Annyeonghaseyo ^^
this fanfiction made by gyumontic and edited by esterong hehehe
hope you like it yaa readers!
enjoy reading ><

Cast :

– Choi Siwon

– Kang Hamun

– etc.

*****

Choi Siwon’s POV

Sambil sekuat tenaga berusaha melupakan tugas-tugasku yang menumpuk di kantor, aku memasuki ruangan dimana orang tuaku sudah menunggu, begitu juga dengan kakakku. Aku membungkukkan badan kepada semua yang hadir di ruangan ini. “Aku terlambat. Jwisonghamnida,” ucapku.

“Gwencana, Siwon-ssi. Kau belum terlambat. Masih ada yang harus kita tunggu, Nak,” sahut seorang wanita seumuran ibuku sambil tersenyum hangat kepadaku. Dia adalah Nyonya Kang.

Aku tersenyum sopan kepada wanita itu lalu mengambil tempat duduk di sebelah kakakku. “Siapa lagi yang kita tunggu?” bisikku pada kakakku. Kakakku menggelengkan kepalanya dengan kaku. Jelas sekali ia sangat tertekan. Kuletakkan tanganku di bahunya, berharap bisa memberikan sedikit ketenangan untuknya. “Tenanglah, nanti aku yang akan bicara,” kataku.

Aku tahu maksud pertemuan ini : perjodohan. Tidak ada kata lain. Ketika dua keluarga dengan formasi lengkap mengadakan pertemuan itu artinya ada rencana untuk saling lebih mendekatkan diri. Kali ini korbannya adalah kakakku. Aku tahu dia sudah dalam usia yang matang untuk sebuah pernikahan tapi… Oh ayolah, ini zaman smartTV. TV sudah digunakan bukan lagi hanya untuk menonton siaran stasiun televisi tapi juga menonton film 3 dimensi dan internet. Hanya dengan itu saja, kakakku bisa menemukan orang dicintainya. Tidak perlu pemaksaan seperti ini.

Anak lelaki keluarga Kang duduk berhadapan denganku, membuatnya mau tidak mau mengajakku bicara. “Aku dengar Paman baru buka sekolah di Taiwan. Apa pangsa pasar di sana bagus?” tanyanya, cukup ramah.

“Sangat baik malah. Taiwan pasar yang bagus untuk bisnis pendidikan. Keluarga Kang sendiri aku dengar akan membuka department store baru di Hongkong. Aku yakin pasti akan sesukses di Seoul,” jawabku sambil tertawa-tawa, basa-basi tentu.

“Ucapkan itu nanti pada adikku. Dia yang mengajukan ide untuk membuka cabang di Hongkong. Kalau aku sebenarnya ingin membeli agency manajemen artis, SM. Keuntungan mereka 3 tahun belakangan ini benar-benar spektakuler.”

“Benarkah?”

Anak laki-laki keluarga Kang itu kembali bersemangat bercerita meskipun sebenarnya aku sangat malas mendengarnya. Aku hanya ingin pertemuan ini cepat selesai. Aku tidak tega melihat kakakku yang terus tertekan.

“Hyung, sebenarnya siapa lagi yang kita tunggu?” tanyaku berusaha tidak menyakitinya karena aku sudah memotong ceritanya yang tidak terlalu seru, menurutku.

“Itu dia sudah datang,” jawabnya sambil menunjuk pintu di belakangku.

Reflek, aku menengok ke belakang dan melihat seorang gadis yang sedang terengah-terengah meminta maaf atas keterlambatannya. “Begitu selesai rapat aku langsung ke sini. Maaf sudah menunggu lama. Jeongmal jwisonghamnida.”

Aku memandang gadis yang masih tergopoh-gopoh itu dengan seksama. Dari atas sampai bawah tidak ada yang berubah. Aku kenal siapa dia. “Hamun ,” bisikku. Untung hanya kakakku yang mendengarnya.

“Kau mengenalnya?” tanya kakakku.

“Teman waktu kuliah,” jawabku yang langsung kukoreksi cepat-cepat. “Ah ani. Musuh besarku. Dia sainganku.”

Hamun  menangkap tatapan mataku dan membalasnya dengan penuh kebencian. Dengan gaya bak putri raja, ia berjalan menuju kursi yang sudah disediakan khusus untuknya, di sebelah abangnya. Kalau saja perjodohan ini berhasil artinya aku akan bersaudara ipar dengan Hamun . Oh tidak, terima kasih. Aku harus membatalkan perjodohan ini bagaimanapun caranya.

Karena semuanya sudah berkumpul, Appa bangkit berdiri dan mulai berbicara, “Karena sudah tidak ada lagi yang kita tunggu, bagaimana kalau kita mulai saja perjodohan antara anak kami, Choi Siwon dan nona Kang Hamun.”

Aku menatap Appa dengan mulut menganga. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Appa. “Menjodohkanku dengan Hamun ? Bukannya perjodohanmu?” bisikku kesal pada Jiwon nuna. Jiwon nuna menatapku dengan wajah meminta maaf. Aku tahu, mereka sudah bersekongkol. Dari awal acara ini memang ditujukan untukku. Appa, Eomma dan Nuna bekerjasama untuk menjodohkanku dengan gadis paling menyebalkan sedunia! Apa ada yang lebih sial dari aku?!

Kalau aku masih hanya berani menatap Appa, Hamun  sudah beberapa langkah lebih maju. Dia sudah berdiri dan membungkukkan badannya. “Maaf, aku tidak bisa. Aku dan tuan Choi Siwon tidak akan bisa bersama,” katanya sopan kepada Appa.

“Wae?” tanya Appa.

“Kami tidak pernah cocok,” jawab Hamun  lalu mengalihkan pandangannya kepadaku. “Iya kan, tuan Choi Siwon?” ujarnya kepadaku dengan jelas untuk mendukung pernyataannya.

Aku mengangguk dengan mantap. “Appa pasti akan menyesal menjodohkanku dengan Hamun. Kami bagaikan  langit dan bumi, anjing dan kucing, minyak dan air. Bertolak belakang, suka bertengkar, dan tidak bisa disatukan.”

Hamun  tersenyum, basa-basi penuh penyesalan. “Jadi lebih baik, kalau keluarga kita tetap harus bersatu, jodohkan saja Kangin oppa dengan eonni.”

“Jangan gila kau, Hamun! Aku akan segera menikah dengan tunanganku!” bantah Kangin hyung dengan tegas.

Jiwon nuna juga menyepakatinya, “Aku sudah punya pacar. Maaf.”

Suasana seketika senyap. Tidak ada suara sampai tuan Kang angkat bicara, “Kang Hamun, kalau kau masih mau department storemu di Hongkong dibuka, mulai besok kau harus tinggal bersama Siwon di rumahnya dan Appa harap kau akan menikah dengannya.”

Hamun  menatap tuan Kang dengan tatapan terkejut sekaligus tidak percaya. “Appa, sungguh tidak lucu mengancamku dengan alasan itu. Department store itu harus tetap dibuka meski aku tidak menyetujui perjodohan ini. Kita akan untung ratusan juta won, Appa,” protes Hamun.

“Bagi Appa, bersatunya kau dan Siwon akan bernilai miliaran won,” balas tuan Kang.

“Kami mohon, jangan kecewakan kami,” kata Appa setengah memohon.

Aku menatap Appa dan menemukan alasan mengapa kami dijodohkan. Tidak lain adalah untuk meningkatkan nilai saham perusahaan kami di pasar. Jika aku dan Hamun  bersatu, maka perusahaan yang dimiliki oleh orang tua kami masing-masing akan bersatu yang otomatis memperbesar pangsa pasar kami dan membuat investor dengan senang hati menanamkan modalnya di perusahaan kami.

Aku bisa pastikan, perusahaan ini akan mengeruk keuntungan ratusan miliar won tidak sampai lima tahun. Tapi harga yang harus aku dan Hamun  sangatlah mahal. Kami harus saling berhadapan, dan mungkin bertengkar setiap detik. Lebih berat daripada 24 jam di kantor memikirkan strategi ekspansi bisnis perusahaan-ku.

*****

tuan Kang meralat omongannya saat pertemuan berakhir dan kami memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing. “Hamun , anak Appa yang cantik, Appa rasa lebih baik kau tinggal bersama Siwon mulai malam ini. Semakin cepat kalian mengenal akan semakin cepat kalian bersatu. Siwon, tolong jaga anakku baik-baik ya. Aku percaya padamu.”

Aku tidak bisa membantah. Hamun tidak punya pilihan lain. Alhasil sekarang aku dan Hamun  duduk bersama di dalam mobil tanpa bicara sepatah kata pun. Ia sibuk dengan Blackberry-nya sedangkan aku masih berpikir keras, sambil menyetir, kenapa dari sekian ratus anak gadis pebisnis ternama kenalan Appa terpilih Hamun, musuh besar dan mimpi burukku, untuk dijodohkan.

“Tidak usah terlalu dipikirkan,” kata Hamun  tiba-tiba.

“Apa?” sahutku bingung.

“Perjodohan ini. Kita jalani saja, aku tidak peduli jika kau mempunyai pacar atau mungkin calon istri. Selama memberikan keuntungan untuk perusahaan tidak perlu terlalu dipermasalahkan. Tapi jangan harap semuanya akan berjalan mulus. Aku masih Hamun  yang akan selalu beradu argumen denganmu,” jawab Hamun  dengan santai tanpa memandangku sedikitpun. Ia masih sibuk dengan Blackberry-nya.

Aku tidak tahu bereaksi bagaimana kecuali menginjak rem mobilku sampai timbul bunyi decit yang sangat keras. Badanku dan Hamun  mendadak terhempas ke depan. “Yaaa!” teriak Hamun marah.

Aku menatap Hamun . “Harusnya aku yang berteriak seperti itu! Kau pasti sudah gila! Kau menerima perjodohan ini hanya demi perusahaan dan department store-mu?”

“Apa kau tidak memikirkan perasaan orang lain? Perasaanku, misalnya? Aku ingin menikah dengan orang yang aku cintai, membangun rumah tangga yang bahagia dan anak-anak yang lahir dari rahim wanita yang aku cintai.”

Hamun  menatapku dengan tajam dan penuh kebencian. “Sudah aku bilang kan? Aku tidak peduli. Mau kau sudah punya pacar atau bahkan istri. Selama mereka tidak menganggu miliaran won yang akan aku hasilkan jika bersama denganmu, kau bisa melakukan apapun yang kau mau dengannya.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan jika mereka membuatmu gagal?”

“Aku akan menyingkirkan mereka dengan tanganku sendiri.”

Aku menggelengkan kepalaku, memandang wanita di hadapanku dengan tidak percaya. “Kau sakit jiwa. Aku rasa tidak akan ada pria yang mau hidup bersamamu.”

Hamun  tersenyum sinis lalu mengacungkan jari telunjuknya ke arahku. “Kau.”

Aku tertawa sinis dan berpaling dari Hamun. “Kau bercanda. Aku tidak pernah sudi. Cih!”

“Boleh. Kalau kau mau hidup miskin dan jadi gelandangan.”

Aku terpaksa kembali memfokuskan pandanganku kepada Hamun  untuk memahami apa yang sebenarnya dia katakan.

“Apa Appa-mu belum memberitahu? Kau dijodohkan denganku untuk membesarkan bisnis keluarga Kang dan Choi. Kalau kau tidak mau, tuan Choi akan menghapusmu dari daftar warisnya dan menarik segala sesuatu milik keluarga Choi darimu. Otomatis kau akan jadi gelandangan. Sebenci-bencinya kau padaku, itu satu-satunya cara kalau kau tetap mau bermarga Choi.”

“Apa?!” Aku sungguh terkejut.

Setelah aku harus tinggal bersama Hamun , ternyata ada hal yang lebih buruk: dicoret dari keluarga Choi jika aku memberontak. Aku benar-benar tidak punya pilihan. Hidupku bisa tamat di tangan gadis menyebalkan ini. Dari milyaran wanita di dunia ini kenapa Kang Hamun  yang harus dijodohkan denganku?

*****

Hamun  begitu saja masuk ke dalam rumahku begitu aku mematikan mesin mobil. Hebatnya lagi, dia disambut sangat hangat oleh orang-orang di rumahku. “Hamun , cucuku. Selamat datang, sayang. Aku sudah menunggumu dari tadi. Apa kabar?” sapa nenekku seolah Hamun  adalah cucunya yang baru pulang ke rumah setelah lama tidak pulang, yang sungguh membuatku bingung.

Dengan senyum cerah dan hangat, Hamun  mengecup kedua pipi nenekku. “Halo, haelmoni. Apa kabar? Lama tidak bertemu. Apa Cherry baik-baik saja?” sahut Hamun  jauh lebih ramah, jauh lebih membuatku bingung. Ah, mungkin Hamun  hanya ingin cari muka karena dia tahu pemegang saham terbesar di perusahaan Choi adalah nenekku. Semua hal di keluarga Choi tergantung perkataan yang keluar dari wanita berumur 64 tahun itu.

Nenek menganggukkan kepalanya. “Dia baru saja melahirkan. Besok pagi aku akan menunjukkannya kepadamu. Sekarang kau harus istirahat. Kau pasti sudah sangat lelah kan sayang?”

Hamun  mengangguk sambil tersenyum lalu memeluk nenek. “Sampai jumpa besok pagi, haelmoni,” ucapnya.

Aku yang daritadi hanya berdiri memandang mereka, dengan sigap menyahut ketika nenek menyuruhku mengantarkan Hamun  ke kamarnya. “Siwon, antar Hamun  ke kamarnya tepat di depan kamarmu. Biar ia istirahat.” Dengan patuh aku menuruti perintah nenek. Aku mengantarkan Hamun  ke kamar yang ternyata sudah disiapkan nenek untuknya.

“Aku tidak tahu apa yang kau lakukan pada nenekku sampai ia melakukan ini semua. Tapi asal kau tahu, ia paling tidak suka dengan orang yang cari muka untuk mendapatkan keuntungan sendiri,” kataku sebelum Hamun  memasuki kamarnya.

“Untuk keuntungan dua belah pihak, tuan Choi. Tolong camkan itu. Ingat baik-baik. Satu lagi, kalau kau tidak tahu apa-apa, lebih baik tidak usah bicara.” Klap! Hamun  menutup pintu kamarnya tepat setelah dia mengucapkan kata terakhirnya.

*****

Kebiasaanku bangun jam 5 pagi meskipun aku tidur selarut apapun tidak bisa berubah sejak aku masuk ke perusahaan ini empat tahun lalu. Biasanya aku akan melanjutkan dengan jogging mengelilingi rumah tapi kali ini tergantikan dengan yoga. Apalagi kalau bukan karena ulah nona besar Kang Hamun .

“Siwon! Ayo sini kita yoga bersama!” seru nenek dari beranda rumah bagian belakang. Aku menghampirinya dan duduk bersila di sampingnya. Aku melihat Hamun  sedang yoga dengan posisi seperti meditasi. Wajahnya tenang. Pernafasannya tetap teratur meskipun kencangnya suara nenek tadi mampu memecah konsentrasinya. Nenek mulai kembali berkonsentrasi, aku pun mengikutinya meski aku tidak tahu caranya. Aku hanya duduk bersila, menarik dan menahan nafas semampuku saja.

Buk! Hamun tampaknya baru saja memukulku. Aku membuka mataku dengan perlahan. “Wae?” tanyaku kesal.

“Kalau mau tidur, kembali ke kamarmu sana,” bentak Hamun .

Ternyata aku ketiduran selama yoga tadi. Mataku terpejam cukup lama sampai aku tidak tahu langit sudah mulai cerah dan nenek yang tidak lagi di sampingku. “Mana nenek?” tanyaku pada Hamun  yang sudah mau meninggalkan tempat kami yoga.

“Sudah siap-siap sarapan. Aku tidak tahu bagaimana caranya kau mau meraih keuntungan kalau jam segini kau masih tidur. Asal kau tahu, para penerus bisnis Song, Lee, Kim dan Park sudah mulai bekerja sejak jam 5 pagi tadi. Tidak heran kalau satu-satunya cara adalah mengirimkan kau ke perusahaan kami supaya kau lebih kerja keras.”

Gadis ini memang benar-benar tahu menghancurkan mood orang di pagi hari. “Ya, aku akan kerja keras untuk menggagalkan proyek department store-mu itu,” sahutku datar yang langsung membuat Hamun  pucat pasi.

“Jangan berani-berani menyentuh proyekku. Apapun yang kau lakukan di perusahaan aku tidak peduli tapi jangan campuri urusanku. Sekali kau taruh satu opinimu di proyekku, aku jamin kau akan terdepak dari keluarga Choi.” Hamun  mengucapkan setiap katanya dengan serius. Matanya tidak sekalipun berkedip, membuatku yakin ia memang akan melakukannya.

 

Flashback to 8 years ago

Tingkat dua adalah tingkat dengan kelas terbanyak yang sekelas bersama-sama dengan Hamun, mahasiswa peringkat pertama dari jurusan Accounting. Hal itu berarti kelas akan berakhir lebih lama karena panjangnya perdebatan antara aku, mahasiswa peringkat pertama jurusan Managemet, dan Hamun  akan suatu kasus yang dilemparkan dosen kami.

“Semua aktivitas keuangan usaha harus dicatat dan dilaporkan sesuai dengan standar yang berlaku. Materialitas laporan diasumsikan 1% atau sesuai dengan industrinya. Dari sini bisa kita lihat kelayakan pembiayaan yang dapat diberikan kepada perusahaan. Melalui laporan keuangan sebuah perusahaan, kita bisa melihat cash flow sebuah perusahaan dan berapa sebenarnya kemampuan perusahaan untuk membayar fasilitas pinjaman yang dimiliki,” jelas Hamun  saat presentasi.

Aku mulai berdiri dan berdebat. “Kalau mereka punya uang tapi tidak kooperatif, tidak mau membayar hutangnya, apa yang akan kau lakukan? Menagihnya setiap hari sampai waktumu tersita untuk mereka. Kau jauh lebih rugi. Sejam waktu yang kau habiskan untuk menagih puluhan juta won bisa kau gunakan untuk menghasilkan ratusan juta won.”

Hamun  tertawa sinis padaku. “Coba praktekan itu ke perusahaanmu. Aku ragu tuan Choi akan setuju. Dimana-mana yang namanya bisnis akan melihat aspek keuangannya lebih dulu. Dari situ bisa dilihat sebuah bisnis profitable atau tidak. Buat apa bisnis kalau tidak menghasilkan keuntungan?”

Dosen kami yang tampaknya sudah bosan mendengar perdebatan kami akhirnya menengahi. “Kalian tidak ada yang salah. Kedua aspek tersebut harus diperhitungkan juga dengan aspek lain seperti agunannya, modal dan kondisi ekonomi negara yang sedang bertumbuh atau tidak.”

Dasar aku dan Hamun  yang memang sama-sama keras kepala. Omongan dosen kami bukannya menjadi penengah malah menjadi bahan perdebatan baru.

Hamun! Siwon! Kalau kalian masih mau bertengkar, silahkan lanjutkan nanti. Saya mau mengakhiri kelas dahulu,” tegur Dosen kami. “Class missed.” Para mahasiswa pun berhamburan keluar kecuali Hamun  dan aku.

“Ada apa lagi?” tanyaku karena Hamun  menahanku.

“Prepare yourself for something worse tomorrow. I promise to argue when you come to presentation. See you!” katanya dengan penekanan yang sangat meyakinkan, tidak membuatku takut, malah membuatku tertantang.

Maka saat tiba aku presentasi, aku sudah menyiapkan satu kasus khusus yang akan aku lemparkan ke floor sebelum dosen melemparkan kasus. Hal ini aku lakukan tentu saja agar aku bisa menjawab semua pertanyaan yang ada. Cerdas bukan?

“So, the question is, the simplest one, give me 5 reasons why company have to hire people when everything can be handle by machine?” tanyaku begitu aku menyelesaikan presentasiku yang membahas penggunaan teknologi untuk mengefisiensikan biaya.

“Karena harus ada orang yang mengoperasikan mesin-mesin itu,” jawab salah satu temanku.

Aku tersenyum. “Alasan kedua?” tanyaku lagi.

“Agar ada orang yang membetulkan mesin-mesin tersebut kalau rusak atau eror,” jawabnya lagi.

Aku tersenyum sambil mengacungkan jempol, telunjuk dan jari tengahku menunjukkan aku minta alasan ketiga. Hamun  berdiri dengan percaya diri dan mengemukakan pendapatnya, “Aku tidak perlu 5 alasan. Semuanya cukup satu.”

“What?” tanyaku ramah basa-basi karena sebenarnya aku ingin sekali melempar gadis ini keluar kelas. Wajahnya yang meremehakanku membuatku kesal.

“As simple as your question. Manusia adalah makhluk paling sempurna ciptaan Tuhan. Buat apa kau memiliki mesin atau robot yang kesempurnaannya maksimal KW super jika ada kesempurnaan yang sesungguhnya.”

Sehabis dia menyelesaikan omongannya, kelas bertepuk tangan riuh rendah membuatku merasa dipermalukan. Ani, aku benar-benar dipermalukan. Dosenku pun bertepuk tangan atas jawaban Hamun  yang sangat simpel dan membumi. Hamun  tersenyum sinis kepadaku. “As I said, I’ll make you worse,” bisiknya.

“Siwon!! Mau sampai kapan kau disana?! Ayo sarapan! Kau bisa terlambat nanti!” panggil nenek yang menyadarkanku dari kenangan 8 tahun lalu saat aku dan Hamun  memulai peperangan kami.

*****

Dengan tergesa-gesa aku masuk ke dalam mobil dimana Hamun  sudah menunggu begitu juga dengan omelannya. “See, baru berangkat ke kantor saja kau sudah terburu-buru seperti ini. Kelihatan sekali tidak punya perencanaan. Aku yakin banyak barangmu yang tertinggal di rumah. Bagaimana kau bisa…”

“Kang Hamun, tidak bisakah kau menutup mulutmu? Paling tidak selama berada di mobil ini. Aku muak mendengar suaramu,” bentakku kesal.

“Aku tidak peduli. Aku mengatakan yang sebenarnya. Seorang pebisnis yang baik tidak layak datang ke kantor tanpa persiapan yang matang. Itu bisa mendatangkan kerugian buat perusahaan.”

Ya Tuhan, terbuat dari apakah mulut satu wanita yang kau ciptakan ini? Ampuni aku Tuhan karena mengutuknya. “Aku berharap kau bisu, Kang Hamun. Jadi aku tidak perlu tenaga ekstra untuk menyuruhmu tutup mulut.”

Hamun  benar-benar tidak peduli. Ia terus saja berceloteh panjang lebar, “Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya perusahaanku jika kau yang memimpinnya. Aku pasti akan jadi orang pertama yang menentangnya. Lebih baik Kangin oppa saja yang jadi penerusnya, dia jauh lebih baik meskipun payah. Calon istrinya bisa mendorongnya untuk lebih fokus ke perusahaan. Aaaaaakhhh!”

Teriakan Hamun  yang menyakitkan telinga membuat ubun-ubunku menegang. Aku ingin sekali menendang wanita ini keluar dari mobilku. “Ada apa lagi sih Hamun ? Kenapa kau selalu saja cari ribut?!” teriakku kesal campur frustasi.

“Lihat!” serunya sambil menunjuk televisi besar yang terpasang di gedung Hyundai Department Store. Aku melihat televisi tersebut dan seketika membuka mulut lebar-lebar. TV dengan lebar 100 inch yang dapat dilihat dari segala sudut itu sedang menayangkan berita meleburnya Kang dan Choi Corporation diikuti berita pernikahan Siwon dan Hamun yang akan dilaksanakan beberapa bulan ke depan. Appa dan tuan Kang memberitakannya sendiri dengan senyum dan tawa selebar-lebar yang mereka punya.

“What the hell are they doing?” umpatku tanpa bisa aku tahan lagi. Hal ini benar-benar tidak masuk akal. Mereka bukan lagi menjodohkanku tapi menikahkanku dengan Hamun. Tidak, kiamat pasti sudah dekat.

*****

Hamun  langsung keluar dari mobilku begitu aku selesai memarkirkan mobilku di tempat parkir khusus pegawai. Ia berpesan agar aku jangan langsung keluar. “Masuk 10 menit lagi. Aku tidak ingin orang berpikir yang aneh-aneh karena melihat kita datang bersama,” katanya dengan galak.

Aku mengikuti pesannya agar tidak terjadi keramaian tapi melihat kedatanganku ke kantor itu saja sudah memancing keramaian. Orang-orang, para pegawai rasanya, mulai berbisik-bisik setiap aku melewati mereka.

“Itu Choi Siwon, penerus perusahaan Choi jadi mungkin penerus Kang juga seperti yang dibilang direktur Kang.”

“Wah, tampan ya. Cocok sekali jika disandingkan dengan Nona Manager Hamun .”

“Selamat pagi, sajangnim,” sapa salah satu dari mereka.

Aku tersenyum sambil sedikit membungkukkan badan. “Selamat pagi,” balasku.

Aku menuju lift tanpa ada ide lantai berapa yang harus kutuju. Aku tidak tahu di lantai berapa ruang kerja manajer apalagi Direktur. Hamun pun tidak memberi tahuku dimana letaknya. “Hash. Dasar menyebalkan,” gerutuku kesal.

“Siwon!” panggil seseorang yang otomatis membuatku menoleh kepadanya.

“Ah, Kangin hyung. Annyeonghaseyo,” sapaku sambil membungkukkan badan. Kangin hyung bukannya membalas dengan bungkukkan tetapi memelukku.

“Hari pertamamu bekerja di perusahaan kami?” tanya Kangin hyung dengan sangat ramah.

“Ne, dan aku tidak tahu harus kemana. Hamun  meninggalkanku, hyung,” aduku seperti adik kecil yang manja.

Kangin hyung tertawa. “Dia memang seperti itu. Nanti aku yang akan mengantarkanmu. Ayo kita ngobrol-ngobrol sambil minum sekarang.”

Kangin hyung mengajakku ke ruangannya di lantai 5 sambil memberitahu letak-letak lantai penting di kantor ini. “Lantai 2 itu tempat para direktur. Lantai 4 adalah bagian Perencanaan. Lantai 6 itu bagian Promosi. Lantai 9 tempatnya Persediaan dan Penjualan. Lantai 11 bagiannya Audit dan Accounting, wilayah kekuasaan Hamun .”

“Berarti lantai 5 adalah wilayah kekuasaanmu. Kau bagian apa, hyung?” tanyaku. Kangin hyung tidak perlu menjawab pertanyaanku karena aku dapat membacanya dengan jelas begitu pintu lift terbuka. DEWAN KOMISARIS. “Pantas saja kau rela menyerahkan perusahaan ini kepadaku. Ternyata kau yang akan mengawasiku.”

Kangin hyung hanya tertawa. “Karena itu bekerjalah dengan baik. Aku akan mengawasimu dengan sungguh-sungguh.”

“Oke, mari kita mulai cerita kita mengenai perusahaan ini,” ujar Kangin hyung sambil membawa beberapa tumpuk buku. “You know, time is money. Sejam saja yang kita luangkan untuk bersantai bisa menghasilkan jutaan won jika aku mengerjakan bisnis ini. Iya kan?”

Aku mengangguk-angguk setuju. Ternyata Kangin hyung dan Hamun tidak jauh beda. Otaknya selalu berpikir untuk menghasilkan won-won dalam jumlah tidak terhitung.

Kangin hyung mulai berbicara, buku-buku itu dibukanya di hadapanku. “Aku akan melewati sejarah perusahaan. Itu akan sangat membosankan. Aku akan menceritakan kepadamu mengenai strategi perusahaan saja dan rencana ekspansi ke depan. Aku yakin kau akan mencerna ini semua dengan cepat. Lulusan Terbaik Manajemen Keuangan Seoul National University. Jangan memalukan almamater kita.” Ternyata Kangin hyung adalah seniorku tapi ia senior yang jarang kelihatan. Mungkin karena kuliahnya dilakukan sambil bekerja.

Tidak terasa sudah hampir seharian aku habiskan bersama Kangin hyung. Kalau tidak karena handphone-ku yang bolak-balik berdering menerima panggilan dari Hamun, aku pasti akan lebih lama lagi diskusi dengan Kangin hyung. “Wae?” tanyaku kesal.

“Kau dimana? Kemana saja kau seharian ini? Aku mau pulang!” seru Hamun  tetap galak yang membuatku ingin menjambaknya.

“Yaaa! Kau yang meninggalkanku kenapa sekarang marah-marah padaku?! Aku sedang bersama Kangin hyung. Kalau mau pulang, pulang saja,” balasku.

Sambungan telepon diputus oleh Hamun. Tidak berapa lama kemudian, pintu ruangan Kangin Oppa terbuka. “Mulai besok, aku minta kunci duplikat rumahmu. Aku tidak mau lagi berangkat dan pulang bersama denganmu. Kita jalan-jalan sendiri saja. Bisa gila aku kalau mengikutimu.”

“Terserah. Minta saja sama penjaga rumahku. Lagipula siapa juga yang menyuruhmu ikut denganku? Tidak ada kan?”

“Cih! Ayo pulang!”

“Ini masih jam 11. Aku masih ada urusan dengan Kangin hyung. Kau pulang saja duluan.”

Hamun  menatapku dengan kesal.

“Kenapa? Biasanya kau kan pulang sendiri. Mana mobilmu? Atau taksi. Bisa kan? Kalau kau takut, pakai saja supir. Tidak mungkin kau tidak punya supir.”

Hamun  menghentakkan kakinya dengan kesal. “Eeergh! Kalau bukan karena miliaran won, aku pasti akan menendangmu detik ini juga. Jadi pria kok tidak ada lembut-lembutnya kepada wanita,” omelnya.

“Buat apa lembut kepadamu? Kau bukan wanita. Kau itu monster,” sahutku.

“Aku bersumpah akan mengambil perusahaan ini dari tanganmu. Aku tahu meski kau yang ditunjuk untuk jadi penerusnya, aku yakin dapat merebut posisi itu darimu. Tidak akan kuserahkan perusahaan ini kepada pria kasar seperti dirimu!”

“Tentu tidak juga untuk wanita egois dan cerewet sepertimu.”

Aku dan Hamun sepertinya sudah lupa bahwa kami sedang bertengkar di ruangan Kangin hyung. Kami tidak sadar bahwa Kangin hyung sedang memperhatikan kami. “Sampai kapan kalian mau bertengkar? Aku pusing mendengarnya. Lebih baik kalian pulang saja. Sana!” usir Kangin hyung lalu mendorong kami keluar dari ruangannya. Dengan kasar, Kangin hyung menutup pintu ruangannya tepat di depan wajah kami berdua.

“Besok ada rapat Direksi untuk membahas department store-ku di Hongkong. Appa mengundangmu untuk hadir. Awas kalau kau berani memberikan satu patah opini saja. Kupatahkan lidahmu,” ancam Hamun  serius.

“Lihat saja besok. Kau tidak bisa mengaturku,” sahutku lalu berjalan meninggalkannya.

Perang Peringkat Pertama Tahap Kedua sudah dimulai. Sejak pertama kali berjumpa lagi dengan Hamun aku tahu perang ini akan kembali berkobar. Sudah kubilang aku dan Hamun itu seperti langit dan bumi, anjing dan kucing, minyak dan air. Bertolak belakang, tidak akan pernah akur dan tidak bisa disatukan.

*****

Jam 5 pagi aku sudah bangun dan bersiap-siap untuk jogging. Seperti biasa aku melihat Hamun  dan nenek sedang yoga bersama. Tapi tampaknya mereka sudah mau selesai karena mereka sudah menarik nafas panjang dan menghembuskannya tanda menutup sesi yoga mereka. “Haelmoni, kok sudah selesai?” tanyaku.

“Hamun  mau menyiapkan presentasi. Kau nanti ikut rapatnya, kan?” tanya nenek.

Aku menganggukkan kepala. “Akan aku buat proyeknya tidak berhasil,” kataku.

Haelmoni menatapku dengan galak. “Jangan berani-berani lakukan itu. Aku investor terbesarnya.”

“Maksudnya? Haelmoni memberikan dana untuk pembuatan department store-nya Hamun itu?”

Dengan semangat nenekku menganggukkan kepalanya. “Aku menanamkan modal sekitar setengah triliun won di sana. Jadi, kalau sampai kau berani menggagalkannya itu artinya kau siap mempunyai hutang setengah triliun won kepadaku, Choi Siwon.”

Nenek benar-benar membuat mulutku menganga lebar-lebar saking kagetnya. Tahun lalu, aku pernah meminta tolong nenek untuk membantuku membuka sebuah showroom mobil yang modalnya hanya sekitar 5 milyar won tapi nenek langsung menolaknya mentah-mentah. Sedangkan Hamun, diberikannya 500 milyar won! Nenek pasti sudah sakit jiwa. Apa yang dilakukan Hamun  pada nenek sebenarnya.

Kulihat Hamun  sedang menaiki tangga menuju kamarnya. Ingin rasanya aku menyusulnya dan memaki-maki dirinya. Bagaimana bisa dia, yang sama sekali tidak ada hubungan dengan nenek, bisa mendapatkan kucuran dana 500 milyar won, yang aku yakin adalah uang perusahaan Cho. “Lihat saja nanti,” gumamku penuh dendam. Rencana-rencana busuk sudah tertata di otakku untuk menggagalkan proyek Hamun. Aku tidak peduli jika itu akan membuatku mempunyai hutang 500 milyar won kepada nenekku sendiri.

Aku mempercepat joggingku yang berefek sampai aku kepagian datang ke kantor. Ini karena aku terlalu bersemangat untuk hadir dalam rapat persetujuan proyek department store Hamun di Hongkong. Menunggu sampai jam 10 pagi rasanya seperti menunggu satu abad padahal hanya dua jam lagi. Aku benar-benar menunggu waktu presentasi Hamun  di hadapan Direksi.

*****

Hamun menyampaikan presentasinya dengan hebat sampai membuat semua direksi dan investor terkesima dan aku tidak akan membiarkannya terjadi terlalu lama. Aku mengangkat tanganku dan mengajukan pertanyaan mematikan, “Apa yang akan terjadi kalau inflasi meningkat sampai 50% dan suku bunga meningkat tajam? Apa yang akan terjadi dengan proyekmu?” Hamun  hendak membuka mulut tapi aku tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. “Menurut perhitunganku, kau akan bankrut, menyerap keuntungan direktorat lain untuk menutupi kerugian proyekmu.”

“Aku tidak menghitung sejauh itu karena asumsi inflasi 50% dan suku bunga meningkat tajam, anggaplah sampai 100%, tidak mungkin terjadi melihat kondisi ekonomi negara kita yang sedang bagus-bagusnya,” kata Hamun  dengan tegas.

“Tapi proyekmu ini adalah proyek jangka panjang, Hamun-ssi. Apapun bisa terjadi dalam jangka panjang dan kau harus memperhitungkannya serta memitigasi risiko yang akan terjadi. Aku tidak mau bekerja susah payah untuk menanggung kerugian yang kau buat,” sahutku sinis tapi santai.

Hamun  menatapku dengan sebal. “Asumsi Anda tidak masuk akal, Choi Siwon-ssi,” katanya membuatku tertawa.

“Bagaimana tidak masuk akal? Kau memang harus berpikir sejauh itu jika kau mengadakan proyek jangka panjang.”

Direksi dan investor terpancing dengan ucapanku. Salah satu dari mereka, yang setahuku memiliki kuasa yang lumayan besar di rapat ini angkat suara, “Hamun ssi, kami minta Anda untuk melakukan stress test dengan asumsi yang disampaikan Siwonssi tadi dan mempresentasikannya kembali kepada kami esok lusa. Terima kasih. Rapat selesai.” Hamun  mengangguk patuh lalu memalingkan wajahnya kepadaku. Ia melemparkan tatapan penuh kebencian sedangkan aku menertawakannya dalam hati, senyuman licik penuh kemenangan aku lemparkan kepadanya.

*****

“Hei, Choi Siwon, kenapa kau tidak pulang bersama Hamun?” tanya nenek ditengah makan malam kami.

Belum sempat aku menjawab, Hamun sudah muncul terlebih dulu dan nenek menyambutnya dengan hangat.

“Hamun sayang, bagaimana presentasimu hari ini? Aku yakin, mereka pasti setuju dengan ide cemerlangmu ini, kan? Aigo, kau pasti lelah. Ayo sini, makan bersama kami,” ujar nenek.

Hamun menghampiri nenek lalu mencium pipinya. “Aku tidak lapar nenek, mianhe. Aku ingin sendiri saat ini,” katanya lalu pergi begitu saja melewatiku.

Setelah perang hebat kami di depan Direksi, Hamun jadi tidak bicara denganku. Bukan hanya mengunci mulutnya rapat-rapat, dia bahkan menutup mata dan telinga setiap berada di dekatku.

“Apa yang terjadi Choi Siwon?” tanya nenek padaku. Ia menatapku tajam seolah membaca pikiranku. “Kau merusak presentasinya hari ini?”

“Begitulah,” balasku lemas. Nenek memukul kepalaku keras. “Yaaa! Haelmoni! Appo!”

“Kau pantas mendapatkannya! Kau itu! Apa kau tak tahu kalau hidupku bisa sampai saat ini karena dia!”

“Maksud nenek?”

“Kau ingat saat nenek terjatuh dari tangga di kantor? Nenek hanya luka sedikit karena gadis itu yang melindungi nenek. Akibatnya kakinya patah dan dia harus mengenakan tongkat sampai beberapa bulan. Tapi ia tak pernah meminta ganti rugi atau imbalan padahal dia tahu jelas bahwa nenek adalah pemilik perusahaan Choi!”

Aku ingat, Hamun memang pernah memakai tongkat selama beberapa bulan dulu. Tapi.. “Apa nenek tak salah orang? Hamun tak sebaik itu,” kataku namun nenek malah memukul kepalaku lagi.

“Aigoo! Nenek luruskan dulu jalan pikiranmu. Dia selalu berdebat denganmu bukan berarti dia gadis yang jahat! Mungkin sampai setua ini kalian masih terus berdebat bahkan untuk hal yang simpel karena kalian memang menyukai hal itu! Apa mungkin secara tak sadar kau sudah menyukainya?”

“Menyukai.. Hamun?” Aku tertawa mendengar hal itu. “Yang benar saja, nek! Aku membencinya!”

Sekali lagi nenek memukulku. “Nenek! Sakit!” seruku.

“Biar saja, biar kau segera sadar. Kau tahu benci itu singkatan dari apa? Benar-benar cinta! Sudahlah, kau memang keras kepala. Nenek tak mau tahu, kau harus minta maaf pada Hamun. Bagaimana pun ini salahmu! Kalau kau tak minta maaf padanya, kembalikan setengah triliunku!” ujar nenek lalu pergi meninggalkanku tanpa menghabiskan makanannya terlebih dahulu. Aku benar-benar tak menyangka kalau nenekku akan memarahi cucunya sendiri demi Hamun.

Nenek tak mungkin membela Hamun sampai seperti itu kalau Hamun bukan anak yang baik. Kurasa, selama ini aku sudah salah paham dengannya.

*****

Sejak kemarin Hamun sama sekali tidak menganggapku. Setiap aku mengajaknya bicara, ia menghindariku seolah tidak ada aku di sana. Bahkan saat berjalan pun, kami hampir saja berpapasan, Hamun tetap saja berjalan seolah tidak ada aku di depannya. Rasanya sungguh tidak enak.

Perkataan nenek berulang kali berputar di kepalaku membuat aku makin merasa bersalah dan membuatku makin sadar kalau aku lebih suka ia beradu mulut denganku daripada harus berdiam seperti ini.

Dengan sangat berat hati, aku menekan harga diriku. “Hamun ,” panggilku tengah malam saat aku melihatnya sedang membaca buku di ruang tivi. Dia tidak menggubrisku sedikitpun. “Hamun,” panggilku sekali lagi. Tetap tidak ada tanggapan. Aku mendekatinya dan duduk di sebelahnya. “Jwisonghamnida. I’m so sorry.”

Hamun  menutup bukunya lalu meninggalkanku tanpa memandangku sedikitpun. “Hamun, aku sungguh-sungguh minta maaf,” ujarku tulus. Entah tergerak mendengar ketulusanku atau apa, Hamun  akhirnya menanggapiku.

“Minta maaf tidak akan meloloskan proyek department store-ku. Permisi,” katanya dengan dingin lalu pergi meninggalkanku.

Aku bangkit menyusulnya. Dengan sepenuh hati aku meminta maaf. “Maafkan aku, Hamun . Aku sungguh-sungguh minta maaf,” ucapku.

Hamun  tersenyum kecut. “Percuma, proyekku dibatalkan. Stress test dengan asumsi yang kau ajukan menunjukkan proyekku akan mendatangkan kerugian. Selamat! Kau menang!” katanya lalu masuk ke dalam kamarnya. Sungguh, hal ini membuatku merasa sangat bersalah. Aku jadi tidak bisa tenang.

*****

Aku akan mendatangi Hamun  ke ruangannya untuk sekali lagi meminta maaf. Bagaimanapun kegagalan proyeknya adalah salah satu hasil perbuatanku. Aku harus mengakuinya.

Aku hampir sampai di depan ruangannya saat aku lihat ia sedang berbicara dengan seseorang. Pria. Hamun  terlihat sangat ceria. Senyumannya tidak pernah hilang saat berbicara dengan pria itu. Tawanya pun terdengar sangat renyah. Berbeda sekali jika ia sedang bersamaku, wajah yang ditekuk, tatapan mematikan dan ucapan-ucapan yang membuatku darah tinggi. Aku merasa ia tidak adil. Ia memperlakukan calon suaminya dengan penuh kebencian dan justru memperlakukan pria yang entah datang darimana dengan berbanding terbalik.

“Ehem,” aku menyela pembicaraan Hamun  dengan pria itu. Seketika ekpresi Hamun berubah saat melihatku.

“Ada apa?” Tanyanya dengan dingin.

“Tidak ada apa-apa, hanya ingin mengajakmu makan siang. Apa tidak boleh calon suami mengajak calon istrinya makan siang bersama?” kataku menekankan bahwa aku dan Hamun  adalah sepasang manusia yang akan menikah.

Hamun  mendengus sinis. “Aku sibuk. Kau tidak lihat? Kau makan siang saja dengan tim-mu. Kau mau menggagalkan proyekku lagi kan?”

Aku hanya bisa tersenyum, kecut. “Aku hanya ingin minta maaf, Hamun. Tidak lebih. Aku minta maaf sudah menggagalkan proyekmu. Kalau ada yang bisa aku lakukan agar kau memaafkan aku, akan aku lakukan. Aku sungguh-sungguh menyesal, Hamun,” ucapku dari hatiku yang terdalam. Entah bagaimana aku bisa mengucapkan hal ini.

Hamun  menatapku tidak percaya. Sekali lagi ia mendengus kesal, “Enyahlah dari hadapanku. Aku tidak ingin bertemu lagi denganmu,” katanya membuatku sakit hati dan menghilang dari hadapannya. Aku tidak punya pilihan.

*****

Author’s POV

Seminggu sudah berlalu dan Hamun  tidak pernah lagi melihat Siwon, baik di kantor ataupun di rumah. Pria itu benar-benar menghilang dari hadapannya. Satu-satunya hal yang membuat Hamun  menyesal seumur hidupnya, mengusir Siwon dan menyuruhnya menghilang padahal laki-laki itu datang untuk berdamai. Dan yang membuatnya makin menyesal, ia baru menyadari bahwa bertengkar mulut dengan pria itu lebih asik dari pada berdiam diri. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan Hamun adalah meminta maaf.

“Oppa, appa kau tahu Siwon dimana? Aku sudah seminggu tidak bertemu dengannya,” Tanya Hamun  secara khusus sampai ia harus menelepon Kangin dengan sambungan internasional karena Kangin sedang berada di China.

“Setahuku dia baru pulang dari China. Coba saja lihat di ruangannya. Tumben, kau mencarinya,” sahut Kangin yang tidak dibalas oleh Hamun. Hamun  hanya mengucapkan terima kasih lalu menutup teleponnya.

Setelah membereskan semuanya, Hamun  memasuki ruang kerja Siwon sesuai saran Kangin dan menemukan pria itu sedang berbicara mesra dengan sekretarisnya. “Jadi kau menyukainya?” tanya Siwon sambil memegang tangan sekretarisnya. Siwon berdiri sambil menyenderkan tubuhnya ke meja. Sekretarisnya berdiri di depan Siwon sambil tersenyum malu-malu ketika Siwon memegang tangannya.

“Ehem!” tegur Hamun , yang sudah berdiri dengan tangan terlipat di depan dadanya. Tatapan matanya menunjukkan kalau ia marah.

Sekretaris Siwon langsung menarik tangannya dari pegangan Siwon dan keluar ruangan dengan terburu-buru. Wajahnya tertunduk, tidak berani menoleh kepada Hamun sedikitpun. Tidak lupa, ia menutup pintu ruangan Siwon.

Siwon memandang Hamun sambil tersenyum. “Ada apa?”

Tanpa mengurangi sedikitpun amarahnya, Hamun  menjawab sekenanya, “Mengembalikan kunci rumahmu.”

“Rumahku?” Siwon bertanya heran.

“Sejak beberapa detik lalu rumah itu hanya milikmu. Ini kuncinya.”

“Lalu dirimu?”

Hamun  tidak menjawab. Ia hanya memberikan kunci yang ia pegang kepada Siwon. Siwon menghela nafas menahan kesal. “Dia baru dilamar. Aku hanya ingin melihat cincinnya,” jelas Siwon.

“Terserah. Aku tidak peduli,” sahut Hamun  lalu pergi begitu saja, kembali ke mobilnya.

Lekat-lekat, Hamun  menatap tas berisi rantang makanan yang ingin dia berikan untuk Siwon. Kalau saja tadi ia tidak melihat adegan menyebalkan itu, sekarang pasti ia sedang makan siang bersama dengan Siwon sambil tertawa-tawa bukan menangis di mobil, sendirian. Dan mungkin mereka akan berdamai. “Babo!”

Kalau tadi Siwon mengejar Hamun  dan meminta maaf, Hamun  pasti akan kembali ke rumah bukan apartemennya tanpa membawa sebiji pun perlengkapan untuk menunjang hidupnya. Dan mungkin mereka akan tetap bertemu setiap hari, beradu mulut bukan saling menghilang.

“Choi Siwon, neon jeongmal pabo!” geram Hamun  dalam hati. Hatinya terasa sangat sakit sampai air mata tidak mau berhenti meluap. Hamun  sudah tidak sanggup lagi.

Ia menelepon appanya. “Aku membatalkan perjodohan dengan Siwon. Ne. Jangan tanya kenapa. Pernikahan itu, sekalipun untuk kepentingan bisnis, harusnya dilakukan atas dasar cinta bukan paksaan. Tidak, aku tidak mau lagi,” kata Hamun  dengan tegas membatalkan perjodohannya tanpa memberitahukan alasannya, kepada siapapun termasuk appanya.

*****

Choi Siwon’s POV

Seminggu sudah berlalu sejak Hamun  membatalkan perjodohanku dengannya. Itu berarti sudah seminggu aku tidak bertemu dengannya, seminggu juga aku tidak berhubungan dengannya. Hamun  benar-benar menjauhiku, tanpa aku tahu alasan jelasnya. Hal ini cukup berpengaruh kepada perusahaan. Bersatunya Kang dan Choi Corporation jadi dipertanyakan, nilai saham perusahaan menurun, investor menarik dananya, dan yang paling parah aku jadi malas bekerja. Aku lebih banyak menghabiskan waktu bermain dengan PS-ku.

“Ttet! Ttet!!!” Bel rumahku berbunyi dengan kencang, membuatku terpaksa mengalihkan kegiatanku bermain game untuk membuka pintu. Sebelumnya, aku memeriksa intercom lebih dulu. Hamun. Entah mengapa, jantungku berdetak tidak beraturan. Tubuhku juga sepertinya jadi tidak sinkron dengan otak. “Nuguseyo?” tanyaku pura-pura tidak tahu meski sebenarnya aku ingin menyambut dengan hangat .

“Naega,” jawab Hamun  dengan galak.

Aku mengusap-usap tanganku untuk menghilangkan rasa gugup lalu memasang wajah datarku. Kubuka pintu dan kusambut Hamun  dengan wajah tanpa ekspresiku itu. “Mau apa kau ke rumahku?” tanyaku tidak kalah galak.

“Bajuku tertinggal. Aku takut akan kau bawa ke dukun untuk memelet ku,” jawabnya.

“Cih! Tidak akan. Aku tidak suka cara seperti itu,” sahutku. Yap! Pertengkaran kami dimulai lagi. Aku rindu hal ini. “Baju-bajumu sudah aku buang begitu kau memutuskan keluar dari rumah ini.”

Hamun menatapku terkejut. Mulutnya menganga lebar. Matanya membesar. Lucu sekali. Aku baru sadar ia sangat manis saat marah, seperti sekarang. “Neo micheosso?!” seru Hamun kesal.

Aku menggelengkan kepalaku dengan santai. “Kau masih punya banyak baju kan? Baju-bajumu sudah tidak berguna, hanya memenuhi lemari di rumah ini. Toh kau tidak akan ke rumahku lagi kan? Kau sudah membatalkan perjodohan kita kan?”

Hamun  mendecakkan lidahnya dengan kesal. “Jangan lagi membahas mengenai perjodohan denganku. Itu juga yang kau inginkan agar bisa bersatu dengan gadis yang kau cintai kan?” Ia lalu menyingkirkanku dari hadapannya sehingga kini ia dapat melenggang masuk ke dalam rumahku. Aku menutup pintu dan mengikutinya.

“Mana haelmoni?” tanyanya mungkin karena melihat rumahku yang sepi.

“Di Amerika. Sekarang ia tinggal di sana sama adiknya Appa,” jawabku.

Hamun  mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kenapa rumahmu berantakan sekali?” tanyanya begitu sampai di ruang santaiku.

“Aku tidak punya waktu membereskannya. Apa itu jadi masalah?” sahutku.

Aku menghempaskan tubuhku ke sofa di ruangan ini sambil menyalakan televisi yang terpasang beberapa meter di depanku dengan remote control pasangannya. Hamun berdiri melihatku sambil melipat kedua tangannya di depan dada, tanda ia kesal. Aku tertawa girang dalam hati. Hal paling menyenangkan adalah melihatnya marah-marah.

“Oppaaaa…. Aku pulang dulu ya.” Seorang gadis keluar dari ruang kerjaku lalu menghampiriku. Memberikanku sebuah kecupan singkat di pipi lalu melemparkan senyuman manis kepada Hamun, yang aku yakin membuat Hamun naik darah. Hamun menatapku dengan ganas. Tangannya sudah membentuk sudut 45 derajat di pinggangnya.

“See? Tidak salah kan aku membatalkan perjodohan kita,” ujarnya entah cemburu atau apa.

“Kau sangat tidak konsisten. Dulu kau bilang aku boleh punya pacar atau istri selama ia tidak menganggu miliaran won yang akan dihasilkan perjodohan kita. Tapi kenapa sekarang keadaannya berbeda 180 derajat? Kau membatalkan perjodohan ini, membiarkan miliaran won lari dan menyampingkan kepentingan perusahaan?” sahutku.

“Sudah aku bilang jangan membahas masalah perjodohan denganku. Aku tidak mencintaimu. Kau juga tidak mencintaiku. Seperti yang aku pernah bilang kita ini bagaikan langit dan bumi, anjing dan kucing, minyak dan air. Bertolak belakang, tidak bisa akur dan tidak bisa disatukan. Apa kurang jelas?” balasnya.

Aku bangkit dari sofa untuk berjalan mendekatinya. Senyumanku yang paling manis sudah aku berikan pada Hamun tapi ia masih saja memasang tampang galak. Aku terus mendekatinya. “Mau apa kau?!” Hamun  melangkah mundur sedangkan aku terus maju sampai membuatnya terpojok di dinding salah satu sisi ruangan ini. Aku tersenyum nakal pada Hamun. Kudekatkan wajahku ke wajahnya sampai jarak antara kami tidak sampai sesenti. “Aku tahu kau cemburu. Kau membatalkan perjodohan ini bukan karena alasan-alasan yang kau sebutkan. Kau punya alasan yang kau sembunyikan sendiri,” bisikku tanpa melepas tatapan mataku ke matanya. Tanganku mengelus lembut bahunya yang tidak terlapis sehelai benang pun.

Aku memperhatikan setiap lekuk dan garis di wajah gadis ini, menyusuri setiap sentinya dengan mataku. Tubuhnya terasa menegang. Pipinya sudah bersemu merah. Matanya tertutup sempurna. Membuatku tersenyum puas menikmati keindahannya. “Neomu yeppunda,” pujiku lalu meninggalkan Hamun yang masih berdiri kaku dengan mata terpejam. Aku kembali duduk di sofa, menyiapkan evil smirk-ku yang paling kuat. “Buat apa kau menutup mata? Kau pikir aku mau menciummu?” godaku, sukses membuat Hamun naik pitam.

Tak sampai lima detik, tas yang sedari tadi tercangklong di bahu kanan Hamun sudah berpindah ke wajahku membuat kacamataku terlepas. “Kau benar-benar menyebalkan! Aku bersumpah ini adalah kali terakhir aku menginjak rumahmu dan bertemu denganmu!” umpatnya lalu pergi ke kamarnya yang memang selalu akan menjadi kamarnya di rumah ini untuk mengambil barang-barangnya. Entah kapan, ia sudah tidak ada lagi di rumah. Ia pergi tanpa pamit padaku. Apa ia sebenci itu padaku?

*****

Sudah sebulan berlalu, katanya Hamun  terlihat worse than usual. Secara fisik, ia tidak serapi dan secantik biasanya. Secara kepribadian, ia juga seperti orang yang sangat berbeda. Tidak lagi suka ngomel, tidak pernah mengajak orang untuk berdebat, paling parah ia suka menyendiri. Hal ini membuat keluarganya khawatir dan memaksaku untuk bicara dengan Hamun. “Siwon, cobalah bicara dengan Hamun. Apa yang membuatnya jadi seperti ini? Apa karena perjodohan ini? Kalau iya kan sudah dibatalkan, kenapa ia masih tetap murung? Bantulah kami, Siwon,” pinta nyonya Kang dengan langsung mendatangiku ke kantor.

Untuk itu hari ini aku datang ke rumah keluarga Kang untuk menemui Hamun. Sayang, aku baru bisa menemuinya lewat tengah malam. Hamun  tiba di rumah nyaris jam 2 pagi dengan keadaan mabuk dan dirinya yang sangat berantakan. Dia berjalan dengan sempoyongan bahkan terjatuh sebelum masuk ke dalam. Aku membuka pintu dan menghampiri Hamun. “Kau kenapa bisa mabuk seperti ini?” tanyaku sambil menggendong Hamun masuk.

Dengan susah payah karena setengah sadar, Hamun mengalungkan tangannya di leherku. “Hei, kau kenal dengan tuan Choi Siwon? Pria paling menyebalkan sedunia. Pria yang paling aku benci.” Aku mendengarkan segala ocehannya yang tidak jelas. “Dia adalah calon suamiku. Ah, bukan. Mantan calon suamiku. Hahaha. Bodoh sekali menyadari aku menyukainya setelah membatalkan perjodohan ini. Aku pikir aku bisa bahagia melihat dia bersama wanita pilihannya tapi ternyata aku salah. Aku justru sakit. Hatiku, Jiwaku, Pikiranku. Semuanya tidak ada yang beres. Hahaha. Kasihan sekali aku kan? Jatuh cinta pada musuhku sendiri, ditolak pula.”

Aku membaringkan Hamun di tempat tidurnya dan, mau tidak mau, mengganti bajunya yang sudah bau alkohol sepenuhnya. Aku terus mendengarkan apa yang keluar dari mulut Hamun. “Aku kemarin melihatnya bersama wanita itu lagi. Aku tak tahu siapa wanita itu tapi Siwon terlihat sangat bahagia bersamanya. Selalu tertawa. Tidak seperti jika bersama denganku, selalu urat yang keluar karena kami selalu saja bertengkar. Aku menyesal tidak pernah bisa membuatnya senang, meskipun hanya sedetik.”

Hamun  sudah rapi, bau alkohol tidak sekuat sebelum aku membersihkan dan mengganti bajunya. Matanya sudah terpejam, dadanya naik turun menandakan kehidupan. Dengan kesadaran penuh, aku membelai puncak kepala Hamun. Mataku menatap wajah Hamun, menelusuri setiap lekuknya yang cantik. Aku bahkan menyeiramakan detak jantungku dengan detak jantungnya.

Kini aku yang berceloteh, meski tidak akan ada yang mendengarnya. “Hei, kau kenal Hamun? Dia calon istriku. Hamun adalah wanita paling pintar yang aku kenal. Seumur hidupnya, kebodohan yang pernah dia lakukan hanya 1 : mabuk yang membuat semua rahasianya terbongkar. Meskipun begitu, kebodohan itu tidak terhingga nilainya. Aku berani bertaruh, dia pasti tidak tahu pertengkaranku dengannya setiap detik jauh lebih menyenangkan dibanding tertawa-tawa dengan gadis-gadis lain. Dia pasti tidak tahu betapa frustasinya aku ketika dia membatalkan perjodohan kami. Dia pasti juga tidak tahu kalau aku nyaris gila ketika dia meninggalkanku. Sekarang bisa aku pastikan aku adalah pria paling sehat dan waras. Terima kasih kepada alkohol.”

“Kalau kau kenal padanya, tolong sampaikan wanita pilihanku adalah dia. Aku tidak menolaknya. Aku ingin dia kembali. Meskipun kami akan bertengkar setiap detik, aku mau hidup bersamanya. Tarik kembali pembatalan perjodohan kita. Aku mencintaimu, Kang Hamun.”

*****

Kang Hamun’s POV

Kepalaku terasa sangat berat saat aku mau membuka mata. Ini pasti akibat alkohol yang aku minum semalam. Humm, efek patah hati itu memang selalu berat. “Eugh,” keluhku saat mau mengangkat kepala. Berat sekali. Kenapa sih aku ini? Semabuk-mabuknya aku tidak pernah seperti ini. “Eugh.” Aku membuka mataku perlahan dan ternyata ada sebuah kepala yang diletakkan di atas kepalaku. Aku menghela nafas panjang.

“Siwon, Siwon,” panggilku agar ia bangun. Siwon terbangun dan seketika kepalaku terasa agak ringan karena kepalanya yang sudah terangkat. “Sedang apa kau di sini?” tanyaku berusaha sewajar mungkin. Jujur saja, Choi Siwon adalah orang yang paling tidak ingin kutemui saat ini meskipun aku ingin menemuinya. Aku masih butuh waktu untuk memulihkan hatiku.

Siwon tersenyum dari kursi di samping tempat tidurku, tempat dia tidur semalaman. “Menemani orang mabuk,” jawabnya dengan santai.

“Buat apa?” tanyaku kemudian tersadar tidak ada gunanya mempertanyakan hal itu. Jawabannya paling toh hanya karena orang tua. “Ah sudahlah. Kau tidak pergi ke kantor?”

Siwon menggeleng. Tanpa beban, ia naik ke tempat tidurku dan menyelinap ke bawah selimutku, mau tak mau aku harus bergeser. “Kau yakin aku boleh pergi? Semalaman kau mabuk dan mengigau kau menyesal membatalkan perjodohan denganku. Kau yakin tidak mau lebih lama bersamaku?” tanyanya sambil menatapku dengan jahil, membuatku bingung.

Dengan sisa tenaga yang aku punya, aku mendorongnya agar keluar dari tempat tidurku. “Siwon, pulanglah. Aku sedang tidak ingin bercanda,” kataku lemah. Aku terus mendorongnya tapi ia tak bergeser sesenti pun. Justru aku yang bergerak masuk ke pelukannya. Siwon menarikku dan mendekapku dengan erat.

“Aku tidak bercanda. Tarik kembali pembatalan perjodohan kita. Aku ingin kita menikah. Apapun yang kau inginkan akan aku berikan, perusahaan, jabatan Direktur, semua akan aku berikan padamu asal kau kembali cerewet, galak, dan bertengkar terus denganku,” sahut Siwon. Ia lalu mencium keningku dengan lembut dan tersenyum. “Boleh aku menciummu?”

“Maksudmu.. mencium disini?” tanyaku tak percaya sambil menunjuk bibirku. Siwon tersenyum dan mengangguk. “Tentu saja, aku harap aku mengijinkan aku untuk melakukan hal itu,”

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku terlanjur terhipnotis dengan semua kata-kata manisnya yang membuatku bahagia bukan kepalang. Aku hanya menganggukkan kepala dan merasakan bibir lembutnya mendarat di bibirku, tidak lama tapi cukup mengembalikan energi positif ke tubuhku.

“Tapi aku bingung, kenapa kau tiba-tiba jadi begitu lembut padaku seperti ini?” tanyaku tak mengerti perubahan sikapnya.

Dia tertawa kecil. “Kemarin ada seorang gadis mabuk yang menyatakan perasaannya padaku. Berkat alkohol, akhirnya aku tahu kalau cintaku ternyata tak bertepuk sebelah tangan,”

“Maksudmu.. aku?”

“Siapa lagi? Baru kali ini aku melihatmu tak berdaya dan ceroboh. Kau mengungkapkan semua rahasiamu pada musuh besarmu dan kau tak bisa mengganti bajumu sendiri.” Katanya yang membuatku sadar kalau aku sudah memakai piyamaku.

“Kau yang mengganti bajuku?”

“Siapa lagi?” katanya sambil nyengir kuda.

“Kau! Berani-beraninya, Choi Siwon! Aku memben..” kalimatku terputus saat Siwon mendaratkan bibirnya di bibirku. Sekali lagi ia menciumku, kali ini lebih lama dan lebih lembut.

“Tolong jangan katakan hal itu lagi. Kurasa kita harus belajar mengatakan ‘aku mencintaimu’ lebih sering. Lagipula, untuk apa kau malu? Sebentar lagi toh kau akan menjadi milikku, kan?”

“Yaa, Choi Siwon!”

“Kau ingin aku menciummu lagi, Kang Hamun? Ayo kita siap-siap. Calon mertua dan iparku pasti sudah menunggu di ruang makan. Aku tidak mau membuat mereka menunggu lebih lama. Aku tidak mau mereka mengecap calon menantunya ini sebagai pria pemalas. Buat pebisnis, time is money. Right? Atau jangan-jangan kau sudah lupa karena yang ada di kepalamu itu hanya aku?”

Aku tertawa mendengarnya dan melihat lagaknya itu. “Kau turun saja duluan. Aku mau mandi dulu. Badanku bau alkohol, aku bisa habis kena marah Appa kalau sampai ketahuan mabuk.” Aku merasa jauh lebih baik. Semua hal negatif yang selama ini hinggap di tubuhku seketika hilang tergantikan hal yang sangat positif. Aku merasa kehidupanku telah kembali.

“Kurasa tidak, kalau kau tiba-tiba datang ke bawah dan memberitahu mereka bahwa kau mencintaiku dan akan menikah denganku,” kata Siwon membuat wajahku bersemu merah. Dia sudah tahu segalanya, sial. “Kalau kau tidak mau bilang, aku yang akan bilang.”

“Sudah, kau turun duluan saja sana. Kalau mereka menanyakan aku, bilang aku sedang mandi. Oke bos? Dan jangan sekali-kali membahas mengenai perjodohan. Aku yang akan menyampaikannya sendiri nanti.”

“Kalau begitu aku ikut mandi saja. Boleh?”

Reflek aku melempar guling ke wajah Siwon dan berteriak nyaring malu. “Siwon!” Aku segera kabur ke kamar mandi sebelum bayangan aneh-aneh muncul di kepalaku karena melihat wajah Siwon terus-terusan. Aku mendengar suara Siwon yang tertawa-tawa dengan kencang karena sukses mengerjaiku.

*****

Aku kembali tinggal bersama dengan Siwon. Eomma meneleponku nyaris seperti minum obat, 3 kali sehari. “Ne, eomma. Aku baik-baik saja di sini. Siwon juga baik-baik. Hahaha. Kami sudah tidak pernah bertengkar kok. Berdebat kecil saja,” kataku memberi kabar kepada eomma pada telepon keduanya hari ini. “Siwon sedang menonton tivi. Habis ini katanya dia mau mengajakku jalan-jalan. Oh ya? Mana Kangin Oppa?”

Sekarang gantian Kangin Oppa. Setiap eomma meneleponku entah kenapa Kangin Oppa juga ikutan berbicara. “Oppa. Wae? Ne, Oppa. Aku akan membelinya nanti. Arraseo. Humm? Ada di ….” Ponselku dirampas begitu saja oleh Siwon saat aku kembali ke ruang santai-nya. Dia meninggalkan sofanya, mengambil ponselku, lalu kembali ke sofanya, dengan santai. “YAAAA!” Dia tak peduli.

“Hyung, ini weekend. Aku ingin berduaan saja dengan adikmu. Bisa kau telepon lagi dia hari Senin nanti. Aku mohon jangan ganggu kami dulu. Ya?” kata Siwon kepada Kangin oppa. Setelah itu dia mematikan ponselku dan mencabut baterenya. “Sabtu dan Minggu aku melarangmu menerima telepon dari siapapun. Sehari bisa ada 15 telepon. Sekali telepon bisa sejam. Sisanya 8 jam kau gunakan untuk istirahat. Kapan kau ada waktu untukku?”

Kalau ada anugerah pria paling menyebalkan sedunia, aku yakin seorang bernama Choi Siwon yang akan menerimanya. Dia memang pantas diganjar penghargaan sehebat itu. Bagaimana tidak? Setiap hari selalu saja membuatku kesal dan jantungan. Sifatnya yang agak kekanak-kanakan kadang membuatku senang sekaligus naik darah.

“Kembalikan ponselku!” bentakku sambil merebut kembali barang itu dari tangannya.

Siwon mempertahankan ponselku dengan cara mendudukinya. “Tidak mau.”

Aku menarik Siwon agar berdiri sehingga aku bisa mengambil ponselku. Gagal. Aku menyusupkan tanganku ke bawah pantatnya, tapi tidak ada sela. Gagal juga. Aku mencoba sekali lagi untuk merogoh dimana tempat ponselku berada. Gagal lagi. Aku mendesah kesal. Aku menyerah. Dengan berat hati aku meninggalkan ponsel kesayanganku itu.

Siwon menghela nafas panjang. “Kau tidak usah sesusah payah itu kalau mau mengucapkan kata ‘tolong’,” kata Siwon, membuatku terpaksa berhenti dan berbalik padanya.

“Kalau kau mau mengucapkan kata ‘maaf’,” balasku.

“Buat apa?” tanyanya.

“Merebut ponselku dan melarang aku berkomunikasi dengan orang terutama keluargaku.”

Siwon bangkit dari sofanya. Ponselku tergeletak aman di tempat tadi dia duduk. Aku mau mengambilnya tapi pria ini lebih dulu menahanku. “Jwisonghamnida. Aku hanya ingin mendapat perhatian darimu. Coba kau hitung berapa jam waktu yang kau habiskan untukku selama seminggu? Dari Senin sampai Jumat, dari pagi sampai malam, kita sama-sama bekerja. Begitu pulang, yang kita pikirkan hanya istirahat. Apa kau tega membiarkan Sabtu dan Minggu seperti itu juga? Jeongmal mianhe,” ucapnya sambil memelukku dan membelai rambutku.

Hanya dengan sebuah sentuhan, di hati dan tubuhku, pertahananku runtuh. Segala kekesalanku luntur. Kemarahanku juga sudah hilang entah kemana. Perasaan rindu dan ingin bersama Siwon seketika membuncah di dadaku. Tidak ada lagi ucapan-ucapan sinis atau perdebatan antara kami. Hanya hembusan nafas dan pelukan yang semakin erat. Bahkan ketika kami tertidur, kedua hal itu menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Hembusan nafas dan pelukan Siwon benar-benar menjadi hartaku yang paling berharga.

*****

Choi Siwon’s POV

Hamun  tetap tidur dengan nyenyak meskipun ponselku berdering dengan nyaring sampai memekakkan telinga. “Yoboseyo?” Ternyata sekretarisku mau mengingatkan jadwal rapat dan pertemuan dengan rekan-rekan bisnisku. Meskipun sekretarisku tidak tahu, aku tersenyum sambil memandang Hamun yang baru saja membalikkan tubuhnya sehingga punggung mulusnya menghadapku. “Bisa minta tolong diundur sejam atau dua jam? Ada sesuatu yang harus aku urus.”

Aku meletakkan ponselku ke tempat semula sebelum menjahili Hamun agar ia bangun. “Yaa! Pemalas. Gadis cerewet. Hey!” panggilku sambil menarik tali baju tidurnya. Hamun hanya melenguh pelan. Aku kembali menarik bajunya.

“Euugh. Aku masih ngantuk,” protesnya.

“Ayo bangun. Ada yang ingin aku berikan kepadamu.”

Aku membuka laci meja di samping tempat tidurku. Aku merogoh-rogoh ke dalam untuk mendapatkan kotak berwarna coklat yang aku inginkan. “Ini dia,” batinku. Kuambil kotak itu lalu kusodorkan ke muka Hamun yang jelas sekali masih ingin tidur.

“Apa ini?” tanyanya malas. Dia membukanya dan kaget setengah mati. “Cin…cin?”

Aku tersenyum kepada Hamun . “Menikahlah denganku.”

Hamun menatapku, ragu. “Kau gila? Kita baru saja bertengkar,” ujarnya.

Aku tersenyum. “Kita baru saja bermesraan, sayang,” koreksiku sambil menunjuk dirinya. “Kau baru saja bermalam di pelukanku. Lihat kausku, penuh dengan iler-mu.”

“Buk!” Sebuah pukulan bantal empuk mendarat di pipiku.

“Bukan berarti kita akan menikah. Aku kan cemburuan. Bukankah itu akan sangat merepotkanmu?”

Aku tertawa. “Kau bukan hanya cemburuan. Cerewet, manja, merepotkan, ingin menang sendiri….”

Hamun  kembali menyodorkan cincin itu ke hadapanku. “Aku tidak mau menikah dengan pria yang suka mengejekku.”

“Dan suka ngambek. Lihat.”

“Kau selalu saja begitu. Menyebalkan.” Hamun  meletakkan kotak itu di pangkuanku lalu berdiri memakai kimono tidurnya.

Aku menggeser tubuhku mendekat pada Hamun  lalu memeluknya. “Mianhe, jagiya. Aku hanya bercanda. Jangan marah. Ya? Menikahlah denganku.”

Hamun  hanya menatapku. Tangannya tidak bergerak untuk mengambil cincin lamaranku. Jantungku berdetak kencang saking cemasnya. “Hamun-ah, aku tahu aku sangat menyebalkan tapi aku mohon padamu jangan menolakku hanya karena itu. Aku bisa berubah. Aku akan menjadi Choi Siwon yang….”

Tiba-tiba Hamun menciumku. Dia merengkuh wajahku dengan kedua telapak tangannya. Matanya menatap mataku dengan lembut. Bibirnya yang baru saja menyentuh bibirku, mengukir senyum paling manis yang pernah aku lihat. “Aku tahu. Aku tahu kau yang terbaik. Aku juga tahu bahwa aku lebih tidak bisa hidup tanpamu. Aku mencintaimu.”

“Tapi?” Aku kenal gadis ini sudah tahunan. Jika dia sudah bicara seperti ini pasti ada lanjutan yang tidak menyenangkan.

“Aku masih takut menikah. Aku takut makin menyusahkanmu. Kau tahu, aku sangat pencemburu. Aku belum siap mental menghadapi dirimu yang selalu berhubungan dengan banyak wanita. Aku….” Hamun  menarik nafas panjang terlebih dahulu. “Berikan aku waktu untuk berpikir.”

“Tidak akan. Kau akan menikah denganku. Kau harus mengucapkan ‘Ya, saya bersedia’ saat upacara pernikahan kita. Aku tidak terima tapi-tapian lagi. Aku mencintaimu,” kataku sambil memasangkan cincinku ke jari manis Hamun .

Hamun  tertawa kecil dan menatapku dengan senyumannya yang paling manis. “Dasar keras kepala. Aku tidak tanggung kalau aku justru akan merepotkanmu ya,” katanya yang aku sanggupi dengan segala keyakinanku.

“Tidak masalah. Aku juga pasti akan merepotkanmu,” sahutku diiringi senyum jahil lalu menciumnya dengan lembut. “Aku mencintaimu. Sangat.”

Kkeut!

Xoxo @gyumontic