Anyeong onni dongsaeng chingu hehehe
this is esterong and i come back with Eunhyuk’s fanfiction
jeongmal mianhe for the super long absent hehehe
hope you like it and enjoy it ^^
leave your comments if you don’t mind hehe your comments are love for me
thank you so much for keep reading our fanfiction ^^
really love you!
happy reading🙂

******

Main Cast:

Lee Hyukjae

Park Yeonhee

Support Cast:

You’ll find later ^^

*****

Ini bukan kisahku. Ini miliknya. Tapi kepedihan yang ia rasakan menulariku. Rasa yang bermula karena simpati kini bertumbuh menjadi rasa yang lain. Sesuatu yang sangat sakral dan mungkin hanya aku yang bisa mendeskripsikannya. Cinta. Ya, aku tak salah lagi. Tapi sayangnya, cintaku ini tak akan berujung dengan kebahagiaan, sama seperti kisahnya. Karena sampai kapan pun aku tahu, aku tak akan pernah menghapus sosok itu dari benaknya.

Ini cinta yang dramatis. Sudah tahu dia tak akan mencintai tapi masih berani menumbuhkan rasa itu. Sudah tahu cinta tak akan berbalas tapi masih ingin selalu berada didekatnya. Sudah tahu dia hanya bisa mencintai gadis itu tapi masih berharap pada kemungkinan 1% kalau dia bisa mencintaiku. Aku ini bodoh atau naif sebenarnya? Entahlah.

*****

“Yaa, Hamun ah, ayo kita makan siang!” seru gadis ini setelah melepas kemeja putihnya.

Gadis bernama Hamun menatapnya bimbang. Kedua tangan Hamun kini sudah mengatup didepan wajahnya. “Park Yeonhee, jeongmal mianhe, Dokter Siwon sudah mengajakku lebih dulu,” jawab Hamun penuh rasa bersalah.

Yeonhee menggembungkan pipinya dan melipat tangannya didepan dada. “Jadi kau lebih mementingkan Siwon uisa daripada sahabatmu?” tanya Yeonhee.

Hamun segera menggeleng. “Aniya, aniya, bukan itu, Yeonhee. Kau tetap yang paling penting, hanya kali ini saja Yeonhee,” pinta Hamun.

Perlahan ujung bibir Yeonhee tertarik. Ia tersenyum lebar lalu memeluk sahabatnya itu. “Tentu saja aku hanya bercanda. Aku bahagia kalau kau juga bahagia,” tandasnya. “Sana pergi, Siwon uisa sudah menunggu,” lanjut Yeonhee sambil menggendikan kepalanya pada orang yang sudah berdiri di ambang pintu ruang kerja Hamun.

Hamun mengacak rambut Yeonhee. “Kau juga harus segera mencari kebahagiaanmu ya. Sudah saatnya untuk melupakan pria itu,” katanya.

Yeonhee mencubit pipit Hamun. “Aigu! Kau cerewet sekali! Kaa,” usirnya.

Setelah Hamun dan Siwon pergi, Yeonhee kembali ke meja kerjanya untuk merapikan stetoskop dan kemeja putihnya. Ia membuka laci meja untuk mengambil dompet. Tanpa disengaja, ia melihat foto pria itu didalam laci. Pria yang Hamun maksud tadi. Pria yang selama ini membuat cinta Yeonhee terhenti di masa lalu.

Yeonhee mengambil foto itu. Ditiliknya wajah pria di foto itu. Foto yang ia ambil secara diam-diam 10 tahun yang lalu. Kata-kata Hamun kembali terngiang dan sebuah senyum kini merekah dibibirnya. “Kurasa, Hamun benar. Aku harus melupakanmu,” gumannya.

“Semoga kau menemukan gadis yang kau cintai dan bahagia bersamanya. Aku bahagia, jika kau juga demikian,” guman Yeonhee lalu membuang foto itu.

Detik itu Yeonhee sudah memutuskan. Meski butuh waktu 10 tahun untuk melupakan rasa itu, Yeonhee tak pernah menyesal karena ia dengan tulus mencintainya, meski pria itu tak pernah tahu perasaannya, bahkan mungkin pria itu tak mengenalnya.

******

“Hyukjae ah, kau pulang duluan? Kenapa tak pamit?” tanya orang yang ada diseberang telepon sana.

“Hm, mian Donghae ah, aku tak bisa lama-lama. Aku tidak enak badan. Sekali lagi, selamat atas pernikahanmu dengan Johee,” ujar pria yang dipanggil Hyukae tadi. Setelah menutup teleponnya, pria ini menatap undangan pernikahan yang ada ditangannya dengan lesu.

“Sudah tak ada alasan untukku tetap bertahan,” gumannya.

Ia menengadahkan kepalanya, menatap jalan raya yang begitu ramai. Setetes air matanya mengalir, tak kuasa menahan rasa sakit direlungnya. Keputusannya sudah bulat. Ia akan mengakhiri semuanya saat ini.

Ia melangkahkan kakinya perlahan. Ia tak perduli pada klakson mobil yang berulang kali memperingatkannya. Kakinya terhenti tepat ditengah jalan raya itu.

Ia membuka matanya. Melihat sebuah mobil Audi berjalan kearahnya. Ia tak tahu apa yang akan terjadi, tapi kini semua terasa begitu gelap baginya.

*****

Yeonhee memutuskan untuk mencari makan diluar sebagai perayaan karena ia telah berhasil move on. Namun ditengah jalan ia melihat banyak orang bergerombol. Yeonhee terheran. Ia menghentikan mobilnya.

“Permisi, permisi. Aku seorang Dokter, ijinkan aku lewat,” seru Yeonhee agar orang-orang memberinya ruang. Begitu ia menembus keramaian, ia melihat dengan jelas orang yang terkapar dijalan raya itu.

Meski 10 tahun sudah berlalu, ia tak pernah melupakan wajah itu. Yeonhee tahu siapa dia dan semua ini membuat hatinya seperti diiris-iris. Sangat sakit dan menyesakkan. Air matanya mengalir dengan sendirinya.

“Lee Hyukjae!” seru Yeonhee histeris melihat kondisinya yang begitu parah. Darah terus mengalir dari bagian kepalanya. Yeonhee segera mendekati pria itu dan segera memberikan pertolongan pertama.

Pria itu tak bernafas dan nadinya pun tak berdenyut. “Hyukjae shi, bangun,” ujar Yeonhee setelah memberikan nafas buatan. “Aku mohon, bangunlah,” ujarnya sambil menekan-nekan dada pria itu.

“Nyonya berbaju merah, tolong panggilkan ambulans,” seru Yeonhee ditengah isakannya.  Yeonhee terus menekan bagian dada pria itu sampai akhirnya pria itu terbatuk dan kembali bernafas. Yeonhee terjatuh disampingnya dengan perasaan sedikit lega namun tangisnya tetap mengalir. Tak lama kemudian ambulans itu datang. Beberapa perawat turun membawa tandu dan meletakan pria itu diatasnya.

“Yeonhee-uisa, gwencana?” tanya salah satu perawat dari ambulans tersebut yang kebetulan mengenal Yeonhee. Yeonhee mengangguk sebagai jawaban ‘ia baik-baik saja’.

Sebelum perawat itu masuk dalam mobil, Yeonhee menahan kemejannya. “Aku mohon, tolong kau jaga dia,” ujar Yeonhee padanya.

Perawat itu mengangguk pasti. “Mungkin kalau tak ada Yeonhee uisa, ia tidak bisa tertolong,” ujarnya. Yeonhee hanya merespon dengan senyum. Dirinya sedikit terguncang. “Cepat ke rumah sakit biar dokter Goo mengecek keadannya,” lanjut Yeonhee.

Begitu ambulans itu pergi, dengan sisa kekuatan yang ada Yeonhee hendak ke rumah sakit. Namun matanya menangkap beberapa benda yang tercecer di lokasi kejadian. Ada ponsel dan sebuah undangan pernikahan.

Yeonhee yakin benda-benda itu milik lelaki tadi. Tanpa berpikir panjang, ia segera mengambil barang-barang itu. Bersama dengan mobilnya, ia meluncur menuju rumah sakit tempatnya bekerja.

*****

Hasil rontgen menyatakan bahwa lelaki tadi mengalami gegar otak yang lumayan parah dan membutuhkan waktu cukup lama untuk pulih total. Selain luka di kepala, beberapa bagian tubuhnya juga mengalami cedera. Hati Yeonhee kalut. Ia khawatir dengan keadaan pasien yang ia bawa itu. Yeonhee kembali duduk dimeja kerjanya. Mencari cara untuk mengubungi keluarga lelaki itu. Nihil. Tak ada kartu tanda penduduk dan ponselnya pun sudah tak berbentuk.

Yeonhee melirik undangan pernikahan yang tadi Hyukjae bawa. Atas nama Lee Donghae dan Shim Johee. “Jadi, mereka sudah menikah sekarang? Apa mungkin Hyukjae sudah tak menyukainya lagi?” Yeonhee membuka undangan itu, ada sebuah foto berukuran 1R didalamnya. Di foto itu ada Hyukjae, Lee Donghae, sahabat baik Hyukjae, dan Shim Johee, gadis yang membuat Hyukjae jatuh cinta.

Yeonhee menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Yang dia lakukan dua menit terakhir hanya melihat foto itu. Ia tersadar, Hyukjae tak mungkin melupakan Johee, bahkan disaat Johee sudah menjadi milik Donghae. Membayangkan bagaimana sakitnya hati Hyukjae membuat Yeonhee sedih. “Andai orang yang kau sukai itu aku. Kau tak akan menderita seperti ini,” gumamnya.

“Dokter Yeonhee,” panggil seseorang. Yeonhee mendapati seorang suster di depan ruang kerjanya. “Dok, sekarang sudah jadwal dokter memeriksa Nyonya Lim,”

“Ah, benar. Terima kasih, suster. Aku akan segera menyusul,” kata Yeonhee ramah.

Yeonhee hendak keluar dari ruangannya namun langkahnya terhenti diambang pintu saat ia melihat foto Hyukjae yang ada ditempat sampah. Ia mengambil foto itu dan menilik wajah pria itu. “Lee Hyukjae,” gumam Yeonhee saat melihat foto itu. “Kau tak berubah sedikit pun,” ujarnya.

“Semoga kau cepat sadar,” doanya tulus untuk Lee Hyukjae, pria yang kembali mengusik hati Yeonhee. Yeonhee kembali memasukkan foto itu ke kantong dijubah putihnya. “Kurasa aku akan kembali mengingatnya. Tidak ada yang salah dengan berharap pada kemungkinan 1% itu, kan?” gumannya.

*****

“Seminggu ini, aku selalu mendapatimu sedang melihat foto pria itu. Kau tak bosan? Aku yang melihat tingkahmu ini sudah bosan,” kata Hamun begitu ia masuk ke ruang kerja Yeonhee. Yeonhee tersentak kaget akibat kemunculan Hamun. Dengan segera ia menyembunyikan foto itu. “Aku tak bisa menahan diri,” balas Yeonhee lirih.

Hamun mengacak-acak rambut Yeonhee, “Aigu! Tidak apa-apa, aku hanya bercanda tadi,” jelasnya. “Dia belum sadar?” tanya Hamun lagi. Yeonhee menggeleng lesu. “Dia akan sadar. Tenang saja,” ujar Hamun menenangkan.

Hening sejenak diantara mereka sampai akhirnya Hamun bertanya sesuatu yang tak pernah Yeonhee pikirkan. “Jadi, setelah ia datang kembali ke kehidupanmu, kau akan menyatakan perasaanmu, kan?” tanya Hamun. “Aku tak mau sahabatku tak bisa menikah karena tak bisa melupakan cinta pertamanya,”

Yeonhee tersenyum pada Hamun. Ia tahu kalau Hamun mengkhawatirkannya. “Jujur, aku belum tahu. Tapi melihatnya dari jarak dekat seperti ini sudah membuatku sangat bahagia,” balasnya.

Hamun menatapnya iba. “Bila akhir dari kejadian ini bukan happy ending, aku mohon padamu, kau harus move on sesegera mungkin. Aku ingin kau bahagia, Yeonhee,”

Yeonhee tersenyum bahagia. “Terima kasih banyak, Hamun. Aku akan berusaha.”

“Yeonhee uisa, tuan Lee Hyukjae sudah sadar!” seru seorang perawat yang tiba-tiba masuk dalam ruang kerjanya. Yeonhee terperanjat. Dengan segera ia bangkit dari tempat duduknya namun kakinya begitu lemas dan jantungnya berdetak begitu kencang.

“Pergilah. Bukankah kau tak sabar untuk memperkenalkan dirimu padanya setelah selama 10 tahun ini ia tak pernah mengenalmu?” ujar Hamun. “Kaa.” Hamun menepuk punggung Yeonhee, memberikan Yeonhee keberanian. Yeonhee bergegas menuju kamar Hyukjae. Ia bahkan tak bisa menunggu lift terbuka sampai ia memilih menggunakan tangga saja.

Yeonhee akhirnya tiba di kamar itu dengan nafas tersenggal-senggal. Ia lelah, tentu saja. Namun saat melihat pria itu sudah sadar, rasa lelah itu menguap begitu saja. Hatinya begitu lega saat melihat Hyukjae sudah terduduk di ranjangnya. Dengan langkah gontai, ia mendekati Hyukjae.

“Ah, Yeonhee-uisa,” sapa Dokter Goo yang bertanggung jawab atas Hyukjae. “Pasien yang kau selamatkan sudah sadar,”

Hyukjae kini menoleh untuk melihat dokter yang menyelamatkannya. “Apa kau dokter yang menyelamatkanku? Dokter Goo mengatakan, jika bukan karena dokter, aku pasti sudah mati. Aku berhutang nyawa padamu,” ujarnya. Hyukjae menunjukkan gummy smilenya pada Yeonhee. Salah satu mimpi Yeonhee yang ia pikir tak akan terjadi.

“Tapi, Yeonhee-uisa, Lee Hyukjae-nim mengalami Retrograde Amnesia, kau tahu yang kumaksud, kan?” ujarnya. Yeonhee mengangguk namun perhatiannya tetap terpusat pada Hyukjae. Rasanya seperti sebuah keajaiban bagi Yeonhee bisa sedekat ini dengan Hyukjae.

“Retrograde Amnesia? Maksudnya, dok? Apa membahayakan?” tanya Hyukjae pada dokter Goo. Dokter Goo tersenyum, “Kurasa Yeonhee-uisa akan menjelaskannya padamu,” sambil menggendikan kepalanya pada Yeonhee.

“Ah, Dokter, apa penyakit itu…” Hyukjae tak bisa meneruskan pertanyaannya pada Yeonhee. Tiba-tiba mulut Hyukjae terkunci saat mendapati gadis itu menangis.

“Kau.. kenapa menangis?” tanya Hyukjae.

Yeonhee terperanjat. “A-aku menangis?” Ia mengusap pipinya dan ia baru sadar kalau air mata bahagia mengalir dengan sendirinya. Mendapati kenyataan itu air matanya makin menderas. “A-aku tak tahu, air mata ini mengalir begitu saja,” ujarnya sambil berusaha menghentikan air matanya. Berulang kali ia berusaha menghapusnya.

Hamun, yang akhirnya mengikuti langkah Yeonhee keruangan ini, dan melihat itu semua, berinisiatif mengajak Dokter Goo dan perawat yang ada disitu untuk memberi ruang bagi sahabatnya dan pria yang ia cintai itu.

“A-Apa aku sudah berbuat salah padamu?” tanya Hyukjae.

Yeonhee menggeleng sambil sesenggukan. “Ani, ani, mungkin ini karena aku terlalu bahagia,” katanya. “Aku khawatir setengah mati. Aku takut kalau kau tak bangun lagi,” jelas Yeonhee.

Hyukjae terheran. Ia tak mengenal gadis ini, dan mungkin gadis itu juga tak mengenal dirinya, tapi gadis ini menangis dan khawatir untuk dirinya.

“Maaf, kau pasti pikir aku aneh,” balas Yeonhee lirih. Hyukjae tersenyum mendengar kata gadis itu. Ia tak mempertanyakan lagi. Kebingungannya berganti dengan senyum. Ia memang tak mengenal gadis itu namun entah mengapa ia tak merasa kerepotan dengan tangisannya. Ia tak merasa keberatan dengan kehadirannya.

“Duduklah disini,” ujar Hyukjae menyuruh Yeonhee duduk dikursi yang ada disebelah ranjangnya. “Siapa namamu?” tanyanya.

“Park Yeonhee,” jawab Yeonhee, masih dengan air mata yang tak kunjung berhenti. “Kalau kau tak ingat, namamu Lee Hyukjae,” ujar Yeonhee.

Hyukjae tersenyum lembut. Ia menarik pelan kepala Yeonhee ke dadanya. Hyukjae memeluk Yeonhee erat dan mengelus kepala Yeonhee lembut. “Terima kasih kau menangis untukku,”

*****

“Kurasa ada yang sedang jatuh cinta,” ejek Hamun saat mendapati Yeonhee hanya memandangi foto Hyukjae sedari tadi. Yeonhee terperanjat dan dengan segera menyembunyikan foto pria itu di lacinya.

“A-aniya, aku hanya kebetulan memandanginya,” jawab Yeonhee gagap.

“Cih, kau itu tak bisa berbohong,” balas Hamun. Ia menghampiri meja Yeonhee dan meletakkan ponsel Hyukjae di atas mejanya. “Rusak parah, tak bisa diperbaiki,” kata Hamun.

“Benarkah? Lalu bagaimana caranya agar ingatannya bisa kembali? Ah! Aku ingat! Undangan pernikahan Donghae dan Johee, juga foto yang ada di dalamnya! Kurasa mungkin itu bisa memacu ingatannya,” ujar Yeonhee pada Hamun. Ia hendak membuka laci meja kerjanya namun Hamun kembali menutupnya.

“Hamun, waeyo?” tanya Yeonhee tak mengerti.

“Yeonhee ah, bukankah begini lebih baik? Ia tak lagi mengingat gadis yang begitu ia cintai sampai-sampai ia tak pernah menyadari kehadiranmu. Ya, kan, Yeonhee?” ujar Hamun lirih. Ia tahu, ini sebuah saran yang gila, namun ia tak ingin sahabatnya menderita lagi. 10 tahun yang terbuang demi pria itu bukanlah waktu yang sebentar.

Hati Yeonhee mencelos. Ini bukan sesuatu yang baik namun setengah hatinya menyetujui apa yang Hamun sarankan. Yeonhee terdiam. Ia masih tak tahu harus berbuat apa. “Entahlah, aku tak tahu, Hamun-ah,” jawabnya lirih.

Hamun memeluk sahabatnya. “Jika kau tak berani melakukan ini sendirian, aku selalu ada disampingmu,” balasnya.

“Terima kasih, Hamun ah,” balas Yeonhee.

“Untuk sementara, beritahukan pada Hyukjae tentang ponsel ini. Untuk undangan dan foto itu, semua terserah padamu, Yeonhee,” saran Hamun.

“Baiklah. Aku ke kamar Hyukjae sekarang. Aku mau memberitahunya tentang ini,” kata Yeonhee sambil memamerkan ponsel Eunhyuk.

Hamun tertawa kecil, “Kurasa kau terlambat puber, Yeonhee ah. Bilang saja kau rindu padanya,” ejek Hamun.

Yeonhee menggeleng-geleng kepalanya, “Aku tak menyangka Hamun jadi begitu cerewet sekarang,” ejeknya. Secepat kilat ia kabur sebelum Hamun mengomelinya tapi di depan pintunya ia terhenti. “Hamun, semua cerita tentang perasaanku pada Hyukjae selama ini, tolong rahasiakan. Bahkan dari Hyukjae sekalipun,”

“Kau bisa percaya padaku, Yeonhee,” balas Hamun.

*****

“Hyukjae-nim, ini obat dari dokter Goo. Sehabis makan kau harus meminumnya, ya,” ujar perawatnya.

“Terima kasih, Ryeowook shi,” balas Hyukjae. Ia mulai menyantap makanannya namun ia menyadari Ryeowook masih berdiri disampingnya.

“Ada apa, Ryeowook-shi?” tanya Hyukjae.

“Aku sebenarnya tak boleh memberitahukan ini padamu, namun kurasa kau perlu tahu,” ujar Ryeowook setengah bimbang.

“Katakan saja, Ryeowook-shi, kalau aku memang berhak untuk tahu,” kata Hyukjae sabar. “Jadi, apa itu yang perlu aku tahu?”

“Yeonhee-uisa…”

“Kenapa dengan Yeonhee-uisa?” tanya Hyukjae penasaran.

“Selama kau tidak sadar, Yeonhee-uisa selalu menunggumu jika ia sedang tidak ada pasien. Kadang ia sampai tertidur di kursi itu,”

“Benarkah?” tanya Hyukjae tak percaya. Ia baru dua hari mengenal Yeonhee namun entah kenapa, kenyataan yang baru saja ia dengar membuatnya bahagia.

“Tentu saja, aku tak mungkin berbohong. Aku sering melihatnya dan ia melarangku untuk memberitahumu,”

“Kenapa ia tak ingin aku tahu?” tanya Hyukjae tak mengerti.

Ryeowook mendekati telinga Hyukjae dan berbisik, “kurasa, Yeonhee-uisa menyukaimu. Orang yang jatuh cinta biasanya tak mengharapkan imbalan apapun atas pengorbanan yang ia lakukan. Ia tak mau kau merasa berhutang budi padanya,”

Hyukjae tersenyum bahagia, “Jeongmalyo?” tanyanya meyakinkan diri. Ryeowook mengangguk.

“Aku harap kau adalah happy ending-nya Yeonhee-uisa,” kata Ryeowook. Hyukjae terdiam menanti lanjutan kalimat Ryeowook. “Sebenarnya, banyak pria di rumah sakit ini yang menyukainya. Mulai dari dokter Lee, dokter Kim, dokter Sang, para perawat, sampai para pasien pun menyukainya namun ia selalu menolak mereka. Desas-desusnya, Yeonhee-uisa belum bisa melupakan cinta pertamanya walau sudah bertahun-tahun,” jelas Ryeowook

“Benarkah seperti itu? Bertahun-tahun?” tanya Hyukjae tak percaya.

“Ini hanya sebuah saran, Hyukjae-shi. Kalau kau memang menyukainya, jangan buat hatinya terluka. Tapi kalau kau tak menyukainya, jangan buat ia terlalu berharap. Takutnya, dia perlu bertahun-tahun lagi untuk melupakan dirimu,”

Hyukjae mencelos mendengar hal itu. Antara iba, senang, dan bingung. Ia masih belum tahu harus melakukan apa. Perasaannya masih begitu abstrak.

“Hyukjae-shi,” panggil sebuah suara dari ambang pintu kamarnya. Ia mendapati Yeonhee berjalan menghampirinya.

“Bagaimana keadaanmu? Kau baru minum obat? Ah, Ryeowook-shi, annyeong,” ujar Yeonhee.

“Yeonhee-uisa, annyeonghasimika,” katanya sambil membungkukkan badan. “Hyukjae-shi sudah minum obat. Aku akan segera keluar dari kamar ini. Permisi,” pamitnya.

“Yeonhee-uisa,” panggil Hyukjae. “Ada apa?” tanyanya.

“Aku ingin memberitahukan padamu, ponselmu tak bisa diperbaiki. Rusaknya terlalu parah. Sim cardnya juga tidak ada. Mungkin aku tak melihatnya ditempat engkau tertabrak. Jeongmal mianhe,” kata Yeonhee sambil memberikan ponsel Hyukjae.

“Lalu, bagaimana kau bisa mengenaliku?” tanya Hyukjae.

“Aku satu sekolah denganmu saat di Junior High School tapi mungkin kau tak mengenalku. Aku hanya setengah tahun disana,” kata Yeonhee.

“Apa kau tak mengenal sahabat-sahabatku?” tanya Hyukjae.

Tangan Yeonhee mendingin. Perkataan selanjutnya keluar begitu saja tanpa ia berpikir. “Aku tak kenal siapapun sahabatmu. Aku tak sekelas denganmu,” jawab Yeonhee. Ia sadar, dirinya baru saja memilih untuk berbohong. Suatu kebohongan kecil yang akan membawanya pada ribuan kebohongan lain.

“Lalu? Bagaimana kau mengenalku?” tanyanya.

Yeonhee tersenyum. Kali ini, ia tak perlu berbohong. Kejadian saat pertama kali ia jatuh cinta pada pria ini adalah sesuatu yang nyata. “Kelas kita berseberangan. Dari tempatku duduk, aku dapat dengan jelas melihatmu,”

“Ah, kau bertanya pada temanmu, kan?” tebak Hyukjae dengan wajah yang seakan mengatakan ‘Aku pasti benar’.

Yeonhee tertawa sesaat melihat hal itu, “Aniya, aku sedikit kuper dulu. Tidak berani bertanya kepada mereka,”

“Ah, mian, lalu?” tanya Hyukjae yang sedikit keki.

“Kau dihukum berdiri di depan kelasku karena kau ketiduran saat mata pelajaran guru itu,” jawab Yeonhee.

Wajah Hyukjae memerah. Ia malu pada dirinya sendiri. “Kau pasti menertawakanku saat itu?” tebak Hyukjae.

Yeonhee dengan segera menggeleng. “Ani, ani, ani. Saat itu aku terlalu takjub bisa melihatmu secara langsung, aku tak sempat tertawa,” balas Yeonhee begitu saja.

Begitu sadar kalimat yang ia keluarkan itu begitu memalukan, ia kembali menggeleng-gelengkan  kepalanya. “A-aniya, bu-bukan begitu, aku hanya.. Saat itu.. Aish!” seru Yeonhee kesal tak bisa menyelesaikan kalimatnya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya, menenangkan dirinya sendiri. Hyukjae tertawa kecil melihatnya.

“Mianhe, Hyukjae-shi. Akan aku cari cara untuk mengembalikan ingatanmu,” kata Yeonhee. Ia hendak pergi dari sisi Hyukjae namun pria itu menahan tangannya.

Yeonhee melihat tangan itu dengan takjub. Jantungnya berdetak sangat cepat. “A-ada apa, Hyukjae-shi?”

“Kau tak perlu bersusah payah mengembalikan ingatanku, Yeonhee-shi,”

“Wae-waeyo?” tanya Yeonhee tak mengerti jalan pikiran pria ini.

“Kalau memang waktunya, pasti ingatanku akan kembali,” katanya. “Lagipula, di kehidupanku yang baru ini, aku sudah menemukan orang yang begitu peduli padaku. Jadi aku tak lagi merasa asing atau kesepian,” lanjutnya.

“Siapa dia?” tanya Yeonhee tak mengerti.

Hyukjae tersenyum lembut pada Yeonhee. Matanya menatap dalam ke manik mata Yeonhee. “Dirimu, Park Yeonhee,” katanya lugas. Tanpa keraguan.

Yeonhee terjatuh begitu saja. Kaki Yeonhee begitu lemas mendengar kata itu keluar dari mulut pria itu. Rasanya ini seperti mimpi yang terasa begitu nyata.

“Yeonhee-uisa, gwencana?” tanya Hyukjae yang sudah turun dari tempat tidurnya dan berjongkok disamping Yeonhee. “Tuhkan, kau menangis lagi,” katanya.

Yeonhee segera menghapus air matanya namun Hyukjae menengadahkan wajah Yeonhee. Ia mengusap air mata itu dengan ibu jarinya. “Walaupun kau sering menangis, aku senang karena kau selalu menangis untukku. Tapi, bukankah lebih baik kalau mulai sekarang kau tersenyum dan tertawa untukku?” ujar Hyukjae dengan senyum tulusnya.

Yeonhee sangat bahagia. Kata-kata itu justru membuat tangisan Yeonhee deras.

“Daripada mencari sesuatu yang tak pasti akan kembali, bagaimana kalau kita membangun memori yang baru? Aku dan kamu,”

Yeonhee hanya bisa menangis. Ia terlalu bahagia sampai suaranya enggan untuk keluar. Hyukjae tahu Yeonhee setuju dengan pemikirannya. Ia juga tahu gadis itu hanya akan menangis beberapa saat nanti. Hyukjae memeluk gadis itu. Mengelus punggungnya pelan. “Janji, ya? Ini terakhir kalinya kau menangis untukku,” bisik Hyukjae. Yeonhee mengangguk pelan.

“Gadis baik,” kata Hyukjae sambil mengusap kepala Yeonhee. “Aku jadi makin menyukaimu,”

Dulu, hal seperti ini, bermimpi pun Yeonhee tak pernah berani.

******

Yeonhee berdiam diri. Yang ia lakukan dari sejam yang lalu hanya memandang undangan dan sebuah foto yang ada di meja kerjanya. Kesunyian rumah sakit pada malam hari itu tak memberikan solusi apapun pada gadis ini. Ia terjerat rasa bahagia, egois, dan bersalah. Ia bahagia Hyukjae memilihnya daripada ingatan masa lalunya. Yeonhee tahu, menyembunyikan suatu kenyataan bahwa ‘selama ini Hyukjae hanya mencintai Johee’ rasanya tak adil tapi ia tak mau Hyukjae kembali mengingat Johee dan menganggapnya tak ada.

“Yeonhee, kenapa kau belum pulang? Bukannya kau tak ada jadwal shift malam?” tanya Hamun yang baru tahu kalau sahabatnya itu masih ada di rumah sakit.

“A-Aku.. Ini.. Aku baru saja mau pulang,” katanya tergagap. Rasanya seperti ia kepergok sedang melakukan kejahatan. Yeonhee nyaris menangis karena rasa bersalah ini, namun ia tahan sekuat tenaga. Setidaknya, Hamun jangan melihatnya.

Yeonhee dengan segera memasukkan undangan dan foto itu ke lacinya dan segera mengambil kunci mobilnya. “Hamun, aku pulang duluan ya,” katanya.

Langkah Yeonhee terhenti tepat setelah ia melewati Hamun. Hamun menahan tangannya. “Ada yang kau sembunyikan dariku, Yeonhee. Suaramu bergetar tadi,” kata Hamun.

Yeonhee menggeleng tanpa berani menatap Hamun. “Yeonhee, katakan saja,” ujar Hamun.

“Aku tak menyembunyikan apapun darimu, Kang Hamun,”

Hamun menghela nafas. Ia menengadahkan kepala Yeonhee. “Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kau menangis?”

Saat itu juga, pertahanan Yeonhee runtuh. Tangisnya menderas setelah Hamun memeluknya. Semua yang terkubur didalam hatinya, ia sampaikan pada Hamun.

“Hamun, aku bahagia, Hyukjae akhirnya melihatku. Tapi aku takut jika membayangkan ingatannya akan kembali dan ia akan kembali mencintai Johee. Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada diriku jika hal itu menjadi nyata,” kata Yeonhee ditengah tangisannya. “Aku jahat, Hamun. Aku ingin menyembunyikan foto itu dari Hyukjae. Aku tahu itu salah tapi aku tak mau kehilangan Hyukjae, Hamun,” tangis Yeonhee menderas.

“Kau tak sendirian, Yeonhee. Aku akan menjaga rahasiamu ini,” Hamun tahu ini gila. Tapi ia tak mau melihat sahabatnya tersakiti lagi.

******

“Hyukjae-ssi, itu kamarmu dan kamarku tepat di depanmu, jadi kalau ada apa-apa kau tinggal mengetok pintu kamarku,” kata Yeonhee pada pria yang ia cintai. “Maaf ya, apartemenku agak sempit dan berantakan,”

Hyukjae tersenyum manis, “Aniya, ini sangat cukup. Apalagi ada kau di dekatku, aku jadi merasa nyaman. Terima kasih kau mau menampungku disini, Yeonhee-ssi,” katanya yang hanya bisa Yeonhee balas dengan anggukan malu-malu.

Karena Hyukjae tak ingat dimana rumahnya dan ia tak tahu harus tinggal dimana, atas saran gila dari Hamun, dan hebatnya Hyukjae menyetujui saran itu, akhirnya Hyukjae ―untuk sementara― tinggal di apartemen Yeonhee.

“Kalau begitu, selamat tidur, Hyukjae-ssi,” pamit Yeonhee.

“Eng, Yeonhee-ssi?” panggilnya sebelum Yeonhee masuk kamar.

“Ne?” tanya Yeonhee sambil tersenyum manis untuk pria itu. Hyukjae merasakan jantungnya berdetak sangat kencang akibat senyuman itu. Perlahan ia mendekati Yeonhee dan merengkuh wajahnya. “Ini mantera agar kau bermimpi indah,” katanya lalu ia mengecup kening Yeonhee dengan lembut. “Selamat tidur, Yeonhee-ssi,” katanya.

“Kau juga, Hyukjae-ssi,” balas Yeonhee lalu menutup pintu kamarnya. Kakinya sangat lemah dan jantungnya berdetak sangat kencang. Yeonhee sangat bahagia saat ini.

*****

Sudah seminggu Hyukjae tinggal bersama Yeonhee. Waktu yang singkat namun cukup bagi Hyukjae untuk meyakinkan dirinya kalau ia sudah jatuh cinta pada gadis itu. Rasa yang awalnya timbul hanya karena simpati kini telah berubah.

Gadis itu dengan kesederhanaannya akhirnya membuat Hyukjae menyayanginya lebih dari sekedar sahabat. Ia tak bisa menyembunyikan debaran jantungnya tiap kali melihat senyum gadis itu. Ia tak bisa menipu dirinya dengan berkata ia cukup menjadi sahabat Yeonhee. Ia ingin menjadi lebih dari sahabat tapi untuk sementara biarlah Hyukjae yang mengetahui isi hatinya ini.

“Park Yeonhee,” gumam Hyukjae setelah menghabiskan beberapa menitnya untuk memikirkan gadis itu. “Kurasa aku benar-benar mencintaimu. Aish! Aku jadi tak bisa tidur gara-gara dia,” gerutunya kesal namun hatinya berbunga-bunga.

“Aaa!” bersamaan dengan suara petir, Hyukjae mendengar teriakan Yeonhee. Dengan segera, Hyukjae keluar dari kamarnya dan mencari Yeonhee. Hyukjae tersenyum mendapati Yeonhee meringkuk dibawah meja makan. Ia memeluk lututnya dan menutup telinganya.

“Yeonhee ssi, gwencana?” tanya Hyukjae. Hyukjae tersenyum saat mendapati Yeonhee menatapnya dengan wajah nyaris menangis. “Kau takut petir?” tebaknya sambil mengulurkan tangan untuk membantu Yeonhee berdiri. Yeonhee hanya bisa mengangguk lemas.

“Selama ini kau selalu seperti ini jika hujan turun?” tanya Hyukjae.

“Hanya jika aku sendirian. Aku sudah terbiasa selama belasan tahun seperti ini. Aku sudah terbiasa sendiri,” balas Yeonhee dengan senyum lirih. Hyukjae menatap gadis itu iba. Ia memang tak tahu bagaimana masa lalu Yeonhee, tapi mungkin masa lalu Yeonhee tak seindah anak kecil lainnya.

Suara petir yang bergantian membuat tubuh Yeonhee gemetar. Hyukjae bisa merasakan dari genggaman tangannya dengan Yeonhee. Air mata Yeonhee nyaris mengalir, membuat Hyukjae ingin sekali melindungi gadis ini.

Hyukjae menarik Yeonhee kedalam pelukannya. “Yeonhee, mulai sekarang kau tak perlu merasa takut lagi. Saat ini dan seterusnya, kau tak akan pernah sendirian lagi. Aku akan selalu ada disampingmu,” katanya.

Kata-kata itu membuat Yeonhee begitu bahagia. Membuat pertahanannya runtuh dan tangisnya menderas. “Te-terima kasih,” kata Yeonhee. Hyukjae tersenyum dan mengeratkan pelukannya, ia ingin menjadi keberanian untuk gadis itu.

“Apa tak apa-apa kau menemaniku tidur? Tubuhmu pasti sakit semua jika kau tidur sambil duduk,” ujar Yeonhee pada Hyukjae yang menawarkan diri untuk menemani Yeonhee sampai ia tertidur.

“Aigu!” Hyukjae menyentil pelan kening Yeonhee. “Aku tak akan apa-apa, Yeonhee-ssi. Lalu kau mau aku tidur disampingmu?” Yeonhee mengangguk yakin yang Hyukjae balas dengan gummy smilenya.

“Kau tahu? Kau sangat manis, Yeonhee ssi. Jantungku berdetak sangat kencang tiap bersamamu. Dan kau perlu ingat, aku pria normal. Aku terlalu menyukaimu, aku takut, aku tak bisa mengendalikan diriku,” kata Hyukjae yang membuat wajah Yeonhee bersemu merah. Hyukjae lihat itu dan ia mengecup pipi Yeonhee. “Suatu hari nanti, kita pasti akan tidur seranjang. Tenang saja ya, Yeonhee ssi,”

“Yaa, Lee Hyukjae!” seru Yeonhee karena ia yakin kata-kata barusan membuat wajahnya makin memanas.  “Mianhe,” balas Hyukjae. “Sekarang tidurlah. Aku tak akan melepaskan tanganmu,” katanya.

Yeonhee mengeratkan genggaman tangan mereka. “Terima kasih, Hyukjae ssi. Aku senang kau bersamaku,” kata Yeonhee.

Hyukjae tersenyum bahagia. Hatinya bergejolak seperti ada ribuan kupu-kupu didalam tubuhnya. Hyukjae mengecup kening Yeonhee, “Selamat tidur, Yeonhee,”

******

Sudah nyaris sebulan Hyukjae tinggal bersama Yeonhee. Ia sudah makin mengenal gadis itu. Kelebihannya juga kekurangannya. Makin hari, ia makin mencintai gadis itu. Selama ini, ia pikir cukup menyatakan perasaannya hanya dengan perbuatannya pada Yeonhee namun Ryeowook berkata, “perempuan itu butuh kejelasan,” sehingga Hyukjae berniat mengatakan dengan jelas kalau ia mencintai gadis itu.

“Yeonhee ssi? Apa kau sudah tidur?” tanya Hyukjae sembari mengetok pintu kamar Yeonhee. Beberapa menit Hyukjae mengetok, Yeonhee tak menjawab. Hyukjae mencoba memutar kenop pintu kamar Yeonhee, ternyata tidak terkunci. “Dasar ceroboh, tetap saja ia tak pernah mengunci pintu kamarnya,” omelnya sambil tertawa.

Hyukjae masuk kedalam kamar itu dan mendapati Yeonhee tertidur di meja belajarnya bersama dengan tumpukan buku-bukunya. Hyukjae hanya tertawa dan menghampiri gadis itu. Ia mengambil kursi belajar Yeonhee yang lain lalu duduk di sebelah Yeonhee. Ia meletakkan kepalanya di atas meja belajar itu, sama seperti Yeonhee, sehingga kini wajah mereka saling berhadapan. Hyukjae dapat melihat wajah Yeonhee dengan jelas.

“Aku baru tahu kau memakai kacamata,” gumam Hyukjae. “Tapi kau tetap manis seperti biasanya.” Hyukjae diam-diam mengambil ponselnya dan memotret Yeonhee yang tertidur sambil mengenakan kacamatanya. Ia tersenyum dengan hasil jepretannya dan tiba-tiba kepalanya terasa sakit walau hanya sesaat. Sekejap ia mendapat bayangan samar seorang gadis kecil yang mirip dengan Yeonhee jika memakai kacamata. “Jika kau memakai kacamata seperti ini, aku seperti pernah melihatmu, jauh sebelum aku mengenalmu di rumah sakit,” gumamnya.

Perlahan-lahan mata Yeonhee mulai terbuka. Ia menangkap sebuah bayangan samar-samar. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya untuk  memfokuskan penglihatannya. “Hyukjae ssi?” gumam Yeonhee saat mendapati pria itu tersenyum padanya. Yeonhee segera mengangkat kepalanya dan melepas kacamatanya. “Ah, mian, aku ketiduran. Apa kau sudah lama disini?” tanya Yeonhee.

Hyukjae tersenyum lalu melihat jam tangannya. “Dua jam,” jawabnya.

“Selama itu? Kenapa kau tak membangunkan aku?” tanya Yeonhee yang dipenuhi rasa bersalah.

“Habis, kau sangat manis saat tidur,” balas Hyukjae yang membuat Yeonhee malu. “Kau juga manis saat malu-malu seperti ini,” kata Hyukjae yang membuat Yeonhee memukulnya pelan.

“Berhentilah menggodaku, kau selalu saja begitu,” kata Yeonhee.

Hyukjae menghela nafas panjang. Ia menggenggam kedua tangan Yeonhee. “Yeonhee, aku tak pernah menggodamu. Aku jujur saat mengatakan kalau ‘kau manis’, atau saat aku berkata ‘jantungku selalu berdetak tiap kali berada didekatmu’. Aku mengatakan itu karena itu yang kurasakan, Yeonhee,” katanya.

Yeonhee tersenyum. “Baiklah, aku mengerti. Lalu, apa yang ingin kau bicarakan sampai menungguku dari dua jam yang lalu?” tanya Yeonhee penasaran.

“Saranghamnida, Yeonhee,”

Jantung Yeonhee berdetak sangat kencang akibat kalimat itu. Ia bahagia namun ia juga takut. Air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa ia kendalikan. “Kenapa kau menangis, Yeonhee?” tanya Hyukjae bingung.

“Karena aku takut, Hyukjae,” balas Yeonhee. “Aku takut, jika ingatanmu kembali, kau akan meninggalkanku,”

Hyukjae memeluk Yeonhee erat. “Aku tak akan meninggalkanmu, Yeonhee. Aku sudah berjanji, tak akan membiarkanmu sendirian lagi,”

Yeonhee mendorong Hyukjae pelan, melepas pelukan itu. “Kalau misalnya, di kehidupanmu yang sebelumnya ternyata kau memiliki seseorang yang sangat kau cintai, saat ingatanmu kembali nanti, apa kau akan meninggalkanku untuk dirinya?” tanya Yeonhee. Sebuah kemungkinan yang tak pernah Hyukjae pikirkan sebelumnya.

Yeonhee menatap Hyukjae dengan air mata yang terus mengalir. Melihat itu, Hyukjae makin yakin dengan keputusannya. Ia ingin menjadi kekuatan bagi gadis ini dan ia tak akan pernah meninggalkannya. Ia menarik Yeonhee kedalam pelukannya. “Yeonhee, aku tak akan meninggalkanmu. Jangan takut lagi, ya?” ujar Hyukjae. “Saranghamnida, Park Yeonhee,”

“Nado saranghamnida,” jawab Yeonhee

Tangis Yeonhee menderas. Perasaannya campur aduk. Ia sangat bahagia namun ketakutannya tidak menghilang karena jauh di dalam hatinya ia tahu, saat Hyukjae kembali mengingat Johee, ia akan menganggap Yeonhee tak pernah ada. Kenangan indah antara dirinya dan Hyukjae tak akan berarti lagi bagi pria itu. Semuanya menjadi sama seperti 10 tahun yang lalu, saat Hyukjae tak pernah menyadari keberadaannya karena yang ia lihat hanya Shim Johee.

*****

“Hai, Hyukjae-ssi, apa kabar? To the point saja, kau mengajakku bertemu di Starbucks hanya ingin membicarakan Yeonhee, kan?” tebak Hamun. Hyukjae hanya bisa tertawa kuda karena niatnya sudah ketahuan.

“Mianhe, kalau kau berkata begitu, kesannya seperti aku menghubungi hanya jika ada perlunya saja,”

“Bukankah kau memang seperti itu?”

“Yaa! Kang Hamun!” gerutu Hyukjae yang disambut oleh tawa Hamun. “Mianhe, aku hanya bercanda tadi,” balas Hamun. “Lalu, kau dan Yeonhee ada masalah apa?”

Hyukjae menghela nafas panjang mengingat peristiwa kemarin. “Aku sudah mengatakan perasaanku pada Yeonhee. Ia juga sudah membalas perasaanku namun aku merasa ia masih menyimpan ketakutannya,”

“Hm.. Kau tahu? Yeonhee pertama kali jatuh cinta saat ia duduk dibangku tahun pertama junior high school,”

“Berarti saat ia masih satu sekolah denganku?” tanya Hyukjae memastikan yang Hamun jawab dengan anggukan kepala.

“Saat itu cintanya bertepuk sebelah tangan karena pria yang ia cintai sangat mencintai gadis lain. Selama sepuluh tahun, ia tidak bisa melupakan pria itu. Akhirnya kau datang dan ia mulai bisa menerimamu. Cobalah mengerti, ia pasti takut jika kau meninggalkannya,” Kata Hamun.

“Tapi aku tak akan pernah meninggalkannya, Hamun,”

“Kalau begitu, buatlah ia yakin. Mengajaknya tunangan, misalnya?”

*****

Hyukjae rasa ide Hamun sangat bagus. Ia sangat bahagia saat ini membayangkan bagaimana Yeonhee tersenyum saat dirinya mengajak Yeonhee bertunangan. Ia berniat ke toko perhiasan untuk mencari cicin dan entah mengapa, kakinya membawanya ke toko ini. Ia seperti pernah ketempat ini tapi tak tahu kapan dan untuk apa.

“Eng, aku mencari sebuah cicin. Pacarku orang yang lebut namun sederhana. Kurasa sesuatu yang simple tapi manis cocok untuknya,” kata Hyukjae pada pegawai di tempat itu. Dengan ramah, pegawai itu memberikan beberapa option untuk Hyukjae.

“Lee Hyukjae nim?” sapa seseorang tiba-tiba. Ia mendapati pria dengan nametag ‘manager’ yang menyapanya. “Ne, ada apa?” tanyanya heran.

“Anda kemana saja empat bulan ini? Cincin yang anda pesan sudah lama jadi. Sebentar, akan kuambilkan,” katanya. Tak lama, ia kembali dengan kotak kecil ditangannya.  Didalamnya ada sebuah cincin yang sangat manis. “Ini, coba anda lihat,”

“Kami sudah menghubungi anda tapi tak jawaban. Kami sudah mengunjungi apartemen anda tapi ternyata anda juga tidak ada selama 4 bulan ini. Desain yang anda pesan secara khusus pada kami ini sangat indah. Siapapun gadis yang akan menerima cincin ini, ia pasti sangat senang.”

Hyukjae melihat cincin itu dengan seksama. Di bagian dalam lingkaran cincin itu tertulis ‘Shim Johee’. Kepala Hyukjae merasakan sakit seketika saat nama itu ia gumankan. Sekelebat bayangan terlintas sesaat di kepalanya.

“Tuan Hyukjae, bagaimana?” tanya manager tadi. Hyukjae mengembalikan cicin itu kedalam kotaknya. “Ya, aku bawa cincin ini sekarang,”

*****

Apa yang terjadi tadi menimbulkan pertanyaan di benak Hyukjae. Ia memutuskan untuk ke rumah sakit untuk berkonsultasi dengan dokter Goo. Namun sebelumnya, ia ingin sekali bertemu Yeonhee. Padahal baru lima jam tidak bertemu namun ia sudah merindukan gadis itu.

“Park Yeonhee,” panggil Hyukjae sembari mengetok pintu ruang kerja Yeonhee. Karena tidak ada jawaban sedari tadi, ia memutuskan untuk masuk. Ia tersenyum saat mendapati beberapa perubahan di ruang kerja ini. Contohnya, banyak foto dirinya dan Yeonhee ditempat ini. Di atas meja atau pun di dinding.

“Kau sangat lucu, Park Yeonhee,” gumamnya. Hyukjae mengelilingi ruangan itu untuk melihat satu persatu foto yang Yeonhee pajang. Saat ia melihat foto-foto yang ada di atas meja kerja Yeonhee, entah mengapa tangan Hyukjae rasanya ingin sekali membuka laci meja itu. Ia tahu itu tak sopan namun rasa itu begitu kuat sampai ia tak bisa menahannya.

Ia mendapati sebuah undangan pernikahan. Ia megambil undangan itu dan melihat lebih jelas. “Shim Johee and Lee Donghae’s Weeding,” gumamnya. Rasa sakit itu datang lagi. Bayang-bayang itu muncul kembali, kali ini semuanya terlihat lebih jelas. Ia merasa, semua ini ada hubungan dengan masa lalunya. Ia menahan rasa sakitnya dan membuka undangan itu.

Sebuah foto berukuran 1R jatuh di atas meja Yeonhee. Ia melihat dirinya menjadi bagian dalam foto itu. Rasa sakit itu makin menggerogotinya. Ia membalik foto itu dan mendapati sebuah tulisan. “Even you love him, i will always love you. ‘Till the end of the time. LH to SH,”

Air mata Hyukjae mengalir. Semua bayang-bayang itu begitu jelas sekarang. Ia ingat siapa dirinya. Ia ingat semuanya dan ia ingat bahwa ia mencintai Shim Johee lebih dari apapun bahkan setelah gadis itu resmi menjadi milik sahabatnya.

“Yeonhee? Kau sudah kembali?” tanya Hamun yang mendapati pintu kerja Yeonhee terbuka. Ia segera masuk ke dalam dan mendapati Hyukjae menatap lekat foto dan undangan pernikahan itu. Jantung Hamun berdebar kencang. Ia takut Hyukjae mengingat semuanya dan ia akan segera meninggalkan Yeonhee.

“Hyukj.. Hyukjae?”

“Kenapa.. kenapa Yeonhee menyembunyikan hal ini dariku?” tanyanya menuntut penjelasan. Dari matanya tersirat kemarahan.

“Karena ia menyayangimu, Hyukjae,” balas Hamun. “Aku mohon, jangan salahkan Yeonhee tentang hal ini. Jangan tinggalkan Yeonhee, Hyukjae. Kumohon,” kata Hamun.

“Aku tak akan menyalahkan Yeonhee tentang hal ini. Tapi aku tak bisa meninggalkan Shim Johee hanya demi Yeonhee,” katanya.

Hamun mencelos mendengar kata itu dari Hyukjae. “ ‘Hanya demi Yeonhee’ katamu? Sepuluh tahun ia habiskan hanya demi pria yang bahkan tak pernah menganggapnya ada. Lalu berapa lama lagi akan ia habiskan untuk melupakan pria yang sempat menjadi kekasihnya?!” seru Hamun. Air matanya kini mengalir.

Hyukjae tak memperdulikan perkataan Hamun. Ia berjalan begitu saja namun diambang pintu ia berhenti. “Aku akan membuatnya merasakan sakit sampai ia tak sudi lagi mengingatku,”

Tangis Hamun menderas. “Itu tak ada gunanya. Karena bagi Yeonhee kebahagiaanmu yang paling penting meski itu akan sangat menyakiti hatinya,”

*****

Jantung Yeonhee tak bisa tenang daritadi. Hyukjae menyuruhnya datang ke Restaurant Imperial. Ia tahu ini restaurant high-class yang harganya cukup menguras kantong. Sebagian dirinya berbisik kalau Hyukjae akan mengatakan sesuatu yang penting makanya ia mengajak Yeonhee ke tempat seperti ini. Misalnya, membicarakan tentang pertunangan atau bahkan pernikahan. Namun sebagian dirinya mengingatkan dirinya untuk tidak berharap terlalu banyak. Bisa menjadi kekasih Hyukjae sudah sangat membahagiakan.

“Mianhe, aku telat,” kata Hyukjae yang baru saja datang.

“Tidak masalah,”

Mereka segera memesan makanan dan menyantapnya.  Yeonhee merasakan ada yang lain dari Hyukjae. Tiap kali ia bercerita, Hyukjae hanya menanggapinya dengan ‘Hm,’ ‘Ya,’ ‘Oh,’ tidak seperti Hyukjae yang biasanya.

“Yeonhee,” suara Hyukjae terdengar begitu dingin. “Apa kita tidak bisa menunda ceritamu? Nanti saja setelah makanan kita habis,” katanya untuk memotong cerita Yeonhee.

Jantung Yeonhee berdetak sangat cepat. Tubuhnya mulai bergetar karena rasa takur itu membayanginya kembali. Ia dengan segera mensugesti dirinya sendiri, “Hyukjae hanya sedang bad mood, Yeonhee. Tidak akan terjadi apa-apa diantara kalian,” gumamnya.

“Kenapa kau mengajakku kesini, Hyukjae ah?” tanya Yeonhee sambil memberikan senyumnya namun Hyukjae bahkan tak membalas senyum gadis itu. Ia mengeluarkan sesuatu dari kantong jasnya dan menaruhnya dihadapan Yeonhee. Yeonhee tahu, itu seperti sebuah kotak cincin. Ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagia dihatinya.

“Su.. sungguh ini untukku? Boleh aku membukanya?” tanya Yeonhee yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Hyukjae.

Yeonhee mendapati sebuah cincin yang sangat manis di dalamnya. Air matanya nyaris keluar karena ia begitu bahagia. Namun rasa bahagia itu pudar begitu saja saat ia mendapati nama ‘Shim Johee’ di cincin itu.

“Shi.. Shim Johee?” tanya Yeonhee pada Hyukjae.

“Hm, Shim Johee. Kau tak salah baca,” katanya.

“Wa.. Wae?” tanya Yeonhee tak mengerti.

“Kau tak mengenalnya?” tanya Hyukjae. “Ia adalah gadis yang aku cintai di ingatanku yang lalu, masa sekarang, dan yang akan datang,” katanya.

Hati Yeonhee mencelos mendengar hal itu. Air matanya kini mengalir tapi bukan lagi karena bahagia namun karena hatinya begitu sakit.

“Aku sudah mengingat semuanya. Aku ingat siapa wanita yang sangat kucintai. Shim Johee,” katanya.

“La.. Lalu? Kau akan tetap bersamaku, kan? Kau berjanji tak akan meninggalkan aku seorang diri lagi, Hyukjae. Aku percaya padamu,” kata Yeonhee ditengah isakannya.

“Sudah kukatakan, masa depanku adalah Shim Johee. Bukan dirimu,” katanya. Tangis Yeonhee menderas, lidahnya kelu. Ia tak sanggup bersuara lagi.

Hyukjae mengambil cincin itu lagi. Sebelum ia pergi, ia berkata sesuatu pada Yeonhee. “Bahkan setelah kita menikah nanti, jika ingatanku kembali, aku akan tetap kembali pada Shim Johee. Kau jangan mengingatku lagi karena sampai kapanpun aku tak akan kembali kepadamu,” Hyukjae pergi begitu saja.

Lima menit kemudian Hamun datang. Hatinya hancur melihat sahabatnya menangis di meja itu sendirian. Ia menghampiri Yeonhee dan memeluknya. Saat itulah tangis Yeonhee menderas. “Aku mencintainya, Hamun. Sangat mencintainya. Tapi.. mengapa ia tak bisa merasakan hal itu? Mengapa ia hanya melihat Johee? Hatiku sangat sakit, Hamun,”

Kang Hamun, ini Lee Hyukjae. Tolong jemput Yeonhee dan pastikan ia tak akan lagi mengingatku. Terima kasih untuk semuanya.”

‘Pria bodoh. Kau kira semua yang kau lakukan ini akan membuatnya lupa padamu? Justru rasa sakit ini akan membuatnya terus mengingatmu,’

*****

“Lee Hyukjae,” gumam wanita itu saat membuka pintu rumahnya.

“Hai, Johee. Aku kembali,” kata Hyukjae dengan gummy smilenya. Air mata wanita itu mengalir. Dengan segera ia memeluk Hyukjae. “Euhyukie! Kau brengsek! Kemana saja kau selama ini? Kau membuat kami semua khawatir! Aku pikir kita tidak akan bertemu lagi,”

Hyukjae membalas pelukan itu. “Kau pasti bohong. Mana mungkin kau khawatir padaku? Kau sudah punya Donghae, kan?”

Johee melepas pelukannya lalu memukul keras kepala Hyukjae. “Yaa! Pabo! Kau itu sahabat terbaikku! Sampai kapan pun kau tetap bagian yang terpenting dalam hidupku!”

“Johee, aku dengar kau memanggil nama Euhyuk…” kalimat Donghae terhenti saat melihat sahabatnya muncul di hadapannya setelah sekian lama. Dengan segera ia menghampiri Hyukjae dan memeluknya. “Kau berhutang cerita pada kami,”

*****

3 years later..

“Hei, Eunhyukie, kau yakin tidak mau ikut reuni junior high school kita?” tanya sahabat Hyukjae, Kyuhyun, yang kebetulan menjabat sebagai Pemimpin divisi Marketing di Perusahaan Hyukjae. Mereka bersahabat sejak duduk dibangku SMP.

“Ya, aku yakin,” kata Hyukjae asal sambil terus berkonsentrasi dengan kertas-kertas di mejanya. “Kau tidak berniat move on? Tak masalah. Tapi kau tak berniat merebut Johee dari Donghae, kan?” tanyanya. Ya, Kyuhyun tahu semuanya tentang perasaan Hyukjae pada Johee.

Hyukjae kini menatap Kyuhyun lekat. “Andai aku bisa, aku sudah melakukan hal itu dari dulu,” kata Hyukjae.

“Karena kau sendiri sadar kau tak bisa melakukannya, kenapa kau tidak mencoba mencari cinta yang baru? Kau berhak bahagia seperti Johee dan Donghae, tahu?” tegur Kyuhyun sedikit kesal dengan sahabatnya itu.

“Kau mulai lagi menasehatiku,” balas Hyukjae sambil tertawa kuda.

“Aku akan terus menasehatimu sampai kau mendapat gadis yang lain. Nanti, kalau ada gadis yang menurutku pantas untukmu, aku akan memperkenalkannya padamu,” ujarnya lalu pergi meninggalkan Hyukjae.

*****

“Serius ini Park Yeonhee?” tanya beberapa teman Yeonhee setelah melihat penampilan Yeonhee sekarang. “Hm, begitulah. Aku belajar sedikit tentang fashion,” kata Yeonhee bercanda.

“Ah, sudah kuduga. Sebenarnya dari dulu aku tahu kau menyembunyikan kecantikanmu dibalik kacamata, dental braces, dan kepanganmu,” kata seorang pria yang dulu pernah sekelas dengan Yeonhee.

“Tapi kau dulu yang paling sering mengejekku karena itu,” canda Yeonhee yang membuat mereka semua tertawa. Tanpa disadari lama-kelamaan banyak pria yang mengitarinya. Ada yang mencoba berkenalan bahkan ada yang minta nomer ponselnya.

“Hai, Yeonhee,” sapa pria yang baru saja menghampirinya. Yeonhee ingat jelas siapa pria itu. Namanya Kibum. Dia yang pernah mengganggu Yeonhee sampai membuatnya menangis.

“Hai Kibum,” sapanya. Terdiam sesaat diantara mereka.

“Kau banyak berubah. Sekarang kau sangat cantik,” katanya yang membuat Yeonhee tertawa.

“Kau pasti menyesal mengejekku sampai membuatku menangis dulu,” goda Yeonhee. Kibum tertawa kecil. “Ya, begitulah. Apa sekarang aku punya kesempatan untuk menjadi pacarmu?” tanya Kibum sambil menatap Yeonhee lekat.

“Kau serius?” tanya Yeonhee tak percaya. Kibum mengangguk.

Yeonhee tersenyum lirih. “Maaf, aku tidak bisa, Kibum. Aku baru saja patah hati dan aku tak mau menjadikanmu pelarianku. Aku belum bisa melupakannya. Maafkan aku. Maaf. Maaf, Kibum” katanya.

Kibum  mengacak rambut Yeonhee pelan. “Aigo, kau tetap saja baik seperti dulu. Sudahlah, jangan merasa bersalah seperti itu. Kita bisa menjadi sahabat, kan, mulai sekarang?” tanyanya sambil mengulurkan tangannya.

“Ya, kita sahabat sekarang,” kata Yeonhee sambil menjabat tangan itu.

“Boleh aku katakan sesuatu? Pria yang menghancurkan hatimu itu pasti akan sangat menyesal dan kembali padamu,”

Yeonhee tertawa mendengarnya. Tawa lirih. “Itu mustahil, tapi aku senang mendengarnya. Terima kasih, Kibum,”

*****

“Ya, ya, ya, Eunhyukie, kau pasti sangat menyesal tidak ikut ke acara reuni kemarin!” kata Kyuhyun tiba-tiba. Ia bahkan masuk ke ruang Hyukjae tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Waeyo?” tanya Hyukjae sedikit penasaran.

“Kemarin ada gadis yang sangaaat cantik! Kau tahu? Ia bahkan lebih cantik dari sahabatmu itu!” katanya.

“Seingatku, saat kita SMP, tak ada gadis yang lebih cantik dan berkarisma dari Johee,” kata Hyukjae heran.

“Dulu memang tak ada tapi sekarang ada! Dan yang paling menghebohkan.. kau ingat gadis yang sesekali mengikutimu diam-diam? Yang sesekali memotretmu itu?” tanya Kyuhyun. Hyukjae mengangguk tanda ia mengingat gadis itu.

“Gadis cupu dengan kacamatanya yang tebal dan rambutnya yang selalu di kepang itu?” tanya Hyukjae dan Kyuhyun mengangguk dengan semangat.

“Begitu selesai acara, aku langsung mencari buku kenanganku dan akhirnya aku tahu siapa gadis itu,” kata Kyuhyun. Ia bahkan membawa buku kenangan itu untuk menunjukkan foto gadis itu pada Hyukjae.

“Park Yeonhee?” gumam Hyukjae saat membaca nama gadis yang ada di foto itu.

“Aku dulu tak pernah berniat membaca data gadis ini. Apa lagi pesan yang ia tinggalkan berbahasa inggris,”

―Someone that you don’t even know exist, may love you. You deserve the happy ending. PYH-LeeHJ―

“Entahlah, tapi ini hanya perasaanku saja. LeeHJ disini adalah dirimu, Eunhyuk,” kata Kyuhyun.

Darah Hyukjae berdesir saat membaca pesan yang Yeonhee tinggalkan 13 tahun yang lalu. Jantungnya berdebar sangat kencang dan hatinya mencelos. Akhirnya ia tahu satu hal, pria yang membuat cinta Yeonhee terhenti di masa lalu, yang membuat sepuluh tahun Yeonhee hidup tanpa cinta, yang menyakiti Yeonhee selama sepuluh tahun itu adalah.. dirinya. Tapi gadis itu memberinya kesempatan kedua, mencintainya dengan tulus, selalu membuatnya bahagia. Namun lagi-lagi yang dilakukan pria ini hanya menyakitinya.

Air mata Hyukjae tiba-tiba mengalir. “Hyuk, kau kenapa?” tanya Kyuhyun tak mengerti.

“Kenapa gadis itu begitu baik? Kenapa? Aku sangat jahat, Kyu. Aku merasa bersalah padanya,”

“Aku tak tahu siapa yang kau bicarakan, namun kau sendiri yang bilang gadis itu sangat baik, kalau kau minta maaf, ia pasti memaafkanmu,”

“Tapi aku sudah sangat keterlaluan, Kyu,”

“Karena itulah, kau harus minta maaf padanya,”

*****

“Apa kabar, Lee Hyukjae? Semoga kau baik-baik saja. Bagaimana kabar Johee? Kudengar dari teman-teman kemarin ia baru saja melahirkan anaknya yang kedua. Kau pasti akan menjadi paman yang baik untuk mereka,”

“Yaa, Park Yeonhee,” kata Hamun sambil menghampiri Yeonhee yang berdiri dibawah pohon Maehwa. Pohon itu berdiri tegap di depan bangunan apartemen Hyukjae. “Sudah tiga tahun berlalu dan kau masih saja ke tempat ini,” gerutu Hamun.

“Apa tidak boleh?” tanya Yeonhee pada Hamun.

Hamun menghela nafas panjang. “Aku hanya ingin kau bahagia Yeonhee. Aku ingin kau melupakan pria itu dan mencari pria yang pantas menerima cintamu itu,” kata Hamun.

“Untuk sementara, kebahagiaanku datang saat aku melihat senyumnya, Hamun. Tapi tenang saja, aku akan mencoba mencari pria lain,” kata Yeonhee.

“Terserahmu, lah. Kau memang keras kepala. Ayo, kita pulang Yeonhee, kurasa sebentar lagi Hyukjae pulang,”

“Ah sebentar, aku belum berdoa untuknya,” Yeonhee menutup matanya dan melipat tangannya. “Semoga Hyukjae segera mendapatkan kebahagiannya. Amin,”

“Semoga sahabatku, Park Yeonhee, juga segera mendapat kebahagiannya. Amin,”

“Makasi Hamun sayang. Kau memang yang terbaik!

Kaki Hyukjae lemas. Ia terjatuh ditempatnya berdiri sejak beberapa menit yang lalu. Ya, ia ada di balik pohon Maehwa tadi. Ia mendengar semua perkataan Yeonhee dan Hamun. Ia benar-benar tak menyangka gadis yang sudah ia sakiti tetap mendoakan kebahagiaan untuknya.

Air mata Hyukjae mengalir. Memorinya bersama Yeonhee dulu berputar di kepalanya. Bagaimana ia tertawa bersama Yeonhee, bagaimana ia berjanji pada Yeonhee, dan bagaimana ia menyakiti Yeonhee tanpa memperdulikan perasaannya.

“Mianhe, Yeonhee. Mianhe,”

*****

Semua mata perawat, dokter, dan beberapa pasien tetap menatap Hyukjae dengan benci. Ia tahu, semua orang di rumah sakit ini pasti sudah menjadi forum pembela Yeonhee, ya, karena memang apa yang ia lakukan pada Yeonhee dulu sangat jahat. Tapi ia tak akan berhenti. Ia ingin sekali bertemu dengan gadis itu.

“Kau.. untuk apa datang kesini?” tanya Hamun yang menghadang jalan Hyukjae.

“Aku.. ingin bertemu Yeonhee,” kata Hyukjae.

“Kau sudah menyakitinya. Selama tiga tahun kau menghilang dari tanpa kabar. Kini, kau datang kesini dengan mudahnya kau berkata ingin bertemu Yeonhee?! Kau sudah gila. Pulang saja, aku tak akan mengijinkanmu bertemu dengan Yeonhee,” kata Hamun kesal tapi ternyata Yeonhee ada diujung lorong rumah sakit itu. Ia melihat semuanya.

“Yeonhee, jangan,” kata Hamun.

“Tak apa, Hamun,” balas Yeonhee.

“Annyeong, Hyukjae shi,” sapa Yeonhee dengan senyumnya yang sangat tulus.

*****

“Tolong, jangan marah pada Hamun. Ia tak bermaksud jahat,” kata Yeonhee. Hyukjae mengangguk. “Ya, aku tahu. Ia hanya mencoba untuk melindungi hati sahabatnya,”

Yeonhee tersenyum pada Hyukjae. Senyum yang tulus. Tidak ada amarah atau benci. Hyukjae bisa merasakannya dan itu membuatnya makin takjub dengan perempuan ini. “Ada apa mencariku, Hyukjae shi?” tanya Yeonhee.

“Aku.. aku sudah tahu tentang cinta pertamamu selama sepuluh tahun itu. Aku. Aku benar-benar minta maaf,” kata Hyukjae.

“Aniya, kau tak perlu minta maaf. Lagipula, itu adalah keputusanku sendiri untuk tetap menunggumu selama sepuluh tahun. Saat itu aku pikir, aku masih punya harapan walau presentasenya hanya 1% tapi ternyata 1% itu tak pernah ada,” kata Yeonhee tanpa menghilangkan senyumnya.

“Kenapa kau tersenyum?” tanya Hyukjae kesal. “Harusnya kau marah padaku, harusnya kau juga benci padaku. Kenapa kau malah begitu baik padaku? Kenapa kau malah mendoakan kebahagiaanku bukan kebahagiaanmu sendiri? Harusnya kau membenciku dan melupakanku, Park Yeonhee!”

Yeonhee tersenyum lirih, “Mianhe, tapi aku tak tahu bagaimana caranya untuk melupakanmu,”

Hati Hyukjae mencelos mendengarnya. Setitik air matanya mulai mengalir. “Kau sebenarnya terbuat dari apa? Bahkan aku pun tak bisa mendoakan kebahagiaan untuk Johee dan Donghae padahal mereka adalah sahabatku,”

“Mianhata, bukannya aku menyangsikan perasaanmu, Hyukjae shi. Tapi kalau itu yang kau rasakan, mungkin itu bukan cinta. Karena  mencintai adalah hal paling indah di dunia ini, terutama ketika kau melihat orang yang kau cintai bahagia, meski yang membuatnya bahagia adalah orang lain,

….

“Terima kasih, Yeonhee shi,” kata Hyukjae.

“That’s what friend for,” balas Yeonhee dengan senyum tulusnya.

“Mulai saat ini, kalau kau ingin menemuiku, kau tak perlu menunggu dibawah pohon itu. Rumahku terbuka untukmu,” kata Hyukjae.

*****

2 years later..

Dua tahun sudah berlalu. Kini Hyukjae dan Yeonhee menjalin sebuah persahabatan. Namun sejak setahun yang lalu akhirnya Hyukjae menyadari bahwa ia menyayangi gadis ini lebih dari sekedar teman.  Namun Hyukjae tak pernah membiarkan Yeonhee tahu. Ia merasa dirinya tak pantas untuk gadis sebaik Yeonhee. Ia rasa Yeonhee berhak bahagia dengan pria yang mencintainya. Ia menderita karena rasa bersalah itu. “Aku memang pantas mendapatkannya,” ujarnya dalam hati.

….

“Yeonhee akan dijodohkan. Kau tak berniat menghentikan perjodohan itu?” tanya Hamun pada Hyukjae. Ternyata Hamun mengajak Hyukjae ke Starbucks untuk mengatakan hal  ini.

Hyukjae tersenyum. “Aku tak bisa menghentikannya. Yeonhee tak menolak, kan? Mungkin ia rasa pria itu baik untuknya,”

Hamun menjambaki rambutnya sendiri. “Ergh! Apa kau tak juga mengenal Yeonhee? Selama dua tahun ini ia bertahan menjadi sahabatmu bukan karena ia tak mencintaimu lagi! Tapi karena ia sangat mencintaimu! Ia ingin selalu ada didekatmu, memberimu dukungan dalam hal apapun, menghiburmu saat kau sedih, makanya ia menjadi sahabatmu!”

“Tapi aku sudah begitu jahat padanya,”

“Apa kau sudah mencintainya sekarang?” tanya Hamun.

“Tapi..”

“Kau hanya perlu menjawab, iya atau tidak,”

“Aku mencintainya, tapi..”

“Yeonhee sangat mencintaimu Hyukjae. Ia tak pernah mengingat hal yang telah lalu. Kalau kau tak menghentikan pertunangan itu, sama saja kau menyakitinya sekali lagi. Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk membuatnya bahagia?” Hyukjae terdiam.

Hamun sangat kesal dibuatnya. Ia segera bangkit dan mengambil tasnya. “Brengsek. Tahu kau akan menyakitinya lagi, aku tak akan pernah mengizinkan Yeonhee untuk dekat denganmu walau hanya sebagai sahabat,”

Sebelum Hamun pergi lebih jauh, Hyukjae memanggilnya. “Hamun! Aku akan menghentikannya! Terima kasih kau memberikan kesempatan padaku!”

*****

“Karena semuanya sudah berkumpul, mari kita mulai membicarakan pertunangan anak kita, Park Yeonhee dan Kim Jong Woon,” kata ayah Yeonhee.

Yeonhee tak pernah menyetujui pertunangan ini. Sejak awal ia menolak namun orang tuanya memaksanya. Ia pikir, jika mengatakan isi hatinya sekarang, Kim Jong Woon akan membantunya. Ia pasti juga tidak suka jika ditunangkan. Tapi belum sempat ia berbicara, ia melihat seorang pria tampan masuk ke dalam ruangan itu.

“Mianhe, tapi aku tidak setuju dengan pertunangan ini,” kata pria itu. Ia lalu membungkukkan badannya. “Maaf, ajjushi, ajjuma, aku masuk begitu saja. Perkenalkan namaku Lee Hyukjae anak dari tuan Lee Sooman,”

Mata orang tua Yeonhee dan Jongwoon membesar begitu mendengar kedua nama itu. Mereka adalah keluarga pebisnis yang sangat terkenal. Siapa tak mengenal nama keluarga Lee itu?

“Aku ingin agar pertunangan ini dibatalkan. Kalau ada keberatan dari pihak keluarga calon pria, aku akan mengganti kerugiannya. Tapi aku mohon, aboeji, izinkan aku menikah dengan anak aboeji,”

“Apa?!” seru Yeonhee tak percaya. Hyukjae segera menghampiri Yeonhee dan membawa gadis itu keluar dari tempat itu.

“Kau mau membawaku kemana, Hyukjae ah?” tanya Yeonhee.

“Kau akan tahu sebentar lagi,” balas Hyukjae sambil menunjukkan gummy smilenya.

*****

“Ini.. ” Yeonhee tak percaya Hyukjae membawanya ke tempat ini. “Sudah 15 tahun tapi tak ada yang berubah di sekolah ini,”

“Karena itulah aku membawamu kesini.. untuk membuat perubahan,” kata Hyukjae.

“Maksudnya?”

“Dulu kau pertama kali menyukaiku di tempat ini tapi sayangnya aku tak pernah menganggapmu ada. Namun mulai hari ini semua itu berubah karena cinta Park Yeonhee sudah terbalas,”

Hyukjae menggenggam kedua tangan Yeonhee. Tubuh mereka berhadapan sehingga mata mereka saling berpandangan. “Park Yeonhee, mianhe. Walau kau sudah mengajariku tentang ‘mencintai adalah hal paling indah di dunia ini, terutama ketika kau melihat orang yang kau cintai bahagia, meski yang membuatnya bahagia adalah orang lain’ tapi tetap saja, aku ingin kau bahagia karena aku yang membuatmu bahagia,

Hyukjae memberikan sebuah kotak cincin. Yeonhee membukanya dan mendapati cincin yang manis. Di cicin itu tertulis Yeonhee-Hyukjae. “Aku kira tulisannya Shim Johee lagi,” canda Yeonhee.

Hyukjae tertawa. “Aniya, kali ini aku serius melamarmu. Aku akan ganti semua air matamu selama 15 tahun ini dengan kebahagiaan sampai kita tua nanti. Bagaimana? Will you marry me?”

“Kau yakin?”

“Kau sudah mencintaiku selama belasan tahun, apalagi yang kuragukan? Aku sudah mencintaimu sekarang, kau sendiri tahu bagaimana aku mencintai Johee dulu. I’m not a player,” kata Hyukjae yang membuat mereka tertawa.

“Yes, i will,” jawab Yeonhee. Dengan cepat Hyukjae memeluk Yeonhee dan mencium bibir Yeonhee.

“Terima kasih, Yeonhee sayang. You give me one more chance. I won’t let you go from now. I love you,” kata Hyukjae lalu mencium kening dan pipi Yeonhee.

“I love you too, Lee Hyukjae,” kata Yeonhee sambil mengecup bibir Hyukjae singkat.

“Thank you for your prayer. I finally got my happy ending. That’s you, Park Yeonhee,”

END