Yuhuuuuu…
@gyumontic dtg dgn part 2.. Hhehee . Cpet bgt yak?
Enjoy yaaa…

Ddok! Ddok! Ddok! “Yaaa… Kim Jongwoon!! Sampai kapan kau mau tidur? Kantor sudah menunggumu!!! Hei, bocah!!” Teriak eomma sambil menggedor kamarku.

Jika alarm tidak mempan, dengan mudah eomma dapat membangunkanku. “Berhentilah memanggilku bocah, eomma. Aku sudah berumur hampir 29 tahun. Dan aku seorang direktur!” Protesku.

“Tapi kau masih harus dibangunkan oleh eommamu. Apa itu namanya bukan bocah? Jangan banyak protes. Cepat bangun!” Balas eomma.

“Ne,” jawabku melunak. Aku tidak pernah bisa menang jika sudah berdebat dengan eomma. Rupanya tajamnya mulutku keturunan darinya.Tidak sampai setengah jam, aku sudah siap dan bergabung dengan eomma dan appa untuk sarapan bersama. “Selamat pagi,” sapaku kepada eomma dan appa yang sudah meninggalkanku sarapan.

“Selamat pagi, Jongie. Cepatlah makan sarapanmu sebelum appa menghabiskannya. Bulgogi saus tiram buatan Hyemi enak sekali. Appa sudah 3 kali tambah,” kata appa.

Hyemi. Tiba-tiba ingatanku kembali ke kejadian tadi malam.

Hyemi duduk di sebelahku dan mengulaikan kepalanya di bahuku. “Tidak bisakah kau mengalah saja?” racau Hyemi di dalam mabuknya. “Kalau aku menang, aku bisa mengatakan perasaanku. Aku menyukaimu.”

Kata-kata terakhirnya cukup menggetarkan hatiku tapi tidak seharusnya diucapkan saat ia mabuk. Aku terdiam.

“Aku menyukaimu dari cerita Jongjin . Menurutmu mungkin konyol tapi itu yang terjadi. Aku menyukaimu.”

Dengan susah payah aku menggendongnya menuju kamarnya. “Kau harus istirahat, Hyemi.”

“Jongie, aku menyukaimu.”

Aku meletakkan Hyemi di tempat tidurnya dan menyelimutinya. “Istirahatlah. Kau terlalu mabuk.”

Hyemi memelukku. “Aku sungguh menyukaimu, Jongie,” ucapnya untuk kesekian kali. Maafkan aku, Hye.

Tanpa bisa kontrol, aku mencium kening Hyemi kemudian mencium bibirnya pelan dan untuk waktu yang cukup lama. Hyemi menangis kemudian tersenyum. “Terima kasih,” ucap Hyemi.

“Mana Hyemi?” Tanyaku kepada eomma dan appa karena Hyemi tidak ada bersama kami.

“Dia sudah pergi kerja. Katanya, boss-nya membutuhkannya pagi ini,” jawab eomma.

“Sepagi ini?!” Seruku kaget tanpa bisa aku cegah.

Eomma memandangku dengan curiga. “Yaa, Kim Jongwoon. Buat apa kau berteriak seperti itu kepada eomma? Hyemi hanya pergi bekerja bukan lain-lain, kenapa kau harus kaget seperti itu sih?! Aneh deh kau,” balas eomma.

“Mian,” ucapku pelan.

Siwon, nama pemilik restoran tempat Hyemi bekerja alias bos-nya. Buat apa dia membutuhkan Hyemi sepagi ini? Restorannya memang buka dari jam berapa sih? Rasa kesal tiba-tiba muncul merasuki diriku padahal aku tahu seharusnya itu tidak perlu.

++++

“Tuan Kim, ada yang ingin bertemu dengan anda. Namanya Cho Hyemi. Apa anda ingin bertemu dengannya?” Tanya sekretarisku melalui telepon.

Hyemi. Buat apa dia datang ke kantorku? Pikirku. “Suruh dia masuk,” jawabku dan dengan segera aku sedikit menambah kekacauan di ruang kerjaku.

Tidak lama, sosok gadis itu sudah muncul di hadapanku sambil tersenyum. “Waaa!!! Jinjja daebak! Untuk menemuimu saja harus melalui sekretaris. Kesibukanmu juga luar biasa. Kau benar-benar seorang direktur!” Komentar Hyemi sambil melihat sekeliling ruangan kerjaku.

Aku tertawa pelan. “Aku memang benar-benar seorang direktur tahu,” kataku sedikit menyombongkan diri.

Hyemi balas menertawaiku. Dia mengangkat rantang makanan di tangan kanannya. “Meskipun begitu Direktur Kim, kau tidak boleh lupa makan siang. Kesehatanmu tetap nomor satu. Aku rasa bibi akan marah besar jika tahu kelakuanmu begini. Sudah jam 3 sore dan kau belum makan siang,” katanya.

Aku menatap Hyemi dengan heran, keningku bahkan berkerut lebih banyak dibandingkan jika membaca pekerjaan pegawaiku. “Bagaimana kau tahu aku belum makan siang?” Tanyaku.

“Aku menghubungimu dari jam 12 siang tapi kau sama sekali tidak ada respon,” kata Hyemi membuatku reflek memeriksa ponselku. Aku melihat ada 3 panggilan dan 2 pesan dari Hyemi.

“Mian, aku terlalu sibuk sampai tidak menyadarinya,” ucapku.

“Tidak masalah. Aku mencoba menunggumu di lobby tapi kau tidak keluar-keluar juga.”

“Jadi kau menungguku selama 3 jam?”

“Of course not. Aku pulang untuk memasak kemudian kembali ke sini sambil membawa masakanku. Aku tanya kepada satpam di lobby apa kau ada keluar, katanya belum. Jadi, aku coba saja yang naik ke atas untuk menemuimu.”

“Oh,” sahutku singkat. Aku cukup tersihir dengannya. Dia begitu aktif dan terbuka.

“Sekarang, makanlah.” Hyemi membuka rantangnya dan menyodorkannya satu per satu kepadaku. “Kau harus makan lebih banyak karena energi yang kau habiskan juga banyak.”

Tidak hanya membukakan rantangnya, Hyemi juga menyuapiku dengan makanan yang dia bawa. “Bagaimana rasanya?” Tanyanya begitu berhasil memasukkan satu sendok nasi udang ke dalam mulutku.

Aku mengacungkan kedua jempolku ke hadapannya. “Aku rasa hanya orang yang tidak punya indera perasa jika bilang masakanmu tidak enak,” pujiku.

“Gomawo,” sahutnya. “Aku juga menyediakan buah untukmu. Harus kau makan nanti setengah jam setelah makan agar perutmu tidak terlalu penuh.”

Aku tertawa kecil. “Kau begitu perhatian padaku. Apa kau begitu menyukaiku?” Tanyaku. Entah apa yang membuatku harus bertanya seperti itu dan aku menyesal setengah mati telah mengatakannya.

Hyemi terpaku di hadapanku. “Mian,” katanya pelan dan singkat membuatku jadi salah tingkah.

“Tidak. Tidak. Harusnya aku yang minta maaf karena sudah mencuri ciumanmu di saat kau tidak sadar dan,”

“Aku sadar, Jongie. Aku tahu apa yang aku lakukan semalam,” katanya membuatku kaget. Aku memandangnya sedikit terkejut. “Baiklah. Tidak ada yang salah jadi tidak ada yang perlu minta maaf. Anggap saja hal itu tidak pernah terjadi.”

“Mwo?!”

Aku tidak suka dengan perkataannya. Anggap saja tidak pernah terjadi? Mana mungkin! Semalam dia mengatakan bahwa ia menyukaiku dan kami berciuman paling tidak dua menit dan dia bilang anggap saja tidak pernah terjadi. Bagaimana mungkin dia bisa bilang begitu?

“Aku mengerti, Jongie. Kita baru saling mengenal tidak mungkin kau langsung menyukaiku. Aku pun menyukaimu hanya karena cerita Jongjin ,” kata Hyemi kemudian sambil tersenyum.

Aku menatap Hyemi. Senyumannya benar-benar menyihirku sehingga aku tidak bisa berkata-kata seolah menerima semua yang dikatakannya. Bahkan ketika ia akan menghilang dari hadapanku, aku tidak mampu mencegahnya. “Sampai jumpa nanti malam,” ucapnya.

++++

Aku sampai di rumah nyaris tengah malam karena begitu banyak hal yang harus aku selesaikan di kantor. Biasanya, hal pertama yang ingin aku temui adalah tempat tidurku tapi kali ini aku sangat ingin menemui Hyemi.

Tok. Tok. “Hyemi, apa kau masih bangun?” Tanyaku pelan nyaris berbisik.

“Ne. Masuk saja, Jongie. Pintunya tidak dikunci,” jawab Hyemi.

Aku pun membuka pintu kamar Hyemi dan masuk ke dalam kamarnya. Tidak terlalu rapi untuk ukuran seorang wanita tapi cukup nyaman untuk ditiduri. “Aku tidak menganggu kan?” Tanyaku.

Hyemi menggelengkan kepalanya. “Kebetulan aku baru selesai menciptakan masakan baru tapi aku merasa ada yang kurang. Kau mau mencobanya?” Tanya Hyemi.

Tanpa persetujuanku, Hyemi menyuapiku sesendok sup kental yang beberapa detik kemudian baru kusadari itu sup kepiting. Enak, seperti biasa, tapi terlalu kental dan manis.

“Enak tapi terlalu kental dan manis rasanya. Kau tinggal menambahkan air sedikit lagi,” jawabku.

“Brilian! Aku pikir aku salah mencampur bumbunya ternyata aku hanya kekurangan air. Tunggu sebentar,” kata Hyemi kemudian keluar dari kamarnya dan kembali sambil membawa segelas air putih hangat.

“Sekarang bagaimana rasanya?” Tanya Hyemi setelah menyuapiku sup kepitingnya yang telah ditambahkan sedikit air.

“Pas!” Kataku.

Hyemi tersenyum senang kemudian memelukku. “Siwon pasti senang besok pagi bisa menambahkan menu baru di restorannya. Hahaha… Gomawo, Jongie,” ucap Hyemi.

“Siwon?” Tanyaku reflek saat mendengar namanya.

“Bos di restoran tempatku bekerja. Aku rasa aku sudah pernah cerita tentangnya padamu. Kapan-kapan kalau kau ada waktu luang, aku akan mengajakmu ke restorannya. Aaah, weekend ini saja. Aku akan mentraktirmu. How?”

Aku tahu siapa dia dan aku ingin bertemu langsung seperti apa bos si Hyemi ini. “Okay,” jawabku singkat. Aku tidak peduli apa Hyemi mau mentraktirku atau memasakkan sesuatu untukku. Aku hanya ingin melihat restoran tempat Hyemi bekerja dan pemilkinya. Hyemi saja sudah pernah ke kantorku, bukankah aku harus berbuat hal yang sama?

++++

Weekend rasanya berlalu terlalu cepat. Rasanya aku baru saja bangun tetapi Hyemi sudah meneriakiku untuk bersiap-siap. “Jongieee!! Aku janji untuk mentraktirmu hari ini. Kau sudah siap?” Seru Hyemi dari luar kamarku.

Dengan nyawa setengah-setengah, aku berjalan membuka pintu kamarku. “Tunggu 5 menit, aku akan menemuimu di bawah. Okay?” Kataku dengan suara khasku kalau baru bangun tidur.

Hyemi tersenyum padaku, bahkan matanya pun ikut tersenyum. “Baik. Aku akan menunggumu di bawah. Tapi kalau dalam 5 menit kau tidak muncul, aku akan…”

“Tidak akan. Sebelum 5 menit, aku pasti sudah muncul. Sudah turun sana. Tunggu aku di bawah,” perintahku.

Aku menutup pintu kamarku dan secepat kilat untuk mandi dan merapikan diriku. Kurasa tidak sampai 5 menit aku sudah menjelma menjadi Kim Jongwoon yang rapi, wangi dan tampan tentu saja.

Klek. Aku membuka pintu kamarku dan menemukan Hyemi yang masih berdiri di depannya. “Hwaaa… Daebak! 4 menit 41 detik. Rekor!” Kata Hyemi terkagum-kagum kemudian ia mengendus-endus tubuhku dengan jarak hanya 1 cm dari indera penciumannya, membuatku berdiri terpaku di hadapannya. “Hwaa… Benar-benar sudah mandi. Bagaimana kau bisa melakukannya, Jongie?” Serunya lagi. Tampaknya ia benar-benar kagum dengan kemampuanku untuk bersiap-siap dalam waktu 5 menit.

“Entahlah,” jawabku. Hyemi menatapku dengan terkagum-kagum. “Yaaa, sampai kapan kau mau memandangku begitu? Ayo pergi.”

Sambil tertawa Hyemi mengikuti langkahku sampai akhirnya kami sejajar berjalan menuju restoran tempat Hyemi bekerja. “Siwon pasti senang bertemu denganmu,” kata Hyemi tiba-tiba sebelum kami masuk ke dalam restoran itu.

“Humm?” Tanyaku bingung. Aku bahkan tidak kenal dengan yang namanya Siwon tetapi kenapa orang itu akan senang sekali bertemu denganku. Kalau aku sih memang hanya ingin tahu siapa orang yang bekerja dengan Hyemi.

“Kajja!” Kata Hyemi menarik tanganku masuk ke dalam restoran saat kami sudah sampai. “Annyeong! Selamat siang,” Sapa Hyemi kepada pegawai-pegawai di restoran itu.

“Selamat siang, Hyemi-ssi. Kau tampak ceria sekali. Apa dia pacarmu?” Tanya seorang pegawai dengan berbisik pada Hyemi dan sambil melirikku. Aku hanya tersenyum melihat kelakuannya.

Hyemi tertawa kecil. “Dia tidak mau jadi pacarku, nanti aku cari yang lain dan kukenalkan padamu,” kata Hyemi.

Pelan, aku mendorong kepala Hyemi dengan tanganku yang masih bebas dari gandengan Hyemi. “Yaa nona, sampai kapan kau mau mengobrol? Aku sudah lapar,” protesku.

Hyemi kembali tertawa. “Baiklah, Johae-ssi. Aku harus menemui Oppa dulu. Sampai jumpa nanti,” kata Hyemi.

Hyemi kemudian menarikku masuk lebih dalam ke restoran itu. Oppa? Apa yang dia maksud itu Siwon? Tanyaku dalam hati.

Kami berhenti di depan sebuah ruangan yang tanpa segan diketuk oleh Hyemi. “Oppaaaa!!! Aku sudah datang!!! Buka pintumu!!!” Seru Hyemi sambil tertawa-tawa.

Tidak sampai 2 detik pintu itu terbuka dan muncul laki-laki yang jauh lebih tampan, rapi dan wangi dariku. Tingginya pun melebihi tinggiku. “Hyeminnie!!!” Seru Siwon sambil meloncat girang memeluk Hyemi.

Tanpa sengaja tanganku terlepas dari Hyemi sehingga kedua tangan gadis itu kini bebas. “Yaa oppa, aku tidak bisa bernafas,” protes Hyemi sambil mendorong Siwon agar pelukannya terlepas. Siwon hanya tertawa senang.

“Apa dia yang namanya Jongwoon?” Tanya Siwon kepada Hyemi.

Hyemi menganggukkan kepalanya. “Oppa, ini Jongwoon. Jongwoon, ini Siwon oppa. Kalian sudah saling kenal sekarang,” kata Hyemi memperkenalkan kami bergantian.

Aku membungkukkan tubuhku dengan sopan yang dibalas dengan rangkulan oleh Siwon. “Tidak usah seformal itu terhadapku. Aku dulu seniormu waktu SMA, apa kau masih ingat?” Kata Siwon kepadaku.

“Oh ya?” Tanyaku tidak yakin. Seingatku aku tidak punya kakak kelas bernama Siwon sewaktu SMA, meskipun begitu dengan wajah setampan ini mana mungkin dia tidak terkenal. Tapi aku tidak mampu mengingatnya sama sekali…

“Ayo duduk,” kata Siwon sambil mempersilakan aku duduk di meja makan khusus di ruangannya.

“Kalian ingin makan apa?” Tanya Hyemi kepadaku dan Siwon.

“Yaaa, Cho Hyemi. Kau masih tanya apa yang harus kau masak untuk dua laki-laki tampan seperti kami? Tentu saja kau harus menyajikan masakan terbaikmu. Sana cepatlah memasak,” kata Siwon.

Sambil nyengir, Hyemi meninggalkan aku dengan Siwon. Sepeninggal Hyemi, ekspresi Siwon berubah 180 derajat dari pertama aku berjumpa dengannya. Siwon berubah menjadi sangat dingin.

“Maaf, aku tidak ingat apa kita dulu satu sekolah. Kau kelas berapa dulu, hyung?” Tanyaku masih mencoba mengingat.

Siwon menyeringai kepadaku. “Aku berbohong. Aku tidak kenal kau. Ini pertama kalinya aku bertemu denganmu. Aku hanya tahu kau dari Hyemi,” jawabnya dengan tenang.

Mulutku rasanya nyaris tidak bisa tertutup mendengar pengakuannya. Dia telah berbohong pada Hyemi tentangku. Untuk apa?

“Aku tidak akan berbasa-basi denganmu. Aku ingin bertemu denganmu hanya ingin menyampaikan bahwa aku akan membawa Hyemi kembali ke London, dengan atau tanpa persetujuanmu,” kata Siwon tiba-tiba.

“Buat apa?” Tanyaku cukup kaget.

“Dia koki yang sangat berbakat. Tidak seharusnya dia terperangkap di sini, menjadi koki kecil di restoranku. Dia masih harus banyak belajar. Asal kau tahu, sebelum orang tuanya meninggal, keluarganya memiliki restoran yang terkenal di seluruh antero Eropa. Seharusnya, anak itu meneruskan restoran tersebut bukan menjualnya kepada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan datang ke Korea.”

“Buat apa kau bicara padaku?” Tanyaku lagi. Aku semakin bingung. Jika Siwon ingin membawa Hyemi ke London, bukankah ia seharusnya bertanya kepada Hyemi dulu, bersedia atau tidak. Kenapa padaku?

“Aku tidak tahu kau bodoh atau apa. Dengar Kim Jongwoon, Hyemi memutuskan kembali ke Korea karena ingin bertemu denganmu. Dia jatuh cinta padamu, entah bagaimana caranya. Dia menyerahkan semua yang dimiliki di Eropa dan memutuskan untuk memulai hidupnya di Korea bersamamu. Jadi intinya dia berada di sini sekarang demi dirimu. Tapi tampaknya rencananya tidak berjalan semulus yang dia pikir,” kata Siwon.

Aku semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran pria ini. Aku? Demi aku? “Kalau begitu kenapa tidak kau ajak saja dia langsung ke London? Kenapa harus bilang padaku?”

Siwon menatapku semakin sinis. “Kau harus melepaskannya, membiarkan dia pergi. Kalau tidak begitu, ia akan tetap di sini, berharap kau membalas cintanya.”

“Lalu kenapa kalau dia jatuh cinta padaku? Kenapa kalau dia ingin hidup bersamaku? Kau cemburu?” Tanyaku sedikit menantang.

Siwon tertawa sinis. “Jangan bodoh, Kim Jongwoon. Aku sudah menikah dan tidak akan jatuh cinta pada gadis yang setiap hari hanya bercerita hal yang sama, Kim Jongwoon Kim Jongwoon dan Kim Jongwoon. Hyemi terlalu pintar untuk urusan memasak tapi dia terlalu bodoh untuk urusan percintaan.”

Aku mulai kesal dengan pria ini. Apa maksud dia semua. “Jadi apa maumu?” Tanyaku galak.

“Lepaskan dia. Biarkan dia berkembang. Jangan beri dia harapan kalau kau memang tidak bisa membahagiakannya. Paling tidak 2 tahun. Jika sudah lewat 2 tahun, aku akan membiarkannya memutuskan untuk kembali padamu atau tidak,” jawab Siwon dingin.

Mataku dan matanya saling bertatapan cukup lama, saling mengeraskan diri sampai pintu ruangan ini terbuka dan muncul Hyemi dengan masakan-masakannya. Seperti yang sudah diduga, ekspresi Siwon kembali berubah. “Humm, makanan sudah datang. Ayo kita santap, Jongie. Masakan Hyemi pasti sangat enak,” kata Siwon dengan ramah sambil melemparkan tawa kepada Hyemi.

++++

Sehabis makan siang bersama Siwon, aku langsung minta pulang dengan alasan aku tidak enak badan. Perkataan-perkataan Siwon begitu membebaniku, bahkan menghantuiku di setiap langkahku.

“Jongie, bagaimana rasa masakanku tadi?” Tanya Hyemi saat kami berjalan pulang.

“Enak,” jawabku.

“Apa ada bumbu yang kurang menurutmu?” Tanyanya lagi.

“Tidak.”

“Syukurlah. Lain kali aku akan masak yang lebih enak.”

“Humm.”

Hyemi terus bercerita mengenai ide-idenya untuk menciptakan jenis-jenis masakan baru, membuatku semakin sedih. Semua perkataan Siwon berkecamuk di pikiranku. “Hye?” Panggilku.

“Eo?” Sahutnya.

“Apa kau sangat mencintai memasak?” Tanyaku.

Hyemi menganggukkan kepalanya dengan mantap. “Memasak itu sudah seperti nyawaku. Waeyo?” Balas Hyemi.

“Jika kau harus memilih antara masak dan aku, kau akan pilih yang mana?” Tanyaku lagi.

Hyemi tertawa. “Itu dua hal yang berbeda, Jongie. Tidak bisa disamakan. Menurutku, kau dan masakanku saling melengkapi. Aku masak, kau yang makan,” jawabnya santai.

“Apa kau tidak ingin belajar lebih dalam lagi soal memasak?” Tanyaku lebih dalam.

Seketika Hyemi terdiam. Ia terpaku menatapku. “Apa yang Siwon oppa katakan padamu?” Tanyanya to the point, menangkap kemana semua pertanyaan-pertanyaanku ini akan berakhir.

“Dia bilang dia akan membawamu kembali ke London untuk belajar memasak.”

“Lalu kau jawab apa?”

“Aku tidak menjawab apa-apa. Tapi aku berpikir dia ada betulnya. Kau masih muda dan sangat berbakat. Sayang sekali jika harus disia-siakan hanya karena….” Aku terdiam.

“Hanya karena aku berharap padamu? Apa Siwon oppa juga menceritakan masalah perasaanku kepadamu?”

Aku menganggukkan kepalaku perlahan.

Hyemi menghela nafasnya panjang. “Jadi kau ingin aku pergi?” Tanya Hyemi.

“Bukan begitu tapi semua demi kebaikanmu. Aku tidak tahu berapa lama kau akan pergi dan apakah kau akan kembali. Aku juga tidak tahu apakah aku bisa bersamamu jika kau tetap di sini. Berpikirlah rasional, Hyemi. Kau punya kesempatan untuk berkembang yang seharusnya tidak kau sia-siakan.”

Hyemi tersenyum pahit kepadaku. “Sudahlah, aku mengerti. Aku tidak sebodoh itu,” katanya lalu pergi meninggalkanku.

-tbc-

Posted from WordPress for BlackBerry.