Annyeong chingudeul🙂 Thank you so much for always reading our fanfiction.

Ini ff terakhir untuk tiga bulan ke depan dari esterong. hope you like it ya. Maaf banget belum bisa bikin sequel ff Kyujin yang kemarin hehe. Karena lagi suka banget sama Donghae, akhirnya castnya Donghae lagi.

Hope you enjoy it. Your comments are love for me🙂 feel free to give suggestions and critize me, i’m still lack in many things. Thank you so much chinguuu! ^^

Main Cast:

Lee Donghae – Shim Johee

******

“Lee Donghae! Kau sangat tampan!” seru para gadis saat melihat seorang pria tampan turun dari motornya yang tampak tangguh.

“Lihat motornya dan brand benda-benda yang ia pakai! Ia kaya dan selalu peringkat teratas di sekolah ini! Genius sejati!” seru yang lainnya sambil tetap mengikuti langkah pria itu di belakangnya.

“Ia juga sangat cool! Sangat berkarisma! Ia casanova sejati!” kata gadis yang lain yang tidak direspon oleh pria itu.

“Bagaimana mungkin ada pria sesempurna dirinya? He’s perfect! Tuhan tidak adil!” ujar yang lain.

Pujian-pujian dari para gadis itu terus mengalir bahkan semakin banyak gadis yang mengikutinya. Setelah ia sampai di kelas pun suara teriakan histeris dari para gadis itu tak hilang. “Pagi-pagi kau sudah membuat keributan, Lee Donghae,” sindir sahabatnya yang sudah lebih dulu ada di kelas itu.

Pria pujaan yang ternyata bernama Lee Donghae tidak menggubris sindiran temannya. Ia terduduk lemas di bangkunya. “Tuhan sangat adil. Saat aku mendapat semua yang orang lain inginkan, aku malah kehilangan kebebasanku,” ujarnya sambil menghela nafas panjang. “Wanita-wanita itu sangat mengerikan. Aku ingin mereka menjauh dariku,” lanjutnya.

“Yaa, Lee Donghae, ada apa dengan kau? Kau tampak tidak baik,” ujar kawannya itu saat melihat raut wajah Donghae yang berbeda dari biasanya.

“Aku tentu tidak baik-baik saja saat aku diputuskan oleh gadis yang ‘menembak’ aku terlebih dahulu. Ia berkata, aku tidak sesuai harapannya dan menghancurkan semua bayangannya tentang Lee Donghae yang sangat perfect. Apa yang ia harapkan dariku? Ia pikir aku dewa? Tuhan? Aku tak pernah bilang diriku sempurna,” keluh Donghae panjang lebar.

Teman Donghae tertawa kecil, “Kau sendiri yang salah. Kau selama ini selalu berusaha tampil seperti yang mereka harapkan dan sampai saat ini, kau juga tidak pernah serius menjalani hubungan dengan siapapun karena itulah mereka menganggap kau seorang playboy dan mereka juga tidak akan pernah serius menjalani hubungan denganmu,” jelas Eunhyuk, sahabatnya itu.

“Aku melakukan itu karena kupikir setelah aku seperti apa yang mereka mau, mereka hanya akan mengagumiku dari jauh. Aku tak menyangka mereka seliar ini. Kau benar, aku tak pernah serius karena aku tahu mereka juga tak serius padaku. Mereka hanya ingin diriku karena mereka menganggapku sempurna,” jelas Donghae. “Kau ada ide untuk mengatasi masalah ini?” tanyanya.

“Bagaimana kalau kau mencari seorang pacar?” ujar Eunhyuk.

Donghae memukul kepala Eunhyuk, “Yaa, aku minta solusi agar semua wanita itu menjauh dariku tapi kau malah menyuruhku cari pacar?!” tanya Donghae kesal yang tak mengerti jalan pikiran sahabatnya itu.

“Kalau kau punya pacar dan mereka berpikir kau serius dengan gadis itu, mereka perlahan akan menjauh darimu. Kau juga tak akan ‘ditembak’ tiap hari karena mereka tahu kau sudah ada yang punya. Kali ini, bertahanlah selama tiga bulan dengan pacarmu itu sehingga gadis-gadis lain percaya kalau kau serius. Setelah itu, kalau kau bosan, putuskan saja dan cari yang lain. Kalau kau tak suka dengan tipe yang wild, cari saja yang tipe innocent,” ujar Eunhyuk.

“Bagiku semua wanita sama saja. Mereka mengerikan. Aku bahkan tak bisa membedakan mana yang liar dan yang polos,” jawab Donghae putus asa.

Eunhyuk tampak berpikir untuk sesaat. “Bagaimana kalau, siapa pun yang menyatakan perasaannya padamu setelah ini, kau akan langsung menerimanya. Siapa pun itu, bahkan jika itu ‘Stupid Johee’ yang selalu peringkat tiga besar dari bawah. Deal?” usul Eunhyuk.

Donghae mengacak rambutnya, “Terserah kau, siapa saja boleh,” balasnya setengah hati sambil menidurkan kepalanya di mejanya. Ia tak pernah menyangka kehidupan SMAnya akan berakhir menyedihkan seperti ini.

“Lee.. Lee.. Lee Donghae shi.. A-a-apa kau mau me-menjadi pa-pacarku?” tanya salah seorang gadis yang baru saja datang ke kelas Donghae. Gadis itu terlihat sangat gugup. Ia bahkan tak bisa menatap Donghae dan Eunhyuk, ia terus melihat keujung sepatunya. Ia terus memainkan jari-jarinya agar ia merasa lebih tenang.

Donghae mendengar perkataan gadis itu tapi ia masih malas untuk meresponnya, ia bahkan memutuskan untuk berpura-pura tertidur. Ia berharap Eunhyuk mau mewakilinya untuk memberi jawaban pada gadis itu, namun Eunhyuk malah memukul kepala Donghae keras dan berhasil membuatnya bangun. “Yaa, Lee Hyukjae!” serunya kesal.

“Kau harus lihat siapa yang baru saja menyatakan perasaannya padamu,” bisik Eunhyuk sambil menunjuk gadis itu dengan kepalanya. Donghae pun tak kalah terkejut saat melihat siapa gadis itu. Dari sekian banyaknya wanita yang selalu menembak Donghae tiap harinya, kenapa kali ini harus gadis ini? Shim Johee?

“Kau harus ingat perkataanmu tadi. Kali ini kau harus menerima Johee sebagai pacarmu,” bisik Eunhyuk yang membuat Donghae tak bisa berkutik.

*****

“Lee Donghae, aku mau kau menjadi pacarku,” ujar seorang wanita pada Donghae. Donghae tersenyum bahagia karena memang inilah yang ia tunggu. Sejak tadi ia dan Eunhyuk sengaja berdiri di depan kelas Johee agar saat hal ini terjadi, ia juga dapat mendeklarasikan hubungannya dengan Johee.

Donghae tak menjawab pernyataan gadis itu. Ia langsung masuk ke dalam kelas Johee dan berjalan menghampiri Johee. Kelas itu menjadi sangat hening dan semua mata mengikuti kemana pun pria itu pergi.

“Ha-hai, Donghae, a-ada apa?” tanya Johee gugup. Ia memberanikan dirinya untuk menatap Donghae walau hanya sesaat. Donghae menggenggam tangan Johee lalu menariknya berdiri dari bangkunya. Donghae merangkul pundak Johee lalu mencium pipi Johee. “Sejak kemarin aku resmi menjadi milik Johee,” katanya. Hening sesaat. Seakan semua orang masih berusaha untuk mencerna perkataan Donghae.

“Donghae… kau bohong.. Kau pasti bohong.. Kau jahat!” seru gadis yang cintanya ditolak secara tidak langsung oleh Donghae. Setelah itu, seisi kelas Johee bahkan mereka yang di kelas lain menjadi sangat heboh dengan pengumuman tadi. Banyak yang tidak menyetujui hubungan itu karena Johee tak pantas menjadi kekasih seorang Lee Donghae. Banyak juga yang meyakini kalau hubungan itu pasti hanya main-main. Banyak komentar yang keluar tapi Donghae tersenyum penuh kemenangan karena ia pikir rencananya untuk menjauhkan para gadis dengan memanfaatkan Johee pasti akan berhasil.

Saat semua sedang sibuk dengan pikiran masing-masing, Johee melepaskan tangan Donghae dari pundaknya. Ia hanya membungkuk sambil berkata, “Mianhe,” lalu ia pergi begitu saja meninggalkan Donghae sendirian, terheran-heran dengan sikap gadis itu.

“Yaa, kenapa kau melihat Johee sampai seperti itu?” tanya Eunhyuk yang sedari tadi menemani aksi Donghae.

“She must be weird,” protes Donghae. “Saat semua orang mengincarku namun aku malah memilihnya, bukankah seharusnya ia senang? Terlebih lagi, Shim Johee sendiri yang menyatakan perasaannya padaku tapi ia justru bersikap dingin padaku. Aku tak mengerti dengan gadis itu,” keluh Donghae sambil berjalan kembali ke kelasnya.

“Maksudnya Johee bersikap dingin?” tanya Eunhyuk mencoba mengerti.

“Kemarin saat aku mau mengantarnya pulang, aku rela meninggalkan motorku di sekolah untuk menemaninya karena ia lebih suka naik bus. Ia selalu saja memasang jarak saat berjalan di sampingku. Ia tak punya inisiatif untuk menggandeng tanganku padahal selama ini wanita yang bersamaku selalu bergelanyutan ditanganku. Malah, saat aku hendak menggenggam tangannya, Shim Johee menepis tanganku! Setelah ia tahu rumahku berlawanan arah dengan rumahnya, ia malah menyuruhku untuk tidak perlu mengantarnya. Satu lagi, ia bahkan tak menatap mataku sama sekali! She’s weird!” seru Donghae kesal sambil mengacak-acak rambutnya.

Eunhyuk hanya tertawa melihat tingkah temannya itu. “Kenapa jadi kau yang uring-uringan, Donghae ah? Sudahlah, jangan terlalu kau pikirkan. Bukankah sudah jelas tiga bulan lagi kau akan memutuskannya, kan?” ujar Eunhyuk yang Donghae setujui dengan setengah hati. Eunhyuk melihat wajah Donghae itu dan ia hanya bisa memberikan saran untuk sahabatnya, “Kalau kau penasaran, tanya saja padanya,”

Perkataan Eunhyuk membuat Donghae terdiam. ‘Kenapa aku harus mempermasalahkan semua itu? Bukankah aku tak serius pada Johee? Aku tak mengerti dengan diriku sendiri,’ katanya dalam hati.

*****

Lagi-lagi hal seperti kemarin terulang. Johee kembali bersikap dingin pada Donghae. Tak menatapnya sama sekali. Tak berbicara sama sekali. Berjalan dengan jarak yang cukup jauh dan menyembunyikan tangannya saat ia merasa Donghae akan menggenggam tangannya. ‘Cukup!’ batin Donghae kesal dengan sikap Johee padanya.

Donghae menghentikan langkahnya tiba-tiba. “Do-donghae, wa-waeyo?” tanya Johee bingung.

“Kenapa kau tak mau kalau tanganmu kugenggam?” tanya Donghae to the point sambil menatap Johee tajam.

“Eh? Ah, itu..” Johee tak bisa mengeluarkan suaranya saat ia bertatapan dengan mata Donghae yang menatapnya tajam. Johee, reflek, memalingkan wajahnya.

“Kenapa kau tak berbicara sama sekali saat kita berdua?” tanya Donghae lagi. Johee tetap tak bisa mengeluarkan suaranya. Jantungnya makin berdetak kencang saat ia menyadari kalau pria itu berjalan mendekatinya.

“Kenapa kau tak memperbolehkan aku untuk mengantarmu sampai ke rumahmu?” tanyanya lagi.

Donghae sudah berdiri di depan Johee. Ia menangkup wajah Johee dan menengadahkannya sehingga mata Johee bertemu dengan mata Donghae itu, “Kenapa kau tak pernah menatapku?” tanya Donghae terdengar lirih.

“Kau bilang, kau cinta padaku tapi kau bersikap dingin padaku. Aku tak mengerti, Shim Johee. Kau mempermainkan perasaanku,” ujar Donghae lirih. Entah mengapa, hatinya terasa sedih. Ya, walaupun hubungan ini hanya main-main tapi ia sudah lelah dipermainkan oleh para wanita.

Wajah Johee tiba-tiba menjadi merona merah. Sebulir air mata mengalir membasahi pipinya dan terjatuh di tangan Donghae. “Mianhe, jeongmal mianhe, Donghae shi,” ujar Johee bersamaan dengan tangisannya yang menderas.

“Yaa, yaa, Shim Johee, waeyo?” tanya Donghae yang terkejut dan bingung dengan reaksi Johee itu.

Johee bahkan sudah menekuk lututnya dan menangis begitu saja. Ia bahkan lupa kalau mereka sedang berada di pedestrian. “Johee shi, waeyo?” tanya Donghae sekali lagi. Ia ikut terduduk di sebelah Johee.

“Aku tak pernah mempermainkan perasaanmu, Donghae shi. Aku mau kau menggenggam tanganku. Aku mau menatap matamu tapi.. tapi aku tidak bisa,” kata Johee ditengah isakannya. Donghae terdiam, menanti kelanjutan perkataan Johee. “Karena hanya dengan berada di sampingmu saja, jantungku sudah berdetak sangat kencang sampai terasa sakit. Aku.. Aku tak bisa membayangkan bagaimana cepatnya jantungku berdetak jika aku menatap matamu lebih lama atau menggenggam tanganmu,” katanya penuh kejujuran dan ketulusan. Donghae merasakan hal itu. Tidak ada kepalsuan dari perkataannya.

Donghae tak memberi respon apapun. Johee pikir, pria itu masih marah padanya. Ia menengadahkan wajahnya untuk melihat pria itu. Ternyata, Donghae masih menatap lekat Johee. “Donghae shi, mianhe. Aku bersikap seperti itu justru karena aku sangat mencintaimu. Kau… masih marah?” tanya Johee.

Johee melihat Donghae menyunggingkan bibirnya dan tiba-tiba saja senyuman itu berubah menjadi tawa. Donghae tertawa terbahak-bahak sampai membuat semua orang menatapnya heran, termasuk Johee. “Wae-waeyo?” tanya Johee tak mengerti.

“You weird,” Donghae tersenyum lalu mengacak rambut Johee gemas. Ia juga memberikan sapu tangannya untuk Johee menghapus air matanya. “Lalu kenapa aku tidak boleh mengantarmu pulang? Kau belum menjawab yang satu itu,”

“Aku tak tega kalau kau harus mengantarku padahal rumahmu berlawanan arah dengan rumahku,” jawab Johee sembari menghapus air matanya yang tersisa.

Donghae tersenyum, “Hanya itu?”

“A-aku juga takut kau akan kaget karena keluargaku sangat ramai,” lanjut Johee.

Donghae bangkit berdiri lalu menarik tangan Johee dan menggenggamnya erat. Wajah Johee sudah kembali memerah dan jantungnya mulai berdetak kencang. “Aku akan membuatmu terbiasa dengan debaran yang kau rasakan itu. Lagipula, bukankah itu baik? Jantungmu yang berdetak kencang menandakan kalau kau hidup, kan?”

Johee menghela nafas panjang. “Tapi hal itu bisa membuatku sakit jantung,” celetuk Johee yang membuat Donghae tertawa. “Kajja, aku antar kau pulang. Jangan terlalu memikirkan aku, kau tahu, kan? Aku bukan pria lemah. Aku juga jadi penasaran seperti apa keluargamu,” ajak Donghae sambil terus menggenggam tangan Johee.

Johee melihat kedua tangan yang bertautan itu. Ia sangat bahagia saat ini tapi matanya tidak berkata demikian. Ia menatap Donghae lirih, karena jauh di dalam lubuk hatinya ia menyembunyikan kesedihannya tentang pria itu.

*****

“Yaa, Shim Johee,” panggil seorang gadis. Johee menutup lokernya dan mendapati seorang gadis bersama beberapa temannya berdiri di hadapannya sambil menatapnya benci. Ia sangat cantik, tubuhnya juga bagus, dan terlihat seksi. Roknya sangat pendek dan seragamnya tidak dikancing dengan benar.

Gadis itu menyentuh ujung rambut Johee lalu tangannya juga menjelajahi wajah Johee. “Kau tak lebih cantik dariku,” katanya. Kini ia menatap Johee dari ujung kaki sampai kepalanya. “Tubuhmu jauh dari kata seksi,”

Johee diam tak bergeming. “Lalu apa masalahnya bagimu?” tanya Johee.

Wanita itu menatapnya dengki. Ia memukul loker yang ada disampingnya sangat keras sampai akhirnya semua orang memperhatikan mereka. “Itu masalah bagiku! Bagaimana mungkin seorang yang sangat perfect seperti Donghae mau berpacaran denganmu?! Si bodoh Shim Johee!” serunya.

Johee hanya menghela nafas panjang. “Ia memilihku karena aku sangat mencintainya. Aku cinta pada Donghae dengan tulus tidak seperti dirimu yang hanya menginginkannya untuk kau pamerkan,” kata Johee.

“Kau..” wanita itu makin geram setelah mendengar perkataan Johee.

“Kalau kau benar-benar menginginkannya, belajarlah mencintainya dengan tulus bukan karena ketampanannya atau kekayaannya,” lanjut Johee.

“Kau berani sekali rupanya. Kau harusnya diam saja!” serunya. Tangannya melayang untuk menampar Johee. Johee menutup matanya untuk menahan rasa sakit yang akan ia rasakan tapi setelah beberapa detik, ia tak merasakan apapun.

“Jangan pernah ganggu Johee lagi,” ujar sebuah suara. Saat Johee membuka matanya, ia mendapati Donghae berdiri di depannya.

Donghae merangkul pundak Johee lalu mencium pipi Johee. “Kau tak berhak memutuskan wanita mana yang pantas untukku,” ujar Doghae. “Pergilah dari hadapanku sekarang,”

*****

“Kau merasa lebih baik setelah melihat langit itu?” tanya Donghae sambil menunjuk langit biru cerah di atas mereka.

“Kau mengajakku ke rooftop untuk menghiburku?” tanya Johee.

“A-aniya,” jawab Donghae gagap tanpa berani menatap Johee. Entah mengapa, ia merasa malu jika Johee mengerti isi hatinya yang sesungguhnya. Johee tertawa kecil melihat reaksi Donghae itu.

“Ya, aku merasa lebih baik. Terima kasih, Donghae shi,” balas Johee. Johee menutup matanya, menikmati angin yang bertiup ke arahnya. Donghae yang ada di sampingnya, entah mengapa tak bisa melepaskan pandangannya dari Johee. Ia mendengar semua yang Johee katakan tadi dan itu membuatnya penasaran akan perasaan gadis itu.

“Kenapa kau mencintaiku, Shim Johee shi?” tanya Donghae. Kalimat itu terucap begitu saja. Saat ia tersadar, ia mulai mengutuki dirinya. ‘Apa yang kupikirkan? Aku hanya memanfaatkan dia. Aku tak boleh terhanyut oleh perasaan,’ katanya dalam hati. “A-ani, tak perlu kau jawab. Anggap saja aku tak pernah bertanya,” elaknya.

Johee tersenyum senang sambil terus menatap langit itu. “I love you because you’re not perfect,”

Hati Donghae mencelos mendengar perkataan Johee itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seorang wanita mengatakan hal yang paling ingin ia dengar.

“Kau selalu peringkat pertama bukan karena kau terlahir genius tapi kau selalu belajar sampai larut malam di perpustakaan kota. Aku tahu karena aku tak sengaja pernah melihatmu di tempat itu,” kata Johee.

“Kau kaya namun kau mendapatkan semua yang kau punya dengan usahamu sendiri. Saat semua orang sedang asik bermain dengan teman-temannya, kau memilih untuk bekerja part time di beberapa tempat sekaligus. Aku tak sengaja pernah melihat kau bekerja di bakery dan di cafe,”

“Kau lebih memilih untuk lari daripada berkelahi melawan geng sekolah lain. Ternyata kau tidak pandai berkelahi, pikirku saat itu,”

“Kau menangis saat menonton film Hachiko. Aku duduk di sebelahmu tapi kau tentu saja tak menyadarinya,”

“Kau juga menangis saat mantan pacarmu memutuskanmu. Aku tak menyangka hal itu karena menurutku kau bisa dengan mudah mendapat penggantinya. Akhirnya aku mengerti, kau bukan seorang casanova seperti yang selama ini dipikirkan oleh orang-orang,” kata Johee.

“Aku pun tidak mengerti kenapa aku selalu menemukanmu disaat kau menunjukan kelemahanmu. Yang aku mengerti, semakin aku mengenalmu dan semua kekuranganmu itu, aku semakin kagum padamu. Tanpa kusadari, akhirnya rasa kagum itu berubah menjadi cinta,” lanjut Johee. Ia menatap Donghae dan memberikan senyumannya.

“I know it’s love when the tiny details about you that are insigificant to most people, seem fascinating and incredible to me,” kata Johee. “Ah, mianhe, kau pasti menganggapku aneh setelah mendengar semua yang kukatakan,”

Donghae terdiam mendengar semua perkataan Johee. Mata yang menatapnya itu membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Gadis itu mengatakan semua yang ingin ia dengar. Gadis itu mengenal kekurangannya lebih dari siapapun, dan gadis itu menerima dirinya apa adanya.

Donghae tersenyum menatap gadis itu. “You’re not weird. You’re different, Shim Johee,” ujarnya. Johee menatap Donghae bingung. Ia tak mengerti maksud pria itu dan sepertinya Donghae juga tidak mau menjelaskannya. “Terima kasih, Johee,” katanya.

“Aku tak melakukan apapun yang membuatmu harus berterima kasih, Donghae shi,” balas Johee.

Donghae tersenyum lalu menarik tangan Johee untuk berdiri. “Kita bolos saja bagaimana? Aku ingin main dengan kedua dongsaengmu dan kedua oppamu,” usul Donghae.

“Oppaku sedang kuliah dan dongsaengku pasti sedang sekolah. Kalau memang mau bolos, jangan ajak aku ke rumahku, Omma akan sangat marah jika ia tahu aku bolos,” balas Johee bercanda yang membuat Donghae tertawa.

“Baiklah, baiklah. Bagaimana kalau kita bolos dan pergi kencan. Deal?” usulan Donghae kali ini Johee balas dengan senyum gembira.

Donghae mengeratkan genggaman tangannya, “Johee,” panggil Donghae. Ia menatap Johee lekat tepat dimanik matanya. Setelah saling memandang cukup lama dalam keheningan, Johee secara reflek mengalihkan perhatiannya. Ia memang sudah terbiasa dengan debaran jantungnya, tapi jika ditatap terlalu lama dengan mata itu, Johee juga tidak akan tahan.

Donghae tertawa kecil melihat wajah Johee yang sudah memerah itu, “Yaa, Johee, kau masih belum bisa menatapku lebih lama?” canda pria itu.

“A-aku akan terbiasa. Lihat saja nanti, Donghae shi,” balas Johee tak mau kalah tanpa berani menatap Donghae.

“Johee shi,” panggil Donghae sekali lagi.

“Apa lagi?” tanya Johee pura-pura kesal. Donghae tersenyum melihat tingkah gadis itu. Katanya, “I’m so glad that you are here. It helps me realize how beautiful my world is,”

Wajah Johee makin memerah mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Donghae. Ia terlalu bahagia sampai ia tak sadar kalau air matanya telah mengalir. “Aigo, Johee shi, kau ternyata sangat cengeng,” ujar Donghae sambil mencubit pipi Johee.

Donghae tersenyum melihat air mata yang mengalir karena dirinya itu. Ia menarik Johee mendekat padanya dan memeluknya. Johee bisa merasakan kehangatan mengalir ke sekujur tubuhnya. Air matanya menderas tapi kini bukan karena ia bahagia tapi karena rasa sakit itu kembali muncul. Rasa yang berusaha menyadarkannya kalau semua ini tidak nyata.

Don’t hug me, it only makes me want to never let you go,’ kata Johee yang ia simpan dalam hatinya. Ia tak punya keberanian untuk mengatakannya. Ia tak punya nyali untuk mengakhiri semua.

*****

“Yaa, Lee Donghae, kenapa kau tertawa sendiri? Kau sakit?” tanya Eunhyuk yang terheran melihat sikap sahabatnya itu.

“Aniya, hanya saja aku baru teringat Johee. Gadis itu sangat mencintaiku, Eunhyuk,” ujar Donghae menjelaskan.

Eunhyuk menghela nafas panjang. “Aku kasihan pada gadis itu,” kata Eunhyuk yang tak Donghae mengerti. “You make her fall in love with you when you have no intention of catching her. Aku tak bisa membayangkan perasaannya jika kau memutuskannya nanti,”

Donghae terdiam. Hatinya terasa sakit saat mendengar perkataan Eunhyuk itu. “Aku sendiri tak menyangka kau bisa bertahan dengan gadis itu selama dua bulan lebih. Dan.. ya, rencanamu berhasil Donghae. Dengan memanfaatkan Johee dan menjadikannya pacarmu, akhirnya tak ada lagi wanita yang mengejarmu seperti dulu dan kau sudah mendapat kebebasanmu lagi,” kata Eunhyuk.

Eunhyuk menepuk pelan pundak Donghae. “Waktu kalian tinggal seminggu lagi. Kau harus membalas kebaikannya, Donghae,” katanya lalu pergi meninggalkan Donghae yang sudah diam mematung di tempatnya. Ia menggigit bibirnya, mencengkram tangannya, dan menendang tembok yang ada di depannya. Ia kesal. Ia marah pada dirinya sendiri. Ia menyesal akan kebodohan yang ia lakukan. Ia juga bingung, tak mengerti mengapa dirinya merasakan hal itu. Bukankah memang ini yang ia harapkan dari awal?

“Donghae ah!” panggil Eunhyuk dengan wajah panik. Donghae tak tahu apa yang terjadi, tapi perasaannya sangat tidak tenang saat ini. “Johee! Johee di bully oleh anak kelas lain!”

*****

“Yaa, Shim Johee!” seru seorang gadis, Hyojin, gadis yang pernah nyaris menamparnya dulu. Ia mendorong Johee dengan sangat keras ke tembok yang ada di belakang Johee. Ia berdiri di hadapan Johee dengan tatapan mengintimidasi. Teman-teman yang lain juga melakukan hal yang sama terhadap gadis itu.

“Apa yang kau mau dariku?” tanya Johee. Tak ada ketakutan di matanya.

Hyojin yang kesal dengan sikap Johee itu langsung menamparnya dengan keras. “Kau kira Donghae akan menolongmu lagi seperti dulu, ha? Kau kira ia benar-benar mencintaimu? Kau selama ini hanya bermimpi! Ia tak pernah mencintaimu, Shim Johee! Kau hanya dimanfaatkan olehnya agar ia terbebas dari semua wanita yang mengejarnya! Kau menyedihkan, Shim Johee!” serunya sambil tertawa terbahak-bahak, begitu juga teman-temannya.

“Hentikan, Hyojin shi,” ujar sebuah suara. Johee bisa melihat punggung pria itu berdiri melindunginya. “Sudah kubilang, jangan pernah menganggunya!” seru Donghae.

Hyojin mendengus kesal. “Buat apa kau menolongnya?! Kau tak perlu berpura-pura lagi! Kau hanya memanfaatkan gadis itu, kan?! Aku tahu semuanya! Kalau kau tak percaya, aku sudah merekam pembicaraanmu dengan Eunhyuk tadi!” ujar gadis itu. Ia mengeluarkan iPhonenya dari sakunya dan memutar rekaman suara itu.

“Ya, rencanamu berhasil Donghae. Dengan memanfaatkan Johee dan menjadikannya pacarmu…”

Belum sempat rekaman suara itu selesai, Johee sudah merebut ponsel itu dan membuangnya ke tanah. Ia bahkan menginjak-injak iPhone itu sampai rekaman suara itu tak berbunyi lagi. Donghae terdiam melihat sikap Johee itu. Berbeda dengan Hyojin yang sudah sangat kesal karena Johee merusak ponselnya.

“Yaa! Shim Johee! Kau…”

“Aku tahu,” kata Johee menyela amarah gadis itu. “Aku tahu semuanya,” ujarnya dengan suara yang sudah bergetar. Hyojin dan Donghae kini mematung di tempatnya saat melihat air mata keluar dari pelupuk mata Johee. “Aku mendengar percakapan mereka dari awal. Aku tahu kalau Donghae tak pernah mencintaiku. Aku tahu ia hanya memanfaatkan aku. Aku sudah tahu sejak awal, karena itulah aku berani menyatakan perasaanku padanya. Aku sangat mencintainya. Aku ingin bersamanya walaupun itu semua hanya kepalsuan. Aku ingin Donghae bahagia,” ujarnya. Air matanya mengalir deras tanpa bisa ia hentikan.

“Kau … gila. Kau gila, Shim Johee,” ujar Hyojin.

Hati Donghae terasa sangat sakit saat mendengar semua perkataan Johee tadi. Ia tak menyangka kalau gadis itu sangat mencintainya sampai rela melukai hatinya sendiri. “Johee, saranghae,” kata Donghae tanpa ia sadari. Hatinya yang tak kuat melihat Johee tersakiti seperti itu membuat kalimat itu keluar begitu saja.

Johee menatapnya lirih. Ia tersenyum lembut pada pria itu, “Don’t say you love me unless you really mean it, because i might do something crazy like believe it,” kata Johee. Setelah menatap pria itu, akhirnya Johee pergi dari tempat itu meninggalkan Donghae yang terpuruk. Pria itu terduduk di tempatnya tadi dan air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan.

“Ternyata, kau benar-benar mencintainya, ya, Donghae ah?” tanya Eunhyuk yang sedari tadi menyaksikan semuanya. Ia menepuk pundak Donghae dan mencoba menenangkannya. “I know you really love her because just the thought of losing her brings you to tears,”

*****

Sudah seminggu Donghae tidak melihat Johee. Gadis itu seperti hilang begitu saja dari kehidupannya. Hari ini tepat tiga bulan sejak Johee menyatakan perasaannya pada Donghae dan hal itu membuat Donghae makin sedih. ‘Harusnya sejak awal aku tak perlu melakukan semua ini sehingga aku tidak perlu merasakan rasa sakit ini,’ gumannya. Akhirnya, Donghae memutuskan untuk naik ke rooftop agar ia bisa lebih tenang.

“Sudah kuduga, kau pasti akan ke tempat ini,” ujar sebuah suara bertepatan saat Donghae membuka pintu rooftop itu. Jantung Donghae berdetak sangat kencang saat melihat gadis itu dengan jelas.

“Jo-Johee? Kenapa kau disini?” tanya Donghae gagap. Perasaannya campur aduk, antara bingung, senang, dan terkejut.

Johee tersenyum padanya. “Hari ini tepat tiga bulan, ya? Aku ingin mengakhiri semuanya dengan baik, Donghae shi. Bolehkan?” tanya Johee. Donghae tersenyum tapi sejujurnya hatinya sangat sakit mendengar perkataan Johee itu.

Johee berjalan mendekatinya. “Meskipun kau tak pernah mencintaiku, aku bahagia bisa bersamamu,” katanya. Ia tersenyum tulus namun air mata tetap mengalir dari matanya. “Tiga bulan ini sangat indah. Terima kasih, Donghae shi,” lanjutnya.

“Johee shi,” panggil Donghae sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi Johee. “Kau tetap saja cengeng,” kata Donghae diikuti dengan tawa yang ia paksakan.

Johee tertawa kecil. Ia mengenggam tangan Donghae yang ada di pipinya itu. “Someday, someone might come into your life and love you the way you’ve always wanted and when your ‘someday’ comes, cherish it,” ujar Johee lalu pergi meninggalkan Donghae di tempat itu. “Bye, Donghae,”

Donghae bersandar di dinding rooftop itu. Ia menatap langit biru di atasnya. “One of the saddest things in life is loving someone who used to love me,”

“I know my Lee Donghae is not a perfect person, tapi kalau kau menyerah disini, kau bahkan bukan seorang pria, Lee Donghae!” ujar seorang pria yang tiba-tiba saja muncul diatasnya dan menutup pandangannya terhadap langit itu.

“Yee, Lee Hyukjae, jangan menggangguku sekarang,” ujar Donghae sambil mendorong Eunhyuk menjauh darinya.

“Kalau kau benar-benar mencintai Johee, katakan padanya,” ujar Eunhyuk.

“Ia tak percaya padaku,”

“Kalau ia tak percaya, katakan lagi sampai ia benar-benar percaya pada perasaanmu, Lee Donghae,”

Donghae menghela nafas. “Apa ia akan kembali padaku jika kau melakukannya?” tanya Donghae putus asa.

“Kau tak akan pernah tahu jika kau tidak mencobanya, Donghae,” kata Eunhyuk.

*****

Johee menghapus air matanya dan menghela nafas panjang berulang kali. Ia berusaha menenangkan hatinya sendiri. Air matanya mengalir begitu saja saat melihat Donghae dari jauh. Pria itu kembali di kelilingi oleh para wanita-wanita yang sangat jauh lebih cantik, lebih pintar, dan lebih baik daripada dirinya. ‘Jangan menangis, Shim Johee. Sejak awal aku memang tidak pantas untuknya,’ gumam Johee.

Setelah yakin kalau dirinya sudah baik-baik saja, Johee memutuskan untuk berjalan cepat tanpa melihat Donghae. Ia tak bisa lewat jalan lain karena ini adalah satu-satunya lorong yang menghubungkan gedung ini dengan kelasnya yang selanjutnya.

“Itu Johee, kan? Yang kau pacari agar kami menjauhimu?”

“Bodoh sekali kami mempercayai hal itu. Tentu saja tak mungkin. Gadis itu sangat dibawah standard,”

“Ya, dia tidak pantas untuk bersanding denganmu,”

Johee mendengar jelas semua hinaan itu dan ia mencoba untuk tidak peduli. Ia berjalan makin cepat sampai melewati Donghae tapi langkahnya terhenti saat ia mendengar dengan jelas namanya dipanggil oleh Donghae. “Johee,” panggilnya lembut. Johee tak bisa berkutik. Ia bahkan tidak menoleh untuk melihat wajah pria itu.

“Johee, you are everything i need. You are the sun, the air i breathe. Without you, life wouldn’t be the same Please don’t ever go away. But if you want to go, then don’t forget to take me with you. I love you, Shim Johee,” kata pria itu.

Donghae berdiri di hadapan Johee dan menengadahkan wajah Johee. Gadis itu kembali menangis untuknya. “Yaa, Shim Johee, kenapa kau menangis lagi? Aku sudah susah payah membuatkan puisi itu agar kau bahagia dan tersenyum lagi,” ujar Donghae sambil menghapus air mata Johee.

“I can’t believe what you said, Donghae,” ujar Johee sedih.

Donghae tersenyum padanya. “If you can’t believe my words, please, believe my heart, Shim Johee. I don’t want to lose you again,” katanya. Ia menarik Johee dalam pelukannya. Seluruh tubuhnya seakan menyampaikan perasaannya pada Johee.

“Kau, satu-satunya wanita yang dapat menerimaku apa adanya. Kau juga yang tetap mencintaiku meski aku bukan pria sempurna seperti yang orang lain pikirkan. Kau tetap mencintaiku meskipun aku tak dapat diandalkan dan kau selalu menangis untuk pria sepertiku. You’re the answer to a guy like me, Shim Johee,”

Johee hanya terdiam dalam pelukan itu sambil mendengarkan semua isi hati Donghae. Menikmati kehangatan yang sudah sejak lama ia rindukan. “Kau mau kemana?” tanya Donghae tiba-tiba. “Bukankah jam pelajaran sudah selesai?”

“Aku ada kelas tambahan. Nilaiku sangat jelek dan mungkin saja aku bisa tidak lulus nanti,” kata Johee sambil tertawa walaupun air matanya tadi belum mengering.

Donghae terkejut dengan apa yang Johee katakan tadi. “Kau tertawa saat kau nyaris tidak lulus dan kau selalu menangis jika berhubungan dengan aku. Aku tak mengerti jalan pikiranmu, Johee,” ujar Donghae sambil mengacak-acak rambut Johee.

*****

Four months later

“Aku tak menyangka kau bisa diterima di Seoul University, Johee,” ujar Donghae meledek Johee karena baru saja gadis itu memamerkan surat penerimaan dari Seoul University.

Saat ini mereka berdua sedang berada di rooftop sekolah mereka untuk terakhir kalinya. Donghae tertidur sambil menikmati angin yang berhembus. “Aku tidak pernah mengatakan kalau aku bodoh sejak lahir, kan?” balas Johee yang membuat keduanya tertawa. “Lagipula, kau sudah mengajariku susah-susah. Aku tak mungkin mengecewakanmu,” lanjut Johee sambil duduk di sebelah Donghae.

Donghae menatap Johee lirih. Mata Johee yang menatapnya saat ini membuat perasaannya tak tertahankan. “Saranghae, Johee. Sampai saat ini, kau tetap belum bisa percaya? Apa perasaanku belum tersampaikan padamu?” tanyanya.

Johee hanya tersenyum pada Donghae sebagai jawaban. Pria itu sedih sekaligus kesal. Ia memutar tubuhnya sehingga memunggungi Johee. “Kau marah?” tanya Johee yang tak dibalas Donghae.

Johee menghela nafas panjang. “Sayang sekali. Padahal aku punya hadiah untukmu,” ujar Johee.

Donghae yang penasaran akhirnya kembali menatap Johee. “Apa itu?” tanya setengah ketus. Ia masih pura-pura marah pada Johee.

Melihat itu, Johee hanya tersenyum. Ia membungkukan badannya dan mencium pipi Donghae dengan cepat. Donghae langsung bangkit dari tidurnya dan menatap Johee dengan ketidak-percayaan.

“Kenapa menciumku dipipi? Seharusnya disini, Shim Johee,” protes Donghae sambil menunjuk bibirnya.

Wajah Johee memerah mendengar perkataan Donghae. “Ka-kau, kan, tahu aku bagaimana. A-aku tak bisa melakukannya. Jantungku berdetak kencang,” balas Johee gugup.

Donghae tertawa kecil melihat sikap Johee itu. “Kalau kau tak bisa, aku saja,” katanya. Sekejap, Donghae mengecup bibir Johee. “Kau sudah percaya padaku?” tanya Donghae setelah ia melepas kecupannya itu.

Johee tersenyum pada pria itu. “You weird. How come you love someone like me?” ujarnya sambil memukul pelan kepala Donghae.

“Yaa, you as weird as me, Shim Johee! Kau juga mencintaiku sampai kau rela menyakiti dirimu sendiri!” balas Donghae tak mau kalah. Pria itu nyaris kesal karena Johee memukulnya tadi namun tangan Johee yang kini memeluknya erat membuatnya mematung. Ia bisa merasakan perasaan Johee tersampaikan dari sekujur tubuhnya.

“From the first time you said you love me, you had my heart forever, Lee Donghae. Saranghae,”

END

*****