Annyeonghaseyo chingudeul! it’s been a long long long time since the last ff. maap bgt buat ketidak-produktifan saya hehehe. thank you so much buat yang tetep setia baca ff di blog ini padahal ffnya itu-itu aja ga nambah-nambah hehehe. Maaf banget belum bisa bales semua commentnya satu-satu kayak dulu, tapi aku baca semua kok and i was happy when i read it🙂

Oia, ini ff yang aku coba buat setelah lama hiatus. Agak khawatir sebenernya sama hasilnya tapi coba dibaca dan kasih saran ya chingudeul buat aku hehehe your comments are love for me🙂

enjoy reading!

Main cast: Lee Donghae, Shim Johee

*****

“Nona Johee, tolong nona, jangan masuk ke dalam. Tuan Shim tadi berpesan pada kami untuk melarang nona masuk. Tolong nona, nanti kami bisa dimarahi,” ujar lima orang wanita yang berdiri di depan pintu megah itu.

Wanita yang dipanggil dengan nama Johee tadi merasa iba dengan kelima pelayannya namun amarahnya lebih besar untuk metolerir rasa kasihan itu. “Tenang saja, biar aku yang menanggung hukuman kalian nanti. Sekarang, menyingkirlah!” serunya. Ia membuka pintu itu dengan kasar dan akhirnya ia melihat pria paruh baya yang duduk di meja kerjanya itu.

“Ayah, aku tahu kalau sudah dari ratusan tahun yang lalu keluarga Park mengabdi pada keluarga ini sebagai butler. Tapi ayah, sudah berapa kali kubilang kalau aku tidak memerlukan seorang butler?!” seru Johee pada ayahnya sembari berjalan mendekati teritorial ayahnya. “Ayah, lihat aku dan jawab pertanyaanku. Jangan melarikan diri, ayah,” lanjutnya.

Pria itu akhirnya mengangkat kepalanya. Ia dapat melihat raut wajah kesal di wajah anak kesayangannya itu. “Oh, kau disini rupanya, Johee sayang. Ada apa?” tanya ayahnya dengan lembut sambil memberikan senyuman terbaiknya pada anaknya itu. Melihat itu semua membuat Johee makin kesal. Ia sangat mengenal ayahnya. Ini adalah cara yang selalu dilakukan ayahnya untuk menghilangkan rasa kesal Johee, namun kali ini cara itu tidak akan berhasil. Johee menjamin itu.

“Percuma ayah. Aku benar-benar marah padamu saat ini. Sekarang, beri penjelasan padaku kenapa engkau memberiku seorang butler!” tuntut Johee kesal.

“Johee, maafkan ayah. Ayah hanya berusaha membantumu. Ayah tahu kau sangat bertanggung jawab dalam masalah pekerjaan atau pun pendidikan. Kau mengerjakan segala sesuatunya dengan sangat baik. Ayah sangat bangga padamu. Tapi, ayah tak mau kau kehilangan masa mudamu, nak. Kau harusnya pergi jalan-jalan atau shopping dengan temanmu. Ayah mau lihat anakku bahagia,” jelas ayahnya. Sesaat, Johee merasakan hatinya tersentuh mendengar jawaban ayahnya namun itu tak akan mengubah tekad Johee.

“Terima kasih, ayah, kau sangat memikirkanku. Tetapi, aku sudah bahagia dengan apa yang kulakukan saat ini. Aku bahagia karena aku bisa membantu pekerjaan ayah sehingga ayah bisa istirahat lebih banyak. Jadi,  berhentilah mengkhawatirkanku dan pikirkan diri ayah sendiri,” jawab Johee tegas.

“Nona Johee,” panggil pria yang sedari tadi berdiri di samping ayahnya, Park Hyansuk, butler ayah Johee. “Apa kau tidak mau melihat terlebih dahulu butler yang kupilihkan untukmu?” tanyanya. Johee menghela nafas panjang. “Baiklah. Panggil dia,” ujar Johee.

Tak lebih dari semenit, seorang pria berjalan masuk ke dalam ruangan itu. Mata Johee sudah membesar karena ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. “Lee… Donghae?” gumam Johee.

Pria itu tersenyum lembut pada Johee. “Saya Lee Donghae, siap melayani nona Johee seumur hidup saya,” katanya.


“Aku menolak,” jawab Johee. Johee melangkah mendekati Donghae. Memandangnya dari atas sampai bawah. “Lee Donghae, seorang casanova yang jenius. Tak pernah belajar, sangat santai, selalu dikelilingi para wanita, namun selalu mendapat peringkat pertama di sekolah bahkan di kampus. Pria yang selalu membuatku menjadi yang kedua, sejak dulu sampai saat ini. Aku benci padamu,” katanya dengan tenang.

“Berikan aku kesempatan. Satu bulan cukup,” pinta Donghae.

“Untuk apa?”

“Untuk membuktikan padamu kalau kehadiranku akan sangat berguna bagimu dan mengubah pandanganmu tentang diriku,”

“Aku tidak perlu bantuanmu dan tidak ada yang perlu kuubah masalah pandanganku tentang dirimu,”

Donghae terkekeh dan itu membuat Johee makin kesal. “Kau melarikan diri, kan, Shim Johee? Kau takut kalau akhirnya kau kalah dan jatuh cinta padaku, kan, Nona Johee?” Ucapan Donghae berhasil membangkitkan emosi Johee. Kini giliran Johee yang terkekeh. “Baiklah, kuhargai nyalimu. Sebulan kurasa cukup. Akan kubuat kau menyesal pernah menjadi butlerku, Lee Donghae,” bisik Johee.

*****

“Bawa tasku,” kata Johee sebelum ia turun dari mobil. “Jalan di belakangku,” perintahnya lagi. Mahasiswa lain yang melihat mereka berdua sangat tercengang. Ada yang mengasihani Donghae, adapula yang mengutuki Johee. Johee tersenyum dan bertanya pada Donghae, “Apa kau sudah menyerah? Lebih cepat, lebih baik, sebelum imagemu hancur,”

Kini Donghae yang tersenyum, “Ini belum apa-apa,” katanya. “Baiklah, aku tak akan segan-segan lagi,” balas Johee.

“Tanganku pegal. Donghae, kau yang catat penjelasan dosen nanti,” perintah Johee. Belum sempat Donghae menjawab, Johee kembali berbicara, “Ah, tapi bukankah kau juga ada kelas pagi ini? Kalau kau tidak masuk di kelasmu, kau akan terhitung absen. Kurasa itu akan sangat buruk bagi nilaimu. Namun, seingatku seorang butler harus selalu menuruti tuannya, kan? Bagaimana, Donghae? Aku tak masalah jika kau tidak melakukan perintahku kali ini. Mungkin resikonya bagimu hanya kau gagal menjadi butlerku. Tak ada ruginya bagimu, kan?” ujar Johee dengan senyum kemenangan tersungging dibibirnya.

Donghae tersenyum lembut pada Johee. “Aku akan mencatat dengan baik penjelasan dosen anda, nona Johee,” kata Donghae lalu mengambil posisi duduk di samping Johee. Johee tercengang dengan sikap Donghae. Ia sendiri tak percaya kalau pria itu mau mengorbankan kuliahnya demi dirinya. “Aku tak akan kalah darimu,” gumam Johee kesal.

“Belikan aku steak untuk makan siang. Kau tak boleh membeli apapun untuk dirimu. Kau harus temani aku makan tapi aku tak akan mengijinkan kau makan. Kau mengerti?” tanya Johee pada pria di depannya. Pria itu tersenyum dan menunduk dengan penuh hormat. “Saya mengerti, Nona Johee,” ujarnya.

Pria itu benar-benar melakukan apa yang Johee perintahkan. Pria itu sudah berdiri di depannya dari satu jam yang lalu. Ia tak bersuara dan hanya menemani Johee makan siang dalam diam. Mahasiswi lain yang melihat hal itu sedari tadi mulai memaki Johee. “Apa dia pikir dia princess? Siapa dia hingga berani memerintah Donghae sampai seperti itu? Kasihan Donghae. Ia pasti sangat lapar dan lelah. Gadis itu tidak tahu diri,” kata mereka yang Johee dengar. Asal mereka tahu, Johee sendiri tak menyangka bahwa Donghae akan melakukan perintahnya yang sangat childish ini. Jauh dalam lubuk hatinya, ia juga tidak tega namun ia tak mau mengakuinya.

“Hentikan omongan kalian pada nona Johee,” ujar Donghae tiba-tiba pada mahasiswi yang membicarakan Johee sedari tadi. Johee reflek menghentikan sendok yang hendak masuk ke dalam mulutnya. “Aku adalah butler nona Johee. Aku akan melakukan semua perintahnya. Lagipula, jangan menjelekkan orang lain jika kalian belum mengenalnya,” kata Donghae. Johee tersenyum lembut mendengar kata-kata Donghae tadi namun dengan segera ia menghapus senyum itu. Ia tak mau Donghae atau orang lain melihatnya.

“Lee Donghae, diamlah. Aku tak memerintah kau untuk membelaku,” katanya. Johee berdiri dari tempat duduknya dan berkata, “Kalian boleh berpikir apapun tentang diriku. Aku juga tak melarang kalian untuk membenciku karena aku tak akan pernah peduli pada kalian. Manusia yang hanya bisa berbicara tanpa melakukan apa-apa,”

Mereka yang mendengar ucapan Johee mulai memaki Johee dan menatap Johee dengan tatapan ingin membunuhnya. “Aku kehilangan selera makan. Aku mau pulang saja. Lee Donghae, aku tak mau semobil denganmu. Kau pulang saja dengan gadis-gadis yang sedari tadi membelamu,” ujarnya lalu pergi meninggalkan cafe kampus itu.

“Bagaimana harimu, anakku?” tanya ayah Johee yang baru saja masuk ke ruang kerja Johee di rumahnya itu.

“Baik-baik saja, ayah. Tapi, akan lebih baik jika butler yang ayah pilihkan untukku ini tidak mengikutiku,” ujar Johee sambil menatap sinis pria yang sedari tadi berdiri di sampingnya.

Ayah Johee tersenyum lalu mengelus kepala Johee. Ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam. “Sudah sangat malam sayang, tidurlah. Pekerjaan ini besok saja kau lanjutkan,” kata ayahnya.

“Iya ayah, sedikit lagi selesai. Ayah istirahat saja,” kata Johee sambil memberikan senyum tulusnya pada ayahnya. “Baiklah, ayah akan istirahat. Eng, Donghae, kau tampak sangat pucat, kau sudah makan malam?” tanya ayah Johee yang tak sengaja melihat kondisi Donghae.

Donghae tersenyum sambil menunduk penuh hormat. “Saya baik-baik saja, Tuan Besar. Terima kasih telah memperhatikan saya,” katanya yang dibalas dengan senyum lembut oleh ayah Johee.

Ucapan ayah Johee berhasil membuat Johee gundah. Ia teringat kalau dari tadi siang Donghae belum makan. Ia tersadar kalau dari tadi siang Donghae selalu ada bersamanya dan ia tak melihat Donghae minum segelas air pun. Rasa bersalah mulai menganggunya. “Aku lapar. Bawakan aku makanan,” perintah Johee pada Donghae.

Tak lama kemudian, Donghae kembali ke ruang kerja Johee dengan menu kesukaan Johee, spagetti carbonara. “Silahkan dinikmati, nona,” kata Donghae. Saat Johee hendak menyuapkan spagetti itu kedalam mulutnya, ia malah meletakkan kembali sendok itu ke piringnya. “Tiba-tiba saja, aku tidak lapar lagi. Donghae, kau saja yang makan,” katanya tanpa berani menatap mata Donghae.

Donghae tersenyum melihat nonanya itu. Ia sangat tahu kalau apa yang Johee lakukan barusan bukanlah suatu perintah. Ia tahu, Johee ingin Donghae makan namun ia terlalu gengsi untuk mengatakannya dengan jujur. “Aku tidak mau melihat kau makan sambil berdiri. Ambil kursi lalu duduk dan makan sampai habis. Awas saja kalau ada sisanya,” kata Johee masih pura-pura ketus dan tidak peduli.

“Selamat makan. Terima kasih nona Johee yang sangat baik,” kata Donghae tulus.

“Aku tidak baik. Cepat makan sana,” kata Johee.

“Aku tahu kau sangat baik, Johee. Aku mengenalmu lebih baik dari yang kau kira,” gumam Donghae yang tak Johee dengar.

“Sudah jam satu. Kau pergilah. Aku ingin mengerjakan ini sendirian,” kata Johee pada Donghae.

“Sejak kapan seorang butler tidur lebih dulu daripada tuannya? Aku tak mungkin meninggalkan nona Johee sendirian,” kata Donghae.

“Aku yang memerintahmu!” balas Johee kesal.

“Kali ini, aku menolak untuk menurutinya. Seorang butler juga memiliki hak untuk menentukan apa yang terbaik bagi dirinya dan tuannya,” jawabnya yang membuat Johee hanya bisa menghela nafas. “Aku akan diam saja dan tidak menganggu. Nona, anggap saja aku tidak ada,” lanjut Donghae. Johee memutuskan untuk tidak mempedulikan pria itu dan kembali fokus pada pekerjaannya.

Donghae terdiam dan memperhatikan nonanya itu. Ia tersenyum melihat Johee yang bekerja dengan giat demi mengurangi beban ayahnya. Satu jam sudah berlalu namun Donghae tidak merasakannya karena ia begitu senang berada di dekat Johee seperti saat ini. Ia melihat tangan Johee yang di atas keyboard laptop berhenti mengetik. Tak lama kemudian, kepala Johee tergeletak di atas meja. Donghae tertawa kecil melihat gadis itu. Ia menggendong Johee dan menidurkannya di sova yang ada dalam ruangan kerja Johee itu.

“Selamat tidur, Johee. Mimpi yang indah,” ujar Donghae sambil mengecup punggung tangan tuannya itu.

*****

Sudah seminggu Donghae menjadi butler Johee namun gadis itu tetap membencinya. Selama seminggu ini juga Donghae makin mengenal Johee. Ia makin yakin bahwa gadis ini adalah gadis yang baik. Ia makin ingin melayani gadis ini semaksimal mungkin. “Aku harap, kau tak membenciku lagi,” gumam Donghae sambil mengelus kepala nonanya yang masih tertidur itu.

Ia membuka korden kamar Johee, membiarkan matahari masuk ke dalam ruangan itu. Mata Johee mengerjap beberapa kali, menyesuaikan matanya dengan sinar yang ada. Ia ingin bangkit dari tidurnya namun tubuhnya terasa sangat berat dan kepalanya pusing.

“Kenapa, nona?” tanya Donghae yang mendapati Johee memegang kepalanya dengan raut wajah kesakitan.

“Aku pusing,” jawab Johee.

Tiba-tiba saja, pintu kamarnya diketuk. “Johee, apa kau sudah bangun? Ayah boleh masuk?” tanya orang diluar. Itu adalah suara ayahnya. Saat Donghae mau membuka pintu kamar itu, Johee menahannya. “Jangan beritahu ayah kalau aku sakit. Ini perintah,” kata Johee.

Donghae tersenyum padanya. “Baiklah, tapi nona harus janji padaku kalau seharian ini nona akan di rumah untuk istirahat. Deal?” tanya Donghae. Johee kesal dengan syarat itu. Tentu saja ia tak mau istirahat. Tugas kuliah dan dokumen perusahaan menumpuk.

“Bagaimana, nona?” tanya Donghae dengan senyum kemenangan di wajahnya.

“Aish, baiklah,” jawab Johee tak ikhlas sama sekali.

Donghae membuka pintu kamar itu namun tak membiarkan ayah Johee masuk. “Nona masih tidur, Tuan. Ia sangat kelelahan. Saya tak tega membangunkannya,” kata Donghae. Ayah Johee pun akhirnya pergi setelah mendengar penjelasan Donghae.

“Nona, tuan sudah pergi. Sekarang, tidurlah,”

“Masih banyak yang harus kukerjakan, aku tak bisa tidur,” kata Johee sambil mencoba bangkit namun Donghae menahannya.

“Nona sudah berjanji padaku. Janji itu tak boleh dilanggar,” kata Donghae yang membuat Johee dengan terpaksa harus tidur kembali.

“Kalau begitu, kau harus bernyanyi untukku,” pinta Johee.

Donghae tersenyum, “Baiklah, nona,”

*****

Johee tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya. Ia merasakan tubuhnya jauh lebih baik. Ia melihat jam dinding di kamarnya dan mendapati bahwa saat ini masih pukul dua dini hari. Saat Johee menengok ke samping, ia mendapati Donghae sedang tertidur dengan posisi duduk. Tangannya mengenggam erat tangan Johee. Hati Johee mencelos melihat hal itu. Ia tak menyangka kalau pria ini begitu baik padanya.

“Donghae-shi, bangunlah,” ujar Johee yang menyadarkan Donghae dari tidurnya. “Aku sudah lebih baik. Kau sudah boleh kembali ke kamarmu,” lanjut Johee.

Donghae terbangun. Melihat tuannya sudah lebih baik, Donghae tersenyum senang. “Aku lebih senang jika nona menperbolehkan aku untuk menemani nona,” katanya.

“Kau pasti yang menjagaku seharian ini. Aku ingin kau istirahat karena aku tak mau kau sakit. Lagipula, masih banyak yang harus aku kerjakan,” kata Johee sambil bangkit dari tidurnya.

Donghae tampak seperti berpikir, “Kurasa, semua tugas nona sudah selesai,”

Kini giliran Johee yang bertampang bingung. “Yang benar saja? Bagaimana bisa selesai kalau seharian kemarin aku tidur?” tanya Johee tak mengerti.

Donghae tersenyum gembira dan mengambil laptop milik Johee. Donghae membuka beberapa document yang ia kerjakan sebelumnya. “Ini catatan mata kuliah hari ini. Tugas nona kemarin sudah selesai dan tugas untuk besok juga sudah kuselesaikan. Sedangkan, untuk tugas kantor juga sudah kubereskan. Tugas nona semuanya sudah selesai, jadi nona istirahat saja,” kata Donghae.

Johee melihat semua hasil kerja Donghae dan mendapati bahwa semuanya terselesaikan dengan sangat baik. Johee mengakui kekalahannya. Akhirnya ia menyadari kalau pria yang selalu disampingnya itu sangat luar biasa. “Aku kalah,” kata Johee, namun tak ada kesedihan di wajahnya.

“Maksud, nona?” tanya Donghae tak mengerti.

“Aku kalah. Aku sadar kalau kau memang luar biasa dan kau juga telah berhasil mengubah pandanganku tentang dirimu,” kata Johee. Saat ia mendapati Donghae masih terlihat bingung, Johee tersenyum lembut. “Intinya, aku tidak lagi membencimu dan aku mau kau menjadi butlerku untuk seterusnya,” kata Johee.

Mendengar itu, Donghae merasa sangat bahagia. Terlalu bahagia sampai ia bingung bagaimana harus mengekspresikannya. Donghae hanya tertawa kecil sambil menatap Johee lembut. “Bagaimana kau bisa begitu jujur? Bukankah mengakui bahwa orang lain lebih hebat darimu adalah sesuatu yang sangat sulit?”

“Karena, saat kita berkata jujur semuanya akan berubah menjadi baik walau kadang kejujuran juga menyakitkan. Tapi semua itu lebih baik daripada kebohongan,” kata Johee dengan senyumnya yang tetap tersungging.

“Aku kalah,” kata Donghae yang tak Johee mengerti. “Kau memang gadis yang luar biasa, nona Johee,” lanjut Donghae. “Seperti kata nona tadi, bolehkah aku jujur pada nona?” tanya Donghae yang Johee balas dengan anggukan.

Donghae menatap manik mata Johee lalu mencium gadis itu dengan lembut. Johee terkesiap namun ia tidak memberontak. Jantung mereka berdetak kencang sebagai respon dari perbuatan mereka. “Mianhata, aku tak pantas menjadi butlermu karena aku mencintaimu, nona Johee,” kata Donghae.

Wajah Johee bersemu merah, Donghae bisa melihatnya. “Kau bodoh. Aku belum benar-benar sembuh. Kau bisa tertular,” kata Johee tanpa menatap Donghae. Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya.

“Tak masalah. Kalau aku sakit, kau pasti merawatku,” jawab Donghae percaya diri yang membuat Johee sedikit kesal.

“Kenapa kau begitu yakin?” tanya Johee.

“Walau mungkin perasaanku tak terbalas, nona pasti merawatku karena nonaku ini sangat baik. Sifatnya itulah yang membuatku jatuh cinta padanya,” kata Donghae yang membuat Johee diam seribu bahasa.

“Aku… Aku tak bisa kau rayu,” kata Johee gugup.

“Aku tidak sedang merayu. Aku sedang jujur padamu,” kata Donghae dengan senyum tulusnya.

*****

“Sudah kubilang, tidur saja. Kau sakit. Panasmu mencapai 38 derajat celcius,” kata Johee pada Donghae yang terbaring sakit di tempat tidurnya.

“Tapi aku harus melayani nona,” kata Donghae memaksakan dirinya untuk bangkit dari tempat tidur.

“Hari ini kau harus istirahat. Ini perintah. Lagipula, kau sakit karena kesalahanmu sendiri jadi kau harus bertanggung jawab dengan beristirahatlah dan cepatlah sembuh,” kata Johee tegas.

“Bukankah aku sakit karena semalam aku mencium nona, ya?” tanya Donghae usil. Wajah Johee langsung memerah mengingat hal itu. “Ya.. Ya, itu maksudku. Sudah tahu aku sakit kau malah menciumku. Berarti kau yang salah, kan?” ujar Johee dengan gugup.

Wajah Donghae berubah menjadi gembira, “Mau bagaimana lagi? Nonaku semalam sangat cantik,”

Johee mengambil bantal Donghae dan melemparkannya pada Donghae. “Kau terlalu banyak bicara. Tidur sana,” kata Johee galak namun Donghae tahu kalau Johee seperti itu hanya untuk menyembunyikan kegugupannya.

Saat Johee hendak keluar dari kamar itu, Donghae malah menahannya dengan menutup pintu kamar itu dan menguncinya. “Aku akan tidur asal nona juga beristirahat,” katanya. Ia memegang dahi Johee dan merasakan bahwa suhu tubuh gadis itu masih panas. “Kau juga belum benar-benar sembuh,” lanjutnya.

Johee menarik nafas panjang. “Baiklah,” katanya pasrah. Johee beranjak dari tempatnya berdiri dan duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Donghae. “Jangan bilang kalau nona mau tidur di kursi itu,” ujar Donghae.

“Jangan bilang kalau kau yang mau tidur dalam posisi duduk di kursi ini. Kau sedang sakit, Donghae. Kau harus berbaring,” balas Johee.

“Tapi aku tak tega melihat gadis yang aku sayang, yang juga masih sakit, harus tidur di kursi yang keras seperti itu,” kata Donghae.

Johee menghela nafas panjang. “Arraseo,” serunya lalu ia segera naik ke tempat tidur Donghae dan segera menyelimuti badannya. “Kita berdua tidur disini. Tidak ada komentar lagi. Cepat naik dan tidurlah,” kata Johee.

Jantung Donghae berdetak sangat kencang akibat perbuatan gadis itu. Ia tak habis pikir dengan tindakan spontan gadis ini yang selalu berhasil membuatnya makin mencintainya. Donghae membaringkan dirinya tepat di sebelah Johee. Kini mereka berdua saling berhadapan. Mata saling memandang mata dan hal itu berhasil membuat jantung mereka bereaksi lebih cepat.

“Kau gadis yang luar biasa,” kata Donghae sambil mengelus kepala Johee. Wajah Donghae mendekat dan Johee segera menutup bibirnya dengan tangannya. “Tenang saja, aku tak akan mencium disitu hari ini. Aku tak mau kau tertular,” katanya lalu mencium kening Johee.

“Kau, tidurlah. Aku tak akan tidur sebelum kau tidur,” kata Johee namun tak sampai 10 menit, Johee sudah tertidur lebih dulu. Donghae tertawa kecil melihat gadis itu.

Ia mengelus lembut kepala Johee dan menatap lekat wajah gadis itu. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Saat Donghae mengangkatnya, orang diseberang sana langsung berbicara.

“Apa yang kau lakukan dengan gadis itu, ha? Apa kau kira aku tak tahu kalau kau selama ini hanya bermain-main dan tidak melaksanakan tugasmu?! Apa kau lupa kenapa sampai sekarang aku menurutimu untuk menyembunyikan identitasmu sebagai cucuku? Kalau kau tak ingat, akan kuingatkan. Kau Lee Donghae, harus membuat pewaris tunggal keluarga Shim itu jatuh cinta padamu. Setelah itu kau bisa merebut kekayaan mereka. Kau harus ingat, selama keluarga Shim tidak jatuh, keluarga Lee tidak akan pernah bisa menjadi nomor satu di Asia Timur ini!”

Donghae melihat Johee sekali lagi. Ia sangat ingat tugasnya, tugas yang bahkan sejak ia kecil sudah didoktrinkan padanya namun ia tahu sampai kapan pun ia tak akan bisa melakukannya. Ia menarik nafas panjang karena ia sudah mengambil keputusan. “Aku sangat ingat  tugasku, kakek. Sejak aku berumur sepuluh tahun, kau sudah memberikan aku tugas ini. Aku sudah membuat dia mencintaiku, kek. Tapi.. dari awal aku sudah kalah kakek. Sudah sejak dulu, bahkan sebelum kakek memberikanku tugas ini, gadis ini telah berhasil membuatku jatuh cinta padanya,” jelas Donghae.

“Apa?! Kau! Beraninya kau! Apa kau tak ingat siapa yang sudah membesarkanmu setelah orang tuamu meninggal?!”

“Aku tahu kakek. Aku tahu. Tapi, aku tak bisa jika harus menyakitinya. Lebih baik aku yang menderita daripada gadis ini,” kata Donghae. Tanpa ia sadari, air matanya menetes di punggung tangannya. Wajahnya memerah dan tubuhnya bergetar berusaha menahan emosi dan air matanya. “A.. Aku.. Aku mencintainya, kakek. Maafkan aku,” lanjut Donghae dengan sekuat tenaga menyembunyikan isakannya.

Saat sambungan telepon itu terputus, pertahan Donghae juga hancur. Air matanya mengalir tak bisa berhenti. Ia tak kuat dengan apa yang ia hadapi. Ia tak kuat jika harus melawan kakek yang telah merawatnya sampai saat ini, namun ia juga tak kuat jika harus menyakiti gadis ini. Satu rasa lagi yang membuatnya begitu tertekan seperti ini, rasa takut. Ia merasa bersalah karena selama ini menyembunyikan identitas aslinya pada Johee, tapi ia sangat takut untuk berkata jujur. Ia takut saat Johee tahu tentang hal ini, gadis itu akan membencinya dan meninggalkannya. Ia tak sanggup membayangkan hidupnya tanpa Johee.

“Donghae.. Kau..”

Donghae terkejut saat Johee memanggil namanya. Ia kira gadis itu terbangun dari tidurnya, ternyata gadis itu berbicara dalam tidurnya. Melihat wajah Johee membuat senyum Donghae mengembang walau air mata tetap mengalir. Ia menatap gadis itu dan membelai wajahnya lembut.

“Kenapa dengan aku, Nona?” tanyanya.

“Jangan panggil aku nona. Panggil aku, Johee!” seru Johee diluar kesadarannya.

“Arraseo. Ada apa, Johee sayang?” tanya Donghae lembut.

“Kau itu.. Menyebalkan.. Dari dulu selalu membuat aku jadi yang kedua. Sebenarnya, aku tak pernah membencimu. Aku hanya tak bisa menerima kenyataan kalau kau lebih hebat dariku. Aku menyesali perbuatanku. Maafkan aku,” kata Johee.

Donghae tersenyum mendengar hal itu. Kebersamaannya dengan gadis itu membuatnya lupa akan masalahnya tadi. “Aku akan memaafkanmu asal kau berkata jujur tentang peraaaanmu padaku. Apa kau suka padaku?” tanya Donghae.

“Hm… Ternyata kau bodoh juga ya, Lee Donghae,” ejek Johee yang membuat Donghae heran. “Tentu saja aku tidak suka padamu,” katanya. Hati Donghae sakit sekali mendengarnya. Air matanya tertahan di pelupuknya.

“Karena aku sangat, sangat, sangat, sayang padamu. Saranghae,” kata Johee. Mendengar itu, Donghae langsung memeluk Johee. Sangat erat seakan ia tak mau melepaskan gadis itu. Ia terlalu bahagia sampai air matanya tetap keluar. “Aku juga sayang padamu Johee. Melebihi rasa sayangmu padaku,”

“Dasar tukang pamer,” gumam Johee yang membuat Donghae tersenyum.

*****

“Aku bosan,” gumam Johee pada gambar dirinya yang terpantul di cermin kamar mandi kampusnya itu. Ia sangat bosan berada di kelas karena itu dia pergi ke kamar mandi ini tapi setelah tiba disini, ia tetap tidak tahu apa yang mau ia lakukan.

Tiba-tiba wajah Donghae terlintas di benaknya. Ia menghela nafas panjang. “Andai aku sekelas dengan Donghae. Pasti lebih asik. Aku jadi rindu padanya. Aish! Kau ini, Johee! Jangan sampai Donghae dengar, ia pasti besar kepala. Tapi kurasa aku juga harus jujur pada perasaanku sendiri. Selama ini aku selalu dingin padanya. Arrg! Sudahlah tak perlu dipikirkan!” katanya beradu dengan dirinya sendiri.

“Aku senang ternyata nonaku merindukan aku dan memikirkan aku sampai sebegitunya,” kata sebuah suara yang membuat Johee sangat terkejut. Johee segera mencari sumber suara dan mendapati Donghae sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi wanita.

“Do.. Donghae? Kau dengar semuanya?” tanya Johee yang dijawab dengan anggukan oleh Donghae.

Donghae melangkah mendekati Johee dan mencium pipi Johee kilat. “Aku juga bosan dikelas karena aku merindukan nonaku ini,” katanya. Wajah Johee merona mendengar hal itu.

“Kita kabur saja bagaimana?” ajak Donghae. Belum sempat Johee menolak, Donghae sudah menggenggam tangannya dan membawa Johee pergi.

“Tenang saja, aku sudah minta Park Hyansuk ajjushi untuk mengambil barang-barang kita. Aku juga sudah minta izin padanya,” jelas Donghae yang membuat Johee tak bisa menolak.

*****

“Cantiknya,” gumam Johee saat matanya memandang lautan luas yang ada di depannya. Ia menutup matanya dan merasakan hangat matahari yang bercampur dengan angin laut. Desiran pasir yang tersapu ombak menyentuh kakinya dan sebuah tangan yang hangat menggenggam tangannya erat.

Johee membuka matanya dan melihat tangannya yang menyatu dengan tangan pria itu. Ia menengadahkan wajahnya dan mendapati pria itu memandangnya dengan lembut. Johee tersenyum padanya dan berkata, “Harusnya yang kau pandang bukan aku tapi pemandangannya, Donghae,”

Donghae terkekeh lalu melepas pandangannya dari Johee. “Mianhe, aku juga tak menyadarinya. Kau suka pantainya?” tanyanya.

Johee tersenyum, “Ya, aku menyukainya. Tenang dan terasa damai. Terima kasih kau sudah mengajakku kesini,” kata Johee yang Donghae balas dengan kecupan di pipi Johee.

Mereka menghabiskan waktu di pantai itu dengan berjalan-jalan dan bermain pasir. Tanpa terasa, matahari mulai terbenam dan tenaga mereka pun sudah habis. Mereka memilih untuk duduk bersama dan menikmati langit oranye sore itu.

“Aku punya hadiah untukmu,” kata Donghae yang menarik perhatian Johee. Donghae mengambil sebuah spidol dan meminta Johee mengulurkan tangannya. Donghae menggambar sebuah gelang di tangan kiri Johee. Johee tertawa melihatnya. “Aku tak suka gelang yang kau beri ini. Terlalu biasa. Harusnya kau beri sedikit hiasan,” kata Johee.

Donghae tampak berpikir sesaat sampai akhirnya ia memperoleh inspirasi untuk kembali menggambari tangan Johee. Johee tertawa sendiri melihat tingkah pria itu. Saat ia menatap Donghae, semua memory tentang pria itu terbesit di pikirannya dan membawanya pada sebuah kesimpulan yaitu ia sangat mencintai Donghae.

“Donghae,” panggil Johee. Saat Donghae menengadah, saat itu juga Johee mencium Donghae. Donghae terkejut, ia tak pernah mengharapkan hal itu terjadi. “Saranghae, Lee Donghae. Love was just a word till i heard it from you. The only dream that mattered had come true. In this life, i was loved by you,” kata Johee.

Hati Donghae sangat bahagia sampai air mata bahagia nyaris mengalir tapi sebelum kebahagiaan itu menguasainya, ia ingat akan kesalahan terbesarnya pada Johee. Donghae tersenyum pada Johee tapi Johee tahu itu bukan senyum yang tulus. Ada kepedihan dan kesedihan. Donghae terlihat rapuh dan tersakiti tapi Johee tak mengerti mengapa dia seperti itu. “Aku punya cerita untukmu dan setelah kau mendengarnya, kau baru boleh memutuskan apakah perasaanmu padaku itu tepat,”

“Ka.. Kau kenapa, Donghae?”

“Aku cucu dari Lee Donghwa, saingan bisnis keluarga Shim,” kata Donghae. Matanya yang penuh kesedihan itu tetap menatap Johee. “Sejak orang tuaku meninggal, kakeklah yang merawatku. Sejak saat itu, kakek selalu berkata padaku, ‘keluarga Shim adalah musuh kita. Kau harus membenci mereka karena mereka orang jahat. Penyebab orang tuamu meninggal adalah mereka. Kau harus balas dendam! Cara yang paling gampang adalah dengan membuat gadis itu, pewaris tunggal keluarga Shim jatuh hati padamu. Setelah itu kau bisa ambil semua hartanya dan meninggalkannya’,” kata Donghae. Hatinya tersakiti saat melihat air mata Johee mengalir.

Donghae tertawa sangat kencang, menyembunyikan semua sakitnya. “Aku sangat jahat, kan? Johee, kau harus menghapus perasaanmu sebelum…”

Belum sempat Donghae menyelesaikan kalimatnya, Johee langsung memeluk Donghae erat. “Jangan tertawa, bodoh. Jangan sok kuat,” kata Johee ditengah isakannya. “Kau pasti sangat lelah menanggung semua beban itu sendirian,” lanjutnya.

Donghae terpaku. Ia tak paham dengan pemikiran gadis ini. “Hei, Shim Johee, apa kau sadar? Aku telah membohongimu selama ini. Aku berniat untuk menghancurkanmu,” kata Donghae menyadarkan gadis itu.

Johee mengeratkan pelukannya. “Kau.. Kau tak pernah mau melakukan itu semua, kan?” tanyanya. “Lagipula, kalau kau memang membenciku, harusnya kau sudah hancurkan aku dari dulu. Kau punya banyak kesempatan sejak awal namun kau tak pernah melakukannya karena aku pun percaya kau orang baik dan kau benar-benar menyayangiku,” kata Johee. “You know, Donghae? Love is giving someone the power to destroy you but trusting them not to and.. I love you,” lanjutnya.

Saat itu juga, air mata Donghae mengalir tak bisa ia hentikan. Ia membalas pelukan Johee dengan erat, sangat erat, seakan ia tak mau melepas Johee pergi. “Kalau kau tetap bersamaku, kau akan mengalami banyak bahaya. Kakekku tak akan tinggal diam,”

“Aku tahu, sudah kupikirkan. Kau pasti akan melindungiku,” kata Johee penuh keyakinan yang membuat Donghae tersenyum. Benar kata Johee, ia pasti akan melindungi Johee.

“Kalau kau bersamaku..”

“Apapun yang kau katakan, aku akan tetap bersamamu,”

Donghae tersenyum meski Johee tak bisa melihatnya. “Kau sangat baik, Johee. Sifatmu ini sangat merugikan,” sindir Donghae.

Johee tahu Donghae hanya menggodanya. Ia hanya tertawa mendengar itu. “Tapi, karena sifatmu ini aku jatuh cinta padamu bahkan sebelum aku tahu kalau kau adalah anak Tuan Shim,” lanjut Donghae.

Hun tersenyum mendengarnya. “Kau hutang cerita padaku, Donghae,” balas Johee yang disambut oleh tawa keduanya. “Oia, mulai hari ini kau kupecat sebagai butlerku,” lanjutnya.

Donghae melepas pelukannya dan menatap Johee terkejut. “Wae?”

You have to be my children’s daddy,” kata Johee yang membuat Donghae tersenyum.

“Yaa, harusnya aku yang melamarmu!”

*****

2 days later

“Aku, Shim Johee, berterima kasih kepada para pemegang saham dan juga ayahku yang sudah mempercayakan semua aset Shim Cooperation padaku. Selain itu, hari ini aku juga mau mengumumkan pertunanganku dengan Lee Donghae. Ia adalah musuhku, butlerku, temanku, cucu tuan Lee Donghwa, dan yang paling penting ia mencintaiku dan aku mencintainya,” pidato Johee dalam acara yang diselenggarakan Tuan Shim untuk memperkenalkan Johee kepada para pemegang saham.

Para undangan dan pers yang hadir sangat terkejut dengan berita pertunangan Johee apalagi setelah mereka tahu kalau Lee Donghae adalah cucu dari Lee Donghwa karena bukan rahasia lagi kalau keluarga Lee dan Shim bermusuhan.

“Apa anda yakin pria ini benar-benar baik? Mungkin dia punya rencana jahat padamu, nona Johee?” tanya salah seorang pers.

Johee tersenyum padanya dan menjawab dengan yakin, “Aku percaya padanya. Kalau dia memang punya rencana jahat padaku, dia bisa saja menyembunyikan identitasnya padaku sampai kami menikah nanti. Ia bahkan yang memintaku untuk memberitahukan yang sebenar-benarnya pada media. Pria sebaik dirinya tidak mungkin akan menyakitiku,” kata Johee yang membuat semua pers media dan para undangan tertegun melihat kesungguhan Johee dan pria itu.

*****

Johee terdiam di ruang kerjanya. Ia menatap jauh keluar jendela. Ia menjulurkan tangannya sehingga ia dengan jelas melihat cincin di jari manisnya. Johee tersenyum senang melihatnya.

Tiba-tiba tangan lain yang lebih besar muncul disebelah tangan Johee. Di jari manisnya juga terdapat cincin seperti milik Johee. Tangan itu kini menggenggam tangan Johee dan memeluk Johee dari belakang. “Aku baru lihat konfrensi persmu tadi pagi. Kau sangat keren disana. Apalagi saat kau membelaku. Terima kasih,” kata Donghae.

Johee tersenyum mendengarnya. “Sebagai gantinya, kau harus cerita padaku sejak kapan kau menyukaiku,” kata Johee.

“Sejak hari pemakaman orang tuaku, aku berumur 7 tahun saat itu,” jawab Donghae yang membuat Johee terkejut.

“Selama itu?” tanya Johee tak percaya.

“Ya, dan sepertinya kau lupa padaku. Saat semua orang berpikir aku anak yang kuat dan mereka memujiku karena aku tak menangis, kau satu-satunya orang yang menyuruhku untuk menangis. Kau memelukku dan menemaniku sampai air mata itu kering dengan sendirinya. Sejak saat itu aku menyukaimu walaupun aku tak tahu siapa dirimu, aku yakin suatu saat aku pasti bertemu lagi denganmu,” kata Donghae.

“Lalu?”

“Akhirnya kakekku yang mempertemukan aku denganmu. Kakekku sengaja menyekolahkanku di sekolah yang sama denganmu. Aku tak percaya kata kakek tentang keluarga Shim yang jahat. Semakin aku dewasa, aku mencari kebenaran dan aku sadar kalau kakekku memang salah. Aku selalu berusaha untuk menjadi lebih baik darimu agar aku pantas untukmu. Aku menjadi butlermu karena aku ingin selalu berada di dekatmu. Selama ini aku menyembunyikan identitasku agar kau tidak membenciku,” lanjut cerita Donghae.

Johee melepas pelukan Donghae. Kini ia menatap Donghae sedih. “Mianhe, aku membuatmu menunggu terlalu lama,” sesal Johee.

Donghae mengelus pipi Johee. “Aku sudah menunggumu selama 15 tahun, kalau kau mau membuatku menunggu lebih lama lagi, itu tak masalah bagiku,” balas Donghae.

Johee menggelengkan kepalanya. “Aku akan membuatmu bahagia mulai sekarang,”

Donghae mencium Johee. “Aku tak pernah menyesal menunggumu selama ini. You always make me smile for no reason. You always make me laugh at the unfunny thing. But most of all, you make me love you when i shouldn’t be loving you,

END