Anyeong onni dongsaeng chingu hehehe
this is esterong and i come back with Donghae’s fanfiction
hope you like it and enjoy it ^^
leave your comments if you don’t mind hehe your comments are love for me
thank you so much for keep reading our fanfiction ^^
really love you!
happy reading ^^

Main cast: Lee Donghae – Shim Johee

******

“Lee Donghae, aku menyukaimu. Aku mau kau menjadi pacarku,” kata gadis pesolek yang ada dihadapanku. Gadis itu cantik juga sexy. Ia begitu berani dan percaya diri. Eunhyuk sahabatku, menyikutku. Ia seperti memberi isyarat padaku untuk menerimanya.

“Aku tak mau,” balasku. Eunhyuk menarik seragamku sebagai tanda ia tak sependapat denganku. Gadis itu menatapku dengki seakan ini penghinaan untuknya. Aku tak perduli. Aku berjalan meninggalkannya.

“Kau gila?” tanya Eunhyuk yang sudah ada disampingku. Aku menggeleng sebagai jawaban.

“Kau baru saja menolak Joori! Model terkenal itu! Kau tak lihat tubuhnya yang sexy itu?! Kalau kau tidak gila, kau pasti seorang gay setelah Hera nuuna memutuskanmu!” ujarnya. Nama yang ia sebutkan membuat rasa sakit itu kembali mencuat. Aku menghela nafas panjang untuk mengusir rasa itu.

“Jangan mengungkit nama itu,” balasku sebagai peringatan. Aku tak bisa menjamin keselamatannya jika ia mengucapkan nama itu lagi.

Eunhyuk menghela nafasnya. “Donghae ah, aku mengatakan ini untuk kebaikanmu. Ini sudah 2 bulan kau putus dengannya. Kau harus segera mencari pacar baru agar kau bisa melupakan Hera nuuna,” katanya. Lagi-lagi nama itu membuat jantungku berdetak kencang.

“Aku sudah memperingatkanmu, Lee Hyukjae,” kataku sebagai peringatan terakhir.

Eunhyuk menepuk pundakku. “Kau pria yang baik, kau juga berhak mendapatkan gadis yang baik. Bukan seperti Hera Nuuna yang memacarimu karena ia ingin mendekati kakakmu,” tandasnya.

Aku menepis tangannya lalu meninggalkannya begitu saja karena aku tahu Eunhyuk tak akan berhenti menasehatiku.

Aku berjalan menuju lokerku. Saat aku membukanya, ada sebuah note kecil yang bertuliskan: ‘Aku mohon, datanglah ke taman belakang sekolah jam 12 nanti’

Aku menyeringai. Note kecil ini membuatku seakan deja vu. Dulu aku juga melakukan hal konyol seperti ini saat hendak menyatakan perasaanku pada Hera nuuna.

Aku melihat jam tanganku. Ternyata sudah pukul 3 sore. Sudah lewat tiga jam. Aku yakin, siapapun yang menulis surat ini, pasti sudah tidak ada disana. Siapa yang mau berdiri selama 3 jam di musim dingin seperti ini? Namun ada rasa penasaran dihatiku. Entahlah, ada keinginan untuk membuktikan kesungguhan gadis yang berani menuliskan surat ini untukku.

Aku melangkahkan kakiku ke tempat yang tertulis di surat tadi. Aku menyeringai saat tak mendapati siapapun ada disana. Aku kembali menatap note itu lalu meremasnya dan membuangnya. Ternyata semua perempuan itu sama saja.

Aku meninggalkan tempat itu. Namun sebelum aku jauh melangkah, seseorang memanggil namaku. “Donghae shi?” suara itu terdengar begitu lemah. Aku menoleh dan mendapati seorang gadis dengan wajah kemerahan berjalan mendekatiku.

Aku tak mengenalnya tapi aku tahu siapa dia. Gadis itu Shim Johee.

Begitu ia tiba didepanku. Ia langsung membungkukkan tubuhnya. “Terima kasih banyak, kau mau datang. Aku kira kau tak akan datang,” ujarnya. Ia kembali menegapkan tubuhnya tapi kepalanya tetap menunduk kebawah.

“Ada ap..”

“Tolong jangan berbicara,” serunya yang membuatku bungkam. “Aku takut keberanianku luntur. Jadi aku mohon, ijinkan aku mengatakannya sekali ini saja. Aku harap kau bersedia mendengarkan,” katanya.

Aku bisa melihat pipinya yang merona dan tubuhnya yang bergetar hebat. Tangannya menyentuh dadanya seakan untuk menjaga jantungnya agar tidak keluar dari tempatnya. Lagi-lagi ia membawaku kembali kepada kenangan yang telah lalu. Ia terlihat sepertiku.

“Aku menyukaimu,” katanya, nyaris tak terdengar kalau aku tak mempertajam pendengaranku. Aku tahu hal ini akan terjadi dan seperti sebelum-sebelumnya, aku sudah menyiapkan jawabanku sejak awal.

“Tidak bisa,” jawabku. Ia membungkukkan tubuhnya. “Aku mohon,” pintanya.

“Aku tak bisa,” jawabku lagi.

Ia membungkukkan tubuhnya lagi. “Tak apa kalau kau tak mencintaiku. Menjadi pacar bohongan pun aku tak masalah,” katanya.

“Sudah kukatakan, aku tak bisa. Kau gadis yang aneh. Apa alasanmu melakukan hal ini?” tanyaku kesal. Ia seperti tak punya harga diri.

Sejenak ia terdiam.“Karena sejak Donghae shi putus dari Hera onnie…” kalimatnya terhenti bersamaan dengan isakan tangis yang kudengar. “Donghae shi tidak terlihat bahagia,” balasnya. Hatiku mencelos, dadaku bergetar saat ini.

“Aku sedih melihatmu seperti itu. Aku ingin melihat senyummu kembali. Aku tak tahu apa aku bisa mengembalikan senyummu itu, tapi aku akan berusaha. Kalau akhirnya kau menemukan orang lain untuk kau cintai dan itu bukan aku, kau boleh memutuskanku,” katanya.

Aku tergugah oleh kejujuran dan kesungguhannya. Aku bisa merasakan ketulusannya. Tubuhnya masih bergetar hebat dan tangisannya merebak. Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku tapi bibirku akhirnya mengucapkan kata itu, “Baiklah,”

“He.. Hera nuuna, apa kau mau menerimaku? Aku berjanji akan melakukan semua yang kau minta. Aku mencintaimu,

“Baiklah, aku mau menjadi pacarmu,”

Aku sendiri tak mengerti alasannya. Apa karena aku kasihan padanya? Atau karena aku melihat sosokku didalam dirinya? Ia terlihat sama menyedihkannya seperti diriku.

*****

“Aku sudah melakukan apa yang kau sarankan,” kataku pada Eunhyuk begitu ia tiba di kelas. Ia menatapku antusias. “Kau serius? Dengan siapa? Bagaimana ceritanya?” tanyanya.

“Shim Johee,” balasku. Eunhyuk menatapku heran saat ini. “Bagaimana bisa? Setahuku tidak ada yang spesial darinya,” katanya.

Aku mengangkat bahuku. “Aku sendiri juga tak tahu. Bibirku dengan sendirinya menerimanya,” jawabku.

Eunhyuk menepuk pundakku. “Tak masalah, coba saja dulu. Kalau ada yang lebih baik darinya, putuskan saja,” kata Eunhyuk. Aku mengangguk menanggapinya.

Eunhyuk lalu pergi meninggalkanku. Katanya, ia mau mengunjungi kelas Yeonhee. Kini aku hanya sendirian dan berkutat dengan bukuku. Tiba-tiba ada yang mengetuk jendela kelasku. Aku menoleh dan mendapati Johee diluar sana. Aku membuka jendela itu. Belum sempat aku bertanya ada apa, ia sudah memberikan sebuah kotak makan padaku.

Tanpa sengaja aku melihat kedua tangannya. Semua jarinya terisolasi dengan handsaplast. Lagi-lagi, belum sempat aku bertanya, ia berkata, “Nanti kita pulang bersama, ya?” lalu ia melambaikan tangannya dan pergi meninggalkanku.

“Kau sejak kapan membawa bekal?” tanya Yesung, temanku yang lain. Belum aku jawab, dia sudah duduk disampingku dan mengambil bekal itu.

“Aku lapar, minta sedikit,” katanya lalu membuka tempat makan itu. Tiba-tiba saja ia tertawa terbahak-bahak. “Siapa yang membuat ini? Ini kuno sekali!” katanya. Aku segera mengambil bekal itu dan mendapati wortel yang disusun membentuk tulisan I ♥ U.

“Hei, dengan siapa kau berpacaran sekarang? Dia pasti gadis cupu!” katanya. Aku tak bisa membalas perkataannya karena aku berpikiran hal yang sama sepertinya. Ini terlalu norak. Namun, aku teringat tangan Johee tadi. Apa dia seperti itu untuk membuatkanku bekal ini?

“Hera, ini aku buatkan khusus untukmu. Aku belajar masak semalaman sampai tanganku seperti ini. Kau pasti akan menyukainya. 4 sehat 5 sempurna,”

“Kau apa-apaan, sih? Memberiku bekal seperti ini didepan teman-teman sekelasku? Ini memalukan! Harusnya kau mengajakku makan di restaurant yang mahal!”

Dadaku terasa begitu sakit saat ingatan itu terlintas. Ia begitu mirip denganku.  “Setidaknya dia gadis yang baik,” balasku atas komentar Yesung yang terakhir. Aku tak tahu kenapa diriku membelanya. Aku mengasihani dirinya atau mengasihani diriku sendiri?

*****

“Hei, Donghae ah, kau yakin tidak mau pulang denganku? Ini sudah malam,” tawar Eunhyuk dari dalam mobilnya. Aku, Eunhyuk, dan beberapa temanku yang lain terpaksa pulang lebih malam karena harus mengikuti latihan basket.

Aku menggeleng sebagai jawaban. “Aku sedang ingin jalan kaki,” kataku.

“Waw, musim dingin benar-benar merusak otakmu, ya?” candanya.

“Kalau kau hanya mau menghinaku, cepat sana pergi,” seruku. Kami berdua tahu kalau percakapan kami hanyalah sebuah candaan. Ia tertawa, berpamitan, lalu akhirnya pergi juga.

Aku melanjutkan langkahku namun sosok Johee yang ada didepan gerbang membuatku ingat akan sesuatu. Aku benar-benar lupa kalau Johee mengajakku pulang bersama tadi. Sekolah sudah pulang pukul 4 sore dan sekarang pukul 7. Apa dia menungguku selama 3 jam di luar, di musim dingin seperti ini? Gadis ini sebenarnya bodoh atau apa, sih?

“Shim Johee.. Apa kau menungguku sedari tadi?” tanyaku menyadarkan dia akan kehadiranku.

“Ah, Donghae shi, sudah selesai latihannya?” tanyanya tanpa menjawab pertanyaanku.

“Kenapa kau disini, Donghae?”

“Aku menunggumu dari jam 4 tadi. Aku ingin mengantarmu pulang, Hera,”

“Ah, jeongmal? Mianhe, aku hari ini sudah janji dengan temanku. Ia akan mengantarku pulang. Bye, Donghae shi,”

Memori itu kembali terputar. Semua terjadi seperti ini. Aku menunggunya dan kali ini ia menungguku. Entah kenapa aku merasa kesal dengan tingkahnya. Ia terlihat menyedihkan. Ia membuatku sadar kalau ternyata, dulu, aku juga sangat menyedihkan.

“Kau jawab pertanyaanku,” kataku dingin.

“A-aku tak menunggumu. Aku baru…” Aku menarik tangannya. Aku merasakan tangannya sangat dingin seperti nyaris membeku. “Kau bohong!” seruku.

“Untuk apa kau menungguku, ha? Kalau kau menungguku, kenapa kau tak tunggu di dalam? Kenapa kau tak menyusulku dan menyuruhku untuk segera pulang? Kenapa kau harus menungguku sampai kau nyaris membeku seperti ini, ha?!” Emosiku meluap, aku tak bisa mengontrol emosiku. Aku bisa melihat matanya yang memandangku takut.

“A-aku sudah berjanji akan pulang bersamamu. A-aku tak mungkin pulang begitu saja. Ka-ka-kalau aku menunggu di kelas, aku takut kau pulang duluan. Kalau a-a-aku menghampirimu, a-aku takut kau akan ma-malu dengan teman-temanmu. Aku tak cantik, aku tak pintar, aku bukan dari kalangan anak-anak keren sepertimu. Aku tak mau kau dihina mereka,”

Deg! Semua kata-katanya membuatku mencelos. Aku tak menyangka ia begitu memikirkanku sampai mengorbankan dirinya. Tapi tindakanku berbeda dengan isi hatiku. Entah kenapa, emosi begitu menguasaiku.

“Lalu, kau kira aku senang melihatmu menungguku di tengah musim dingin begini? Kau kira aku senang melihatmu nyaris membeku? Kau itu… menyedihkan,” kataku dingin. Bersamaan dengan akhir kata itu, aku bisa melihat air matanya mengalir. Hatiku lagi-lagi terasa sakit tapi yang kulakukan malah meninggalkannya.

…..

Apa yang sebenarnya aku lakukan tadi? Kenapa aku harus marah padanya? Ia tak salah. Justru aku yang salah. Ia berkorban untukku tapi aku malah menyakitinya. Sebenarnya yang menyedihkan disini adalah siapa? Aku. Ya, akhirnya aku sadar. Hanya saja, hati kecilku malu untuk mengakuinya.

Aku menghentikan langkahku dan segera kembali ke gerbang sekolah. Tapi sayangnya, gadis itu sudah tidak ada. Aku segera berlari ke halte terdekat dan syukurlah, ia masih terduduk disana sambil menangis. Aku menghampirinya, duduk disebelahnya. Ia terus menangis. Sepertinya tidak menyadari kehadiranku.

“Mianhe,” kataku padanya. Ia mengangkat wajahnya dan akhirnya ia melihatku. “Do-Donghae shi?”

“Maafkan aku. Aku membentakmu tadi,” kataku. “Dan kata-kata ‘menyedihkan’ itu sebenarnya lebih pantas untukku namun aku malah melampiaskan kepadamu. Aku minta maaf,”

“Aku juga minta maaf, Donghae shi,” katanya yang membuatku bingung. Aku tak ingat ia berbuat salah padaku. “Maafkan aku. Aku bilang, aku ingin membuatmu bahagia, namun yang ada aku malah membuatmu marah. Aku minta maaf,”

Tanpa kusadari, aku tertawa kecil. Bukan menghina, aku hanya tak habis pikir dengan gadis ini. Ia membuatku malu pada diriku sendiri. Dan tanpa ia sadari, ia berhasil mempengaruhiku. Ia membuatku tersadar kalau ada gadis yang jauh lebih baik dan jauh lebih peduli padaku. Pada perasaanku. Ya, gadis ini.

Tak ada yang salah untuk membuka hatiku pada gadis ini, kan? Memberikan kesempatan padanya untuk membuatku mencintainya dan memberikan kesempatan pada diriku untuk belajar mencintainya, aku rasa tak ada yang salah dengan kedua hal itu.

“Aniya,” kataku. “Kau sudah berhasil membuatku bahagia. Kau benar-benar memperdulikanku tanpa memikirkan dirimu sendiri. Terima kasih, Shim Johee,” kataku. Entah bagaimana, bibirku tertarik sendiri untuk membentuk senyuman. Senyum yang sudah lama tak pernah muncul.

“Ya, ya, Johee shi, kenapa menangis lagi?” tanyaku saat ia sudah kembali terisak.

“Kali ini, aku menangis bahagia, Donghae shi,” katanya. Aku tertawa mendengarnya. Gadis ini terlalu baik.

“Kajja, Johee shi. Aku akan mengantarmu pulang,”

…..

“Terima kasih, Donghae shi,” katanya saat kami tiba didepan rumahnya. “Kau.. hati-hati dijalan,” katanya.

“Berikan aku ponselmu,” kataku. Ia terlihat bingung namun tetap memberikan ponselnya. Aku memasukkan nomorku dan me-misscall-nya.

“Itu nomorku,” kataku. Aku mengambil ponselku dan melihat 1 misscall disana. Nomornya Johee. “Dan aku sudah punya nomormu,” ujarku sambil memamerkan nomornya yang tercetak jelas di ponselku.

“Lalu?” tanya Johee tak mengerti.

“Jadi mulai besok, kau bisa menungguku di tempat yang hangat, karena aku akan menghubungimu jika latihanku sudah selesai.” Kataku. “Aku tak mau melihatmu seperti tadi dan aku.. aku mau lebih mengenalmu lagi,” lanjutku. Johee tersenyum padaku dengan wajahnya yang merona, entah karena udara yang dingin atau karena diriku. “Arraseo?”

“Arraseo,” jawabnya.

*****

“Ini sudah seminggu kau berpacaran dengan Johee. Bagaimana gadis itu?” tanya Eunhyuk.

Begitu namanya kudengar, bayangan gadis itu muncul dibenakku. Otakku seperti video player yang bolak-balik me-replay sosoknya. “Ia gadis yang manis, polos, dan baik. Ia sangat mencintaiku. Ia rela berkorban untukku,” kataku menjelaskan.

“Lalu, kau mencintainya?” tanya Eunhyuk lagi.

“Aku belum yakin 100%, tapi sebagian dari diriku selalu menginginkan keberadaannya. Aku sering merindukannya,” kataku jujur.

“Wah, panjang umur gadis itu,” kata Eunhyuk. aku tak mengerti apa maksudnya. Eunhyuk tersenyum lalu menepuk pundakku. “Itu orang yang kau rindukan datang,” katanya sambil menunjuk ke arah jendela. Aku yang duduk membelakangi jendela tidak menyadari kedatangannya tadi.

Johee berdiri disitu dengan senyumannya. Ia menyerahkan bekal yang ia bawa untukku. Aku melihat tangannya dan mendapati handsaplast yang ia pakai bertambah. Aku hendak bertanya, tapi aku yakin ia akan pergi begitu saja seperti biasanya. Aku tahu, ia bermaksud melindungi imageku. Tapi kini aku sudah tak peduli pandangan orang pada diriku. Mereka mau menghinaku atau apapun terserah mereka.

Johee sudah banyak berkorban tanpa memikirkan dirinya. Sebagai gantinya, aku tak mau menjadi orang egois yang mementingkan diriku sendiri. Dulu, aku bisa melakukannya demi gadis yang hanya mempermainkanku dan aku yakin, bukan hal yang sulit untuk berkorban demi gadis yang benar-benar mencintaiku.

“Jangan pergi,” kataku menahan dirinya yang hendak pergi dari ambang jendela itu.

“Waeyo, Donghae shi? Nanti semua orang akan tahu. Sepertinya teman sekelasmu ada yang mulai membicarakan kita,” katanya setengah berbisik.

Aku tersenyum padanya. “Berikan aku kedua tanganmu,” kataku. Ia bingung namun tetap memberikan tangannya.

Aku sedih juga terharu. Tangannya menjadi seperti itu karena diriku. “Kau.. bukannya sudah kubilang, jangan melukai dirimu sendiri demi aku?” tanyaku. Ia mengangguk.

“Mianhe, tapi aku benar-benar ingin memasak sesuatu yang enak untukmu,” katanya tulus.

“Ya sudah, tapi kau harus lebih berhati-hati,” kataku sambil mengelus kepalanya.

“Hei, gadis itu Shim Johee, bukan? Yang benar saja? Masa Donghae mau dengan gadis itu?” ucap gadis yang ada di kelasku. Aku mendengarnya dan kurasa Johee juga.

Sekilas aku melihat Johee dengan ekspresi sedihnya namun saat ia menatapku kesedihan itu langsung ia sembunyikan. “Eng, Donghae shi, sebaiknya aku segera kembali ke kelas biar kau tidak dibicarakan orang,” katanya sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya.

Apa aku mencintai gadis ini? Aku sendiri tak mengerti tentang hatiku tapi aku ingin membalas semua kebaikannya. “Biarkan saja mereka mau berbicara apa,” kataku sambil menggenggam tangannya lebih erat lagi. “Aku ingin mereka tahu kalau kau adalah pacarku,” kataku lalu mencium kening dan pipi Johee.

Aku bisa mendengar para gadis berteriak histeris. Aku bisa merasakan banyak orang menatapku heran. Aku juga merasa banyak gadis yang menatap Johee sinis. Tapi dari semua itu, aku paling tertarik dengan ekspresi gadis dihadapanku ini. Dia menatapku dengan mata kosong seakan dia tak percaya akan apa yang terjadi barusan. Wajahnya sudah merona merah. Ia bahkan meraba kening dan pipinya yang kucium tadi.

“Aku mimpi?” gumamnya yang membuatku tertawa kecil.

Aku menangkup wajahnya dengan kedua tanganku. “This is reality, Johee,” balasku. “Sekarang semua orang tahu kalau kau adalah pacarku. Jadi.. kita pulang bersama, kan, nanti?”

*****

Johee berjalan dibelakangku. Selalu seperti ini. Kadang aku merasa Johee menatapku begitu lekat dan sesekali aku mendapati dirinya hendak menggapai tanganku. Aku sangat mengerti apa keinginan Johee, bahkan sejak pertama kali aku mengantarnya pulang, ia ingin menggandeng tanganku. Aku selalu pura-pura tak tahu. Aku ingin dia yang memintaku tapi sekarang aku mengerti, bahkan sampai kapanpun, ia tak akan pernah meminta hal itu. Ia selalu memikirkan perasaanku lebih dulu.

“Johee,” ucapku sambil menghentikan langkahku dan membalik tubuhku dengan cepat. Aku tertawa dalam hati melihat wajahnya yang terkaget dan tangannya yang secepat kilat ia sembunyikan dibelakang punggungnya.

“Berikan aku tangan kananmu,” kataku. Johee bingung namun tetap mengulurkan tangannya. Aku melepas sarung tangan sebelah kanannya dan melepas sarung tanganku sebelah kiriku. Aku menggenggam erat tangannya, jariku menyelip ke tiap sela jarinya. Aku membungkusnya dengan sarung tangan rajut milik Johee dan memasukan tangan kami yang bertautan itu ke dalam saku jaketku.

“Begini lebih hangat, kan?” kataku. Aku hanya bisa tersenyum mendapati gadis ini menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku sudah terbiasa dengan air matanya yang keluar bahkan saat ia bahagia. “Kajja, aku antar kau sampai depan rumah,”

Kami melanjutkan langkah kami. Ditengah jalan Johee bertanya padaku. “Kau tak malu mengakui kalau kita pacaran?” tanyanya.

“Tidak,” kataku jujur.

“Ta-tapi, aku tidak cantik atau pun pintar. Aku tidak pantas untukmu,” katanya.

Aku tersenyum mendengar pernyataan itu. “Asal kau tahu, Johee, kau itu manis. Hanya saja kau terlalu pemalu jadi tidak terlalu menonjol,” kataku. “Coba kalau kau lebih percaya diri, aku yakin pasti teman-temanku akan ganti mengejarmu,”

“Be-benarkah?”

“Aku tidak sedang berbohong, Johee,” jawabku. Ia tidak menjawabku lagi tapi wajahnya terlihat bahagia. Wajah itu membuatku bahagia hanya dengan melihatnya.

*****

“Ada apa memanggilku kesini?” tanyaku pada Hera yang mengajakku ke halaman belakang sekolah di jam istirahat siang ini.

Ia tak menjawabku lalu tiba-tiba saja ia memelukku dan ia langsung menangis. “A-a-aku merindukanmu. A-aku ingin kembali bersamamu. A-aku sadar ternyata tidak ada pria yang sebaik dirimu. Bahkan kakakmu tidak perhatian padaku seperti dirimu,” katanya dalam tangis. Pelukannya makin erat. Sungguh, aku jadi tak tega melihatnya.

“A-aku berjanji akan membalas semua kebaikanmu. Aku tak akan pernah menyakiti perasaanmu lagi. Aku mohon.. kembalilah padaku,” katanya. Saat itu, bayang-bayang Johee terlintas di kepalaku. Hal itu membuatku bimbang.

“Aku…”

“Ke-kenapa kau bimbang? Apa karena gadis itu? Shim Johee?” tanyanya yang entah kenapa, mulutku tak berani berkata ‘ya’ dengan tegas.

“Aku sudah tahu semuanya dari Yesung. Yesung bilang, gadis itu yang memaksamu untuk berpacaran dengannya. Aku tahu, kau terlalu baik hati untuk menolak gadis sepertinya, kan?” katanya. Hatiku sakit mendengarnya. Apa benar aku seperti itu? Kalau iya, aku bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang Johee rasakan jika mendengar ini. Hera pernah menyakitiku seperti ini.

“Lagipula, kau tinggal memutuskannya begitu saja, kan?” katanya. “Tidak mungkin, kan, dalam waktu seminggu, gadis itu membuatmu jatuh cinta? Kau masih mencintaiku, kan, Donghae?” tanyanya yang kujawab dalam diam. Bibirku membisu. Hati dan otakku terus berperang.

Hera menyentuh wajahku dan menarik wajahku mendekat padanya. “Aku mohon.. kembalilah padaku,” katanya dan aku merasa bibirnya mengecupku lama.

Aku tak mengerti tentang diriku sendiri. Tentang perasaanku juga. Aku tak tahu harus memutuskan apa. Hera, menyakitiku berulang kali sedangkan Johee, ia begitu menyayangiku. Tapi Hera memutuskan untuk berubah. Apa aku bisa mempercayainya?

…..

“Hei, Donghae ah, apa bekal dari Johee masih ada? Aku lapar. Bagi sedikit,” pinta Eunhyuk begitu ia melihatku masuk ke dalam kelas.

“Hari ini Johee tak memberikan bekal padaku,” jawabku seadanya. Eunhyuk menatapku bingung. “Loh, kau tidak bertemu dengannya? Tadi dia mencarimu dan kubilang kau ada di halaman belakang,” kata Eunhyuk yang membuatku kaget dan cemas. Perasaan itu bercampur menjadi satu.

“Benarkah?” tanyaku yang ia jawab dengan anggukan.

Apa Johee mendengar semua yang kami bicarakan?

*****

Johee berjalan dibelakangku sejak tadi namun kali ini aku tidak merasa ada tatapan yang menatapku. Apa Johee mendengarnya? Tapi saat tadi bertemu Johee di depan gerbang, ia tetap tersenyum menyapaku. Kalau ia mendengarnya, begaimana ia bisa begitu kuat sampai tersenyum kepadaku?

“Johee,” ucapku sambil menghentikan langkahku dan membalik tubuhku dengan cepat. Aku mendapatinya menatapku dengan tenang.

“Berikan aku tangan kananmu,” kataku. Johee mengelurkan tangannya padaku namun belum sempat aku menggenggamnya, ia berkata, “Tangan itu, kini, bukan milikku lagi, kan?” ucapnya. Hatiku mencelos mendengarnya. Ternyata Johee memang mendengarnya. Dadaku sakit saat ini membayangkan bagaimana perasaan Johee mendengar semua perkataan Hera tadi. Matanya memandangku lurus. Ada kesedihan disana namun senyumnya tetap terukir.

“Kau bisa kembali dengan Hera onnie,” katanya.

“Sejak awal, aku yang memaksamu untuk menjadi pacarku. Aku pikir, aku bisa membuatmu bahagia tapi aku baru sadar kalau ternyata hanya Hera onnie yang bisa membuatmu bahagia. Maafkan aku,” katanya sambil membungkukkan badannya sesaat.

Ia mengusap pipinya, seakan ada air mata yang mengalir namun ia tak mau aku melihatnya. “Terima kasih, Donghae shi, kau memikirkan perasaanku. Kau pria yang baik dan pantas mendapatkan yang terbaik juga,” katanya.

“Terima kasih untuk semuanya, Donghae shi,” katanya. “Kurasa aku bisa pulang sendiri sekarang. Sudah tidak terlalu jauh,” katanya, secara tidak langsung ia ingin aku tidak mengantarnya sampai ke rumahnya.

Hatiku sakit membayangkan aku telah menyakiti hati gadis yang menyayangiku dengan tulus. Aku ingin memeluknya, memberikan kekuatan, namun aku tahu jelas kalau itu sangat absurd karena akulah penyebab kesedihannya itu. “Bye, Johee,” pamitku lirih. Aku berjalan berlawanan arah dengan Johee. Aku terus melangkah tapi hatiku melarangku untuk pergi lebih jauh. Aku ingin melihat Johee.

Aku bersembunyi di balik tiang listrik. Melihat Johee yang tak bergeming dari tempatnya berdiri tadi. Tiba-tiba saja, Johee terduduk ditempat itu. Aku bisa melihatnya pundaknya naik turun dan suara tangisnya mulai terdengar.

“Aku mencintaimu, Donghae shi. Aku menyayangimu. A-a-aku.. tak bisakah kau memilihku?” ujarrnya setengah histeris. Hatiku sakit melihatnya. Johee menyembunyikan rasa sakitnya dari tadi untuk menjaga perasaanku.

Kenapa kau mengorbankan hatimu demi aku, Johee?

*****

“Kau menunggu siapa di depan jendela seperti itu, ha?” tanya Eunhyuk menghampiriku. “Oia, tadi pagi kau datang bersama Hera nuuna. Kau kembali bersamanya?” tanya Eunhyuk.

“Hm,” jawabku seadanya.

“Lalu Johee?” tanya Eunhyuk namun tak ada jawaban yang bisa kulontarkan.

“Ternyata kau memang pemimpi, Shim Johee,” Aku mendengar jelas suara itu dari tengah lapangan. Dari tempatku ini, aku melihat jelas Johee ada disana. Jalannya dihadang oleh 2 orang siswi dari golongan eksis.

‘Katakan kalau aku yang brengsek, Johee,’ kataku dalam hati berharap Johee bisa mendengarnya. Hatiku sakit melihat Johee dihina seperti itu karenaku.

“Ya, memang aku yang bodoh. Sejak awal cintaku memang bertepuk sebelah tangan,” katanya yang membuat Johee makin ditertawai oleh 2 gadis itu. Aku kesal melihat kedua gadis itu dan aku kesal kenapa Johee masih membelaku. Aku hendak melompat dari ambang jendela itu namun Eunhyuk menahanku.

“Untuk apa kau kesana?” tanya Eunhyuk. Aku terdiam, aku tak tahu apa yang akan kulakukan jika aku kesana. “Apapun yang kau katakan pada Johee itu tak akan mengubah pendiriannya untuk tetap menyayangimu walaupun kau bersama gadis lain,” katanya. Hatiku mencelos. Perkataan Eunhyuk menyadarkan kalau Johee ternyata begitu menyayangiku.

“Kalau kau bingung, boleh aku berpendapat?” tanyanya. “Kau terlihat lebih bahagia saat bersama Johee, Donghae ah. Mungkin kau tidak menyadarinya karena kau begitu menikmati kebahagiaan itu. Tapi aku sahabatmu, aku mengenalmu,”

*****

Perkataan Eunhyuk benar-benar membuatku makin bimbang. Sambil menunggu Hera di pintu gerbang sekolah, aku terus mencoba memikirkan apa yang sebenarnya hatiku inginkan.

Aku menoleh sesaat dan tanpa sengaja aku melihat Johee baru saja keluar dari pintu gerbang. “Hai, Johee,” sapaku. Aku melihat matanya yang bengkak namun ia tetap tersenyum padaku. “Hai, Donghae shi,”

“Apa kau..” belum selesai aku berbicara, Hera datang dan langsung bergelanyut manja padaku.

“Kau sudah lama menungguku, sayang?” tanyanya yang rasanya seperti dibuat-buat. Aku melihat Johee dan secepat kilat ia mengusap pipinya. Hatiku mencelos. Lagi-lagi aku membuatnya menangis.

“Ah, kau Shim Johee? Terima kasih, ya. Kau menggantikanku untuk sementara waktu walau kau tahu Donghae begitu mencintaiku,” kata Hera.

Saat itu rasanya aku ingin sekali mengatakan pada Johee kalau semua yang dikatakan Hera tidaklah benar namun Johee terlebih dulu pergi meninggalkan kami.

“Kau tak boleh lagi bicara dengan gadis itu,” kata Hera begitu Johee hilang dari pandangan kami. “Kau juga, kalau sudah tahu aku akan pulang bersamamu, kenapa kau tidak membawa mobilmu atau motormu? Kau pikir aku bisa naik bus berdesakan begitu?”

Kata-kata yang terlontar dari mulut Hera membuat ingatanku kembali memutar semua pengorbanan yang Johee lakukan untukku. Otakku seperti video player yang membandingkan Hera dengan Johee. Semua itu membuatku sadar bahwa apa yang Johee lakukan untukku melebihi pengorbananku untuk Hera dulu. Saat itu juga, hatiku sudah menetapkan pilihanku.

“Johee… gadis yang baik,” kataku begitu saja.

“Maksudmu?” tanya Hera tidak terima aku membahas gadis itu di depannya.

“Awalnya, aku menerima dia menjadi pacarku karena aku merasa ia mirip denganku. Ia sama menyedihkannya denganku saat aku mencintaimu, dulu. Tapi aku sadar, ia berbeda denganku. Ia bukan gadis menyedihkan, ia gadis yang tulus. Ketulusannya membuatku nyaman berada disekitarnya dan tanpa kusadari, ternyata aku mencintainya. bodoh sekali aku baru menyadarinya sekarang.” Kataku.

“A-apa kau bilang?” tanyanya.

Aku melepas tangan Hera dari lenganku. “Aku memilih, Johee. Aku sudah terlanjur mencintainya,”

*****

“Aku tak boleh menangis. Aku tak boleh menangis. Aku harus bahagia untuk Donghae. Kau picik sekali, Johee, kalau kau menangis karena Donghae bahagia bersama Hera sekarang,” gumam Johee yang dapat kudengar dari tempatku berdiri.

Aku mencari ke rumahnya tadi namun ternyata ia belum di rumah. Ternyata ia ada di taman dekat rumahnya. Aku melihat Johee jongkok di atas bak pasir sambil mencoba membuat sebuah cetakan untuk pondasi istananya.

Ia terus saja bergumam, “Aku tak boleh menangis,” sambil sesekali mengusap air matanya yang ia biarkan jatuh. Bahkan sampai saat seperti ini pun, ia masih memikirkan kebahagiaanku. Aku tersenyum melihatnya. aku tak sabar untuk memberitahu dirinya kalau ia telah berhasil membuatku bahagia. Ia berhasil membuatku jatuh cinta padanya.

“Kau harus merelakan Donghae untuk Hera, Johee,” gumamnya lagi.

“Aku akhir-akhir ini tidak bahagia karena ternyata kebahagiaanku ada disini,” kataku. Ia menengadahkan kepalanya untuk melihatku. “Do-donghae sshi?” tanyanya tak percaya. Ia bahkan tak sadar kalau air matanya yang dipelupuk akhirnya mengalir.

Aku mengambil posisi jongkok disebelah Johee. Tanganku terjulur untuk mengusap bekas air mata dipipi Johee. “Ke-kenapa kau disini?” tanyanya.

Aku tersenyum sambil mengelus pipi Johee. “Karena hatiku memilihmu,” jawabku jujur, apa adanya.

“Ma-maksudnya?” tanya Johee. Entah ia memang tak mengerti atau pura-pura tak mengerti tapi begitulah Johee yang kukenal.

Aku mengacak rambutnya pelan lalu berbisik di telinganya. “Aku akhirnya sadar, saranghae,”

Pipi Johee berubah menjadi merah merona. Ia menatapku malu-malu. Saat mata kami bertemu, ia malah mengalihkan pandangannya. “Jeo-jeongmal?” tanyanya tanpa menatapku. Ia malah melanjutkan membuat cetakan pasir lagi. Bedanya kini ia tersenyum. Air mata yang mengalir setitik, aku tahu, itu adalah air mata bahagia.

“Apa aku ini sedang mimpi, ya? Mimpi ini terlalu indah,” gumam Johee. Aku tertawa dalam hati. Aku benar-benar tak habis pikir dengan gadis ini. Namun… mungkin karena itulah aku makin menyayanginya. Kurasa, aku harus menyadarkannya kalau ia tidak sedang bermimpi.

“Johee,” panggilku. Saat ia menoleh, disitulah aku mengecup bibirnya. Lembut dan singkat. Aku tak berniat menciumnya dengan gaya ciuman orang barat karena aku sendiri tahu, aku mencintainya dengan tulus.

“Kau sudah percaya kalau kau tidak sedang bermimpi, kan?” tanyaku. Johee mengangguk berulang kali sambil mengusap air mata bahagia yang terus mengalir.

“Saranghae, Johee,” kataku tulus. Aku ingin ia tahu perasaanku padanya ini bukanlah mimpi. “Ehm.. Johee shi, do you know one of the happiest things on earth?” tanyaku.

Johee menatapku bingung. Aku tahu, ia tak tahu jawabannya karena aku sendiri baru menemukannya. “It’s when i know that i’m in love with someone who is in love with me. It’s you, Johee.” kataku dan Johee hanya menatapku tak percaya sampai 2 menit kemudian.

“Apa jawabanmu, Johee? Apa kau mau kembali padaku? Aku ingin mendengar langsung darimu,” kataku.

Johee menatapku ragu dan secepat kilat ia membisikkan kata itu, “saranghae,”

END