Sunday, you are the best!

Cast :
-Cho Kyuhyun
-Song Hyejin

Menurut ajaran agama yang aku anut, Tuhan beristirahat pada hari Minggu setelah 6 hari lamanya, dari Senin sampai Sabtu, menciptakan alam semesta dan isinya termasuk kita, manusia dan sebagai pengikut yang baik, aku juga beristirahat pada hari Minggu setelah dari Senin sampai Sabtu sibuk menyelesaikan pekerjaan di kantor yang tidak ada habisnya. Hari Minggu adalah hari Cho Kyuhyun sebagai seorang suami sekaligus ayah untuk istri dan anakku yang sangat aku cintai tanpa ada embel-embel ‘Direktur Song-Cho Corporation, the biggest fashion company in Korea’, panggilan website yang-entah-bagaimana-mengetahui-segalanya itu, http://www.TopClassSocialite.com, untukku.
Percayalah, menikmati punggung wanita nomor 1 di hidupmu setelah membuka mata itu lebih menyenangkan dibandingkan setelah membuka mata harus langsung masuk kamar mandi untuk bersiap-siap ke kantor. Tapi jika sudah menatap punggungnya lebih dari setengah jam, lebih baik segera membangunkannya. “Yeobooo… Bangun, sayang. Sudah jam 8 pagi. Bangunlah, sayang,” kataku sambil menggoyang-goyangkan tubuh istriku agar bangun.
Song Hyejin, istriku sekaligus ibu dari anakku ini, bukannya bangun malah berpindah posisi jadi memelukku. “5 menit lagi. Tolong pijit punggungku,” katanya dengan mata masih terpejam.
Kepalanya terletak di atas dadaku, membuat wangi rambutnya menguar langsung ke dalam hidungku dan menggoda imanku untuk menjahili wanita cantik ini. Aku memijit punggung Hyejin dengan lembut tapi lama-lama aku berpindah menggelitik pinggangnya. “Ayo bangun. Kalau tidak aku akan menciummu. Cepat!” Kataku dengan nada pura-pura mengancam.
Hyejin mengangkat badannya dan menatapku dengan cemberut. Cuuuup. Aku mencium bibirnya yang sangat mudah dijangkau olehku. “Kau curang!” Protesnya dan aku tertawa senang melihatnya. Cuuuup. Aku menciumnya sekali lagi dan tertawa semakin keras melihat Hyejin yang semakin cemberut menggemaskan.
“Kau tahu aku tidak suka ciuman setelah bangun tidur,” ujarnya kesal.
“Bagiku tetap terasa manis,” sahutku santai.
Hyejin menatapku dengan kesal. Aku tahu, ia tidak pernah suka ciuman setelah bangun tidur karena ia mengganggap bau mulutnya sehabis bangun tidur akan menggangguku padahal bagiku rasanya tetap saja manis dan menghangatkan. Bagiku, berciuman dengan wanita yang sangat berarti untukku akan selalu nyaman tidak peduli bagaimanapun kondisinya.
“Aku mencintaimu,” kataku dengan aegyo-ku untuk merayu Hyejin, berharap dia tidak cemberut lagi.
“Aku akan memaafkanmu kalau memijit punggungku,” katanya lalu membalik tubuhnya sehingga punggungnya menghadap kepadaku.
Tanpa sepengetahuannya, aku tersenyum. Aku tahu, ia termakan rayuanku. Aku memijit punggungnya sedangkan ia menikmati pijitanku sambil melihat-lihat berita di website yang maha tahu itu.
“Tinggal kita yang tersisa di Korea,” katanya tiba-tiba setelah membaca berita-berita di website itu. “Hyemi dan Jongwoon oppa ke China, Hamun dan Siwon oppa ke Thailand, Johee dan Donghae ke London, sedangkan yang lain tampaknya ke Jepang menghadiri pesta pernikahan Youngwoon oppa. Kenapa kita tidak diundang?”
“Diundang. Appa dan eomma yang kesana,” jawabku.
“Berarti Kihyun juga ke Jepang?”
“Appa dan eomma-ku, sayang. Kihyun aman darmawisata bersama teman-temannya dan eomma-mu.”
“Syukurlah.” Hyejin pun kembali membaca berita-berita di website itu dengan ekspresi yang berbeda-beda.
“Kenapa kau senyum-senyum?” Tanyaku bingung melihat Hyejin yang asyik sendiri.
Hyejin berbalik menghadapku kemudian menyodorkan ipadnya kepadaku dan aku melihat foto dan beritaku saat memberikan kata sambutan di pembukaan Korea fashion week kemarin malam. “Kau tampan sekali di sini,” katanya sambil berseri-seri.
Inilah penyebab kenapa aku tidak terlalu menyukai website maha tahu bernama http://www.TopClassSocialite.com itu. Website itu mengetahui segalanya tentang kami dan keluarga kami yang termasuk orang-orang terkaya di Korea. Aku jadi merasa tidak punya privasi dalam hidupku.
“Aku memang tampan,” kataku dengan percaya diri tinggi yang akibatnya mendapat ganjaran sebuah jitakan di kepalaku.
“Dasar narsis. Haiiish…”
“Kok narsis? Tadi kau sendiri yang bilang aku tampan. Aku kan hanya menegaskan komentarmu,” kataku sambil tersenyum jahil kepada Hyejin. Aku tidak bisa menahan untuk tidak menggoda Hyejin. Seluruh bagian dalam tubuhku rasanya sudah musyawarah dan mufakat bahwa Hyejin adalah objek penderita favorit untuk segala kejahilanku.
“Haiiish…” Hyejin kembali menghadapkan punggungnya kepadaku tapi aku tidak kembali memijitnya. Aku menyusupkan tanganku di antara lengan Hyejin sehingga tubuhnya dalam sekejap berada di dalam pelukanku.
“Lapar,” kataku dengan manja seperti Kihyun yang meminta game keluaran terbaru.
“Aku akan membuatkan sarapan. Sebentar,” kata Hyejin tapi pada kenyataannya aku menahannya sehingga tidak dapat pergi kemanapun. “Hei tuan Cho, tidak lucu jika besok kita ditemukan tewas kelaparan sambil berpelukan.”
“Biar saja. Aku masih ingin memelukmu.”
Hyejin tertawa renyah ke dalam telingaku membuatku semakin nyaman di dekatnya. “Dasar gila. Sudahlah, sayang. Aku akan membuat sarapan dan kau bersiap-siap. Kita akan ke gereja dan setelah itu aku akan mengajakmu kencan. Bagaimana?” Usulnya dengan penuh semangatt.
“Kencan?” Tanyaku bingung. Bukan aku bingung apa itu kencan tapi aku bingung kencan yang bagaimana. Seumur hidup mengenal Hyejin, aku tidak pernah kencan dengannya. Kami tidak pernah pacaran. Kami menikah karena dijodohkan dan itu sangat menyebalkan dulu karena aku tidak mencintainya. Setelah aku jatuh cinta padanya, aku juga tidak pernah berkencan dengan Hyejin. Kami memang selalu berdua tapi sebagian besar kami gunakan untuk urusan kantor, sosialita atau sejenisnya sedangkan sisanya untuk tidur. Setelah itu muncul Kihyun yang otomatis akan selalu menjadi ekor kemanapun kami pergi. Kihyun susah sekali berpisah dari Hyejin dan begitu pun sebaliknya.
“Iya, kencan. Tidak usah bingung, aku yang akan menyiapkan semuanya khusus untuk suami tersayangku ini. Sekarang, siap-siaplah. Aku akan menyiapkan sarapan,” kata Hyejin kemudian mencium pipiku dan lari dari dekapanku.
Sebuah senyuman cerah mengembang di wajahku. Hari ini aku akan menguasai Hyejin sendirian. Sangat reaktif, tanganku menyambar telepon dan langsung menghubungi eomma Hyejin. “Aku akan kencan dengan Hyejin. Jangan bawa Kihyun pulang sampai besok pagi ya, eommonim. Gomawoyo.” Maafkan appa ya, Kihyun sayang. Hehehehhehehe. Sekali-kali biarkan appa berduaan saja dengan eomma. Appa tetap mencintai Kihyun kok. Hahahhahahaha.
—-
Selain Kihyun, yang harus memaafkanku hari ini adalah Tuhan karena selama 2 jam ibadah, sebagian besar aku habiskan untuk memikirkan kencanku dengan Hyejin. “Beribadahlah dengan benar, tuan Cho. Kalau tidak nanti Tuhan bisa mengacaukan kencan kita. Aku tidak mau. Arraseo?” Tegur Hyejin yang mungkin sudah bolak-balik menangkapku yang terus menatapnya sambil senyum-senyum sendiri.
Mendengarnya, aku langsung berdoa, “Tuhan, maafkan aku yang tidak fokus padaMu. Sebagai hukumannya, besok Kau boleh memberikan masalah di kantor 2x lebih dari biasanya tapi aku mohon jangan kacaukan kencanku dengan istriku. Aku mohon, Tuhan. Amin.”
Saat membuka mata aku melihat Hyejin yang sedang tersenyum menatapku. “Doamu seperti doaa anak-anak tapi aku suka. Aku juga berdoa semoga kencan kita hari ini berjalan lancar. Sudah lama aku ingin berduaan saja denganmu makanya aku berharap hari ini akan menyenangkan,” ujar Hyejin dengan jujur.
Aku menautkan telapak tanganku dengan telapak tangannya, menyalurkan kehangatan satu sama lain. “Kajja! Kau akan mengajakku kemana? Aku sudah tidak sabar,” kataku.
“Aku tidak akan mengatakannya. Aku akan membawamu ke tempat-tempat menyenangkan. Jadi, aku yang akan membawa mobil dan kau jadi penumpangnya. Cepatlah, tuan Cho sayang.” Hyejin membukakan pintu mobil untukku dan memaksaku untuk segera masuk.
“Aku akan menghukummu jika kencanmu parah,” godaku.
Hyejin mendorongku sampai aku terduduk di jok penumpang depan. “Kau justru akan ketagihan,” katanya kemudian menutup pintu dan bergerak menuju kursi pengemudi. “Pertama, kita makan siang dulu. Aku lapar….”
“Aku lebih senang memakan dirimu,” sahutku sambil tersenyum jahil. Aku hanya ingin menggodanya, tidak lebih.
“Dasar mesum,” komentarnya lalu mengemudikan mobil ke salah satu restoran favoritku.
—-
Hyejin memesan makanan dan anggur kesukaan untukku. Ia menatapku seperti menanti sesuatu. “Aku membuatnya sendiri, dibantu chef. Maaf kalau tidak enak,” ucapnya memberi lirikan pada steak yang ada di hadapanku.
Aku tertawa. Aku tahu Hyejin pandai memasak tapi ia bukan profesional jadi mungkin steak ini akan terasa berbeda dari standar restoran tapi aku yakin tetap bisa dinikmati tanpa khawatir. “Aku akan menanggung risikonya,” sahutku sambil memotong steak sebagian yang cukup untuk masuk ke mulutku. “Enak,” ucapku jujur. Rasa steak-nya memang tidak seperti biasanya tapi masih enak di lidahku.
Hyejin terbelalak menatapku, senyumannya yang cerah terkembang di wajahnya. “Jinjja? Kau tidak berbohong padaku kan?” Tanyanya.
Aku menggelengkan kepalaku sambil terus menikmati steak buatan Hyejin dan sesekali menyesap anggur kesukaanku.
“Syukurlah. Aku pikir kau akan muntah memakannya,” kata Hyejin membuatku tertawa. Imajinasi wanita ini memang kadang suka berlebihan.
Aku memotong sebagian kecil steak-ku lalu menyuapkannya kepada Hyejin. “Bagaimana? Enak kan? Aku tidak bohong kan?” Kataku menyakinkan.
Hyejin menganggukkan kepalanya dengan senang. “Tidak buruk. Gomawo, Kyu,” ucapnya.
“Aku yang harusnya berterima kasih. Apapun akan terasa lebih enak jika denganmu, sayang,” sahutku sambil menyengir memamerkan senyum mematikanku.
“Heissssh… Selalu saja gombal,” kata Hyejin dengan ekspresinya yang menggemaskan membuatku mencubit hidungnya pelan.
“Habis ini kita kemana?” Tanyaku antusias karena aku begitu menantikan kencan yang dibuat oleh Hyejin.
“Lihat saja nanti. Dasar tidak sabaran. Uuugh…”
—-
Hyejin membawaku ke sebuah taman bermain yang tidak ramai meskipun ini hari Minggu, hari dimana orang biasanya datang untuk mengisi hari libur mereka. “Kau menyewanya?” Tanyaku curiga.
Hyejin menyeringai sempurna yang membuatnya terlihat sangat lucu. “Aku tidak menyewanya. Aku hanya membujuk Kangin oppa untuk menutupnya sebentar untuk alasan manitenance,” katanya.
Aku mengacak rambut Hyejin dengan gemas. Kami benar-benar terlihat seperti pasangan muda yang sedang berkencan bukan sepasang suami-istri yang bahkan telah memiliki seorang anak. “Jadi kau akan mengajakku ke arena mana sekarang?” Tanyaku.
Hyejin menarik tanganku menuju sebuah arena pertunjukkan musikal. “Kau tunggu di sini. Jangan kemana-mana,” katanya sambil mendudukkanku di kursi penonton paling depan sedangkan ia pergi meninggalkanku.
“Hye, kau dimana? Kenapa lama sekali?” Tanyaku melalui sambungan ponsel karena ia sudah lama sekali tidak kembali.
“Sabar ya. Sebentar lagi,” sahutnya lalu menutup sambungan kami.
Aku tetap duduk di bangkuku. Tiba-tiba lampu arena mati berganti lampu yang menyorot panggung. Aku melihat Hyejin berjalan pelan memasuki panggung. Ia tersenyum kepadaku sekilas lalu kembali fokus pada panggungnya.
Seorang pria yang memakai topengku berjalan memasuki panggung dan berinteraksi dengan Hyejin. Aku menonton mereka dengan seksama tanpa bisa berhenti tersenyum. Hyejin memainkan drama kehidupanku dengan dirinya sejak pertama kali kami bertemu.
“Daebaaaaak!!! Kapan kau mempersiapkannya? Bukankah kau selalu sibuk mengurus Kihyun?” Tanyaku saat ia telah kembali dan langsung menggelayutkan lengannya di lenganku.
“Itulah hebatku. Kau harus mengakuinya,” ucapnya dengan bangga.
“Baiklah. Kau hebat. Aku akui itu. Makanya aku jatuh cinta padamu,” sahutku yang aku tahu pasti akan langsung meluluhkan Hyejin.
Wajah Hyejin bersemu merah karena mendengar ucapanku tapi ekspresinya terlihat sedikit sebal. “Yaaa, harusnya aku yang membuai-mu. Kenapa selalu kau lebih dulu yang mengatakan hal-hal seperti itu? Menyebalkan.”
Aku hanya tertawa dan membelikan es krim untuk Hyejin agar kencan kami terasa lebih sempurna. “Sekarang kita kemana?” Tanyaku.
Hyejin hanya tersenyum. Sambil menikmati es krim-nya, ia menggandengku berjalan ke sebuah pohon besar yang sangat meneduhkan daerah di sekitarnya.
“Pohon cinta?” Tanyaku sambil sekuat tenaga menahan tawa membaca nama konyol tersebut.
Hyejin menatapku galak. “Yaaa, pohon ini banyak sejarahnya tahu. Eomma dan Appa dipertemukan di bawah pohon ini. Banyak pasangan yang berciuman di bawah pohon ini hidup bersama selamanya.”
“Jinjja?? Lalu kau mencobanya?” Godaku. Bertahun-tahun hidup bersamanya, aku bisa tahu apa isi otak wanita ini, meski itu hanya keinginan untuk buang air kecil.
Dengan malu-malu, Hyejin menganggukkan kepalanya. “Aku ingin melakukannya dengan pria yang sangat aku cintai. Tidak masalah kan?”
“Aigoooo…. Neomu kyeopta!!!” Ucapku gemas. Hyejin benar-benar terlihat sangat menggemaskan. “Kajja!”
Aku menarik Hyejin ke bawah pohon itu, menikmati keindahan yang terpatri sempurna di wajahnya. “Ada yang ingin kau sampaikan?” Tanyaku.
“Aku mencintaimu. No matter what happen or will be happening, I’ll always be with you,” ucapnya pelan. “Please, don’t leave us. Don’t let us go away. Love us like you love yourself.”
Demi Tuhan, wanita ini terlalu banyak bicara. Aku membungkam bibirnya dengan telunjukku. “Imajinasimu yang berlebihan itu pasti yang membuatmu seperti ini. I love you and our children more than I love our company, jagiya. So, don’t be afraid. I will not leave you as long as God want it. Apa yang sudah dipersatukan Tuhan tidak dapat dipisahkan manusia. Ya kan?”
Hyejin tertawa kecil dan kemudian menggeliat masuk ke dalam pelukanku. “Gomawo, Kyu. Jeongmal gomawoyo. I love you a lot.”
“I love you too.”
Aku berdiri memeluknya sambil mencium puncak kepalanya berkali-kali. “Kau belum keramas ya? Lengket,” kataku jujur. Aku tidak terlalu peduli sebenarnya tapi kebiasaan kami yang bicara ceplas-ceplos membuatku jadi berkomentar tidak penting.
Hyejin menggeleng pelan. “Tidak sempat. Aku sibuk mempersiapkan kencan ini. Kau marah ya?” Tanyanya yang menurutku sangat bodoh.
“Kau tidak mandi seharian saja aku masih mau bercinta denganmu apalagi hanya belum keramas. Dasar bodoh.”
Hyejin tertawa. “Aku janji akan langsung keramas begitu sampai rumah. Aku tidak mau kau menciumku yang bau,” katanya sambil menggenggam tanganku.
“Lalu sekarang kita akan kemana?” Tanyaku.
“Pulang. Aku harus keramas,” jawab Hyejin dengan santai.
“Lalu ciuman di bawah pohon cinta ini?”
Hyejin menyeringai jahil padaku. Sedikit berjinjit, ia mulai melumat bibirku dengan bibirnya. Aku menarik Hyejin semakin erat kepadaku dan menikmati ciuman yang ia berikan.
“Gomawo. Aku senang sekali,” bisikku bahagia.
—-
Tubuh Hyejin merupakan benda yang paling aku sukai dari semua benda yang ada di tempat tidurku. Tubuhnya yang hangat membuatku betah berlama-lama di sampingnya, meski hanya untuk memeluknya.
“Jagiyaaa,” panggilku dengan manja sambil menyelipkan kepalaku di leher jenjangnya, membuatnya sedikit kegelian terkena rambutku. Wangi tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki menusuk hidungku, menggoda inderaku yang lain.
“Waeyo?” Sahutnya dengan lembut, terasa sangat menenangkan di telingaku. Ia meletakkan buku yang sedang ia baca dan berpaling padaku.
Aku tersenyum padanya dan tanganku mengelus tangannya dengan jemari-jemariku. “Terima kasih banyak sudah mengajakku kencan. Aku sangat senang sekali,” kataku jujur. Aku benar-benar seperti anak kecil jika sudah berhadapan dengan Hyejin dan aku sangat menikmatinya.
“Aku tahu. Kelihatan sekali kau tidak pernah kencan,” jawab Hyejin diiringi senyum jahilnya yang sangat menggoda.
“Yaaa, Song Hyejin… Jangan menggodaku.”
“Aku tidak menggodamu, sayang,” katanya dengan cara yang sangat aku sukai.
Aku tersenyum. “Aku mencintaimu,” ucapku lalu memberinya sebuah ciuman. “I don’t choose you. You’re God’s gift to me. I hope as I’m to you.”
“You’re my treasure, Kyu. I love you.”
Aku semakin erat memeluk istriku, membenamkan tubuhnya semakin dalam pada rangkulanku. Aku bersyukur atas dirinya dan hari Minggu yang diberikan Tuhan sehingga aku bisa menikmati anugerah terindah yang diberikanNya.

Kkeut!