kali lipat melihat Hyejin yang masih terbalut dalam kemeja kerjanya dengan rambut kusut dan make up yang belepotan karena air mata.

Kyuhyun mengelus kepala Hyejin dengan lembut membuat tangisan Hyejin kembali meledak. Sambil terisak, Hyejin menghambur masuk ke dalam pelukan Kyuhyun. “Kau kenapa, Hyejin-ah?” Tanya Kyuhyun bingung.

“Kenapa kau membohongiku, Kyu? Katamu kau sibuk, tapi tadi siang aku lihat kau makan siang sama seorang wanita,” jawab Hyejin dengan sesengukkan.

“Makan siang?”

“Iya. Aku lihat kalian datang sambil tertawa-tawa. Wanita itu pun bergelayut manja di tanganmu. Dia siapa? Pacarmu?”

Kyuhyun tersenyum. Tangannya menepuk-nepuk punggung Hyejin dengan lembut. “Dia teman satu tim-ku, namanya Angela. Dia memang seperti itu, sama siapa saja nempel. Aku tidak ada apa-apa dengan dia. Dan, tadi siang kami ke food court untuk mengambil makanan satu tim kami, bukan makan siang bersama. Aku benar-benar sibuk hari ini karena itu aku tidak bisa makan bersamamu. Kau tahu kan, kalau kita makan tidak cukup 10 menit. Kita butuh minimal 1 jam,” jelas Kyuhyun.

Isak tangis Hyejin agak mereda tapi belum sepenuhnya berhenti. “Sungguh?” Tanya Hyejin penuh selidik.

“Sungguh. Kenapa memangnya? Kenapa kau jadi seheboh ini?” Tanya Kyuhyun yang tidak dijawab Hyejin. “Apa kau marah? Atau….cemburu?” Tanya Kyuhyun lagi.

Hyejin menggelengkan kepalanya yang masih bersender pada bahu Kyuhyun. “Kata Siwon, mungkin aku marah karena merasa dibohongi atau aku cemburu karena telah jatuh cinta padamu,” jawab Hyejin.

“Jatuh…cinta?”

Hyejin mengangguk pelan.

“Apa matahari sudah membelah diri menjadi amoeba?” Goda Kyuhyun.

“Kyu…” Hyejin merajuk dalam pelukan Kyuhyun.

“Tenanglah. Kita masih punya banyak waktu untuk memastikan semuanya. Tidak usah terburu-buru. Aku tidak akan memilih jalan coba-coba. Seperti yang kau bilang waktu itu, aku juga begitu. Kau satu-satunya sahabatku. Bersamamu, aku tidak perlu berpura-pura. Aku bisa menjadi diriku sendiri, apa adanya, jika bersamamu. Jika aku jatuh cinta padamu, mencoba hubungan yang lebih dari hubungan kita sekarang, aku takut suatu saat cinta itu akan sirna dan semuanya tidak akan kembali sama. Aku tidak mau kehilangan dirimu, Hye.”

—-

2 years later

“Kyu, mana dasimu? Tadi kan aku taruh di tempat tidurmu,” tanya Hyejin sambil mencari-cari di seluruh pelosok kamar Kyuhyun.

“Di kamarmu. Aku tadi membawanya ke sana saat mengambil roti. Di sofa-mu,” jawab Kyuhyun dari dalam kamar mandi.

“Astagaaaa. Lama-lama kubikin connecting door juga di apartemen kita. Capek bolak-balik. Heuhh!” Keluh Hyejin tapi toh tetap saja ia kembali ke apartemennya hanya untuk mengambil dasi Kyuhyun.

“Kyuuu! Cepatlah! Acaranya sudah hampir dimulai. Jangan sampai kita terlambat. Nanti Siwon Oppa marah,” seru Hyejin.

“Iya, iya. Ini sudah selesai kok. Kau keluar dulu sana. Aku mau ganti baju,” balas Kyuhyun.

Hyejin pun keluar menuju tempat penyimpanan sepatu Kyuhyun, memilih sepatu yang cocok untuk dipakai Kyuhyun. “Kyu, jangan lupa pakai parfum dan sisir rambutmu!!” Teriak Hyejin, mengingatkan kebiasaan buruk Kyuhyun.

“Iyaa, aku tahu,” balas Kyuhyun.

Kyuhyun keluar dari kamarnya sesuai dengan permintaan Hyejin, wangi dan rapi, tapi tetap saja Hyejin melakukan double checking pada Kyuhyun terutama pada kerah, dasi dan ujung lengan. Sikap bossy ibu-ibu Hyejin kembali muncul. “Okee siip! Pakai sepatumu, lalu kita pergi. Jasmu sudah kutaruh di mobil.”

“Baik, nona. Kenapa kau heboh sekali sih? Acaranya kan masih satu jam lagi, itupun kalau gak molor. Tenang saja,” sahut Kyuhyun berusaha menenangkan Hyejin yang sudah sibuk mondar-mandir tidak sabaran.

“Kita itu pendamping pengantinnya, Kyuhyun. Bisa kau bayangkan perasaan Siwon oppa dan Hamun jika pemberkatan pernikahannya sudah mau dimulai tapi pendampingnya belum datang? Kau tidak mau begitu jika menikah kan?”

“Baaaiiiklaaah, noonaa beeessaaar. Ayo kita jalan. Kajja! Dasar cerewet.” Dengan sengaja, Kyuhyun berjalan terburu-buru sehingga Hyejin agak sulit mengejarnya.

“Kyuuu, tunggu aku. Jangan cepat-cepat. Aku kan pakai sepatu hak tinggi. Kyuuu, tungguuu!” Kyuhyun pura-pura tidak mendengar tapi memperlambat tempo berjalannya sehingga Hyejin bisa menyusulnya. Terkadang, ide-ide jahil Kyuhyun muncul tiba-tiba.

—-

Pesta pernikahan Siwon dan Hamun berjalan lancar dan sempurna. Kyuhyun dan Hyejin pun menjalankan peran mereka sebagai pendamping pengantin dengan baik. Tidak ada kesalahan, tidak ada halangan. Perfect!

“Chukkae, hyung! Aku senang sekali melihatmu hari ini. Tampan, mempesona dan luar biasa,” Ucap Kyuhyun saat menemukan Siwon sedang berdiri sendirian meminum wine di pesta pernikahannya sendiri.

Siwon tertawa. “Kau senang aku menikahi Hamun atau kau senang aku tidak menikahi Hyejin?” Goda Siwon mengingat 1,5 tahun lalu betapa bencinya Kyuhyun padanya karena sering mengajak Hyejin pergi bersama.

“Hyuuung…”

“Kapan kalian akan menikah?” Siwon memang orang yang blak-blakan, tidak suka basa-basi. Ia akan mengatakan apa yang ingin ia katakan dan menanyakan apa yang ingin dia ketahui.

“Hah? Pacaran saja belum. Masih banyak hal yang harus kami pastikan, hyung.”

Siwon menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa mengejek. “Cih! Kalian itu kebanyakan hal yang harus dipastikan. Terlalu bertele-tele. Menurutku satu hal yang harus dipastikan, hubungan kalian. Mau tetap sahabat atau lebih. Jangan terlalu naif. Status kalian saja sahabat, tapi hubungan kalian lebih dari itu. Coba saja kalian rewind hubungan kalian. Kalian itu sudah tidak bisa hidup jika tidak bersama. You two become one is destiny. Listen to my word.”

“Yess, sir,” sahut Kyuhyun sedikit bercanda.

—-

Menurutku satu hal yang harus dipastikan, hubungan kalian. Kata-kata Siwon terus terngiang di telinga Kyuhyun. Apa kata Siwon ada benarnya. Selama 2 tahun ini, satu-satunya wanita yang ada di dekat Kyuhyun hanyalah Hyejin dan begitu sebaliknya. Satu-satunya wanita yang mengerti Kyuhyun hanyalah Hyejin dan begitu sebaliknya. Satu-satunya wanita yang mampu membuat Kyuhyun berbagi segalanya juga hanyalah Hyejin dan begitu sebaliknya. Mereka hanya takut jika mereka mencoba dan tidak sesuai rencana, mereka akan kehilangan satu sama lain. Padahal masih ada kemungkinan mereka akan memiliki satu sama lain.

Kyu : Hye, ada yang mau kubicarakan denganmu. Bisa?
Hye : Bisa. Apa yang mau kau bicarakan?
Kyu : Kita.
Hye : Kita?

—-

Kyuhyun memencet bel apartemen Hyejin dengan tangan kirinya karena tangan kanannya memegang setumpuk notes dan pulpen. Tidak lama pintu dibuka dan Hyejin muncul di baliknya. “Kenapa pakai bel? Biasanya kan kau juga langsung masuk. Kau lupa password-nya?” Tanya Hyejin.

“Tidak. Aku hanya ingin mencoba tidak asal masuk,” jawab Kyuhyun.

Hyejin tertawa mendengar jawaban Kyuhyun yang menurutnya konyol. “Ada-ada saja kau, Kyu. Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Duduklah dulu baru kita bicara,” kata Kyuhyun.

Hyejin pun duduk di sofa dengan Kyuhyun duduk di hadapannya. “Ada apa?” Tanya Hyejin.

Kyuhyun menyerahkan notes pertama yang telah disiapkannya kepada Hyejin.

“Always take risks. If you don’t you never know what will happen if you wouldn’t have taken that risk. You have nothing to lose, so just go for it. Sometimes just sitting around won’t make things happen, you need to get up and make them happen yourself.”

“Maksudmu?” Tanya Hyejin bingung.

Kyuhyun memberikan notes-nya yang kedua.

“Together is our favuorite place to be.”

“Kyu, tolong, aku tidak mengerti.”

Kyuhyun memberikan notesnya yang terakhir. Notes penentu kehidupannya.

I take you to be my best friend, my faithful partner, and my one true love. I love you, Song Hyejin. Will you marry me?

“Menurutku, kita sudah terlalu lama memastikan banyak hal demi hubungan kita yang lebih baik sampai kita lupa bahwa yang harusnya dipastikan adalah hubungan kita. Aku mencintaimu dan aku tahu kau juga mencintaiku. Apa jawabanmu?” Kyuhyun menjelaskan notes-nya dengan berani. Semua keragaunnya sudah ia singkirkan jauh-jauh. Satu hal lagi yang harus ia yakinkan sekarang adalah Hyejin. Wanita itu harus yakin untuk menikah dengannya.

Hyejin menatap notes Kyuhyun, membacanya dengan hati-hati, kata demi kata, kalimat demi kalimat sampai ia menemukan makna yang sangat dalam dari semua notes itu. Kyuhyun mencintainya dan sebaliknya. Kyuhyun tidak bisa hidup tanpa Hyejin dan begitu sebaliknya. Tidak ada yang kurang, kecuali keberanian. Sekarang, Kyuhyun berani mengambil risiko untuk menikahi Hyejin.

Hyejin menatap Kyuhyun dan kemudian menangis. Kyuhyun tersenyum lembut lalu memeluk Hyejin. “Kenapa kau selalu mengungkapkan sesuatu dengan menangis? Dasar cengeng,” kata Kyuhyun geli sambil menepuk-nepuk kepala belakang Hyejin pelan.

—-

Hyejin menatap kue ulang tahunnya, mengikuti api yang menari-nari di atas lilin ulang tahunnya. Kuku jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja makan dengan bosan. “Kyuu, kau dimana? Lilinnya sudah mau habis niiih,” rajuk Hyejin melalui telepon karena Kyuhyun tidak pulang-pulang.

“Iya, aku sudah di depan pintu ini. Sabar ya,” ujar Kyuhyun. Saat itu juga, Hyejin mendengar pintu apartemennya terbuka. Secepat kilat, Hyejin melesat menjemput Kyuhyun. “Ayo, keburu lilinnya habis loh.”

Kyuhyun mengikuti Hyejin menuju ruang makan. Di atas meja sudah tersedia satu buah kue tart untuk merayakan ulang tahun Kyuhyun dan Hyejin yang memang hanya selisih satu hari. Di atas kue itu sudah terpasang lilin angka 25 untuk Hyejin dan 28 untuk Kyuhyun.

Bersama-sama dan seirama, Kyuhyun dan Hyejin bernyanyi sambil bertepuk tangan lalu meniup lilin ulang tahun mereka.

“Saengilchukkahamnida, Cho Kyuhyun. Semoga kita selalu bersama selamanya,” ucap Hyejin.

“Saengilchukkahamnida, Song Hyejin. Semoga kita tidak akan terpisah sampai pada waktu-Nya,” ucap Kyuhyun.

“Gomawooo, Kyu. Ini ulang tahun ke-4 yang kita rayakan bersama, tahun-tahun berikutnya pasti akan kita rayakan bersama juga. Senangnya…” Hyejin begitu senang bisa merayakan ulang tahun bersama Kyuhyun, orang penting dalam hidupnya.

“Aku punya kado untukmu,” kata Kyuhyun.

“Apa?” Tanya Hyejin dengan excited. Ini memang ulang tahun ke-4 bersama Kyuhyun tapi ini pertama kalinya Kyuhyun memberikan hadiah. Hyejin tidak pernah mengharapkan kado apapun asal Kyuhyun ada di sampingnya saat berdoa dan meniup lilin.

Kyuhyun memberikan satu tangkai mawar dengan notes kecil tertempel di tangkainya : Ini kado ulang tahun pertama kita. I’m so glad to meet you.

Kemudian bunga mawar kedua tertulis : 2nd anniversary. For my best friend forever, I love you.

Bunga mawar ketiga diberikan ketika air mata sudah terkumpul di pelupuk mata Hyejin. Di notes yang tertempel di tangkai bunga mawar ketiga tertulis : For the only one I love, thank you.

“Masih ada satu lagi, jangan menangis. Kalau menangis, aku tidak akan memberikannya,” kata Kyuhyun, menahan satu mawar lagi di belakang punggungnya.

Hyejin segera mengusap air matanya dan berusaha keras menahan agar tidak ada lagi air mata yang keluar. Kyuhyun tersenyum pada Hyejin dan memberikan mawar keempat untuk Hyejin. Kali ini Kyuhyun menempelkan mawarnya di sebuah kertas. Di kertas itu dia menuliskan : For my beloved wife, my future children’s mom. I love you so much. No matter what happen, I’ll stay. I’ll be with you forever and you’ll do exactly the same ’cause I know we are one. You and I become one are destiny. Thank you for loving me.

Hyejin tidak bisa lagi menahan air matanya. Sambil menangis haru, ia memeluk Kyuhyun dengan erat. Kyuhyun mencium puncak kepala istrinya lalu menaruh kepalanya di bahu wanita yang tidak berhenti menangis di pelukannya itu. “Dasar cengeng. Baru gitu sudah nangis. Huuu…” Goda Kyuhyun yang justru membuat Hyejin makin terisak. Hyejin tidak berhenti menangis bahagia sampai ia tertidur dan melupakan sesuatu yang penting untuk diberikan kepada Kyuhyun.

—-

Pagi-pagi buta, suara Kyuhyun sudah menggemparkan apartemen. “Yaaaa!!! Song Hyejin!!! Apa ini?!” Seru Kyuhyun dengan tidak tenang. Dia bahkan berlari dari kamar mandi.

“Hyee, apa ini?” Tanya Kyuhyun sambil menggoncang-goncang tubuh Hyejin agar terbangun.

Dengan setengah nyawanya yang terkumpul, Hyejin membuka mata melihat barang yang dibawa Kyuhyun dari kamar mandi. Hyejin menyipitkan mata untuk meneliti benda apa di tangan Kyuhyun itu. “Ooh, itu testpack,” kata Hyejin dengan santai ketika berhasil menemukan jawaban atas pertanyaan Kyuhyun.

“Iya, aku tahu. Maksudku, hasilnya. Kau hamil, Hye. Kenapa kau tidak memberi tahuku?”

“Itu harusnya jadi hadiah ulang tahunmu semalam tapi karena kau membuatku terlalu lelah menangis, aku jadinya lupa. Mian… Rencananya nanti aku mau memberimu kejutan tapi kau sudah tahu lebih dulu. Ya sudahlah.” Hyejin kemudian kembali memeluk guling dan kembali ke alam mimpinya.

“Yaaa,, Song Hyejiiiin!!”

-end-