Annyeong chingudeul! This fanfiction made by kak sela (@gyumontic) Hope you like it yaah^^

Main cast: Cho Kihyun (Son), Song Hyejin (Mom), Cho Kyuhyun (Dad)

*****

Di tengah malam dengan hujan yang cukup deras, aku terbangun dan menyadari bahwa aku sendirian. Appa belum pulang dan eomma masih di luar negeri, menemani haelmoni liburan.

“Uwaaaaaa!!” Aku menangis sekencang-kencangnya untuk membangunkan seisi rumah, aku ketakutan.

Minjung, bibi pengasuhku sejak masih di kandungan, masuk ke kamarku dan langsung menggendongku. Ia menepuk-nepuk punggungku untuk menenangkanku. “Maaf ya sayang bibi meninggalkanmu sendirian. Cup cup cup,” ucap Minjung.

Aku sedikit lebih tenang. “Eomma, eomma,” ucapku pada Minjung. Aku merindukannya, sangat. Apalagi masih seminggu lagi aku bisa bertemu dengannya.

Minjung mengelus-elus kepalaku sambil bertanya, “Mau menelepon eomma? Aku akan menghubunginya untukmu. Sebentar ya.” Kemudian Minjung mengambil telepon dan menghubungi eomma.

“Yoboseyo.” Terdengar suara eomma dari speaker telepon yg digunakan Minjung. Aku segera mendekati telepon dan menyahutnya, “Eomma!!!”

“Kihyun-ah. Kau belum tidur sayang?”

“Eomma!” Hanya itu yang sanggup aku ucapkan sebagai bocah berusia 2 tahun. Aku belum bisa bicara lancar, hanya sepatah dua patah kata.

“Kihyun terbangun, Hyejin-ah. Di sini sedang hujan deras. Maaf tadi aku meninggalkan Kihyun sendirian di kamar,” kata Minjung.

“Kyuhyun belum pulang?” Tanya eomma.

“Appa!” Ucapku semampu aku bisa meskipun sebenarnya masih banyak yang ingin aku katakan. Appa, orang yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di kantor dengan mengatasnamakan aku dan eomma.

“Belum, Hyejin-ah. Padahal sudah jam 2 pagi di sini,” jawab Minjung.

“Hah dasar pria itu. Selalu saja kembali ke kebiasaannya kalau tidak ada aku. Baiklah, aku akan meneleponnya untuk pulang. Kihyun-ah, eomma merindukanmu. Tidur lagi ya sayang,” kata eomma.

“Eomma. Eomma,” ucapku dengan maksud menyuruhnya cepat pulang meskipun itu tidak mungkin. Aku akan kembali terperangkap sendiri. Hiks.

“Baiklah, Hyejin-ah. Jaga dirimu baik-baik. Salam buat nyonya ya. Sampai jumpa seminggu lagi,” kata Minjung.

“Ne. Terima kasih, Minjung ahjumma. Titip Kihyun ya. Kihyun, baik-baik di rumah ya. Jangan nakal. Aku mencintaimu sayang,” ucap eomma membuatku semakin merindukannya.

“Nado,” ucapku. Eomma lalu mematikan teleponnya. Minjung membawaku kembali ke tempat tidur dan membaringkanku di sana.

“Istirahat lagi ya, Kihyun. Mau kubacakan cerita? Atau kudongengan sesuatu?” Tanya Minjung.

“Em.”

Minjung kemudian mulai bercerita mengenai Cinderella dan Pangeran tampannya. Aish, Minjung ahjumma. Aku ini laki-laki kenapa kau menceritakan kisah perempuan seperti itu? Haissssh. Ah, terserahlah.

Tanpa sadar aku kembali tertidur. Aku bermimpi appa mengajakku jalan-jalan ke balapan mobil. Sangat seru dan menantang, membuatku ingin menjadi seorang pembalap mobil. Aku rasa ini bisnis yang cukup bagus. Baru aku akan mencoba sebuah mobil dengan appa, mimpiku berpindah ke sebuah konser di stadion sepakbola. Sangat ramai dan menyenangkan, membuatku ingin jadi artis sehingga bisa dipuja-puja seperti itu.

Tuk. Tanganku sepertinya terantuk sesuatu, membuatku terbangun. Aku melihat sampingku ternyata ada appa yang sedang tidur. Aku memperhatikannya dan kemudian memperhatikan diriku sendiri. Tampaknya aku benar-benar anak appa. Pose tidur kami bahkan persis sekali, telentang dengan tangan ke atas.

“Appa!! Appa!” Panggilku sambil memukul-mukul dadanya pelan.

“Humm??” Appa mulai membuka matanya dan melihatku. Tangannya mengelus-elus kepalaku dengan lembut. Sebenarnya aku sangat suka dengan appaku tapi aku lebih suka dengan eomma. “Ne, Kihyun-ah? Kau sudah bangun? Kenapa sayang?” Tanya appa.

“Mobil,” ucapku.

“Kau ingin beli mobil-mobilan?” Tanya appa.

Aku menggelengkan kepalaku. “Balapan,” kataku lagi.

“Kau ingin balapan mobil? Tidak boleh sayang,” kata appa lagi.

Haduh! Kenapa sekarang appa juga jadi selemot eomma sih untuk mencerna keinginanku. Aku mau menonton balapan mobil, bukan ikut balapannya! Aku kemudian menunjuk ke televisi. Untung appa cepat tanggap.

“Oh, kau mau nonton? Maaf appa tidak mengerti tadi. Kau mau nonton apa?” Tanya appa sambil menyalakan tivi dan mengganti-ganti channel.

Sekarang pun appa juga belum mengerti, batinku. Andai aku sudah bisa bicara. Appa terus mengganti-ganti channel. “Yang mana sayang? Kartun? Nyanyi-nyanyi?” Tanya appa.

“Balapan. Balapan,” kataku.

“Tidak ada balapan, sayang. Itu nanti malam. Nonton kartun saja ya, gimana?” Saran appa dan memberhentikan di channel Disney kesukaanku.

Ah, membosankan. Aku sudah menonton episode kali ini. Aku kemudian turun dari tempat tidur dan mengambil baju dari lemariku. “Jalan-jalan,” kataku pada appa.

“Tidak bisa, sayang. Appa harus kerja hari ini,” kata appa.

“Eomma…” Rengekku manja. Yang benar saja, ini hari Sabtu. Masa iya Appa juga harus masuk kerja. Kalau ada eomma sih gak masalah.

Appa menatapku penuh penyesalan. Aku meletakkan bajuku di tempat tidur lalu berusaha keluar dari kamar. Apa daya aku hanya bocah berumur 2 tahun, untuk membuka pintu saja tidak sanggup. Alhasil, aku hanya bisa menangis. “Eommaaaaaa!! Huwaaa! Huuuu…” Jeritku histeris.

Appa mendekatiku dan menggendongku. “Maafkan appa ya sayang. Jangan menangis lagi. Nanti setelah appa selesai, kita jalan-jalan,” kata appa.

“Eommaa!! Eommaaa!!” Aku tetap menjerit. Appa pasti berbohong. Ia akan lupa waktu kalau sudah di kantor. Janjinya pasti tidak akan ditepati. “Eommaa!!”

Tiba-tiba ponsel appa berbunyi. Itu pasti dari Taewoo, sekretaris appa. Cih! Apa gunanya jadi Direktur kalau semua harus appa yang melakukan?

“Umur panjang. Eomma menelepon,” kata appa sambil menerima panggilan dari eomma.

“Yoboseyo,” sapa eomma terdengar melalui ponsel appa dalam mode handsfree.

“Eomma, eomma,” sahutku.

“Kihyun sayang, kau sedang bersama appa nak? Sudah makan? Mau kemana nanti?” Tanya eomma.

“Jalan-jalan. Jalan,” jawabku.

Tampaknya eomma menyadari bahwa aku sedang menangis karena ia bertanya, “Kihyun menangis ya? Kenapa?”

“Kihyun ingin jalan tapi aku tidak bisa. Aku mau ke kantor,” jawab appa.

“Aigoo kasihan anak eomma. Appa payah ya, sayang? Diajak jalan-jalan saja susahnya minta ampun. Kihyun emang mau kemana?”

“Jalan-jalan. Jalan.”

“Sini biar eomma bicara sama appa. Appa, temani Kihyun jalan-jalan ya. Kalau tidak, minggu depan Appa akan tidur sendirian,” kata eomma.

Aku menatap appa, memberikan tawa kemenangan. Aku tahu Appa mungkin bisa jauh dariku tapi appa tidak bisa jauh dari eomma. Appa menghela nafas panjang.

“Yaa Hyejin-ah, kenapa kau mengancamku seperti itu? Yaaaa!” Protes Appa.

“Humm atau appa cuti saja terus kalian berdua susul eomma liburan ke Hongkong. Bagaimana?”

“Andwe. Andwe! Aku banyak pekerjaan,” jawab Appa cepat sedangkan aku sangat tertarik dengan ide eomma.

“Hongkong! Hongkong!” Seruku.

“Appa tidak bisa sayang,” kata Appa.

“Kalau gitu appa temani Kihyun jalan-jalan. Iya kan, sayang?”

Appa menyerah. “Baiklah, aku akan jalan-jalan dengan Kihyun. Kau menang, anak kecil!”

“Yeaaaay! Kihyun menang!” Seru eomma.

“Kihyun menang! Menang!” Sahutku senang.

“Kalau gitu, kalian segera siap-siap. Nanti eomma akan menelepon lagi. Selamat bersenang-senang, tuan Cho tersayang. Mmmmuah!”

“Mmmuah,” balasku.

Appa lalu mematikan ponselnya. “Baiklah, tuan Cho junior sayang. Kau memang selalu punya senjata untuk mengalahkan Appa. Sekarang waktunya kita mandi!”

“Mandi. Mandi,” sahutku girang.

Appa membawaku ke kamar mandi dan memandikanku dengan cukup baik, walaupun tidak sebaik eomma. Kalau sama eomma terasa lebih ramai. “Sekarang ayo pakai baju,” kata Appa setelah kami selesai mandi.

Appa memakaikanku baju sama seperti yang ia pakai, kemeja biru muda dan celana jeans serta sepatu keds abu-abu. Aigooo, appa…

“Kita sudah tampan, Kihyun-ah. Lihat,” kata appa padaku sambil memandang pantulan kami di cermin.

Aku memandang pantulan kami berdua. Haaaaah, aku benar-benar anak appa. Wajah, mata, mulut, bahkan cara kami tersenyum pun sama. Pantas eomma sering menyebut kami kembaran.

“Sekarang ayo kita jalan-jalan. Kalau nanti eomma pulang, kau harus melaporkan yang baik-baik tentang appa ya,” kata appa.

“Ne,” jawabku. Appa lalu menggendongku masuk ke dalam mobilnya. Appa membawaku ke taman hewan. “Suka! Suka!” Seruku gembira.

Dengan tenang, appa menggandengku masuk. Ia mengajakku berkeliling melihat hewan-hewan sambil sesekali berfoto bersama. “Aigoo, tampannya kalian,” ucap seorang wanita berusia 50 tahun-an saat berpapasan dengan kami di kandang burung cendrawasih.

Appa membungkuk lalu tersenyum. “Kamsahamnida,” balas appa dengan sopan. Appa-ku memang laki-laki yang sangat sopan terutama pada orang yang lebih tua. Kami lalu melanjutkan perjalanan kami ke pertunjukkan lumba-lumba. Aku sangat menyukai lumba-lumba.

“Kyuhyun-ssi?” Sapa seorang wanita yang tidak aku kenal kepada Appa. Sekali melihat, aku tidak menyukainya. Aku tidak suka ada wanita di dekat Appa, kecuali eomma.

“Victoria?” Sahut appa. Wanita itu tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. “Apa kabar? Lama tidak jumpa. Kau dengan siapa kesini?” Tanya appa pada wanita itu.

“Keponakanku. Dia lagi ke toilet. Kau dengan anakmu?” Tanya wanita itu sambil melihatku.

Appa mengelus kepalaku. “Iya, ini Kihyun. Anak pertamaku dengan Hyejin,” jawab Appa.

“Wuaaaa! Neomu kyeopta, Kihyun-ah. Kenalkan, aku Victoria.” Wanita itu mengulurkan tangannya kepadaku. Aku diam saja, pura-pura tidak mengerti tapi wanita itu tetap berkeras menyalamku. Dasar!

“Appa! Lapar, makan!” Seruku. Aku tidak mau berlama-lama lagi di sini apalagi dengan wanita tidak jelas ini. “Appaaaa!!”

Appa menggendongku lalu berpamitan pada wanita itu. “Vic, kami duluan ya. Kita bertemu lagi lain kali ya. Selamat bersenang-senang,” kata Appa. Kami lalu meninggalkan wanita itu di tempat lumba-lumba.

“Kihyun, mau makan apa?” Tanya appa.

“Ayam, sop,” jawabku singkat-singkat sesuai kemampuanku sebagai anak kecil. Appa pun membelikan makanan sesuai dengan yang aku inginkan. Pelan-pelan, Appa menyuapiku.

“Kihyun-ah, bagaimana kalau kita telpon eomma? Kau merindukannya kan? Appa sangat merindukan eomma. Ayo kita telpon saja,” kata Appa lalu menelepon eomma. Dia meletakkan handphone-nya di hadapan kami dengan posisi loudspeaker on.

“Yeoboooo! Kihyun! Jeongmal bogoshiposso! Bosan sekali tanpa kalian!” Seru eomma pada kami berdua.

“Eomma! Eomma!” Seruku.

“Kihyun sayang! Sedang apa nak? Jalan-jalan kemana sama Appa? Appa mengurusmu dengan baik kan?” Tanya eomma.

“Yaa, Hyejin-ah. Banyak sekali pertanyaanmu. Mana bisa Kihyun menjawabnya sekaligus,” kata Appa.

Eomma tertawa geli atas kebodohannya. Eomma memang bodoh. Banyak sekali pertanyaannya. Mana bisa aku jawab. Aku kan baru umur 2 tahun. Eomma, eomma…

“Kihyun sedang apa?” Tanya eomma lagi.

“Makan ayam. Enak,” jawabku girang.

“Pergi kemana sama Appa, sayang?”

“Kebun binatang. Eomma!”

Aku senang bisa mendengar suara eomma lagi. Hampir seminggu ia meninggalkanku. “Eomma, pulang,” kataku.

“Iya sayang. Besok pagi, eomma pulang. Kita bisa main bersama lagi. Sabar ya, sayang. Appa, jaga Kihyun dengan baik ya,” kata eomma.

Appa lalu mengambil handphone-nya dan mematikan loudspeakernya. Ia menikmati suara eomma sendirian. Egois. “Iya, sayang. Kihyun akan baik-baik saja bersamaku. Aku juga akan menjaga diri baik-baik,” kata Appa.

“Eommaaa…” Appa egois. Aku mau bicara lagi dengan eomma. Appa, kulaporkan tadi kau bertemu dengan wanita lain ya!

Appa tidak menggubrisku. Ia sibuk bertelepon dengan eomma. “Kami jemput kau besok pagi di bandara ya. Kami merindukanmu. Sampai jumpa. Saranghae,” ucap Appa lalu mematikan handphone-nya.

“Besok pagi eomma pulang, kita jemput bersama ya. Sekarang, habiskan makanan kita dan kembali jalan-jalan. Kihyun mau kemana?” Tanya appa sambil menyuapiku.

“Mobil,” jawabku.

Appa mengangguk-angguk. “Ah, appa paham. Appa akan mengajak Kihyun main mobil-mobilan. Nanti Kihyun yang menyetir ya. Ayo, habiskan makanannya dulu.”

Butuh waktu sejam lebih untuk menghabiskan makananku. Aku pikir Appa tidak akan sabaran menyuapiku tapi ternyata Appa jauh lebih sabar dari eomma. Ia mengikuti kemanapun aku berjalan sambil terus menyuapiku. Kadang, selesai aku bermain ia baru menyuapiku lagi. Kalau dengan eomma, aku bisa diteriaki. Enak juga sama appa.

“Okay, makanan sudah habis. Sekarang ayo kita main mobil-mobilan. Kajja!” Kata appa sambil menggendongku keluar dari kebun binatang ini. Aku menyadari banyak mata yang bolak-balik memperhatikan kami. Aku yakin mereka mengagumi ketampanan kami.

Appa mengajakku ke sebuah waterpark sekaligus taman bermain yang sangat besar. Di sini banyak permainan dan kolam yang sangat menyenangkan. “Kihyun mau berenang atau mobil?” Tanya appa.

“Mobil,” jawabku.

“Mobil atau renang?” Tanya appa lagi.

“Mobil,” jawabku lagi. Aku bukan anak kecil bodoh, appa. Aku mau naik mobil dan appa sudah berjanji menemaniku jadi aku tetap ingin naik mobil dulu baru berenang. Dasar appa!

Appa pun mengajakku ke tempat bermain mobil-mobilan atau bum bum car. Ia memilih sebuah mobil dan duduk dengan aku di pangkuannya. “Kihyun yang setir. Appa yang injak gas-nya. Ayo!” Appa menginjak gas dan aku menyetir. Yaah, aku hanya memegang setir, Appa yang mengendalikannya. Tapi aku cukup senang. Gomawo, Appa!!!

Selesai bermain dengan mobil, aku dan Appa masuk ke dalam rumah hantu. Aku takut setengah mati tetapi aku tetap ingin masuk. Alhasil, aku tidak terlepas dari gendongan appa. Keluar dari rumah hantu, aku menangis sedangkan appa tertawa-tawa. “Dasar penakut iiih. Besok appa ceritakan pada eomma,” kata Appa sambil tertawa. Appa!!!

Appa menepuk-nepuk punggungku dengan lembut. “Sudah jam 4 sore. Sudah tidak ada matahari, ayo kita renang. Kihyun mau?” Tanya Appa.

“Renang! Renang,” seruku semangat. Aku seketika melupakan air tangisanku dan bersemangat menunjuk-nunjuk kolam. Appa tertawa.

“Baiklah, kita beli dulu celana renang kita ya. Baru kita renang,” kata Appa. Appa lalu membeli celana renang untukku dan untuknya. Setelah itu, kami berganti baju. Setelah siap, Appa menggendongku menuju kolam khusus anak-anak. Ia melepaskanku bersama anak-anak lain untuk bermain. Tidak butuh waktu lama untuk bergabung dengan mereka. Tanpa terasa, hari sudah sangat sore.

“Kihyun, ayo mandi. Lalu kita pulang,” kata Appa sambil menggendongku keluar dari kolam. Appa memandikanku sampai bersih dan wangi baru kemudian mengajakku pulang. “Appa lapar, Kihyun-ah. Semoga Minjung sudah menyiapkan makan malam untuk kita.”

Aku tidak tahu lagi apa yang Appa bicarakan. Aku capek dan mengantuk sekali. Begitu masuk ke dalam mobil, aku langsung terlelap. Bangun-bangun aku sudah berada di kamar Appa dengan Minjung yang siap dengan sebotol susu.

“Appa, appa,” kataku mencari Appa yang tiba-tiba sudah menghilang. Jangan bilang, Appa kembali kerja setelah seharian menemaniku bermain.

“Appa pergi, Kihyun. Ini susumu, sambil diminum ya, Kihyun sayang,” Minjung memberikan botol susu kepadaku dan menidurkanku.

Tuh kan. Appa… Tidak bisa kalau tidak mengurusi bisnisnya. Bahkan sudah jam 10 malam pun masih berpikir ke kantor. Semoga dia ingat besok pagi masih harus menjemput eomma.

—–

Hari ini eomma pulang. Itu yang menyebabkan aku bangun lebih pagi dari biasanya dan bersiap-siap lebih semangatt. Aku dengan semangatt membangunkan Appa yang tertidur di sebelahku. “Appa!! Appa! Jemput eomma!” Seruku sambil memukul-mukul perut Appa. “Appa!! Appaaaaa!!”

“APPAAA!!” Susah sekali membangunkan pria satu ini. Bagaimana cara eomma membangunkannya setiap pagi.

Appa menggeliat terbangun. Dengan malas-malasan ia melihat jam di tangannya. “Astaga, Kihyun-ah! Kita terlambat! Kajja! Kajja!” Seru Appa dengan panik.

Tanpa mandi apalagi mengganti baju, Appa menggendongku dan mengajakku ke bandara. Appa, jorok! Kalau eomma tahu, pasti dimarahi.

Handphone Appa berbunyi. Aku melihat nama yang tertera di layarnya. Aku memencet tombol yang biasa Appa pencet untuk menerima telepon. “Eomma!!!” Seruku girang.

“Kihyun sayang! Mana Appa?” Tanya eomma.

Appa menyahut panggilan eomma. “Ya, sayang? Kami sudah di jalan. Kau dimana?”

“Kami sudah mendarat. Kami tunggu di coffee shop milik Yesung oppa ya. Cepat ya, sayang. Aku tidak sabar bertemu Kihyun. Kihyun, saranghae!”

Appa memacu mobilnya dengan lebih cepat sehingga kami lebih cepat sampai bandara. “Eomma, eomma!” Kataku tidak sabaran sambil menarik-narik baju Appa.

“Iya, sayang. Sabar ya. Sebentar lagi kita ketemu eomma,” sahut Appa.

Appa menggendongku menuju tempat eomma dan haelmoni menunggu. “Kihyun-ah!!” Seru eomma begitu melihatku. Dengan mudah, eomma memindahtangankan aku dari appa kepadanya. “Aku merindukanmu, Kihyun sayang.” Eomma kemudian menciumiku.

“Eomma, eomma,” kataku meluapkan kerinduan yang sama. Kurasa, Appa agak terlupakan.

“Ya ya ya. Jangan lupakan aku. Dasar ibu dan anak tidak bisa dipisahkan. Kalau ada maunya, baru cari Appa. Huuu…” protes Appa.

“Appa cemburu, Kihyun-ah. Hihihihi,” kata eomma sambil tertawa. Aku pun ikutan tertawa.

“Ya ya ya. Kenapa kalian menertawakan aku?” Protes Appa lagi.

Dengan manja, eomma memeluk Appa. “Bogoshippoyo. Terima kasih sudah menggantikan tugasku seminggu ini. Appa yang terbaik. Daebak! Iya kan Kihyun?”

Aku menganggukan kepalaku. “Daebak,” ucapku mengikuti ucapan eomma.

Appa tertawa kemudian memeluk kami. “Ayo kita pulang. Eomma dan haelmoni harus istirahat,” kata Appa.

“Kihyun Appa harus mandi,” ceplosku dengan polos.

Eomma menatap Appa dan aku bergantian. “Kalian belum mandi?” Tanya eomma penuh selidik.

“Belum, belum mandi,” jawabku polos.

“Yaaaa Kyuhyun-ssi!!! Beraninya kau keluar tanpa mandi! Apalagi mengajak Kihyun sepertimu! Aiiish…” Eomma mulai memarahi Appa. Seperti aku bilang, kalau eomma sampai tahu, appa pasti kena marah. Dan aku dengan polosnya memberitahukannya. Maafkan aku, Appa😥

“Mianhe. Tadi kami terlambat. Kalau kami mandi dulu, kau dan eomma akan lebih lama menunggu. Hyejin-ah, mianhe…” Appa meminta maaf dengan polos.

“Ayo kita pulang. Kalian harus mandi. Astagaaaaa!!!”

Haelmoni berjalan paling depan dengan menenteng belanjaannya yang super banyak. Eomma menyusul di belakangnya sambil menggendongku. Sedangkan appa berjalan paling belakang dengan koper-koper yang dibawa pulang haelmoni dan eomma.

“Hyejin, maafkan aku,” pinta appa lagi.

“Aku akan memaafkanmu kalau sudah mandi nanti,” kata eomma galak. Appa terdiam. Aku memandang Appa dengan perasaan bersalah. Gara-gara aku, Appa jadi dimarahi eomma.

Appa berjalan menyusul kami. “Baiklah, belum mandi begini, aku tetap tampan. Tidak masalah. Kalau eomma, tidak mau dengan Appa…” Appa dengan sombong, menatap ke seluruh bandara dan aku tahu pasti hampir setiap mata wanita memandang Appa dengan ganas, seolah Appa makhluk paling nikmat sedunia. Aku tahu Appa memang tampan, banyak wanita tertarik padanya dan aku tidak suka itu.

“APPA!” Seruku dan eomma bersamaan. Aku rasa eomma berpikiran sama denganku. Appa menyengir kepada kami kemudian tertawa terbahak-bahak. “Appa hanya bercanda. Ayo kita pulang. Appa mau mandi biar dimaafkan eomma. Kajja!”

Dengan santai, Appa berjalan memimpin kami di depan sambil menggeret-geret koper eomma. “Ppaliwaa!!” Seru Appa. “Ppaliwa, Hyejin-ah! Lelet sekali seperti siput.”

“Yaaa, Kyuhyun-ahh!”

Appa dan eomma memang seperti ini. Suka-sukanya sendiri tapi mereka tidak bisa hidup satu sama lain. Sama seperti aku tidak bisa hidup tanpa mereka. Kami saling mencintai dan tidak bisa terpisahkan. Family.