Secret Boy School

Annyeong!! Author Rye is back >//<

Membawa FF request-an dari Christy.

Happy reading!

Main cast:

  1. Lee Sooyeon -christy
  2. Chunji (Teen Top)

Another cast:

  1. L. Joe (Teen Top)
  2. Joongki (K-actor)
  3. Gikwang (Beast)
  4. Seungho (Mblaq)
  5. Lee Yeonhee – Lee Hyukjae ><

Genre: Romantic-Comedy

PG: General

Secret Boy School START!

“Sudah lihat murid pindahan itu? Mukanya telalu cantik!”

“Adiknya L. Joe? Mungkin operasian.”

“Jadi muka L.Joe operasian juga? mukanya mirip, walau adiknya lebih manis.”

“Tetap saja sebagai cowok muka begitu mana laku!”

Sepertinya zaman sekarang bukan hanya anak perempuan yang suka bergosip.

“Namanya juga seperti perempuan!”

“Memang siapa namanya?”

Seorang pria yang sedang membaca kehilangan konsentrasinya karena kedua teman sekelasnya itu terus mengoceh. Ia segera berdiri dan pergi dari tempat itu. Sambil terus membaca ia berjalan masuk ke perpustakaan.

“Maaf! Maaf! Permisi!” suara itu diiringi derap langkah yang cepat.

Belum sempat pria itu menyingkir orang itu menabrak lengan kanannya.

1…2…3… selama tiga detik mereka bertatapan. Tepat hanya 3 detik sebelum orang dihadapannya tersenyum, meminta maaf dan kembali berlari.

Tanpa disadari buku yang ada di tangan kirinya terlepas jatuh ke lantai, dengann tangan kanannya di dada merasakan detak jantungnya berdetak 3 kali lebih cepat. Matanya terus melekat pada punggung orang yang berlari itu.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya, “Chunji-ya! Kenapa bengong?”

Pria yang dipanggil Chunji itu membalik badannya. “Ah L.Joe hyungnim!” panggilnya.

L.Joe tersenyum lalu berjalan sehingga berada di depan Chunji. “Aku harus mengejar adikku dulu. Nah annyeong!”

“AH! Hyungnim! Dia…”

Belom sempat menyelesaikan kata-katanya L.Joe tersenyum makin lebar lalu mengedipkan sebelah matanya. “sampai ketemu nanti.” Lalu L.Joe berlari lagi.

Chunji terbengong sesaat lalu menggleng-gelengkan kepalanya. “Ini sekolah cowok, I must be dreaming.” ucapnya pada diri sendiri lalu mengambil bukunya yang terjatuh.

:::

Chunji membuka pintu asramanya, ia merasa aneh, ia yakin sebelum pergi ia sudah mematikan lampunya tapi kini lampunya menyala. Saat ia melepas sepatu dan ingin menaruh di rak ia melihat sepatu kets yang jelas-jelas bukan miliknya.

Keanehan terus bertambah karena mendadak kamarnya yang berantakan menjadi super rapi dan tertata dengan baik. Banyak barang baru yang bukan miliknya. Ranjang disebelah ranjangnya kini ada boneka kelinci putih yang entah dari mana datangnya.

Chunji langsung berlari ke kulkas kecil untuk mengambil minum tapi kini ia tambah kaget sebab kulkas itu kini penuh dengan buah-buahan. Ia langsung meminum air putih sebanyak-banyaknya. Tanpa sadar kegugupannya membuat ia ingin ke toilet. Ia segera berlari ke toilet dan membuka pintu tanpa peringatan apapun.

Didepannya terdapat pemandangan yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya. 1..2.. 3… detik tepat sebelum ia menutup pintu itu rapat-rapat kembali. Pintu kamar mandinya memang rusak tapi karena ia hanya sendirian tak pernah jadi masalah tapi kali ini.. masalah besar! Chunji segera terduduk di depan pintu, mukanya merah padam.

Ia merunduk dan mengingat apa yang baru dilihatnya. Walau rambutnya pendek Chunji tak bodoh, tubuh itu tubuh perempuan. Siapapun itu… gadis itu sedang melilitkan perban di daerah dadanya, hanya 3 detik tapi Chunji yakin ia tak salah lihat. Untungnya siapapun gadis didalam kamar itu tak menyadari kehadirannya karena musik keras berputar dari Handphonenya bersamaan dengan terbukanya pintu kamar mandi.

Chunji menggigit kuku jari jempolnya dengan posisi tangan memeluk kakinya. Kalau ada background music yang tepat mungkin lagu B1A4 –What’s Happening harus diputar!

Pintu kamar mandi terbuka dan keseimbangan Chunji yang duduk didepan pintupun hilang dan terjatuh kebelakang. Kepalanya membentur lantai kamar mandi cukup keras

“Aaau!!!” rintih chunji.

“Omona!” pekikan si pembuka pintupun terdengar. Ia langsung berjongkok dan mengibaskan tangannya didepan muka Chunji berkali-kali. “otteokhee?”

Beberapa saat kemudian kesadaran chunji kembali, ia membuka matanya perlahan dan melihat seseorang dihadapannya tersenyum sangat amat manis. Ia rasa ia bermipi sampai orang didepanya kembali mengibaskan tangannya.

“kau baik-baik saja?” tanyanya.

Refleks Chunji langsung terbangun dan kembali mengingat apa saja yang dialaminya hari ini. Matanya membesar dan menatap lekat-lekat orang didepannya.

Orang didepannya mengelurkan tangannya . “namaku Lee Sooyeon, adik L.Joe. mulai hari ini kita jadi teman sekamar.”

Chunji tetap memperhatikan orang dihadapannya ini. Wajahnya memang sangat mirip L.Joe hyungnim tapi kulitnya tampak lebih lembut, senyumannnya lebih manis, bulu matanya lebih panjang, jarinya bahkan sangat lentik. Ia tak mungkin lupa dan tak mungkin tak tahu jika yang ada dihadapannya saat ini adalah seorang perempuan.

:::

“Siapa namamu?”

Chunji menoleh dan melihat Sooyeon diatas ranjang sambil merapikan barang-barangnya. “Chunji.” Jawabnya dengan canggung.

“Chunji. Nama yang bagus.” Ucap Sooyeon dengan tenang setelah membereskan peralatannya.

“Mm.. kau sendiri kenapa namamu seperti perempuan?” pancing Chunji, ia hanya penasaran kenapa gadis ini sampai ada di skamar asrama KHUSUS PRIA.

Sooyeon terdiam sebentar lalu memaksakan senyumannya. “Kau tahu aku tiga bersaudara? Appaku sangat ingin punya anak perempuan, semua kakakku laki-laki jadi mereka berharap aku perempuan tapi bagaimana aku lahir jadi laki-laki juga dan saat itu nama yang disiapkan hanya Lee Sooyeon. Kira kira begitulah.” Sooyeon mengafal alasan ini berulang kali, jadi dia menjelaskan dengan amat sangat lancar.

“ooh..” balas Chunji singkat, ia naik keatas ranjangnya dan mencoba untuk tidur tapi begitu ia membaringkan badannya ke kanan ia malah berhadapan dengan ranjang Sooyeon, ia segera membalik badannya.

“kau sudah mau tidur? harus ku matikan lampunya sekarang?” Tanya Sooyeon

“Jangan!” tanpa sadar ia hampir berteriak. “maksudku tidak usah.” Ucapnya lebih pelan.

“Ah.. okay..” Sooyeon pun sudah berada di posisi tidurnya, ia mulai merasa tidak nyaman. Ia terus berguling ke kanan dan ke kiri. Ia tidak bisa tidur walau sudah memeluk boneka kelincinya, memang ada yang kurang.

Waktu berjalan sangat lambat keduanya saling membelakangi tapi sama-sama tidak bisa tidur. 30 menit berlalu , 1 jam berlalu dan sekarang hamper 2 jam berlalu dan jam menunjukkan pukul 00:00.

“ngg…”  ucap mereka bersamaan, canggung sesaat lalu mereka sama-sama tertawa pelan.

“kau duluan.” Ucap Chunji.

“Aku tidak bisa tidur kalau lampunya tidak mati dan biasa L.Joe opp.. L.joe hyung juga selalu bercerita sesuatu yang lucu sebelum aku tidur.”

Chunji tak habis pikir, bagaimanapun kalau Sooyeon benar-benar ingin menyamar menjadi laki-laki bukankah sangat aneh jika ia mengatakan hal seperti ini. Entah kenapa perasaan Chunji malah jadi campur aduk. “Aku tidak bisa tidur kalau lampunya mati, dan juga aku tak bisa bercerita, apalagi cerita lucu.”

Sooyeon memonyongkan sedikit bibirnya. “Kalau begitu biarkan aku cerita. L.Joe hyung selalu punya cerita lucu setiap hari. Saat kami pergi ke tempat karaoke dia akan menyanyi satu lagu full dengan rap sampai nafasnya habis. Lalu Joongki Hyung dia orang yang sangat tenang, bahkan saat harus melakukan operasi dadakan. Dia bisa masak, dan masakannya dengan enak.” Sooyeon terus bicara tentang apa saja, sampai 30 menit berlalu ia terus bicara tanpa lelah dan Chunji benar-benar jadi tidak bisa tidur.

“Arraseo! Arraseo! Kita matikan lampunya!” ucap Chunji akhirnya dan mematikan lampu kamar mereka.

Senyum Sooyeon langsung merekah dan kembali ke posisi tidurnya yang nyaman. “kau tak mau bercerita?”

Chunji berusaha mengirup nafas dalam-dalam dan menghembuskan. “Aku bukan L.Joe atau Joongki Hyung-mu itu. Tapi aku butuh tidur jadi aku akan menyanyi.”

Sooyeon segera membalikkan badannya dan menghadap kearah Chunji. “jinjja??”

Chunji terdiam sesaat dan mulai menyanyi ‘Goodbye Love’ lagu dari penyanyi legendaris Park Hyosin. Senandung pelan itu pelan-pelan mengantar Sooyeon masuk kealam mimpinya.

:::

“Annyeonghaseyo, Lee Sooyeon imnida, walau namaku seperti perempuan aku laki-laki. Aku adik laki-laki dari L.Joe siswa kelas 3.4 dan Joongki ssaem guru UKS disini. Senang berkenalan dengan kalian.”  Ucap Suyeon didepan kelas barunya dan menekankan setiap kata ‘laki-laki’ dengan hati-hati.

“Lee Sooyeon-ssi silahkan duduk di tempat yang kosong dan ssaem akan memulai pelajaran hari ini.”

Sooyeon mengedarkan pandangannya, ia melihat Chunji duduk di baris ketiga d dekat jendela, Chunji benar-benar bersikap acuh. Bahkan tadi pagi begitu Sooyeon bangun Chunji sudah tidak ada di kamar. Sooyeon melihat bangku kosong di baris kedua bagian tengah dan duduk disana.

“Soyeon ssi annyeong! Seungho imnida.” Ucap orang yang duduk dibagian kanannya.  “aku Gikwang” di sebelah kirinya dan semua mulai memperkenalkan dirinya dengan bisik-bisik.

Sooyeon tersenyum, ia senang dengan lingkungan barunya. Dari kaca pintu masuk Ia melihat Joongki oppa disana dengan kemeja putih yang biasa. Oppanya tersenyum hangat melihat adiknya dapat bergaul dengan baik.

:::

Dua minggu berlalu dengan cepat Sooyeon tidak pernah mengalami masalah yang berarti. Otaknya cukup pintar untuk mengikuti pelajaran di sekolah, ia juga dapat bergaul dengan siswa lain, ia tahu basic pembicaraan pria karena tinggal bersama dua oppa yang berasal dari sekolah khusus pria, masalahnya hanya dua. Satu, ketika ingin ke toilet dan ke dua ketika pelajaran olah raga.

Minggu awal Sooyeon selalu menahan untuk ke toilet, ia hanya akan ke toilet saat di asrama tapi minggu kedua di hari ketiga, ia benar-benar ingin ke toilet.

Saat itu jam istirahat…

Sooyeon bergerak –gerak gelisah di tempat duduknya .

“Sooyeon-ah kau kenapa?” Tanya Gikwang

“Mukamu pucat.” Ucap Seungho.

Tanpa bisa berpikir panjang . “Aku mau ke toilet.” Sooyeon tak tahu kalimat itu akan jadi masalah.

“Ah! Aku juga! Ayo!” ucap Gikwang yang langsung berdiri dan menarik Sooyeon.

Sesampainya di toilet, toilet yang ada pintunya penuh! Yang tersisa hanya toilet yang berdiri. Sooyeon mati kutu!

Gikwang langsung berdiri di posisinya, Sooyeon hampir saja menjerit saat ia melihat Gikwang membuka celananya, tapi ia segera membalik badannya.

“Katanya mau pipis?” ucap Gikwang dengan santainya.

Sooyeon langsung merapat ke tembok. “Ah… ahhh … aku mau buang air besar.” Jawabnya dan mencoba membuka salah satu pintu di pojok.

Begitu di buka … “AARGHH~!!” Sooyeon membeku di tempatnya dan langsung menutupnya lagi.

Gikwang di samping tertawa  sampai mau meledak. Sooyeon langsung kehilangan hasratnya untuk ke toilet dan kabur 1000 langkah ke kelas.

Sejak saat itu Sooyeon tak mau lagi ke toilet umum di sekolah. Dia menceritakan masalah itu pada ke dua oppanya dan penyelesaiannya adalzh kalau ia benar-benar kebelet ia harus lari ke UKS, disana ada toilet khusus tapi letak UKS sangat amat jauh dari kelas maupun kantin.

Masalah pertama terselesaikan tapi tidak dengan masalah kedua. Seminggu dua kali ada pelajaran olah raga. Persaingan saat pelajaran olah raga bagaikan lomba dengan penghargaan mendali emas. Sooyeon yang selama ini bersekolah di sekolah wanita hanya tahu cara menjahit, cara berdandan, cara melukis dan tdak pernah bersentuhan dengan keringat. Pelajaran olahraga hanya dua kali seminggu dan hanya lari paling buruk main basket.

Dan minggu depan adalah waktunya ambil nilai. Seorang Lee Sooyeon yang selalu mendapat nilai diatas 80 tak akan mau mendapat nilai 40 di rapor hanya karena pelajaran olah raga. Kalau hanya lari mungkin tak masalah tapi ambil nilai minggu depan ada 4 tahap lari, lompat, angkat beban dan senam lantai seperti sit up, push up.

:::

Chunji menutup buku yang ia baca karena hari mulai gelap, Ia berjalan dari taman belakang asrama menuju ke asrama tapi dari jauh ia melihat Sooyeon dengan baju olah raga dan tas ransel lari keluar asrama. Tanpa sadar ia sudah mengikuti Sooyeon dan sampai di lapangan sekolah yang sudah tidak terpakai. Anehnya lapangan itu yang seharusnya penuh rumput liar itu sudah bersih. Dan di tempat itu ada alat-alat latihan untuk angkat beban, lompat tinggi, dan matras sit up.

“Ajja ajja hwaiting!!” teriak Sooyeon dan memulai pemanasan yang asal-asalan.

Chunji dari kejauhan menangkap semua kegiatan Sooyeon yang mencoba angkat beban seberat 10 kilo tapi baru angkat 5 detik udah dibanting lagi ke tanah, baru lari 5 keliling langsung tiduran di matras. Walau sedikit-sedikit berhenti tapi Sooyeon tidak menyerah.

2 jam berlalu dan Chunji sudah duduk di bangku bawah pohon dekat lapangan memperhatikan Sooyeon yang tak menyerah.  Sampai akhirnya ia berhasil melompat dengan indah. Setelah itu Sooyeon tidur di atas matras dengan bahagia.

Setengah jam lagi berlalu dan Sooyeon benar-benar tertidur pulas diatas matras.  Chunji mendekat dan melihat tangan sooyeon yang berdarah, kakinya yang lebam dan beberapa luka yang sudah ditutup handsaplast. Chunji bisa memastikan gadis ini sudah bekerja dari saat diumumkan ada ujian. Tanpa sadar senyumnya terangkat.

Chunji merapikan barang-barang Sooyeon kembali lalu perlahan menggapai tangan Sooyeon dengan hati-hati dan menggendong Sooyeon kembali ke asrama mereka.

:::

Hari ini hari untuk ujian olah raga. Sooyeon dari semalam sudah tak sabar dan bangun dengan jantung berdebar kencang. Hanya 1 jam lagi ujian akan dimulai. Tapi mendadak perut Sooyeon sakit, ia yang masih di asrama segera lari ke kamar mandi dan bulan datang padanya.

Sooyeon benar-benar hilang akal, untung di asrama  hanya tinggal dia seorang. Dia mengambil pembalut yang disembunyikan ditempat yang tak mungkin pernah terpikirkan oorang lain. Tapi masalah tak selesai, perutnya sakit luar biasa.

Sekarang ia hanya bisa meringkuk di atas ranjang, berusaha menahan sakit. Ia meraih handphonenya dan mencoba menghubungi Joongki tapi tak di angkat. Ia meraba-raba tempat obatnya tapi tak menemukan obat penahan sakit.

“sa.. kit…” rintih Sooyeon berkali-kali. Air matanya sudah mebasahi pipi dan bantalnya. Ia berusaha untuk tidak bersuara kalau ada yang menemukannya disaat seperti ini maka masalahnya jadi gawat. Sooyeon berpikir untuk bersembunyi di toilet.

Tapi hanya dua langkah dari ranjang ia terjatuh ke lantai. Dadanya terasa sakit karena perban yang melilit.

Tiba-tiba pintu terbuka dan saat itulah Sooyeon berpikir ‘habislah sudah’ dan hilang kesadaran.

:::

Chunji menoleh dan melihat sekelilingnya ia tak berhasil menemukan Sooyeon dimanapun. Perasaannya mulai tidak enak.

“Kita akan segera mulai ujiannya, semua sudah berkumpul? ada yang berminat duluan?” teriak Pelatih Kim dari  tengah lapangan.

Chunji sekali lagi melihat sekeliling, Sooyeon benar-benar tidak ada.

“Sooyeon belum ada?” “Mungkin dia kabur.” “kemampuan olah raganya zero!”

Chunji mendengar semua ledekan itu dan kepalanya mendidih. “Ssaem aku duluan.” Ucap Chunji dan hanya daalam 10 menit ia menyelesaikan lari 10 keliling, 50 situp pushup, lompat tinggi dan angkat beban.

“Ssaem aku boleh istirahat duluan kan?” ucap Chunji setelah menyelesaikan semuanya dengan perfect.

“Ah.. Oh… TENTU TENTU!” ucap ssaemnya.

Chunji langsung berlari ke asrama dan jantungnya hampir mencelos saat ia menemukan sooyeon tergeletak dilantai dengan muka sangat amat pucat. Chunji segera mengangkat Sooyeon keatas ranjangnya, dia masih bisa merasakan Sooyeon bernafas hanya tidak stabil.

Chunji langsung mengambil handphone Sooyeon dan menelpon Joongki. Ia mencoba hampir 10 kali baru telpon itu diangkat.

“Joongki sssaem, ini Chunji. Bisakah kau keasrama sekarang ? Sooyeon pingsan.” Jelasnya sesingkat mungkin.

Chunji melihat butiran keringat terus mengalir dari dahi Sooyeon, ia panik. Ia melihat temoat obat Sooyeon yang diacak-acak tapi tak tahu mana yang harus diberikan. Lalu pandangannya bergenti ke meja belajar Sooyeon dan menemukan kalender disana.

Begitu joongki sampai, wajahnya tak jauh beda dengan Chunji. Ia mengeluarkan peralatannya dan mulai memeriksa, ia tidak menemukan hal yang benar-benar aneh.

“Mana kalender Sooyeon?” tanya Joongki.

Chunji mengambil kalender kecil milik Sooyeon yang tadi dilihatnya. Joongki membalik kalender dan melihat tanda silang di tanggal yang sama dengan bulan ini. Joongki hanya tersenyum kecil, dan mulai mengambil koper milik Sooyeon.

“Hyeong mencari ini?” Tanya Chunji sambil menunjukan obat penahan sakit khusus.

Mata Joongki membesardan segera mengambil obat itu, membuka salah satu pilnya

.

“Aku sudah memberikannya,” ujar Chunji sebelum Joongki melemburkannya ke air.

Kini Joongki menatap lekat chunji.”sejak kapan kau tahu?”

“Dari awal, bahkan sebelum itu mungkin.” Jawab Chunji dan duduk di tepi ranjangnya.

Wajah Joongki menghangat, senyumannya terangkat. “Jaga dia baik-baik yah. Dia akan sadar, aku akan meninggalkan beberapa vitamin dan obat tambahan pastikan dia meminumnya.”

:::

“Bagus! Hari ini ujian olah raga selesai. Dua orang  mendapat nilai perfect Chunji dan Sooyeon . ayo tepuk tangan!” ucap ssaem dari tengah lapangan.

Semua siswa kelas 2.3. bertepuk tangan lalu meninggalkan lapangan.

“Sooyeon-ah kau benar-benar keren. Tapi kenapa kau pakai masker?”

“cuacanya  lagi buruk aku gampang sakit.”

Chunji mengelap keringat Sooyeon dan membenarkan letak poni Sooyeon.

Sooyeon membuka matanya perlahan dan merasakan tangan Chunji yang sedang menyentuh rambutnya.

Chunji segera menarik tangannya dan tersenyum .”kau sudah baikan?”

Sooyeon mengerjap-ngerjapkan matanya dan segera bangun. “ujiannya!”

Chunji menekan dahi Sooyeon dengan satu jari telunjuknya agar Sooyeon kembali ke posisi tidur.

“Kau dapat nilai sempurna jangan khawatir.”

Sooyeon mengerlingkan matanya dan memutar otaknya. 5 detik kemudian dia sadar. “L.Joe oppa?”

“oppa?” ulang Chungji.

“L.Joe Hyung! Maksudku L.Joe Hyung! Aku pasti sangat sakit sampai memanggilnya oppa” ujar Sooyeon lalu membalik badannya.

Chunji melihat sooyeon yang setengah mati mempertahankan bahwa dirinya laki-laki hanya bisa terdiam. “Sooyeon-ah. Bukankah ini saatnya berhenti?”

Sooyeon langsung memutar kepalanya dan melihat Chunji. “A.. apa?”

“Tidak apa-apa. Minum obatmu dan vitamin juga.” Ucap Chunji sambil menyodorkan dua buah tablet dan air putih.

:::

Sooyeon terdiam di ranjangnya setelah Chunji mengatakan ia akan kembali ke sekolah dan menyuruh Sooyeon beristirahat.

“Sooyeon-ah. Bukankah ini saatnya berhenti?” tiba-tiba dia mengingat perkataan itu kembali.

Ia segera menggelengkan kepalanya, tanpa sadar ia mulai menangis. Sepertinya perasaan perempuannya yang sudah di simpannya baik-baik kembali terbuka…

>>Flash Back<<

Sooyeon berdiri di pinggir jendela menghadap keluar taman sekolah yang ramai di penuhi anak perempuan. Sinar mentari senja yang  tembus melalui jendela membuat rambut hitam panjangnya itu berkilau sempurna. Wajahnya yang manis tampak sedikit mengantuk. Rok sekolah yang diatas lutut itu memperlihatkan kaki jenjangnya. Hampir semua perempuan yang lewat memberikan tatapan iri.

“Sooyeon ah!”

Sooyeon menoleh dan tersenyum saat melihat Yeonhee yang membawakan dua kotak yoghurt strawberry-milk..

“Maaf Sooyeon ah, jinjja jiiiinnjja mianheyo… Aku tidak jadi pulang bersamamu. Bukannya tak mau.. hanya saja Lee Hyukjae ada di depan… mian mian..”

“Apa bagusnya sih monyet itu?’

“YA! Sooyeon ah!! Dia tak seburuk itu. Dia tampan.”

“Matamu pasti minus.’ Sooyeon menunjukan senyum meledek

“Aku pulang.” Ujar Yeoonhee menjulurkan lidahnya lalu berlari menuruni tangga.

Sooyeon tersenyum sedikit,beberapa menit kemudian ia memutuskan untuk pulang.

Rumah Sooyeon sedikit jauh ia harus naik-turun bus 2 kali dan berjalan selama 15 menit untuk sampai di rumahnya. Sooyeon paling tak suka naik kendaraan umum ataupun berjalan kaki di tempat umum.

Bus berhenti dan Sooyeon segera turun. Ia hanya perlu berjalan selama15 menit dan sampai di rumah. Tapi tak lama ia berjalan ia mencium bau alkohol dari belakang. Ia menoleh dan melihat satu ahjussi yang sedang mabuk.

Sooyeon memepercepat langkahnya, langkah dibelakangnyaa ikut mempercepat, bahkan lebih cepat dari langkah kaki Sooyeon. Jantung Sooyeon berdetak 5 kali lebih cepat saat tangannya digenggam. Sooyeon hendak berteriak tapi orang itu menutup mulutnya.

Sooyeon mecoba berontak tapi ahjussi itu malah mendorongnya ke tembok dan menggenggam tangannya lebih kuat.

“Apa maumu?” Tanya Sooyeon dengan nada panik.

Pria itu tampak marah ia menggenggam tangan sooyeon semakin kencang.

Tangan laki-laki itu mulai membuka kancing baju Sooyeon. Sooyeon mebelalak tangannya yang lepas mencoba menahan.

“Rileks saja. Kau baru pertama kali? Tak akan menyakitkan kok.. mungkin sedikit.” Ujar ahjussi itu.

Ia memberontak saat kancing ke tiga hendak di buka. “Jangan sentuh aku.! Aku mohon..” ucap Sooyeon dengan lemah air matanya hampir mengalir.

Ahjussi itu malah menampar Sooyeon sekali .

Sooyeon menjerit kini air matanya benar-benar mengalir. Kalau saja tangannya tak di tahan. Ia pasti sudah jatuh ke tanah. Sooyeon meraung dan berteriak.

Ahjussi itu mendorong Soyeon kembali ke tembok, bunyi keras terdengar. Sooyeon merasa pusing, ia memegang bagian belakang kepalnya yang terasa sakit dan melihat darah mengali.

Dari kejauhan Sooyeon mendengar suara motor yang di pacu dengan cepat. Motor itu berhenti tepat di depannya dan langsung menghajar ahjussi itu.

Sooyeon tidak bisa melihat siapa pria itu karena wajahnya masih tertutup helm. Sooyeon jatuh dan tak sadarkan diri.

:::

Sooyeon membuka matanya  dan melihat kedua wajah oppanya yang khawatir.

“Sooyeon ah.. Soyeeon ah!” suara Yeonhee menyembul dan wajah cemasnya terlihat di samping oppanya, “maafkan aku, harusnya kita pulang bersama., maafkan aku.”

Soooyeon tidak bisa berkata apa-apa , dan tiba-tiba air matanya kembali mengalir ia menyentuh pakaiannya yang sudah rapi kembali. Tangisnya semakin keras setelah mengingat apa yang terjadi.

L. Joe langsung memeluk adiknya. “ maafkan oppa, maafkan oppa.”

Sekitar setengah jam kemudian Sooyeon baru bisa menenangkan diri. “Wajahku pasti berantakan yah? Apa ada kaca?” Tanya sooyeon berusaha untuk bercanda.

Mereka semua terdiam, tapi Joongki oppa menyodorkan kaca kecil yang ada di rumah sakit. Air mata Sooyeon kembali mengalir saat melihat dirinya di kaca. Rambut panjang kini bermodel potongan pria, kini bahkan wajahnya jadi sangat mirip dengan L.Joe.

“Maafkan oppa Sooyeon ah, kepalamu terluka dan harus di operasi secara cepat karena pendarahan. Oppa terpaksa memotongnya menjadi pendek. Maafkan oppa.” Ucap Joongki dengan nada penuh penyesalan.

:::

Sudah seminggu Sooyeon berada di rumah sakit dan mentalnya belum pulih, ia takut sekolah, takut berjalan, takut bertemu dengan orang lain. Kedua oppanya tampak khawatir dengan perkembangann Sooyeon. Bahkan Yeonhee yang datang setiap hari saja tak bisa membuat gadis itu tersenyum kembali.

“bagaimana ini oppa?” Tanya Yeonhee.

“Sooyeon akan pindah ke sekolahh L.Joe.” ucap Joongki tiba-tiba.

“Apa?” mata Yeonhee membesar. “L. Joe oppa kan bersekolah di sekolah khusus cowok.”

“Sebenarnya sejak tahun ini sekolah L.Joe mewajibkan semua siswanya masuk asrama. Sekolah L.Joe menawariku pekerjaan menjadi guru UKS juga aku pikir itu tak begitu buruk. Tapi karena kejadian ini kami tak mungkin membiarkan Sooyeon sendirian.”

“Aku menceritakan hal ini pada ketua yayasan dan  mereka mengijinkan Sooyeon bersekolah di sekolahku hanya dengan syarat ia tidak boleh ketahuan sebagai perempuan. Lihat wajahku dan Sooyeon tidak bedakan? Jadi pasti tak ada yang tahu. Aku dan Joongki bisa menjaganya 24 jam full.” Ujar L.Joe dengan berbinar-binar.

Yeonhee masih berpikir ini tak masuk akal. Tapi melihat kedua bersaudara sudah bulat dengan tekadnya ia hanya bisa menyerah. “jadi aku tak bisa main dengan Sooyeon lagi?”

“sekali-sekali datang ke sekolah kami. Akan kukenalkan dengan salah satu temanku yang tampan.” Ucap L.Joe sambil mengacungkan jempolnya.

“Aku sudah punya pacar.”

“Apa bagusnya sih monyet itu?’ Tanya Joongki

“Namanya Hyukjae oppa.” Ujar Yeonhee. “Sudah aku malas berdebat. Intinya aku harus tutup mulut soal Sooyeon itu perempuankan? Untung saja sekolah L.Joe oppa sangat jauh dari sekolah Sooyeon. Aku akan tutup mulutku rapat-rapat.”

>>Flash Back end<<

:::

Setelah tebengong cukup panjang, ia benar-benar rindu dengan hidupnya yang dulu. Tiba-tiba saja handphone Sooyeon berdering. Sooyeon langsung tersenyum saat melihat nama yang menelponnya.

“YEEONHEEE BOGOSHIPEO!” teriak Sooyeon langsung.

Yeonhee tertawa diujung telepon sebelum lanjut berbicara. “Sooyeon-ah! Bagaimana kabarmu? Gimana sekolah khusus laki-laki? Aish aku iri!”

“YA!! Yeonhee-ah sekolah khusus perempuan jauh lebih baik, aku tak bisa ke toilet disini, mau mandi pun  tak tenang, apa lagi kalau period. Aku seperti main kucing-tikus.”

Dari ujung telepon yeonhee tertawa dengan keras. “Aku mengerti kau begitu lelah, karena itu how about being a girl again?”

“Apa?”

“Sekolah kita, ah maksudku sekolahku minggu ini mengadakan festival seperti dari tahun ke tahun. Kau masih ada seragam sekolah lama kan?”

Sooyeon berpikir sejenak, ia merasa tawaran ini sangat menarik. Dan Yeonhee benar ia lelah berpura-pura. “ada. Benar aku boleh datang?”

“Tidak akan ada yang sadar kalau kau pakai seragam perempuan, aku akan meminjamkan rambut palsuku dengan cuma-cuma!”

Tawaran Yeonhee semakin menarik, ia benar-bnear ingin pergi. “ Minggu ini? Baiklah! Terima kasih Yeonhee!”

:::

“Ayo cepat masuk! Tunggu apa?”

Sooyeon melihat gedung sekolah lamanya, entah kenapa ia merasa rindu, menggunakan rok, dengan rambut panjang, tanpa perban di dada, dan sedikit sapuan make-up. Sooyeon langsung menggandeng tangan Yeonhee dan melihat sekolah lamanya masih semenyenangkan dulu.

“Sooyeon ah kau mau makan apa? Kimbab buatan kelas 1.2. sangat enak.”

“mauu!”

Setelah makan kimbab mereka berjalan-jalan lagi, beberapa teman lama Sooyeon mengenali Sooyeon. Jika ditanya ia hanya bilang ia pindah sekolah dan sedikit jauh, hari ini datang hanya untuk bermain.

“Sooyeon-ah mianhe tiba-tiba aku harus membantu di ruang osis. Kau benar tak apa-apa jalan2 sendiriian?”

Sooyeon mengangguk. “dun worry! Aku lee Sooyeon si ice princess sekolah ini mana mungkin tidak baik-baik saja. Lagi pula disinikan khusus perempuan.”

Sooyeon berjalan-jalan sendiri menyusuri sekolah lamanya. Ia mengenang masa lalunya dan pergi ke tempat favoritenya lantai dua dekat tangga ada kaca jendela besar yang bisa melihat keluar gedung sekolah dan kegiatan anak-anak perempuan disaat bubar sekolah.

Tak jauh dari sana ada ruang kepala sekolah dan tiba-tiba pintu rang kepala sekolah terbuka. Mata Sooyeon membesar melihat siapa yang keluar dari sana.

Seungho, Gikwang, Chunji, dan 2 orang anggota OSIS lainnya. Begitu keluar dari ruangan banyak anak perempuan yang mengerumuni mereka. Ia melihat chunji menyapa mereka dengan ramah, tersenyum dan bahkan membiarkan gadis –gadis itu menyentuh dirinya. Entah kenapa ia merasa kesal tapi ia tak mungkin mendekat. Saat matanya dan Chunji saling bertatapan ia malah membalik badannya.

Ia segera menuruni tangga, dan berjalan tanpa arah. Setelah sampai di taman belakang  ia menatap ke langit,.

“Saat dikamar jangankan senyum, melihatku saja  tidak. Apa-apaan itu sikapnya? Senyum-senyum begitu, ketawa aja terus! Dasar genit!” ujar Sooyeon lalu menendang2 pohon di hadapannya.

“bahkan aku harus membiasakan tidur dengan lampu menyala! Walau suaranya bagus and yeah aku tidur nynyak karena itu, tapi dia tidak pernah senyum padaku.” Dumel Sooyeon

Sooyeon lalu terdudukdi bawah pohon itu dan mulai menangis, “Aku tidak menangis karenanya. Tidak akan. Hanya saja… oh oke aku iri. Aku bukan perempuan dimatanya. Aku hanya seseorang yang merepotkan. Aku tak bisa tampil cantik untuknya, tak bisa memakai mini dress yang disukai siswa SMA. Rambutku pendek malah mirip L.joe oppa. YA! Aku harus bagaimana agar ia melihatku?” ucap Sooyeon pada pohon dihadapnnya dan membiarkan air matanya mengalir lagi.

“Kau hanya perlu 3 detik untuk berbalik dan melihatku.” Tiba-tiba suara itu muncul dengan nafas tersengal-sengal.

1…2…3.. Sooyeon membalik badannya dan melihat  Chunji dihadapannya. Baju chunji basah dan jaket sekolah mereka ada di tangannya. Mulut Sooyeon bahkan sudah terbuka lebar tapi 10 detik kemudian otaknya kembali berjalan. “ma.. maaf kau siapa?”

Tiba-tiba Chunji sudah mendekap Sooyeoon dalam pelukannya. “Bukankah ini saatnya berhenti untuk berpura-pura dihadapanku? Lee Sooyeon adik perempuan dari L.Joe oppa dan  Joongki oppa”

Sooyeon mengangkat wajahnya dan melihat Chunji. “ba.. bagimana.. kau tahu?” tanyanya

Chuji melepaskan pelukannya dan menghapus sisa air mata Sooyeon, “mana mungkin aku lupa mata bulat, hidung mancung, bibir manis dan rambut panjangmu.”

Sooyeon tak mengerti perkataan Chunji.

“Dari awal aku melihatmu. Saat itu kau berdiri di depan jendela kaca dengan sinar matahari senja dan meminum youghurt. Saat aku ingin menghampirimu. Kau turun begitu saja. Tapi aku kembali melihatmu menaiki bus, aku segera lari mengambil motorku. Aku mencoba mengikuti tapi aku salah mengikuti bus yang kedua. Saat aku sadar aku salah aku putar arah dan melihat kejadian itu.”

“Ka..kau?”

“ya itu aku Sooyeon ah. Aku yang  mengantarmu ke rumah sakit, sebelum L.joe dan Joongki Hyung datang aku pulang duluan karena ada urusan di asrama. Satu minggu kemudian aku ke sekolahmu lagi tapi katanya kau sudah keluar. Aku hampir gila karena tak tahu harus bagaimana. Ini pertama kali aku menyukai perempuan.”

Senyum Sooyeon tak bisa ia sembunyikan, ia menundukan kepalanya membiarkan air mata bahgianya mengalir dan perkataan Chunji pun mengalir.

“Aku pikir aku harus menyerah tapi saat itu kau berlari di koridor mata kita bertatatapn 3 detik dan aku tak bisa melupakannya. Aku pikir aku berkhayal lalu melihatmu dalam kamarku. Aku bukan berkhayal tapi ini takdir. Kau menyuuruhku mematikan lampu saat tidur kau pikir aku bisa tidur dengan tenang? Kau menyuruhku bercerita aku hanya tahu bernyanyi.”

Sooyeon langsung memeluk Chunji dilehernya dan berjinjit sedikit. “Aku mengerti, gomawo.” bisiknya tepat di kuping Chunji. “Saranghae chunji ya.” Lalu mengecup pipi Chunji dan segera memberi jarak anntara mereka. Sooyeon menjulurkan lidahnya sebentar lalu kembali tersenyum.

Chunji terdiam dan menyentuh pipinya. Ia mematung di tempatnya … “Naekkeo ha ja. (be mine).” Ucap Chunji

Sooyeon terdiam sebentar. “Chunji ya, is it okay? Aku akan terus menyuruhmu menyanyi setiap malam. Aku tidak bisa tampil cantik didepanmu, aku tidak bisa memakai rok. Disekolahpun kita tidak bisa terlalu dekat. Aku laki-laki.” tanya Sooyeon khawatir.

Chunji tersenyum dan mengusap kepala Sooyeon. “Bukan perempuanpun semua mengakui kau cantik. Hanya satu setengah tahun lagi, aku rasa melihatmu berlari sana sini dengan celana dan rambut pendek also not bad.”

Muka Sooyeon memerah saat chunji berusaha mendekatkan wajahnya dengan wajah Sooyeon. Sooyeon menutup matanya perlahan saat jarak hanya 3 cm lagi tapi…

“YA! Chunji!!!” L.Joe melayangkan tendangan mautnya tepat mengenai pinggang Chunji dan membuat Chunji terpelanting ke tanah. K.O!

Joongki yang juga entah dari mana muncul langsung membawa kabur Sooyeon.

“kau harus minta persetujuan kami dulu  sebelum menyentuh Sooyeon!” perintah L.Joe.

“Sooyeon-ah dalam berhubungan kau harus main tarik-ulur. Jangan berikan semuanya diawal.” Ceramah Joongki.

:::

Setengah tahun kemudian~

“Chunji! Chunji bangun!!!” Ucap Sooyeon lebut sambil menggoyang-goyangkan tangan chunji.

“mm ,,,sebentar lagi.”

“Ya~ ini hari ini hari pertama kita di kelas 3! Ayo cepat! Kau mau dimarahin Kim Ssaem? Masa telat dihari pertama.”

Chunji membuka sebelah matanya lalu menarik Sooyeon hingga ada dipelukannya “sst jangan berisik. 5 menit lagi.”

Tiba-tiba sooyeon mengecup bibir Chunji dan membuat kedua mata Chunji terbuka. “sekarang bangun.” Ucap Sooyeon penuh kemenangan.

“Ya! Sooyeon ah hitungan geometrinya salah!” teriak Chunji dari kursinya.

Sooyeon segera membalik badan dan menatap Chunji sebal. “hitungannya benar. Iya kan ssaem?”

“Jawabannya sedikit meleset Sooyeon ssi”

Chunji mengambil kapur di tangan Sooyeon dan membenarkan bagian yang salah. “ini baru benarkan ssaem?”

Ssaem langsung mengangguk puas.

“Ya! Chunji kalau kau dan Sooyeon bisa menikah aku rasa anak kalian akan jadi genius.” Celutuk salah seorang  yang membuat satu kelas tertawa.

“Sooyeon sudah belom?”

“nee, sabar~” tak lama kemudian Sooyeon keluar dari kamar mandi dress cerah, makeup tipis, wedges manis dan rambut palsu milik Yeonhee.

“Yeokshi nae yeoja chingu, pretty pretty!” Ucap chunji

Kali ini tempat kencan mereka adalah daerah busan, mereka harus pergi jauh kalau tidak mau ketahuan dan diganggu oleh kedua oppa Sooyeon.

“Nggak aneh? Entah kenapa karena setiap hari pakai celana pakai rok membuatku merasa aneh.” Ucap Sooyeon.

Chunji memperhatikan dari atas sampai bawah lalu menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba dari belakang punggungnya ia mengeluarkan satu buket bunga mawar. “cantik kok.”

Sooyeon menerima bunganya dengan senyum mengembang. “uwaaa ternyata Chunji punya sisi seperti ini juga.” Ledeknya.

“Siapa yang meminta buket bunga setiap hari sebelum tidur. Kau yang membuatku seperti ini.” Ujar Chunji sambil mendesah sesekali.

“YA! Kau menghancurkan mood-nya!

“Kau mulai duluan!” ucap Chunji tak mau kalah.

Sooyeon segera mempercepat langkahnya. “Aku mau balik ke asrama saja!”

Chunji panic dan tanpa ia sadar kakinya sudah berlari dan tangannya menahan tangan Sooyeon. “Setidaknya aku membelikannya. Kau tak merasa berterima kasih?”

Sooyeon tersenyum dan membalik badannya menghadap Chunji. “Terima kasih Chunji ah, aku bahagia.” Ucap Sooyeon sambil menampilkan senyum terbaiknya.

Chunji terdiam di tempatnya beberapa saat . “Boleh aku minta sesuatu?” tanyanya.

“tentu. Apa?” Tanya Sooyeon sambil membetulkan mawar pemberian Chunji.

“tutup matamu.”

Sooyeon sedikit bngung tapi melakukan permintaan Chunji , tapi lalu 3 detik kemudian Bibirnya terasa hangat, Sooyeon membuka matanya sesaat dan menyadari Chunji sedang menciumnya, jantungnya berdetak tak karuan. Ia menutup matanya dan kembali menikmati First Kiss mereka.

Chunji mundur selangkah. “Aku sudah mendapat izin untuk melakukannya.” Ucap Chunji sambil tertaw kecil.

“Mwoya?”

“Dari L.Joe dan Joongki hyeong mereka mengijiinkannya setelah perdebatan paanjaaaang.”

Sooyeon tertawa lalu menggandeng tangan Chunji. “babo!”

= THE END=

Thanks for reading~~

buat yang ninggalin komen dan like semoga pahalanya bertamabah kkk

author will be back soon SJ FF ofc ^^ gomawooyooonggg~