Annyeong @gyumontic is back!!
Kali ini korbannya yesung oppa yang udah mau wamil… Gak sempet nonton ss5 msh ada dia deeeh. Huhuhu. Makanya ff aja yaaah.
Semoga sukaa.

Fated to Meet You

Dak! Dak! Buk! Brak! “Yaa! Bukan seperti itu. Cepat! Cepat!” teriak eomma, makhluk paling cerewet di rumah ini. Buk! “Yaa yeobooo!” seru eomma.

“Mian,” balas appa, samar-samar terdengar.

Entah apa yang membuat pagi-pagi buta seperti ini rumahku sudah ribut, seperti persiapan mau perang. Aku keluar dari kamarku, menghampiri keributan yang menganggu tidurku. Berusaha keras untuk tidak menambah keributan, padahal aku sangat ingin melakukannya.

“Eomma,” panggilku saat ia melewatiku sambil menggeret-geret sebuah koper besar bewarna pink menyolok, yang setahuku tidak pernah dimiliki keluarga kami. “Koper siapa itu?” tanyaku.

“Hyemi. Dia akan tinggal bersama kita mulai hari ini,” jawab eomma lalu meninggalkanku dengan ribuan kerutan di kening.

“Hyemi? Hyemi siapa?” tanyaku penasaran dalam hati.

Aku mengikuti langkah eomma masuk ke dalam kamar yang memang dibuat untuk tamu atau keluarga yang datang ke rumah. Aku melihat eomma dengan seorang gadis.

“Hyemi?” ucapku begitu saja saat melihatnya. Gadis itu memandangku sambil tersenyum kemudian membungkukkan tubuhnya dengan sopan.

“Annyeonghaseyo, Cho Hyemi imnida. Maaf menganggu pagi-pagi buta seperti ini,” ucap gadis yang ternyata bernama Hyemi itu.

Eomma berbalik menghadapku. “Jongwoon, ini Hyemi, anak sahabat eomma waktu di Inggris. Mulai hari ini ia akan tinggal di sini,” kata eomma.

“Wae?” tanyaku. Bukan aku tidak suka dengan kehadiran orang asing di rumahku. Aku hanya ingin tahu mengapa harus di rumahku.

“Orang tuaku meninggal minggu lalu dan hanya Kim ahjumma yang mau menampungku. Mianhamnida,” jawab Hyemi.

Gadis ini sebatang kara, tidak memiliki siapa-siapa dan eomma hanya ingin menolongnya. Bukan masalah besar. “Anggap saja rumah sendiri,” kataku kemudian meninggalkan kedua wanita tersebut untuk melanjutkan aktivitas mereka. Aku lebih baik memanfaatkan pagi ini untuk jogging.

++++

“Mari makan!!” Seperti biasa eomma dengan ceria menyiapkan makanan untuk kami. “Makanannya seadanya saja ya, sayang,” ucap eomma kepada Hyemi.

Hyemi tersenyum penuh terima kasih. “Ini sudah lebih dari cukup, ahjumma. Terima kasih banyak. Mari makaaaan!” sahut Hyemi lalu melahap makanannya dengan anggun.

“Ngomong-ngomong, apa Jongjin tidak ikut makan bersama kita, ajhumma?” tanya Hyemi setelah menelan beberapa suap makanannya.

“Oh iya, Jongjin sudah menikah 2 tahun lalu. Dia tinggal bersama istrinya jadi tidak mungkin makan bersama kita disini,” jawab eomma. “Kalau nanti dia main ke sini, kau pasti akan bertemu dengannya. Sudah lama tidak bertemu ya?”Hyemi menganggukkan kepalanya. “Sudah hampir 3 tahun,” jawab Hyemi.

“Kau kenal dengan Jongjin?” tanyaku pada Hyemi, berdasar rasa penasaran.

Hyemi menganggukkan kepalanya. “Sewaktu kuliah di Swiss, dia sering main ke London dan kami sering bertemu. Dia sudah seperti kakakku sendiri. sangat baik padaku.”

“Oh ya? Tapi dia tidak pernah cerita tentangmu.” Aku menyadari nada suaraku yang agak sinis. “Maaf bukan aku tidak percaya. Hanya saja aku…”

“Aku mengerti perasaanmu. Kau pasti kesal karena tidak menceritakan segalanya padamu kan?”

Aku mengangguk pelan. Bagaimana dia mengerti apa yang aku rasakan?

“Umurmu berapa?” tanyaku, sekedar basa-basi.

“24. Beda 4 tahun denganmu. Kau 28 kan?” jawabnya.

Aku kembali menganggukkan kepalaku. “Bagaimana kau tahu?” tanyaku bingung.

“Jongjin selalu bercerita tentangmu. Setiap mendengarnya bercerita, aku jadi selalu ingin memiliki saudara. You know, aku anak tunggal,” ujarnya.

Ini pertama kalinya aku bertemu Hyemi tetapi aku sudah mengetahui seluruh seluk beluk hidupnya. Dia anak tunggal dari keluarga Cho, hobinya memasak karena dari kecil ia sudah diterjunkan ibunya ke dunia itu. Cita-cita jadi seorang koki dan memiliki banyak restoran di seluruh penjuru dunia.

“Selamat malam, Jongie. Selamat tidur. Senang berkenalan denganmu,” ucapnya sebelum menutup pintu kamarnya saat aku menaiki tangga menuju kamarku. Kamar Hyemi tertelak di samping tangga bagian bawah sedangkan aku di samping tangga bagian atas.

++++

Duk! Duk! Duk! Kalau bukan eomma yang menggedor-gedor kamarku, aku pasti sudah terlambat berangkat ke kantor. “Yaaa Kim Jongwoon! Ayo sarapan! Jangan sampai kau ke kantor dengan perut kosong! Cepat!” seru eomma.

Aku membuka pintu kamarku dan bertemu dengan Hyemi yang sedang membawakan nampan berisi pancake dan susu untukku. “Aku pikir kau tidak mau turun ke bawah jadi aku bawakan saja. Pancake ini aku yang buat. Semoga kau suka,” kata Hyemi.

“Gomawo,” ucapku. Aku meletakkan sarapanku di atas meja dan mulai memakannya sambil mengikat tali sepatuku. Pancake kedua aku makan sambil memakai dasiku.

“Boleh aku membantu?” tanya Hyemi, membuatku bingung. “Tampaknya kau kesusahan memakai dasi. Biar aku bantu. Kau makan saja pancake-mu,” lanjutnya.

Tanpa basa-basi, Hyemi mengambil alih dasiku dan dengan cekatan menyimpulnya dengan sempurna. Hyemi hanya beda 10 senti denganku. Kepalanya terletak tepat di bawah daguku saat ia berdiri mengikat dasiku. Dari jarak sedekat ini, aku menyadari dia cukup cantik dan wangi.

“Go…goma..wo,” ucapku gugup setelah Hyemi selesai memasang dasi di leherku. Hyemi kemudian tersenyum, membuat jantungku berdegup kencang, tidak bisa disembunyikan lagi. “Pancake-mu enak,” pujiku kemudian untuk menutupi perasaanku.

“Terima kasih kembali. Selamat bekerja,” ujarnya melepasku. Aku kemudian berpamitan pada eomma sebelum benar-benar terlambat ke kantor.

++++

Urusan kantor memang selalu melelahkan. Pantas saja appa dengan sukarela mewariskannya padaku. Aku yakin dia lebih baik mengurus tanaman-tanaman eomma daripada harus duduk di ruangannya menerima puluhan laporan dan beberapa keluhan.

“Kau sudah pulang. Ayo makan. Eomma sudah menyiapkan makan malam untuk kita,” kata appa sambil merangkul bahuku. “Bagaimana pekerjaanmu hari ini?”

Aku menghela nafas panjang yang dibalas senyuman oleh appa. “Aku yakin kau bisa melewatinya. Ada saatnya nanti kau terlepas dari itu semua.”

Kami bertiga berkumpul di ruang makan dan aku duduk di kursiku seperti biasa. “Mana Hyemi?” tanyaku saat menyadari gadis itu tidak ikut bergabung makan malam bersama kami.

“Ke rumah temannya sekaligus berbelanja. Katanya besok dia ingin masak bulgogi saus tiram. Kita tidak punya bahannya jadi dia pergi membelinya,” jawab eomma santai.

Aku melihat jam yang terpasang di ruang makan ini sudah menunjukkan pukul 10 malam. “Sampai semalam ini? Eomma yakin?” tanyaku agak cemas. “Apa eomma sudah meneleponnya?” Kali ini aku rasa agak berlebihan.

“Jongie, habiskan makananmu. Cerewet sekali. Sejak kapan kau bisa mencemaskan orang?” tanya eomma kesal sekaligus curiga.

“Aku tidak mencemaskannya. Aku hanya berpikir bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya, keluarga kita yang akan terseret,” jawabku.

“Terserah apa katamu.”

Aku menghabiskan makananku lalu mengambil langkah seribu ke kamarku. Aku butuh mandi dan istirahat. Hari ini terlalu melelahkan.

++++

Tok! Tok! Tok! Tok! Ketukan di pintu kamarku membangunkanku dari tidur nyenyak yang sangat enak ini. “Nugu? Jakkaman,” ucapku dengan setengah sadar.

“Maaf membangunkanmu.” Ternyata Hyemi. “Aku mau berenang. Apa kau mau ikut? Mumpung udara pagi ini masih segar,” ajaknya.

Aku melihat celah-celah di jendelaku yang tertutup gorden, belum banyak sinar matahari yang masuk. Cukup enak untuk berenang. “Baiklah. Tunggu sebentar. Aku siap-siap dulu,” kataku.

“Okee. Aku tunggu di bawah ya. Tidak usah pakai acara mandi.” Hyemi tertawa kemudian kembali ke bawah.

Aku membereskan semua perlengkapan renangku kemudian menyusul Hyemi. “Sudah siap?” tanyanya saat melihatku. Aku menganggukkan kepala.

“Paman, Bibi, kami berenang dulu ya. Aku sudah membuat bubur kerang untuk sarapan kalian. Semoga kalian menyukainya. Sampai jumpa,” pamit Hyemi.

“Appa, eomma, aku pergi,” pamitku. Aku berjalan di belakang Hyemi.

“Kau mau kemana?” tanyaku saat melihat Hyemi terus berjalan keluar melewati pagar, bukannya ke garasi.

“Berenang. Memangnya kemana?” sahutnya yang membuatku bingung.

“Maksudku ke kolamnya. Apa kita akan jalan kaki?”

Hyemi menganggukkan kepalanya dengan semangatt. “Kolamnya sangat dekat. Apa kau tidak tahu?”

Aku menggelengkan kepalaku. “Kau harus lebih peduli pada lingkunganmu. Ayo!” seru Hyemi. Ia kembali untuk menghampiriku dan menarikku mengikuti kemanapun ia melangkah.

“Kapan terakhir kau berenang?” tanyanya, seperti biasa untuk memulai percakapan.

“Entah. Aku tidak ingat sama sekali. Olahraga yang aku ingat hanya fitness. Itu pun di kantor kalau sempat,” jawabku.

“Pantas. Hari pertama aku tiba di rumahmu, aku keliling-keliling. Banyak yang aku temukan, salah satunya kolam renang ini. Aku pikir akan sangat nyaman berenang di sana. Kemudian aku menemukan sebuah restoran yang sangat cozy. Pemiliknya bernama Choi Siwon, katanya dia mengenalmu. Dia menawarkan aku jadi koki disana dan aku dengan senang hati menerimanya. Lingkungan rumahmu menyenangkan, Jongie.”

“Kenapa kau tidak pernah cerita?” tanyaku takjub betapa banyak yang ia temukan padahal baru beberapa hari di sini.

“Kau selalu sibuk bekerja. Berangkat pagi, pulang malam. Apa pekerjaanmu selalu sebanyak itu?”

Aku menganggukkan kepalaku. “Aku tidak punya pilihan. Aku hanya bisa bertanggung jawab dan itu konsekuensinya.”

“Tampaknya kau butuh hiburan. Baiklah, habis berenang, aku akan buatkan sarapan khusus untukmu lalu kita akan pergi jalan-jalan dan nonton.” Hyemi sampai pada kesimpulan dan rencananya sendiri.

Aku tertawa melihatnya. Dia tidak salah tapi tidak sepenuhnya benar. Aku memang butuh hiburan tapi aku lebih senang pulang lalu tidur sepuasnya. Pasti akan terasa lebih nikmat setelah berenang.

++++

“Okee, Jongie. Ayo kita lomba. Kalau kau menang, kau boleh memilih apapun yang ingin kau lakukan hari ini. Aku akan masak apapun yg ingin kau makan dan akan menemanimu kemanapun kau ingin pergi,” kata Hyemi saat kami sudah berada di dalam kolam renang.

“Kalau kau yang menang?” tanyaku.

“Aku akan mentraktirmu apapun yang kau mau,” jawab Hyemi.

Aku tersenyum kemudian menjabat tangannya. “Deal. Ayo kita mulai!” Aku mulai berenang diikuti Hyemi dengan sekuat tenaga.

“Yaa Jongie! Kau curang! Kau curi start! Hhhh… Harusnya aku yang menang,” protes Hyemi saat aku menyelesaikan lomba dengan waktu 5 detik lebih cepat darinya.

“Sudahlah. Terima saja kekalahanmu. Kau harus mentraktirku hari ini,” balasku sambil tertawa. Aku sebenarnya tidak peduli siapa yang menang atau siapa yang kalah. Aku hanya ingin menggodanya.

“Kau…curang.”

Aku tersenyum cuek. “Deal is a deal, nona Cho. Dan kau harus menepatinya.”

“Baiklah, baiklah. Apa yang kau inginkan?” tanya Hyemi mulai menerima kekalahannya.

“Pulang. Aku ingin tidur saat kau memasak pancake dan spaghetti untukku. Kemudian aku ingin mereka disajikan dengan wine kesukaanku. Itu untuk pagi ini. Untuk siang, sore dan malam, aku akan memikirkannya nanti.”

“Jongwooon….”

Aku hanya tertawa sambil naik dari kolam renang untuk berbilas dan pulang. Kulihat Hyemi masih berdiri di dalam kolam itu, mungkin berpikir apa yang harus dia buat untuk memenuhi permintaanku.

++++

Wangi pancake, spaghetti dan wine menguar masuk menusuk hidungku. Membangunkanku dari kegiatan kesukaanku, tidur. Tampaknya Hyemi sudah selesai melaksanakan tugasnya pagi ini.

“Jongie, semuanya sudah siap. Ayo,” ajak Hyemi sambil menarikku bangun dari sofa ruang tamu yang terletak dekat ruang makan. Aku mengikutinya masuk ke dalam ruang makan dan duduk di tempat aku biasa duduk. Pancake, spaghetti dan wine sesuai keinginanku tersedia rapi di depan mataku.

Aku mulai meneguk wine-ku, sekali, kemudian berpindah ke spaghetti. “Mashitta. Jinjja!” Pujiku. Makanan Hyemi memang nomor satu. Keahliannya dalam hal masak-memasak memang harus diakui TOP.

“Jeongmal? Gomawo, Jongie,” balas Hyemi.

Aku kembali menikmati spaghetti-ku sampai habis kemudian menuntaskan pancake-ku. “Kau memang jagoan! Semua masakanmu perfect! Sekarang ayo kita jalan-jalan.”

Aku menggandeng Hyemi turun dari tempat duduknya. “Wine-mu bagaimana?” tanyanya.

“Kita bisa meminumnya nanti malam, sampai habis. Sekarang kau harus menunjukkan hal-hal yang kau tahu tapi aku tidak tahu di lingkunganku sendiri.”

Hyemi tersenyum. “Baiklah. Aku akan menunjukkan banyak hal padamu. Kajja!” ujar Hyemi dengan semangatt menarik tanganku yang menggandengnya. Kurasa sekarang sudah ia yang menggandengku.

Hal pertama yang ia tunjukkan padaku adalah sebuah toko roti, sederhana tapi sangat nyaman. “Roti disini enak dan sehat. Kau harus mencobanya,” kata Hyemi.

Hyemi menarikku masuk dan mendudukkanku di salah satu tempat yang sangat nyaman. Ia kemudian memesan roti. “Ahjumma, apa roti spesial kita hari ini? Kulihat tokomu lebih ramai,” sapa Hyemi dengan gaya khasnya yang ramai. Tampaknya Hyemi sudah kenal dengan pemilik toko ini.

Ahjumma itu tersenyum cerah pada Hyemi. “Semua berkat resepmu, Hye. Tuna cheese, blueberry choco, dan beef croissant. Aku menambah semua resepmu,” kata ahjumma itu.

Aku mendengarkan percakapan mereka dengan seksama sambil tersenyum sendiri. “Aku akan memberikan resep baru begitu aku mendapat inspirasi. Sekarang, boleh aku mencicipi roti-roti itu? Aku dan temanku sudah sangat kelaparan.”

Ahjumma mengintip untuk melihatku. Aku tersenyum sesopan mungkin padanya. Ia balas tersenyum kemudian kembali kepada Hyemi. “Ini roti untukmu dan pacarmu. Minumannya akan diantar ke tempatmu langsung. Teh atau kopi?”

“Dua-duanya. Jeongmal gomawoyo, ahjumma!”

Hyemi sudah kembali muncul di hadapanku. “Ini blueberry dan beef croissant untukmu. Semoga kau suka,” kata Hyemi.

Aku mengambil roti tersebut dan mulai memakannya. “Enak,” komentar pertamaku. “Apa kau sering kemari?”

“Hampir setiap hari. Aku mencoba membuat roti disini. Aku menyukai tempat ini. Nyaman kan?” sahut Hyemi yang kusetujui dengan anggukkan kepala.

Tempat selanjutnya yang ditunjukkan Hyemi adalah sebuah pasar kecil, tempat ia belanja semua kebutuhan masak memasaknya. “Di sini cukup lengkap dan harganya murah-murah. Aku membeli bahan-bahan memasakku di sini. Penjualnya juga baik-baik,” jelas Hyemi.

Hyemi kemudian menarikku ke sebuah tempat penjualan dvd sekaligus mini theater. “Kau ingin menonton film apa? Drama? Action?” tanya Hyemi menawarkanku beberapa judul film.

“Kartun,” jawabku mengambil film berjudul Lion King. “Hakuna Matata!”

Hyemi menyerahkan film itu kepada si penjaga lalu dengan semangatt mengajakku masuk ke dalam mini theater. Aku menonton dengan serius sementara Hyemi diam-diam tertidur di sebelahku, membuatku tersenyum geli.

“Hye, filmnya sudah habis. Ayo bangun. Kita pulang,” kataku berulang kali, mencoba membangunkannya tapi tidak sekalipun ia terbangun. Dengan terpaksa, aku menggendongnya kembali ke rumah.

++++

Perlahan Hyemi membuka matanya. “Maaf aku ketiduran. Apa filmnya sudah selesai?” tanya Hyemi yang semakin membuatku geli.

“Kita sudah pulang. Kau tidur nyenyak sekali,” jawabku.

“Maaf.”

“Gwencana. Kau pasti butuh istirahat. Tidurlah.”

Hyemi menggelengkan kepalanya. “Aku masih punya hutang minum wine denganmu. Jakkaman!” Hyemi kemudian pergi ke ruang makan untuk mengambil anggur yang tadi siang tidak jadi kami minum.

Hyemi menuangkan anggur ke gelasku kemudian ke gelasnya. “Ayo kita lomba. Siapa yang mabuk duluan, dia harus mentraktir yang tidak mabuk makan siang besok,” tantang Hyemi, membuatku tertawa.

“Asal kau tahu, aku ini raja anggur. Kau pasti kalah,” kataku kemudian meneguk segelas anggurku tanpa ragu. Seakan tidak mau kalah, Hyemi meneguk miliknya juga.

Aku mengisi lagi gelasku kemudian meneguknya lagi, begitu terus berulang tanpa merasa mabuk sekalipun. Berbeda dengan Hyemi yang sudah mulai tumbang.

“Jongie, apa kau pernah jatuh cinta?” tanya Hyemi dalam mabuknya. “Aku pernah, jatuh cinta hanya melalui cerita.”

Hyemi duduk di sebelahku dan mengulaikan kepalanya di bahuku. “Tidak bisakah kau mengalah saja?” racau Hyemi di dalam mabuknya. “Kalau aku menang, aku bisa mengatakan perasaanku. Aku menyukaimu.”

Kata-kata terakhirnya cukup menggetarkan hatiku tapi tidak seharusnya diucapkan saat ia mabuk. Aku terdiam.

“Aku menyukaimu dari cerita Jongjin . Menurutmu mungkin konyol tapi itu yang terjadi. Aku menyukaimu.”

Dengan susah payah aku menggendongnya menuju kamarnya. “Kau harus istirahat, Hyemi.”

“Jongie, aku menyukaimu.”

Aku meletakkan Hyemi di tempat tidurnya dan menyelimutinya. “Istirahatlah. Kau terlalu mabuk.”

Hyemi memelukku. “Aku sungguh menyukaimu, Jongie,” ucapnya untuk kesekian kali. Maafkan aku, Hye.

-tbc-