Annyeong yeorobuuun…

Author @gyumontic bawa FF lagi niih. kali ini two shot yaah., hehehe

Sebenernya ini naskah lama, pas zaman author kuliah kali yaaa.. hahahaa. makanya gaya bahasanya beda sama yang akhir-akhir inii author post.

cast-nya kali ini tetep : KYU-JIN couple dan kawan-kawan. hehehee. Semoga pada suka yaaa..

Saranghaeeee. Cuuuuup!

———-

1 September 2006

Hari ini adalah hari pertamanya sebagai mahasiswa tetapi Kyuhyun justru menghabiskannya di sebuah restoran, sendirian tanpa menikmati apapun. Dunia kampus yang Kyuhyun harapkan bisa membawa sebuah perubahan dalam hidupnya ternyata tidak sesuai dengan harapannya. Kyuhyun tetap sendiri dan kesepian. Sebagai satu-satunya penerus bisnis keluarga Cho, sebuah keluarga dengan kerajaan bisnis mendunia, Kyuhyun belajar untuk menikmati kesendirian dan kesepiannya. Hal ini membuat Kyuhyun menjadi pribadi yang tertutup dan tebiasa menyelesaikan persoalannya seorang diri.

Menjadi salah satu calon laki-laki terkaya di dunia ternyata memiliki konsekuensi yang sangat berat. Seorang Cho Kyuhyun memang ditakdirkan kaya raya, memiliki apapun yang orang lain tidak miliki, mendapatkan apapun yang ingin ia dapatkan, tapi tidak dengan hubungannya dengan orang lain. Kyuhyun tidak memiliki siapa-siapa di saat dia membutuhkan seseorang. Meskipun dia memiliki orang tua, Kyuhyun bertemu dengan mereka hanya beberapa bulan sekali. Kedua orang tuanya selalu sibuk sehingga tidak sempat hanya untuk sekedar menanyakan kabar anaknya. Begitu juga dengan teman, Kyuhyun hanya memiliki beberapa teman, yang cukup bisa dihandalkan, tetapi dia tidak cukup mempercayai mereka dengan baik.

Saat ini, laki-laki setengah dewasa itu hanya duduk di salah satu kursi dalam restoran tersebut sambil memakukan matanya pada seorang gadis dalam restoran itu. Gadis itu duduk sendirian tapi terlihat sungguh bahagia. Di tangannya ada sebuah kado yang dibungkus dengan rapi, lucu dan khas wanita. Melihat ekspresi gadis tersebut, yang terlihat sungguh bangga akan kado yang dibawanya, Kyuhyun berani bertaruh jutaan won bahwa kado tersebut pasti dibuat dan dibungkus oleh tangan gadis itu sendiri. Kyuhyun berpikir seandainya dia laki-laki yang mempunyai kehidupan normal, dia pasti akan dengan berat hati menerima kado tersebut karena sangat kekanak-kanakan. Tetapi jika sekarang Kyuhyun diberi sebuah kado seperti itu, dia tidak akan menolak meskipun isinya tidak sesuai dengannya. Seumur hidupnya, belum pernah Kyuhyun menerima kado yang tampaknya sungguh berarti seperti itu.

Mata kecil milik Kyuhyun telah memandangi gadis itu lebih dari sejam, sejak gadis itu masuk ke dalam restoran dan duduk di tempat gadis itu duduk sekarang. Kyuhyun terus memandang gadis itu tajam dengan ekspresi tenang yang tidak berubah lebih dari sejam juga. Jika ada orang lain yang memperhatikan Kyuhyun, mungkin orang itu berpikir Kyuhyun adalah seorang penguntit atau seseorang yang sangat tertarik dengan gadis tersebut. Tetapi tidak usah ada orang lain pun yang berpikir begitu, Kyuhyun sudah berpikir bahwa dirinya sangat aneh saat ini. Dia tidak pernah memperhatikan orang sebelumnya apalagi sampai selama ini. Bahkan bisa dibilang Kyuhyun tidak pernah tertarik dengan kehidupan orang lain sepanjang hidupnya. Tapi kali ini Kyuhyun dapat memusatkan pikirannya hanya kepada gadis itu. Rasa ketertarikan akan gadis itu dalam dirinya sangat kuat.

Setelah hampir dua jam memperhatikan,  Kyuhyun melihat seorang laki-laki yang hampir seumuran dengan dirinya datang ke meja gadis tersebut dengan ekspresi yang berbanding terbalik dengan ekspresi si gadis. Laki-laki tersebut duduk di depan gadis itu dengan kaku. Saat si gadis menyodorkan kadonya, laki-laki itu tidak menerimanya. Laki-laki itu, yang menurut Kyuhyun tidak bisa menghargai pemberian seseorang, hanya menatap gadis itu dingin kemudian berbicara sesuatu, yang tidak bisa didengar oleh Kyuhyun, dengan gadis itu. Setelah laki-laki itu berbicara, Kyuhyun melihat gadis tersebut berargumen. Tampaknya gadis itu tidak menerima apa yang dikatakan oleh laki-laki tersebut. Hal itu terjadi beberapa menit sampai akhirnya Kyuhyun melihat laki-laki tersebut pergi dan si gadis duduk lesu di tempatnya sambil menangis. Pemandangan terakhir yang dilihatnya adalah si gadis pergi dengan meninggalkan kado yang dibawanya tadi di atas kursi, tempat tadi dia duduk hampir dua jam menunggu laki-laki yang ternyata mengecewakannya.

Setelah gadis itu pergi, Kyuhyun menghampiri tempat si gadis tadi duduk dan mengambil kado yang ditinggalkan olehnya. Dia lalu duduk dan memperhatikan kado tersebut melalui kacamatanya. Kyuhyun mengakui dalam hati bahwa ternyata tangan gadis itu sangat terampil dalam membungkus kado. Meskipun matanya tidak sempurna, Kyuhyun masih dapat melihat kado tersebut terbungkus sangat rapi walau menurut Kyuhyun tingkat kesulitan untuk membungkus kado seperti itu cukup tinggi. Saat Kyuhyun sudah puas memperhatikan kerapian kado itu, Kyuhyun memutuskan untuk membukanya. Ternyata isinya adalah sebuah kotak yang lagi-lagi Kyuhyun yakini itu adalah buatan tangan si gadis karena gambarnya yang sangat home made. Kyuhyun membuka kotak tersebut dan mendapatkan sepasang sepatu , yang dia tahu sepatu itu cukup murahan untuk dirinya. Tetapi sepatu ini sangat unik karena memiliki desain tersendiri. Sepatu tersebut memiliki gambar salib di bagian depan dan ukiran-ukiran melengkung di bagian kiri, kanan dan belakangnya. Selain sepasang sepatu, Kyuhyun juga menemukan sebuah kartu ucapan. Kyuhyun lalu membacanya.

Dear Henry,

Happy Birthday ya, sayang!! Semoga kamu panjang umur, sehat-sehat selalu, lancar rejeki, makin ganteng, makin baik, tambah dewasa dan tambah sayang sama aku.

Oh ya, sayang! Sepatu ini aku yang gambar sendiri loh. Kertas kado sama kotaknya juga aku yang gambar. Sesuai dengan kesukaan kamu kan? Cross and curve carved. Aku  juga nyesuain dengan warna kesukaan kamu yaitu merah , hitam dan biru dongker. Semoga kamu suka ya, sayang.

Love you so much,

Hyejin.

Kyuhyun adalah seseorang yang sangat pandai dalam menganalisa sesuatu. Dia bisa mendapatkan jawaban yang tepat akan apa yang dia pikirkan karena kemampuannya ini. Karena itu, Kyuhyun langsung tersenyum puas saat mengetahui bahwa analisis-analisisnya ternyata tidak meleset. Kado tersebut sepenuhnya didesain dan dibuat oleh gadis itu. Mulai dari pembungkus sampai isinya. Hanya saja ada satu hal yang tidak terpikirkan oleh Kyuhyun daritadi yaitu hubungan kedua orang yang bernama Henry dan Hyejin tersebut. Kyuhyun langsung mendapatkan jawabannya setelah membaca kartu ucapan itu. Kyuhyun menyimpulkan bahwa keduanya memiliki hubungan khusus yang biasa disebut pacaran dan tampaknya tadi hubungan tersebut telah berakhir. Berakhir cukup menyakitkan untuk si gadis.

Kyuhyun lalu memasukkan kembali sepatu dan kartu ucapan tersebut kedalam kotaknya, membungkus kotak itu dengan kertas yang semula membungkusnya, lalu pergi. Dengan badannya yang tinggi, kulit seputih susu dan bergaya yang menunjukkan dia laki-laki kaya, tidak heran banyak orang yang memandanginya mulai dari saat Kyuhyun berjalan keluar restoran sampai tiba di mobilnya apalagi dengan kotak bawaannya. Bagaimana mungkin seorang laki-laki kaya bisa membawa sebuah kado yang sangat sederhana.

Kyuhyun bisa merasakan tatapan orang-orang tetapi dia tidak peduli, ia sudah terbiasa tepatnya. Yang terpenting buat dia sekarang adalah pulang ke rumah dan menikmati kado terhebat yang pernah dia dapatkan meskipun seharusnya kado itu bukan untuknya. Kehebatan kado itu adalah bisa membuat Kyuhyun memandanginya selama hampir dua jam dan membuat Kyuhyun untuk memilikinya. Setelah sekitar dua jam, yang mungkin dua jam terpenting dalam hidupnya, dia yakin benda yang ada di tangannya sekarang itu akan ada hubungannya dengan masa depannya karena dia percaya tidak ada hal yang namanya kebetulan di dunia ini.

1 September 2006

Hari ini adalah hari ulang tahun Henry, laki-laki yang telah dipacari Hyejin sejak kurang lebih satu setengah tahun yang lalu atau tepatnya saat Hyejin menginjak semester dua di kelas 1 SMA-nya. Karena itu, Hyejin langsung pulang begitu sekolah usai. Hyejin mau mempersiapkan segala sesuatu untuk ulang tahun Henry malam ini sesempurna mungkin. Mulai dari dirinya sampai kado yang akan diberikannya pada Henry.

Sesampainya di rumah, Hyejin segera mandi sebersih mungkin agar dirinya terlihat segar. Selesai mandi, Hyejin memakai gaun yang telah disiapkannya sejak seminggu lalu. Gaun berwarna salem itu membalut tubuh Hyejin sampai lututnya tapi dengan lengan yang dibiarkan terlihat. Hyejin bercermin dan merasa sangat puas karena gaun tersebut sangat cocok untuk dirinya. Selesai dengan gaun, Hyejin tidak lupa mendandani wajahnya dengan make-up minimalis yang membuatnya tambah cantik dan menata rambutnya agar penampilannya lebih sempurna. Untuk kedua kalinya, Hyejin bercermin dan merasakan kepuasan atas penampilannya itu. Hyejin terlihat benar-benar cantik dan anggun.

Setelah merasa dirinya sempurna, Hyejin mengalihkan perhatiannya ke kado yang akan dia berikan untuk Henry. Kado tersebut memang sudah dibungkus oleh Hyejin di malam sebelumnya tapi Hyejin ingin memastikan segalanya sempurna. Dia begadang lebih dari dua minggu untuk mempersiapkan kado itu. Hyejin memberikan sepasang sepatu yang dia gambar sendiri dengan tangannya sesuai selera Henry. Selain itu, kotak dan kertas yang berfungsi untuk membungkus sepatu itu juga dibuat sendiri oleh tangan Hyejin. Hyejin benar-benar bekerja keras untuk memberikan yang terbaik bagi Henry.

Hal terakhir yang Hyejin lakukan sebelum pergi ke tempat janjiannya dengan Henry adalah memastikan ke tempat itu bahwa Hyejin telah mendapatkan tempat untuk berada di sana. Untuk ulang tahun Henry kali ini Hyejin memang tidak menyiapkan perayaan ulang tahun yang mewah melainkan makan malam berdua yang romantis di sebuah restoran yang romantis. Hyejin sudah memesan satu meja di restoran itu kemarin karena dia tahu betapa susahnya mendapatkan meja di restoran yang terkenal enak makanannya dan selalu ramai.

Hyejin merasa segalanya telah sempurna dan dia bersiap pergi bersama kadonya. Hyejin pergi ke restoran tersebut dengan menggunakan taksi. Dia tidak mau segala persiapan yang telah dia lakukan kacau jika dia harus naik kendaraan umum yang sempit dan panas. Setengah jam berada di jalanan yang ramai karena padat kendaraan membuat Hyejin tidak sabaran untuk segera sampai. Untung saja restoran itu tinggal beberapa ratus meter dari tempat taksinya terjebak macet.

Beberapa menit kemudian, Hyejin telah sampai di restoran itu. Hyejin membayar ongkos taksi dan memberikan sedikit tip untuk supir taksinya lalu Hyejin masuk ke restoran. Di pintu masuk restoran tersebut, Hyejin disambut oleh satu pelayan yang berpakaian sangat rapi dan mempesona. Hyejin berkata kepada pelayan itu bahwa dirinya telah memesan satu meja atas nama Hyejin kemarin. Si pelayan lalu menyesuaikan keterangan Hyejin dengan daftar pesanan meja yang dimilikinya. Setelah menemukan nama Hyejin, si pelayan mengantarkan Hyejin ke meja yang telah dipesan. Hyejin berterima kasih pada pelayan tersebut dan dibalas dengan senyum hangat khas untuk pelanggan. Pelayan tersebut lalu kembali ke tempatnya bekerja.

Begitu Hyejin duduk, seorang pelayan lain yang tidak kalah rapi mendatanginya. Pelayan itu menawari Hyejin dengan menu makanan dan minuman yang sungguh mengugah selera Hyejin tetapi Hyejin harus menahannya sampai Henry tiba agar mereka berdua bisa makan bersama. Karena itu, Hyejin hanya memesan segelas jus stroberi dan croissants sebagai makanan pembukanya.

Hyejin merasa sangat salut dengan restoran ini karena tamunya yang tidak pernah berhenti datang. Jika ada satu yang pergi pasti ada yang masuk. Selain itu, pelayanannya sangat cepat. Baru saja menunggu satu menit, pesanan Hyejin sudah diantarkan ke mejanya. Hyejin mulai mencicipi jus stroberinya dan merasa jus tersebut sangat enak dan rasanya pas. Begitu juga dengan croissants-nya, sangat enak dan sesuai dengan lidahnya. Pantas saja restoran ini sangat terkenal dan ramai. Selain tempatnya yang nyaman, ternyata makanan dan minumannya sangat enak.

Sudah hampir sejam, Hyejin duduk di dalam sebuah restoran yang bisa dibilang mewah itu. Dia duduk sambil menikmati jus stroberinya. Croissants-nya sudah habis dari setengah jam yang lalu. Meskipun sudah lama duduk sendirian tetapi wajah Hyejin tetap menampilan senyum bahagia yang tulus. Di sampingnya, terletak sebuah kado yang sangat lucu dan membuat Hyejin semakin tersenyum saat memandang kado itu.

Sambil menikmati jus stroberinya, Hyejin bolak-balik melihat ke arah pintu masuk dan jam di tangannya. Jelas sekali bahwa Hyejin sedang menunggu Henry yang tidak kunjung datang. Jam ditangannya telah menunjukkan pukul 19.30 padahal mereka berdua janjian untuk ketemu jam setengah tujuh di tempat ini. Karena itu, Hyejin mengambil handphone dari tasnya lalu menelpon Henry tapi sayangnya tidak diangkat.

Dua jam hampir berlalu untuk Hyejin. Hyejin sudah mulai merasa bosan dan kesal tetapi dia tetap bertahan di tempat itu karena dia yakin Henry tidak mungkin tidak datang. Maka dari itu, Hyejin berusaha menahan rasa bosannya terlebih rasa kesalnya. Jangan sampai, Henry kecewa hari ini hanya karena Hyejin bosan dan kesal. Hyejin kembali melihat ke arah pintu masuk dan kali ini dia menemukan sosok Henry masuk ke dalam restoran. Hyejin melihat Henry berbicara sebentar dengan pelayan yang berada di pintu masuk dan lalu menghampiri Hyejin di mejanya dengan diantar pelayan tersebut.

“Hai,” sapa Hyejin ceria. Hyejin berusaha menyembunyikan perasaan kesalnya kepada Henry karena tega membiarkannya menunggu selama hampir dua jam, sendirian pula. Sapaan Hyejin ini hanya ditanggapi dingin oleh Henry, “Hai.” Lalu Henry duduk di hadapan Hyejin.

Begitu Henry duduk, Hyejin memberikannya ucapan selamat ulang tahun. “Happy birthday, sayaaang!” seru Hyejin pada Henry sambil menyodorkan sebungkus kado dengan wajah ceria. Henry tidak menjawab tetapi justru menatap Hyejin dengan ragu-ragu. Melihat tanggapan Henry, Hyejin menarik kembali kadonya dan bertanya pada Henry, “Kok kamu diam, sayang? Kenapa?” Hyejin merasa heran dengan tingkah Henry. Dia bertanya-tanya kenapa Henry diam. Hyejin berpikir, apakah Henry marah padanya. Kalau iya, seharusnya yang bertingkah seperti itu adalah dirinya karena Henry tidak menepati janjinya untuk bertemu jam setengah tujuh tetapi Hyejin tidak mau terpancing emosi. Dia bertanya lagi pada Henry kenapa Henry diam dengan nada yang lebih sabar dan tenang.

“Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi,” jawab Henry. Mendengar jawaban Henry, wajah Hyejin langsung berubah menjadi wajah yang penuh kebingungan. Hyejin tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Henry. Karena itu Hyejin bertanya untuk mengetahui maksud Henry, “Maksud kamu apa, sayang?”

“Aku gak bisa sama-sama kamu lagi. Maaf,” kata Henry yang mulai mengubah ekspresinya menjadi lebih yakin. “Aku mau kita putus.”

Mendengar penjelasan lebih lanjut dari Henry, Hyejin terkejut bukan main. Dia merasa hatinya sangat sakit. Dia tidak menyangka bahwa Henry akan minta putus malam ini. Malam dimana seharusnya mereka berdua makan malam bersama dengan romantis. “Kenapa? Memangnya ada yang salah dengan hubungan kita? Bukannya kita baik-baik aja?” tanya Hyejin bertubi-tubi untuk meminta penjelasan dari Henry.

Henry menghela napas sejenak sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan Hyejin. “Hyejin, sebenarnya udah lama aku mau ngomong ini ke kamu tapi aku gak cukup berani sampai akhirnya aku memutuskan untuk bicara sekarang. Kamu tahu dari dulu sampai sekarang aku sayang banget sama kamu tapi sekarang rasa sayang itu udah berubah.”

“Apa maksud kamu berubah?” tanya Hyejin tidak sabaran. Perasaan Hyejin mulai kacau. Dia tidak lagi peduli dengan sekitarnya. Yang dia mau sekarang adalah penjelasan yang tepat dan logis dari Henry akan keinginan Henry yang mau putus darinya.

“Dengerin aku dulu baik-baik ya, Hyejin. Dulu aku sayang kamu sebagai lawan jenis aku yang bisa jadi pasangan hidup aku tetapi lama-lama perasaan itu berubah jadi rasa sayang terhadap sahabat atau saudara. Aku udah gak ngerasain perasaan dulu yang pernah ada. Dulu aku selalu deg-degan tiap ketemu kamu, selalu senang tiap melihat kamu, darah aku selalu berdesir setiap ciuman sama kamu dan selalu merasa tersengat listrik saat bersentuhan sama kamu. Tapi saat ini semua perasaan itu udah gak ada, Hye. Semua terasa hambar,” jawab Henry.

“Aku gak mau putus. Kita bisa bikin perasaan-perasaan itu muncul lagi, Hen,” kata Hyejin setelah mendengar penjelasan Henry. Hyejin tidak percaya Henry bisa memutuskannya dengan alasan-alasan egois seperti itu. Henry tahu bahwa Hyejin menyayangi Henry dengan sepenuh hatinya dan tidak akan bisa ditinggalkan dengan cara seperti ini.

“Hyejin, aku tahu kamu sayang banget sama aku. Karena itu, aku gak mau kamu terus-terusan sayang sama aku yang udah punya perasaan lain. Aku gak mau perasaan kamu bertepuk sebelah tangan. Ada cowok yang lebih pantas buat kamu sayang dan terus sayang sama kamu. Aku harap kamu ngerti ya, Hye,” kata Henry lebih lanjut.

Hyejin merasa sakit hati tapi dia tidak bisa berkata apa-apa. Hanya matanya yang memberikan isyarat bahwa dirinya tidak setuju dengan keputusan itu. Matanya menatap tajam Henry, menampakkan amarah dan sakit hati serta ketidaksetujuan. Henry berusaha untuk pura-pura tidak mengerti isyarat mata Hyejin. Henry menjelaskan lagi kepada Hyejin dengan kata-kata yang lebih memperkuat keputusannya, “Aku gak mau perasaan kamu kebuang sia-sia buat cowok gak tahu diuntung seperti aku. Kamu terlalu baik buat aku, Hye. Maafin aku ya? Aku tahu kamu pasti sakit dan marah sama aku tapi aku yakin kamu akan bersyukur di kemudian hari.”

Hyejin sudah tidak berpikir rasional, yang dia tahu sekarang hatinya sangat sakit dan air mata sudah meluap matanya. Kepala Hyejin tertunduk untuk menutupi tangisannya. Pikirannya kacau. Semua penjelasan Henry berkecamuk di pikirannya dan tidak ada satu pun yang dapat diterimanya. Hyejin sudah siap untuk kembali berargumen dengan Henry agar hubungan ini tetap bertahan tetapi entah mengapa kepalanya tetap tertunduk bahkan mengangguk menyetujui segala perkataan Henry.

Henry mengelus-elus kepala Hyejin sambil berterima kasih pada Hyejin, “Makasih ya Hyejin udah mau ngerti. Kamu pasti dapat cowok yang lebih baik. Jangan lama-lama ya sedihnya.” Mendapatkan elusan terkahir dari Henry di kepalanya, membuat Hyejin semakin meneteskan air mata. Elusan di kepalanya ini justru menambah irisan di hatinya yang telah teJaehyuns-iris. “Udah, jangan nangis lagi ya? Aku antar kamu pulang ya?” Henry memohon kepada Hyejin untuk meredakan rasa sedih Hyejin tapi Hyejin hanya menggeleng. “Gak usah, Hen. Kamu duluan saja. Aku masih mau di sini,” kata Hyejin.

“Kamu beneran masih mau di sini?” tanya Henry. Hyejin mengangguk. Henry lalu berdiri dari kursinya dan berkata pada Hyejin, “Kalo gitu, aku duluan ya, Hye. Kamu hati-hati ya?” Henry pergi meninggalkan Hyejin sendiri lagi di restoran itu dengan air mata yang belum mau berhenti dari mata Hyejin.

Hyejin mengambil tisu dari hadapannya lalu menghapus air matanya. Dia menenangkan diri seJoheeak sebelum dia memanggil salah satu pelayan untuk membayar apa yang sudah dia pesan. Begitu selesai membayar, Hyejin pergi dari restoran itu dengan meninggalkan kado yang telah dia buat dengan susah payah. Hyejin telah lupa bahwa dirinya tidak pergi sendiri.

1 September 2007

Sudah setahun berlalu sejak Kyuhyun menjadi seorang mahasiswa. Hidupnya tidak jauh berbeda dari kehidupannya terdahulu. Kyuhyun masih suka sendiri dan kesepian hanya saja sekarang Kyuhyun memiliki kesibukan baru. Kyuhyun dilimpahi tanggung jawab oleh orang tuanya untuk memimpin yayasan pendidikan dan pusat-pusat perbelanjaan yang keluarganya miliki di Seoul. Kyuhyun merasa bangga dan senang mendapatkan tanggung jawab ini karena itu berarti kedua orang tuanya percaya pada dirinya. Hanya saja Kyuhyun tidak menyukai cara pengalihan tanggung jawab tersebut. Orang tua Kyuhyun hanya menulis pengalihan itu di selembar kertas dan menyerahkannya kepada kuasa hukum kepercayaan mereka tanpa bicara dengan dirinya. Kuasa hukum tersebut lalu akan menyerahkannya pada Kim Ryeowook, orang kepercayaan Kyuhyun.  Setelah itu, Ryewook yang berperan untuk menginformasikannya kepada karyawan perusahaan yang akan dipegang Kyuhyun.

Kim Ryeowook sudah bekerja pada Kyuhyun sejak anak itu berusia 3 tahun. Kyuhyun sendiri yang merekrut Ryeowook untuk menjadi tangan kanannya.  Menjadi tangan kanan Kyuhyun bukan pekerjaan yang mudah karena harus rela merangkap berbagai pekerjaan. Belasan tahun Ryeowook merangkap tugas sebagai asisten, pengasuh, akuntan sekaligus penasihat pribadi Kyuhyun.

Selain memiliki kesibukan baru, Kyuhyun memiliki teman-teman yang lebih dekat dengannya. Sejak semester dua, ada kelas khusus yang dibentuk untuk mahasiswa-mahasiswa paling berprestasi di kampus Kyuhyun. Tentu saja, Kyuhyun bergabung di dalamnya karena dia memang brilian. Selain Kyuhyun ada empat mahasiswa lagi yang bergabung. Kelas khusus ini membuat Kyuhyun memiliki hubungan yang lebih dekat dengan orang lain.

Efek dari memiliki pertemanan dekat ini bagi Kyuhyun adalah Kyuhyun didaulat oleh salah satu teman sekelasnya, Choi Siwon, yang juga ketua panitia ospek untuk menjadi koordinator pengawas dari acara ini. Kyuhyun tidak menolak tawaran ini karena dia yakin dapat melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Dan mulai hari ini sampai tiga hari ke depan, loyalitas dan konsistensi Kyuhyun sebagai ketua pengawas ospek akan dibuktikan.

Sebelum memulai acara, Kyuhyun dan seluruh panitia berkumpul untuk melakukan briefing. Briefing dipimpin oleh  Siwon. Baru setelah itu acara dimulai sesuai jadwal yang telah dibuat.

Sebagai koordinator, Kyuhyun tentu memiliki beberapa anggota pengawas.  Anggota-anggota ini dibaginya menjadi beberapa kelompok untuk mengawasi sektor-sektor yang telah ditetapkan Kyuhyun. “Oke, kelompok pertama mengawasi sektor C di aula Pratama III. Kelompok dua mengawasi sektor A di aula Pratama I. Lalu sektor B di aula Pratama II akan diawasi oleh kelompok ketiga. Paham?” Anggota Kyuhyun menjawab dengan semangat, “Paham!” Kyuhyun merasa salut pada teman-temannya. Semangat mereka begitu tinggi.

“Baik kalo gitu, aku mohon kerja sama kalian. Bekerjalah semaksimal mungkin dan sesuai peraturan. Jika kalian memerlukan aku, hubungi  aku lewat HT yang kalian pegang. Oke?” Penjelasan Kyuhyun dijawab dengan anggukan mantap oleh rekan-rekannya. “Selamat bekerja!” seru Kyuhyun bersemangat. Rekan-rekan kerja Kyuhyun segera berpencar ke tempat mereka masing-masing dan memulai tugas mereka.

Hari ini, Kyuhyun menempatkan dirinya untuk mengawasi sektor C. Sektor ini berisi mahasiswa-mahasiswa baru jurusan Ilmu Ekonomi. Sebelum memasuki aula, Kyuhyun menyisir setiap mahasiswa yang akan masuk. Dia juga memeriksa semua barang-barang bawaan setiap mahasiswa.  Jika ada barang bawaan mahasiswa baru yang tidak sesuai dengan peraturan, maka komisi pengawas akan menyitanya dan mengembalikannya selesai ospek.

Saat berlangsungnya acara, Kyuhyun bertugas mengawasi agar acara berlangsung lancar dan tepat waktu. Kyuhyun akan mengingatkan panitia jika komisi mereka lalai melakukan tugasnya. Begitu juga dengan mahasiswa yang lalai dengan tugasnya. Sosok Kyuhyun yang tegas ini rupanya memancing banyak mahasiswi untuk lebih dekat kepadanya, tidak hanya mahasiswi baru tapi juga mahasiswi lama. Hal-hal seperti ini membuat Kyuhyun segera masuk ruangan panitia saat jam istirahat untuk menghindari mahasiswi-mahasiswi yang tidak pernah habis menatap dan membicarakannya.

“Hei, Kyuhyun. Ada maba yang nyari kau tuh diluar,” kata Siwon saat Kyuhyun sedang menikmati makan siangnya dengan tenang. Tetapi begitu Siwon menyebutkan ada maba yang mencarinya, makan siangnya tidak lagi nikmat. “Aakh, bilang aku lagi makan, Siwon. Aku malas,” sahut Kyuhyun.

Kyuhyun sadar bahwa dia memiliki potensi untuk jadi bahan pembicaraan sejak dia lahir tapi Kyuhyun masih saja risih jika harus terus-terusan mendapat perhatian berlebih. Kyuhyun juga sadar bahwa akan banyak wanita yang mendekatinya entah karena hartanya atau fisiknya yang sempurna. Hal itu juga yang membuat Kyuhyun langsung menghindari wanita terutama dari wanita-wanita yang terlihat jelas mendekatinya.

Kyuhyun mengawasi acara dari awal sampai akhir dan semuanya dapat berjalan dengan lancar. Begitu juga dengan sektor lain, Kyuhyun mendapat laporan bahwa semuanya berjalan lancar. Saat rapat evaluasi pun, tidak ada kesulitan berarti yang dihadapi oleh setiap komisi. Semua masalah dapat diatasi tanpa perlu dibawa-bawa ke dalam rapat besar seperti ini.

Selesai hari pertama, masih ada hari kedua untuk membuktikan tanggung jawab Kyuhyun. Di hari kedua ini, pekerjaan Kyuhyun tidak jauh berbeda dengan pekerjaannya di hari pertama. Kesibukannya pun tidak kalah padat. Kucing-kucingannya dengan maba juga masih dilakukannya. Sungguh  tidak nyaman sebenarnya bagi Kyuhyun untuk bermain kucing-kucingan seperti ini tapi dia merasa lebih tidak nyaman dengan tatapan dan tingkah laku mereka yang mengisyaratkan ingin mendekat.

Di hari kedua ini loyalitas Kyuhyun sebagai koordinator pengawas masih terbukti memuaskan. Hal ini terbukti dengan tidak ada masalah di sektor manapun dan sampai saat ini kinerja Kyuhyun masih yang terbaik.

Pada hari terakhir, seluruh mahasiswa baru dikumpulkan di lapangan karena acara hari ini bukan lagi pemberian materi dari pembicara melainkan games. Setiap mahasiswa baru berbaris sesuai kelompok yang telah ditentukan. Kyuhyun berdiri di depan, menghadap ke arah para mahasiswa baru. Mata Kyuhyun menelusuri setiap barisan dari ujung kanan ke ujung kiri dan dari depan ke belakang. Saat matanya menelusur, tiba-tiba matanya terpaku pada sosok yang memasuki barisan kesepuluh. Kyuhyun yakin penglihatannya tidak salah. Dia yakin telah melihat Hyejin, gadis yang dia perhatikan hampir dua jam tepat setahun yang lalu.

Tanpa sadar, kaki Kyuhyun melangkah mendekati barisan yang dimasuki oleh Hyejin. Meskipun Kyuhyun tidak tahu apa yang harus dilakukannya jika sudah sampai di depan Hyejin, Kyuhyun tetap berjalan ke arahnya. Dengan tiba-tiba dan tanpa basa-basi, Kyuhyun menegur Hyejin. “Kenapa kamu baru datang?” Meskipun suaranya sangat jelas menegur tapi tatapan mata Kyuhyun justru menampakkan keterkejutan bercampur kebahagiaan. Kyuhyun tahu dia akan mendapatkan argumen dari adik kelasnya ini karena sebenarnya Hyejin tidak melakukan kesalahan apapun. Hyejin yang merasa tidak salah apa-apa membalas, “Maaf, Sunbae. Saya rasa saya belum terlambat.” Hyejin menyodorkan jam tangannya ke arah Kyuhyun. “Sekarang baru jam 7 kurang, Sunbae.” Kyuhyun tidak bicara apa-apa lagi. Dia hanya menatap Hyejin. Hyejin membalas menatap Kyuhyun dengan heran. “Ada apalagi, Sunbae? Saya salah apalagi?” tanya Hyejin. Kyuhyun tersadar dirinya telah bertindak bodoh tapi dia tidak mau mempermalukan dirinya sendiri. “Kamu gak lihat teman-teman kamu udah rapi berbaris dari tadi eh dengan santainya kamu masuk barisan?” Tanpa menunggu penjelasan Hyejin, Kyuhyun segera memborbardir Hyejin dengan sejumlah tugas lalu pergi meninggalkan Hyejin.

Kyuhyun merasa bodoh karena harus menegur mahasiswi yang tidak melakukan kesalahan apalagi melimpahinya tugas yang harus dikumpulkan nanti siang. Itu berarti Kyuhyun telah mempersulit seorang mahasiswi yang sebenarnya telah berlaku sesuai peraturan. Karena kebodohannya itu, saat acara berlangsung, Kyuhyun lebih memilih untuk menyendiri di ruang panitia. Dia mengawasi melalui Joheedela tempat dia berada yang memang langsung mengarah ke lapangan, tempat semua mahasiswa baru berkumpul.

Dirinya merasa bosan karena harus sendirian berada di ruangan ini. Tapi itu konsekuensi yang harus diambilnya karena telah melakukan hal yang bodoh. Dia tidak mau mempermalukan dirinya lebih dari itu.

Melalui Joheedela itu, Kyuhyun bisa melihat Hyejin datang pada Siwon dan tampaknya melakukan protes. Kyuhyun yakin Hyejin pasti protes akan tugas-tugas yang diberikan olehnya. Benar saja, tidak lama kemudian kedua orang itu sudah ada di dalam ruangan panitia. “Kenapa, Siwon?” tanya Kyuhyun pura-pura tidak tahu.

“Aku dan adikku mau protes,” jawab Siwon. “Aku mau protes bukan karena maba ini adikku tapi aku rasa kau udah melanggar peraturan panitia. Adikku gak salah, bro. Kenapa kau kasih tugas macem-macem?”

Kyuhyun kembali terkejut karena ternyata Hyejin adalah adik teman sekelasnya sendiri. Hal itu membuatnya semakin hanya bisa garuk-garuk kepala. “Aku juga bingung kenapa tadi aku kasih tugas ke dia, Siwon. Padahal aku tau dia gak salah. Sori ya?” Siwon hanya tertawa sambil mengangguk-angguk. “Aneh kau, Kyuhyun!” kata Siwon.

“Jadi, saya gak usah bikin tugas itu kan?” sela Hyejin judes. Kyuhyun hanya bisa menjawabnya dengan anggukan. Hyejin langsung pergi begitu mendapat jawaban Kyuhyun.

1 September 2007

“Selamat pagi!” salam Hyejin pada seluruh anggota keluarganya, ayah, ibu, dan seorang kakak laki-laki, yang telah menunggu di meja makan.

“Selamat pagi,” sahut mereka satu per satu bergantian.

Hyejin lalu duduk dan menikmati sarapannya sambil sesekali ngobrol dengan anggota keluarganya. “Oppa, bareng ya berangkat ke kampusnya?” kata Hyejin pada Siwon, kakaknya.

“Gak,” jawab Siwon singkat.

“Oppa, bareng ya?” minta Hyejin dengan penuh harap. Siwon tidak bergeming. “Oppa,” kata Hyejin sambil mengoyang-goyang lengan Siwon, mencoba membujuk.

“Siwon, jangan gitu sama adikmu. Ini kan hari pertama Hyejin di kampus, jadi dia masih takut. Ke kampus bareng Hyejin ya?” kata Eomma Hyejin dan Siwon.

Hyejin menatap Siwon dengan senang karena merasa menang. Seketika tawa Siwon meledak karena berhasil menipu Hyejin. “Kok Oppa ketawa sih?” tanya Hyejin heran.

“Iya karena aku punya adik yang bisa aku bodohi dengan gampangnya. Hahahahahaha,” tawa Siwon keras. “Maaf ya, sayang. Hahahahahaha.”

“Oppppaaaa!!” seru Hyejin kesal sambil memukul lengan Siwon lalu menyambar segelas susu milik Siwon. “Susu Oppa buat Hyejin sebagai hukuman ngerjain Hyejin. Weeek!!”

Melihat tingkah laku kedua anaknya, orang tua Hyejin dan Siwon hanya tertawa.

Setelah selesai sarapan, Hyejin dan Siwon berangkat ke kampus bersama. Hari ini hari pertama Hyejin sebagai mahasiswi. Tidak kebetulan, Hyejin sekampus dengan kakaknya hanya saja berbeda jurusan.  Tidak kebetulan juga, Hyejin sekampus dengan teman-teman SMA-nya, Hamun, Johee dan Hyemi.

“Hyejiniiiiiii siniiiiiiiiii!!!” seru Johee lantang dari lobi kampus. Setelah mencium pipi Siwon, Hyejin langsung menghampiri Johee yang telah bersama Hamun dan Hyemi. Mereka berempat berteman sejak kelas 1 SMP sampai entah kapan.

“Hyejin, what’s your plan?” tanya Hamun penuh semangat. Hamun memang gadis yang selalu penuh semangat dalam setiap kondisi. Bahkan dalam keadaan sakit pun, Hamun masih bisa bersemangat!!

“Plan? What plan, beb?” Hyejin justru balik bertanya.

“Hyejiiiiin!!! It’s college. New life. New plan. What’s yours?” jawab Hamun gregetan karena Hyejin yang selalu tidak mengerti dengan pertanyaan-pertanyaann yang dia anggap tidak jelas.

“Oh, rencanaku ya kuliah lah, beb! Lulus dengan nilai memuaskan. Hahahahahaha,” jawab Hyejin santai. “Ayo masuk kelas. Udah jam nya nih. Jangan sampai kita telat, bebs.” Hyejin lalu berdiri tapi ditahan oleh Hyemi.

“Kenapa?” tanya Hyejin. Seketika itu juga, seorang laki-laki turun dari sebuah mobil mewah. Tubuhnya tinggi, langsing dan berwajah kaku. Cara berjalannya menunjukkan laki-laki ini anak orang kaya yang sombong dan dingin. Anehnya, seluruh mata di kampus itu melihat ke arah laki-laki itu termasuk Hamun, Johee dan Hyemi.

Melihat tingkah ketiga temannya, Hyejin geleng-geleng kepala lalu pergi duluan ke kelas. “Menyebalkan!!!” gerutu Hyejin. “Kenapa sih mereka? Kok bisa-bisanya tertarik dengan laki-laki dingin begitu?! Teman-teman menyebalkan!!”

“Siapa yang menyebalkan?” tanya Jaehyun dari belakang Hyejin yang langsung terkejut setengah mati. Jaehyun tertawa melihat tingkah Hyejin. “Benar kata Siwon, gampang membuatmu terkejut. Hahahaaahaha.”

“Jaehyun eonni, aaaaaah!! Jangan ngagetin aku kayak gitu dong. Huhu. Jantung aku mau copot tau,” kata Hyejin sambil mengelus-ngelus dadanya.

“Maaf ya, sayaaaang,” sahut Jaehyun tulus. Jaehyun lalu berjalan berdampingan dengan Hyejin sambil mengobrol, “Jam pertama kamu apa, Hye?”

“Pengantar Akuntansi 1, eonni,” jawab Hyejin. “Di ruang 8. Itu dimana ya, eon?”

“Di sebelah ruanganku. Ayo barengan. Siapa tahu kamu mau menyapa Siwon lebih dulu sebelum kuliah pertamamu,” kata Jaehyun lalu tertawa.

“Huh. Seharusnya yang jadi kakakku itu kamu, eonni. Bukan Siwon Oppa. Huhuhuhu. Sebel aku digodain terus sama pacarmu itu,” gerutu Hyejin yang dijawab Jaehyun hanya dengan tawa lepas.

“Siwon itu sayang sama kamu, Hyejin. Cuman karena kamu mudah diganggu, makanya Siwon suka sekali mengganggu kamu. Tapi, aku yakin kalau ada orang lain yang berani menganggu kamu, pasti Siwon langsung bertindak. Seperti setahun yang lalu,” kata Jaehyun memberi penjelasan.

“Eon,” sahut Hyejin pelan. “Jangan ungkit kejadian setahun lalu.”

“Maaf,” kata Jaehyun.

“Gak apa-apa, eon. Aku cuman masih sakit hati aja kok. Hoho,” jawab Hyejin ceria. “Semangat!”

“Semangat!” sahut Jaehyun yang telah mengantarkan Hyejin ke ruang 8. “Met kuliah ya, sayang. Mau titip salam buat Siwon?”

“Hehehehe. Titip cubitan aja tapi jangan keras-keras ya, eon,” jawab Hyejin diiringi senyum jahil. “Makasih, Jaehyun eonni sayang.”

Jaehyun membalas permintaan Hyejin dengan kedipan mata jahil lalu berjalan ke arah Siwon yang telah menunggu di depan kelas mereka.

“Hari pertama yang menyenangkan ya, bebs?” kata Hyemi pada Hamun, Johee dan Hyejin lalu menyeruput teh manis hangatnya. “Ternyata kuliah tidak sesusah yang aku bayangkan. Hehehehehehe.”

“Baru hari pertama ya belom berat lah,” sahut Johee. “Liat minggu depan, bulan depan, semester depan. Gempor-gemporan deh kita!! Huhuhu.”

“Semangat!” seru Hamun lalu memakan kue tiramisunya dengan santai. “Kita pasti bisa melalui masa-masa kuliah dengan lancar!! Betul?”

“Amiiiin,” sahut Hyejin yang sibuk menelpon Siwon. “Oppa, kamu di mana? Aku udah di toko kue depan kampus. Cepatan kesini doong. Mau pulaaang niii!!”

“Saabaaar. Oppa masih di kampus. Kalo mau pulang, duluan aja,” jawab Siwon sambil melambai-lambaikan tangan di pintu masuk diiringi tawa puas karena berhasil mengganggu Hyejin.

Hyejin menutup teleponnya dengan kesal, “Siwon Oppa. Hari ini habis kamu di tanganku.”

Siwon dan Jaehyun masuk ke dalam toko kue lalu duduk bersama-sama Hyejin dan teman-temannya. “Hai, Hamun, Johee dan Hyemi. Apa kabar?” sapa Siwon.

“Baik, oppa,” jawab Hamun, Johee dan Hyemi bergantian.

“Kapan lagi nih kalian main ke rumah?” tanya Siwon yang dengan sembarangan menyambar kue milik Hyejin tapi berhasil dicegah Hyejin. Dengan senyum kecutnya karena gagal mengganggu Hyejin, Siwon memesan kue dan minuman untuk dirinya dan Jaehyun.

“Oh iya, kenalin ini Jaehyun,” kata Siwon memperkenalkan Jaehyun pada Hamun, Johee dan Hyemi. “dan ini Hamun, Johee sama Hyemi,” kata Siwon pada Jaehyun.

“Salam kenal,” sapa Jaehyun dengan senyum. “Teman-temannya Hyejin ya? Berarti mahasiswi baru juga ya? Hihihihi. Gimana hari pertama? Kampus kita menyenangkan kan?”

“Iya eon, kampusnya bagus. Temen-temennya juga nyenengin. Gak salah masuk kampus aku,” jawab Hyemi.

“Maaf sebelumnya, eon,” kata Johee malu-malu. “Jaehyun eonni bukannya ketua BEM fakultas kita ya? Yang model juga itu kan?”

“Haha. Iya,” jawab Jaehyun. “Kalian tahu aja.”

Setelah itu, Jaehyun dan Johee terlibat obrolan seru tentang dunia BEM dan model. Sesekali Hamun ikut nimbrung dalam obrolan mereka sedangkan Hyemi pulang duluan dijemput supirnya. Sedangkan Hyejin sibuk membujuk Siwon untuk pulang.

“Jawabanku tetap nanti, adikku sayang,” jawab Siwon. “Sabar ya, aku masih ada urusan di sini. Oke?” Hyejin akhirnya menyerah dan menyibukkan diri dengan handphone dan minumannya.

Tak berapa lama kemudian, mobil mewah yang tadi pagi dilihat Hyejin berhenti di depan toko dan laki-laki kaku yang sama turun dari mobil itu. Laki-laki itu segera masuk ke toko kue dan disambut hangat oleh Siwon dan Jaehyun.

“Cho Kyuhyun, kau terlambat kawan!” seru Siwon ramah.

“Maaf,” sahut Kyuhyun singkat.

Siwon memperkenalkan Kyuhyun pada Hyejin, Hamun dan Johee. Hyejin sudah bisa menduga sebelumnya bahwa Hamun dan Johee akan langsung terpesona pada Kyuhyun. Setelah itu, Siwon, Jaehyun dan Kyuhyun memisahkan diri untuk membicarakan kepentingan mereka.

Satu jam kemudian, urusan Siwon pun selesai dan Hyejin baru bisa pulang.

“Siwon Oppa, Kyuhyun itu temanmu?” tanya Hyejin saat makan malam.

“Iya. Satu kelas malah, sayang. Kenapa?” jawab Siwon.

“Gak apa-apa. Kirain cuman kenal waktu jadi panitia ospek aja,” sahut Hyejin.

“Ihiiiy. Kamu tertarik yaaa? Hayo ngaku,” jawab Siwon sekaligus menggoda Hyejin. “Iya kan? Kamu naksir ya sama Kyuhyun? Hayoo..”

“Sayangnya gak,” sahut Hyejin. “Aku penasaran kenapa banyak orang yang terpesona sama dia. Padahal orangnya kaku dan dingin gitu, kayak sombong pula. Apalagi waktu ospek, seenaknya aja dia negur aku padahal aku gak salah apa-apa. Aneh.”

“Don’t judge a book by its cover, adikku sayang. Kamu belom kenal sama dia udah nilai kayak gitu. Huuu,” kata Siwon memberi pengertian. “Memang sih dia kaku. Hehehe. Tapi gak sombong. Kalo soal ospek sih, dia kan udah minta maaf. Udah, jangan diinget-inget lagi ya?”

Hyejin terus mengingat kata-kata Siwon tersebut sepanjang malam. “Don’t judge a book by its cover, Hyejin. Don’t!” kata Hyejin pada dirinya sendiri sampai akhirnya ia tertidur pulas.

Minggu pertama kuliah Hyejin berjalan dengan lancar tanpa gangguan, begitu juga dengan tugas-tugas yang diberikan dosen bisa diselesaikan Hyejin dengan baik. Waktu istirahat di kampus pun dilalui dapat dilalui Hyejin dan teman-temannya dengan santai.

“Kamu liat gak waktu Donghae jatuh pas maen bola tadi, beb? Lucu banget!” kata Hyejin pada Hamun sambil berjalan mundur.

“Iya… Hyejin, awas!” seru Hamun berusaha memperingatkan Hyejin yang akan menabrak seseorang tetapi terlambat. Hyejin terlanjur menabrak orang itu dan menumpahkan semua makanan yang sedang dipengang.

Hyejin segera membalik badan dan minta maaf. “Maaf, maaf,” kata Hyejin. Tapi orang itu hanya menatap Hyejin dingin lalu pergi tanpa berkata apa-apa. Seketika emosi Hyejin memuncak , untung saja masih bisa ditahan.

“Grrrr.. apa-apaan sih si Cho Kyuhyun itu?! Jadi orang kok sombong banget? Aku kan udah minta maaf. Huhh!!” gerutu Hyejin kesal pada teman-temannya. “Kok bisa-bisanya sih kalian terpesona sama orang sombong kayak gitu?”

“Sabar, beb. Sabar,” kata Hamun berusaha meredakan emosi Hyejin. “Kyuhyun emang orangnya kayak gitu. Kaku. Udahlah. Ya?”

“Iya, Hye. Udah. Sabar,” sahut Johee. “Semua orang juga udah tau kalo dia emang orangnya kayak gitu. Dingin, kaku, dan mungkin sombong.”

“Iih!! Emang dia pikir dia siapa bisa seenaknya gitu? Aku udah minta maaf. Tapi… Grrrr!! Dasar anak aneh! Nyebelin!” gerutu Hyejin lagi. Kali ini sambil memukul-mukul meja dengan sendok makannya.

“Hyejin, kamu gak tau dia siapa?!” tanya Hyemi kaget. “Kamu gak pernah nonton tv ya? Dia itu anak dari pemilik Cho Group. Dana kampus kita itu datangnya dari sana.”

“Hah?!” sahut Hyejin kaget. “Tapi ya tetep aja, dia gak boleh kayak gitu meskipun dia anaknya Bill Gates ataupun presiden!! Gak boleh!”

Sejak kejadian itu, Hyejin semakin memiliki penilaian jelek terhadap Kyuhyun. Meskipun kakaknya, Siwon, sudah memberikan penjelasan bahwa memang kerakter Kyuhyun yang seperti itu,Hyejin tetap menganggap Kyuhyun menyebalkan dan harus dimusnahkan.

Seperti biasa, Hyejin menunggu Siwon dan Jaehyun di toko kue depan kampus setelah kuliah selesai tapi kali ini Hyejin menunggu sendirian. Hyejin mengambil tempat duduk di pojok yang tenang lalu memesan kue dan minuman kesukaannya. Hyejin mengeluarkan buku dari tasnya dan mulai mengerjakan tugas sambil menikmati pesanannya yang telah datang.

Beberapa saat kemudian, tanpa diduga Kyuhyun datang dan duduk di hadapan Hyejin. “Maaf, tempat itu sudah ada orangnya,” kata Hyejin berbohong.

“Aku akan pindah jika orangnya sudah datang,” sahut Kyuhyun ringan.

“Oke, kalo gitu aku yang pindah,” kata Hyejin dengan wajah sinis.

Sebelum Hyejin sempat pindah, Kyuhyun menahannya kembali duduk. “Maaf,” kata Kyuhyun. “Maaf atas kejadian beberapa hari lalu. Aku tidak bermaksud membuatmu kesal.”

“Kata siapa aku kesal?” tanya Hyejin yang jelas-jelas menunjukkan rasa kesal.

“Maaf,” kata Kyuhyun lagi. “Aku tahu Siwon tidak mungkin bohong pada sahabatnya sendiri. Iya kan?”

“Grrr. Siwon Oppa. Habis kau hari ini!” gerutu Hyejin dalam hati. “Apa maumu, Kyuhyun sunbae?”

“Panggil saja aku Kyuhyun. Bisa kamu duduk lagi? Aku hanya ingin bicara sebentar. Oke?” kata Kyuhyun. “Aku yang traktir makan dan minummu. Oke?”

“Gak, aku bisa bayar sendiri,” jawab Hyejin tegas.

“Dasar cewek keras kepala,” sahut Kyuhyun sambil tertawa.

Melihat tawa itu, Hyejin langsung luluh dan duduk kembali di tempatnya semula. “Kamu yang bayar semuanya. Oke?”

Kyuhyun hanya tertawa lalu meminta maaf atas kejadian beberapa hari lalu. Hyejin mendengarkan sambil mengerjakan tugasnya. Sesekali Hyejin tersenyum simpul mendengar omongan Kyuhyun tetapi selebihnya hanya wajah siap perang melawan Kyuhyun. Sesekali juga Hyejin melempar pandang ke arah pintu masuk untuk melihat kedatangan Siwon. Tetapi ternyata, ada sekali pandangan ke pintu masuk itu membuatnya kaku.

“Kamu kenapa, Hyejin?” tanya Kyuhyun. “Hei! Kau kenapa?”

Hyejin tidak menjawab. Matanya masih tertuju ke pintu masuk. Kyuhyun pun mengikuti arah penglihatan Hyejin. “Siapa mereka?”

“Mantan pacarku dan pacarnya,” jawab Hyejin polos.

Kyuhyun segera membereskan buku-buku Hyejin dan menarik Hyejin untuk berdiri. “Ayo, kita pulang. Aku antar kamu, ” kata Kyuhyun.

Hyejin hanya bisa menuruti apa kata Kyuhyun. Hyejin pun tidak bisa menolak saat Kyuhyun merangkulnya keluar dari toko kue itu. Hyejin hanya diam melihat mantan pacarnya bersama gadis lain. Sepanjang perjalanan pun, Hyejin hanya diam.

Luka  yang telah setahun hampir tertutup, kini kembali terbuka dengan tambahan luka di dalamnya.

Pagi hari ini, Hyejin dibangunkan oleh dering handphone nya. Dengan mata tertutup, Hyejin mencari-cari handphone yang selalu dia simpan di bawah bantal. Setelah dapat, Hyejin menempelkan handphone nya ke telinganya. “Halo,” kata Hyejin dengan suara parau karena baru bangun tidur.

“Hyejiiiiiiin!!! Kemaren kamu nge-date sama Kyuhyun ya?! Kok gak cerita-cerita sih, beb???” seru seseorang dari seberang telepon.

Tanpa perlu tingkat kesadaran tinggi, Hyejin langsung tahu bahwa itu suara Johee. “Hah?! Gak ah. Kata siapa?” jawab Hyejin masih ngantuk-ngantukan.

“Ini loh ada di koran pagi ini. Kamu belum baca,beb?”

“Ya belomlah, secara aku juga baru bangun!!” kata Hyejin dalam hati yang lalu disampaikan pada Johee dengan cara yang lebih halus, “Belom, beb.”

Seketika itu juga, Hyejin tersadar. “Apa, beb? Koran? Ada aku di koran? Serius?!”

“Iya, beb. Gak jadi headline sih cuman di bagian gosip-gosip gitu ada kamu. Ada foto kamu sama Kyuhyun lagi di toko kue depan kampus itu pula. Cieeee, Hyejinii. Kataaaanya gak doyan sama Kyuhyun, ternyata diembat jugaaaa. Hhohohohoho,” kata Johee sambil tertawa-tawa.

Hyejin tidak memperdulikan omongan Johee. Hyejin langsung menutup telepon dan berlari ke ruang makan tempat biasanya pagi-pagi sang ayah membaca koran sambil sarapan. “Appa, Hyejin pinjem koran yang ada bagian gosipnya.”

Tanpa menunggu jawaban dari appanya, Hyejin langsung mengambil koran dan membaca berita tentang dirinya. “Huwaaaaaaa!!!” seru Hyejin histeris.

“Kenapa? Kok teriak histeris begitu?” tanya si Appa keheranan. “Ada apa?”

Bukannya menjawab pertanyaan appanya, Hyejin malah memanggil Siwon, “Siiiwooon Oppppaaa!! Siiiniiii. Cepetaaaaan!!!”

Sedetik kemudian, Siwon muncul dari dapur yang memang sebelahan dengan ruang makan. “Apaan sih?! Manggil-manggil aku kayak abis dikejar setan!”

“Hyejin masuk koran, Oppa,” sahut Hyejin.

“Terus kenapa?” tanya Siwon dnegan santai.

“Sama Kyuhyun,” kata Hyejin melanjutkan.

Belum sempat Siwon menjawab, eomma Hyejin dan Siwon datang dengan terburu-buru, “Ada apaan sih, Hyejin? Kok teriak-teriak begitu? Gak enak didengar tetangga tahu! Dikira nanti rumah kita ada maling atau apa.”

“Hahahahahahaha,” Siwon tertawa terbahak-bahak. “Gak kok, eomma. Hyejin kita ini lagi mengalami syok karena berhasil masuk koran!!! Masuk korannya bareng-bareng sama Cho Kyuhyun lagi. Hahahahahaha!!”

“Oh ya?” sahut eomma dan appa berbarengan. Tanpa basa-basi, eomma Hyejin langsung merebut koran di tangan Hyejin dan membacanya. Tidak berapa lama kemudian sang eomma tertawa terbahak-bahak dan memberikan koran tersebut ke appa Hyejin yang lalu tertawa juga setelah membacanya.

“Kok pada ketawa sih?” tanya Hyejin sebal. “Gak kasian apa ya sama Hyejin yang digosipin? Mending digosipin sama cowok baik. Ini gosipnya sama cowok aneh!”

“Hahahahaha. Appa ketawa soalnya wajahmu jelek sekali di sini!” kata appanya.

“Aaaaah, nyebelin!” seru Hyejin kesal lalu kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap berangkat kuliah.

“Siap-siapnya cepetan!! Kalo telat, Oppa tinggal!!” seru Siwon dari ruang makan lalu kembali tertawa-tawa bersama appa dan eommanya.

Jam setengah delapan, Hyejin dan Siwon sampai di kampus. Jaehyun yang daritadi menunggu segera menghampiri  mereka. “Siwon, kamu terlambat 10 menit dari waktu perjanjian,” kata Jaehyun pura-pura merajuk.

“Maaf, sayang,” sahut Siwon sambil mengelus-elus kepala Jaehyun. “Ada insiden kecil di rumah karena bocah bernama Hyejin.”

Hyejin langsung menatap Siwon dengan wajah cemberut.

Jaehyun yang sudah mengerti duduk permasalahannya justru menambahi, “Gimana rasanya masuk koran, Hyejin? Sama penerus Cho Group lagi.”

Hyejin tidak menjawab pertanyaan tersebut tapi justru meluapkan kekesalan. “Kalian berdua sama saja. Suka sekali mengganggu aku!” katanya kesal lalu pergi masuk kelas. Tingkah ngambek Hyejin itu pun hanya dibalas dengan tawa nyaring Jaehyun dan Siwon.

Sesampainya di kelas, Hyejin melihat banyak temannya yang menatapnya sambil memegang koran persis dengan koran yang tadi Hyejin baca sebelum berangkat kuliah. Dengan pasrah, berusaha tidak mempedulikan tatapan mereka, Hyejin masuk kelas dan duduk di sebelah Hyemi.

Teman-temannya yang tahu Hyejin tidak mau diganggu dengan berita itu, tidak berusaha bertanya sedikitpun soal berita tersebut. Mereka justru membuat lelucon-leluconj agar Hyejin lupa berita tersebut.

Saat istirahat siang, Hyejin makan bersama teman-temannya. Belum ada sesuap yang dihabiskan Hyejin, tiba-tiba Kyuhyun datang dan langsung menarik Hyejin pergi. “Maaf,” kata Kyuhyun pada Hamun, Johee dan Hyemi. Kyuhyun mengajak Hyejin ke ruangan khusus tempat Kyuhyun biasa kuliah.

“Kamu mau apa?” tanya Hyejin sebal sambil memukulkan tasnya ke lengan Kyuhyun. “Menyebalkan! Anak orang kaya gak tahu diri.”

Kyuhyun tetap tenang dan berusaha menenangkan Hyejin. “Aku mau bicara. Duduk dulu.”

Setelah agak tenang, Hyejin duduk lalu bertanya dengan nada kesal, “Kamu mau apa, Kyuhyun?”

“Bicara. Sebentar,” jawab  Kyuhyun  tenang sambil membuat minuman.

Saat Kyuhyun membuat minuman, Hyejin melihat kalau ruangan itu berbeda dari kelas-kelas lain yang ada di kampus ini. Hanya ada 11 meja, beberapa lemari buku, kulkas, televisi dan beberapa peralatan lain yang tidak ada di kelas-kelas lainnya.

“Ruangan apa ini?” tanya Hyejin.

“Ruang tempat biasa kami kuliah,” jawab Kyuhyun.

“Kami?” tanya Hyejin lagi dengan heran. Hyejin lalu melihat nama-nama yang tertera di setiap meja. Tidak ada satu pun nama yang dia kenal kecuali dua nama. “Siwon Oppa?! Jaehyun eonni?!” seru Hyejin kaget. “Mereka kuliah di ruangan ini juga?!”

“Iya,” jawab Kyuhyun sambil menyuguhkan minuman untuk Hyejin. “Apa mereka gak pernah cerita?”

“Gak. Kok bisa mereka kuliah di kelas khusus seperti ini?” tanya Hyejin lagi.

“Karena otak mereka yang brilian,” jawab Kyuhyun. “Sudah, kamu juga bisa kok masuk kelas seperti ini nanti kalau berhasil melewati tes nya.”

“Oh. Lalu kalau kamu kenapa bisa di kelas ini?” tanya Hyejin lagi yang langsung dilanjutkan tanpa menunggu jawaban dari Kyuhyun, “Pasti karena kamu sumber dana kampus ini kan?”

Kyuhyun hanya tertawa sinis mendengar ucapan Hyejin lalu menjawab dengan nada ceria, “Enak aja. Gini-gini otakku cerdas tau! Hahahahaahaha.”

Untuk beberapa saat, Hyejin lupa menanyakan maksud Kyuhyun menariknya ke ruangan ini tapi sayangnya akhirnya Hyejin menemukan ingatannya itu. “Oh iya, apa yang tadi mau kamu bicarakan?”

“Oh, soal berita pagi ini. Maaf telah merepotkanmu,” kata Kyuhyun tulus. “Aku tahu berita itu sudah menganggumu makanya aku minta maaf.”

Mendengar ketulusan dari ucapan Kyuhyun, Hyejin justru balik meminta maaf, “Bukan. Seharusnya aku yang minta maaf karena telah merepotkanmu kemaren hanya karena masa lalu. Maaf ya.”

Kyuhyun lalu tertawa, “Hahahahaha. Baiklah kalau begitu.”

Obrolan mereka terus berlanjut sampai jam menunjukkan bahwa Hyejin harus mengikuti kelas lagi. Tapi sebelum Hyejin pergi, Kyuhyun berkata, “Bagaimana kalau kita berkencan sungguhan?”

“Kamu sudah gila!” jawab Hyejin lalu pergi ke kelasnya.

Kyuhyun hanya tertawa melihat tingkah Hyejin yang lalu dipertanyakan oleh Siwon, “Kenapa kamu tertawa, Kyuhyun? Tumben.”

“Adikmu lucu,” jawab Kyuhyun singkat lalu kembali tertawa. Siwon pun ikut tertawa melihat tingkah aneh temannya, yang ternyata bisa tertawa juga.

Setelah sampai di rumah, Hyejin langsung melempar tas ke tempat tidur dan bebicara sendiri. “Laki-laki itu sudah gila ya? Baru kenal beberapa hari, tiba-tiba mengajak kencan!  Aku rasa memang laki-laki itu punya gangguan jiwa!!”

“Siapa yang gangguan jiwa?” tanya Jaehyun tiba-tiba dari belakang Hyejin.

Seperti biasa, Hyejin terlonjak kaget. “Jaehyun eonniiii,” serunya kaget yang disahut dengan tawa nyaring Jaehyun.

“Maaf, sayang,” kata Jaehyun. “Siapa yang gangguan jiwa, Hyejin?”

“Si Kyuhyun itu, eon. Masa tiba-tiba ngajak aku kencan. Baru juga kenal beberapa hari. Apa gak sakit jiwa tuh namanya?!” kata Hyejin memberikan jawaban.

“Hah?!” sahut Jaehyun tertegun sebentar. “Terus kamu mau?”

“Gak lah. Mana mau aku kencan sama cowok aneh itu!!”

Jaehyun hanya tertawa lalu mengacak-acak rambut Hyejin. “Semoga ini awal yang bagus,” bisik Jaehyun pada Hyejin lalu keluar dari kamar Hyejin.

Hyejin dibuat bingung oleh Jaehyun.

Keesokan paginya, Hyejin kembali dikagetkan dengan kehadiran Kyuhyun di meja makan keluarganya. Hyejin melihat Kyuhyun akrab mengobrol dengan keluarganya. Eomma Hyejin juga tampaknya senang dengan kehadiran anak orang kaya itu di rumah Hyejin. Tanpa banyak bicara, Hyejin ikut bergabung di meja makan dan menyantap sarapannya dengan santai. Setelah selesai, Hyejin langsung menuju mobil Siwon.

“Kamu mau kemana, Hye?” tanya Siwon yang masih melahap sarapannya sambil membaca koran.

“Ke mobil. Kan mau berangkat kuliah,” jawab Hyejin.

“Mobilku rusak. Oppa dijemput Jaehyun eonni nanti,” sahut Siwon santai.

“Terus Hyejin berangkat sama siapa? Masa bareng Jaehyun eonni? Mobilnya kan gak cukup.” Hyejin mulai kebingungan.

“Kyuhyun,” jawab Siwon singkat.

Setelah pamit pada kedua orang tua Hyejin, Kyuhyun menarik Hyejin masuk ke dalam mobil dan menyuruh supir untuk menjalankan mobilnya. Di dalam mobil Hyejin hanya terdiam, tidak mengerti kenapa nasibnya sial sekali hari ini.

“Ada apa kamu ke rumahku?” tanya Hyejin pada Kyuhyun tanpa basa-basi.

“Ingat, kita berkencan,” jawab Kyuhyun santai.

Emosi Hyejin mulai mendidih. “Sejak kapan?! Enak saja!” seru Hyejin diiringi tatapan kesal ke arah Kyuhyun.

Kyuhyun hanya tertawa. “Hahahaha. Aku butuh bantuanmu,” kata Kyuhyun. “Aku sanggup memenuhi apapun permintaan kamu asal kamu bersedia membantuku menyingkirkan wanita-wanita centil dan para wartawan yang selalu mengejarku.”

“Maksud kamu?” tanya Hyejin meminta penjelasan lebih lanjut.

“Kau jadi pacarku dan aku akan memenuhi semua permintaan kamu, Hyejin,” jawab Kyuhyun memperjelas maksudnya.

“Kamu memang benar-benar sudah gila, Kyuhyun. Sungguh, aku belum pernah bertemu orang segila kamu,” sahut Hyejin tidak percaya dengan omongan Kyuhyun. “Sungguh tidak masuk akal! Aku tidak mau.”

“Aku tidak bertanya maumu, Hyejin,” kata Kyuhyun. “Mulai hari ini kita pacaran.”

Hyejin tercengang dengan ulah Kyuhyun yang seenaknya dan memperlakukan Hyejin seperti mainannya. “Kamu memang benar-benar gila, Cho Kyuhyun!” teriak Hyejin kencang tapi Kyuhyun tidak peduli.

Sesampai di kampus, Kyuhyun mengantarkan Hyejin masuk ke kelasnya setelah itu pergi ke kelasnya sendiri. Begitu Hyejin masuk kelas diantar Kyuhyun, teman-temannya langsung bertanya-tanya. “Kamu beneran pacaran sama Kyuhyun?” tanya Hamun penuh keingintahuan.

“Tidak. Aku tidak mungkin pacaran dengan orang gila itu!” jawab Hyejin ketus lalu duduk tanpa peduli apapun yang sedang dibicarakan teman-teman sekelasnya. “Semua hal ini membuat aku gila.”

Setelah selesai kuliah, Hyejin langsung pergi ke toko kue depan kampus tanpa menunggu teman-temannya. Hyejin pergi ke tempat itu dengan terburu-buru dengan harapan Kyuhyun tidak akan menemukannya. Sesampai di toko kue tersebut, Hyejin segera mengirimkan sms pada Hamun dan Siwon bahwa dia telah berada di sana.

Beberapa menit kemudian, Hamun dan Johee menemui Hyejin di toko kue. “Kamu kok cepet banget udah di sini? Ya ampuuuun!!” kata Hamun.

“Maaf. Maaf. Aku males ketemu Kyuhyun. Maaf ya, bebs,” jawab Hyejin.

“Iya, ga apa-apa,” sahut Johee.

“Oh iya, Hyemi mana?” tanya Hyejin yang tidak melihat Hyemi datang bersama Hamun dan Johee.

“Hyemi pulang duluan. Ada acara sama eommanya,” jawab Hamun yang sedang memilih makanan dan minuman.

“Oh,” sahut Hyejin singkat lalu kembali menikmati kuenya.

Untuk beberapa saat, mereka bertiga mengobrol seru membicarakan dosen-dosen yang semakin menyusahkan hari-hari mereka dengan tugas, lalu membicarakan senior-senior yang tampan-tampan, dan sebagainya. Tetapi obrolan itu tidak berlangsung lama karena Kyuhyun datang mengganggu.

“Ayo, pulang,” ajak Kyuhyun sambil menarik tangan Hyejin.

“Gak mau,” sahut Hyejin yang telah menghempaskan tangan Kyuhyun dari tangannya. “Enak aja kamu datang tiba-tiba ngajak pulang. Aku pulang sama Siwon Oppa!”

“Hhh.. Mobil Siwon kan rusak. Gimana kamu mau pulang sama dia, bodoh!” kata Kyuhyun mulai tidak sabar. “Cepat!”

“Gak mau,” kata Hyejin lagi dan tetap bertahan di tempat duduknya.

Kyuhyun mulai tidak sabar. Tanpa bicara, Kyuhyun menarik Hyejin berdiri dari tempat duduknya dan memaksa Hyejin keluar dari toko kue. “Permisi. Kami duluan,” kata Kyuhyun pada Hamun dan Johee. Meskipun Hyejin memberontak tetapi Kyuhyun lebih kuat. Kyuhyun berhasil membuat Hyejin keluar dari toko dan memasukkan Hyejin ke dalam mobil.

Di dalam mobil, Hyejin tidak berhenti berteriak dan memukul Kyuhyun. “Apa-apaan sih kamu?! Tiba-tiba narik aku keluar! Kamu tuh suka seenaknya sendiri ya!! Menyebalkan!”. Tetapi Kyuhyun tidak bereaksi sama sekali, dia menerima semua teriakan dan pukulan Hyejin.

Sesampai di rumah Hyejin, Hyejin langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan kesal yang memuncak.

Sepanjang sisa hari itu, Hyejin hanya marah-marah untuk melampiaskan kekesalannya. Semua orang dibentaknya tidak terkecuali Siwon. Siwon mendapatkan semprotan amarah Hyejin ketika Siwon mengganggu Hyejin tentang Kyuhyun. Akibatnya, Siwon memohon-mohon minta maaf pada Hyejin sepanjang malam tetapi Hyejin menghiraukannya.

Saat Hyejin mau tidur malam, handphonenya berdering. Hyejin melihat nomor penelpon di layar handphonenya. Walaupun Hyejin tidak mengenalnya, ia tetap mengangkatnya. “Halo,” kata Hyejin.

“Halo. Apa kau baik-baik saja, Hyejin-ah?” tanya si penelpon.

“Siapa ini?” tanya Hyejin sebelum menjawab pertanyaan si penelpon.

“Ini aku, Cho Kyuhyun. Maaf sudah membuatmu kesal,” jawab si penelpon yang ternyata Kyuhyun.

Tanpa menjawab pernyataan Kyuhyun, Hyejin menutup teleponnya. Tapi baru beberapa detik setelah teleponnya ditutup, telepon itu berdering lagi. Kali ini, tanpa melihat identitas sang penelpon, Hyejin langsung menjawab telepon itu dengan bentakan, “Pergi kau ke ujung dunia!!”

“Oii,oii. Santai, beb. Kamu kenapa?” sahut penelpon yang ternyata adalah Hamun.

“Hamun?” tanya Hyejin tanpa perlu dijawab Hamun. “Maaf, beb. Maaf. Aku pikir tadi Kyuhyun. Maaf ya. Kenapa, beb?”

“Gak apa-apa. Cuman mau bilang sesuatu aja,” jawab Hamun.

“Bilang apa?” tanya Hyejin penasaran.

“Umm.. tadi siang waktu Kyuhyun maksa kamu keluar dari toko kue itu, gak berapa lama kemudian Henry sama pacarnya masuk ke toko kue,” jawab Hamun pelan-pelan. “Jadi aku rasa, beb. Kamu harusnya berterima kasih sama Kyuhyun.”

“Oh ya?” kata Hyejin yang langsung memikirkan perbuatannya pada Kyuhyun padahal Kyuhyun telah menolongnya agar tidak sakit hati.

Setelah Hamun selesai bicara, Hyejin menutup teleponnya dan mencoba untuk tidur. Tetapi Hyejin tidak bisa tidur karena terbayang perbuatan-perbuatannya yang begitu menyiksa Kyuhyun padahal Kyuhyun sudah menolongnya. Sepanjang malam, Hyejin bingung apa yang harus dia perbuat.

Pagi ini Hyejin bangun terlambat karena tidur terlalu larut. Saat Hyejin bangun, rumah sudah sepi. Siwon sudah berangkat ke kampus, Eomma dan Appa Hyejin juga sudah berangkat kerja. Hyejin melihat jam di ruang makan yang menunjukkan pukul 9 pagi. Itu berarti dia sudah terlambat untuk mata kuliah pertama. Akhirnya Hyejin memutuskan untuk mengikuti kuliah jam 11 siang nanti.

Setelah mandi, Hyejin segera sarapan lalu siap-siap berangkat kuliah. Hyejin berangkat lebih cepat dari seharusnya karena ada hal yang harus Hyejin lakukan. Jam 10 kurang, Hyejin sudah berangkat ke kampus dengan kendaraan umum. Dan jam 10.20 Hyejin sudah sampai di kampus. Begitu sampai di kampus, Hyejin langsung bergegas menuju ruangan kelas Kyuhyun. Begitu sampai di sana, rupanya kelas Kyuhyun belum selesai. Alhasil, Hyejin harus menunggu beberapa saat untuk bertemu dengan Kyuhyun.

Jam 11 kurang 10 menit, kelas Kyuhyun selesai. Satu per satu orang dari kelas itu mulai keluar termasuk Siwon. “Hai, adikku sayang,” sapa Siwon ceria. “Berangkat sama siapa tadi? Maaf ya, oppa gak nungguin. Kalo nunggu kamu, oppa pasti terlambat.”

“Gak apa-apa. Aku juga tadi baru bangun jam 9. Kalo oppa nungguin, nasib oppa sama kayak Hyejin. Hyejin gak kuliah jam pertama tadi. Hehehehe,” jawab Hyejin sambil nyengir.

“Hehehehe. Kamu udah gak marah sama kakak tersayangmu ini? Humm?” tanya Siwon jahil.

“Maaf,” balas Hyejin sambil tertunduk malu.

Siwon lalu mengacak-acak rambut Hyejin dan tertawa renyah. “Hahahaha. It’s okay, darling. Hahahahaha,” kata Siwon senang. “Kamu ngapain di sini? Bukannya ada kuliah jam 11? Mau minta maaf sama kakak yaaa?” Siwon kembali menggoda Hyejin.

“Bukan, Hyejin ada urusan sama seseorang,” kata Hyejin yang sengaja tidak menyebutkan nama Kyuhyun di hadapan kakaknya.

“Oke. Oke. Ya udah, kakak duluan ya. Ada urusan BEM nih. Kakak mu ini kan eksis. Hahahahaaa,” sahut Siwon sambil tertawa-tawa renyah lalu pergi.

Hyejin melihat jam tangannya, yang telah menunjukkan pukul 11 kurang 5 menit. Hyejin mulai menimbang-nimbang untuk bicara dengan Kyuhyun atau kuliah. Saat Hyejin memutuskan untuk bicara dengan Kyuhyun, laki-laki itu keluar dari kelasnya dan menyapa Hyejin dengan riang, “Hai.”

“Hai,” balas Hyejin pelan lalu terdiam. Hyejin bingung mau melakukan apa.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun seolah tidak apa-apa.

“Maaf,” jawab Hyejin pelan.

“Maaf kenapa?” tanya Kyuhyun lagi dengan bingung.

“Maaf kemaren aku sudah berbuat tidak enak pada mu.”

“Tidak apa. Itu juga karena kesalahanku yang sudah seenaknya sendiri.”

Hyejin menggeleng-gelengkan kepalanya lalu melanjutkan permintaan maafnya, “Maaf, aku sudah berlaku yang tidak enak padahal kamu sudah menolongku. Kalau waktu itu kamu gak maksa aku keluar mungkin aku akan terus di sana dan melihat mantan pacarku lagi. Maaf.”

Kyuhyun hanya menaikkan alisnya lalu berkata, “Well, aku terima permintaan maafmu asal ada traktiran nonton bioskop, makan siang dan karaoke.”

“Banyak sekaliiii. Kau kan orang kaya kenapa minta traktir padaku yang tidak sekaya dirimu?” protes Hyejin secara spontan.

“Ya sudah, kalo gitu permintaan maaf mu aku tolak,” sahut Kyuhyun lalu mulai berjalan pergi.

“Tunggu,” seru Hyejin untuk menahan Kyuhyun. “Baiklah. Aku traktir. Kapan?”

“Sekarang,” jawab Kyuhyun singkat.

“Sekarang?!” seru Hyejin kembali memprotes.

“Ya sudah,” sahut Kyuhyun lalu beranjak pergi.

Hyejin menimbang-nimbang sebentar lalu berlari menyusul Kyuhyun. Setelah langkahnya sejajar dengan Kyuhyun, Hyejin menyetujui syarat yang diajukan Kyuhyun. Akhirnya Hyejin merelakan dirinya tidak kuliah hari ini.

Hyejin berjalan di belakang Kyuhyun dengan pasrah sambil menghitung-hitung jumlah uang yang tersisa di dompetnya. Hyejin juga mengingat-ingat apakah dia membawa kartu ATM atau tidak. Saking konsentrasinya Hyejin dengan isi dompetnya, Hyejin hampir menabrak Kyuhyun yang tiba-tiba berhenti. “Kenapa berhenti?” tanya Hyejin.

“Cepat panggil taksi,” kata Kyuhyun.

“Loh? Bukannya kita pergi dengan mobilmu?” tanya Hyejin keheranan. Masa iya Hyejin juga harus menanggung biaya transportasi mereka. Uangnya akan semakin menipis.

“Gak tuh. Kita pergi naik taksi dan kau yang bayar ya?” jawab Kyuhyun santai.

Hyejin hanya pasrah walaupun dalam hati sebenarnya Hyejin menggerutu sendiri, “Dasar anak orang kaya menyebalkan!! Hhh.. Kenapa aku selalu harus berurusan denganmu sihh?!!”

Hyejin segera memanggil taksi dan menaikinya setelah Kyuhyun masuk terlebih dahulu. Hyejin lalu menyebutkan tempat tujuan kepada supir taksi tersebut. Tidak berapa lama kemudian, Hyejin dan Kyuhyun sudah sampai di mall yang dituju. Saat Hyejin mau membayar taksi, Kyuhyun sudah terlebih dulu membayar taksi tersebut.

“Aku tidak akan membiarkan kau membayar semuanya. Aku hanya ingin mengganggumu. Hahahahaha,” kata Kyuhyun penuh tawa kepuasan lalu keluar dari taksi.

Hyejin mengikuti langkah Kyuhyun sambil menendang kaki Kyuhyun, “Kau menyebalkan!”. Melihat Kyuhyun meringis kesakitan, Hyejin hanya tertawa-tawa. Tetapi rupanya Kyuhyun merasa sangat kesakitan sehingga dia harus duduk untuk mengurangi rasa sakit itu. Hyejin yang merasa bersalah mendekati Kyuhyun dan meminta maaf. Begitu Hyejin mendekat, Kyuhyun menjitak kepala Hyejin lalu bangkit berdiri sambil tertawa-tawa. Ternyata Kyuhyun hanya pura-pura kesakitan.

“Ayo. Aku tidak mau ketinggalan film nya walau sedetik,” ajak Kyuhyun lalu menggandeng Hyejin ke dalam bioskop. Hyejin membeli tiket lalu mereka masuk ke dalam studio. Saat film masih berjalan, Kyuhyun mengajak Hyejin keluar dari bioskop.

“Aku lapar,” kata Kyuhyun.

“Tapi filmnya belum selesai, Kyuhyun,” sahut Hyejin.

“Tapi aku lapar. Ayo makan,” jawab Kyuhyun yang tetap memaksa Hyejin keluar dari studio. Hyejin akhirnya mengikuti permintaan Kyuhyun.

Hyejin mengikuti langkah Kyuhyun yang telah memasuki salah satu restoran mewah di dalam mall itu. “Kau mau benar-benar membuatku jatuh miskin karena harus mentraktirmu makan di restoran semewah ini,” protes Hyejin pada Kyuhyun.

Kyuhyun hanya tertawa dan tetap masuk ke dalam restoran itu. Kyuhyun mengambil tempat duduk tepat di depan panggung dimana ada sebuah piano di sana. Kyuhyun segera memanggil pelayan dan memesan makanan-makanan yang paling enak. Sedangkan Hyejin hanya duduk pasrah di samping Kyuhyun.

Tidak berapa lama, makanan-makanan yang dipesan Kyuhyun sudah terhidang di meja. Makanan-makanan tersebut sungguh menggoda selera Hyejin. Dengan setengah sopan, Hyejin mencicipi semua makanan tersebut. “Humm, sungguh enak,” kata Hyejin setelah menelan makanan pertama yang dicobanya.

“Hahaha. Memang. Tidak salah toh aku mengajakmu makan di sini,” sahut Kyuhyun.

“Tapi pasti sangat mahal. Uang sakuku bisa habis seketika gara-gara membayarnya,” gumam Hyejin pelan tetapi masih bisa didengar Kyuhyun.

Setelah Hyejin dan Kyuhyun sedang menikmati makan siang mereka sambil mengobrol, tiba-tiba datang seorang pria ke meja mereka. “Selamat siang, Tuan Muda,” kata pria itu pada Kyuhyun.

“Selamat siang,” jawab Kyuhyun sopan.

“Saya mewakili seluruh karyawan restoran ini mengucapkan selamat ulang tahun pada Tuan Muda,” kata pria itu lagi. Setelah itu, pria tersebut memberikan sebuah isyarat kepada salah satu pelayan restoran itu. Rupanya itu isyarat agar pelayan tersebut mengeluarkan hadiah untuk Kyuhyun. “Ini hadiah dari kami untuk Tuan Muda. Semoga Tuan Muda senang menerimanya. Kami khusus membuatnya untuk Anda.”

“Terima kasih,” sahut Kyuhyun.

Pria tersebut mulai membuka hadiah tersebut yang rupanya adalah kue ulang tahun yang begitu indah dan menakjubkan. Pria itu memotong kue tersebut lalu menyuguhkannya kepada Hyejin dan Kyuhyun. “Selamat menikmati,” kata pria tersebut lalu pergi setelah mendapat sebuah anggukkan kepala dari Kyuhyun.

“Kau ulang tahun? Hari ini?” tanya Hyejin cepat.

Kyuhyun hanya menganggukan kepalanya sekali lalu menikmati kue ulang tahunnya sendiri.

“Kenapa tidak bilang?” tanya Hyejin lagi.

“Aku tidak merasa wajib menyebarkan ke semua orang bahwa hari ini aku ulang tahun,” jawab Kyuhyun santai. “Kalau aku memberitahumu apa kamu akan memberikan aku kado?”

Hyejin terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Kyuhyun. Hyejin terinspirasi piano yang berada di depannya lalu berkata kepada Kyuhyun, “Apa lagu kesukaanmu? Aku akan memainkan lagu itu sebagai kado ulang tahunmu.”

“Kamu bisa main piano?” tanya Kyuhyun.

“Bisa. Walau gak terlalu bagus sih,” jawab Hyejin lalu nyengir. “Ayo, apa lagu kesukaanmu?”

“I’ll be there,” jawab Kyuhyun singkat.

“Aku tidak bisa lagu itu, Kyuhyun,” sahut Hyejin polos. “Lagu lain?”

“Baiklah,” kata Kyuhyun sambil memikirkan lagu lain. Setelah beberapa saat, Kyuhyun menyebutkan satu buah lagu, “You’ll be in my heart.”

“Kyuhyun, kenapa kau memilih lagu yang susah-susah?!” protes Hyejin. “Aku tidak bisa juga lagu itu.”

“Payah,” sahut Kyuhyun. “Cepat mainkan untukku.”

Hyejin berpikir sebentar lalu naik ke panggung untuk memainkan lagu permintaan Kyuhyun. “Jangan salahkan aku kalau terdengar tidak bagus,” kata Hyejin sebelum mulai bermain. Kyuhyun menjawabnya dengan senyum dan anggukan.

Hyejin lalu memainkan lagu You’ll be in my heart tersebut dengan semampunya. Walaupun tidak terdengar terlalu bagus, Kyuhyun memperhatikan permainan piano Hyejin dengan seksama dan sesekali tersenyum melihatnya.

Hyejin segera turun dari panggung begitu dia selesai memainkan lagu itu dan kembali ke tempat duduknya. “Bagaimana permainanku?” tanya Hyejin pada Kyuhyun.

“Tidak terlalu buruk,” jawab Kyuhyun jujur. “Malah cukup baik kalau mengingat tadi kau bilang bahwa kau tidak bisa memainkan lagu itu.”

“Terima kasih,” sahut Hyejin sambil tersenyum lebar.

Setelah merasa kenyang, Kyuhyun mengajak Hyejin keluar dari tempat itu. “Tenang, kamu tidak perlu membayar semua makanan tadi,” kata Kyuhyun.

“Hehehe. Terima kasih lagi, Kyuhyun,” sahut Hyejin. Hyejin lalu menawarkan Kyuhyun sebuah hadiah ulang tahun lagi, “Bagaimana kalau sekarang kita karaoke? Kali ini aku yang traktir. Hitung-hitung hadiah ulang tahunmu lagi.”

“Tidak usah,” tolak Kyuhyun tetapi mengajukan acara lain, “Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja? Atau bermain di taman bermain?”

“Oke,” jawab Hyejin.

Hyejin dan Kyuhyun lalu berjalan-jalan mengelilingi mall tersebut. Masuk dari satu toko ke toko lain. Mencoba-coba pakaian di beberapa toko. Lalu berfoto dengan berbagai gaya. Hyejin malah mendapat sebuah boneka beruang yang sangat besar dari Kyuhyun.

“Terima kasih,” kata Hyejin saat menerima boneka beruang tersebut. Hyejin memperhatikan boneka itu sejenak lalu berkomentar, “Wajah beruang ini mirip kamu, Kyuhyun. Dingin dan Kaku. Hehehehe.”

Kyuhyun hanya mengaruk-garuk kepalanya lalu kembali berjalan. Hyejin berusaha menyesuaikan langkah Kyuhyun agar dapat berjalan dengan sejajar. Kyuhyun lalu masuk ke dalam sebuah pusat permainan dan memilih permainan kesukaannya. Hyejin mengikuti keinginan Kyuhyun. Mereka berdua menaiki permainan yang sungguh membuat pusing karena permainan itu terus berputar sangat kencang. Selesai menaiki permainan itu, Hyejin segera  duduk di kursi terdekat. Hyejin merasa pusing dan mual.

“Kau kenapa?” tanya Kyuhyun panik melihat muka pucat Hyejin.

“Kepalaku pusing. Perutku juga mual karena naik permainan itu,” jawab Hyejin pelan. “Pulang. Aku ingin pulang.” Hyejin lalu mencoba berdiri tapi kembali terduduk karena tidak kuat.

“Oke. oke,” kata Kyuhyun yang masih panik. Kyuhyun menyenderkan kepala Hyejin ke bahunya lalu menelpon supirnya. “Jemput saya di mall Premiere lantai 4 sekarang,” perintah Kyuhyun pada supirnya.

Sepuluh menit kemudian Hyejin sudah berada di dalam mobil Kyuhyun dan tanpa bisa dikontrol, kemualan Hyejin telah mengotori mobil Kyuhyun. Setelah itu, Hyejin pingsan.

-to be continued-

xoxo @gyumontic