Anyeonghaseyo yorobeuun! (งˆヮˆ)ง
maaf banget ya chingu kalo blognya sepi banget akhir-akhir ini hehehe
ini lanjutan dari Bittersweet Marriage buatan kak sela ^^ (@gyumontic)
soo enjoy reading yaa
your comments are love for us🙂 thank you so much for reading ^^

this ff created by: @gyumontic

 

*****

 

“Aku mencintaimu.”

“Aku juga.”

Kyuhyun memanyunkan bibirnya tanda ia tidak suka dengan apa yang baru saja diucapkan istrinya.

“Aku tidak suka jawabanmu. Harusnya kau bilang ‘aku juga mencintaimu,” protes Kyuhyun.

Hyejin, sang istri yang sedang mengandung 6 bulan, tersenyum geli mendengar protes suaminya yang kekanak-kanakan. “Aku juga mencintaimu, sayang. Sini, cium aku.”

Dengan senang hati Kyuhyun melumat bibir wanita yang sudah 1 tahun lebih mendampinginya dalam susah dan senang.

“Nanti jangan lupa mengecek kandunganmu ke dokter. Maaf aku tidak bisa menemani. Aku akan minta tolong eomma atau nuna untuk menemanimu ya?”

Hyejin menatap intens wajah Kyuhyun, tersenyum bersyukur atas suami yang sangat baik yang diberikan untuknya.

“Kau berlebihan sekali. Aku bisa pergi dengan Minjung. Tenang saja. Kau konsentrasi saja dengan pekerjaanmu di kantor ya. Aku tidak ingin dividenku sebagai pemegang saham berkurang, sayang.”

Kyuhyun tertawa. “Baiklah, nyonya komisaris pemegang saham sekaligus istri direktur Song-Cho Corporation. Kalau begitu, aku pergi dulu. Jangan lupa beri kabar aku ya. Sampai jumpa.”

—–

Hyejin, ditemani oleh Minjung, masuk ke dalam ruang praktek dokter kandungannya seperti biasa tanpa curiga mengapa praktek dokter ini sepi padahal biasanya Hyejin dipaksa untuk mengantri.

“Annyeong, Song Hyejin-ssi,” sapa dokternya dengan ceria dengan suara yang lebih ringan, berbeda dari biasanya yang berat dan berwibawa.

“Annyeonghaseyo, dokter Park…” Hyejin membelalakkan mata saat melihat dokter kandungannya bukanlah dokter kandungannya yang tua, berkacamata, mempunyai rambut tinggal beberapa helai. Dokter yang sekarang berada di hadapannya sangat tampan, gagah, dan mempesona.

“Yoochun-ssi,” sambung Yoochun atas kalimat yang tidak sempat diselesaikan Hyejin karena keterkejutannya tadi. “Aku harap kau masih mengingatku.”

Hyejin meneguk ludahnya sendiri. Yoochun adalah cinta pertamanya. Cinta pertama yang begitu menyakitinya. Bagaimana mungkin Hyejin tidak mengingatnya?

“Mana dokter Park?” Tanya Hyejin kaku.

“Seminar di London sejak minggu lalu,” jawab Yoochun dengan santai.

Hyejin berada di antara rasa kesal dan marah karena ia merasa ditipu. Ia membuat janji untuk bertemu dengan dokter kandungannya 3 hari lalu yang artinya dokter Park sudah ada di London dan seharusnya Hyejin tidak berada di sini sekarang.

“Kenapa kau yang menggantikan? Apa di rumah sakit ini tidak ada dokter kandungan lain selain kau?”

“Kesengajaan, Song Hyejin-ssi. Aku ingin melihatmu.”

“Aku ingin pulang. Permisi!”

Hyejin, diikuti oleh Minjung, berdiri lalu keluar dari ruang praktek Yoochun dengan tidak sabar. Hyejin ingin segera angkat kaki. Berbeda dengan Yoochun yang ingin menahan Hyejin lebih lama bersamanya. Yoochun menyusul Hyejin yang baru keluar dari ruangannya lalu menarik wanita itu ke dalam pelukannya.

“Sebentar saja. Aku hanya ingin minta maaf. Maafkan aku telah menyakitimu. Aku menyesal,” ucap Yoochun lembut langsung ke telinga Hyejin.

Hyejin berdiri membatu. Seluruh organnya terasa lumpuh. Semarah apapun Hyejin terhadap laki-laki yang sedang memeluknya itu bagaimanapun ia adalah cinta pertama Hyejin. Orang yang membuat Hyejin merasakan bagaimana berjuang untuk dicintai orang yang dicintainya dan bersabar untuk cinta dari orang yang dicintainya meskipun ternyata kau akan disakiti olehnya.

“Aku akan memaafkanmu asal kau memberikan tarif gratis untuk semua perawatanku sampai dengan melahirkan.”

Yoochun tertawa kemudian melepaskan pelukannya. “Aku bisa bankrut kalau begitu. Bagaimana kalau aku akan mentraktirmu setiap habis konsultasi?”

“Memangnya aku akan konsultasi kepadamu lagi? Tidak. Aku tidak akan kembali sampai dokter Park datang.”

Yoochun kembali tertawa. “Kau masih sama bodohnya. Dokter Park itu ayahku. Jadi semua akan jauh lebih mudah untukku bukan?”

“Cih!” Hyejin membentuk senyuman sinis dari bibirnya tanpa bermaksud menghina lebih jauh. “Terserah kau. Sekarang aku mau pulang. Annyeong!”

“Annyeong, Song Hyejin-ssi. Salam untuk suamimu!”

—-

Hyejin terpaku memandang tablet yang disodorkan Minjung ke pangkuannya. SONG HYEJIN SELINGKUH!! 1,5 juta views dan 578 ribu comments lengkap dengan foto saat Yoochun tadi memeluknya.

Tidak aku sangka ternyata kau setega itu terhadap Kyuhyun, Song Hyejin-ssi! Apa lagi yang kurang dari suamimu sampai kau tega berselingkuh? -Dong Jun Yee

Yaaa!!! Song Hyejin-ssi! Aku tidak akan memaafkanmu! Kau telah menyakiti oppa kami lagi!! – Han Heon Joo (Presdir Fanclub Cho Kyuhyun)

Kau sedang hamil dan kau masih sempat bepikir untuk selingkuh? Aku tidak habis pikir – no name

“Haish!!! Kenapa berita-berita ini begitu menyebalkan?! Aku tidak selingkuh, hey!!! Mana bisa aku hidup tanpa Kyuhyun. Dasar berita murahan! Netizen bodoh!” Amuk Hyejin sambil membaca berita mengenai dirinya tersebut.

“Tenanglah, tidak usah diambil pusing. Kau tahu kau selalu menjadi sasaran empuk TopClassSocialite, karena itu berhati-hatilah. Jaga sikapmu,” nasihat Minjung.

“Haiiish. Aku tahu, Minjung-ssi. Tapi tetap saja aku merasa kesal kalau ada berita aneh-aneh seperti ini. Belum lagi kalau Kyuhyun membacanya dan aku harus memberikan penjelasan. Haisssh!!”

“Sudah, jangan ngomel-ngomel terus. Tidak baik untuk kesehatanmu juga bayimu.”

—-

Dengan santai, Hyejin memasuki gedung Song-Cho Corporation. Berbeda dari 6 bulan lalu yang biasanya Hyejin memakai hi-heels minimal 9 cm dan pakaian-pakaian slim fit yang menempel pas di badannya sekarang Hyejin memakai pakaian-pakaian ibu hamil dengan sepatu flat anti selip.

“Selamat siang, nyonya,” sapa resepsionis saat melihat Hyejin masuk.

“Siang, apa suamiku masih ada di ruangannya?” Tanya Hyejin dengan ramah.

“Masih, nyonya. Kami belum melihat Tuan keluar dari tadi pagi,” jawab resepsionis tersebut dengan ramah sesuai standar layanan yang diterapkan perusahaan.

“Baiklah. Kalau begitu, bisa aku minta tolong padamu untuk memberitahu sekretarisnya kalau aku datang?”

Resepsionis mengangukkan kepalanya kemudian menghubungi sekretaris Kyuhyun. “Tuan sedang rapat, nyonya,” info resepsionis.

“Tidak masalah. Bilang aku akan menunggunya untuk makan siang. Terima kasih banyak, Kim Min Ji.”

Hampir seluruh mata menatapnya. Itu hal yang wajar karena ia istri direktur perusahaan ini sekaligus salah satu pemegang saham. Tapi hari ini agak berbeda permasalahannya jika orang-orang itu membaca TCS.

“Apa ada yang salah denganku?” Tanya Hyejin kepada seorang gadis yang kepergok sedang mengamati Hyejin dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Tidak ada. Anda sangat cantik. Apa Cho Kyuhyun tidak cukup buat Anda?” Jawab gadis itu tanpa berusaha sedikit menyaring pertanyaannya.

Hyejin melihat ke belakang gadis itu terdapat gadis lain yang hanya diam menunduk sambil menarik-narik gadis yang sedang bertanya kepada Hyejin. “Kalian fans Kyuhyun ya?” Tanya Hyejin lagi berusaha seramah mungkin.

“Iya. Memangnya kenapa?” Tantang gadis itu.

Hyejin tersenyum. “Kalau kalian fans Kyuhyun oppa, kalian pasti tahu bagaimana aku berjuang mendapatkan hatinya kan? Menurut kalian, aku bisa mengkhianatinya? Aku mencintai dia sepenuh jiwaku, gadis-gadis manis. Aku tidak akan bisa hidup tanpanya.”

Hyejin lalu meninggalkan resepsionis dan kedua gadis itu lalu naik elevator ke lantai tiga, tempat ruangan Kyuhyun dan para direktur lain berada. Baru ia keluar dari elevator, seseorang meneriakinya dan kemudian menghampirinya.

“Jinnie-yah, kebetulan sekali aku bertemu denganmu. Aku mohon bantuanmu,” kata Hyemi sambil mengamit lengan Hyejin.

“Ada apa?” Tanyaku.

Hyemi bercerita sambil berjalan dengan Hyejin. “Aku dan Hamun berencana membuat clothing line khusus buat ibu-ibu hamil dan bayi. Semua sudah setuju tapi kami terbentur di pemilihan model. Aku dan Hamun ingin memakai kau tapi yang terhormat tuan Cho Kyuhyun menentangnya habis-habisan karena kau sedang hamil. Tentu saja, aku dan Hamun memilihmu karena kau sedang hamil sesuai dengan clothing line yang kami usulkan. Tapi suamimu itu tetap bilang tidak.”

“Lalu kau ingin aku membujuknya agar mengizinkan kalian memakai aku?”

Hyemi mengangguk dengan wajah sumringah. “Boleh kan? Kami akan membayarmu kok dan kami pastikan kau tidak akan kecapekan. Aku mohon.”

“Baiklah. Aku nanti akan bicara padanya.”

Hyemi tersenyum. “Tidak perlu. Sekarang saja.”

Hyejin tersadar bahwa Hyemi telah membawanya ke ruangan rapat Song-Cho Corporation dimana ada jajaran direktur termasuk ayah mertuanya dan suaminya dan semua mata di ruangan itu kini tertuju padanya.

“Maaf menganggu. Aku permisi,” pamit Hyejin yang merasa tidak enak kemudian berbalik badan siap meninggalkan ruangan rapat itu.

“Hyejin-ssi…”

“Tunggu.” Suara Kyuhyun terdengar sangat jelas dari speaker-speaker yang terpasang di setiap sudut ruangan karena Kyuhyun berbicara tepat di depan microphone yang biasa ia gunakan saat rapat.

Hyemi yang berusaha menahan Hyejin berpaling pada Kyuhyun. “Aku tahu proyek ini akan menguntungkan dan aku sangat sangat setuju tapi aku mohon jangan jadikan Hyejin sebagai modelnya. Aku tahu ia sedang hamil makanya kalian memutuskan untuk memakainya tapi tolong aku sekali ini. Aku tidak ingin Hyejin kecapekan. Aku ingin kesehatan dan keselamatan istri dan anakku terjamin sampai proses melahirkan nanti. Maaf atas keegoisanku. Permisi.”

Kyuhyun berdiri dari kursinya kemudian menghampiri Hyejin. “Ayo kita makan siang,” kata Kyuhyun lalu menarik Hyejin pergi. Jemari-jemari Kyuhyun yang terselip di antara jemari-jemari Hyejin memberikan kehangatan yang tidak bisa digantikan dengan apapun. Meskipun jemari-jemari itu sudah ratusan kali menyelip tapi rasanya tetap sama bahkan memberikan candu yang luar biasa.

“Tadi sebelum aku kesini aku bertemu dengan fans-fansmu yang menuduhku mengkhianatimu. Mengesalkan sekali!” Adu Hyejin dengan manja kepada Kyuhyun.

“Lalu kau bilang apa? Humm?” Tanya Kyuhyun dengan lembut.

“Aku bilang saja aku tidak mungkin hdiup tanpamu. Kau tahu itu kan?”

Kyuhyun tertawa pelan. “Tentu saja aku tahu. Tapi ada satu hal yang belum kuketahui.”

“Apa?”

“Bagaimana rasanya bertemu cinta pertama?” Tanya Kyuhyun tiba-tiba.

Hyejin menatap Kyuhyun dari samping, mempelajari setiap guratan yang ada di wajah pria itu, berusaha membaca emosi apa yang sedang ditunjukkan suaminya. Hasilnya, nihil. Hyejin tak dapat menangkap apapun.

“Kau sudah membaca berita itu?” Tanya Hyejin mengenai gosip perselingkuhannya di web TCS. Kyuhyun mengangguk.

“Kau marah?” Tanya Hyejin lagi. Kyuhyun menggeleng.

“Hanya sedikit kesal. Aku percaya kau mencintaiku tapi tetap saja aku tidak suka melihat kau berpelukan dengan pria lain.”

“Dia yang memelukku. Aku tidak memeluknya,” ralat Hyejin pelan.

“Iya tapi kalian bersentuhan. Aku tidak suka. Apalagi dia cinta pertamamu. Kau tahu Hyejin-ssi? Cinta pertama tidak pernah mati bahkan ada yang membawanya sampai ia sendiri yang mati. Seperti kau sebagai cinta pertamaku.”

Hyejin berhenti melangkah. Tangannya yang masih terpaut dengan Kyuhyun menarik Kyuhyun berdiri berhadapan dengannya. “Aku mencintaimu,” ucap Hyejin.

“Aku tahu,” sahut Kyuhyun.

Hyejin menghela nafas untuk kemudian dihembuskannya kembali. “Aku tidak suka jawaban itu. Harusnya kau menjawab….”

“Aku juga mencintaimu, sayang,” potong Kyuhyun sambil mengelus pipi Hyejin dengan penuh sayang.

Hyejin tersenyum puas kemudian memeluk Kyuhyun semampu yang ia bisa karena ia terganjal dengan perutnya yang besar. “Aku akan merepotkanmu sampai maut memisahkan kita,” ucap Hyejin dalam dekapan Kyuhyun.

“Hei, ini di kantor. Kau tidak malu kalau dilihat orang-orang?”

Hyejin menggeleng. “Kau suamiku dan aku istrimu. Tidak ada yang salah dengan berpelukan. Lalu kenapa?”

Kyuhyun menyeringai. “Kalau begitu aku boleh menciummu? Kita kan suami-istri. Tidak ada yang salah dengan berciuman kan? Bagaimana?” Goda Kyuhyun. Dengan sengaja, Kyuhyun menghadapkan wajahnya sejajar berjarak satu senti dengan wajah Hyejin.

Wajah Hyejin bersemu merah seperti tomat. Salah tingkah, Hyejin melepaskan pelukannya. “Aku lapar. Ayo makan,” kata Hyejin.

Kyuhyun mengecup kedua pipi istrinya kemudian kembali menggandengnya pergi ke restoran favorit mereka berdua. “Ayo, nyonya-ku sayang.”

—-

“Annyeong Song Hyejin-ssi.”

“Park Yoochun-ssi?” Hyejin menyesal kenapa ia masih begitu hafal dengan suara orang yang pernah menolak cintanya dengan cara yang tidak sopan.

Tawa Yoochun terdengar ceria dari speaker smartphone Hyejin. “Ternyata kau masih hafal suaraku. Senang sekali.”

“Ada apa?” Tanya Hyejin.

“Appa sudah pulang, kapan kau kontrol lagi dengannya? Kemarin kau kan tidak jadi kontrol.”

“Kenapa kau bersemangat sekali?”

“Aku sudah tidak sabar ingin mentraktirmu makan. Hahahhaaa.”

Hyejin menoleh kepada Kyuhyun yang sedang berbaring menatapnya sambil mengelus-elus punggungnya. Kyuhyun tersenyum. “Aku percaya padamu,” bisik Kyuhyun.

“Kali ini kau tidak bohong kan? Awas kalau kau bohong!” Ancam Hyejin dengan galak.

“Uuuh, nyonya Cho yang satu ini galak sekali. Padahal kata appa, nyonya Cho itu lembut-lembut. Aku tidak bohong kali ini. Kapan kau datang? Hari ini?”

“Ini hari Minggu, gila! Mending aku berduaan dengan suamiku. Besok jam 9 pagi seperti biasa. Daaah!” Kemudian Hyejin menutup teleponnya.

Hyejin mendengar Kyuhyun yang menghela nafas dengan berat. “Are you okay, honey?” Tanya Hyejin.

“Yoochun tertarik padamu,” jawab Kyuhyun.

“Aku tidak peduli. Aku lebih peduli pada suamiku yang punya kewajiban untuk memijitku di setiap hari minggu. Ayo bangun. Punggungku sudah pegal-pegal,” Hyejin menarik Kyuhyun agar segera bangkit dari tidurnya.

Setengah mengomel, Kyuhyun mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk. “Tidak bolehkah aku berbaring 10 menit lagi?”

Hyejin menggelengkan kepala dengan mantap. “Punggungku sudah menunggu 1 minggu. Ayo sekarang pijit aku.”

Kyuhyun menaruh tangannya di punggung Hyejin dan mulai memijitnya dengan lembut. “Dasar manja.”

“Biarin. Aku kan istrimu, sedang hamil pula. Kalau bukan sama kamu, sama siapa aku manja-manja? Huu.”

“Semoga kalau kau sudah melahirkan, kau tidak semanja ini.”

“Tidak. Aku akan tetap manja.”

“Dasar. Habis aku memijitmu, buatkan aku sarapan roti isi telur dan sup makaroni.”

“Aku capek kalau harus berdiri lama-lama di dapur, sayang. Kau gak kasihan sama aku dan anakmu ini humm?”

“Senin-Sabtu, makan restoran terus atau kadang masakan koki di rumah. Minggu, kau menolak untuk masak. Lalu kapan aku bisa makan masakanmu?”

“Baiklah. Aku akan memasakkan ramyeon untukmu. Bagaimana? Kau makan masakanku, aku tidak capek. Adil kan?”

Kyuhyun menghentikan pijitannya. “Dasar pelit. Tidak menyayangiku. Kalau itu, aku juga bisa minta Minjung untuk membuatkannya. Apa susahnya sih berkorban sejam saja?” Kyuhyun mulai merajuk.

Hyejin menyerah. “Baiklah. Aku akan membuatkan sarapan untukmu. Dasar.”

Pasangan suami-istri ini tidak berhenti berdebat untuk sesuatu hal yang tidak penting tapi hal-hal tersebut justru membuat mereka mesra.

—–

Minggu adalah hari dimana Hyejin dan Kyuhyun bisa menghabiskan waktu 24 jam bersama tanpa gangguan sedikit pun. Karena itu baik Hyejin maupun Kyuhyun sangat menyukai hari Minggu, hari kemesraan yang sesungguhnya.

“Kyu, kalau kau begini terus kau baru bisa makan 2 jam lagi,” protes Hyejin karena Kyuhyun yang dari tadi memeluk Hyejin dari belakang sembari Hyejin menyelesaikan roti telur dan sup makaroni untuk Kyuhyun.

Kyuhyun menggeletakkan kepalanya di bahu Hyejin sambil sesekali meniup-niup telinga Hyejin. “Kyu, hentikan. Kenapa usil sekali sih?” Protes Hyejin.

“Biarin.”

“Ambilkan makaroni di lemari itu,” perintah Hyejin kepada Kyuhyun untuk mengambil makaroni yang berada di lemari paling ujung dapur ini.

Kyuhyun melepaskan pelukannya untuk mengambil makaroni tersebut. “Sekalian masukkan ke dalam air,” perintah Hyejin lagi. Kyuhyun pun memasukkan makaroni yang baru diambilnya ke dalam air yang telah mendidih dimasak oleh Hyejin. Setelah itu, Kyuhyun kembali memeluk Hyejin dari belakang.

“3 bulan lagi, anak kita akan lahir. Aku ingin menamainya Kihyun, Cho Kihyun. Bagaimana?” Tanya Kyuhyun.

“Aku lebih suka Jung Hyun atau Jong Hyun,” sahut Hyejin sambil tetap membuat sarapan untuk suaminya.

“Tidak mau. Aku mau menamakannya Kihyun. Artinya bijak dan bersemangat. Bagus kan?”

Hyejin tersenyum. Bagi Hyejin tidak masalah apapun nama anaknya asal Kyuhyun senang, Hyejin pun pasti akan senang. “Iya bagus. Kalau begitu nama anak ini, Kihyun. Kita panggil dia mulai sekarang, Kihyun. Otte?”

“Jothaa! Aku suka sekali.” Kyuhyun bereaksi positif. Ia kemudian mengelus-elus perut Hyejin dengan lembut. “Kihyun sayang, kalau lahir nanti jangan menyusahkan eomma ya. Kasihan 9 bulan lebih, eomma sudah capek bawa Kihyun kemana-mana. Ya nak ya?”

Hyejin kembali tersenyum melihat tingkah suaminya yang hanya bisa ia dapatkan di hari minggu, hari tanpa urusan pekerjaan yang membuat Hyejin seperti di nomor dua kan.

“Tadaa! Rotimu sudah siap, sayang. Permisi sebentar. Aku mau menyiapkan makaronimu. Sudah matang itu,” kata Hyejin.

“Biar aku saja. Panas.” Kyuhyun lalu menuangkan sup makaroninya ke dalam sebuah mangkuk. Kemudian Kyuhyun membawa mangkuk itu ke ruang makan.

“Selamat makaaaan!! Semoga kau suka!” Seru Hyejin dengan ceria sekaligus mengagumi hasil masakannya. “Bagaimana? Enak kan?”

Kyuhyun menganggukkan kepalanya tanpa terlepas menikmati sarapannya yang sudah susah payah dibuat oleh Hyejin. Bukan karena Hyejin tidak bisa memasak tapi karena Kyuhyun yang terus menganggu Hyejin.

“Sarapanmu mana? Kau tetap makan pagi kan?” Tanya Kyuhyun.

“Masih dibuat oleh koki dan ahli gizimu. Padahal aku sudah lapar,” kata Hyejin meminta belas kasihan.

“Kau kan bisa masak sendiri, sayang.”

“Kau sendiri yang bilang ibu hamil sepertiku tidak boleh makan sembarangan, harus pas komposisi gizinya. Iya kan, sayang?”

Kyuhyun tertawa. “Istri pintar. Tidak salah aku menikahimu.”

“Yaa!! Aku yang menikahimu. Ingat? Kau dulu kan benci sekali padaku. Sekarang, kau menyesal kan pernah membenciku?”

Kyuhyun mendengus kesal. “Jangan membicarakan masa lalu itu. Kau merusak mood-ku.”

“Mian.”

“Itu makananmu sudah datang. Makanlah. Biar kau dan Kihyun sehat.”

Hyejin mulai memakan sarapannya yang 4 sehat 5 sempurna. Karbohidrat, vitamin, protein, dan susu lengkap tersaji di hadapannya dengan komposisi yang tepat untuk ibu hamil seperti dirinya.

“Kyu?”

“Humm?”

“Apa kau marah padaku?”

“Hanya karena kau mengungkit masa lalu?”

Hyejin mengangguk. Matanya menatap Kyuhyun dengan takut-takut. Kyuhyun balas menatap Hyejin dengan lembut. “Tidak, sayang. Aku tidak marah padamu. Jangan menatapku takut seperti itu ah. Aku tidak nyaman.”

Hyejin berganti wajah menjadi sangat cerah. Mendengar bahwa suaminya tidak marah adalah hal yang sangat melegakan bagi Hyejin.

“Kyu?” Panggil Hyejin lagi dengan nada yang lebih ringan.

“Ya?”

“Mengenai aku jadi model clothing line H3.”

“Kenapa?”

“Bolehkah kau memikirkannya sekali lagi? Aku tahu aku sedang hamil, tapi aku bosan kalau hanya diam di rumah. Aku berjanji akan bekerja tidak melebihi waktu yang kau tentukan.”

Hyejin menatap Kyuhyun lagi dengan takut-takut. Hyejin takut Kyuhyun marah dengan dirinya yang begitu pemaksa dan keras kepala meskipun ia tahu Kyuhyun melarangnya karena Kyuhyun mencemaskan Hyejin dan bayinya.

Kyuhyun menghela nafas panjang. “Bisakaha kau berhenti menatapku seperti itu, Hyejin sayang? Aku merasa sangat tidak nyaman. Kau tidak perlu takut padaku tahu. Kau bebas bicara apapun padaku. Ya?”

Hyejin kembali tersenyum ceria. “Apa permintaanku akan dikabulkan?”

“Akan kuputuskan besok setelah bertemu dokter kandunganmu. Aku akan bertanya padanya besok.”

—–

“Nyonya Cho Hyejin.” Suster memanggil Hyejin untuk masuk ke dalam ruangan. Ditemani Kyuhyun, Hyejin menemui dokter Park.

“Annyeonghaseyo dokter Park,” sapa Kyuhyun dengan sopan sambil membungkukkan tubuhnya.

“Ah, Cho Kyuhyun-ssi. Lama tidak bertemu. Kau sibuk sekali ya tampaknya?” Sahut dokter Park tidak kalah ramah.

“Tidak ah, Dok. Gitu-gitu saja,” sahut Kyuhyun sambil tertawa.

Dokter Park adalah dokter kandungan kepercayaan keluarga Cho sejak ia berhasil menyelamatkan nyawa Kyuhyun saat ia dilahirkan. Sewaktu Kyuhyun di kandungan, ia terbelit tali pusar dengan sangat kencang sehingga Kyuhyun sulit mendapatkan oksigen. Untung waktu itu dokter Park dengan berani mengambil keputusan untuk mengeluarkan Kyuhyun sebelum terlambat.

“Ah, anakmu ini Cho keberapa yang kutangani ya? Aku sampai lupa saking banyaknya, kau dan sepupu-sepupumu. Tapi aku paling ingat kau,” kata dokter Park sambil mengecek kandungan Hyejin.

“Kandunganmu bagus, Hyejin-ssi. Sehat. Berkembang dengan baik juga,” kata dokter Park kepada Hyejin.

Hyejin menatap Kyuhyun untuk bertanya kepada dokter mengenai kapabilitasnya untuk dapat bekerja saat hamil tapi Kyuhyun balas menatap Hyejin untuk menunggu. Hyejin yang keras kepala tidak mau menunggu.

“Dokter, apa boleh aku bekerja? Ada yang menawariku sebagai model pakaian ibu hamil. Boleh aku menerimanya?” Tanya Hyejin tiba-tiba.

Kyuhyun memelototi Hyejin tapi Hyejin tidak peduli. Ia tetap menuntut jawaban dari dokter Park. “Bagaimana dokter?”

“Kalau aku lebih suka kau tidak bekerja. Santai-santai saja di rumah. Bermanja-manja sama suami atau orang tuamu.”

“Kalau aku memaksa?” Tanya Hyejin lagi.

Dokter Park tertawa. “Kyuhyun-ssi, istrimu ini memang sangat keras kepala. Aku pikir boleh saja ia bekerja asal itu tidak membuat dia capek atau stress. Paling lama 5 jam sehari. Dan ketika usia kehamilanmu sudah mencapai 9 bulan, istrimu harus berhenti.”

Kyuhyun menganggukkan kepalanya tanda mengerti. “Apa dokter tidak punya dokter kandungan untuk mengawasi Hyejin di saat dia bekerja?” Tanya Kyuhyun.

“Kyu, kau berlebihan!” Protes Hyejin tapi tidak digubris oleh Kyuhyun.

Dokter Park tersenyum. “Aku rasa anakku, dokter Park Yoochun bisa membantu.”

Seketika tubuh Kyuhyun menenang kaku, wajahnya pucat. Membiarkan Hyejin bersama dengan Yoochun sepanjang hari? Ini pasti bisa membuatnya gila.

—-

Kyuhyun menatap Yoochun dengan tajam. Tubuhnya kaku. Tidak ada tawa terukir di wajahnya. Berbeda dengan Yoochun yang sangat rileks dan tertawa lepas.

“Istrimu sangat menarik,” kata Yoochun ketika Hyejin pergi ke toilet dan meninggalkan dua pria itu berduaan saja.

“Maksudmu?” Tanya Kyuhyun dingin. Kyuhyun belum memutuskan untuk memperbolehkan Yoochun sebagai dokter pribadi Hyejin atau tidak karena ia masih ragu sekaligus takut.

“Ya menarik. Kalau ia belum menikah denganmu, aku pasti akan menggodanya,” kata Yoochun.

“Kau jatuh cinta pada Hyejin?” Kyuhyun menanyakan dengan sangat tajam dan serius.

Yoochun menyeruput vanilla latte-nya dengan pelan kemudian menatap Kyuhyun. “Aku tidak pernah dan tidak akan jatuh cinta padanya. Aku memiliki cintaku sendiri. Aku hanya menganggap Hyejin sebagai wanita yang harus aku perlakukan dengan baik karena aku pernah menyakitinya. Entah kau tahu atau tidak bagaimana masalah kami dulu, yang pasti aku sangat menyesal pernah menyakitinya dan memperlakukannya dengan sangat baik adalah caraku untuk minta maaf,” ujar Yoochun dengan serius.

Kyuhyun diam menatap Yoochun, menuntut lebih banyak kata-kata keluar dari mulut pria itu.

“Aku tahu betapa berharganya Hyejin dan bayi yang ada di kandungannya untukmu. Aku tahu kau tidak ingin kehilangan mereka. Aku mengerti perasaanmu, Kyuhyun-ssi dan aku tidak pernah berniat menghancurkan impianmu. Aku justru ingin menjaganya. Aku tidak ingin melihat seorang pria bernasib sama denganku, kehilangan seorang istri dan anak yang sangat dicintainya. Itu akan terasa sangat menyakitkan.”

“Kau pernah kehilangan sebuah kelurga maksudmu?”

“Aku tidak ingin membahasnya lebih lanjut. Yang pasti, aku berjanji akan menjaga Hyejin dan bayimu dengan sungguh-sungguh.”

Kyuhyun terdiam, berusaha mencerna segalanya dengan akal sehat yang dimilikinya. Berusaha menyaring mana yang benar dan mana yang bohong dari ucapan Yoochun. 28 tahun ia hidup dan bertemu dengan berbagai macam orang, filter kepercayaan Kyuhyun dapat bergerak otomatis untuk menyaring orang-orang yang dapat ia percaya dan Yoochun lolos dari saringan itu.

“Apa aku dapat mempercayaimu?” Tanya Kyuhyun ragu.

“Tentu saja,” jawab Yoochun dengan yakin. “Tapi jangan kau ceritakan masalah ini kepada Hyejin. Aku tidak mau terlihat lemah di depan wanita.”

Yoochun tersenyum kemudian pamit pergi karena ada pasien yang membutuhkannya. “Telepon aku kalau kau sudah yakin. Sampaikan salamku untuk Hyejin. Sampai jumpa.”

Kyuhyun termenung sampai-sampai ia tidak sadar Hyejin sudah kembali dari toilet. “Mana Yoochun-ssi?” Tanya Hyejin.

“Dia ada pasien jadi pergi lebih dulu. Kita juga harus segera pergi. Aku ada meeting jam 1 siang,” kata Kyuhyun sambil menggandeng tangan Hyejin untuk segera meninggalkan kafe tempat mereka tadi ditraktir makan oleh Yoochun.

—-

PERANG ANTARA DOKTER DENGAN JARINGAN RUMAH SAKIT TERBESAR DAN DIREKTUR PERUSAHAAN FASHION TERKAYA DI KOREA. 2 juta views. 901 comments.

Yoochun oppa!! Saranghae! Menikahlah denganku. Buat apa menganggu istri orang? – Kim Yu Bin

Kyuhyun oppa. Jangan pernah lepaskan Hyejin onni!!! – Lim Hee Gu

Yoochun-ssi. Fighting! – Park Jung Soo

“Park Jung Soo,” Kyuhyun menggumamkan sebuah nama yang sangat ia kenal. “Apa ia kenal dengan Park Yoochun?”

Kyuhyun mengambil smartphonenya untuk mencari nama Park Jung Soo di dalam contacts-nya. Tak sampai 3 detik, ia sudah berhasil mendapatkan nomor laki-laki itu.

“Ah, yoboseyo, jung soo hyung. Ini aku, Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Masih ingat?”

“Nee! Kyuhyun-ssi. Apa kabar?” Sahut Jung Soo.

“Hahahahhaha. Untung kau masih ingat. Aku baik, hyung. Kau sendiri bagaimana?”

“Sehat. Tapi aku sangat merindukan Korea. Aku bosan di Jerman.”

“Buat apa Hyung di Jerman?”

“Memegang cabang rumah sakit keluarga kami di sini. Yang di Korea diserahkan Appa kepada adik dan keponakannya.”

Kyuhyun tidak lama berbasa-basi. Ia ingin membahas masalah yang selama ini merasukinya dengan tuntas. “Apa sepupumu bernama Park Yoochun, hyung?” Tanya Kyuhyun.

“Ne. Betul sekali. Aku baca kau sedang ada masalah dengannya ya? Ada apa?”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya meskipun Jung Soo tidak dapat melihatnya. “Bukan begitu. Ia akan menjadi dokter pribadi istriku. Aku takut dia….”

Jung soo terdengar tertawa rendah di belahan dunia sana. “Yoochun tidak akan jatuh cinta pada Hyejin. Dari awal Yoochun tidak pernah mencintai Hyejin karena itu ia menolak Hyejin. Dulu, sewaktu mereka SMA, Hyejin dan Yoochun sangat sangat sangaaaat dekat. Karena itu mungkin Hyejin jatuh cinta dan salah paham pada hubungan mereka. Yoochun jatuh cinta pada sahabat Hyejin. Mereka pacaran tanpa sepengetahuan Hyejin. Hyejin yang tidak tahu apa-apa, menyatakan cinta pada Yoochun. Yoochun tidak sanggup lagi membohongi Hyejin. Yoochun menceritakan semuanya kepada Hyejin. Hyejin patah hati. Seingatku, ia hampir 6 bulan tidak masuk sekolah karena ia sakit hati pada Yoochun dan sahabatnya itu. Kemudian, Hyejin pindah sekolah dan sejak saat itu mereka tidak pernah berkomunikasi lagi.”

“Lalu apa kabar sahabat Hyejin itu?” Tanya Kyuhyun menggali informasi lebih dalam.

“Pergi meninggalkan Yoochun dengan pria lain. Kasihan sekali.”

“Apa mereka sudah menikah?”

“Ya ampun, Kyu. Tampaknya aku harus menjelaskan semuanya kepadamu ya? Setelah gadis itu meninggalkan Yoochun, Yoochun pergi ke Jerman untuk ambil spesialis kandungan. Di sini ia bertemu dengan seorang wanita namanya Jasmine. Mereka menikah dan punya anak tapi sayang Tuhan memanggil Jasmine dan anak itu setahun lalu.”

“Apa Yoochun mencintai Jasmine?”

“Sangat. Itu sebabnya dia masih sendiri.”

“Baiklah hyung. Terima kasih atas ceritanya. Sukses dengan rumah sakitmu. Sampai jumpa.”

—-

Interphone Kyuhyun berbunyi dengan nyaring mengusik lamunannya soal istri yang sangat dirindukannya meski baru beberapa jam terpisah. “Ada apa?” Tanya Kyuhyun kepada sekretarisnya.

“Nyonya Hyemi dan Hamun ingin bertemu dengan Anda, Tuan,” kata sang sekretaris dengan sopan.

“Suruh masuk,” sahut Kyuhyun lalu menutup interphone-nya.

“Oppaaaaa!!!” Seru Hyemi dan Hamun bergantian saat mereka memasuki ruangan Kyuhyun. Suara hi-heels mereka memenuhi ruangan saat keduanya berhamburan masuk.

Kyuhyun menutup telinganya setengah untuk mengurangi volume suara yang keluar dari 2 wanita itu. “Ada apa?” Tanya Kyuhyun tenang sekaligus cuek. Melihat raut wajah Hyemi dan Hamun tampak mereka ingin meminta sesuatu.

“Mengenai Hyejin onni. Apa oppa memperbolehkan dia jadi model kami?” Tanya Hamun dengan nada memohon sekaligus membujuk.

Kyuhyun diam. Dia menyelesaikan dulu beberapa dokumen yang harus ditanda tanganinya. “Kalau aku tidak memperbolehkannya?” Tanya Kyuhyun setelah ia membubuhkan tanda tangan terakhirnya.

“Oppa, aku mohon padamu. Semua desain sudah lengkap tinggal Hyejin onni saja. Ayolah, oppa. Kami mohon,” bujuk Hyemi gantian.

Kyuhyun memijit kepalanya yang terasa sedikit sakit. “Jujur, aku bimbang. Tapi aku belum memutuskan. Kalian berdoa saja aku tiba-tiba menjadi setuju.”

“Kami berjanji akan menjaga Hyejin onni dan Kihyun dengan baik,” kata Hamun.

“Kami juga berjanji akan memakan waktu Hyejin maksimal 5 jam sehari dan saat ia hamil 9 bulan, kami akan menghentikan semuanya,” lanjut Hyemi.

Kyuhyun tertawa. “Hyejin sudah menceritakan semuanya pada kalian ya? Dasar perempuan.”

Hyemi dan Hamun menyeringai dengan aegyo mereka masing-masing yang mereka yakin cukup berpengaruh untuk Kyuhyun.

“Ayolah, Oppa. Perbolehkan Hyejin onni ya? Dia hanya akan difoto kok? Tidak lebih,” kata Hamun lagi sambil tetap memamerkan aegyonya tanpa henti.

“Promosi? Dia tidak diikutkan?” Tanya Kyuhyun memastikan. Hyemi dan Hamun menggelengkan kepalanya.

“Penjualan?” Tanya Kyuhyun lagi kembali memastikan. Untuk kedua kali, Hyemi dan Hamun menggelengkan kepalanya.

“Marketing?”

“Oppa, kami hanya butuh Hyejin sebagai model. Untuk difoto kemudian fotonya di pasang di toko dan majalah-majalah serta papan-papan iklan. Tidak lebih. Ya ampun.” Hyemi mulai kehilangan kesabaran. Ciri khas keluarga Cho yang memiliki sumbu kesabaran cukup pendek.

“Kapan kalian akan mulai? Tanya Kyuhyun.

“Secepatnya,” jawab Hamun dan Hyemi bersamaan.

Kyuhyun tersenyum. “Kalau begitu aku akan menghubungimu secepatnya. Sekarang, kembalilah ke ruangan kalian. Aku mau kerja lagi. Annyeong!”

“Oppaaaaa!”

—-

Hyejin menyambut Kyuhyun di pintu masuk rumah mereka. “Kau pasti capek sekali ya,” kata Hyejin sambil memijit lengan Kyuhyun yang digandengnya.

Kyuhyun tertawa geli. “Kau pasti ada maunya kan, bumil-ku yang cantik?”

Hyejin menyeringai halus dan menjinak dalam lengan Kyuhyun. “Hyemi dan Hamun sudah bicara denganmu?” Tanya Hyejin. Kyuhyun mengangguk. “Lalu?”

Kyuhyun melepas dasi dengan tangan yang bebas. “Apa kau begitu menginginkan pekerjaan itu, sayang?”

Hyejin menganggukkan kepalanya dengan mantap. “Aku berjanji tidak akan melanggar perjanjian kita.”

Kyuhyun mengambil selembar kertas dari dalam tas-nya dan menyerahkannya kepada Hyejin.

HAL-HAL YANG HARUS DIPATUHI SELAMA BEKERJA

1. Tidak boleh lebih dari 5 jam sehari

2. Tidak boleh memakai sepatu hak tinggi

3. Hati-hati dalam setiap aktivitas

4. Pergi ke manapun dan melakukan apapun harus sepengetahuanku

5. Minjung dan Dokter Park Yoochun akan mendampingimu setiap kau pergi bekerja

6. Kihyun masuk usia 9 bulan, kau harus berhenti.

“Tanda tangan,” perintah Kyuhyun tanpa ingin didebat. “Satu saja dilanggar, awas.”

Hyejin tersenyum sumringah. Tangannya yang tadi memegang kertas perjanjian dan memeluk lengan Kyuhyun berganti memeluk Kyuhyun sepenuhnya. “Gomawo. Jeongmal gomawoyo, suamiku sayang. Aku mencintaimu.”

“Iya, aku juga mencintaimu. Sekarang, aku mau mandi dulu. Perjanjian itu sudah harus kau tanda tangan selesai aku mandi.”

“Siap bos!”

—-

Aku percaya padamu. Aku mohon jaga Hyejin dan bayiku baik-baik. -Cho Kyuhyun

Kyuhyun mematikan smartphone-nya begitu ia memastikan bahwa pesannya sudah tersampaikan kepada Yoochun. Ia meletakkan smartphone-nya di buffet samping tempat tidurnya kemudian berbaring di samping Hyejin yang telah tertidur pulas dan tenang.

Kyuhyun memperhatikan istrinya sambil sesekali mengelus wajahnya yang sempurna itu. “I can’t stop loving you. Because if I stop loving you, my heart stops beating, my life end. Nan jeongmal jeongmal saranghamnida,” ucap Kyuhyun yang sebenarnya lebih terdengar sebagai bisikan karena ia mengucapkannya dengan sangat pelan.

Kyuhyun mengecup kening Hyejin kemudian memeluk wanita itu di bawah selimut yang sama. “Selamat tidur. Sampai jumpa besok pagi. Semoga harimu besok menyenangkan.”

—-

“Hai,” sapa Yoochun saat bertemu dengan Kyuhyun di rumah direktur muda tersebut.

“Hai,” balas Kyuhyun. “Hyejin akan siap sebentar lagi. Ingat pesanku semalam?”

Yoochun tersenyum. “Terima kasih sudah mempercayaiku. Aku berjanji akan menjaganya. Apapun akan kulakukan agar Hyejin dan anakmu tetap sehat dan selamat.”

“Terima kasih banyak, dokter Park Yoochun.”

Hyejin dan Minjung sudah siap. Dengan wajah berseri-seri Hyejin bergelayut manja pada Kyuhyun. “Aku akan menemuimu saat jam makan siang ya, sayang. Sampai jumpa,” kata Hyejin.

Kyuhyun tersenyum kemudian mencium bibir Hyejin dengan intens. “Aku akan merindukanmu.”

“I will miss you too. See you.”

Hyejin diikuti oleh Minjung dan Yoochun masuk ke dalam mobil yang disiapkan Kyuhyun khusus untuk Hyejin. Dengan bersemangat, Hyejin memulai hari pertamanya sebagai model baju-baju hamil.

“Onnie!!”

“Hyejin!!!”

Hamun dan Hyemi berseru senang saat melihat Hyejin masuk ke dalam studio foto tempat akan dilaksanakannya pemotretan.

“Aku pikir Kyuhyun oppa bercanda memperbolehkanmu jadi model kami,” kata Hyemi sumringah.

“Aku takut Oppa akan berubah pikiran tadi,” sahut Hamun.

Hyejin mengumbar senyum kesana kesini. “Tenang saja. Aku sudah membuat perjanjian. Selama kita mematuhinya, Kyuhyun akan memperbolehkan aku menjadi model. Hahahahhahaa.”

“Tapi ngomong-ngomong, Onni. Dia siapa? Aku seperti kenal dengannya,” kata Hamun saat matanya menangkap sosok Yoochun yang di dalam studio.

Hyejin tersenyum. “Tentu saja kau mengenalnya, Hamun. Dia laki-laki yang membuatku menangis dan menyendiri selama hampir setengah tahun.”

“Park Yoochun-ssi!” Seru Hyejin kepada orang yang dimaksud Hamun. Hamun menganga lebar saat mendengar nama itu.

“Park Yoochun? Cinta pertamamu itu? Pria yang menolak onni dan pacaran dengan sahabat onni? Park Yoochun yang itu?”

Hyejin mengangguk santai. “Ya. Dia Park Yoochun yang itu. Dia dokter kandunganku, yang akan mengawasiku, sesuai dengan titah Kyuhyun. Ya kan?”

Yoochun yang telah berada di antara para wanita-wanita itu tertawa renyah. “Park Yoochun imnida. Senang berkenalan dengan kalian.”

“Cho Hyemi imnida.”

“Kang Hamun imnida.” Hamun menyebutkan namanya dengan enggan, mengingat bagaimana dulu ia sangat membenci Yoochun karena membuat Hyejin patah hati.

“Baiklah, mari kita mulai pekerjaan kita. Aku janji akan menemui Kyuhyun di jam makan siangnya nanti. Aku harap kita bisa selesai sebelum itu.” Hyejin berinisiatif untuk memulai pekerjaan.

“Tapi ngomong-ngomong, kenapa tidak ada pria di sini?” Tanya Hyejin.

“Titah Yang Mulia Cho Kyuhyun,” jawab Hyemi muram membuat Hyejin tertawa sampai ia berganti pakaian dan make-up.

—–

“Dokter Park Yoochun!” Seru Hyejin untuk ketiga kalinya sampai akhirnya laki-laki yang dimaksud menoleh pada pasien khusunya itu. “Ayo pulang. Aku mau ke kantor Kyuhyun? Kau bagaimana?”

Yoochun menyeringai kecil. “Boleh aku pinjam supirmu untuk mengambil mobil?”

Hyejin menaikkan alisnya tanda ia tidak mengerti membuat Yoochun terpaksa menertawainya. “Maksudku, habis kami mengantarkanmu ke kantor, supir kan mengantarkan Minjung ke rumah. Aku ikut sekalian. Mobilku kan di rumahmu. Boleh kan?”

Hyejin ikut tertawa. “Tentu saja boleh. Mari pulang.”

“Kau duluan. Aku akan menyusul dalam 2 menit. Aku mau berpamitan dengan teman baruku,” kata Yoochun.

“Siapa?” Tanya Hyejin.

“Fotografermu. Sebentar ya.” Yoochun kemudian menghampiri fotografer Hyejin yang seorang wanita. Saling melempar senyum dan kemudian saling melambaikan tangan.

“Kau naksir padanya,” tembak Hyejin begitu saja saat Yoochun telah bergabung di mobil.

“Tidak. Tapi dia sangat menarik. Aku nyambung ngobrol dengannya,” jawab Yoochun jujur.

“Luar biasa. Dalam hitungan jam kau berhasil menemukan satu wanita.”

“Kau juga menarik, Hye. Aku juga nyambung ngobrol denganmu,” kata Yoochun tanpa basa-basi yang langsung membuat Hyejin terdiam.

“Aku sudah menikah, Yoochun-ssi,” sahut Hyejin gagap.

Tawa Yoochun meledak, membahana di dalam mobil yang tidak seberapa luasnya ini. “Tenang saja. Aku sudah berjanji pada Kyuhyun untuk menjagamu dan anak kalian. Aku hanya menganggapmu sebagai teman baik, tidak lebih. Aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita seperti dulu. Tidak masalah kan?”

Hyejin menghembuskan nafasnya dengan lega setelah beberapa detik yang lalu terasa sangat sesak. “Aku justru senang mendengarnya. Terima kasih, Park Yoochun-ssi.”

“Terima kasih kembali, Song Hyejin-ssi. Ah ani, Cho Hyejin-ssi.”

—–

Hyejin masuk ke dalam ruangan suaminya sambil menenteng sekotak kue. “Selamat siang. Apa tuan Cho Kyuhyun merindukan istrinya? Istrinya sangat merindukan tuan Cho Kyuhyun,” Sapa Hyejin sambil duduk di pangkuan Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum kecil. “Kau terlambat 3 menit dan kau tidak mengabariku sama sekali sejak keluar rumah,” protes Kyuhyun.

“Aku tadi mampir beli kue dulu. Hehehhehe. Tapi kau bisa menghubungi Minjung kan sayang?”

“Tidak sama jika kau yang mengabariku tahu.”

Hyejin mencubit pipi Kyuhyun dengan sayang. “Maafkan aku ya, suamiku sayang. Pekerjaannya cukup padat aku jadi tidak sempat tapi aku tidak melanggar perjanjian kita. Jam Setengah 1 aku sudah selesai dan langsung meluncur menemuimu. Hanya 4 jam hari ini.”

Kyuhyun tersenyum lalu menariknya lagi. “Bagus. Istri yang baik. Lalu apa itu yang kau bawakan untukku?” Kyuhyun menunjuk kepada kotak kue yang dibawa Hyejin.

“Blueberry cheesecake. Buat dessert kita. Ayo kita makan siang. Aku sudah lapar.”

“Itu. Sudah aku pesan dari tadi. Menunggumu lama sekali. Ayo kita makan,” kata Kyuhyun sambil menunjuk dua kotak makanan yang terletak di atas meja kerjanya.

“Ya ampun, aku hanya terlambat 3 menit tapi kau sudah siapkan makanan? Huuu.. Ayooo makan!!” Hyejin bersemangat sekali karena ia memang sudah sangat lapar.

Kyuhyun tersenyum geli kepada istrinya yang begitu bersemangat mengambil makanan tanpa memperbaiki posisi duduknya.

“Kenapa?” Tanya Hyejin bingung.

Kyuhyun masih tertawa. “Bagaimana bisa aku makan kalau kau masih duduk di pangkuanku, sayang? Berdirilah sebentar.”

“Hehehhe. Mianhe.” Hyejin pun berdiri dan kemudian duduk lagi. Kali ini langsung di kursi Kyuhyun yang empuk sedangkan Kyuhyun mengungsi ke kursi tamu yang lebih keras.

“Bagaimana hari pertamamu? Menyenangkan?” Tanya Kyuhyun setelah menghabiskan suapan pertamanya.

Hyejin mengangguk mantap. “Menyenangkan! Seru sekali. Sayang tidak ada laki-laki. Coba kalau ada laki-laki meskipun hanya satu orang, pasti akan lebih menyenangkan.”

“Yaaa! Cho Hyejin! Kan sudah ada Yoochun.”

“Isssh. Yoochun tidak masuk hitungan. Coba kalau fotografernya yang pernah memotret kita itu. Dia kan seksi.”

“Yaakk! Cho Hyejin-ssi!”

Hyejin tertawa kencang. “Aku hanya bercanda, sayang. Aku lebih senang kalau ikut foto bersamaku. Seperti waktu itu. Kau ingat betapa gugupnya kau waktu kita disuruh berciuman?”

“Jangan mengingatnya. Aku malu,” protes Kyuhyun.

Hyejin tertawa. “Lucu sekali. Apa itu pertama kalinya kau gugup karena seorang wanita?”

Kyuhyun mengangukkan kepalanya. “Kau itu cinta pertamaku tahu. Bersyukurlah.”

Hyejin tersenyum lembut sekali. Matanya menatap intens ke dalam mata Kyuhyun. “Terima kasih sudah mau menjadikanku sebagai cinta pertama sekaligus cinta terakhirmu. Aku tidak tahu bagaimana hidupku jika tidak bersamamu.”

Hyejin terus mengajak Kyuhyun mengobrol sampai-sampai Kyuhyun lupa bahwa ia punya jadwal meeting dengan Direktur Cho, appanya dan Direktur Song, mertuanya. “Kyu, dimana kau? Kenapa telephone mu tidak tersambung-sambung? Belum kau nyalakan ya? Nyalakan cepat!!”

Hyejin merebut ponsel Kyuhyun begitu mendengar suara appanya dari ponsel itu. “Appaaaa!!!” Seru Hyejin dengan manja kepada ayahnya.

“Hyejin-ah. Kau bersama Kyuhyun? Apa kabar kau nak?” Tanya appa Hyejin begitu senang mendengar suara anaknya.

“Baik, appa. Cucu appa yang ada di rahimku juga sehat. Appa dan eomma kapan kembali ke Korea? Aku merindukan kalian tahu. Kenapa kalian jarang sekali meneleponku?”

Appa Hyejin tertawa. “Appa sangat sibuk. Maafkan appa ya, sayang. Tapi eomma hampir tiap hari telpon-telponan dengan Kyuhyun.”

“Appa juga hampir tiap hari menghubungi Kyuhyun. Ya walaupun untuk masalah perusahaan. Sebenatnya anak kalian itu Kyuhyun atau aku sih?”

Appa Hyejin tertawa lagi. “Aku rasa eomma jatuh cinta pada Kyuhyun. Hhahhhaahaa. Kapan kau melahirkan, sayang? Siapa tahu eomma dan appa bisa datang.”

“Humm. 3 bulan lagi. Datanglah ya appa dan eomma. Cucu pertama kalian loh.. Ya ya ya? Aku mohon.”

“Baiklah. Kami akan datang. Kabari kami kapan pastinya ya. Nak, apa Kyuhyun sudah siap?”

Hyejin memandang Kyuhyun dengan tatapan bertanya ‘apa kau sudah siap?’ Dan dijawab Kyuhyun dengan anggukkan kepala. “Dia sudah siap, appa.”

“Baiklah. Kalau begitu, kita lanjut cerita-cerita lagi nanti ya. Appa mencintaimu, sayang.”

“Aku juga mencintai Appa. Sampai jumpa.”

Hyejin mematikan telepon dan dua detik kemudian ia mendengar suara appanya berbarengan dengan suara mertuanya yang sedang tele-conference dengan Kyuhyun. Hyejin hanya bisa memeluk Kyuhyun dari samping untuk memberikan semangatt saat Kyuhyun dimarahi oleh orang tua mereka karena pencapaian bisnis tidak sesuai harapan.

—-

Kihyun sudah berumur 7 bulan lebih di kandungan Hyejin dan semakin aktif. “Sabar ya sayang. Sebentar lagi kau melihat dunia kok. Sebentar ya,” kata Hyejin sambil mengelus-elus perutnya.

Yoochun menempelkan alat USG ke perut Hyejin dan menggerakkannya ke seluruh sudut perut Hyejin. “Anakmu bertumbuh sangat baik. Tapi sayangnya Hyejin, tampaknya dia harus segera dilahirkan.”

“Maksudmu?” Tanya Hyejin cemas.

“Tidak usah cemas. Kihyun bertumbuh besar dengan sangat cepat tapi rahimmu terlalu kecil untuknya. Aku takut kalau kau paksa sampai usia 9 bulan, dia justru akan tersiksa. Dia akan sulit mendapatkan makanan dan oksigen. Selebihnya, Kihyun baik-baik saja kok.”

“Jadi menurutmu kapan aku akan melahirkan?” Tanya Hyejin.

“Kita lihat seminggu atau dua minggu lagi. Aku akan memantau terus keadaanmu. Tapi prediksiku akhir bulan ke delapan atau awal bulan ke sembilan, Kihyun harus dilahirkan. Jadi sekitar 1,5 bulan lagi.”

“Tapi Yoochun-ah, bulan depan aku masih punya jadwal pemotretan untuk H3. Bagaimana?” Tanya Hyejin.

“Kau masih boleh mengikutinya tapi itu yang terakhir. Aku akan bilang pada Kyuhyun mengenai hal ini. Bagaimanapun kau harus istirahat. Ok?”

Hyejin menghela nafas panjang. “Padahal pemotretan itu sangat menyenangkan. Sayang sekali.”

“Iya, sayang sekali. Itu artinya bulan depan bisa menjadi terakhir kali aku bertemu dengan Hye Lim.”

“Siapa Hye Lim? Fotograferku itu?” Tanya Hyejin curiga.

Yoochun menganggukkan kepalanya. “Tapi aku sudah punya nomor teleponnya. Tenang saja.”

Senyum Hyejin terbentuk sempurna di wajahnya. “Waaa Yoochun-ah!!! Jinjja daebak!!!”

—–

Kyuhyun-ah, aku prediksikan Hyejin akan melahirkan 1,5 bulan lagi karena Kihyun bertumbuh sangat cepat. Kasihan jika ia merasa sesak berada di rahim Hyejin. Jadi mulai sekarang, siagalah. Dan bulan depan akan jadi jadwal pemotretan Hyejin yang terakhir. Aku akan memastikan istrimu baik-baik saja. -Park Yoochun

“Kau akan melahirkan 1,5 bulan lagi dan kau masih santai-santai saja?” Tanya Kyuhyun saat Hyejin muncul dari kamar mandi.

“Yoochun sudah memberitahumu ya? Haish, dokter itu sudah menjadi pendukungmu rupanya. Aku akan menjaga diri, sayang. Tenanglah,” sahut Hyejin dengan santai.

“Kau terlalu tenang, Hyejin. Membuatku khawatir. Bulan depan adalah pemotretan terakhirmu dan selama sebulan ini kau tidak boleh kecapekan. Tidak boleh kesana kemari tanpa sepengetahuanku. Aku akan memberi tahu eomma untuk menjagamu.”

“Ya ampun, suamiku tersayang. Tidak cukup Minjung dan Yoochun saja yang mengawasiku?”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. “Atau kau mau tinggal di rumah terus sampai melahirkan?”

Hyejin memanyunkan bibirnya. “Kau keterlaluan, Kyu. Tidak perlu berlebihan seperti itu.”

“Semua demi kau dan anak kita. Aku tidak bisa menoleransi semuanya. Kau harus ikut peraturanku. Titik!”

—-

Kyuhyun datang menghampiri Hyejin dan kemudian memegang pinggul Hyejin yang semakin lama semakin membesar. Diturunkannya badannya agar sejajar dengan perut buncit Hyejin.

“Kihyun sayang, apa kabar di dalam perut eomma? Semua baik-baik saja kan?” Kyuhyun mencoba berkomunikasi dengan anaknya.

Kyuhyun menempelkan telinganya ke perut Hyejin, mencoba menangkap reaksi dari Kihyun. “Dia bergerak, sayang,” kata Kyuhyun kepada Hyejin dengan antusias.

“Tentu saja. Kihyun kan makhluk hidup tentu saja dia bergerak,” sahut Hyejin cuek sambil membaca novelnya.

Kyuhyun kembali tenggelam bermain bersama perut Hyejin. “Kihyun sayang, eomma masih ngambek karena appa tidak mengizinkannya pergi dengan teman-temannya. Masa eomma tega meninggalkan appa sendirian di rumah? Appa kan mau main dengan Kihyun.”

Hyejin mendengus kesal. “Kihyun-ah, Appa sudah hampir sebulan melarang eomma keluar rumah dengan alasan keselamatan kita. Padahal kita kan bosan berada di rumah terus. Iya kan?”

“Ih, besok kalian kan akan pemotretan lagi. Berarti kalian pergi kan?”

“Iya, iya. Aku tahu. Sudahlah, Kyu. Ayo kita tidur. Aku harus bangun pagi besok. Pemotretanku mulai jam 7 pagi,” ujar Hyejin.

“Tapi aku masih mau main dengan Kihyun. Iya kan, sayang?” Kata Kyuhyun kepada Kihyun.

Hyejin merasakan perutnya ditendang dengan sangat kencang oleh Kihyun. “Sayang, berhentilah bicara dengan Kihyun. Setiap kau mengajaknya bicara, dia menendang nendang perutku. Aku jadi tidak bisa tidur, sayang.”

Kyuhyun berhenti berbicara dengan Kihyun dan bersama masuk ke dalam selimut bersama Hyejin. “Selamat tidur, sayang. Semoga pekerjaanmu besok berjalan lancar ya.”

Hyejin menggeliat dalam pelukan Kyuhyun. Kepalanya yang mengangguk pelan terasa sangat nyaman di dada Kyuhyun. Semenit kemudian, keduanya sudah terlelap nyenyak. Hangatnya kulit-kulit mereka yang bersentuhan merupakan obat tidur yang pas untuk Kyuhyun juga Hyejin.

—–

“Kau baik-baik saja, sayang?” Tanya Kyuhyun saat bangun pagi menemukan Hyejin mengelus-elus perutnya sambil meringis.

Hyejin menggeleng pelan. “Kihyun aktif sekali. Perutku jadi sedikit sakit,” jawab Hyejin.

“Apa kau mau mengundur pemotretan ini? Aku bisa bicara dengan Hyemi dan Hamun. Mereka pasti mengerti.”

“Tidak usah. Aku akan menyelesaikan pekerjaan hari ini dengan cepat sehingga aku bisa istirahat. Lagipula Yoochun mengawasiku. Tidak ada yang perlu dicemaskan.”

Hyejin ditemani oleh eomma dan mertuanya, tentu saja dengan Yoochun, pergi ke studio untuk pemotretan terakhirnya sebelum melahirkan. Meskipun sejak bangun, Hyejin merasakan sakit yang luar biasa tapi ia tetap memaksa untuk pergi.

“Yoochun-ah, aku mohon jangan biarkan matamu melenceng sedetik saja dari Hyejin. Dia tampak tidak sehat,” pesan Kyuhyun sebelum mereka pergi. Kyuhyun menyadari Hyejin yang tampak pucat dan tidak segar seperti biasanya. “Hyejin bilang Kihyun bergerak sangat aktif di perutnya. Aku sebenarnya ingin dia membatalkan pemotretan tapi dia tidak mau. Aku mohon, jaga dia baik-baik.”

“Aku rasa Kihyun sudah tidak bisa bertahan lagi di dalam rahim. Aku akan menjaganya baik-baik. Kau siap-siap saja dengan ponselmu. Aku akan langsung menghubungimu jika terjadi sesuatu dengan Hyejin. Ok? Sampai jumpa.”

“Ok.”

Hyejin berusaha menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya tapi wajahnya tidak bisa berbohong. “Kau tidak apa-apa, Hyejin-ah?” Tanya Hyelim curiga karena wajah Hyejin sangat pucat.

“Aku tidak apa-apa. Lanjutkan saja sampai selesai. Aku mohon ya, Hyelim?”

Hyelim menuruti Hyejin dan menyelesaikan sesi pemotretan dengan cepat, secepat yang ia bisa karena ia bisa melihat Hyejin yang semakin lama semakin pucat. “Beristirahatlah, Hyejin. Kau tampak tidak sehat.”

Hyejin tersenyum lemah. Dia tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya. “Eomma!!!” Seru Hyejin sambil menecengkram lengan Yoochun yang selalu berada di sampingnya dengan sangat kencang. “Perutku sakit sekali. Sakit sekali. Tolong aku.”

Dengan sigap, Yoochun menggendong Hyejin dan membawanya ke rumah sakit. “Bertahanlah sebentar, Hyejin-ah. Sebentar,” ujar Yoochun berulang kali sambil mengecek kandungan Hyejin. “Baiklah, Hyejin. Kau akan melahirkan hari ini juga. Anakmu sudah terlalu sesak di dalam, makanya perutmu sakit.”

“Siapkan kamar bedah,” perintah Yoochun kepada perawat-perawatnya. “Siapkan semua peralatannya. Aku akan kesana 5 menit lagi. Aku harus menghubungi suami wanita ini dulu. Cepat laksanakan.”

“Baik, dokter.”

Para perawat segera menyiapkan peralatan bedah seperti yang diperintahkan oleh Yoochun sedangkan Yoochun buru-buru menghubungi Kyuhyun. “Hyejin akan segera melahirkan. Datanglah kemari. Ibu kalian sudah berada di sini. Tidak usah cemas. Aku akan berusaha sebaik mungkin. Jangan lupa berdoa, Kyu.”

“Aku harus kemana begitu sampai di rumah sakit?” Tanya Kyuhyun tampak sangat tergesa-gesa. Yoochun dapat mendengar langkah Kyuhyun yang sedang berlari.

“Kamar bedah lantai 3. Aku akan titip pada suster di sana. Tetap hati-hati ya, Kyu.”

Rasa sakit yang dialami Hyejin semakin menjadi-jadi. Dia tidak dapat menahannya lagi sampai ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Hal terakhir yang diingatnya adalah Yoochun meminta suster untuk membius-nya dan tidak lama setelah itu ia tidak merasakan apa-apa lagi.

—-

Hyejin perlahan terbangun dengan rasa sakit di bagian bawah perutnya, bekas jahitan operasi caesarnya. Setelah agak terbiasa, Hyejin menyadari ada seseorang yang sedang tidur di sebelahnya sambil memeluknya. “Kyuhyun-ah. Sayang,” panggil Hyejin. Suaranya terdengar sangat lemah.

Mata Kyuhyun terbuka, menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk. “Kau sudah sadar, sayang? Wanita yang habis melahirkan anakku ini cantik sekali,” puji Kyuhyun sambil mencium pipi Hyejin yang memang berada sangat dekat dengannya.

“Mana Kihyun?” Tanya Hyejin teringat bahwa ia baru saja melewati hidup dan kematian demi mengeluarkan buah hatinya itu.

Kyuhyun tersenyum lembut kemudian mencium lagi pipi Hyejin. “Dia ada di ruang bayi. Tidur dengan nyenyak. Tampan seperti aku. Hanya ada satu bagian yang mirip denganmu tapi aku belum menyadarinya itu apa. Yang pasti kau akan memiliki dua tuan Cho yang tampan.”

Seketika air mata Hyejin mengalir. Ia menangis haru atas anugerah yang Tuhan berikan kepadanya.

“Kenapa kau menangis, sayang? Dasar cengeng.”

“Yaa! Aku bukan cengeng! Aku bahagia sekali, Kyu. Kau tahu aku begitu takut berada di ruang operasi tadi. Apalagi kau tidak ada. Untung Yoochun cepat tanggap.”

Kyuhyun memamerkan deretan giginya yang rapi dan bernafas sangat dekat dengan Hyejin. “Aku ada, sayang. Tapi kau sudah tidak sadarkan diri saat aku datang. Aku melihat bagaimana Yoochun mengeluarkan Kihyun dari perutmu. Melihatnya sangat mengerikan tapi aku sangat bahagia. Aku tidak peduli kemejaku tadi penuh darah yang penting aku adalah orang pertama yang menggendong Kihyun. Ternyata jadi ayah itu rasanya luar biasa.”

“Aku mau melihatnya.”

“Ini jam 2 pagi, sayang. Anak kita itu sedang tidur nyenyak. Besok pagi saja ya kita lihat. Bagaimana?”

“Aku mau melihat Kihyun. Sekarang.” Hyejin keras kepala memaksa untuk melihat Kihyun.

Mau tidak mau, Kyuhyun menuruti permintaan Hyejin. Dengan perlahan, Kyuhyun membantu Hyejin turun dari tempat tidur dan mendudukkannya di kursi roda. Dengan kursi roda, Kyuhyun membawa Hyejin ke depan ruang bayi. Kondisi Hyejin yang masih lemas belum memungkinkan untuk berjalan.

“Itu Kihyun. Sangat mirip denganku kan?” Kata Kyuhyun sambil menunjuk seorang bayi mungil yang berada di dalam sebuah ruangan tersendiri.

“Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas. Kenapa dia dipisahkan begitu?” Tanya Hyejin dengan cemas.

“Dia kan prematur jadi harus dapat perlakuan khusus dulu, begitu kata Yoochun. Paling lama, seminggu Kihyun sudah boleh kita bawa pulang.”

“Aku ingin bicara dengan Yoochun. Aku ingin mendengarkan penjelasan darinya. Kihyun baik-baik saja kan?”

“Kihyun baik-baik saja, sayang. Ia sangat sehat malah tapi karena ia lahir sebelum waktunya, ia butuh treatment khusus. Jangan terlalu cemas. Lebih baik kau istirahat. Ayo.”

Kyuhyun tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya sebagai ayah untuk pertama kalinya. Berulang kali ia tersenyum cerah dan mencium Hyejin sebagai ungkapan rasa terima kasihnya. Meskipun Hyejin berulang kali menunjukkan rasa cemasnya, Kyuhyun dengan sabar mencoba menenangkan Hyejin. Tidak ada yang bisa merusak kebahagiaan Kyuhyun hari ini.

—–

Hyejin tersenyum sumringah saat melihat Yoochun datang dengan menggendong Kihyun. “Kihyun sangat sehat. Ini anakmu,” kata Yoochun sambil meletakkan Kihyun di dada Hyejin. “Berikan dia ASI selama yang kau bisa berikan. Aku yakin Kihyun akan tumbuh menjadi anak yang sehat dan pintar.”

Dibantu oleh eommanya, Hyejin mulai menyusui Kihyun sebagaimana bayi seharusnya meminum ASI. Di saat itu, Kyuhyun mengajak Yoochun keluar dari ruangan rawat Hyejin. “Aku tidak rela membiarkan dirimu lama-lama dengan tubuh Hyejin. Cukup sekali saja.”

“Oh ya? Bagaimana dengan anak kedua kalian? Apa kau mau membiarkan dokter lain yang menangani Hyejin?” Goda Yoochun diiringi senyum jahilnya.

Kyuhyun mendengus kesal. “Haisssh, baiklah. Cukup di saat Hyejin melahirkan anak-anakku. Tidak untuk yang lainnya.”

Yoochun tertawa renyah. “Senang sekali bisa melahirkan bayimu dengan selamat. Cho pertama yang aku tangani. Aku harap akan ada Cho kedua atau ketiga atau kesekian.”

“Aku hanya ingin memiliki 3 anak,” kata Kyuhyun.

“Kalau begitu rekomendasikan teman-teman dan saudara-saudaramu untuk melahirkan padaku. Kalau aku hanya menangani keluargamu, aku bisa jatuh miskin.”

Kyuhyun tertawa. “Kau teman terbaik, Yoochun-ssi. Tidak heran Hyejin pernah jatuh cinta padamu, dulu. Aku harap kau juga segera mendapatkan kebahagianmu.”

Yoochun menyeringai. “Tampaknya begitu. Aku memiliki jadwal kencan dengan Hyelim sebentar lagi jadi aku harap kau sudah selesai berkicau, tuan Cho.”

“Hyelim? Hong Hyelim? Fotografer terhebat yang dimiliki perusahaanku itu? Kau sedang mengencaninya?” Kyuhyun begitu kaget mendengar berita tersebut karena selama ini Hyelim terkenal sangat dingin terhadap laki-laki, bahkan Kyuhyun sekalipun.

“Temanmu ini hebat kan? Tapi fotografermu itu lebih hebat. Berhasil menarik perhatianku sejak pertama kali bertemu. Hahhhahha. Sampai jumpa, Kyu!”

Yoochun lalu pergi dan Kyuhyun kembali ke dalam kamar rawat Hyejin yang sudah tambah ramai berkat kehadiran Hyemi dan Hamun.

“Oppaaa!!!!” Seru kedua gadis itu bersamaan sambil melompat memeluk Kyuhyun. “Chukkae!! Kihyun tampan sekali. Dia persis sepertimu.”

“Gomawo, Hamun-ah,” balas Kyuhyun dengan wajah yang berseri-seri. “Itu artinya aku ganteng juga kan?”

“Tapi semoga Kihyun tidak sekeji kau, oppa,” tambah Hyemi.

“Yaa Cho Hyemi. Sudah turunan keluarga Cho memiliki keegoisan dan mulut yang tidak bisa berbasa-basi. Kau pun juga begitu. Iya kan eomma?” Kyuhyun mengikutkan eommanya untuk memvalidasi gen aneh tersebut yang mengalir dalam darah keluarga Cho.

Eomma Kyuhyun hanya tertawa. Ia terlalu sibuk mengurus Hyejin dan cucu barunya sehingga tidak sempat memikirkan hal-hal lain apalagi hal konyol yang ditanyakan Kyuhyun.

“Oppa, H3 sukses berat. Sampai saat ini aku menghitung untung kami hampir menyentuh angka 30 persen. Luar biasa bukan? Ini semua karena modelnya Hyejin onni. Dia terlihat sangat hebat dengan baju-baju itu jadi menarik orang untuk membeli,” kata Hamun memulai pembicaraan mengenai pekerjaan.

“Sungguh? Waah, kalian berdua luar biasa! Aku akan mentraktir kalian nanti. Kalian telah menyelamatkanku dari amukan appadeul.” Kyuhyun tertawa gembira mendengar berita tersebut.

Hyemi menyeringai. “Kami tidak ingin ditraktir. Kami minta satu hal boleh?” Tanya Hyemi.

“Apa?” Kyuhyun mencium ide bisnis baru dari Hamun dan Hyemi.

“Kami kan membuat line clothing untuk bayi dan kami ingin Kihyun…”

“Menjadi model kalian? Tidak akan! Kihyun baru berusia sehari dan kalian minta dia jadi model? Yaaak! Apa yang ada di otak kalian?” Omel Kyuhyun kesal.

Hamun menoleh kepada Hyejin yang sedang menyusui Kihyun. “Hye onni,” rajuk Hamun dengan nada yang langsung meluluhkan Hyejin.

Hyejin tersenyum kemudian memanggil suaminya. “Sayang, mereka minta Kihyun jadi model kalau sudah berusia 1 bulan kok. Bukan sekarang. Boleh kan sayang?”

“Tidak.” Kyuhyun menjawab dengan tegas.

Hyejin berusaha merayu Kyuhyun, “Sayang. Ayolah.”

Kyuhyun menarik nafas panjang. “Usia 6 bulan.”

“2 bulan ya sayang?”

“5 bulan.”

“Bagaimana kalau 3 bulan?”

Kyuhyun menarik nafas panjang lagi. “Baiklah 3 bulan dan harus diawasi oleh dokter anak kepercayaanku.” Kyuhyun mengalah dengan negosiasi istrinya.

Hyemi dan Hamun tersenyum ceria dan kembali melompat memeluk Kyuhyun. “Gomawoo, oppa!!!! Saranghae!!!”

—–

Hyejin mengetik tombol enter dan sebuah berita beserta foto-foto yang dipasangnya terupload ke website paling fenomenal dalam dunia para sosialita kalangan atas macam Hyejin. http://www.TopClassSocialite.com halaman pertama sekarang terpampang berita mengenai debut Kihyun sebagai model di usia 3 bulan.

Baru berusia 3 bulan, Cho Kihyun memiliki clothing line sendiri.

– Waaa, Kihyun-ah! Kau lucu sekali. Aku akan membeli baju-bajumu. – Kim Rin Ah

– Kihyun-ah, aku mencintaimu. Kau tampan sekali. – Jong In Na

– Kihyun-ahhh, saranghae!!! -eomma.

“Kihyun-ah, kau tampan sekali di sini. Lihatlah,” ujar Hyejin kepada Kihyun sambil memamerkan foto-foto hasil pemotretan KH, clothing line bayi yang dibuat Hyemi dan Hamun.

“Aku memang tampan, eomma. Makanya ahjummadeul itu memilihku untuk menjadi model mereka. Bagaimana sih?” Bagi Hyejin itu semua hanya terdengar, “oeeek, oeeeek, oeeek!”

Hyejin menggendong Kihyun dan menggoyang-goyangkannya perlahan. “Cupppcupp sayang. Lapar ya. Ayo kita minum susu dulu. Kihyun tampan, anak eomma, ayo minum susu.”

“Haduh, eomma payah. Untung eomma cantik jadi bisa aku maklumi kalau eomma tidak sepintar appa. Haisssh.”

*end*