Anyyeong… Last part is coming..
Tks a lot buat yg udh pd baca. Love you yeorobun!!😀
Semoga yg ini jg suka yaaa…

Fated to Meet You 3

“Selamat pagi,” sapaku kepada eomma dan appa yang sedang memakan sebuah roti coklat yang tampaknya baru dibeli eomma dari toko roti di depan komplek rumah kami.

“Pagi,” sahut eomma dengan lesu.

“Eomma, waeyo? Kenapa kau lesu begitu?” Tanyaku bingung.

“Hyemi sudah kembali ke London. Katanya dia ingin kuliah lagi. Eomma jadi tidak punya teman lagi. Kita pun jadi tidak makan enak setiap hari lagi,” jawab eomma.

“Appa juga jadi kehilangan teman minum wine dan merawat tanaman. Apa kau tahu kenapa dia tiba-tiba pergi?” Tanya appa.

Dengan berusaha sesantai mungkin, aku memakan rotiku sambil menjawab pertanyaan appa. “Bukankah ia ingin kuliah lagi?” Balasku.

“Appa tahu tapi masa semendadak itu sih? Mengurus sekolah kan tidak gampang. Apa kita ada salah-salah kata dengannya?” Tanya appa lagi.“Tidak mungkin. Eomma sudah bertanya padanya apa appa dan eomma ada salah padanya, dia bilang tidak ada,” sahut eomma.

Appa disusul eomma kemudian menatapku. “Apa kau ada berbuat sesuatu padanya?” Tanya eomma tajam.

Aku menggelengkan kepalaku. “Aku tidak tahu apa-apa,” jawabku berbohong. Eomma menatapku semakin tajam. “Aku tidak tahu apa-apa, eomma. Sungguh!”

Eomma kemudian bangkit berdiri dari tempat duduknya kemudian menghampiriku dan memukul-mukul bahuku dengan gemas. “Kau pasti yang telah berbuat sesuatu padanya! Apa susahnya sih menerima Hyemi? Dia kurang apa? Hah?!” Teriak eomma dengan kencang di telingaku.

“Ba…bagaimana eomma tahu?” Tanyaku.

“Haish anak ini!!! Anak bayi pun tahu kalau dia jatuh cinta padamu, bodooooh…” Omel eomma padaku, tidak lupa sambil memukul-mukul bahuku.

“Yeobo, kita suruh saja dia wamil.” Appa mengeluarkan kata-kata keramat yang paling tidak ingin aku dengar.

“Appa, andwe. Kalau aku wamil, siapa yang akan mengurus perusahaan? Appa kan sudah tua, eomma tidak paham, Jongjin sibuk mengurus anaknya yang masih bayi. Appa…” Bujukku berusaha mengelakkan wamil dari daftar riwayat hidupku.

Appa tidak bergeming dengan koran yang sedang dibacanya. “Appa memang sudah tua tapi Appa masih sangat mampu memimpin perusahaan Appa sendiri. Daripada kau, mengurus satu gadis saja tidak becus. Mulai besok, kau wamil,” kata Appa.

Aku beralih menatap eomma. “Eomma,,” rajukku dengan harapan ia tidak seia sekata dengan suaminya. Tetapi semuanya sirna. Eomma duduk dengan tangan melipat di dada dan serius menatapku.

“Besok aku yang akan mengantarmu langsung ke tempat pendaftaran. Biar kau dapat pengajaran bagaimana menghargai perasaan seseorang, khususnya wanita. Dasar anak bodoooooh!!!” Omel eomma tidak berkesudahan.

“Eommaaaaaa….”

++++

2 years later….

Wamil ternyata tidak seburuk yang aku bayangkan. 2 tahun berlalu cukup cepat dan cukup menyenangkan. Selama 2 tahun wamil, paling tidak sebulan sekali bertemu eomma dan appa, kadang juga Jongjin dan keluarganya. Satu yang tidak pernah bisa aku jumpai, Hyemi. Apa kabar gadis itu sekarang?

Aku keluar dari tempat tugas wajib militerku disambut beberapa keluarga yang datang menjemput teman seangkatanku. “Jongie, kau pulang dengan siapa?” Tanya salah satu temanku.

“Aku bisa pulang dengan taksi. Tenang saja,” jawabku santai meskipun dalam hati sedikit kesal karena tidak ada satupun, baik eomma atau appa, yang mau menjemputku.

“Okay. Kalau begitu, sampai jumpa,” kata temanku. Aku pun memberikan salam perpisahan untuk teman-temanku dan keluarganya. Kemudian, aku pergi mencari taksi untuk pulang ke rumah.

Puk! Seseorang menepuk pundakku dan membuatku reflek menengok ke arahnya. “Apa kau butuh tumpangan pulang?” Tanyanya.

Mataku membelalak menatapnya. “Hyemi?” Tanyaku tidak percaya.

“Iya, aku Hyemi. Kenapa memangnya? Kenapa melihatku seperti hantu begitu?”

Aku menggelengkan kepalaku. Aku hanya kaget bisa melihat Hyemi lagi setelah dua tahun lebih tidak bertemu. “Kapan kau pulang?” Tanyaku.

“Minggu lalu,” jawabnya dengan santai. “Dan aku akan menetap di Korea. Aku telah membeli restoran Siwon oppa.”

“Apa kau sudah bertemu eomma dan appa?” Tanyaku.

Hyemi tertawa kecil. “Mereka orang pertama yang aku temui begitu sampai di Korea tahu. Senang sekali mereka menerimaku lagi dengan tangan terbuka,” ucap Hyemi.

“Kau kembali ke rumah kami?”

Hyemi menggelengkan kepalanya. “Aku tinggal di restoranku sekarang.”

“Waeyo?!” Seruku reflek tanpa bisa aku kontrol.

Hyemi tertawa menatapku. “Sebegitu inginnya aku tinggal di rumahmu?” Goda Hyemi dengan tangannya yang menggelitik daguku.

“Haish. Hentikan.”

Hyemi tertawa semakin keras. “By the way, thank you, Jongie,” ucapnya.

“Buat apa?” Tanyaku bingung.

“Menyuruhku pergi. Kalau tidak begitu, mungkin sekarang aku belum punya restoran sendiri. Gomawo, Jongie,” jawab Hyemi sambil tersenyum kepadaku.

Sudah lama aku tidak tersihir seperti sekarang ini. Aku terdiam di hadapannya, memandang lurus ke matanya dan menyentuh wajahnya dengan tanganku. “Menikahlah denganku,” ucapku dengan serius. Selama 2 tahun ini, gadis inilah yang paling aku rindukan kehadirannya. Tidak ada malam dimana aku tidak memikirkannya, meskipun itu hanya sedetik sebelum aku tidur.

++++

Hyemi duduk bersama eomma dan Jongjin di ruang keluarga bertukar cerita sambil tertawa, mengikik geli. Aku bergabung bersama mereka dan seketika mereka terdiam. Eomma menatapku dengan sinis sedangkan Jongjin menatapku dengan mengerikan.

“Wae? Kenapa kalian menatapku seperti itu?” Tanyaku gusar.

“Apa gunanya kau wamil kalau melamar seorang gadis saja tidak bisa?” Balas eomma.

Seketika aku melemparkan pandanganku kepada Hyemi. “Kau menceritakannya?” Protesku.

“Mereka memaksaku. Aku tidak punya pilihan,” jawab Hyemi merasa bersalah.

“Haish… Eomma, kenapa semua yang aku perbuat salah? Aku membiarkan Hyemi pergi, salah. Sekarang, aku melamar Hyemi juga salah. Mau eomma itu bagaimana?”

“Yang lebih romantis lah. Ajak ke Maldives kek atau ke Jeju kek. Bukan di tepi jalan depan tempat wamil-mu. Anak bodoh!” Protes eomma.

“Aku saja melamar istriku di puncak gunung titlis,” sambar Jongjin yang membuat eomma semakin semangatt menerorku.

“Hyaaaa… Kenapa sih kalian tidak bisa tenang? Yang akan menikah kan aku, kenapa kalian yang sewot?” Protesku.

“Ehem… Ehem… Jongie, apa aku sudah menerima lamaranmu?” Timpal Hyemi tiba-tiba membuat seluruh saraf di tubuhku serasa mati. Aku memang melamarnya tapi Hyemi belum menjawab bersedia atau tidaknya.

“Jangan terima sebelum ia melamarmu dengan benar, Hyemissi. Appa-nya saja yang sudah tua masih bisa berlaku romantis terhadapku masa dia kalah,” kata eomma semakin menjadi-jadi.

“Eommaaaaa….”

Hyemi tertawa melihatku dan eomma. “Aku tidak keberatan kok, ahjumma.”

“Dengar! Dia saja tidak keberatan kok, eomma.”

“Maksudku tidak keberatan kalau lamarannya dibikin lebih romantis,” sahut Hyemi kemudian diberikan toss oleh eomma dan Jongjin.

“Kau kan bisa mengajak Hyemi makan di restoran, menyelipkan cincin di makanannya, memainkan sebuah lagu untuknya. Atau apalah yang lebih romantis dari berkata menikahlah denganku di pinggir jalan,” tambah Jongjin.

“Yaaaa…. Kalian sekongkol menyerangku. Kalian curang. Terserah apa kata kalian, pokoknya aku akan menikahi Hyemi suka atau tidak sukanya kalian dengan caraku melamar,” protesku kemudian meninggalkan mereka bertiga untuk kembali mengikik.

++++

Pagi-pagi sebelum matahari terbit, aku lari pagi di sekitar komplek rumahku dan berakhir di restoran Hyemi. “Aku di depan. Buka pintunya,” kataku melalui telepon.

Tidak lama, Hyemi sudah muncul di hadapanku dengan baju tidurnya dan wajah yang celemotan tepung. “Ayo masuk. Aku habis membuat brownies. Kau harus mencobanya,” katanya dengan semangatt.

“Sepagi ini kau sudah membuat brownies? Buat apa?” Tanyaku takjub.

“Hyaaa… Hari ini kan hari ulang tahun appa-mu. Masa kau lupa? Iiiih.”

“Oh iya, aku lupa. Mian,” jawabku malu. “Jadi kau yang buat kue ulang tahunnya? Memang kau bisa?”

Hyemi menganggukkan kepalanya dengan mantap. “Hyaaa… Jangan meremehkan aku ya. Dua tahun aku belajar di London masa membuat brownies saja aku tidak bisa?”

“Iya iya aku tahu yang lulusan London. Lalu apa kau akan memberikan kado untuk Appa?” Tanyaku.

Hyemi menganggukkan kepalanya. “Nanti aku tunjukkan kepadamu. Sekarang coba dulu brownies ini,” kata Hyemi menyuapkan secuil brownies ke mulutku.

“Enak. Anggur kesukaan Appa,” komentarku.

“Lidahmu peka sekali ya. Lumayan aku punya tester gratis. Hahahahhahaa,” sahut Hyemi.

“Mana hadiah untuk Appa? Aku mau lihat,” kataku. Hyemi lalu berlari ke kamarnya dan kembali dengan sebuah gambar karikatur besar.

“Lucu tidak?” Tanyanya.

Aku memperhatikan gambar karikatur appa yang sedang dipegang Hyemi. Seketika aku tertawa. Appa terlihat sangat lucu di gambar itu. Meskipun aku tahu itu diambil dari foto keluarga kami tapi entah bagaimana si pelukis menggambarkan Appa dengan sangat lucu.

“Kau memberi apa untuk Appa?” Tanya Hyemi.

Dengan santai, aku menjulurkan telunjukku ke kening Hyemi. “Kau.”

“Aku?”

“Iya kau, menantu baru. Kau tahu, appa semakin tua, eomma juga. Tanggungan mereka sekarang hanya aku yang belum menikah. Jadi kalau kau mau menikah denganku, pasti mereka juga akan senang. Selain itu, tahun depan kita tidak perlu mencari-cari kado khusus untuk Appa. Kita bisa memberikan appa cucu. Bagaimana?”

Hyemi menatapku sambil tertawa. “Kau melamarku lagi? Aigoo, kyeoptaaa…” Kata Hyemi menggodaku dengan menggelitik daguku.

“Yaaa,, aku serius, Cho Hyemi. Apa kita harus ke Jeju dulu untuk melamarmu?”

Hyemi tertawa semakin kencang sambil mendekat kepadaku. Tangannya menjelajah tulang-tulang di wajahku. Matanya menyusur mengikuti gerakan tangannya. “Aku tidak keberatan meski kau melamarku di pasar sekalipun. Aku pasti akan langsung menerimanya. Kau tahu aku sudah lama jatuh cinta padamu dan tidak pernah berubah sampai sekarang. Kemarin aku hanya terlalu syok mendengar lamaranmu. Aku tidak mengira semua akan terjadi secepat ini. Mianhaeyo…”

“Dan kau pasti dipaksa eomma dan Jongjin untuk bersekongkol menggodaku kan?”

Hyemi menyeringai jahil. “Aku tidak punya pilihan kan? Lagipula menggodamu cukup mengasyikkan.”

“Yaaa!”

Hyemi tertawa. Ia kemudian semakin mendekatkan wajahku dengan wajahnya. “Saranghae,” ucap Hyemi kemudian mencium bibirku dengan lembut. Entah untuk keberapa kalinya aku tersihir oleh wanita ini. Aku terpaku menikmati sentuhan-sentuhannya tanpa membalas satupun dari sentuhan itu.

++++

Ddok! Ddok! Ddook!!! “Jongieee!! Hyeee!!! Sampai kapan kalian mau tidur? Cepat turun sarapan!!!!” Teriak eomma sambil menggedor kamarku, eh kamar kami.

Dengan malas-malasan aku menarik selimutku semakin tinggi sampai menutupi kepalaku. “Eomma… Aku masih ngantuuuk,” rajukku entah didengar eomma atau tidak.

Berbeda denganku, Hyemi dengan semangatt menarik selimut menjauh dari kami. “Yaa nyonya Kim. Aku masih ingin tidur,” protesku dan kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhku.

“Yaa tuan Kim! Eomma sudah datang memanggil dan kau berani bilang masih ingin tidur? Cepat bangun atau kau tidak akan mendapat jatah malam ini!” Balas Hyemi. Dengan santai, ia bangkit dari tempat tidur dan masuk menuju kamar mandi.

“Yaaa nyonya Kim, kau belum memberikan aku morning kiss. Kenapa kau langsung kabur begitu?” Protesku lagi.

Tidak lama setelah aku meneriakkan morning kiss, Hyemi kembali keluar menghampiriku sambil tersenyum minta maaf. “Maaf aku lupa,” ucap Hyemi kemudian Chuuu… Ia mencium bibirku lembut dan cukup lama, membuatku tidak bisa mengendalikan instingku sebagai laki-laki.

“Jangan salahkan aku karena kau berhasil menggodaku. Aku tidak peduli dengan nanti malam,” kataku tanpa basa-basi menarik Hyemi kembali ke dalam selimut.

Hahahahhaahihihihi. Hyemi tertawa geli di bawahku. “Dasar tidak sabaran,” kata Hyemi masih sambil tertawa-tawa geli.

“Jongieee!!!! Kami harus menunggu berapa lama lagi?” Teriak eomma membuat Hyemi semakin tertawa geli di dalam pelukanku.

“Eomma pasti marah besar kalau dia tahu dia masih harus menunggu lama,” ujar Hyemi di sela-sela tawanya.

“Tapi aku yakin mereka akan tersenyum cerah setiap hari jika bulan depan mereka mendapat kabar kau hamil. Jadi tenanglah,” balasku tanpa melepas Hyemi dari pelukanku.

-tamat-

Posted from WordPress for BlackBerry.