FF lama yg baru muncul stelah ngobrak ngabrik. Hope you like it…

Main Cast :
– Cho Kyuhyun
– Song Hyejin

“Kyaaaaa!! Minho oppa…. Kembalikan makananku. Aku belum selesai makan, Oppa,” rajuk anak buahku yang paling muda dan satu-satunya perempuan, Song Hyejin. Gadis itu menjinjit-jinjit dengan tangan yang menjulur ke atas berusaha meraih mangkuk yang berada di tangan Minho yang terjulur lebih tinggi darinya.

“Shireo! Merong!” ujar Minho, anak buahku yang lain, sambil terus meninggikan juluran tangannya agar Hyejin tidak dapat meraih mangkuknya. Lidahnya terjulur untuk mengejek Hyejin. Hyejin mulai cemberut, terlihat dari caranya mengerucutkan bibirnya, tapi Minho malah tertawa terbahak-bahak.

“Oooppppaaaa….” Rajukan Hyejin sudah mulai naik tingkat. “Aku mohon kembalikan makananku. Aku masih lapar,” ujarnya nyaris seperti orang yang sudah mau mati karena putus asa. Ia pun juga tidak lagi memaksakan diri untuk meraih mangkuknya. Hyejin duduk di kursinya dan memelas kasihan dari Minho.“Shireo. Beritahu aku dulu siapa yang memberikan ramen ini padamu,” sahut Minho yang sudah menurunkan tangannya dan menunjuk isi dalam mangkuk itu. “Kenapa dia hanya memberikannya padamu?”

Hyejin menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu, Oppa. Pas tadi pagi aku datang, ramen itu sudah ada di mejaku. Aku juga tidak tahu kenapa yang diberikan hanya aku,” ujar Hyejin. Minho menghela nafas panjang lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sudahlah Minho, kembalikan makanan Hyejin. Kalau dia pingsan hanya karena kelaparan, kita yang repot nanti,” ujar Changmin disusul oleh Ryeowook, “Lagian kau juga aneh. Kau tahu Hyejin adalah primadona di kantor kita jadi jangan heran kalau dia mendapatkan kiriman makanan dari secret admirer-nya. Minho…Minho.” Ryeowook menggeleng-gelengkan kepalanya tanda ia heran melihat kelakuan Minho.

Meski kedua anak buahku yang lain, dimana usia mereka lebih tua dibanding Minho, sudah menasihatinya tapi Minho tetap tidak menyerah. Dia tetap memegang mangkuk Hyejin dan berkata, “Kalau secret admirer itu mengirim sesuatu untuk Hyejin, harusnya kita juga dikirimi. Kalau dia menyukai Hyejin berarti dia juga menyukai kita. Kalau dia ingin menarik perhatian Hyejin berarti dia juga harus menarik perhatian kita.”

Kali ini Changmin yang geleng-geleng. “Kalau kau mau ditaksir seorang laki-laki, silahkan berpikir seperti itu,” ujar Changmin saking kesalnya lalu kembali pada sarapannya. Minho terlihat sedang berpikir kemudian ia mengembalikan mangkuk Hyejin kepada pemiliknya. “Ini aku kembalikan. Aku tidak mau ditaksir laki-laki,” ujarnya kemudian.

“Gomawo, Minho oppa sayang,” sahut Hyejin dengan riang lalu kembali menikmati ramennya yang sempat tertunda beberapa menit sedangkan Minho duduk di kursinya dan melahap roti yang sudah disiapkan Hyejin, seperti biasa.

Setiap pagi sebelum jam kerja dimulai, kegiatanku adalah seperti ini : memperhatikan kelakuan anak buahku satu per satu. Minho yang usil, Changmin yang dewasa, Ryeowook yang kalem dan Hyejin yang…. Ah, sampai saat ini aku belum bisa mendeskripsikan gadis itu hanya dalam satu kata. Terlalu banyak kata-kata yang harus aku sebutkan jika harus menjelaskan mengenai dirinya.

Ketika jam makan siang datang, aku keluar dari ruanganku dan bergabung dengan keempat anak buahku. “Ayo kita makan siang,” ujarku yang disambut dengan semangat oleh Minho. “Ayooo, boss!! Aku punya rekomendasi restoran baru yang enak,” sahutnya. Changmin dan Ryeowook pun tidak kalah semangat tapi tidak se-ekspresif Minho.

Kami siap berangkat tetapi Hyejin tetap duduk di kursinya. “Kau tidak ikut, Hyejin-ssi?” tanyaku. Hyejin menggelengkan kepalanya. “Kenapa?” tanyaku. Hyejin menunjuk kepada satu set rantang makanan lima tingkat yang berada di sampingnya. “Seunghyun baru saja mengantarkannya untuk makan siangku tadi,” jawabnya pelan, mungkin dia merasa tidak enak padaku.

Aku lalu duduk di kursi Minho yang berada tepat di sebelah Hyejin. “Kalau gitu kita makan siang di sini saja. Kita suruh OB untuk membelikan makanan,” kataku, yang sebenarnya lebih mengarah ke sebuah perintah.

“Kamsahamnida, Kyuhyun-nim,” ucapnya dengan panggilan khas-nya untukku.

Changmin dan Ryeowook pun segera kembali ke kursinya sedangkan Minho pergi mencari OB untuk membelikan makanan. Hyejin lalu membuka rantangnya. Aku memperhatikan dengan seksama. Pria yang bernama Seunghyun itu rupanya cukup bermodal untuk mendekati Hyejin. Dia memberikan samgyupsal di tingkat pertama, ddokbokki di tingkat kedua, kimchi di tingkat ketiga dan bulgogi di tingkat keempat serta nasi di tingkat terakhir.

“Waaaw, banyak sekali. Aku rasa ini cukup buat kita semua,” ujar Hyejin sambil membagi-bagi makanannya dengan sama rata kecuali untuk dirinya.

“Kenapa kau makan dikit sekali, Hyejin?” tanya Ryeowook.

“Tidak apa-apa. Aku sudah makan banyak sekali sebelum ini,” jawabnya dengan santai.

Minho yang baru kembali dari pencariannya langsung mengambil satu piring bagiannya dan menyuapkan sejumput kimchi ke mulutnya begitu melihat makanan yang sudah disiapkan Hyejin ini dengan rapi. “Siapa tadi yang memberikan ini padamu?” tanya Minho sambil mengunyah kimchi.

“Seunghyun,” jawab Hyejin.

“Seunghyun? Lee Seunghyun? Choi Seunghyun?” tanyanya lagi.

“Lee Seunghyun, bagian audit, lantai 7,” jawab Hyejin dengan lengkap.

“Aaaah, aku suka caranya. Kau dengannya saja,” ujar Minho yang ditanggapi Hyejin hanya dengan senyum. Senyum dingin yang selama ini aku dapatkan jika dirinya terlibat dalam sebuah percakapan mengenai pria dan cinta.

Hari sudah malam dan satu-satunya orang yang masih berada di ruangan ini adalah Hyejin. Semua anak buahku dan anak buah team leader lain sudah pulang. Aku melihat jam di ruanganku menunjukkan pukul 11 malam. Aku keluar dari ruanganku dan menghampirinya. “Kenapa kau belum pulang, Hyejin-ssi?” tanyaku.

“Kerjaanku belum selesai, Kyuhyun-nim,” jawabnya tanpa menoleh sedikit pun kepadaku. Matanya fokus pada layar laptop dan jemarinya asyik bermain di keyboard-nya.

Aku mendekatkan kepalaku dengan layar laptopnya untuk mengetahui apa yang sedang dia kerjakan. “Hyejin-ssi! Astagaaaaaaa!!!!” seruku saking terkejutnya.

“Kenapa, Kyuhyun-nim?” tanyanya bingung atas reaksiku.

“Kerjaan ini deadline-nya masih sebulan lagi! Ngapain kau kerjakan sekarang?! Lebih baik kau gunakan waktumu untuk istirahat,” jawabku.

“Aku harus menyelesaikannya hari ini, Kyuhyun-nim. Tinggal sedikit kok,” sahutnya.

“Tidak, tidak. Kau harus pulang dan istirahat. Sekarang sudah jam 11 malam,” ujarku sambil memaksanya. Aku menarik kursinya menjauh dari mejanya, menyimpan hasil pekerjaannya lalu mematikan laptopnya. “Aku antar kau pulang sekarang.”

Hyejin tidak membalas satu pun perkataanku. Dia hanya menatapku dengan dingin. Dia juga tidak mau mengangkat tubuhnya dari kursi meskipun aku sudah menarik tangannya. “Ayo pulang,” ajakku.
“Jangan memaksaku pulang jika aku sedang tidak ingin pulang, Tuan Cho Kyuhyun,” katanya. Aku mendengar nada bicaranya yang tajam tanda dia serius.

Aku menatapnya dengan heran. “Kenapa?” tanyaku.

“Jangan berpura-pura tidak tahu. Aku tahu kau tahu penyebabnya,” jawabnya.

Aku memperhatikannya dengan seksama, mempelajari setiap mili bentuk wajahnya, menatap ke dalam matanya. Aku berpikir sejenak untuk mencerna perkataannya. Akhirnya kuputuskan untuk melepaskan tangannya dan menyalakan laptopnya seperti semula.

“Kamsahmnida, Kyuhyun-nim,” ucapnya lalu menyeret kursinya kembali mendekat ke depan laptopnya. Detik berikutnya dia sudah fokus lagi dengan kerjaannya.

Aku meletakkan tubuhku di kursi yang terdekat dengan Hyejin. Aku memperhatikan caranya bekerja : terus memaksa dirinya untuk menyelesaikan segala pekerjaan. Meskipun aku tidak suka melihatnya tapi aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku tahu penyebabnya ia menjadi seperti ini.

FLASHBACK

Beberapa tahun lalu saat aku masih menjadi senior Hyejin di kampus, aku sering melewati rumah Hyejin dan mendapatinya duduk di teras sambil menatap jalan di depan rumahnya dengan tatapan kosong. Tidak jarang pula aku mendapatinya sedang terisak dan bercucuran air mata.

“Hyejin-ssi, kau kenapa?” tanyaku pada suatu malam aku mendapatinya duduk di depan rumahnya sambil menangis.

Hyejin mengusap matanya terlebih dahulu sebelum menoleh padaku. “Tidak apa-apa,” jawabnya.

“Kalau begitu, kenapa kau menangis?” tanyaku lagi.

“Aku lelah,” jawabnya singkat.

“Lelah kenapa?” Aku tahu betapa bodohnya diriku yang terus mengikuti rasa penasaranku. Aku terus saja mendesaknya memberitahukan penyebab kesedihannya padahal seharusnya yang benar adalah aku menghiburnya.

Hyejin diam saja. “Braaaaaaak!!!” Yang aku dengar bukanlah jawaban dari Hyejin melainkan suara pintu yang dibanting dengan keras. Lalu aku mendengar suara mobil yang dinyalakan.

“Dasar kau bangsat! Lebih baik kau mati daripada terus menyusahkanku!” maki seorang wanita.

“Diam kau, brengsek! Kalau kau tidak bersedia lagi membiayaiku, aku akan pergi! Jangan mentang-mentang kau….” Aku tidak tahu apalagi yang dikatakan pria itu sebagai balasan kepada wanita yang ternyata baru saja memakinya. Hyejin sudah keburu menarikku dan mengajakku bersembunyi.

Kami bersembunyi di suatu gang yang sempit dan gelap. Aku berdiri paling dekat dengan jalan sedangkan Hyejin berdiri merapat di sampingku. Aku merasakan tubuhnya yang bergetar hebat dan isakannya yang semakin tidak teratur. Tangisannya pecah membabi-buta. Hyejin tidak bisa mengontrolnya sehingga pernafasannya tidak teratur. Dia seperti orang sesak nafas yang akan segera mati. Aku memandangnya sebentar lalu memeluknya. Tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali memberinya ketenangan walau hanya sementara.

Sejak saat itu, aku sengaja melewati rumah Hyejin setiap hari hanya untuk melihat keadaannya. Aku tahu tidak ada perubahan dalam kehidupan gadis itu tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak bisa ikut campur dalam urusan rumah tangga orang.

Aku melihat jam tanganku menunjukkan pukul setengah 12 lewat. “Apa Hyejin sudah selesai?” tanyaku dalam hati. Aku melihat ke arah mejanya. Laptopnya sudah mati dan tertutup dengan rapi, tasnya juga tergeletak tegak di atas meja. Tetapi yang memiliki semua benda itu tidak ada. “Apa dia sudah pulang?” pikirku. Tidak, tas dan sepatunya masih di sini. Blazernya juga masih tergantung rapi di senderan kursi. “Kemana dia?”

Tiba-tiba aku melihat secangkir kopi disodorkan ke hadapanku. “Selamat siang, Kyuhyun-nim,” sapanya dengan ceria dan penuh semangat. Aku bingung dengan ucapannya. “Selamat siang?” tanyaku dalam hati. Aku melihat lagi ke jam tanganku. Memperhatikannya dengan seksama. Jam 12 kurang. Hari Sabtu. Tanggal 19 September. Astaga!!! Ternyata semalam aku ketiduran.

“Bagaimana tidurmu? Nyenyak-kah?” tanya Hyejin sambil menyeruput kopi miliknya.

Aku menganggukkan kepalaku pelan-pelan sambil menikmati kopi yang diberikannya padaku. “Gomawo Hyejin-ssi,” ucapku.
“Cheonmaneyo, Kyuhyun-nim,” balasnya sambil tersenyum. Aku membalas senyumannya sambil memperhatikan wajahnya yang tampak kelelahan.

“Apa semalam kau jadi pulang?” tanyaku.

Dengan santai Hyejin menggelengkan kepalanya yang membuatku nyaris marah padanya. “Tidak mungkin aku meninggalkan dirimu sendirian di kantor, Kyuhyun-nim,” katanya.

Aku hanya menghela nafas panjang menahan kekesalanku padanya. Aku meletakkan cangkir kopiku lalu mengambil laptop dan tas Hyejin kedalam genggamanku. “Ayo kita pulang,” kataku tanpa toleransi. Aku menarik Hyejin keluar dari kantor.

“Aku tidak mau pulang! Jangan paksa aku!!!!” teriak Hyejin sambil menarik tangannya dari genggamanku. Dia berusaha lari dariku. Tapi aku ternyata cukup kuat. Aku berhasil memasukkannya ke dalam mobilku dan membawanya ke apartemenku.

Hyejin keluar dari kamar mandi dengan wajah yang jauh lebih segar. “Sudah merasa lebih segar?” tanyaku basa-basi.

“Ne! Kamsahamnida, Kyuhyun-nim,” sahutnya dengan manis.

Aku tersenyum melihatnya. “Duduk sini,” perintahku sambil menepuk sofa yang berada di sebelahku. Hyejin pun duduk di sebelahku. “Ada yang ingin aku tanyakan padamu,” ujarku setelah Hyejin duduk.

“Apa?” tanyanya.

“Apa orang tuamu masih sering bertengkar?” tanyaku kemudian tanpa ragu. Aku tidak kuat menahan rasa ingin tahu ku dan menyelamatkan Hyejin dari kesedihannya.

Senyum di wajah Hyejin menghilang. Tampangnya sudah berubah menjadi sangat kaku dan dingin. “Untuk apa kau bertanya?”

“Apa setiap hari kau pulang?” tanyaku lagi tanpa peduli dengan pertanyaanya yang tidak menjawabku.

“Aku tanya, untuk apa kau bertanya?” balasnya.

“Dimana kau tinggal sekarang? Apa orang tuamu tidak mencarimu?” tanyaku lebih sedikit memaksa.

Hyejin terdiam. Dia mulai menangis. Aku memeluknya dengan erat. “Ceritakan semuanya padaku. Aku ingin menyelamatkanmu, Hyejin-ssi,” ujarku yang membuat Hyejin semakin histeris sambil menceritakan segalanya padaku.

Kini aku tahu bahwa kedua orang tuanya semakin parah saja. Tidak ada hari tanpa bertengkar yang selalu berakibat pada Hyejin. Setiap mereka bertengkar, Hyejin tidak pernah luput dari caci maki mereka. Apapun yang Hyejin lakukan selalu salah dan menimbulkan perang di rumah itu. Sampai dua minggu yang lalu, Hyejin tidak tahan lagi dan berbohong bahwa dia ada dinas ke luar kota selama 2 minggu. Selama itu, Hyejin tidur di sebuah penginapan murah yang biasa disewa orang kalau mereka ingin ‘bermain’ dengan lawan jenis mereka.

Aku pun membuat keputusan bahwa aku harus menyelamatkan gadis ini.

“Apa yang kita lakukan di sini?” tanya Hyejin begitu aku memarkirkan mobilku di depan rumahnya.

“Hari ini tepat 2 minggu kau ‘dinas’, Hyejin. Kau harus pulang,” jawabku. Aku membuka pintu mobilku dan mengajaknya turun. Aku menggandeng tangannya yang dingin sambil berjalan menuju ke dalam rumah. “Tenang, aku akan menyelamatkanmu,” ujarku.

Hyejin masuk ke dalam rumah sambil berseru pelan, “Aku pulang!”

Seorang wanita yang aku kenali sebagai ibunya Hyejin datang menyambut anaknya lalu memeluknya. “Kau sudah pulang, Nak. Bagaimana dinasmu? Lancar?” tanyanya penuh dengan perhatian. Hyejin hanya mengangguk. Wanita itu lalu menoleh kepadaku. “Kau siapa?” tanyanya.

Dengan penuh percaya diri aku menjawab, “Aku Cho Kyuhyun, calon suami Hyejin, nyonya.” Aku melirik Hyejin yang membelalak tajam padaku. Aku tidak peduli. Aku sudah menyusun rencana ini matang-matang hanya untuk mengeluarkan dia dari kesusahannya.

“Aigoooo. Anakku hebat sekali. Pergi 2 minggu, pulang-pulang bawa calon menantu untukku. Aigooo!!” ucapnya sambil tertawa-tawa. “Kalian duduk dulu ya. Aku panggilkan suamiku dulu. Hyejin, buatkan minum untuk Kyuhyun.” Ibu Hyejin lalu kembali masuk ke dalam untuk memanggil suaminya.

Aku mengalihkan mataku kepada Hyejin yang sedang marah. “Kau gila! Pacaran saja aku tidak mau apalagi menikah! Ini namanya kau menarikku dari neraka lalu menjatuhkan aku ke neraka yang lain!” protesnya walaupun dengan suara kecil tapi aku paham keseriusannya.

“Ikuti saja rencanaku. Ayah-ibumu akan datang sebentar lagi, cepat buatkan minum untukku!” balasku.

Kedua orang tua Hyejin memang sedang melangkah masuk ke ruang tamu sehingga Hyejin tidak bisa berkelit lagi. Dia segera ke dapur untuk membuatkan minuman untuk kami semua. Kedua orang tua Hyejin berdiri di hadapanku. Aku segera berdiri dan membungkukkan badanku untuk menyambut mereka. “Perkenalkan, nama saya Cho Kyuhyun,” kataku.

Kedua orang tua Hyejin lalu duduk di hadapanku. Ibunya tetap menebar senyum tetapi ayah Hyejin tetap menekuk wajahnya dengan garang. “Ada perlu apa kau ke rumahku?” tanyanya dengan galak.

“Saya ingin melamar anak anda, tuan Song. Saya ingin menikahinya,” jawabku semantap mungkin walaupun sebenarnya aku agak takut menghadapinya. Begitu juga dengan Hyejin, yang baru saja datang dengan senampan minuman. Dia meletakkan gelas-gelas itu dengan takut-takut.

Tiba-tiba, “Praaaaang!!!!” Satu buah gelas tersebut dilemparkan ayah Hyejin ke arah kami, aku dan Hyejin. Aku terperanjat. Hyejin bergetar, matanya sudah mulai berair. “Dasar kau anak brengsek! Tidak tahu diuntung! Belum menghasilkan apa-apa sudah berani menikah! Apa yang sudah kau berikan untuk keluarga ini?!” bentak ayah Hyejin kepada anak perempuannya itu.

Hyejin tidak membalas. Kepalanya tertunduk lesu. Aku melihat air mata yang sudah mengalir dari matanya. Aku sungguh sakit melihatnya. Tanpa aku sadari, tanganku sudah menyelip di sela-sela jemarinya dengan erat. Bertahanlah, Hyejin. Bertahanlah sebentar lagi.

“Kau sama saja dengan ibumu!” bentak ayah Hyejin lagi yang langsung menyulut emosi ibu Hyejin. “Kenapa kau juga membawa-bawa aku?!” sahut ibu Hyejin.

“Kau tidak becus mengurus anak. Tidak pernah di rumah, tahu-tahu membawa laki-laki yang akan menikahinya! Jangan-jangan dia sudah hamil makanya mau cepat-cepat menikah!” balas ayah Hyejin.

“Jaga mulutmu, keparat! Jangan bicara sembarangan tentang anakmu sendiri!”

“Kau yang harus menjaga mulutmu! Terlalu sering kata-kata kotor keluar dari sana! Saya tidak bicara sembarangan. Kalau tidak begitu, kenapa tiba-tiba seperti ini?!”

Aku terus mendengar caci maki antara mereka berdua yang semakin tajam dan tak beraturan sedangkan gadis yang berdiri di sebelahku semakin bergetar hebat menahan emosinya. “HENTIKAN! CUKUP! AKU TIDAK TAHAN LAGI!” teriak Hyejin dengan kencang, tidak, Hyejin sudah histeris.

“Terserah kalian mau bilang apa, aku tidak peduli. Aku tetap akan menikah. Aku akan tinggal bersama suamiku dan meninggalkan kalian berdua di sini agar kalian puas bertengkar. Aku juga tidak peduli jika suatu saat kalian bertengkar dan saling membunuh. AKU KELUAR DARI RUMAH INI!”

Hyejin lalu menarikku keluar dari rumahnya dan menyuruhku melajukan mobil dengan cepat. Aku yang masih kaget melihat pertengkaran keluarga yang sangat hebat tadi, dengan bingung menyalakan mobilku dan mengemudikannya entah kemana karena tangan Hyejin yang juga berada di atas kemudi.

“BRAAAAK!!!!” adalah suara terakhir yang aku dengar di kekelaman malam ini. Hal terakhir aku lihat adalah Hyejin yang terkulai lemas di kursinya. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Malam ini terlalu gelap. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Apa yang terjadi?

Aku membuka mataku dan mengerjap-ngerjapkannya untuk membiasakannya terkena sinar matahari yang masuk melalui celah-celah tirai jendela kamarku. Aku lalu bergerak-gerak sedikit untuk merengganggkan otot-otot di tubuhku yang sakit sekali seperti remuk di seluruh bagiannya. Saat itu aku baru sadar ada tangan yang memeluk pinggangku. Refleks, aku menoleh ke belakangku.

Aku melihat seorang gadis sedang tertidur dengan nyenyak dengan baju tidur yang sangat menawan dan rambut yang terurai indah di belakangnya. Aku memperhatikannya dari atas sampai bawah. “Hyejin-ssi?” ucapku begitu sadar siapa gadis itu. Dia terlihat jauh lebih cantik dari Hyejin yang biasa aku lihat.

“Apa kau bilang?” tanyanya dengan nada marah lalu membuka matanya. “Kau harus belajar memanggilku SAYANG. Hyejinku sayang, istriku sayang.”

Aku memandangnya dengan heran. “Sayang? Istri? Kenapa aku harus memanggilmu seperti itu?” tanyaku.

Hyejin balas menatapku dengan cemberut lalu bangkit dari posisi berbaringnya dan berpindah duduk di atas perutku. “Kau ini sangat menyebalkan, Cho Kyuhyun. Kau baru saja menikahiku kemarin masa langsung lupa? Hmm?” ujarnya dengan cara yang sangat menggoda sambil memamerkan cincin di jari manisnya. Aku lalu memeriksa jari manisku, terpasang cincin yang sama.

Hyejin lalu mencium bibirku dengan lembut, mengulum bagian atas dan bawah bibirku bergantian. “Ayo bangun, kau harus bersiap pergi ke kantor. Aku akan menyiapkan sarapanmu,” katanya lalu turun dari tubuhku dan keluar dari kamar.

Aku memandangnya tanpa berkedip. Aku masih tidak percaya bahwa kami sepasang suami istri. Aku turun dari tempat tidurku dan berkeliling memandang seluruh sisi di kamar ini. Di meja rias, ada seluruh produk perawatan wajah dan tubuh milik Hyejin dan milikku. Di kamar mandi, ada peralatan mandi milik Hyejin dan milikku. Di dalam lemari, ada pakaian milik Hyejin dan milikku. Aku lalu melihat ke dinding kamarku, terpajang foto pernikahan kami. Kami memang benar-benar suami-istri tapi kapan aku menikahinya? Kenapa aku tidak ingat?

“ Yeobooo!! Sarapanmu sudah siap, ayo keluar,” panggil Hyejin.

Aku segera mengeratkan simpul dasiku lalu keluar dari kamar menuju ruang makan. “Aigoo, suamiku tampan sekali,” pujinya sambil tersenyum bangga melihatku. Aku pun jadi merasa tersanjung karenanya.

“Kamsahmnida, jagiya,” sahutku lalu memeluknya dari belakang. Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya dan meletakkan kepalaku di bahunya. Tubuhnya aku tarik erat ke dalam pelukanku. Hyejin hanya terkekeh kesenangan mendapatkan pelukan dariku yang entah mengapa aku merasa sangat nyaman melakukannya.

“Jangan ketawa aja. Ayo suapin aku. Kalau gak, aku cium ya,” ujarku dengan manja lalu mencium bahunya.

Hyejin terkekeh lagi. “Dasar manja,” sahutnya lalu menyuapiku sepotong sandwich.

“Gomawo,” ucapku setelah habis menelan sandwich yang dia berikan padaku. Aku lalu teringat bahwa Hyejin bukanlah pengangguran. Dia bahkan satu kantor denganku. “Sayang, kenapa kau belum mandi? Bukannya kamu harus ke kantor?” tanyaku.

Dia menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas panjang. “Kau ini kenapa sih, Kyuhyun-nim? Aku kan harus keluar dari kantor karena menikah denganmu. Kantor kita tidak memperbolehkan sepasang suami-istri bekerja dalam satu perusahaan. Ingat? Sekarang, aku belum dapat pekerjaan baru,” jawabnya.

“Oh iya,” sahutku sambil mengangguk-anggukkan kepalaku di bahunya. Aku tidak ingat kapan Hyejin minta ijin keluar dari kantor tapi aku tidak mau mempermasalahkannya. Anggap saja aku sedang menderita amnesia.

Aku lalu melepaskan pelukanku dan mengecup kening Hyejin. “Aku pergi dulu ya. Sampai jumpa nanti malam,” ujarku. Hyejin menganggukkan kepala tanda ia mengerti. Aku pun berangkat ke kantor penuh dengan semangat meskipun sesampainya di sana aku tidak ingat bahwa aku memiliki rekan-rekan kerja seperti mereka yang kutemui di kantor sekarang. Aku juga tidak ingat apa aku telah pindah kantor?

Aku segera pulang begitu pekerjaanku selesai. Aku ingin segera bertemu dengan Hyejin. “Sayang, aku pulang telat ya. Kamu tidur aja duluan,” kataku melalui telepon saat sedang membeli sesuatu untuk Hyejin. Hyejin terdengar sangat kecewa tapi itu memang tujuanku. Aku berbohong untuk memberikan kejutan untuknya.

Sesampainya di apartemen, aku mengendap-endap masuk ke dalam kamar. Aku melihat Hyejin sudah tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya sampai ke leher. Aku melepas sepatuku dan naik ke tempat tidur. Menyusup ke dalam selimutnya dan memeluknya. Aku mencium bibirnya untuk membangunkannya. “Sayang, aku sudah pulang,” ujarku lalu menciumnya lagi.

“Euuh?” lenguhnya yang membuatku semakin tidak terkontrol. Aku mulai mencium lehernya. “Hyejin sayang,” panggilku lagi tapi Hyejin hanya menyahutnya dengan lenguhan, “Euuh.” Aku kesal dan mulai melakukan caraku untuk membangunkannya. Barulah aku merasakan reaksi dari Hyejin.

Hyejin menggeliat, menegadahkan kepalanya sehingga lehernya terlihat lebih jelas. Aku memandang matanya yang sedang menatapku dan senyumnya yang seperti menahan tawa. “Kau pura-pura tidur ya? Humm?” tanyaku dengan lembut. Hyejin hanya tertawa, menggemaskan sekali. “Dasar nakal. Kau harus diberi pelajaran!” ujarku lagi. Hyejin tersenyum lalu menciumku.

Tanpa basa-basi aku memberikannya pelajaran seperti yang sudah aku bilang. Aku mendorongnya sehingga ia berbaring di bawahku. Dia terus menciumku dan aku mulai melucuti apapun yang dia kenakan sampai tubuh polosnya bisa aku nikmati dengan mata telanjang. “Pelajaran akan segera dimulai. Bersiaplah,” kataku. Hyejin lagi-lagi tersenyum lalu menciumku sangat dalam. Aku bukan tipe orang yang cukup sabar untuk menjadikan orang yang aku cintai benar-benar menjadi milikku seutuhnya. Hyejin milikku sekarang.

Aku tersenyum melihat wajah wanita yang aku miliki ini. Aku lalu mencium bibirnya. Asin. Aku melepaskannya dan kembali memandangnya. Hyejin sedang menangis. “Kenapa menangis? Apa aku menyakitimu?” tanyaku cemas.

Hyejin menggelengkan kepalanya tapi ia terus menangis. “Lalu kau kenapa?” tanyaku lagi.

“Ini mungkin terakhir kalinya kita bersama,” jawab Hyejin yang membuatku semakin tidak mengerti.

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Lihat tubuhmu. Kau semakin memudar. Itu artinya kau akan segera meninggalkanku dan kembali ke duniamu,” jawab Hyejin.

“Tidak. Ini duniaku. Aku punya pekerjaan, rumah, kamu, dan lain-lain. Ini duniaku,” sahutku mulai frustasi karena ketidak pahaman ini.

Hyejin menghela nafasnya. “Ini duniamu di saat kamu koma, sayang. Kamu ingat malam aku menabrakkan mobilmu ke sebuah pohon saat kita baru keluar dari rumahku?” tanyanya.

Aku terdiam dan serangkaian kenangan muncul di pikiranku. Kecelakaan itu. Hyejin yang terkulai lemas di dalam mobilku. Rumah Hyejin. Kedua orang tua Hyejin yang bertengkar hebat. Keinginanku untuk menikahi Hyejin hanya untuk mengeluarkannya dari rumahnya. Hyejin yang bergetar dalam genggaman tanganku. Aku ingat semuanya.

“Apa kita mati karenanya?” tanyaku saat mulai mengerti segalanya.

Hyejin mengusap wajahku dengan lembut. “Tidak. Kau semakin memudar. Itu artinya kau sudah sadar dari koma-mu. Kau akan hidup, Kyuhyun-nim. Berbahagialah,” jawabnya. Aku tahu Hyejin tidak berkata sesuai isi hatinya. Bibirnya bergetar. Air matanya terus mengalir.

“Lalu apa yang telah kita lakukan hanya bohong belaka? Tidak benar-benar terjadi?”

“Semuanya benar-benar terjadi hanya saja tidak nyata. Arwah kita pada saat koma yang melakukannya.”

“Lalu apa kau akan menyusulku?”

“Entah.”

Aku mau bertanya satu hal lagi padanya tapi Hyejin sudah keburu membungkamku. “Sudah, jangan banyak bertanya. Kembalilah dengan tenang. Keluargamu sudah menantimu,” katanya.

Aku melihat tubuhku yang sekarang sudah sangat tembus pandang. Aku tidak mengerti dan tidak peduli. Aku mencium Hyejin dan berkata, “Aku mencintaimu. Sangat.”

“Aku tahu,” sahut Hyejin sambil tersenyum pahit.

Aku kembali menciumnya sampai aku merasa kegelapan kembali menjemputku. Untuk pertama kalinya, aku ingin tetap ingin berada di antara hidup dan mati. Aku ingin tetap bersama Hyejin meskipun dalam dunia kematian sekalipun.

Aku membuka mataku dan melihat kedua orang tuaku dan kakak perempuanku berdiri mengelilingi aku. “Terima kasih Tuhan. Kau akhirnya sadar, Nak,” ujar ibuku sambil memelukku. Aku berusaha membalas pelukan ibuku tapi tanganku tidak cukup kuat. Akhirnya aku hanya bisa berucap, “Eomma.” Begitu juga terhadap ayah dan kakakku.

Seorang suster lalu masuk dan bicara kepada ayahku, “Tuan, apa anak anda boleh dipindahkan ke ruang regular?”

“Jika memang ia sudah boleh dipindahkan, tidak apa,” jawab ayahku.

“Baik, kami akan segera menyiapkannya,” sahut si suster.

Aku lalu memanggilnya, “Suster.”

“Ya? Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.

“Apa nona yang kecelakaan bersamaku sudah sadar?” tanyaku.

Raut wajah suster tersebut berubah menjadi sedih. “Keadaannya semakin memburuk. Sebulan ini dia masih koma tapi mulai tiga hari belakangan dia semakin mendekati…”

“Mendekati apa, suster?” tanyaku.

Suster itu menjawab dengan pelan, “Kematian. Dia nyaris tidak tertolong waktu dibawa ke RS ini tapi keajaiban membuatnya tetap hidup sampai saat ini.”

Entah aku mendapat kekuatan darimana. Aku bangkit dari tempat tidurku. “Tunjukkan dimana ruangan nona itu,” perintahku.

“Tapi anda masih….”

“SEKARANG!” potongku dengan emosi. Ya, aku harus melihatnya sekarang juga. Hyejin masih bisa diselamatkan. Hyejin tidak boleh pergi begitu saja.

Suster akhirnya mengantarkan aku ke ruangan Hyejin. Aku melihatnya terbaring lemas dengan berbagai selang dan tabung oksigen yang membantunya agar tetap hidup. Aku melihat ke arah grafik denyut jantungnya. Nyaris garis lurus. Aku mendekati Hyejin lalu mencium keningnya.

“Hyejin, bangunlah. Hiduplah bersamaku. Aku mohon, Hyejin-ssi. Bangunlah,” bisikku pelan-pelan ke telinganya. “Hyejin, hiduplah bersamaku. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Hyejin-ssi,” ucapku lagi meskipun grafik yang merefleksikan denyut jantungnya masih nyaris garis lurus.

Aku memandang wajahnya. Tidak ada senyum yang selalu dia sunggingkan kepadaku tiap hari. Tidak ada pipi yang dia kembungkan kalau sedang lelah. Tidak ada kening yang berkerut kalau dia bingung. Tidak ada bibir yang mengerucut kalau dia sedang kesal. Wajahnya benar-benar kaku. Membuatku menangis untuk pertama kalinya untuk wanita yang aku sendiri pun tidak mengerti bagaimana hubungannya denganku.

Meskipun Hyejin masih koma tapi aku yakin dia akan hidup. Dia tidak akan mati dan meninggalkanku selamanya. Jadi aku tidak masalah harus menjenguknya tiap hari meskipun itu harus kujalani berminggu-minggu.

“Hyejin-ssi. Sayang, bangun. Aku membawakan ramen pedas kesukaanmu,” kataku saat aku menjenguknya di minggu ketiga semenjak aku sadar. Aku menaruh ramen itu di pinggir tempat tidurnya lalu mencium keningnya. Kemudian, aku memperhatikan grafik denyut jantungnya. “Kau semakin membaik sayang. Ada kenaikan 3 denyut per menit.”

“Sayang, apa kabar? Kau tahu Minho terus menangis karena merindukanmu? Dia ingin kau kembali, sayang. Bangunlah,” ujarku di pertengahan minggu keempat.

Di awal minggu kelima aku memohon kepada suster untuk membawa satu orang saja untuk masuk ke dalam ruang ICU Hyejin. “Suster, aku mohon ijinkan Pendeta ini masuk. Dia hanya akan memberkati pernikahanku sebentar lalu keluar,” pintaku dengan memohon-mohon. Si suster yang rupanya sudah merasa kasihan padaku akhirnya mengijinkanku masuk bersama sang Pendeta.

“Sayang, kau lihat siapa yang kubawa? Aku membawa Pendeta untuk memberkati pernikahan kita,” kataku. “Aku juga sudah membeli cincin yang sangat bagus. Menikah denganku ya?” Aku menyematkan cincin di jari manis Hyejin yang polos dan di jari manisku setelah Pendeta mempersilahkannya. Aku lalu menggenggam tangannya dan mencium keningnya. “Istriku sayang. Bangunlah,” ucapku.

Tanpa aku sangka, aku merasakan sebuah gerakan di tanganku. “Hyejin sayang, kau sudah sadar?” tanyaku bersemangat sekaligus senang. Aku melihat ke layar grafik denyut jantungnya, sudah bergerak dinamis. “Sayang, ayo bangun. Hidup bersamaku,” ujarku lagi.

Tangan Hyejin yang berada di genggamanku mulai bergerak-gerak. Matanya mulai membuka sedikit-sedikit. “Suster!!! Istriku sudah sadar! Cepat kemari!” panggilku dengan histeris saking senangnya. Aku menggenggam tangan Hyejin semakin erat. “Aku tahu kau pasti mau hidup bersamaku.”

Aku melihat Hyejin menyunggingkan senyum kecil sekuat tenaganya. “Babo! Kenapa kau baru menikahi-ku sekarang?!” omelnya perlahan. Meskipun ucapannya tidak jelas tapi aku menangkapnya. Aku hanya tertawa lalu mengelus-elus puncak kepalanya.

Setengah tahun kemudian….

“Kyuhyun-niiiiiiimm, banguuuuuun!!!” seru Hyejin sambil menarik-narik selimut yang aku pakai. Aku hanya membalik badan lalu menarik bantal untuk menutupi kepalaku. “Kyuhyun-nim!” seru Hyejin lagi lalu mengambil bantalku. Aku terpaksa membuka mataku dan melihat wajahnya yang sedang cemberut kepadaku. “Susah banget sih dibanguninnya,” gerutunya kesal. Aku tersenyum. Aku suka sekali kalau dia sedang ngambek seperti ini.

Aku duduk di tempat tidurku dan menyuruh Hyejin duduk di pinggirnya sambil menghadapku. Aku meraih pinggangnya dan mendekatkan wajahku dengan wajahnya. “Kau cantik kalau sedang ngambek,” ucapku lalu mengecup bibirnya.

“Kyuhyun-niiiim,” serunya malu-malu sambil mendorong tubuhku. “Kau harus segera siap-siap ke kantor.”

Aku mengerutkan keningku lalu mengerucutkan bibirku. “Tidak ah. Aku mau tidur lagi saja,” ujarku lalu kembali tidur.
Hyejin lalu menarik tanganku agar aku bangun. “Kyuhyun-nim, ayo bangun.”

“Panggil aku sayang baru aku akan bangun,” kataku dengan mata terpejam.

Aku lalu merasa bibir Hyejin menyentuh bibirku. “Sayang, ayo bangun,” ucapnya dengan lembut membuatku benar-benar bangun. Aku meraih tubuh Hyejin ke dalam pelukanku lalu menggulingkannya sehingga berada di bawahku.

“Kau benar-benar telah membangunkan aku,” ujarku lalu menciuminya. Hyejin terkekeh-kekeh sambil melingkarkan tangannya ke leherku. Aku menarik selimut sampai menutupi kami berdua.

“Kyuhyun-nim sayang,” bisik Hyejin dengan lembut tepat di telingaku.

“Hum?” sahutku.

“Saranghaeyo,” bisiknya lagi. “Neomu.”

Aku tersenyum memandangnya di bawah selimut. “Ne. Aku tahu.”

.E.N.D.

xoxo @gyumontic