Hello…. Author @gyumontic kembali dengan FF baru dan cast yang sama… KyuJin!!! Hahahahahhaa.. Silahkan dibaca ya, sayangsayangku….

—-

Pure Love

Cast : Cho Kyuhyun, Song Hyejin

There’s no pure friendship between a man and a woman. There’s always hidden love.
Pria tua itu terbaring lemah dengan berbagai macam selang yang ditusukkan ke kulit tangan dan dadanya. Matanya yang kuyu memandang lemah istri dan anak-anaknya. “Jangan menangis. Aku akan baik-baik saja,” ucap pria tua itu dengan sekuat tenaga. Pria tua itu kemudian secara khusus berbicara dengan anak laki-lakinya. “Jaga eomma dan nuna-mu. Kembangkan sekolah bisnis kita. Terakhir, sebelum appa pergi, appa ingin kau menikah. Appa mohon.”Seorang pria muda yang sedari tadi berdiri di sebelah tempat tidur pria tua itu menggenggam tangan lemah yang tergeletak di pinggir tempat tidur. “Appa, bertahanlah. Aku akan menjaga eomma dan nuna dengan baik, bahkan anak-anak nuna. Aku berjanji akan mengembangkan sekolah bisnis kita menjadi sekolah bisnis nomor satu di Korea. Aku juga akan….menikah. Bertahanlah, appa,” ucapnya sambil berkali-kali menahan agar air matanya tidak jatuh.
Seperti orang dikejar setan, pria muda itu menggemudikan mobilnya ke sebuah tempat ia bisa mendapatkan keceriaan di kala ia duka, ketenangan di saat ia bingung, bahkan kekuatan saat ia sangat terpuruk. Tempat yang selalu memberikannya jalan keluar untuk segala masalah yang sedang dihadapinya. Sahabat. “Kita menikah sekarang. Appa-ku sekarat. Ppali!” serunya sambil menarik seorang gadis dengan tergesa-gesa.
Gadis itu menatap sahabatnya dengan bingung sekaligus iba. Ia sangat memahami apa yang dirasakan pria yang sudah menjadi sahabatnya hampir seumur hidupnya tapi ia tidak mengerti dengan permohonan sahabatnya itu. “Menikah?” tanyanya meminta penjelasan meskipun hanya sedikit.
“Appa ingin melihat aku menikah sebelum ia…kau pasti tahu maksudku. Aku tidak ingin mengecewakannya. Kau satu-satunya yang muncul dalam pikiranku saat appa meminta aku untuk menikah. Makanya aku menarikmu. Kita akan menikah. Aku tahu ini mengejutkanmu tapi aku mohon tolong aku. Tidak masalah jika setelah itu kau menghajarku habis-habisan.”
Gadis itu terdiam, berpikir panjang apa yang akan terjadi ke depannya jika mereka benar-benar menikah. Tidak masalah jika keduanya jadi saling mencintai atau sebaliknya. Jika yang terjadi hanya salah satu yang jatuh cinta, apa yang harus mereka lakukan?
Sepasang manusia itu berlari menuju ruang ICU tempat pria tua tadi dirawat begitu mereka sampai di rumah sakit. Keadaan lebih ramai dari terakhir pria muda itu pergi. Eomma dan nuna-nya duduk lemas di depan ruangan dengan berurai air mata. Mereka langsung memeluk pria muda itu begitu melihatnya kembali. “Appa sudah pergi. Ia baru saja meninggalkan kita,” ucap kakak perempuan pria muda itu di sela-sela isak tangisnya.
Seketika kakinya terasa lemas. Pria muda itu ingin sekali mendudukkan dirinya di lantai dan menangisi kepergian appanya tapi ia menyangkal itu semua demi kedua wanita paling penting dalam hidupnya. Sekarang ia menjadi satu-satunya pria dalam keluarganya, pengganti appa-nya. Eomma dan nunanya menjadi tanggung jawabnya. Ia tidak bisa terlihat lemah. Ia harus bisa menguatkan kedua wanita itu.
“Eomma, Nuna, tunggu di sini. Aku akan menemui dokter dan mengurus semuanya. Tenanglah. Appa sudah tenang di sana. Ingat katanya tadi? Kita tidak boleh menangis. Ia baik-baik saja.”
Pria muda itu meninggalkan eomma dan nunanya. Diam-diam, sahabat gadisnya itu mengikuti. Ia menuju tangga darurat untuk menuruni beberapa anak tangga dan kemudian terduduk lemas di pojokan anak tangga itu.
Gadis itu berlutut di depan pria muda. Perlahan ia menarik pria muda itu ke dalam pelukannya. “Kemarilah. Jangan ditahan,” ucap gadis itu sambil mengusap kepala sahabatnya dengan lembut. Saat itu juga tubuh pria muda itu bergetar hebat, air mata mengalir deras dari matanya.
“Aku tidak sempat mengabulkan permintaan terkakhirnya,” kata pria muda itu dengan penuh penyesalan.
“Suatu saat kau pasti bisa mengabulkannya. Ahjussi pasti akan senang melihatmu dan calon istrimu nanti, meski dari surga,” hibur gadis itu.
——
1 tahun kemudian
Kyuhyun berjalan mondar-mandir di dalam ruangannya. Tangan kanannya memegang smartphone agar tetap menempel di telinganya sedangkan tangan kirinya berkacak pinggang tanda ia sedang kesal. “Kemana wanita ini? Kenapa tidak mengangkat teleponku? Haiiish!” gerutunya tanpa bosan berkali-kali menghubungi wanita itu.
“Yaaaaaaaa Song Hyejin! Kenapa baru angkat teleponnya sekarang? Kemana saja kau hah?” seru Kyuhyun terdengar mengomel kesal.
“Aku habis mengajar. Kau lupa aku harus mengajar kelasmu sejak kau diangkat jadi kepala sekolah? Wae?” sahut Hyejin dengan santai. Ini sudah ribuan kali ia mendengar Kyuhyun mengomel jadi ia sudah kebal. Lagipula hampir seumur hidup menjadi sahabat pria bernama lengkap Cho Kyuhyun itu.
“Temani aku ke makam appa. Hari ini tepat 1 tahun appa meninggal. Eomma dan nuna sudah menunggu di sana. Aku tunggu kau di ruanganku dalam 2 menit.”
“Tidak perlu. Aku sudah di depan ruanganmu. Kajja!”
Kyuhyun menutup smartphonenya dan kemudian berbalik memandang Hyejin yang memang sudah berdiri di depan ruangannya sambil memegang dua ikat bunga mawar, bunga kesukaan ayah Kyuhyun.
“Bagaimana kau bisa secepat ini datang? Lengkap dengan bunga kesukaan appa lagi.”
“Itu hebatnya aku. Kau harus mengakuinya.”
Kyuhyun tertawa mendengarnya. “Baiklah, kuakui kau hebat. Tapi tetap aku yang paling hebat. Ayo kita pergi sekarang.”
“Cih! Dasar narsis.”
Hyejin mengikuti Kyuhyun masuk ke dalam mobil yang langsung dikemudikan menuju rumah memorial ayah Kyuhyun.
Hyejin memasang bunga mawar di makam ayah Kyuhyun sambil menghiasnya agar terlihat lebih cantik. “Hei Ahjussi, apa kabar? Pasti di sana menyenangkan ya? Kami di sini juga baik-baik saja. Terutama Kyuhyun, ia menjalankan amanatmu dengan sangat baik. Sekolah berkembang pesat. Meskipun terkadang ada masalah, Kyuhyun selalu berhasil menyelesaikannya. Luar biasa!” ucap Hyejin kepada ayah Kyuhyun. Setelah selesai, ia bergabung dengan ibu dan kakak perempuan Kyuhyun.
Kyuhyun mengelus makam appa-nya. “Hai appa, senang bertemu lagi denganmu. Aku di sini baik-baik saja tapi jujur semuanya akan lebih mudah jika kau masih ada. Appa jangan khawatir, aku bisa menyelesaikan semuanya. Hyejin pasti sudah cerita padamu kan? Ah, gadis itu… Sahabat seumur hidupku, anak bungsu appa. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, tahun lalu aku hanya kepikiran dirinya untuk dinikahi sebelum appa meninggal. Setahun berlalu, aku tetap merasakan hal yang sama. Menurut appa, apa yang terjadi padaku?”
Sebuah belaian mendarat lembut di lengan Kyuhyun dan menyadarkan Kyuhyun dari kebingungannya. “Kita berdoa dulu, nak,” kata eomma Kyuhyun dan memimpin doa bersama anak-anaknya. “Istirahatlah dengan tenang ya, suamiku. Besok aku akan mengunjungimu lagi. Sampai jumpa, yeobo…”
Eomma Kyuhyun mengecup kedua pipi Kyuhyun dengan penuh kasih sayang. “Eomma duluan ya, sayang. Apa kau akan makan malam di rumah?” tanya wanita tua itu diiring tatapan mata yang sangat lembut.
Kakak perempuan Kyuhyun terkikik geli di samping eommanya. “Tidak mungkin, eomma. Ia pasti akan makan malam dengan Hyejin. Kalau dia akan makan malam di rumah, dia pasti bilang karena kita harus menambah satu porsi untuk Hyejin. Anak laki-laki eomma ini secara tidak sadar sedang jatuh cinta. Iya kan?”
“Yahh nuna…” protes Kyuhyun diiringi detakan jantungnya yang tidak karuan. Jantungnya bereaksi abnormal saat mendengar kata-kata jatuh cinta. “Aku tidak sedang jatuh cinta, nuna, eomma.”
“Yes, you are. You fall for her, brother. 365 hari dalam setahun, berapa hari yang tidak kau habiskan bersamanya? Tidak ada, adikku sayang. Tidak ada laki-laki yang mau menghabiskan hidupnya dengan wanita yang tidak dia cintai. You love her. Definetely!”
“Tapi dia sahabatku, nuna. Tidak mungkin aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri. Aku bahkan sudah pernah melihat ia pup di celana.”
Kakak perempuan Kyuhyun tersenyum. “There’s no pure friendship between a man and a woman. There’s always hidden love. Kau mencintainya. Appa pasti sependapat denganku.”
“Nuna…”
“Jatuh cinta bukanlah dosa, anakku sayang. Kepada gadis manapun kau jatuh cinta, selama gadis itu belum terikat komitmen dengan pria, eomma setuju. Hiduplah dengan baik. Kebahagiaanmu itu kebahagiaan eomma juga. Sampai jumpa nanti malam,” ucap eomma Kyuhyun.
“Sampai jumpa, eomma, nuna.”
“Sampai jumpa adikku yang sedang jatuh cinta.” Sebuah cengiran terukir indah di wajah wanita muda itu yang membuat adiknya tersipu malu.
‘365 hari dalam setahun, berapa hari yang tidak kau habiskan bersamanya?’ Pertanyaan itu menggema terus dalam pikiran Kyuhyun dan membuat Kyuhyun mengurutkan hari-harinya dan menghitung berapa hari yang tidak dihabiskannya bersama Hyejin. “Betul kata nuna, jawabannya tidak ada,” gumam Kyuhyun.
Tidak ada satu pun hari yang tidak dilewati Kyuhyun dengan bertemu dengan Hyejin. Jika ada aktivitas yang tidak bisa mereka lalui bersama, Kyuhyun akan memanggil gadis itu untuk menemuinya setelah aktivitasnya selesai atau Kyuhyun yang akan datang menemui gadis itu meskipun hanya beberapa menit. ‘Pokoknya kau harus menemuiku dulu!’ atau ‘Aku akan menemuimu sekarang!’ adalah kata-kata yang sering diucapkan Kyuhyun kepada Hyejin.
Puk. Hyejin menepuk pelan punggung Kyuhyun. “Kenapa bengong? Ayo pulang. Aku lapar,” kata Hyejin berjalan mendahului Kyuhyun.
Kyuhyun menatap punggung Hyejin yang perlahan menjauhinya. “Appa, apa betul aku jatuh cinta? Apa kau sependapat dengan nuna?” tanya Kyuhyun dalam hati.
Hyejin menengok ke belakang dan menemukan Kyuhyun yang masih berdiri di tempatnya sambil tersenyum kepadanya. “Kenapa malah senyum-senyum? Ayo pulang. Aku lapar,” ajak Hyejin sekali lagi.
Kyuhyun menghampiri Hyejin dan kemudian menyerahkan kunci mobilnya kepada gadis itu. “Kau yang menyetir. Aku lelah. Begitu sampai nanti, kau harus buat sup dan daging asap. Aku ingin makan yang hangat-hangat. Arraseo?” kata Kyuhyun dengan santai. Sudah menjadi kebiasaannya memperlakukan Hyejin sesuka hatinya.
“Ne, tuan suka-suka. Tapi nanti kau yang cuci piring.”
“Tidak mau. Aku mau tidur.” Kyuhyun berjalan dengan santai menuju mobilnya.
“Heish,” gerutu Hyejin sambil mengikuti Kyuhyun.
—-
Kyuhyun meyeruput kuah sup iga sapi-nya dan mendesah nikmat. “Enak. Gomawo, Hye.”
“Cheonmaneyo. Jangan lupa kau yang cuci piring.”
“Baiklah. Tapi aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan untukmu yang harus kau jawab dengan benar.”
“Apa?”
“Apa kau pernah jatuh cinta?” tanya Kyuhyun dengan serius. “Seumur aku mengenalmu, kau tidak pernah punya pacar. Aku rasa aku satu-satunya pria yang dekat denganmu.”
Hyejin menganggukkan kepalanya dengan tenang. “Memang. Gara-gara kau makanya tidak ada pria yang mendekatiku. Sedangkan kau selalu saja dikerubuti wanita meski aku ada di sebelahmu. Dunia ini tidak adil.”
Kyuhyun tertawa. “Justru kau harus bangga. Berarti sahabatmu ini punya karisma.”
Hyejin mencibirkan bibirnya. “Apa lagi pertanyaanmu? Aku memperbolehkanmu bertanya bukan memuji diri sendiri.”
“Heiiish. Kau itu belum menjawab pertanyaanku tahu. Kau pernah jatuh cinta tidak?”
“Pernah.”
Kyuhyun merasa dunianya berhenti sebentar saat ia mendengar jawaban bahwa Hyejin pernah jatuh cinta. Perasaan kaget bercampur kesal sekaligus ingin tahu berkecamuk di hatinya. “Oh ya? Dengan siapa? Apa aku boleh tahu orangnya? Apa kau masih mencintai pria itu?”
“Pertanyaanmu banyak sekali sih.”
“Gitu aja ngambek. Sudah, jawab saja.”
“Masih. Aku akan memberitahumu siapa orangnya kalau aku sudah siap. Apa masih ada pertanyaan lain?” tanya Hyejin.
Kyuhyun menggeleng. Seluruh kebahagiaannya serasa raib termakan rasa sakit yang menusuk-nusuk hatinya. Dadanya terasa begitu sesak. “Aku…aku tidak tahu sama sekali. Selama kita bersahabat, ternyata aku tidak tahu segalanya tentangmu. Padahal kau mengetahui segalanya tentangku,” kata Kyuhyun pelan.
Hyejin mengernyitkan dahinya melihat Kyuhyun yang tiba-tiba berubah 180 derajat. “Kau kenapa jadi melankolis, Kyu? Cepat cuci piring sana. Setelah itu baru kau boleh pulang,” perintah Hyejin dengan santai, seperti biasa yang mereka lakukan sehari-hari.
Kyuhyun tidak menjawab. Ia malah berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi meninggalkan Hyejin. “Aku mau pulang. Jangan hubungi aku lagi,” kata Kyuhyun dingin membuat dahi Hyejin semakin mengernyit.
“Kenapa dia?” gumam Hyejin dengan bingung.
—-
Hyejin bolak-balik menatap smartphone-nya di sela-sela jam mengajarnya. Sama sekali tidak ada sms, telepon ataupun pesan dari Kyuhyun yang biasanya selalu menghiasi smartphone Hyejin minimal sejam sekali. “Kemana bocah itu? Haissh!” gerutu Hyejin kesal. Bolak-balik ia menelepon tapi tidak ada satupun panggilan yang diangkat oleh Kyuhyun. Hyejin juga meninggalkan beberapa pesan untuk Kyuhyun tapi tidak ada yang dibalas satu pun.
Hei, kau dimana? Kenapa tidak mengangkat teleponku?
Yaaa! Kenapa tidak membalas pesanku. Kau dimana?
Aku sudah selesai mengajar. Aku akan langsung menemuimu.
Hyejin mendatangi ruangan Kyuhyun tapi tidak menemukan Kyuhyun di sana. Ruangan itu kosong bahkan mungkin tidak terjamah dari pagi. “Apa Kyu tidak masuk kantor hari ini?” tanya Hyejin kepada salah satu sekretaris Kyuhyun yang baru muncul dari ruang berkas.
“Tadi masuk sebentar lalu langsung pergi lagi. Apa dia tidak bilang padamu mau pergi kemana?” balas sekretaris Kyuhyun itu. Hyejin menggelengkan kepala. “Telepon saja atau sms,” kata sekeretaris itu lagi.
“Sudah,” jawab Hyejin lemas.
“Coba saja lagi.”
Hyejin pun kembali menghubungi nomor Kyuhyun tapi tidak ada yang diangkat. “Aku sudah mencoba menghubunginya berkali-kali tetapi tidak ada respon. Apa dia sakit ya? Dia baik-baik saja tadi?” tanya Hyejin. Sekretaris itu mengangguk.
Hyejin mulai dilanda kepanikan sehingga otaknya tidak dapat bekerja dengan baik. Ia begitu cemas memikirkan Kyuhyun. Beberapa pesan ia kirimkan kepada Kyuhyun.
Kyu, kata sekretarismu kau masuk sebentar. Kau dimana sekarang? Apa kau sehat-sehat saja?
Aku mencemaskanmu. Aku mohon balas pesanku. Kau baik-baik saja kan?
Kyu,berhentilah main-main. Apa yang terjadi padamu?
Sekretaris Kyuhyun menangkap ekspresi Hyejin yang sangat cemas. “Apa kau sudah menghubungi keluarganya? Mungkin saja Kyuhyun pergi bersama keluarganya?”
“Kau benar. Aku akan menghubungi Ahra eonni sekarang,” kata Hyejin kemudian menelepon kakak perempuan Kyuhyun.
“Yoboseyo, Hyejin-ah. Ada apa?” sahut kakak perempuan Kyuhyun dengan lembut.
“Yoboseyo, eonni. Apa Kyuhyun sedang bersamamu? Ia tidak ada di sekolah. Aku telepon tidak diangkat, aku kirim pesan juga tidak dibalas,” kata Hyejin terdengar sangat cemas.
“Dia sedang rapat di Incheon. Apa dia tidak mengabarimu?”
“Tidak sama sekali.”
“Nappeun namja. Nanti aku akan mengabarimu kalau dia sudah pulang. Nanti kau datang saja ke rumah untuk menghajarnya. Tidak usah cemas. Oke?”
“Baiklah. Terima kasih banyak eonni. Nanti jangan lupa langsung kabari aku kalau Kyuhyun sudah pulang ya.”
“Tentu saja. Kalau kelasmu sudah selesai, langsung saja ke rumah ya. Sampai jumpa.”
“Jeongmal gomawoyo. Sampai jumpa, eonni.”
Sekretaris Kyuhyun menatap Hyejin dengan penasaran. “Apa dia bersama keluarganya?” tanyanya.
Hyejin menggeleng tapi kali ini dengan perasaan lega. “Kyuhyun ada rapat di Incheon. Nanti sore baru pulang. Aku saja yang terlalu cemas. Terima kasih banyak, Minri-ssi. Aku mau kembali mengajar. Sampai jumpa.”
Sekretaris Kyuhyun yang bernama Minri itu tersenyum. “Cheonmaneyo. Selamat bekerja kembali. Sampai jumpa, Hyejin-ssi,” balas Minri. Hyejin pun meninggalkan ruangan Kyuhyun untuk kembali mengajar, membiarkan dahi Minri yang berkerut bingung. “Rapat di Incheon? Kok aku tidak tahu? Perasaan aku yang mencatat semua jadwal tuan Cho.”
—-
Dengan gemas, Ahra memandang adik laki-lakinya yang sedang santai berbaring di sofa sambil bermain PSP kesayangannya. Tangannya yang sudah memegang bantal sofa tidak tahan lagi untuk tidak melempar benda empuk itu ke wajah Kyuhyun. “Auww nuna! Kenapa kau melempar bantal itu kepadaku? Aku jadi kalah kan?” protes Kyuhyun.
“Kau yang kenapa?! Kenapa kau tidak mengabari Hyejin kalau kau tidak masuk? Kenapa kau tidak mengangkat teleponnya? Kenapa pesan-pesannya tidak kau balas? Hah? Aku jadi harus berbohong pada Hyejin kan?” omel Ahra beruntun.
“Kenapa nuna harus berbohong pada Hyejin? Katakan saja yang sebenarnya,” sahut Kyuhyun cuek dan kembali sibuk dengan PSP-nya.
Ahra merebut PSP Kyuhyun kemudian melemparnya sampai benda itu berada di bawah rak tv. “Nunaaa! PSP-ku!” seru Kyuhyun kaget melihat nasib mainan kesayangannya itu.
“Ada apa sebenarnya dengan kau dan Hyejin? Kalian sedang ada masalah kan?” todong Ahra tanpa basa-basi.
“Bersahabat ada masalah, biasa kan? Nuna pun sering ribut dengan teman-teman nuna.”
“Iya tapi ini tidak seperti biasanya. Kalau kalian sedang ada masalah biasanya kalian akan saling berteriak di telepon, menyalahkan satu sama lain, saling keras kepala tapi tidak lama kalian akan kembali baik-baik saja. Sekarang berbeda. Kau menghindari Hyejin. Apa yang sebenarnya terjadi?” Ahra menuntut Kyuhyun untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
Kyuhyun menghela nafas panjang. “Sebenenarnya aku malas sekali bercerita padamu, nuna tapi pasti kau akan terus menuntutku untuk bercerita. Haiiish. Kemarin malam aku baru tahu bahwa Hyejin memiliki seorang pria yang dia cintai. Parahnya, ia tidak mau memberi tahu kepada siapa ia jatuh cinta. Belum siap katanya. Rasanya sangat menyakitkan mengetahui sahabat sendiri jatuh cinta setelah hampir seumur hidup bersahabat. Dadaku sesak saat mendengarnya kemarin malam. Aku menyuruh Hyejin untuk tidak menghubungiku lagi.”
“Sejak kapan Hyejin jatuh cinta?”
“Entah. Aku tidak ingin tahu.”
“Kau merasa sakit hati? Lalu kau marah? Karena itu kau menghindarinya?”
“Aku merasa dibohongi.”
Pletak! Ahra menjitak kepala Kyuhyun dengan gemas. “Biar aku luruskan perasaanmu itu ya, adik bodoh. Kau jatuh cinta pada Hyejin. Kau sakit hati mendengar Hyejin jatuh cinta karena ia bukan jatuh cinta padamu. Kau sudah melangkah lebih jauh dari persahabatan kalian. Kalau kau memang sungguh-sungguh bersahabat dengan Hyejin, kau justru akan senang dan mendukungnya. Kau itu patah hati. Paham?”
Kyuhyun tertawa. “Tidak mungkin. Aku masih bisa mempertimbangkan kalau aku jatuh cinta tapi kalau aku patah hati? Tidak mungkin. Mustahil.”
Ahra tersenyum. “Kalau gitu, apa saja yang akan kau lakukan agar Hyejin jatuh cinta padamu hum?”
“Maksud nuna?”
“Babo dongsaeng! Kau kan jatuh cinta pada Hyejin tapi ia jatuh cinta pada pria lain. Siapapun pria itu, kau harus bisa buat Hyejin berpaling darinya dan jatuh ke pelukanmu. Iya kan? Nah agar Hyejin jatuh ke pelukanmu, apa yang akan kau lakukan?”
Kyuhyun mengangkat bahunya dengan pasrah.
Sebuah jitakan dari jari tangan Ahra kembali mendarat di kepala Kyuhyun. “Katakan dan buktikan. Semudah itu. Jangan sampai kau menyesal.”
—-
Pintu kamar Kyuhyun dibuka membuat Kyuhyun yang baru setengah terlelap kembali sadar. Ia menyipitkan mata dan menyadari bahwa Hyejin yang baru saja membuka pintu kamarnya. “Apa kau sudah tidur, Kyu?” suara Hyejin memenuhi telinga Kyuhyun. Secepat kilat, Kyuhyun kembali menutup matanya, pura-pura terlelap.
Hyejin duduk di pinggir tempat tidur Kyuhyun sambil mengelus kepala pria muda itu dengan lembut. “Senang melihatmu kembali tapi tampaknya kau sangat lelah. Baru jam 8 malam dan kau sudah terlelap. Payah,” ucap Hyejin yang terdengar jelas oleh Kyuhyun. “Kenapa kau tidak mengabariku? Aku sangat mencemaskanmu tahu! Kau tahu rasanya tidak ada dirimu? Sangat tidak enak. Membosankan. Awas kalau kau mengulanginya lagi. Lebih baik kalau kita saling berteriak.”
Hyejin terus berbicara dan Kyuhyun mencoba untuk tidak bergerak agar Hyejin tidak tahu bahwa ia sedang pura-pura tidur. “Kata Ahra eonni kau marah padaku. Kenapa kau marah? Apa aku ada salah bicara padamu?”
“Kyu, bangunlah. Tega sekali kau biarkan aku bicara sendirian seperti ini. Yaa, Cho Kyuhyun!” Hyejin memukul lengan Kyuhyun agar pria itu terbangun tapi Kyuhyun tetap pura-pura terlelap.
Kyuhyun bertahan untuk terlelap, meskipun itu hanya pura-pura, karena jika ia terbangun, ia tidak berani menjamin Hyejin bisa pulang malam ini. Kyuhyun pasti akan menahan Hyejin untuk menemaninya. Seluruh saraf dalam tubuhnya sudah berteriak bahwa ia sangat merindukan Hyejin. Tidak sampai satu hari bertemu sudah sangat menyiksa untuk Kyuhyun.
“Ya sudah kalau tidak mau bangun. Tidurlah yang nyenyak. Sampai jumpa besok, Kyuhyun-ah,” kata Hyejin sambil bangkit berdiri.
Hyejin baru melangkah satu kali saat tangannya disentuh dengan sesuatu yang bersuhu sama dengan tangannya. Hyejin berbalik dan melihat mata Kyuhyun yang terbuka lebar memandangnya. “Kajima. Tetaplah bersamaku,” ucap Kyuhyun mengagetkan Hyejin.
Hyejin nyaris saja terjatuh ke lantai kalau Kyuhyun tidak cepat-cepat menarik Hyejin. Hyejin terjatuh ke pangkuan Kyuhyun membuat Kyuhyun merenggangkan kakinya sehingga Hyejin dapat duduk dengan nyaman. “Maafkan aku. Jeongmal mianhamnida,” ucap Kyuhyun pelan, nyaris berbisik.
“Apa kau masih marah padaku?” tanya Hyejin.
“Tidak. Aku yang salah tapi aku lampiaskan padamu. Maafkan aku ya?” Kyuhyun mendekati Hyejin dan kemudian memeluk gadis itu. “Aku berjanji tidak akan mengulanginya. Maafkan aku.”
Hyejin sedikit gemetar. Air mata mengalir membasahi kedua pipinya. “Kenapa kau menangis? Aku yang salah. Aku minta maaf ya?” tanya Kyuhyun bingung.
“Aku pikir kau akan benar-benar meninggalkanku. Aku takut.”
Kyuhyun tersenyum sambil menepuk-nepuk kepala Hyejin dengan lembut. “Tidak mungkin aku meninggalkan satu-satunya sa…” Kata ‘sahabat’ tercekat di tenggorokan Kyuhyun, rasanya sangat berat mengatakan kata itu saat ini. Perasaannya saat ini menganggap Hyejin bukan lagi sahabat tapi gadis yang dicintainya. “Gadis yang aku cintai, maksudku.”
“Huh?” Hyejin mengernyitkan dahinya dengan bingung dan air matanya yang sudah sedikit mengering.
Kyuhyun tidak sanggup lagi menutupi semuanya. Perasaannya terucap begitu saja. ‘Katakan dan buktikan’ seperti yang disarankan oleh kakak perempuannya. “Aku jatuh cinta padamu. Itu sebabnya dari kemarin malam aku menghindarimu. Aku marah karena kau mencintai pria lain, bukan diriku. Aku sakit hati. Sesimpel itu tapi aku membuatnya jadi serumit ini. Mianhe.”
“Maksudmu bagaimana? Aku tidak mengerti, Kyu.”
Kyuhyun mencubit hidung Hyejin dengan gemas. “Aku mencintaimu, lebih dari sahabat. Itu poin pertama. Sudah mengerti?”
Hyejin kembali mengernyitkan dahinya. “Kau mencintaiku? Bagaimana bisa?”
“Aku juga tidak tahu. Namanya juga cinta, bisa datang kapan saja. Poin kedua, aku tahu kau mencintai pria lain tapi itu tidak masalah buatku. Aku akan tetap mendekatimu. Kau tahu aku tidak bisa meninggalkanmu dan aku ini agresif, keras kepala, ….”
“Semaunya sendiri, tidak bisa dilarang, pemaksa. Aku tahu semuanya. Tenang saja.”
Kyuhyun menyengir senang. “Jadi sebaiknya kau bersiap-siap. Aku mungkin akan membuat hidupmu lebih menyenangkan.”
“Lebih merepotkan maksudmu?” tanya Hyejin. Kyuhyun tersenyum jahil. “Asal kau yang mencuci piring setiap kita selesai makan di apartemenku, aku bisa mempertimbangkannya,” lanjut Hyejin.
“Urusan kecil. Tidak usah khawatir.”
—–
Cho Kyuhyun
Kau dimana?
Song Hyejin
Ruangan. Sedang mengoreksi ujian. Kau kesini saja.
Cho Kyuhyun
Baiklah. Aku kesana 5 menit lagi. TUNGGU AKU!
Song Hyejin
Ne.
Hyejin mengoreksi ujian-ujian muridnya sambil tersenyum sendiri, membayangkan Kyuhyun yang sebentar lagi akan datang untuk menjemputnya. “Kenapa kau senyum-senyum sendiri hum? Apa ini mengenai laki-laki?” tegur Junsu, salah satu rekan kerja Hyejin yang duduk di sebelah Hyejin.
“Kau sedang jatuh cinta, hum?” tanya Junsu.
Hyejin menggedikkan bahunya. “Entah, aku tidak tahu. Tapi yang pasti aku senang dia ternyata mencintaiku.”
“Siapa? Sahabatmu itu?”
Hyejin mengangguk sambil mengulum senyumnya. “Bagaimana kau bisa tahu?”
“Kau gampang ditebak, Hyejin-ah. Apa yang dia lakukan sampai kau senyum-senyum sendiri seperti orang gila begitu?” tanya Junsu.
“Dia bilang dia mencintaiku. Lebih dari sahabat,” jawab Hyejin tanpa mengurangi senyum kebahagiaan yang terus muncul di wajahnya itu.
“Hanya seperti itu dan kau senyum-senyum sendiri seharian seperti orang gila?”
Hyejin mengangguk. “Aku juga tidak mengerti. Seumur hidup aku hanya mengenal dua laki-laki, ayahku dan Kyuhyun. Ayahku pasti mencintaiku dan tidak akan meninggalkan aku, aku tidak perlu mengkhawatirkannya. Sedangkan Kyuhyun, mungkin akan meninggalkanku jika ia jatuh cinta pada gadis lain. Kau tahu? Aku tidak suka ditinggalkan. Jadi mungkin kalau ia sungguh-sungguh mencintaiku dan serius denganku, aku bisa mencintainya.”
“Lalu bagaimana jika ada seorang pria datang kepadamu, yang sungguh-sungguh mencintaimu, serius denganmu, datang mengatakan bahwa ia mencintaimu? Dan kau jatuh cinta pada pria itu. Apa kau akan meninggalkan Kyuhyun?”
“Aku tidak mungkin meninggalkan Kyuhyun. Kau tahu, aku tidak bisa hidup tanpanya.”
“Karena kau belum pernah jatuh cinta, Song Hyejin.”
“Kim Junsu, kau membuatku pusing.”
“Kau terlalu sibuk dengan sahabatmu sampai kau melupakan dirimu sendiri. Kau tidak memberikan dirimu kesempatan untuk mengenal pria selain Kyuhyun. Bagaimana jika Kyuhyun mencintai wanita lain? Ia pasti akan meninggalkanmu dan kau akan sendirian. Tidak ada laki-laki yang mau bersamamu karena kau akan membandingkan mereka dengan Kyuhyun. Tidak ada manusia yang suka dibanding-bandingkan.”
Senyum Hyejin saat itu juga menghilang digantikan kerutan-kerutan di keningnya. Sebuah pemikiran muncul di benaknya. “Aku akui kau benar. Tapi itu semua sudah terlambat. 24 tahun aku hidup, pria di dalam hidupku selain appa hanyalah Kyuhyun. Ia yang selalu bersamaku sejak aku lahir sampai saat ini. Ia pria yang selalu aku lihat. Ia sahabatku, oppa-ku, lawan jenis yang selalu kuharapkan bisa menjadi pasangan hidupku. Entah bagaimana aku mencintainya. Aku tidak bisa membiarkannya pergi dari hidupku. Kalau ia mencintaiku, itu takdirku.”
“Kau harus meyakini perasaanmu dan perasaannya sebelum kalian melangkah lebih jauh. Kalau tidak, salah satu dari kalian bisa hancur begitu juga dengan persahabatan kalian.” Hyejin terdiam. “Kyuhyun datang,” kata Junsu sambil menunjuk Kyuhyun yang baru masuk ke ruangan itu sambil tersenyum.
“Hei, Kyu,” sapa Junsu ramah.
“Hei, Jun. Belum pulang?” tanya Kyuhyun.
Junsu mengetuk-ngetuk tumpukkan kertas dengan pulpen yang dipegangnya. “Masih harus mengoreksi ujian para siswa. Kau mau menjemput Hyejin?”
“Ne. Seperti biasa,” kata Kyuhyun. “Hyejin-ah, ppaliwa.”
“Sebentar.” Selesai Hyejin mengunci tasnya, ia menghampiri Kyuhyun. “Kajja.”
“Jun, kami duluan ya. Sampai jumpa,” kata Kyuhyun.
“Sampai jumpa, Jun,” lanjut Hyejin.
“Silahkan. Sampai jumpa,” balas Junsu.
—-
Hyejin diam sepanjang perjalanan, meski Kyuhyun melempar lelucon-lelucon yang sangat lucu. “Kenapa kau diam saja dari tadi? Kau sakit?” tanya Kyuhyun yang menyadari perbedaan sikap Hyejin. Hyejin menggelengkan kepalanya. “Lalu kenapa? Biasanya kau ribut sekali. Apa ada masalah?” tanya Kyuhyun lagi.
Hyejin menghela nafas panjang. “Apa kau benar-benar mencintaiku, Kyu?” tanya Hyejin akhirnya, setelah pertanyaan itu menggantung sekian lama di pikirannya.
Tanpa ragu, Kyuhyun menganggukkan kepalanya. “Aku mencintaimu. Wae?”
“Bagaimana kalau suatu saat aku jatuh cinta pada pria lain dan pergi meninggalkanmu atau sebaliknya, kau jatuh cinta pada wanita lain dan pergi meninggalkanku?” tanya Hyejin pelan dan tanpa ia sadari air matanya mulai menetes.
Kyuhyun memberhentikan mobilnya di tepi jalan hanya untuk mendekap Hyejin dan memberikan gadis itu ketenangan. “Kau terlalu banyak berpikir. Tidak ada yang tahu bagaimana masa depan kita. Yang aku tahu, masa depan itu bergantung pada apa yang kita lakukan sekarang. Saat ini, aku mencintaimu dan aku tidak akan meninggalkanmu. Kalau kau bisa melakukan hal yang sama denganku, aku rasa tidak ada yang perlu kau khawatirkan soal masa depan. Kita akan selalu bersama. Mudah kan?”
“Kau tidak takut?” tanya Hyejin.
“Tidak ada yang perlu ditakutkan. Tuhan pasti memberikan jalan hidup yang terbaik untuk kita. Sudah, jangan menangis. Buktinya sekarang, meski kau mencintai pria lain toh aku tetap di sini. Memelukmu pula,” kata Kyuhyun sambil tertawa cengengesan.
Hyejin tertawa. Perasaannya terasa lebih ringan. Dadanya yang semula terasa seperti terhimpit, sekarang terasa lebih leluasa. Ia bisa bernafas lebih lancar. “Aku tidak bisa kehilanganmu, Kyu. Pasti akan terasa sangat menyakitkan jika tidak ada kau.”
Kyuhyun terkekeh. “Aku tahu. Makanya kau jatuh cinta saja padaku lalu kita menikah. Sampai maut yang memisahkan kita, kau tidak akan kehilanganku. Bagaimana?”
Hyejin mendorong Kyuhyun menjauh sepanjang tangannya dan membuat kedua mata mereka bisa saling menatap. “Kau melamarku?” tanya Hyejin.
Sambil tersenyum, Kyuhyun menganggukkan kepalanya. “Kalau kau tidak keberatan, kita bisa saja menikah besok. Aku bisa menunggu kata-kata cintamu setelah kita menikah yang penting kau mau hidup bersamaku.”
“Payah. Tidak romantis. Aku akan berpikir berkali-kali jika cara melamarmu seperti itu. Haiisssh.”
“Cerewet. Ayo kita kembali jalan. Kau sudah menunda jam makan malamku beberapa menit tahu.” Kyuhyun lalu kembali menyalakan mobilnya dan mengemudikannya ke sebuah restoran kesukaannya dan juga Hyejin.
“Hye,” panggil Kyuhyun setelah ia selesai menelan sesendok makan malam kesukaannya.
“Hum?” sahut Hyejin cuek karena ia begitu menikmati makan malamnya.
“Apa aku boleh tahu siapa pria yang saat ini kau cintai? Humm… Anggap saja aku sahabatmu. Kau biasa bercerita segalanya padaku kan?” tanya Kyuhyun. “Aku tidak akan sakit hati. Percayalah.”
“Appa,” jawab Hyejin dengan santai sambil mengambil daging dari piring Kyuhyun.
“Apa katamu?” tanya Kyuhyun.
“Appa. Pria yang aku cintai itu Appa. Kenapa? Wajar kan? Every daughter’s first love is her daddy, right?”
Kyuhyun meletakkan sendoknya di meja makan sambil menghela nafas panjang. Perasaan lega, kesal bercampur senang membuncah dalam dirinya membuat ia ingin sekali menarik gadis di hadapannya dan menciumnya saat itu juga. “Nappeun yeoja! Yaaa! Haish… Kupikir kau mencintai pria lain, sampai kau membuatku kesal setengah mati. Ternyata pria itu appa-mu? Heh? Kau mengerjaiku hah?”
“Kau saja yang bodoh. Tidak menganalisa lebih dalam omonganku.”
“Yaa Song Hyejin!”
“Wae?”
“Kau harus dihukum!” Kyuhyun berdiri dari tempat duduknya dan kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Hyejin sehingga wajah kedua manusia itu berjarak sangat dekat. “Aku akan menciummu dan aku tidak terima penolakan.”
Kyuhyun mendaratkan bibirnya di bibir Hyejin dan mengulum bibir gadis itu memaksa Hyejin segera menelan makanannya. “Rasa daging. Lain kali aku mau rasa yang manis,” komentar Kyuhyun saat melepaskan kontak antar indera mereka dan kembali duduk.
“Yaa Cho Kyuhyun! Ini tempat umum! Dan kau mengambil ciuman pertamku. Haiiiish!” protes Hyejin sambil melempar serbet makannya kepada Kyuhyun.
“Tapi kau suka kan?” goda Kyuhyun.
Hyejin mendecak kesal. Hyejin bukan tidak suka ciuman Kyuhyun, buktinya Hyejin balas mencium Kyuhyun meskipun tidak lama. Hyejin tidak suka bahwa ciuman pertamanya dilakukan di restoran dan bukan di tempat lain yang lebih romantis. “Jika di tempat yang lebih sepi, ciumannya pasti akan berlangsung lebih lama dan lebih menyenangkan,” pikir Hyejin.
—-
Kyuhyun menggandeng Hyejin dan bercerita bahwa kakak perempuannya baru saja menertawakan Kyuhyun yang cemburu pada appa Hyejin. “Dia membodohiku habis-habisan. Katanya aku bodoh karena tidak memastikannya kepadamu,” kata Kyuhyun sambil berjalan membeli bahan-bahan makanan di pasar.
Hyejin tertawa. “Untung kau tidak sampai bunuh diri,” kata Hyejin.
“Apa?! Bunuh diri hanya karenamu?! Tidak akan mungkin lah yaaaaa…”
Hyejin kembali tertawa. “Ahjumaa, aku minta cumi setengah kilo dan udang setengah kilo. Lalu ikan tuna seperempat kilo. Sedangkan ikan-ikan lain seperti biasa masing-masing lima,” kata Hyejin kepada bibi penjual. “Ah, satu lagi aku minta daging sapi sekilo, daging ayam sekilo dan daging babi setengah kilo. Dagingnya saja ya, ahjuma. Jangan lemak-lemaknya.”
“Ne,” sahut bibi penjual sambil menyiapkan semua belanjaan Hyejin.
“Yaaa, banyak sekali belanjaanmu. Memang buat apa?” tanya Kyuhyun terkejut melihat pesanan Hyejin yang sangat banyak.
“Kau lupa makanmu itu banyak sekali? Hah? Kau harus menaikkan gajiku tahu. Pengeluaranku itu sama untuk pengeluaran dua orang tahu?”
Kyuhyun menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan malu. Ternyata Hyejin belanja bahan makanan untuk makan dirinya karena selama ini Kyuhyun selalu makan di rumah Hyejin. “Sini aku bawakan,” kata Kyuhyun sambil mengambil belanjaan Hyejin dari bibi penjual itu.
“Kamsahamnida, ahjumma,” kata Hyejin sambil membayar belanjaannya.
“Kamsahamnida, ahjumma,” tambah Kyuhyun lalu kembali berjalan bersama Hyejin. “Sekarang kita kemana?”
“Beli sayur-sayuran,” jawab Hyejin kemudian berhenti di tukang penjual sayur.
“Tapi aku tidak suka makan sayur, Hyejin-ah,” ujar Kyuhyun yang memang sangat membenci Kyuhyun.
Hyejin tertawa. “Kalau kau masih mau makan di apartemenku, kau harus mengikuti aturanku. Mulai nanti, kau harus makan sayur-sayuran. Tidak ada penawaran. Titik!”
“Tapi setelah itu aku boleh menciummu kan?” bisik Kyuhyun membuat sebuah pukulan keras mendarat di lengan tangannya. “Auuww! Sakit, Hyejin-ah!”
“Dasar laki-laki mesum. Kau tidak akan pernah mendapatkannya.”
Kyuhyun mempoutkan bibirnya, mengejek Hyejin. “Payah. Gitu saja dibilang mesum. Teman-temanku saja hampir tiap hari bercinta dengan pacarnya masing-masing. Masa aku ciuman saja tidak boleh?”
Kali ini sebuah cubitan mendarat di perut Kyuhyun. “Yaa Cho Kyuhyun. Kenapa otakmu jadi mesum begitu hah? Memangnya aku pacarmu?”
“Bukan. Kau itu sahabatku, calon istriku. Jadi wajar kan kalo aku mencium calon istriku?”
“Memangnya aku mau menikah denganmu?”
“Mau tidak mau. Kau kan tidak punya pilihan lain. Memang kau mau menjadi perawan tua?”
“Memang kau sudah mendapat izin dari orang tuaku?”
“Tidak masalah. Aku akan ke Kanada sekarang juga kalau perlu untuk memintamu menjadi istriku.”
Hyejin menghela nafasnya. “Dasar keras kepala.”
“Memang. Sudah tahu dari dulu masih komentar lagi. Sudah selesai belanjamu? Biar kita segera kembali. Aku sudah lapar.”
“Kau ini tahunya makaaaan terus. Pantesan kau makin gemuk.”
“Hei, aku juga tahu caranya mencintai seorang wanita ya. Kau merasakannya kan? Buktinya kau juga makin gemuk. Itu pasti karena kau selalu memakan cintaku. Iya kan?”
Hyejin menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pasrah. “Kau harus segera diberi makan. Otakmu sudah tidak normal. Mengerikan,” kata Hyejin kemudian berjalan kembali ke apartemennya. Kyuhyun mengiringi di sampingnya dengan tangan kanan membawa belanjaan Hyejin sedangkan tangan kirinya menggandeng tangan Hyejin.
“Aku tidak akan melepaskanmu,” ucap Kyuhyun pelan membuat Hyejin tertawa senang dalam hati. Perasaannya begitu berbunga-bunga tapi ia begitu pintar menyembunyikannya sehingga yang Kyuhyun lihat hanyalah wajah datar Hyejin yang tidak bereaksi apapun.
—–
Hyejin sedang tertawa sambil menikmati es krim coklatnya ketika seorang gadis tiba-tiba datang dan memeluk Kyuhyun dari belakang. Tidak hanya itu, gadis itu mencium Kyuhyun dengan mesra. “Kyuhyun-ahhh… Apa kabar? Lama tidak bertemu. Aku sangat merindukanmu,” seru gadis itu memekakkan telinga.
“Vic eonni,” ucap Hyejin saat menyadari siapa gadis itu. Victoria, mantan pacar Kyuhyun yang pertama sekaligus terakhir. Hyejin tahu betapa Kyuhyun mencintai gadis itu dulu.
“Victoria,” ucap Kyuhyun menyadari orang yang sama. “Kapan kau kembali ke Korea?”
“Baru seminggu lalu. Aku tidak menyangka akan bertemu kau secepat ini. Kau makin tampan ya? Siapa pacarmu sekarang?” tanya Victoria sambil bergelayut manja di lengan Kyuhyun. Kyuhyun menunjuk Hyejin.
Victoria berpaling pada Hyejin dan menatap tidak suka, seperti biasa dia menatap Hyejin dari dulu. “Hai, Hye. Apa kabar? Kau masih bergantung pada Kyuhyun?” tanya Victoria dengan sinis.
Hyejin tersenyum dan mencoba membalas dengan seramah mungkin. “Hei, unni. Apa kabar? Bagaimana kuliahmu di Beijing?”
“Sudah selesai. Makanya aku kembali ke Seoul,” jawab Victoria. “Kyu, kalau kau terus bersama gadis ini, kau tidak akan dapat-dapat pacar. Bagaimana kalau kembali padaku?”
Deg! Jantung Hyejin seperti tertimpa batu besar dan menyulitkannya untuk bernafas. Hal ini tidak pernah terpikir olehnya. Bagaimana jika wanita yang pernah dicintai Kyuhyun datang kembali ke kehidupan Kyuhyun? Dadanya terasa sangat sesak.
“Aku akan menikah, Vic.”
Mata Victoria membesar menatap Kyuhyun dengan tidak percaya. “Jinjja? Calon istrimu tidak marah kau bersama sahabatmu ini? Kalian pasti jadi sering berantem karena sahabatmu ini kan? Kayak kita dulu. Hampir tiap hari bertengkar hanya karena gadis ini. Iya kan?”
“Victoria,” tegur Kyuhyun agar ia tidak meneruskan kata-katanya. Kyuhyun tahu betul jenis mulut yang dimiliki Victoria. Ceplas-ceplos, sesuka hatinya dan tidak peduli perasaan orang.
“Aku berbicara kenyataan, Kyu. Sahabatmu ini selalu saja jadi pengganggu hubunganmu. Kau tidak akan pernah bisa menikah jika ia selalu berada di dekatmu.”
“Vic, sudahlah.”
Hyejin tidak sanggup lagi. Mendengar perkataan Victoria membuat dadanya makin sesak. Hatinya terasa semakin sakit seperti ditusuk pisau berkali-kali. Air matanya hampir tumpah kalau ia bertahan lebih lama di tempat itu. “Kyu, aku duluan. Sampai jumpa nanti,” kata Hyejin kemudian bangkit berdiri meninggalkan Kyuhyun dengan Victoria.
Kyuhyun bangkit berdiri untuk menyusul Hyejin tapi Victoria menahannya untuk kembali duduk. “Lebih baik kau menceritakan segala sesuatunya selama aku tidak di dekatmu,” kata Victoria. “Kau juga bisa menceritakan rencana pernikahanmu. Walaupun aku akan sedikit patah hati. Aku kan kembali untukmu.”
Kyuhyun mendesah kesal. Tangannya ia kibaskan agar terlepas dari tangan Victoria. “Aku akan menikah dengan Hyejin. Dia calon istriku. Dan kau sudah membuat calon istriku pergi. Puas? Sekarang, aku permisi!” bentak Kyuhyun kemudian pergi keluar menyusul Hyejin.
Victoria menatap kepergian Kyuhyun dengan tidak percaya. ‘Aku akan menikah dengan Hyejin. Dia calon istriku. Dan kau sudah membuat calon istriku pergi. Puas?’ Victoria nyaris terjatuh dari kursinya saking kaget mendengar pengakuan Kyuhyun. “Yaa Cho Kyuhyun! Kau pasti berbohong padaku! Yaaa!” seru Victoria kesal.
—–
Saat ini Hyejin sedang berada dalam taksi menuju bandara sambil menangis karena hanya itu yang bisa ia lakukan untuk mengimbangi perasaan sakit hatinya yang luar biasa. “Kalau kau benar-benar mencintaiku harusnya kau bilang padanya bukan diam saja, Kyu,” gumam Hyejin. Smartphone Hyejin berulang kali berbunyi karena Kyuhyun yang berulang kali meneleponnya tapi tidak ada satupun yang diangkat oleh Hyejin. “Maafkan aku, Kyu. Tampaknya aku tidak bisa bersamamu.” Air mata Hyejin mengalir lebih deras.
To : Eomma
Aku akan ke Kanada malam ini juga.
Hyejin menghela nafas panjang sebelum turun dari taksi. Air matanya sudah tidak bisa keluar lagi saking terlalu sakit yang ia rasakan. Ia bertekad akan melupakan semuanya dan memulai hidup yang baru. “Sampai jumpa, Kyu,” bisik Hyejin kepada gambar laki-laki yang menajdi wallpaper smartphonenya.
“Aku tidak punya uang tunai untuk bayar taksi. Ambil saja smartphone ini, aku sudah tidak menggunakannya lagi. Terima kasih,” kata Hyejin kemudian memberikan smartphone-nya kepada supir taksi itu dan masuk ke dalam bandara.
—–
Kyuhyun berlari sepanjang jalan sambil berteriak-teriak seperti orang gila memanggil-manggil nama Hyejin. “Hyejin-ahh! Song Hyejin! Di mana kau?” Kyuhyun terus berlari kesana kemari tanpa peduli orang sekelilingnya yang memandangnya dengan bingung. “YAAAA SONG HYEJIN!!!” Kyuhyun semakin frustasi. Kyuhyun hanya selisih satu menit untuk menyusul Hyejin tapi gadis itu sudah tidak ada saat Kyuhyun keluar.
“Kita lapor polisi saja, Kyu. Kyu….” Kata Victoria yang sudah kehabisan nafas mengikuti Kyuhyun.
Kyuhyun tidak mendengarkan. Ia terus berlari sambil memanggil-manggil nama Hyejin dan mencoba menghubunginya melalui telepon. “Yoboseyo, Hyejin-ah!” seru Kyuhyun saat panggilan entah-keberapanya tersambung.
“Yoboseyo,” sahut seorang laki-laki dari seberang sana.
“Kau siapa? Mana Hyejin?” tanya Kyuhyun mendesak, penuh kekalutan.
“Aku tidak tahu. Aku tadi mengantarkan gadis pemilik smartphone ini ke bandara. Katanya ia tidak punya uang untuk bayar taksi makanya ia memberikannya kepadaku,” jawab pria itu ketakutan.
“Hyejin pergi kemana? Kemana ia pergi?!”
“A…aku tidak tahu, tuan. Aku hanya menurunkannya di terminal keberangkatan internasional,” jawab supir taksi itu ketakutan.
“Kau dimana sekarang? Aku akan kesana sekarang,” tanya Kyuhyun.
“Aku di bandara, tuan.”
Seperti orang dikejar setan, Kyuhyun mengemudikan mobilnya menuju bandara. Ia tidak peduli dengan Victoria yang terus memanggil-manggil namanya dan menanyakan akan kemana ia pergi. Hyejin saat ini lebih penting dari apapun. Ia harus menemukan Hyejin dan membawa kembali gadis itu kepadanya. Sesampai di bandara, Kyuhyun langsung bertemu dengan supir taksi yang memegang smartphone Hyejin.
“Kamsahamnida, ahjussi,” kata Kyuhyun sambil menyerahkan uang 50,000 won kepada supir taksi itu dan menerima kembali smartphone Hyejin.
Dengan tergesa-gesa, Kyuhyun mengobrak-abrik isi smartphone Hyejin dan ia menemukan pesan terkahir yang dikirimkan Hyejin kepada eomma-nya. “Kanada. Hyejin akan kembali ke Kanada,” ucap Kyuhyun kepada dirinya sendiri. Secepat kilat, Kyuhyun berlari ke counter pembelian tiket pesawat. “Apa tadi ada seorang gadis yang membeli tiket tujuan ke Kanada?” tanya Kyuhyun. “Ciri-cirinya dia tinggi, santai, pakai kacamata. Namanya Song Hyejin.”
“Iya, tuan. Pesawatnya baru take-off 10 menit yang lalu.”
“Berikan aku tiket dengan tujuan yang sama, penerbangan paling cepat dari sekarang,” kata Kyuhyun tidak sabaran.
“Penerbangan paling cepat itu 8 jam dari sekarang dan transit di Amsterdam. Bagaimana, tuan?” kata pegawai penjualan tiket penerbangan itu.
“Penerbangan lain? Yang tidak pakai transit?”
“12 jam lagi tuan.”
“Pesankan aku yang paling cepat sampai ke Kanada. Terserah yang mana. Aku tidak punya pilihan kan?” kata Kyuhyun sambil menyerahkan identitasnya berikut kartu kreditnya.
Pegawai penerbangan itu tersenyum lalu memesankan tiket pesawat tujuan Kanada untuk Kyuhyun. “Baiklah tuan Cho. Ini tiket anda, tujuan Kanada, berangkat jam 8 pagi. Jadi maksimal jam 6 pagi Anda harus sudah check-in. Terima kasih.”
“Terima kasih kembali.”
Kyuhyun kembali ke rumah untuk menyiapkan barang-barang yang akan dia bawa ke Kanada. “Kau mau kemana, nak?” tanya eomma Kyuhyun melihat anaknya sedang mengemas barang ke dalam koper.
“Menyusul Hyejin ke Kanada. Kami ada sedikit salah paham sampai ia pergi ke Kanada. Mau tidak mau, aku harus menyusulnya ke sana. Aku harus membawanya kembali,” kata Kyuhyun sibuk mondar-mandir.
Eomma Kyuhyun tersenyum simpul. “Memang kau tahu alamat Hyejin di Kanada?” tanya eomma Kyuhyun.
Kyuhyun menepuk jidatnya menyadari kebodohannya. “Apa eomma tahu? Eomma masih sering berhubungan dengan orang tua Hyejin kan?”
Eomma Kyuhyun tertawa keras menertawakan kebodohan anaknya. “Kau kadang memang gegabah. Betul kata appa-mu. Sebentar eomma tanyakan ya, nak,” kata eomma Kyuhyun lalu menelepon seseorang. “Yoboseyo, Hyelim-ssi. Hahahaha. Ne, ini aku Hyuna. Ne, Cho Hyuna. Apa kabar kau dan suamimu di Kanada? Sudah lama sekali kita tidak bertemu ya. Hahahahaha. Ne, ne. Tentu saja. Alamat rumahmu di Kanada di mana? Aku ingin mengirimkan sesuatu untukmu. Ne, aku tunggu sms-mu. Ne. Jeongmal gomawoyo, Hyelim-ssi. Salam untuk suamimu ya.”
Eomma Kyuhyun menutup ponselnya. Tak lama sebuah pesan masuk kepadanya yang langsung ia tunjukkan kepada anaknya. “34 Dale Avenue, Ottawa, Ontario K1Y E5 – Canada,” baca Kyuhyun sambil mengetik ulang ke smartphone-nya. Kyuhyun kemudian memeluk eommanya dengan erat. “Eomma, kau betul-betul hebat. Jinjja daebak!” puji Kyuhyun dengan tulus membuat eommanya tertawa.
“Apa kau sungguh-sungguh dengan Hyejin?” tanya eomma Kyuhyun sambil membantu anaknya mengepak barang-barang ke dalam koper.
“Tentu saja. Kalau tidak, buat apa aku bela-belain ke Kanada untuk menemuinya,” sahut Kyuhyun dengan serius.
“Apa kau sudah bilang pada Appa?” tanya eommanya lagi.
“Aku pernah bercerita tapi aku belum bilang bagaimana rencanaku selanjutnya. Kalau Hyejin setuju, aku akan bicara dengan Appa begitu kami kembali dari Kanada,” jawab Kyuhyun.
“Eomma rasa Appa akan setuju. Kau tahu bagaimana Appa menganggap Hyejin seperti anaknya sendiri. Eomma rasa appa akan senang jika Hyejin benar-benar menjadi anaknya,” kata eomma Kyuhyun.
“Eomma sendiri bagaimana?” tanya Kyuhyun.
Eomma Kyuhyun mengelus punggung anaknya dengan penuh kasih sayang lalu memeluknya. “Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan eomma, sayang. Jika kau mencintainya, eomma juga akan mencintainya. Aku mencintaimu,” ucap eomma Kyuhyun yang tidak bisa menahan air matanya. Wanita tua itu menangis.
“Eomma kenapa menangis? Aku akan kembali dengan selamat. Tenang saja.”
“Kau sudah besar. 27 tahun hidup bersama eomma, sebentar lagi kau akan hidup bersama wanita lain. Di satu sisi, eomma sangat senang tapi eomma tidak bisa bohong bahwa eomma juga sedih. Eomma kini harus berbagi dirimu dengan wanita lain. Eomma agak tidak suka itu.”
Kyuhyun tertawa sambil mengusap air mata ibunya. “Aku berjanji tidak akan membuat eomma kehilanganku. Percayalah. Eomma adalah cinta pertamaku. Eomma ingat? Cinta pertama tidak akan pernah mati. Jadi aku tidak akan meninggalkan eomma.”
Eomma Kyuhyun tertawa. “Kau persis seperti appa-mu. Haelmoni-mu bercerita pada eomma bahwa appa-mu berbicara seperti itu ketika akan menikahi eomma tapi pada kenyataannya appa lebih sering mengurus eomma dibandingkan haelmoni. Itu memang fase yang harus dilewati setiap orang tua. Kalau kau punya anak nanti, kau pasti akan mengerti. Jangan khawatir, sayang.”
“Eomma, aku benar-benar mencintaimu. Maaf aku sering meninggalkanmu,” ucap Kyuhyun lalu memeluk eommanya kembali dengan penuh kasih sayang.
“Gwencana, sayang. Semoga usahamu berhasil. Bawa calon menantuku dengan selamat ya, nak!” kata eomma Kyuhyun sambil menepuk-nepuk punggung anaknya dengan lembut. “Semangat!”
—–
Kyuhyun langsung pergi menuju alamat rumah Hyejin begitu ia sampai di Kanada. Dengan riang, Kyuhyun memencet bel pintu masuk rumah Hyejin dan menikmati wajah kaget Hyejin saat menemukan dirinya yang sedang tersenyum jahil. “Bagaimana kau tahu aku ada di sini?” tanya Hyejin.
“Karena aku pintar. Kau tak akan mungkin lari dariku, Hyejin-ah. Kemanapun kau pergi, aku pasti bisa menemukanmu. Mana orang tuamu? Aku ingin bertemu,” jawab Kyuhyun lalu mendorong Hyejin sehingga ia bisa leluasa masuk ke dalam rumah Hyejin.
“Yaa Cho Kyuhyun!” seru Hyejin mengejar Kyuhyun yang sudah masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan kedua orang tua Hyejin. “Annyeonghaseyo, Ahjussi, Ahjumma. Cho Kyuhyun imnida. Apa kabar?”
Kedua orang tua Hyejin agak kaget melihat kedatangan Kyuhyun tapi itu tidak berlangsung lama. Dengan hangat, keduanya menyambut Kyuhyun. “Waah. Kau sudah besar sekarang. Semakin tampan saja. Apa kabar eomma dan kakakmu?” tanya appa Hyejin.
“Mereka baik-baik saja. Eomma dan nuna titip salam untuk ahjussi dan ahjumma,” kata Kyuhyun dengan manis.
“Semalam ibumu menelepon katanya mau mengirimkan sesuatu untuk kami. Apa itu maksudnya kau?’ tanya eomma Kyuhyun sambil memeluk Kyuhyun.
Kyuhyun tertawa renyah. “Mungkin saja.” Jawab Kyuhyun.
“Memangnya ada apa Hyuna mengirimkanmu?” tanya eomma Hyejin.
Kyuhyun mengambil tempat duduk di hadapan kedua orang tua Hyejin dan kemudian berlutut kepada keduanya. “Aku datang untuk melamar Hyejin. Aku jatuh cinta padanya dan ingin menjadikannya pasangan hidupku sampai maut yang memisahkan kami,” kata Kyuhyun tiba-tiba membuat kedua orang tua Hyejin termasuk Hyejin terkejut. “Aku berjanji akan menjaga Hyejin melebihi diriku sendiri.”
Pletak. Sebuah jitakan mendarat di kepala Kyuhyun. “Yaaa. Kenapa kau menjitak kepalaku, Hyejin-ah? Sakit tahu!” protes Kyuhyun.
“Kau membuat kaget orang tuaku, tahu? Tiba-tiba datang dan melamarku kepada kedua orang tuaku. Aku belum bercerita apa-apa padanya, bodoh!”
Kyuhyun tersenyum lalu kembali menghadap kepada kedua orang tua Hyejin. “Aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri karena aku merasa Hyejin-lah yang paling mengerti diriku. Aku tidak tahu sejak kapan aku mencintainya, mungkin sejak aku mengenalnya tapi aku baru menyadarinya sejak setahun lalu dan aku sadar aku tidak bisa hidup tanpa dia. Semakin lama aku bersamanya semakin aku sadar aku tidak bisa melepaskannya. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengan Hyejin. Jadi aku datang untuk meminta izin.”
Ayah Hyejin menepuk-nepuk bahu Kyuhyun dengan pelan. “Kami menghargai usahamu. Kami tidak melarangmu tapi semua tergantung pada Hyejin. Kalau ia bersedia, tentu saja kami akan memberikan izin kami,” kata ayah Hyejin.
“Kamsahamnida, ahjussi, ahjumma. Aku tidak akan mengecewakan kalian,” kata Kyuhyun penuh keyakinan.
Eomma Kyuhyun mengelus bahu Kyuhyun lalu membantunya kembali berdiri. “Istirahatlah dulu, Perjalananmu cukup jauh. Kau pasti lelah. Nanti akan aku bangunkan saat jam makan malam,” kata eomma Hyejin. “Hyejin, antarkan Kyuhyun ke kamarnya ya.”
Hyejin berjalan menuju kamar tamu diikuti oleh Kyuhyun yang dari tadi tidak berhenti tersenyum melihat Hyejin. “Ini kamarmu. Istirahatlah dulu. Aku akan membangunkanmu sebelum makan malam,” kata Hyejin sambil membuka kamar untuk Kyuhyun.
Kyuhyun tersenyum simpul dan mendorong Hyejin masuk ke dalam kamar kemudian menempelkan gadis itu ke pintu sampai pintu itu tertutup. Posisi pintu, Hyejin dan Kyuhyun seperti roti sandwich dan daging yang saling menempel. “Maafkan aku. Kau pasti marah karena kelakuan Victoria kemarin kan? Aku berjanji itu tidak akan terulang setelah kita menikah. Aku mencintaimu.” Kyuhyun semakin merapatkan tubuhnya sehingga tidak ada jarak sama sekali antara dirinya dan Hyejin. Perlahan tapi pasti, Kyuhyun mengulum bibir Hyejin dengan bibirnya, bergantian atas dan bawah. Kyuhyun terus mencium Hyejin sampai gadis itu yang melepaskan tautan di bibir mereka.
“Aku tidak bisa bernafas. Mian,” ucap Hyejin sambil menarik nafas.
“Ini tandanya kau memaafkanku. Kau setuju menikah denganku. Iya kan?” tanya Kyuhyun diiringi senyum jahilnya yang selalu meluluhkan hati Hyejin.
Wajahnya tersipu malu setiap hembusan nafas Kyuhyun menerpa wajahnya. Kyuhyun tertawa kecil menatap Hyejin. Tangan gadis itu memeluk erat pinggang Kyuhyun, seolah menahan Kyuhyun agar tidak pergi darinya.
“Aku tahu kau tidak akan mungkin bisa meninggalkanku,” kata Kyuhyun kemudian kembali mendekatkan wajahnya agar bisa kembali mencium Hyejin tetapi Hyejin menghindar. “Aku belum bisa bernafas dengan benar, Kyu,” kata Hyejin. Kyuhyun memindahkan sasarannya. Kyuhyun menenggelamkan wajahnya ke leher Hyejin dan kemudian menghisap leher gadis itu sampai menimbulkan bercak merah yang tidak akan hilang sampai seminggu ke depan.
“Itu tanda kalau kau adalah milikku.”
—-
Hyejin sedang membantu ibunya memasak saat ayah Hyejin datang dan ikutan mengobrol. “Mana Kyuhyun? Apa masih tidur?” tanya appa Hyejin.
“Ne, appa. Tampaknya dia sangat lelah. Kasihan. Aku akan membangunkannya sebentar lagi,” kata Hyejin sambil menuangkan sup ke dalam mangkuk.
“Laki-laki itu serius padamu, nak. Apa kau mencintainya? Kau mau menikah dengannya?” tanya appa Hyejin nyaris membuat Hyejin menjatuhkan mangkuk sup-nya.
“Appa mengagetkanku saja. Aku tidak tahu apakah aku mencintainya tapi yang pasti aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku rasa…aku mulai mencintainya,” jawab Hyejin dengan jujur. “Dia yang selalu bersamaku. Kalau aku tidak bersamanya, aku pasti akan sangat menderita. Karena itu aku akan menikah dengannya, Appa.”
Appa Hyejin menatap anaknya dengan sedih membuat Hyejin tidak tega dan memutuskan untuk memeluk appa-nya itu. “Aku sudah mengenal Kyuhyun seumur hidupku, Appa. Aku yakin ia dapat menjagaku dengan baik, sebaik apa menjagaku selama ini. Mungkin kami akan mendapat masalah tapi aku yakin kami dapat menyelesaikannya dengan baik. Ia tidak akan menyakitiku. Ia laki-laki terbaik dalam hidupku, setelah appa tentu saja. Percayalah, Appa.”
Eomma Hyejin datang memeluk suami dan anaknya. “Cepat atau lambat, anak kita akan menikah sayang. Lebih baik ia menikah sekarang daripada ia telat menikah. Aku tahu kau pasti tidak rela melepaskan anakmu satu-satunya tapi beginilah fase hidup manusia. Kita harus bisa melewatinya, sayang.”
“Hiduplah dengan baik, anakku sayang. Berikan appa cucu-cucu yang lucu. Ya?” kata appa Hyejin sambil mengelus kepala Hyejin dengan penuh kasih sayang. “Aku mencintaimu lebih dari laki-laki itu mencintaimu. Pegang kata-kataku.”
Hyejin tertawa. “Aku tahu, Appa. Aku juga mencintaimu. Appa cinta pertamaku. Cinta pertama tidak pernah mati. Eomma selalu bilang itu padaku. Aku akan selalu menjadi gadis kecil appa yang lucu. Jangan terlalu cemas, Appa sayang.”
—-
Eomma Hyejin menciumi pipi Hyejin dan Kyuhyun bergantian. “Jangan lupa mengabari kami kalau sudah sampai Korea. Kami pasti akan merindukan kalian,” kata eomma Hyejin. “Kabari kami juga kalau kalian sudah mendapatkan tanggal yang pas untuk menikah. Kami akan datang seminggu atau sebulan sebelum kalian menikah. Ya kan, yeobo?”
Appa Hyejin terdiam melihat anaknya membuat Hyejin kembali memeluk Appa-nya dengan berurai air mata. “Aku mencintai Appa. Jangan sedih. Appa cinta pertamaku, akan selalu seperti itu. Aku adalah anak appa. Kapanpun appa membutuhkanku, aku akan datang. Aku mencintai Appa. Appa tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja.”
“Aku akan menjaga Hyejin seperti aku menjaga nyawaku, aboeji. Percayalah.”
Appa Hyejin tersenyum. “Aku percaya padamu, Kyuhyun-ah. Aku hanya tidak menyangka Hyejin akan menikah. Hyejin akan punya suami, anak-anak, dan aku tidak akan bisa memonopoli Hyejin lagi. Rasanya menyenangkan tapi sedih juga,” kata Appa Hyejin. “Hiduplah yang baik, Kyuhyun-ah, Hyejin-ah. Berikan aku kabar gembira. Ya?”
“Tentu saja, aboeji. Kalau begitu, boleh kami pergi sekarang? Pesawat kami sudah mau boarding. Aku berjanji akan langsung mengabari aboeji begitu kami mendapatkan tanggal pernikahan.”
“Ne, tentu saja. Baik-baiklah di Korea. Aku akan merindukan kalian. Sampai jumpa, sayang. Sampai jumpa, Kyuhyun-ah.”
“Sampai jumpa, Appa. Aku akan merindukanmu.”
“Nado.”
“Sampai jumpa….”
—-
Kyuhyun menggandeng Hyejin menuju makam appanya dan membiarkan gadis itu menghias makan appanya dengan bunga-bunga mawar yang mereka bawa. “Halo appa. Apa kabar? Aku datang lagi. Kali ini aku datang bersama calon menantumu. Bukan barang baru kok. Seperti beberapa minggu lalu aku bilang, aku ingin menikah dengan Hyejin. Ternyata menjadi kenyataan. Aku jatuh cinta padanya dan akan menikah dengannya begitu mendapat tanggal yang pas. Karena itu aku datang untuk memohon izin mu untuk pernikahan kami.”
“Aku tahu appa pasti akan memberikan izin, apalagi untuk anak appa yang keras kepala dan tidak bisa dilarang ini. Yak an, appa? Karena itu aku datang untuk berterima kasih. Terima kasih atas izin appa. Semoga pernikahan kami dapat berjalan lancar dan aku bisa menjadi istri yang baik untuk Kyuhyun dan ibu yang baik untuk anak-anak kami. Berkati kami ya, Appa,” ujar Hyejin dengan ceria.
Kyuhyun tersenyum geli melihat Hyejin yang memang pada dasarnya adalah gadis yang ceria. “Kita berdoa dulu untuk Appa baru kita pulang. Kau yang pimpin doa,” kata Kyuhyun kepada Hyejin. Hyejin melipat tangannya dan menutup mata kemudian berdoa.
“Bapa Kami yang ada di Surga, dikuduskanlah namamu. Terima kasih banyak Tuhan atas segala berkatMu sehingga pada siang hari ini kami dapat datang menemui Appa kami tercinta, memberitahukan kabar gembira bahwa kami berdua akan menikah. Kiranya Engkau menjaga Appa di surga dan memberikan kebahagiaan seperti Engkau memberikannya kebahagiaan sewaktu di bumi. Saat ini juga Tuhan, kami berdoa untuk hubungan kami. Kiranya Engkau berkati agar hubungan kami berjalan lancar sampai Engkau menyatukan kami secara sah di dalam bait suciMu. Engkau tahu Tuhan betapa aku mencintai pria di sampingku ini, mendambakan kehadirannya setiap hari dalam hidupku. Aku mohon jangan pisahkan kami. Berikanlah kami kesempatan untuk mengarungi hidup bersama sampai kami tua dan maut yang memisahkan kami. Kiranya Engkau mendengar dan mengabulkan doa kami ini, Tuhan. Dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Amin.”
Kyuhyun menatap Hyejin sambil tersenyum sumringah. “Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Hyejin bingung. Kyuhyun semakin sumringah. “Apa yang kau ucapkan tadi dalam doamu? Kau mencintaiku?” tanya Kyuhyun seperti mendapat rejeki nomplok.
“Wae?” tanya Hyejin dengan tenang.
“Coba ucapkan sekali lagi. Katakan kau mencintaiku,” pinta Kyuhyun.
Hyejin berbalik menghadap Kyuhyun. Matanya memandang mata Kyuhyun sambil tersenyum. Tangannya merengkuh wajah Kyuhyun. “Aku mencintaimu. Saranghamnida. Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku,” ucap Hyejin dengan sorot mata serius membuat Kyuhyun tersenyum lebar. Kyuhyun menggenggam tangan Hyejin kemudian menciumnya dengan lembut. “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku rasa aku sudah gila kalau melakukannya,” sahut Kyuhyun girang.
—-
Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun berlari begitu melihat seorang pria berusia 30 tahunan berjalan mendekatinya. Anak laki-laki itu bukan berlari menjauh melainkan berlari ke dalam pelukan pria itu. “Aigoo, anak Appa sudah besar sekarang. Bagaimana sekolahmu hari ini, sayang?” tanya pria itu kemana anak laki-lakinya.
“Membosankan. Setiap hari selalu belajar hal yang sama. Apa aku tidak boleh langsung naik kelas 3 saja Appa? Aku bosan kelas 1 terus,” protes anak laki-laki itu membuat ayahnya tertawa.
“Persis seperti dirimu waktu kecil. Kau ingat betapa malasnya kau sekolah? Tapi tetap saja rapotmu yang paling bagus sekelas,” ucap seorang wanita yang kurang lebih sebaya dengan pria itu membuat pria itu tertawa semakin keras.
“Eomma!” seru anak laki-laki itu kepada wanita yang merupakan eommanya.
“Ya, sayang? Ada apa?” tanya wanita itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.
“Nanti malam kita makan sup gurita ya. Boleh?”
“Boleh. Asal sekarang kau mandi dulu ya. Eomma akan memasak sup gurita untukmu. Bagaimana?”
“Call!” seru anak itu senang. Tanpa ragu, ia melompat dari gendongan ayahnya lalu berlari menuju kamar mandi. Tertinggal appa dan eommanya saja.
“Kau tidak mandi?” tanya wanita itu kepada suaminya.
Pria itu tersenyum sambil mendekati wanita yang sudah 6 tahun ini menjadi istrinya. “6 tahun berlalu dan aku semakin mencintaimu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya aku tanpamu. Terima kasih sudah mencintaiku dan memberikanku anak yang lucu. 30 tahun terakhir hidupku selalu terlewati dengan baik karenamu.” Pria itu kemudian memeluk istrinya dan mengecup pipi wanitanya dengan lembut. “Kita akan selalu bersama sampai tua dan maut memisahkan kita.”
END!!!!

xoxo @gyumontic

xoxo @gyumontic

xoxo @gyumontic

xoxo @gyumontic

xoxo @gyumontic

xoxo @gyumontic

xoxo @gyumontic

xoxo @gyumontic