Annyeonghaseyo semuanya🙂
maap banget ya uda jarang ngepost ff hehehe
this ff created by kak sela (@gyumontic)
hope you like it ^^ enjoy reading🙂
your comments are love for us so leave your comments here ^^
makasih banyak chingu😀

Main cast: Cho Kyuhyun, Song Hyejin

******

Dokter penanggung jawab rumah sakit itu atau yang biasa disebut Dokter direktur tampak sangat kesal. Wajahnya menyiratkan semua itu. “Bagaimana aku bisa mengerti laporan keuangan yang kalian buat ini? Sangat berantakan! Perbaiki!” Bentaknya kepada pegawainya yang bertugas membuat laporan tersebut sambil melempar satu binder laporan tersebut kepada pegawainya.

“Baik, dok. Akan kami perbaiki secepatnya,” jawab si pegawai dengan patuh lalu angkat kaki dari ruangan dokter yang paling galak satu rumah sakit itu.

Cho Kyuhyun, nama dokter yang bertugas menjadi direktur rumah sakit yang dimiliki keluarganya saat ini – tepatnya yang dimiliki ayahnya. Cho Kyuhyun, terkenal keras kalau sudah berhubungan dengan pelayanan dan keuangan rumah sakit. Ia tidak segan menegur pegawai bahkan dokter yang bekerja tidak memberikan kepuasan kepada pasien.

Kyuhyun memijit-mijit pelipisnya sembari menununggu teleponnya tersambung. “Hyung, apa kau tidak punya stok ahli keuangan yang mampu membereskan masalah pelaporan di sini? Aku pusing setiap hari harus mengomel membaca laporan mereka,” Tanyanya tanpa basa basi begitu teleponnya tersambung.

Choi Siwon, direktur keuangan untuk seluruh perusahaan yang dimiliki keluarga Cho tertawa mendengar permintaan sepupunya tersebut. “Yaa, Cho Kyuhyun. Kau mau ahli keuangan yang seperti apa lagi? Itu yang ada di rumah sakitmu sudah yang terbaik,” kata Siwon.

“Hyung, aku mohon. Kau tidak mau melihat sepupumu ini mati muda hanya karena setiap hari marah-marah soal laporan kan? Ayolah, hyung. Nanti aku akan memperbolehkan Hamun pulang lebih cepat agar ia bisa berkencan denganmu. Bagaimana?” bujuk Kyuhyun.

Cho Kyuhyun, untuk urusan pelayanan dan keuangan memang terkenal galak tapi diluar itu ia berbeda 180 derajat. Cho Kyuhyun terkenal sangat ramah, pintar bersosialisasi dan enak diajak ngobrol. Hampir semua pasien jatuh cinta pada Cho Kyuhyun karena kinerjanya sekaligus pesonanya.

Direktur Choi kembali tertawa kali ini lebih ceria. “Kau selalu menggunakan Hamun untuk mengalahkanku. Baiklah, baiklah. Aku akan mengirimkan orang terbaikku untukmu besok. Tapi hati-hati dengannya. Ia sangat galak, tidak suka diintervensi. Well, selama ini aku fine-fine saja dengannya karena kinerjanya tidak pernah mengecewakan. Kita lihat denganmu nanti.”

“Dok, nyonya Hwang sudah bukaan delapan. Beliau siap melahirkan,” kata seorang suster yang tiba-tiba datang menyela pembicaraan Kyuhyun dengan Siwon.

Kyuhyun tidak marah, ia malah tersenyum manis sampai membuat suster tersebut tersipu malu. “Oke. Saya akan segera kesana. Siapkan saja peralatan operasinya ya,” sahut Kyuhyun.

“Baik, dok,” kata suster itu kemudian meninggalkan ruangan Kyuhyun.

Kyuhyun kembali berbicara dengan Siwon. “Hyung, sebenarnya aku ingin bicara lebih lama denganmu tapi apa daya, pasienku ada yang akan melahirkan. Aku harus segera membantunya.”

“Baiklah, Kyu. Tidak masalah. Selamat bekerja. Annyeong.”

“Annyeong. Jangan lupa pesananku!”

Kyuhyun menutup teleponnya dan langsung memakai jas putih kebanggaannya sebagai dokter lalu pergi menyusul suster tersebut ke ruang operasi. Bagi Kyuhyun, nyawa seorang ibu dan bayinya lebih penting dari sederet angka-angka memusingkan yang entah darimana didapatkan para akuntan itu.

—–

Operasi nyonya Hwang berjalan dengan lancar. Kyuhyun berhasil membantu persalinan nyonya Hwang sehingga beliau dan bayinya dalam keadaan sehat. Sekarang waktunya Kyuhyun untuk istirahat. Ia kembali ke ruangan dan kembali berkutat dengan beberapa laporan lain yang memiliki judul berbeda-beda sesuai bagian-bagian yang ada di rumah sakit ini.

Well, istirahat bagi Kyuhyun berarti tidak menangani pasien di ruang operasi atau ruang rawatnya tapi memantau operasional rumah sakitnya secara keseluruhan dari mejanya. Appanya mempercayakan rumah sakit ini kepada Kyuhyun sehingga ia tidak boleh mengecewakan. Mengecewakan orang tua haram hukumnya.

“Oppaaaa!!!!” teriak seorang gadis dengan suara cemprengnya yang sudah sangat Kyuhyun kenal.

“Kang Hamun,” ucap Kyuhyun begitu melihat sosoknya yang muncul di depan pintu ruanganku. Kang Hamun adalah tunangan Choi Siwon, berarti akan menjadi sepupu Kyuhyun. Gadis itu adalah dokter spesialis anak di rumah sakit Kyuhyun. Tipe gadis yang sangat menyenangkan dan sangat menghibur. Pantas ia menjadi dokter anak. Hobinya di rumah sakit adalah mengganggu Kyuhyun, diluar itu, berkencan dengan tunangannya.

“Oppa, belum pulang?” tanyanya tanpa basa-basi duduk di hadapan Kyuhyun.

Kyuhyun menaikkan kedua alisnya. Ia tidak perlu menjawabnya dengan gamblang. Dengan santai ia menyodorkan laporan-laporan yang sedang ia baca ke depan mata Hamun. “Berantakan sekali. Aku jadi pusing. Sudah hampir tiga jam aku membacanya tapi tidak paham-paham,” keluh Kyuhyun.

Hamun tertawa renyah. “Oppa tenang saja. Besok Oppa kan akan kedatangan tenaga ahli keuangan yang sangat handal. Dia lulusan nomor 1 untuk jurusannya dari Universitas Seoul. Aku dengar-dengar dia sangat cantik tapi galak. Dia tidak suka di-intervensi soal pekerjaannya. Aku rasa Oppa tidak akan marah-marah lagi setiap hari.”

“Kenapa? Apa dia seahli itu?” Tanya Kyuhyun.

Hamun menggelengkan kepalanya. “Karena ia yang akan balik memarahimu kalau kau berani memarahinya. Siwon oppa saja pernah kena marah sama dia.”

“Kau tahu darimana?”

“Siwon oppa lah. Siapa lagi??”

Kyuhyun tertawa. “Tampaknya tidak ada rahasia di antara kalian ya. Apa semua rahasia perusahaan juga dia beritahukan kepadamu?”

Hamun menggelengkan kepalanya. “Dia hanya menceritakan hal-hal yang tidak penting padaku dan pasti sudah lebih dulu diketahui olehmu. Iya kan? Jangan negative thinking dulu dong. Huh.”

Kang Hamun dan Choi Siwon, memang sudah lama berpacaran. Tidak heran banyak hal yang diketahui Hamun mengenai perusahaan keluarga Cho begitu juga banyak hal yang diketahui Siwon mengenai rumah sakit ini. Keduanya terbiasa berbagi susah dan senang yang mereka lewati setiap hari. Kedua makhluk itu memang sudah tidak bisa dipisahkan.

Tringtringtingtring. Smartphone Kyuhyun berbunyi tanda ada panggilan masuk. Kyuhyun dan Hamun sama-sama memandang smartphone tersebut. Hanya saja Hamun memandang dengan banyak kernyitan di dahinya.

“Eomma. Sebentar ya, Hamun,” kata Kyuhyun lalu mengangkat panggilan dari eommanya. “Waeyo, eommaku sayang yang cantik?”

Ibu mana yang tidak luluh dipanggil seperti itu oleh anak laki-lakinya. “Aihh, Kyu. Eomma jadi malu. Sayang kau tidak memuji eomma seperti itu tiap hari.”

“Kan ada appa.”

“Appa mana pernah memuji eomma. Dia sibuk terus dengan perusahaannya. Tapi tidak masalah, sebagai imbalannya eomma dapat perhiasan baru setiap minggu.”

Kyuhyun tertawa. Ia tahu eomma-nya tidak materialistis. Itu hanya kodrat seorang wanita yang mudah jatuh cinta dengan perhiasan bernama emas dan berlian. Kyuhyun rasa eomma-nya memang pantas mendapat ganjaran seperti itu. Hampir 30 tahun berumah tangga, mungkin tidak sampai seperempatnya yang eomma habiskan bersama appa karena appa sibuk kemana-kemana membangun jaringan bisnisnya.

“Kyu, ayo kita makan bersama. Sudah lama kan kita tidak makan bersama? Ajak Hamun juga ya. Bilang padanya ada Siwon di sini. Kami tunggu di Imperial sekarang. Sampai jumpa, Kyu,” kata eomma lalu menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban anaknya.

Kyuhyun mendecak sedikit kesal sedangkan Hamun menatap Kyuhyun dengan sinis, masih dengan banyak kernyitan di dahinya. “Wae?” tanya Kyuhyun pada Hamun.

“Sudah setahun berlalu dan wallpaper smartphone-mu masih mantan pacarmu yang meninggalkanmu demi laki-laki lain? Cih! Sini smartphone-mu!” ujar Hamun sinis.

Kyuhyun memandang wallpaper smartphone-nya memang masih gambar seorang gadis yang meninggalkannya setahun lalu dan menikah dengan pria lain. “Aku tidak bisa menunggumu lebih lama lagi, Kyu. Aku bosan terus menjadi yang kedua. Kau selalu saja mengutamakan rumah sakitmu. Selamat tinggal.” Agak miris mengingat hal tersebut tapi sesungguhnya Kyuhyun sudah sangat sangat melupakan gadis itu. Gambar gadis itu masih terpampang di sana bukan karena Kyuhyun masih mencintainya tapi karena ia tidak pernah mengerti cara untuk menggantinya. Berpikir untuk mempelajarinya saja tidak sempat.

Tangan Hamun semakin terulur menagih smartphone tersebut untuk berpindah ke tangannya. Dengan senang hati, Kyuhyun menyerahkan smartphone-nya kepada Hamun. Gadis itu mengutak-atiknya sebentar kemudian menyerahkannya kembali kepada Kyuhyun. “Jadi jauh lebih cantik kan?” Kata Hamun.

Kyuhyun menatap wallpaper baru di smartphone-nya. Lebih dari 5 detik ia mengagumi wajah cantik yang terpasang di sana. Terasa sangat familiar dan membuat Kyuhyun ingin melindunginya. “Ini siapa?” Tanya Kyuhyun.

“Aku,” jawab Hamun cuek.

Kyuhyun tertawa mengejek. “Iya aku tahu. Maksudku yang di sebelahmu, gadis bodoh. Ngapain juga aku tanya kalau aku tahu itu kau,” balas Kyuhyun membuat Hamun menyeringai senang.

“Itu yang namanya Song Hyejin, ahli keuanganmu yang baru. Bagaimana? Cantik kan? Itu foto sudah lama sih, waktu aku dan dia masih tergabung dalam ELF, fansclub Super Junior. Kau tahu kan, oppa?”

Kyuhyun hanya mengangguk-angguk saja. Ia tidak peduli apa itu ELF, apa itu Super Junior. Ia hanya peduli mengenai gadis cantik yang sekarang menghiasi smartphone-nya.

“Lalu?” Kyuhyun menuntut lebih banyak cerita.

“Kkeut! Selesai sampai di situ. Ayo kita pergi. Eommonim mengajak kita makan ke Imperial kan? Kajja!” kata Hamun membuat Kyuhyun kesal setengah mati karena penasaran.

“Yaaa! Kang Hamun!” Seru Kyuhyun yang dibalas oleh tawa oleh Hamun. “Yaa Kang Hamun! Tunggu! Sebagai hukuman, kau yang menyetir!”

Kyuhyun menyerahkan kunci mobilnya kepada Hamun. Hamun mencibir Kyuhyun tapi toh dia tetap mengambil kunci mobil dari tangan Kyuhyun dan berjalan menuju parkiran mobil. Dengan santai, Kyuhyun mengikutinya. Kyuhyun tahu, tunangan sepupunya ini memang yang paling bisa diandalkan.

—-

“Selamat datang, dokter Cho dan dokter Kang. Apa kabar? Kalian tampak sangat baik,” sapa pelayan penerima tamu di depan pintu begitu Kyuhyun dan Hamun datang.

“Haish. Seperti kita sudah lama sekali tidak ketemu. Baru juga dua hari yang lalu kami makan di sini,” balas Hamun dengan ceria sedangkan Kyuhyun hanya tersenyum. Keramahan Kyuhyun akan terkikis tajam jika sudah bersama Hamun. Gadis itu 10 kali lebih ramah dan lebih menyenangkan daripada Kyuhyun.

“Dimana ruangan kami? Aku sudah lapar sekali,” tanya Hamun sambil mengelus perutnya yang rata dan membuat si pelayan tersenyum menahan tawa melihat tingkah lucu Hamun.

Sang pelayan mengangguk sambil tersenyum. “Semua sudah menunggu di lantai 2. Mari saya antarkan.”

Kyuhyun dan Hamun mengikuti pelayan tersebut ke lantai 2. Sambil berjalan, Kyuhyun mendengarkan cerita antara Hamun dan si pelayan.

“Apa semua datang?” Tanya Hamun.

“Ne. Tapi tadi saya melihat wajah baru. Seorang gadis yang sangat cantik, dokter Kang. Dia tinggi, langsing, rambutnya panjang tapi saya tidak mencium bau-bau dokter dari dirinya. Apa keluarga Cho punya anggota baru?” Tampaknya pelayan restoran ini sudah mengetahui sekali siapa-siapa anggota keluarga Cho saking seringnya mereka makan di restoran ini.

Hamun menggelengkan kepalanya. “ Biar nanti aku lihat. Aku jadi penasaran. By the way, terima kasih ya. Sampai jumpa nanti.”

Si pelayan meninggalkan Kyuhyun dan Hamun setelah kedua dokter spesialis muda itu masuk ke ruangan tempat keluarga Cho sudah berkumpul. Semua formasi telah tersusun lengkap termasuk Siwon tapi ada satu wajah yang tampak familiar dengan Kyuhyun tapi tidak ia kenal.

“Hyejin unni!!” seru Hamun dengan ceria kepada gadis itu sambil berlari girang untuk menemui gadis itu.

Gadis itu berdiri dari kursinya kemudian merentangkan tangan menyambut Hamun. “Hamun-ah!” balas gadis itu tidak kalah heboh kemudian memeluk Hamun. “Sudah lama sekali tidak bertemu. Aku merindukanmu. Ternyata kau bagian keluarga Cho juga.”

Hamun menggelengkan kepalanya. “Belum. Statusku masih tunangan yang terhormat Tuan Choi Siwon.” Siwon yang saat itu sedang fokus bicara dengan Tuan Cho tidak mendengar apa yang baru dikatakan tunangannya itu. Kalau sampai ia mendengar, Hamun pasti sudah habis dicubiti oleh Siwon.

“Kau semakin cantik saja, Hamun-ah. Beda sekali waktu terakhir kali aku bertemu denganmu.”

“Tentu saja. Itu kan hampir 6 tahun yang lalu. Unni pun makin cantik. Pasti banyak yang mengejar-ngejar unni ya?”

“Hahahaha. Mereka hanya tertarik pada tubuhku. Begitu tahu aku galak, mereka langsung menghindar dariku. Payah.”

“Makanya unni, jangan galak-galak terus dong. Mana ada laki-laki yang suka perempuannya galak-galak.”

“Lagian mereka juga suka gak memakai otak mereka. Aku kan kesal.”

Kyuhyun memperhatikan kedua gadis – tepatnya gadis yang sedang bicara dengan Hamun. Mereka seolah memiliki dunia mereka sendiri. Keduanya sangat seru bercerita sampai mereka lupa bahwa mereka sudah hampir 10 menit sendiri berdiri.

“Ehem, ehem!” Kyuhyun sengaja berdehem pelan untuk menegur keduanya. Untung, Hamun mendengarnya.

“Ah Kyuhyun oppa,” ucap Hamun kemudian teringat bahwa ia belum mengenalkan kedua insan manusia ini. “Kenalkan ini Song Hyejin, ahli keuangan yang akan membantumu di rumah sakit besok. Bagaimana? Aslinya sangat cantik kan?” Hamun menekankan suaranya pada kata asli mengingat baru saja tadi ia memberikan foto Hyejin kepada Kyuhyun.

Kyuhyun berdiri lalu membungkukkan tubuhnya sedikit dengan sopan. Dengan sudut matanya ia memperhatikan Hyejin dari ujung rambut sampai ujung kaki. Cantik. Sangat cantik. Dan sangat menarik. Satu lagi, mempesona. Begitu menurut Kyuhyun yang hanya bisa diucapkan dalam hatinya. “Cho Kyuhyun, imnida,” kata Kyuhyun memperkenalkan dirinya.

Hyejin tersenyum kemudian balas membungkukkan badannya dengan sopan. “Song Hyejin imnida,” ucapnya.

Kyuhyun kembali tegak dan dengan bisu ia menatap Hyejin. Tampak sekali ia begitu terpesona dengan gadis ini.

Hyejin kembali tersenyum, tersipu malu-malu. Setelah menunggu selama setahun, akhirnya kesempatannya bicara dengan dokter spesialis yang menjadi incaran hampir semua gadis yang menyadari eksistensi dokter ini, datang juga. “Senang berkenalan dengan dokter. Mohon bantuan Anda mulai besok.”

“Sudah kuduga hasilnya akan seperti ini. He can’t resist her anymore just if he know something about her,” gumam Siwon dengan misterius membuat Hamun mengerutkan keningnya.

“Maksud Oppa?” Tanya Hamun yang hanya dibalas dengan sebuah rangkulan.

—-

Acara makan-makan keluarga telah selesai. Eomma dan appa juga sudah pulang begitu juga dengan Hyejin. Tinggal Kyuhyun, Hamun dan Siwon yang tinggal hanya untuk sekedar minum anggur bersama. “Tampaknya ada yang jatuh cinta pada pandangan pertama,” goda Hamun ketika Kyuhyun sedang meneguk anggur favoritnya.

Kyuhyun menatap Hamun dan Siwon yang sedang balik menatapnya dengan senyum sumringah.

“Aku tidak salah pilih kan? Dia sangat cantik bukan?” goda Siwon menambahi sambil tertawa-tawa. “Asal kau tahu, Paman Cho hampir saja menempatkan Hyejin ke rumah sakit yang dipegang nuna-mu. Untung tunanganku yang cantik ini mengingatkanku bahwa ia punya calon sepupu yang sedang kesepian. Dan tampaknya aku tidak salah menempatkan dia di rumah sakitmu. Iya kan?”

Kyuhyun tertawa. “Berapa kau bayar dia sampai dia mau jadi ahli keuangan di rumah sakitku? Yah, kita sama-sama tahu rumah sakit yang aku pegang menghasilkan keuntungan tidak sebanyak yang dihasilkan rumah sakit nuna. Tentunya kalau kau bayar dia mahal-mahal akan semakin mengerus keuntunganku kan, hyung?”

“Salah satu nilai plus Hyejin adalah dia tidak pernah masalah dengan gaji. Selama ia nyaman dan tidak merasa diintervensi berlebihan. Aah, aku menyukai gadis satu itu.”

“Kalau kau, Oppa? Bagaimana? Kau menyukainya kan? Tampak sekali tadi kau tidak bisa melepaskan matamu darinya. Bilang saja kepadaku, oppa.” Kata Hamun, kali ini lebih mendesak.

“Selama dia bisa membereskan semua masalah keuangan rumah sakitku, baru aku bisa memutuskan aku menyukainya atau tidak,” kata Kyuhyun.

“Jangan mengalihkan pembicaraan, oppa. Kau tau bukan itu maksudku. Haissh. Sudahlah, tidak usah menutupinya dari kami lagi. Matamu itu tidak bisa berbohong tahu. Kau jatuh cinta pandangan pertama pada Hyejin unni. Iya kan?” kata Hamun yang semakin membuat Kyuhyun senyum-senyum sendiri memandang gelas anggurnya.

“Kalau kau mau, aku bisa menyusun perjodohan antara kau dan Hyejin. Atau kau mau berusaha sendiri dulu?” tawar Siwon.

“Maksud kalian apa sih? Aku tidak mengerti. Sudahlah, hari sudah malam. Aku mau pulang dulu. Siwon hyung, aku titip Hamun padamu ya. Antar dia ke rumah dengan selamat. Annyeong!” kata Kyuhyun kemudian meninggalkan sepasang kekasih itu sambil melambaikan tangan. Bahasa tubuh Kyuhyun mengatakan bahwa pria itu sedang jatuh cinta.

—-

Hyejin berjalan beriringan dengan Hamun menuju ruangan Kyuhyun. Bolak-balik Hyejin merapikan pakaiannya yang sebenarnya sudah sangat rapi. “Hamun-ah, aku gugup. Bagaimana kalau Kyuhyun tidak suka padaku? Bagaimana kalau pekerjaanku berjalan tidak lancar nanti? Kyuhyun pasti akan memarahiku kan? Ottoke Hamun-ah?” kata Hyejin jujur akan kekhawatirannya.

Hamun tersenyum. “Unni, kau terlalu banyak berpikir hal-hal yang tambah bikin aku sakit kepala. Unni sudah cantik jadi tidak mungkin Oppa tidak suka padamu. Kau juga lulusan nomor 1 dari universitas kita. Kau sudah menerima banyak penghargaan atas tulisan-tulisanmu. Kau juga sudah menerbitkan beberapa buku mengenai keuangan yang cukup best seller. Masa itu tetap bikin kau gugup hanya karena akan bertemu dengan Cho Kyuhyun? Tenang saja.”

“Hamun-ah.” Hyejin menarik Hamun saat Hamun hendak mengetuk pintu ruangan Kyuhyun.

“Kenapa lagi, unni? Tenang saja. Cho Kyuhyun tidak akan memakanmu. Dosen-dosen mu jauh lebih killer daripada dia. Sudahlah, unni,” kata Hamun berusaha menenangkan Hyejin. Hamun kemudian mengetuk pintu ruangan Kyuhyun. Setelah mendapat sahutan dipersilahkan masuk, Hamun membuka pintu ruangan Kyuhyun dan berjalan memasukinya diikuti Hyejin.

“Oppaaa!! Lihat siapa yang datang. Tarrah!” seru Hamun sambil memamerkan Hyejin yang berdiri di belakangnya.

“Annyeonghaseyo. Selamat pagi,” sapa Hyejin dengan sopan.

“Annyeonghaseyo. Kita bertemu lagi. Kau tampak lebih segar pagi ini,” balas Kyuhyun juga dengan sopan. Sebenarnya Kyuhyun ingin mengatakan cantik tapi rasanya kata itu bisa membuat image-nya sebagai laki-laki penggoda.

“Ne. Kamsahamnida.”

Kyuhyun mengagumi apapun yang melekat pada diri Hyejin. Meskipun katanya galak, gadis ini telah merenggut semua perhatian Kyuhyun. Untung panggilan dari appa-nya menyadarkan Kyuhyun bahwa ia masih punya pekerjaan yang harus diselesaikannya. Kalau tidak, mungkin sebentar lagi gadis itu akan tersentuh oleh Kyuhyun yang sudah sangat ingin merasakan bersentuhan dengan Hyejin meski hanya berpegangan tangan.

“Kau sudah bisa mulai bekerja. Ruanganmu tepat di seberang ruangan ini.  Silahkan.” Kata Kyuhyun sambil mencari sesuatu di tumpukan dokumen pekerjaannya.

Hyejin berdiri terpaku kebingungan. “Dokter tidak mengantarku? Maksudku, mengenalkanku pada pegawai bagian keuangan?” tanya Hyejin.

“Oh, Hamun akan melakukannya. Maaf aku tidak bisa menemani. Appa menyuruhku mencari sesuatu.”

“Oh, baiklah.” Hyejin terdengar sedikit kecewa.

“Hamun, tolong antarkan Hyejin ke ruangannya ya sekalian kenalkan pada pegawai bagian keuangan. Terima kasih banyak, calon sepupuku yang cantiiiik,” ujar Kyuhyun.

“Cih! Tidak gentle. Pengecut,” gumam Hamun yang pasti didengar Kyuhyun. “Ayo unni, aku akan menemanimu. Kyuhyun oppa ini memang payah. Aku menyesal mengenalkanmu padanya. Kajja!” Tanpa berpamitan pada Kyuhyun, Hamun menarik tangan Hyejin untuk segera pindah ke ruang bagian keuangan.

Hyejin menghela nafasnya dengan berat begitu berada di luar ruangan Kyuhyun. “Dia tidak suka padaku. Iya kan, Hamun?” tanya Hyejin dengan nada putus asa.

“Tidak. Dia suka padamu. Oppa memang seperti itu. Kalau sudah masalah pekerjaan, apapun jadi nomor dua. Tidak usah terlalu cemas, unni,” kata Hamun yang memang sudah mengetahui bagaimana perasaan Kyuhyun yang sebenarnya.

“Tapi dia cuek padaku. Dia bahkan tidak berbasa-basi untuk mengajakku ngobrol, mengetahui tentang diriku atau apa kek. Apa aku tidak menarik?” keluh Hyejin.

Hamun tersenyum. Alasan Kyuhyun tidak bertanya-tanya mengenai Hyejin karena semua mengenai Hyejin sudah tercatat rapi di file yang dikirimkan Siwon tadi malam. Bahkan lebih lengkap daripada pertanyaan-pertanyaan basa-basi yang mungkin ditanyakan Kyuhyun.

“Kau sangat menarik, unni,” jawab Hamun menghibur hati Hyejin.

“Lalu kenapa sepupumu itu tampak tidak tertarik padaku?” tanya Hyejin lagi.

Hamun memandang penuh selidik kepada Hyejin. “Unni, kau tidak jatuh cinta padanya kan? Kenapa kau begitu ribut mengenai Kyuhyun oppa daritadi? Apa reaksinya akan dirimu menentukan hidup dan matimu?” tanya Hamun sesuai dengan feelingnya.

Hyejin menggedikkan bahunya. “Dia tampan, sopan, dan baik. Semua gadis yang mengetahui eksistensi dirinya mengejar-ngejar dia. Aku menunggu satu tahun untuk memiliki kesempatan bicara dengannya makanya dengan senang hati aku menerima pekerjaan ini tapi ternyata dia tidak suka padaku. Percuma saja.”

Hamun tertawa pelan. “Selama itu kau menunggu Kyuhyun Oppa? Waaah! Daebak! Tidak kusangka unni ternyata menyukai Kyuhyun Oppa. Jinjja!”

Hyejin tersenyum kecut. “Sudahlah, aku harus bekerja. Banyak hal yang harus aku bereskan. Dia sudah tidak menyukaiku jadi aku tidak mau juga kena marah olehnya,” sahut Hyejin lalu berjalan dengan santai menuju ruangannya.

“Kau tidak mau diantarkan, unni?” tanya Hamun.

“Tidak perlu. Menemui rekan kerja untuk pertama kali bukan masalah untukku. Annyeong! Sampai jumpa di jam makan siang, Hamun-ah!” sahut Hyejin. Sedetik kemudian, ia sudah menghilang ke dalam ruangannya.

—-

Hamun menghambur masuk kembali ke ruangan Kyuhyun sambil berteriak nyaring nyaris memekakkan telinga. Meskipun sudah terbiasa, Kyuhyun tetap harus melindungi telinganya karena itu menegur Hamun. “Kecilkan dulu suaramu baru kau boleh bicara.”

Hamun pun mengecilkan suaranya. “Oppa! Oppa! Aku punya berita bagus untukmu!” Hamun berseru tanpa menyembunyikan sedikitpun kegembiraannya.

Kyuhyun yang sudah terbiasa multitasking tetap bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya sambil mendengarkan Hamun. “Apa?” Tanya Kyuhyun sambil membaca dokumen pasien-pasiennya.

“Aku rasa Hyejin unni juga jatuh cinta padamu,” kata Hamun yang langsung mengalihkan Kyuhyun sepenuhnya dari pekerjaan kepada ceritanya.

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Kyuhyun penasaran. Kini ia berkonsentrasi penuh pada cerita Hamun.

“Tadi saat kami pertama kali masuk ke ruangan Oppa, Hyejin unni cemas setengah mati memikirkan bagaimana reaksimu akan dia. Apakah kau akan menyukainya? Apakah kau akan tertarik padanya? Lalu setelah kami keluar dari ruangan Oppa, dia tampak sangat sedih melihat reaksimu yang cuek. Dia berharap kau akan bertanya sesuatu tentang dirinya meskipun itu cuman basa-basi tapi ternyata kau tidak melakukannya. Dia kecewa.”

“Aku kan sudah punya datanya dari Siwon hyung.”

“Aku juga tahu itu tapi dia kan tidak tahu. Masa aku harus menjelaskan kepadanya?”

“Iya. Iya. Lalu dia bilang apa lagi?”

“Dia mengaku padaku kalau dia menyukaimu. Ternyata dia sudah menunggu setahun untuk bisa dekat denganmu, Oppa!” kata Hamun.

“Oh ya? Lalu?” tanya Kyuhyun antusias, berharap ada hal menyenangkan lain yang akan keluar dari mulut Hamun. Kyuhyun tahu wajahnya saat ini pasti tampak sangat senang sekaligus penasaran dan ia sama sekali tidak mampu untuk menyembunyikannya.

“Lalu?! Lalu kau harusnya berinisiatif untuk mendekatinya lah, oppa bodoh! Apa lagi? Apa Siwon oppa harus menyusun acara perjodohan untuk kalian?” Hamun mulai naik darah melihat kebodohan Kyuhyun sedangkan Kyuhyun hanya tertawa meskipun dimarahi Hamun. Hatinya terlalu senang mendapat berita bahwa Hyejin menyukai dirinya.

“Baiklah, dokter cantik. Aku akan berusaha mengajaknya makan siang bersama nanti. Otte?”

“Good! Aku percaya kau tidak akan mengecewakanku. Selamat berjuang, Oppa! Hwaiting!”

Hamun lalu meninggalkan Kyuhyun dan  4 jam menuju jam 12 siang terasa seperti 4 abad baginya. Kyuhyun sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Hyejin. Terima kasih kepada pasien-pasiennya yang sudah membantu untuk membunuh waktu.

Jam 12.10, pasien terakhir Kyuhyun untuk shift pertama selesai ditangani. Sekarang waktunya untuk istirahat dan makan siang, bersama Hyejin tentu saja. Jika biasanya Kyuhyun akan makan siang sambil bekerja, untuk kali ini hal itu haram baginya. Dengan penuh semangatt Kyuhyun keluar dari ruangannya dan masuk ke ruangan Hyejin.

“Hyejin baru saja keluar. Mungkin belum jauh,” kata salah satu rekan Hyejin.

Kyuhyun kembali keluar dan mencari sekeliling. Kyuhyun menemukan Hyejin sedang berjalan menuju elevator. Tanpa banyak berpikir, Kyuhyun bergegas menyusulnya.

“Hai. Mau kemana? Makan siang?” sapanya saat berhasil mensejajarkan diri dengan Hyejin.

“Oh, hai dokter Cho. Ani, aku mau ke lantai bayi dan anak-anak baru setelah itu makan siang,” jawab gadis itu sambil tersenyum.

“Kebetulan sekali aku juga mau kesana. Aku ada mau mengunjungi pasienku. Bareng?” ide Kyuhyun yang muncul begitu saja demi tetap bersama Hyejin. Lagipula lantai bayi dan anak-anak adalah kekuasaannya sebagai dokter spesialis kandungan jadi mudah saja memberi alasan untuk mondar-mandir di lantai itu.

Hyejin tersenyum. “Tentu saja. Menyenangkan sekali kalau dokter bisa sambil bercerita tentang bayi-bayi. Aku sangat suka bayi,” kata Hyejin menghipnotis Kyuhyun ke dalam dunia gadis itu.

“Kenapa memangnya?”

“Bayi itu polos bagaikan kertas. Hidupnya tergantung kepada orang-orang di sekitarnya. Sama seperti kertas, isinya ditentukan oleh orang yang akan menulis di atasnya. Bayi pun begitu, tergantung orang tua dan lingkungannya yang membesarkannya. Kasihan sekali kalau ia tumbuh di lingkungan yang kurang baik.”

“Kau pernah punya bayi?” tanya Kyuhyun entah mendapat ilham darimana padahal jelas-jelas ia tahu gadis itu belum pernah menikah.

Hyejin tertawa. “Menikah saja belum pernah apalagi punya bayi tapi aku pernah mengurus anak oppa-ku. Ia sekarang sudah berumur 5 tahun. Cantik dan pintar. Bahagia sekali rasanya kalau berhasil membesarkan seorang bayi. Berbanding terbalik jika ada seorang bayi menghembuskan nafas terakhirnya di gendongan kita sendiri. Itu rasanya sangat menyakitkan. Sangat sangat menyakitkan.”

“Kau pernah merasakannya?” tanya Kyuhyun lagi. Semakin lama Kyuhyun semakin tenggelam dalam cerita Hyejin sampai ia tidak sadar bahwa mereka sudah sampai di lantai tujuan mereka.

“Silahkan, dok,” katanya mempersilakan Kyuhyun keluar lebih dulu dari elevator kemudian melanjutkan ceritanya. “Anak pertama oppa-ku tidak berhasil diselamatkan saat dilahirkan. Aku tidak menyalahkan dokter yang menangani kakak iparku dan aku juga tidak menyalahkan kakak iparku yang saat itu kandungannya memang sangat lemah. Umur anak itu saja yang memang sangat pendek. Hanya beberapa jam saja.”

Saat mereka berjalan tanpa sengaja berpapasan dengan seorang ibu yang sedang menggendong bayinya. Bayi itu menatap Hyejin dan menjulurkan tangan seolah ingin digendong Hyejin. Sambil berinteraksi dengan si bayi, Hyejin meminta ijin kepada ibu si bayi untuk boleh menggendongnya. Dengan senang hati, si ibu memindahkan bayinya ke gendongan Hyejin.

Kyuhyun memperhatikan sambil sesekali tersenyum. Hyejin kemudian mengangkat bayi itu dan mencium keningnya. Saat itu Kyuhyun merasa semua memori 7 tahun lalu yang ia miliki datang berlari, berlomba-lomba, memaksa masuk ke otaknya.

Flashback. Kyuhyun’s POV

Aku berdiri memandang seorang gadis yang sedang menggendong seorang bayi di taman. Dia sedang berbicara pada bayi sedang digendongnya tapi raut wajahnya tampak sangat sedih. Aku berjalan mendekatinya  sehingga aku bisa mendengar apa yang diucapkan gadis itu.

“Eunhwan-ah. Tuhan pasti sangat sayang padamu sampai kau tidak diijinkan untuk hidup di dunia karena Tuhan tahu hidup di dunia itu berat. Tuhan pasti tidak ingin Eunhwan menderita. Eunhwan baik-baik ya di surga. Eomma, appa, bibi, haelmoni, haraboji bahagia asal Eunhwan bahagia. Kami semua mencintai Eunhwan. Kami semua sayang sama Eunhwan. Sampai jumpa di surga nanti ya Eunhwan,” ujar gadis itu. Aku tahu ia pasti sangat sedih tapi masih berusaha tegar. Kehilangan bayi bukanlah perkara mudah.

Seorang suster kemudian mendekatinya. “Nona, boleh kami minta bayinya? Ia harus dimandikan sebelum dimakamkan,” kata suster tersebut.

Dengan enggan, gadis itu menyerahkan bayinya kepada sang suster. “Boleh aku yang memandikannya, sus?” tanya gadis itu sebelum melepaskan tangannya dari tubuh si bayi.

“Anda boleh melihatnya. Kami akan menyerahkannya kembali kepada Anda setelah kami memandikan dan mendandaninya.” Gadis itu setuju. Ia menyerahkan bayinya kepada suster tersebut dan kemudian berjalan mengikuti suster ke ruangan tempat mereka memandikan bayi-bayi yang tidak bisa diselamatkan.

Gadis itu bersama bayinya dan suster lewat di sampingku dan aku bisa merasakan kesedihan gadis itu yang begitu dalam. Seketika hasratku untuk menjadi dokter kandungan menggebu. Aku tidak ingin melihat semakin banyak ibu bersedih karena kehilangan bayi yang dilahirkannya.

Flashback end.

“Siapa namamu cantik?” tanya Hyejin kepada bayi yang digendongnya.

“Eunhwan. Park Eunhwan, bibi cantik,” jawab si ibu.

“Nama yang cantik seperti orangnya. Dulu bibi juga punya keponakan namanya Eunhwan tapi dia tidak seberuntung dirimu. Dia hanya mampu hidup beberapa jam saja.” Hyejin berusaha berkomunikasi dengan bayi itu.

Jantung Kyuhyun berdetak dua kali lebih cepat. Ia merasa nafasnya berhembus dua kali lebih berat dari biasanya. Dadanya terasa sesak. Darahnya berdesir dua kali lebih cepat di dalam tubuhnya. Memorinya nyaris membuat ia pingsan.

“Tidak salah lagi! Gadis 7 tahun lalu itu adalah Hyejin. Ia adalah alasan kenapa aku memilih menjadi dokter kandungan. Tuhan mempertemukanku dengan orang yang paling berpengaruh dalam hidupku. Apakah salah jika aku jatuh cinta padanya? Berharap jika ia memang jodoh yang Tuhan kirimkan untukku?” Kyuhyun berseru dalam hatinya.

Tawa Hyejin menyadarkan Kyuhyun dan membuatnya berusaha mengembalikan keadaanku kembali seperti semula.

“Hahahahaha. Hihihihi. Eunhwan, tampaknya sudah waktunya kau menyusu ya. Kembali pada ibu ya. Kita main lagi nanti. Sampai jumpa Eunhwan-ah,” kata Hyejin sambil menyerahkan bayi itu kembali kepada ibunya.

“Anak pertama oppa-ku yang dulu tidak berhasil diselamatkan namanya Eunhwan. Jika ia hidup, sekarang sudah berumur 7 tahun,” cerita Hyejin pada Kyuhyun.

Kyuhyun masih berusaha mengendalikan kondisinya dan Hyejin dapat menangkap bahwa Kyuhyun tidak dalam kondisi yang fit. “Neo gwenchana, Dokter Cho?” Tanya Hyejin cemas.

Kyuhyun terduduk lemas tidak kuat mengendalikan kondisi tubuhnya. “Panggilkan suster atau Hamun. Aku tidak kuat. Cepat!” Perintah Kyuhyun.

Hyejin pun memanggilkan Hamun dan para suster untuk menolong Kyuhyun tapi saat ia kembali, Kyuhyun sudah tergeletak di lantai koridor. Dengan panik, Hyejin menyambar tubuh Kyuhyun dan menggoncang-goncangkannya. Ia bahkan nyaris menangis.

Hamun tertawa melihat Hyejin. “Dia tidak mati, unni. Dia hanya pingsan. Mungkin kecapekan. Tidak usah panik. Kau seperti istri yang kehilangan suaminya deh. Lucu sekali. Hahahahha.”

—-

Kyuhyun terbangun dan merasakan ada sesuatu yang membuat tangannya gatal. Ia menengok ke tangannya yang gatal, ternyata kepala Hyejin yang terkulai di atas kepalanya. Perlahan Kyuhyun turun dari tempat tidurnya tanpa menganggu sedikitpun Hyejin yang sedang tertidur pulas. Setelah itu, ia menggendong Hyejin dan meletakkan tubuh gadis itu di tempat tidur yang baru saja ia tinggalkan dan ia duduk di kursi yang baru saja menjadi tempat Hyejin tidur.

Tanpa ada yang mengetahui, sebuah senyum manis terkembang di wajah Kyuhyun. Tangannya menelurusi setiap lekuk pada wajah Hyejin dan kemudian mengelus lembut kepala gadis itu, tepatnya rambutnya. “Hai cantik. Tidak aku sangka Tuhan mempertemukanmu lagi denganku.”

“Gadis 7 tahun lalu yang membuatku jadi seperti sekarang. Seharusnya aku menyadarinya lebih cepat. Bolehkah aku mencintaimu? Boleh aku memilikimu?”

Kyuhyun bicara sendiri sambil terus menatap gadis yang sedang tidur terlelap itu, menikmati segala kesempurnaan yang ada padanya. Dalam sekejap, cintanya kepada Hyejin meluap-luap. Rasa ingin memiliki, melindungi, memberi, semuanya membuncah dalam diri Kyuhyun untuk Hyejin.

“Aku mencintaimu. Maaf karena aku lancang,” bisik Kyuhyun lalu mencium bibir Hyejin tanpa sepengetahuan pemiliknya. Bibir mereka bersatu lebih dari 3 menit dan terlepas saat Hyejin memiringkan badannya membelakangi Kyuhyun.

“Bahkan di saat tidur pun, kau berani menolakku. Lihat saja nanti ya,” ucap Kyuhyun sambil tertawa.

—-

Sinar matahari menyelinap masuk ke dalam mata Hyejin membuat gadis itu terbangun. Badannya perlahan menggeliat membuat seseorang menahan tawa setengah mati. “Selamat pagi, nona Song Hyejin,” sapa orang itu yang langsung membuat Hyejin melompat dari tempat tidurnya.

“Dok…dokter Cho… Sese…lamat pagi,” sahut Hyejin gelagapan. Tangannya dengan cepat merapikan baju dan rambutnya yang berantakan. “Ma-maafkan aku. Aku terlambat. Maafkan aku,” kata Hyejin semakin tidak jelas. Hal ini didukung dengan otaknya yang memang belum sinkron.

Kyuhyun melepaskan tawanya. “Kau lucu sekali. Apa salahmu sampai kau meminta maaf?” Tanya Kyuhyun dengan lembut.

Hyejin terdiam, menenangkan otaknya dan mengembalikan kesadarannya. “Kau sudah sehat?” Tanya Hyejin.

Kyuhyun duduk di atas tempat tidur ruangannya tepat berhadapan dengan Hyejin. Ia menarik Hyejin pada pinggang gadis itu agar jarak antara mereka sedikit berkurang. “Terima kasih banyak sudah menjagaku semalaman. Kau pasti lelah berjam-jam tidur di kursi dengan posisi duduk sedangkan aku tidur dengan nyaman.”

“Nan gwencana. Tapi tadi aku lompat dari tempat tidur itu.”

“Aku memindahkanmu agar kau lebih nyaman.”

“Oh. Gomawo.”

Kyuhyun menarik Hyejin lebih dekat sehingga saat ini Hyejin berada di antara kedua kaki Kyuhyun. “Ada yang ingin aku tawarkan kepadamu,” kata Kyuhyun pelan sambil berusaha mengontrol debaran jantungnya yang semakin tidak karuan karena berada sangat dekat dengan Hyejin. Matanya menatap langsung ke mata Hyejin. Nafasnya menyapu wajah Hyejin membuat jantung gadis itu tidak kalah berantakan debarannya dibanding Kyuhyun.

Hyejin tidak bicara. Kyuhyun melanjutkan omongannya, “Aku ingin kau menjadi kekasihku. Tiga bulan. Jika kau merasa tidak cocok, kau boleh memutuskanku.”

Mata Hyejin membelalak kaget. Cho Kyuhyun, dokter spesialis yang tampan dan kaya, idaman setiap wanita, menawari dirinya jadi kekasih padahal mereka baru 2 hari mengenal. “Mimpi apa aku semalam?” Ucap Hyejin dalam hati. Tidak bisa ia pungkiri, ia sangat senang mendapatkan permintaan dari Kyuhyun yang mungkin tidak akan pernah didapatkannya lagi tapi logikanya memaksa Hyejin untuk berpikir jernih.

“Dia baru mengenalku 2 hari. Kemarin ia cuek padaku kemudian berubah baik lalu tiba-tiba memintaku untuk menjadi kekasihnya. Ia pasti main-main denganku.” Perang batin dalam diri Hyejin. “Bukankah luar biasa, pria yang kau idam-idamkan memintamu jadi kekasihnya?”

Hyejin mundur perlahan kemudian membungkukkan tubuhnya. “Mianhe. Aku tahu kau sempurna sebagai pria tapi aku tidak bisa menjadi kekasih orang yang tidak sungguh-sungguh mencintaiku meskipun aku mencintainya. Maafkan aku,” ucap Hyejin penuh penyesalan kemudian keluar dari ruangan Kyuhyun.

Kyuhyun menarik nafas panjang untuk menenangkan hatinya yang sedang menelan kekecewaan, kenyataan bahwa Hyejin menolaknya. “Tidak sungguh-sungguh mencintaiku meskipun aku mencintainya. Cih!” Gumam Kyuhyun mengulang perkataan Hyejin yang terus terngiang di telinganya.

Kyuhyun menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur yang tadi ditiduri oleh Hyejin. Hidungnya menyium wangi parfum Hyejin yang menempel di sana. Ia menatap langit-langit kamarnya, merasakan betapa tersiksanya memiliki rasa begitu menginginkan seseorang.

Diambilnya smartphone dari jas kebesarannya sebagai dokter. Dipandangnya wajah Hyejin yang terpampang disana sebentar lalu ia segera menghubungi eommanya.

“Kyuhyun-ku sayang, ada apa tiba-tiba menelepon eomma nak?” Tanya eomma Kyuhyun yang senang sekali mendapat telepon dari anak laki-laki satu-satunya yang ia miliki. Tapi ia juga tahu bahwa jika Kyuhyun menelepon itu artinya ada sesuatu yang ingin diminta Kyuhyun.

Tanpa basa-basi Kyuhyun mengutarakan keinginannya, “Aku jatuh cinta pada Song Hyejin. Aku ingin menikah dengannya. Secepatnya.”

Eomma Kyuhyun terdiam saking terkejutnya.  27 tahun ia menjadi ibu Kyuhyun, baru kali ini Kyuhyun begitu memaksa mengenai seorang gadis. Kyuhyun biasanya akan mengulur-ulur waktu jika sudah membicarakan soal pernikahan. Ia selalu beralasan belum siap atau masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan tapi kali ini dia memintanya sendiri.

“Aku tahu eomma dan eomma-nya Hyejin berteman, tidak dekat tapi teman tetaplah teman. Tidak bisakah eomma membicarakannya dengan orang tua Hyejin?”

“Kyu, apa kau sedang mabuk? Kalian baru kenal 2 hari dan kau sudah minta menikah dengannya? Apa kalian sudah gila?”

“Tidak. Hyejin masih waras. Dia baru saja menolak untuk menjadi kekasihku. Karena itu aku minta tolong eomma untuk menjodohkan aku dengan dia.” Suara serius Kyuhyun seketika berubah menjadi anak manja yang menangis pada eomma-nya. “Eomma, meskipun aku jarang menelepon eomma tapi aku tetap anak eomma. Anak eomma yang paling tampan. Dadaku rasanya sangat sesak saat ini. Aku mencintainya, eomma. Aku jatuh cinta padanya. Eomma mau membantuku kan?”

Eomma Kyuhyun tidak punya pilihan lain. Kebahagiaan seorang ibu adalah saat melihat anaknya bahagia. Jika apa yang akan ia lakukan dapat membuat anaknya bahagia maka ia akan melakukannya. “Eomma akan bicara dengan keluarga Song hari ini juga.”

“Sampaikan juga pada Appa kan, eomma?”

“Tentu saja. Tidak masalah. Eomma akan mengatur semuanya. Jaga dirimu baik-baik ya, sayang. Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa, eommaku sayang. Kau memang yang terbaik. Aku mencintaimu.”

Eomma Kyuhyun tertawa geli mendengar ucapan anaknya. “Kau selalu seperti itu. Aku juga mencintaimu, nak. Bye.”

—–

Kyuhyun baru saja selesai melakukan operasi atas pasiennya yang melahirkan bayi kembar dan Hamun tanpa mempedulikan hal itu langsung menerobos masuk ruangan Kyuhyun. “Oppa! Oppa!!” Seru Hamun dengan nafas tersenggal-senggal. Hamun lari menuruni tangga dari lantai 3 sampai lantai tempat ruangan Kyuhyun berada hanya untuk mengkonfirmasi berita yang baru ia dapatkan dari Siwon.

“Ne, Hamun-ssi?” Tanya Kyuhyun sedikit kesal.

“Kata Siwon oppa, kau meminta eommonim untuk menjodohkan kau dengan Hyejin unni? Benarkah itu?”

“Cih. Tidak bisakah Siwon hyung tidak menceritakan segalanya kepadamu? Menyebalkan sekali. Memangnya kenapa?”

Dengan girang, Hamun melompat memeluk Kyuhyun. “Aaaaah, aku senang sekali mendengarnya!! Kau dan Hyejin unni itu pasangan paling serasi. Aku senang! Senang!”

Kyuhyun mendecakkan lidahnya. “Tapi unni-mu itu baru saja menolak untuk jadi kekasihku, tahu? Saking menginginkannya saja, aku meminta eomma untuk menjodohkan aku dengannya.”

“Menolakmu? Yang benar? Kau pasti bercanda. Iya kan, Oppa?!” Hamun menyerukan keterkejutannya dengan sempurna. Hamun tahu Kyuhyun menyukai Hyejin dan begitu sebaliknya. Tidak mungkin Hyejin menolak Kyuhyun. Pasti ada yang salah. “Oppa minta dia jadi kekasih Oppa? Oppa bilang apa sama Hyejin unni?”

“Aku ingin kau menjadi kekasihku. Tiga bulan. Jika kau merasa tidak cocok, kau boleh memutuskanku.”

Pletak! Pletak! Dua buah jitakan mendarat di kepala Kyuhyun dengan keras sampai-sampai Kyuhyun tidak segan membentak Hamun, “Kang Hamun! Sopan sedikit sama orang yang lebih tua! Sakit tahu!”

“Kau bodoh, Oppa!! Aku bilang kan dekati dia! Bukan langsung memintanya jadi kekasihmu. Sekarang malah ingin memintanya jadi istrimu! Kau gila ya? Tidak kau pikirkan bagaimana perasaan Hyejin unni? Dekati dia. Bilang kau mencintainya. Baru minta dia jadi kekasihmu. Kalau kau bertindak sesukamu saja, Hyejin unni akan berpikir kau hanya main-main dengannya.”

“Aku tidak main-main dengannya.”

“Ya itu kan menurutmu. Menurutnya? Belum tentu. Kau pun tidak menunjukkannya. Dasar gila!”

“Jangan menyebutku gila!”

“Kau memaksa seorang gadis untuk jadi milikmu tanpa peduli ia merasa dicintai atau tidak. Apa itu tidak gila?!”

Kyuhyun terhenyak di kursinya. Mungkin ia memang sudah gila, membiarkan emosinya menguasai dirinya hanya karena ia begitu jatuh cinta pada Hyejin. Begitu egois menginginkannya sampai ia tidak peduli perasaan Hyejin.

—-

Hyejin terkesiap saat menyadari ada seseorang yang masuk ke dalam ruangannya. “Hai,” ucap Hyejin dengan kaku saat menyadari siapa yang menganggunya saat sedang bekerja.

“Belum pulang? Sudah jam 12 malam kan?” Tanya Kyuhyun yang sudah mengambil tempat duduk di sebelah Hyejin, berusaha menciptakan suasana yang hangat.

“Ini akhir bulan. Aku harus menyelesaikan laporan bulanan. Iya kan?”

Kyuhyun tertawa. “Iya, itu kan memang tugasmu ya. Tapi kenapa kau hanya sendirian?”

“Yang lain sudah pada pulang. Pekerjaan mereka sudah selesai. Nah ini aku lagi merekonsiliasinya. Biar paling lambat minggu depan sudah ada di mejamu.”

“Apa ada yang bisa aku bantu?”

“Memangnya kau mengerti?”

“Tidak juga sih. Hanya mengerti secara umum saja.”

Hyejin gantian tertawa. Suasana antara keduanya terasa sangat hangat. Tidak ada lagi kekakuan meskipun ada kejadian tidak enak antara mereka berdua.

“Eh Kyu, em maksudku Dokter Cho.” Hyejin meralat panggilannya.

“Tidak masalah. Kau boleh memanggilku Kyu, Kyuhyun, Oppa, terserah.”

“Baiklah, Kyu. Kau tahu tidak. Aku sudah mengecek laporan keuangan yang selama ini dilaporkan kepadamu. Bagiku, itu semua sudah cukup baik. Mereka melaporkannya dengan benar. Mungkin, mungkin ya, kau yang kurang paham membacanya.”

“Benarkah?” Kyuhyun mengernyitkan keningnya.

Hyejin kemudian mengambil laporan keuangan bulan lalu dan menunjukkannya kepada Kyuhyun. “Lihat, laporan arus kas yang ada di sini sesuai dengan posisi kas yang ada. Aku pun sudah mengeceknya. Tidak salah.”

Hyejin lalu membalik halaman ke laporan laba rugi. “Lihat penjualan ini. Ini penjualan secara tunai dan tidak tunai. Yang tidak tunai sudah masuk ke piutang dengan tepat. Tidak ada yang salah kok, Kyu.”

Hyejin yang begitu dekat dengan Kyuhyun benar-benar menganggu konsentrasi. Wangi parfumnya yang menguar menusuk hidung Kyuhyun. Bibirnya yang terus bergerak-gerak di depan mata Kyuhyun. Rambutnya yang tergerai indah dan sesekali menggelitik lengan Kyuhyun. Semua itu mengaburkan fokus Kyuhyun.

“Aku rasa kau bisa mengajarkanku lain kali. Lebih baik kau selesaikan dulu pekerjaanmu. Aku akan membeli kopi hangat untukmu,” kata Kyuhyun sambil bangkit berdiri. Well, itu hanya alasan untuk menghindari Hyejin sebelum tangan atau bibir Kyuhyun lancang menyentuh gadis itu.

“Em, aku tidak suka kopi, Kyu. Kalau boleh coklat atau susu saja. Aku suka minum itu tengah malam.”

“Tentu saja boleh. Aku akan mengambilkannya untukmu. Tunggu sebentar ya.”

“Terima kasih.”

Kyuhyun buru-buru melangkahkan kaki dari ruangan itu sebelum nafsunya semakin membuncah dan ia melakukan hal-hal yang belum boleh ia lakukan. “Dekati dia. Bilang kau mencintainya. Baru kau minta ia jadi kekasihmu.” Kata-kata Hamun terngiang terus di pikiran Kyuhyun. Ia harus sabar. Tidak boleh terburu-buru.

—–

Kyuhyun membawakan satu gelas coklat hangat, satu gelas susu coklat hangat dan berbagai macam coklat batangan untuk menemani Hyejin. “Aku tidak tahu mana yang lebih kau sukai jadi aku membeli semuanya untukmu.” Hal ini tentu saja membuat Hyejin tertawa geli setengah mati.

“Gwencana. Kita berdua bisa menghabiskannya. Kalau tidak, bisa buat menemaniku lembur seminggu ke depan. Jeongmal gomawoyo, Kyu.”

Kyuhyun tersenyum manis sekali sampai Hyejin tidak sanggup berpaling saking takutnya kehilangan senyum itu. “Hei, aku ingin laporanmu paling lambat minggu depan sudah ada di mejaku,” tegur Kyuhyun dengan bercanda, menyadarkan Hyejin dari pesonanya.

“Aah, ne, ne.” Hyejin kembali berkutat dengan kerjaannya sedangkan Kyuhyun hanya duduk diam memperhatikan gadis yang ia cintai itu serius dengan pekerjaannya. Tidak sedetikpun, Kyuhyun berpaling dari Hyejin sehingga ia menyadari Hyejin ternyata ketiduran di atas kertas-kertas laporannya.

Pelan-pelan agar tidak membangunkannya, untuk kedua kalinya Kyuhyun menggendong Hyejin dan menidurkan gadis itu di tempat tidur yang memang tersedia khusus di ruangannya. “Selamat tidur, cantik.”

—–

“Dokter, ada telepon dari ibu Anda. Ia ingin bicara. Katanya ia sudah menghubungi ponsel dokter tapi tidak dijawab-jawab,” kata suster yang sedang bertugas menemani Kyuhyun praktek.

“Berikan padaku. Minta tolong pasienku menunggu paling lama 10 menit. Ya?”

“Baik dok.”

Kyuhyun menyambut telepon dari eomma-nya dengan rasa penasaran. Sudah 4 hari berlalu sejak ia minta dijodohkan dengan Hyejin dan ini telepon pertama dari eomma-nya. Semoga akan memberikan kabar baik.

“Ne, eomma. Apa ada kabar baik?” Tanya Kyuhyun tanpa basa-basi.

“Yaa! Kyuhyun-ah. Apa gadis itu lebih penting dari eomma sekarang?” Eomma Kyuhyun sedikit merajuk karena merasa dinomorduakan.

Kyuhyun tertawa merasa bersalah. “Bukan begitu, eomma. Eomma jangan salah paham ya.”

Eomma Kyuhyun tersenyum mendengar suara anaknya. “Eomma paham kok, nak. Hahahhaa. Kau pun gitu aja dibawa serius. Eomma ada berita menggembirakan untukmu.”

“Apa? Cepat beritahu aku.” Jelas sekali Kyuhyun tidak sabaran.

“Dasar anak nakal. Tidak sabaran sekali sih. Eomma dan Appa sudah bicara dengan keluarga Song.”

“Appa?!” Seru Kyuhyun nyaris berteriak saat mendengar appa-nya ikut andil dalam proses perjodohan yang ia minta.

“Dia yang paling semangatt malah. Waktu eomma menceritakan niatmu padanya, dia langsung menelepon appa Hyejin….”

“Meminta Hyejin untukku?”

“Haiiiish. Kau kenapa tidak sabaran sekali sih? Tidak. Appa mengajak keluarga Song untuk makan malam bersama nanti. Di situ nanti appa akan mengenalkanmu pada tuan dan nyonya Song. Appa akan pura-pura tertarik pada Hyejin lalu mengutarakan idenya untuk menjodohkan kalian berdua. Semua skenario sudah ia siapkan dengan rapi. Kau tenang saja.”

Mulut Kyuhyun nyaris tidak bisa tertutup saat mendengarkan bagaimana appa-nya merancang perjodohannya dengan sempurna demi menyenangkan anak laki-lakinya itu. Ia tidak menyangka di tengah kesibukannya yang begitu padat, appa Kyuhyun masih bisa merelakan sedikit waktunya untuk mengabulkan permintaan Kyuhyun.

Appa, jeongmal gomawoyo. Saranghae. – anakmu yang paling tampan, Cho Kyuhyun.

Kyuhyun mengirimkan pesan tersebut kepada appa-nya dan mendapat balasan 5 menit kemudian.

Ne, anakku. Bersikaplah yang baik biar keluarga Song tertarik padamu. Aku dan Siwon sudah menyiapkan segalanya sebaik yang kami bisa. Kami mendukungmu. – aku yang lebih tampan darimu, appa.

Mau tidak mau, Kyuhyun tertawa. Tawa antara senang, deg-degan dan geli sendiri. Perjodohan? Sebenarnya ini lebih kepada meminta anak orang untuk menjadi istrinya.

—-

Pintu ruangan Hamun berbunyi karena ada seseorang yang mengetuknya. “Siapa?” Tanya Hamun.

“Aku,” jawab seseorang yang sudah sangat familiar di telinganya.

Dengan girang, Hamun membukakan pintu dan menyambut kedatangannya. “Apa ada yang bisa aku bantu, unni?” Tanya Hamun dengan tulus.

Hyejin duduk di kursi pasien Hamun dan menceritakan apa yang mengusiknya beberapa jam belakangan ini. “Keluarga Cho mengundang keluargaku makan malam bersama di Imperial nanti. Menurutmu, aku harus bagaimana? Aku bingung.”

Hamun yang duduk di samping Hyejin merangkul gadis yang sudah ia anggap seperti kakaknya itu sendiri. “Kenapa harus bingung? Unni kan tinggal datang, makan, ngobrol. Gampang kan?”

“Bukan itu masalahnya. Aku merasa ini sangat aneh. Kalau mereka mau membicarakan masalah pekerjaan, buat apa mengundang kami sekeluarga. Pasti ada hal lain yang ingin dibicarakan mereka. Apa kau bisa membantuku untuk mencari tahu, Hamun-ah?”

Hamun memijit-mijit bahu Hyejin dengan lembut. “Kau terlalu sering mencemaskan hal-hal yang seharusnya tidak perlu kau cemaskan, unni. Sudahlah, kau tinggal datang saja, duduk manis, dengarkan mereka bicara. Kurasa itu cukup.”

Hyejin menatap Hamun dengan tatapan cemas. “Aku betul-betul cemas Hamun-ah. Nyonya Cho secara pribadi yang mengundangku. Aku yakin ada hal yang ingin mereka sampaikan kepadaku.”

Hamun, yang mengetahui semuanya, pura-pura merasa kesal. “Haishh.. Sudahlah, lebih baik kita ke salon. Kita bisa creambath, facial, atau luluran kalau perlu. Kebetulan badanku sudah pegal-pegal semua. Acara makan malammu jam berapa, unni?”

“Jam 7 malam.”

“Masih ada 4 jam lagi. Masih sempat. Kajja!”

Tanpa minta persetujuan dari Hyejin, Hamun menarik Hyejin pergi ke salon langgannannya dan menikmati beberapa treatment yang menenangkan. Sampai mereka lupa waktu.

—–

Hyejin berlari secepat yang ia bisa dengan hi-heels 7 cm-nya dari tempat ia memarkir mobil sampai ke ruangan tempat keluarganya dan keluarga Cho sudah menunggu.

“Maaf, aku terlambat,” ucap Hyejin penuh penyesalan. Ia terus membungkukkan badannya sampai ada seseorang yang menepuk-nepuk kepalanya.

“Kau mau membungkuk sampai tulangmu patah heh? Tenang saja, kau bukan orang paling akhir yang datang,” katanya. “Maaf, aku terlambat. Tadi aku harus menangani pasien lebih dulu. Kenalkan, Cho Kyuhyun imnida.”

Hyejin yang begitu mengenal suara itu, langsung menegakkan badannya dan memandang Kyuhyun. “Sedang apa kau di sini?” Tanya Hyejin setengah berbisik.

“Makan malam bersama. Apa ada yang lain?” Balas Kyuhyun diiringi senyum evilnya, senyum kesukaan Hyejin.

“Ah, kalian berdua sudah datang. Duduklah. Makan dulu. Kami sudah makan duluan karena kelaparan menunggu kalian,” kata Appa Kyuhyun dengan hangat. Kyuhyun dan Hyejin pun segera mengambil tempat duduk dan menikmati makan malam mereka dengan perlahan.

“Tuan dan Nyonya Song pasti baru kali ini melihat anak kami. Dia yang namanya Cho Kyuhyun, dokter spesialis kandungan di rumah sakit tempat Hyejin sekarang bertugas. Hyejin pasti sudah pernah sedikit bercerita mengenai Kyuhyun kan? Ini lah sosok aslinya.” Appa Kyuhyun menjelaskan sambil menepuk-nepuk bahu anaknya.

Appa Hyejin tersenyum. “Kelihatan sekali ia pria yang pintar dan bertanggung jawab. Pasti bangga memiliki anak sepertinya. Iya kan, tuan Cho?”

“Boleh dibilang begitu. Tapi aku masih belum bahagia sepenuhnya. Ia masih sendiri. Belum punya pacar apalagi menikah.”

“Pertama kali aku melihat Hyejin, aku jatuh cinta padanya. Aku menginginkan ia yang menjadi pendamping Kyuhyun kelak. Pintar, sabar, meskipun kadang agak galak. Cocok untuk anakku yang satu ini. Bagaimana menurut tuan Song?” lanjut Appa Kyuhyun.

Appa Hyejin tertawa renyah. “Pada dasarnya yang paling penting buat kami adalah kebahagiaan Hyejin. Kami tidak masalah jika menurut anak kami, Kyuhyun adalah yang terbaik untuknya. Kami lihat Kyuhyun sangat baik.”

Tanpa sengaja Hyejin tersedak. Ia tahu apa maksud tujuan pertemuan ini. Perjodohan! “Uhuk! Uhuk!!” Hyejin terbatuk-batuk sampai matanya berair seperti menangis. Kyuhyun yang duduk di sebelahnya dengan segera membantu Hyejin dengan cara menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu dan memberikannya air putih.

“Neo gwencana, Hyejin-ah?? Pelan-pelan makannya,” ujar Kyuhyun sambil terus menepuk-nepuk punggung gadis itu. Saat Hyejin sudah lebih baik, Kyuhyun mengelus-elus punggung Hyejin sambil sesekali memijitnya.

“Gomawo,” ucap Hyejin setelah kembali normal.

Kedua belah orang tua tetap berbicara mengenai perjodohan dengan gamblang sedangkan anak-anak mereka saling berbincang dengan suara berbisik.

“Mereka akan menjodohkanku denganmu,” kata Hyejin pelan dengan tatapan setengah tidak rela. Rasionalitasnya sekali lagi mengalahkan perasaannya.

“Lalu?” Sahut Kyuhyun dengan tenang.

“Aku tidak mau menikah dengan laki-laki yang tidak mencintaiku.”

Kyuhyun tiba-tiba berdiri membuat Hyejin terkejut. “Ya! Yaa! Cho Kyuhyun, kau mau apa?” Bisik Hyejin sambil menarik ujung jas Kyuhyun agar kembali duduk.

“Permisi. Mohon maaf sebelumnya aku harus pamit lebih dulu karena ada pasien yang akan melahirkan malam ini. Maaf tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama. Aku janji akan lebih lama di pertemuan kita selanjutnya,” pamit Kyuhyun.

Appa dan Eomma Hyejin tersenyum, terpesona seratus persen kepada Kyuhyun. “Tidak apa. Lain kali kita bisa makan bersama lagi.”

“Tapi, boleh aku meminjam Hyejin untuk mengantarkanku? Mobilku rusak jadi aku tidak bawa mobil. Dari sini ke Imperial kan cukup jauh dan sudah malam jadi….”

“Tidak masalah. Tidak masalah. Hyejin akan mengantarkanmu ke rumah sakit, Kyu. Hyejin-ah, antarkan Kyuhyun kembali ke rumah sakit ya. Kasihan kalau dia harus naik taksi, sayang,” pinta appa Hyejin kepada putri satu-satunya itu.

Hyejin menatap eommanya meminta pembelaan tapi sang eomma justru membela appa Hyejin, membuat Hyejin hanya bisa menghela nafas pasrah. “Kalau begitu, aku pamit dulu. Permisi, tuan dan Nyonya Cho.”

“Silahkan sayang. Sampai jumpa,” sahut nyonya Cho.

Hyejin keluar mengikuti Kyuhyun yang sedetik lebih dulu berada di depannya. Buk!! Sebuah benda setengah empuk setengah keras menghantam kepala Kyuhyun. “Auw!!” Seru Kyuhyun pelan menahan rasa sakitnya. “Apa yang kau lakukan, yaa Song Hyejin?”

Kyuhyun menatap Hyejin yang sedang berdiri menatapnya sambil menahan air mata keluar mengalir di pipinya. “Sudah aku bilang, aku tidak mau menjadi kekasih pria yang tidak mencintaiku meskipun aku mencintainya, apalagi menjadi istrinya. Aku tidak mau! Aku tidak mau! Apakah kau tidak mengerti Cho Kyuhyun?” Luap Hyejin penuh emosi.

Kyuhyun melangkah mendekati Hyejin dengan perlahan. “Hei gadis pintar tapi bodoh, kau jelek kalau menangis tahu. Dasar cengeng.”

“Jangan mengejekku!” Protes Hyejin. Kali ini ia tidak bisa membendung air matanya membuat Kyuhyun merasa sangat bersalah.

“Jangan menangis, aku mohon. Kecantikanmu hilang 1 persen jika sedang menangis,” kata Kyuhyun. Tanpa bisa ia tahan lagi, ia menarik Hyejin ke dalam pelukannya. Mendekap gadis itu dengan penuh kasing sayang. “Biar aku jelaskan padamu, aku meminta kau jadi kekasihku karena aku mencintaimu. Tapi karena kau menolak, aku minta tolong orang tuaku untuk menjodohkanku denganmu. Karena apa? Karena aku mencintaimu. Tidak disangka aku ditolak dua kali. Tapi itu tidak masalah. Aku akan berusaha lagi.”

“Tidak mungkin. Kau baru kenal aku beberapa hari, tidak mungkin kau langsung jatuh cinta padaku,” kata Hyejin mengedepankan rasionya.

“Hei pintar, bisakah sekali-sekali kau mengutamakan perasaanmu lebih dulu? Dengarkan aku, pertama kali aku bertemu denganmu adalah 7 tahun lalu. Saat kau menggendong Eun-hwan dan mendoakannya agar baik-baik di surga. Apa kau tahu kalau kau sangat berpengaruh pada hidupku? Sejak saat itu, aku memutuskan untuk menjadi dokter kandungan bukan dokter jantung seperti yang dicita-citakan Appa-ku. Jadi, aku mengenalmu sudah 7 tahun bukan 2 hari.”

“Bohong.”

Kyuhyun tertawa kecil sambil mengelus kepala Hyejin. “Terserah kau mau percaya atau tidak. Aku mencintaimu dan menginginkanmu mendampingi hidupku. Tidak maukah kau memberikanku kesempatan?”

“Kau menyebalkan!” Protes Hyejin dengan marah tapi tubuhnya justru memeluk Kyuhyun lebih erat. “Kau benar-benar menyebalkan!”

—-

Hyejin masuk ke dalam ruangan Kyuhyun untuk menyerahkan laporan keuangan bulanan seperti yang sudah ia janjikan minggu lalu. “Dokter Cho, ini laporannya,” kata Hyejin sambil memberikan satu binder laporan kepada Kyuhyun.

Mata dan bibir Kyuhyun tersenyum memandang Hyejin, membuat gadis itu berbunga-bunga mengingat bahwa Kyuhyun ternyata mencintainya. Bukan karena 2 hari tapi 7 tahun. Tidak ada yang lebih membahagiakannya daripada itu.

Kyuhyun berdiri menyenderkan pantatnya pada pinggir meja, berhadapan dengan Hyejin yang berdiri melipat tangannya. Kyuhyun meraih tangan itu dan menarik pemiliknya semakin dekat dengannya. “Kau sudah memikirkannya? Kesempatan untukku?” Tanya Kyuhyun serius.

Hyejin menangkap keseriusan pada mata Kyuhyun. Lagipula pria ini juga yang selalu mengusik hidupnya sejak setahun lalu terutama seminggu belakangan ini. Pria yang selalu ada bersamanya meski kadang Hyejin suka merepotkannya. Apalagi yang membuatnya tidak yakin. “Tiga bulan. Kalau dalam tiga bulan kau tidak bisa membahagiakanku,….”

“Aku akan mengabulkan apapun yang kau minta tapi jika selama tiga bulan aku bisa membahagiakanku, kau harus menikah denganku. Setuju!”

Hyejin memanyunkan bibirnya karena kesal. “Aku kan belum bilang setuju. Kenapa kau sudah memutuskannya sendiri?”

“Karena aku yakin tiga bulan ke depan kau akan menjadi istriku. Aku akan berusaha sekeras mungkin untuk membuat kau bahagia. Saranghae, jagiya,” ucap Kyuhyun yang menarik Hyejin semakin dekat dengannya sampai tidak ada jarak.

Kyuhyun mencium bibir Hyejin, intens, melumatnya, menyatukannya dengan bibirnya sedangkan tangannya menyangga tubuh Hyejin agar tidak semakin jauh darinya.

“Ciuman pertamaku,” kata Hyejin setelah Kyuhyun melepaskan bibirnya. Kyuhyun tersenyum, mengelus lembut tangan Hyejin yang merangkul lehernya.

“Sebenarnya itu ciuman keduamu. Aku pernah mencuri ciumanmu waktu kau tidur. Mianhe.”

“Yaa!! Dokter mesum!!”

—–

Tiga bulan kemudian…

“Yaaa nona Cho Hyejin, ayo kita makan siang. Aku sudah lapar. Kajja!” Perintah Kyuhyun sambil menarik tangan kekasihnya itu.

“Yaa tuan Cho Kyuhyun, aku masih banyak pekerjaan. Kalau tidak diselesaikan, aku bisa kena marah Siwon oppa. Kau tahu kan aku sangat tidak suka dimarahi. Kau makan siang sendiri saja sana. Satu lagi, namaku Song Hyejin bukan Cho Hyejin.”

Kyuhyun menyeringai jahil tepat di depan wajah Hyejin. “Ya paling sampai bulan ini. Bulan depan namamu akan berubah menjadi Cho Hyejin. Iya kan?”

“Pede sekali kau.”

“Tentu saja. 3 bulan, sesuai permintaanmu, aku tidak pernah membuatmu menangis. Aku selalu membuatmu bahagia. Iya kan?”

Tiga bulan terlewati dan Hyejin harus mengakui bahwa Kyuhyun berhasil menjeratnya lebih dalam. Hyejin menyadari bahwa hidupnya tidak akan dapat berjalan dengan lancar jika tidak bersama Kyuhyun. Meskipun kadang mereka suka bertengkar, pertengkaran itu tidak pernah bertahan lebih dari setengah hari karena jam makan siang atau jam makan malam akan kembali mendamaikan.

Kyuhyun semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Kyuhyun tanpa peduli dengan rekan-rekan kerja Hyejin yang mencuri lihat kepada mereka. “Ayo makan siang atau aku akan menciummu sekarang juga di sini. Silahkan pilih.”

Hyejin menggaruk-garuk kepalanya dengan frustasi. “Haiiiish. Kenapa kau selalu merepotkanku sih? Padahal dengan yang lain kau begitu sangat amat ramah dan sering membantu. Kenapa padaku saja kau merepotkan?”

“Karena kau mencintaiku. Aku tahu, cintamu tidak akan hilang begitu mudah meski aku sering merepotkanmu. Sama saja cintaku tidak akan mudah hilang meski kau mengomel tiap hari seperti itu. Aku justru semakin mencintaimu.”

Hyejin tersipu malu tapi ia lebih malu karena semua temannya sedang mengikik mendengar ucapan Kyuhyun. Dengan tidak sabar, Hyejin menarik Kyuhyun untuk segera keluar dari ruangannya. Hati senang, wajah riang, Kyuhyun mengikuti kemanapun Hyejin menariknya.

—–

Kyuhyun mengipas-ngipas tubuhnya sambil meminum es jeruk dalam sekali teguk. “Panas sekali. Kenapa AC-mu tidak terasa, Hyejin-ah??” Protes Kyuhyun yang seharusnya ia sampaikan kepada musim panas.

“Musim panasnya yang keterlaluan, Kyuhyun.  Mau bagaimana lagi?” Sahut Hyejin yang muncul dari dapur sambil membawa satu pitcher es jeruk untuk meredakan panas yang sangat menganggu ini.

Kyuhyun mengambil satu gelas lagi es jeruk dan meminumnya dalam sekali teguk. “Pelan-pelan. Nanti kau tersedak,” tegur Hyejin melihat cara minum Kyuhyun yang terburu-buru.

“Hemm,” sahut Kyuhyun dengan suara melalui tenggorokannya.

“Hei nona Cho,” panggil Kyuhyun pada Hyejin yang sedang serius dengan smartphone-nya.

“Apa?” Sahut Hyejin.

“Minggu depan, appa dan eomma akan datang ke rumah untuk melamarmu. Dandan yang cantik dan siapkan makanan yang enak ya. Yakinkan appa dan eomma bahwa anaknya ini tidak salah memilih calon istri.”

“Ne,” jawab Hyejin singkat saking seriusnya dengan e-book yang sedang ia baca.

Dengan penasaran, Kyuhyun mengambil smartphone Hyejin dan membaca apa yang sedang dibaca Hyejin.

“Yaa Kyuhyun-ah! Kembalikan!” Seru Hyejin sambil melompat untuk meraih smartphone-nya yang sedang dipegang Kyuhyun.

Kyuhyun membaca e-book yang dibaca Hyejin kemudian tertawa terpingkal-pingkal. “Posisi terbaik agar cepat punya anak,” Kyuhyun membaca judulnya. “Yaa ternyata kau mesum juga ya. Belum menikah sudah membaca buku seperti ini. Kau mau mencoba yang mana, sayang?”

“Kembalikan!” Pinta Hyejin dengan kesal tapi Kyuhyun tetap terpingkal-pingkal.

“Haissssh!” Gerutu Hyejin dengan kesal setelah berhasil mengambil kembali smartphone-nya. “Aku hanya ingin cepat memberikan keturunan untukmu, eomma dan appa. Tidak ada maksud lain kok,” lanjut Hyejin.

Kyuhyun memeluk calon istrinya dengan gemas. “Aku tahu. Aku kan hanya menggodamu. Gitu aja ngambek. Tapi kalau kita cepat punya anak, waktumu untukku akan semakin sedikit. Kau pasti akan lebih banyak mengurus anak-anak. Aku tidak mau.”

“Dasar manja. Aigoo.”

—–

Side Story

Kring. Kriiing. Teleponnya berbunyi nyaring membuat Hyejin terpaksa bangkit dari tempat tidurnya untuk mengangkat telepon tersebut. Perlahan, Hyejin berjalan sambil memegang punggungnya yang semakin lama semakin pegal menopang perutnya yang semakin buncit.

“Yoboseyo,” sapa Hyejin kepada peneleponnya.

“Unni!!!! Apa kabar? Aku sangat-sangat merindukanmu. Maaf sudah jarang meneleponmu. Bagaimana kehamilanmu?” Hamun bertanya penuh semangatt tanpa jeda.

“Hamun-ah, apa kabar? Aku baik-baik saja. Bulan depan rencananya melahirkan. Kau pasti sangat sibuk menyiapkan pernikahanmu dengan Siwon oppa ya?”

“Ne, unni. Aku pusing sekali. Minggu depan aku akan menikah tapi bajuku belum jadi, cincinku masih disetel, undangan belum tersebar semua. Ottoke, unni? Aku bingung,” keluh Hamun mencurahkan isi hatinya.

Hyejin tertawa. “Tenang saja, sayang. Semuanya pasti akan berjalan lancar. Selama kau dan Siwon oppa saling membantu, semua pasti selesai. Jangan tegang, santai saja.”

“Ne, unni. Unni nanti datang dengan Kyuhyun oppa ya. Aku siapkan kursi paling depan untuk kalian nanti. Ya?”

“Tentu saja. Kami pasti datang. Maafkan aku tidak bisa jadi pendampingmu ya. Aku sudah tidak kuat berdiri lama-lama. Maklumlah, ibu hamil tua.”

“Gwencana, unni. Tidak masalah. Ehm, unni…”

“Ne, waeyo Hamunie?”

“A-a-niya unni. Unni, nanti aku telepon lagi ya. Siwon oppa memanggilku. Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa, Hamun sayang,” ujar Hyejin sambil menutup teleponnya.

“Waeyo, Siwon hyung?” ujar sebuah suara yang muncul dibelakang Hyejin. Kyuhyun. “Ya,ya, ya! Aish! Kenapa kau menutup teleponnya sebelum selesai bicara,” gerutu Kyuhyun pada ponselnya.

“Siapa yang menelepon tadi?” tanya Hyejin.

“Calon mempelai pria,” jawab Kyuhyun. “Siapa yang menelponmu, sayang?”

Hyejin tersenyum. “Calon mempelai wanita,” jawabannya dan Kyuhyun mengerti siapa yang ia maksud.

“Hamun juga begitu. Ia tak menyelesaikan kalimatnya. Kurasa ada yang tidak beres,” kata Hyejin.

Kyuhyun tertawa kecil seakan ia mengerti apa yang terjadi pada Siwon dan Hamun. “Apa mereka akan baik-baik saja,ya?”

“Maksudmu?” tanya Hyejin bingung.

“Sindrom pernikahan. Apa kau lupa bagaimana kau menghindariku selama seminggu sebelum menikah karena kau takut keputusanku untuk menikahimu adalah suatu kesalahan? Kau takut kau tak bisa membahagiakanku, aku juga berpikiran yang sama. Kurasa mungkin mereka sedang mengalami hal yang sama.”

Hyejin tersenyum mengingat kenangan itu. “Kau benar. Untung saat itu Hamun menguatkanku.”

“Beruntung juga karena Siwon hyung meyakinkanku kalau aku pasti bisa membahagiakanmu,” balas Kyu sambil memeluk Hyejin dari belakang. Kyuhyun mengusap perut Hyejin lembut.

“Mereka berdua orang baik. Kurasa kini giliran kita membalas kebaikan mereka,” ujar Hyejin.

“Hm, kau benar, sayang. Aigo, pintarnya istriku ini.”

******

“Annyeonghaseyo, unni sayang! Aigo, meski bertambah gendut kau tetap cantik! Annyeonghaseyo, Cho Junior sayang,” ujar Hamun yang baru saja tiba di rumah Hyejin. Ia langsung memeluk Hyejin dan mengelus lembut calon keponakannya itu.

“Hai, Hamun sayang. Kukira kau tak akan datang karena sibuk menyiapkan pernikahanmu.”

“Aku tak mungkin tidak datang kalau Hyejin unni yang meminta,” ujar Hamun sekenanya sambil masuk ke dalam rumah Hyejin. Hyejin merasakan sesuatu yang tidak beres. Hamun tak seperti biasanya.

“Hamun sayang, kau tidak seceria biasanya. Apa ada masalah?” tanya Hyejin.

Hamun tersenyum, menggeleng. “Aniya, mungkin hanya perasaanmu saja, unni.”

“Tapi aku yakin dengan perasaanku. Kau menyembunyikan sesuatu dariku,” kata Hyejin sambil menatap intens mata Hamun. Hamun tersenyum, ternyata ia memang tak bisa menipu Hyejin.

Perlahan air matanya mulai mengalir. Ketakutan, keraguan, yang ia rasakan sendiri akhir-akhir ini meluap. Ia ragu akan keputusannya untuk menikah dengan Siwon. Ia takut, ia tak bisa membahagiakan Siwon padahal selama ini Siwon selalu membahagiakannya.

“Hamun sayang, sudah berapa lama kau bersama Siwon? Apa waktu yang lama itu tak cukup membuktikan cintanya padamu?” tanya Hyejin.

“Aku tak pernah meragukannya, unni. Aku percaya padanya. Tapi aku tak percaya pada diriku sendiri,” balas Hamun sesengukan.

“Bukannya kau pernah berkata padaku, ‘nobody perfect. But with love, we seeing an imperfect person perfectly’. Kau tak akan bisa memaksakan dirimu untuk membahagiakan Siwon. Pasti akan ada masalah yang menghadang. But you should remember, problem is a gift that will make your love stronger.”

Hamun ingat jelas kalimat itu. Kalimat yang ia ucapkan untuk Hyejin setahun yang lalu. Ia tak menyangka kalimat itu akan kembali ke dirinya. Hyejin menarik Hamun ke dalam pelukannya, membiarkan adik kesayangannya itu menangis meluapkan perasaannya.

____

“Hey, tuan Cho. Ada apa memanggilku?” tanya Siwon yang baru masuk ruangan Kyuhyun.

Kyuhyun bangkit dari tempat duduknya lalu menjitak kepala Siwon. “Yaa! Apa yang kau lakukan pada hyung mu?!” tanya Siwon kesal sambil mengusap kepalanya.

“Aku kesal karena kau masih main rahasia-rahasiaan denganku, hyung,” ujarnya sambil menyerahkan binder keuangan rumah sakit Kyuhyun yang sementara waktu dikerjakan oleh Siwon. “Banyak yang salah penempatan dan salah hitung. Kau juga akhir-akhir ini sering melamun dan kerjaanmu banyak yang tak beres. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu.”

Siwon tersenyum lirih. “Aku tak bisa menipumu rupanya ya.”

“Lalu, apa yang terjadi pada calon mempelai pria ini?” tanya Kyuhyun.

Siwon terlihat bimbang. “Apa kau pikir aku bisa membahagiakan Hamun?”

Kyuhyun tersenyum. “Kau tahu kenapa aku mengijinkan Hamun menikah denganmu?” tanya Kyuhyun.

“Hei, yang sepupumu itu aku.”

“Tapi aku sudah menyayangi Hamun seperti adik kandungku sendiri. Kalau aku tak yakin kau bisa membahagiakan Hamun, aku tak akan memberikan restu pada kalian,” kata Kyuhyun.

Siwon tersenyum mendengarnya.

“Aku saja percaya padamu, kau juga harus percaya pada dirimu sendiri, hyung.”

—–

“Hai Kyuhyun sayang, hai Siwon oppa,” sapa Hyejin pada dua pria yang baru saja tiba di rumahnya. Hyejin memeluk mereka dan mencium pipi mereka.

“Hamun bagaimana?” tanya Siwon.

Hyejin tersenyum sambil membantu Kyuhyun melepas dasinya. “Tenang saja, ia baik-baik saja. Seharian ini dia menangis karena rasa takutnya. Ia sedang istirahat di kamar tamu.”

“Kurasa hanya hyung yang bisa membuatnya merasa lebih baik,” ujar Kyuhyun menyarankan.

—–

“Hamun sayang,” panggil Siwon pada gadis yang terbaring di tempat tidur. Mendengar suara itu membuat Hamun dengan segera pura-pura tidur.

“Aku tahu kau tak tidur sayang,” kata Siwon tapi Hamun tetap dia.

“Kalau kau tak bangun, aku akan menciummu,” kata Siwon lembut yang membuat Hamun langsung terbangun.

“Waeyo oppa?” tanya Hamun lembut sambil menyembunyikan wajahnya yang penuh dengan bekas air mata.

Siwon duduk di kasur, tepat di sebelah Hamun. Ia menarik tubuh Hamun agar berhadapan dengannya. Kedua tangan Hamun ia genggam erat. Wajah Hamun ia tengadahkan.

Siwon mengusap air mata Hamun yang mengalir sedikit demi sedikit di pipinya. “Maafkan aku ya, Hamun sayang. Aku tidak peka dan membuat dirimu menderita sendirian karena rasa takut ini. Selama ini aku pikir aku tak akan membuatmu menangis namun ternyata aku salah. Kali ini justru aku yang membuatmu menangis. Maafkan aku, sayang,”

“Tapi, aku percaya, tiap air mata yang mengalir di wajahmu ini akan aku ganti dengan kegembiraan. Aku akan membuatmu bahagia, Hamun.”

Hamun mengusap air matanya. “Aku percaya padamu oppa, tapi aku takut kalau aku tak bisa membahagiakanmu. Aku seperti anak kecil. Cerewet. Tubuhku tidak sexy, wajahku juga tidak secantik Hyejin onnie. Sedangkan kau begitu sempurna. Aku takut kau malu.”

Siwon tertawa kecil sambil mengusap pipi Hamun. “Asal kau tahu, untuk mendapatkanmu aku perlu menunggu 3 tahun. Bersaing dengan pria-pria lain yang mengejarmu tapi tak pernah kau hiraukan. Kalau aku memikirkan hal itu, aku tak mungkin menunggumu selama 3 tahun. Aku tak mungkin berpacaran denganmu selama 4 tahun. Kau juga memiliki banyak penggemar diluar sana.”

“Hamun, I’m not perfect, but only you who make me feel completed. So please, don’t leave me, Hamun. Marry me?”

Hamun tersentuh dengan semua pengakuan Siwon. Ia kini tersadar, ternyata Siwon merasakan ketakutan yang sama sepertinya. Hamun memeluk Siwon erat.

“Mianhe, aku sudah menyangsikan perasaanmu. Jeongmal mianhe Siwon oppa sayang.”

“Hm… Saranghae Hamun.”

“Nado, oppa.”

—-

“Hei calon ayah, sudah, jangan mengintip lagi, biar mereka menyelesaikan masalah mereka berdua,” ujar Hyejin setelah 15 menit mengintip di depan pintu bersama Kyuhyun.

“Hm, sepertinya mereka akan baik-baik saja setelah ini,” kata Kyuhyun bangga.

“Semoga saja. Ngomong-ngomong, Siwon oppa sangat romantis ya, Kyu. Aku sedikit iri pada Hamun. Hamun pasti satu-satunya wanita yang diperlakukan romantis oleh Siwon oppa.”

Hyejin kemudian melirik Kyuhyun. “Tidak sepertimu. Hampir semua pasienmu kau perlakukan dengan romantis. Hiissh.”

Tuk. Kyuhyun mengetuk pelan kening Hyejin dengan keningnya. “Kau menggodaku, sayang? Mau aku buktikan kalau aku jauh lebih romantis dari Siwon hyung? Humm?” Kali ini Kyuhyun merapatkan tubuhnya dengan Hyejin.

Hyejin mendorong tubuh Kyuhyun sejauh tangannya bisa mendorong. “Kyu, aku sedang hamil. Aku tidak kuat bau-mu. Bikin aku mual,” Selama hampir 9 bulan mengandung, Hyejin alergi dengan bau Kyuhyun, meskipun Kyuhyun sudah mandi dan memakai parfum.

Kyuhyun menggaruk-garuk kepalanya dengan frustasi. “Haiiiish!! Yaaa, Cho Kihyun! Cepatlah keluar. Kau tahu betapa tersiksanya appa tidak bisa menyentuh eomma selama ia mengandungmu? Cho Kihyun, kasihanilah appamu ini.” Tawa Hyejin meledak saat itu juga melihat tingkah suaminya.

End.