Proudly present for ELF, semoga kalian puas, dan yang baca mohon komen, komen kalian adalah semangat untuk saya.

 *****

Sembayun angin dingin menyapa pergelangan tanganku yang tidak terbalut kain untuk melindunginya. Aku menatap jalanan yang membentang didepanku. Tidak banyak yang berubah. Sama seperti waktu yang lalu. Sekelabat kenangan berputar didepan mataku. Seakan menonton film. Aku tersenyum. Membayangkan potongan kehidupanku, yang menjadi saksi penting dalam hidupku. Seruan, teriakan, panggilan, tangis, semuanya pernah terjadi di tempat manusia datang-pergi setiap waktunya menuju tempat yang ingin mereka tuju. ‘Bandara’. Aku terpaksa menghentikan nostalgiaku ketika melihat sebuah mobil berhenti di depan ku.

Bukannya menuju rumah, dimana sudah ada tangan hangat yang akan menyambutku, namun aku lebih memilih tempat terbaik bagiku. Melebihi menara Eiffel sekalipun. Senyum tidak hentinya menghiasi wajahku, tidak sabar kembali ke tempat itu. Meski, aku tidak akan menemukan manusia-manusia ajaib yang sangat aku rindukan.

Gedung pencakar langit yang masih kokoh berdiri dengan angkuhnya, namun di lorong kecil, di suatu ruang, ada sejuta kenangan manis yang tersimpan.

Kaki-kakiku melangkah dengan tidak sabaran, memasuki gedung tersebut. Menaiki lift, dan sampai. Lantai 11.

Coret-coretan tangan yang telah berumur itu masih ada. Masih menempel dengan jelas. Tidak ada yang membersihkannya. Karena aku dan manusia-manusia ajaib itu begitu meghargai pembuat coretan di pintu dan lift tersebut.

Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Jantung ku berdebar dengan cepat. Aku gugup, walalupun hati ku telah memberontak tidak sabaran. Jari-jari panjang di tangan kanan ku bergerak di atas 10 tombol membentuk sebuah kombinasi angka, sebuah kata sandi.

‘Klik’

Ku pegang engsel pintu dan memutarnya, mendorong perlahan pintu kayu coklat yang disekitar dindingnya di penuhi coretan seperti yang aku katakan tadi. Coretan itu di torehkan puluhan tangan yang berbeda, mungkin ratusan. Ku tutup pintu secara perlahan hingga menimbulkan suara decitan pertanda pintu itu sudah jarang digunakan. Hening, sepi, sunyi. Tidak ada tanda kehidupan di ruangan besar itu, namun banyak kenangan manis yang kini tergambar dimata ku.

Aku berdiri menatap semuanya, tempat sepatu yang masih kokoh berdiri menyandar di dinding putih. Aku masih ingat, bagaimana tempat sepatu itu tampak begitu penuh karena ada lebih dari 13 pasang sepatu yang tersusun di sana. melepaskan sepatu dan memasang sandal rumah bewarna biru yang tersusun bersama 12 pasang sandal lainnya. Ku susuri ruangan itu. Yang pertama ku temukan adalah dapur. Dapur dengan kitchen set lengkap dan  sebuah kulkas ukuran besar. Aku membuka lemari dapur yang tergantung di dinding. Semuanya masih lengkap. Tidak ada yang berubah. Tersusun rapi seperti biasanya, bersih. Walaupun lemari itu sudah mulai ditutupi debu tipis. Mungkin ahjuma yang biasa membersihkan ruangan sudah beberapa hari cuti, mungkin.

Kulkas dalam keadaan mati, namun aku tetap membukannya. Kosong. Namun masih ada beberapa note dengan kertas berwarna-warni yang tertempel di pintu kulkas.

“Kyu, jangan lupa makan suplemen sayur mu,”

“Ryeowook, susu strawberry ku habis, kalau kau ke supermarket tolong belikan ya,”

“Shindong, kue didalam kotak jangan di makan!”

Hahaha. Aku tertawa kecil membaca isi beberapa note tersebut. Meja makan kayu dengan 6 kursi yang mengelilinginya, namun ada 7 kursi lagi yang bersandar didinding. Ramai? memang. Tapi aku menikmatinya. Aku merindukan bagaimana aku dan 12 saudaraku yang lain berebut makanan ketika Ryeowook memasak di dapur. Sungguh menyenangkan saat bersama mereka. Di dinding putih di belakang meja makan ada puluhan pajangan yang digantung berdasarkan tahun lahirnya.

Ku gerakkan jemari ku secara perlahan menyusuri setiap pajangan tersebut. Itu bukan sembarangan pajangan yang digantung di dinding yang hanya untuk dinikmati, namun, itu adalah bukti perjalanan hidupku dengan 12 saudara ku. Perjalanan panjang, yang penuh perjuangan, luka, duka, tangis, keringat, emosi, tawa, pengorbanan, kecewa dan bahagia.

Kulangkahkan kakiku kembali, ruang tengah. Dengan 2 sofa panjang yang disatukan, menyandar ke dinding menghadap televisi LED, di tengah keduanya terbentang karpet bulu besar yang luas. Aku melihat banyak pintu . pintu kamar. Ada kamar Donghae dan Eunhyuk yang dipintunya tertempel karton karya mereka “Ini kamar monyet-ikan bersaudara, HARAP TENANG!”. mengaku juga mereka titisan hewan. Lalu kamar Yesung dan Ryeowook. Aku masih ingat, pernah menyembunyikan kura-kura Yesung, hampir saja hewan lambat itu melompat dari balkon. Di sebelahnya ada kamarku dan Sungmin. Sungmin begitu baik, ia selalu membersihkan kamar. Tapi aku memang tidakk pernah menimbulkan kotoran. Karena aku bukan hewan yang sembarangan pup. Aku membalikkan badan ku dan menemukan pintu putih. Itu adalah kamar yang sempit yang diisi seorang anak manusia yang berhati mulia. Ia adalah pengganti ayah bagi kami semua, khususnya Donghae. Kami bukanlah saudara kandung. Namun kami dipertemukan Tuhan dalam jalan hidup yang sama. Pintu itu adalah penghubung ruang tengah dengan kamar Leeteuk. Ia penggila warna putih, karena itu ia nekat mengganti warna pintu kamar tersebut menjadi putih.

Aku berjalan ke arah pintu balkon. Balkon yang menghadap langsung kepada keadaan kota Seoul yang tidak pernah tidur. Kerlap-kerlip lampu begitu jelas dimata. Disini, Donghae menangis ketika ia merindukan ayahnya. Kami beramai-ramai memeluknya.

Angin musim dingin langsung menerpa kulit ku. Aku segera menutup pintu dan langsung menghadap karpet bulu di ruang tengah. Aku duduk di tengah karpet tersebut. Menutup mata ku, mencoba memasuki kenangan masa lalu agar dapat kembali merasakan kehangatan mereka.

Si tua Leeteuk yang selalu sabar dan tenang, namun tidak mau membagi  beban pada kami. Aku begitu merasakan bagaimana pentingnya posisi Leeteuk di tengah-tengah kami ketika ia pergi wamil.

Si bawel Heechul, yang selalu memarahi ku karena ia bilang aku tidak menghormatinya sebagai yang lebih tua. Yang selalu konyol namun sangat menyayangi kami. Selalu berusaha membantu Leeteuk mengatasi tingkah kami, khususnya aku. Jangan salah sangka,  aku ini anak baik-baik yang selalu patuh. Hanya saja terkadang khilaf.

Kepala besar Yesung yang diam-diam selalu memperhatikan kami.

Hangeng, yang dulu membuat ku menangis di atas sebuah kertas karena ia meninggalkan ku dan yang lain, membuat kebahagiaan yang sedang aku nikmati karena memiliki banyak saudara, hilang, karena ia pergi. Tapi, untung saja ia kembali.

Kangin, ia selalu mengatakan ia yang paling tampan sejagat raya. Tapi jauh lebih tampan aku. Dia kan sudah tua. Walaupun ia sedikit kasar, tapi ia memiliki wibawa sebagai laki-laki yang aku teladani.

Shindong, haha, aku salut dengan manusia ini. kreatif, pede, walaupun dulu ia berbadan gemuk, tapi lihatlah sekarang.

Sungmin, baik, lembut, teman sekamar ku, penggila warna pink, begitu perhatian kepada sesama, dan ia serba bisa. Makan apa ia dulu ketika di perut ibunya ??

Eunhyuk, monyet nyasar yang mengaku sebagai won bin kepada Hangeng. Tapi, aku akui ia sangat pintar menari dan rap. Tidak salah, kalau ‘THE KING DANCE’ dan ‘BEST RAPPER’ ASIA, ada pada dirinya.

Donghae, dimana ada Eunhyuk ada Donghae, dimana ada Donghae ada Eunhyuk, begitu mudahh tersentuh dan ia adalah adik yang paling diperhatikan Leeteuk, karena alm ayah Donghae menitipkannya pada Leeteuk. Hebat bukan.

Siwon, sempurna, hanya saja ia begitu datar namun bisa bertingkah idiot tiba-tiba. Dia adalah penceramah bagi kami, TUHAN itu baik, TUHAN itu adil, dan seterusnya.

Ryeowook, tukang masak, dokter, pengganti Ibu. Di tengah malam pun, ketika Eunhyuk dan Shindong kelaparan ia akan bangun dan memasak.

Ki Bum, penerjemah bahasa inggris bagi kami. Ia begitu tertutup, namun tidak bisa berpisah dengan kami.

Aku merindukan mereka. Meski tidak semua yang tidur di ruangan ini, namun kami selalu berkumpul di sini, di karpet ini. tidur bersama, berbagi cerita. Apa saja akan di tumpahkan di sini. Dosen di kampus, pekerjaan, cinta, apapun yang kami alami selama seharian, mengalir sambil menatap langit-langit ruang tengah.

Aku membalikkan badan ku masih di posisi duduk. Sofa panjang. Senyum mengembang di wajah ku. Bukan sofa, namun sesuatu di atas sofa tersebut. Lukisan. Gambar , Leeteuk, Heechul, Hangeng, Yesung, Shindong, Sungmin, Eunhyuk, Donghae, Siwon, Ryeowook, Ki Bum, dan aku, Kyuhyun. Tersenyum bersama dengan ekspresi bahagia tak terucapkan tergambar di wajah.

“Yunani, May 23 2019”

Sudah begitu lama ternyata hidup berjalan. Gambar ini adalah wujud rasa bahagia yang begitu besar pada setiap diri kami. Di atas tanah coklat membelakangi Grand Canal. Merayakan 13 tahun kami bersama sebagai Super Junior. Tepat pada tanggal itu, kami bersama, 13 laki-laki, resmi sebagai Super Junior.

Mensyukuri kami dapat berkumpul bersama kembali membentuk angka 13. Setelah melewati jalan yang panjang dan rapuh.

Aku merindukan mereka. Tanpa ku sadari, sebulir bening mengalir dari pelupuk mata ku. Aku pun enggan menghapusnya. Biarlah, air mata itu mengalir seperti rasa sayang ku pada mereka yang terus mengalir, seperti rasa rindu yang tidak pernah berkurang.

Sayup-sayup aku mendengar suara teriakan dari pintu balkon yang memang aku biarkan terbuka.

“Saengil Chukae, we stiil with you …”

“Shining stars, like a little diamond …”

Mereka, ELF,

Ratusan, berdiri di bawah memakai baju warna biru dan memegang balon biru. Di depan mereka aku melihat mereka, mereka manusia ajaib yang aku  rindukan.

“KYUHYUN-A!!! TURUNLAH!!”

Dengan nafas terengah-engah, aku berlari secepat mungkin, ke tempat mereka berada. Aku berlari. Berlari. Tangis tetap berurai dari mata ku. Sesampainya di lobi, aku tidak mempedulikan tatapan orang-orang. aku menuruni tangga pintu masuk dengan tergesa.

“HYUNG-DEUL!!”

Dan berlari kedalam pelukan 12 saudaraku. Ke dalam hangatnya tubuh mereka. Menangis bersama. Tubuh mereka yang semakin tua, tidak seperti dulu.

“Kyuhyun-a, kau sehat kan ??”

“Bagaimana kabarmu ?”

“Tidak ada masalah, kan ?”

Dan berbagai pertanyaan yang mereka lontarkan untukku. Aku pergi dari mereka, untuk menemani kakakku ke luar negeri, tanpa sepengetahuan mereka. 5 tahun sejak perayaan angka 13. Aku sangat merindukan mereka.

“Super Junior The Last Man Standing !!!”

Aku dan yang lain melepaskan pelukan , dan menatap sumber energy kami yang tetap setia bersama kami. Aku dan 12 saudara ku berdiri rapi. Leeteuk tersenyum.

“URI NE-UN SYUPEO JUNI-OEYO!!!”

“URI NE-UN ELF-OEYO!!!”

Note : fuih, akhirnya kelar. Awalnya ini dibuat untuk tugas B.Indonesia, tapi karena teman di kelas pada suka, yaudah aku post, dengan beberapa perbaikan. Ada beberapa perubahan situasi biar sesuai dengan cerita, kaya, kamar, sebenarnya kan, donghae sama leeteuk dan lain-lain. Thanks banget buat yang baca, dan silahkan di komen, habis-habisan juga gak apa-apa. O ya, @farfiays2620 itu ID weibo dan twitter aku numpang promote.  Thanks buat admin yang bersedia ngepost, free to visit syafiracahayani.wordpress.com